Kategori
blog

Heavenrich, selamat datang Surga

Ketika Kehamilan Laurensia sudah memasuki minggu ke 38, minggu tersebut adalah minggu kelahiran anak kami. Ini adalah kehamilan yang ke 6 bagi Laurensia. Laurensia sudah terbiasa dengan pulang pergi ke dokter kandungan untuk menanyakan kondisi kehamilan untuk kemudian pulang dengan kesedihan, begitupun kali ini kami pulang dengan ketakutan, takut karena kondisi bayi kami dan masa depan yang tidak bisa terprediksi, kehamilan kedepan, dan persentase keberhasilan yang rendah yang menjadi ketakutan kami.

Miraclerich lah yang mengatakan ke kami bahwa bayi kami adalah laki – laki bukan perempuan seperti USG yang dilakukan ke dokter kandungan ke Laurensia sebelumnya. Setiap malam, ia mendoakan adiknya supaya tetap sehat, di tengah – tengah suntikan yang perlu dilakukan setiap hari ke perut Laurensia, senyum, pelukan, doa Miracle menjadi senyum tersendiri bagi Laurensia. saya percaya bahwa “Tuhan mendengarkan doa dari anak – anaknya.”

Dulu Cherry, anak pertama kami, di dalam ketiadannya menyisakan kesedihan, lubang yang menganga ketika ia tiada. Saya percaya anak Tuhan tetap menjadi malaikat. Mata ini berair ketika mendengar doa Laurensia. “Tuhan apabila masih diberikan kesempatan, berikanlah satu orang malaikatmu untuk menemani kami.”

Berulang kali Laurensia menanyakan tentang nama anak kedua namun saya tidak menjawab karena nama itu muncul karena nama Heaven atau surga itu ibaratnya ada di antara kehidupan dan kematian. Mungkin saya hanya tidak rela kehilangan orang – orang yang saya cintai karena makna ganda tersebut. Saya hanya terlalu jauh berpikir antara makna surga dan dunia. ya nama bayi kami Heavenrich panggilannya even yang berarti begitu ia muncul surga akan datang ke sekitar dirinya. Heaven, heaven, nama yang mengingatkan tempat dimana anak – anak yang menjadi malaikat.

Hari itu, hari rabu pagi kami menginap satu malam dengan protokol COVID, pergi ke rumah sakit Graha Kedoya dengan masker, ia masuk ke kamar operasi jam 06:00 pagi, perawat mempersiapkan dan kami berdoa.

Keesokan dini hari, Laurensia pun dibawa ke ruang operasi dan saya ditemani pak Misnu menunggu di ruang tunggu di depan pintu ruang operasi. Saat – saat itu adalah saat – saat terlama untuk menunggu, waktu sekarang berhenti. Saya ingat Pak Misnu yang sudah ikut keluarga kami dari saya belum lahir, totalnya lebih dari 38 tahun dan sekarang membantu saya dan Laurensia. Ia sudah seperti ayah saya sendiri. Ia ada di dalam kelahiran Miraclerich, ketika saya rapat pertama di dalam perintisan studio, ia menemani menemui klien pertama, menemani proyek terbangun pertama, ia juga yang menemani untuk ikut survei ke daerah Taman Villa Meruya, tempat tinggal kami sekarang. Dan sekarang ia menemani saya lagi. Pak Misnu ada di saat kami sedih dan bahagia. Saat – saat ini saya tidak mau berandai – andai hanya berdoa semoga semua bisa selesai dengan baik.

10 menit berlalu,..

20 menit,…

30 menit,…

45 menit,…

50 menit,..

kemudian ada panggilan

“Pak, bayinya sudah keluar.”

Suster perawat memanggil, dan disitu sudah ada dokter Bertha yang menunggu dan menjelaskan bahwa semua baik – baik saja.

Heavenrich sudah lahir, berkulit putih bersih dengan berat badan 3.3 kg. 1 jam kemudian, Laurensia keluar dan saya pun bersyukur. Hari yang baru untuk keluarga kecil kami. Matahari bersinar cerah, setelah berkat (Miracle) hadir di dalam curahan Tuhan yang berlimpah (rich) kemudian surga pun datang ke dunia, kami adalah orang yang beruntung bisa dititipkan malaikat Tuhan untuk memberikan kidung surga.

Terima kasih Dokter kandungan kami namanya Dr. Raditya Wratsangka. Sungguh saya bersyukur semua bisa selesai dengan baik dan sekilas saya bisa melihat di samping dokter Bertha, Cherry muncul menemani dan menjaga Heaven.

Kamu sudah besar ya nak, papa kangen kamu, terima kasih ya sudah menemani mama dan adikmu.

Kategori
projects

Project 19 – Sarang Nest House

Located in a residential area, Taman Buana Permata house complex, West Jakarta. With an area of 250 sqm, Sarang Nest House consists of 2 generations of families living together, this underlies a centralized circulation and creates a micro-environment through a spatial arrangement with different angles. This angle creates distance between the perimeter of the house and the neighbors thereby allowing air to flow freely around the building while maintaining privacy between spaces. Each room has its own outdoor space. Light enters the room through perforated walls, crevices, windows, and skylights. The shape of this house is tilted to make it more efficient as well as a response from the corner of the building.
.


Text description provided by the architects. Located in a residential area, Taman Buana Permata house complex, Sarang Nest House design redefines house stereotypes and grew organically from the base to becoming, as a reaction to its environmental constraints. Sitting at the hook of the street, the building is facing west and south. The storeys are stacked in angles with protruded spaces enclosed by perforated wall to buffer the heat, either with traditional red bricks or metal screen that gives industrial look in contrast.
.

Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria

The house has four storeys. 250sqm of the ground floor is for the parking area and service quarter where the floor area is partially occupied. One-third of the area is filled with soil to provide setback for the building and serves as a garden for the area on the first floor. Perforated service stair at the corner accessing whole floors and still allowing light to get into the space. While the main staircase with an active fan circulates the air through the skylight. Living dining in 80sqm open plan space and guest area on the first floor are spoiled by a garden and the roof deck which turns into outdoor space.

.

Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria

Strategi kedua adalah memanfaatkan lengkungan bata yang artistik dan fungsional sehingga terbentuklah vista pertama memasuki ruang lobby dimana klien bisa menempatkan, mengkurasi pameran dalam bentuk desain yang ergonomis. Display pameran ini menarik karena bisa direpetisi di dalam sistem dry panel dengan motif semen yang terintegrasi.A 3sqm indoor garden in the center keeps the core connecting the upper storeys and serves as a void for light and air. On perimeter walls, a hint of views from across the house is still visible to see through the gaps between bricks. Going up to the second floor, the space is dedicated mainly to a 40 sqm master bedroom, 21 sqm bedrooms, and a playroom. The perimeter is mostly enclosed by a combination of solid walls and perforated metal screens to keep it private. Yet the most enclosed area like a bathroom is washed by light through skylights.

Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria

The third floor is the top floor. Dominated by open space, 48sqm of a barbeque area, and an enclosed meditation room sit-like pavilion where a 20sqm laundry area is separated by the main stairs. Within the dense residential area, Sarang finds its way to creating a micro-environment by setting up the space in angles. These angles create distance between the house’s outer wall and the neighbors’ which allows air circulation to move freely around the house perimeter, yet it also maintains privacy between rooms. Every room gets its own private outdoor space. Light penetrates the space through perforated walls, gaps, windows, and skylights. Playing out from the grid, the architecture captures the organic and dynamic flow of basic reactions toward nature and the site constraints.
.

Further Credit:
.
Clients: Henry Kusuma Family
Lead Architects: Realrich Sjarief
Design and Project Team: Realrich Sjarief, Agustin, Erick Fei, Riswanda Setyo, Tirta Budiman, Septrio Effendi, Miftahuddin Nurdayat, Regi Kusnadi
Supervisor In Charge: Singgih Suryanto, Sudjatmiko, Muhammad Enoh, Eddy Bahtiar, Endang Syamsudin
Construction Manager: Singgih Suryanto, Agustin
Structure Engineer: John Djuhaedi, Singgih Suryanto
Mechanical And Electrical Engineer: Hamin MEP
Master Craftsmen: Tata Pirmansyah, Aep, Aep Syapuloh, Nari , Solehudin Grandong, Syaipuddin, Dicky, Bonari, Tohirin, Nur Hidayat, Rudi Setiawan
Interior + stylist: Cindy Sumawan
Management: Laurensia Yudith, Reffi Nurkusuma, Nurul
Plan, Illustration Team: Lu’luil Ma’nun, Andriyansyah Muhammad Ramadhan, Satria A. Permana, Agustin, Riswanda Setyo Addino
Curatorial and Writing team: Andhika Annisa, Lu’luil Ma’nun, Aryo Phramudhito, Maylani Tiosari
Photo Credits: Eric Dinardi
Videographer: Muhammad Farhan Nashrullah
.

#rawarchitecturepublication

#Sarangnesthouse #ArchDaily #realrichsjarief #realricharchitectureworkshop #arsitekturindonesia #house #residential

.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 12 – Kofuse Coffee + Dine

Kofuse adalah kafe yang didesain berdasarkan renovasi terhadap struktur bangunan lama. Kami menggunakan garis – garis lengkung yang natural dan dinamis untuk desainnya dengan material bata yang digosok cat putih, beton yang digosok dengan kombinasi batu dan kayu. Kofuse memiliki nuansa seperti suasana museum, galeri yang lebih bersahaja, cantik dari dalam dan artistik.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic House 12 – Condet Home

Rumah ini ada di daerah Condet yang hijau dengan selokan dan dinding pagar yang membatasi di sisi depan. Untuk masuk ke rumah   terdapat jembatan yang melintasi selokan besar selebar 1.5 m.

Orientasi bangunan menghadap utara selatan untuk mereduksi panas matahari dan didesain untuk memudahkan sirkulasi udara silang dengan bukaan jendela dan pintu. Lorong udara vertikal diletakkan di daerah kamar tidur, tangga  dan ruang serba guna yang diperhitungkan dengan kompromi terhadap ketebalan massa bangunan.Ruang – ruang servis dan Kamar mandi didesain dengan bukaan yang langsung terhubung dengan sisi luar bangunan.

Rumah ini didesain dengan orientasi ke taman melihat ke daerah kolam renang di belakang dimana ada pembagian akses privasi sehingga dinding bata yang disusun – susun didesain untuk membagi sisi dalam dan luar.

Sisi depan tampak bangunan didesain dengan menggunakan bata yang diekspose dengan lubang – lubang untuk  menangkal cahaya matahari sekaligus memberikan provasi, dan sisi belakang didesain dengan suasanya yang transaparan, yang pintunya didesain dengan fleksibel sehinga setiap hari penghuni merasa terhubung dengan pepohonan, tanah, dan air di  luar bangunan.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 11 – Transjakarta BRT Prototipe

Trans Jakarta adalah penyedia Bus Rapid Transportation System di Jakarta. Perusahaan ingin meningkatkan kualitas stasiun. Prototipe desain ini didesain dengan merespon terhadap fungsional program, iklim tropis, dan kemudahan perawatan.

Desainnya menyediakan sistem modular yang terbuka, mampu menampung curah hujan dengan desain kanopi dan balustrade. Fasilitas tersebut meliputi mushola, toilet, dan toko mini untuk beberapa prototipe. Desain dikembangkan dimulai dari 3 buah prototipe yang akan diadopsi ke dalam 87 tempat di penjuru Jakarta.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 10 – Prototipe Ciputra House

Sudah dari sejak 2010 kami mengembangkan beberapa prototipe untuk rumah – rumah yang dikembangkan oleh Ciputra. Beberapa prototipe sudah dikembangkan lagi ke dalam versi – versi selanjutnya. Ada beberapa kriteria yang kami kembangkan yaitu, pengolahan ruang yang optimal, komposisi bentuk yang estetis dan fungsional, sekaligus dialog intensif dengan pihak developer terkait material yang mungkin dan praktis untuk digunakan di dalam proyek.

Pengembangan rumah – rumah ini berbasis pada rumah 1 lantai, rumah 1 lantai dengan mezanine, rumah 2 lantai, rumah 2 lantai dengan double height void, ataupun rumah 3 lantai.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 12 – Tanjung Duren Cave House

Proyek ini berbasis pada renovasi rumah 2 lantai. Kebutuhannya adalah 3 buah kamar di lantai atas dan 1 kamar yang merangkap ruang kerja. Sisi barat ditutup oleh teritisan atap yang lebar dan sisi selatan dibuka dengan sisi sependek mungkin sebagai peneduh dari ruang keluarga di lantai dasar.

Balok dan kolom struktur dipertahankan dengan perbaikan atap dan pemanfaatan ruang miring yang terbentuk oleh atap. Setiap ruangan mendapatkan cahaya langsung termasuk toilet dan kamar tidur. Bahasa bentuk yang digunakan adalah bentuk lengkung hasil dari eksplorasi pengalaman ruang terhadap ruang – ruang kecil dan terbatas.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 09 – Prototipe Autobacs Indonesia

Autobacs mengembangkan prototipe bengkel dan merchandise store pertama di Indonesia. Sebagai contoh dibentuklah 3 tipe prototipe yang akan dikembangkan di kota – kota di Jawa. Ada dua buah pendekatan desain yang dilakukan, yang pertama menawarkan sebuah benang merah yang aerodinamis yang menyumbangkan desain untuk Autobacs Jepang, dan yang kedua, desain mengkontekstualisasikan dengan iklim tropis dengan kanopi untuk mencegah tampias hujan dengan tidak mengurangi pandangan orang yang ingin berkunjung ke jasa Autobacs.

Desain di belakang ditujukan untuk area servis dan bengkel dengan standarisasi dongkrak dan sirkulasi yang bisa dilihat pengunjung ketika mobilnya di reparasi.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 08 – Indomobil Container Showroom Prototype

Proyek ini merupakan prototipe pertama dari Indomobil untuk proyek yang menggunakan kontainer untuk pengganti beban vertikal. Daerah ruang pamer mobil menggunakan bentangan cremona dengan lebar 14 m. Kontainernya menggunakan tipe high cube yang lebih tinggi. Dari solusi ini didapatkan ruang pamer yang tinggi yang berfungsi sebagai lobby.

Daerah di belakang yang lebih memungkinkan bentang pendek menggunakan rangka besi. Desain prototipe ini digunakan untuk showroom Indomobil lainnya seperti Nissan, KIA, sampai beberapa brand lainnya di bawah Indomobil.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 06 – Dancer Kampono House

Setiap beberapa bulan sekali pasti ada kalanya kami (saya dan Laurensia) menghabiskan waktu bersama Mirza dan Adhisty. Lingkaran pertemanan kami tadinya saya pikir tidak beririsan dan ternyata sangat beririsan, terkadang ada saja teman atau klien kami yang saling kenal.

.

Dua orang ini unik, karena apa yang kita bicarakan biasa berkutat akan kehidupan sehari – hari, keluarga, pekerjaan, sampai karya arsitektur yang termuktahir yang sedang kami kerjakan.

.

Satu saat mereka bercerita, bahwa rumah Kampono menghadap ke kiblat. Saya sendiri pernah menulis sebuah postingan tentang tangan yang berdoa. Doa yang menghadap sisi barat memberikan keteduhan, dan kepercayaan akan niat untuk berbuat baik. Di balik itu memang fasade kaca di rumah ini serta merta dihadapkan ke arah barat sisi terpanas yang juga membingkai pohon eksisting di sisi tersebut, hasilnya adalah bayangan-bayangan yang hadir mewarnai ruang keluarga memberikan ruang yang sinematik menuju sore hari.

.

Saya menulis kalimat tentang simbolisme disini , “bentuk – bentuk lengkung tersebut secara sadar membentuk symbol jari yang menapak bumi, yang menyiratkan bentuk doa di dalam konsep tangan yang sedang berdoa di dalam tarian. Di dalam proses desain iterasi bentuk lengkung banyak sekali dicoba dan digunakan dari bentuk yang liar sampai bentuk yang tidak lebih – tidak kurang dengan takaran yang pas.

.

Permainan bentuk ini dimulai dari proses pengolahan bentuk partii (susunan organisasi sub-massa) yang jelas dahulu, dan

kemudian tiap- tiap massa tersebut di acak dan disusun ulang menurut dasar kriteria seperti : proporsi ruang, arah pandangan, dan kemungkinan – kemungkinan ruang yang tidak

terduga yang terbentuk. Proses in berlanjut dengan kuantitas pilihan yang banyak, sampai terbentuk komposisi yang optimal.

