Kategori
Team - Studio Culture

Farewell Clara Moulin, Alize Koclega, Lou-Anne Techeney

Some time ago, the studio had the opportunity to welcome three individuals who arrived with fresh energy, immense curiosity, and an endless eagerness to learn.

Clara Mouli from L’École Nationale Supérieure d’Architecture de La Réunion, Lou Anne Techeney and Alize Koclega from Toulouse School of Architecture joined us not only as interns, but also as friends who grew together through the same process. Their connection felt natural from the very beginning, supporting, and understanding one another while bringing an energy that quickly made the studio feel warm and alive.

From the start, they adapted remarkably well. From learning the rhythm of the studio, understanding new ways of working, to navigating the language and the small everyday habits around them, everything was embraced with enthusiasm and genuine curiosity. It did not take long for them to connect with everyone in the studio and become part of its daily dynamics.

What stood out the most was their openness toward new experiences. With a strong spirit of exploration, they continuously sought to understand things beyond what they had previously known, sharing stories, exchanging perspectives, and gradually dissolving the boundaries between “outsiders” and “insiders.” Through this, the learning process became more alive, meaningful, and deeply human.

Watching them grow, adapt, and build meaningful connections in such a short time became a joyful experience for all of us in the studio. Their presence brought warmth, liveliness, and a constant sense of curiosity into the space.

Thank you for every story, laughter, and spirit you brought into this space. We hope that all the experiences, lessons, and relationships formed during your time here will continue to become part of your journey ahead.

Until we meet again on another journey, your energy will always remain a part of this studio.

📸 & 🎥 by :
1 @chairunnisabels & @tyoadngrh
2,3 @chairunnisabels
4,5 @tyoadngrh


Kategori
RAW Books

Rumah Bosar: Karya Arsitektur Kayu Dayak Pesaguan

Yoris Mangenda & Sheila Nurfajrina | Monochrome | Bahasa Indonesia| 144 Page | Release Date June, 2026
ISBN (dalam pengajuan)

Synopsis

Rumah Bosar Mandiangin merupakan salah satu bentuk arsitektur Dayak Pesaguan yang tidak hanya hadir sebagai bangunan, tetapi sebagai pengetahuan yang hidup dan diwariskan lintas generasi. Selama lebih dari satu abad, bangunan ini mengalami perpindahan, pembongkaran, dan perakitan ulang, namun tetap mempertahankan sistem arsitektur serta praktik ketukangan yang menyertainya.

Buku ini mengajak pembaca memahami Rumah Bosar tidak hanya sebagai bentuk fisik, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Disusun berdasarkan wawancara, catatan lokal, dan dokumentasi lapangan, buku ini membahas sejarah, fungsi, bentuk dan tata ruang, hingga proses perakitan serta sistem konstruksi kayu yang membentuknya.

Melalui buku ini, Rumah Bosar dibaca sebagai ruang tempat bertemunya tradisi, keterampilan, dan pengetahuan yang terus hidup dalam masyarakat, sekaligus sebagai bagian dari kekayaan arsitektur Nusantara yang perlu dipahami dan dirawat.

Price: TBA

Kategori
blog

Rietveld Chair

Kategori
Team - Studio Culture

Edho Birthday

17 Maret menjadi salah satu hari yang spesial di studio kami—hari ketika kami merayakan perjalanan Edho bersama RAW.

Jika melihat perjalanan waktunya di RAW, tahun ini menjadi tahun ke-3 Edho tumbuh bersama kami. Ada hal yang membuatnya terasa berbeda—di setiap libur semester, Edho memilih untuk kembali ke RAW sebagai intern. Edho selalu memilih kembali ke studio untuk belajar, berproses, dan melanjutkan perjalanan yang sudah ia mulai. Sebuah konsistensi yang sederhana, namun menunjukkan keseriusan dan komitmennya dalam belajar.

Di tahun ini, perayaannya terasa berbeda. Ini menjadi tahun pertama Edho sebagai seorang designer di Studio RAW. Sebuah langkah yang menandai perubahan besar dari perjalanannya—dari intern hingga kini dipercaya untuk mengambil peran lebih, termasuk membimbing adik-adik intershipnya menjadi bukti dari proses yang ia jalani dengan konsisten.

Edho dikenal dengan karakternya yang tenang dan pendiam. Karakter ini melekat kuat, namun justru dari situlah muncul keunikan yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa dekat. Ada rasa penasaran, ada momen-momen kecil yang sering kali mengundang senyum, dan tak jarang kehadirannya membawa warna tersendiri lewat responnya yang sederhana namun berbeda.

Dalam pekerjaan, Edho menunjukkan ketekunan yang konsisten. Ia memiliki kecepatan dan resiliensi yang membuatnya dipercaya dalam berbagai proses. Di saat yang sama, ia juga terus berproses untuk membuka diri—belajar berkomunikasi, memahami peran, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh.

Perayaan ini mungkin sederhana, namun rasa syukur kami tidak pernah sederhana. Syukur atas perjalanan seseorang yang terus kembali untuk belajar, bertumbuh sedikit demi sedikit, dan memberi dampak baik dalam lingkungan kecil kami.

Selamat ulang tahun, Edho.
Semoga di usia yang ke-23 ini, Semoga langkahmu ke depan terus bertumbuh, semakin percaya diri dalam prosesmu, dan membawa banyak kebaikan—untuk dirimu dan lingkungan di sekitarmu. Semoga tahun ini membawa banyak kesempatan dan perjalanan baru yang bermakna..

Kategori
RAW Books

Therefore, I Am (Oleh Karena Itu, Aku Ada)

Karisya Ratu Putri Adjie | Monochrome | English & Bahasa Indonesia| 248 Page | Release Date May, 2026
ISBN (dalam pengajuan)

Synopsis

Therefore, I Am is a philosophical memoir that weaves together personal reflection, architectural thinking, and existential inquiry into a meditation on identity, time, and becoming.

Written originally at the age of nineteen and revisited a decade later, the book unfolds as a dialogue between two versions of the author: the idealistic young thinker searching for meaning and the older self shaped by experience, doubt, and growth. Through this temporal conversation, the work explores how identity is not fixed but continuously constructed through time, choices, and encounters with the world.

Structured in four parts: Seeds of Wonder, Integrity vs. Society, Masters and Mentors, and Looking Forward, the book traces the evolution of a creative mind navigating personal ambition, societal expectations, and intellectual influence. Drawing from philosophy, literature, architecture, and lived experience, the essays examine how cities, systems, and design quietly shape human existence and self-understanding.

More than a design book, Therefore, I Am proposes that design is not merely aesthetic production but an infrastructure for being — a framework through which individuals negotiate meaning, freedom, and responsibility within collective life.

Blending memoir, manifesto, and philosophical reflection, the book speaks to readers who feel lost, questioning, or in transition, offering companionship rather than instruction.

Ultimately, it is an invitation to embrace uncertainty, reclaim agency over time, and recognize that identity emerges not from certainty, but from the continuous act of becoming.

Price: IDR 120.000,-

Kategori
Team Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Nuri

Supervisor on Site

Merupakan engineering yang bergerak didalam pengawasan konstruksi dan gambar kerja yang berterkait dengan detailing (DOT Workshop)

Kategori
RAW Books

DNA of RAW DOT OMAH

Realrich Sjarief, RAW >O+ OMAH, Anas Hidayat, Indah Widiastuti, Johannes Adiyanto, Jolanda Atmadjaja | Monochrome | Bahasan Indonesia & English | 294 Page | Release Date December, 2025
ISBN 978-623-89171-3-6

Sinopsis

The process leading up to the DNA formation of RAW >O+ OMAH was like a game of blending various aspects of personal identity and skills as an architect, craftsmen, and librarian to reach a single point. This process involves an effort to balance the right and left sides of the brain. It includes long periods of practice and intense interaction with the team in the studio, workshop and library. The presence of Bare Minimalist as our first completed project marked the beginning of enriching this process, with the involvement of clients, architect, engineers, craftsmen and eventually librarian, further complementing the existing network of relationships. Formulating a genesis that underlies an established practice pattern is certainly not an easy task. This explains the lengthy time required to publish Bare Minimalist in the form of a book. The DNA of RAW >O+ OMAH could perhaps serve as a reference for newly-founded studios in formulating the design method which also acts as an initial prototype then further develop the design ecosytem, with the note that this reference needs to be refined to suit the most appropriate context for the reader.

Price: Rp 250.000,-

Kategori
RAW Books

Dancer House: Beton yang Menari

Anas Hidayat + Realrich Sjarief | Monochrome | Bahasa
229 page | Release Date May, 2019
ISBN 978-602-5615-43-6

Sinopsis

Saya adalah orang yang menjalani apa yang ada di depan saya, klien, teknologi bangunan, kontraktor dengan sederhana. Sistem kerja dikordinasi langsung oleh Yudi Atang selaku pengawas tukang. Proses pekerjaan relatif berjalan lancar sampai rumah akan ditempati. Saya menghitung bahwa rumah ini ada sisi menghadap barat dan itu adalah sisi yang terbuka dan besar. Prediksi saya bahwa pohon di sisi barat akan menghalangi cahaya matahari sore dan memberikan siluet bayang-bayang di saat-saat terang menuju gelap, saat-saat klien saya ini akan beristirahat dan menikmati malam-malam indah dengan keluarganya. Saya menghitung benar beserta tim saya, setiap garis lengkungan juga lengkungan-lengkungan kecil yang konsisten diulang-ulang menjadi sebuah tata bahasa bentuk untuk rumah ini supaya rumah ini memiliki karakter yang kuat – Realrich Sjarief

[Buku terbatas dan tidak dicetak kembali]

Price: Rp156.789,-

Kategori
RAW Books

Craftgram: Craft + Gramatology

Realrich Sjarief & Johannes Adiyanto | Soft cover | Monochrome | Bahasa
A5 148X210 MM | 285 page | Release Date, March 2020
ISBN 978-602-5615-88-7

Sinopsis

Tectogram adalah buku mengenai detail arsitektur, Methodgram adalah buku mengenai metode desain, Craftgram adalah buku mengenai cara penggabungan detail dan metode desain menuju mumpuni.

Buku ini menekankan profesi arsitek adalah tentang Cinta, bahwa rajin – semangat tekun, tulus, tanpa pretensi – , menjadi generator perkembangan diri arsitek menuju 3 tahap dalam kultur studio: apprentice, journeymen, mumpuni. Berkembangnya dari hubungan arsitek-klien, membentuk sarang, berinovasi dengan tulus tanpa henti, mengambil resiko sampai akhir hidupnya. Kesimpulan ini didapatkan setelah menelisik kehidupan 4 arsitek mumpuni; Le Corbusier, Antoni Gaudi, Laurie Baker, dan Antonin-Noemy Raymond. Mereka memiliki kekhasan sebagai agen perubahan di dunia barat dan timur. Juga membedah darimana munculknya semangat kejepang-jepangan di dalam perkembangan arsitektur.

[Buku terbatas dan tidak dicetak kembali]

Price: Rp. 250.000


Kategori
RAW Books

Methodgram: Methodology Grammar

Anas Hidayat + Realrich Sjarief | Monochrome | Bahasa
269 page | Release Date December, 2019
ISBN 978-602-5615-84-9

Sinopsis

Buku ini adalah sebuah pencarian terhadap pentingnya metodologi desain apa saja yang sudah dikerjakan, benang merahnya, hingga tipe proyek, klien, tim yang dihadapi. Semua investigasi tersebut merujuk kepada dua hal, metodologi yang subjektif, dan metodologi yang objektif. Keduanya dibahas secara menyeluruh di dalam buku Methodgram. Pencarian akan metode yang paling benar ataupun benar sebenarnya dikembalikan kepananya, bahawa untuk mencari metode paling benar ataupun sebenar-benarnya, dibutuhkan proses untuk mengenali diri sendiri, sebuah proses mengenal jati diri.

[Buku terbatas dan tidak dicetak kembali]

Price: Rp250.000,-

Kategori
RAW Books

Tectogram: Tectonics Grammar

Realrich Sjarief & Anas Hidayat | Soft cover | Monochrome | English
A5 148X210 mm | 250 page | Release Date September, 2019
ISBN 978-602-73741-2-6

Synopsis

This book was born into a chapter about the dialogue of tectonic and detailed experiments with various materials that Realrich Sjarief and his entire RAW team did when designing and building his works. Tectonics which has its own grammar, distinctive grammar. This book does not want to be a narcissistic or theoretical book, but hopefully it can be a more real architectural learning process for younger students, prospective architects, or novice architects. This book will also be the starting point, the gateway to the design methodology carried out in RAW and the opening point of the archipelago 4.0 craftsmanship.

[Buku terbatas dan tidak dicetak kembali]

Price: Rp250.000,- (Professional)
Price: Rp149.000,- (Student)


Kategori
RAW Books

The Guild

Realrich Sjarief & Anas Hidayat | Soft cover | Monochrome | Bahasa & English
A5 148X210 mm | 201 page | Release Date December, 2018
ISBN 978-602-5615-68-9

Sinopsis

The Guild portrays an architectural journey as a phenomenon. The journey is not only illustrated by a teamwork with the product of the architecture work alone, but weaved in the form of story with all of its griefs and lessons that have been attained. The introductory chapter begins with the memory of the former office and how the limitation becomes both spatial boundaries and design challenges. The first chapter explains The Guild as a microcosm and the interpretations that arised from. The next chapter is a transition of problem approach taken by RAW when completing complex designs in the Teluk Naga area, and how opportunities become a hidden passage towards something new. The next two chapters undermine the lessons received with an analogy that is common to everyday life and a fairy tale about the responsibilities of the architect’s profession.

[This book is limited and not reprinted]

Price: Rp350.000,-


Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Unang

Craftsmen Leader

Merupakan engineering yang bergerak didalam pengawasan konstruksi dan gambar kerja yang berterkait dengan detailing (DOT Workshop)

Kategori
blog RAW Architecture Struggle, Crisis, and Research

RAW Architecture year (2016-now)

RAW Architecture Years (2016-now) | Guha the Guild

RAW Architecture Years

Eko Prawoto: The Voice of the Village

Amanda Karina DwipayanaSoft cover | Monochrome | English & Indonesia | 14,8cm × 21cm | 318 halaman | Release Date: September 2026OMAH Code: OL-202509-51 Synopsis The…

BUGARU | Bukan Garis Lurus

Renhata KatiliSoft cover | Monochrome | Bahasa Indonesia | 14,8cm × 21cm | 218 halaman | Release Date: (coming soon)ISBN: dalam proses pengajuan ISBN Synopsis Hidup…

Perjalanan Malam Hari

Yuswadi Saliya, Realrich Sjarief, Abidin Kusno, Undi Gunawan, Anas Hidayat, I Nyoman Gede Mahaputra, Johannes Adiyanto, M. Nanda Widyarta, M. Cahyo Novianto, Altrerosje A. Ngastowo,…

Delhi Airport

A Family Room at Gate 56 At Gate 56 of Delhi Airport, I sat waiting, initially weary from a 14-hour flight delay that felt like…

Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu?

Tulisan-tulisan berikut disusun berdasarkan riset mendalam dengan keyakinan bahwa di balik karya arsitektur terdapat proses kreativitas yang panjang, melampaui umur arsitektur itu sendiri. Energi dan…

Kehilangan Cheri dan Kelahiran Miraclerich

Saya dan istri saya kehilangan Chéri, putri kami, yang meninggal pada tahun 2011 disusul dengan keguguran berulang kali setiap tahunnya. Meskipun bukan saya yang mengandung,…

Work Hard, Work Smart, Work Heart

Refleksi singkat soal membangun sikap pantang menyerah dalam studio arsitektur. Tulisan oleh Realrich Sjarief dan Arlyn Keizia. Sudah hal yang biasa jika perbincangan tentang kerja…

Hemingway, Apurva and Metode Iceberg

Kemampuan literasi (membaca, menulis, dan berpikir kritis) sastra di dalam arsitektur seringkali dihubungkan dengan kemampuan mengatasi tantangan hidup. Mulai dari memahami situasi dalam pemecahan masalah,…

Mengejar Ekor Waktu, Proses De-Tailing

Tulisan kali ini adalah tentang bagaimana seorang arsitek bisa melihat metode melalui tahapan waktu dan observasi di lapangan secara menerus. Dalam refleksi singkat kami, seringkali…

Membangun Diskusi yang Substansial

Akhir-akhir ini, studio kami fokus pada hal-hal yang substansial dan penting. Hal ini bermula dari pengalaman menghadapi kritik, sanggahan, atau ajakan untuk berdiskusi dalam presentasi…

Overbudget, Kritis, dan Tumbuh

Ini adalah cerita soal satu dari 3 strategi desain yang mempertanyakan fenomena over-budget, Kritis, dan tumbuh dari diskusi sekitar kami, yang dikembangkan di Guha oleh…

Refleksi singkat untuk saya sendiri

Ini refleksi singkat, untuk saya sendiri yang perlu terus mendapatkan umpan balik terutama dari berbagai macam generasi, ataupun banyak orang- orang hebat yang ditemui setiap…

Nusantara: Reposisi

Penulis: Abidin Kusno Soft cover | Monochrome | Bahasa Indonesia14.8cm × 21cm | 108 hlm. | Release Date: August, 2020ISBN: 978-602-5615-94-8 Sinopsis Kata “nusantara” cukup populer.…

Nusantara: Reposisi

Penulis: Abidin Kusno Soft cover | Monochrome | Bahasa Indonesia14.8cm × 21cm | 108 hlm. | Release Date: August, 2020ISBN: 978-602-5615-94-8 Sinopsis Kata “nusantara” cukup populer.…

TADAO ANDO: Let There be Light

Penulis: Eka Swadiansa Soft cover | Monochrome  | Bahasa Indonesia14.8cm × 21cm | 401 hlm. | Release Date: April, 2021ISBN: 978-623-96215-1-3 Sinopsis Buku ini adalah…

Omah: Membaca Makna Rumah Jawa

Penulis: Revianto Budi Santosa Soft cover | Monochrome  | Bahasa Indonesia14.8cm × 21cm | 160 hlm. | Release Date: July, 2019ISBN: 978-602-5615-78-8 Sinopsis Rumah Jawa…

Antologi Kota Indonesia 2

Penulis: Warmadewa Research Center Soft cover | Monochrome  | Bahasa Indonesia14.8cm × 21cm | 380 hlm. | Release Date: October, 2019ISBN: 978-602-5615-83-5 Sinopsis AKI dan…

Kategori
blog RAW Architecture Struggle, Crisis, and Research

Building RAW Architecture Years (2011-2016)

Building RAW Architecture Years (2011-2016) | Being Grateful

Greetings, Dear Readers

Young architect and Restless Spirits,

On 25 September 2011, we were married. Our marriage is the marriage between families, so we leave the preparation to our parents. They like to be responsible for food tasting, choosing the place for receptions. What we focused on concerning us, Laurensia picked her gown and asked me about her opinion. She liked the simple one, and it was a perfect fit for her. We took a picture on our pre-wedding day in place of our daily activities, her dental clinic, the garage office, and the street, including empty land near my parent’s house. Our preparation was straightforward and modest. I love the moment that captured our life because it shows the real us in daily routines.

