Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog inspiring people struggles tulisan-wacana

Romo Mangun, Jejak-Jejak Arsitektur yang Memanusiakan

(English translation is available below)

[Diterbitkan pertama kali pada 25 Mei 2025]

Selama proses penulisan artikel ini, seorang desainer di studio kami bertanya, “Kenapa sih Kak Rich menulis tentang Romo Mangun? Kenapa kami yang muda ini perlu untuk mengenal beliau?”

Well, mempelajari sosok Romo Mangun bukanlah sekadar tanggung jawab sejarah. Dalam refleksi praktik penulis di Jakarta, di tengah hingar-bingarnya arsitektur yang provokatif dan berorientasi bisnis di Jakarta, Romo Mangun melalui praktiknya menunjukkan ada banyak kalangan masyarakat yang membutuhkan pendekatan lebih terjangkau. Indonesia bukan cuma soal Jakarta, dan sepak terjang beliau secara strategis merespons dilema tersebut dengan berbagai perannya, menembus batas-batas keprofesian arsitektur yang dilematis.

Father Y. B. Mangunwijaya (right) receives guests in his house on the slopes of Kali Code, Yogyakarta, 1986 Photo: TEMPO/Yuyuk Sugarman.

Sebuah tulisan oleh Realrich Sjarief dan Hanifah Sausan

Dalam sebuah pertemuan kami dengan alm. Adhi Moersid, beliau bercerita sempat merasakan kuliah bersama Y.B. Mangunwijaya di ITB tahun 1959-1960. Menurut beliau, Mangunwijaya sering berangkat ke kampus mengenakan baju pastor. Sebuah potongan memori yang cukup menggelitik mungkin bagi kita yang lebih familiar dengan Mangunwijaya lewat karya-karya terbangunnya—meski kita tahu ia sering dipanggil dengan sebutan “Romo” yang menunjukkan perannya sebagai imam Katolik, juga karya-karyanya yang sebagian besar merupakan fasilitas keagamaan Katolik.

Berkaca pada sosok Antoni Gaudi yang kita bahas sebelumnya, Mangunwijaya ini adalah “spesies” arsitek yang karya-karyanya tak tersekat pada profesi perancangan, tetapi juga dalam pengajaran, penulisan, aktivisme, dan pelayanan. Dari jubah pastor, kisah burung manyar, hingga anyaman bambu di tepi Kali Code, apa yang membuat Mangunwijaya memilih jalur multi-spektrum ini? Visi apa yang beliau perjuangkan?

Lahir pada 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah di tengah keluarga Katolik dengan ayah dan ibu yang keduanya guru, Yulianus Sumadi Mangunwijaya tumbuh dalam lingkungan religius dan terpelajar. Sejak kecil ia sudah berkeinginan menjadi arsitek, tetapi belum juga tamat sekolah, ia harus turut memperjuangkan kemerdekaan sebagai Tentara Pelajar sepanjang 1945–1948. Dalam prosesnya, ia menyaksikan bagaimana warga desa telah banyak membantu tentara, sekaligus juga menjadi korban dari kekejaman penjajah. Menyaksikan kawan-kawannya gugur juga sudah pasti, dan bukan tak mungkin bahwa ia sendiri merasakan momen-momen antara hidup dan mati.

Di titik itu, barangkali muncul kesadaran bahwa selamat dari peristiwa itu merupakan sebuah anugerah tersendiri, dan kehidupan ini terlalu berharga untuk dihabiskan ala kadarnya. Mangunwijaya pun terdorong untuk “membayar utang kepada rakyat”, dan jalan yang ia pilih adalah pelayanan sebagai pastor. Di umur 21, beliau masuk sekolah pastor St. Paulus di Yogyakarta, terlepas usianya yang lebih tua dibanding calon pastor lain.

Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta

Buku The Altruism of Romo Mangun yang ditulis Darwis Khudori menjelaskan bahwa selepas lulus dari Sancti Pauli, Mangunwijaya ditahbiskan sebagai pastor oleh Uskup Albertus Soegijapranata. Ia menggunakan nama resmi yang sudah tak asing di telinga kita, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Namun, baru sehari menjadi pastor, Soegija memintanya untuk belajar arsitektur, supaya bisa membangun rumah-rumah ibadah di berbagai tempat dengan bahasa yang lokal alih-alih ala kolonial. Di situlah ia belajar di ITB dan bertemu Adhi Moersid pada 1959-1960, sebelum akhirnya beliau pindah ke Rhein Westfalen Technical School di Jerman dan meraih gelarnya di sana.

Mangunwijaya Muda

Sekembalinya ke Indonesia, Romo Mangun mulai membangun banyak gereja dan wisma di DIY dan Jateng. Beliau juga merancang untuk kalangan di luar lingkup gereja, berupa rumah tinggal, kos-kosan, komplek pemukiman, dan sekolah. Beberapa karya beliau di antaranya adalah Gereja Maria Asumpta (1967-1969), Sendang Sono (1972-1991), Permukiman Tepi Kali Code (1983-1987), Rumah Arief Budiman (1986-1987), Wisma Kuwera (1986-1999), Seminari Tinggi Fermentum (1996), dan masih banyak lagi.

Bila melihat perkembangan arsitektur Indonesia pasca-kemerdekaan, terlihat selalu ada urgensi untuk mendefinisikan arsitektur Indonesia. Arsitektur modern ala Barat saat itu menjadi preferensi untuk membangun identitas nasional yang baru dan kuat, diinisiasi oleh Soekarno dan dilanjutkan saat kepemimpinan Soeharto lewat proyek-proyek monumental dan penataan urban.

Proyek Mercusuar Orde Lama

Namun, yang disayangkan Romo Mangun adalah aplikasi arsitektur tanpa penyesuaian terhadap iklim tropis dan budaya Indonesia, seperti yang banyak terjadi di Jakarta saat itu dengan gedung-gedung beton berlapis kaca. Selain itu, arsitektur yang membutuhkan material industri dengan teknik membangun yang canggih akan sulit diterapkan untuk rakyat biasa yang mayoritas tinggal di kota kecil atau desa-desa, sesuatu yang menjadi realitasnya selama masa kecil dan dalam kesehariannya sebagai pastor. Jadi, selain kebutuhan untuk mendefinisikan identitas nasional lewat arsitektur, di saat yang sama timbullah keresahan tentang arsitektur Indonesia yang relevan dengan iklim, sumber daya alam, dan keseharian masyarakat pada umumnya.

Generasi arsitek yang aktif saat itu, seperti Friedrich Silaban, Soejoedi, dan Romo Mangun sendiri rata-rata belajar arsitektur di luar negeri, khususnya Jerman. Wajar saja bila kemudian bahasa arsitektur yang digunakan banyak terpengaruh arsitektur modern. Namun, setiap arsitek punya caranya masing-masing dalam menerjemahkan kondisi iklim setempat dan masyarakat Indonesia dalam karya-karyanya.

Friedrich Silaban (1912-1984), meski mengerjakan proyek-proyek berskala monumental dengan gubahan massa modern, ia selalu mengupayakan bukaan yang lebar dan kisi-kisi untuk menghalau sinar matahari langsung. Soejoedi Wirjoatmodjo (1928-1981) lebih memilih menggunakan tritisan yang lebar alih-alih kisi-kisi untuk merespons iklim. Sementara, secara budaya, beliau mengambil konsep ruang dalam dan luar pada arsitektur Jawa sebagai inspirasi program ruang yang seimbang, meski gubahan massanya benar-benar baru dan bercitra independen. 

Sementara, Adhi Moersid, teman sejawatnya yang bersekolah di dalam negeri, punya pendekatan yang lebih lokal dengan konsep Arsitektur Papan Kayu yang terangkum dalam buku Kagunan. Prinsipnya adalah menggabungkan dua papan kayu pipih untuk membentuk bilah usuk yang lebih kokoh, sehingga memungkinkan konstruksi atap tanpa gording. Konsep ini pun membuka lompatan dari struktur rangka menjadi struktur bidang. Susunan papan kayu ini juga menghasilkan visual yang lebih rapi dan indah ketika diekspos sehingga menjadi wujud “langit-langit yang baru”.

Ketiganya punya cara-cara tersendiri untuk meramu ruang dan material. Dengan skala yang monumental, material beton dan teknik fabrikasi jadi relevan untuk karya-karya Silaban dan Soejoedi. Visual yang sederhana pun membutuhkan tektonika tersendiri yang membuat hubungan antarmaterial jadi seamless. Pendekatan Adhi Moersid sifatnya lebih teknokratik, fokus pada ilmu itu sendiri dan konteks biaya-mutu-waktu dari suatu proyek. Ia mencoba menembus batas dengan material kayu yang natural dan lokal, tetapi masih perlu dibeli dari “pasar” dengan spesifikasi yang seragam.

Begitu bicara sosok Romo Mangun, segala aspek dieksplorasi. Dari bentuk atap, susunan bata, corak tekstur beton, hingga detail sambungan, semua diolah total tiada luput. Yuswadi Saliya pernah menggambarkan Sendang Sono dengan ekspresi, “Keinginannya untuk berbuat membekas di mana-mana. Menyaksikannya boleh jadi melelahkan, detail itu bercerita tanpa putus, menyapa pada setiap lekuk dan liku. Segi-tiga dan segi-empat membentuk bidang dan ruang yang bergema bersahut-sahutan, turun naik berundak-undak, semuanya membentuk tamasya buatan manusia yang lebur dengan kelok alur sungai dan punuk palung bukit. Sangat kompleks. Majemuk.” Keberagaman teknik menjadi kata kunci arsitektur Romo Mangun. Konsepnya adalah variatif atau hibrida yang menggambarkan konteks lokasi tempat arsitekturnya hadir.

Secara gubahan massa, beliau banyak mengeksplorasi bentuk atap miring dengan pertimbangan material genteng sebagai penutup yang mudah didapat dan relatif murah dibanding instalasi atap beton, apalagi bila harus menghadapi curah hujan Indonesia yang tinggi. Atap-atap Romo Mangun membentang lebar, tak jarang mendominasi citra bangunan. Terlebih dengan proporsi badan yang rendah, terkesan ada upaya untuk membuat skalanya tetap manusiawi agar perawatan menjadi mudah.

Untuk menopang atap-atap ini, beragam material digunakan. Dari sekitar 30 karya terbangunnya, terdapat belasan gereja yang mayoritas menggunakan beton sebagai elemen struktur. Kadang ia cukup menjadi kolom ketika bentang atap masih bisa ditopang oleh struktur kayu, terkadang ia juga hadir sebagai balok bila kapasitas gereja terlampau besar. Sementara, pada gereja-gereja kecil, wisma, sekolah, atau hunian dengan luasan yang tak seberapa, peran struktur utama biasanya dipegang oleh kayu.

Namun, sekalipun beton digunakan, Romo Mangun tak terbiasa meninggalkannya polos begitu saja. Motif-motif digoreskan, kadang dalam pola yang teratur, kadang menggunakan cetakan bambu atau kayu bekas, memberi kesan organik seperti pohon di dalam bangunan. Dimensi beton juga dijaga agar tetap ramping dan ditata dalam pengulangan berirama untuk menekan karakter kasar dan beratnya (Tjahjono, 1995). Kadang balok konsol dicetak sedemikian rupa menyerupai ranting. Beton di tangan Romo Mangun menjadi lebih lembut dan kadang terkesan organik.

Lanjut ke bagian badan, Romo Mangun sering membuat ruang-ruang publiknya, terutama gereja, tampil terbuka tanpa dinding penutup, kecuali hanya sebaris yang melatari altar. Pertama, untuk memasukkan udara secara maksimal—seperti gagasan Silaban yang lebih meyakini Indonesia butuh atap lebar untuk menghalau panas matahari daripada dinding yang menghalangi angin ekuator dengan kecepatan tak seberapa. Kedua, karena konsep “gereja pasar”. Romo pernah berpesan, “Ketika religiositas semakin mengakar dalam terang Tuhan, maka manusia sejati adalah cerminan bayang-bayang Tuhan sendiri,” (Mudji Sutrisno, 2001). Tidak ada urgensi untuk memisahkan ruang suci gereja dengan “pasar” kehidupan sehari-hari. Justru batas itu dibuka untuk menjembatani jiwa-jiwa yang mencari cahaya Tuhan.

Ketika sebuah dinding diperlukan, wujudnya hadir dalam berbagai bentuk: dari batu bata, kayu, bambu, batuan alam, beton, atau kombinasi dari semuanya. Parameternya tak jauh-jauh dari batasan anggaran, kesediaan material di lokasi, kreativitas ketukangan, dan pemberdayaan komunitas. Pertapaan Suster Bunda Pemersatu di Gedono, Salatiga misalnya, awalnya dirancang menggunakan dinding batu bata. Namun, ketika Romo Mangun survei ke Gedono, beliau melihat warga setempat banyak yang berprofesi sebagai pemotong batu kricak. Ia mendapat ide untuk menggunakan jasa warga setempat untuk memotong batu yang lebih besar dari daerah Banaran, lebih dekat daripada harus mendatangkan batu bata dari Klaten. Akhirnya, biaya yang dikeluarkan pun lebih kecil, dan warga pun belajar keterampilan baru untuk memecah batu besar dengan potongan yang rapi. Material yang terkesan biasa-biasa saja pun bertransformasi dengan cara yang istimewa.

Pertapaan Suster Bunda Pemersatu di Gedono

Untuk lantai, pada beberapa karyanya yang dikonstruksi menggunakan kayu, khususnya yang berfungsi sebagai hunian, Romo Mangun banyak menerapkan struktur lantai panggung. Misalnya pada sebagian massa di Wisma Salam, Sendang Sono, Rumah Arief Budiman, Kampung Code, dan Wisma Kuwera. Ini merupakan respons penggunaan kayu terhadap iklim tropis Indonesia yang lembab. Akan tetapi, lebih dari itu, kombinasi struktur panggung dengan struktur lantai konvensional dalam satu karya sekaligus menciptakan permainan ketinggian yang dinamis, membuat ruang-ruang di dalamnya terasa menyenangkan!

Arsitektur Romo Mangun menjadi salah satu preseden utama dalam hal kolaborasi antara low technology dengan high technology. Julia Watson di bukunya Lo-TEK (2019) menjelaskan bahwa low technology atau lo-tech sering diasosiasikan dengan sistem atau mesin yang sederhana, tidak canggih, tidak rumit, dan berasal dari masa sebelum revolusi industri. Kami juga melihatnya sebagai metode yang intuitif dan impulsif dengan penyelesaian yang terjadi secara impromtu di lapangan. Sebaliknya, high technology (high-tech) sifatnya baru, berfitur canggih, dan memberi kesan seakan jadi pilihan yang lebih baik. Watson mengungkapkan, sistem high-tech yang mencoba menjadi solusi untuk semua permasalahan justru bertentangan dengan heterogenitas atau kemajemukan yang ada dalam kompleksitas ekosistem.

Oleh karenanya, high-tech tidak selalu bisa menjadi solusi. Kombinasi lo-tech dan high-tech pun menjadi titik tengah yang diambil Romo Mangun dalam merespons gap antara arsitektur barat yang mutakhir dan mendominasi dunia, dengan arsitektur lokal yang jadi keseharian masyarakat Indonesia saat itu. Refleksi atas keresahan ini akhirnya menelurkan buku Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan dan Wastu Citra.

Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan (1980) lebih fokus pada aspek teknis dan respons terhadap iklim tropis Indonesia, juga fenomena alam yang khas seperti gempa bumi. Di dalamnya terdapat bab khusus yang membahas aplikasi material lokal bambu, kayu, dan bata yang cocok dengan kondisi Indonesia. Ditujukan untuk pelajar dan praktisi non-akademik, buku ini dikemas dengan bahasa dan diagram yang sederhana, dilengkapi dengan contoh-contoh praktis. Ada pemahaman bahwa masyarakat memiliki keterbatasan akses terhadap high technology, maka pendidikan berbasis arsitektur barat perlu diimbangi dengan pengetahuan tentang cara membangun yang relevan dengan kondisi setempat.

Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan (1980)

Sementara itu, Wastu Citra (1988) lebih mengambil sudut pandang diskursus. Dirilis pada masa di mana Romo Mangun sudah tidak ingin bertugas menjadi pastor dan lebih sering berkutat dengan kegiatan aktivisme bersama masyarakat kelas bawah, barangkali Romo Mangun melihat bagaimana kebiasaan membangun tradisional dan yang berkembang di keseharian masyarakat seringkali tidak dianggap sebagai bagian dari arsitektur juga. Oleh karena itu, digunakanlah istilah “wastu” yang mencakup segala bentuk kegiatan membangun untuk menyetarakan semuanya. 

Wastu Citra

Revianto B. Santosa di dalam film Wastu mengamati bagaimana Romo Mangun bersikap “universal” di buku ini: tidak hanya membahas keunggulan arsitektur Indonesia dengan iklim tropis dan budaya vernakularnya, tetapi juga mencantumkan bab tentang arsitektur barat dan filsafatnya serta inspirasi mancanegara seperti dari Yunani, Jepang, dan India. Ketika membahas makna-makna kosmologis yang lebih dalam dari sekadar wujud fisik wastu, Romo Mangun pun menarik studi dari berbagai adat budaya serta agama di dunia. Namun, pada akhirnya, beliau menutup buku ini lagi-lagi dengan ajakan untuk meramu hal-hal baik dari masing-masing kutub untuk membawa kesejahteraan bagi semua, termasuk kaum marjinal.

Menurut kami, lebih dari sekadar kombinasi low and high technology, keberpihakan Romo Mangun terhadap rakyat kecil bisa diturunkan hingga dimensi material yang digunakan. Katakanlah sebuah joglo yang datang dari tradisi low technology, penggunaannya tidak lagi relevan untuk masyarakat kecil karena balok-balok kayu yang besar, panjang, dan utuh tidak mungkin terbeli. Romo Mangun mau tak mau harus bekerja dengan kayu-kayu yang pendek ukurannya—dan material apa pun yang tersedia, sekalipun itu sisa-sisa atau bahkan sudah menjadi sampah. Dari wawancara kami dengan Rina Eko Prawoto, adalah hal yang biasa ketika Romo Mangun meminta para tukang untuk mencabut paku-paku dari sebilah balok kayu. Baik kayu maupun pakunya, keduanya akan sama-sama digunakan lagi untuk kebutuhan lain.

Kami sempat berkunjung ke Wisma Kuwera. Sekilas bangunan ini seperti mencoba merespons konteks urban Yogyakarta dengan menciptakan kepadatan program ruang di dalamnya. Dimensi modulnya tidak lebih besar dari 3 meter, dengan komposisi vertikal yang saling saut, dengan variasi ketinggian lantai antara 1-1,5 meter. Pengalaman ruang yang tercipta sungguh sangat menarik, memantik pertanyaan, “Kok Romo kepikiran membuat sesuatu seperti ini?” Setelah dipikir-pikir lagi, dimensi yang kecil-kecil itu adalah respons dari terbatasnya akses terhadap material-material masif, hanya saja dikreasikan sedemikian rupa membentuk susunan ruang yang kreatif.

Keterbatasan material juga mendorong munculnya elemen-elemen multifungsi. Salah satunya adalah kerangka A yang banyak digunakan kemudian di Sendang Sono, Rumah Arief Budiman, Kampung Code, dan Pertapaan Gedono. Di sini, atap juga menjadi dinding, kolom sekaligus menjadi rangka atap. Seperti sebuah loteng, tetapi justru digunakan sebagai ruang primer. Hadirnya dinding sejati atau elemen lainnya pun tumbuh sesuai kebutuhan, membuat bangunan bertransformasi secara elegan.

Ketika akses terhadap material begitu terbatas, mau tak mau seseorang harus mengerti bagaimana memaksimalkan material tersebut. Mungkin dari sini muncullah benih-benih yang menghasilkan tektonika seorang Mangunwijaya. Mengutip Mahatmanto (2001, Tektonika YB, Mangunwijaya), “Mengenali bahan adalah titik tolak dalam membangun, dan itu hanya bisa dilakukan dengan langsung memegang dan merasakan kualitas yang termuat di dalamnya.” 

Yuswadi Saliya pernah berkesempatan mengamati Romo Mangun saat hendak membangun dinding pembatas dari kerawang/roster. Beliau membolak-balik balok roster tersebut cukup lama. “Ditumpuk, dideretkan, diserongkan … Dibidiknya dari sisi, dari bawah, menjauh kemudian menyimpang … Mencari posisi yang paling serasi, memadu lagu yang paling merdu.” Elaborasi dilakukan tanpa gambar, mengandalkan kepekaan indrawi ketika manusia berinteraksi dengan ruang bentuk. Yuswadi melihatnya sebagai sebuah bentuk kemerdekaan.

Dalam prosesnya Romo Mangun bergerak sangat erat dengan para tukang. Tak sebatas mengawasi, beliau mendidik, dan tak jarang beliau pun belajar hal baru dari mereka. Kedudukannya begitu tinggi hingga dituliskan dalam halaman persembahan buku Wastu Citra, “Buku ini ditulis untuk menghormati para tukang dan karyawan-karyawati lapangan, yang dalam cara-cara mereka tertentu telah menjadi mahaguru arsitektur yang ulung bagiku.” Merekalah sosok-sosok yang oleh Romo Mangun ingin diajak untuk merdeka bersama-sama.

Romo Mangun fokus pada proses berkarya, tidak hanya untuk menghasilkan uang secara pendekatan kapitalisme, tetapi uang yang didapat untuk mensejahterakan. Eko Prawoto pernah bercerita tentang gurunya ini, “Romo membuat detail-detail itu bukan pertimbangan estetika, tapi sebenarnya untuk menyerap lebih lama, agar tukangnya bekerja lebih lama di tempat itu.” Bisa jadi biaya yang dikeluarkan untuk tukang menjadi lebih tinggi dibanding biaya yang dikeluarkan untuk belanja material. 

Di titik ini kami teringat arsitek Louis Kahn saat mendesain Gedung Parlemen Bangladesh di Dhaka. Proyeknya membuka banyak lapangan kerja baru dan menjadi sarana pengembangan keterampilan tukang lokal. Yang membuat berbeda adalah pilihan material dari kedua arsitek ini. Untuk sebuah proyek sebesar Gedung Parlemen Bangladesh, penggunaan beton dan marmer menimbulkan gap ketukangan di tengah masyarakat yang terbiasa membangun menggunakan tanah, bambu, kayu, dan bata.

Di sinilah pilihan Romo Mangun untuk mengkombinasikan low dan high technology menjadi penting. Karenanya, para tukang tetap mengerjakan sesuatu yang masih dekat dengan kesehariannya, tetapi juga sembari bersama-sama mempelajari material atau teknik baru. Circular resource pun terjadi dengan bahan sisa atau bekas yang masuk kembali dalam siklus dibarengi para tukang yang kembali berdaya. Mahatmanto dalam dokumenter Wastu menyampaikan bagaimana Romo Mangun menyadari kualitas masyarakat yang heterogen. “Sehingga dia mengambil ambang bawah supaya semua bahan, semua ketukangan atau keterampilan yang dimiliki oleh para tukang itu bisa dimanfaatkan secara optimal.”

Namun, teknik yang sederhana bukan berarti hasilnya biasa-biasa saja. Justru pendekatan ambang bawah membuka kesempatan bagi semua orang untuk berpartisipasi. Tak jarang para tukang mengusulkan hal baru yang tak terpikirkan Romo Mangun sebelumnya. Gunawan Tjahjono menggambarkan proses ini seperti permainan musik Jazz di mana tiap pemain punya kebebasan untuk memperkaya sebuah lagu. “Dari tukang ke pemakai, semua terlibat dan berpeluang menafsirkan. Para pelaku memiliki ruang berekspresi atas bagian-bagian bangunan yang mungkin akan seumur hidup dihuninya.” Pada akhirnya, setelah Romo Mangun sudah tak lagi bisa mendampingi, diharapkan pengguna dan para tukang nantinya bisa melanjutkan atau merawat secara mandiri.

Performa bangunannya sendiri juga dirancang untuk mendidik. Di Seminari Tinggi Fermentum Bandung misalnya, Romo Mangun membagi wisma untuk para frater (calon pastor) dalam unit-unit kecil berisikan 5-6 orang saja untuk membentuk komunitas-komunitas kecil seperti keluarga yang saling mengenal. Kombinasi low and high technology lagi-lagi diterapkan, memberikan unsur kesementaraan yang membutuhkan perawatan berkala. “Romo Mangun bilang biarin aja, supaya nanti para frater di setiap unit berlomba mana unit yang paling terawat,” tutur Pastor William. Romo Mangun seakan memberi penekanan bahwa menjadi imam bukanlah sebuah keistimewaan, melainkan untuk melayani komunitas. Kesadaran ini dibentuk dari kebiasaan sehari-hari, menggunakan fasilitas selayaknya dan memperbaiki titik-titik yang rusak.

Nilai-nilai keseharian menjadi salah satu hikmah yang kami temukan pada sosok Romo Mangun. Selain diterjemahkan pada program ruang dan garis besar rancangan, beliau seakan mencoba menangkap hal-hal baik dari keseharian masyarakat dan merayakannya dalam simbolisme. Bentuknya bisa bermacam-macam, dari massa unik yang menjadi vocal point, pengulangan struktur, pola susunan material, hingga elemen-elemen dekoratif. 

Penggunaan simbolisme mungkin terkesan dangkal bagi sosok dengan kedalaman berpikir seperti Romo Mangun. Namun, barangkali ini adalah cara paling sederhana untuk menimbulkan kebanggaan pada masyarakat kecil yang beliau dampingi—bahwa setiap kehidupan itu berharga, bahwa keindahan hadir dalam berbagai keadaan. Di lembah Kali Code misalnya, yang diharapkan Romo Mangun adalah kebangkitan harga diri warganya. Dari sana akan timbul semangat untuk berjuang, untuk menempuh setiap proses tanpa harus selalu disuapi. Ia menyadari bahwa pengembangan diri setiap orang sebaiknya berangkat dari apa yang dia punya dan diupayakan sendiri, sehingga buah kesejahteraan yang dipanen tidak tercabut dari akar identitasnya.

Eksplorasi arsitektur Romo Mangun menunjukkan keseimbangan antara aspek ontologi tentang hakikat dari sesuatu, epistemologi terkait cara mengetahui informasi tersebut, dan aksiologi yang membahas keberpihakan. Di ontologi, Romo Mangun berada dalam situasi di mana ia harus memahami karakter material secara mendalam hingga akhirnya menelurkan tektonika. Di epistemologi, beliau dibayangi arsitektur barat, tetapi di saat yang bersamaan menghadapi realita yang kontras, sehingga lahirlah metode mendesain yang mengkombinasikan low dan high technology. Pada aksiologi, keberpihakan Romo Mangun terhadap masyarakat marjinal menghasilkan elaborasi ketukangan yang menjadi bahasa estetika baru dan bisa dilanjutkan meski Romo Mangun sudah tidak ada. Setiap individu pasti memiliki tiga aspek ini dalam perjuangannya, hanya saja tidak banyak yang bisa menunjukkan totalitas di ketiganya, apalagi di titik aksiologi yang memerlukan empati dan keteguhan prinsip.

Ketika ditanya pendapatnya tentang Pameran Arus Silang AMI (Arsitek Muda Indonesia) di Jakarta (1992) yang mengangkat pendekatan ala dekonstruksi, Romo Mangun merasa apa yang mereka lakukan adalah cara yang ketinggalan zaman. Dalam artian, apabila arsitektur dikembangkan demi arsitektur itu sendiri—apabila fokusnya pada fungsi, ruang, dan permainan bentuk saja—kapan arsitektur bisa hadir untuk menanggapi permasalahan yang ada di Indonesia? Pada akhirnya, arsitektur bagi Romo Mangun bukanlah tujuan akhir. Ia adalah salah satu kendaraan yang dipakai untuk mendukung keberpihakannya.

Selain berarsitektur, menulis menjadi kelihaian lain Romo Mangun dalam mengkomunikasikan pemikirannya. Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan dan Wastu Citra hanya segelintir dari 35 judul buku yang pernah beliau tulis. Tidak hanya tema arsitektur, beliau justru banyak menulis esai kritik sosial tentang kesejahteraan rakyat dan pendidikan, selain juga menulis soal spiritualisme dan kemanusiaan. Beliau juga menelurkan puluhan artikel yang diterbitkan dalam antologi dan berbagai media massa sepanjang 1978-1998. Kekuatan Romo Mangun ada pada gaya menulisnya. Tidak kaku dengan diksi intelek seperti tulisan akademik, tetapi justru terkesan lebih amatir dengan pendekatan yang menyentuh. Tidak dengan teori yang mendakik-dakik, tetapi berdasarkan pengalamannya langsung sebagai praktisi dan pendidik. Refleksinya memberikan interpretasi baru pada fenomena yang selama ini ada dan membuka alternatif praktik atau penyelesaian masalah. (Darwis Khudori, 2001)

Namun, di antara banyak jenis tulisan yang pernah dibuat Romo Mangun, karya fiksi menjadi kendaraan terkuatnya. Esai-esai mungkin hanya akan dibaca oleh orang-orang terpelajar, sedangkan kalangan yang menjadi targetnya seringkali tidak memiliki akses pendidikan yang memadai. Fiksi pun menjadi media yang mampu menyentuh lebih banyak audiens, dan dengan adanya karakter, Romo Mangun dapat menggambarkan kompleksitas kehidupan yang selama ini beliau renungkan. Beberapa karya fiksi yang beliau tulis antara lain: Trilogi Roro Mendut, Rumah Bambu, Pohon-Pohon Sesawi, dan tentunya yang paling dikenal Burung-Burung Manyar.

Sama dengan karya-karya Romo Mangun dalam media lain, keberpihakan terhadap rakyat kecil masih menjadi tema utama dalam karya fiksinya, dielaborasi dengan nilai-nilai filosofis dalam menghadapi ekosistem pasca-kolonialisme yang rentan di berbagai bidang (lingkungan hidup, sosio-politik, budaya, sejarah). Akan tetapi, itu semua dibalut dalam metafora yang menyembunyikan kritik tajam yang sesungguhnya. Lagi-lagi Romo Mangun bermain dengan simbolisme. Selain agar pesan lebih mudah dicerna, faktor rezim Orde Baru yang ketat sensor dan antikritik membuatnya harus mencari jalur komunikasi alternatif. Strategi ini mengingatkan pada penulis Amerika, Ernest Hemingway (1899-1961) yang juga menggunakan metafora keseharian yang interpretatif untuk mengkritik peperangan, materialisme di dunia modern, dan isu sosial lainnya.

Burung-Burung Manyar

Romo Mangun di Burung-Burung Manyar, mengajak kita menyelami kehidupan masyarakat biasa di Indonesia pada rentang masa 1934-1978. Novelnya berkisah tentang Teto, pemuda keturunan campuran Indo-Jawa pro-Belanda yang kemudian berubah setelah bertemu Atik, gadis pribumi yang cerdas dan berani, tetapi juga punya sisi feminin dan hangat. Atik diceritakan menulis disertasi tentang “Jati Diri dan Bahasa Citra dalam Struktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar”. Dari situ pembaca bisa menarik makna lebih dalam dari karakter Burung Manyar yang dikenal dengan kemampuan menganyam sarang. 

Burung Manyar

Teto tak ubahnya manyar jantan yang sedang berusaha membangun “sarang” untuk betinanya, tetapi ia harus lebih dahulu menghadapi krisis identitas dan pencarian “tempat” di tengah negara yang bergejolak. Sementara, Atik si manyar betina baru bersedia dipinang setelah memastikan bahwa sarangnya aman untuk bertelur. Metafora burung manyar memberikan pelajaran bahwa yang terpenting bukanlah rasa cinta terhadap pasangan, tetapi bagaimana pasangan ini bisa menyiapkan lingkungan yang kondusif untuk bertelur dan membesarkan generasi baru burung manyar. 

Masuk era 1980-an, kondisi sosial yang kritis nampaknya membuat Romo Mangun tak lagi bisa tenang di balik jubah pastur, arsitek, ataupun penulisnya. Visi pembangunan Orde Baru yang berorientasi pada modernisme dan keindahan kota berujung pada tergusurnya kaum-kaum marjinal. 

Salah satu yang menjadi korban adalah warga bantaran Kali Code di Yogyakarta. Rata-rata mereka adalah warga desa yang tidak lagi bisa sejahtera sebagai petani dan mencoba mencari peruntungan dengan merantau, tetapi justru tidak menemukan tempat di kota. Akhirnya, mereka bermukim di “ruang-ruang negatif” dan bekerja di sektor buangan, bahkan waktu itu Kampung Code sering dicap sarang preman dan PSK. Upaya penggusuran pada pemukiman ilegal ini sudah dilakukan berkali-kali sejak 1960-an dan aliran lahar Gunung Merapi pun turut mengancam kelangsungan kampung, tetapi warga selalu berhasil untuk kembali bermukim di sana lagi.

Prihatin melihat kondisi yang kurang kondusif bagi mental masyarakat dan pembelajaran anak-anak di sana, pada 1981 Romo Mangun mulai meninggalkan kesehariannya sebagai pastor dan tinggal bersama warga di Kali Code. Romo Mangun bernegosiasi untuk merevitalisasi kampung agar lebih aman, bersih, dan tertata. Pembangunan sepanjang tahun 1983-1987 menggunakan bambu, kayu, dan material murah lainnya, ternyata berhasil meningkatkan kualitas fisik kampung ini. Simbolisme terbentuk dari bahasa arsitektur yang sederhana ini, ditambah dekorasi warna-warni dari goresan cat yang membuat suasana lebih hidup. Revitalisasi ini menumbuhkan kebanggaan pada diri warga serta mengangkat nilai Kampung Kali Code di mata masyarakat umum. Kesejahteraan sosio-ekonomi warga Code pun turut membaik seiring waktu. Pada 1992, proyek ini mendapat penghargaan Aga Khan Award for Architecture.

Perjuangan Romo Mangun masih belum berhenti di sini. Seperti pada novel Burung-Burung Manyar yang ia tulis, generasi muda selalu jadi perhatian Romo Mangun. Satu dekade terakhir hidupnya didedikasikan untuk menciptakan ekosistem pendidikan dasar yang menyenangkan dan memerdekakan. Namun, biar cerita itu kita simpan untuk lain waktu. 

Di titik ini, kita cukup tahu bahwa empati dan keinginan Romo Mangun untuk bertindak amatlah besar hingga satu cara pun tak cukup untuk menyalurkan kehendaknya. Biasanya, orang yang empatinya begitu dalam memiliki daya yang terbatas karena emosi yang menguras energi. Namun, Romo Mangun justru bisa merdeka dari jebakan ini. Jolanda Atmadjaja melihat ini sebagai respons yang matang terhadap kondisi “Split Subject”. Psikoanalis Jacques Lacan (1901–1981) mengemukakan teori ini di 1960-an, menyatakan bahwa manusia tidak pernah memiliki identitas yang utuh, melainkan selalu terpecah—di antaranya karena simbol/label/peran sosial yang tersemat pada diri dan juga gap antara kondisi ideal yang kita impikan dengan realita yang terjadi. Seyogianya, manusia akan terus mencari titik seimbang, mengejar sesuatu yang membuat dirinya merasa utuh, mengembangkan perannya terus menerus. Kebanyakan orang, terutama yang baru memulai perjalanan menemukan jati diri, mungkin akan terjebak dalam ilusi satu peran/label saja, mengiranya sebagai kondisi utuh. 

Pengalaman menghadapi realita yang ekstrem sejak muda barangkali membuat Mangunwijaya begitu cepat merespons kondisi split dan pandai memposisikan ulang dirinya dalam peran lain lantaran menyadari adanya batasan dalam peran yang sebelumnya. Ia menyadari bahwa tidak semuanya bisa diselesaikan dari satu perspektif. Ia juga menyadari bahwa tidak semua bisa diselesaikan sendirian, sehingga ia senantiasa mengajak orang lain untuk ikut bergerak. Di titik ini ia mampu merubah konstruk dengan produktivitas di banyak lini dan berkonstelasi. Ini hanya bisa dilakukan oleh seorang yang sudah terjun total dan menyadari bahwa batas-batas ilmu itu sebenarnya bisa dirangkai ulang.

Berkaca pada Kampung Code, hingga saat ini ia masih berdiri, sebagian bangunan yang seharusnya temporer sudah berubah menjadi lebih permanen. Memang, ini menyalahi visi dasar Romo Mangun untuk Code sebagai shelter sementara bagi warganya sampai mereka berangsur mandiri dan pindah ke tempat yang lebih baik. Hanya saja perubahan sosial yang terjadi ternyata tidak secepat yang diimpikan Romo Mangun. Meski patut disyukuri bahwa generasi mudanya saat ini sudah banyak yang berpendidikan tinggi dan punya prospek yang lebih baik daripada orangtuanya.

Melihat apa yang hadir, pertanyaannya bukan sejauh mana Romo Mangun bisa berjuang untuk Kampung Code, tetapi bagaimana visi tersebut bisa terus mengudara jauh di atas bentuk arsitektural, bagaimana memperjuangkan tempat yang membumi, dan sejauh mana kata kemerdekaan itu bisa direnungi dan dihidupkan oleh generasi penerus Romo Mangun.

Romomangun bersama anak-anak Code

English translation

Romo Mangun: Footprints of Architecture That Humanizes

During the process of writing this article, a designer at our studio asked, “Why does Kak Rich write about Romo Mangun? Why do we, the younger generation, need to know about him?”

Well, studying the figure of Romo Mangun is not merely a historical responsibility. Reflecting on the author’s practice in Jakarta, amid the hustle and bustle of provocative, business-oriented architecture in the capital, Romo Mangun, through his work, demonstrated that many segments of society need a more accessible approach. Indonesia is not just about Jakarta, and his endeavors strategically addressed this dilemma through his multifaceted roles, breaking through the often contradictory boundaries of the architectural profession.

An essay by Realrich Sjarief and Hanifah Sausan

In a meeting with the late Adhi Moersid, he shared his experience of studying alongside Y.B. Mangunwijaya at ITB (Bandung Institute of Technology) in 1959–1960. According to him, Mangunwijaya often came to campus wearing his priestly robes. This snippet of memory might seem amusing to those of us more familiar with Mangunwijaya through his built works—though we know he was often called “Romo” (a Javanese term for a Catholic priest), and many of his projects were Catholic religious facilities.

Drawing a parallel with Antoni Gaudí, whom we discussed previously, Mangunwijaya was a “species” of architect whose work transcended the boundaries of design, extending into teaching, writing, activism, and service. From his priestly robes to the tales of weaverbirds and bamboo weaving along the banks of Kali Code, what drove Mangunwijaya to pursue this multispectral path? What vision did he champion?

Born on May 6, 1929, in Ambarawa, Central Java, into a Catholic family with both parents as teachers, Yulianus Sumadi Mangunwijaya grew up in a religious and educated environment. From a young age, he aspired to become an architect, but before he could finish school, he joined the struggle for independence as a student soldier from 1945 to 1948. During this time, he witnessed how villagers supported the soldiers while also becoming victims of colonial brutality. He saw his comrades fall, and it’s likely he himself experienced moments on the brink of life and death.

At that point, he may have realized that surviving such events was a blessing in itself, and that life was too precious to live halfheartedly. Mangunwijaya felt compelled to “repay a debt to the people,” and the path he chose was service as a priest. At the age of 21, he enrolled in St. Paulus Seminary in Yogyakarta, despite being older than most of the other aspiring priests.

In the book The Altruism of Romo Mangun by Darwis Khudori, it is explained that after graduating from Sancti Pauli, Mangunwijaya was ordained as a priest by Bishop Albertus Soegijapranata. He took on the official name we now know well: Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. However, just one day after becoming a priest, Bishop Soegija requested that he study architecture, so he could build places of worship in various regions with a local architectural language rather than a colonial one. This led him to study at ITB, where he met Adhi Moersid in 1959–1960, before later continuing his education at the Rhein Westfalen Technical School in Germany, where he earned his degree.

Upon returning to Indonesia, Romo Mangun began constructing numerous churches and retreat houses in Yogyakarta (DIY) and Central Java (Jateng). He also designed projects beyond the church’s scope, including residences, boarding houses, housing complexes, and schools. Some of his notable works include the Maria Assumpta Church (1967–1969), Sendang Sono (1972–1991), the Kali Code Riverside Settlement (1983–1987), Arief Budiman House (1986–1987), Wisma Kuwera (1986–1999), Fermentum Seminary (1996), and many others.

Looking at the development of Indonesian architecture post-independence, there was always an urgency to define what Indonesian architecture should be. At the time, Western modern architecture was the preferred style to build a new, strong national identity, initiated by President Soekarno and continued under President Soeharto through monumental projects and urban planning.

However, Romo Mangun lamented the application of architecture without consideration for Indonesia’s tropical climate and culture, as seen in Jakarta with its concrete-and-glass buildings. Moreover, architecture that required industrial materials and advanced construction techniques was difficult to implement for ordinary people, most of whom lived in small towns or villages—a reality Mangunwijaya knew well from his childhood and his daily life as a priest. Thus, alongside the need to define a national identity through architecture, there arose a concern for an Indonesian architecture that was relevant to the climate, natural resources, and daily lives of the general populace.

The generation of architects active at the time, such as Friedrich Silaban, Soejoedi, and Romo Mangun himself, mostly studied architecture abroad, particularly in Germany. It’s no surprise, then, that the architectural language they used was heavily influenced by modernism. However, each architect had their own way of interpreting local climate conditions and Indonesian society in their works.

Friedrich Silaban (1912–1984), despite working on monumental projects with modern mass compositions, always incorporated wide openings and louvers to block direct sunlight. Soejoedi Wirjoatmodjo (1928–1981) preferred using wide eaves instead of louvers to respond to the climate. Culturally, he drew inspiration from the Javanese concept of inner and outer spaces as a basis for balanced spatial programming, even though his mass compositions were entirely new and conveyed an independent image.

Meanwhile, Adhi Moersid, a peer who studied locally, took a more localized approach with his concept of Wooden Board Architecture, as outlined in his book Kagunan. The principle involved combining two flat wooden boards to form a stronger rafter, enabling roof construction without purlins. This concept marked a leap from frame structures to planar structures. The arrangement of wooden boards also produced a neater and more aesthetically pleasing visual when exposed, creating a “new ceiling.”

Each of these architects had their own methods for working with space and materials. For the monumental scale of Silaban and Soejoedi’s works, concrete and fabrication techniques were relevant. Even simple visuals required a specific tectonic approach to ensure seamless connections between materials. Adhi Moersid’s approach was more technocratic, focusing on the science itself and the context of cost, quality, and time in a project. He pushed boundaries with natural, local wood materials, though these still needed to be sourced from the “market” with uniform specifications.

When it comes to Romo Mangun, every aspect was thoroughly explored. From the shape of the roof to the arrangement of bricks, the texture of concrete, and the details of joints—nothing was overlooked. Yuswadi Saliya once described Sendang Sono with the expression, “His desire to create left its mark everywhere. Witnessing it can be exhausting; the details tell an unending story, greeting you at every curve and turn. Triangles and rectangles form planes and spaces that echo and resonate, rising and falling in tiers, creating a human-made spectacle that blends with the winding river and the ridges and valleys of the hills. It’s incredibly complex. Diverse.” Diversity in technique became the hallmark of Romo Mangun’s architecture. His concept was variational or hybrid, reflecting the context of the location where his architecture stood.

In terms of mass composition, he often explored sloped roof forms, considering the use of tiles as a covering that was easily available and relatively affordable compared to concrete roof installations, especially given Indonesia’s high rainfall. Romo Mangun’s roofs spanned wide, often dominating the building’s image. With low body proportions, there seemed to be an effort to keep the scale humane, making maintenance easier.

To support these roofs, a variety of materials were used. Out of his roughly 30 built works, more than a dozen churches primarily used concrete as a structural element. Sometimes it served merely as columns when the roof span could still be supported by wooden structures; other times, it appeared as beams when the church’s capacity was too large. Meanwhile, in smaller churches, retreat houses, schools, or residences with modest areas, the primary structural role was typically taken by wood.

However, even when concrete was used, Romo Mangun was not accustomed to leaving it plain. Patterns were etched into it—sometimes in regular designs, sometimes using molds made from bamboo or reclaimed wood—giving an organic impression, like a tree within the building. The dimensions of the concrete were kept slender and arranged in rhythmic repetition to soften its rough, heavy character (Tjahjono, 1995). Sometimes, cantilever beams were molded to resemble branches. In Romo Mangun’s hands, concrete became softer and often felt organic.

Moving to the body of the building, Romo Mangun often designed his public spaces, especially churches, to be open without enclosing walls, except for a single row behind the altar. First, this maximized airflow—similar to Silaban’s belief that Indonesia needed wide roofs to shield from the sun’s heat rather than walls that block the equatorial breeze, which moves at a modest speed. Second, this was due to his concept of the “market church.” Romo once advised, “When religiosity becomes more deeply rooted in the light of God, then the true human being is a reflection of God’s own shadow” (Mudji Sutrisno, 2001). There was no urgency to separate the sacred space of the church from the “market” of daily life. Instead, that boundary was opened to bridge the souls seeking God’s light.

When a wall was needed, it took various forms: brick, wood, bamboo, natural stone, concrete, or a combination of them all. The parameters were not far from budget constraints, material availability on-site, the creativity of craftsmanship, and community empowerment. For example, the Convent of the Sisters of the Mother of Unity in Gedono, Salatiga, was initially designed with brick walls. However, when Romo Mangun surveyed Gedono, he noticed that many locals worked as gravel stone cutters. He had the idea to employ them to cut larger stones from the nearby Banaran area, which was closer than sourcing bricks from Klaten. This reduced costs, and the locals learned new skills in cutting large stones neatly. Materials that seemed ordinary were transformed in an extraordinary way.

For the floors, in some of his works constructed with wood—particularly residences—Romo Mangun often applied a raised floor structure. Examples include parts of Wisma Salam, Sendang Sono, Arief Budiman House, Kampung Code, and Wisma Kuwera. This was a response to Indonesia’s humid tropical climate, which can affect wood. But beyond that, the combination of raised and conventional floor structures within a single work created a dynamic play of heights, making the spaces within feel delightful!

Romo Mangun’s architecture became a key precedent in the collaboration between low technology and high technology. Julia Watson, in her book Lo-TEK (2019), explains that low technology, or lo-tech, is often associated with simple, unsophisticated, uncomplicated systems or machines from before the industrial revolution. We also see it as an intuitive and impulsive method, with solutions that emerge spontaneously on-site. Conversely, high technology (high-tech) is new, advanced, and gives the impression of being a better option. Watson reveals that high-tech systems, which attempt to be a solution for all problems, often contradict the heterogeneity or diversity within the complexity of ecosystems.

Therefore, high-tech isn’t always the answer. The combination of lo-tech and high-tech became the middle ground Romo Mangun adopted to address the gap between cutting-edge Western architecture, which dominated the world, and the local architecture that was part of Indonesian daily life at the time. This reflection on his concerns eventually led to the creation of the books Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan (Introduction to Building Physics) and Wastu Citra (The Image of Building).

Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan (1980) focused more on technical aspects and responses to Indonesia’s tropical climate, as well as natural phenomena like earthquakes. It included a special chapter discussing the application of local materials such as bamboo, wood, and brick, which were suitable for Indonesian conditions. Aimed at students and non-academic practitioners, the book was written in simple language with diagrams and practical examples. There was an understanding that society had limited access to high technology, so Western-based architectural education needed to be balanced with knowledge of building methods relevant to local conditions.

Meanwhile, Wastu Citra (1988) took a more discursive perspective. Published at a time when Romo Mangun no longer wished to serve as a priest and was more involved in activism with the lower classes, he likely saw how traditional building practices and those developed in daily life were often not considered part of architecture. Thus, he used the term “wastu,” which encompasses all forms of building activities, to level the playing field.

