Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog struggles tulisan-wacana

Pondasi yang Tidak Minta Dilihat

Ada satu meja di rumah Tanah Abang, Petamburan. Meja itu lebar, jauh lebih lebar dari meja kerja biasa, dan di siang hari ia menjadi milik ayah kami dan rekan-rekannya. Mereka duduk mengelilinginya, menghitung anggaran, membuka gulungan gambar, memeriksa dalam satu ruangan yang sama, bersama-sama.

Lalu malam datang, ruangan itu sepi, dan meja yang sama menjadi milik saya. Setiap orang punya memorinya yang manis, mejanya, kursinya yang diberikan oleh ayah kami sebagai ruang “belajar.”

Dia tidak pernah berkomentar, namun saya yakin, ia mengamati dari jauh. Di atas permukaan yang siang tadi dipakai menghitung kekuatan bangunan, malam hari saya menggambar. Satu meja, dua giliran, dua bahasa: angka di siang hari, garis di malam hari.

Tahun 1998 usaha ayah kami tutup. Krisis melanda, dan banyak yang tidak bertahan. Tetapi yang ingin saya ceritakan bukan tutupnya usaha itu, melainkan apa yang tidak tutup: kehadirannya.

Dua tahun kemudian saya diterima di ITB lewat UMPTN, jalur yang biayanya masih terjangkau, di tengah keluarga yang baru saja kehilangan sandarannya. Di tahun-tahun awal itu saya jatuh sakit, mata menguning, stamina drop, karena memforsir diri, dan ayah kami ada di sana, tidur di lantai rumah sakit supaya kami bisa dekat. Usahanya boleh runtuh, tetapi ia sendiri tidak. Ia tetap hadir, seolah kehadiran adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diambil oleh krisis mana pun.

Saya ingin bercerita tentang apa yang ayah kami kerjakan, karena hampir seluruhnya adalah pekerjaan yang tidak terlihat. Ia seorang insinyur yang ahli menghitung, dan keahliannya justru mengubur dirinya sendiri di tempat-tempat yang tak pernah dilihat orang. Kata yang teringat adalah “kembali ke dasar”, “jaga”, ada respek, sebuah kode pelayanan dan titik fokus. Saya ingat satu cerita yang beliau ulang – ulang,

Ada sebuah restoran bernama Pizzaria di tepi danau di kompleks sebuah hotel besar; orang datang ke sana makan, menikmati pemandangan air, tanpa pernah tahu bahwa yang menahan bangunan itu dari dalam tanah dan air adalah tiang-tiang pancang yang pernah ayah saya rekayasa, beton dibelah 4, diangkut tangan, ditumbuk beramai2 dengan beberapa tukang bertumpuk, bagus, efisien, taktis, standar. Itulah bentuk pekerjaannya: menahan sesuatu dari bawah, dari tempat yang tidak akan pernah difoto siapa pun.

Ayah saya masuk ke dunia para insinyur dan arsitek besar bukan lewat pintu depan yang megah, melainkan lewat warisan lingkaran. Kakek sayalah yang lebih dulu berada di dunia itu, sebagai pembangun, ia pernah mengerjakan proyek yang arsiteknya Han Awal dan manajemen konstruksinya Teddy Boen. Tiga peran di satu proyek: yang merancang, yang membangun, dan yang mengawasi. Dari lingkaran kakek itulah ayah saya kemudian dikenalkan dan ditempa, terutama oleh Teddy Boen.

Yang saya ingat dari cerita ayah tentang Teddy Boen , seorang professor gempa, ahli rumah tahan gempa, adalah bukan pujiannya, melainkan cara ia memuji: dengan menantang, dengan memberi pekerjaan yang sulit, dengan meminta ayah saya terus fokus. Pujian yang berupa kepercayaan, bukan kata-kata manis tapi dukungan. Mungkin dari situ ayah saya belajar bahwa cara terbaik menyayangi seseorang bukan dengan memuji, melainkan dengan hadir dan memberi tanggung jawab.

Bertahun kemudian saya memilih jalan saya sendiri, menjadi arsitek, dan magang di “Atelier 6 Arsitek”, biro yang didirikan Adhi Moersid dan kawan-kawan, saya bertemu pak Panogu, bu Tresnowati, pak Hartono, pak Fauzan, mas Boy. Waktu itu saya belum sadar bahwa saya sedang berjalan di dunia yang sama yang dulu pernah bersinggungan dengan ayah dan kakek saya, hanya satu generasi lebih jauh. Pada tahun 2016 saya duduk satu diskusi dengan Pak Adhi, dalam sebuah acara tentang mendirikan biro.

Sore itu beliau sangat hangat, dan ia menuturkan sesuatu yang tinggal di kepala saya sampai sekarang: bahwa “mendirikan biro itu seperti membangun persahabatan dengan kawan-kawan.”

