Apakah seorang dewasa bisa hidup tanpa melakukan kesalahan? Saya sudah cukup lama hidup untuk tahu jawabannya: tidak bisa. Dan sejujurnya, saya sudah berhenti berharap bisa.
Saya bekerja dengan bangunan, dan bangunan mengajari saya sesuatu tentang ini. Minggu lalu, di sebuah acara, pertanyaan yang paling banyak muncul justru yang paling membumi: bagaimana mengantisipasi dinding yang retak. Dan jawaban jujurnya: dinding memang bisa retak.
Bangunan yang sehat bukanlah bangunan yang tidak pernah retak, melainkan bangunan yang diperiksa dan dirawat, seperti orang yang rajin medical check-up. Retak yang ditemukan lebih awal adalah retak yang bisa dirawat. Retak yang disembunyikan adalah retak yang diam-diam melebar.
Saya kira manusia dewasa bekerja dengan cara yang sama. Di belakang saya ada gambar-gambar yang harus diulang, keputusan yang saya sesali, kata-kata yang terlanjur keluar dan melukai orang yang tidak seharusnya terluka.
Ada masa-masa jatuh yang tidak saya ceritakan di panggung mana pun. Semua itu meninggalkan bekas, dan bekas itu tidak hilang. Yang berubah, seiring umur, bukan bekasnya, melainkan cara saya memandangnya.
Karena bekas luka ternyata bisa dibaca dengan dua cara. Ada mata yang membacanya sebagai daftar kesalahan: bukti kau pernah keliru, pernah gagal, pernah tidak cukup.
Dan ada mata yang membacanya sebagai cerita: bukti kau pernah mencoba sesuatu yang sulit, pernah jatuh di jalan yang memang terjal, dan pernah memutuskan untuk berdiri lagi. Bekasnya sama persis. Yang berbeda hanyalah matanya.
Dan inilah yang perlahan saya pelajari: kita tidak selalu bisa memilih luka kita, tetapi kita bisa memilih di dekat mata siapa kita menaruh hidup kita.
Orang-orang yang membaca bekas lukamu sebagai daftar kesalahan akan membuatmu menyembunyikannya, dan luka yang disembunyikan, seperti retak di dinding, diam-diam melebar. Orang-orang yang membaca bekas lukamu sebagai cerita akan membuatmu berani memeriksanya, merawatnya, bahkan menceritakannya, dan di situlah ia berhenti menjadi aib dan mulai menjadi pelajaran.
Jadi kalau ditanya lagi, apakah orang dewasa bisa tanpa kesalahan, jawaban saya tetap: tidak bisa.
Tetapi orang dewasa bisa memilih untuk tidak sendirian dengan kesalahannya. Dan di mata yang tepat, bekas luka kita memang terbaca bukan sebagai kesalahan, melainkan sebagai cerita, tentang seseorang yang terus berjalan meskipun jalannya tidak pernah rata.
Image credit: https://picryl.com/media/werkzaamheden-aan-amsterdams-historisch-museum-voormalig-burgerweeshuis-bestanddeelnr-6f0a4b