Revianto B. Santosa, in the documentary Wastu, observed how Romo Mangun took a “universal” approach in this book: not only discussing the strengths of Indonesian architecture with its tropical climate and vernacular culture but also including chapters on Western architecture and its philosophy, as well as international inspirations from Greece, Japan, and India. When discussing deeper cosmological meanings beyond the physical form of wastu, Romo Mangun drew on studies from various cultural and religious traditions around the world. However, he ultimately concluded the book with a call to blend the best elements from each pole to bring prosperity to all, including the marginalized.

In our view, beyond just combining low and high technology, Romo Mangun’s commitment to the common people extended to the very dimensions of the materials he used. Take a joglo—a traditional Javanese house from the low-tech tradition; its use was no longer relevant for the lower classes because large, long, and solid wooden beams were unaffordable. Romo Mangun had to work with shorter pieces of wood—and whatever materials were available, even if they were scraps or what others might consider trash. From our interview with Rina Eko Prawoto, it was common for Romo Mangun to ask workers to remove nails from a piece of wood. Both the wood and the nails would be reused for other needs.

We had the chance to visit Wisma Kuwera. At first glance, the building seems to respond to Yogyakarta’s urban context by creating a dense program of spaces within. Its modular dimensions are no larger than 3 meters, with a vertical composition that interlocks, featuring floor height variations between 1 and 1.5 meters. The spatial experience it creates is truly fascinating, prompting the question, “How did Romo come up with something like this?” Upon further reflection, those small dimensions were a response to limited access to massive materials, creatively arranged to form an innovative spatial composition.

Material limitations also gave rise to multifunctional elements. One example is the A-frame structure, which was later widely used in Sendang Sono, Arief Budiman House, Kampung Code, and the Gedono Convent. Here, the roof also served as a wall, and the columns doubled as the roof frame. It was like an attic but used as a primary space. The presence of actual walls or other elements grew as needed, allowing the building to transform elegantly.

When access to materials was so limited, one had to understand how to maximize what was available. Perhaps this was the seed that produced Mangunwijaya’s tectonics. Quoting Mahatmanto (2001, Tectonics of YB Mangunwijaya), “Understanding the material is the starting point in building, and that can only be done by directly touching and feeling the qualities it holds.”

Yuswadi Saliya once had the chance to observe Romo Mangun while he was about to build a partition wall from lattice blocks. He spent a long time turning the blocks over. “Stacking them, lining them up, angling them… He examined them from the side, from below, stepping back and then shifting… Searching for the most harmonious position, composing the most melodious tune.” The elaboration was done without drawings, relying on sensory sensitivity as a human interacts with the form of space. Yuswadi saw this as a form of freedom.

In his process, Romo Mangun worked closely with the workers. He didn’t just oversee them—he educated them, and often, he learned new things from them as well. Their significance was so great that he dedicated a page in Wastu Citra to them: “This book is written to honor the workers and field laborers who, in their own way, have become master teachers of architecture to me.” They were the ones Romo Mangun wanted to invite to achieve freedom together.

Romo Mangun focused on the creative process, not just to make money through a capitalist approach, but to use the money earned to bring prosperity. Eko Prawoto once shared a story about his teacher: “Romo created those details not for aesthetic reasons, but to prolong the work, so the workers could stay employed longer at the site.” It’s possible that the cost spent on labor exceeded the cost of materials.

This reminds us of the architect Louis Kahn when he designed the National Parliament Building in Dhaka, Bangladesh. His project created many new jobs and became a means of skill development for local workers. What sets them apart is their choice of materials. For a project as large as the Parliament Building, the use of concrete and marble created a craftsmanship gap in a society accustomed to building with earth, bamboo, wood, and brick.

This is where Romo Mangun’s choice to combine low and high technology becomes significant. As a result, the workers could continue working on something familiar to their daily lives while also learning new materials or techniques together. A circular resource system emerged, with leftover or used materials reentering the cycle alongside workers who were re-empowered. Mahatmanto, in the documentary Wastu, explained how Romo Mangun recognized the heterogeneous quality of society: “So he took the lowest threshold to ensure that all materials, craftsmanship, and skills possessed by the workers could be utilized optimally.”

However, simple techniques didn’t mean ordinary results. On the contrary, the low-threshold approach opened opportunities for everyone to participate. Often, the workers proposed new ideas that Romo Mangun hadn’t thought of before. Gunawan Tjahjono described this process as a jazz performance, where each player has the freedom to enrich the song: “From the workers to the users, everyone was involved and had the chance to interpret. The participants had the space to express themselves through parts of the building they might inhabit for a lifetime.” Ultimately, after Romo Mangun was no longer there to guide them, it was hoped that the users and workers could continue or maintain the buildings independently.

The buildings’ performance was also designed to educate. At the Fermentum Seminary in Bandung, for instance, Romo Mangun divided the residence for the fraters (priest candidates) into small units of 5–6 people to form small, family-like communities that knew each other well. The combination of low and high technology was again applied, introducing a sense of temporariness that required regular maintenance. “Romo Mangun said, ‘Let it be, so the fraters in each unit can compete to see which unit is the best maintained,’” said Father William. Romo Mangun seemed to emphasize that being a priest is not a privilege but a role to serve the community. This awareness was cultivated through daily habits—using facilities appropriately and repairing any damaged parts.

The values of everyday life were one of the lessons we found in Romo Mangun’s figure. Beyond being translated into spatial programs and overall designs, he seemed to capture the good aspects of society’s daily life and celebrate them through symbolism. This could take various forms, from unique masses as focal points to repetitive structures, material arrangement patterns, and decorative elements.

The use of symbolism might seem superficial for a thinker as profound as Romo Mangun. However, this might have been the simplest way to instill pride in the small communities he served—that every life is valuable, that beauty exists in all circumstances. At the Kali Code valley, for example, what Romo Mangun hoped for was the revival of the residents’ self-esteem. From there, a spirit to strive would emerge, to go through every process without always being spoon-fed. He realized that personal development should stem from what one has and be achieved independently, so the fruits of prosperity reaped are not uprooted from their identity.

Romo Mangun’s architectural exploration demonstrates a balance between ontology (the essence of something), epistemology (the way of knowing that information), and axiology (the study of values and biases). In ontology, Romo Mangun was in a position where he had to deeply understand the character of materials, ultimately giving birth to his tectonics. In epistemology, he was overshadowed by Western architecture but simultaneously faced a contrasting reality, leading to a design method that combined low and high technology. In axiology, Romo Mangun’s commitment to the marginalized produced a craftsmanship elaboration that became a new aesthetic language, one that could continue even after he was gone. Every individual undoubtedly has these three aspects in their struggle, but few can demonstrate totality across all three, especially in axiology, which requires empathy and steadfast principles.

When asked his opinion on the 1992 Arus Silang AMI (Young Indonesian Architects) Exhibition in Jakarta, which promoted a deconstructivist approach, Romo Mangun felt that what they were doing was outdated. In the sense that if architecture is developed for architecture’s sake—if the focus is only on function, space, and form—when will architecture address the real issues in Indonesia? Ultimately, for Romo Mangun, architecture was not the end goal. It was merely one vehicle he used to support his advocacy.

Beyond architecture, writing became another skill Romo Mangun used to communicate his thoughts. Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan and Wastu Citra are just a few of the 35 books he authored. His works weren’t limited to architecture; he wrote extensively on social critique regarding people’s welfare and education, as well as on spirituality and humanity. He also produced dozens of articles published in anthologies and various mass media from 1978 to 1998. Romo Mangun’s strength lay in his writing style. It wasn’t rigid with intellectual diction like academic writing but felt more amateurish in an approachable way. It wasn’t laden with lofty theories but was based on his direct experience as a practitioner and educator. His reflections offered new interpretations of existing phenomena and opened alternative practices or solutions to problems (Darwis Khudori, 2001).

However, among the many types of writing Romo Mangun produced, fiction became his most powerful medium. Essays might only be read by the educated, while his target audience often lacked access to adequate education. Fiction became a medium that could reach a broader audience, and through characters, Romo Mangun could depict the complexities of life he had long contemplated. Some of his fictional works include the Roro Mendut Trilogy, Rumah Bambu (Bamboo House), Pohon-Pohon Sesawi (Mustard Trees), and, of course, the most well-known, Burung-Burung Manyar (The Weaverbirds).

As with his works in other media, his commitment to the common people remained the central theme in his fiction, elaborated with philosophical values in facing the fragile post-colonial ecosystem across various fields (environment, socio-politics, culture, history). However, this was all wrapped in metaphors that concealed his sharp critiques. Once again, Romo Mangun played with symbolism. Besides making the message more digestible, the strict censorship and anti-criticism stance of the New Order regime forced him to find alternative communication channels. This strategy is reminiscent of the American writer Ernest Hemingway (1899–1961), who also used interpretive metaphors of daily life to critique war, materialism in the modern world, and other social issues.

In Burung-Burung Manyar, Romo Mangun invites us to delve into the lives of ordinary Indonesians from 1934 to 1978. The novel tells the story of Teto, a young man of mixed Indo-Javanese descent who initially sided with the Dutch but changed after meeting Atik, a smart and brave indigenous girl with a feminine and warm side. Atik is depicted as writing a dissertation on “Identity and Visual Language in the Communication Structure of the Weaverbird (Ploceus Manyar) Variety.” From this, readers can draw deeper meanings from the weaverbird’s character, known for its nest-weaving ability.

Teto is akin to a male weaverbird trying to build a “nest” for his mate, but he must first confront an identity crisis and a search for his “place” in a turbulent nation. Meanwhile, Atik, the female weaverbird, is only willing to be courted after ensuring the nest is safe for laying eggs. The weaverbird metaphor teaches that the most important thing is not the love for one’s partner but how the couple can create a conducive environment for laying eggs and raising the next generation of weaverbirds.

Entering the 1980s, the critical social conditions seemed to make Romo Mangun unable to remain at ease behind his roles as a priest, architect, or writer. The New Order’s development vision, which prioritized modernism and urban beautification, led to the displacement of marginalized communities.

One group affected was the residents along the banks of Kali Code in Yogyakarta. Most of them were villagers who could no longer prosper as farmers and sought better fortunes by migrating to the city, only to find no place for themselves. They ended up settling in “negative spaces” and working in discarded sectors, with Kampung Code often labeled at the time as a den of thugs and sex workers. Eviction attempts on this illegal settlement had been made multiple times since the 1960s, and the lava flows from Mount Merapi further threatened the village’s survival, but the residents always managed to return and resettle.

Concerned about the conditions that were detrimental to the community’s mental well-being and children’s education, in 1981, Romo Mangun left his daily life as a priest and began living with the residents of Kali Code. He negotiated to revitalize the village to make it safer, cleaner, and better organized. Construction from 1983 to 1987, using bamboo, wood, and other affordable materials, successfully improved the physical quality of the village. Symbolism emerged from this simple architectural language, enhanced by colorful decorations from painted strokes that brought the atmosphere to life. This revitalization fostered pride among the residents and elevated the value of Kampung Kali Code in the eyes of the wider community. The socio-economic welfare of the Code residents also improved over time. In 1992, this project received the Aga Khan Award for Architecture.

Romo Mangun’s struggle didn’t stop there. As in his novel Burung-Burung Manyar, the younger generation was always a focus for him. The last decade of his life was dedicated to creating a joyful and liberating elementary education ecosystem. But let’s save that story for another time.

At this point, it’s enough to know that Romo Mangun’s empathy and desire to act were immense, to the extent that a single medium was not enough to channel his will. Typically, people with such deep empathy have limited capacity due to the emotional toll it takes. However, Romo Mangun managed to break free from this trap. Jolanda Atmadjaja sees this as a mature response to the “split subject” condition. Psychoanalyst Jacques Lacan (1901–1981) introduced this theory in the 1960s, stating that humans never have a whole identity but are always fragmented—partly due to the symbols, labels, or social roles attached to them, and the gap between the ideal conditions we dream of and the reality we face. Ideally, humans will continually seek balance, chasing something that makes them feel whole, constantly evolving their roles. Most people, especially those just beginning their journey of self-discovery, might get trapped in the illusion of a single role or label, mistaking it for wholeness.

Perhaps Mangunwijaya’s experiences facing extreme realities from a young age allowed him to quickly respond to this split condition and adeptly reposition himself in other roles, recognizing the limitations of his previous ones. He understood that not everything could be resolved from a single perspective. He also realized that not everything could be solved alone, so he consistently invited others to join the movement. At this point, he was able to reconstruct frameworks, being productive across multiple domains and forming constellations with others. This can only be achieved by someone who has fully immersed themselves and realized that the boundaries of knowledge can be reimagined.

Looking at Kampung Code, it still stands to this day, though some buildings meant to be temporary have become more permanent. This does go against Romo Mangun’s original vision for Code as a temporary shelter for its residents until they could become independent and move to better places. However, the social changes that occurred were not as rapid as he had hoped. Still, it’s worth celebrating that many of the younger generation there now have higher education and better prospects than their parents.

Given what remains, the question is not how far Romo Mangun could fight for Kampung Code, but how his vision can continue to soar far beyond its architectural form, how to advocate for a grounded place, and to what extent the concept of freedom can be contemplated and brought to life by Romo Mangun’s successors.

Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog inspiring people tulisan-wacana

Eko Prawoto dan Desa, Metode Arsitektur Masa Depan untuk Indonesia

(English translation is available below)

[Diterbitkan pertama kali pada 14 Juni 2025]

Sepuluh tahun terakhir sebelum wafat, arsitek Eko Prawoto memutuskan untuk menepi ke desa. Keseharian kota yang tak pernah luput dari pembangunan dan lahan subur proyek arsitektur itu ia tinggalkan. Beliau membangun rumah baru di desa, menciptakan “proyeknya sendiri” bersama tukang-tukang yang tidak selalu ada karena disambi bertani. Kami keheranan, kok beliau mau ya ngurusin sesuatu yang tidak jelas kapan mulai dan selesainya? Saat OMAH Library berkunjung ke sana di 2023, akhirnya kami mulai paham. Di sana ada spirit yang dipancarkan, yang semangatnya menggema dengan lantang di tengah perjalanan yang sunyi, yang keras memantik di antara ruang-ruang yang terjalin lembut.

Eko Prawoto, Realrich Sjarief, dan tim OMAH Library.
Sumber: OMAH Library

Sebuah tulisan oleh Realrich Sjarief dan Hanifah Sausan

Sebelum pindah ke desa, sejak 1988 Eko Prawoto dan keluarganya tinggal di rumah rancangannya sendiri di Bener, pinggiran Kota Yogyakarta. Rumah itu perlahan berkembang dan sebagian menjadi studio yang ia namai Eko Prawoto Architecture Workshop.

Dari sana lahir karya-karya seperti Cemeti Art House (1998), Viavia Café Prawirotaman (2004), Padusan Sendang Sono (2013), Rekonstruksi Desa Ngibikan (2006), Rumah Butet Kertaradjasa (2002), dan banyak rumah seniman lainnya, serta rumah murah untuk berbagai kalangan. Di sini pula beliau mulai mendapat tawaran untuk mendesain instalasi dan perlahan meniti jalan sebagai seniman internasional.

Sejak awal, pendekatan kontekstual, organik, dan humanistik sudah mewarnai karya-karyanya baik sebagai arsitek, maupun sebagai seniman. Hanya saja, pendekatan itu menjadi semakin kuat ketika berhadapan dengan kondisi di desa yang memiliki keterbatasan akses material dan tukang-tukang terampil. Namun, di situlah Eko Prawoto meyakini adanya kecerdasan dan kreativitas tinggi untuk menciptakan sesuatu yang sederhana sebagai wujud dari sikap kematangan serta keutuhan dan harmoni dengan alam.

Kepindahannya ke Kulon Progo dipengaruhi berbagai faktor. Daerah Bener yang dahulu dikelilingi sawah-sawah dan sudah menjadi rumahnya selama 3 dekade, perlahan berubah menjadi kawasan pemukiman yang cukup padat. Namun, ia masih bertahan karena masih harus mengajar di UKDW—posisi yang sudah ia tekuni sejak 1985. Rencananya, Pak Eko ingin menjalani kehidupan yang lebih lambat setelah pensiun. Terlebih, sebagai pengajar beliau merasakan bagaimana pendidikan arsitektur saat ini cenderung berfokus pada pendekatan urban, industrial, dan kapitalistik.

“Sekarang semua kurikulum itu karakternya hanya berfokus pada urban, industri, dan kapital. Mungkin cocok buat kota, tapi perlu diingat bahwa ada desa, ada pulau-pulau kecil, yang mungkin tidak cocok dengan pendekatan yang diajarkan,” ujar Pak Eko waktu kami mengunjungi beliau di rumah desanya—barangkali lebih seperti self-reminder daripada kritik untuk publik.

Rumah Bener akhirnya hanya ditinggali sampai tahun 2014. Kantor biro arsitekturnya masih terpusat di sana, dan beliau masih terus mengajar di UKDW. Namun, di tahun itu Pak Eko dan istrinya Bu Rina memantapkan hati, pindah menjadi warga Desa Kedondong di Kulon Progo. Sejak itu, ia memposisikan untuk hadir dan hidup di desa, mengamati cara hidup masyarakatnya dengan alam.

Diskusi OMAH Library bersama Eko Prawoto di Rumah Kedondong. Sumber: OMAH Library

“Memang proses belajar lagi,” begitu katanya. Ibarat beliau sedang mengambil disertasi S3 tentang “bahasa arsitektur yang lebih gayut di desa”. Dari situ kita bisa melihat karyanya yang semakin seimbang dan semakin mendengarkan, seperti yang nampak di kediamannya, Rumah Kedondong (yang ditempati hingga beliau jatuh sakit dan wafat pada September 2023), dan Balé Klegung (2021), warung makan tak jauh dari sana yang dikelola pribadi.

Kedua tempat ini nampak dieksekusi dengan metode desain yang sama. Secara spasial, Rumah Kedondong dan Bale Klegung memang punya karakter yang mirip: luasnya masing-masing ± 2.000 m2 dan sama-sama berlokasi di lereng tepi sungai dengan banyak pohon eksisting. Kondisi spasial yang spesifik ini direspons dengan cara berpikir vernakular, mengambil mindset masyarakat desa yang lebih mengikuti bentuk alam. Metodenya sangat kontekstual, salah satunya dengan sebisa mungkin tidak memotong pohon dan tidak mengubah kontur.

Sebagai konsekuensinya, massa bangunannya tersebar dan naik turun mengikuti kesediaan lahan. Seperti di rumah pertamanya di Bener, dan karya-karyanya yang lain, adanya pohon yang mencuat di tengah bangunan menjadi hal yang biasa. “Rumah ini muncul belakangan, sementara pohon ini sudah ada duluan. Pohonnya yang harus dimenangkan, kemudian bermain di antara ruang yang ada.”

Pekarangan Rumah Kedondong. Sumber: OMAH Library

Desainnya pun seringkali tampak tidak terencana. Program ruangnya berkembang secara organik mengikuti pertumbuhan kebutuhan, dari hunian, tempat pertemuan untuk menyambut tamu, musyawarah, atau perkuliahan, hingga guest house dan museum. Hampir seluruhnya diwadahi struktur kayu bekas dari berbagai daerah, seperti rumah Jawa Timuran dan lumbung dari Bawean yang dikumpulkan secara bertahap. Material bekas, material baru, dan apa pun yang tersedia dipadukan dan digunakan secara maksimal.

Sekilas, alam seperti menjadi elemen yang tertinggi dalam karya-karya Pak Eko. Namun, beliau justru menempatkan alam di posisi kedua dalam refleksinya selama hidup di desa. Yang pertama justru nilai kebersamaan sebagai bagian dari budaya agraris. “Institusi sosial, relasi sosial sangat penting di desa untuk membedakan dengan kota.”

Di desa, warga biasa membiarkan tetangganya untuk keluar masuk halaman rumah. Pekarangan tidak hanya bukan lagi ruang personal, tetapi juga ruang publik tempat warga bisa numpang lewat dan memotong akses. “(Bagi orang desa) Rumah itu adalah halaman, relasi menjadi penting,” tutur Pak Eko. Pagar di desa pun menjadi batas yang lentur, tidak pernah benar-benar tertutup. Pak Eko juga pernah menyampaikan bahwa gerbang rumahnya tidak pernah dikunci. Di kemudian hari beliau justru membuka akses baru, sebuah jembatan yang menghubungkan halaman Rumah Kedondong dengan rumah tetangga di seberangnya. Saat kami berkunjung ke sana pun, kami mendapati tetangga Pak Eko menggunakan jembatan tersebut, masuk ke halaman Rumah Kedondong, bertegur sapa sejenak, lalu melanjutkan perjalanan ke destinasinya yang entah di mana. Toleransi masyarakat desa ini barangkali sudah menjadi hal biasa di sana, tetapi sangat jarang ditemukan di masyarakat urban.

Hubungan antar-manusia menjadi elemen yang penting, tak hanya dalam praktik arsitekturnya di desa, tetapi konsisten dalam proyek-proyek Pak Eko yang lain. Beliau menjalin hubungan erat dengan semua yang terlibat dan seringkali memposisikan diri sebagai jembatan, fasilitator, pendamping. Pak Eko berkali-kali menyampaikan, kepada klien ia bertindak layaknya bidan yang membantu “persalinan”. Bangunan yang dihasilkan ibarat jabang bayi yang jelas bukan anak Pak Eko, melainkan orang tuanya sendiri alias si klien atau user yang akan menggunakan dan merawatnya selama puluhan tahun. Oleh karenanya, Pak Eko berusaha tidak memaksakan egonya sebagai arsitek. Pada proyek rumah tinggal, apalagi milik seniman yang egonya besar misalnya, Pak Eko mempersilakan klien untuk menentukan bagaimana rumah itu akan diisi, sementara beliau hanya membantu mengarahkan supaya keinginan klien terfasilitasi dengan baik sesuai sumber daya yang ada. Cara beliau memposisikan diri memberi ruang untuk relasi-relasi kolaboratif yang menantang batas-batas formal arsitek.

Di Rumah Kedondong, Pak Eko memang punya kekuasaan lebih sebagai pemilik dan pengguna, tetapi lagi-lagi ego itu ia simpan untuk memberi ruang pada tukang-tukang di desa. “Tukang-tukang di desa sebenarnya adalah petani yang di waktu luangnya menjadi tukang. Jadi, kemampuannya terbatas dan peralatannya juga seadanya,”—selain juga kesediaan waktu mereka yang sempit. Karakter tukang-tukang inilah yang kemudian banyak menentukan rupa arsitekturnya.

Pagar depan Rumah Kedondong. Sumber: OMAH Library

“Kita tidak punya resources yang banyak, jadi kalau bisa tidak usah terlalu mengolah. Jangan memotong dan menghasilkan material sisa, jadi semua habis dipakai. Makanya saya senang keramik pecah itu karena tidak ada sisa, habis.” Yang muncul kemudian adalah arsitektur yang frugal (murah dan sederhana) dan primal (awal, mentah, dasar) yang jujur. Berawal dari relasi sosial dengan tukang desa, Pak Eko diantarkan kembali pada karakter otentik desa yang lebih membumi, yang secara naluriah mengalah pada bentuk alam.

Bukan berarti arsitekturnya menjadi tidak inovatif, justru sikap mengalah ini memunculkan kreatifitas baru. Misalnya, sebuah unit kamar keluarga di Rumah Kedondong dengan struktur beton yang kolom-kolomnya terpisah perbedaan kontur. Untuk menghindari cut-and-fill berlebih, akhirnya dibuat model panggung dengan kolom-kolom yang diberi perkuatan catenary arch agar dimensinya tetap tipis. Penyelesaian desain ini mungkin biasa untuk Pak Eko, tetapi baru untuk para tukang. Karena itu, beliau tidak memaksakan hasilnya harus rapi, “(Yang penting) secara struktur benar.” Lagipula, keteraturan alam juga tidaklah seragam. “Semua punya peran, punya fungsi. Kita tidak bisa menemukan dua helai daun yang sama dalam satu pohon. Jadi berbeda. Tidak usah berarsitektur dengan ngotot, gitu.”