.

Pendekatan ini dibahas Antoniades dan Jean Labatut di dalam pendekatan yang desain inklusif dan bagaimana perspektif yang berbeda, aktor yang berbeda berpengaruh di dalam sebuah alam kreatifitas yang membentuk kenyamanan penghuni.

.

Membentuk lengkungan adalah pemberontakan terhadap keseragaman, dan bentuk yang itu – itu saja, mendekati alam dan juga pertanda akan pemberontakan terhadap rasionalitas melalui intuisi dan percobaan desain. Di dalam

kasus ini pemberontakan dijadikan alasan untuk membuka sisi terentan di iklim tropis, dimana melalui desain justru penghuni bisa mendapatkan kenyamanan sekaligus, pandangan, bayang – bayang, sinar matahari, udara segar, dan semuanya adalah seni untuk perlawanan terhadap diri sendiri.

Di dalam alam seni hal tersebut menjadi sebuah pernyataan akan visi misi, bahwa klien percaya pada eksplorasi sang arsitek. Sebuah perjalanan seumur hidup.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 05 – Puri Wirawan House

.Yang menarik di rumah ini adalah teknik Memecah massa menjadi 3 bagian yang berbeda, dengan tidak menempel pada dinding samping. Diluar seluruh teknik aristektural, rumah ini juga menjadi representasi budaya toleransi yang terdapat di dalam rumah Indonesia, beberapa generasi yang bisa tinggal bersama di dalam satu rumah. Hal ini ditandai dengan pengelompokan ruang tidur dengan kamar mandi dalam dan memiliki break out spaces di koridor dan ruang keluarga yang bisa menampung lebih dari 20 orang di dalam program ruang.

Om Frans adalah orang yang saya temui setiap kali membahas rumah ini, dari dia kami banyak berdiskusi berdua mengenai pembiayaan, materialitas, kehidupan dan mimpinya untuk keluarga besarnya. Di dalam diskusi ia juga kerap mengajak anggota keluarganya dan menyebutkan referensi-referensi yang dimilikinya. Ia berdiskusi dengan santai, dan melakukan observasi dengan cermat, ia mampu membaca situasi melalui tabel – tabel komparasi meskipun ia tidak memiliki latar belakang ilmu bangunan, ia mendengarkan dan mau menerima banyak hal baru.

.

Di dalam perjalanan mendesain rumah tersebut, saya belajar bahwa masalah data, pembiayaan, skedule, dan menjaga hubungan dengan keluarga menjadi sangat penting untuk membuat sebuah karya yang kolaboratif dan iteratif.

.

Di masa- masa terakhirnya om Frans masih sempat membahas mimpi2nya tentang anaknya. Di dalam rasa sakit yang terus menerpanya, ia masih perhatian pada keluarganya. Begitupun ayah saya sedang sakit sekarang, dan situasi di dalam keluarga tidak mudah, tekanan muncul atas bawah kiri kanan, kami secara keluarga harus kuat. Maju kena mundur kena, dari masalah tulang, parkinson, saluran makan, dan saluran nafas. Dad, masih saja bisa mengelus kepala kami.

.

Dari situlah peran keluarga di dalam program arsitektural menjadi penting, mengolah kedekatan supaya kuat menjalani hidup bersama – sama, dari kelahiran, proses menjadi dewasa, dan tua dengan tetap menjalani yang berkualitas. Postingsn instagram bukanlah hanya sebuah puja puji saja tetapi sebuah sarana melakukan kebaikan. Di dalam sebuah karya yang kadang terlihat megah ada cerita yang dalam mengenai kehidupan. That is our mission in this crazy digital world.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 11 – Gading Tower Home

.

Proyek rumah Gading terletak di Jalan Gading Indah di Daerah utara Jakarta. Lokasi ini adalah daerah yang memiliki kompleksitasnya problematikanya tersendiri. Dimulai dari seringnya permasalahan banjir muncul. Hal ini diantisipasi kompleks dengan membuat dam dan pintu air. Daerah ini juga dapat dilihat seperti ‘kampung kota’. Beberapa lot yang terletak pada daerah ini merupakan lot-lot kecil berukuran kurang lebih 6 x 15 meter, sekitar 90 meter persegi.

Begitu kami mendesain, pertanyaannya adalah bagaimana mendesain sebuah rumah yang dapat memenuhi kebutuhan program klien kami #rumahandrewmonica— dimana secara keluarga mereka sudah jauh berkembang dan menginginkan program yang besar—tetapi masih bisa mendapatkan penghawaan yang baik, pencahayaan alami yang baik, dan ruang-ruang yang fleksibel agar dapat digunakan untuk 20′- 30 tahun bahkan lebih. Tentunya disesuaikan dengan budget dan estetika yang didiskusikan bersama.

.

Dari pertanyaan – pertanyaan tersebut, proses desain dimulai dengan mengkelompokkan bagian – bagian yang esensial dan membuat ruang bebas kolom. Tangga diletakkan pada sisi memipih untuk mendapatkan ruangan seluas mungkin. Lubang-lubang cahaya kecil didesain pada sekeliling bangunan agar juga dapat memberikan sebuah batas antara bangunan tetangga dan bangunan utama. Orientasinya yang menghadap ke selatan-utara, memberikan kesempatan untuk fasad untuk dapat dibuka selebar mungkin, dengan tetap mempertimbangkan privasi untuk pengguna dan eco friendly.

.

Hasilnya adalah komposisi rumah yang pipih dan tinggi yang adaptif di atas lahan terbatas di Gading Indah sembari memperhitungkan konsep Zero water runoff yang bisa berkontribusi untuk Jakarta tercinta.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 07 – Otten Coffee Bandung

Otten Coffee Bandung ada di atas lahan yang bekas kantor asuransi. Tantangannya adalah bagaimana memberikan desain yang menarik sekaligus memberikan nafas identitas yang baru untuk Otten Coffee.

Desain dimulai dengan memperhitungkan mana yang bisa dipakai dan mana yang tidak bisa dipakai di dalam bangunan yang lama. Kami mengidentifikasi bahwa kolom struktur, balok, dan plat beton dalam kondisi yang baik. Desain kemudian difokuskan kepada pengalaman ruang dari customer dari awal melihat dari street scape Pasir Kaliki melihat ke arah dalam. Kami membuat kombinasi material batu bata, bentuk lengkung, beton, besi, dan batu alam, juga material kayu sebagai aksen arsitektur yang membuat orang tertarik memasuk bangunan. Di dalam bangunan ruang – ruang didesain dengan 3 area skylight utama skylight untuk memberikan pencahayaan tidak langsung.

Skala ruang dimainkan dengan pemanfaatan ruang dengan ceiling pendek, tinggi, dan double height foyer. Skala ini digabungkan dengan permainan material anyaman bambu, beton, yang merupakan kombinasi material tradisional dan industri.

Dinding – dinding dibuat dari panel – panel yang mudah dikonstruksi dan tidak memiliki biaya tinggi dengan lampu dan rak pajang yang terintergrasi. rak pajang didesain berundak – undak untuk memanfaatkan jarak pandang customer begitu memasuki ruangan sehingga bisa memantik Otten Experience yang unik dan baru.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 06 – Otten Coffee Headquarter Jakarta

Otten Coffee membutuhkan sebuah desain yang bisa mengakomodasi retail store sekaligus gudang, dan tempat mengujicobakan startup coffee store sekaligus berfungsi sebagai ruang kerja Otten Coffee. Di dalam retail store, diletakkan meja coffee bar untuk mencoba mesin sekaligus menikmati kopi.

Gudang diletakkan di lantai basement, Retail store di lantai 1 , ruang eksperimen startup di lantai 2 dan lantai 3 digunakan untuk ruang kantor. Pencahayaan natural diambil dari sisi depan dan belakang, Proyek ini adalah proyek renovasi dengan menggunakan struktur bangunan keseluruhan dengan mengekspos langit – langit.

Material, rak pajang, furniture seperti meja dan undakan, dan detail arsitektur lainnya didesain mudah untuk dikonstruksi dengan cepat dan affordable sekaligus diekspos untuk memberikan kesan industrial yang menjadi cirikhas otten, suasana pabrik kopi.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 05 – Fore Coffee Plaza Indonesia

Kami mendesain sebuah booth kecil yang menjadi cikal bakal Fore Coffee, sebuah retail pertama dan dibuka di Plaza Indonesia. Saya cukup berbangga karena hal – hal yang detail bisa dieksekusi di ruang yang terbatas berukuran 15 m2. Booth kecil ini memperhatikan pandangan orang dari pintu masuk, koridor samping, sehingga desain bisa terlihat dari berbagai macam sisi dengan optimal.

Backdrop dibentuk dari modul pohon yang dipadukan dengan logo fore, dengan latar depan mesin kopi yang terintegrasi dengan flow cara bekerja mempersiapkan kopi di lahan yang terbatas. Modul pohon tersebut diapit oleh modul – modul panel translucent yang berpendar memberikan kesan futuristik yang terintegrasi dengan logo fore. Proyek ini selesai dengan baik dan memberikan titik awal dari terbentuknya chain coffee store fore yang lain.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 04 – Fore Coffee Prototipe

Desain Fore Coffee ini benang merah seperti warna putih, bentuk yang futuristik, dan lansekap. Di dalam arsitekturnya Fore berarti Forest Scape, sebuah konsep experience yang menjadi oase dari sibuknya keseharian bekerja, ataupun mengisi waktu jeda di tengah kesibukan yang ada.

Desainnya sederhana, dan memiliki tarikan garis yang tegas dengan bentuk – bentuk yang natural. Kami mengelaborasi beberapa cara flow pergerakan mempersiapkan kopi, gudang, sampai bagaimana pengunjung menikmati ruang – ruang yang ada. Konsepsi Forest Scape ini dielaborasi kedalam skala – skala yang berbeda – beda ada yang booth sederhana ukuran 3 x 3 – 6 x 6 – 50 sqm – 100 sqm – 250 sqm, dengan pengalaman ruang yang berbeda – beda.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 03 – PKBM Headquarter

Desain dari Puncak Keemasan Office ini diinspirasikan dari unsur – unsur alam yang membentuk pepohonan kayu yang modular yang fungsional untuk menopang partisi dan langit – langit yang terekspos sehingga memudahkan perawatan.

Desain kantor ini mengakomodasi 6 perusahaan yang berbeda di dalam satu payung utama. Program mencakup ruang meeting yang besar, sedang dan kecil, ruang bermain dan perpustakan, ruang serba guna, studio rekaman, ruang administrasi, ruang briefing, dan juga ruang direktur.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 02 – Kumparan Office

Kali ini kami mengerjakan kantor Kumparan, pengerjaannya menarik karena ada di bangunan lama milik dari mantan gubernur Jakarta yang legendaris Ali Sadikin. Ruang – ruang eksisting memiliki keterbatasan yang ekstra ketat karena tinggi langit – langit yang pendek, struktur dan finishing arsitektur seperti kolom yang perlu dijaga.

Saya berbincang – bincang dengan mas Hugo untuk kepentingan ekstensionnya, bahwa mereka memerlukan tempat yang fleksibel, bekerja sekaligus bisa rapat, juga bisa diperlukan untuk ruangan – ruangan lain yang privat sekaligus publik. Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk melihat arah desain Kumparan dan kemudian mengusulkan area – area privat di sisi perimeter dan ruang kerja / meeting diletakkan di sisi tengah dengan detail yang melengkung, yang merepresentasikan bentuk U, seperti magnet yang dimiliki oleh Kumparan.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 01 – IDN Media Head Quarter

Kira2 berapa tahun yang lalu kami mendapatkan pekerjaan desain ruang kantor idn media. Program briefingnya unik untuk

Mendesain ruang yang bisa multi guna sekaligus ruang meeting dan ruang kerja yang mencerminkan generasi muda masa depan. Fungsional, fleksibel, dan terbuka. Plafon kami ekspos, untuk mendapatkan ketinggian maksimal, dan ruang – ruang di desain untuk mendapatkan penerangan sebaik mungkin dan fleksibilitas banyaknya meja – meja kerja yang bisa memancing kolaborasi.

Di sisi – sisi pinggir diletakkan kotak kaca untuk memberikan tempat bagi leader ataupun ruang meeting sesuai kapasitas. Desainnya mengalir begitupun juga diskusi saya dengan winston dan william. 

Sampai kita mendiskusikan cukup intens bagaimana bentuk lobby utama dengan menggunakan berbagai macam tipe komposisi batik sehingga muncul batik khas di dalam ruang yanng membingkai meja, grand piano, tv dan sofa, sebuah simbol seni, informasi, kolaborasi, dan keterbukaan.

Kami belum sempet mempublikasikannya sudah kepotong covid. Kemarin saya kesana lagi, dan saya senang dna bangga sekali dengan apa yang sudah dimulai mereka. Sudah lama saya pingin silahturahmi dan kali ini saya mau bilang maju terus wins william dan @IDNmedia team !

Kategori
Project Bioclimatic House

Bio Climatic Home 10 – Botanical House

Kali ini saya berbagi tentang desain dari project yang sedang kami kerjakan di pinggiran jakarta, lokasinya di hook, program ruang dari rumah ini adalah rumah 3 kamar 2 kamar diletakkan di lantai 1 dan kamar master diletakkan di lantai teratas. 

.

Konsepnya adalah arsitektur yang bioklimatik yaitu  membuat rumah yang fungsional,  tropis, memiliki teknologi pengairan juga dan memiliki desain micro climate yang baik. Menariknya ada 3 pohon besar bertajuk 8 meter yang ada di perimeter lahan. Jadi sebenernya desain mencoba untuk bagaimana memberikan bingkai untuk rumah, sekaligus memberikan ruang terbuka yang mendapatkan bayang – bayang dari pepohonan. Rumahnya ada di hook, kiri – kanan potensial untuk memberikan pengalaman inside juga outside.

.

Setelah dikutik – kutik ternyata ruang di bawah bisa dibuat ruangan yang blong dengan beberapa kolom di perimeter. Daerah atas melengkung menyesuaikan bentuk profil lahan dan lantai atas memberikan kanopi untuk daerah bawahnya. Rumah ini menghadap utara dan timur, jadi solusi menggunakan kanopi dan kaca terbuka akan sangat tepat. Menurut saya ruangan yang tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal itu penting supaya bisa fleksibel apabila ada lebih banyak orang datang dan ngumpul – ngumpul.

.

Rumah ini pas untuk keluarga kecil dengan mimpi yang menantinya. Kebetulan mereka senang dengan rumah ini dan semoga cepat dibangun ya.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bio Climatic Home 02 – Rumah Putih

Ini adalah rumah yang kami desain sebelum Bare Minimalist di Jakarta berupa renovasi. Atapnya di perpanjang untuk mengantisipasi curah hujan dan diganti dari genteng ke penggunaan atap plastik. Sisi utara selatan dibuka, dan bangunan secara keseluruhan dicat warna putih. Struktur lama dipertahankan dengan optimalisasi 2 kamar tidur di lantai atas dan 1 kamar tidur di bawah. 

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 01 – Bare Minimalist

Bare Minimalist artinya adalah rumah yang tampil minimal, fitur utamanya adalah light and wind tunnel di tengah – tengah foyer yang menyatukan pintu masuk living room, bedrooms, dan tangga. Lahannya berukuran 8 x 24 dengan orientasi menghadap utara, timur dan selatan. Sisi barat ditutup dinding solid dan dilengkapi dengan sistem air minum terintegrasi. Materialnya menggunakan beton cetak, parkit bambu, kayu palet.

Kategori
blog

Defining Your Own Mega Transformation

Miracle umurnya 7 tahun hari ini, dia sekarang sudah kelas satu sd. Ia sudah punya teman – teman dekatnya di sekolah. Hal – hal yang kami tunggu adalah ceritanya di sekolah, bagaimana ia mengisi waktu istirahatnya, apa yang terjadi kelasnya, ataupun saat – saat ketika ia pulang dan bercanda ria beserta pak Misnu yang disebutnya mbah Nu, Nurul, ataupun siapapun yang menjemputnya.