She cared about the studio; because that was the thing that I loved. We took the pictures in our architecture studio, showing time-lapse that doing architecture is a marathon, and she is waiting for all of the time bu patience and love. In the dental clinic, I let her take care of my teeth, and it’s an act of me accepting her condition gratefully.

We spent the evening playing with balloons and folded bicycle from my mother. The setting was to catch the dream and to give harmony, she will take me to the ground, and I drive the bike together, only both of us; it’s our world.

We set the picnic at the treetop in front of the studio; it was a lovely and timeless moment. We have beautiful pictures; what made it enjoyable was the moment captured in our parents, including her very close dog. One is a heartwarming experience. We want to experience it repeatedly, and it feels like I know her from the past life.

We had the Holy Matrimony and reception in one day. Our big family, my grand Mother, fellow friends, my students, and some long friend from Malaysia, UK, universities, brothers from architecture studios, high school friends, relatives, clients came to greet us. We feel grateful for their prayer.

That day was unimaginable, like a dream come true. And we have planned to Visit London for our honeymoon. We went to York, Edinburgh, Paris, Italia – 3 cities: Venice, Verona, Treviso, Spain-3 cities: Barcelona, Bilbao, and Seville, then returned to Paris and traveled home. I studied Jean Nouvel, Carlo Scarpa’s works, Gaudi’s Works, visiting Frank Gehry’s exhibition at Pompidou Centre, revisited Foster and Partner’s studio, including meeting old friends and looked at Metropole Parasol by Jurgen Mayer. It’s one of the pilgrimage trips that I started to understand the world of tectonics, the alchemy of materials, the critical of the guild, and the sublimation of poetic objects. I will share the pilgrimage trip below.

Laurensia accompanies me on the trip while I was learning at architecture. I always wait for her comments. I feel grateful to have her supporting the journey, and we can have fun while learning a new universe of architecture. I, as Narayana finally found my Radha.

Greetings,

Realrich Sjarief

Preparing the Marriage | Together with Laurensia

It’s Pre-Wedding Day Today !

Our marriage is the marriage between families, so we leave the preparation to our parents. They like to be responsible for the trial, such as…

Lonely Path | Retrospective’s Spirit

I learned on critical and creative thinking that both of the worlds need iterations of things. That’s architecture. Its fluid, it’s complex, and full of surprises. If you learn one brilliant architect’s journey, you will get amazed. I understand that my dad and granddad, they are a builder. It makes a massive leap as my understanding that architecture can use what available material around us. It forms a positive attitude, to absorb that is profound to open unlimited learning from context.

I traveled quite often after I had a marriage with Laurensia. We do learn from pilgrimage with her to explore new ways of looking at things. We went to places around Indonesia and London to retracing some exciting works by Norman Foster or even by Enric Miralles, and many great architects or even architecture without architects.

In this trip, the journey is varied from learning from many great – great architects. There are few names such as Y.B. Mangun Wijaya, Le Corbusier, Laurie Baker, Carlo Scarpa, Maclaine Pont, Antonin Raymond, Alvar Aalto, and others still living. All of those architects fight their vision and do their mission by what they have done. I am inspired by them, and I read autobiographies about their work every time I make the pilgrimage. I can cry and touch their effort to push their limit of humanity. They are complex. Their archetypes bring complexity to the current world.

Correa wrote that there two way of learning, direct and indirect learning. I think both of them actually needs a compass of retrospective, way to know that we are part of bigger picture. Actually this journey is about to understand our own shadows, personas, animas, animus, heroes, and so many archetypes that defines us. Jung probably right that there must me something magical that becoming background of the human’s mind and I think this is about transformation, and understanding that Architecture is so damn powerful.

Greetings,

Realrich Sjarief

Moments | Pilgrimage

Bali, Ilusi dalam Realitas

Arsitek Muda Indonesia sudah memulai pada tahun 1990 untuk mencoba meredefinisikan kembali arsitektur yang lebih baik pada jamannya dengan pendekatan yang rasionalis. Jong Arsitek sebagai…

Moments | Family

Guha is in Apple TV +

As an architect, I tried to control, experiment with, and try to fit into balance things. But this movie worked beyond the control as I…

Secretive – Guha

Setiap pojok di The Guild adalah cerita tentang proses yang terjadi, perubahan tempat, konstruksi, penambahan konstruksi yang seringkali ditandai dengan mutilasi terhadap bentuk – bentuk…

2013 – Craftsmen Guild, Murakabi

“Believe in this world – that there is meaning behind everything.” Vivekananda Malam ini sunyi senyap, hari ini pun hari biasa, dengan kicauan suara burung…

Dengan Laurensia Selama 1 Tahun

130120 “Trust in dreams, for in them is hidden the gate to eternity, Khalil Gibran ”  Bandung, Diri ini merenung sejenak. Tahun ini, tahun yang penuh…

2012 – Losing Cherry

Hope is the thing with feathers that perches in the soul and sings the tune without the words and never stops at all… Hari itu…

Family Years | We are blessed by Miracle and Heaven

Kategori
blog RAW Architecture Struggle, Crisis, and Research

Back to School Years (2009-2011)

Back to School Years (2009-2011)

  • Getting Know My Love | Laurensia
  • Long Distance Relationship | Love Birds

Getting Know My Love | Laurensia

Greetings, Dear Readers

Young architect and Restless Spirits,

Her name is Laurensia, She has the same age of me. She went to the same elementary school with me, the same senior high school with me, but we went to different university. She went to university in Jakarta while I went for my bachelor degree in Bandung. Bandung and Jakarta is 2 different cities, has different life style, different climate, but same solstice as the location approximately in same latitude. I had not much time to know her, since that time.  8 years after that, she is a Dentist and I am an Architect.

My life was so fast at that time, “a lonely ranger”, I would say. After I graduated, I worked in Bandung, Singapore, London, while sometime fly to Banjarmasin to help my brother’s business. It had been a wicked time for work alcoholic time with almost 40 design competitions and design built works across South East Asia, Middle East and China. I spent a year in one place and another year in another place.

Greetings,

Realrich Sjarief

Getting Know My Love | Laurensia

Laurensia

June 11 2009, Sydney “Life without love is like a tree without blossoms or fruit”- Khalil Gibran Do you believe in faith ? Love? Good…

I Love You

When I came back for a holiday to Jakarta, we had dinner several times, until a week before I went back to London. I felt…

Di Gunadharma Awal Titik Pertama

“Pak, si *** susah diatur, anaknya keras kepala, kordinasi pekerjaan tidak jalan ditangan dia, bapak tidak tau sih bagaimana kerja bersama dia.” Celoteh satu mahasiswa…

Kumpulan Manusia Absurd

18 Agustus 2000, Institut Teknologi Bandung, Dunia di ITB itu berbeda dengan dunia SMA saya yang homogen. Dunia SMA saya dimana saya dibesarkan di lingkungan…

Geek | Non Mainstream High School Group

2004, Sekolah Menengah Umum Katolik Sang Timur – Jakarta Waktu saya masih belajar di sekolah menengah atas saya memiliki guru les fisika yang sama dengan…

Long Distance Relationship | Love Birds

Every time I went home from Overseas, I always send a text to Laurensia, called her. I did that because I like to share things with her. She was an indifferent world to me, and I had been friends since I was ten years old. We were friends because I knew that she had a boyfriend. But in London, I was single, and I did not care about relations, one thing that I am sure that I am pretty lonely. One time I got the reply email from Laurensia that I sent years before.

We conversed by email, and I knew that she was single, she broke up with her boyfriend. We shared life around us, and I knew that she worked so hard. She went to the rural areas in the mountain to practice, serving the government every day. In Indonesia, to obtain a license, a young dentist needs to fulfill the service to the government. It took three years for her to do things like that. It took hours to travel, and the need to change transport several times, from cars, mini can, and motorcycles. Her life was tough, and she was consistent in fulfilling her service to the government.

We conversed by emails and texts several times, noting that when I went back to Jakarta, I wanted to ask her for dinner. I wanted to see her in person. My curiosity grew because She lived in two routines, in the morning, she did service to the government in the rural area, and in the evening, she worked in her dental clinic. She worked so hard, and I can see that I am in love with her hard work. I did my hard work as well as an architect, working overtime and living morning and evening work. I saw her hard work as reflection of my life, how we are different but her story fill my heart.

Greetings,

Realrich Sjarief

Moments | With Laurensia Before Marriage

Berbuat dengan Hati dan Etika

Michael kamu, anak muda jaman sekarang, berbisnis, tanpa etika, tanpa nilai … Kalimat ini terlontar dari nada bicara diri ini  yang meninggi di suatu malam…

Resolusi Tahun baru 2010

Keinginan dan kenyataan, 08 January 2010, Bali Di akhir tahun ini aku berpikir mengenai apa yang sudah terjadi di tahun 2009 dan apa yang ingin…

Kerja Keras

170909, Sydney.. 4 am ” Far and away the best prize that life offers is the chance to work hard. Theodore Roosevelt (1858 – 1919)  …

Kategori
blog RAW Architecture Struggle, Crisis, and Research

Formative Year (2005-2009)

Formative Year (2005-2009) | Getting to know myself better

Formative Years | Getting to know myself better

I divided the story into several chapters. The first chapter is my formation year. I came from a builder’s family, born in Surabaya. I spent some of my childhood in Bedugul, Bali accompanying my father that worked in the construction of Bali Handara project. I was astonished to see the culture of Bali, the island of God. When I was ten years old, I moved to Jakarta. Jakarta is a mixture of colonial, traditional, and ultra-modern cities. This juxtaposition shows the true potential of Indonesia, and this potential has its weakness in its infrastructure and integrative planning.

Since working in the architecture field, I was curious about what’s the limit of architecture. I was hungry for learning, and the first step is to get to know myself better. I moved to Bandung to study architecture in ITB. I worked in Ridwan Kamil + Partners’s studio, Urbane, for a year before working in Singapore in DP Architect, and finally accepted to work in Foster and Partners London. I put some understanding that The studio selected me, not me choose them. I did send many applications, and many got rejected. Few were accepted.

The second step was understanding that the studio has goals, and I do have plans. How to put both goals in harmony is the key. I need to care about the studio’s goals. By doing that, I have responsibility for the studio. The story then continued when I studied again in Sydney, continuing my master’s degree in Urban Design and Development under Jon Lang and James Weirick. Then, I started my firm, Realrich Architecture Workshop. This chapter is the formation year, year before I met Laurensia.

Greetings,

Realrich Sjarief

Formative Year

Jepang dan Sebuah Pelajaran Tentang Rasa

Kyoto, 091128 , Japan, a country with endless story about culture, history, and nature. Tinggalkan pikiran – pikiran dunia, merunduklah. Dengarlah suara teko air teh yang…

Perhentian sesaat di Seoul, Korea

Incheon, Korea 020809 “Nothing is as simple as we hope it will be.” Jim Horning Free your mind like butterfly flying Jari ini menari –…

Hidupku Hidup Satu Kali

18 Mei 2009, Sydney “The greatest pleasure in life is doing what people say you cannot do.” Walter Bagehot (1826 – 1877) Sudah kira –…

Satu Jentikkan Jari

01 June 2008 – London “di pagi yang sepi, ditemani secangkir teh manis hangat” Aku akan mulai banyak menggunakan kata – kata aku, karena mungkin…

Cerita di Tahun Ketiga

29 April 2008 “Di dalam satu cerita, satu paragraph, satu skenario. Semua menunjukkan satu keterkaitan dalam ritme yang berbeda ” Adakalanya terdapat beberapa kata dan…

Langkah Melangkah…

6 January 2008, Angel, London Memang benar keadaan disini memang luar biasa menariknya, untuk dipelajari, dan dipahami.. Sudah 6 bulan di sini, di kota yang…

Mimpi pemimpi

22 July 2007, Bali “Hiduplah seperti pohon, tumbuh perlahan – lahan dan tidak tergesa – gesa” Tisna Sanjaya Di hari – hari terakhir di Singapore,…

Perspektif 4 titik

06 01 2007, Singapore “di Backstage ada semangat untuk salah, ada juga semangat untuk belajar, apalagi semangat untuk mencoba benar ,…terkadang mungkin kita lupa dengan…

Rantai Ketika

September 3, 2006, Singapore “Ketika ”berbeda dengan dimensi sebelum dan sesudah, ia ada di antara awang – awang masa kini dan masa lalu, “ketika” berbicara…

Thinking of the games

3 July 2006, Singapore Suatu kalimat ‘ Belajar dari kekalahan, ..sama seperti permainan akan hidup …   Credit to : Liza Susanto, Budhi Hermawan Ada…

the 13 th post

03 May 2006, Singapore The World is moving so fast, here, beginning all the learning Process with quoting from a pen’s pall that always starts…

Menggenggam Kesempatan

26 March 2006, Bandung, Indonesia Grab your opportunity Kesempatan dan masalah itu seperti peruntungan, ada kalanya sekeras – kerasnya kita berusaha, kesempatan dan masalah tidak…

Satu Tahun

Jumat 030306, 12 bulan – Genap, Bandung, Indonesia Dari pengalaman lama, ada sesuatu yang baru untuk dipelajari. Menanti untuk dimulai, dari pengalaman itu sudah berbuah…

8 Bulan

September 23, 2005, Bandung, Indonesia “Dunia seakan – akan bergerak sangat cepat, deadline yang terus menerjang” 1 hari tiada terasa,Dead line dan deadline, hidup seorang…

Kategori
blog RAW Architecture Struggle, Crisis, and Research

Starting Journey (2005)

Starting Journey (2005) | My Mayonaisse Jar

  • Long Life Learner

Long Life Learner | My Mayonaisse Jar

Greetings, Dear Readers

Young architect and Restless Spirits,

I have been writing and designing since 2005. I started in this blog to share my journey as a freshman and continued even after I become Architect. Since then, I got inspired by some stories from books, short articles, video clips, or even just a simple note from serendipity. I reshare some of the stories hoping that those stories can help you walk your life as they do to me. The tales start with a professor who taught their students about priorities in life. It begins from My Mayonaisse Jar. This writing is a way to contemplate, a way to respect, and a way to transform. I learn about the priority of life in his story. Family, Friends, Work.

When things in your life seem almost too much to handle, this space is a way to gathering my spirit. And when 24 hours in a day is not enough, I always remember this story about the mayonnaise jar and 2 cups of coffee.” It’s a way for me to remind myself that I can encounter the problem by telling myself everything will be ok, start control and leave the things I can’t control. And this thinking made me start My Mayonaisse Jar.

Greetings,

Realrich Sjarief

Inspiring Story

Unconditional Love

Culture, which we have seen in our daily life sometimes is just taken with no granted. everybody should accept it, more people said that we…

a girl’s hope

This is beautiful movie clip showing a dream that everybody should look in their life. how about you ? watch it twice so you can…

Live a Life That Matters

June 02, 2009, Sydney ” If there is anything I would like to be remembered for it is that I helped people understand that leadership…

The Daffodil Principle by Jaroldeen Edwards

“There is a garden in every childhood,an enchanted placewhere colors are brighter, the air softer,and the morning more fragrant than ever.”~ Elizabeth Lawrence Several times…

Susan Boyle “the genuine lady”

“You can only become truly accomplished at something you love. Don’t make money your goal. Instead, pursue the things you love doing, and then do…

1st Post

Tulisan – tulisan ini untuk berbagi mengenai intuisi dan logika satu hari demi satu hari belajar memakai hati, belajar untuk terus belajar to be Real…

Kategori
RAW Approach

1. Bioklimatik | Thermal Responses

Setiap desain perlu untuk mempertimbangkan elemen bumi, air dan Udara. Sehingga setiap garis akan memberikan pemecahan untuk kenyamanan manusia, sehingga desain berbasis riset menjadi fundamental.

In RAW Architecture, we produce 3 main analytical framework, such as responses towards attentions to Details (Tectonics), Thermal conditions, and Wind Pressure. It is a lesson learnt that we implement in all of our projects.

In context of this case study, Jakarta exemplifies the challenges such as :

1. Details of Critical resources, our design depart from the fact that our context, Indonesia, is a postcolonial country, and we recognize its lack of resources. To focus on craftsmanship is a way to design in creative way with critical thinking senses. RAW’s core value has been shaped by the intangible knowledge of the craftsmen, artist, and design and we prioritize craftsmanship process over expensive materials. This approach coins to Pluralism architecture that involves diversity in construction, using whatever in our excess to create buildings that are inclusive and connected to their context, combining high-tech systems with low-tech basics.

2. To achieve thermal and wind pressure comfort in Jakarta, a hot-humid tropical climate (23–33°C, 70–85% humidity, 0.2–0.8 m/s winds), the work of RAW embraces the needs and constraints of our context. We are aware of keeping the indoor temperature towards 27°C, and relative humidity must be kept at 30-60% to avoid dryness and dampness, is essential in maintaining maximum comfort through strategies that allows for microclimate to exist. The architecture must employ passive strategies such as stack and cross ventilation to carry steady cooling inside the building. To add to our efforts, we work with active strategies such as fans to help regulate fresh air. Our analytic team approach designs through the studies of comfort. The team uses modelling and simulation to review design from the lenses of data, to model these strategies more accurately to test its impact to our designs.

Credits to RAW Analytic team :
Principal : @rawarchitecture_best
Analytic Team : @adityakosman@tyoadngrh@rrianditaa
Team : @ha.ykal@noviola_esther@carmelinagabriellah@farrashsal
Other Lead :  @melisaakma@almujaddidi@andriiyansyahmr@joanaagustin@gabymarcelina@putrakhairus@mu.zyd@muhammadyusrul@joshinoel@chairunnisabels@namanyaemailku

Kategori
RAW Approach

2. Fungsional | Creative Programming

Setiap desain dimulai dari proses mendengarkan, diskusi, dan bersepakat untuk sebuah visi berbasis pada refleksi pengetahuan sejarah arsitektur global dan lokal.

Kategori
RAW Approach

3. Puitis | Artisanal Detailing

Arsitektur selalu memiliki variasi ketukangan yang menjadi ciri khas, detail yang memberikan begitu banyak cerita yang humanistik. Tiap generasi memiliki ceritanya masing-masing yang sifatnya turun menurun.

Kategori
RAW Approach

4. Jiwa | Authentic Identity

Jiwa adalah pancaran dari keyakinan terhadap abstraksi, itulah mimpi dan arsitektur. Dan menjadi jujur adalah sebuah permulaan lahirnya jiwa dalam desain.