Mempekerjakan tukang-tukang setempat merupakan strategi yang Pak Eko pelajari dari sosok gurunya, Romo Mangun. Kegiatan membangun tidak hanya dilihat sebagai cara memenuhi kebutuhan programatik, tetapi menjadi kesempatan untuk mendukung ekonomi lokal. “Dengan membuat detail-detail itu bukan pertimbangan estetika, tapi sebenarnya untuk menyerap lebih lama, agar tukangnya bekerja lebih lama di tempat itu, sehingga dia tetap punya pekerjaan.”

Pada Rekonstruksi Desa Ngibikan pasca-gempa di Yogyakarta tahun 2006, Pak Eko bergerak erat dengan komunitas lokal. Awal keterlibatan beliau di Ngibikan adalah karena Pak Maryono, warga desa tersebut yang sudah lama bekerja bersama Pak Eko sebagai tukang. Rumah Pak Maryono masih berdiri, tetapi rumah lain banyak yang rubuh karena penambahan konstruksi modern pada struktur asli limasan tanpa perkuatan yang layak. Warga kemudian mengungsi di tenda-tenda plastik yang didirikan di persawahan. Prihatin dengan kondisi ini, Pak Eko dan Pak Maryono dengan bantuan dana dari Kompas mencoba membangun ulang desa.

Kerusakan di Ngibikan pasca-gempa Yogyakarta 2006. Sumber: https://the.akdn/en/how-we-work/our-agencies/aga-khan-trust-culture/akaa/ngibikan-village-reconstruction

Ada banyak aspek yang coba direspons dalam kasus ini: kebutuhan mendesak terhadap tempat tinggal layak, karakter masyarakat dan budaya setempat yang harus dijaga, juga keterbatasan sumber daya material dan tukang berpengalaman. Desain yang kemudian muncul adalah rangka limasan yang dimodifikasi menggunakan kayu kelapa dari sekitar desa dengan umpak beton dan sambungan mur-baut. Tiga modul utama dibangun pada masa rekonstruksi dan bisa diduplikasi sesuai kebutuhan pengguna di masa mendatang. Tembok bata yang disusun ulang dari reruntuhan gempa berdiri setinggi ± 1 meter, disambung tembok papan gipsum yang ringan dan mudah dipotong. Prosedur konstruksinya mudah diikuti bahkan oleh warga biasa tanpa pengalaman bertukang sebelumnya, tetapi secara struktur lebih efektif menahan gempa dibanding struktur yang ada sebelumnya.

Dalam waktu 4 bulan saja, 55 rumah di RT 5 Ngibikan berhasil berdiri dan siap menyambut bulan Ramadhan. Ketika dikunjungi empat tahun kemudian untuk penilaian Aga Khan Award, desa ini terlihat seperti tidak pernah terguncang gempa sebelumnya. Suasananya hidup dengan rumah-rumah berkerangka serupa tetapi dengan pengembangan masing-masing yang penuh karakter—cukup kontras apabila dibandingkan dengan beberapa desa yang direkonstruksi dengan sistem top-down yang berjarak dengan keseharian warganya. Karena peristiwa itu, tumbuh pula tukang-tukang generasi baru dari desa ini. Lewat kolaborasi, arsitektur yang lahir dari tangan Eko Prawoto tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga merawat hubungan manusia dengan alam dan budaya.

Kisah Pak Eko dan Pak Maryono mengingatkan kami pada Le Corbusier dan muridnya, José Oubrerie pada pembangunan Gereja Saint-Pierre di Firminy. Oubrerie membutuhkan Corbusier untuk bisa menurunkan bentuk yang baku dari sketsa menjadi bangunan beton yang kokoh yang menjadi bangunan publik. Pak Maryono dalam studi kasus Ngibikan seperti menjadi Oubrerie, tukang yang menjadi murid Pak Eko. Beliau turut menurunkan gagasan limasan ke dalam teknis pengerjaan yang efisien, membagi warga yang juga merupakan pengguna dalam kelompok-kelompok kerja sesuai tahapan bangun: pondasi, rangka, pemasangan—dan mengajari mereka semua hingga bisa membangun sendiri. Di sini batas-batas arsitek menjadi lentur. Arsitek, tukang, dan klien menjadi satu demi ilmu arsitektur—sesuatu yang Pak Eko harap bisa lebih di akomodasi dalam pendidikan arsitektur di kampus.

Pendekatan Eko Prawoto untuk Ngibikan dan juga proyek-proyeknya lain tidak hanya mengingatkan pada pemberdayaan lokalitas khas Romo Mangun, tetapi juga kurikulum Berlage Institute yang menjadi tempatnya mengambil studi S2 pada 1993. Kontras dengan Amsterdam School yang ekspresif dan arsitektur yang ornamental, Berlage Institute menerapkan pendekatan yang lebih kritis, kolaboratif, dan eksperimental. Penekanannya ada pada relasi konteks lokal dan global, serta keterlibatan realitas praktis yang sarat konteks sosial, budaya, dan ekonomi. Seperti Bauhaus di Jerman, atau AA School di London, dan berbagai institusi lain di dunia.

Ada aspek efisiensi dari modular rangka yang bisa diproduksi dengan mudah dalam jumlah besar sesuai kapasitas sumber daya alam dan manusianya sehingga semakin banyak rumah bisa dibangun dengan lebih cepat. Dalam pemilihan rangka limasan, kayu kelapa, dan penentuan program dapur di luar rumah, ada kepekaan pada budaya setempat—validasi terhadap identitas masyarakat yang menjadi pijakan untuk bangkit kembali.

Dalam hal relasi lokal dan global, kita perlu mengingat bahwa arsitektur merupakan sebuah investasi yang mahal, tetapi dibutuhkan oleh seluruh kalangan, tanpa terkecuali. Ketika pendidikan dan industri punya tendensi untuk menggunakan dan mengembangkan material hi-tech yang mahal, Pak Eko pun berkali-kali bertanya, “Posisi arsitek ada di mana?”

Pertanyaan itu beliau jawab secara literal dengan pindah ke Kulon Progo. Kekecewaan dan kemarahannya terhadap pendidikan dan industri arsitektur seakan ia olah kembali dalam kesederhanaan dan ketenangan desa—yang menurut kami adalah upayanya mendesain sebuah shift of paradigm, yang akan banyak merubah arsitektur Indonesia, dari kota menuju desa, melalui arsitektur frugal yang menyentuh hati.

Perbincangan di Limasan Depan. Sumber: OMAH Library

Di sisi lain, pertanyaan itu secara tersirat mengingatkan bahwa arsitek perlu bisa melayani berbagai kalangan, sehingga ia juga perlu menguasai berbagai teknik, tidak hanya teknik-teknik modern, tetapi juga teknik-teknik sederhana untuk kalangan yang mungkin hanya butuh pernaungan.

Roxana Waterson dalam buku The Living House mengamati bagaimana peradaban di Asia-Tenggara dimulai dengan shelter-shelter sederhana, dari ranting, daun, dan kulit pohon. Di buku ini Roxana mengemukakan teori Gaudenz Domenig tentang alternatif proses evolusi teepee structure (yang terdiri dari bilah-bilah kayu yang disusun radial, mengerucut ke atas membentuk tenda) yang primitif, menjadi struktur vernakular berupa kolom-kolom tegak yang menopang atap lebar. Di Jawa, pengembangan ini muncul salah satunya dalam bentuk limasan. Mitu M. Prie melalui pengamatan sejarah dan arkeologi, mendapati bahwa bentuk limasan menjadi struktur yang paling sederhana dan banyak diduplikasi. Ia adalah versi vernakular dari kebutuhan primitif terhadap naungan.

Entah beliau sadari atau tidak, limasan menjadi model struktur yang seringkali Pak Eko adaptasi dalam karya-karyanya—baik dalam wujud aslinya seperti di Rumah Bener dan Rumah Kedondong, maupun dalam bentuk modifikasi seperti di Ngibikan. Terbukti, struktur ini memang mudah dipahami dan dibangun oleh tukang-tukang. Di bawah naungan struktur yang sederhana ini, program ruang yang lebih rinci kemudian dikembangkan.

Limasan Depan. Sumber: OMAH Library

Saat kami datang ke rumahnya di Kulonprogo, massa-massa limasan dan struktur lainnya yang bertebaran di halaman membuat kami ingin menangkap visualnya menggunakan drone. Namun, ketika dicoba, kami merasa gagal karena massa-massanya malah hampir tidak terlihat sama sekali, hampir seluruhnya tertutup rimbunan pohon.

Foto drone Rumah Kedondong. Sumber: OMAH Library

Memang, nampaknya kami ini datang masih dengan mindset kota. Belakangan, kami baru menyadari bahwa justru rimbunan pohon itulah wujud sesungguhnya dari arsitektur Eko Prawoto. Nampaknya beliau bersungguh-sungguh ketika berbicara bahwa bagi orang desa rumah adalah halaman. Rumah Kedondong bukan sekadar massa dan program ruangnya yang tersebar, melainkan juga halamannya itu sendiri yang membentuk sirkulasi, menjadi penjalin relasi dengan komunitas desa, dan juga menjadi ruang hidup itu sendiri bagi Pak Eko untuk mengamati semesta. Dan ketika halaman pun menjadi rumah, maka pohon-pohon pun menjulang layaknya kolom-kolom, dan rimbunan daun pun menjadi atap yang menaungi. Siapa sangka, konsep shelter atau pernaungan di Rumah Kedondong dikembalikan pada bentuk alaminya, bahkan sebelum peradaban primitif dimulai. Kembali ke fitrahnya.

Selain relasi sosial, hubungan manusia dengan alam turut menjadi refleksi utama Pak Eko. Bersama beliau, konsep genius loci tak lagi sebatas teori pendekatan desain, tetapi seperti kembali lagi pada makna aslinya, “jiwa dari sebuah tempat”. Ia mencoba berdialog dengan alam seperti berdialog dengan manusia, yang kadang perlu beberapa kali bertemu dalam setting yang berbeda baru bisa akrab dan kenal. “Kalau datang, sebaiknya jangan sekali. Tapi pagi kayak apa, siang kayak apa, lalu malam seperti apa. Lalu pas matahari terbit dari sini, itu kok bagus banget. Berarti visual koridor ke arah ini penting,” tuturnya dalam seri kelas Contextual Method (OMAH Library, 2021).

Dinding taman yang menghindari pepohonan, diterangi cahaya sore hari dari barat. Sumber: OMAH Library

Di Rumah Kedondong, proses berkenalan itu terjadi dalam ritual keseharian yang sederhana, seperti ketika Pak Eko menyapu halaman. Di situ ia memperhatikan detail-detail baru yang sebelumnya luput: dari titik pancaran matahari, detail daun yang menginspirasi, sampai keseimbangan ekologi. Semua makhluk hidup coba beliau rangkul, meski saat itu ia berpotensi merusak.

“Kadang-kadang kita merasa kita memiliki banyak hal, tapi sebetulnya makhluk lain itu juga berhak … Saya mikir, ketika tidak ada ulat lagi, kita jangan mengharapkan akan melihat kupu-kupu. Jadi kadang-kadang ya sudahlah dibiarkan.” Ia memahami alam yang bergulir dinamis, keindahan dan keburukannya yang relatif, sehingga mengalahnya Eko Prawoto adalah untuk menang demi kebaikan yang lebih luas.

Teras rumah dengan berbagai tanaman hias yang dirawat Bu Rina. Sumber: OMAH Library

Dalam sebuah presentasi IPLBI di Yogyakarta tahun 2024 lalu, untuk pertama kalinya kami menampilkan video yang diambil dari kunjungan kami ke Rumah Kedondong dalam iringan lagu Happy Birthday oleh Levi Gunardi. Lagu tersebut merupakan persembahan Levi untuk gurunya, Iravati Mursit. Video dan potongan kenangan yang diceritakan kembali dalam presentasi itu pun juga menjadi persembahan kami untuk Pak Eko Prawoto, atas rasa syukur bisa bertemu beliau sebagai murid.

Mengutip Pak Galih Pangarsa, salah seorang sahabat Pak Eko, ketika membicarakan arsitektur Eko Prawoto, kita menjadi tersadar bahwa “yang lebih penting bukanlah debat aspek keruangan ‘lokal-global’, bukan pula aspek temporal ‘tradisional-modern’, tetapi bagaimana menjadikan arsitektur sebagai wujud upaya bersama untuk keluar dari jebakan pengkerdilan dan penghancuran benih-sifat kemanusiaan.”

Di 2025 ini, 2 tahun sudah berlalu sejak Pak Eko wafat, tetapi keberadaan beliau masih kami rasakan dan kami rindukan. Beliau adalah seorang Kesatria, seorang agent of change yang berjuang dengan pergerakan di desa, yang mengetuk tak hanya raga dan pikiran, tetapi juga hati orang-orang yang bersinggungan dengannya. Dari sosok Pak Eko kami belajar untuk tenang dalam kemarahan dan berefleksi dari kekecewaan. Kata-kata beliau selalu bisa “membersihkan” hati dan membuat kami merasa seperti dilahirkan kembali. Menjadi manusia sejati. Dan hari ini pesan itu kami sampaikan lagi.

Happy birthday, Sir.

Siluet Eko Prawoto. Sumber: OMAH Library

English translation

Eko Prawoto and the Village, Future Architectural Methods for Indonesia

The last ten years before he died, architect Eko Prawoto decided to move to the village. He left the daily life of the city that was never free from development and the fertile land of architectural projects. He built a new house in the village, creating “his own project” with craftsmen who were not always there because they were farming. We were surprised, why did he want to take care of something that was unclear when it would start and finish? When OMAH Library visited there in 2023, we finally began to understand. There was a spirit that was radiated there, whose enthusiasm echoed loudly in the midst of a silent journey, which loudly sparked between the softly woven spaces.

An essay by Realrich Sjarief and Hanifah Sausan

Before moving to the village, since 1988 Eko Prawoto and his family lived in a house he designed himself in Bener, on the outskirts of Yogyakarta City. The house slowly developed and part of it became a studio that he named Eko Prawoto Architecture Workshop.

From there were born works such as Cemeti Art House (1998), Viavia Café Prawirotaman (2004), Padusan Sendang Sono (2013), Rekonstruksi Desa Ngibikan (2006), Rumah Butet Kertaradjasa (2002), and many other artist houses, as well as affordable houses for various groups. Here he also began to receive offers to design installations and slowly made his way as an international artist.

Since the beginning, a contextual, organic, and humanistic approach has colored his works both as an architect and as an artist. However, this approach became stronger when faced with conditions in the village that had limited access to materials and skilled craftsmen. However, that was where Eko Prawoto believed in the existence of high intelligence and creativity to create something simple as a manifestation of maturity and integrity and harmony with nature.

His move to Kulon Progo was influenced by various factors. The Bener area, which was previously surrounded by rice fields and had been his home for 3 decades, slowly changed into a fairly dense residential area. However, he still persisted because he still had to teach at UKDW—a position he had held since 1985. Pak Eko planned to live a slower life after retiring. Moreover, as a teacher, he felt how current architectural education tends to focus on urban, industrial, and capitalist approaches.

“Now all the curriculums are only focused on urban, industrial, and capital. It might be suitable for the city, but remember that there are villages, there are small islands, which might not be suitable for the approach taught,” said Pak Eko when we visited him at his village house—perhaps more like a self-reminder than a criticism for the public.

Rumah Bener was finally only occupied until 2014. His architectural bureau office is still centered there, and he continues to teach at UKDW. However, in that year Pak Eko and his wife Bu Rina made up their minds, moving to become residents of Kedondong Village in Kulon Progo. Since then, he has positioned himself to be present and live in the village, observing the way the people live with nature.

“It’s indeed a learning process again,” he said. It’s as if he is taking a doctoral dissertation on “architectural language that is more connected to the village”. From there we can see his work that is increasingly balanced and increasingly listening, as seen in his residence, Rumah Kedondong (which he occupied until he fell ill and died in September 2023), and Bale Klegung (2021), a food stall not far from there that is privately managed.

Both of these places appear to be executed with the same design method. Spatially, Rumah Kedondong and Bale Klegung do have similar characters: each has an area of ​​± 2,000 m2 and is both located on a riverbank slope with many existing trees. This specific spatial condition is responded to with a vernacular way of thinking, adopting the mindset of village communities that follow natural forms more. The method is very contextual, one of which is by not cutting trees as much as possible and not changing the contour.

As a consequence, the mass of the building is spread out and rises and falls following the availability of land. As in his first house in Bener, and his other works, the presence of a tree sticking out in the middle of the building is commonplace. “This house appeared later, while this tree was already there first. The tree had to be won, then played between the existing spaces.”

The designs often seem unplanned. The spatial program develops organically following the growth of needs, from residences, meeting places to welcome guests, discussions, or lectures, to guest houses and museums. Almost all of them are accommodated by used wooden structures from various regions, such as East Javanese houses and barns from Bawean that were collected gradually. Used materials, new materials, and whatever is available are combined and used to the maximum.

At first glance, nature seems to be the highest element in Pak Eko’s works. However, he actually places nature in second place in his reflections during his life in the village. The first is the value of togetherness as part of an agrarian culture. “Social institutions, social relations are very important in the village to differentiate it from the city.”

In the village, residents usually allow their neighbors to enter and exit their yards. The yard is no longer just a personal space, but also a public space where residents can pass through and cut off access. “(For villagers) The house is the yard, relations become important,” said Pak Eko. The fence in the village also becomes a flexible boundary, never completely closed. Pak Eko also once said that the gate to his house was never locked. Later, he actually opened a new access, a bridge that connects the yard of Rumah Kedondong with the neighbor’s house across from it. When we visited there, we found Pak Eko’s neighbor using the bridge, entering the yard of Rumah Kedondong, greeting for a moment, then continuing the journey to his destination who knows where. The tolerance of the village community may have become commonplace there, but it is very rare to find in urban communities.

Human relations are an important element, not only in his architectural practice in the village, but also consistent in Pak Eko’s other projects. He establishes close relationships with all those involved and often positions himself as a bridge, facilitator, and companion. Pak Eko has repeatedly said that to clients he acts like a midwife who helps with “delivery”. The resulting building is like a baby that is clearly not Pak Eko’s child, but rather his own parents, namely the client or user who will use and care for it for decades. Therefore, Pak Eko tries not to impose his ego as an architect. In residential projects, especially those owned by artists with big egos, for example, Pak Eko allows the client to determine how the house will be filled, while he only helps direct so that the client’s wishes are well facilitated according to the available resources. The way he positions himself provides space for collaborative relationships that challenge the formal boundaries of architects.

In Rumah Kedondong, Mr. Eko does have more power as the owner and user, but again he keeps that ego to himself to give space to the craftsmen in the village. “The craftsmen in the village are actually farmers who work as craftsmen in their spare time. So, their abilities are limited and their equipment is also simple,”—in addition to their limited availability of time. The character of these craftsmen is what then largely determines the appearance of the architecture.

“We don’t have many resources, so if possible, don’t process too much. Don’t cut and produce leftover material, so everything is used up. That’s why I like broken ceramics because there’s no leftover, it’s all used up.” What then emerges is an honest frugal (cheap and simple) and primal (initial, raw, basic) architecture. Starting from social relations with the village craftsmen, Mr. Eko is brought back to the authentic character of the village that is more down to earth, which instinctively gives in to the form of nature.

This does not mean that his architecture is not innovative, in fact, this attitude of giving in gives rise to new creativity. For example, a family room unit in Rumah Kedondong with a concrete structure whose columns are separated by different contours. To avoid excessive cut-and-fill, a stage model was finally made with columns reinforced with catenary arches so that the dimensions remain thin. This design solution may be common for Mr. Eko, but new for the craftsmen. Therefore, he did not force the results to be neat, “(The important thing is) that it is structurally correct.” Moreover, the order of nature is also not uniform. “Everything has a role, has a function. We cannot find two identical leaves on one tree. So it’s different. Don’t be too stubborn in your architecture, like that.”

Employing local craftsmen is a strategy that Mr. Eko learned from his teacher, Romo Mangun. Building activities are not only seen as a way to meet programmatic needs, but also as an opportunity to support the local economy. “By making those details, it is not an aesthetic consideration, but actually to absorb it longer, so that the craftsmen work longer in that place, so that they still have jobs.”

In the post-earthquake reconstruction of Ngibikan Village in Yogyakarta in 2006, Mr. Eko worked closely with the local community. His initial involvement in Ngibikan was because of Mr. Maryono, a villager who had long worked with Mr. Eko as a carpenter. Mr. Maryono’s house was still standing, but many other houses had collapsed due to the addition of modern construction to the original limasan structure without proper reinforcement. The residents then took refuge in plastic tents set up in the rice fields. Concerned about this condition, Mr. Eko and Mr. Maryono, with financial assistance from Kompas, tried to rebuild the village.

There were many aspects that were attempted to be responded to in this case: the urgent need for decent housing, the character of the local community and culture that must be maintained, as well as the limited material resources and experienced carpenters. The design that then emerged was a modified limasan frame using coconut wood from around the village with concrete bases and nut-bolt connections. Three main modules were built during the reconstruction and can be duplicated according to the needs of future users. The brick walls reassembled from the earthquake debris stand ± 1 meter high, connected by light and easy-to-cut gypsum board walls. The construction procedure is easy to follow even for ordinary people with no previous carpentry experience, but structurally it is more effective in withstanding earthquakes than the previous structure.

In just 4 months, 55 houses in RT 5 Ngibikan were successfully built and ready to welcome the month of Ramadan. When visited four years later for the Aga Khan Award assessment, the village looked as if it had never been shaken by an earthquake before. The atmosphere is alive with similar framed houses but with their own development full of character—quite a contrast when compared to several villages that were reconstructed with a top-down system that is distant from the daily lives of its residents. Because of this event, a new generation of carpenters also grew from this village. Through collaboration, the architecture born from the hands of Eko Prawoto not only functions physically, but also maintains the relationship between humans and nature and culture.

The story of Mr. Eko and Mr. Maryono reminds us of Le Corbusier and his student, José Oubrerie in the construction of the Saint-Pierre Church in Firminy. Oubrerie needed Corbusier to be able to reduce the standard form from sketch to solid concrete building that became a public building. Pak Maryono in the Ngibikan case study is like Oubrerie, a craftsman who became Pak Eko’s student. He also reduced the idea of ​​limasan into efficient work techniques, dividing residents who were also users into work groups according to the construction stages: foundation, frame, installation—and taught them all until they could build it themselves. Here the boundaries of the architect become flexible. Architect, craftsman, and client become one for the sake of architectural knowledge—something Pak Eko hopes can be more accommodated in architectural education on campus.

Eko Prawoto’s approach to Ngibikan and his other projects is not only reminiscent of Romo Mangun’s typical local empowerment, but also the curriculum of the Berlage Institute where he took his Master’s studies in 1993. In contrast to the Amsterdam School’s expressive and ornamental architecture, the Berlage Institute applies a more critical, collaborative, and experimental approach. The emphasis is on the relationship between local and global contexts, as well as the involvement of practical realities that are full of social, cultural, and economic contexts. Like Bauhaus in Germany, or AA School in London, and various other institutions in the world.

There is an efficiency aspect of modular frames that can be easily produced in large quantities according to the capacity of natural and human resources so that more houses can be built more quickly. In the selection of the limasan frame, coconut wood, and the determination of the kitchen program outside the house, there is sensitivity to local culture—validation of the community’s identity that is the basis for rising again.

In terms of local and global relations, we need to remember that architecture is an expensive investment, but it is needed by all groups, without exception. When education and industry tend to use and develop expensive hi-tech materials, Mr. Eko has asked many times, “Where is the position of the architect?”

He answered that question literally by moving to Kulon Progo. His disappointment and anger towards education and the architecture industry seemed to be reprocessed in the simplicity and tranquility of the village—which we think is his attempt to design a paradigm shift, which will greatly change Indonesian architecture, from the city to the village, through heart-touching frugal architecture.

On the other hand, the question implicitly reminds us that architects need to be able to serve various groups, so they also need to master various techniques, not only modern techniques, but also simple techniques for groups who may only need shelter.