Saya kadang tersenyum – senyum melihat bagaimana Nurul anak mbah Nu kadang bercerita “hahaha miracle bilang mau punya brain yg besar biar bisa inget a lot of memories with bapak 🤣 (misnu)… iya katanya dia sayang sm sy sm mbah Nu mangkannya mau selalu inget setiap momen kalau kita sama2”.
.
Miracle seperti namanya, saat – saat bersamanya adalah saat yang penuh keceriaan, kesenangan, dan magis. Seperti namanya ia memberikan keajaiban berupa rasa bahagia di sekelilingnya, mukanya sumringah, energinya besar, dan hidupnya penuh dengan rasa main – main dan penasaran. Satu saat ia bertanya sewaktu pulang sekolah “papa, bagaimana kamu tau aku ini Miracle.” Atau “Apa yang papa mama rasakan waktu aku belum ada?” Kami menjawab, kamu adalah doa bagi kami, semoga kebahagiaan yang bisa kamu berikan ke kami bisa menerus ke orang lain.
.
Juga satu saat dia bercerita tentang pokemon, bagaimana pokemon bisa melakukan mega transformation. Ia menjelaskan hal ini dilakukan pokemon untuk membela yang lemah, kemudian saya penasaran, kalau itu tujuan pokemon lalu apa tujuan hidupmu?
.
Dia bilang “saya masih berpikir tentang itu”, ia menambahkan “kalau saya sudah tau nanti saya bilang. Tidak mudah memikirkan tujuan hidup, perlu waktu.” Terakhir ia balik bertanya, “pa what do you think about me? Are you happy, I am here?”

Kami menjawab, son we are very proud of you. Ia pun tersenyum, dan berkata “aku mau ke heaven dulu.” Heaven lahir 5 tahun setelah Miracle, sebagai jawaban akan doanya, ia ingin adik yang bisa diajaknya bermain atau mungkin membuat keajaiban, membahagiakan orang lain bersama – sama.
.
Happy birthday yang ke 7 Miraclerich Sjarief. You are the best.
.
Thank you kak @luil_mn udah abadikan foto Miracle dengan sangat baik 👍

Kategori
blog

Kofuse Coffee and Dine

Ini kafe yang kami desain yang terbaru namanya Kofuse Coffee and Dine yang didesain setelah jaman pandemi. Bisa di cek di ignya @kofuse.id untuk temen – temen yang mau nyari suasana / experience di waktu weekend besok. Hidangannya enak, soft, my preference bisa dimakan berulang – ulang.

Kami menggunakan garis – garis lengkung yang natural dan dinamis untuk desainnya dengan material bata yang digosok cat putih, beton yang digosok dengan kombinasi batu dan kayu. Kofuse memiliki nuansa seperti suasana museum, galeri yang lebih bersahaja, cantik dari dalam dan artistik.

Terima kasih ke @idrissandiya atas kepercayaan yang diberikan. Juga @junarorimpandeyofficial atas diskusinya dan wawasannya tentang makanan dan kitchen setting. Juga bu dewi, nadira, dan keisya.

Juga seluruh tim kofuse bu @nu.rulh dan tim. Terlebih lagi tim dream team kesayangan saya RAW Architecture @realricharchitecturworkshop yang sudah be kerja super hard untuk selesainya kafe ini. @joanaagustin, @andriiyansyahmr, @melisaakma, @timbulsimanjorang, @ha.ykal, @cirana_nsb, @tyodngrh dan @_finasharfina dan mamang2 ano, asep, unang, ujang, saudara2 beda bapak dan beda ibu, juga @luil_mn yang membantu

Salam dari saya @rawarchitecture_best
Let’s go @kofuse.id maaaaaaemm nyammz have a great weekend. #RAW99percentfinishedproject #realrichsjarief #realricharchitectureworkshop

Kategori
blog tulisan-wacana

Lilin dan Gelas Kaca – Refleksi Terhadap Eksploitasi Arsitektur

Bagian 1 | Midlife Crisis ?

Sebenarnya saya enggan untuk membahas soal eksploitasi, karena ujungnya adalah soal identitas, atau mungkin saya sendiri enggan juga untuk menyinggung hal – hal personal. Ataupun mungkin saya sendiri takut apakah memang yang saya risaukan adalah hal yang saya hindari, saya irikan, atau justru hal – hal yang saya risaukan atau takutkan ini justru hal yang sedang saya kerjakan. Hal ini penting untuk bisa fokus di dalam mengeksplorasi secara total dan berani sekaligus menelusuri sisi – sisi yang membuat saya bahagia.

Tahun ini, saya berumur 40 tahun sekarang, secara umum arsitek baru berkembang di umur – umur 40, jadi perlu mengorientasikan dirinya, menginvestasikan dirinya. Mungkin di dalam kasus saya juga memilih – milih jalan mana yang harus ditempuh. Usia 40, adalah usia mematangkan diri. Seperti istilah “Midlife Criris” yang dikatakan oleh psikolog Elliott Jaquest, biasanya seseorang pada usia 40-65 tahun merenungkan kembali kedudukan profesionalitas mereka dan membuat perubahan. Pada usia ini seseorang jadi mempertanyakan banyak hal diantara kegelisahan, penuaan, tujuan yang masih ingin dicapai, sampai memperhitungkan kematian mereka. Begitu pula seorang arsitek, kematangan karyanya biasanya terbentuk di usia yang tidak muda, karena berarsitektur merupakan perjalanan yang panjang.

Salah satu arsitek yang menjadi role model saya, Renzo Piano, berumur 40 ketika Pompidou diselesaikan di 1977, ia sendiri lahir di tahun 1937. 4 tahun kemudian, selama 4 tahun barulah ia mematangkan diri di dalam karya Menil Galeri yang bertempat di kawasan rumah tinggal, sebuah tempat koleksi seni keluarga Menil. Di umur 50 an barulah ia memiliki sebuah body of work yang cukup lengkap, dengan begitu banyak variasi metode desain yang menghasilkan variasi tipologi proyek, di berbagai tempat di dunia dengan desain airport, cultural museum di Oceania, dan begitu banyak kantor, mall, residensial, dan paviliun. Selanjutnya bisa kita lihat, bagaimana ia menata ekosistem, menikmati masa tuanya dengan terus mendesain dan terus berkolaborasi dengan timnya RPBW (Renzo Piano Building Workshop). Di satu sisi saya berpendapat bahwa menjadi arsitek seperti beliau membutuhkan waktu yang panjang.


Namun, saya melihat persepsi melihat parameter sebuah kesuksesan terhadap waktu seringkali berbeda di dalam dunia digital. Dengan munculnya Tik Tok, instagram, facebook, banyak arsitek – arsitek, calon – calon arsitek, dan publik biasa, semua memiliki jejak digital dalam upaya mendefinisikan identitas diri. Identitas sendiri adalah hal yang penting, karena saya melihat Renzo Piano juga meraih identitas dirinya melalui begitu banyak hal yang bisa dipelajari yakni kliennya, publik dan intelektual melalui referensi tulisan ataupun verbal, kritik arsitektur, publikasi media melalui publikasi karyanya, penghargaan ataupun jejak – jejak media sosial yang dilakukannya dan juga firma RPBW (Renzo Piano Building Workshop). Ada yang saya pertanyakan di dalam mudahnya dan cepatnya identitas itu dibentuk sekarang melalui sosial media. Ibaratnya dengan media sosial, saya sendiri dengan mudah untuk mensejajarkan diri dengan arsitek – arsitek lainnya. Apakah sebenarnya sejajar ? ataukah apa yang sedang saya sejajarkan ini adalah upaya untuk mengaktualisasikan sisi ingin tampil saja. Mungkin arsitektur menjadi kompleks karena manusia pada dasarnya kompleks dan ingin memburu – buru waktu. “ini ada apa ya ?” seringkali saya merasa dieksploitasi dengan informasi yang terjadi tanpa diberitahu apa arahnya, apa maksudnya. Taruhlah mungkin kita ada di satu kumpulan. Anehnya di dalam satu titik, apa yang saya kerjakan jadi berorientasi juga ke ekosistem media sosial yang begitu masif, saya baru sadar saya berubah.

Bagian 2 | Midlife Crisis ?

Saya jadi teringat, peribahasa ekosistem merubahmu, dan kamu pun merubah ekosistemmu. Saya berpikir apa ada ya kecenderungan praktik yang mengedepankan apa – apa yang dilakukan perlu dibingkai dalam kacamata media sosial. Dan saya juga berpikir, mungkin saya saja yang terlalu kuno. Hal ini adalah hal yang terus baru untuk saya yang konvensional/malah tradisional dalam berpikir, dan wacana ini terus menjadi pergumulan untuk saya yang sedang terus mendefinisikan apa yang saya kerjakan sampai sekarang.

Di dalam keseharian, saya terpapar referensi visual. Referensi ini sangat memudahkan klien untuk memahami arsitektur. Perlu diingat bahwa arsitektur lebih daripada sebuah gambar visual, namun juga gambar teknis yang berupa instruksi berupa detail bubble programming , space planning, dan materialitas. Seorang calon arsitek yang tidak memahami keutuhan dari sebuah karya membentuk pemahaman arsitektur yang sebatas visual saja.

Tapi hal – hal yang saya bimbangkan di dalam kebimbangan di atas adalah, sejauh mana memang proses ekploitasi itu dilakukan oleh para praktisi arsitek? . Eksploitasi itu juga terkait di banyaknya klaim – klaim terbaik, terindah yang dimainkan di dalam persona – persona yang terbentuk. Saya sendiri juga berpikir, apa saya juga yang sering terjebak di dalam jebakan identitas, seperti itu, dan sejenak saya berpikir, refleksi ini berputar – putar tidak pernah selesai.

Kemarin saya bertemu mbak Sunthy, saya lama tidak bertemu dia. Tentunya saya selalu ingat bahwa tulisannya mengenai Bare Minimalist, berjudul “Function Over Fashion” adalah salah satu tulisan yang mengupas ide – ide di balik sebuah proyek. Yang menariknya, ia memulai dengan pertanyaan – pertanyaan sebelum mengamati, dan di tulisannya banyak referensi – referensi reflektif dari klien kami, Charles Wiriawan. Tentunya proses saya bertemu beliau juga ada kaitan dengan bisnis media dibaliknya, ada kepentingan mendapatkan karya dari para arsitek untuk kepentingan publikasi.

Dalam pertemuan kami, di satu lapak, ada kata – katanya yang membekas dalam ingatan saya “begitu membaca tulisan, sebenarnya bisa kita baca mana tulisan yang menggurui atau reflektif.” Kemudian kita berdiskusi perjalanan saya melihat polarisasi yang terjadi dengan kawan – kawan di barat (Jakarta Sumatra), timur (Jawa Timur khususnya), dan Jawa tengah (Yogyakarta, Solo) dengan berbagai macam dinamikanya kelompok kiri kanan ataupun tengah, kapitalis, sosialis, ataupun punya dogma – dogma kedaerahan. Ada yang terpolariasi sebagai arsitek yang terpinggirkan, ada juga yang terpolarisasi sebagai arsitek yang hedonistik, ada juga yang terpolarisasi sebagai arsitek yang introvert dan menyingkir ke pedalaman.

Kami berdiskusi dan saling bercerita tentang perjalanan hidup masing – masing, bersahabat dengan arsitek – arsitek dari jauh, dan memisahkan preferensi. Ada yang secara pribadi sesuai dengan preferensinya dan ada yang tidak sesuai. Diskusi berlanjut bahwa ada fenomena klaim – klaim yang kurang dalam/tidak berdasar/hanya judul yang dilakukan yang bukan preferensi kami. Contohnya arsitek dengan jualan material tertentu seperti beton atau batu batanya, ataupun dengan kayu atau bambu – bambunya, juga arsitek dengan medianya, klaim – klaim teritori itu, tidak menyehatkan. Saya bertanya – tanya dalam hati apa yang tidak menyehatkan tersebut karena perasaan tereksploitasi ?

Mbak Sunthy juga melanjutkan ceritanya, di dalam menggawangi beberapa arsitek yang ingin merajut media dan arsitektur di dalam platform design stories – spotify dsb. Ini adalah runtunan dari proses eksplorasi diri mbak Sunthy, memulai dengan pertanyaan di beberapa media yang berbeda. Kalau saya pikir, pertanyaan – pertanyaan yang diberikan sebenarnya untuk menjelaskan bahwa banyak elemen konteks arsitektur misal klien / arsitek / tempat / iklim / material / pembangunan / penemuan itu memiliki daya untuk saling tarik menarik. Dan elemen tersebut menjelaskan bahwa singularitas itu terjadi dari hibriditas elemen tersebut. Nah kemudian hal ini menjadi personal begitu menjelaskan preferensi saya. Bahwa ada subjektifitas, kecocokan dan juga ketidak cocokkan, nah hal tersebut mungkin yang bisa mejelaskan ketidak setujuan satu dengan yang lain. Dan hal tersebut memancing wacana.

Di dalam membahas eksploitasi terhadap arsitektur, saya secara personal, berusaha cukup hati – hati di dalam memainkan media sosial. Secara pribadi saya merefleksikan bahwa media sosial itu bisa jadi 4 hal yang perlu dijaga, di dalamnya adalah persahabatan, keluarga, keyakinan, kesehatan. dan 1 hal lainnya adalah tentang bisnis. 4 hal itu sifatnya rapuh, mudah retak, seperti gelas kaca, dimana sekali retak tidak akan kembali. Namun hal yang kelima yaitu bisnis yang bisa dieksplotiasi, sifatnya seperti lilin yang bisa dibentuk apabila dilelehkan. Persahabatan, keluarga, keyakinan, dan kesehatan adalah investasi seumur hidup kita, kenangan yang membentuk pribadi kita seutuhnya. Sedangkan bisnis, selalu rentan untuk dibentuk dan dieksploitasi, tinggal perlu api, dengan mudah.

Berbeda dengan bisnis yang seperti lilin yang bisa dibentuk, 4 lainnya bisa diibaratkan gelas kaca, yang membentuknya juga diperlukan api, sekali terbentuk gelas kaca tersebut, gelas kaca yang diibaratkan persahabatan, keluarga, keyakinan dan kesehatan akan kaku dan tidak akan bisa kembali, kecuali pecah. [1]

Semoga ketika pecah, bukan berarti tidak bisa kembali, namun bara api yang diperlukan untuk menyatukannya kembali bukan menggunakan api lilin. Namun api tungku dengan 1400 derajat celcius dan itu pasti bukan nyala api lilin dari bisnis belaka. 1400 derajat itu adalah vitamin C, cinta yang bisa mengubah semua orang menjadi kawan, termasuk musuh saya yang terbesar yaitu diri saya yang trauma terhadap masa lalu saya sendiri.

Terima kasih Tuhan untuk memberikan orang – orang yang bisa memberikan pelajaran berharga untuk memisahkan yang mana gelas kaca dan yang mana lilin yang bisa dibentuk sehingga yang namanya persahabatan, keluarga, keyakinan, dan kesehatan akan terjaga dengan apik.

note :

[1] Terinspirasi dari Bryan Dawson tentang cerita “Jugling Glass and Rubber Balls” lihat pidato di Georgia Tech September 1991.

Disunting oleh by Lu’luil Ma’nun, penyunting membantu menyusun diagram / gambar / komposisi / dan juga tulisan – tulisan pembantu.