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Sumardi

Craftsmen Leader

Merupakan engineering yang bergerak didalam pengawasan konstruksi dan gambar kerja yang berterkait dengan detailing (DOT Workshop)

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Komeng

Craftsmen Leader

Merupakan engineering yang bergerak didalam pengawasan konstruksi dan gambar kerja yang berterkait dengan detailing (DOT Workshop)

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Itno

Craftsmen Leader

Merupakan engineering yang bergerak didalam pengawasan konstruksi dan gambar kerja yang berterkait dengan detailing (DOT Workshop)

Kategori
Team Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Kunto

Supervisor on Site

Merupakan engineering yang bergerak didalam pengawasan konstruksi dan gambar kerja yang berterkait dengan detailing (DOT Workshop)

Kategori
Team Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Bayu

Supervisor on Site

Merupakan engineering yang bergerak didalam pengawasan konstruksi dan gambar kerja yang berterkait dengan detailing (DOT Workshop)

Kategori
Team - Officer Team - Tier 4

Rudi

Back-end Kitchen

Kategori
Team - Officer Team - Tier 4

Yanti

Back-end Kitchen

Kategori
Team - Administration Team - Tier 3

Aviliana Puspita Dewi

Associate Administration and Finance

Affiliation SMKN 2 Pengasih

Kategori
Team - Studio Culture

Zyadi Birthday

11 Februari lalu menjadi salah satu hari yang istimewa di studio kami. Hari itu, kami merayakan perjalanan seorang teman yang bertumbuh bersama Tim Phronesis di Studio RAW Architecture ia adalah Zyadi.

Di balik setiap perjalanan, selalu ada cerita tentang bagaimana seseorang bertumbuh. Bagi rekan-rekannya, Zyadi dikenal sebagai sosok yang tenang dan humble. Pekerjaan yang berkaitan dengan integrasi gambar, koordinasi teknis, hingga detail-detail yang sering luput dari perhatian, seolah sudah terpetakan rapi di kepalanya. Tak heran jika julukan “Zyadi MEP” lahir begitu saja dari orang-orang terdekatnya.

Yang membuat Zyadi begitu berharga bukan hanya kemampuannya menjawab pertanyaan teknis, tetapi juga kesediaannya untuk selalu membantu. Ada ketenangan dalam caranya bekerja, ada kesabaran dalam setiap penjelasan. Zyadi adalah sosok yang bisa diandalkan.

Bahkan sempat ada celetukan dari teman-teman setimnya:
“PLN saja bingung, tidak pernah isi token tapi menyala terus performanya.” Candaan yang lahir dari kekaguman karena konsistensi dan energinya memang selalu terasa.

Di sela waktu istirahat, ada sisi lain dari Zyadi yang tak kalah konsisten: ia adalah striker andalan di game FIFA. Dan tentu saja, identitas lain yang tak pernah absen,fans Barca garis keras, apa pun musimnya.

Ada satu pesan kecil dari kami semua untuk Zyadi: kurangi nyemil kerupuk ya hahaha

Di usia yang bertambah ini, semoga setiap langkahmu selalu dipenuhi kebahagiaan, keselamatan, dan keberkahan untuk dirimu dan keluarga. Semoga semangatmu terus menyinari setiap perjalanan ke depan.

Selamat ulang tahun, Zyadi.

Kategori
Team - Studio Culture

Nielson Birthday

21 Januari lalu menjadi salah satu hari yang istimewa di studio kami. Hari di mana kami merayakan perjalanan seorang teman yang tumbuh bersama Tim Techne Normative di Studio RAW Architecture ia adalah Nielson.

Di balik setiap perjalanan, selalu ada cerita tentang bagaimana seseorang bertumbuh. Nielson datang dengan ketenangan dan kemisteriusannya, dengan gaya serba hitam yang sudah seperti identitas. Namun di balik tampilannya yang kalem, ada sosok yang selalu bisa diandalkan. Detail dalam desain, kuat di teknis, seorang yang full package dan bekerja dalam diam, tanpa perlu banyak bicara. Ia tajam dalam berpikir, dan sekali bersuara, mampu membuat semua orang fokus.

Perayaannya sederhana, lilin kecil, tawa yang pecah di tengah sore yang hangat. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada rasa syukur. Tentang manusia yang saling belajar, saling bertumbuh, dan pelan-pelan membawa pengaruh baik bagi lingkungan kecil yang kami bangun bersama.

Disore hari itu, tercipta sebuah pantun yang memecahkan tawa, ada satu versi Nielson yang muncul dari teman-teman satu timnya:
Masak bakwan pakai tepung terigu,
Makannya bareng di atas plat beton.
Arsitek idaman, jago komputer nomor satu.
Happy birthday yang ke-25, Nielson.

Di usia ke-25 ini, semoga langkahmu semakin mantap, pikiranmu semakin dalam, dan setiap proses yang kamu jalani membawamu pada versi diri yang terus bertumbuh. Semoga kebahagiaan menyertai setiap perjalanan, untuk dirimu, dan untuk banyak orang yang akan ia temui ke depannya.

Kategori
Team - Reflection Letter

Imdi Hakeem Dinovhandaru – Universitas Gadjah Mada

Reflection Letter:

Greetings! My name is Imdi Hakeem Dinovhandaru. I am currently a third-year architecture student at Universitas Gadjah Mada and I’m 20 years old at the time of writing this letter. I chose architecture because I have always been a curious person about art and buildings, and end up kind of living it.  After 2 years of studying, It was finally the time to apply for an internship. It was very hard to find a suitable architecture firm to apply to. Then, a flash of memory entered my mind. 


It was April 12th, 2025, when I first visited a place during an architectural field trip. The place, at first, looked nothing more like an ordinary studio-house with lots of plants and steels? But once I entered it, a flash of thought appeared in my mind. How can this place look so simple from outside, but very complicated and detailed, messy-yet fascinating once you’re inside? Well, the answer is yet to be discovered by me.

The place was Guha, or The Guild House. It is the workplace of a very aspiring architecture firm, filled with positivity and the urge to think forward. For a moment there I think maybe this is the right place to step up my architectural skills and learn from one of the best. And I am sure that someday I will come back to this place, not as a visitor, but as an architecture intern.

And yes, that dream came true. I am, or was, an intern there. Even though my internship period was very limited, only 2 months because of academic requirements, I enjoyed every single day of my internship here. In summary, I was very grateful to be part of the Guha Family. But I wanted to share all of my experiences just to let everyone know my journey from start to finish.

Starting with how I begin my day, I commute approximately 2-3 hours in total every day to get to the office. Even though it is a long journey, it is really worth it because the place is very excellent. I usually arrive at 9 AM, but sometimes I arrive late because of traffic. Despite that, the designers never mentioned it because they also arrive past 9 AM, Haha. Then, I start my internship work by getting an assignment brief from the designers. Sometimes, the brief was very clear and straightforward, but there are few that I do not understand, but that’s okay. Every week there is a general meeting with Kak Rich, where everyone would gather and discuss critical points for all the ongoing projects.

After some work, there’s a 1 hour lunch break at noon and we eat the catering together at the pantry. Then, I usually spend the rest by reading, playing the piano, talking with colleagues, or just resting by the coziest place in the office (The Mezzanine Bookstore). Speaking of the piano, I must say thank you to the brown foyer piano because it is where I began practicing to play it again after years of not practicing it. After the break, I continue to work on my assignments and try my best to deliver great results. Even then, the designers are still far above my skill and capabilities. Honestly, the work rate here is pretty fast and precise. I sometimes lack the pace and get questioned about my progress. Despite that, I’ve always felt this place is like a second home and a place to improve my skills.

In summary, I’ve learned a whole lot of new things about everything, not just architecture, and I must say that RAW Architecture is the best place to apply for an internship. Thank you RAW Architecture for all the knowledge and memories. It will always be remembered as a part of my journey to become a future architect one day. I wish you guys all for the best!

Kategori
Team - Reflection Letter

Haidar Hafizh Aulia – Universitas Gadjah Mada

Reflection Letter:

Berada dalam zona nyaman memanglah menyenangkan. Selama 21 tahun hidup di Yogyakarta, saya tumbuh dan belajar di kawasan di mana sebuah citra artis lahir, tempat seniman seniman hebat dengan pemikiran dan goresan tangan yang ciamik menorehkan jejaknya. Dari ruang ruang itulah saya mengenal makna proses, hingga akhirnya saya menemukan sebuah biro arsitek yang mengangkat tektonika desa sebagai cara pandang dan identitas berkarya. Bagaimana material dimainkan menarik pandangan dan hati, memanggil untuk belajar lebih dalam dan melangkah lebih jauh.

Perkenalkan nama saya Hafizh. Saat ini saya berada di semester ke 6 sarjana arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Menggantungkan pengalaman pertama saya magang di RAW Architecture menjadi keputusan yang sangat tepat, bukan hanya sebagai formalitas akademik, tetapi sebagai perjalanan waktu yang berharga. Di sanalah pandangan saya tentang bagaimana dunia profesional arsitektur berjalan mulai terbentuk dan tersusun.

Materi demi materi perkuliahan saya pelajari, menyelami bagaimana para pendahulu menuliskan pengetahuannya dan mewariskannya ke generasi selanjutnya. Namun selama saya membaca, saya memahami bahwa berkarya tidak bisa hanya dengan menyerap cerita. Karya harus dilatih dan terus dilatih hingga tangan ini terasah dan peka. Sebab pelatihan tanpa pengalaman hanya akan menjadikan kita katak dalam tempurung, sibuk memahami dunia dari ruang yang sempit.

Mengikuti alur program intern di RAW ini melengkapi apa yang selama ini terasa kurang. Di sana saya belajar bagaimana sebuah ide yang liar dapat dituangkan dalam gambar, lalu diterjemahkan menjadi bangunan nyata. saya juga belajar bahwa komunikasi menjadi tonggak utama untuk mencapai tujuan. Penyampaian yang halus dapat menarik hati orang, penyampaian yang baik dapat menyatukan visi orang, dan penyampaian yang terstruktur mampu menggerakkan orang untuk berjalan bersama.

Di samping seluruh pembelajaran itu, saya senang dapat merasakan hangatnya bekerja di tengah lingkungan yang mendukung. Kehangatan itu tidak hanya terasa dari suasana studio, tetapi dari sikap dan energi orang orang di dalamnya. Orang-orang ramah yang menyambut membuat saya merasa diterima sejak hari pertama, membuat tiada jarak antara kami dan teman-teman yang sudah lebih dulu berjalan. Kakak-kakak designer sabar menuntun tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga memberi contoh bagaimana bersikap dalam proses, bagaimana menghadapi masalah, dan bagaimana menghargai setiap detail pekerjaan. Teman teman sesama intern yang saling mendukung, bekerja bersama, berbagi cerita, dan tawa.

Terima kasih banyak kepada kak Rich yang telah menciptakan sebuah wadah bagi para arsitektur muda untuk mengasah karya. Terima kasih kepada seluruh teman-teman RAW yang menjaga lingkungan ini tetap hidup. Mungkin kontribusi dan kehadiran saya hanyalah sepintas bagi kakak kakak, namun bagi saya kesempatan ini akan selalu menjadi pengalaman pertama yang mengawali langkah perjalanan saya.

Salam hangat,
Haidar Hafizh Aulia

Kategori
Team - Reflection Letter

Cua Zasta Sampoerna – Universitas Gadjah Mada

Reflection Letter:

Salam kenal semuanya,

Perkenalkan saya Cua Zasta, dari Universitas Gadjah Mada. Menjelang akhir tahun 2025 menuju awal 2026, saya diberikan kesempatan untuk belajar secara langsung bersama tim RAW Architecture.

Sejak awal, nama RAW bukanlah nama yang asing bagi saya. Namun seiring berjalannya waktu, rasa kagum itu tumbuh dengan sendirinya. Saya belajar banyak, dimulai dari memahami sistem alur kerja, melihat bagaimana kerangka berpikir dibangun dengan jernih dan terstruktur, hingga menyaksikan bagaimana gagasan dieksekusi dengan penuh tanggung jawab dalam setiap proses desain di RAW. Di waktu internship yang singkat ini, saya merasakan energi dari kakak-kakak mentor saya. Etos kerja yang tinggi dan perhatian penuh terhadap tanggung jawab, merupakan sebuah lingkungan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Saya dibimbing, diarahkan, dikoreksi, dan didorong untuk terus berkembang. Setiap harinya membuat saya semakin nyaman dan semakin bersemangat untuk belajar.

Saat pertama kali masuk RAW, saya langsung sadar bahwa masih banyak hal yang belum saya ketahui. Namun setelah berproses dan berkembang bersama RAW, saya justru semakin sadar bahwa ternyata jauh lebih banyak lagi yang bisa saya pelajari di luar sana. Saya merasa keluar dari bubble pemikiran saya sendiri. Saya merasa lebih terbuka terhadap cara pandang baru, terhadap detail-detail kecil yang sebelumnya tidak saya perhatikan, dan terhadap standar profesionalitas yang sesungguhnya. Penuh momen di mana saya selalu merasa diterima di sini. Tidak pernah saya merasa seperti orang asing, bahkan sejak hari pertama. Sebagai seorang mahasiswa yang sedang belajar, saya merasa tersanjung karena kakak-kakak mentor sangat terbuka untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan saya, bahkan yang paling sederhana sekalipun. 

Menuju dua minggu akhir internship, saya semakin sadar bahwa saya akan merindukan momen ini. Ritme kerja, diskusi, tawa kecil di sela-sela pekerjaan, hingga proses yang membentuk saya menjadi lebih tangguh. Namun saya juga sadar bahwa ini adalah kesempatan bagi saya untuk melangkah lebih jauh dan berkembang di luar sana. Di RAW, ada istilah yang sering disebut yaitu restless spirit, yang berarti jiwa yang tidak pernah lelah untuk terus penasaran. Saya merasa istilah itu benar-benar hidup di dalam setiap proses yang saya alami di sini. Saya harap, saya dapat selalu membawa restless spirit tersebut ke mana pun saya berjalan.

Saya bersyukur karena RAW Architecture menjadi salah satu bagian dalam perjalanan hidup saya. Terima kasih untuk kakak-kakak mentor, Kak Rich, dan teman-teman RAW DOT OMAH sekalian, atas kesabaran, kepercayaan, dan ruang belajar yang begitu berarti bagi saya. Semoga semesta mempertemukan kita kembali pada waktunya.

Tuhan memberkati kita semua.

Kategori
wawancara'

Wisata Arsitektur dan Pustaka di Omah Library | Halo Indonesia | DAAI Magazine

Kategori
Team - Reflection Letter

Rinanda Gantari – Universitas Diponegoro

Reflection Letter:

Hello, my name is Rinanda Gantari, though most people call me Gantari. I am currently in my fifth semester at Diponegoro University. Through this reflection letter, I would like to share my thoughts on my two-month internship. It has been a phase in my life that truly shaped me and taught me many things I had never seen or understood before.

I have been interested in architecture since I was in elementary school. For me, architecture is not only about the beauty of a building, but also about a kind of beauty that can be felt through the philosophy behind it. I have always seen architecture as something very broad, something to learn from and something that can guide the way I see life.

When I was finally accepted as an architecture student in 2023, I felt that a long-awaited dream had come true. But as time passed, I realized that I did not fully understand why I was studying architecture. I enjoyed the process, but I had not yet found its deeper meaning.

In 2025, I met Kak Realrich at the WEX UGM event, and that moment slowly changed the way I see architecture. Listening to him explain architecture from a perspective I had never imagined before made me realize that architecture is not only about form or aesthetics, but also about deeper meaning and values. That was the moment I became truly interested in doing my internship at RAW Architecture.

From the first day I stepped into RAW, I already had a feeling that this journey would be exciting and memorable. Before being accepted, I went through many ups and downs while searching for an internship, which made this opportunity feel even more meaningful. There are so many reasons why I feel grateful to have joined RAW as an intern.

The working environment was comfortable, the people were kind and fun, and the mentors were very supportive. At the same time, the work was intense, challenging, and dynamic. All of these experiences made me feel that two months was not enough.

Since my last day at RAW, I have often wondered if I will ever have the chance to return. But then I realized that wherever I go, I will carry the values I learned at RAW with me. The kindness I experienced there, along with the lessons I learned, will stay with me for a long time.

I may not be very good at expressing my feelings in words, but I am truly grateful for everything. Thank you to Kak Realrich for the guidance, care, and the way he leads with sincerity. Thank you to the Techne Normative team, Kak Joshi, Kak Kamil, Kak Rizka, Kak Revi, Kak Gabby, and Kak Nielson, for being my first team and for all the memorable moments we shared. Thank you also to the Episteme team, Kak Chai, Mas Beng, Kak Novi, and Kak Ikhsan, for welcoming me so warmly. I am also thankful to all the other teams who made this experience even more meaningful. I would also like to thank Kak Tyo, who interviewed me at RAW. Thank you for your kindness from the very beginning until the end of my internship.

Lastly, thank you to RAW Architecture and everyone involved. I hope RAW DOT OMAH continues to grow and succeed. I also hope that the kindness I experienced there will always remain, wherever I go ^-^

Best Regards,

Rinanda Gantari

Kategori
Team - Reflection Letter

Fezka Bariq Alfatih – Universitas Diponegoro

Reflection Letter:

Halo! Perkenalkan nama saya Fezka Bariq Alfatih. Saya adalah mahasiswa semester 6 di jurusan Arsitektur, Universitas Diponegoro. Pada kesempatan kali ini saya melaksanakan internship selama 2 Bulan di RAW, kesempatan ini merupakan pengalaman pertama saya terjun ke dunia profesional. Sebelum memasuki semester 5, saya mencari biro arsitek untuk program magang saya dan berakhir pada keputusan ingin magang di RAW. Keputusan ini diambil karena ketertarikan saya pada bangunan-bangunan yang di desain oleh RAW. Saya sangat bersyukur dan senang dapat diterima disini setelah melakukan proses seleksi yang tergolong panjang. 

Setelah masuk RAW, saya cukup kaget dengan dunia profesional sehingga butuh beberapa hari untuk terbiasa. Butuh waktu lebih lama lagi untuk mencerna secara utuh bagaimana dunia profesional bekerja terutama dunia di RAW. Sangat menyenangkan untuk bisa sempat masuk ke dalam “organisme” ini karena bisa menjelajah ke banyak tim disini. Setiap tim memiliki karakter dan kebiasaannya masing-masing, keberagaman itu yang membuat saya merasa tempat ini sangat hidup. Meskipun pada kesempatan kali ini tidak bisa belajar di semua tim, tetapi saya sangat bisa merasakan kehangatan dan kekeluargaan satu sama lain. 2 bulan disini tidak terasa cukup bagi saya untuk bisa belajar, tetapi sudah sangat banyak ilmu yang saya dapat. Saya sangat beruntung bisa memiliki kesempatan yang sangat luar biasa. Ditambah saya bisa merasakan tinggal di Guha Boboto selama 2 Bulan ini yang menjadikan pengalaman ini sangat patut disyukuri. Melihat bagaimana semua orang bekerja disini sangat membuka mata saya sebagai mahasiswa yang belum pernah melihat, apalagi merasakan, bagaimana dunia profesional bekerja.

Untuk itu saya sangat berterimakasih kepada Kak Rich dan Kak Yudith atas kesempatan dan banyaknya ilmu yang diberikan di dalam keluarga RAW. Saya juga ingin menyampaikan terimakasih kepada Kak Tyo atas kesempatannya dan kepengurusannya terhadap para intern. Saya juga ingin berterima kasih kepada seluruh kakak-kakak designer yang telah mendidik dan mengajarkan banyak hal dengan sabar dan teliti kepada saya. Terimakasih kepada kakak-kakak semua yang sudah mau berbagi ilmu maupun pengalamannya, baik di dunia arsitektur, dunia perkuliahan, atau ilmu dan pengalaman lainnya. 2 Bulan ini bisa menjadi sangat berkesan karena kehadiran kakak-kakak semua. Terimakasih banyak!!

Kategori
Team - Reflection Letter

Friendly Leonard Panjaitan – Universitas Diponegoro

Reflection Letter:

Hello! My name is Friendly Leonard Panjaitan, an architecture enthusiast currently in my 6th semester of studying architecture at Diponegoro University. I was born and raised in Bekasi for 20 years. In the architecture program at Diponegoro University, we are required to complete an internship in the 5th semester. During the process of finding an internship, I experienced quite a lot of pressure. Out of around 30 architecture firms that I applied to, only 3 responded to my application. And from those, one of them was RAW Studio—and thankfully, I was given the opportunity to join the internship program at RAW.

Through this writing, I would like to express my deepest gratitude to the RAW family, especially Kak Rich, Kak Yudith, and all the designers, for giving me the opportunity to learn, meet, and work with such amazing people at RAW Studio.

December 15th, 2025 was my first day as an intern at RAW. During the approximately 2 months I spent there, RAW was not only a workplace, but also a second home and family to me. To gain experience at RAW, I initially had to commute daily between Jakarta and Bekasi. However, RAW provided accommodation for designers and interns, and I decided to stay there. Because of that, I was able to get to know the designers more closely, not only in the office but also outside of work.

Within these 2 months at RAW, I gained a lot of lessons and knowledge that allowed me to see architecture from a broader perspective. I learned many new things that I could not obtain in university, and experiences that can only be gained by directly engaging in the professional world. I learned that architecture is not just about 2D or 3D works, but about how we combine imaginative ideas into structural mechanics or complex systems so that those ideas can actually be built and implemented.

Above all, I am truly grateful to God because at RAW I felt truly alive—alive as a human being who can socialize, and alive as a design intern who can explore and express himself in architecture. Throughout this journey, RAW taught me that implementing a concept requires good communication and decision-making, as well as trust in one another to solve problems together. At RAW, I also learned how to create spaces that can be experienced by everyone without exception.

During my two months at RAW, I felt deeply connected to the designers—I already consider them as my own older siblings. Whenever I encountered difficulties in my work, they were always happy to help. During breaks, we often joked around. After work, we sometimes spent time together outside, talking about random things, laughing, and sharing fun moments. Even during working hours, there were light jokes that made the atmosphere more relaxed and less stressful. Not only that, sometimes we also spent time together sharing the same hobbies. That environment made my two months at RAW feel like six months. I will truly miss it.

Throughout my internship, I was often deeply impacted by what Kak Rich said. He constantly reminded us to always be grateful for what God has given us. Everything we have achieved is not solely because of our own abilities, but also because of God’s blessings. From that, I learned that to create spaces that can be truly felt, we must put our soul into them. Architecture is not merely a physical creation, but also an imaginative work in the form of space that has a soul and can be experienced by everyone.

Those words made me reflect more deeply on architecture. One of the most important aspects of architecture is not just its visual beauty, but also the soul within it that can be felt by everyone. It’s beautiful.

Through this writing, I would like to express my deepest gratitude to:

  1. Kak Rich, for giving me the opportunity to be part of RAW and for generously sharing his knowledge and professional experience. Every Monday morning, he always provided insights on what needs to be done and reminded us to stay focused on our projects. At unexpected moments, he would also give guidance on our work, helping us avoid going too far in the wrong direction.
  2. All the designers, who were willing to take the time to teach me both hard skills and soft skills, whether related to studio projects, software, academic experiences, or many other things. Thank you for always answering my questions, even when they might have sounded simple due to my limited knowledge. Thank you also for creating such a warm and supportive family-like environment.
  3. My housemates at Boboto, who spent time chatting, joking, and sharing moments outside working hours. Thank you for being my second home and for creating memories that I will never forget.
  4. The entire RAW family, who always welcomed me warmly and never made me feel like a stranger.

Lastly, I am truly happy and grateful to have been part of the RAW Architecture family. Even though my time at RAW was short, the feelings and experiences I gained will stay with me forever. I hope that in the future, I will have the chance to meet all of you again.

Best Regards,
Friendly Leonard Panjaitan

Kategori
Team - Reflection Letter

Alvita Aqilah – Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Reflection Letter:

Hi, I’m Vita, a recent architecture graduate from Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), and this is a short reflection on my three-month internship journey at Realrich Architecture Workshop.

I decided to take this internship as a step to gain more experience in the architectural field and to better prepare myself for what lies ahead. At the time, I thought I would mainly learn about how projects are done, drawings, renderings, and all the technical aspects that come with it.

But along the way, I realized it was much more than that.

During my time here, I didn’t just learn about technical skills. I learned about the responsibility of how every small decision matters, and how each drawing carries intention. I learned about communication and teamwork, about listening to different perspectives, and understanding how ideas evolve through discussion. I also learned by observing how people think, how they approach problems, and how leadership is practiced in real situations, not just in theory.

One of the most meaningful parts of this journey was the people. I met so many great individuals who not only supported me but also broadened my perspective in ways I didn’t expect. Each conversation, each collaboration, somehow shaped how I see architecture — and even how I see myself.

Looking back, this experience has been more than just an internship. It has been a space to grow, to reflect, and to challenge myself. And now, as I move forward, I realize that I’ve changed, not only in how I work, but also in how I think and carry myself.

Now, I can genuinely say that I’ve grown, both professionally and personally. Thank you for the lessons, the memories, and the growth 🩶

Kategori
Team - Reflection Letter

Muhammad Faizal Shidqi – Universitas Diponegoro

Reflection Letter:

Setelah lulus dari kuliah, kita semua pasti akan menghadapi ribuan pertanyaan: “what’s next?”,”Do you still wanna be an real ‘architect’?”,”How to make it possible then?”. Itu semua melayang di dalam kepalaku dan tak pernah berhenti. Ketika hal itu terjadi, aku perlu rehat sejenak dan mulai mencari titik awal itu untuk bermula. Yang ada di benakku waktu itu hanyalah satu hal: aku perlu belajar kembali dari awal. Aku harus memahami bagaimana bekerja secara profesional, sekaligus mulai merencanakan langkah besar untuk masa depanku, karena ilmu yang aku dapatkan selama kuliah terasa belum cukup untuk memenuhi ekspektasiku untuk menjadi seorang arsitek dengan value yang kuat.

Tempat yang aku singgahi untuk menjadi batu loncatan pertama yakni RAW Architecture. Jujur, aku tidak memiliki gambaran bagaimana studio arsitek bekerja. Seiring berjalannya waktu, aku perlahan mengerti bagaimana ide awal yang dimiliki oleh Kak Rich digambarkan menjadi sebuah desain yang holistik dan memiliki karakteristik kuat kemudian diwujudkan rancangannya menjadi bangunan yang eksis dan memiliki arti kuat bagi penggunanya. Jika didengarkan saja mungkin cukup mudah, namun proses yang terjadi ternyata sangat kompleks dari yang dibayangkan. 

Aku belajar banyak bagaimana bekerja sama tiap tim yang strategis dan harmonis. Dimulai dari konsep desain yang tak pernah habisnya untuk diubah-ubah oleh Tim Sophia demi menjadikannya sebagai desain yang terbaik untuk penggunanya. Tim Analitik membantu memecahkan permasalahan lapangan yang berkaitan dengan iklim, Tim Techne maupun Episteme mendesain lebih lanjut untuk menjadi gambar kerja yang nantinya akan diwujudkan oleh Tim Phronesis. Aku menjajal hampir semua tim untuk mendapatkan experience yang bisa menguatkanku untuk merancang gambaran besar untuk karir kedepan. 

Disamping itu, aku bisa mengatakan bahwa RAW Architecture merupakan ‘rumah’-ku untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan semua designer yang sangat suportif dan Kak Rich yang mengajarkan value yang ia miliki kepada designer maupun intern untuk menjadi arsitek yang berempati dan humanis. Ditengah kesibukannya, Kak Rich masih bisa untuk menyempatkan waktunya untuk berada di tengah-tengah bersama kami dan memberikan lecture dan motivasi yang tak terduga dan sangat disayangkan untuk dilewatkan. Pengalaman ini perlahan membentuk cara pandangku terhadap profesi ini bahwa arsitektur adalah bukan hanya tentang merancang atau mendesain saja, tetapi tentang belajar, berdiskusi, dan tumbuh bersama dalam setiap tahapnya.

Belajar selama kurang lebih enam bulan di RAW Architecture membuatku memiliki gambaran kecil yang sangat bermakna dan kuat untukku melangkah lebih jauh kedepan. Tak lupa, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Kak Rich dan Kak Yudith yang bersedia untuk menerimaku dengan hangat ke dalam rumahnya.
  2. Kak Tyo yang dengan sabar membimbing dan menjadi tempat bertanya, bahkan untuk hal-hal kecil yang seringkali justru menjadi fondasi pemahaman.
  3. Team Leader yang tidak hanya mengarahkan pekerjaan, tetapi juga memberikan ruang untuk belajar, mencoba, dan berkembang melalui proses.
  4. Para designer yang sangat helpful dan penuh insight untuk menjadi ruang cerita di sela-sela bekerja maupun istirahat.
  5. Teman-teman Intern yang menjadi bagian dari perjalanan ini, berbagi dinamika, tantangan, dan momen-momen sederhana yang justru paling berkesan.

Enam bulan bukan waktu yang singkat untukku belajar. Namun selama itu, aku merasa sangat diterima untuk menjadi bagian dari ‘keluarga’ RAW Architecture. Tidak ada kata yang bisa kuutarakan selain terima kasih sebesar-besarnya dan ini bukanlah pertemuan akhir. Semoga aku bisa kembali untuk berkontribusi lebih besar di lain waktu.

Kategori
blog

Noah Kindergarten Construction Progress

Melalui proyek Noah Kindergarten di Cipinang, Jakarta Timur, RAW Architecture belajar untuk menyusun dan terus mengembangkan makna “kesempurnaan,” sebuah proses yang dijalani, demi anak-anak yang akan belajar dan bertumbuh di dalamnya. Di balik banyaknya individu yang terlibat dalam proyek ini, terdapat rangkaian panjang qc checklist sebagai bagian dari upaya bersama menuju kualitas terbaik.

Di proyek ini, arsitektur menjadi penyambung visi sekolah untuk lebih tulus, membumi, dan melihat visi sebagai aksi pembelajaran seumur hidup. Kedamaian, sebagaimana ditemukan di alam, menjadi salah satu parameter utama. Di balik bentuk-bentuk lengkung dan pengalaman ruang yang sekuensial, sekolah ini adalah rajutan asa yang menjadi perjuangan orang-orang yang ada di balik layar.

50 persen proses yang telah berjalan hingga saat ini tidaklah mudah dan masih terus bertumbuh. Seiring Indonesia yang terus bertumbuh, demikian pula harapan untuk kondisi global yang lebih baik, dan mimpi akan terciptanya ruang belajar yang membumi bagi anak-anak kami. Noah, seperti namanya adalah bahtera yang melindungi sekaligus membuka dirinya akan berbagai macam kemungkinan. Dalam alam keyakinan, ia hadir sebagai kesadaran yang dijaga dengan kepedulian dan kasih.

Untuk pertama kalinya, proses pengembangan proyek ini dibagikan melalui sebuah video di kanal youtube studio kami: https://youtu.be/1XAdqRh0RJ8 (Link di Bio)

@sekolahnoah @realricharchitectureworkshop


Melalui proyek ini kami, di RAW Architecture belajar untuk menyusun “sempurna”, demi anak – anak yang akan belajar di dalamnya. Qc check list yag begitu banyaknya dibalik begitu banyak manusia yang mengerjaka proyek ini.

Arsitektur adalah penyambung visi sekolah untuk lebih tulus, membumi, dan melihat visi sebagai aksi pembelajaran seumur hidup. Kedamaian seperti di alam, menjadi satu parameter. Dibalik bentuk lengkung, sekuensial pengalaman, sekolah ini adalah rajutan asa yang jadi perjuangan orang – orang yang ada di balik layar.

50 persen proses yang tidak mudah dan terus bertumbuh. Indonesia yang terus bertumbuh, harapan untuk kondisi global yang semakin baik, dan mimpi tempat belajar anak – anak kami yang membumi. Noah seperti namanya adalah bahtera yang melindungi juga membuka dirinya akan berbagai macam kemungkinan, dalam alam
Keyakinan, sebuah titik yang sadar dan punya perhatian kasih.

Baru kali ini kami merangkai banyak video ini di youtube studio kami.

Kategori
blog

Happy Hue

Me including my team deeply grateful to have crossed paths with Happy Hue.

It resulted to two reflections (articles), “How Selflessness and Vision Build Humanity, Not Ego” and “A Case for Craftsmanship: Three Javanese Principles that Shape Every Design” reflect a careful process of reading and understanding. It shows the struggles and commitments we carry here are not presented as achievements, but as a continuing journey shaped by values, relationships, and care.

Happy Hue reached out to us by email on November 10, 2025, inviting us to be part of Hue Voices. It is fascinating to see how their lived experiences in their website have formed a wide and layered perspective.

We believe this platform becomes a sincere effort to share reflections that may gently touch other people’s lives. Also their view on the balance between body and soul and searching for the small fragments that connect the two, reminded us of Stephen R. Covey’s The 7 Habits of Highly Effective People, where the balance between body, heart, and mind is described as an interdependent process of becoming fully human.

For us, every relationship we build in this world is an effort worth carrying forward to the next generation, as a work of humanity. We hope that the bonds formed through our shared paths may bring blessings, and slowly repay our responsibilities to the world we live in. Hopefully through this encounter, our connection may grow into beautiful fragments in our heart

We are grateful for the way Happy Hue took time to sit with the ideas behind what we do: craftsmanship, humility, and a way of building that remains grounded in cultural memory and collective effort. The writing gently reminds us that architecture, at its core, is not about form alone, but about how one chooses to exist with others.

Thank you, @happy_hue, and the Hue Voices platform, for holding space for this conversation with attentiveness and sincerity. We are thankful to be part of a wider dialogue that connects voices across places — quietly, thoughtfully, and with intention.

To read our conversation on Hue Voices:
https://huevoices.substack.com/p/how-selflessness-and-vision-vows
https://huevoices.substack.com/p/a-case-for-craftsmanship-three-javanese

Kategori
blog

Adiwastra – Super Pattern

Adiwastra – Wastra adalah bahasa Sansekerta yang berarti “kain”; Adi berarti “super, luar biasa”. Sulit untuk tidak menggunakan kata superlatif ketika berbicara tentang tradisi tekstil Indonesia. Tidak hanya kainnya, tetapi keterampilan yang dimiliki oleh para pembuatnya juga luar biasa, terutama jika dikaitkan dengan kehidupan istana dan upacara keagamaan.

Adiwastra – Wastra is Sanskrit for ‘cloth’; Adi means ‘super, extraordinary’. It’s hard not to use superlatives when discussing Indonesia’s textile traditions. Not only the fabrics themselves, but also the craftsmanship of their makers is extraordinary, especially when associated with court life and religious ceremonies.

Pa’Doti Langi’ (Toraja – Sulawesi Selatan)

Pa’Doti Langi’ adalah motif ukiran utama dari Toraja, Sulawesi Selatan yang secara harfiah berarti “ilmu langit”. Motifnya berupa palang berjejer dengan bintang di tengah, seperti berasal dari langit. Motif ukiran ini sering ditemukan di rumah Tongkonan pusaka, atau pada usungan jenazah wanita bangsawan. Pa’Doti Langi’ menjadi simbol kepintaran atau prestasi, kearifan, ketenangan, serta cita-cita yang tinggi atau pemikiran yang jauh ke depan.
Sumber: Johana Tangirerung, Galeri Mamasa, Detikcom

Pa’Doti Langi’ is a principal Torajan carving motif from South Sulawesi, literally translated as “knowledge of the sky.” The composition typically features a sequence of cross forms with a central star, evoking a celestial origin. This motif is commonly found on ancestral Tongkonan houses and on the funeral biers of noblewomen. Pa’Doti Langi’ signifies intellectual attainment, wisdom, composure, and elevated aspirations or visionary thought.

Kain Timur (Maybrat – Sorong, Papua Barat Daya)

Berasal dari Papua Barat, Kain Timur dibuat menggunakan teknik ikat lungsi yang diperkenalkan oleh pendatang dari Timor dan Flores, di mana polanya dibuat dengan mewarnai benang vertikal (lungsi) sesuai motif akhir sebelum ditenun. Oleh karenanya, terdapat kemiripan motif dengan yang ditemukan di Nusa Tenggara. Warna merah biasanya melambangkan keberanian dan pengorbanan, warna hitam mengandung arti perlindungan dan kekuatan, sedangkan warna putih melambangkan kesucian dan niat baik. Kain Timur biasa digunakan sebagai ritus atau bagian dari alat upacara adat, mahar kawin, atau denda adat, menjadi lambang persatuan dan perdamaian. Di beberapa tempat digunakan juga sebagai alat pembayaran.
Sumber: Tenun Tradisional Indonesia, Thomas Wanggai, Papua Around

Originating from West Papua, Kain Timur is produced using the warp ikat technique introduced by migrants from Timor and Flores, in which the pattern is created by dyeing the vertical threads (warp) according to the intended motif prior to weaving. As a result, its motifs share similarities with those found in Nusa Tenggara. The color red typically symbolizes bravery and sacrifice, black signifies protection and strength, while white represents purity and good intentions. Kain Timur is commonly used in ritual contexts or as part of ceremonial regalia, as a bridewealth item, or as customary fines, serving as a symbol of unity and reconciliation. In some communities, it also functions as a medium of exchange.

Ulos Sadum (Batak Toba – Tapanuli Utama, Sumatera Utara)

Sadum adalah kain tenun atau ulos bercorak cerah dan meriah dari Batak Toba. Biasanya berlatar warna merah dengan motif alam seperti bunga yang melambangkan suka cita, kebahagiaan, dan kasih yang mengalir dari generasi ke generasi. Sering dikenakan sebagai pakaian pesta, disampirkan di bahu pria dan wanita, atau umum juga dipakai untuk menggendong bayi. Motif bunga ini diambil dari sebuah ulos sadum asal Tarutung, Tapanuli Utama yang diwarisi si pemilik dari ibunya pada tahun 1940.
Sumber: Adiwastra Nusantara (Achjadi & Waworuntu), Tobatenun, detikcom

Sadum is a brightly colored woven textile, or ulos, from the Batak Toba tradition. It typically features a red background with natural motifs such as flowers, symbolizing joy, happiness, and affection passed down through generations. Sadum is often worn for festive occasions, draped over the shoulders of both men and women, and is also commonly used to carry babies. The floral motif referenced here is derived from an ulos sadum from Tarutung, North Tapanuli, inherited by its owner from his mother in 1940.

Kain Kisar (Suku MeherSuku OirataPulau Kisar, Maluku)

Berasal dari Pulau Kisar di Maluku, kain Kisar dibuat dengan teknik ikat lungsi. Coraknya berupa garis-garis halus diselingi jalur-jalur lebar berisi ornamen yang terinspirasi dari kain Patola dari India. Terkadang juga menampilkan adegan manusia berburu, naik kuda, burung berkepala dua dan ayam jago, seperti lukisan prasejarah yang ditemukan di dinding gua-gua cadas pulau tersebut. Warna merah merepresentasikan tanah Kisar, sementara hitam menjadi simbol kesatuan dengan bumi. 
Sumber: Tenun Tradisional Indonesia, AB Leurima, Antara

Originating from Kisar Island in Maluku, Kain Kisar is woven using the warp ikat technique. Its design typically features fine stripes interspersed with broader bands containing ornaments inspired by Indian Patola textiles. Some examples also depict scenes of human figures hunting, horseback riding, double-headed birds, and roosters, reminiscent of prehistoric paintings found on the island’s rock cave walls. The color red represents the soil of Kisar, while black symbolizes unity with the earth.

Songket Siak Indrapura (Melayu – Siak Indrapura, Riau)
Songket adalah kain tenun dengan benang emas atau perak dari tradisi Melayu di Sumatra. Selain ditemukan di Riau, Palembang, dan Minang (Sumatra Barat), songket juga bisa ditemukan di Makassar, Sulawesi, Lombok, dan Kalimantan, terutama di tempat-tempat di mana kesultanan Islam berkembang. Dahulu songket umum dikenakan para bangsawan kerajaan sebagai sarung pendek untuk pria dipadu dengan celana panjang dan sebagai sarung panjang untuk wanita. Bermotif alam dan nilai Islam, kain songket umumnya melambangkan ketaqwaan, budi pekerti, kerukunan. Motif bunga cengkih secara khusus bermakna kasih sayang & lemah lembut. Songket dari Kesultanan Siak Indrapura ini dibuat pada awal abad ke-20 dengan bahan sutra.
Sumber: Adiwastra Nusantara (Achjadi & Waworuntu), Kajian Univ. Trisakti (Lestari & Riyanti)

Songket is a traditional Malay woven textile from Sumatra, characterized by the use of gold or silver threads. In addition to Riau, Palembang, and Minangkabau (West Sumatra), songket is also found in Makassar, Sulawesi, Lombok, and Kalimantan, particularly in regions where Islamic sultanates once flourished. Historically, songket was worn by royal nobility—styled as a short sarong paired with trousers for men, and as a long sarong for women. Its motifs, inspired by nature and Islamic values, generally symbolize piety, virtue, and harmony. The clove flower motif specifically signifies affection and gentleness. This particular songket from the Sultanate of Siak Indrapura was made in the early twentieth century using silk.

Songket Sambas (Melayu – Kalimantan Barat)

Songket Sambas merupakan kain tenun dari Kalimantan Barat yang merupakan hasil perpaduan budaya Melayu, Tionghoa, India, dan Dayak pesisir. Seperti songket dari Sumatra, penggunaan benang emas atau perak menjadi ciri khas songket ini dengan pola yang terinspirasi dari nilai Islam dan alam, khususnya pola floral. Motif bunga melur/melati melambangkan kesucian, kesopanan, dan keanggunan. Selain di Sambas, songket dari Kalimantan bisa ditemukan juga di Ketapang dan Pontianak.
Sumber: Mahardika, Detikcom

Songket Sambas is a traditional woven textile from West Kalimantan, reflecting a confluence of Malay, Chinese, Indian, and coastal Dayak cultural influences. Similar to songket from Sumatra, it is distinguished by the use of gold or silver threads, with patterns inspired by Islamic values and the natural world, particularly floral motifs. The jasmine motif symbolizes purity, modesty, and elegance. Beyond Sambas, songket weaving traditions in Kalimantan can also be found in Ketapang and Pontianak.

Batik Nitik (Jawa – Yogyakarta)
Berasal dari DIY, motif nitik termasuk motif tertua yang berkembang di lingkungan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Batik Nitik digambar menggunakan canting cawang yang cucuknya dibelah menjadi empat dan saat dioleskan menghasilkan titik-titik persegi seperti pola piksel. Teknik ini awalnya diciptakan untuk meniru tenun patola dari India yang mahal. Motif geometris yang modular dan simetris bermakna keteraturan relasi manusia, Tuhan, dan alam semesta. Dengan teknik menitik alih-alih menggores, dibutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi untuk membuat batik nitik, apalagi seringkali dibuat tanpa gambar pola terlebih dahulu. Maka tak heran bila batik nitik sering dianggap sebagai simbol keuletan dan ketekunan. Motif yang serupa dengan batik nitik, terutama yang terinspirasi dari tenun patola juga bisa ditemukan di Sumatera, Sumba, Bali.
Sumber: Cerita Kain Nusantara, Complexion of Indonesia

Originating from the Special Region of Yogyakarta, the nitik motif is among the oldest patterns developed within the Yogyakarta Sultanate court. Batik nitik is created using a canting cawang, whose nib is split into four, producing small square dots resembling pixelated patterns when applied. The technique was originally devised to imitate the costly Indian patola textiles.Its modular and symmetrical geometric motifs signify the ordered relationship between humans, God, and the universe. Executed through a dotting rather than drawing technique, batik nitik requires exceptional patience and precision, often produced without a preliminary pattern sketch. For this reason, it is widely regarded as a symbol of perseverance and diligence. Similar motifs inspired by patola textiles can also be found in Sumatra, Sumba, and Bali.

Kalambi (Dayak Iban – Sintang, Kalimantan Barat)
Kalambi adalah pakaian adat dari Suku Dayak di Kalimantan berupa jaket atau rompi (tanpa lengan). Kalambi biasanya dikenakan oleh laki-laki untuk memimpin ritual, juga oleh perempuan penting di dalam suku. Material yang digunakan beragam: kalambi bisa terbuat dari kulit kayu, tenun, atau kain berhias manik-manik. Kalambi dari Suku Dayak Iban ini dibuat dengan menggunakan teknik tenun yang unik. Motifnya dibentuk dari tenunan dasar, sementara pakan tambahan berupa benang berwarna-warni justru mengisi latar belakang. Motif bunga sidan pada kalambi biasanya melambangkan keanggunan, keberanian, serta keselarasan manusia dan alam.
Sumber: Adiwastra Nusantara (Achjadi & Waworuntu), Beri, Disporapar Kalbar

Kalambi is a traditional garment of the Dayak people of Kalimantan, typically in the form of a jacket or sleeveless vest. It is commonly worn by men when leading rituals, as well as by women of high standing within the community. The materials vary; kalambi may be made from bark cloth, woven textiles, or fabric adorned with beads. This particular kalambi from the Dayak Iban is produced using a distinctive weaving technique. The motif is formed through the base weave, while supplementary weft threads in vibrant colors fill the background. The bunga sidan motif generally symbolizes elegance, courage, and the harmony between humans and nature.

Kategori
blog

Lumintu House and Kampoong Guha – Archdaily Building of The Year Nominee 2026

RAW Architecture would like to express our deepest gratitude to the ArchDaily team, especially the curatorial team, for the opportunity and recognition given to our work. Two of our projects, Lumintu House and Kampoong Guha, have been nominated for the ArchDaily Building of the Year 2026.

For us, this nomination is not an endpoint, but a pause to acknowledge a long and continuously unfolding journey. It is an appreciation of trust, time, and the many hands and minds that chose to walk together, clients who believed in the process, teams and craftsmen who stayed patient and attentive, and a shared commitment to learning along the way. We believe that architecture is always the result of a collective effort.

Lumintu House and Kampoong Guha share a common thread while growing from different scales and intentions. Rooted in Jakarta and Tangerang’s tropical climate, both projects explore bioclimatic responses through passive strategies such as layered facades and vegetation, air-stacking effects, and deep natural daylight to create open spaces where wind, light, and landscape flow naturally.

From this process, two distinct characters took form. Lumintu House as a personal, experimental residence with a calm and precise material language, and Kampoong Guha as an evolving mixed-use, kampung-like environment that combines living, learning, working, and communal life (animals + humans) through low-tech materials and adaptive reuse. If the projects resonate with you, we warmly invite you to read more through the link below.

Lumintu House
https://www.archdaily.com/1027248/lumintu-house-realrich-architecture-workshop

Kampoong Guha
https://www.archdaily.com/1033888/kampoong-guha-realrich-architecture-workshop

For our studio, both projects represent important milestones—seeds for future works, shaped by long-term learning, collaboration, and continuous exploration. We see this nomination as a celebration of process, people, and ideas that continue to grow together.

With heartfelt gratitude, we thank everyone involved in this long journey. Let’s celebrate this journey together, the best is yet to come.

Photograph : @kiearch @luil_mn @aryophramudhito

Kategori
Team - Reflection Letter

Raniya – Universitas Mercu Buana

Reflection Letter:

Hai! Nama aku Raniya, atau bisa juga Raniya al–Aulagie. Saat ini aku berada di semester tujuh Jurusan Desain Interior di Universitas Mercu Buana. Ketertarikan aku terhadap dunia desain interior berawal dari hal yang sederhana, yaitu kegemaranku bermain The Sims dan berbagai gim dekorasi rumah. Dari aktivitas tersebut, aku mulai menyadari ketertarikan pada pengolahan ruang, penataan interior, dan bagaimana sebuah ruang dapat memberikan kenyamanan serta karakter tertentu. Ketertarikan inilah yang kemudian mendorong aku untuk memilih Desain Interior sebagai bidang studi.

Di pertengahan masa SMA, aku sempat mempertimbangkan untuk mencoba masuk ke ranah arsitektur. Namun, pada saat itu aku masih merasa ragu dengan kemampuan diri sendiri dan mempertanyakan apakah aku mampu bertahan di dunia arsitektur yang terasa lebih kompleks dan menantang. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap memilih Desain Interior, yaitu jurusan yang sejak awal memang paling aku minati.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya semester perkuliahan, aku mulai kembali menyadari adanya ketertarikan yang cukup kuat terhadap arsitektur. Ketertarikan tersebut aku wujudkan dengan mulai aktif menghadiri berbagai seminar dan pameran arsitektur. Salah satu seminar arsitektur yang pernah aku ikuti adalah seminar yang diselenggarakan oleh OMAH Library dan JAAI, yang aku ketahui melalui kolaborasi dengan salah satu program studi di kampus aku. Seminar tersebut menghadirkan Pak Cahyo sebagai narasumber utama. Pengalaman mengikuti seminar di OMAH memberikan kesan tersendiri dan semakin membuka wawasan aku terhadap dunia arsitektur.

Memasuki semester tujuh, Program Studi Desain Interior mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk mengikuti program internship. Pada saat itu, kantor pertama yang langsung terlintas di pikiranku adalah RAW Architecture. Hal ini tidak terlepas dari pengalamanku yang sebelumnya sudah beberapa kali berkunjung ke OMAH, serta rasa kagum aku terhadap bangunan Guha The Guild. Meski demikian, aku sempat merasa ragu untuk melamar internship di RAW Architecture karena latar belakang akademik aku adalah Desain Interior, sedangkan RAW Architecture merupakan kantor arsitektur. Namun, rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba akhirnya mengalahkan keraguan tersebut, sehingga aku memutuskan untuk melamar sebagai intern di RAW Architecture.

Bagi aku, keputusan untuk melamar internship di RAW Architecture merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah aku buat. Aku sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan untuk dapat bergabung dan belajar di RAW Architecture. Sejak awal proses pendaftaran, motivasi utama aku adalah untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Selama menjalani masa internship, aku menyadari bahwa pembelajaran yang aku peroleh jauh melampaui ekspektasi awal. Aku mendapatkan pendampingan yang intens dan terarah dalam memahami bagaimana arsitektur diterapkan secara nyata di dunia profesional. Rutinitas di studio serta setiap tugas yang aku terima selalu memberikan semangat tersendiri, karena melalui setiap proses tersebut aku memperoleh banyak pengetahuan dan sudut pandang baru yang sebelumnya belum pernah aku miliki.

Selain pembelajaran akademis dan keterampilan teknis, pengalaman aku selama berada di RAW Architecture juga berperan besar dalam membentuk karakter dan kedewasaan diri. Lingkungan kerja di RAW tidak hanya terasa profesional layaknya sebuah kantor, tetapi juga hangat dan penuh rasa kekeluargaan, di mana setiap individu saling mendukung, menghargai, dan peduli satu sama lain.

Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kak Rich dan Kak Yudith yang telah menciptakan wadah bagi aku dan para intern lainnya untuk tumbuh dan belajar. Salah satu pesan Kak Rich yang aku ingat adalah untuk tidak pernah berhenti mencoba dan tidak takut gagal menjadi pengingat yang sangat berarti bagi aku, bahwa jalan menuju kesuksesan memang harus melewati banyak kegagalan.

Terima kasih juga aku sampaikan kepada Kak Tyo, yang telah membantu aku sejak proses wawancara pertama. Di tengah kesibukan kakak, Kak Tyo selalu meluangkan waktu untuk membantu dan menjawab berbagai pertanyaan aku, hingga akhirnya aku bisa “graduate” menjadi S.Raw hehehe.

Untuk Kak Putra, Kak Riyan, Kak Chai, Kak Hanifah, Kak Acha, dan Kak Novi, aku sangat bersyukur karena di tengah kesibukan dan padatnya aktivitas yang mereka jalani, mereka tetap bersedia meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman, wawasan, serta berbagai insight yang sangat berarti bagi proses belajar aku. Kesediaan mereka untuk mendengarkan, menjawab setiap pertanyaan, dan menjelaskan berbagai hal, mulai dari arsitektur hingga hal-hal yang sebelumnya terasa sulit aku pahami, memberikan dampak besar dalam perjalanan aku. Dengan penuh kesabaran dan perhatian, mereka tidak hanya membimbing aku dalam pekerjaan, tetapi juga membantu aku melewati berbagai kebingungan yang aku alami.

Untuk teman-teman internship aku yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu, terima kasih telah menemani perjalanan aku sejak hari pertama internship. Berbagi proses belajar, cerita, dan pengalaman bersama, dari awal kita memulai hingga satu per satu menyelesaikan masa intern dan terjadi regenerasi intern, menjadi kebersamaan yang tidak terlupakan. Dukungan, canda, dan semangat yang saling diberikan di tengah padatnya pekerjaan membuat proses internship terasa lebih ringan dan bermakna.

Pengalaman, pelajaran, serta berbagai kenangan yang aku peroleh selama berada di RAW Architecture merupakan hal yang sangat berharga dan akan selalu aku kenang dengan penuh rasa syukur. Di tengah kondisi aku yang harus berada jauh dari keluarga, lingkungan kerja di RAW Architecture justru menghadirkan rasa hangat dan kebersamaan layaknya sebuah keluarga. Kesediaan untuk menerima aku sejak awal, membimbing dengan sabar, serta berbagi begitu banyak pengetahuan dengan tulus membuat aku merasa sangat beruntung dapat menjadi bagian dari keluarga besar RAW Architecture. Bagi aku, RAW Architecture bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sebuah tempat yang memberikan pengalaman luar biasa dan tak terlupakan.

Kategori
Team - Reflection Letter

Aisyah Nailah Humaira – Universitas Brawijaya

Reflection Letter:

Halo semuanya, perkenalkan nama saya Aisyah Nailah Humaira, mahasiswi semester 7 arsitektur Universitas Brawijaya. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kak Rich dan Kak Yudith karena telah memberikan saya kesempatan untuk dapat mengikuti intership di RAW Architecture. Saat ingin mendaftarkan, ada beberapa kekhawatiran yang saya rasakan. Apakah saya bisa jika harus magang dan berkuliah diwaktu yang bersamaan? apalagi saat ini saya sudah masuk ke semester 7 dimana harus mengerjakan seminar dan bimbingan secara online. Tapi, setelah dipikir-pikir lebih baik menyesal karena mencoba daripada tidak sama sekali. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba dan berharap bisa menjalankan keduanya dengan baik. Ternyata keputusan ini merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil dan tidak pernah saya sesali sekalipun. Selama kurang lebih 5 bulan magang disini, saya mendapatkan banyak sekali ilmu dan pengalaman baik dalam bidang arsitektur maupun hal-hal lain di luar itu, saya bisa simpulkan bahwa RAW Architecture adalah tempat yang tepat untuk saya belajar dan bertumbuh.

Ketertarikan saya pada RAW Architecture bermula dari proyek Sekolah Alfa Omega, yang membuat saya ingin mengenal firma ini lebih jauh. Saya sangat menyukai karya-karya RAW Architecture yang sering memadukan unsur modern dengan lokalitas. Selain itu, ada alasan lain mengapa saya memilih untuk mengikuti internship disini, yaitu saya mendengar bahwa RAW Architecture memiliki lingkungan kerja yang sehat dan suportif. Setelah menjalaninya langsung ternyata benar adanya, semua orang menyambut kehadiran intern dengan sangat baik, kesalahan-kesalahan yang saya perbuat karena minimnya pengetahuan dianggap sebagai bagian dalam belajar—“Nggak apa-apa, namanya juga belajar.” Kakak desainer selalu menjawab kebingungan saya dengan sabar dan penjelasan yang mudah dipahami. Tidak ada rasa dihakimi atau malu saat bertanya. Saya juga mendapatkan banyak teman baru selama magang di sini yang menjadi support system dan membuat hari-hari magang saya terasa lebih menyenangkan. Fakta yang terjadi jauh lebih baik dari apa yang saya dengar dan lihat dari sekedar cuplikan singkat di sosial media.

Hal menarik lainnya di RAW Architecture firma ini dijalankan dalam beberapa tim, dimana tidak semua firma memiliki hal tersebut. Bersyukurnya durasi magang saya cukup panjang sehingga bisa bergabung hampir di semua tim yang ada. Saya memulai dengan di Tim Techne dan Episteme, saya banyak belajar tentang gambar kerja dan pengembangan 3D, baik untuk proyek bangunan privat maupun publik. Selanjutnya Tim Sophia, di mana saya belajar tentang abstraksi, pengembangan konsep desain, sekaligus cara berkomunikasi yang baik dalam tim.. Terakhir, di Tim Phronesis, saya mendapatkan pengalaman yang sangat menyenangkan karena bisa terjun langsung ke lapangan untuk melihat progress pembangunan. Melihat bagaimana cara RAW Architecture membuat saya merasa kagum dengan sistem yang telah diciptakan oleh Kak Rich dan Kak Yudith. 

Saya ingin secara khusus berterima kasih juga kepada semua kakak designer yang telah banyak membantu saya dalam belajar maupun sharing hal lain, Kak Tyo, Kak Putra, Kak Acha, Kak Alya, Kak Ezra, Kak Joshi, Kak Rizka, Kak Kamil, Kak Chai, kak Novi, Kak Ikhsan, Mas Beng, Kak Riyan, Kak Shaf, Kak Edho, Kak Tim, Kak Zikri, dan Kak Ken kak Aul, kak Gaby, Kak Zyadi, Kak ingrid, Kak Mei, Kak Irfan, dan Kak Mel. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua teman intern saya, Alma, Edel, Wawa, Feli, Raniya, Kak Ahlal, Helen, Kak Putri, Kak Vita, Gantari, Dimas, Bobby, Farid, Kak Hasan, Kak Faizal yang telah menjadi penyemangat dan membuat hari-hari disisi terasa lebih menyenangkan.

Kategori
Team - Reflection Letter

Alma Asyofi – Universitas Brawijaya

Reflection Letter:

Hello everyone, my name is Alma from Brawijaya University, interning at RAW in my 7th semester. Initially, I took this internship not because I was fully confident in the field of architecture, but more as a way to survive in a major that often made me doubt myself and my abilities.

The year 2025 was the hardest year of my life. I lost my grandmother, the person who raised me, shaped my perspective on life, and was my biggest reason to keep going. Her passing left me feeling lost, unmotivated, and even lacking the spirit to continue my studies. During that time of grief, I decided to return home and chose an internship as a way to slowly stand up again, with one simple hope: to be in a safe, warm environment that wouldn’t drag me down further.

Choosing RAW was not an easy decision, as some said it would be difficult to do while writing my thesis. However, as time passed, I realized that this was not just a decision, but a fate and God’s wonderful plan. These past five months I spent at RAW became one of the most beautiful experiences of my life.

Arriving with very limited skills and knowledge, I was afraid of being judged, afraid of being questioned about what I had been doing during college that made me seem incapable of doing anything. However, what I received was the opposite. I was met with patience, clear guidance, and an incredibly supportive environment. Here, everyone can be a mentor, from team leaders to other designers, all willing to share their knowledge, tips, and experiences without making us feel small. Each team at RAW has its own character, expertise, and warmth, which makes the learning process enjoyable and meaningful.

Thank you so much Kak Joshi, Kak Kamil, Kak Rizka, Kak Nielson, Kak Revi, Kak Gabby, Kak Riyan, Kak Zikri, Kak Shaf, Kak Tim, Kak Edho, Kak Kenn, Kak Zyadi, Ci Mei, Ci Gaby, Kak Ingrid, Kak Aul, Kak Yus, Kak Chai, Kak Ikhsan, Mas Beng, Kak Novi, Kak Tyo, Kak Adit, Kak Ufi, Kak Jocelyn, Kak Arlyn, Kak Sisca, Kak Putra, Kak Ala, Kak Ezra, Kak Acha, Kak Irfan, and Kak Mel. It may seem like a long list, but each of you contributed to an environment that was consistently warm and welcoming. Thank you for teaching me so many things, sharing your experiences and life insights, also telling funny and absurd jokes. every interaction I experienced felt warm and memorable, and will be cherished as my core memory.

My fellow interns also played an important role in this journey. Thankyou to Aisyah, Edel, Wawa, Feli, Kak Ahlal, Raniya, Bobby, Dimas, Farid, Kak Hasan, Shadiq, Kak Avi, Gantari, Fezka, Friendly, Kak Bima, Novell, Kak Faizal, Kak Putri, Kak Vita, Helen, Kak Hasna, Kak Shylla, Kak Manas, Kak Jomul, and many others I cannot mention one by one. Amidst the pressures and challenges of my first internship, their presence made the days feel lighter, whether through work discussions, helping each other out, or simply joking around while deciding what snacks to buy. Thank you for being a safe space and friends to grow with. Everything felt more fun because of you guys, and I wish you all smooth and kind journeys ahead.

My deepest gratitude goes to Kak Rich and Kak Yudith for creating such a warm and humane working environment. At RAW, I learned that architecture is not merely about buildings, space, or profit, but about stories, meaning, and how a space can speak to people. I was able to truly understand this through RAW’s works themselves. This perspective answered the question I had carried for so long: why choosing architecture?. Thank you once again for the opportunity and for all the valuable experiences. I sincerely wish Kak Rich and Kak Yudith continued happiness, health, and blessings. May every step and responsibility be carried out with ease and grace. May Miracle and Heaven grow into wonderful individuals, and may all their good dreams come true. I hope we can meet again in the good moments God has planned.

Thank you also to the rest of RAW DOT OMAH team, and a special mention to Bibi who always prepared us delicious food. I will always remember your amazing dishes. Wishing you health and happiness always, Bibi.

In closing, this internship journey began as an attempt to survive. But I am returning home with something far more valuable, which is understanding, confidence, and new hope. I look forward to all the great things RAW will continue to create and the positive impact it will bring to many others. Thank you, thank you, thank you, and see you at the top of the world!

Kategori
Team - Reflection Letter

Muhammad Nur Hasan Firdaus – Universitas Bina Nusantara

Reflection Letter:

Halo teman-teman restless spirits! Nama saya Hasan, saya mahasiswa BINUS University jurusan Arsitektur. Alhamdulillah saya telah menyelesaikan internship saya selama 6 bulan di RAW Architecture sejak Agustus 2025 lalu. Saya bersyukur sekali kepada Sang Pencipta karena telah diberikan bimbingan dan ditakdirkan untuk mendapatkan pengalaman internship di RAW Architecture. Menurut saya, RAW Architecture memiliki program internship yang terbaik, karena saya mempelajari segala aspek dalam fase proyek arsitektur, mulai dari masuknya proyek baru dari klien, sampai pengembangan konsep, perancangan konsep struktur dan MEP, perencanaan detail interior dan eksterior, hingga pengecekan design melalui simulasi thermal, simulasi CFD, dan pemeriksaan realita design dengan kunjungan lapangan untuk memeriksa pengerjaan di lapangan. Untuk mewujudkan pembelajaran arsitektur yang lengkap tersebut, saya mengalami rotasi perpindahan tim setiap bulannya.

Di bulan pertama, saya ditempatkan di tim Techne – Normatif di bawah bimbingan Kak Reviy. Di tim ini, saya belajar mengenai perancangan detail teknis sesuai dengan standar RAW Architecture seperti perancangan pedestal, perencanaan parket, pintu kayu, reflected ceiling plan, plumbing, rencana pola keramik, decking kayu, perhitungan kubikasi, dan gambar detail toilet. Bagi saya tugas yang paling sulit adalah gambar detail toilet karena banyak sekali yang perlu digambarkan dan dianotasikan serta banyak sekali aturan dan pertimbangannya sehingga perlu banyak revisi dengan Kak Reviy. Namun di perancangan detail toilet inilah kurikulum terbaik bagi pemula untuk memahami fundamental dalam perancangan detail teknis arsitektur karena memaksa saya untuk mengintegrasikan berbagai aspek teknis mulai dari utilitas air, rencana pola material yang presisi, hingga standar ergonomi manusia ke dalam satu ruang yang kompleks.

Di bulan pertama, saya juga turut membantu tim Phronesis beberapa kali di bawah bimbingan Kak Yusrul, Kak Zyadi, dan sempat juga satu hari di bawah Kak Aul di bulan terakhir. Di tim ini, saya belajar mengenai ilmu lapangan. Berdasarkan pengalaman saya di Phronesis, ilmu lapangan meliputi 3 hal, yakni pengecekan pengerjaan kontraktor, koordinasi dengan para stakeholder dan vendor, dan perhitungan daya dan biaya. Menurut saya tugas yang paling menantang adalah di tim Phronesis adalah ketelitian dan kesabaran dalam mengecek pengerjaan di lapangan dan penyelesaian argumentasi di lapangan, karena saya pribadi mudah untuk mengatakan “tidak apa-apa kok..” dan saya mudah bosan. Namun belajar dari Kak Yusrul, Kak Zyadi, Kak Aul dan Kak Irfan bahwa di lapangan, kita perlu sabar, teliti, dan teguh dalam mempertahankan design kita dengan cara dan adab yang baik.

Di bulan kedua, saya pindah untuk belajar di tim Analitik di bawah bimbingan Kak Adit dan Kak Tyo untuk mempelajari ilmu simulasi thermal dengan software simulasi untuk memeriksa hasil perancangan tim RAW Architecture. Hal ini kita lakukan untuk memeriksa keberhasilan bioclimatic design approach kita. Dari Kak Adit dan Kak Tyo saya belajar bahwa di RAW Architecture, bioclimatic design approach itu benar-benar dihayati dengan cara pemeriksaan ketat dengan data dan simulasi, bukanlah hanya sekedar branding. Kita benar-benar memeriksa apakah kita benar-benar berhasil untuk menghadiahkan sebuah kurikulum hidup yang terbaik untuk orang-orang yang telah memberikan kepercayaan kepada kita.

Di bulan ketiga, saya berkesempatan untuk belajar di tim Sophia di bawah bimbingan Kak Riyan, Kak Timothy, Kak Shafira, Kak Edho, Kak Kenn, dan Kak Zikri untuk mempelajari ilmu pengembangan konsep arsitektur. Menurut saya tim Sophia ini berisikan individu-individu yang memiliki ilmu khusus yakni pandai dalam mensyarahkan hasil tafsir principal kami Kak Realrich terhadap kebutuhan dan keinginan klien. Dalam proses pensyarahan tersebut, terjadilah argumentasi perancangan antara tim leader yakni Kak Riyan dengan para designer dengan kemudian para intern untuk menghadirkan beberapa opsi untuk memecahkan masalah kebutuhan dan keinginan tersebut. Inilah yang saya pahami sebagai proses awal realisasi dari abstraksi. Tugas yang paling berkesan bagi saya di tim ini adalah saat saya harus menghadirkan sebuah solusi kanopi pergola untuk area outdoor decking + kolam yang sempit di bawah bimbingan Kak Riyan dan Kak Shafira, sehingga pencahayaan, sirkulasi udara, dan sirkulasi traffic sangat terbatas. Setelah berbagai macam revisi, kami merancang sebuah sistem kanopi openable pergola device yang ringan. Kanopi pergola dapat dibuka tutup sesuai cuaca dan keinginan owner, sehingga pencahayaan alami dan sirkulasi udara tetap terjaga. Kanopi pergola juga cukup ringan sehingga tidak memerlukan kolom tambahan sehingga sirkulasi traffic penghuni rumah akan terasa amat lega karena lantai bebas dari kolom. Saya belajar dari Kak Riyan, Kak Shafira, serta Kak Kenn, Kak Edho, Kak Zikri, dan Kak Timothy bahwa seni lukis itu beda dengan seni perancangan, karena di dalam seni perancangan kita akan membangun sesuatu yang nyata, yang berdampak nyata terhadap manusia, hewan, tumbuhan, dan alam. Oleh karena itulah, setiap titik, garis, bentuk, rupa, dan tekstur perlu dipertimbangkan dengan sangat amat baik.

Di bulan keempat, saya mendapatkan panggilan untuk kembali ke tim Techne namun sekarang saya masuk ke dalam tim Techne – Substantif. Di tim Techne – Substantif, saya mempelajari ilmu perancangan detail teknis seputar tektonika arsitektur dan fabrikasi khusus di bawah bimbingan Kak Putra, Kak Alya, Kak Aca, Kak Ezra dan sempat juga membantu Kak Rizka dari tim Techne – Normatif selama sehari. Dari kakak-kakak ini saya belajar untuk menyusun gambar perencanaan fabrikasi yang sangat detail, seperti untuk kabinet walk-in closet (WIC), railing pipa melengkung pelindung area void pada sebuah proyek sekolah, pendetailan teknis pagar meliuk-liuk, hingga perancangan dan instruksi pemasangan hasil fabrikasi rumah kucing untuk sebuah proyek residensial. Di tim in, saya belajar bahwa untuk merealisasikan design elemen-elemen arsitektural meliuk-liuk yang menjadi ciri khas RAW Architecture, diperlukan gambar-gambar perencanaan yang terkadang amat rumit untuk mengfabrikasikan benda-benda tersebut. Oleh karena itu kita tidak hanya bisa menhasilkan konsep dengan bentuk-bentuk unik dan indah, namun kita harus juga tahu cara meralisasikannya melalui fabrikasi. Dari tim Techne – Substantiflah saya baru sadar mengapa principal kami yakni Kak Realrich Sjarief sangat amat begitu cinta dengan ilmu pertukangan, karena dari ilmu pertukanganlah kita dapat merealisasikan sebuah konsep perancangan. Praktik tanpa teori itu buta, dan teori tanpa praktik itu hanya dugaan.

Di bulan kelima, saya dirotasikan ke tim Episteme untuk mempelajari ilmu perancangan detail teknis untuk proyek skala komersil dibawah bimbingan Kak Chai, Kak Novi, dan asistensi bersama Mas Beng selaku Senior Technical Officer. Secara tugas, Kak Chai menugaskan saya untuk membuat penggambaran door and window schedule untuk sebuah proyek perkantoran dan pabrik di bawah pengawasan dan bimbingan Kak Novi. Pada awalnya saya kira ini akan paling lama membutuhkan hanya 2 hari berdasarkan dari pengalaman saya di tim Techne – Normatif, namun ternyata penggambaran door and window schedule ini berlangsung selama 2 minggu. Hal ini karena saya belum sadar betapa besar skala proyek komersil ini. Ternyata, saya harus menggambarkan lebih dari 46 gambar tampak jenis jendela dan 21 jenis pintu yang berbeda, dengan detail dan informasi aksesoris dan anotasi dimensi untuk masing-masing gambar. Kemudian saya harus menggambar ulang beberapa jenis jendela akibat dari perubahan design setelah asistensi dengan Kak Chai dan Mas Beng. Hal ini karena pertimbangan keamanan para karyawan dan perawatan jangka panjang. Contoh pintu kayu itu kita sepakat untuk mengubah menjadi pintu aluminium karena resiko kebakaran seiring sebelah kantor ini adalah pabrik. Serta beberapa jendela hidup yang kita ubah menjadi jendela boven zig-zag mati, agar minim biaya perawatan dan tiadanya bagian jendela yang bergerak. Dari pengalaman bersama Kak Chai, Kak Novi, dan Mas Beng, saya belajar betapa besarnya efek domino itu di dalam skala proyek komersil. Hal ini karena saya turut memperhatikan bagaimana setiap perubahan kecil akan berdampak besar terhadap waktu perencanaan dan perancangan. Karena proyek komersil itu untuk keperluan bisnis, lantas klien ingin perencanaan, perancangan, pembangunan, dan operasional bangunan itu akan terlaksanakan dengan efisien dan seaman mungin. Oleh karena itu, saya belajar bahwa setiap keputusan perubahan design di sebuah proyek komersial yang sedang berjalan, itu kemungkinan besar karena untuk dua hal, yakni untuk meningkatkan efisiensi pembangunan dan operasional, atau untuk meningkatkan keamanan pembanguunan dan operasional.

Di bulan terakhir, saya bersyukur sekali karena saya diberikan kesempatan oleh principal kami Kak Realrich Sjarief untuk mengambil ilmu project & studio management dari Kak Melisa, Kak Irfan, dan Kak Mei di tim Strategic. Di tim Strategic inilah tempat terjawabnya pertanyaan terbesar saya yakni “bagaimana kah cara kerja sebuah bisnis firma arsitektur?”. Untuk menjawab pertanyaan yang besar ini, yang macro ini, diperlukan pembelajaran dari sebuah tim yang memang tugasnya berada di ranah macro. Selama 5 bulan yang lalu, saya mempelajari pekerjaan skala micro yang dilakukan oleh masing-masing tim spesialisasi, sekarang waktunya untuk saya mempelajari sistem yang mengatur, mengayomi, dan membimbing kinerja keenam tim tersebut untuk menyelesaikan berbagai macam proyek yang kita sedang kerjakan. Menurut saya, hal yang paling berkesan dari tim Strategic itu betapa gesitnya Kak Mel, Kak Mei, dan Kak Irfan dalamnya memecahkan berbagai macam permasalahan yang ada di setiap fase proyek arsitektur yang ditangani oleh masing-masing tim RAW Architecture. Maupun itu tahapan ketemu dengan klien, konsep, perancangan detail normatif dan substantif, dan ilmu lapangan untuk proyek komersil maupun residensil. Hal ini karena pengalaman Kak Mel, Kak Mei, dan Kak Irfan yang cukup lama dan beragam di bidang arsitektur.  Inilah yang membuat saya sadar betapa pentingnya pengalaman dan keragaman dalam ilmu teori dan praktik.

Secara kesimpulan, program internship RAW Architecture adalah program internship terbaik yang pernah saya alami. Setelah 6 bulan, pengalaman dan keragaman dalam ilmu teori dan praktik memudahkan saya untuk memahami setiap tahapan proses proyek arsitektur serta memahami sistem kerja sebuah firma arsitek. Tidak hanya itu, tapi canda tawa yang senantiasa saya alami di budaya studio yang penuh dengan lelucon dari kakak-kakak dan para intern yang lucu mengasilkan suasana yang sangat hangat, welcoming, dan keceriaan. Aktivitas bersama-sama seperti main bulu tangkis, makan bersama-sama, dan board games bersama designers dan interns mewarnai hari-hari saya di RAW Architecture. Terima kasih banyak Kak Realrich, Kak Yudith, Kak Tyo, Kak Caroline, Kak Yusrul, Kak Reviy, Kak Kamil, Kak Zyadi, Kak Adit, Kak Riyan, Kak Timothy, Kak Shafira, Kak Kenn, Kak Edho, Kak Zikri, Kak Putra, Kak Ezra, Kak Aca, Kak Alya, Kak Rizka, Kak Ikhsan, Kak Chai, Kak Novi, Mas Beng, Kak Melisa, Kak Mei, Kak Irfan, Kak Aul, Kak Joshi, Kak Gaby, Kak Nielson, Kak Gabby, dan Kak Ingrid. Terima kasih juga teman-teman OMAH, Kak Ufi, Kak Sisca, Kak Jo, Kak Arlyn. Terima kasih juga teman-teman Admin, Kak Nisa, Kak Reffi, Kak Clou, Pak E, Kak Aldian, Kak Lita, Kak Putri, dan Kak Nurul. Terima kasih sebanyak-banyaknya teman-teman semua karena kalian semua sudah menerima saya sebagai bagian dari RAW Family dan memberikan ilmu yang amat luar biasa untuk saya terus berkembang sebagai manusia yang bermanfaat. Tetap-tetap semangat dan teruslah berkaya teman-teman restless spirits!

Kategori
Team - Reflection Letter

Novellia Shafa Nur Saputri – Universitas Diponegoro

Reflection Letter:

Hallo! Namaku Novellia Shafa Nur Saputri, orang-orang biasa memanggilku Novel dan umurku 21 th baru-baru ini. Sebagai seorang pelajar arsitektur, saat ini aku berada di semester tujuh dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro. Di tahun terakhirku sebagai mahasiswi, aku memutuskan untuk keluar dari zona nyamanku dengan memilih mengeksplor dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dalam hal ini aku mencobanya dengan magang di RAW Architecture untuk belajar dan eksplor lebih lanjut di dunia arsitektur. Aku bersyukur sekali dengan kesempatan ini.  

Pada saat mendesain, aku selalu tertarik dan ingin tahu sudut pandang arsitektur lebih lanjut, terutama dalam hal konsep, analisis, dan detail-detail tertentu pada gambar kerja. Hal ini dikarenakan tugas akhirku membahas sesuatu yang rumit dan tanpa ku sadari kerumitan itu juga menjadi challenge positif untukku, yakni agar tetap bisa melakukan yang terbaik, baik untuk diriku dan lainnya, dalam hal keingintahuanku di bidang ini.

Aku masih ingat, perasaan bahagia ketika mendapat email balasan dari RAW setelah menunggu beberapa saat. Hal itu menjadi keputusan terbaik yang pernah kubuat, sehingga membuatku  bersyukur, karena belajar disini membantuku berpikir lebih detail, kritis, dan berpikir bahwa desain yang dirancang tidak hanya tentangmu tetapi juga tentang orang lain “bagaimana orang lain merasa nyaman menggunakan desain yang kamu propose.” Sehingga hal-hal itulah yang membuatku ingin lebih mempelajari arsitektur lagi dan lagi. 

Dalam hal ini, aku ingin berterima kasih kepada orang-orang baik hati yang sangat membantuku selama magang, yaitu diantaranya:

  1. Kak Rich dan Kak Yudith, saya ingin berterima kasih karena diizinkan untuk mengenyam kesempatan gabung sebagai intern menjadi RAW family. Terimakasih juga atas sharing ilmu dan insight baru yang bermanfaat, terutama pada weekly meeting di hari Senin, yang dimana insight-insight itu sangat meaningful dan berarti untukku. 
  2. Kak Joshi, Kak Zyadi, Kak Irfan, Kak Ufi, Kak Riyan, Kak Tyo, Kak Melissa, Kak Chai, Kak Revi, Kak Kamil, Kak Riska, Kak Nielson, Kak Gabby, Kak Inggrid, Kak Aul, Kak Gaby, Kak Zikri, Kak Shafira, Kak Edho, Kak Ikhsan, Kak Beng, dll yang membantuku serta mengajariku dengan baik sebagai mentor walaupun terkadang aku sulit memahami, tetapi perjalanan itu berarti kepadaku. Terutama pada saat site visit, itu benar-benar cool dan menarik.
  3. Teman-teman Internshipku, Alma, Edelweiss, Wawa, Rania, Aisyah, Feli, Manas, Ka Vita, Ka Putri, Ka Shilla, Ka Faisal, Ka Hasna, Bobby, Farid, Hasan, Dimas, dan Ka Ahlal roomate kamar kos ku. Terimakasih semuanya, untuk tawa, canda, dan bantuannya yang membuatku tidak menjadi orang asing untuk berbaur disini pada D-1 hingga aku selesai magang. Terimakasih telah menerimaku. 
  4. Bibi dan tim lainnya, yang membantu dibalik layar serta membantu menyajikan masakan-masakan enak untuk keberlanjutan hal yang berarti saat sedang mengerjakan tugas-tugas magang. 

Last but not least, aku sangat senang dan bahagia sekali bisa diberikan kesempatan menjadi bagian dalam RAW. Karena tempat yang baru ini walaupun jauh dari keluarga serta tempat berkuliahku, aku tetap merasa mendapatkan keluarga seperti The Hashira pada Demon Slayer. Terimakasih karena menerimaku dan memori ini akan aku ingat di hati yang dalam dan pikiran yang baik. The best team in the world!! ;)

Salam hangat,

Novellia Saputri

Kategori
Team - Reflection Letter

Muhammad Farid Zia Pridjie – Universitas Bina Nusantara

Reflection Letter:

Perkenalkan, nama saya Muhammad Farid Zia Pridjie, mahasiswa Arsitektur Universitas Bina Nusantara yang saat ini sedang menjalani tahun keempat perkuliahan. Selama empat bulan terakhir, saya telah menjalani program internship di RAW Architecture, sebuah pengalaman yang sangat saya syukuri dalam perjalanan hidup saya. Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ka Rich dan Ka Yudith yang telah memberikan saya kesempatan berharga untuk belajar lebih dalam mengenai dunia arsitektur profesional. Perasaan saya saat mengakhiri masa internship ini terasa campur aduk, penuh canda, tawa, kebahagiaan, dan juga kesedihan karena harus berpisah dengan keluarga yang selama ini saya anggap sebagai rumah kedua. Di RAW, saya tidak hanya belajar mengenai pekerjaan arsitektur, tetapi juga tentang makna kekeluargaan, cara berkomunikasi dengan tim, bagaimana menyampaikan ide kepada klien, memahami proses konstruksi, hingga memperhatikan detail dan craftsmanship dalam setiap karya.

It has been a true joy to be part of RAW Architecture. From the very first day, I received countless insights, lessons, and meaningful hands-on experiences, especially in understanding the real professional world of architecture. I still clearly remember my first day at Guha, arriving with very limited knowledge but a strong desire to learn, and at that moment I was immediately reminded that the professional world is truly on another level. The warm welcome from Ka Rich opened my perspective that architecture is about the process, about growing through both success and failure, and about the importance of having great mentors along the journey. From someone who was often unsure, afraid of making mistakes, and feeling not good enough, I slowly learned to adapt, to ask questions, to speak up, and to take responsibility for my work. From a confused intern, I now leave with confidence and a belief that I am walking on the right path.

I would also like to express my deepest gratitude to all the designers at RAW Architecture:; the Phronesis Team Ka Yusrul, Ka Aul, Ka Ingrid, Ka Gaby; the Episteme Team Ka Chaii, Ka Ihsan, Mas Beng; the Sophia Team Ka Zikri and Ka Riyan; the Strategic Team Ka Ci Mei, Ka Irfan, Ka Melisa; the Techne Team Ka Putra, Ka Ezra, Ka Joshi, Ka Kamil, Ka Revi; the Analytic Team Ka Tyo and Ka Adit and all other designers whom I may not have mentioned individually. Thank you for filling my days with warmth and color, from rainy afternoon talks at Sky, the chaos of group food orders, to heartfelt conversations at Warung Bang Yus. Special thanks as well to the Omah Team for continuously inspiring me through your remarkable architectural works.

To my fellow Interns, especially the RAWR group, binusian gang Wawa, Edelweiss, Hasan, Bobby, Dimas, Hasan, Jonathan, Bima, Faisal, Alma, Aisyah, Felicia, Shylla, Hasna, Ahlal,Putri, Vita, Friendly, Fezka, Shadiq thank you for being my safe space to share stories, struggles, and laughter. You guys are amazingg. Kalian semua adalah mentor, sahabat, sekaligus keluarga yang memberikan saya begitu banyak pembelajaran berharga tentang dunia arsitektur dan kehidupan profesional.

Sebagai penutup, saya hanya ingin mengatakan bahwa setiap pelajaran, cerita, dan momen yang saya dapatkan di RAW akan selalu saya simpan dan bawa ke langkah saya berikutnya. Semoga semua yang saya pelajari di sini dapat saya terapkan dengan baik dan memberi dampak positif, sekecil apa pun, bagi dunia arsitektur dan lingkungan sekitar. Terima kasih RAW, atas semua kepercayaan, kenangan, dan pembelajarannya. See you guys in another Journey

Best Regards,

Muhammad Farid Zia Pridjie 

Kategori
Team - Reflection Letter

Edelweiss Aydindra Sabariman – Universitas Bina Nusantara

Reflection Letter:

Halo teman-teman semuanya,
perkenalkan namaku Edelweiss Aydindra Sabariman, biasa dipanggil Edel. Aku adalah mahasiswa jurusan Arsitektur yang sedang menempuh pendidikan di Binus University. Saat pemilihan jurusan, I knew exactly that I wanted to study architecture. But I had zero expectations, I didn’t even know how to start. Di sinilah kebingungan itu terjadi. My days were filled with confusion. I went through six semesters with a very big question mark on my face.

Sampai ada di titik aku bertanya ke diri sendiri, “Bagaimana sih cara mendesain dan make it happen?” Spoiler alert: I did not find my answer until the 7th semester, which is now—today—when I finally interned at RAW Architecture. So here’s the journey.

Aku merasa sangat beruntung bisa berkuliah di Binus, di mana Himpunan Mahasiswa Arsitektur mengajak kami, para mahasiswa, untuk mengunjungi dan mengenal bagaimana studio arsitektur itu bekerja. And somehow, I stumbled upon Guha Experience, and I decided to join the tour. Meeting Kak Rich for the first time was a life-changing experience for me. The way Kak Rich explained that he is a sentimental person—and that he is proud of it, embracing it through his designs and studio—really left an impact on me.

Ada satu kalimat yang stuck with me sampai sekarang, yaitu ketika Kak Rich mengatakan bahwa menjadi orang yang peka dan sensitif bukanlah sebuah kekurangan; it is our third eye. Sebuah indra kepekaan yang intuitif. As a person who has always been in her denial phase because I am sensitive and sentimental, somehow I felt seen.

The moment I stepped in and was guided through Guha Experience by Kak Ufi, I knew that this was my place to grow. Saat itu aku belum tahu bagaimana caranya, tapi aku tahu aku akab n kembali ke sini. I looked over to my best friend, Wawaa, and she said she felt the same way about Guha and RAW Architecture. It was such a full-circle moment for us—being guided by Kak Ufi for the experience in October 2024, and then in August 2025 being guided by Kak Tyo for an office tour, because we were finally back at Guha as interns at RAW Architecture.

Pengalamanku magang di RAW Architecture akan menjadi core memory selamanya. I met so many wonderful friends—Wawaa, Feli, Alma, Aisyah, Raniya, Sister Ahlal, Novel, Kak Vita, Kak Putri, Bobby/Nafis, Dimas, Farid Binus, Hasan, dan semua teman-temanku lainnya yang tidak cukup aku sebutkan satu per satu. They made this experience filled with laughs and emotional support. Setiap hari selalu ada ceritanya, entah itu keluhan ataupun kesenangan. Semua kami ceritakan sambil menyantap masakan Bibi yang super mega DASYAT.

I also met so many mentors dan kakak-kakak designer yang selalu sabar mengajari kami para intern yang kebanyakan nanya, tapi pas sudah diliatin suka tiba-tiba bisa sendiri—hehehe. Terima kasih Kak Kamil, Kak Joshi, Kak Revi, dan Kak Nielson yang menyambut kedatanganku sejak day one dan mengajarkanku cara menggunakan AutoCAD maupun SketchUp. Terima kasih Kak Riyan, Kak Shafira, Kak Zikri, Kak Ken, dan Kak Edho yang mempercayaiku untuk meng-handle task yang menurutku a very big deal for an intern, serta menanamkan nilai-nilai baik dalam diriku.

Terima kasih Kak Chai, Kak Ikhsan, Kak Novi, dan Mas Benk atas semua ilmu teknis dan canda tawanya. Terima kasih juga untuk Kak Tyo, Kak Yusrul, Kak Irfan, Kak Mel, Ci Mei, Kak Ala, Kak Aul, Ci Gabby, Kak Inggrid, Kak Putra, Kak Gabby, Kak Adit, Kak Ezra, dan Kak Aca. Mungkin aku jarang, bahkan tidak pernah, bekerja bersama secara langsung, tapi terima kasih telah membuat suasana RAW selalu hangat dan penuh kerandoman yang lucu. Suasana sore hari di Sky, dengan lagu-lagu Olivia Dean yang terputar, akan menjadi caraku mengingat RAW as it is.

What a privilege to be tired from work I once prayed for, and what a privilege to feel overwhelmed by growth I used to dream about. I am so lucky to be in a place where ilmu tersebar di setiap sudut Guha, dan kami bebas mengeksplorasi serta menyerap pengetahuan dari berbagai divisi. I will forever miss the family I had for five months—including para kambing, keluarga anak-beranak Mickey, para ayam polandia yang suka berkokok pas kami lagi kerja dan kura-kura berlipstik (bibirnya merah karena selalu makan siang buah naga).

Thank you for the amazing five months. InsyaAllah, our paths will cross again.

Xoxo,

edelweiss

Kategori
Team - Reflection Letter

Nasywaa Najlaa Abiyyah – Universitas Bina Nusantara

Reflection Letter:

Halo semua! kenalinn namaku Nasywaa Najlaa Abiyyah, Wawaa panggilan akrabnya. Mahasiswa semester 7 di BINUS University, yang sangat beruntung karena berkesempatan mengungkapkan perasaan Wawaa selama 5 bulan belajar di RAW Architecture.

“What’s meant for you will always find its way to you” Perumpamaan itu sepertinya bisa menggambarkan bagaimana Wawaa bisa mengenal RAW. Nggak sengaja ikut Arch-firm visit dari kampus tapi cuma bisa daftar satu firma karena kuota penuh, lalu timbul rasa penasaran dan mau tau lebih banyaak. Pada saat experiencing GUHA, nggak berhenti merasa “WAAHHH KOK BISA GINI YAA??” di setiap ruang yang wawaa lewati. Saat tiba waktu sharing session bersama kak Rich, kalimat kak Rich yang selalu Wawaa ingat adalah saat kak Rich bilang bahwa the whole point dari berarsitektur adalah untuk membahagiakan orang lain and to be a good Architect, we have to know how the process to “meng-hayat-i” Manusia. Keeping our sensitive side and loving others through our work life as an Architect. Dari situ Wawaa yakin bahwa kak Rich adalah Role Model Wawaa dalam berarsitektur. Dari banyak nya karya hebat para Arsitek hebat, sedikit yang melihat Karya sebagai ‘gifts’ untuk memberi banyaaakkk manfaat ke sekitar. Seperti Ayah & Bunda Wawaa yang selalu mengenalkan Wawaa dengan dunia yang penuh cinta, dan melihat bagaimana kak Rich dalam berarsitektur, begitulah awal Wawaa melihat Arsitektur as a blessing — Untuk membagikan lebih banyak cinta ke Dunia. 

Siapapun yang sedang membaca tulisan ini dengan tujuan sama seperti Wawaa, ngumpulin sebanyak – banyaknya ilmu, this is the right place for us. RAW INDEEEED THE BEST OFFICE IN THE WORLD. Tempat belajar terbaik. kalo RAW adalah makanan, sepertinya akan jadi Ayam pakar, Risol Mba Any, Mo tahu walik, dan Xing Zhuan (go-to semua orang karena paling mantap se Meruya versi wawaa selain masakan Bibi). Keseharian di studio begitu menyenangkan dan penuh ilmu baru setiap harinya karena ritme pekerjaan di studio yang sangaat dinamis serta penuh challenge. disini wawaa belajar bagaimana kehidupan studio arsitektur sebenarnya, melihat progress proyek sedang di bangun, koordinasi kakak-kakak di lapangan dengan kontraktor, vendor, dan client. belajar membuat gambar kerja yang tepat, dan tempat dengan jajanan yang enak sekali. Setiap sudut RAW bisa dijadikan tempat belajar. cari aja di RAW, SEMUAAA ADA! 

“I believe that architecture has the incredible power to shape our surroundings and influence how we feel, live, and interact with one another. How do we create environments that bring comfort, joy, and a sense of belonging to those who experience them.”

Itu yang Wawaa rasakan selama 5 bulan Wawaa internship di RAW. Dikelilingi orang-orang hebat, lingkungan yang hangat dan menyenangkan. Rasanya seperti rumah kedua. Seisi GUHA mulai dari Tim Sky yang sudah bermigrasi ke Guha extension, Tim Benteng, Tim OMAH, Tim bambu, Bibi, Sus, hingga Tim Biru semuanya disini sangat terbuka dan ramah. Rasanya semua saling menjaga dan penuh support satu dengan yang lainnya. Semua Kakak-kakak Designer yang sangaat supportif dan sangaat sabar dalam berbagi ilmu. Setiap hari selalu penuh dengan cerita. Wawaa & kak Ingrid yang berpetualang ke proyek dengan tas kembar kami, kak Gaby, kak Aul, & Wawaa yang bermanuver tajam ke mall PP karena ada keperluan mendadak disana, Obrolan ringan wawa dengan kak Tyo yang cekikikan dan kelas dadakan yang super seruu, playlist lagu kak Adit, dimensional kak Joshi, kak Rizka, kak Revi, kak Ala, kak Aul, kak Chai, kak Kamil, dan kakak-kakak lainnya semua selalu penuhhh ceritaa. Walaupun kadang jadi larut karena keasyikan belajar & ngobrolnya, tapi seperti kalimat “What a privilege to be tired from the work I prayed for and surrounded by a lovely people” it’s all worth it. 

Di sepanjang cerita yang Wawaa tuliskan, selalu ada Edel di semua era itu. ingin sedikit menyampaikan terima kasih karena sudah menjadi sahabatku yang melihat arsitektur dari sudut pandang yang sama, bertumbuh dan berkembang bersama, hingga membersamai aku melewati 5 bulan Internship di RAW. Untuk Teman-teman ladiesku, Aisyah, Alma, Feli, Raniya, terimakasih sudah selalu mendukung saat sedih & saling merayakan saat bahagia. What a beautiful friendship that we created. untuk sister Ahlal, kak Sylla, kak Hasna, Farid, Bobby, Dimas, Hasan, kak Putri, kak Bima, kak Helen, Novel, Gantari, Fezka, Friendly, dan kawan-kawan lainnya, terimakasih sudah menambah warna kehidupan intern wawaa di RAW dengan kehadiran kalian. 

Terima kasih sebanyak banyaaknya untuk Kak Rich & Kak Yudith atas kesempatan dan pengalamannya yang sangat berharga di RAW, terima kasih sudah menciptakan environment GUHA yang sangat hangaat dan penuh rasa, Terima kasih banyak kak Rich atas segala ilmu nya terutama tentang cara berfikir arsitektur dari sudut pandang kak Rich sehingga Arsitektur selalu terlihat menyenangkan. What a privilege untuk bisa belajar di tempat yang sejalan dengan keinginan Wawaa sebagaimana yang selalu Wawaa impikan. Wawaa harap semua orang dapat melihat arsitektur dengan cara yang sama & semakin banyak cinta yang bisa kita berikan untuk dunia, seperti yang selalu diajarkan di RAW setiap harinya. 

Akan Wawaa tutup dengan Selamat malam @kak Realrich, berikut progress internship Wawaa selama 5 bulan ini :

* Belajar arsitektur dengan menyenangkan

* Berkenalan dengan kambing bogor family & silsilah keluarga mickey minnie, Berinteraksi dengan para ayam berjambul

* Berinteraksi dengan adik-adik di Perpustakaan Buku Anak

* Belajar di lapangan 

* Jajan setiap hari bersama kakak-kakak dan teman-teman

* a hundred “kaaak, wawaa mau bertanya”

* Makan masakan bibi yang selalu NIKMAT

RAW always has a special place in my heart. I’m gonna miss the family I had in 5 months. Jadiii, semogaa kita semua sehat agar bisa bertemu lagii di lain kesempatan ya kak, Thank you kaak!

cc: Tim Techne, Tim Phronesis, Tim Analytic, Tim Sophia, Tim Episteme, Tim Strategic, Tim OMAH, dan semuaa kawan intern.

Salam Hangat,

Nasywaa Najlaa Abiyyah (wawaa).

Kategori
Team - Reflection Letter

Nafis Roziq Bagaskara – Universitas Muhammadiyah Surakarta

Reflection Letter:

Hi everyone, glad to have crossed paths with you all, saya Nafis Roziq Bagaskara.

Hampir enam bulan ini bukan sekadar tentang durasi, tapi tentang sebuah perjalanan internal yang saya sebut sebagai trilogi pertumbuhan. Semuanya berawal dari sebuah fase yang I’d like to call as being Slow. Di awal, saya sempat merasa kehilangan arah, berusaha menyerap DNA studio yang begitu dalam, memahami betapa beratnya makna di balik setiap garis yang ditarik, dan belajar menavigasi kompleksitas arsitektur yang selama ini hanya saya lihat di permukaan.

Perlahan namun pasti, ritme itu mulai menemukan bentuknya and eventually I found my Flow. Saya mulai menemukan detak jantung saya sendiri di antara presisi digital monitor dan realitas tanah yang tak terduga. Di dalam fase inilah I feel like I’ve truly started to Grow. Bukan hanya tumbuh sebagai seorang calon arsitek yang mahir secara teknis, tapi tumbuh sebagai manusia yang belajar tentang tanggung jawab dan kerendahhatian.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa menjadi arsitek yang baik adalah tentang memiliki semua jawaban dan bekerja secepat kilat. Namun, berada disini benar-benar membuka celah perspektif saya yang lain. Saya belajar bahwa it’s okay to feel small karena biasanya dari titik nadir itulah pembelajaran sejati dimulai. Saya belajar untuk lebih banyak mendengar daripada bicara dan lebih banyak mengobservasi daripada sekadar menggambar.

Menyeimbangkan tumpukan logbook, tanggung jawab kampus, dan dinamika studio memang menuntut energi yang besar. Namun, saya menyadari bahwa setiap tetes lelah itu adalah sebuah Langkah dan ketulusan yang memang harus ditunaikan. Saya pulang tidak hanya dengan portofolio yang lebih baik, tapi dengan pikiran yang lebih tenang dan hati yang lebih sabar.

Sekarang, saat bab ini harus tertutup, saya menyadari bahwa pengalaman ini telah memberikan saya benih untuk masa depan. This is not a goodbye but a final flashback to my learning phase: Slow, Flow, and Grow. Saya tidak ingin terburu-buru, namun saya menaruh harapan besar hopefully everything I’ve been through here will lead me closer and eventually bring me easier into my Glow.

Terima kasih, RAW Architecture. It’s been a quiet, beautiful, and life-changing journey.

Warm regards to,

Kak Realrich Sjarief & Kak Yudith Best Mentor In the World & Mrs Best Mentor In the World

Kak praseTyo & Kak Caroline The Behind All Access

Kak Andriyan, Kak Tim, Kak Zikri, Kak Shafira

Kak Kenn & Kak Edho

Master Leader, Master Splendor, Master Dune, Master CAD 2, Master Panel 1, Master Panel 2

Kak Chairunissa, Kak Noviola, Kak Masbeng, Bang Isantuy

Mrs. Arigtoune, Master CAD 3, Mr BoQ

Magnus Carlsen

Bang Joel, Bang Kamil, Kak Nielson, Kak Reviyana, Kak Riskasra, Kak Gabby

Pelari Kalcer, Mr. Forget, Mr Pantun, RV (sendal kuning)

Tenxi, Mrs. Pembuka Pintu Boboto

Bang Yusrul, Kak Gaby, Kak Aulia, Kak Inggris

Bang Zyadi

EL. Runtrough, Pak Sirin 2, Pak Sirun 2, Mang Grandong 2, Bang XSR

Bang Putra, Bang Ezra, Bang kak Alya, Bang Aca

EL. Haduh (pakai nada) , EL. Hamdalah (pakai nada)

Teteh Cisadon, Bang Perunggu

Kak ci Mei, Bang Jadid, Kak Mellisa Mau beli mie Shoor kak hehe, Mr. Respect Swiftiest

Kak ci Mei, Bang Jadid, Kak Mellisa Mau beli mie Shoor kak hehe, Mr. Respect Swiftiest

Kak Adit, Kak praseTyo lagi Mr. Tutorial 1, Mr. Tutorial 2

Teman-Teman Intern Bedul-bedul pencita makanan Bibi

All Omah Staff bismillah Kelas FFFAAARRR

Kak Bibi, Kak Cucus, Kak Mba Preh The Three Musketeers

Tim Biru Sojiya (Gachiakuta)

Kategori
Team - Studio Culture

Back to Genesis- Studio Garasi (Sylvanus)

Cuplikan film pendek ini merekam percakapan bersama kak @silvanusprima, berlatar di masa Studio Garasi RAW Architecture (2011–2015), sebuah periode pembentukan sikap, jiwa kebersamaan padepokan, dan cara berpikir yang menjadi fondasi RAW hingga hari ini.

Video ini kami terbitkan bersamaan dengan peluncuran buku The DNA of RAW DOT OMAH, yang merangkum perjalanan panjang 14 tahun melalui 13 prototipe proyek-proyek rumah tinggal, sistem studio yang tumbuh, dan berbagai pembacaan multiperspektif atas DNA praktik di RAW DOT OMAH.

Melalui perspektif kak Silvanus, kita diajak melihat RAW DOT OMAH sebagai lebih dari sekadar studio: ada rasa komunitas dalam pertapaan, ikatan batin yang terbentuk dari proses, dan tujuan praktik yang perlahan mengerucut, membangun arsitektur sekaligus mewariskan pengetahuan desain ke generasi berikutnya.

Film pendek Studio Garasi juga dapat dilihat selengkapnya di:
https://youtu.be/joU_ggPLJOQ?si=ortFZvoRmKb74Tvs

Kredit Film – Studio Garasi
Produksi: @realricharchitectureworkshop
Script Writer: @luil_mn
DOP: @farhannash
Videographer: @farhannash @satriaapermana @luil_mn @hanifahsausann @nirmaayn @aryophramudhito
Soundman: @farhannash @meinnamelani
Music Scoring: Robi Ardiansyah – Framelens Audio Visual
Video Editor: @farhannash @meinnamelani

Kategori
blog

OPEN HOUSE SKY STUDIO ” The DNA of RAW DOT OMAH Book Lauching”

Dengan rendah hati untuk mewarnai awal tahun yang baik, RAW Architecture dengan bangga mempublikasi buku The DNA of RAW DOT OMAH yang ditulis dan diterbitkan oleh OMAH Library.

Penulisan buku ini memakan selama 14 tahun tidak selesai-selesai, hingga mencapai 294 halaman. Berisi prototipe-prototipe desain rumah tinggal sebelum melangkah ke proyek yang lebih luas dan publik.

Ada 3 hipotesa di buku ini:

  1. Pentingnya proyek personal. 13 prototipe Desain Rumah tinggal menjadi laboratorium awal untuk menguji sikap, metode, dan relasi dengan klien. Proyek tidak hanya dibedah melalui tulisan, tetapi juga melalui dokumentasi yang memperlihatkan bagaimana keputusan desain lahir dari dialog antara iklim, sirkulasi udara, cahaya, keterbatasan material, serta kondisi nyata studio hingga di 2026.

Lihat film pendek Bare Minimalist: https://youtu.be/bKSG4bkLtv8?si=AGHUQVL0Te8r_m8u

  1. Pentingnya sistem studio yang tumbuh. Seiring pembacaan terhadap proyek-proyek di atas, buku ini merekam dinamika Studio Garasi RAW Architecture (2010-2015): DNA sebuah keteraturan yang terus hadir, berulang, dan bertahan di tengah perubahan. Proses inilah yang digunakan untuk menggali, membaca ulang, dan menyadari DNA tersebut sampai lahirnya OMAH Library di 2015.

Lihat film pendek Studio Garasi: https://youtu.be/joU_ggPLJOQ?si=ortFZvoRmKb74Tvs

  1. Pentingnya masukkan multiperspektif. Buku ini diperkaya oleh 4 narasumber: Anas Hidayat, Indah Widiastuti, Jolanda Atmadja, dan Johannes Adiyanto, untuk menjelaskan bahwa ada posisi ambisi, jiwa kebersamaan padepokan, ikatan batin, dan konteks lokal yang sebenarnya juga ada di ranah praktik global.

Buku ini adalah sebuah penyadaran—pencarian eksploratif yang dibaca ulang di akhir 2025-awal 2026, dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya.

Launching buku ini juga kami rayakan dengan mengadakan Open House Sky Studio pada 17 Januari 2026. Seluruh rangkaian acara akan didokumentasikan sehingga yang belum berkesempatan hadir tetap dapat menyaksikannya.

Jika teman-teman tertarik, buku ini bisa di pesan melalui: bit.ly/OrderOMAH

Untuk kegiatan open house bisa mendaftar melalui: bit.ly/OpenHouseRAW (gratis – kuota terbatas)

Kategori
Team - Studio Culture

Studio Culture – Muhammad Irfan Al Mujaddidi

Kak Irfan @almujaddidi adalah salah satu leader di RAW Architecture. Ia lulus dari @its_arch.official dan kini menjadi bagian penting dari Tim Strategic.

Tim Strategic berperan sebagai pusat koordinasi seluruh proyek berjalan: mendeteksi critical point di lapangan, menyusun priority list untuk divisi, sehingga ia seringkali banyak bersinggungan dengan Tim Techne yang memproduksi gambar kerja dan Tim Phronesis yang banyak melakukan koordinasi di lapangan. Dalam perannya di Tim Strategic, Kak Irfan juga berperan memastikan alur informasi berjalan lancar antara apa yang dikerjakan di studio dan kondisi di lapangan.

Saat awal bergabung ke studio RAW di 3 tahun lalu, ia berada di tim Techne yang mengawal pembangunan dan sempat beberapa kali terlibat mendukung tim konseptual. Ia pun belajar bagaimana keteknisan desain diuji melalui detailing serta pemahaman ketukangan dan realisasi desain di lapangan.

Selanjutnya, ia pindah ke tim Episteme dan merasakan dinamika proyek dari diskusi klien hingga integrasi vendor yang intensif dengan kecepatan tinggi. Setahun setelahnya, ia juga sempat dipercaya untuk bergabung di Tim Phronesis. Kini di Tim Strategic, ia bekerja dalam lingkup yang serupa bagaimana mengelola prioritas lintas proyek dengan lompatan yang lebih dinamis.

Bersama RAW DOT OMAH, Kak Irfan menyaksikan studio kami yang terus bertumbuh, ia merasakan adanya pembagian tim yang semakin jelas dan membantu efisiensi dalam pekerjaan. Di studio ini, ia juga banyak bertemu teman-teman yang tidak pelit berbagi pengetahuan dan merasakan hangatnya kebersamaan seperti keluarga.

Pengalaman ini mengingatkan kami pada pemikiran Andres Lepik dalam Small Scale, Big Change (2010) yang kami jadikan referensi di buku Menjadi Arsitek (OMAH Library, 2019):

“… architectural innovation today is often driven by social engagement and the ability to adapt small interventions for big impact, requiring practitioners to work collaboratively across disciplines.”

Arsitektur lahir dari adaptasi cepat, mendengarkan berbagai suara, dan kolaborasi lintas peran, praktik dinamis, kolektif, siap menghadapi tantangan.

Video Editor: @jocelynemilia
Produced by: @guhatheguild

Kategori
blog

Nizamia Andalusia School

Located in East Jakarta, Nizamia Andalusia School is one of RAW Architecture’s educational case studies exploring how existing structures can be reactivated through minimal intervention. The project reuses 99% of a former office building, complemented by carefully inserted new spaces at the front. Two main strategies shape the design: maximizing spatial comfort while minimizing construction impact.

The process began by recognizing the existing wide span structure on the third floor. This condition became the starting point of a poetic gesture, where bridges connect new and existing building phases, allowing movement, interaction, and growth to unfold organically.

1.Poetic Process: Inspired by informal settlement cross programming, the school accommodates diverse activities within a compact and layered spatial arrangement. Classrooms and communal spaces are stacked vertically and linked through bridges, creating continuity across different phases of development. Recycled and locally sourced materials are integrated into the architectural language, expressing values of reuse, adaptability, and contextual sensitivity.

2.Bioclimatic Strategies: Responding to Jakarta’s tropical climate, open circulation, porous facades, and shaded corridors enable cross ventilation and reduce heat gain. Courtyards and vertical voids allow daylight to penetrate deep into the building, creating comfortable learning environments that rely on passive cooling strategies.

As the building took shape, programs continued to grow naturally. The ground floor lobby opens into a generous prayer space that acts as a communal anchor. Like a city, the school accommodates many activities within its walls. Inspired by One Thousand and One Nights, it unfolds layered narratives, where space becomes both activity and story.

This approach resonates with the concept of cross programming discussed by Rafael Moneo, positioning the school as a living body that supports learning, maturity, and collective life.

@nizamiaandalusia

Photo by :
2, 3, 6, 7, 10, 13 @luil_mn
3, 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12 @aryophramudhito

RAWCaseStudy32

#realricharchitectureworkshop #nizamiaandalusia #architecture #school #jakarta

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Engkos

Craftsmen Leader

Merupakan engineering yang bergerak didalam pengawasan konstruksi dan gambar kerja yang berterkait dengan detailing (DOT Workshop)

Kategori
Team - Designer Team - Tier 5

Carmelina Gabriella Handry

Associate Designer

Affiliation Institut Teknologi Bandung

Kategori
blog

Gembrong Market

Gembrong Market is one of RAW Architecture’s case studies in market design. Located in Bogor, known as the “rain city,” the city sits at the foothills of Mt. Salak and experiences frequent rainfall (16-29 days per month), contributing to a cool temperature around 22-30°C. While Jakarta is a trade city, Bogor is like a garden city, also known as Buitenzorg, meaning “peaceful”.

The city’s topography shapes the project site, which has a unique 5,5 m level difference and double access at both the front & rear. Built in the 1960s, Gembrong Market holds a strong historical connection with the local community.

The new market accommodates up to 640 stalls (from 3-9 sqm), including groceries, textiles, electronics, food court, and a children’s playground serving wide range of ages and backgrounds. Further, we interpret the contextual reading through 2 design approaches:

Bioclimatic Architecture

  1. Create levels that connects the ground & lower level, minimize cut-and-fill interventions. The design apply a tent-like long-span roof to support flexible programs arranged within 6 x 6 grid, while allowing continous air circulation.
  2. Use perforated metal facades on both sides to enable cross-ventilation, reducing interior dampness and bring in soft, diffused daylight through an elongated skylight to reduce energy consumption.

Poetic Architecture

  1. Prioritize local materials for cost efficiency by utilizing resources that are readily available, fast to implement, and durable.
  2. Abstract the facade persona archetype expression from the silhouette of Mt. Salak.

In our practice, we’re inspired by readings from Carl Jung’s Collective Unconscious and Archetypes, Jeffrey Kipnis’s A Question Of Qualities: Essays In Architecture, and Paul Goldberger’s Why Architecture Matters. The key aspect of type, such as open plan, small kiosk, path and alley into a tent gesture provide its unique archetype persona, hero, shadow, and its duality.

@pasar.gembrong

Photo by:
1, 2, 7, 8, 11, 14, 16, 18: @luil_mn
2, 5, 10, 11, 13, 17: @aryophramudhito

Design Team & Stakeholders Credit in Bio

Rawcasestudy57

#RealrichArchitectureWorkshop #RAWArchitecture #GembrongMarket #Architecture #Bogor

Kategori
wawancara'

Watch Podcast with Pavel (Indian Director) – Slumdog India vs Sanatan India | Realrich Sjarief

In this landmark international episode of POP Podcast (Ep. 40), we cross oceans and cultures — from India to Indonesia — with the renowned architect and monumental artist Realrich Sjarief. Join us for a profound conversation on: ✨ How Ramayana and Mahabharata influence modern Indonesian design & spirituality ✨ The shared roots of rituals, dharma, and heritage across Southeast Asia ✨ The blend of architecture, art, and philosophy that connects two ancient civilizations From temples to modern cities — discover how mythology continues to shape identity, aesthetics, and the human spirit across borders. 🌏

Kategori
wawancara'

xyzpodcast x realrich sjarief (feat. ryoga dipowikoro)

“ I have invited Realrich for a sharing session and discussion, along with Jan and Sarah to talk about other ways of doing architecture in PAM Event that I co-moderated with Joyee and Haziq. This topic comes even stronger in this second conversation, co-hosted with my friend Ryoga to further explore the architectural knowledge from both practical and pedagogical perspectives. In the end of this interview session, Realrich asked, ‘ what is the best ingredient of Indonesian architectural DNA?” – We wish to invite you to reflect and share with us as well! – Some might not think the cultural identity or locality is an important reference point in the design process, but it is, perhaps, subconsciously designing the thought and mentality of a designer to translate into produced works for the users. Maybe my take to answer Realrich, that the best ingredient is actually the awareness and actualisation with the materiality as a realistic composition… and most of the time this composition might be an incomplete collage of unpredictably beautiful pieces of time and memories… for more to come.” – garyeow, xyz
5:00 childhood : toy making and builder family
12:05 dynamics of practice bridging theory and practice
21:03 ‘life is heaven on earth’ : hardships and thought of giving up?
30:00 form making and transformation via fundamental complexity
38:08 taste : engagement with builder and general public + ornaments as crime?
49:30 architectural evolution and in search of identity
57:25 design process : experiment on imagination and reality
1:08:00 literacy, publication and discourse
1:11:08 throwback to final year project (tisna sanjaya) 1:16:38 strategised architectural practice : sharing economy + arts of war 1:37:20 carlo scarpa, alvar aalto, yb mangunwijaya, boonserm premthada 1:49:03 what is the best ingredient for indonesian architecture dna?

Kategori
wawancara'

Podcast with Kafin Sulthan: Realrich Sjarief – Arsitektur, Kesadaran, dan Filosofi “Unfinished” | Mind Shift

Di balik dinding dan atap, ada ruang yang bisa nyembuhin, bukan cuma menaungi. Episode Mind Shift kali ini menghadirkan Realrich Sjarief, arsitek sekaligus pemikir di balik OMAH Library, Kampoong Guha, dan RAW Architecture. Sosok yang percaya bahwa arsitektur bukan sekadar desain, tapi cara hidup dan cara berpikir. Bersama Kafin Sulthan, kita ngobrol tentang bagaimana ruang bisa membentuk kesadaran manusia, kenapa ketidaksempurnaan (unfinished) justru penting, dan gimana anak muda bisa membangun masa depan dengan nilai, bukan sekadar tampilan. Dari perjalanan spiritual arsitek, tantangan menjaga idealisme di industri, sampai filosofi “kebebasan adalah keterbatasan plus kemampuan” episode ini ngajak kamu mikir ulang tentang makna ruang, waktu, dan diri sendiri.