Roxana Waterson in the book The Living House observes how civilization in Southeast Asia began with simple shelters, made of twigs, leaves, and tree bark. In this book, Roxana presents Gaudenz Domenig’s theory about the alternative process of evolution of the primitive teepee structure (which consists of wooden slats arranged radially, tapering upwards to form a tent), into a vernacular structure in the form of upright columns supporting a wide roof. In Java, this development appears, among others, in the form of a limasan. Mitu M. Prie, through historical and archaeological observations, found that the limasan form is the simplest and most widely duplicated structure. It is a vernacular version of the primitive need for shelter.

Whether he realized it or not, the limasan became a structural model that Pak Eko often adapted in his works—both in its original form such as in Rumah Bener and Rumah Kedondong, and in a modified form such as in Ngibikan. Evidently, this structure is indeed easy to understand and build by craftsmen. Under the auspices of this simple structure, a more detailed spatial program was then developed.

When we came to his house in Kulonprogo, the masses of the limasan and other structures scattered in the yard made us want to capture the visuals using a drone. However, when we tried, we felt like we failed because the masses were almost invisible at all, almost entirely covered by the thick trees.

Indeed, it seems that we came with a city mindset. Later, we realized that the thick trees were the true form of Eko Prawoto’s architecture. It seems that he was serious when he said that for village people, a house is a yard. Rumah Kedondong is not just a mass and its spread out spatial program, but also its yard itself that forms circulation, becomes a weaver of relations with the village community, and also becomes a living space for Mr. Eko to observe the universe. And when the yard becomes a house, the trees tower like columns, and the thick leaves become a roof that shelters. Who would have thought, the concept of shelter or shelter in Rumah Kedondong is returned to its natural form, even before primitive civilization began. Back to its nature.

In addition to social relations, the relationship between humans and nature also becomes Mr. Eko’s main reflection. With him, the concept of genius loci is no longer limited to a design approach theory, but rather returns to its original meaning, “the soul of a place”. He tries to have a dialogue with nature like a dialogue with humans, who sometimes need to meet several times in different settings to be able to be familiar and know each other. “If you come, it’s better not to come once. But what’s it like in the morning, what’s it like in the afternoon, and what’s it like at night. Then when the sun rises from here, it’s really beautiful. That means the visual of the corridor in this direction is important,” he said in the Contextual Method class series (OMAH Library, 2021).

At Rumah Kedondong, the process of getting to know each other occurs in simple daily rituals, such as when Mr. Eko sweeps the yard. There he notices new details that were previously missed: from the point of sunlight, the inspiring details of the leaves, to the ecological balance. He tries to embrace all living things, even though at that time he has the potential to cause damage.

“Sometimes we feel like we have a lot of things, but actually other creatures also have the right … I think, when there are no more caterpillars, we shouldn’t expect to see butterflies. So sometimes, just let it be.” He understands the dynamic rolling nature, its relative beauty and ugliness, so that Eko Prawoto’s defeat is to win for the greater good.

In an IPLBI presentation in Yogyakarta in 2024, for the first time we showed a video taken from our visit to Rumah Kedondong accompanied by the song Happy Birthday by Levi Gunardi. The song is Levi’s dedication to his teacher, Iravati Mursit. The video and snippets of memories retold in the presentation are also our offerings to Mr. Eko Prawoto, as a form of gratitude for being able to meet him as a student.

Quoting Mr. Galih Pangarsa, one of Mr. Eko’s friends, when discussing Eko Prawoto’s architecture, we realize that “what is more important is not the debate on the spatial aspects of ‘local-global’, nor the temporal aspects of ‘traditional-modern’, but how to make architecture a form of joint effort to escape the trap of dwarfing and destroying the seeds of humanity.”

In 2025, 2 years have passed since Mr. Eko passed away, but we still feel and miss his presence. He was a Knight, an agent of change who fought with movements in the village, who touched not only the body and mind, but also the hearts of those who came into contact with him. From Mr. Eko we learned to be calm in anger and reflect on disappointment. His words could always “cleanse” our hearts and make us feel like we were reborn. To become true human beings. And today we deliver that message again.

Happy birthday, Sir.

Kategori
blog inspiring people

Selamat Ulang Tahun – Yuswadi Saliya

.
Selamat Ulang Tahun pak Yuswadi Saliya. Beliau adalah seorang legenda arsitektur Indonesia. Kalau mau melihat isi pemikiran, dan hati seseorang, lihatlah ruang kerjanya, penuh dengan buku yang sedemikian banyaknya.

Sikapnya yang mau mendengarkan menjadi satu hal yang jadi inspirasi, mengambil sudut pandang yang didengarkan untuk diolah dalam diskusi – diskusi lanjutan. Nigel Cross Designerly Ways of Knowing menjadi satu tolak ukur dan penjelasannya menginspirasi untuk memberikan dimensi bahwa desain itu sistemik, ada klien, ada fungsi juga estetika, ia holistik, dan banyak pembelajaran waktu membuat pilihan. Sehingga prosesnya adalah reflektif dimana tidak ada yang absolut, semua tergantung konteks dan pilihan – pilihan yang punya konsekuensi.

Buku Perjalanan Malam Hari menjadi satu buku yang memperlihatkan kelenturan beliau dalam berpikir, merenung, mengenai perjuangan dalam praktik, dan berpikir. Satu saat di Selasar Sunaryo, setelah pameran Indonesialand, ia menjelaskan tentang pentingnya 3 pisau bedah untuk mengupas sudut pandang dengan kritis, ia menjelaskan apa itu epistemologi (pengetahuan formal), ontologi (rentang runut waktu), dan axiologi (posisi moral dan etis) dalam waktu yang pendek, memperjelas bagaimana memulai membicarakan isu dengan komprehensif. 3 sisi itu yang menjadi pintu masuk di Omah Library dalam membicarakan isu – isu terkait praktik dan design.

Yang tidak terlupakan, Endurancenya yang tinggi dalam mengupas permasalahan, dan berdiskusi, hal itu muncul dalam diskusi – diskusi panjang Hermit of Architecture pada saat pandemi, dimana diskusi bisa berlangsung sampai menjelang subuh dari pukul 19:00. Beliau adalah kesayangan banyak orang, begitupun dengan kami di omah library, kami selalu menantikan kedatangan beliau di setiap sesi, dan kami berharap Omah selalu menjadi rumah beliau yang nyaman.

Pak kami kangen juga kalimat khas beliau”samberlag (SAMpai BERjumpa LAGi),Pekik Jangkrik!!! YeWeTea” ha ha ha, Selamat ulang tahun Sir ! Arsitektur Indonesia patut bangga memiliki seorang Yuswadi Saliya.

Photo diambil oleh @permanasatriaa ❤️ “inget ga sat?”

Kategori
blog inspiring people

Gunawan Tjahjono, Cahaya yang Berguna

Pak Gunawan Tjahjono, seperti namanya “cahaya yang berguna”, adalah seorang professor yang saya selalu rindukan karena pengetahuan arsitekturnya yang berlimpah, dan banyaknya buku yang dibacanya.

Saya banyak menanyakan hal-hal terkait perjalanan hidupnya, sampai ke bagaimana seorang praktisi dididik, mengenal pola dan bagaimana melatih bahasa pola. Saya yang dulu berada dalam praktik kecil yang terbatas di ruang garasi, sekarang tersadar bahwa dalam praktik, bahasa pola perlu dilatih dalam ruang-ruang imajinasi & teori.

Dari diskusi ini saya belajar relasi antara 3 dunia: 1) grammar (pola), 2) rasa, dan 3) spiritual. Saya ingat grammar dipelajari melalui kekayaan wawasan, bercerita melalui kekuatan analitis.

Hal itu saya dapatkan ketika Pak Gun bercerita kembali tentang kekuatan story-telling Charles Moore dan metode analitik berpikir kritis Horst Rittel.

Cerita kedua adalah bagaimana menajamkan rasa melalui prinsip RSVP (resources, score, value, perform): sebuah perjalanan mengenal diri, menghidupkan kembali kepekaaan dengan merasakan kehilangan indra, membangun sistem diri yang definitif & terukur, bertindak secara kolektif, hingga pada akhirnya kita bisa menemukan makna dari aksi kolektif ini dalam sebuah proses kreatif.

Ia membahas pentingnya rasa melalui pengalaman arsitektur yang tidak hanya analitis, tetapi menembus kualitas atmosferik. Bukan hanya soal bentuk, tetapi perpaduan indra, teknik, cerita, dan kesadaran, yang layaknya beliau alami pada karya-karya Louis Kahn seperti Kimbell Art Museum & Salk Institute, ataupun figur Eko Prawoto.

Pak Gun cerita beliau sedang menyusun tulisan tentang domestifikasi arsitektur, sebuah titik di mana ia mencari definisi demi definisi kehidupan manusia & arsitekturnya.

Saya ingat beliau berkata, “Seorang pengajar tidak perlu merasa bisa memiliki semua jawaban dari pertanyaan murid-muridnya, tapi ia perlu menjawab ‘mari kita cari bersama-sama’.” Dari sini saya merasa relasi arsitektur Indonesia ada di 3 antara: antara pola, antara rasa, dan antara jiwa yang membentuk ikatan batin untuk pulang.

Terima kasih Pak Gun sudah menemani kami semua untuk mencari jawaban & juga pertanyaan-pertanyaan baru.

Pulangnya beliau mau membeli buku. Saya tanya, “Yang mana, Pak?”

Beliau jawab, “Yang dua ini, Alvar Aalto dan Methodgram.”

“Pak, ini ditulis sama saya dan Anas Hidayat, disunting sama Johannes Adiyanto. Buku Methodgram inget ngga, Pak? Saya ditantang sama Agustinus Sutanto, ‘Kalau kamu tidak bisa menemukan metodemu sendiri, kamu ngga akan bisa berkembang. Lihat Bjarke Ingels, Vo Trong Nghia.’ Setelah itu saya tulis buku ini, yang kadang saya ngga ngerti apa yang saya tulis sekarang.”

“Ya, semua bertumbuh kembang,” jawabnya. “Bagusnya begitu.”

“Kamu tau Alvar Aalto? Dulu Pak Wondo pernah cerita ke saya kalau gedung konsernya didesain supaya jari jemari pianisnya terlihat dari tempat duduk. Saya mau baca buku itu.”

Terakhir saya bilang, “Pak, Antologi Kota 1 & 2 ini dibuat oleh Mas Cahyo, Mas Gede, Mas Fritz, dan teman-teman.”

“Oooh iya. Oke, saya mau bayar semua.”

“Ngga usah, Pak. Ini semua sudah dibayar, saya tambahin beberapa buku ya, Pak. Kan untuk perpustakaan Bapak juga. Kita berbagi ilmu.”

Lima tahun setelah perjumpaan saya dengan Pak Gun di Bintaro Exchange—beliau menjelaskan relasi Jung, Archetype, dan kekuatan metode Rittel—beberapa buku, diskusi tentang arsitek & arsitektur mumpuni sudah terbit, dan cakrawala baru yang saya dapatkan dulu tidak ada habis-habisnya sampai sekarang, dan saya selalu menunggu apa yang akan saya lakukan besok pagi. Saya sebut itu “The Night Flame”, malam yang membara. Sebuah pantikan api yang dinyalakan di lubuk hati, yang saya perlu banyak berterima kasih pada beliau atas pencerahan dan penemanannya sampai sekarang.

#rawinspirasi


Kategori
blog inspiring people struggles

Josef Prijotomo – Ayah Arsitektur Nusantara

Saya mengenal pak Josef Prijotomo kira-kira 10 tahun yang lalu pada waktu itu saya datang ke ITS. Ia masuk ruangan dan duduk disamping saya dan bercerita tentang bagaimana ia mendambakan bahwa Indonesiaan itu seharusnya muncul dan dibahas di dalam tugas akhir. Dia menyebut konsep ini sebagai “Arsitektur Nusantara”.

Pertanyaan dan pernyataannya selalu menohok tajam, dan memantik emosi kami. Satu saat ia berseloroh “Bohong besar kalau Anda tidak mampu, paling-paling Anda tidak mau!” ketika saya menolak untuk hadir di grup beliau karena kesibukan kami, ia mengirimkan pesan-pesan berisi apa saja yang dibicarakan di grup. Ia terus memaksa kami untuk mau ikut berdiskusi dan ia terus berjuang supaya banyak orang di dunia mengetahui uniknya bumi Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Pak Josef Prijotomo menjelaskan hal tersebut didalam konsep kesamaan, perbedaan berdasarkan ciri seismik, iklim dan budaya yang kaya raya di indonesia.

Saya mendapatkan matahari saya, ketika saya mengutarakan ketakutan saya pada simbol tersebut, justru Pak Josef tidak pernah merubah persepsinya terhadap saya kapanpun itu, padahal siapa sih saya, saya bukan siapa-siapa. Beliau dari Surabaya saya sekolah di Bandung dan juga praktik ada di Jakarta, kami jarang bertemu karena lokasi kita berjauhan, Dia bilang ke saya, “Yessss, Realrich apa yang kamu pikirkan gak masalah, berada di luar sistem memang tak harus, tapi bukan berarti tak mau peduli. Maju terus, saya akan dukung dan selalu kompori !!!”.

Pondasi ideologi atas gerakan modernis dunia diturunkan pada akhir abad ke-19 dan di awal abad 20. Dalam revolusi industri sampai terjadinya tremor, perang, bencana kemanusiaan yang pada dasarnya adalah soal kekuasaan, yang dimana konsepitu telah diperkenalkan jauh lebih awal oleh Herder, yang telah kita ketahui menulis istilah Zeitgeist atau semangat jaman.

Pertemuan tatap muka saya terakhir dengan beliau juga ketika tanggal 7 Februari 2020 ketika saya berbagi dengan mas @anashiday mengenai buku 3 gram: Tectogram, Methodgram, dan Craftgram yang kami tulis dan tanggapi bersama mas @jo_adiyanto yang berhalangan hadir. Saya dan @satriaapermana membuat wayang pada waktu itu, ibaratnya Pak Josef adalah semar yang bijak, ia akan memaksa kami untuk maju dan mau mengikuti konsepsinya.

“Kamu harus mau bukan tidak mau.” Ia selalu memaksa dengan konsep arsitektur nusantara. Siap tidak siap saya, ia akan mempertanyakan hal-hal yang sederhana dan mengingatkan kami, seberapa Indonesia arsitekturmu?. Hal-hal itu sebenarnya mempertanyakan keakuan apakah perlu mengangkat Norberg Schulz dari Norwegia padahal khasanah budaya Indonesia pun sudah ada didepan mata, menunggu untuk digali.

Sesuatu yang genius itu dalam pergulatan arsitektur Indonesia, digaungkan oleh Josef Prijotomo yang sejak tahun 1990 aktif menggelorakan arsitektur nusantara. Ia mendefinisikan arsitektur nusantara sebagai “cerlang-tara” atau kecemerlangan nusantara, sebuah genius yang spesifik untuk bumi nusantara. Orisinil dan memiliki aspek fungsional-kultural yang sudah diolah sejak jaman dahulu, dan selalu dikembangkan untuk masa depan. Sudah sedemikian aktif ia bergerak di dalam dan di luar sistem pendidikan melalui seminar-seminar, namun belum adanya dampak signifikan yang terjadi. Padahal, apa yang digaungkan oleh beliau adalah hal yang mendasar, fungsional, dan lekat dengan budaya nusantara [1]. Josef Prijotomo menjelaskan hal tersebut di dalam enam butir dasar: Pertama, ia melihat beberapa aspek yang menjadikan lanskap kriteria nusantara pertama seperti hubungan terbuka yang dihubungkan oleh konsep pelayaran sehingga tipe-tipe bangunan bisa dilihat kesamaan bentuk-bentuknya, mulai dari Madagaskar hingga Pasifik dan Cina. Kedua, kelembaban yang menyebabkan perbedaan cara berpakaian. Ketiga, kondisi angin yang menyebabkan sirkulasi udara silang diperlukan. Angin sebagai sumber utama bagi penyejukan udara melalui konstruksi kolom, serambi, dan beranda. Keempat, kondisi dua musim, yakni kemarau dan penghujan. Hal ini menyebabkan arsitektur nusantara bersifat terbuka dan tidak isolatif, berbeda di negara empat musim. Kelima, bangunan tahan gempa yang ditandai dengan penggunaan bangunan kayu atau konstruksi ikat di masa lalu dengan penekanan pada konstruksi goyang. Keenam, Ia menekankan variable kultur dan ekonomi yang disatukan seperti upacara pemasangan kuda-kuda yang didahului wujud pengupahan tenaga kerja yang merupakan barter antara tenaga dengan makanan yang disajikan. Josef Prijotomo adalah pengajar murni dimana ia memberikan narasi yang ideal tentang bumi nusantara, seorang pembawa kabar Genius Loci untuk arsitektur Indonesia yang disebutnya bumi nusantara.

Menariknya pada waktu itu, yang ikut menanggapi materi kami adalah pak Eko Prawoto, yang justru membawakan metode, ketukangan, dan tektonika dalam ranah keseharian. Saya melihat figur Pak Josef dan Pak Eko seperti yin dan yang, keras dan lembut, teori dan praktik, praktik yang teoritis dan teori yang praktis. Kedua orang ini saling tarik menarik menciptakan benih benih perubahan di dalam arsitektur Indonesia. Pak Josef dan murid-muridnya menulis banyak buku, dan pak Eko berpraktek dengan lentur. Kita semua adalah murid-murid beliau, Pak Josef dan Pak Eko, keduanya saling mengisi dua pondasi arsitektur yang berbeda.

Pak Josep dan Pak Eko berperan memiliki pemahaman arsitek kaki telanjang, berjalan tanpa alas kaki, diatas kerikil, tanah, ataupun beling sekalipun, ia mantap berjalan dengan berpihak. Kedua adalah mereka ibaratnya seorang pertapa yang menyendiri sembari terkadang memberikan intuisinya, pemahamannya dari perenungan terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Menurut keduanya sisi arsitektur perlu lekat dengan manusia kreatif, meluruhnya ego, membuka hati, dan peduli dengan tukang-tukangnya, ia hidup dari tukangnya, tukangnya juga hidup dari hasil kriyanya, ia adalah orang yang mampu mendengar apa keluhan sekitarnya dan membuat solusi yang sederhana dari masalah-masalah yang ada, masalah perut, masalah keteknikan ataupun masalah-masalah personal yang dihadapi sekitarnya. Arsitektur itu personal dan berkembang ke hal-hal yang lebih besar.

Di Pesantren Turen Malang, saya mendapatkan cerita dari Anas, yang kemudian saya datangi, saya melihat dimana arsitek melebur dengan tukang-tukangnya menjadi satu untuk merajut ornamentasi ruang. Mereka berusaha memberikan ruang gerak untuk tukang agar bisa mengaktualisasikan diri dengan dialog tanpa henti akan dirinya terhadap karya. Usahanya adalah usaha untuk menanyakan kepada semesta dengan keinginan yang tulus untuk menggali dirinya sendiri.

Saya mungkin angkuh dengan mencoba mengambil Norwegia dan Norberg Schulz sebagai barometer. Hal ini juga lekat dengan apa yang dilontarkan para rasionalis di sekitar 40 tahun yang lalu oleh “Vienna Circle” bahwa, kebenaran itu perlu diacu secara rasionalis, perlu referensi, perlu pembenaran dimana seperti sebuah kemandekan yang disumbat lubangnya dan menimbulkan peradangan.

Keangkuhan juga perlu dilunturkan seperti sumbat yang perlu dibuka dengan keberanian, sehingga dialektika antara pembuat dan pembaca bisa terjadi begitu intensif, bolak-balik dan terbaca secara lugas. Hal-hal itulah yang bisa membuat kita bisa mengapresiasi kehidupan untuk bisa dibagikan dengan orang lain.

Di dalam keseharian kita bersama, tidak mudah untuk kita bisa bersama-sama dengan Pak Josef atau Pak Eko yang berbeda dan terkadang berbeda pendapat. Justru dari keduanya, saya menemukan tempat untuk saling berkaca dan bercermin bahwa ada cara lain dalam bersikap, ada yang memaksa ada yang melepaskan interpretasi bahwa keduanya baik dan saling menyeimbangkan.

Saya memiliki teman beberapa murid murid beliau yang saya kenal di praktik, penulis, dan intelektual. Ada mas @madcahyo, mas @eka_swadiansa, mas @gayuhbudi, dan @andyrahman, mas @anashiday, mas @jo_adiyanto, Mas @reviantosantosa, Bu @altrerosje, Bu @akunnya_yolanda, dan Bli @gmahaputra juga banyak lagi ribuan orang lainnya. Pak Pak Josef dan Pak Eko ibaratnya seperti ayah bagi mereka. Ada juga Pak Ardi Pardiman, Pak Galih Widjil, Pak Adhi Mursyid, dan Romo Mangun yang juga seperti ayah yang meski bahkan belum pernah bertemu.

Kasih ayah dan anak tidak selamanya ada di temu fisik, namun menembus batas jarak, waktu, dan pertemuan.Dulu kami ada di sebuah grup yang senang memakai sarung. Sarung dipergunakan sebagai simbol keberpihakan dan kesetaraan. Di dalam grup itu, terkadang saya mempertanyakan ke Pak Josep sendiri, untuk apa perjuangan itu apakah hanya untuk bergerak sebatas representasi luar?.

Pada waktu itu saya marah dengan diri saya sendiri, karena ketidak berdayaan saya terhadap problematika simbol kesetaraan, karena banyak momen di hidup saya berada di pihak yang lemah, tertindas, dan minoritas. Dan puncaknya dari situ saya mulai bertahap memutuskan diri dengan dunia luar. Di titik itu dunia menjadi gelap dan “I have my own shadow”. Bayangan saya sebenarnya adalah ketakutan saya sendiri, semakin saya menghindari semakin cepat dia datang dan tidak pernah lepas.

Dari Pak Josef dan Pak Eko saya mendapatkan keberanian dan kejujuran untuk membicarakan ketakutan tersebut. Dari pak Eko saya mendapatkan benih bagaimana bertujuan baik, menerima kenyataan sebagai hal yang baik dan perlu ada, termasuk membicarakan ketakutan, kesakitan sekaligus makna pencapaian secara lugas.

Saya mendapatkan matahari saya, ketika saya mengutarakan ketakutan saya pada simbol tersebut, justru Pak Josef tidak pernah merubah persepsinya terhadap saya kapanpun itu, padahal siapa sih saya, saya bukan siapa-siapa. Beliau dari Surabaya saya sekolah di Bandung dan juga praktik ada di Jakarta, kami jarang bertemu karena lokasi kita berjauhan, Dia bilang ke saya, “Yessss, Realrich apa yang kamu pikirkan gak masalah, berada di luar sistem memang tak harus, tapi bukan berarti tak mau peduli. Maju terus, saya akan dukung dan selalu kompori !!!!”. Dia berbicara bahwa sarung itu jiwa bukan hanya simbol. Melalui pertanyaan-pernyataannya, ia mendobrak sisi-sisi kritis, dan itu yang menunjukkan kasih sayang sebagai ayah tidak hanya dengan pujian, tapi juga dengan kritik yang membangun yang ia ibaratkan kompor.

Ada satu kalimat yang saya ingat untuk menutup cerita ini. Pak Josef berkata, “Arsitektur Nusantara ada di tangan anda. Mau dilepaskan, dibanting, ataupun dimatikan, boleh saja. Sebaliknya, dikedepankan dan menggeser kebaratan, juga bisa. Ini tantangan buat anda. Saya siap membantu dan mendampingi langkah Anda bila mau menjadikan arsitektur Nusantara sebagai tuan di negeri sendiri.”

Suatu saat ia menghampiri saya di dalam sebuah acara seminar di Bali yang kami bawakan bersama. Pak Josef menyenggol saya sambil tertawa, ia bilang sembari berbisik-bisik, “Kamu bawa sarung enggak?! hari ini saya bawa!” Saya bilang “Bawa pak kan kita sudah janjian ha ha ha”. Ia lalu lanjut bertanya “Jadi mau apa kita pake sarung hari ini?”.