Kategori
lecture

Pengembangan Keprofesian Arsitek III

Book House
.
Kemarin saya diminta oleh IAI Jakarta untuk membawakan materi “Manajemen Biro Arsitek”. Kemudian saya sendiri banyak bertanya – tanya tentang sejauh mana dampak ekosistem praktik arsitektur. Di mana isu-isu lingkungan, kepadatan kota, menjadi problematika yang bisa membuat arsitektur itu bisa punya kontribusi. Hipotesanya adalah apa saja yang bisa dilakukan di dalam skala mikro karena soal biro adalah soal yang mikro di dalam ekosistem praktik arsitektur ?
.
Kemampuan manajerial dan penyusunan teknik desain adalah dua hal yang penting. Kemampuan Manajerial ini dibahas Undi Gunawan di acara nonton bersama video Guha. Dengan kegiatan terus mendesain, membangun, menginspirasi dan dampaknya dengan memberikan contoh ke orang-orang sekitar. Hal ini dimulai dari pelayanan yang baik, membina tim dan manajemen yang baik. Disitulah arsitek memiliki tanggung jawab untuk melatih calon-calon penerusnya dan mengkomunikasikan praktik yang sehat kepada klien dan umum.
.
Ruang mikro (Ruang yang terbatas) adalah salah satu kontribusi yang menjawab keterbatasan ruang. Dan ada juga kaitan teknologi bangunan struktur bentang pendek, dan memadukan dengan manajemen air limbah dan sebagainya. Contohnya, Rumah Buku yang sudah berpindah program berkali-kali, dibongkar pasang sebagai ruang tidak permanen. Tempat pertamanya adalah di pekarangan rumah orang tua saya. Yang kemudian berpindah di benteng di Guha sebagai tempat pameran. Tempat terakhirnya adalah di pekarangan Guha anak-anak tetangga berkumpul, main, baca buku, diskusi, les menggambar, sekaligus tempat mengerjakan tugas, dan terkadang ruang-ruang itu berubah menjadi ruang untuk upacara 17-an. Detail Rumah Buku ini terbuat dari rak buku berbentuk kotak, bentuk bentang sederhana, penempatan mezanine, dan fisika bangunan dengan corong udara, bukaan samping.
.
Rumah Buku salah satu bentuk kontribusi pemikiran bahwa arsitektur bisa saja membentuk apapun dari material apapun dan adaptif mengikuti perkembangan jaman.
.
#RAWongoing
Project: (Cover) Book House
Acara di @iaijakarta
.
#realricharchitectureworkshop#realrichsjarief#architecture#arsitek

Look for more diagrams + projects di
@realricharchitectureworkshop

Kategori
blog

Revolusi Humanisme

Dua bulan terakhir ini, kami merenovasi struktur dari Summer Pavilion/rumah buku untuk menambah 2 buah mezanin tempat tidur penjaga rumah buku sekaligus pengemong anak – anak kecil dari kampung sekitar rumah kami. Perpustakaan ini adalah perjuangan dari saya untuk melakukan kegiatan sosial di sekitar komplek kami dimana banyak anak – anak membutuhkan ruang singgah, dan visi apa yang bisa dicapai di masa depan. Titik lompatannya adalah bagaimana tempat yang tersedia bisa dijadikan sebagai ruang aktif, tempat bagaimana anak – anak bisa belajar, bermain, dan mendapatkan komunitasnya. Dibalik itu semua saya menulis beberapa refleksi dengan perspektif humanisme terhadap perjalanan hidup manusia, terkait kepercayaan, dogma, ataupun refleksi terhadap kekuatan – kekuatan dibalik arsitektur.

Masyarakat modern ditawarkan kekuasaan yang memiliki konsekuensi bahwa kita sebagai manusia cepat atau lambat akan melepaskan kepercayaan terhadap kosmis yang sejauh ini dipahami pahami sebagai sebuah makna kehidupan. Sedangkan sepanjang sejarah, nabi dan filsuf meyakini bahwa ketika umat manusia berhenti meyakini rencana kosmis, maka konsekuensinya adalah seluruh ketertiban di dunia ini akan lenyap. Namun sampai tahun 2016 umat manusia berhasil memiliki keduanya yaitu tak ada satu pihak pun yang membatasi kekuasaan dan di sisi lain masih meyakini bahwa hidup ini memiliki makna.

Humanisme merupakan sebuah kredo revolusioner yang telah menawarkan sebuah solusi penangkal untuk eksistensi tanpa makna dan tanpa hukum sehingga agama yang revolusioner seharusnya juga humanis berprinsip berorieontasi kemanusiaan dan mengharapkan kemanusiaan mampu mredefinisikan makna ke-Tuhan-an, sebagai contoh dalam berbagai agama seperti Kristen Katolik, sedangkan hukum alam masih berperan dan berlaku dalam kepercayaan Buddha dan Daoisme. Dalam konsep tradisional, kepercayaan terhadap kosmis raya memberikan makna bagi kehidupan manusia, namun konsep humanisme adalah manusia harus menarik pengalaman dari dalam diri mulai dari makna kehidupan dalam diri masing – masing individu hingga makna seluruh jagat raya untuk menciptakan makna bagi sebuah dunia yang tidak bermakna. Pada akhirnya inti dari revolusi religius modernitas adalah: mendapatkan kepercayaan pada kemanusiaan dan bukanlah menghilangkan kepercayaan kepada Tuhan.

Dua bulan terakhir ini, kami merenovasi struktur dari Summer Pavilion/rumah buku untuk menambah 2 buah mezanin tempat tidur penjaga rumah buku sekaligus pengemong anak – anak kecil dari kampung sekitar rumah kami. Perpustakaan ini adalah perjuangan dari saya untuk melakukan kegiatan sosial di sekitar komplek kami dimana banyak anak – anak membutuhkan ruang singgah, dan visi apa yang bisa dicapai di masa depan. Titik lompatannya adalah bagaimana tempat yang tersedia bisa dijadikan sebagai ruang aktif, tempat bagaimana anak – anak bisa belajar, bermain, dan mendapatkan komunitasnya. Dibalik itu semua saya menulis beberapa refleksi dengan perspektif humanisme terhadap perjalanan hidup manusia, terkait kepercayaan, dogma, ataupun refleksi terhadap kekuatan – kekuatan dibalik arsitektur.

Revolusi humanisme dapat dipahami kedalaman dan implikasinya melalui kultur modern Eropa yang berbeda dengan kultur Eropa pada abad pertengahan dimana pada tahun 1300 orang – orang di London, Paris dan Toledo mempercayai bahwa hanya Tuhan yang bisa mendefinisikan kebaikan, keindahan, dan kebenaran dan cenderung tidak bisa mempercayai bahwa manusia mampu menentukan sendiri kebenaran, keindahan dan kebaikan sehingga pandangan ini telah menjadikan Tuhan sebagai sumber tertinggi yang bersifat otoriter. Prinsip Tuhan sebagai makna dan otoritas dapat dikatakan cukup mempengaruhi manusia dalam kehidupan sehari – hari. Sebagai contoh kasus ini tercermin melalui sebuah fenomena ketika seorang perempuan yang baru saja menikah bersenang – senang dengan tetangganya dan melakukan hubungan seks dengan lelaki yang merupakan tetangganya tersebut. Setelah melakukan perbuatan tersebut ia mulai bimbang dan mempertanyakan apakah yang telah dilakukanya adalah perbuatan baik atau buruk sehingga ia perlu untuk mendatangi pendeta untuk membimbingnya. Kemudian pendeta tersebut mengungkapkan tentang apa yang disebut dengan perzinaan. Pendeta tersebut dengan tegas memfonis perempuan itu telah melakukan dosa besar. Pada akhirnya perempuan tersebut ber-nazar untuk tidak melakukanya lagi dan menanggung semua konsekuensi atas dosa yang telah diperbuatnya.

Dari kasus di atas dapat dipahami bahwa ketika manusia ingin memahami apa yang telah diperbuatnya maka ia akan mencermati dengan hati dan perasaannya. Ketika perasaannya tidak jelas ia akan menghubungi temannya untuk mencurahkan isi hatinya, jika keadaan masih terasa membingungkan ia akan pergi ke terapis untuk mengutarakan masalahnya karena secara teoritis kedudukan terapis sama dengan pendeta pada abad pertengahan.

Dari apa yang telah dipelajari tentang perasaan, hal ini cukup erat kaitannya dengan apa yang telah Nietzche deklarasikan yaitu “Tuhan Telah Mati”. beberapa kasus juga telah menggambarkan bahwa dalam politik humanis pemilihlah yang paling tahu, dalam ekonomi humanis pelanggan selalu benar, dalam estetika humanis keindahan ada pada mata penonton, dalam etika humanis jika terasa baik-lakukanlah, dan dalam pendidikan humanis prinsipnya adalah berpikirlah untuk diri anda sendiri. Pada akhirnya sebagai manusia masing – masing dari kita memiliki keyakinan yang kuat terhadap hati. Bahkan ketika manusia memiliki keyakinan pada Tuhan pun itu karena hatinya meyakini bahwa ia mempercayai Tuhan di dalam hatinya. Hal ini cukup membuktikan bahwa otoritas tertinggi adalah humanisme dan bukanlah Tuhan.

Namun Hal ini tidak cukup hanya sampai perasaan saja karena tidak menutup kemungkinan bahwa perasaan sendiri juga memiliki kelemahan sehingga hal ini menjadi soal bagaimana metode untuk menilai otoritas dan mendapatkan pengetahuan sejati. Dalam kepercayaan Eropa pada abad pertengahan rumus pengetahuan adalah Pengetahuan = Kitab Suci x Logika sehingga ketika seseorang ingin memahami makna dari teks kitab suci perlu untuk membaca kitab suci dan menelan teksnya dengan logika yang telah dimiliki. Hal ini digambarkan melalui: ketika seseorang inging mengetahui bentuk permukaan bumi. Meraka akan menggunakan penggalan teks dari kitab suci seperti Yesaya 40:22 yang menyatakan bahwa Tuhan “duduk bertakhta diatas lingkaran bumi” sehingga didapati jawaban bahwa permukaan bumi itu bulat.

Sedangkan revolusi saintifik mengajukan rumusan bahwa Pengetahuan = Empiris x Matematika. Ketika ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan perlu untuk menemukan data empiris yang relevan, dan kemudian menggunakan alat – alat matematika untuk menganalisanya. Hal ini dapat digambarkan melalui fenomena manusia yang ingin mengukur bentuk sebenarnya dari bumi. Jawabanya dapat ditelusuri melalui pengamatan terhadap matahari, bulan, dan planet – planet lain disekitar bumi. Setelah hasil observasi terkumpul maka bisa menggunakan trigonometri untuk menyimpulkannya.

Namun meskipun demikian, disisi lain humanisme juga menawarkan sebuah alternatif yaitu ketika manusia telah mendapatkan kepercayaan terhadap dirinya sendiri maka rumusan untuk mendapatkan pengetahuan yang etis adalah Pengetahuan = Pengalaman x Sensitivitas. Artinya ketika kita ingin mengetahui jawaban etis atas pertanyaan apapun perlu untuk menjangkau pengalaman dalam diri kemudian mengamatinya dengan sensitivitas yang tinggi.

Rumus Pengetahuan = Pengalaman x Sensitivitas telah membawa persepsi kita kepada permasalahan berat seperti perang. Hal ini mulai dipikirkan oleh seniman Dix dan Lea dimana mereka mencoba untuk mengungkap kebenaran tentang perang yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan. Dix dan Lea mendapatkan jawaban bahwa di satu sisi perang adalah neraka namun disisi lain perang juga merupakan jalan menuju surga.

The Trench by Otto Dix (1923). https://mydailyartdisplay.uk/tag/war-cripples-by-otto-dix/

Hal ini dapat dilihat melalui fenomena seorang Katolik yang berperang dalam Pertempuran Gunung Putih dan ia berkata pada dirinya sendiri bahwa “Benar saya menderita. Namun Paus dan Kaisar berkata bahwa kita perang untuk kebaikan, jadi penderitaan saya ada artinya.” Sedangkan Otto Dix justru menggunakan logika yang sebaliknya bahwa pengalaman personel sebagai sumber dari segala makna sehingga cara berpikirnya menjadi: “Saya menderita-dan ini buruk-karena itu seluruh perang adalah buruk. Apabila Kaisar dan Kependetaan tetap mendukung perang ini, mereka pasti salah.”

Kemudian lambat laun Humanisme mulai terpecah hingga menjadi tiga cabang utama yaitu: Humanisme ortodoks, Humanisme Sosialis, dan Humainsme Evolusioner :

Humanisme ortodoks merupakan cabang humanisme yang memandang bahwa setiap manusia adalah individu yang unik yang memiliki suara hati yang khas dan serangkaian pengalaman yang tak akan pernah terulang. Oleh karena itu perlu untuk memberikan kebebasan sebesar mungkin pada setiap individu untuk mengalami dunia dengan mengikuti kata hatinya dan mengekspresikan kebenaran dari dalam dirinya. Dengan penekanan kepada kebebasan individu maka ortodoks humanisme memiliki cabang juga yang dikenal sebagai humanisme liberal atau biasa disebut dengan liberalisme. Salah satu prinsip Liberalisme seperti dalam seni yang memandang bahwa keindahan ada di mata penonton. Kemudian ketika humanisme mendapatkan kredibilitas sosial dan kekuatan politik, dua cabang yang berbeda mulai tumbuh darinya yaitu humanisme sosialis yang mencakup sosialis dan komunis, dan humanisme evolusioner dimana penyokong yang paling terkenalnya adalah kaum Nazi. Kedua cabang tersebut juga menyetujui liberalisme bahwa pengalaman manusia merupakan sumber tertinggi dalam hal makna dan otoritas.

Humanisme Sosial pada dasarnya sebenarnya bertentangan dengan liberalis karena hanya fokus terhadap pengalaman setiap individu sedangkan prinsip utama dari sosialis adalah memfokuskan pada apa yang telah dialami oleh orang lain. Artinya Humanisme sosial benar setuju dengan ortodoks namun dalam hal pengalaman manusia adalah sumber segala makna akan tetapi ada miliaran orang di dunia dan sosialis mereka semua sama bernilainya dengan kita.

Humanisme evolusioner berpijak dari teori evolusi Darwin bahwa konflik adalah sesuatu yang harus dihargai. Konflik merupakan bahan baku utama bagi seleksi alam untuk mendorong evolusi bergerak maju. Hal ini dapat diambil contoh dari fenomena ketika pengalaman – pengalaman manusia bertabrakan maka manusia yang kuat akan menggilas habis manusia lain yang lebih lemah. Namun hal positif yang didapat ketika menggunakan teori evolusi ini adalah bahwa manusia akan berevolusi menjadi manusia yang lebih kuat dan tangguh hingga akhirnya melahirkan manusia super. Sedangkan hubungannya terhadap humanisme ortodoks adalah humanisme evolusioner menganggap bahwa perang adalah sesuatu yang berharga dan bahkan penting karena memiliki presentase yang tinggi terkait evolusi.

Berkaca dari perhelatan antara kepercayaan Eropa pada abad pertengahan yang merumuskan (Pengetahuan = Kitab Suci X Logika) dengan rumusan (Pengetahuan = Pengalaman x Sensitivitas), pada akhirnya didapati kesimpulan bahwa agama-agama tradisional tidak akan mampu menjadi alternatif yang riil untuk liberalisme karena kitab suci tidak memiliki apapun yang bisa dikatakan tentang rekayasa genetika atau kecerdasan artificial. Begitupun dengan sebagian besar pendeta, rabbi, dan mufti tidak akan memahami terobosan-terobosan mutakhir dalam biologi dan ilmu komputer. Kalaupun jika mereka ingin memahaminya perlu untuk membaca banyak arstikel-artikel ilmiah dan melakukan eksperimen lab dan bukannya menghafal dan memperdebatkan teks-teks kuno. Pada dasarnya kedua hal ini adalah suatu pilihan karena keduanya perlu menggunakan banyak waktu.

Sedangkan diibalik dari kemenangan liberalis ini adalah terjadinya fenomena mendorong manusia untuk menjangkau imortalitas, kebahagiaan, dan keilahian. Dengan bertumpu pada prinsip bahwa kehendak pemilih dan pelanggan tak pernah salah, para ilmuan dan insinyur mulai mencurahkan energi mereka dalam proyek-proyek liberal. Kemudian skenario terburuk dari yang telah ditemukan ilmuan dan dikembangkan oleh insinyur dapat memapar keduanya pada cacat bawaan dalam pandangan dunia liberal dan kebutaan pelanggan dan pemilih. Hal ini disebabkan karena ketika rekayasa genetika dan kecerdasan artifisial menampakkan potensi penuh, liberalisme, demokrasi, dan pasar bebas menjadi suatu hal yang usang seperti halnya pisau batu, kaset, Islam, dan komunisme. Hal ini membawa manusia kedalam evolusi keadaan dirinya di dalam sebuah ekosistem berpikir, sebuah revolusi humanistik, yang berarti kepada permulaan runtuh akan kontrol dirinya akan humanitas itu sendiri.

Melihat praktik arsitektur sekarang ini di Indonesia, dimana kesadaran saya sendiri juga mulai sudah saya pertanyakan, sejauh mana saya sadar, mau bergerak, dan kemudian menebar benih – benih kemanusiaan. Jujur saya melihat jalan masih sangat panjang, sejauh mana arsitektur bisa masuk ke tingkatan humanisme yang evolusioner bahwa konflik yang dihadapi, tidak dihindari. Hal ini menggarisbawahi bahwa menghadapi konflik tidaklah mudah, dan mau tidak mau sistem yang menantang humanisme akan terus berhamburan termasuk konstestasi karya arsitektur, sejauh mana cerita – cerita humanistik digaungkan terutama kaitannya dengan politik, ekonomi, dan sosial yang pada intinya ujung – ujungnya soal kejujuran untuk selalu humanistik sebelum hilangnya proses tersebut tanpa kita sadari di tengah revolusi humanistik.

Kategori
award

Shortlisted Dezeen Award 2022 for Piyandeling

Kemarin kami satu studio foto bersama, dan akhirnya merayakan kebersamaan dengan es “dungdung”, karena suaranya yang dung dung. Momennya adalah perayaan sederhana karena salah satu karya kami @piyandeling masuk dalam daftar kategori rumah pedesaan. Kami mengucapkan terima kasih kepada @dezeenawards_ @dezeen .
.
Kategori pedesaan adalah kategori dalam Dezeen yang terdiri dari beberapa proyek rumah yang biasanya terletak di daerah terpencil yang kepadatannya lebih sedikit. Di Piyandeling, Lokasi terpencil membuka kepekaan kami terhadap material dan kerajinan setempat seperti Bambu dan kerajinannya digunakan sebagai bahan pertimbangan keputusan desain di dalam menggubah program dengan biaya dan waktu membangun yang terbatas.
.
Di dalam ranah global, karya – karya yang masuk membawa pendekatan yang bervariasi terhadap arsitektur. Kami belajar dari bahwa pembelajaran disini memiliki benang merah penggunaan material setempat, penggunaan inspirasi arsitektur tradisional, dan responsif terhadap iklim setempat. Hal tersebut di manifestasikan ke dalam pembentukan program ruang, bentuk massa, dan susunan detail arsitektural. Kami menarik 3 konsepsi di atas sebagai sebuah cara mendesain di RAW Architecture .
.
Piyandeling disusun dari 3 bagian utama, bagian pertama adalah Sumarah, tempat tinggal para pekerja (bedeng) yang berubah menjadi rumah tinggal 3 lantai dan dibungkus oleh plastik “recycle”. Bagian kedua adalah Kujang adalah setengah workshop, setengah kediaman dan ruang serba guna tempat fabrikasi kerajinan bambu. Dan bagian ketiga adalah Saderhana yang merupakan tempat tinggal sekaligus ruang doa dan gudang. Totalnya ada 7 kamar dengan berbagai macam besaran yang didukung oleh ruang serba guna sebagai rumah buku(perpustakaan warga) dan ruang doa.

Kategori
lecture

The Purpose of Architecture Philosophy


Saya diminta oleh Unika Soegijapranata untuk membawakan materi “Peran Filsafat di dalam desain” untuk para mahasiswa. Kemudian saya sendiri banyak bertanya – tanya apa arti/peran filsafat di dalam praktik kami di studio RAW Architecture. Sejak dulu filsafat diyakini sebagai sebuah istilah yang berjarak, namun juga diyakini mampu menelurkan pemikiran tercanggih di jamannya. Filsafat adalah sebuah cara untuk mendapatkan kebenaran melalui verbal dan tulisan.
.
Hipotesanya adalah bagaimana menelusuri peran filsafat di dalam desain dan mengetahui sejauh mana dampaknya terhadap keputusan desain ?
.
Salah satu contoh proyek RAW Architecture, Begitu masuk ke rumah Harris dan Tiffany, yang menarik, keduanya memiliki limitasi. Yaitu renovasi rumah dengan budget terbatas, tetapi sense of art nya luar biasa. Seperti Tiffany, orangnya sangat artistik, Harris sangat rasional. Di dalam pikiran keduanya ada sebuah visi-misi. Pencampurannya menimbulkan brief yang khusus. Konsep desain muncul menggunakan struktur eksisting (ruins) dan teknik injeksi sebuah kolom-balok beton didalam struktur yang lama, bangunan itu seakan-akan dikangkangi oleh struktur yang baru dengan memberikan jalan cahaya. Itu menjadi hal yang inovatif di dalam perencanaan arsitektur.
.
Kemudian perkawinan begitu banyak elemen desain akan menimbulkan ledakan. Itulah Supernova, ledakan kebebasan.
.
Kebebasan = keterbatasan + kemampuan
.
Filsafat adalah belajar tentang kebebasan berpikir, bagaimana merangkai kebebasan dari kemampuan dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Dan titik terpenting di dalam sebuah lompatan arsitektural adalah bagaimana merangkai banyaknya variasi elemen dan memproduksi banyaknya varietas karya arsitektur. Untuk merangkainya diperlukan kerja kolaborasi, jadi peran (aksi-reaksi) filsafat di dalam desain sangatlah penting dan dahsyat.
.
Ia berperan untuk menyadarkan “Hei desainer, kamu tidak sendirian ! Bangun dan Ledakkan Supernovamu”
.

RAWongoing

Project: (Cover) Harris + Tiffany’s House
Acara di Unika Soegijapranata
.

@realricharchitectureworkshop #realrichsjarief #architecture #arsitek

@realricharchitectureworkshop

Kategori
award

Longlisted Dezeen Award 2022 – Emerging Architecture Studio

Longlisted Dezeen Award 2022 – Emergings Architecture Studio
.
We are humble wanna say, Thank you @dezeen .
.
We got an email about good news for the RAW Architecture studio. “From over 5,400 entries from 90 countries to Dezeen Awards this year, your studio is one of 29 studios that are in the running to win an award later this year in the studio categories.”
.
We gather in the courtyard to discuss and appreciate others. This is a message from me to one another as hope and a reflection of our journey process, with the hope of building a culture of a studio with dialogue. We started from a simple garage, to move to another challenge The Guild and Guha and here we are, still progressing and trying our best to serve our client.
.
Professional architects have a basic task, which is praxis, to approach the reaction action between design methods and reflection on those methods. This is called praxis. Like playing the gamelan on the notes of piano keys. This practice operates on the basis of the concept of harmony. It means a state of freedom from prejudice and ego, which are used to acquire (paradoxically) totality.
.
Hopefully, the good wishes of the studio and spirit can be maintained and realized. Things that should be improved can be improved, and harmony needs to be practiced to become a good “bridge” between architecture and nature.
.
Greatfull to joint submission with other great architects like @ad9architects , @anarchitect_co , @archiworkshop_official , Atelier Apeiron, Atelier cnS, @atelier_xi , @buro_ziyu_zhuang , @carlesenrichstudio , @commonaccounts , @dechelette.architecture , @doetsukaritects_, @invisible_studio , @leckiestudio , @loadermonteith , @maneakella , @mudaarchitects , @nomos.architects , @bornsteinlyckefors , @peterpichler_architecture , @tagatelierdgambleite_architecture, @p.o.ar , @ruffarchitects , @studio__susanne_brorson , @tagatelierdgambleite

.

#RAWarchitectureaward #Realricharchitectureworkshop

@realricharchitectureworkshop

Kategori
Team - Reflection Letter

Irviananda Adenia – Universitas Pembangunan Jaya

Hello everyone! My name is Irviananda Adenia, but everyone calls me Nanda. I am a fourth year student from Universitas Pembangunan Jaya, Bintaro, South Tangerang. As an architecture student, I am always seeking opportunities and challenges that can improve myself more, so I tried to apply for an internship at Realrich Architecture Workshop for the past three months. I do believe that RAW Architecture can provide a supportive environment to experience what I have learned in college, and joining as an intern at RAW turned out beyond all my expectations.

I can say that the past 3 months, from 6th June – 26th August 2022, were totally an incredible moment in my life. The first time I entered Guha, the atmosphere was unreal. It feels like it gives me comfort, spirit, and warmth, but also clueless and full of fear inside mine. But, that feeling of confusion disappeared immediately when I met the whole RAW team who were very humble and welcomed me happily. In just a few seconds, I can already conclude that RAW studio is full of amazing and passionate people.

As an intern, I learned a lot about the architecture world, either focusing on design or building. All designers here transfer their knowledge and perspectives on almost everything, how to develop a building concept, expertise in operating software, solving a problem in many projects, coordinating and contributing with each other, making details for construction needs, and also a professional attitude as a worker. They also remind me that architecture is not only about buildings, but also about feelings, belief, passion, and the story behind it. Not only in the scope of architecture, but I also got to know various stories and experiences about life, work, college, and education, which makes me think more to take the next step to the important moments ahead.

Thank you, Kak Rich, not only for giving me the opportunity to process here but also for teaching me many things about the community that we need to know earlier. The stories behind his experience have made me think about the important steps I must take to continue my life and education, both inside and outside the world of architecture. Thank you to all designer team, Kak Timbul, Kak Pandu, Kak Alim, Kak Riyan, Kak Tyo, Kak Rico, Kak Haykal, Kak Putra, Teh Al, Kak Gaby, Kak Melisa, Kak Kirana, Kak Audy, Kak Vyan, Ci Mei, Kak Fina, Kak Sofi, and Kak Khafyd, for giving me an appreciation, affection, and wonderful mentorship experience. Thank you for always making me laugh and making me more grateful every day. My internship friends, Zyadi, Akmal, Ryan, Damas, Manuel, Devi, and Janice, it was really nice to know you guys. Thank you for being such great friends and helping me in almost everything in Guha. I also want to say thank you to Kakak-Kakah OMAH, Bibi, and other RAW teams, for being humble and friendly to me. Once again, my life as an intern at RAW was beyond all my expectations. With all the new project work, knowledge, people, experiences, laughter, and great memories, three months feels very short. Thank you, thank you. Hopefully, we can meet again in my other favorite chapter of life.

Kategori
Team - Reflection Letter

Damas Dwinito Pradipta – Institut Teknologi Bandung (ITB)

Hi there! My name is Damas Dwinito Pradipta, but you can call me Damas. Currently, I’m studying architecture at Institut Teknologi Bandung. By the time I write this letter, I’m in the 7th semester of my study. During the last semester break, I applied to many architectural firms to do an internship program. RAW is one of the firms I applied to. I chose RAW to be on my application list because I think that RAW could give me much knowledge and experience, especially about detail and technical things.

After a long wait, finally, RAW accepted my application and gave me a chance to be an intern there. Honestly, at first, I don’t feel that delighted being accepted here because it was my last internship option. But, over time, after doing an internship here, I take all my words back.
RAW fulfills all my expectations, even beyond. In Guha, how we usually called the office, I learned everything about architecture practice. Here, all the architects transfer all the knowledge sincerely. They thought me everything about architecture practice hand to hand. I learned how
to be good at designing, understanding details, and enhancing visualization skills. More importantly, They broaden my perspective on architecture. I realized architecture is not only about designing things to be aesthetic. It’s all about integrity between multi-discipline. A great architect is those who are not only good at designing, but as well as communicating, and collaborating with other.

At last, I would like to thank Kak Rich to allow me to be part of this wonderful team. Thank you for being such a humble and warm person. Thanks to all the seniors there for giving me a great mentorship experience. The intern there is, inadvertently, also lively and fun. I am so glad to have them as peers. For the past 2 months, for me, Guha is not my workplace. It is a place for nurturing. I feel grateful that RAW could be part of my professional journey. I wish you all the best things to happen in your life. I hope we could meet again someday!

Warm regards,
Damas Dwinito Pradipta

Kategori
lecture

Bedah Buku – Urban Design: The Indonesian Experience

Conclusion:

Apa yang sebenarnya menjadi wacana ?

Dengan mengangkat judul “Urban Design, The Indonesia Experience” buku ini berisi pengalaman PSUD di dalam berpraktik di Indonesia dengan formal.

Secara urutan penulisan berusaha menjelaskan definisi kota secara umum melalui berbagai sumber, lalu menumbuhkan kesadaran kepada pembaca akan pentingnya perancangan kota yang sarat akan 3 tensi : PRODUCT, CONTEXT : INDONESIAN EXPERIENCE, URBAN DESIGN QUALITY

Kemudian dijelaskan definisi rancang kota dari sudut pandang PSUD dan elemen-elemen yang ada pada rancang kota. Penulisan ini mengarah pada penjabaran yang anatomis dan formal.

Pembahasan faktor-faktor yang mempengaruhi konteks sebuah kota di Indonesia, dari sejarah, geografi, masyarakat dan peraturan dibahas secara umum (spesifik ke kota Jakarta), belum menjelaskan hibrida kota-desa yang ada di Indonesia sebagai refleksi sejarah kota Indonesia dari sosial politik – sosial ekonomi – sosial otonomi budaya.

Pembahasan proyek-proyek yang dikerjakan oleh PSUD digambarkan berdasarkan sudut panda desainer belum sampai pada sudut pandang pengguna, aspek penilaian dalam proses analisis PSUD terhadap suatu konteks belum didetailkan.

Pembahasan proyek perancangan kota yang dikerjakan oleh PSUD disampaikan dengan sudut pandang perancang dan belum mewakili sudut pandang pengguna secara umum. Kemudian pada proses analisisnya PSUD memberi penjelasan yang tergolong singkat terkait aspek pertimbangan dalam setiap konteks perancangan kota. Keberadaan indikasi penangganan rancang kota yang disampaikan pada awal bab membantu proses analisis, namun proses klasifikasi setiap proyek dan penangganannya belum disampaikan.

Pembahasan terkait proyek ini akan menjadi lebih informatif jika berbagai aspek yang berkaitan dengan perancangan kota seperti situasi Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Politik, serta kondisi terkini sebelum dan sesudah perancangan kota disampaikan dengan lebih dalam. Sehingga peran urban design dapat dipahami oleh pembaca.

Pada Bab Refleksi, terlihat bagaimana intensi buku masih pada tahap pengenalan urban desain kepada publik. Terlihat pula perjalanan urban design di Indonesia masih sangat muda, terasa bagaimana para desainer sudah memahami perlunya pemahaman terkait karakter DNA Indonesia, tetapi masih terasa kebingungan rumusan DNAnya seperti apa. Pelibatan ahli-ahli dari bidang lain dalam penyusunan teori mungkin dapat membantu merumuskan hal tersebut sebagai batu pijakan. Buku ini adalah pijakan pertama, jadi yang pertama pasti yang terbaik karena sampai saat ini belum ada yang kedua. Dan lebih penting untuk memulai daripada tidak mulai – mulai, kemudian memrefleksikan kembali untuk menjadi jembatan dari masa lalu ke masa depan.

Acara di @psud.id

Kategori
lecture

Evolusi Desain Pasca Covid

Evolusi Desain Pasca Covid

Pandemi memberikan kejutan di dalam kemanusiaan kita semua termasuk dampaknya terhadap arsitektur. Arsitektur dituntut lebih peka dalam merespon standar-standar kesehatan. Hal ini sudah dipikirkan sebelumnya oleh beberapa arsitek dari 100 tahun yang lalu ataupun dari Era-Era Primitif sebelumnya.

9 tahun sesudah Pandemi spanish flu (1918) ataupun Tubercolosis, Open air school yang di design oleh Duiker and Bijvoet di tahun 1927 di Amsterdam berusaha untuk menguliti arsitektur sampai tulang-tulangnya( skeletal) yang membebaskan diri dari ornamen di mana perencanaan berbasis pada fleksibelitas ruang, kejujuran ekpos struktur keterbukaan udara dan cahaya juga bagaimana efisiensi terhadap sistem pemipaan Elektrikal dan plambing yang terpusat di central core. Pembebasan desain seperti ini menjadi penting karena seperti yang kita lihat di dalam arsitektur Open Air School ada fase di mana arsitektur diperjuangkan sampai elemen yang Esensial.

Dua tahun kemudian Alvar Aalto mendesain Rumah sakit Paimio menggunakan bentuk Lengkung dengan jendela panoramik yang bisa memberikan perasaan tanpa batas melihat ke hutan pinus yang ada di sekeliling rumah sakit. Lalu, Ia mendesain furniture, gagang, wastafel dengan memperhitungkan bahwa pengguna tidak perlu menyentuh dengan pergelangan.

Paimio dan Open Air School adalah arsitektur yang firmisanal yang merupakan definisi arsitektur yang stabil tetap dan memiliki Ketahanan terhadap berbagai macam hal termasuk materialitas dan teknologi bangunan yang establish. Di sinilah industri akan memainkan peran besar dan bagaimana Tegangan global dan lokal menjadi penting untuk perumusan metode desain. Ibaratnya belajar sampai negeri Cina negeri Italia berbagai macam benua inspirasi ada di mana mana tetapi jangan lupa belajar di mana tempatmu berada yaitu Indonesia tercinta.

Sedangkan kita juga memiliki arsitektur yang lStreetsanal yang merupakan arsitektur yang terus bergerak mengalir dan mengandalkan hal hal yang sangat mudah untuk dilakukan Yang bahkan bisa memakai material-material sekitar dan bisa jadi material sisa. Bisa jadi pendekatan kedua ini mendekonstruksi apa itu kepastian, dan mempertanyakan vernakularitas meskipun pada akhirnya hal tersebut akan bersifat tidak pasti atau eksperimental. Ibaratnya jangan lupa belajar untuk menjadi peka terhadap hal sekitar kita sekitar proyek sekitar- sekitar kita yang ini ini saja

Di tahun 2022 Melihat desain setelah Pandemi di mana hampir semua negara bergerak menuju normal. Disitulah dua buah kutub yang paradoksial itu untuk membebaskan evolusi desain setelah masa Pandemi sesuai optimalitas klien, dan konteks lokasi. Pertanyaan tentang what is need it what is true I what is necessary akan menjadi sangat penting. Sehingga metode design bisa diturunkan secara cepat tepat sekaligus berkelanjutan karena bumi ini juga punya sumber data yang terbatas.

Masa ini adalah masa yang sangat penting untuk bisa memerdekakan pikiran. Kemerdekaan tersebut menambah koleksi-koleksi arsitektur yang merupakan tahap selanjutnya yaitu arsitektur yang memerdekakan unik namun ada kesan familiaritas, Fungsional namun juga ada puisi. Kontradiksi itu yang membuat arsitektur kita kaya raya menuju masa depan.

#RAWongoing

Project : (Cover) Wangkar House, Scaffolding House, Bamboo Castle
Acara di @arsitektur_ukdw
.
#realricharchitectureworkshop#realrichsjarief#architecture#arsitek

Kategori
lecture

Karya sebagai Ciri Khas Diri

Karya sebagai Ciri Khas Diri ?

Hari sabtu pagi saya diundang oleh program studi design interior universitas Gunadarma. Topik dari seminar kali ini adalah “Karya Sebagai Ciri Khas Diri”.

Saya bertanya-tanya tentang topik tersebut karena sebuah karya arsitektur sebenarnya juga merupakan hasil kolaborasi dengan begitu banyak pihak, bukan merupakan karya yang truly personal yang menonjolkan ciri khas diri sendiri saja.

Problematikanya, adalah setiap karya yang berdiri tidak pernah sesederhana yang terlihat. Di balik karya arsitektur ada klien yang memiliki keinginan dan kebutuhan, dari proyek residensial sampai komersial, ataupun proyek kultural sampai proyek sosial, setiap klien hadir dengan mimpi yang tidak terbatas. Disitulah arsitek perlu hadir untuk membuka sekat-sekat mimpi dari kliennya.

Dari situlah filosofi arsitektur, cara kerja, kebiasaan yang spesifik muncul dalam goresan tangan. Saya selalu meyakini arsitektur itu filosofis, hangat dan menyenangkan. Mencari klien tidak mudah, namun sekali filosofi dan sikap diri kita tepat, maka klien akan mengalir, kualitas kerja akan meningkat dan karya arsitektur akan menemukan ciri khasnya sendiri.

Permulaan mencari klien adalah titik awal, dan bagaimana mendesain supaya tepat yaitu bagaimana tetap puitis, dan juga efisien menjadi penting. Penting karena seluruh sumber daya bumi ini juga terbatas. Itulah pentingnya metode desain yang tepat. Transformasi tersebut kami lakukan di dalam RAW Architecture dimulai dari pengerjaan sayembara, kurasi, kompetisi internasional, relasi dengan klien, manajemen, sampai nongkrong di lapangan sembari menggali terus sisi kesempurnaan detail baut dan sambungan. Dibutuhkan “extra mile”.

Keseluruhan runtunan proses itu menghasilkan jawaban bagaimana mendapatkan “Karya sebagai Ciri Khas Diri” dan memiliki filosofi yang menggabungkan dunia sains dan intuisi. Dan hal ini “Indonesia banget” realitanya, dimana ada banyak lapisan, elemen, begitu disatukan membentuk kolase yang kaya di dalam arsitektur. “Broken and solid in one piece. “

Project
#RAWongoing Rumah Morahai
Acara di @interiordesignweek_
.
#realricharchitectureworkshop#realrichsjarief#architecture#arsitek

Kategori
Team - Reflection Letter

Ryan Dwi Priyambodo – Universitas Sriwijaya (Unsri)

Halo! Perkenalkan, saya Ryan Dwi Priyambodo, mahasiswa tahun ke – 4 Universitas Sriwijaya. Memiliki kesempatan untuk kerja praktik di RAW merupakan pengalaman saya yang sangat berharga. Di hari pertama mengunjungi studio RAW, saya dan ketiga teman saya yang memang kebetulan berasal dari satu kampus, langsung disambut hangat oleh Realrich untuk diwawancarai mengenai latar belakang maupun alasan memilih RAW sebagai tempat magang. Realrich yang sempat menjadi pembicara materi di salah satu mata kuliah kampus saya dan juga tempat yang dikenal “bergengsi” dalam dunia arsitek pun menjadi salah satu alasan saya mengapa memilih tempat ini.

Di hari awal bekerja, sudah sangat terasa perbedaannya bagaimana menjadi seorang arsitek di dunia kampus dibandingkan dunia kerja aslinya, saya diajarkan betapa pentingnya ilmu komunikasi itu, dimana skill komunikasi adalah salah satu kekurangan yang saya sedang kembangkan di diri saya sendiri. Kak Andriyan atau kak Riyan, yang memang kebetulan memiliki nama panggilan yang sama dengan saya dan lucunya kami satu universitas yang sama juga, menjadi PIC saya dalam bekerja. Banyak hal yang saya pelajari kak Andriyan maupun kakak kakak yang bekerja di RAW, dari cara bagaimana mereka berkomunikasi, mengapresiasi maupun mengajari dalam hal bidang arsitektur. Tidak hanya dalam dunia pekerjaan, kakak di RAW juga sering mengajak saya untuk pergi ke wisata bangunan arsitektur di tiap minggunya, terutama dari kak Tyo yang memang memiliki hobby jalan jalan, hampir setiap minggunya memiliki ide tujuan ke tempat tertentu. Dari acara wisata ini, juga menjadikan pengalaman buat saya untuk mempelajari bagaimana bangunan arsitektur itu

Untuk kakak kakak yang telah mengajari saya banyak hal kak Rich, kak Andriyan, kak Timbul, kak Pandu, kak Tyo, kak Haykal, kak Melisa, kak Putra, kak Adzlin, kak Rico, kak Khafyd, kak Kirana, kak Audy, kak Fian, kak Mei Mei, kak Fina, kak Shofi, kak Lulu, kak Ufi, kak Gaby dan yang mungkin saya belum sebutkan, terima kasih telah membimbing dan mengajari saya banyak hal di RAW ini, serta teman magang saya, Akmal, Zyadi, Nanda, Damas, Devi, Manuel dan Janice yang telah menemani dan mengisi hari – hari saya di RAW.

Thank You everyone for welcoming me into RAW with a warm smile,
I hope to see you all again!

Kategori
Team - Reflection Letter

Muhammad Zyadi – Universitas Sriwijaya (Unsri)

Hello, My name is Muhammad Zyadi. I’m a 7th-semester architecture student from Sriwijaya University. I’ve been lucky to get the chance and be part of the Realrich Architecture Workshop (RAW) as an intern. Being in RAW itself is a dream come true for me. I never thought that I would come to Guha as an intern.

I’ve been interested and always curious about architecture, from semester to semester I’ve always put my best to learn about architecture. For me, my ambition is what keeps me pushing myself. But that is where the wrong thought started to show up. That ambition created ego and it affected how I’ve been designing in architecture. All I knew was just I wanted this and that and how it can be applicable to the design even though it’s still based on analysis.

During my Internship at RAW, I learned that it’s not about me, It’s about us the architect, the client, and the site and building itself. It’s not about what I as the architect want but it’s about how we create harmony between the architect, the client, the site, and the building. All the decisions that we make will affect how the user will experience the architecture and that is crucial. RAW changed my perspective on architecture, it taught me to see wider and further but also closer at the same time. I learned a lot about design, construction and its details, visualization, the attitude to work as a team, and how to communicate our thoughts in design.

Besides architecture, I feel grateful to be able to experience my first-time “work” experience in such a harmonic supportive work environment. I never expected to get this experience in an internship. The warmest smile people have given to me since day one, the story and laugh we shared in the pantry, foyer, studio, internship room, or outside Guha with “Tyo Tour and Travel” was unforgettable. During the last few days, I tried to capture the moment as much as possible because I know the time will surely end and the moment can’t be repeated.

The first time I heard “Realrich Architecture Workshop ” the thing that appeared in my mind was that it’s just a great architecture Firm. But now, every time I hear “Realrich Architecture Workshop” every beautiful moment with all the people there is a glimpse in a split second in my mind. RAW isn’t just a great architecture firm but also a place where I learned a lot of things about architecture, a place where I met a lot of people with beautiful souls and their own character, and a place where I feel joy and endless excitement to learn about architecture and interact with the people there. RAW with Guha as its office is a beautiful place but what is inside is way more beautiful. 

Thank you kak Rich for the opportunity and mentorship, thank you to everyone inside the studio, and omah for everything, I’m not sure that every single one of you constantly interacted with me but one thing I can be sure of is all of you are written in one of my favorite chapters of my life. Wishing you the best everywhere you go, you guys deserve good things in life.

Warmest regards,
Muhammad Zyadi

Kategori
Team - Reflection Letter

Muhammad Akmal – Universitas Sriwijaya (Unsri)

Hi everyone, my name is Muhammad Akmal, as of writing this I am a 21 years old uni student riding along life with a huge passion for architecture. The passion which I’ve been brewing since the first time I heard the term ‘architect’ when I was little. But speaking honestly here, for the most part, I was blind and basically second-guessing the meaning behind the term, I find myself chasing the title more than what’s being held by it. Realizing the problem, I had always tried to put myself in a different environment from time to time. this time I reached out to Realrich Architecture Workshop for an internship program and was fortunate enough to be accepted.


Throughout the short time I was there I was able to learn so much more than I could tell, for the first time I was taught to put more meaning behind architecture, to realize that architecture is a journey of my own, and to cherish every step I took along the way. The experience I had as an intern in RAW make me think more critically about the environment and people around me and foremost about myself and my daily life. RAW taught me the ability to see architecture in the most detailed way and as wide as I could at the same time, to consider any and everything that my mind can reach.


Throughout my time as an intern in RAW, my passion for architecture grows even more, and my thirst for knowledge along with it. I am very grateful to Kak Rich for giving me this opportunity and to teach me a lot of things about architecture, be it design, development, and also philosophical matters. And also, I would like to thank all my seniors there for taking the time out of their packed schedules to teach me about all sorts of things from architecture and software to other important things such as life lessons. Lastly, to my new RAW architecture family, I wish you the best of the best.

Best Regards,
Muhammad Akmal

Kategori
Team - Reflection Letter

Aryo Phramudhito – Institut Seni Indonesia Denpasar

Proses saya mengenal Omah Library mungkin tidak berbeda dengan kebanyakan manusia lain, melalui kelas, buku, dan perpustakaan uniknya. Saya pikir mengetahui eksistensinya sudah cukup bagi saya, ternyata satu situasi di akhir masa studi membuat saya memiliki cerita dengan Omah Library. Memutuskan untuk mengerjakan tugas akhir saya dengan bermagang di Omah Library cukup menjadi tantangan bagi saya, mahasiswa Desain Interior dari institusi seni yang jauh dari tempat ini. Riset, menulis, dan berpikir kritis bukan hal biasa bagi generasi saya. Namun entah, saya menikmati momen ketika menulis jurnal untuk tugas mingguan selama studi. Saya mengunjungi beberapa karya desain interior dan arsitektur yang jauh hanya untuk merasakan pengalaman seutuhnya, dan ingat ini untuk jurnal mingguan yang biasa. Mendapat keleluasaan untuk memutuskan memilih tempat bermagang, saya memberi kesempatan kepada diri saya sendiri untuk mencoba yang sudah saya ketahui tapi tidak pernah mendalaminya. Mengirimkan surat lamaran magang dan menunggu adalah perasaan terburuk tapi menyenangkan bagi saya. Mendapat kabar baik dan bisa segera memulai magang di Omah Library rasanya kabar terbaik pada saat itu.


17 minggu tepatnya saya di Omah Library. Pada beberapa minggu pertama cukup membuat saya bingung, mengerjakan hal yang pernah saya kerjakan namun dengan sudut yang berbeda. Terbiasa mengikuti ‘aturan’ dan diajak untuk lebih berekspresi. ‘Beyond’ kata kunci yang selalu saya gumamkan ketika tulisan saya ‘mentok’ dan menulis menjadi hal yang sempat saya takutkan. Namun beberapa waktu ini, ketika saya mulai beradaptasi dengan pola ‘bersenang-senang’ Omah Library dan bagaimana setiap manusia berperan di dalamnya, sangat membantu saya dalam menempatkan diri. Bertemu dengan Eric Dinardi, satu fotografer arsitektur yang saya sukai karyanya, mewawancarai para arsitek mumpuni yang saya bahkan tidak
bermimpi untuk dapat berbicara dengan Pak Gunawan Tjahjono, Pak Danang Priatmodjo, Yonav Partana, Patrisius Marvin, Bu Nelly dan Pak Deddy dari LABO. Dibandingkan dengan saya pada hari pertama ketika di Omah Library, saat ini tentu sangat berbeda. Saya hanya menikmati proses ‘bersenang-senang’ disini, bagaimana hal kecil dan biasa selalu dianggap dari satu hal yang besar. Bagaimana setiap ide dieksekusi bersama tanpa ekspektasi yang membebani, hanya ‘bersenang-senang’.

Terima kasih Omah Library untuk waktu dan ceritanya, untuk Kak Rich, Kak Ufi, Kak Nirma, Kak Lulu, Kak Farhan, Aul, dan Maria rekan magang meski hanya sebulan.

Best Regards,
Aryo Phramudhito

Kategori
Team - Reflection Letter

Evanjelicel Tamio Dimpudus – Universitas Pelita Harapan

Perkenalkan nama saya Evanjelicel Tamio Dimpudus, mahasiswa tahun keempat arsitektur Universitas Pelita Harapan. Secara pribadi saya kagum dan sudah mempelajari beberapa karya RAW baik melalui buku, publikasi online dan juga sosial media, terlebih ketika saya mengunjungi dan menikmati secara langsung The Guild dan sekolah Alfa Omega. Bagi saya belajar aritektur adalah tentang rasa penasaran dan pertanyaan; tentu ini sangat menyenangkan dan menantang, namun sudah saatnya tantangan itu tidak datang lagi dari sesuatu yang bersifat fiktif seperti soal di studio. Pemikiran ini muncul karena saya merasa sangat tidak memahami dunia arsitektur ketika bekerja dilapangan secara langsung. Saya sudah mengerjakan beberapa proyek terbangun, seperti rumah dan instalasi, namun saya merasa masih kurang profesional dalam menangani proyek-proyek tersebut. Disitu saya sadar bahwa arsitektur perlu dipelajari dari ahlinya; saya ingin mendapat tempat dan mentor yang tepat untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas diri serta arsitektur yang akan saya bangun kedepannya dan RAW Architecture adalah komunitas yang tepat untuk semua itu.”

“RAW Architecture terasa seperti sekolah bagi saya.
Saya rasa kesempatan belajar di RAW adalah pengalaman sensasional yang menunjang masa depan saya dalam berarsitektur. RAW itu cair bagaikan air; “You must be shapeless, formless, like water. When you pour water in a cup, it becomes the cup. When you pour water in a bottle, it becomes the bottle. When you pour water in a teapot, it becomes the teapot. Water can drip and it can crash. Become like water my friend.” Begitu kata Bruce Lee. Bersama RAW selama 3 bulan saya merasa seperti berada di komunitas rohani, merasa berada di warung kopi, merasa berada di acara keluarga, merasa berada di lingkungan akademisi bahkan merasa berada di acara stand up comedy (dan masih banyak universe RAW yang belum terjelajahi). Sebuah komunitas yang cair dan kaya akan pengalaman, pelajaran dan kebersamaan. Tak lupa komunitas ini juga sangat terbuka bagi lingkungan sekitar; sore bisa bermain bersama anak-anak,dan jajan es juga telur gulung di dekat ring basket.Tak hanya manusianya, arsitektur Guha The Guild pun memberikan kenyamanan bagi lingkungan sekitar dengan micro climatenya.


Dear kak Realrich Sjarief, seorang yang jatuh cinta kepada arsitektur, seorang yang bahkan tujuan hidupnya adalah arsitektur, pertama-tama terimakasih. Saya sempat tepuk jidat dan mikir “Segitunya ya buat arsitektur”. Dan Ketika berpikir lagi sebenarnya jika saya adalah seorang arsitek, saya harus memiliki mindset seperti ini. Kak Rich juga sangat senang berbagi, dan Ketika weekly meeting di hari senin yang paling saya tunggu sebenarnya adalah sharing dari kak Rich. Saya sangat bersyukur pernah dibimbing oleh kak Rich.


Untuk kakak-kakak yang sudah menjadi mentor saya terutama Kopan (kak Pandu), kak Riyan dan kak Timbul, terimakasih atas rangkulan dan ilmu yang hangat. Kak Khafyd dan kak rico yang jadi temen ngobrol. Kak Tyo, bang Putra, kak Melisa, kak Adzlin, kak Vvyan, kak Mei, kak Fina, Sofi, bang Haykal, kak Kirana, kak Vivi,dan kak Satria juga mewarnai keadaan studio dan pengalaman saya bersama RAW terimakasih. Tentu tak lupa 2 manusia dari Petra yakni Gabi dan Angel sebagai magangers RAW kalian fantastis!. Juga kepada teman-teman dari OMAH tulisan kalian dapat merubah arsitektur Indonesia.


Akhir kata, bagi kon kawan yang membaca tulisan ini, orang-orang yang aku sebutin dan kagumi di atas adalah orang-orang yang sangat hebat. Sangat senang berada di sini dan menantikan apa yang akan RAW bawa ke dunia.

Best Regards,
Evanjelicel Tamio Dimpudus

Kategori
Team - Reflection Letter

Angel Gabriella Kusuma – Universitas Kristen Petra

Hello! I’m Angel, a fellow learner, and explorer who’s also currently studying architecture at Petra Christian University Surabaya. Was born and raised in Surabaya for 21 years. In my last year as an undergraduate student, I decided to do an internship program in RAW to expand my exploration, and get new experiences as well as new perspectives on architecture and life.

The 24th of November, 2021 is the day RAW offered me a chance to do the internship program which I had applied for 3 months before. I still remember the feeling of waiting and how excited I got when Kak Yudith contacted and offered me the internship program. To be honest, the journey to get to that day wasn’t easy, and I guess that’s what makes that day so special. Through this letter, I would like to express my gratitude to the RAW family, especially Kak Rich and Kak Yudith, for giving me a chance to learn, meet, and work with amazing people in RAW Studio.

These past 4 months, RAW hadn’t only become my workplace but also my home. To work in RAW, I had to leave Surabaya, the place where I grew up and live for 21 years. Surabaya was my comfort zone, but I am glad that I had decided to step out of it, even for only a few months. Within 4 months in RAW, I had learned and gained a lot of knowledge and experiences which gave me a whole new perspective on architecture, the world, and even life. I learned new things that can only be obtained through field experience. I learned that architecture, details, construction, craftsmanship, and communication are inseparable. But, the thing I am most grateful for is that I was never alone. Going through this big change and process of knowing architecture, myself, and life, I was lucky enough to experience it with the best people in the world:) RAW has taught me that architecture is also about being part of a community and family. I believe that creating amazing architecture, also takes amazing teamwork and community.

During my internship, every once in a while, Kak Rich brought up this question “what is our purpose in life?”. This got me thinking, “what do I want in life?”, “where am I heading to?”, “is architecture part of my purpose in life?”. I have been trying to find the answer to these questions, until this one moment. I remember when my mentor had to leave and continue her own journey outside RAW. Kak Rich had mentioned that she had “touched” everyone with her presence and her relationship with others. At that moment, I thought, how beautiful it is? If one is able to touch someone with their presence. That thought made me reflect on myself. I guess for now I decided that my purpose is to be able to touch people with everything that I do, whether through my works in architecture or even through my actions towards others. Therefore, I am also thankful to Kak Rich, for bringing up questions that we were all afraid to ask ourselves.

4 months had passed so quickly. For all the knowledge, experience, wisdom, laughter, and memories, I thank everyone. No words can’t describe how grateful I am to spend the last 4 months in this new home.
Thank You Kak Rich for being such a humble person and for creating a supportive environment in RAW,
Thank You everyone for welcoming me into RAW with a warm smile,
I hope to see you all again!

Best Regards,
Angel Gabriella Kusuma

Kategori
award

Piyandeling is in Longlisted Nominations Dezeen Award 2022

Dari lebih dari 5.400 entri dari 90 negara ke Dezeen Awards tahun ini, Piyandeling Artisan House yang didesain oleh studio kami adalah salah satu dari 322 proyek arsitektur yang sedang dalam proses untuk memenangkan penghargaan akhir tahun ini dalam kategori arsitektur.

Dezeen telah menyusun halaman khusus untuk proyek tersebut di situs web Dezeen Awards:

Liat di bio

Apa yang terjadi selanjutnya?

Entri ini akan direview kembali oleh para panelis panel dari tokoh industri terkemuka kami, yang akan memutuskan proyek mana yang akan dimasukkan dalam daftar pendek kami dan pada akhirnya pemenang di setiap kategori. Daftar pendek akan diumumkan dari 5 hingga 9 September, dan pemenang akan diumumkan pada bulan November.

Pemungutan suara publik Dezeen Awards 2022 juga akan dibuka pada bulan September untuk memungkinkan pembaca memilih proyek dan studio favorit mereka. Ini terpisah dari proses penjurian Dezeen Awards utama, di mana entri dinilai oleh panel juri profesional mereka.

@realricharchitectureworkshop

#Piyandeling#Piyandelingartisanhouse#Ruralhouse#Dezeen#Dezeenaward#dezeenawards2022
#realrichsjarief#realricharchitectureworkshop#arsitekturindonesia#arsitekturnusantara#eaaeaa

Kategori
blog

Let’s return to the “why” not just “what” is next.

We wanna thank really much to the curator of the TAB series Yann Follain from @wyto_architects described a need of looking in the region as an act of an act of togetherness, and @cosentino.asia. He put together curatorial note in new book in about ETAB lecture series. Yann wrote beautiful phrase that showing urgency of cultures, and being together for sustainability agenda “… Southeast Asia, the differences in practices and cultures have provided new vantage points on how we may innovate to advocate for the sustainability agenda.

We do not claim to know all the answers to every question, but our minds always remain open for growth and progression in thought. We see in the development of society that discoveries and new methodologies evolve over time. What may be considered revolutionary today could eventually be seen as unmistakably evident, and that is the beauty of progress and change in societies.

We as Architects, Designers & Craftsmen need a fresh change in perspective, to prevent us from just going with the flow as we practice and hone our skills. We need to reboot and think of creative solutions, even if means stepping out from the flurry of urban life just to Consider the impact of the daily decisions that we make, as we move into the new beginnings in 2022.

Let’s return to the “why” not just “what” is next.

We slowed down for this journey in the Making of Architecture. We shared generously through our project exchanges. We are now ready to invoke change.”

@realricharchitectureworkshop are delighted to be featured Together with another 15 architects curated by in TAB and eBook by Consentino, as joint forces in southeast Asia with Marc Webb & Naoko Takenouchi @naoko_takenouchi_, Mike Lim @mikelim_dpdesign & ER Yong Siew Omn, William Ti @entrari, Pan Yi Cheng @pan_yi_cheng, Alan Tay @alantay_formwerkz, Adela Askandra @adelaaskandar & Farah Azizah @farahazzizh, Goy Zhenru @goy_architects , Victor Lee & Jacqueline @plystudioarchitects , Chatpong Chuenrudeemol @chatpongc , Jonathan Quek & Koh Kari Li, Tiah Nan Chyuan, Andrian Lai.

“We are closer and stronger”

please look at the @Cosentino ig for the procedure of reading the free E book.

Kategori
blog publication

Inside All 10 Houses From Season 2 of Apple’s Design Docuseries

Guha is in the review in series of Apple Tv.

Cited from website : “The fantastical Indonesia home of Realrich Sjarief is defined from the exterior by its broad circular windows and draping plants, but inside, it’s much harder to define. Gohu means cave, and indeed the concrete structure feels like a place for discovery just like a cave. Age-old materials like bamboo are combined with steel and plastic to create a truly unique, 21st-century building.”

Here is the full coverage :

https://www.architecturaldigest.com/story/inside-houses-season-2-apple-design-docuseries

Kategori
blog blog - marriage years blog - marriage years - Family

Guha is in Apple TV +

Yesterday we watched a Guha movie on apple Tv, which was filmed by A24 the Apple TV team and edited and worked in a way I never expected. The film is directed by Sami Khan, and produced by dream team : Collin Urcutt, Nick Stern, Courtney Crock, Joe Yaggi, Patrick, Charlie Balsch, Maya Lubis, Lisa Sanusi, David Hutama, Laurensia, Miraclerich, Heaverrich, craftsmen Guha’s team, RAW Architecture studio, Omah and all of the big team in this movie.

We cried every seeing the lost our missing daughter and laughed every seeing Laurensia, Miraclerich and Heavenrich. We never expected the result to touch our heart, it’s gift to Guha.

.

Even they composed special music for the show. I discussed with Cali, to know their creativity to interpret Guha in their own way. “Thank you Realrich! initially we did some extensive research on traditional Indonesian instruments like Gamelan and Angklung and was trying to do a modern twist with them; throughout the creative process we developed quite a lot more than that, mainly drawing inspirations from your concept as an architect actually! The exciting and adventurous spirit to access every doors, blending Western Europe technology but make it work in our situation…; there was one part where you mentioned the process of bending the metal over and over again to make circle shapes (hope I remembered correctly), we found layering the music one by one, over and over (just like the process) works really well with the scene! It grew to be quite philosophical rather than just painting the right colors, if that make sense! And we had a lot of help and guidance from Collin and the team 😊
I hate to explain music too much hahah so really hope you and your family enjoy the music when the episode airs!” This humbled us with such beautiful process comes beautiful piece of music titled “Bamboo Fantasia”.


As an architects, we tried to control, experiment with, and try to fit into balance things. But this movie worked beyond the control as I can’t control of some of the aspect in my life with Laurensia. As a subject, we was prone to be able to open the question in my mind such as how can they touch my heart when we saw this movie? They made us cry and sad in one of the scenes and made me laugh and hold Laurensia’s hand, looking at her happy eyes. This movie is magical and touching with a simple script, but the technical and preparation aspects are not easy.


.
Collin and Nick spent much time discussing and talking about Guha and our family activities. Then, Sami joined as director, and then I felt the questions go more profound than before. Suddenly It touched our weakness which is Losing our daughter. That situation made me shut down my emotion over the years. I never expected that spot hits me hard, and it isn’t easy to talk about it. We cried in the session, we learned that opening myself helps to heal myself.
.
In the next session in the zoom meeting, they met with Laurensia. They needed to meet Laurensia because Laurensia was paranoid about the pandemic, and it was not easy to get Laurensia’s approval. She once said, “honey, this guy is going to make good on you. They have prepared to discuss and make things proper.”
.
She thought that it was only me who would be in the movie, but soon as she understood that her, Miracle, and Heaven were needed on the set, she changed to be a different person that is more open. This moment is a process of us opening ourselves to the fear of pandemic and the fear of us fanning ourselves. One zoom meeting sometimes takes 1-3 hours, and several times were meeting. Then, the day finally came when the Apple TV + team came to Indonesia. Sami, Courtney, and Collin led the team in collaboration with Joe, Patrick, and the team. What interests me is the perfection involved; they need to take the shots several times over and over at a different angle. The heavy tools consist of cranes, drones, lenses, and big cameras. Sami told me that the devices used to take Verite, which means the art or technique of filming something (such as a motion picture) to convey candid realism, and it’s a beautiful shot tested from several angles. Working on something over and over is like craftmanship. It takes enormous energy for one scene to take, but they did hundreds of images in weeks. One time I heard Patrick say,

Collin and Nick spent much time discussing and talking about Guha and our family activities. Then, Sami joined as director, and then I felt the questions go more profound than before. Suddenly It touched my weakness which is Losing our daughter. That situation made me shut down my emotion over the years. I never expected that spot hits me hard, and it isn’t easy to talk about it. I remember I cried in the session. I learned that opening myself helps to heal myself.

“Sami, I can’t take it anymore!” I saw Sami, Collin, and Courtney. They focus on the story, logistics, and details because their time to take shots is limited. The camera is heavy for sure.

The next interesting one is spontaneity, they encourage us, me Laurensia, and all of the people on set to be spontaneous like doing our daily activities. Being spontaneous is about showing the back and front stage as it is. It’s an open-up process. There was one line I liked when Laurensia noted that we are connected with gossip in Indonesia when we discussed the city that is so detached.

Spontaneity contested us, to be honest with me, and it helps us appreciate memories with my relation, especially with David Hutama, who interpreted and positioned me. Sami said one time, “Realrich have you heard David saying? Are you getting along with him usually ?” I think I have not met David for such a long time, 3-to 4 years. I remember I met and discussed with David when founding Omah Library.

Spontaneity contested us, to be honest with me, and it helps me appreciate memories with my relation, especially with David Hutama, who interpreted and positioned me. Sami said one time, “Realrich have you heard David saying? Are you getting along with him usually ?” I think I have not met David for such a long time, 3-to 4 years. I remember I met and discussed with David when founding Omah Library.


.
The session of Courtney directing Miracle is memorable, and It’s a Miracle’s favorite. Courtney helps to control Miracle without him even realizing he is on set. He always asked if he would meet aunty Courtney because he explored new things. It’s the same with Laurensia And Heaven, some images were sent to me by a team together as memories, and I genuinely love them because of their smile. I think about them all Of the time. Family is my priority.
.
During the interview, I saw Collin keep writing. One time, Sami asked questions, and Collin reviewed the answer and twisted it to another question for me to answer more clearly. He scrutinized all of the script, dubbing, and technical aspects over and over. They never told me that some of them were the producer, the director, and the scriptwriter. They just worked like a team that had been working for ages. Once, Collin said, “at the end of this release, we are going to be family,” which summarizes my proposition about ideas for answering the questions they prepared. So the situation, ecosystem in the making helps to inspire on site.
.
Then, the day after we went to Alfa Omega school, I felt connected with my childhood when I heard that Lisa spoke, always bringing a vision to help young people. She wanted to get independence from the education system. For young ones, I learned to be as simple as I could. Being honest is an act of humanity. That school is a reminder of how architecture can touch humanity, and we as an architect still have many things to learn.

Then, the day after we went to Alfa Omega school, I felt connected with my childhood when I heard that Lisa spoke, always bringing a vision to help young people. She wanted to get independence from the education system. For young ones, I learned to be as simple as I could. Being honest is an act of humanity. That school is a reminder of how architecture can touch humanity, and we as an architect still have many things to learn.


.
The Apple team traveled quite much, and I saw them quite exhausted. I asked Pak Joe whether this is normal For production to have a very intense camera. He said that it is only beginning. After this, there will be times for editing, and it will take months to finish. Editing takes time. I remember when collin wrote something, my mind came when I wrote the manuscript of architecture as an escape from my daily routines. Literacy for them is crucial to get the sequence in the movie. It’s like an architecture experience based on script: program, material, wisdom.
.
Ultimately, it takes the second trip with bu Maya and Charlie to add more verite video and make the shots even more beautiful. This process made me realize that we need to open myself up in this life. Wherever we are currently struggling, the energy around architects has its S curve, which means there is a steep learning phase associated with short time and intensive training, and then enjoying the learning outcomes until the graph decreases again. The key for a person to continue growing is getting the next S curve from a declining chart. It’s a process to incline up likewise from one angle to another to bring continuous improvement—this improvement leaps the system from the life around architects. In reflecting on that S curve break, there is a moment of celebration of the closeness, personal, and network that makeup life.

This Film made by the production, director and all of the amazing team featured in Apple Tv shows multiple S curves in a short time, and on every upside of the curve, there will be a scene of Miracle smiling and running. That opens up self to treat architecture and its people like a family through tears in heaven. A hope to bring miracles and heaven to others through architecture. Big Thank you to all of you below, you meant so much to my heart and Laurensia as family. Look at the big team below !

Traces of Miracle’s foot

Credit

Executive Producer :
Matthew Weaver
Kim Rozenfeld
Ian Orefice
Alyse Walsh
Collin Urcutt
Ben Cotner
Emily Q.Osborne
Sarba Das,

Co-Executivue Produce :
Nick Stern

Series Line Producer :
Aude Temel

Director :
Sami Khan

Directors of Photography :
Patrick Lavaud
Denny Chrisna
Charlie Balch

Editors
Erin Nordstorm
Aaron Vandenbroucke
Mari Keiko Gonzalez
Derek Kicker

Producer
Nick Stern

Field Producer
Courtney Crockett

Post Producer
Mark Newton

Production Manager
Courtney Crockett

Production Coordinators
Anna Keegan
Lindsey Steer

Post Production Manager
Audrey Schuberg

Clearance Manager
Mary Sheibani

Associate Producer
Tanner Jarman

Clearance Coordinator
Sam Cirilio

Local Production Consultant
Joe Yaggi

Associate Producers
Aldrian
Maya Lubis

Production Coordinator
Bintarti “Bince” Aquarti

Production Assistants
Yudi Gunawan
Hardianto
Dodi Irawan
Cici Sucik Sri Rahayu

1st Assistanst Camera
Nasir “Acing” Libria Hardi
Tezar Samara
Lucky Agus Setiawan

Steadicam Operator
Dedi Buaksono

Stadicam Assist
Samsul Arifin

Jib Operator
Sukirmo

Asistant Jib Operator
Chepy Jaya Kelana

Media Managers
Rizko Heru Angga
Muhamad Wahyu

Sound Mixers
Ikabl Wahyudin
Sri Wahyuni Retnowati

Gaffers
Nelson Erikiswanto
Arif Bina Yuana Pribadi

Grips
Asrul Alamsyah
Yudo Inarno

Drone Operator
Ody Putera

Covid Compliance Officers
Dr. Theresia Simbolon
Dr. Patricia Stephanie
Robin Limbong

Camera Guard
Hadi Prayitno
Siswanto
Jhon Ekoidu Simbolon

Lens Guard
Sumedi Hendro
Erwin Yuniarko
Sopican Syah

Ronin Guard
Moh. Fajar

Light Guard
Indra Rizky P. Matara

Video Assist
Zul Fadhil

Drivers
Agus
Ali Sokib
Dede
Iping Ariping
Latif Ponco Romadhon
Mujiarto
Mujiono
Naidi
Ngatimin
Nurrohmad
Pardomuan Simanjuntak
Rudiansyah S
Setiawan

Lead Assistant Editor
Anabel Rodriguez
Assistant Editors
Taylor Stoaks
Araceli Rodriguez
Kathy Hinh

Development Producer
Sara O’ Reilly

Series Consultant
Dung Ngo

Consultants
Sarah Williams Goldhagen
Allison Arieff
Germance Barnes
Suzy Annetta
Hugh Merwin
Jennifer Porter
Mimi Zeiger

Research PA
Keehup Yong

Production counsel
Donaldson Callif Perez, LL
Julie M. Phillips, Esq
Katy Alimohammadi, Esq

Clerance Counsel
David Wright Treamaine, Llp
Jonathan Segal
Rachel Gold

Production Accountants
R.C Baral & Company, Inc.
Lea Holmes & Melina Garay

Original Music Composed by
Aska Matsumiya
Cali Wang

Main Title Design and Motion Picture Graphics
The Other House

Dailies and Post Production Services
Banana Post

Visual Effects Artist
Miles Smith

Colorist
Chad mumford

Re-recording Mixer
Colin Moran

Online Editor
Stepehen Dickman

Transciption Services
Wordfactory

Translation Services
Strommen Inc.

Additional Footage & Images
Andhang Trihamdhani
Javier Ariadi
Mario Wibowo
Starlite Photography

For A24 Films

Coordinator, Documentaries
Chris Bowyer

Production Accountant
Anthony Putvinski

Media Weaver, Half Full studios

and , to our closest one as well Thank you to all of the contributors

Cast other than our family : David Hutama, Lisa Sanusi, and all of the

RAW Architeture team
Omah Library Team
Administration Team
Guha Craftsmen Team
Clients who supports us
Other Contributors
Brothers Sisters Friends

An Architect’s passion for experimentation transforms a bioclimatic house into a microcosm of his world and playground for his imagination


on Apple Tv to see Guha here

Kategori
Team - Reflection Letter

Aulia Gema Alfaatihah – Universitas Pradita

Memiliki kesempatan untuk bekerja praktik di OMAH LIBRARY merupakan pengalaman yang sangat berharga, walau memang saya pun belum tahu pasti dan tidak dapat membandingkan dengan tempat-tempat lainnya, tetapi apa yang telah saya rasakan, keuntungan dan kelebihan yang didapat, hingga dapat menyadarkan saya atas kelemahan yang saya miliki lebih dari cukup untuk mengatakan ini adalah pengalaman berharga. Atmosfer kekeluargaan yang kuat, keceriaan, aura positif memberikan sebuah rumah yang harmonis. Membuat saya teringat sebuah perusahaan yang hampir bangkrut, alih alih merumahkan pekerjanya, malah membuat sistem cuti untuk dapat mempertahankan pekerjanya. Mengandalkan kekeluargaan dan saling toleran tidak disangka keuntungan yang didapat melampaui perkiraan bahkan lebih dari jika merumahkan pekerja. Mungkin sedikit lancang jika dalam 4 bulan menyimpulkan hal ini tapi saya hanya tidak bisa berhenti kagum dengan pengalaman di OMAH LIBRARY ini. Awal saya masuk sudah mendapat sambutan hangat, saya ingat tugas pertama saya manuskrip wawancara arsitek untuk buku arsitektur partisipatoris untuk mahasiswa. Belajar mengenal arsitektur dari sudut pandang seorang arsitek profesional membuat tamparan atas saya yang merasa beban sks studio yang besar sedang tidak ada apa-apanya dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Menyadarkan saya betapa banyak yang harus dikejar untuk menjadi seorang arsitek. Namun tidak hanya tamparan, cerita itu juga sebagai kawan, karena apa yang saya rasakan itu adalah masa yang telah beliau-beliau lalui dan menenangkan karena ini memang hal yang wajar dirasakan mahasiswa arsitektur. Ini adalah salah satu pengalaman yang sangat berharga, seperti mendapat bocoran dari cenayang secara cuma-cuma. Selanjutnya adalah tugas-tugas yang membutuhkan ide liar. Menemukan poin, mengembangkannya, membungkusnya dalam wajah yang berbeda tetapi tidak kehilangan poin itu. Substansi, substansi, substansi. Pengalaman ini bagaikan perlombaan lari tanpa kaki bagi saya. Dipaksa menyerah dengan keadaan. Tapi tidak lama para pelari lainnya dan berbalik menopang saya dan kita berlari bersama menuju garis finish. Ya, pelari yang berbalik tidak lain adalah kakak-kakak mentor serta teman-teman seperjuangan. Walaupun sebenarnya mereka juga berada dalam kesulitan dan tekanan yang lebih besar. Pengalaman akhir di OMAH LIBRARY, menata perpustakaan baru, mengatur buku-buku yang banyak dan mengurutkannya satu persatu. Pengalaman yang sangat lucu dan sangat berbeda karena ini satu-satunya pekerjaan yang terlepas dari duduk dan mencari inspirasi. Komunikasi dan koordinasi sangat penting, terutama kepercayaan pada rekan satu tim. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas pengalaman yang diberikan baik yang tertulis maupun tidak, semuanya tetap menjadi pelajaran, bekal masa depan saya. Digembleng untuk tidak melek walang, membuka indera yang sudah lama tertidur.

24-05-2022

Dear Aulia, Maria

Thank you for everything your passion, your soul, and have cherished OMAH Library + people inside, hopefully, this sunshine will go brighter to shine on Architecture Literacy.

You guys one word is a fight for and be the one who can contribute to the appreciation of great Indonesia Architecture.

Regrads
Realrich Sjarief

Kategori
Team - Reflection Letter

Maria Angela Rowa – Universitas Pradita

Mat pagi kak!””, ucapan wajib saya, Maria, memasuki Perpus Omah menyapa umi-umi Omah Library. Akhir semester 7, saya sempat bingung ingin mengajukan magang, selain karena saya mengulang Studio 6, saya juga meragukan apakah saya mencintai arsitektur, dan apakah saya bisa mengerjakannya. Beruntung dosen pembimbing mengizinkan saya untuk magang dibidang penulisan arsitektur.

Selanjutnya adalah . . . cari tempat magang di mana? Waktu semakin mepet, saya baru mengirim surat lamaran magang terakhir tanggal 30 Desember 2021, dan sepertinya sudah tidak ada harapan untuk mendapat tempat magang. 2 Januari 2022 malam Kak Yudith menghubungi saya dan menawarkan apakah bisa mulai magang di Omah besok. Ini kesempatan yang jelas tidak saya tolak.

Lalu, muncul lagi pertanyaan, apakah bekerja di perpus akan sekaku itu? Satu bulan awal magang, saya masih menyesuikan diri saya dengan pekerjaan magang dan menyesuaikan dengan lingkungan Guha. Ternyata seru juga, selain ngetik-ngetik, ada pekerjaan lain seperti sketsa atau buat ilustrasi dan jalan-jalan (ke Otten Coffee dan Piyandeling Bandung). Melihat detail bambunya Piyandeling yang disusun satu-satu keren banget, para bapak pengrajinnya niat sekali mengerjakannya, berasa dikerjakan dengan hati.

Setelah 4 bulan magang, banyak pembelajaran dari Kak Rich dan kakak-kakak Omah mengenai penulisan, ilustrasi, serta berbagi pengalaman arsitektur dan kehidupan melalui wawancara. Sisi lain yang tidak hanya sekedar pekerjaan, tapi bagaimana kita bisa berkontribusi untuk orang banyak.

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada -Kak Rich dan Kak Yudith yang telah menerima maria magang di Omah Library, -Kak Nirma, Kak Ufi, Kak Luluk, dan Kak Farhan yang sudah menjadi mentor dan membimbing maria untuk mengembangan potensi yang ada, *maaf juga maria sering main jadi kadang kurang fokus :)) -Kakak-kakak di RAW dan Admin yang sering becanda saat jam makan, terima kasih sudah menerima maria dengan baik -dan teman-teman magang pejuang TA: Aulia, Aryo, Gaby, Angel, dan Evan, suatu kolaborasi yag keren antara penulisan dan desain di studio arsitektur.

Tetaplah bahagia, :) Salam, M.A.R “

24-05-2022

Dear Aulia, Maria

Thank you for everything your passion, your soul, and have cherished OMAH Library + people inside, hopefully, this sunshine will go brighter to shine on Architecture Literacy.

You guys one word is a fight for and be the one who can contribute to the appreciation of great Indonesia Architecture.

Regrads
Realrich Sjarief

Kategori
blog

Happy birthday my dear, most beautiful wife in the world. laurensia Yudith

Today my wife is having her birthday. Birthday is a big L(love) day of rebirth and reflection on our lives. A soulmate fulfills a purpose in life with kindness, compassion, and love. Thirty-two years ago, when I moved to Jakarta with my family when I was ten years old, we sat at the same benches in the elementary classroom. We have been a usual friend to the best friends since that time. Best friends are never apart, maybe in the distance but never by heart.”

We have been a usual friend to the best friends since that time. Best friends are never apart, maybe in the distance but never by heart.”


I said “I love you” for the first time 14 years ago, and I found my soulmate. When Laurensia agreed to pre-wed in our home, garage office, and neighborhood to stay modest, we learned that this experience brings creativity beyond our limitations. Giving calm and humble life brings more happiness than success with restlessness.
.
Every day, She arranged our family daily life in our family life the pattern so I could have a proper purpose, rest appropriately, and have an excellent work phase. She is the fundamental principle of my life. She can smell when we need to limit our lives, stay safe, and be secured even in Covid.
.
She is the angel, a blessing from God to our family. She is the mother of two cute sons, Miracle and Heaven. They can’t be far from her, and me as well. She hears and speaks softly and touches my heart gently behind all imperfections. Thank you for your love, dear Laurensia. Thank you, God, Who has given us magnificent love, Love You to the Moon, Earth, Pluto, and Nebula.

I said “I love you” for the first time 14 years ago, and I found my soulmate. When Laurensia agreed to pre-wed in our home, garage office, and neighborhood to stay modest, we learned that this experience brings creativity beyond our limitations. Giving calm and humble life brings more happiness than success with restlessness… Thank you for your love, dear Laurensia. Thank you, God, Who has given us magnificent love, Love You to the Moon, Earth, Pluto, and Nebula.
Kategori
blog lecture

Pengembangan Keprofesian Arsitek

I will share compexity on managing the firm

How to define success, how to have sustained practice, and how to be happy because the fundamental of the firm.

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 5

Ujang

Craftmanship Leader

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 5

Nari

Craftmanship Leader

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 5

Muhamad Enoh

Craftmanship Leader

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 5

Solehudin Grandong

Craftmanship Leader

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 5

Sakum

Craftsmanship Leader

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 5

Aep Syapuloh

Craftsmanship Leader

Kategori
Team - Designer Team - Tier 4

Putra Khairus Sidqi

Associate Designer

Affiliation

Universitas Diponegoro

Motivation

“I’m very interested and excited to learn about building-user-environmental relationship issues, and I’m aware that this firm is dedicated in the locality on defining architecture in harmony.”

.

Dear Mr. Realrich Sjarief,


Following four years of college at Diponegoro University’s Architecture Department, two months of internship at RAW Architecture in 2020, and participation in numerous architectural competitions and activities, it is clear to me that architecture is not only about building, but also about the social life that surrounds it, which can provide reciprocal relationships. This thought inspired me to

apply for the position of associate architect at RAW Architecture, which is well-known for his locality- based design approach.

When you gave a public lecture at my college in 2018, I was a newcomer to architecture and your words inspired me. You emphasized that using local materials in buildings can provide a much stronger positive relationship with its surrounding environment, which includes social life. Then, in college, I learned about the impact of design failure on social life. For example, the Pruitt Igoe complex in St. Louis, Missouri. There is a mismatch between initial expectations and the reality of its social life impact. The building was then demolished, leaving behind so many of the social issues. This problem
was very intriguing and exciting to me, and it challenges me to improve my ability to solve similar problems in the future.

I am convinced that there is no better place for me to pursue my architectural ambitions than RAW Architecture. I consider it a vibrant experience to have the opportunity to learn more from one of
Indonesia’s best architecture firms that focuses on locality to define architecture. In “Wastu Citra”, Y.B. Mangunwijaya explained that the locality makes human values so meaningful as users of architectural
works. Contextually, locality will increase harmony between buildings, users, and the surrounding environment. As a result, the excellent atmosphere will improve, as will the quality of social life in the
surrounding area. So I believe that working at RAW Architecture will provide me with more insight, bringing me one step closer to my goal of becoming an architect who can help my surroundings live
better lives through my work.

A month ago, my team and I were on the judging panel for a competition, where we were a top five finalist with our conceptual design for a Transit Hub in Surabaya. One of our design concepts is to
spread the intervention regionally, allowing for more social activity to thrive with it. Our jurors, Mr. Andra Matin and Mr. Achmad Noerzaman, told us proudly that we’d created something special. They
stated that as architects, we must base our designs on contextual harmony so that they can provide social value in community culture over time. With this experience, as well as my practice as an intern here,

I am confident that I will be able to contribute to RAW Architecture’s growth as a restless spirit.

Kategori
Team - Designer Team - Tier 4

Melisa Akma Sari

Associate Designer

Affiliation

Universitas Islam Indonesia (UII)

Motivation :

RAW Architecture adalah salah satu biro arsitek yang hasil karyanya menjadi teladan saya untuk memahami keindahan arsitektur. Oleh karena itu, ingin rasanya bisa ikut dan masuk ke dalam bagian tim mengerjakan, mempelajari sebuah design

Kategori
Team - Designer team - Tier 2

Aqmarina Badzlin