29 April 2008 “Di dalam satu cerita, satu paragraph, satu skenario. Semua menunjukkan satu keterkaitan dalam ritme yang berbeda ”

img_0954_resize

Ada kalanya terdapat beberapa kata dan ada kalanya juga terdapat beberapa titik, beberapa perhentian, beberapa jeda dan beberapa koma.. Semua terbagi menjadi 3 bagian. Saat kata itu ada, saat jeda itu ada dan saat titik itu ada.  Saat titik itu ada menandakan kita akan berhenti untuk kemudian ada jeda dan memulai kembali dengan kata yang baru.

Ada kalanya waktu mengajarkan kita kesabaran dan ketidakpastian. Seperti proses penulisan kata – kata yang terlihat sederhana dan dan diulang – ulang. Lihatlah Pandai besi yang menempa besi. Dari mata orang biasa, ia sedang mengulangi kegiatan yang sama. Palu menempa, tetapi orang yang mengerti tahu setiap pandai besi mengangkat palunya, dan menempa besi itu. Intensitas dari tempaaannya berbeda. Tangan mengulangi gerakan yang sama, ketika tangan itu menempa mendekati. Ia akan mengerti bahwa ia mengerti untuk menekan dengan kurang atau lebih tekanan. Itu sama dengan repetisi. Itu terlihat sama namun berbeda. Suatu ketika saat itu akan tiba ketika kamu tidak lagi berpikir tentang apa yang kamu lakukan. Kamu menjadi kertas, kamu menjadi tinta , kamu menjadi kata – kata. “. Setiap orang dari kita memiliki jalan yang berbeda – beda, pribadi kita dan keahlian kita masing – masing. Ya sebenarnya kita sedang menempa diri dengan lingkungan dan keadaan yang membatasi kita.. kita sedang belajar menjadi seorang pandai besi. Yang melakukan kegiatan repetisi dan terus menerus. Terlihat sama setiap hari, terkadan dari luar begitu membosankan, begitu tidak menarik, ..namun saat kita bisa menjadi kertas dan tinta itulah saat kita memiliki kebanggaan sepenuhnya..

Ada satu cerita tentang Seorang teman terbaik dari Negara Amerika. Ia bercerita dimana dia sekarang memiliki kondisi yang berbeda, ia seakan – akan tidak mempunyai apa – apa untuk diperjuangkan. Ia berkerja dalam satu tim yang merupakan project terbesar yang pernah ditangani di kantor. Ia terus menerus melakukan repetisi yang sama karena fase desain yang sudah relatif selesai dan ia hanya perlu menggambar dan memproduksi gambar. Karena itu ia ingin sekali bisa kembali mendesain konsep – konsep seperti sewaktu dahulu di kampus.. dan kembali menikmati masa – masa kuliah yang penuh dengan ide – ide. Kemudian kita pun bercerita mengenai bagaimana masa – masa kuliah dulu. Hal yang menarik terjadi ketika kita berbicara mengenai ambisi dan mimpi. Ambisi itu berbeda dengan mimpi. Ambisi adalah nafsu dan keinginan kita, ketika kita berbicara mengenai ambisi, mata kita akan liar, dan nafas kita akan tersengal – sengal… namun ketika kita bercerita mengenai mimpi, saat – saat itu akan teduh, dan cerita itu tidak akan ada habisnya..dua hal hampir sama namun jelas berbeda. Aku percaya bahwa kita harus mengejar dan mewujudkan mimpi kita. apapun yang sedang dan akan terjadi, itu berarti kuyakin selalu bahwa kita harus mencintai apa yang kita kerjakan dan perbuat.

Semua ini kembali berulang, ada kerinduan untuk kembali ke masa – masa penuh pencobaan, dimana semua masih terasa tidak pasti. Masa – masa 3 bulan pertama di tahun pertama, kedua dan ketiga. Ku tahu, sekali kumelepaskan semua yang ada disini, aku akan kembali lagi berada didalam suasana yang baru. Pertanyaaannya adalah apakah masa yang sekarang itu sudah cukup….  “waktu itu berbicara dalam berbagai macam dimensi, waktu berbicara dalam dimensi detik menit jam dan hari – hari yang akan atau telah lewat “ namun pengalaman untuk belajar itu akankembali dalam kemauan dirimu itu sendiri untuk belajar, bahkan jika perlu waktu itu akan tunduk kedalam kekuatan keinginan. Mungkin waktu 1 bulan, 3 bulan ,6 bulan 1 tahun akan tidak cukup, namun bisa juga itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada yang pernah mengerti akan kekuatan keinginan. Jangan pernah menghitung dan membatasi dirimu sendiri. Saat hati kita sudah bekerja, apa yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Saat ini kerinduan yang amat sangat untuk bisa kembali meneruskan studi di tempat – tempat terbaik sudah begitu terlihat…

kata kebanggaan mulai sirna dan kata ketiadaan akan mulai menghampiri… sekali jalan sudah terbuka, dan kaki mulai melangkah maka tidak ada kata kembali…

Mengenai Jejak – jejak langkah Kita selalu menemukan jejak – jejak langkah orang lain dalam hidup ini. Jejak langkah orang tua, kakak, orang – orang panutan. Jejak – jejak itulah yang akan membimbing kita, seperti menemukan beberapa panutan untuk membantu mengarahkan kita ke arah yang baik. Jejak langkah itu ada yang besar , ada yang terlihat jelas, ada juga yang terlihat samar – samar. Alih – alih dari jejak langkah yang sudah dijelaskan… Jari jemari ini mulai bergerak. Tidak tertahankan untuk menulis beberapa paragraph mengenai cinta. Cinta itu sebuah misteri. Misteri itu datang dari pribadi wanita. Wanita menjaga misteri dan membukanya dan mengajarkan mengenai arti bagaimana berbuat dalam hidup.. Satu dan lain hal kita merasa tak pernah sempurna tanpanya. aku belajar mengenai tulusnya menghargai, aku belajar mengenai tulusnya arti memaafkan. aku belajar mengenai arti ada dan tiada. juga aku belajar mengenai arti simpati mengenai orang lain. aku belajar mengenai tulusnya berbuat. Satu demi satu aku baru mulai mengerti, satu dan lain hal mengenai wanita. Di antara perbedaan 6 jam yang sungguh sulit untuk dijalani, aku percaya wanitalah yang akan memahat pribadi kita, watak untuk menjadi lebih baik.. Dimanapun diri ini melangkah kupercaya jejak langkahnya selalu ada dalam doa dan cita. Dan jawaban akan pertanyaan diatas adalah ….Seringkali diri ini bertanya sampai kapan kita harus mengikuti jejak langkah yang ada di dunia ini. Apakah ada saatnya kita membuat jejak langkah sendiri bagi orang lain ? Untuk menjadi diri sendiri ? Wanita terbaikku berbicara “kamu harus bisa menjadi diri sendiri, karena kamu adalah kamu dan bukan orang lain, kita hanya ada satu, hidup ini hanya satu kali. Jalanilah sepenuh hati.” Aku selalu bersyukur bisa mempunyai orang yang mendukung setiap langkah yang direncanakan dengan tulus.

Hidup memang tidak pernah tergesa – gesa, Namun
sekarang saatnya aku ini berlari dengan kencang …

2 thoughts on “Cerita di tahun ketiga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s