Melihat wajahnya, saya seperti melihat wajah seseorang yang saya rindukan dengan kenakalannya dan juga keluguannya, saya ingat ayah saya, lalu saya jawab dengan senyuman dan tertawa, “Hayuk pak”.

Beliau mengatakan bahwa sarung itu jiwa bukan hanya simbol. Melalui pertanyaan-pernyataannya, ia mendobrak sisi-sisi kritis, dan itu yang menunjukkan kasih sayang sebagai ayah tidak hanya dengan pujian, tapi juga dengan kritik yang membangun yang ia ibaratkan kompor.
.
Suatu saat ia menghampiri saya di dalam sebuah acara seminar di Bali yang kami bawakan bersama. Pak Josef menyenggol saya sambil tertawa, ia bilang sembari berbisik-bisik, “Kamu bawa sarung enggak?! hari ini saya bawa!” Saya bilang “Bawa pak kan kita sudah janjian ha ha ha”. Ia lalu lanjut bertanya “Jadi mau apa kita pake sarung hari ini?”.

Saya seperti melihat wajah seseorang yang saya rindukan dengan kenakalannya dan juga keluguannya, saya ingat ayah saya, lalu saya jawab, “Hayuk pak”.

Sekarang sarung itu saya gantung di pintu masuk sebagai pembatas ruang dalam – ruang luar, pertanda sebagai tanda kasih bagaimana perjuangan melawan ketakutan saya sendiri saat hidup di keseharian kami di studio yang diawali dengan pertemuan dengan Pak Josef Prijotomo di Bali. Terima kasih Pak Josef sudah menemani kami semua.

[1] Prijotomo, Josef. (ed. 2018). Prijotomo Membenahi Arsitektur Nusantara. (hlm. 42) Surabaya: Wastu Lanas grafika.

Kategori
blog inspiring people

Figur ayah itu juga kontradiktif

Apa yang saya syukuri dari perjalanan saya dibimbing ayah adalah bagaimana saya merasa utuh mendapatkan contoh menjadi bapak yang mungkin sungguh sempurna. Ia hadir di masa-masa terbaik saya. Ia juga hadir di masa terkelam saya. Ia hadir justru ketika saya membutuhkan bantuan—dan secara tidak langsung saya terus mencari figur ayah saya di dalam pertemuan saya dengan siapa pun. Ia hadir untuk memberikan harapan bahwa setiap masalah bisa diselesaikan. Dan kamu yang perlu membantu untuk menyelesaikan masalah itu. Janganlah pernah lelah berharap bahwa kamu bisa terus kuat dan menjadi contoh bahwa ini bisa diselesaikan.

Figur ayah itu juga kontradiktif. Dengan seluruh kekuatan dia juga penuh dengan kelemahan. Tapi saya ingat bahwa di hadapan anaknya ia tidak pernah lemah karena ia tahu dia adalah pribadi yang bisa diharapkan. Tidak pernah ia menunjukkan bahwa ia lemah dan patut untuk dikasihani. Di masa-masa terakhirnya ia justru bilang kepada kami bahwa ia tidak ingin dioperasi. Dia ingin semua berjalan baik. Dia tidak ingin mempersulit hidup kami, meskipun kami bisa setuju atau tidak setuju, tapi ia sudah memiliki pilihannya.

Dari ayah saya belajar untuk selalu berharap, kekuatan harapan utnuk menjadi sosok yang kuat, bersahaja, dan bisa memberikan harapan juga untuk orang lain. Dari beliau saya percaya bahwa hidup terpancar sesuai namanya, yang berarti “bisa”. Ia dengan badannya yang kecil bisa memberikan jumping smash yang tinggi. Ia memberikan lompatan-lompatan termasuk 3 buah nilai seratus di ijazahnya. Ia adalah orang yang jenius, meskipun Bahasanya mendapat nilai 40. Ia memang tidak sempurna tetapi ia justru menghargai ketidaksempurnaan itu dan tertawa-tawa di balik nilainya yang sempurna dan tidak sempurna. Di balik hidupnya tidak ada yang pernah sempurna, tapi justru itu menjadi sempurna karena hidup ini sebenarnya adalah tuntunan.

#RAWinspirasi

Sudah satu tahun ayah saya berpulang. Kepulangannya menyisakan banyak sekali kenangan yang manis. Kadang-kadang saya berpikir bahwa, saya merasa kehilangan. Di balik kesendirian, terkadang saya merasa masih membutuhkan kehadiran seorang Bapak. Itulah arti seorang ayah bagi anaknya. Dia tidak akan pernah hilang karena bagi saya sosok ayah adalah seorang role model.

Di tahun 2010, ayah saya menemani saya rapat di mana-mana dan saya dikenalkan ke teman-temannya yang banyak ahli manajemen konstruksi. Saya diajari oleh teman-temannya yang pada waktu umur 70-an tahun mengenai basis-basis dasar sikap, etika, teknik, dan engineering dalam sebuah proyek di mana service dan ketepatan kualitas itu penting. Saya juga belajar bagaimana proyek itu penuh dengan konsensus yang terbaca dan tidak terbaca. Ayah saya pada waktu itu juga setiap hari menutup pintu kantor. Mengecek, kadang-kadang jam 1, kadang-kadang jam 2, jam 3 pagi. Dan beliau pasti bangun jam 4 atau jam 5 pagi.

Pada saat di studio garasi juga ayah kadang-kadang melihat bagaimana gambar-gambar yang terpampang di dinding-dinding studio garasi. Beliau tidak pernah memuji langsung tetapi ia menitipkan rasa bangganya melalui istri saya. Begitulah ayah, tidak pernah memuji langsung. Ia hanya ingin menjadi tidak sombong. Ia selalu memberikan tantangan, pertanyaan-pertanyaan, supaya saya bisa berkembang lebih baik.

Kemudian ditahun 2015 saya mulai membangun the guild (Yang sekarang menjadi Guha the Guild), karena diminta oleh ayah saya. Sebenarnya saya tidak pernah mau keluar dari rumah itu. Tapi kalau sudah ayah saya meminta, saya punya prinsip bahwa apa kata ayah saya pasti akan saya laksanakan. Mungkin ini karena saya anak ketiga, anak tengah yang sebenarnya sangat mendambakan rasa sayang dari ayah. Anak tengah penuh dengan problematika yang justru menjadi punya potensi apabila ia menyadari bahwa dirinya menjadi jembatan untuk begitu banyak jalinan kasih di antara keluarga.

Di tahun 2016 saya pindah ke the guild bersama istri. Setahun kemudian saya mendapat kabar bahwa ayah saya terkena parkinson. Kadang-kadang pak Misnu bicara soal bagaimana ayah rutinitas studio garasi kami di rumahnya. Rutinitas itu menjadi penting karena ada harapan untuk berdiskusi. Saya yang semakin sibuk kadang-kadang menyempatkan diri untuk bertemu ayah saya tetapi tidak bisa sesering dulu lagi di mana saya setiap siang adalah momen-momen saya bisa makan siang dan ada momen makan pagi juga bersama ayah saya.

Di dalam perjalanannya beliau terus menjadi pribadi yang tangguh, tidak pernah merasa sakit. Begitu beliau sakit, saya menemani beliau sampai saat-saat terakhirnya dan merasa begitu bangga menjadi anaknya di mana ia selalu berpegang teguh pada prinsip bahwa melayani orang lain adalah yang terutama tanpa pernah kehilangan prinsip dasar bahwa melayani itu butuh kemampuan teknis yang baik.

Di saat-saat terakhirnya, ia sendiri berkata pada saya. Kira-kira dua hari sebelum dia meninggal. Pada waktu itu saya sudah mendoakan beliau. Di satu titik saya kira beliau sudah tidur, saya keluar kamar, beliau memanggil.

“Real jangan pulang. Sini, saya pengen peluk kamu.” dan kemudian saya mendekat, saya memeluk dan dia mencium pipi saya.

Dia bilang, “maafkan dad karena dad kadang-kadang tidak bisa berpikir jernih. Penyakit ini membuat saya tidak bisa mengontrol apa yang saya pikirkan. Dad bangga terhadap kamu dan jaga mami.” gitu.

Saya tahu bahwa itulah waktunya sudah dekat. Saya menghitung jumlah kalori makanan, makin lama makin sedikit, dan nafasnya pun makin pendek. Ada kalanya beliau membutuhkan oksigen lebih banyak dan saya menghitung waktu. Saya menghubungi beberapa kawan saya yang dokter dan mereka menitip pesan bahwa perlu untuk bersiap-siap. Di saat yang dua hari lalu itu saya sudah mempersiapkan diri dan saya memeluk beliau erat dan saya berkata, “dad if you think it’s about time, then i think saya siap dan rela.” jadi di situlah saya sudah mempersiapkan diri bahwa the worst thing will come. Kemudian saya mempersiapkan diri… mental, untuk menghadapi keluarga, ibu dan saudara-saudara bahwa setidaknya saya sudah melepaskan diri dari semua ekspektasi dan menerima apa pun yang terjadi di masa depan. Saya percaya bahwa he has done the best for the best and we have.. Kita sudah jadi yang terbaik. Dan saya sudah percaya bahwa ia sudah bersiap untuk berpulang.

Dua hari kemudian beliau berpulang.

Saya belajar dari Pak Wondo dan Pak Ary Murthy di dalam dialognya dengan Laura (Sumarah), bahwa hidup ini adalah tuntunan. Kita sama sekali tidak pernah memprediksi di mana kita lahir, kapan kita lahir. Tetapi beliau berkata bahwa hidup ini tuntutan dan tuntunan itu adalah bagaimana kita bisa semua belajar menjadi seorang pamong. Dari pamong pribadi sampai ke pamong yang lebih besar. Dan saya benar-benar bersyukur bahwa ayah saya memberikan saya sebuah contoh. Ia adalah sebuah pamong hidup yang menerangi kita sekeluarga. Sebuah matahari yang bisa, karena ia memang bertanggung jawab. Dari tanggung jawabnya muncullah reputasi. Dan kami benar-benar beruntung bisa meneruskan reputasi yang dimiliki oleh beliau untuk membawa nama baik keluarga.

Kenangan ini membawa sejuta makna, sejuta persaan, sejuta rasa kehilangan, dan juga rasa kelahiran kembali. Saya cuma sadar bahwa proses di sini yang dalami adalah sebuah proses di mana nanti, suatu saat nanti, adalah saat yang saya rindukan begitu saya bisa bertemu ayah saya kembali.

Saya berpikir hal-hal tersebut menjadi komplit. Melihat sebuah circle yang sangat menerus, dan menurut saya itu kan arsitektur juga seperti itu. Banyak orang yang tidak percaya sama kekuatannya. Tapi saya sendiri tahu bahwa arsitektur itu sedemikian kuat dan representasi hidup ayah saya itu tergambar dalam arsitektur yang saya hidupi dan saya lakoni sehari-hari. Jadi saya adalah wujud saksi hidup wujud kekuatan seorang ayah di dalam daya arsitektural yang maha dahsyat. Jadi terima kasih semesta sudah mempertemukan saya dengan role model saya yang luar biasa.

#RAWinspirasi

Kategori
blog inspiring people struggles

Tan Tjiang Ay + Yuswadi Saliya

Barusan hari ini di akhir tahun 31 Desember 2022, saya berkesempatan bertemu Om Tan Tjiang Ay dan Pak Yuswadi Saliya.
.

Dari om Tan saya belajar keseharian berpraktik yang realistis, optimal, dan detail. Saya berpraktek karena keterpaksaan, ia berujar.
.
“Masa sih pak keterpaksaan, menurut saya bukan keterpaksaan, tapi memahami keterbatasan melalui penyelesaian permasalahan.” Jawab saya.

“Tapi yang saya selesaikan, adalah permasalahan lapangan yang sehari – hari. Yang tidak mahal, yang praktis.”Ujarnya.

“Itu salah satu aspek yang bisa dijawab arsitektur pak, permasalahan sehari – hari, dan juga diperlukan oleh banyak orang. Mungkin juga detail, solusi yang sederhana bisa menjadi inspirasi oleh publik.” Jawab saya

Perbicangan seperti ini berjalan berjam – jam lamanya. Sampai satu saat saya menanyakan benang merah berkarya. Ia menjawab, wah wah pertanyaan berbahaya itu, sambil terkekeh- kekeh. Ia bercerita saya menimpali, itulah kenikmatan tersendiri di dalam memahami om Tan yang sudah berpraktek 50 tahun lamanya. Tempat kerjanya ada di dalam sebuah bangunan yang sudah berdiri dari tahun 1920, disesuaikan ulang, di tambah – tambah dan juga dikurang – kurangi. Umur struktur bangunan tersebut sudah 102 menuju 103, dari situ kita bisa belajar soal sikap menghargai, ya attitude adalah awal dari proses perencanaan, sebelum filosofi, sebelum teori, sebelum metode, dan ilmu – ilmu lapangan.
.


Dari Pak Yus kita bisa belajar memahami perspektif yang lebih dalam dari permukaan.
Ia melihat perspektif perlu didukung oleh data, sehingga polanya bisa terbaca, ia menyebutnya taksonomi atau pengelompokkan. Arsitektur pun demikian.
.
Data itu penting yang dipergunakan untuk memetakan langkah – langkah ke depan, ia mengulangi berkali – kali.
.
Dari kedua legenda hidup tokoh arsitekur ini, saya belajar kedalaman perspektif dan sikap hidup sehingga perbincangan berjam – jam menjadi taksonomi desain. Memang langkah pertama dari kreativitas adalah membuka diri dari situ kita hanya warana(alat) dan wahana(kendaraan) yang indah untuk sekitarnya.
.
Pak ini resep awet muda, saya berkelakar, mereka pun tertawa.

“Untuk Om Tan saya siapkan anggur, untuk menemani malam tahun baru.” Saya berkelakar.

“Wah ini harus sedikit – sedikit nih, supaya santai dan diam – diam, nanti ngga boleh gaul sama ibu” Ia pun balas berkelakar sambil tertawa terbahak – bahak.
.
“Untuk pak Yuswadi saya siapkan buah, ini resep umur panjang.”

istri pak yus datang, dan beliau tertawa,

“aduh ini kita suka sekali.” Ia berkata, dan pak Yus tertawa lepas.”Jangan pulang dulu kita masih bisa ngobrol dan diskusi.” Saya pun duduk 30 menit lagi sebelum istri saya telp karena sudah mulai malam.
.
“Pak saya pamit dulu ya, soalnya saya mau nemenin istri dan anak – anak makan.” Saya berpamitan.
.
“Pak saya foto ya buat kenang – kenangan.”
.
“Hayuuuukk.” Katanya.
.
Memang tawa para legenda arsitektur ini tidak bisa dilepaskan dari pasangannya, dua legenda romantis yang sayang akan cinta sejatinya dan kehidupannya yang dijalaninya dengan seksama.
.
Ini hanya refleksi singkat dari pertemuan dengan para legenda hidup arsitektur. Doa dari keseharian, meneruskan pesan untuk merajut jiwa. 2023 yuk jalan.

Kategori
blog inspiring people struggles

Sunaryo dan Ronchamp Chapel 


.
Di Ronchamp Chapel karya Le Corbusier ada permainan cahaya dengan tampak menghadap utara selatan sehingga cahaya pagi didesain untuk menerangi altar utama. Sedangkan daerah selatan didesain untuk altar terbuka dengan bukaan-bukaan dengan pola besar kecil.

Kami tinggal di satu penginapan, salah satu keluarga donatur Ronchamp yang memiliki hotel di pinggir sungai yang bercabang ke sungai Le Rahin. Pada saat makan pagi bersama, ia berkata Ronchamp sendiri dibangun untuk membiayai ekonomi kota, bersama warga. Bentuknya yang tidak biasa terkadang membuat orang bertanya-tanya, bagaimana bisa karya seperti itu hadir di puncak bukit.

Bulan lalu saya bertemu Seniman Sunaryo di Selasar Paviliun, di pameran Le Corbusier. Saya menyapa beliau ketika melihat beliau duduk istirahat di rumput. Saya bertanya ke beliau “Apa itu arsitektur ?”

Menurut beliau bangunan dan seni adalah satu, tidak terpisahkan, itulah arsitektur lalu Ia bertanya pendapat saya “Apakah memang karya Le Corbusier yang di Ronchamp punya nilai yang baik?” Ia sendiri punya rasa penasaran terhadap pameran Le Corbusier di Selasar Paviliun.

Saya bertanya “Bagaimana cara untuk mengutuhkan arsitektur melalui seni?”. Pak Sunaryo menjelaskan bahwa penguasaan teknik menjadi langkah awal, kemudian disusul oleh pertanyaan untuk siapa kamu berkarya, yaitu untuk orang lain melalui dirimu sendiri.

Setiap karya arsitektur dari segi skala, memiliki tingkat kesulitan, pertimbangan, taktik eksekusi yang optimal dan efisiensi yang berbeda-beda. Yang menarik adalah bagaimana karya itu menggerakkan perekonomian kota dari masa waktu dibangun sampai setelah dibangun. Kerja tersebut pasti melelahkan. Hal itu berulang di dalam desain gereja Firminy dilanjutkan dari sketsa Corbusier. Oubrerie, asisten yang menemani Corbusier di dalam berkarya menjadi desainer dari gereja tersebut dengan banyaknya turunan teknik desain. Jadi energi beliau, berlanjut, merintis dan berkembang dari benih satu ke selanjutnya, beliau menjadi jembatan seperti Pak Sunaryo dengan program selasarnya yang menjadi jembatan untuk seniman muda berpameran.
.
Jembatan kasih untuk tahun 2023, pas :p

#RAWinspirasi
.

Kategori
blog inspiring people

Wance Tobeng – Etos Ibu

There’s only one thing more precious than our time and that’s who we spend it on.”-Leo Christopher

Ibu saya selalu menemani ayah saya ketika bekerja. Saya ingat ayah saya bercerita ketika ibu dan ayah saya menghadap ke Teddy Boen di pagi – pagi justru ketika Pak Teddy belum ke kantor. Pak Teddy pun terkejut melihat ayah ibu saya disana, intinya mereka ingin mendiskusikan beberapa tagihan tambahan karena memang diperlukan. Dan benar saja Pak Teddy selalu mengingat ibu dan ayah saya. Mereka selalu berpesan bahwa bangun pagi – pagi, selalu ada rejeki untuk orang yang bersiap – siap dan tak kenal menyerah, biasa jam 5.00 mereka sudah bangun dan menunggu untuk ngopi atau ngeteh bersama.

Ada alasan kenapa saya membuat kisah tentang ayah dan ibu yang memang adalah dasar kami berpraktik yakni sederhana, tidak bertele – tele dan tetap personal. Ibu saya atau seringnya dipanggil ama sama cucu – cucunya ini paling gokil, ia adalah ibu ketua RT yang pernah mimpin demo bersama warga gara – gara gorong – gorong air ditutup sama pemerintah. Untuk saya, ibu kami ini adalah ibu yang terbaik di dunia dan saya mendapatkan energinya semangatnya yang ngga bisa diam. Didiemin sedikit ssstttt “Eh tau – tau udah manjat lemari dia ngejer cicak.” Lol. Hal tersebut membuat hal tersebut juga turun ke Miraclerich punya energi yang luar biasa alias tidak bisa diam. Ibu saya selalu menemani ayah saya, mencatat administrasi, sembari mengurus keperluan rumah tangga kami, termasuk mengajarkan aturan yang disiplin tanpa mengikat. Ia menghargai waktu dan mereka memilih dengan siapa mereka meluangkan waktu. Laurensia sekarang juga membantu kami di dalam pengaturan studio yang tidak mudah.

Studio @rawarchitecture_best pun dibentuk dengan energi yang seperti itu, sebuah prinsip energi yang positif, desain seperti mempersiapkan sebuah hidangan makanan, preparation, preparation, preparation. Waktu yang panjang dilakukan untuk pengecekan – pengecekan gambar. Setiap pagi saya mencoba untuk mengecek

kesiapan setiap hari, meskipun tidak mudah untuk menerapkan hal tersebut di tim besar, segala sesuatu yang dimulai dari hal yang sederhana akan membuahkan hasilnya positif. Setelah ini baru saya akan menyajikan proses berkarya studio kami, setelah mengetahui etos yang merupakan titik awal studio yang berisi anak – anak muda yang sungguh saya banggakan.

In English :

My mother always accompanies my father when he works. I remember my father telling me when my mother and father went to see Teddy Boen in the morning when Mr. Teddy had not yet come to the office. Mr. Teddy was also surprised to see my mother and father there; they wanted to discuss some additional invoices. And sure enough, Mr. Teddy always remembers my mother and father. They always say that when they wake up early, there is always fortune for those ready and don’t give up usually, at 5.00 they are up and waiting for coffee or tea together.


There is a reason why I made a story about father and mother, which is the basis for our practice, which is simple, straightforward, and personal. My mother, often called her grandchildren, is the most energetic. She is the head of the RT who once led a demonstration with the residents because the government closed the water ditches. Our mother is the best in the world, and I get her energy and enthusiasm that cannot be silent. Didiemin a little shhhhhhh “Eh you know – you know, already climbing the closet he’s chasing a lizard.” lol. This energy also goes down to Miraclerich, who has extraordinary power, aka cannot be silent. My mother always accompanied my father, taking notes on the administration while taking care of our household needs, including teaching disciplined rules without being binding. It values ​​time, and they choose who they spend time with Laurensia is now also helping us in the studio setup, which is not easy.


Realrich Architecture Workshop fills our memory with that kind of energy, a positive energy principle. The design is like preparing a food dish, preparation, preparation, preparation. I need time for checking the design, which I do every morning.

Everyday readiness or constant preparation is not easy to implement in a big team. Everything that starts from simple things will produce positive results. After this, I will only present the process of working in our studio after knowing the ethos, which is the starting point for a studio filled with young people of that I am proud of.

Kategori
blog inspiring people

Asnawi Sjarief – My father, Teluk Betung Eagle

Ini ayah saya, namanya Asnawi Sjarief, opa kami, yang ngga segesit ibu saya tapi matanya tajam seperti elang. Ia adalah seorang pemain bulutangkis yang sempat jadi Elang Teluk Betung, meskipun badannya kecil ia terkenal dengan jumping smashnya. Ia menyaksikan kehebatan satu legenda pelatih Indonesia Tong Sin Fu dalam melatih reflek, teknik bermain dengan etos berlatih tinggi sampai berkelahi ketika harus mempertahankan prinsip hidupnya. Tong Sin Fu sekarang melatih Lin Dan, dan kaliber dunia lainnya menjadi juara dunia. Dulu om Tong sempat melatih Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. Ia melatih murid2nya untuk meraih puluhan gelar juara termasuk 3 olimpiade seperti : piala Thomas, Uber dan banyak piala lainnya. Untuk saya, figur Tong Sin Fu dan Ayah saya adalah figur dasar bagaimana arsitek perlu memiliki prinsip hidup dan latihan yang intensif.

Tong Sin Fu sekarang melatih Lin Dan, dan kaliber dunia lainnya menjadi juara dunia. Dulu om Tong sempat melatih Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. Ia melatih murid2nya untuk meraih puluhan gelar juara termasuk 3 olimpiade, piala Thomas, Uber dan banyak piala lainnya. Untuk saya figur Tong Sin Fu dan Ayah saya adalah figur dasar bagaimana arsitek perlu memiliki prinsip hidup dan latihan yang intensif.

Di waktu kecil, kita tidak banyak berkumpul bersama, Ayah saya bekerja di Jakarta, dan ibu saya, saya, dan saudara laki-laki saya tinggal di Surabaya. Kami tidak sekota sehari-harinya, Ibu saya mendukungnya, ketika kami harus pindah ke Jakarta dari Surabaya ketika saya berusia sepuluh tahun.

Dia mengawasi timnya dengan cermat dan merawat mereka, seperti keluarganya. Saya ingat ayah saya bangun sangat pagi, jam 5 pagi, dan pergi ke lokasi untuk memeriksa pekerjaan timnya dari waktu ke waktu, dari Senin sampai Senin. Terkadang selama liburan, kami mengadakan acara dengan tim pengrajin dan pengawas, dan hidup mereka menjadi hidup kami. Kami bersenang-senang membicarakan proyek di meja makan. Saya sangat mencintainya, dan dia adalah pahlawan saya, panutan, mentor, dan orang yang selalu mengerti kondisi kami. Meskipun dia harus menutup usahanya di tahun 1998, dia berhasil mencarikan uang dan pekerjaan untuk mereka.

Dalam hidupnya, dia berusaha untuk orang lain dan keluarganya. Dia menyukai posisinya di lapangan, dan bosnya, Teddy Boen, mengingatnya. Teddy Boen adalah salah satu profesor di bidang desain Gempa di Indonesia. Dia mengenal Teddy Boen dari kakek kami, dan dia mempertahankan hubungan itu selama 30 tahun hingga sekarang. Ini adalah hubungan berkelanjutan antara generasi pembangun, klien, dan pengrajin. Saya masih ingat tidak sempat mengobrol dengan ayah saya karena dia bekerja di Jakarta. Dia datang ke Surabaya ketika salah satu keluarga berulang tahun. Kami dulu mengadakan pesta ulang tahun yang sederhana. Perayaan kami sangat sederhana seperti rumah kami, satu lantai, dengan finishing teraso. Dia membangunnya satu per satu. Dia mengurus keluarganya dengan memberi kami rumah sederhana selama bekerja di Jakarta. Terkadang, kakek + nenek kami dari Lampung datang, dan saya menyadari bahwa mereka sangat bangga dengan ayah dan ibu saya. Pakaian kami sangat sederhana, dan terkadang, ibuku menjahit semua pakaiannya sendiri. Gaya pakaian kami mirip. Terkadang banyak saudara kakek kami datang untuk membantu ibu saya. Ibu saya merawat empat putra seorang diri. Dia suka membuat kue dan bersosialisasi di lingkungan sekitar.

Seorang ayah adalah pelita bagi anak – anaknya, begitupun ayah saya yang sudah disebut opa oleh cucu2nya. Saya sangat kangen sekali untuk berkunjung ke tempat ayah saya hanya untuk sekedar mendengarkan ia mengulangi kisah – kisah hidupnya bertemu orang – orang luar biasa termasuk ketika ia membicarakan terus Teddy Boen dan menanyakan ke saya, kamu sudah kontak pak Teddy Boen ?

Akhirnya saya bertemu pak Teddy sebelum pada saat itu sata bertemu almarhum pak Adhi Moersid. Saya diceritakan mengenai prinsip – prinsip hidup berelasi dengan engineer dan menegaskan bahwa empati, hati diperlukan di dalam menjalani praktik. Ternyata beliau adalah insinyur struktur dari Said Naum, yang merupakan partner almarhum Pak Adhi Moersid dan Atelier 6 Arsitek. Teddy Boen hanya berkata your dad is really good person, teliti dalam bekerja dan tidak omong besar. Hidup ini memang berputar seperti pasir di pantai kadang ia tertarik ke dasar lautan mendalami prinsip hidup untuk kembali ke daratan mendalami bahwa semua hal ini terelasi.Le Corbusier memahami ini di dalam gambaran saat – saat dirinya bermain di pantai dan menemukan poetic objet, dari situ ia memahami bahasa alam melalui kerang, bentuk alam.

Setelah saya selesai menemui almarhum Adhi Moersid dan Teddy Boen. Pak Teddy menitipkan 10 buah buku dan prototipe rumah tahan gempa yang berguna untuk masyarakat yang adalah dokumen publik. Saya kembali ke rumah ayah saya. Saya ingat ia menyambut ke depan dan langsung menanyakan, gimana sudah bertemu ? Saya mengiyakan dan melihat matanya berbinar – binar.

In English :

My father’s name is Asnawi Sjarief. He is not as agile as my mother but has sharp eyes like an eagle. He is a badminton player who became a Teluk Betung eagle; although his body is small, he is famous for his jumping smash. He witnessed the greatness of a legendary Indonesian coach Tong Sin Fu in practicing reflexes, playing techniques with high training ethos, and fighting when he had to defend his life principles. Tong Sin Fu is now training Lin Dan and other world calibers to become world champions. In the past, Uncle Tong had coached Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. He taught his students to win dozens of titles, including 3 Olympics, the Thomas Cup, Uber, and many other trophies. For me, the figures of Tong Sin Fu and my father are the primary figures of how architects need to have principles of life and intensive practice.

We were apart when I was born. My mom supported him initially, and we had to move to Jakarta from Surabaya when I was ten years old. My father worked in Jakarta, and my mom, me, and brothers stayed in Surabaya.

He watched his team closely and cared for them, like his family. Even though he was bankrupt, he managed to find money and a job for them.

I remember he woke up very early, 5 a.m., and went to the site to check his team’s work from time to time, from Monday to Monday.

Sometimes during the holiday, we had events with the artisans’ team and supervisor, and their lives became ours. We have a good moment talking about the project at the dining table. I love him so much, and he is my hero, role model, mentor, and always the person who understands my condition. In his life, he put effort into others and his family. He liked his position on the field, and his boss, Teddy Boen, remembered him. Teddy Boen is one of the professors in Earthquake design in Indonesia.

He knew Teddy Boen from our grandfather, and he sustained the relationship for 30 years until now. It’s a sustained relationship between generations of builders, clients, and artisans.

I still remember not having time to chat with my father as he worked in Jakarta. He came to Surabaya when one of the family had a birthday. We used to have a simple birthday party. Our celebration was straightforward like our house, one story, with a terrazzo finish. He built it one by one. He took care of his family by giving us a simple home while working in Jakarta. Sometimes, our grandpa + ma from Lampung came, and I realized they were so proud of my father and mother. Our clothes were so simple, and sometimes, my mom sewed all of the clothes by herself. Our style of clothes is similar. Sometimes many of our grandfather’s siblings came to help my mother. My mom took care of four sons by herself. She likes to bake a cake and socialize in the neighborhood.

My conversation with my father is still ongoing, including when he talked about Teddy Boen and asked me, have you contacted Mr. Teddy Boen?


A father is a lamp for his children, and my father has been called Opa by his grandchildren. I miss visiting my father’s place to listen to him repeat his life stories and meet extraordinary people, including when he talked about Teddy Boen and asked me, have you contacted Mr. Teddy Boen?


Finally, I met Mr. Teddy before that time when I met the late Mr. Adhi Moersid. It turned out that he was a structural engineer from Said Naum, who was a partner of the late Pak Adhi Moersid and Atelier 6 Architect. They told me about the principles of living in a relationship with engineers and emphasized empathy and heart, which is a must in practice. Teddy Boen said your dad is a good person, conscientious in his work, and doesn’t talk big. Life is indeed spinning like sand on the beach. Sometimes we are drawn to the bottom of the ocean to explore the principle of life. Then, we can return to land to explore how all these things are related. Le Corbusier understands this in the picture of moments – when he plays on the beach and finds the poetic object, and he understands the language of nature through shells and natural forms.
After meeting the late Adhi Moersid and Teddy Boen, Mr. Teddy entrusted ten books and prototypes of earthquake-resistant houses that are useful for the community, which are public documents.

I returned to my father’s house. I remember he greeted me and immediately asked, how did you meet? I agreed and saw his eyes sparkle.

Kategori
blog inspiring people

Boonserm Premthada – Sang Penjaga Gajah

Beberapa bulan ini saya berusaha mencari teman untuk bisa berdiskusi mengenai arsitektur. Arsitektur di dalam pikiran saya adalah sebuah disiplin yang perlu untuk diperjuangkan dan dihayati yang dimulai dari hal yang kecil yang kemudian menjadi besar, merubah orang yang menempatinya termasuk merubah arsiteknya sendiri. satu karya menuju satu karya yang lainnya. Kualitas ditentukan bukan oleh berapa banyaknya kuantitas yang dikerjakan, kualitas diatas kuantitas. Kualitas pun tidak berbanding lurus dengan kepopuleran satu karya tersebut, penilaian satu karya terhadap yang lain muncul dari kekuatan proses pembuatannya. Hal tersebut yang seringkali membuat saya berdecak kagum karena semangat perubahan, semangat kejujuran, semangat untuk tampil dalam semangat eksperimen tanpa takut salah. Arsitek itu adalah manusia yang seharusnya tampil jujur, apa adanya.
.
Melalui Boonserm dan karyanya saya mendapatkan refleksi dari diskusi kita, saya berusaha merefleksikan pembicaraan kita, energi yang besar, keberanian yang besar, yang membuat refleksi terhadap proses untuk terus berbagi ke orang lain untuk menikmati karya yang mampu berbicara dari hati. Semua orang bisa berbicara banyak melalui kata, namun arsitek berbicara melalui karya. Karya yang dalam berbicara melalui dirinya sendiri, kemudian arsitek meletakkan dirinya di dalam sepatu orang lain. Begitu Ia melihat perbedaan violet le duc terhadap john ruskin. Seketika itulah manifestasi antara konteks, teori, metodologi, implementasi menjadi satu kesatuan. Sungguh sebuah titik yang saya apresiasi. Keterbukaan, semangat untuk berbagi, kejujuran dalam berbuat berpikir dan membentuk masa yang sekarang membuat boonserm ada di konteks yang sekarang.
.
Keesokan harinya kami berangkat ke Kantana untuk melihat karyanya. Di dalam karya Kantana ia mengkonstruksi axis yang merupakan jalan masuk dengan bebatuan kerikil, kerikil yang ada tidak basah dan kering. Jalan itu memiliki drainase yang baik. Vista diciptakan dari bentuk bata yang disusun menyerupai candi yang membelah zona – zona yang berbeda. Keesokan harinya, bersama Nantapon, kita menuju karyanya selanjutnya yaitu sebuah pavilion yang memiliki fungsi restaurant, bangunan disini memiliki komposisi tektonika yang meredefiniskan tektonika tangga dan tampak kotak – kotak yang terletak di dalam sebuah kubus yang tersusun di dalam rangka yang dibungkus material triplek. Tangga tersebut menghubungkan mezanine dengan lantai dasar.setelah itu kami berjalan kaki ke bangunan sebelahnya terdapat bangunan yang sedang dibangun konstruksi yang sedang berjalan yang juga didesain oleh Boonserm. Bangunan itu menggunakan konstruksi glasblock yang ditutup sisinya oleh kayu lokal. Antar glassblock di perkuat dengan sambungan besi. Konstruksinya seperti kertas yang dilipat dan duduk di atas konstruksi beton. Setiap massa dipecah yang dihubungkan dengan jembatan, didalam massa tersebut terdapat solid void plat lantai yang menhubungkan secara visual axis dari satu massa menuju massa yang lain, menghadap ke pepohonan dan sungai.
.
Di era sosial media yang begitu cepat, karya arsitektur bukanlah soal jumlah like dan follower tapi adalah soal totalitas menjalani hidup sabatikal yang penuh pengabdian. Seringkali jalannya adalah jalan yang sunyi dan apabila ia menjadi jalan yang ramai biarkan kita membagikan kebaikan untuk orang lain dengan jujur apa adanya. Satu kali ini saya akan berdoa untuk boonserm untuk kebaikan yang dibagikannya ,termasuk untuk saya sendiri yang melewati doa ruang dan waktu. Hidup hanya sementara jalani dengan sungguh- sungguh. Pertemuan kami ditutup dengan sebuah pelukan untuk pesan untuk jangan pernah menyerah.
.
Ekonomi, sosial, lingkungan, manusia membentuk konteks – lahir arsitektur. Pribadi yang sederhana, bertemu orang – orang yang sederhana membuat kembali belajar. Boomserm membuat komposisi kantana dan dua karya lain yang saya kunjungi . Pendekatannya adalah pendekatan yang apa adanya. Arsitektur adalah karya yang memberkati klien, pengguna.
.
Di akhir perjalanan, Nantapon mengundang saya ke Samsen Hotel karya dari Chat Pong. Disitu istri dari Boonserm akan menyajikan dansa Zumba. satu dibalik tarian zumba di satu sisi di depan bangunan hotel, saya melihat ada boonserm, ada nantapon disitu ada murid- murid ada teman2 mereka dan saya melihat ada semangat persaudaraan untuk saling mendukung. Kualitas yang jujur dan jarang ditemui. Boonserm mengajak saya berbicara ke satu sudut ruangan dan ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya di dalam arsitektur. Satu diskusi tersebut merubah persepsi saya mengenai sebuah arti di dalam menjadi arsitek. Bahwa kita harus berjarak untuk bisa menilai, kita harus tekun untuk berproses, kita harus terus melayani sekitar kita. Ciptakanlah karya yang tumbuh dari tanah.
.
Photo of Boonserm’s work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work.
.

For the past few months I've been trying to find friends to discuss architecture with. Architecture in my mind is a discipline that needs to be fought for and lived that starts from small things which then becomes big, changing the people who occupy it, including the change of the architect himself. one work to another. Quality is determined not by how much quantity is done, quality over quantity. Quality is not directly proportional to the popularity of one work, the assessment of one work against another arises from the strength of the manufacturing process. This is what often makes me chuckle because of the spirit of change, the spirit of honesty, the spirit to appear in the spirit of experimentation without fear of making mistakes. The architect is a human being who should appear honest, as it is.
.
Through Boonserm and his work I get reflections from our discussions, I try to reflect on our conversations, great energy, great courage, which makes reflections on the process of continuing to share with others to enjoy works that are able to speak from the heart. Everyone can speak a lot through words, but architects speak through works. The deep work speaks through itself, then the architect puts himself in someone else's shoes. As soon as he saw the difference between violet le duc and john ruskin. At that moment, the manifestation of context, theory, methodology, implementation becomes a single unit. It's a point that I appreciate. Openness, passion for sharing, honesty in thinking and shaping the present make boomerm exist in the current context.

The next day we left for Kantana to see his work. In Kantana's work he constructs an axis which is an entrance with gravel, the gravel is neither wet nor dry. The road has good drainage. Vista is made of bricks that are arranged to resemble a temple which divides the different zones. The next day, together with Nantapon, we went to his next work, which is a pavilion that has a restaurant function. The building here has a tectonic composition that defines ladder tectonics and looks like boxes located inside a cube arranged in a frame wrapped in plywood material. The stairs connect the mezzanine with the ground floor. after that we walked to the building next to it there is a building under construction in progress which is also designed by Boonserm. The building uses a glass block construction which is covered on the sides by local wood. Between glassblocks are reinforced with iron connections. The construction is like folded paper and sits on a concrete construction. Each mass is broken down which is connected by a bridge, inside the mass there is a solid void floor plate that visually connects the axis from one mass to another, overlooking the trees and the river.
.
In this fast-paced era of social media, architectural work is not about the number of likes and followers but is about the totality of living a devoted sabbatical life. Often the path is a lonely road and when it becomes a busy road, let us share kindness with others honestly as it is. This time I will pray for Boonserm for the goodness he shares, including for myself who has passed the prayer of space and time. Life is only temporary, live it earnestly. Our meeting closed with a hug for a message to never give up.

Economic, social, environmental, human form the context - born architecture. A simple person, meeting simple people makes learning again. Boomserm composed cantana and two other works that I visited. The approach is an as-is approach. Architecture is a work that blesses clients, users.
.
At the end of the trip, Nantapon invited me to the Samsen Hotel by Chat Pong. There the wife of Boonserm will present a Zumba dance. one behind the zumba dance on one side in front of the hotel building, I saw there was a boonserm, there were nantapon there were students and their friends and I saw a spirit of brotherhood to support each other. Honest and rare quality. Boonserm took me to a corner of the room and he told me about his life journey in architecture. One such discussion changed my perception of what it means to be an architect. That we must be distant to be able to judge, we must persevere to process, we must continue to serve those around us. Create works that grow from the ground.
.
Photo of Boonserm's work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work.




Kategori
blog inspiring people

Kandalama, Geoffrey Bawa’s later masterpiece and content of being honest

“A building can only be understood by moving around and through it and by experiencing the modulation of the spaces one moves through from outside verandahs, the rooms, passages, courtyards the view from these spaces into othersm,… equally important, the play of light in both garden and innerroom – from shaded inner space to the celebration of light in a courtyard.” Geoffrey Bawa

Kandalama Hotel | Sectional elevation through the hotel showing the relationship of the building to the cliff | Archnet
Kandalama Hotel | Sectional elevation through the hotel showing the relationship of the building to the cliff | Archnet

Several Weeks later I saw one image, a hotel with full of greeneries looks like the building is attached to nature. The Name of the Hotel is Kandalama.

Though the west wing is visible from the entrance road, it was heavily camouflaged by planting in order to minimize its visual impact on the arriving guest so it ultimately does not detract significantly from Bawa's designed approach.
Though the west wing is visible from the entrance road, it was heavily camouflaged by planting in order to minimize its visual impact on the arriving guest so it ultimately does not detract significantly from Bawa’s designed approach.
Being one of Bawa's earlier moves toward minimalism in building detailing, the design of the Kandalama Hotel was shocking to admirers of the vernacular influence visible in his previous projects. However, the subtlety of the architecture itself effectively foregrounds the drama of the cliff-side topography and breathtaking views.
Being one of Bawa’s earlier moves toward minimalism in building detailing, the design of the Kandalama Hotel was shocking to admirers of the vernacular influence visible in his previous projects. However, the subtlety of the architecture itself effectively foregrounds the drama of the cliff-side topography and breathtaking views.
The Kandalama Hotel is a nine-kilometer drive east of the small town of Dambulla. The main entrance lobby is located at the end of a ramped 2.7-kilometer-long private road that branches north from a secondary arterial leading back to the center of town. From the earliest development phase of the project, Bawa was interested in developing a spatial and visual sequence of entry that culminated in the revelation of the distant view of the monument of Sigiriya only after entry to the hotel lobby.
The Kandalama Hotel is a nine-kilometer drive east of the small town of Dambulla. The main entrance lobby is located at the end of a ramped 2.7-kilometer-long private road that branches north from a secondary arterial leading back to the center of town. From the earliest development phase of the project, Bawa was interested in developing a spatial and visual sequence of entry that culminated in the revelation of the distant view of the monument of Sigiriya only after entry to the hotel lobby.
Plan at Entry Level - Archnet
Plan at Entry Level – Archnet

Robson stated If Norman Foster works with hundreds of architects in his firm, Foster and Partners. Geofrey Bawa should not be viewed as a lone genius but rather as someone who operated within a circle of sympathetic friends and collaborators and at the center an ever-changing group of talented associates and assistants.  He also worked closely with a network of highly skilled builders and craftsmen which traditions and practices had been passed down through generations, often developing ideas directly with them on building site. [1]

I did research about Kandalama, found the building performance in archnet which is the world’s largest online databank of Islamic architecture. It was developed at the MIT School of Architecture and Planning in co-operation with the Aga Khan Trust for Culture. It provides users with resources on architecture [1], urban design and development in the Muslim world to all users .

Kandalama shows as example how Bawa’s later approach.Bawa’s earlier works are purely aesthetic and reflect the architect’s evolving personal design philosophy. The Kandalama Hotel follows the model of his later projects, in which the majority of the ornamentation comes from sculptures and artworks by other artists distributed around the building.
The detailing of the architecture itself remains plainly yet harmoniously articulated in neutral tones and natural materials, including white concrete walls, black painted concrete columns, and wood or iron railings and millwork.
The detailing of the architecture itself remains plainly yet harmoniously articulated in neutral tones and natural materials, including white concrete walls, black painted concrete columns, and wood or iron railings and millwork.

The Kandalama Hotel is located in the central dry zone of Sri Lanka, unlike many of Bawa’s other buildings on humid oceanfront sites, and thus its design must adapt to a different climate. While pitched roofs are a necessity in coastal areas that receive heavy rain, the flat roofs at Kandalama function well in a dry climate and are less material-intensive. [2]

This hotel reminds me about Norman Foster when he strived for improving the building performance more than architectural articulation. The Kandalama features innovative building technologies and systems designed to mitigate the environmental impact of the building’s operation on the catchment of the nearby lake. The Kandalama Hotel is an excellent example of how tourist facilities can be integrated into an undeveloped landscape successfully, fostering appreciation for the natural beauty of the setting while minimizing negative environmental consequences.

There were interesting stories and comparison the attitudes of influence and inspiration, among Mies, and Corbusier. Historian Reyner Banham would tell how he had interviewed Le Corbusier in Paris in the late 1950s. he was curious about the inspirations of Corbusier’s mind, Corbusier and Mies van der Roher both working for Peter Behrens in Berlin in 1911 and together they went to hear a lecture on Frank Llyod Wright by Dutch architect Berlage. When questioned by Banham, Corbusier insisted’ Frank Llyod Wright, “I don’t know that name. This was the same Corbusier who in 1912 design his parent house inspired by Frank lyyod Wright. Some architect found that they were orginal and that there genious, self trained, being avant garde and centre of attention. 1912 - Villa Jeanneret-Perret, aka Maison Blanche, aka the White House, 12 Chemin de Pouillerel, La Chaux-de-Fonds, Switzerland.

Robson stated that Geoffrey Bawa did not aspire to be original or Avant – Garde, though many of his buildings were highly innovative. His architecture was not a means of personal expression: he enjoyed the process of causing buildings to be made. Good buildings gave him pleasure and he took pleasure from making buildings that gave others pleasure. He was concerned to make buildings that satisfied the aspirations of their users, which were appropriate to their setting and function [3]

Creating honest design, and performance based design is fundamental for design rather than attitude for being avant-garde, In the term of solving problem, we have to connect with the users, make them happy, nurture them, satisfy the land and the human. It will be good for students to understand and practice them. It’s like Gaston Bachelard’s Poetics of space, he believed in imagination, the best work is to left the imagination and some part of the chest is closed and left for interpretations for admirers. I remember my childhood, with my family, in our family, I was thought by my father and mother, to have perfection in work, nurture the family, while staying real, and honest with everybody. That is why they gave me name realrich. I just think that the word “family” is getting bigger.One of them is student, and another future architect, the other family is Laurensia and cute Miracle who gave me love every day.

the attitude makes the originalism.

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/ArchNet
[2] Robson David, Beyond Bawa, modern masterworks of monsoon asia
[3] Archnet, http://archnet.org/collections/10/sites/3041

Kategori
blog inspiring people

Kengo Kuma – Craftmanship Process

161016  Jakarta,”Totality of architectural design includes textures, the soft and hardness of the material, the smell of the material, and the acoustic effect of the material.” Kengo Kuma

img_5042
Kengo Kuma di dermaga cultural village

Di satu pagi Albert salah satu klien yang sudah saya anggap seperti adik sendiri, mengingatkan, “ko jangan lupa untuk meeting tanggal 9 Oktober ya, Kengo Kuma akan datang ke Belitung, nanti kita diskusi. apa koko bisa ?” Kira – kira 4 bulan yang lalu, Albert memiliki ide untuk mengunjungi Kengo Kuma ke Jepang, Kengo Kuma pun tertarik dengan proyek yang sedang kita kerjakan. Dalam hati, diri ini bertanya – tanya, apakah ini mungkin, untuk bekerja bersama di proyek untuk daerah yang terpencil ? Saat itu beberapa kali diskusi di lakukan. Saya ingat ketika ada di Bandung, di satu pojok perpustakaan ITB, ketika sedang mencari buku mengenai christopher alexander, video conference dilakukan. Albert pada saat itu ada di Jepang. “Ko mau ko, Kengo Kumanya.” Dalam hati diri ini melonjak kegirangan, perbincangan dengan beberapa arsitek Jepang lain pun juga dilakukan untuk mencari – cari kemungkinan kolaborasi, meeting pagi – pagi dilakukan karena jadwal arsitek – arsitek ini yang padat. Hanya Kengo Kuma yang bertahan untuk mau terlibat di proyek ini.

Proyek di Belitung memiliki kenangan tersendiri, disinilah kami biasa meluangkan waktu bersama – sama, saya, Laurensia, beserta albert dan keluarganya, pak Agus dan tante Siannie sejak sekitar 5 tahun yang lalu, cerita dimana tidur tanpa penerangan, sepi, nyamuk, dan tanpa akses menjadi makanan sehari – hari. Cerita pun berlanjut, suka dan duka yang dialami mereka dalam menjalankan proyeknya pun sudah disaksikan sampai akhirnya area resort dibuka dan datanglah orang – orang yang mau menginap. Memang tidak mudah memulainya, menjadi yang pertama, sang pionir dimana yang lain seperti ragu – ragu dalam menembus belantara yang liar tanpa infrastruktur yang memadai.

Pagi – pagi di jam 4 pagi, telepon rumah berdering pak Misnu sudah membangunkan, mengingatkan bahwa satu jam lagi harus berangkat.  Baru saja dua hari yang lalu, perjalanan dilakukan ke Bali, pulau dewata untuk memeriksa pekerjaan. Keadaan sekarang tidaklah sama dengan beberapa tahun yang lalu, sekarang sudah ada miracle, senyumnya,tawanya,kelucuannya ataupun tangisnya mewarnai kehidupan kami sehari – hari.

Jakarta di pagi hari, memberikan kehidupannya yang lain, kelembutan dibalik carut – marut pembangunan dan perencanaan infrastruktur kotanya, sebuah kota yang banal atau kasar atau tidak cantik, dipagi – pagi yang cerah, satu pegawai lontong sayur langsung menghampiri di lounge bandara, satu ya mas sama teh manis, sepertinya ia sudah hapal, kami setidaknya bertemu satu kali seminggu.

Kaki ini dilangkahkan di koridor pesawat, kebetulan tempat terdepan diperoleh, disitulah perjumpaan dengan Kengo Kuma. Ia sudah berumur 62 tahun, duduk di pesawat sendirian. “Anda sendirian Kuma san ?” “Staff saya sudah ada di Belitung” katanya singkat sambil ia tersenyum. Ia tertidur sepanjang perjalanan,kemudian ia bercerita ia baru saja pergi ke Ceko untuk membuka pameran Kengo Kuma: Woven di Jaroslav Fragner Gallery di Praha, lengkung matanya dalam, menunjukkan kurangnya ia tidur dan istirahat, nomaden. Ia kemudian menjelaskan orang Jepang banyak sekali belajar dari kebudayaan barat, ia terinspirasi dari karya Yoyogi Stadium, karya Kenzo Tange, dan sekarang banyak orang terinspirasi dengan arsitektur Jepang,  semua saling mempengaruhi.

Memang struktur gedung stadium Yoyogi yang didesain Kenzo Tange begitu indah dengan kabel – kabel tarik dan lembaran metal yang diletakkan diatasnya menyerupai sirip – sirip ataupun daun, mengingatkan pada karya gereja pohsarang dengan struktur genteng yang ditumpukkan di reng batang tarik menyerupai struktur tenda, begitulah maclaine pont mendesain dengan keterbatasan material dan keterbatasan pengetahuan sumber daya manusia.

img_0124
Jenis batuan granit berdasarkan kekerasannya.

“Kuma San, who is inspiring your work, your design approach.” Saya bertanya. ia melanjutkan “arsitek favorit saya adalah karya arsitek Antonin Raymond, arsitek dari Ceko, dahulu pernah magang ketika wright mendesain dan mesupervisi desain Meiji Mura dan School of Holy Spirit. Antonin memulai penggunaan beton cetak jauh sebelum arsitek jepang mengelaborasi struktur beton dalam karya – karyanya. Salah satu Muridnya adalah Kunio Maekawa yang merupakan guru dari Kenzo Tange.” Kengo Kuma memiliki satu garis yang berbeda dengan beberapa arsitek yang sedang diangkat di pameran moma, sebuah galeri kelas dunia dimana bangunannya didesain oleh Yoshio Taniguchi berjudul Japanese Constelattion yang dikuratori oleh Pedro Gadanho dan Phoebe Springstubb dimana mengangkat Toyo Ito, SANAA, dan generasi setelahnya yang memberikan pemahaman rasionalis yang kental, membuat sesuatu yang baru, arsitektur menjadi semakin abstrak, semakin ringan, semakin sederhana, semakin murni, semakin alami. Pikiran ini melayang satu saat di Meiji Mura, pada saat summer workshop di nagoya. Meiji Mura didesain dengan detail pola geometris dengan perulangan pola dalam pengolahan 5 jenis material yang berbeda, kombinasi tembaga, bata, beton, besi, dan kayu. Pendekatan romantis terlihat nyata dengan percampuran bata yang melakukan ciri khas Wright.

Siangnya kami berkunjung ke satu rumah di perkampungan tradisional membalong selatan, membahas mengenai organisasi layout, budaya orang tinggal di desa, juga material – material pembentuk arsitekturnya. Pertanyaan yang dilontarkan dalam diskusi oleh Kengo Kuma dan timnya adalah bagaimana satu bangunan ini ditinggali. Intinya adalah mengumpulkan artefak dalam proses perencanaan dan tenggelam didalamnya, ia percaya bahwa proses yang sudah terajut, yang baik perlu dipertahankan, sebuah pendekatan empiris dalam berkarya. Proses desain yang maju mundur, menimbang – nimbang apa yang baik dan tidak ini yang membedakan konstelasi empiris dengan arsitek rasionalis diatas. Ada setidaknya 10 buah spesimen kayu dengan beberapa karakter lokalnya yang kita diskusikan, beberapa teknik membuat urat kayu, dan berdiskusi tentang bata tumpuk, material pembentuknya dan bagaimana pengaruh air di kulit bangunan.

Proses ini tumpang tindih, saling bertumpuk, untuk dibuat sintesa desainnya, hal ini memiliki lapisan – lapisan yang tidak mudah untuk diurai, tentunya tidak semudah mengurai diagram Bjarke Ingels, ataupun diagram Junya Ishingami yang singular, homogen, total dalam mendesain. Sebagai seorang manusia, Kengo Kuma bernafas, mendengarkan, merasakan, setidaknya dengan cara itulah ia berkarya dimana baru hanya kulitnya pasti yang diri ini temui, dan saya yakin dalamnya akan lebih indah dari lubang – lubang kecilnya yang mulai dibuka.

“Ko, kita pasti bisa ko.” Albert berulang – ulang berkata, diri ini tersenyum, dan bersyukur, dengan begitu giatnya dia, semesta akan tersenyum, dan Kengo Kuma mungkin saja tersenyum akan kegigihannya, dan kita akan bertemu di ujung jalan yang penuh kenangan.

foto bersama di depan rumah tradisional penduduk
foto bersama di depan rumah tradisional penduduk
Kategori
blog inspiring people

Ahmad Rida Soemardi – Sincere Leaner and Teacher

“Learn from me, for as I teach, I learn from you as well! Always be accountable to yourself and take complete responsibility for your own life. No one can do as much for you, as you can do for yourself…”
― James A. Murphy

Beliau datang di sidang ke 3 di masa – masa tugas akhir hampir 10 tahun yang lalu , di pertengahan jalan proses di tugas akhir, di tengah perjalanannya untuk menempuh PHD di Australia, ia pulang. Kita sendiri ada ber 4 dengan teman – teman satu kelompok yang lain, ada Nisa, Gamma, dan Herman dengan Pembimbing pribadi diri ini adalah pak Baskoro Tedjo. Pada waktu itu hari – hari  asistensi dengan beliau diisi dengan mencoba memecahkan kesulitan yang ada di bangunan lengkung yang bertabrakan dengan axis yang tegas. Kemudian beliau berkata, “saya tahu kamu pasti bisa, coba kamu lihat Christian De Pontzamparc.” Baru juga tahu ada arsitek yang bernama demikian, dan lebih merasa bersemangat karena beliau antusias dan yakin akan apa yang sedang dcari. Inilah satu titik awal, dimana kepercayaan diri itu mulai ada dalam perancangan tugas akhir.

Beliau pun ada ketika pada akhir sidang, semua sudah selesai, beliau menanyakan bagaimana perasaan setelah melewati sidang ini didepan penguji – penguji yang lain. Pada akhirnya beliau berdiri dan bertepuk tangan. Tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan momentum seperti itu. Beliau pun ada ketika hari demi hari berdiskusi sebagai tempat untuk pulang. Beliau ada disitu. Begitupun ketika berpapasan, bersalaman bercanda gurau menjadi satu kebiasaan, ia selalu berkata, “I know you will do the best.”

Beliau juga ada pada saat diri ini meneruskan S2 di Australia, pak Tata meneruskan S3 dan diri ini  dengan S2. Ada juga saat – saat yang berkesan dimana kita diminta mbak Ade Tinamei untuk membuat video untuk ultah PSUD juga untuk pak Danisworo, berkeliling ke satu jurusan mencari Prof Jon Lang, Alex Tzanes, ataupun staff – staff yang lain untuk membuat jaringan baru.

Pada waktu itu, terkaget bukan kepalang diberi tahu satu adik di kantor bahwa, Pak Tata meninggal. Kesedihan pun datang. Beliau yang selalu ada untuk tempat pulang. Pak Tata sendiri ada pada waktu S2 di Sydney, sekitar seminggu satu kali biasa kami makan siang sambil ngobrol apapun, akademis ataupun pengalaman konyol sehari – hari. Dari situ beliau menempatkan dirinya sebagai satu pribadi yang penuh kehangatan. Pak Tata adalah satu pribadi yang suka untuk mendengarkan sekitarnya, sehingga terkadang- kadang ia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri.

Kali ini Diri ini kembali tidak bisa hadir pada acara Tribute to Ahmad Rida Soemardi pada saat Artepolis kemarin karena ada hal yang benar – benar mendesak di Jakarta. Kali lain pun  tidak bisa menepati janji untuk bertemu dengan pak Tata dan berterima kasih untuk segala ilmu yang diberikannya, apalagi teladan sikap yang ditunjukkannya dengan tanpa kompromi. Tulisan ini dibuat untuk bisa berterima kasih terhadap pak Tata, ada usahanya dalam memberikan kebaikan terhadap orang lain, dan membuat terpacu untuk meneruskan yang baik yang sudah beliau rintis. Untuk meneruskan perjuangan pak Tata akan ketulusannya untuk mendidik dan berbuat tanpa pamrih. Pribadi ini adalah satu pribadi yang langka, seorang guru yang seutuhnya yang dicintai.

Tidak banyak orang yang bisa meledakkan semangat seseorang dalam berkarya, seperti seorang guru kepada muridnya, ia tidak berharap banyak, ia hanya berharap yang diajarkannya bisa diamalkan yang kalau – kalau memungkinkan untuk terbang tinggi dan beruntung bisa mendapatkan seorang guru seperti beliau. Terima kasih Pak Tata, tulisan ini hanya ingin membuat orang mengenal , dan meneruskan pengajaran Pak Tata, sama seperti apa yang akan coba teruskan apa yang sudah diajarkan.

There comes a point in your life when you realize who really matters, who never did, and who always will.
– Unknown

terima kasih juga untuk panitia Artepolis yang sudah berkerja sangat keras untuk meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Pak Tata. Pak Aswin Indraprastha, Bu Indah Widiastuti, Indra, Reina, dkk [maaf tidak bisa menyebutkan satu persatu]

ini foto dari Dania Pratiwi, Alma keponakan Pak Tata dalam acara Tribute to Pak Tata

Screen Shot 2014-08-19 at 4.01.04 PM
Kategori
blog inspiring people

Seniman Sunaryo, Matahari dari Priangan

IMG_20140109_210401

Langit, langit, dirimu begitu biru, satu saat dirimu begitu mendung, apa pesanmu, kucoba menangkap

satu orang berbisik, dunia tidak sama lagi

Bumi, bumi, dirimu begitu hangat, satu saat dirimu begitu dingin, apa pesanmu, kucoba menangkap

satu orang berbisik, dunia tidak sama lagi

Satu saat kutangkap pesan langitan, dan pesan tanah ini, katanya jaman sudah berubah

tidak seperti dulu ketika satu dekade lalu begitu hangat di bumi priangan

teman seperjalananku dalam menatap langit dan menapak bumi berkata, 

mungkin ini pesan langitan, arahan bumi, mengenai birunya langit, dan hangatnya tanah

Ketika jaman silih berganti, ketika sang gunadharma menua, muncul pertanyaannya

apa yang bisa dipertahankan, apa yang kemudian berubah, manifesto fisik apa yang bisa diperbuat untuk mempertahankannya

usia tidak akan pernah sama, masa lalu, detik, menit, jam hari, bulan, tahun, berangsur dengan satu jentik jari antara masa lalu dan masa kini. 

Manusia punya umur, kalau ia beruntung bisalah ia mendapatkan 100 tahun, 

Langitan oh langitan apa pesanmu terhadap daging, otot yang membalut tulang yang digerakkan oleh akal dan hati.

namun 

Langit diam, bumi pun juga diam.

Satu Orang berbisik, akan tiba waktu, untuk menggerakkan kembali otot, daging, tulang,

seperti jaman dahulu, ketika jaman masih sama, ketika gunadharma belum menua

kenangan demi kenangan antara masa lalu, dan masa depan, bergerak berputar

orang yang berbisik tidak hanya satu, mereka beramai – ramai

ramai – ramai yang meributkan dunia tidak sama,

diri ini menengadah ke langit, dan duduk merasakan bumi, 

Namun langit masih diam, bumi pun diam

langit masih saja mendung, bumi pun masih dingin 

Kemudian satu waktu sosok itu muncul, 

 

satu anomali dalam dunia, 

dalam keriputnya ia membalas paradoks antara tangan dan akal, antara masa lalu dan masa depan,

antara solid dan void, antara dinamis dan statis

keabadian, warisan menjadi tujuannya untuk berbagi dengan tangannya yang sudah tidak sekuat dulu, 

boleh jadi dalam balutan daging otot tulang ia lelah, namun cobalah lihat matanya, saya tidak berani

Satu saat saya berkesempatan melihat hatinya, mencoba menebak – nebak apa mau orang tua ini,

tak dinyana 

ternyata hari itu saya belajar mengenai kehidupan, dan apa pesan untuk hadir di dunia ini, 

bahwa totalitas menjadi manusia adalah mengabdi kepada alam semesta, alam dan masyarakat,

menjalani semuanya dengan harapan adanya secercah nilai yang bisa dibagikan kepada orang lain.

yaitu semangat, hati, ketulusan untuk berbuat dalam hidup yang singkat ini.

orang tua yang mengajarkan bahwa spirit itu yang akan ditebarkan

itu yang abadi yang bukan hanya menyentuh akal namun juga hati terdalam. 

Senin depan keadaan mungkin berubah dalam hidup ini, dengan inspirasi yang diterbitkannya,

biar saya saja yang menamakan orang tua ini matahari dari priangan.

satu saat, mendung berangsur – angsur hilang, langit itu kembali biru,

diri ini jongkok meraba tanah, bumi kembali hangat.

“selamat datang”, kata orang tua itu.

terima kasih,

Orang tua itu, Seniman Sunaryo

Bandung,  31 May 2014, Realrich

Kategori
blog inspiring people

Jon Lang, Greatest Professor in Urban Design

I met this man few months ago when I just started MUDD course in University of New South Wales Sydney. it was memorable moment. He gave us quiz and I couldn’t answer any of them. Then I laughed over loud to this old man. and he said, I don’t like people laughing at me and then he smile and said, “but I like people who try to answer the question.” Every time I laughed and this man got even angrier at me, but at the end he is always smiling.

what he taught is about how to create place for the people with his extensive knowledge of ways of thinking for not getting lost in your thinking. You have to know where your mind set  is in extensive information about urban design theories, city growth, and issues of concern that is coloring  everyday life.”You must know what you are doing” that’s what he said. Many student felt he is grumpy professor but everybody knows he is such a lovely man. He is still the admirable professor that every student will respect him.

In his world, there is no me, “never say I design. say the design proposed, because when we’re designing we are making proposal for people which based on several scenarios” he says. This view which I think is nonsense before joining MUDD because architecture plays with originality of idea which has genius loci on its context. But in several way empiricist thinking has a rational that is true to achieve certain quality of affordance.

He put the way to bring originality in rationalism and the way to look at the past in empiricism. And he is an empiricist which this world I haven’t experienced before. I learnt to deepen the strategy which is original and brings it into a way that people could understand. Like Mies van de Rohe says, “less is more”. make it simple and beautiful but like what Robert Venturi says, “less is bore”. Rational and empiricist are the two way of looking paradigm. which like we have to know which one good  is and we ought to know which one the bad is. this two way is like a contradictions like how people seeing things. He taught us about the contents of lot of beautiful cities in the world aesthetically, which part of the world is failed and which one succeeded, what the good city is. he taught us a method on looking the way around us with theoretical framework.

In his view, he has pure objective on assessing works based on each criteria. He has deep knowledge about urban design in American experience and case studies around the world. his works includes :

Urban Design: A typology of Procedures and Products. Illustrated with over 50 Case Studies, Creating Architectural Theory: The Role of the Behavioural Sciences in Environmental Design, American Experience, Designing for Human Behaviour: Architecture and the Behavioural Science , A Concise History of Modern Architecture in India, Designing for Human Behaviour.

I think today, when he retired from MUDD. I put a tribute to him, a great scholar. It wasn’t a big loss for MUDD, but Jon’s thinking will make new blossoms for his legacy. I am honoured to be taught by this person, a truly dedicative person. Thank you Jon Lang, salute!

Kategori
inspiring people

Mas Emil – Professional Professor

At the elevator in the architecture department ITB, I met one guy wearing a nice suit. His looks were quite different than ordinary people at ITB. He was pretty neat, professional, and corporate looked with vest and suit. I managed to meet this man several times. I heard from my friends, “that is the new lecturer from Hong Kong, his name is Emil. The one who won Kota Baru Parahyangan Competition.” I hear his name because, in the second year, my three friends and I entered that competition and found out that we could not finish it because the scale was too big. Yes, I remember it now. He was the man who was then the leader of that team. He won several competitions in a row, and I heard that he worked in Hong Kong and traveled back and forth from Bandung to Hongkong a few times a month.

He was super busy.

I had to work at several jobs because I need to increase my saving and experience. Looking back two years before, I performed in my first design studio, second studio but not in my third studio. I was too busy with the student organization. It was an organization that seldom for somebody to be active. The organization is like a dark cave where swallowed people inside. It was filthy, filled with many seniors and not many young ones. So when I try to be active and fix that, it swallowed my time, my training to be a good student who performed in the third year. The result was, I was the only person that was failed that year. I cried, and my hope shattered. At that time, I was in Cigadung 24,

It was a small boarding house that I stayed. Asep came to me, and he heard that I failed in the design studio. We sat down and talked.

He said, “Realrich, failing is common. I know many successful people. There has been a failure in their life. But the key is they can recover and fight back. And, that is a big guy with a big heart.”

After hearing that from Asep, I feel that I need to learn architecture again. Luckily, people know me well because I like to help people, able to use rendering, drafting software. People like to work with me. So many people wanted to help me, train me, and open doors to learning so I can recover. I was busier than before, bus on fighting and recovering my learning curve. I worked studied in a multimedia lab, many design studios, working for competitions. I feel rebirth and glad that my third studio failed.

In my fourth year, I met mas, Emil. Because I failed in the third studio, I had to take a short semester course, and at that time, there were only. Two people in his team. Me and lady. Lady was my close friend. She. and her boyfriend were my closest ones in the student organization.

I remember mas Emil encouraged us with his story about his contemporary viewing architecture. Hi showed. Many buildings have a simple, spiritual form, integrate with materials, graphics. He introduced building designer by Herzog de Meuron, Rafel Moneo, Rem. Koolhas and many European masters.

He pushed us by raising the bars and telling us that “the world is advancing, they have their story, and where is your story ?” he teaches us to make. Simple transformation diagram using metaphors. He pushed with encouragement. I was very fortunate to have him teach me. He was one of the jewels in the architecture department in ITB. I remember I pushed the limit by making big models of the design. The model was so big that I had to Borrow My friend’s car.

In the final presentation, He complimented my work, congratulates me, and I feel great.

At that time, that. It was after the presentation. And Lady sat at floating stair in front of library and studio. Lady told me, “Realrich, I know you. You pushed the limit very far. I am happy. for you, I hope you can be an architect that can reach your dream.” I learn that to Improve, and I need encouragement. Mas Emil did that, Lady did that, Asep did that. I was fortunate to meet persons like them. Man can’t live alone. To transform, they need somebody to pull the triggers, and for me, encouragement is so damn important. It’s time for me to be grateful. That was in the fourth year. After that, I had to take my professional class, worked as an internship in a real studio. I was asleep for more than 10 hours after the jury with mas Emil.

Urbane Time

At that time I was working in mas Emil’s office. I look up to him. Now he is the governor of West Java. He was the one who sparked my curiosity about architecture by enlightenment. I remember meeting him in my 4th year. He was the one who challenges me and appreciated my progress. He complimented the hard work and our recommendation based on his view on precedents. At that time, European and American architecture shows monolithic and banal platonic forms based on layered solid stories. That was the view brought by him—a story of form-making that Texas Ranger started and influenced him through his experience in SOM and HOK. Mas Emil also has a unique background. He is an urban designer, architect, and also activist. His office, Urbane in Sumur Bandung 20, has been memorable, and I remember the office with system and brotherhood. The system is on a partnership basis, associate, and junior designer. The organization is simple and changing over time.

Thank you mas Emil for the formative year of my learning curve by your encouragement.

Kategori
inspiring people

Baskoro Tedjo – Meaning Giver

I met Baskoro Tedjo, one of the initiators of Arsitek Muda Indonesia. His work in Selasar Sunaryo was one that is a substantial body of work. He taught me to use simple planar/mass to define space, bring solid void to the area. He has sensitive personalization on things he admires. And from now on, I can assure myself to personalize architecture, and there are parameters such as mass, planar shapes, void, light, and simplicity. It’s another way of mind. Meeting with both two inspiring people is a memorable time. He is a lecturer, architect, and singer. I look at him, and sometimes I wonder where he got the inspiration. I learn that he has a heart like a child; his view is full of curiosity. And I feel great assisting him in projects. Indah Widiastuti introduced the term phronesis Omah Library session. Phronesis is a term of doing, as An architect’s way is to compose form—Baskoro Tedjo in Indah’s perception representing this mode of philosophy.

His look was excellent when I was a student. We collaborated in many music venues, he was the singer, and I was the pianist. His voice is like Barry Manilow. He was a social guy. Sometimes he would be in a stage like sabuga stage (if you can imagine the

Scale, Sabuga can hold 3000 people per show.” Looking at him sing kroncong, Jazz, Pop, showing that music and architecture could have relations.

He was my mentor when I did my final project titled Tisna Sanjaya art gallery. I did many iterations in plans and composition to show the possibility based on voids, linear circulation, programs, and the last is the story. What is the story? The question that I remember that he mentioned in the discussions was, “where is the climax point for the visitor. What do they see ?” Three weeks before the submission, I prepared the schematic, principal section, and illustration to tell the story.

.

I came to visit his project Selasar Sunaryo, a gallery that Sunaryo owned. Baskoro Tedjo designed that project, and it inspired me that the axis could be meaningful. The beginning is the tradition, half of Julang Ngapak as exhibition space. Open spaces broke the massing, and the bridge linked the corridors. I got the feeling that the project is played form by intuitive and technical. It has a poetic quality. Baskoro Tedjo, the architect, and Selasar Sunaryo, the building are inspiring.

I was his assistant when I was a student. We worked for a house for the competition, the cultural center at Kota Baru Parahyangan. One afternoon, he asked me when we had lunch at his home, “Hey, Realrich, is there something you like ?” Then I told him

About the experience of me passing informal

Bookseller at art school. I passed that bookseller several times because there was one book that I like. I stop and open the book several times when I passed the seller.”

After lunch and I went home, and the day after, he texted me and met me in the architecture gallery ITB, and he passed an envelope of money. He said, “it’s for you. You can buy it now and learn from the book.”

I kept that book until now, and it’s the first architectural book that I bought because I love to. That sparks of giving becoming inspirations.