Saya terdiam mendengarnya. Karena di rumah, tanpa pernah mendengar kalimat seindah itu, ayah saya sedang menjalankannya diam-diam untuk biro saya sendiri.Studio pertama saya lahir di sebuah garasi pada tahun 2010, ketika saya baru pulang dan memulai dari hampir tidak ada apa-apa.

Dan di sinilah kehadiran ayah saya menemukan bentuknya yang paling menyentuh.
“Setiap pagi, pukul lima, pukul enam, sebelum siapa pun bangun, ia datang ke garasi itu. Ia membereskan, merapikan kertas-kertas, mengamati bagaimana studio kecil kami bekerja. Ia melakukannya selama bertahun-tahun, sampai The Guild kami berdiri.”
Dan yang membuat saya terharu, dan tertegun sampai hari in, ia tidak pernah membicarakannya. Saya tahu hal ini dari teman-temannya, dan dari istri saya.

Ayah hadir di jam ketika kehadiran tak mungkin dilihat, mengerjakan hal-hal yang tak mungkin dibanggakan, dan pulang sebelum sempat dilihat. Bahkan dukungannya pun ia sembunyikan.

Ada satu hal lagi yang ayah kerjakan diam-diam di masa itu, dan ini yang paling penting bagi saya. Ketika usahanya tutup pada 1998, para tukang yang dulu bekerja dengannya berpencar, mencari sesuap nasi masing-masing, sebagaimana memang seharusnya.

Tetapi ketika kami memulai studio, ayah kamilah yang memanggil kembali beberapa dari mereka untuk membantu saya. Salah satunya orang kepercayaannya. Dan bersama mereka datang seorang tukang yang kemudian bekerja bersama saya bertahun-tahun, sampai beliau wafat. Kini anak beliau meneruskan bekerja bersama kami, melanjutkan apa yang ayahnya mulai.

Maka yang sesungguhnya diwariskan di keluarga kami bukanlah kemilau nama-nama besar yang pernah hadir, melainkan tangan-tangan, rangkaian peristiwa ini: para manusia yang rindu, juga setia, yang garisnya sempat terputus oleh krisis, lalu disambungkan kembali oleh ayah, dan kini diteruskan oleh generasi mereka sendiri. Saya selalu mengira bahwa memuliakan ini adalah pilihan yang kami buat sebagai arsitek. Belakangan saya sadar itu bukan pilihan kami, itu warisan yang diteruskan kepada kami.

Bahkan di bangunan karya kami yang paling banyak difoto orang pun, ayah saya ada di tempat yang tidak terlihat. Di bawah Guha, gua bambu kami, ada ruang bawah tanah sedalam enam setengah meter. Teknik menahannya, mengecor sambil menggali memutar, lalu meneruskan penggalian membentuk semacam rakit raksasa, datang dari ayah kami, sebuah cara yang ia berikan, yang dimengerti dan dijalankan oleh mandor di lapangan, lalu divalidasi oleh insinyur struktur.

Tiga tangan pada satu pengetahuan; yang memberi, yang mengerjakan, dan yang mengesahkan. Orang datang memotret lengkung bambu di atasnya, keindahan yang terlihat. Tidak ada yang memotret fondasinya. Tidak ada yang pernah memotret hal-hal yang ayah saya kerjakan seumur hidupnya. Dan saya kira ia tidak pernah keberatan.
Belakangan, kehadiran itu perlahan tidak lagi saya butuhkan. Bukan karena ia pergi, melainkan karena ia berhasil.

Studio berdiri, tim tumbuh, dan tibalah hari ketika setiap orang, tim biasa ditinggal, bisa berjalan tanpa perlu ada yang menemani di pagi buta. Dan bukankah memang itu tugas sebuah fondasi? Ia menahan dengan sekuat-kuatnya justru supaya suatu hari bangunan di atasnya bisa berdiri seolah tak membutuhkannya lagi. Fondasi yang baik tidak pernah minta dilihat. Ia hanya ingin tahu bahwa yang ia topang sudah cukup kuat untuk ditinggal.

Meja lebar itu, sekarang saya mengerti.

Ia bukan hanya tempat menghitung dan menggambar, melainkan tempat dua generasi duduk di permukaan yang sama pada jam yang berbeda, dan seorang ayah yang, siang dan malam, dengan angka maupun dengan diam, tidak pernah benar-benar meninggalkan mejanya sampai ia yakin anaknya bisa ditinggal.

Setiap orang punya ayah, Semoga kita juga bisa menjadi ayah yang baik untuk anak – anak kita semua dan untuk para ayah kami haturkan rasa terima kasih, syukur sudah memandu sejauh ini, meskipun di alam surga.

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar