We’ve recently passed the halfway point of 2020, and to date, we’ve published hundreds of residential projects featuring distinct ways of living on ArchDaily. In a year marked by the worst health crisis that humanity has experienced in the last century, the Covid-19 pandemic, the house has gained new meanings and values, reiterating that no matter how diverse its program, a home’s purpose is to shelter its inhabitants.
Context, topography, scale, materials, budget and user desires are a range of aspects (and challenges) that define the most varied architectural solutions. It is no surprise that residential works are the most popular project category on ArchDaily. In the list below you’ll find the residences that gained the most interest, featuring the 50 most popular projects across the whole ArchDaily network during the first half of 2020.
Proses untuk percaya membutuhkan proses yang tidak sebentar, dari situ pun juga terjadi di dalam studio kami, bagaimana berinteraksi dengan dialog dengan tukang.
“Pak setelah ini kita kerja apa ?”, pak Amud bertanya ke saya ketika satu saat saya berkunjung ke Alfa Omega untuk finalisasi pengecekkan kualitas pekerjaan. Saya sebenarnya sudah menyiapkan beberapa proyek yang menggunakan material bambu. Hanya saja terkendala beberapa hal, yang pertama : tipe klien yang saya prediksi tidak akan cocok menggunakan material bambu karena ketidaksiapan R +D yang dilakukan di studio, kedua : proyek tersebut hanya mengharapkan bambu sebagai material murah. Saya pun menjawab “Ada pak nanti saya kabari ya.”
Di dalam pikiran saya, saya tidak memiliki kesempatan apapun untuk tukang – tukang ini bekerja. Tetapi masakah relasi yang sudah dimulai di pembangunan sekolah Alfa Omega tidak bisa berlanjut. Lalu saya berpikir, bagaimana kalau kita persiapkan infrastruktur untuk studio, dimana tim pengrajin bambu ini bisa mendapatkan pekerjaan dan studio bisa mendapatkan manfaat.
Kebetulan kami memiliki sebidang lahan kosong di samping the guild yang selesai di tahun 2016 (lihat proyek The Guild).
The Guild : Realrich Architecture Workshop is like a Roseto that believe on the workshop between the craftsmen and designer for having the best solution in the design
Dari situ saya merencanakan sebuah kerangka kerja untuk studio 10 tahun ke depan, yang relevan ke dalam apa yang kami akan hadapi di keluarga juga proyek terhadap tim ke depannya. Intinya, bahwa untuk dalam jangka waktu 6 bulan, infrastruktur studio perlu siap untuk mengorganisasikan tim menjawab beberapa tantangan ke depan seperti desain, manajemen, struktur, dan desain mekanikal elektrikal dan pemipaan. Untuk itu kita perlu studio yang baik dimana satu sama lain bisa berkomunikasi antar tingkat, memiliki fleksibilitas untuk bisa berubah – ubah, dan tidak mengganggu tetangga dengan apa yang saya rencanakan.
Pada waktu tim bambu ini pindah dari Alfa Omega, barulah saya mengetahui secara detil bagaimana tim ini bekerja. Tim ini bangun pagi di saat subuh untuk berdoa, kemudian mereka menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri, mengasah pisau. Selepas selesai bekerja mereka menghabiskan waktu untuk membuat lampu – lampu, saya merencanakan pada waktu itu untuk mendesain sebuah lampu bambu yang saya beri nama Amud. Selepas jam studio, baru biasanya saya berkesempatan untuk berkunjung ke lokasi proyek ditemani pak Amud.
Ada 3 struktur tukang yang ada di proyek ini , sama seperti proyek Alfa Omega : 1. Kepala Tukang, 2. Tukang, 3. Asisten. Asisten biasanya terdiri dari orang – orang yang masih keluarga atau teman dekat dari tukang yang lebih muda. Desain dari Guha Bambu tidak menggunakan gambar yang semestinya. Desain dibuat dari kesepakatan – kesepakatan yang menggunakan bahasa tubuh, bahasa verbal, dan peragaan langsung. Yang digambar secara langsung hanya grid berjarak 3m dan 3.6 buang sisi barat dan timur
Anatomi dari Guha Bambu : Construction of Guha is elaborated into 9 materials, to sum up, craftmanship experimentation in Realrich Architecture Workshop such as steel, wood, glass, metal, gypsum, bamboo, plastic, stone, and concrete. The layout is flexible, and open while some of the rooms are opened by a minimum of 2 doors allowing further scenarios while the program can be changed. The idea is basically addressing the tropical climate to open north-south and close the facade on the west side.
Disinilah evolusi dari rumah bambu tersebut, seakan -akan tradisi itu terimplantkan di dalam tubuh The Guild, ia berusaha masuk seperti Rhizoma, namun masih ada di perimeter. Ia berusaha membayangi, langkah – langkah prosedural yang taktis, dan statik di The Guild. Di dalam bangunan Guha setiap harinya adalah ketidak pastian. Saya bisa mengira – ngira seperti apa, seperti membentuk sesuatu yang primitif berdasarkan kepercayaan. Saya harus percaya ke pak Amud juga timnya.
Desain sendiri berada di bawah atap existing yang terbuat dari plastik transparan. Dimana ini adalah bangunan sementara tempat untuk merakit besi yang ditujukan untuk satu proyek di Permata Buana dan di Meruya. Oleh karena itu logika dari bangunan ni adalah logika peneduh. Buat dulu peneduhnya baru selesaikan bawahnya. Jadi tahap pertama adalah menyelesaikan atap bangunan, baru pondasi di buat belakangan, dan sebagainya.
Ada beberapa elemen yang dipertahankan seperti daerah kamar mandi, pipa pembuangan, termasuk hasil – hasil sisa tanah dari The Guild. Hal ini termasuk juga menggunakan hasil – hasil bongkaran perancah untuk dijadikan struktur bangunan baru. Berbeda dengan bangunan Hall Alfa Omega yang menggunakan maket sebagai gambar kerja, asisten saya saja bingung ini gimana bikin maketnya, Adik saya Mondrich juga bingung, “ini gimana bikin denahnya ko.”
Proses Konstruksi
Yang menarik adalah proses membuat tangga, saya iseng bicara ke pak Amud. Pak tau buntut Merak, kan itu anggun sekali, lambang cinta. Kita buat seperti itu ya, juga bentuknya mirip daun, sambil saya memperagakan dengan bambu – bambu bekas dan coretan garis yang ada di triplek. Besoknya jadilah bentuk bambu yang intutif.
Yang menarik adalah studio kami baru mendapatkan suplier lem konstruksi dimana lem tersebut bisa menyatukan kedua material yang berbeda menjadi satu. Kami coba menyambung bambu tersebut dengan lem, barulah ditutup dengan anyaman. Memang proses ini adalah proses yang hibrida, campuran, adaptasi. Di dalam proses ini juga ditemukan bagaimana screeding semen menggunakan serbuk kayu bekas dari workshop dicampur dengan lem konstruksi untuk menjaga retak.
pelapis anti air yang dikembangkan Albert Pramono, Agus Pramono dari Pramindo
Screed dari serbuk kayu
contoh R + D yang dikembangkan
Beberapa eksperimen ini baru dipakai di proyek ini, perasaannya seperti terjun dari ketinggian, masuk ke lautan, ditarik oleh gaya gravitasi membuat kita turun dengan kecepatan konstan, mau tidak mau akan masuk ke lautan. Dari situ munculah perasaan – perasaan yang tidak terduga. Hari berikutnya saya melihat mereka melompat – lompat ada sekitar 10 orang untuk menguji kekuatan struktur tersebut. Pada akhirnya saya akan menatap ke pak Amud. Beliau akan menjawab “Tenang aja pak, sudah saya perhitungkan.”
Beberapa hari terakhir ini saya ragu – ragu untuk menelisik satu terminologi Nusantara. Mengapa ? Sederhananya hal ini menjadi barang perebutan ketika terkait dengan masa depan arsitektur Indonesia. Nusantara sebenarnya adalah sebuah usaha untuk menemukan benang merah Arsitektur Indonesia. Andrea Peresthu di dalam diskusi soal bagaimana arsitek Indonesia bisa berjalan sejajar dengan arsitek luar negeri ia berkata “work! work! buktikan arsitek indo bisa mendunia spt arsitek irak ini” banyak hal yang perlu dilakukan. Lihat postingan Apakah perlu arsitek asing ? kita belum mampu ya ? – Discussion
Ingsun, yang dalam bahasa Jawa berarti kawula, kula, abdi, dalem, ulun, nglulun, Ingwang, mami, kita, ingong, ngong, inyong, dan nyong. Hal ini untuk mempertanyakan keakuan saya di dalam bertata laku.
Dan hal tersebut bisa dimulai dengan memperhatikan suara anak – anak muda supaya mereka bisa didukung akan keberadaannya. Hal ini sifatnya resiprokal , kita mendukung kita akan didukung, apa yang kamu beri itu akan kamu tuai. Melalui literasi dan forum – forum yang memberikan tempat untuk mendengar yang muda, hal ini bisa dimulai. Penting untuk bisa menghargai pribadi yang gelisah, supaya mereka bisa berkembang menembus jamannya, bekerja menurut suara hatinya. Bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya.
Kedua ada cerita tentang hal ini. Saya berdiskusi dengan satu kawan arkeolog (Mbak Mitu namanya), dan membaca beberapa paper. Bahwa ada Politik Identitas yang ada di Arsitektur Indonesia.Hal ini yang kita bisa bahas selanjutnya ya. Saya berdialog dengan mbak Mitu, “Mbak secara etimologinya Nusantara identik dengan kolonialisasi dari Majapahit, lalu apa sebaiknya kita memakai kata ini apabila satu kata itu memiliki makna yang kontradiktif dimana hanya mewakili golongan tertentu, kebudayaan tertentu yang dominan ? Yang hal tersebut rawan menimbulkan konflik horisontal? ” (hal ini dibahas Yasmin Tri Aryani di dalam kerja kuratorialnya di Eindhoven, saya akan bahas ini di lain kesempatan). ini blog beliau : https://katadansketsa.wordpress.com/
Karya Yasmin Tri Aryani di dalam mempertanyakan identitas sebagai obyek komodifikasi.
Mitu kemudian menjelaskan tentang teknik komunikasi supaya tidak memancing polemik, bagaimana memilih judul, menyeleksi isi yang memiliki kedalaman dan menjelaskan dengan contoh – contoh. Kesimpulannya adalah Nusantara sendiri sudah menjadi sebuah terminologi yang awam, mengenai sebuah semangat untuk mencari identitas Indonesia. Yang kedua, ia menjelaskan pentingnya mereferensikan darimana pemahaman nusantara itu berasal, penting untuk meredefinisi istilah – istilah Arsitektur Nusantara, Vernakular, Tradisional dan menghubungkannya dengan disiplin lain seperti arkeologi, antropologi, dan kajian disiplin yang lain.
Saya mendapatkan pembelajaran bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya. Belajar, belajar, dan belajar, menjadi murid kehidupan.
Kenusantaraan sendiri adalah sebuah definisi tentang kesetempatan, sebuah semangat untuk mengolah apa yang ada di dalam lahan, sumber daya manusia dan alam dengan kritis. Sehingga Arsitektur Nusantara sendiri bisa dipandang sebagai sebuah cara pandang menuju ke masa depan, dan banyak mahasiswa bisa melihat “Kenusantaraan” apabila kata itu yang mau dipakai sebagai bingkai ke masa depan.
Salah satu kuncinya ada melebur atau inklusif, bukan dominan atau eksklusif. Dimana semua parameter diperhitungkan, ada dualisme luar diri, dalam diri, dimana hal ini dibahas oleh Antoniades di dalam Poetic of Architecture sebagai sebuah kemauan untuk bereksplorasi. Atau digagas lebih lanjut oleh Apurva Bose ke dalam sikap untuk mau berkorban, mengajar, mengantarkan ilmu ke generasi lebih muda. Hal ini juga tersirat di dalam perjalanan Ki Ageng Suryomentaram, bahwa menjauh dari keramaian memberikan jarak dari keriuh rendahan untuk mendapatkan diri sendiri , dan setelah itu pengembangannya bisa keluar. Hal tersebut dimulai dari prosedur di dalam diri sendiri dahulu, Penguasaan diri. Penguasaan diri ini penting untuk mengenal Arsitektur Indonesia, milik kita bersama dengan lebih baik. Jadi bukan tentang istilah – istilah kulitnya tapi juga tentang isinya. Keduanya sama – sama penting. Jadi mari yuk mengenal Indonesia lebih dalam.
Sebagai Arsitek professional, kita punya tugas – tugas dasar. Hal ini yang saya terus bagikan ketika mengajar, ini lah praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Hal ini disebut praksis. Cara kerja Model Praksis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi atas refleksi dan refleksi terhadap aksi. Intinya tugas arsitek adalah berkarya dengan eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu ke penerus kita, dunia yang indah untuk arsitek muda. Lihat buku menjadi arsitek untuk mengenal apa itu tugas arsitek.
Di dalam alam profesi arsitek, ada dua buah kutub yang berseberangan dan saling melengkapi, keduanya berjalan beriringan tanpa meninggalkan satu sama lain. Alam pertama adalah Taksu, Taksu adalah sebuah bentuk dari keutuhan. Taksu sendiri ada karena proses repetisi terus menerus, berusaha melakukan evaluasi diri di dalam setiap tahap perancangan. Taksu ada karena proses belajar di dalam sisi seorang arsitek. (Lihat postingan mengenai Aalto)
Kutub kedua adalah Materi, atau mudahnya “Fee/Uang”. Salah satu kawan saya Anas Hidayat bicara soal ini di bagian prolog buku yang saya dan Johannes Adiyanto tulis beberapa bulan yang lalu berjudul “Fee”. Ia menulis “Jika hanya mencari uang saja, jadilah sodagar. Cari selisihnya, dan selesai! arsitek jelas bukan nabi mungkin memang pedagang tetapi yang punya harga diri dan punya nilai-nilai ya, harga diri, itu yang justru tak ternilai yang tak bisa dinominalkan sebagai fee itulah fee-lo-so-fee, phee-losophy.”
Tulisan Prolog Anas Hidayat : Anas Hidayat menjelaskan dengan mudah bagaimana cara menyusun fee sebenarnya didasarkan seberapa besar anda mau menakar diri, dan seberapa besar orang lain menghargai anda, dan terakhir adalah seberapa besar kebahagiaan yang anda dapatkan sampai misal bisa bekerja tanpa bayaran.
Tentunya pembahasan ini terkait kondisi ekonomi setiap orang. Tanpa adanya materi, percuma untuk bicara Taksu. Hal ini sama saja dengan membicarakan Taksu tanpa adanya materi, sama seperti berjalan diatas air, karya luar biasa tidak akan pernah lahir karena karya yang biasa – biasa saja tidak akan pernah lahir.
Dan pastinya semua arsitek ingin melahirkan karya yang luar biasa, tunggu ya ada caranya, nanti akan saya bagi caranya, caranya mudah, satu demi satu, ada prosedurnya. Simak terus ya, nanti dipostingan selanjutnya.
Kemudian di dalam keragu – raguan saya. Saya berdiskusi dengan Prof. Josef Prijotomo. Dan saya berbicara mengatakan “semoga rekan2 bisa makin percaya diri dan mau membentuk logika dan framenya dan kawan2 cukup excited, salam Pak Josef, saya perlu menjaga tenaga dulu jaga kesehatan jg ya. Nanti jgn lupa frame untuk Indonesia sy kontak pak Gunawan pak Yuswadi pada tertarik nanti kita isi ya, ” Pak Josef membalas , di dalam merencanakan wacana untuk arsitektur nusantara, saya sedikit banyak berdiskusi dengan pak Abidin Kusno, saya pikir ia ada dibalik kutub pemikiran Gunawan Tjahjono dan Josef Prijotomo.
Saya kemudian menjelaskan ke beliau bahwa Omah akan mempublikasikan kuliah wacana Nusantara. Ia bersemangat dan mengambarkan hal tersebut akan menggelinding dan tak terhentikan. Ia memuji Abidin Kusno, Omongnya bisa sana halus dan pelan, namun omongannya adalah guntur yang menggelegar. Ia berkata “aku sungguh bahagia punya murid yang mampu lebih dari aku.”
Ia menitipkan juga cara berkomunikasi bahwa berdialog dengan para tetua atau manula mesti pilih waktu atau situasi yg pas. Bahwa bisa saja mereka kurang berkenan dgn orang muda. Ia menceritakan bagaimana ia di coret oleh satu kampus terkenal karena kuatnya budaya penghormatan Juga, jangan posisikan sebagai sebuah pengadilan. Yang muda mungkin tidak merasa mengadili, tapi tidak begitu dengan perasaan para tetua.
Saya menulis seperti ini untuk menggambarkan setiap orang punya eksistensinya sendiri, adalah tugas kami yang muda untuk menyapa, yang tua, adalah tugas yang muda menyambut tongkat yang tua, dan terkadang meminta nasihat. Saya ingat kawan saya M. Cahyo Novianto menuliskan satu kata “Madeg Pandhito”
Karya Tisna Sanjaya “Madeg Pandhito” adalah sebuah metafora dari orang tua yang bijaksana, tinggal di sebuah “pertapaan” dan selalu bersedia memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan.
Saya kemudian menulis “Iya saya akan coba jaga semampu saya, semoga menjadi jembatan yang rahayu, Benar tidak ada pengadilan, Saya akan kawal, mengerti. Ini adalah estafet bukan salah menyalahkan, Saya akan highlight ke beberapa orang, Supaya bisa menjaga perasaan, …Seluruh pemateri adalah jembatan Itu highlight saya akan saya kondisikan.”
Kembali ke awal, di balik keragu – raguan akan kelas ini, sebenarnya pertanyaan muncul dari hati saya. “Apa yang ditakutkan ?” Apa bila seorang murid ingin mencari sebuah jawaban, ada baiknya kita melangkah tanpa keragu – raguan, namun apabila yang dicari hanya sebuah ketenaran, ada baiknya urungkan niatmu. Ya saya sudah tau jawabannya.
Bersamaan dengan permenungan tersebut. Satu teman saya Johannes Adiyanto mengirim sebuah puisi yang didapatkan beliau dari satu acara di Malang dari Johannes Widodo.
Anak
oleh Khalil Gibran
Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
Mereka lahir lewat engkau,
yang rindu akan dirinya sendiri.
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
namun tidak bagi jiwanya,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap. “
Puisi berjudul Anak dari Khalil Gibran ini menyentuh lubang hati Johannes Adiyanto dan kemudian menyentuh lubang hati kawan – kawan dan pada akhirnya menyentuh lubang hati saya yang sedang ada di alam mimpi.
Lalu sayup – sayup saya kemudian terbangun karena ada kehangatan yang muncul. Ada suara halus menyapa “Anakku, muridku, mari kita berjalan, … kawan – kawan akan turun tangan.”
Thank you Casa Indonesia for the synopsis of Craftgram book.
here is the detail of the publication :
Jo Adiyanto serta Realrich Sjarief mencentuskan karya tulisan bertajuk Craftgram: Craft + Grammatology yang menilik kehidupan empat arsitek legendaris seperti Le Corbusier, Antoni Gaudi, Laurie Baker, dan Antonis-Noemi Raymond. Turut disunting oleh Anas Hidayat, buku ini menekankan pengetahuan terkait ketekunan serta ketulusan hati dalam menjalani profesi arsitek berbentuk panduan jitu guna mencapai kelihaian hakiki.
Gudang ini terletak di daerah Cipondoh, Kota Tangerang, salah satu lahan kosong di sisi barat jalan yang padat akan toko material, onderdil, bengkel, dan ruko kecil, terutama di sisi utara lahan. Bangunan ini bersebelahan dekat dengan dealer mobil dan pabrik yang jumlahnya dibawah hitungan jari. Jalan tersebut cukup untuk 2 jalur kendaraan, masing-masing dapat mengakomodasi truk dan terkoneksi dengan beberapa gang dimana perumahan warga. . Daerah ini memiliki masalah banjir dimana di sisi timur lahan yang menempel dengan jalan seringkali terendam air hujan. Hal ini dikarenakan lahan yang cenderung datar, sedikit lebih rendah dari jalan dan tidak adanya saluran air kota. Pada jalan tersebut terdapat beberapa bangunan yang memiliki saluran air di pinggir jalan namun tidak terhubung satu dengan yang lain. . Pak Sukardi sendiri memiliki karakter religius dan artistik yang diimbangi dengan bu Yeyen yang rasional ia menangani manajerial PT. Sumber Kencana Lestari. Ada 3 kriteria desain di dalam perancangan, Pertama adalah gudang yang fungsional, dan fleksibel yang mampu menampung barang. Kedua, gudang dan kantor yang tidak panas dan mendapatkan cahaya cukup. Ketiga adalah bentuk bangunan yang artistik, untuk menggambarkan karakter yang bersahaja namun penuh kejutan. Hal ini memicu perdebatan dari mana memulai proses desainnya. . Pembahasan di proyek ini dibagi kedalam bentuk
Konteks
Pertemuan dengan Klien
Dunia Pertama:Dunia Seni – Biomimesis
Dunia Kedua:Anatomi Bangunan
Dunia Ketiga:Tectonics Grammar
Dunia keempat:Pencahayaan dan Penghawaan Alami
5 hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain. .
rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien :Sukardi+Yeyen, alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best, @fianali, dan @arlned
. 3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.
Ketika Kehamilan Laurensia sudah memasuki minggu ke 38, minggu tersebut adalah minggu kelahiran anak kami. Ini adalah kehamilan yang ke 6 bagi Laurensia. Laurensia sudah terbiasa dengan pulang pergi ke dokter kandungan untuk menanyakan kondisi kehamilan untuk kemudian pulang dengan kesedihan, begitupun kali ini kami pulang dengan ketakutan, takut karena kondisi bayi kami dan masa depan yang tidak bisa terprediksi, kehamilan kedepan, dan persentase keberhasilan yang rendah yang menjadi ketakutan kami.
Miraclerich lah yang mengatakan ke kami bahwa bayi kami adalah laki – laki bukan perempuan seperti USG yang dilakukan ke dokter kandungan ke Laurensia sebelumnya. Setiap malam, ia mendoakan adiknya supaya tetap sehat, di tengah – tengah suntikan yang perlu dilakukan setiap hari ke perut Laurensia, senyum, pelukan, doa Miracle menjadi senyum tersendiri bagi Laurensia. saya percaya bahwa “Tuhan mendengarkan doa dari anak – anaknya.”
Dulu Cherry, anak pertama kami, di dalam ketiadannya menyisakan kesedihan, lubang yang menganga ketika ia tiada. Saya percaya anak Tuhan tetap menjadi malaikat. Mata ini berair ketika mendengar doa Laurensia. “Tuhan apabila masih diberikan kesempatan, berikanlah satu orang malaikatmu untuk menemani kami.”
Berulang kali Laurensia menanyakan tentang nama anak kedua namun saya tidak menjawab karena nama itu muncul karena nama Heaven atau surga itu ibaratnya ada di antara kehidupan dan kematian. Mungkin saya hanya tidak rela kehilangan orang – orang yang saya cintai karena makna ganda tersebut. Saya hanya terlalu jauh berpikir antara makna surga dan dunia. ya nama bayi kami Heavenrich panggilannya even yang berarti begitu ia muncul surga akan datang ke sekitar dirinya. Heaven, heaven, nama yang mengingatkan tempat dimana anak – anak yang menjadi malaikat.
Hari itu, hari rabu pagi kami menginap satu malam dengan protokol COVID, pergi ke rumah sakit Graha Kedoya dengan masker, ia masuk ke kamar operasi jam 06:00 pagi, perawat mempersiapkan dan kami berdoa.
Keesokan dini hari, Laurensia pun dibawa ke ruang operasi dan saya ditemani pak Misnu menunggu di ruang tunggu di depan pintu ruang operasi. Saat – saat itu adalah saat – saat terlama untuk menunggu, waktu sekarang berhenti. Saya ingat Pak Misnu yang sudah ikut keluarga kami dari saya belum lahir, totalnya lebih dari 38 tahun dan sekarang membantu saya dan Laurensia. Ia sudah seperti ayah saya sendiri. Ia ada di dalam kelahiran Miraclerich, ketika saya rapat pertama di dalam perintisan studio, ia menemani menemui klien pertama, menemani proyek terbangun pertama, ia juga yang menemani untuk ikut survei ke daerah Taman Villa Meruya, tempat tinggal kami sekarang. Dan sekarang ia menemani saya lagi. Pak Misnu ada di saat kami sedih dan bahagia. Saat – saat ini saya tidak mau berandai – andai hanya berdoa semoga semua bisa selesai dengan baik.
10 menit berlalu,..
20 menit,…
30 menit,…
45 menit,…
50 menit,..
kemudian ada panggilan
“Pak, bayinya sudah keluar.”
Suster perawat memanggil, dan disitu sudah ada dokter Bertha yang menunggu dan menjelaskan bahwa semua baik – baik saja.
Heavenrich sudah lahir, berkulit putih bersih dengan berat badan 3.3 kg. 1 jam kemudian, Laurensia keluar dan saya pun bersyukur. Hari yang baru untuk keluarga kecil kami. Matahari bersinar cerah, setelah berkat (Miracle) hadir di dalam curahan Tuhan yang berlimpah (rich) kemudian surga pun datang ke dunia, kami adalah orang yang beruntung bisa dititipkan malaikat Tuhan untuk memberikan kidung surga.
Terima kasih Dokter kandungan kami namanya Dr. Raditya Wratsangka. Sungguh saya bersyukur semua bisa selesai dengan baik dan sekilas saya bisa melihat di samping dokter Bertha, Cherry muncul menemani dan menjaga Heaven.
Kamu sudah besar ya nak, papa kangen kamu, terima kasih ya sudah menemani mama dan adikmu.
Rumah ini didesain dalam jangka waktu 1 tahun yang membentuk proses di desain Rumah Harris + Tiffany. Di dalam awal proses sempat dibicarakan apa perlu rumah ini dihancurkan atau bisa tidak menggunakan hal – hal yang sudah ada. Dari diskusi yang muncul, rumah ini pada akhirnya menggunakan sebagian pondasi dan dinding yang lama sehingga biaya konstruksi bisa ditekan dengan optimal. Ibaratnya rumah baru yang berdiri (mengangkangi|memayungi) di atas struktur yang lama.
Rumah ini terlilhat tidak biasa, namun setiap pertimbangan desainnya memiliki prosedur di dalam keputusan desain yang terkait dengan seni dan sains bangunan yang dibahas di dalam 7 cerita:
1. Proses yang Panjang 2. Eksplorasi Bentuk 3. Translasi 3 buah dunia 4. Alam Fantasi : Stereotomic Artist 5. Alam Imajinasi : Diskursus 6. Alam Realisasi : Peta Konstruksi 7. Peta Metode Desain Ketujuh hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain. #rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien @harris_go, @twidjojono , alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best, @fianal, dan @viviysantosa_ . 3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.
Registration will be closed at any time with or without notice when the webinar participant has reached the capacity limit. This webinar organized by Indonesian Institute of Architects (Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta)
There’s only one thing more precious than our time and that’s who we spend it on.”-Leo Christopher
Ibu saya selalu menemani ayah saya ketika bekerja. Saya ingat ayah saya bercerita ketika ibu dan ayah saya menghadap ke Teddy Boen di pagi – pagi justru ketika Pak Teddy belum ke kantor. Pak Teddy pun terkejut melihat ayah ibu saya disana, intinya mereka ingin mendiskusikan beberapa tagihan tambahan karena memang diperlukan. Dan benar saja Pak Teddy selalu mengingat ibu dan ayah saya. Mereka selalu berpesan bahwa bangun pagi – pagi, selalu ada rejeki untuk orang yang bersiap – siap dan tak kenal menyerah, biasa jam 5.00 mereka sudah bangun dan menunggu untuk ngopi atau ngeteh bersama.
Ada alasan kenapa saya membuat kisah tentang ayah dan ibu yang memang adalah dasar kami berpraktik yakni sederhana, tidak bertele – tele dan tetap personal. Ibu saya atau seringnya dipanggil ama sama cucu – cucunya ini paling gokil, ia adalah ibu ketua RT yang pernah mimpin demo bersama warga gara – gara gorong – gorong air ditutup sama pemerintah. Untuk saya, ibu kami ini adalah ibu yang terbaik di dunia dan saya mendapatkan energinya semangatnya yang ngga bisa diam. Didiemin sedikit ssstttt “Eh tau – tau udah manjat lemari dia ngejer cicak.” Lol. Hal tersebut membuat hal tersebut juga turun ke Miraclerich punya energi yang luar biasa alias tidak bisa diam. Ibu saya selalu menemani ayah saya, mencatat administrasi, sembari mengurus keperluan rumah tangga kami, termasuk mengajarkan aturan yang disiplin tanpa mengikat. Ia menghargai waktu dan mereka memilih dengan siapa mereka meluangkan waktu. Laurensia sekarang juga membantu kami di dalam pengaturan studio yang tidak mudah.
Studio @rawarchitecture_best pun dibentuk dengan energi yang seperti itu, sebuah prinsip energi yang positif, desain seperti mempersiapkan sebuah hidangan makanan, preparation, preparation, preparation. Waktu yang panjang dilakukan untuk pengecekan – pengecekan gambar. Setiap pagi saya mencoba untuk mengecek
kesiapan setiap hari, meskipun tidak mudah untuk menerapkan hal tersebut di tim besar, segala sesuatu yang dimulai dari hal yang sederhana akan membuahkan hasilnya positif. Setelah ini baru saya akan menyajikan proses berkarya studio kami, setelah mengetahui etos yang merupakan titik awal studio yang berisi anak – anak muda yang sungguh saya banggakan.
In English :
My mother always accompanies my father when he works. I remember my father telling me when my mother and father went to see Teddy Boen in the morning when Mr. Teddy had not yet come to the office. Mr. Teddy was also surprised to see my mother and father there; they wanted to discuss some additional invoices. And sure enough, Mr. Teddy always remembers my mother and father. They always say that when they wake up early, there is always fortune for those ready and don’t give up usually, at 5.00 they are up and waiting for coffee or tea together.
There is a reason why I made a story about father and mother, which is the basis for our practice, which is simple, straightforward, and personal. My mother, often called her grandchildren, is the most energetic. She is the head of the RT who once led a demonstration with the residents because the government closed the water ditches. Our mother is the best in the world, and I get her energy and enthusiasm that cannot be silent. Didiemin a little shhhhhhh “Eh you know – you know, already climbing the closet he’s chasing a lizard.” lol. This energy also goes down to Miraclerich, who has extraordinary power, aka cannot be silent. My mother always accompanied my father, taking notes on the administration while taking care of our household needs, including teaching disciplined rules without being binding. It values time, and they choose who they spend time with Laurensia is now also helping us in the studio setup, which is not easy.
Realrich Architecture Workshop fills our memory with that kind of energy, a positive energy principle. The design is like preparing a food dish, preparation, preparation, preparation. I need time for checking the design, which I do every morning.
Everyday readiness or constant preparation is not easy to implement in a big team. Everything that starts from simple things will produce positive results. After this, I will only present the process of working in our studio after knowing the ethos, which is the starting point for a studio filled with young people of that I am proud of.
Cinta yang terbaik muncul lebih karena terbiasa, tulus tanpa pretensi. Contohnya studio arsitek adalah simbol, profesi adalah simbol, prestasi adalah simbol. Seperti layaknya simbol ia punya dua sisi mata uang yang selalu kontradiktif. Satu sisi ia memberikan penghargaan juga memberikan kenanaran akan lupa diri, atau mudahnya satu sisi memberikan kedekatan dan di sisi lainnya memberikan jarak dari kegembiraan penjelajahan. Hal ini diibaratkan perjalanan menjembatani simbol menuju hal yang esensial/mengakar. Salah satu hal yang perlu dipikirkan bisa jadi hal – hal yang non-esensial (biasa) itulah yang esensial, membuat perjalanan menjadi penuh dengan kegembiraan paradoks di dua sisi mata koin yang berbeda.
Salah satu cara yang bisa diterapkan dengan kontemplatif adalah menembus 7 lapisan “chanel” desain ke atas : relasi klien, estetik, ekpresi, wacana publik, lokalitas, pragma. Juga menembus 7 lapisan ke bawah : bentuk, kulit, kerangka, reprogram, MEP, material, kawruh jiwa. Kerja kriya (pemikiran tulisan ataupun karya dan jiwa ada di tengah – tengah). Penembusan lapisan – lapisan tersebut muncul dari inisiatif penjelajahan yakni kegembiraan berproses (dilampirkan di post mengenai progress tahun demi tahun).
Terkadang hasil dari proses itu tidak datang cepat, dibalik ketidak pastian menunggu hasil tersebut muncul perasaan cemas, bingung, tertekan. Sebenarnya hal tersebut wajar, contohnya di balik kegembiraan sebuah hasil yang muktahir sebenernya rasa “gembira” tersebut terkait dengan “bayangan” yang muncul di dalam sebuah proses. Saya sadar seperti halnya karakter Kabar gembira yang juga memiliki kabar sedih, begitupun juga karakter kabar sedih yang memiliki kabar gembira. Kedua hal tersebut memberikan bayangan – bayangan yang perlu diberikan jarak untuk menemukan inti diri kembali. Di balik berbagai hambatan akan covid 19 yang nyata- nyata memberikan sebuah perubahan yang mau tidak mau harus diamini, memang kita semua, termasuk saya sendiri harus berubah, beradaptasi menuju new upnormal (meningkat) bukan abnormal.
Ada kabar gembira untuk rekan-rekan saya di studio dan klien – klien dari panitia INDE Award 2020, bahwa @rawarchitecture_best masuk nominasi. Yang bisa saya lakukan adalah mengucap syukur lalu kembali jalan lagi, menyadari dibalik kabar gembira juga muncul bayang bayang badai yang masih belum selesai, kita bertransformasi menuju new upnormal. Yuk.
Ini ayah saya, namanya Asnawi Sjarief, opa kami, yang ngga segesit ibu saya tapi matanya tajam seperti elang. Ia adalah seorang pemain bulutangkis yang sempat jadi Elang Teluk Betung, meskipun badannya kecil ia terkenal dengan jumping smashnya. Ia menyaksikan kehebatan satu legenda pelatih Indonesia Tong Sin Fu dalam melatih reflek, teknik bermain dengan etos berlatih tinggi sampai berkelahi ketika harus mempertahankan prinsip hidupnya. Tong Sin Fu sekarang melatih Lin Dan, dan kaliber dunia lainnya menjadi juara dunia. Dulu om Tong sempat melatih Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. Ia melatih murid2nya untuk meraih puluhan gelar juara termasuk 3 olimpiade seperti : piala Thomas, Uber dan banyak piala lainnya. Untuk saya, figur Tong Sin Fu dan Ayah saya adalah figur dasar bagaimana arsitek perlu memiliki prinsip hidup dan latihan yang intensif.
Tong Sin Fu sekarang melatih Lin Dan, dan kaliber dunia lainnya menjadi juara dunia. Dulu om Tong sempat melatih Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. Ia melatih murid2nya untuk meraih puluhan gelar juara termasuk 3 olimpiade, piala Thomas, Uber dan banyak piala lainnya. Untuk saya figur Tong Sin Fu dan Ayah saya adalah figur dasar bagaimana arsitek perlu memiliki prinsip hidup dan latihan yang intensif.
Di waktu kecil, kita tidak banyak berkumpul bersama, Ayah saya bekerja di Jakarta, dan ibu saya, saya, dan saudara laki-laki saya tinggal di Surabaya. Kami tidak sekota sehari-harinya, Ibu saya mendukungnya, ketika kami harus pindah ke Jakarta dari Surabaya ketika saya berusia sepuluh tahun.
Dia mengawasi timnya dengan cermat dan merawat mereka, seperti keluarganya. Saya ingat ayah saya bangun sangat pagi, jam 5 pagi, dan pergi ke lokasi untuk memeriksa pekerjaan timnya dari waktu ke waktu, dari Senin sampai Senin. Terkadang selama liburan, kami mengadakan acara dengan tim pengrajin dan pengawas, dan hidup mereka menjadi hidup kami. Kami bersenang-senang membicarakan proyek di meja makan. Saya sangat mencintainya, dan dia adalah pahlawan saya, panutan, mentor, dan orang yang selalu mengerti kondisi kami. Meskipun dia harus menutup usahanya di tahun 1998, dia berhasil mencarikan uang dan pekerjaan untuk mereka.
Dalam hidupnya, dia berusaha untuk orang lain dan keluarganya. Dia menyukai posisinya di lapangan, dan bosnya, Teddy Boen, mengingatnya. Teddy Boen adalah salah satu profesor di bidang desain Gempa di Indonesia. Dia mengenal Teddy Boen dari kakek kami, dan dia mempertahankan hubungan itu selama 30 tahun hingga sekarang. Ini adalah hubungan berkelanjutan antara generasi pembangun, klien, dan pengrajin. Saya masih ingat tidak sempat mengobrol dengan ayah saya karena dia bekerja di Jakarta. Dia datang ke Surabaya ketika salah satu keluarga berulang tahun. Kami dulu mengadakan pesta ulang tahun yang sederhana. Perayaan kami sangat sederhana seperti rumah kami, satu lantai, dengan finishing teraso. Dia membangunnya satu per satu. Dia mengurus keluarganya dengan memberi kami rumah sederhana selama bekerja di Jakarta. Terkadang, kakek + nenek kami dari Lampung datang, dan saya menyadari bahwa mereka sangat bangga dengan ayah dan ibu saya. Pakaian kami sangat sederhana, dan terkadang, ibuku menjahit semua pakaiannya sendiri. Gaya pakaian kami mirip. Terkadang banyak saudara kakek kami datang untuk membantu ibu saya. Ibu saya merawat empat putra seorang diri. Dia suka membuat kue dan bersosialisasi di lingkungan sekitar.
Seorang ayah adalah pelita bagi anak – anaknya, begitupun ayah saya yang sudah disebut opa oleh cucu2nya. Saya sangat kangen sekali untuk berkunjung ke tempat ayah saya hanya untuk sekedar mendengarkan ia mengulangi kisah – kisah hidupnya bertemu orang – orang luar biasa termasuk ketika ia membicarakan terus Teddy Boen dan menanyakan ke saya, kamu sudah kontak pak Teddy Boen ?
Akhirnya saya bertemu pak Teddy sebelum pada saat itu sata bertemu almarhum pak Adhi Moersid. Saya diceritakan mengenai prinsip – prinsip hidup berelasi dengan engineer dan menegaskan bahwa empati, hati diperlukan di dalam menjalani praktik. Ternyata beliau adalah insinyur struktur dari Said Naum, yang merupakan partner almarhum Pak Adhi Moersid dan Atelier 6 Arsitek. Teddy Boen hanya berkata your dad is really good person, teliti dalam bekerja dan tidak omong besar. Hidup ini memang berputar seperti pasir di pantai kadang ia tertarik ke dasar lautan mendalami prinsip hidup untuk kembali ke daratan mendalami bahwa semua hal ini terelasi.Le Corbusier memahami ini di dalam gambaran saat – saat dirinya bermain di pantai dan menemukan poetic objet, dari situ ia memahami bahasa alam melalui kerang, bentuk alam.
Setelah saya selesai menemui almarhum Adhi Moersid dan Teddy Boen. Pak Teddy menitipkan 10 buah buku dan prototipe rumah tahan gempa yang berguna untuk masyarakat yang adalah dokumen publik. Saya kembali ke rumah ayah saya. Saya ingat ia menyambut ke depan dan langsung menanyakan, gimana sudah bertemu ? Saya mengiyakan dan melihat matanya berbinar – binar.
In English :
My father’s name is Asnawi Sjarief. He is not as agile as my mother but has sharp eyes like an eagle. He is a badminton player who became a Teluk Betung eagle; although his body is small, he is famous for his jumping smash. He witnessed the greatness of a legendary Indonesian coach Tong Sin Fu in practicing reflexes, playing techniques with high training ethos, and fighting when he had to defend his life principles. Tong Sin Fu is now training Lin Dan and other world calibers to become world champions. In the past, Uncle Tong had coached Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. He taught his students to win dozens of titles, including 3 Olympics, the Thomas Cup, Uber, and many other trophies. For me, the figures of Tong Sin Fu and my father are the primary figures of how architects need to have principles of life and intensive practice.
We were apart when I was born. My mom supported him initially, and we had to move to Jakarta from Surabaya when I was ten years old. My father worked in Jakarta, and my mom, me, and brothers stayed in Surabaya.
He watched his team closely and cared for them, like his family. Even though he was bankrupt, he managed to find money and a job for them.
I remember he woke up very early, 5 a.m., and went to the site to check his team’s work from time to time, from Monday to Monday.
Sometimes during the holiday, we had events with the artisans’ team and supervisor, and their lives became ours. We have a good moment talking about the project at the dining table. I love him so much, and he is my hero, role model, mentor, and always the person who understands my condition. In his life, he put effort into others and his family. He liked his position on the field, and his boss, Teddy Boen, remembered him. Teddy Boen is one of the professors in Earthquake design in Indonesia.
He knew Teddy Boen from our grandfather, and he sustained the relationship for 30 years until now. It’s a sustained relationship between generations of builders, clients, and artisans.
I still remember not having time to chat with my father as he worked in Jakarta. He came to Surabaya when one of the family had a birthday. We used to have a simple birthday party. Our celebration was straightforward like our house, one story, with a terrazzo finish. He built it one by one. He took care of his family by giving us a simple home while working in Jakarta. Sometimes, our grandpa + ma from Lampung came, and I realized they were so proud of my father and mother. Our clothes were so simple, and sometimes, my mom sewed all of the clothes by herself. Our style of clothes is similar. Sometimes many of our grandfather’s siblings came to help my mother. My mom took care of four sons by herself. She likes to bake a cake and socialize in the neighborhood.
My conversation with my father is still ongoing, including when he talked about Teddy Boen and asked me, have you contacted Mr. Teddy Boen?
A father is a lamp for his children, and my father has been called Opa by his grandchildren. I miss visiting my father’s place to listen to him repeat his life stories and meet extraordinary people, including when he talked about Teddy Boen and asked me, have you contacted Mr. Teddy Boen?
Finally, I met Mr. Teddy before that time when I met the late Mr. Adhi Moersid. It turned out that he was a structural engineer from Said Naum, who was a partner of the late Pak Adhi Moersid and Atelier 6 Architect. They told me about the principles of living in a relationship with engineers and emphasized empathy and heart, which is a must in practice. Teddy Boen said your dad is a good person, conscientious in his work, and doesn’t talk big. Life is indeed spinning like sand on the beach. Sometimes we are drawn to the bottom of the ocean to explore the principle of life. Then, we can return to land to explore how all these things are related. Le Corbusier understands this in the picture of moments – when he plays on the beach and finds the poetic object, and he understands the language of nature through shells and natural forms. After meeting the late Adhi Moersid and Teddy Boen, Mr. Teddy entrusted ten books and prototypes of earthquake-resistant houses that are useful for the community, which are public documents.
I returned to my father’s house. I remember he greeted me and immediately asked, how did you meet? I agreed and saw his eyes sparkle.
“Wisdom says we are nothing. Love says we are everything. Between these two our life flows.” – Jack Kornfield
.
Kemarin saya bertemu Hendrick Hengki,ia datang ke The Guild, sudah lama saya tidak bertemu dengan dia. ia aktif di dalam Mindfull Project, sebuah gerakan meditasi yang melayani orang- orang yang membutuhkan ketenangan di dalam bekerja, dan membutuhkan ketenangan di dalam menjalani keseharian. Ia adalah salah seorang yang berbakat dan saya ingat karena Tugas Akhirnya yang menggabungkan kesatuan jiwa, tubuh, dan akal sebuah kesatuan di dalam desain sebuah tempat peribadatan.
.
Saya menyapanya, untuk menanyakan kabar – kabarnya, proyek apa yang sedang ia kerjakan, mendesain beberapa proyek termasuk memperhitungkan fengshuinya. Ia kemudian berbicara “Kak mau saya bantu liat Feng Shui bangunan ini (The Guild) ? ” kemudian ia menjelaskan teori energi, berdasarkan tanggal lahir, bulan lahir. Ia pun meneruskan dan memberikan saran, tempat duduk kakak sebaiknya dipindah kesini kak, ke sisi timur supaya lebih harmonis. Tempat tidur pun harus dirubah kesini. Perubahan – perubahan yang diusulkan tidak terlalu banyak, namun saya terkesan karena keinginannya untuk membantu saya, keluarga, dan studio. Ia datang untuk bertegur sapa, menciptakan perubahan. Ia pun bilang kak, ini efeknya tidak akan langsung, butuh beberapa waktu.
.
Kita di dalam hidup memiliki jalan masing – masing, di tengah persimpangan kita bertemu dan berpisah, bertemu dan berpisah kembali. Di dalam pertemuan itu ada setiap pembelajaran, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri begitu melihat murid, sahabat kita berkembang dengan caranya masing – masing, keunikannya masing – masing. Harmoni muncul menampakkan bahasanya.
.
Sunyata in the architecture, how to make holistic experience :) Hendrick Tanuwidjaja grows his mindful project has shared his valuable view for us, me and fam, thank you :)
.
Tahun ini umur saya 38 adalah saat – saat yang membuat saya bersyukur karena dikelilingi keluarga dan teman yang luar biasa. Bisa berkarya, bisa terus belajar, bisa terus berbagi. Rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk merayakan ulang tahun yang sederhana. Terima kasih Laurensia, dokter gigi terbaik yang menemani langkah – langkah, juga malaikat kecil kami Miraclerich. Malaikat – malaikat kecil yang menjaga langkah kita sebagai orang tua untuk memberikan contoh dan teladan yang baik. Masalah – masalah terus muncul di sekitar kita, dinamisnya pekerjaan arsitek, perjumpaan setiap hari dengan orang – orang yang berbeda, dan ekspektasi desain yang terus berkembang, lalu bagaimana menata tingkatannya untuk menuju sebuah penguasaan yang mumpuni ?
.
Miraclerich, adalah anak pertama kami, ia hidup di dalam lingkungan arsitektur yang kreatif yang dikeliling dengan staff – staff saya di kantor. Tiga kali dalam satu minggu Ia menemani Laurensia ketika berangkat untuk berpraktek, ia biasa dititipkan di orang tua kami untuk menemani orang tua kami yang kangen dengan cucunya. Hal yang paling saya takutkan adalah apabila Miraclerich tumbuh sebagai anak yang egois dan lepas dari konteksnya sebagai makhluk sosial. Dimana kami tidak bisa mengatur Miracle setiap saat seperti mengatur apa yang ia lihat, interaksi apa yang ia lakukan, siapa saja temannya. Miracle sekarang sudah bersekolah, ia berumur 4 tahun. Laurensia berusaha untuk mengatur jadwal Miracle supaya ia bisa mengerti pentingnya pengaturan waktu, mengerti kewajiban untuk belajar mengeja atau menulis dan haknya untuk bermain – main. Terkadang ia meminta ijin untuk menonton youtube, gadget, ataupun bermain – main dengan motoriknya. Di balik cepatnya informasi on-line (Internet of Things) yang ada sekarang ini, Jonah Berger memberikan beberapa informasi bahwa interaksi offline masih memegang peranan penting untuk menunjang sebuah kesuksesan. Ia berkesimpuan bahwa cepatnya informasi tidak membuat manusia kehilangan posisinya sebagai makhluk sosial.
.
Di tahun 2019, kegiatan sehari – hari saya lakukan dengan kegiatan praktek sebagai arsitek, menulis, mendesain, dan mengajar. Di semester pertama 2020 ini, saya mengajar mata kuliah strategi arsitektur berkelanjutan. Sebelum itu, saya menulis buku Methodgram dibantu oleh Anas Hidayat sebagai teman berdiskusi dan rekan penulis, juga Jo Adiyanto sebagai penyunting yang membantu meruntunkan pemikiran saya yang rhizomatik (bercabang – cabang). Hal yang ditulis tersebut berdasarkan dari 7 tahap metodologi desain untuk arsitektur berkelanjutan. Hal ini didapatkan sebagai pengetahuan dasar ketika kerja di Foster and Partners, London yang menurut saya penting untuk dibagikan di dalam membentuk metodologi arsitektur yang berkelanjutan. Metodologi desain berguna karena bisa memetakan permasalahan desain, menyederhanakan permasalahan yang kompleks di dalam skala bangunan yang semakin besar, tim yang semakin beragam, dan waktu yang terbatas. Hal tersebut dimulai dari :
1. Konteks, pemahaman site yang menyeluruh
2. Massa bangunan yang responsif
3. Selubung kulit bangunan
4. konfigurasi ruang dalam
5. Optimalisasi desain sistem mekanikal, elektrikal, dan pemipaan
6. Optimalisasi penggunaan energi dan air
7. Material yang ramah lingkungan
Ketujuh hal tersebut membentuk sebuah hasil relasi antara klien dan arsitek dari analisa tapak, brief, program, desain, dan implementasi. Desain hanyalah satu aspek dari 5 aspek tersebut, hal tersebut merujuk kepada kata “kontekstual” untuk memberikan tanggapan dari lahan, pengguna, dan ilmu desain untuk sendiri melalui analisa ulang terhadap metodologi desain yang dimiliki sebelumnya. Keseluruhan pengalaman ini, ternyata saling terkait satu sama lain membentuk kemajuan yang saling mempengaruhi. Metodologi desain penting untuk bisa dikuasai. Satu saat ketika saya berdiskusi dengan teman saya Nantapon di Bangkok di dalam perjalanan ke Ayuthaya. Ia bertanya mengenai tingkatan kemumpunian seorang arsitek. Saya berusaha merangkum apa yang saya alami, dan menjelaskan ke Nantapon mengenai 5 tingkat kemumpunian.
Tahap pertama adalah, tahap pengenalan diri sendiri untuk mengakui siapa kita, apa yang membentuk kita dan menghargai orang – orang yang membuat kita seperti sekarang untuk membuat kita memulai fase tekun dalam bekerja, cinta dalam berbuat, sebuah perayaan untuk tradisi berbuat dengan sikap untuk selalu belajar, tekun, dan rendah hati, sebuah sikap pengabdian…
Tahap kedua adalah tahap memodifikasi ruang, yang salah satunya adalah teknik sterotomik (melubangi), hal ini dimerupakan proyeksi garis tangan. Proyeksi garis tangan ini adalah sebuah aktualisasi diri yang membutuhkan keberanian untuk menempuh resiko untuk menembus stereotipe bentuk – bentuk yang sudah menjadi asumsi dasar desain…
Tahap ketiga adalah tahap menguasai tektonika grammar, sebuah teknik penguasaan detail di tahap implementasi yang fokus kepada optimalisasi bahan, waktu pengerjaan, dan penemuan alat untuk mempermudah sistem kerja…
Tahap keempat adalah tahap metodologi, dimana desain bisa menyelesaikan masalah yang sulit dan kompleks dengan cara dan strategi yang sederhana …
Tahap kelima adalah evaluasi total, sebuah tahap memutarbalik atau melawan metodologi sendiri, tektonika yang sudah terbangun, ruang yang sudah dicipta, dan titik awal yang menjadi identitas arsitek . Menuju fase lahir kembali … membantu orang lain untuk menemukan jalannya masing – masing
.
Hari ini adalah Tahun baru bulan, adalah saat – saat dimana berkumpulnya keluarga, reuni, dan penanda musim semi dimulai. Betapapun jauhnya seseorang dari rumahnya, setiap orang filosofinya akan berusaha untuk pulang untuk makan bersama. Kemarin saya sampai sedikit terlambat untuk berkumpul bersama keluarga, karena perlu untuk mengunjungi satu pekerjaan di Jakarta Pusat. Ayah saya sudah menunggu untuk sedikit ngobrol dan sedikit berdiskusi tentang proyek – proyek, dari beliau saya belajar untuk sabar, dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, fokus ke hal – hal yang dasar dan sederhana untuk berkarya. Untuk kami, saat – saat ini adalah saat dimana bulan datang, inilah saat untuk menghargai orang tua, bertemu saudara – saudara dan belajar untuk berbagi di dalam amplop kantong merah merupakan pertanda hati atau cinta yang berisi sebuah harapan untuk keberuntungan, kesuksesan, kesehatan di masa depan untuk kawan – kawan semua dimana semoga kantongnya semakin tebal, jiwanya semakin mulia, dan hidup semakin bahagia menuju ke bulan. Tuhan tolong berkati teman – teman semua supaya selalu dimudahkan jalannya diberi kesuksesan berupa : kesehatan dan rejeki, dan pertemanan yang selama – lamanya dan diberikan sebuah fase untuk lahir kembali.
.
Salam dari kami sekeluarga @laurensiayudith + miraclerich ^^
.
Sudah sekitar hampir 2 tahun sejak 2018 diri ini tidak menulis di catatan Mayonnaise Jar, salah satu alasannya adalah saya membutuhkan waktu untuk mengorientasikan tulisan saya kembali. Hal ini adalah sebuah proses dimana perlu untuk mereposisikan tujuan dalam keseharian. Setelah 2 tahun ini, baru kali ini bisa memiliki jeda di dalam praktek karena sistem studio sudah berjalan, dan ada banyak asisten dan tim yang membantu saya. Di dalam perubahan tersebut saya menghindari hubungan dengan klien yang tidak cocok, memperkecil tim, dan mendekatkan diri dengan proses dialog dengan klien dan memperkaya riset arsitektural. Laurensia pun sibuk membantu di studio untuk mengatur manajemen studio di sela – sela kesibukannya sebagai dokter gigi. Ia menangani studio sebelum membimbing Miracle di dalam mengerjakan pr – prnya.
Miraclerich pun mengalami perubahan yang pesat dari 2 tahun menuju 4 tahun, ia sudah bisa mengatur dirinya sendiri, buang air sendiri, belajar sendiri, mandi sendiri, ia mencoba untuk mandiri dan tidak bergantung dari kami. Miraclerich sudah bisa mulai makan sendiri dan mulai tidak merepotkan mamanya meskipun ia masih belum bisa tidur sendiri. Dan kakinya masih suka menendang kepala yang seringkali membangunkan di pagi – pagi subuh yang berguna untuk mengingatkan untuk memiliki saat teduh di pagi hari.
Perubahan di dalam pekerjaan ini ditandai dengan mulai nampak proyek – proyek dengan klien – klien yang sungguh menghargai apa yang sedang kami kerjakan. Klien – klien tersebut mengapresiasi kami, dan untuk membuat saya semakin bersemangat menulis dengan dasar merefleksikan ulang. Setiap hari saya menulis dan akhirnya tulisan tersebut membentuk cerita tentang proyek, tektonika, metode desain. Hal ini tertuang ke dalam 4 buku RAW Architecture : The Guild, Dancer House, Tectogram, Methodgram yang membantu reposisi titik awal tersebut ke titik yang baru dimana evaluasi beberapa teori yang berbeda bisa dilakukan yakni teori yang membentuk titik awal (origin), teori mengenai penggubahan ruang, teori mengenai tektonika, dan teori mengenai metode desain. ke 4 buku tersebut saya tulis bersama Anas Hidayat, seorang dalang dari Surabaya.
Mas Anas itu seperti kungkang, saya pernah berbicara, ia kadang tidak responsif kalau saya sedang membutuhkannya di dalam penulisan buku, namun ia memiliki cara tafsir yang unik. Sehingga perenungannya membantu saya di dalam berproses.
Setelah buku – buku tersebut selesai dipublikasikan, saya merasa di titik ini tidak dibutuhkan drama – drama di dalam proyek yang memang tidak perlu. Dengan keseharian yang ada sekarang kebahagiaan bisa dirasakan dengan keseharian bersama laurensia, miracle, dan kawan – kawan sedulur dan beberapa kawan yang bisa langsung dekat meski baru kenal.
The Guild adalah representasi komposisi adaptasi total dengan permainan berbagai material yang berbeda – beda yang dikonstruksikan untuk semakin ringan, mudah, murah.
Setiap pojok di Guha adalah cerita tentang proses yang terjadi, perubahan tempat, konstruksi, penambahan konstruksi yang seringkali ditandai dengan mutilasi terhadap bentuk – bentuk yang terjadi dengan tujuan eksperimentasi untuk membuat teknik yang semakin ringan, mudah dan murah. Mutilasi adalah sebuah daya eksperimen yang berani untuk memotong, menambah, merubah ulang desain yang sudah terkotak – kotak di dalam iterasi sebelumnya. Mutilasi ini adalah tahap adaptasi total, itulah tahap dimana proses pembuatan karya di antara tegangan industri dan tradisional dimana terciptalah komposisi material natural fiber dan material industri. Proses ini membutuhkan kerelaan untuk menciptakan iterasi dari proses konsep sampai keterbangunan di dalam lingkaran untuk terus belajar dan bereksperimen. Guha adalah representasi komposisi adaptasi total dengan permainan berbagai material yang berbeda – beda yang dikonstruksikan untuk semakin ringan, mudah, murah. Ketukangan itu ada di balik bentuk yang memukau, ia ada dengan bahasa sehari – hari, kemudahan yang mudah dalam konstruksi dan perawatan.
.
Ada beberapa hal yang saya sangat banggakan di dua tahun ini. Dua tahun ini saya mencoba mencarikan pekerjaan untuk tim pengrajin bambu saya asli Sumedang dan akhirnya berhasil dengan adanya klien – klien yang tertarik untuk bereksperimen. Memang sulit mencari klien yang mau melakukan eksperimen. Banyak orang mencari proyek bambu hanya untuk membangun bangunan yang super murah yang akhirnya tidak realistis karena semurah – murahnya bambu ia perlu dirawat dan dicintai.
Saya mendapatkan proyek renovasi – renovasi kecil untuk mereka selama itu juga proyek eksperimen bisa terus dilakukan di tahun pertama. Terkadang kami harus membantu dapur tukang – tukang kami supaya bisa menyambung hidup. Ada yang keluarganya sakit, ada yang anaknya sakit. Terkadang di dalam pekerjaan juga tidak mudah, banyak juga yang menunggu – nunggu saya untuk instruksi lanjutan, sedangkan saya terkadang masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Setiap daerah memiliki ekosistem praktik arsitekturalnya sendiri yang mewarnai misal ada tidak sumber daya kebun bambu di sekitar, atau ada tidak orang yang ahli membuat konstruksi tersebut. .
Hal yang lain daerah Guha, ada di perbatasan Jakarta dan Tangerang. yaitu di Taman Villa Meruya berada di lokasi yang cukup jauh dari pusat keramaian. Keramaian yang paling dekat adalah tetangga yang membuka warung kopi sederhana. Lokasi yang terpencil ini membuat Guha menjadi sebuah tempat yang tersembunyi, tempat yang sempurna untuk saya bisa menarik nafas sejenak dari hiruk pikuknya Jakarta. Daerah ini adalah daerah yang cukup rawan sejak proses konstruksi, seringnya laptop hilang, motor hilang, penjambretan, rumah kemalingan, pencurian alat bangunan sering terjadi.
Oleh karena itu dinding yang ada di Guha relatif tinggi. Oleh karena itu di sebelahnya diletakkan perpustakaan anak yang tanpa dinding, tempat ini ada tempat rekonsiliasi ulang dimana dengan adanya banyak anak – anak berkunjung, keamanan dan rajutan sosial akan tumbuh. Program – program berbagi buku terus kami lakukan dan semoga bisa makin membesar dengan banyaknya buku yang dibagikan dan dibaca oleh anak – anak. Di depannya ada lapangan bisa bermain badminton
.
Di antara seluruh hal – hal baik yang terjadi, Di titik ini fokus berkarya dibutuhkan, melakukan eksperimen – eksperimen arsitektur, mengevaluasi diri melalui spekulasi- spekulasi teori, menjelajah banyak hal yang perlu masih perlu disempurnakan. Di saat ini waktu untuk diri sendiri dibutuhkan supaya bisa melayani lebih baik, oleh karena itu Guha adalah sebuah tempat yang bisa mewadahi untuk bersembunyi atau ngumpet. Persis seperti namanya yang terdengar seperti gua.
Sayup – sayup suara Miraclerich terdengar
“papa ya kerja terus , ayo makan ! ” ^^
Di antara seluruh hal – hal baik yang terjadi, Di titik ini fokus berkarya dibutuhkan, melakukan eksperimen – eksperimen arsitektur, mengevaluasi diri melalui spekulasi- spekulasi teori, menjelajah banyak hal yang perlu masih perlu disempurnakan. Di saat ini waktu untuk diri sendiri dibutuhkan supaya bisa melayani lebih baik, oleh karena itu The Guild adalah sebuah tempat yang bisa mewadahi untuk bersembunyi atau ngumpet. Sayup – sayup suara Miraclerich terdengar “papa ya kerja terus , ayo makan ! ” ^^Ada beberapa hal yang saya sangat banggakan di dua tahun ini. Dua tahun ini saya mencoba mencarikan pekerjaan untuk tim pengrajin saya asli Sumedang dan akhirnya berhasil dengan adanya klien – klien yang tertarik untuk bereksperimen. Memang sulit mencari klien yang mau melakukan eksperimen. Saya terkadang mendapatkan proyek renovasi – renovasi kecil untuk mereka selama proyek eksperimen bisa terus dilakukan di tahun pertama, terkadang kami harus mmembantu dapur tukang – tukang kami supaya bisa menyambung hidup. Ada yang keluarganya sakit, ada yang anaknya sakit. Terkadang di dalam pekerjaan juga tidak mudah, banyak juga yang menunggu – nunggu saya, sedangkan saya terkadang masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Hal yang lain daerah The Guild, ada di perbatasan Jakarta dan Tangerang berada di lokasi yang cukup jauh dari pusat keramaian. Keramaian yang paling dekat adalah tetangga yang membuka warung kopi sederhana. Lokasi yang terpencil ini membuat The Guild menjadi sebuah tempat yang tersembunyi, tempat yang sempurna untuk saya bisa menarik nafas sejenak dari hiruk pikuknya Jakarta. Daerah ini adalah daerah yang cukup rawan sejak proses konstruksi, seringnya laptop hilang, motor hilang, penjambretan, rumah kemalingan, pencurian alat bangunan sering terjadi. Oleh karena itu dinding yang ada di the guild relatif tinggi. Oleh karena itu di sebelahnya diletakkan perpustakaan anak yang tanpa dinding, tempat ini ada tempat rekonsiliasi ulang dimana dengan adanya banyak anak – anak berkunjung, keamanan dan rajutan sosial akan tumbuh. Program – program berbagi buku terus kami lakukan dan semoga bisa makin membesar dengan banyaknya buku yang dibagikan dan dibaca oleh anak – anak.
“Brakkk !!!” Satu pohon kamboja di courtyard The Guild roboh, pohon ini roboh karena kemarin saya meminta pak Darwat supaya tanahnya bisa diratakan, karena rumputnya akan diganti kerikil untuk mempermudah perawatan. Tinggi kerikil yang cukup tebal 25 cm, membuat genangan air tidak terpapar oleh sinar UV. Ketebalan kerikil tersebut mengakibatkan permukaan kerikil selalu kering dan bersih. permukaan kerikil tersebut juga mengakibatkan plaza yang ada di tengah – tengah The Guild bisa digunakan lebih fleksibel tanpa becek, lembap, dan selalu kering. Kursi – kursi bisa diletakkan begitu saja tanpa takut kaki – kaki kursi kotor tertanam tanah. Besok pohon kamboja yang rubuh tersebut akan ditarik dan diberikan penahan supaya bisa tetap berdiri tegak. Ternyata dedaunan pohon tersebut juga terlalu lebat sehingga perlu dipotong, dan dirapihkan. Saya belajar bahwa di balik keringnya dan bersihnya kerikil yang ada, tersedia jaringan pembuangan yang dipikirkan supaya air tidak tergenang. Di balik rubuhnya pohon yang ada di tengah The Guild, ternyata ada pembelajaran yang signifikan . Proses pemotongan tersebut identik dengan proses perapihan keseharian mengorganisasi kehidupan sehari – hari. Dimulai dari barang – barang di sekitar saya sehari hari. Seringkali saya menata file buku supaya teratur meskipun rak yang didesain belum selesai dibuat. Dari pengaturan hal – hal yang kecil tersebut, saya belajar untuk bisa fokus. fokus ke hal penting di hidup kita ^^ tanpa perlu melihat orang lain. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dipercaya oleh Alfred Adler bahwa setiap orang membentuk karakternya melalui pengalamannya, dan membentuk masa depannya melalui intepretasi masa depannya sendiri seperti apabila kamu menginginkan sesuatu sebegitu kuatnya maka semesta akan terbuka untukmu. . Di awal – awal tahun 20 20. Saya berkata pada diri saya sendiri untuk “fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu. fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif. Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.” Baru kemarin saya bertemu dengan bu Tresnowati, beliau orang yang mengajarkan saya membuat core high rise tower dengan baik. Di tahun 2003 saya ingat saya duduk di belakang dia pada saya magang di Atelier 6 Arsitek. Kemarin adalah saat – saat saya menggali informasi mengenai Pak Adhi Moersid, Pak Yuswadi Saliya, dan bagaimana ekosistem Atelier 6 bekerja. Saya berharap bahwa ada sesuatu yang bisa saya berikan untuk mereka. Perbincangan mengarah ke bagaimana Bu Tresnowati memiliki arsip yang detail mengenai Taman Ismail Marzuki dan bagaimana relasi antar personal di dalam proyek yang berjalan bertahun – tahun. Hal tersebut menggarisbawahi bahwa berpraktek di Indonesia, mengerjakan bangunan dengan ruang studio yang memiliki standar internasional tidak mudah dan membutuhkan jam terbang yang solid. . Laurensia dan Miraclerich mengingatkan tentang berjalan berdua – dua. Di dalam tahun yang baru 2020, dua nol dua nol, adalah sebuah tahun untuk berdua – dua, bersama – sama, dari dua menjadi puluhan, dari dua menghasilkan kesempurnaan (0) oleh karena itu ingatlah dari diri sendiri kita berdua – dua lalu karya besar akan lahir. Di dalam saya berintepretasi di tahun 2 0 2 0, ayah saya memberikan celetukan. “Jangan lupa cari ilmu , uang, dan dharma, tiada ketiganya, kamu ngga bisa berbuat lebih.” Celetukan beliau sungguh mendasar dan saya belajar untuk selalu mendengarkan dia. Jadi sebelum berdua – dua, cukuplah akan diri sendiri sebelum mengajak orang lain berjalan bersama. . Genapilah dirimu sendiri barulah matahari bersinar mengajak pasanganmu untuk mencinta dan awalilah perjalanan 2020 penuh kasih, yuk mari berjalan. .
I visited Boonserm's work with Nantapon photo cr to Nantapon
Beberapa bulan ini saya berusaha mencari teman untuk bisa berdiskusi mengenai arsitektur. Arsitektur di dalam pikiran saya adalah sebuah disiplin yang perlu untuk diperjuangkan dan dihayati yang dimulai dari hal yang kecil yang kemudian menjadi besar, merubah orang yang menempatinya termasuk merubah arsiteknya sendiri. satu karya menuju satu karya yang lainnya. Kualitas ditentukan bukan oleh berapa banyaknya kuantitas yang dikerjakan, kualitas diatas kuantitas. Kualitas pun tidak berbanding lurus dengan kepopuleran satu karya tersebut, penilaian satu karya terhadap yang lain muncul dari kekuatan proses pembuatannya. Hal tersebut yang seringkali membuat saya berdecak kagum karena semangat perubahan, semangat kejujuran, semangat untuk tampil dalam semangat eksperimen tanpa takut salah. Arsitek itu adalah manusia yang seharusnya tampil jujur, apa adanya. . Melalui Boonserm dan karyanya saya mendapatkan refleksi dari diskusi kita, saya berusaha merefleksikan pembicaraan kita, energi yang besar, keberanian yang besar, yang membuat refleksi terhadap proses untuk terus berbagi ke orang lain untuk menikmati karya yang mampu berbicara dari hati. Semua orang bisa berbicara banyak melalui kata, namun arsitek berbicara melalui karya. Karya yang dalam berbicara melalui dirinya sendiri, kemudian arsitek meletakkan dirinya di dalam sepatu orang lain. Begitu Ia melihat perbedaan violet le duc terhadap john ruskin. Seketika itulah manifestasi antara konteks, teori, metodologi, implementasi menjadi satu kesatuan. Sungguh sebuah titik yang saya apresiasi. Keterbukaan, semangat untuk berbagi, kejujuran dalam berbuat berpikir dan membentuk masa yang sekarang membuat boonserm ada di konteks yang sekarang. . Keesokan harinya kami berangkat ke Kantana untuk melihat karyanya. Di dalam karya Kantana ia mengkonstruksi axis yang merupakan jalan masuk dengan bebatuan kerikil, kerikil yang ada tidak basah dan kering. Jalan itu memiliki drainase yang baik. Vista diciptakan dari bentuk bata yang disusun menyerupai candi yang membelah zona – zona yang berbeda. Keesokan harinya, bersama Nantapon, kita menuju karyanya selanjutnya yaitu sebuah pavilion yang memiliki fungsi restaurant, bangunan disini memiliki komposisi tektonika yang meredefiniskan tektonika tangga dan tampak kotak – kotak yang terletak di dalam sebuah kubus yang tersusun di dalam rangka yang dibungkus material triplek. Tangga tersebut menghubungkan mezanine dengan lantai dasar.setelah itu kami berjalan kaki ke bangunan sebelahnya terdapat bangunan yang sedang dibangun konstruksi yang sedang berjalan yang juga didesain oleh Boonserm. Bangunan itu menggunakan konstruksi glasblock yang ditutup sisinya oleh kayu lokal. Antar glassblock di perkuat dengan sambungan besi. Konstruksinya seperti kertas yang dilipat dan duduk di atas konstruksi beton. Setiap massa dipecah yang dihubungkan dengan jembatan, didalam massa tersebut terdapat solid void plat lantai yang menhubungkan secara visual axis dari satu massa menuju massa yang lain, menghadap ke pepohonan dan sungai. . Di era sosial media yang begitu cepat, karya arsitektur bukanlah soal jumlah like dan follower tapi adalah soal totalitas menjalani hidup sabatikal yang penuh pengabdian. Seringkali jalannya adalah jalan yang sunyi dan apabila ia menjadi jalan yang ramai biarkan kita membagikan kebaikan untuk orang lain dengan jujur apa adanya. Satu kali ini saya akan berdoa untuk boonserm untuk kebaikan yang dibagikannya ,termasuk untuk saya sendiri yang melewati doa ruang dan waktu. Hidup hanya sementara jalani dengan sungguh- sungguh. Pertemuan kami ditutup dengan sebuah pelukan untuk pesan untuk jangan pernah menyerah. . Ekonomi, sosial, lingkungan, manusia membentuk konteks – lahir arsitektur. Pribadi yang sederhana, bertemu orang – orang yang sederhana membuat kembali belajar. Boomserm membuat komposisi kantana dan dua karya lain yang saya kunjungi . Pendekatannya adalah pendekatan yang apa adanya. Arsitektur adalah karya yang memberkati klien, pengguna. . Di akhir perjalanan, Nantapon mengundang saya ke Samsen Hotel karya dari Chat Pong. Disitu istri dari Boonserm akan menyajikan dansa Zumba. satu dibalik tarian zumba di satu sisi di depan bangunan hotel, saya melihat ada boonserm, ada nantapon disitu ada murid- murid ada teman2 mereka dan saya melihat ada semangat persaudaraan untuk saling mendukung. Kualitas yang jujur dan jarang ditemui. Boonserm mengajak saya berbicara ke satu sudut ruangan dan ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya di dalam arsitektur. Satu diskusi tersebut merubah persepsi saya mengenai sebuah arti di dalam menjadi arsitek. Bahwa kita harus berjarak untuk bisa menilai, kita harus tekun untuk berproses, kita harus terus melayani sekitar kita. Ciptakanlah karya yang tumbuh dari tanah. . Photo of Boonserm’s work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work. .
I visited Boonserm’s work with Nantapon photo cr to Nantapon
cr photo bangkit
cr photo Nantapon
cr photo bangkit
cr photo bangkit
cr photo bangkit
cr photo bangkit
cr photo bangkit
cr photo bangkit
For the past few months I've been trying to find friends to discuss architecture with. Architecture in my mind is a discipline that needs to be fought for and lived that starts from small things which then becomes big, changing the people who occupy it, including the change of the architect himself. one work to another. Quality is determined not by how much quantity is done, quality over quantity. Quality is not directly proportional to the popularity of one work, the assessment of one work against another arises from the strength of the manufacturing process. This is what often makes me chuckle because of the spirit of change, the spirit of honesty, the spirit to appear in the spirit of experimentation without fear of making mistakes. The architect is a human being who should appear honest, as it is.
.
Through Boonserm and his work I get reflections from our discussions, I try to reflect on our conversations, great energy, great courage, which makes reflections on the process of continuing to share with others to enjoy works that are able to speak from the heart. Everyone can speak a lot through words, but architects speak through works. The deep work speaks through itself, then the architect puts himself in someone else's shoes. As soon as he saw the difference between violet le duc and john ruskin. At that moment, the manifestation of context, theory, methodology, implementation becomes a single unit. It's a point that I appreciate. Openness, passion for sharing, honesty in thinking and shaping the present make boomerm exist in the current context.
The next day we left for Kantana to see his work. In Kantana's work he constructs an axis which is an entrance with gravel, the gravel is neither wet nor dry. The road has good drainage. Vista is made of bricks that are arranged to resemble a temple which divides the different zones. The next day, together with Nantapon, we went to his next work, which is a pavilion that has a restaurant function. The building here has a tectonic composition that defines ladder tectonics and looks like boxes located inside a cube arranged in a frame wrapped in plywood material. The stairs connect the mezzanine with the ground floor. after that we walked to the building next to it there is a building under construction in progress which is also designed by Boonserm. The building uses a glass block construction which is covered on the sides by local wood. Between glassblocks are reinforced with iron connections. The construction is like folded paper and sits on a concrete construction. Each mass is broken down which is connected by a bridge, inside the mass there is a solid void floor plate that visually connects the axis from one mass to another, overlooking the trees and the river.
.
In this fast-paced era of social media, architectural work is not about the number of likes and followers but is about the totality of living a devoted sabbatical life. Often the path is a lonely road and when it becomes a busy road, let us share kindness with others honestly as it is. This time I will pray for Boonserm for the goodness he shares, including for myself who has passed the prayer of space and time. Life is only temporary, live it earnestly. Our meeting closed with a hug for a message to never give up.
Economic, social, environmental, human form the context - born architecture. A simple person, meeting simple people makes learning again. Boomserm composed cantana and two other works that I visited. The approach is an as-is approach. Architecture is a work that blesses clients, users.
.
At the end of the trip, Nantapon invited me to the Samsen Hotel by Chat Pong. There the wife of Boonserm will present a Zumba dance. one behind the zumba dance on one side in front of the hotel building, I saw there was a boonserm, there were nantapon there were students and their friends and I saw a spirit of brotherhood to support each other. Honest and rare quality. Boonserm took me to a corner of the room and he told me about his life journey in architecture. One such discussion changed my perception of what it means to be an architect. That we must be distant to be able to judge, we must persevere to process, we must continue to serve those around us. Create works that grow from the ground.
.
Photo of Boonserm's work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work.
Saya menulis “Ini adalah buku anak – anak didik saya yang akan diluncurkan minggu depan tanggal 16 dilengkapi dengan pameran dengan judul menjadi arsitek di omah library, ada total 59 buku dengan 59 penulis dilengkapi dengan no isbn yang diregistrasi di perpustakaan nasional. Pada waktu pertama, diminta anis dan pak ferry untuk mengisi kelas keprofesian di kampus UPH, ya ok isinya tentang materi keprofesian, namun yang terpenting adalah bagaimana bisa mengetahui tentang keprofesian kalau tidak mencintai profesi ini. Buku ini adalah tentang cinta anak – anak ini terhadap arsitektur dan profesinya, melihat tata laku dan kerumitannya di dalam tulisan yang personal. Mereka 59 orang harapan kita, akan berpameran di omah library yang disiapkan oleh tim omah, dengan kurasi bersama anas hidayat, bangkit mandela , rifandi septiawan nugroho dan saya. Pameran dimulai tanggal 16 desember – awal januari 2018. Kita doakan semoga mereka semakin semangat dan termotivasi ya. ”
selesai menulis ini, saya tersenyum, dan merasakan kebahagiaan, “fullfilment”
Sudah 3 hari ini saya meluangkan waktu dari senja hari begitu selesai bekerja untuk mempersiapkan pameran anak – anak didik saya di keprofesian UPH. Saya ingat bertemu teman lama untuk mendengarkan dirinya bercerita bahwa Theoretical Anxiety yang di tulis oleh Rafael Moneo akan sangatlah tidak mungkin untuk diajarkan di bangku S1. Mungkin yang dimaksud bukanlah tidak mungkin, namun dalam pikiran saya, perlu dikontekstualkan, atau disesuaikan dengan keadaan mahasiswa yang diajar, siapa dia, darimana asalnya, pernah mengambil mata kuliah apa saja, dan apa jati dirinya. Penyesuaian – penyesuaian tersebut menjadi penting seperti satu lokasi desain dimana pada awal hanyalah ada satu lahan lalu kemudian arsitektur muncul dengan kecantikannya bahwa tidak pernah ada sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itu, kesadaran akan apa saja yang diketahui menjadi penting, dimana proses pembelajaran pastinya untuk menambah kosa kata dalam memahami kompleksitas, kerumitan, ketidakterdugaan profesi arsitek dimana nanti orang setelah melalui proses belajar, akan lebih mudah untuk beradaptasi secara sengaja atau naluriah.
Sudah 4 bulan saya bersama anak – anak ini dengan jati diri mereka yang unik – unik. Masing – masing punya mimpi untuk bisa sukses, dimana mereka memiliki memori masa lalunya. Ketika saya diminta Pak Ferry dan Anis untuk mengajarkan mereka untuk keprofesian arsitek, saya mencoba untuk menemukan kegelisahan apa yang akan membuat kelas ini signifikan untuk pembelajaran murid – muridnya. Pembelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang memiliki keterbatasan profesi yang mengetahui tata laku, batasan, norma, kesepakatan umum di dunia menjadi penting. Yang saya takutkan adalah kita semua membuang – buang waktu bersama, tidak belajar, tidak tertarik, malah semakin apatis terhadap murid – murid, terhadap pengajarnya.
Theoretical Anxiety and Design Strategies in the Work of Eight Contemporary Architects ditulis oleh Rafael Moneo atas dasar ketertarikannya akan dunia teori arsitektur, ia memberikan interpretasi dan analisis terhadap beberapa karya arsitek berdasarkan inovasi teknologi, pendekatan design, dan teori yang dituliskan untuk menjelaskan karya mereka sendiri seperti James Stirling, Robert Venturi, Aldo Rossi, Peter Eisenman, Alvaro Siza, Frank Gehry, Rem Koolhaas, dan Herzog De Meuron. Pada akhirnya Moneo memberikan justifikasi bahwa keseluruhan teori itu tidaklah bisa diaplikasi dengan generalisasi yang bulat – bulat, namun justru kesetiap karya yang didesain oleh arsitek – arsiteknya perlu dilihat lebih detail tanpa perlu terperangkap dalam teori – teori yang digunakan arsitek bersangkutan.
Semua orang pasti ingin dihargai dan ingin sukses dalam kehidupan. Dihargai karena garis tangannya seperti itu apa adanya dan sukses karena berkecukupan materi dan batin sehingga menjadi manusia yang bahagia. [1] . Saya terus saja berpikir bahwa waktu kita di dunia ini tidaklah lama, setiap momentumnya adalah momentum untuk memberikan yang terbaik karena waktu tidak pernah kembali, dan semuanya pasti akan berakhir. Di dalam 4 bulan yang untuk saya ini beratnya bukan main, setiap minggu adalah minggu untuk kembali ke tumpukan buku yang begitu banyak. Seringkali saya tertidur untuk kemudian terjaga di saat subuh dan kemudian membayangkan apa yang akan dialami murid – murid saya, apakah mereka akan belajar dari materi ini, ataupun sebaliknya, tidur di kelas karena materi ini begitu membosankan. Seperti itulah setiap satu hari di dalam satu minggunya, dari petang menuju dini hari, belajar untuk mengajar, dan mengajar untuk belajar, setiap perputaran iterasi desain, ada kehidupan didalamnya.
Matahari terbit di pagi hari, membawa diri ini bangun lebih pagi dari biasa, hari ini adalah pembukaan pameran, saya berjalan di lorong pameran perpustakaan, memastikan bahwa semua panel tertempel dengan baik, dan 59 buku tersusun dengan rapih, dan saya pun merasa ini adalah sebuah kehormatan untuk diberikan kesempatan bertemu dan membimbing murid – murid saya ini. Kalian luar biasa!
catatan :
[1] Hal ini digaris bawahi oleh Robert Greene dalam bukunya Mastery, bahwa setiap orang perlu belajar mengenai bagaimana menjaga pikiran yang orisinal yang ia sebut Original Mind, dan menyesuaikan terhadap bagaimana kita harus menghadapi orang – orang di sekitar kita yang dialami sehari – hari yang ia sebut Conventional Mind. Kombinasi dari keduanya ia sebut dimensional mind.
[2] Pembahasan mengenai Theoritical Anxiety di tulis khusus di dalam buku qualities of perception yang ditulis oleh Jeffrey Kipnis.
[x] cover by Pianist Nobuyuki Tsujii at Carnegie Hall his own composition “Elegy for the Victims of the Tsunami
Selamat Pagi!
Salam satu garis!
Archday 2018 mempersembahkan Seminar Nasional “RTH ANTARA KITA DAN KOTA”
Banjarbaru merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki pertumbuhan penduduk tidak merata. Sesuai dengan amanat gubernur H. Sahbirin Noor bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berfungsi sebagai penambah estetika kota, menjadikan cadangan suatu lahan di masa mendatang, serta menjadi manfaat ekologi yang memenuhi kebutuhan warga Banjarbaru. Ruang Terbuka Hijau merupakan suatu kawasan yang harus disesuaikan dengan Undang – Undang No. 26 Tahun 2007 yang berisikan tentang tata ruang.
Akan diadakan pada :
Kamis, 18 Oktober 2018
Pukul 08.00 – 16.00 WITA
di Gedung Bina Satria Banjarbaru
Kompetisi infrastruktur berbasis kebaikan sosial yang mengajak anak muda untuk membuat ide infrastruktur sederhana, guna menyelesaikan masalah sosial di sekitar. Bukan cuma buat anak teknik atau arsitektur aja! Di sini semua anak muda bebas untuk memberikan ide terbaik.
Kompetisi ini didukung penuh oleh Sitos.id, situs e-commerce untuk material building dari Semen Indonesia Group, dalam perwujudan ide infrastruktur sederhana guna menyelesaikan masalah sosial di sekitar.
Archifest is an internationally-acclaimed festival which draws the interest of those both inside and outside of the Design industry. The theme that Yann Folain from Wy-To Architect envisioned for this year is “Design for Life”. It broadly encompasses the Architect’s vision to respond to the true needs of humanity. It is necessary for design to give back to the community and enrich human life as a whole.
Each year, Archifest hosts a series of events held in various locations in Singapore including the Archifest Pavilion under the categories of Archi-Interfaces, Conference, Conversations, Archicraft and Architours. These pillars of the festival work hand-in-hand to elaborate on the three sub-themes: Design for People, Design for Time and Design for Environment. Please find attached the text introducing the Theme of the Festival comprehensively.
We delighted that Archinesia has reviewed one of the publication about 15 cerita arsitek muda (Story of 15 Young Architect) which featured one of our work, Rumah Kotak Kayu. Archinesia is Based in Jakarta, Indonesia.
Archinesia is an architectural publication that specialises in architectural development in Southeast Asia, providing the thinking behind inspirational buildings shaping the region today. Archinesia combines book and magazine, covering an unparalleled selection of current projects in the region, yet provides one comprehensive subject as a cover theme to encourage dialogue and discussion. It’s published twice a year, with the latest trends and perspective of Southeast Asian Architecture. Archinesia is a project by Imaji, established in 2010 by Imelda Akmal, a renowned architecture writer, is a publishing company focusing on books about architecture and design
Inverted version of development graph from Deliberate Practice method, suggested that architect’s development followed low-to-high curving pattern which always repeated on next phase.
In its intersection between original pattern and architect lies a “defining moment.”
Argue that the most proper attitude in which phase is Sumarah.
The importance of achieving dimensional mind in mentioned phase.
Entering the phase of hyper focus aka “flow”, the phase gained even more accelerated pacing.
The pacing development on illustrated point become more intense, which inevitably creating a full circle diagram.
Laurensia kemarin baru berulang tahun ia sekarang berumur 36 tahun. Setiap hari kami bangun pagi – pagi, terkadang jam 5, ataupun jam 6 pagi. Miracle akan bangun sesudahnya untuk meminta digendong ke ruang keluarga kami. Terkadang saya meminta untuk ia jalan sendiri, dari situlah saya percaya nilai kemandirian akan terbentuk. Miracle sekarang sudah berumur 2 tahun lebih, anak berumur 2 tahun, belajar sangat cepat, menyerap dari sekitar cepat sekali, ia meniru, dan disitulah ia akan mencontoh dari sekitarnya, terutama dari orang tuanya dimana kadang – kadang saya pun tidak bisa memiliki semua jawaban dari sebegitu banyak pertanyaan, dan tidak bisa memberikan contoh dari sebegitu banyak keragu – raguan. Dalam perjalanan kami, di setiap saat – saat penting, namanya juga manusia, kadang – kadang timbul keragu – raguan dalam pengambilan keputusan – keputusan. Disitulah saya bertanya ke Laurensia, sebagai penentu terakhir apakah jalan ini sudah benar adanya. Seorang ibu adalah jantung hati keluarga, Roxana Waterson, menggarisbawahi perbedaaan tradisi austronesia mengenai rumah sebagai rahim, ibu adalah sentral dari keluarga dengan ibaratnya, dapur tempat makanan itu disiapkan, Waktu – waktu Laurensia dihabiskan untuk mengatur bagaimana keluarga kami menjalankan aktifitas sehari – hari. saya akan bangun cukup pagi setiap harinya, terkadang menyiapkan daftar dan menggambar untuk dibagikan ke anak – anak studio. Laurensia kan mempersiapkan miracle untuk mandi, bersekolah, ke bank, menjemput sekolah, beristirahat, membuat laporan, dan berpraktek, sampai kami bertemu kembali pada waktu makan malam. Oleh karena itu, saya berpikir hal hal sederhana seperti ini, sudah sangat indah untuk dijalani, dan saya sangat bersyukur bisa ditemani oleh istri yang luar biasa baik dan cantik luar dan dalam.
15 Cerita Arsitek roadshow akan ada di Jakarta dengan pengisi acara : Gayuh Budi; penggagas buku, Anas Hidayat; penulis buku, Ginanjar dan Realrich pengisi buku plus (ini yang penting) pembahas Jo Adiyanto yang khusus datang dari Palembang untuk mengulas dan mengupas buku yang telah menggebrak perbukuan arsitektur Indonesia di awal tahun 2018
ACARA
“Spirit 45 – The Rise of Asia”
lokasi : Grand Royal Regency G3-11 Wage Taman Sidoarjo, Kantor Andyrahman Architect.
Sabtu, 28 April 2018
RUN DOWN
08.30 – 08:55 : Registrasi.
08.55 – 09.00 : Pembukaan (Andy Rahman).
09.00 – 09.45 : Iconoloci: an Unfinished Manifesto (Eka Swadiansa).
09.45 – 10.00 : Tanya Jawab Sesi 1.
10.00 – 10.45 : Thoughts: the Secret Library of Le Corbusier (Realrich Sjarief).
10.45 – 11.00 : Tanya Jawab Sesi 2.
11.30 – 12.30 : Ishoma.
12.30 – 12.45 : Presentasi dan Tanya Jawab Sponsor 1.
12.45 – 13.00 : Presentasi dan Tanya Jawab Sponsor 2.
13.00 – 14.30 : Pilgrimage: the Eye, the Experience, and the Discourses (Andy Rahman).
14.30 – 14.45 : Tanya Jawab Sesi 3.
14.45 – 14.55 : Contextual Retrospective: Critiques to the Le Corbusier of Our Time (Eka Swadiansa).
14.55 – 15.00 : Penutupan (Andy Rahman).
KONTAK DAN INFORMASI
Secretariat of Spirit 45 :
[1] Andy Rahman East Java. email : andyrahman_architect@hotmail.com
[2] Eka Osa Swadiansa. Bali. email. mr_eka_swadiansa@yahoo.com
[3] Realrich Sjarief. Jakarta, email : omahlibrary.reservation@gmail.com
W. http://www.spirit45.org
“SPIRIT_45: the Rise of Asia and Our French Odyssey”,
Andyrahman Architect, Grand Royal Regency G3-11 Wage Taman Sidoarjo, Jawa Timur,
Sabtu, 28 April 2018.
SPIRIT_45 adalah sebuah sesi dialog, momen diskursus, dan wahana apresiasi arsitektur. Andy Rahman, Eka Swadiansa dan Realrich Sjarief bertemu dan berdiskusi, merefleksikan pemikiran Arsitektur Indonesia dalam praktek keseharian biro masing-masing. Konsep/realisasi, abstrak/detail, besar/kecil, kesederhanaan/kompleksitas, visi desain/teknik keterbangunan –semua prihal praktek arsitektur dalam lingkup keterbatasan biro muda- dilakukan sebagai sebuah usaha dalam menjawab pertanyaan tema besar konferensi “The Rise of Asia in Global History and Perspective”. Menghasilkan pemikiran kolektif sementara; sebuah perjalanan bersama yang kemudian terus dipikirkan, direnungkan, dan dicari kembali maknanya – kenapa, untuk apa, dan untuk siapa. Acara SPIRIT_45: the Rise of Asia adalah sebuah jabat tangan yang lebih erat, kesempatan untuk berdiskusi lebih dalam, momentum untuk saling memberi dan menerima. Pencarian lebih lanjut terhadap makna dari sebuah kebersamaan.
Secretariat of Spirit 45 :
[1] Jakarta, Taman Amarilis 2 no 15 Kompleks Taman Villa Meruya
[2] East Java, Perumahan Grand Royal Regency Blok G3 No 11,, Wage, Taman, Wage, Taman, Wage, Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61257
USG Boral – Jayaboard held a Design Competition 2018 with topic “Design resort & Hotel”. The topic will be translated into design by participant from all around Indonesia. In which the competition open for public that relates to architecture and interior design. Industry This competition were aimed to inspire public about resort design and hospitality in Indonesia, with Realrich Sjarief acted as main judge.
Read competition’s background and research by Realrich Sjarief here
A detailed examination of the hottest areas of architectural design today. Over the past decade, digital tools have radically transformed the design, practice, and construction of architecture. But behind the photorealistic renderings of projects that are never built is an entire body of design research that informs the latest innovations in design and construction. Through sharings by researcher, educator and profesional architect of the digital revolution, this new part of workshop takes its cue from the practice of mass-customization, one of the most important design and retail trends of recent years, to consider how variations on the same design idea can be applied to a broad spectrum of architectural, engineering, and construction solutions in based of bachelor architecture students standard.
Featured article written by Fellycia Novka Kuaranita
Terik yang menyengat itu sama sekali tak menguapkan energi anak-anak di Sekolah Alfa Omega. Mereka berlarian di lorong, dolanan gobak sodor, atau menyiangi rumput di lahan berkebun. Sekolah tak pernah membosankan karena kerap cara mereka belajar adalah dengan bermain.
Di dalam kelas, keriangan yang sama juga terasa. Bangku-bangku tak melulu ditata berjajar ke belakang; susunannya lebih cair. Anak-anak tak harus duduk dengan tertib dan hening. Alih-alih, kita menemukan mereka bergerak aktif, entah untuk mengungkapkan pendapat sambil memperagakan sesuatu, berdiskusi, atau sesekali kompak mengucap salam ketika kedatangan tamu.
Anak-anak sedang menyiangi rumput di salah satu lahan berkebun sekolah.
Di Sekolah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Alfa Omega yang terletak di Salembaran, Teluk Naga, Tangerang, ini anak-anak merasa bebas mengekspresikan diri. Jenjang pendidikan sekolah ini merentang dari tingkat kelompok bermain sampai sekolah menengah atas.
Seluruh kegiatan dan kebebasan anak untuk bermain di sekolah ini adalah bagian dari metode pembelajaran. Lisa Sanusi, pendiri sekolah ini, sempat mempelajari sistem pendidikan di Finlandia dan Jepang. Ia mengambil kesimpulan, pendidikan harus menyenangkan, membentuk karakter, dan mampu memberi bekal soft skills atau kompetensi praktis yang dapat diterapkan dalam keseharian. Untuk itu, anak mesti pertama-tama menyukai sekolah.
Seorang anak berlari dengan riang di jembatan bambu yang menghubungkan pintu masuk dengan gedung sekolah.
“Dulu saya tidak suka sekolah,” kenang Lisa sambil tertawa. “Sekarang, kami ingin anak-anak berbahagia ketika sekolah dan merasa ini rumahnya. Kami ingin membangun generasi yang suka sekolah, suka belajar, dan menyukai Indonesia,” imbuhnya.
Bersama timnya, Lisa mengembangkan metode pendidikan yang mampu menyeimbangkan kemampuan akademik (hard skills) dengan keterampilan nonakademik (soft skills). Kurikulum yang berlaku nasional diajarkan berbarengan dengan beragam pelatihan, antara lain pertanian, eksperimen sains, menjahit, memasak, dan pertukangan.
Para siswa asyik bermain bersama guru mereka di lapangan sekolah.
Selain itu, bakat dan minat anak-anak ini juga disalurkan lewat bermacam ekstrakurikuler, seperti teater, musik, paduan suara, dan seni visual. Sekolah juga tak memberikan pekerjaan rumah agar waktu yang dimiliki anak-anak di rumah bisa digunakan untuk berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Sebelum pindah ke sekolah baru seluas tiga hektar di Salembaran pada 2017 itu, Alfa Omega yang berdiri sejak 2011 beroperasi di sebuah ruko di kawasan Cikokol, Tangerang. Alfa Omega mulanya adalah PAUD yang dibangun untuk mereka yang kurang mampu. Sampai sekarang, semangat melayani itu menjadi nadi Sekolah Alfa Omega.https://www.youtube.com/embed/gzAuyEs0oDs
“Dari mereka yang belajar di sini, 80 persen anak biayanya disubsidi oleh sekolah. Sementara itu, orangtua yang mampu membayar penuh juga dapat mengikuti program orangtua asuh untuk membiayai siswa lain. Selain keringanan biaya pendidikan, anak-anak yang mengikuti program subsidi mendapat makan siang dari dapur umum kami,” kata Lisa.
Karakteristik dan latar belakang anak-anak yang bersekolah di sini pun begitu beragam. Mereka datang dari berbagai daerah di Jakarta. Ada yang tinggal dekat dengan sekolah, sampai yang rumahnya berjarak kira-kira 30 kilometer dari Salembaran. Alfa Omega juga menjadi tempat belajar bagi anak-anak panti asuhan atau mereka yang putus sekolah.
“Ada beberapa anak yang mulanya trauma bersekolah, sekarang justru sangat betah di sekolah. Mereka suka bermain di sini bahkan ketika jam pelajaran sudah berakhir. Kadang-kadang, kami sampai harus mematikan listrik agar anak-anak mau pulang,” cerita Lisa sambil tertawa.
Arsitektur berkelanjutan
Dengan konsep pendidikan seperti yang dicita-citakan Lisa dan tim Alfa Omega, arsitektur dan lingkungan sekolah menjadi pendukung penting bagi tercapainya tujuan pendidikan. Arsitektur itu mesti mampu menyokong ragam aktivitas anak dan memungkinkan tumbuh kembang anak optimal, misalnya dengan ruang-ruang terbuka dan sirkulasi udara yang baik. Realrich Sjarief, arsitek Sekolah Alfa Omega, bercerita tentang proses membangun sekolah ini.
Bagian dalam bangunan kantin dengan arsitektur bambu.
“Sekolah ini dibangun di atas lahan yang berawa. Waktu kami masuk pertama kali, lahannya tergenang air setinggi satu meter. Konstruksinya harus yang ringan, tetapi tahan lama. Selain itu, kami juga ingin mengakomodasi visi sekolah dengan bangunan yang lebih terbuka dan alami,” ujar Realrich.
Keterbatasan lahan ini justru memicu proses kreatif karena harus menjembatani persoalan desain, teknik konstruksi, material, dan budget yang tersedia. Sekolah Alfa Omega lantas dirancang dengan mengintegrasikan empat bangunan modular, yang memiliki akses ke lapangan tengah.
Material utama bangunan ini adalah bambu, batu bata, dan baja. Baja dipilih karena kekuatan dan keawetannya. Bambu lantaran fleksibilitas dan sifatnya yang ramah lingkungan. Suplai bambu yang banyak diambil dari daerah sekitar pun memangkas jarak distribusi dan mengurangi jejak karbon. Atap bangunan dari nipah, yang ramah lingkungan sekaligus murah.
Kantin menjadi salah satu bangunan ikonik PKBM Alfa Omega.
Sekolah Alfa Omega dirancang dengan sistem pendinginan bangunan pasif, yang mengandalkan ventilasi silang alami dari konstruksinya. Langit-langit yang terbuka menjadi jalur sirkulasi, juga celah yang dibentuk dari penyusunan batu bata di setiap sisi dinding kelas.
Dengan begini, aliran udara interior bisa tersirkulasi dengan optimal tanpa membutuhkan pendingin ruangan. Atap nipah, fasad bata, langit-langit bambu, dan lantai beton adalah material yang memungkinkan iklim mikro bangunan terjaga. Dalam setahun, temperatur interior bangunan ini rata-rata 27 derajat celcius.
Perpaduan metode pembelajaran, lingkungan, dan arsitektur Sekolah Alfa Omega memungkinkan anak untuk belajar dengan lebih efektif. Dan yang terpenting, dengan lebih gembira.
[FELLYCIA NOVKA KUARANITA]
Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 20 April 2018
Satu orang di depan saya pada waktu itu adalah seseorang yang terkenal, ia adalah fresh graduate dari universitas ternama di Amerika, namanya Diastika ia terkenal karena kepiawaiannya menyanyi. “kak tau ngga dia itu artis” kalimat itu sudah saya dengar berkali – kali dari staff -staff yang bekerja di kantor , dan kehebohan satu kantor karena kedatangan orang di depan saya ini karena citranya atau Imagenya yang memang sudah terbentuk di dunia maya dan nyata. “Apaan sih kalian.” saya biasa menjawab seperti itu, karena menurut saya hal tersebut tidaklah penting sama sekali.
Saya melihat anak ini antusias untuk belajar arsitektur melalui presentasinya mengenai portfolio yang dibawanya dan sudah dilayoutnya dengan apik di atas kertas A3. Setelah mendengar presentasinya, ada 2 hal yang saya sampaikan , pertama lokasi rumahnya yang cukup jauh dari kantor, sehingga menyebabkan waktu pulang pergi setiap harinya akan menghabiskan waktu dan energi, mengingat kondisi kemacetan di Jakarta pada jam – jam khusus. Kedua, saya kemudian mencoba untuk mereferensikan satu senior arsitek yang sangat terkenal karena lokasinya yang relatif dekat dengan tempat tinggalnya di daerah selatan. Jujur saya berpikir, setiap orang pasti ingin dihargai, namun ketika seseorang dihargai bukan karena apa yang melekat pada kulit atau citra dirinya, namun dihargai akan jati dirinya, maka itu adalah penghargaan tertinggi. Untuk saya orang didepan saya itu, dia hanyalah manusia biasa yang juga ingin berkembang maju menjadi arsitek yang dihargai karena ia arsitek yang memiliki bakat menyanyi juga, bukan hanya dihargai karena image atau citra yang terbentuk. Diastika adalah satu orang yang sudah mengetahui bahwa ia membutuhkan simbol, dan jalan untuk bisa menemukan kesuksesannya.
Sudah satu dua tahun terakhir ini, saya dikelilingi orang – orang yang berkembang bersama – sama dengan saya, mereka membantu saya dalam membesarkan studio yang sudah saya rintis. Saya melihat potensi yang besar dalam diri mereka, mereka membantu untuk memberikan yang terbaik kepada diri mereka sendiri, saya bersyukur atas seluruh kerja keras dan proses yang tidaklah mudah dalam tugas pekerjaan yang dilakukan sehari – hari. Ada yang pergi ada yang datang, setiap hari pun kita bertemu orang yang baru atau kawan lama. Tidaklah ada yang istimewa dalam kehidupan kita. Namun apa yang membuat kehidupan ini begitu istimewa adalah bagaimana kita sendiri merasakan bahwa diri kita ini berkembang setiap saatnya dan penghargaan akan satu sama lain bahwa karakter manusia itu memang unik – unik. Kemudian keseluruhan kehidupan ini akan membuat kita berkontemplasi mengenai keberadaan kita, suka atau tidak suka saat itu akan tiba, dan begitu saat itu tiba, gelap akan datang untuk menyosong matahari yang akan terbit di keesokan harinya.
Banyak hal yang sudah dialami anak – anak muda sekarang ini, banyak juga yang dipelajarinya, dalam rentang waktu yang tidak sebentar dan juga tidak lama. Lama dan sebentar hanya dirinya yang tahu. Namun anak – anak sekarang belajar lebih cepat, generasi yang lebih muda, bekerja lebih cepat, berkembang lebih cepat. Banyak yang bilang itu instan, ya saya tidak percaya, ya memang berbeda toh teknologi, apresiasi, dan semangatnya juga berbeda. Berbeda itu bukan berarti menurun, hanya saja berbeda. Malcom Gladwell mengangkat fenomena seperti ini yang dinamakan matthew effect bahwa semua rejeki itu sudah ditakar, ditentukan, diberikan sebelum kita lahir, kita semua memiliki sebuah latar belakang, keluarga kita, pertemanan ayah dan ibu kita, ataupun perjumpaan yang mungkin terlihat kecil yang mempengaruhi bagaimana kita mendapatkan klien, bersosialisasi dengan orang lain. [1]
Kalau pernah membaca tulisan Paulo Coelho didalam novel yang ditulisnya The Alchemist, ia menggaris bawahi 3 tipe seorang manusia. Tipe pertama adalah orang yang tidak tahu bagaimana untuk sukses, ia bingung dan ragu – ragu dalam menempuh jalan hidupnya. Tipe kedua adalah orang yang mencoba mencari tahu cara untuk sukses, ia juga bingung dan ragu – ragu dalam hidupnya. Tipe ketiga adalah orang yang tidak mengerti cara untuk sukses, ia tidak ragu – ragu, ia sukses. [2] Ketika keinginan kamu begitu besarnya maka semesta akan menuju ke arahmu dan membuka jalan. Namun jiwa – jiwa di dunia ini akan menantangmu, menguji kamu, seberapa siap kamu akan mimpi yang kamu inginkan. Karakter Santiago di dalam novel ini, menggambarkan pribadi yang sedang di dalam perjalanan untuk mengenali dirinya sendiri di dalam pusaran ia dan orang lain, berkelana ke banyak tempat di dunia. Hidup kita ini seperti di tengah perjalanan, dan perjalanan itu adalah perjalanan milikmu, milikmu sendiri, duniamu sendiri, bersinarlah.
Untuk kawan lama, sahabat kita akan bertemu kembali, suatu waktu di suatu tempat, suka atau tidak suka dalam mimpi dan realitas, dalam ambisi dan kerendahan hati. Pada saat pertemuan nanti, akankah dirimu masih jujur dengan dirimu sendiri, ataukah hanya topeng – topeng yang terlihat seakan – akan dirimu adalah orang yang lain. Yang saya yakini, tidak ada orang lain, topeng itu hanyalah representasi dari diri kita sendiri, sahabat dan teman yang datang dalam satu waktu di satu tempat adalah cerminan dari diri kita yang terdalam, ia akan berjabat tangan, dan memeluk sebagai pertanda bahwa dirimu masih manusia biasa. Oleh karena tersenyumlah, kita ini sama – sama manusia biasa.
Di balik sendu dan cerianya hari natal kali ini di penghujung tahun 2017, diantara berbagai kado natal, dan kue natal yang diterima dan dikirimkan. Selamat Natal dan Tahun baru, semoga damai beserta kita semua. Selamat tidur untuk bangun kembali kawan !
[1] Outliers, Malcolm Gladwell. Tentang Matthew Effect. Biologist often talk about the “ecology” of an organism: the tallest oak in the forest is the tallest no just because it grew from the hardiest acorn l it is the tallest also because no other trees blocked its sunlight, the soil around it was deep an rich, no rabbit chewed through its bark as sapling, and no lumberjack cut it down befor it matured.” pp 20
[2] Ditulis oleh Paulo Coelho dalam The Alchemist. There are three types of alchemist : those who are vague because the don’t know what they’re doing those who are vague because they do know that the language of alchemy is addressed to the heart and no to the mind…. (The third type is the one) who will never hear about the alchemy, but who will succeed, through the lives they lead, in discovery the philoshoper’s stone.” pp vii
[x] cover by Ryuichi Sakamoto – one of the best pianist in the world
In my childhood, there is the very common phrase that I kept in my mind, a phrase which is written in the book titled Outliers “No one who can rise before dawn three hundred sixty days a year fails to make his family rich.” Malcolm Gladwell illustrated in a story which started with the culture of cultivating rice field which was different in west farming which used heavy machinery and culture different in France. One client’s said to me that if you will to work hard, you won’t be starving, your family should not be poor.
“Ninety-nine percent of all human activity described in this and other accounts (of French country life)… took place between late spring and early autumn… entire villages would essentially hibernate from the time of the first snow in November until March or April. “
then he illustrated how things situation is different in Chinese paddies field
“No food without blood and sweat.”
“Farmers are busy, where would grain to get through the winter come from ?”
“in winter, lazy man freezes to death.”
“Don’t depend on heaven for food, but on your own two hands carrying the load”
“Useless to ask about crops, it all depends on hard work and fertilizer.”
“If a man works hard, the land will not be lazy.”
It’s a basic thing, that we should be diligent on working out the problem, to have a work to do, to get income, to live. [1]
How about in architecture. I think it’s shallow to praise each other architect’s work only with the intention of cuddling each others. This cuddling is something to do with others opinion about how much quality work is. Gregorius Grassi stated in explaining his approach towards stylistic based (ism) to work illustrated in Kenneth Frampton’s book poetics of construction. “It is actually pathetic to see the architects of that “heroic” period, and the best among them, trying with difficulty to accommodate themselves to these “isms” experimenting in a perplexed manner because of their fascination with new doctrines, measuring them, only later to realize their ineffectuality.”[3]
We should praise each other character in quality of works, and there will be a rigorous process of looking through quality innovations and put critical thinking towards shaping architect’s character in every work. By doing that each work should be seen unique and representation of life which human colour nature. if somebody asked about how sustainable, how green, how sensitive the design to the climate. Then I would answer. It’s a basic, the architect should consider those. Now we are discussing at the deeper level, the question is, what is your design character? Great architecture challenges, mediocre cuddles.
[1] Outliers, Malcolm Gladwell, pp 274, 275, 278
[2] Poetics of contruction, Kenneth Framption. pp 3
cover by https://www.neuraldesigner.com/images/blog/outlier.jpg
OMAH Library mengundang untuk diskusi, sharing oleh Fernisia Richtia dan Adhi Moersid. Fernisia akan berbagi mengenai ruang senggang, dan Adhi Moersid akan berbagi mengenai suka duka kehidupan sebagai seorang arsitek di dalam selang waktu open house sederhana Rumah Bambu yang didesain oleh RAW Architecture diiringi dengan penjelasan mengenai pameran menjadi arsitek, peluncuran buku menjelang pertengahan desember sampai awal januari.
99% Rumah Bambu adalah representasi dari mimpi rumah yang dibangun oleh material masa depan yang digambarkan dengan misterius, tidak terduga, dan terjadi secara perlahan – lahan. Masa depan itu selalu tidak bisa ditebak, seperti air dan awan, seperti mimpi dan kenyataan yang selalu berubah tergantung dari saat sekarang dari awal menuju akhir. Rumah Bambu sendiri bisa dikonstruksi dengan cara pendekatan. Sebuah cara yang digunakan Wiratman di dalam menyelesaikan bentuk kubah di mesjid Istiqlal desain dari Silaban, ataupun cara dari Michaelangelo dalam membuat St. Peter Basilica. Konstruksi rumah bambu yang disebut sebagai kastil bambu ini diselesaikan dengan jangka waktu 4 bulan, 3 lantai diatas menggunakan struktur bambu dengan program yang bisa berubah – rubah ruangan se luas mungkin sefleksibel mungkin ditambah dengan pemisahan konstruksi atap yang menggantung di dinding luar bangunan. Konstruksi bangunan dibawah atap dan konstruksi di bawah tanah menggunakan material beton dan konstruksi baja untuk meningkatkan efisiensi konstruksi.
Material struktur lantai atas yang dipakai adalah sebagian besar bambu – bambu kecil dengan diameter 8 – 10 cm dan bambu pengokong balok utama sebesar 12 -15 cm setinggi 3 lantai , bambu – bambu yang sering digunakan untuk membuat perancah dengan ketersediaan material bambu yang berjarak kurang dari 1 km dari lokasi pembuatan. karakter, dimensi batang bambu yang digunakan menjadikan konstruksinya membentuk kolom rumpun jadi kolom besar yang terdiri dari bambu kecil yang disatukan. Dalam beberapa kali iterasi desain, Bambu ini sangat cepat sekali untuk dikonstruksi, materialnya mudah didapat, kuat dan efisien jadi cukup cocok untuk perubahan – perubahan yang ada seperti penambahan struktur, pengurangan struktur, penggantian bambu yang memiliki kualitas kurang baik. Disinilah fleksibilitas material yang didukung oleh ketukangan orang – orang yang membangun menjadi sebuah lingkaran kerjasama yang tidak terputus.
Fernisia Richtia adalah seorang pengajar di Universitas Pelita Harapan. Ia pernah menjadi kurator pada pameran UPH waktu adalah ruang. Ia berkerja di Monokroma Architect, pernah magang di brio Sonny Sutanto Architect.
Adhi Moersid, arsitek peraih Aga Khan Award untuk Masjid Said Naum, dan IAI Jakarta 2017 Gold Medal. Beliau aktif dalam organisasi international dan Nasional. Adhi Moersid, bersama Darmawan Prawirohardjo, Robi Sularto, N. Siddhartha, Iman Sunario, dan Yuswadi Saliya mendirikan Biro Arsitek Atelier Enam (1968).
Jadwal Kegiatan
9th Desember 2017
10.45 Penjelasan Program OMAH 2017 – 2018
11:00 Ruang Senggang oleh Fernisia Richtia
13:00 Pengalaman suka dan duka (bitter sweet experience) oleh Adhi Moersid
“This is individual task but they did it in group imagining all of them will be together supporting each other after graduated. They asked other people, (me) to complete their puzzle imagining themselves as architect. I feel honored, it is a privilege to encourage them, helping them to understand beautiful side of architecture and its profession. Actually i am learning from them and their puzzle.”
Few months, ago I rewatched again The Fountainhead movie, the movie which is directed by King Vidor. It’s based on 1943 novel by Russian-American author Ayn Rand. The movie is about one architect fighting his ideal towards economic value, public perception of the style of what is beauty, being truthful on yourself like do you like the ornament, or do you want the building to be clean to express the rationalism. I did rewatch this movie because I was doing teaching of the profession in UPH. I wanted my student to proud of themselves but not ignorant to the other engineers (MEP, Structural), or any design specialist (landscape, lighting), or even the most important seeking balance of giving and taking to their clients.
Paul Segal in wrote that ” architects are called upon to master huge amounts of complex information, create solutions that are multidimensional… this is not a job that can be done by a pig-headed individualist… The Roark personality is often promoted in architecture school culture as the “true way.” This is damaging to students for many reasons. It teaches that the only desirable goal is to become hat individualistic by forcing his or her beliefs on an ignorant public. ” [1]
Being an architect, we deal with vast information from creating hand sketches in conceptual through design development and construction drawing. It takes how to manage emotions, information, creativity, rules, and put all of those into one beautiful sequence. Edward de Bono who wrote book title How To Have A Beautiful Mind. The book consists how to manage this information by wearing six modes of thinking hats. Bono wrote The white hat indicates a focus on information. The red hat gives full permission for the expression of feelings, emotions and intuition without any need to give the reasons behind the feelings. The black hat is for caution and the focus is on faults, weakness. The yellow hat the focus is on values, benefits.
The green hat sets aside time, space and expectation for creative effort. The blue hat is to do with the organisation of thinking. ” [1] In architecture profession this might include tools, information, models, mathematics, building systems.
These hats might help the architect to understand the process of making architecture which I believe might be coined again the term master builder which might be long forgotten. Kenneth Frampton took Renzo Piano’s phrase which might accentuate the hand of the architect. He stated, ” an Architect must be a craftsman. Of course any tools will fo. These days the tools might include a computer, an experimental model, and mathematics. However, it is still craftmanship – the work of someone who does not separate the work of the mind from the work of the hand. It involves a circular process that draws you from an idea to a drawing, from a drawing to an experiment, from an experiment to a construction, and from construction back to an idea again. For me, this cycle is fundamental to creative work. Unfortunately many have come to accept each of these steps as independent… Teamwork is essential if creative projects are to come about. Teamwork requires an ability to listen and engage in a dialogue. ”
Then after that what’s next, clients are happy, other parties are happy, then how about the architect?
This might be reflected of how deep our reflection in our practice. Do we want to just stay at the surface, or are you willing to push it that far? Some of the genuine example is showed in Frampton, Poetics of Construction book, in a progression of reaching wide span, and reacting to what we called style or -ism such as (cube-ism, modern-ism, or even tropical-ism) which is showing the force of outside architect.
The deepness here is shown in the corporeal metaphor, one term brought by Frampton. It’s about experiencing the space bodily. This is about how to create a space, a concept, a reality of architecture which our perception – mind, body – (five senses), and spiritual side touched by the beauty of the space which in total creates architecture in construction, built work into such beautiful tactile details.
he even continued with 3 different proposition while accentuating for us not losing our own tectonics by telling stories about 1)beauty of hand finish, means each successive touching has communicated in design 2) Shintai-paradoxes of cold concrete and warm people which we are in this world of cold, we fill it with warmness. (3) the concept of Schmarsow and Ponty about space is determined by frontalized progression of the body through space in depth which he showed in Alvaar’s Aalto work Saynatsalo town hall which its tactile contrast entrance from small space to breathtaking space.
At the end, the skill to organise the information, being social to all the parties involved, plus which the architect needs to maintain his or her own tectonics, stated again by Frampton, “The first instance the manifest necessity for architects to maintain their command over the art of building as a spatial and tectonic disciplines” and I will add up still not forgetting their character will be the ultimate answer for the progression in its architect’s life.
Bibliography :
[1] Professional Practice: A Guide to Turning Designs into Buildings, Paul Segal. pp 13,14
[2] Why Architecture Matters, Paul Goldberger
[3] How to have beautiful Mind, Edward De Bono, pp 105,106
[4] Renzo Piano Building Workshop 1964 / 1991: In Search of a balance,” Process ARchitecture(Tokyo) no 799 (1992(. pp.12,14
[5] Frampton, Studies in Tectonic Culture The Poetics of Construction in Nineteenth and Twentieth Century Architecture, pp 10, pp11
Located at the corner of the Street at Villa Meruya residential precinct, The guild shows its introvert side with the solid and high border wall, the solid fence without a gap to peek. As if to withdraw from the noisy Jakarta city and build its own sanctuary, the guild is solid from the outside but open on the inside.
The Building consists of one master bedroom, living room, studio a place to work , a library, one open courtyard and a kitchen. The entrance is introduced by concrete, steel, glass and polycarbonate sheet. The access from public and private is separated by open air corridor. The access to the House and the Studio are separated by 2 x 2 m foyer. The bedroom is located on the 1st floor while the other program is located on the ground floor. The circulation is interlocked to give ease access for the owner to access the studio below. Living room and also the dining room with total area of 35 sqm located on ground floor, while the more private family rooms are located on the first floor and limited by the void of stairs to separate family area and the studio. Hot west – east tropical sunlight is blocked by placing solid wall and bathroom while the facade is open to the north-south orientation. Several pyramids shaped form is also introduced to allow sunlight coming to the middle of the building and allowing fresh air circulation through the small gaps in between glass and concrete. The building system uses an automatic watering system that applies zero greywater runoff and zero storm water runoff. It means the whole water is collected to the retention basin with 8 m3 capacity and 2.75 x 3 m of catchment basin with 1,5 m of depth that also contribute the catchment to the neighbor.
The studio is consist of 6 x 6 m square shape, a small void. The small void has a tapered skylight made of concrete with several small gaps to provide light and air circulation. The library named Omah which is open at the weekend has the size of 3,4 x 12,3 m. It is sunken at perimeter area, half below the height of 0:00 meters considering public access and the needs that require a condition to keep books from the sun and constant temperature with the minimum possible to use the air conditioner. At the heart of the house is a courtyard with a fish pond with a background of the 3.5 m radius circle window with 3.50 m looking through the family room. The Guild is one example of project which exercise the modification of form and program with interlocked circulation in the tropical climate of Jakarta, Indonesia.
Alfa Omega school is an educational building with spirit of locality. Located on Tangerang city, it sat on 11700 sqm area with the prior condition of swamp and paddy field. The design responded this unstable soil condition by raising structure to 2.1 m high above the ground. The site itself was chosen as part of design scheme, -corresponding to its natural surroundings, in order to give children sense of closeness to nature, thus invoking outdoor-learning experience.
(The building integrates 4 modular buildings, with efficient access point in one central court yard, due to limitation of local land zoning of what can be built and what can not be built.) The solution to answer the brief of the project is to create an optimum collaboration, or bridge relationship in economic and creative process of construction in two important levels of masonry steel and bamboo construction which can enrich the economic impact of surrounding.
Steel structure, not only for its ability to hold structural load effectively, is also chosen for its construction speed and vigorous durability. The whole building based on this framework, from foundation to roof component. Steel in its variation from thickness to treatments, opening chances in versatile details of design. While bamboo, on the other hand, are flexible matter that requires little maintance in long range which always available in that area. This availability also related to brick and concretes in that area.
The structure is combined with bamboo for roof to create parabolic shape which enhance the character of Nipah which can be tilted or bent while keeping the cost constraint on budget. The brick is stacked in solid void pattern to allow cross air circulation in the facade. Meanwhile the polished bare concrete is used as floor finishes as its durability for daily school activity.
The structure is combined with bamboo for roof to create parabolic shape which enhance the character of Nipah which can be tilted or bent while keeping the cost constraint on budget. The brick is stacked in solid void pattern to allow cross air circulation in the facade. Meanwhile the polished bare concrete is used as floor finishes as its durability for daily school activity.
The local craftsmanship are the answer of 3 problem, which is: 1. Optimum resource, 2. Time constraint, 3. Manpower. Material resource can be found within 5 km from site to accelerate development while reducing carbon footprint at the same time.
In 4 months range, the craftsman are categorized into two types: (1) Light structure, which is concentrated on roof. Constructed by triangular light steel frame per 600 mm, manpowered by 40 Sumedang craftsman. It’s low-cost material had reduced 30 % initial budget, using bamboo and Nipah entirely. (2) Heavy structure is built for modular classrooms by Salembaran craftsman constructing masonry and steel framework. By first 2 months, light structure craftsman had constructed dock, followed by roof and ceiling details. In followed 4 month they joined in heavy structure part. The school is built in 4 months time.
The school designed as passive cooling building, which relied heavily on natural cross air ventilation in its construction. The open high ceiling designed as airing pathway, followed by porous solid-void brick on each side of classroom’s wall. This way, interior air flow are circulated optimally without necessity to use air conditioner.
The school designed as passive cooling building, which relied heavily on natural cross air ventilation in its construction. The open high ceiling designed as airing pathway, followed by porous solid-void brick on each side of classroom’s wall. This way, interior air flow are circulated optimally without necessity to use air conditioner.
Kemarin saya sedang selesai makan pagi menunggu course dari OMAH. Anak – anak kecil datang, menghampiri, menagih “om layang – layangnya mana ?” Saya ingat kira – kira satu bulan yang lalu ketika puasa, saya pernah menjanjikan untuk membelikan layang – layang supaya mereka bisa bermain. Gara – gara kesibukan, saya jarang bertemu mereka.
“Ayo kita beli sekarang ?” saya pada waktu itu ada di lokasi benteng yang tingginya kira – kira 3 m dari jalan utama, pada waktu itu Greg sedang lewat baru datang untuk mempersiapkan course. saya bilang “Greg ada uang ngga,”
“Dek layang – layangnya kalau kita beli itu berapa harganya ? ” mereka jawab ” 2000 , sambil berebutan, gue yang pegang uangnya, gue yang pegang uangnya ” saya bilang sama greg, Greg tolong dikasih 10000 itu ada 4 orang, sisanya lebihin satu buat mereka. Uang pun diberikan oleh Greg. kemudian saya meninggalkan mereka. Kemudian saya terbersit untuk ikut bersama mereka membeli layangan, “eh tunggu” “saya mau ikut.” Kemudian saya dan istri saya ikut ke toko layangan berjalan kaki, melewati jalan setapak selebar 2 m masuk ke gang 1 m, akhirnya tiba ke pembuat layangan, kakek dan nenek penjual layangan, mereka menjual benangnya juga.
Saya tanya ke kakek penjual “Kong harga nya berapa ?”
kakek itu menjawab “1000 pak”
dalam hati saya “asem nih anak – anak, gw diboongin”
Setelah itu saya dan istri saya belikan 20 buah layang – layang dan 5 benang.
saya mulai tanya latar belakang mereka.
satu orang namanya ojon masih TK, satu orang namanya Dillah kelas 1 SD, satu orang namanya Lehan kelas 1 SD, dan satu orang namanya Jasmin kelas 2 SD.
Lehan melapor, om ini si Dillah omongnya jorok sama kotor, saya tanya lo ngomong apa sama anak – anak lain ? ini om dia ngomongnya bang*at dan a*nj*ng sehari – hari. saya bilang eh lo ngapain ngomong jorok begitu lo sekolah ngga ? Mending ngomong “kucing” lebih keren. Mereka pun tertawa,
setelah itu saya bilang ke mereka “eh elo bilang itu terima kasih sama engkong sama nenek, sama semuanya. Ramai – ramai mereka bilang terima kasih.
Setelah selesai membelikan layangan kita berjalan kaki melewat gerombolan anak – anak lain, saya tanya ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?”
“bukan om dia mah cemen, duduknya ajak kaya orang lagi sunatan” saya bilang ke mereka, eh lo kurang ajar, sana sapa anak – anak itu, kasih tanda metal sana sapa.
Kita kemudian berjalan 50 meter lagi, dan melewati satu gerombolan anak yang lain, saya tanya lagi ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?” “bukan om mereka anak jahat, kemarin ngajakin tawuran,” Waduh” dalam hati saya.
Kemudian saya pulang ke kantor, mereka pun pergi. 20 menit kemudian, saya sedang ada di dalam rumah, bibi memanggil, anak – anak itu datang lagi.
“Om tolong naikkin layang – layangnya ”
Oo oke, saya kemudian pergi bersama mereka ke taman di dekat rumah. Sudah lama sekali saya tidak main layang – layang kira – kira sudah 20 tahun lebih. Saya coba menaikkan layang- layang tersebut, bisa naik sampai 15 m kemudian turun lagi, kita pun tertawa – tawa berlari – lari menaikkan layang – layang, bergantian satu sama
Lain. Ketika berlari menaikkan layang – layang, terkadang layang layang tersebut berputar – putar.
Anak – anak ini adalah harapan kita, mereka hanya perlu teman, cara pandang, dan layang – layang hanyalah sebuah alat dan kehadiran kita untuk menemani mereka dengan bermain – main karena sesungguhnya kita juga perlu bermain – main dan menjadi seperti anak kecil kembali.
Kemarin hari sabtu pagi, di depan rumah saya , banyak anak2 jam 5.30 pagi menyalakan bermain, petasan teriak – teriak ada 20 orang. Saya pikir ada apa ini?
Saya turun dan buka pintu dan melihat anak – anak ini. Lalu mereka berlarian, 17 orang kabur tinggal 3 orang, saya bilang :
“dik tolong panggil temen-temennya saya ngga marah. ”
Temen – temennya kemudian datang mungkin setelah memastikan saya tidak marah,
Saat itu di depan saya ada 20 orang, kemudian saya minta mereka duduk,
Saya tanya, “kenapa kalian main petasan pagi – pagi sekali ?” Mereka diam dan saling menyalahkan, “sudah tidak apa-apa”
saya pun duduk, dan bertanya “Kalian tau ngga soal thomas alfa edison?” saya kemudian cerita tentang alfa edison, penemu bohlam lampu , pintarnya einstein dan indahnya bermain layang – layang, ide – ide tentang ilmu pengetahuan dari pengetahuan membaca buku. Saya tanya “kalian sudah baca buku apa? ” satu anak menjawab “buku ipa pak”
Satu orang menyahuti, “ada uangnya ngga pak ? ”
saya bilang ilmu itu mahal harganya, dengan ilmu kita bisa melihat hal yang indah, pergi ke luar negeri, dan untuk menjadi kaya membutuhkan kesabaran, mereka ini anak – anak berumur 6-12 tahun, saya tanya ke mereka “mau ngga sabar untuk belajar sampai 15-20 tahun lagi?” Nanti kalian bisa mendapat uang dari ilmu kalian, setelah itu baru ada uangnya.
“Kalian mau ke paris ? Ke london ? Ke afrika ? Ke Mekkah ?” Mereka jawab “Mauuu”,
ya saya bilang harus sabar belajar, saya pun juga masih belajar untuk bisa kesana.
Setelah itu saya habiskan waktu untuk bercanda memuji mereka kalau mereka anak yang pintar karena setiap anak pada dasarnya pintar, kita diskusi bagaimana cara membuat layangan besar. Kemudian saya bilang, nanti sore kalian datang ya jam 5, saya sediakan buku didalam tempat plastik, saya isikan buku supaya pikiran diisi dengan ilmu pengetahuan. Saya pun minta tolong rezki untuk beli kotak plastik untuk anak-anak. Buku – buku yang sudah dibaca nanti dikembalikan ke kotak atau bisa dibagikan ke temen- temen yang lain.
Kemudian jam 4.00 sore saya sedang mendengar kuliah omah tentang bernard tschumi, saya dipanggil rudi, ada yang nyari katanya, anak-anak kecil datang naik sepeda. Hati saya girang, mereka datang, demi mimpi akan ilmu pengetahuan. ^^ kotak plastik ini adalah harapan untuk anak-anak ini. Isinya ada buku national geographic, komik, buku karya andrea hirata, sudah terbagi baru 15 buah buku. Di stok ada 50 buah buku.
Jadi guys kalau ada yang mau memberikan buku untuk anak2 ini kabarin ya.Dengan membaca buku kita bisa memperluas cakrawala terutama untuk anak – anak yang merupakan harapan kita semua , nanti kita coba buat program yang terkait dengan ini di omah ya, ^^ good morning ya have a great weekend. Semoga damai beserta kita semua.
We Glady invited you to come to Open House, open interpretation, and open disscusion for 99 Percent School of Alfa and Omega : Open House, new home of Children and Teachers with big dream, of PKBM Alfa Omega. Please RSVP to this link: https://bit.ly/RSVP_AO to book your schedule, on 10th June 2017. Invitation card will be given after RSVP because the space is limited.
There will be a sharing about the brief by Lisa Sanusi as the owner, a lecture by Anas Hidayat, and sharing process by Realrich Sjarief. Anas’s lecture will be the main course which titled 5 Seloki Perjalanan Arsitektur, about the 5 phase of creativity of the architect’s life and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.
The term 99 % is a process of almost finished which every work designed by RAW Architecture is always faced by natural state where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.
The schedule will follow as:
10th June 2017,
15:00 Owner’s Perspective by Lisa Sanusi
15:30 Lecture by Anas Hidayat: 5 Seloki Perjalanan
16:30 Experiencing Process By Realrich Sjarief
18.00 Buka Puasa Bersama
Located in Alam Sutera, Tangerang, as it completed in 2016, Puncak Keemasan Group Office occupies 2.450 sqm of built area. The building is intended as office for several companies, which is a noticeable challenge in programming scheme. As part of given solution, the design proposes permeable transition to create unifying ambience with structural parabolic shape made by plywood while maintaining separation inside each chamber. Material that used as main language is plywood that covered almost all interior office. The result is jungle-like hall which connect every room with tree bookshelf and library as its main hub.
Primary concern of the design is to restrain any unecessary cost while maintain sense of playfulness and creativity.
Form of design was expressed in two main sequences. The first sequence is to convey the flow by continuous circle form of tree structured bookshelves along the path of the office. The Second sequence is the type of flow expressed through plywood ceilling placement, which creating sense of wave, thus also resulted in dynamic interior lighting. Another use of plywood is manifested in giant curvature bookshelf that also works as room partition. This bookshelf formed double curvature for a reason. The curve reversed each other vertically, like a section of double helix. This way, it has stable load point in the middle of double arch as self-supporting barrier.
The design also aims for material efficiency. By using 600 x 600 waffle module of bare plywood to cover the ceiling, gave results to its cost efficiency up to 50% to compare with normal cost. Not only as transitional element, plywood also became main form for its ceiling structure. Giant waffle is also functioned for mantling cables and pipes by the least usage of material.
Entire interior element is consistent with same porous detail; from square module bookshelf to various high for ceiling, while some part of supporting areas is using modular rectangle layout form. The detail is enhanced by low hanging edison lamp along the office, and synthetic grass carpet to heighten the jungle mood.
I got one email from Itenas students about invitation to do lecture in enterpreneurship in architecture. In the brief, the lecture will be about how to make an architecture business. Not so long, 3 days ago, fellow architects came to my home, Rubi, Dani, Carolina. Rubi has research about enterpreneurship in architecture. The hypothesis is that there are many good architects, but some of them can not survive, or maintaining sustainable design firm. he said he wanted to create community like OMAH for enterpreneurship in architecture, what is why he came to interview, and asked questions, I would say it’s discussion rather than interview, which is like two way. Deep in my mind, i was curious, why always the topics about this, it’s actualy topic which is pretty basic, topic to surviving as architect. But that is okay, let’s talk about it.
Thinking about that topic. There are many topics, or issues, or discussions about how to start being an architect, how to make a design firm, how to do enterpreneurship in architecture. This short article discussed about origins of enterpreneurship and how it links with architecture.
First of all, I was curious, what is the meaning of enterpreneurship. The meaning of enterpreneurship is generally to connect with opportunity by creating professional code and conduct toward best product. if one say, I am good designer, how can I have clients, how can I have network, how can I have jobs, how can I structurize my firm.
There are two types of paradigm toward this definition, it’s up to you which one fits to your character. The first one, I say it’s extrovert way, the media, the business, the product, rational way. It’s about using opportunity from the media, it’s about the power, prestige, and wealth.
I discussed the condition of profession in Indonesia few months ago, I did a small research comparing indonesian practice and United States.
Dalam tabel standar biaya konsultan inkindo 2015 – Disdik DKI Jakarta, terdapat daftar untuk spesifikasi tenaga ahli dengan spesialisasi tertentu [1]. Spesialisasi tertentu ini mengacu ke perancangan gedung dengan kompleksitas tinggi seperti bangunan tinggi, pembangkit listrik, jembatan, dll. Uniknya dan anehnya, di dalam tabel ini tidak terdapat profesi arsitek, sedangkan disebutkan ahli mekanikal elektrikal, teknik lingkungan, teknik sipik, Geoteknik, Geologi. Memang di dalam lampiran tersebut terdapat kata – kata “dan lain – lain” namun disinilah tersirat bahwa, apakah profesi arsitek ini hadir dalam lingkungan jasa konsultan Indonesia. Jawabannya pasti iya, hadir, namun keberpihakan untuk arsitek patut untuk diperjuangkan karena tiga hal penting:
pertama arsitek berfungsi untuk melakukan efisiensi anggaran, dengan optimasi terhadap massa bangunan, luas bangunan, layout ruang, menentukan titik kolom struktur, menentukan jarak sisa untuk saluran mekanikal elektrikal dan pemipaan, dan optimasi penggunaan material. Kedua, arsitek berfungsi untuk mempercepat masa konstruksi bangunan dengan mempertimbangkan cara bangunan tersebut dikonstruksi, ketiga, arsitek bertanggung jawab terhadap tata ruang, dan perijinan bangunan tersebut untuk mendapatkan ijin mendirikan bangunan, yang bisa dipertanggung jawabkan keamanan, kenyamanan berdasarkan good practice, ataupun Standar Nasional Indonesia, ataupun timesaver, neufert data handbook, building metric handbook, ataupun standar – standar lain yang bisa diargumentasikan seperti standar pengamanan terhadap bocornya air, standar pengolahan minyak atau limbah, standar pengolahan air kotor, dan standar penyediaan air bersih dan sambungan antar detail yang mencegah angin, air, ataupun pandangan, terkait dengan privasi pengguna. Sedemikian mengerikannya apabila satu bangunan tidak didesain dengan benar, apalagi bangunan dengan kompleksitas tinggi yang akan digunakan oleh klien dan penggunanya. Kita patut bertanya – tanya, standar seperti apa yang digunakan. Apalagi ditambah apabila kita bertanya – tanya tentang penghargaan sebuah ide – ide dari satu bangunan. Mungkin keadaan ini masih jauh Panggang Dari Api atau kenyataan tidak sesuai harapan.
Professor Danisworo dalam kuliahnya di Omah library, menjelaskan bahwa standar fee untuk arsitek dari tahun ke tahun berkurang dari jaman ia merintis praktek Encona, dahulu pada waktu ia mengerjakan desain bandara udara Halim, uang imbalan balas jasa bersih yang didapat oleh kantor, bisa digunakan untuk membeli satu buah tanah berikut rumah yang besar, di daerah sumur bandung tempat kantor Encona beroperasi. Dari fee yang didapatkan sekarang dibandingkan biaya hidup yang ada, kompetisi yang ada, penghargaan yang ada harus membuat para arsitek menjadi perlu kreatif dalam mensiasati keadaan [2]. Keadaan yang dijelaskan professor Danisworo Hal ini berkebalikan dengan keadaan arsitek – arsitek luar yang masuk ke Indonesia dengan menerapkan fee 10 % – 20 % lebih tinggi dari fee arsitek di negara asalnya, memang disinilah peran marketting, pembentukan branding dan pada akhirnya kualitas menjadi penting. Bahwa adanya kualitas pranata yang mendukung, yang belum membuat profesi arsitek ini tumbuh subur, dan makin kuat. Arsitek Indonesia perlu berjuang dalam keterbatasan.
It’s this way, Peter Piven wrote in book titled starting design firm wrote about 3 types of design firm, the first is, strong idea firm, second, is strong service firm, and the third is strong production firm. Knowing this category will help you to understand the nature of architect. The strong idea is based on one master to give you guidance, and the second is pretty straight forward which sometimes can be seen in hospitality design when we work with a team which service the team of operators, owners, and technicals. The third is treating architect as production factory.
The second type, it’s about using introvert way. Believing for your genious, training yourself hard for passing through 3 stages of mastery: knowing your expedients, practicing your alchemy, and doing your experiments. Antoni Gaudi, Maclaine Pont, and Carlo Scarpa are the three my favourite architects. I kept looking for pilgrimage for their works, and they are the closest way of role model in my heart looking at their process through time with persistance and their design is absolutely beautiful. in this second type, architecture is like doing kisses, hugs, and doing a dharma for your life. It’s more ethical while the driving point is more introvert. or may be this second type is formed when the first type is understood as a basic need, and the second is a way about perfection in mastering product of your works. So what is the importance knowing this ?
I remember reading one passage written by Robi Sularto, that ” architecture is a dharma, not merely a profession.” this words, was carved in my thoughts since then. I actually am quite sad looking the condition in Indonesia while the architects is not appreciated and the architects are not sensitive enough to serve society but it’s common because architects are still surviving through time. I reflect to myself as well, when daily, we are struggling to get the job done, invoice done, and advancing the mastery of our skills. It’s three way of juggling. The way of juggling explained by Deyan Sujic in Biography of Norman Foster by basically, knowing your limit, focussing on your competence, and building great people around you. what I found that enterpreneurship is about to serve others through design eventhough it’s simple project. Serving other like serving yourself, loving architecture like crazy through best attitude and learning so much as you can perfecting your mastery, preparation, preparation , preparation, it’s hardwork ! https://instagram.com/p/BPzkz-oA6UJ/
My wife is always sad when the time I will fly abroad. This time i will go to Dili, East Timor to assist Yoga and Faela of Institute of Transportation and Development Policy. A NGO organisation which is based in New York. I have been working together with them for 5 years now since introduced by Dani, friend from Planology in the past pedestrian project.
Laurensia has helped me to organise the office so far, she juggled in the complexity of the firm while I formed the associates to help me to do better design for the clients. I knew she was sad day ago because I will leave the family for several day.
Miraclerich has grown up into decent toddler, Laurensia taught him well.
We try to teach miracle value of respecting other, and knowing the consequence of his actions. It’s quite hard, I would prefer to do design actually. Last time, he felt down while he ran, in our heart we want to lift him, but instead doing that, we let him to stand by himself. Miracle cried loudly. In middle of the night, Miracle will wake up and cried asking to be moved in our bed. Laurensia was affraid if Miracle will fall down from our bed because our bed does not have any fence. His bed has 80 cm fence. I moved him back to his bed, and he cried loudly, he choked, and finaly slept after that.
The day after that, we did that again, but this time, Laurensia handled it differently. After Miracle woke up in the middle of the night, Laurensia would slept in Miracle’s bed, I will make milk for him, and Laurensia slept with Miracle just for making him feeling safe but it’s still in Miracle’s bed.
I faced this this situation as well, when new thing happened and it’s new experience. We have to adapt, I was lucky to have my family and Laurensia to help me to adapt the situation. It’s been almost a week now, and Miracle can sleep alone in his bed. I’m proud of him and Laurensia helped him to pass through his hardtime.
Bu Pauline Budianto sent me one video and 2 picture,
she said “Hai Rich, sudah seminggu lebih kami menikmati keindahan hasil karyamu di sekolah AO. Anak2 saya pas lihat pertama kali langsung berbinar matanya…
Katanya: worth it juga ya ma….meninggalkan segala kenyamanan sekolah di belanda….. kalo di Belanda nggak bisa menikmati yg seperti begini.
Thanks Rich! ”
I knew her, for her contributions in the fishermen village at Muara Angke, a part of changes which was proposed during the governance of Basuki T Purnama in Jakarta. I have not still have a chance to meet her in person.
Knowing her message, the Honour is for the hardwork for all of people involved,
I remember video sent by Pak Rendy, few weeks ago
It’s a pleasure and honour.
Love,
Chinese New Year 2017 – The Year of the Rooster – has begun and will last until Feb 15, 2018. The new year, also known as the Spring Festival, is marked by the lunisolar Chinese calendar, so the date changes from year to year. The Chinese zodiac is divided into 12 blocks (or houses) just like its western counterpart, but with the major difference being that each house has a time-length of one year instead of one month.
This year, it’s the Year of the Rooster, the 10th animal in the cycle. The next Year of the Rooster will be in 2029.
My family celebrates Chinese New Year as well. We used to have dinner together at the day before, and at chinese new year all of the member of the big family, uncle, auntie, nephew, niece, cousins, come to our home to have lunch together.
It’s a tradition to be together as a family, giving respect to each other. My Dad told me the importance of levelling in construction this morning, he said, he asked the builder to redo casting the concrete when he found the levelling was not right. The owner questioned him, about why he asked them to redo, destroy and rebuild again which my dad will take the budget by himself. Dad and my Aunts
He said it was for learning, a lesson for his supervisor so he will keep up the standard high with no tolerance.He also said in one morning questioned, which one do you want, be the one who carry or support the weak, or the one who will be carried or supported by other. He also said sometime ago, in family, if there is disagreement, or fight Dad will take side on the weak one, because that is the essence of the family, to understand people as it is, and to help, unite, and be one family.My dad is getting older, his energy may be less than before, I’ve got my lessons, every time I met him.
Happy Chinese New Year, may you and your family be loved by so many great people, and this universe.
The table was arranged by Bu Lisa few days before the photoshoot by Eric Dinardi
Puncak Keemasan Group Office is just published in Archdaily. It’s the effort of truly hardwork and passion by all of the people involved, also with the support by the owner which is been bound to be beautiful memory. In this project the design works with the parabolic and modular shape, exercised into whole series of efficient construction system, efficient architectural finishes, and merged into sequence of experience.
We were honoured to work in this project, this project demanded much of time and energy while the construction floor level is not same, it’s tilting, and slanted in 5 cm discrepancy. the construction time demanded to be not more than 3 months. the project struggled to keep on the design and construction going well in the process.
The fabricated module carried to the site one by one, and the project finaly near to completion in the bitter and sweet experience, resulted the picture that Eric took few weeks ago.
But, the most important is, and the honour is to see the owner, PKG group, the staffs happily using the place, and fitting the workspace behaviour into the space into such lovely memory.
I was committed to submit projects to archdaily or dezeen to test and evaluate our quality of work as a part of feedback, and gathering the 1 % of the process as a part of 99% what we have done.
Have a great day all. love you
The Project is designed for Puncak Keemasan Group, Pak Ferry, Bu Lisa, Pak Sugih, Pak Jimmy, Bu Yohana, Pak Iskander.
“Pak sekolah ini harus selesai di bulan Januari” Bu Lisa berkata satu saat. Di dalam hati, saya menghitung waktu, bulan demi bulan, kira kira hanya tersisa 6 bulan lagi dan sekolah ini baru akan direncanakan.Saya menulis di saat – saat saya berumur 35 tahun dengan rambut putih yang mulai tumbuh, ciuman pembuka dari istri dan anak di awal hari, dan dua buah telur, satu mangkuk apel, bedanya sudah tidak ada lagi teh manis di pagi hari, hanya ada air putih saja. Aneh memang, ada banyak perubahan terjadi di tahun ini, makanan berubah, saya pikir sikap pun berubah, saya ingin yang biasa – biasa dan sederhana saja.
Pagi hari itu Laras, Pak Djatmiko, dan Pak Singgih sudah datang, kemudian kita berangkat ke lokasi Telok Naga, sebuah sekolah yang kami kerjakan namanya sekolah alfa omega.
Banyak sekali masalah muncul di lokasi proyek kira – kira di beberapa bulan yang lalu seperti tidak adanya jalan akses, banjir karena ketinggian lahan ada di bawah permukaan jalan, dan lokasi tidak memiliki listrik dan air. Konstruksinya dibuat dengan kombinasi material struktur baja, beton, bata, bambu, nipah dengan ketinggian 2.1 m diatas permukaan tanah kedalaman rata – rata 1.0 – 1.2 m dari permukaan jalan. Konstruksi atap menggunakan kombinasi kurva paraboloid.
Konstruksi dinding menggunakan batu bata ekspos dengan susunan lubang – lubang, gelap terang yang disusun melengkung tanpa menggunakan kolom praktis. Karena bentuk lengkung ini bata bisa duduk dengan stabil. Prinsip Desain pun secara bertahap tumbuh karena kesulitan – kesulitan yang ada di lokasi.
Enter a caption”Pak sekolah ini harus selesai di bulan Januari” Bu Lisa berkata satu saat. Di dalam hati, saya menghitung waktu, bulan demi bulan, kira kira hanya tersisa 6 bulan lagi dan sekolah ini baru akan direncanakan. Bendera ini ide pak Sugih untuk memberikan 7 buah bendera Indonesia di depan sekolah.
Sekolah dalam proses konstruksi.Pak banyak orang menggantungkan harapannya di sekolah ini, banyak dari mereka yang kembali datang ke sekolah ini dan sekolah ini dekat antara anak yang satu dengan anak yang lain, SD SMP SMA.” Pak Ferry satu saat berkata demikian.
Bu Lisa, Pak Sugih, Pak Jimmy, Pak Iskander, bu Yohana, Pak Ferry, Bu Eunike, Pak Rendy, dan banyak sekali orang silih berganti masuk untuk berdiskusi dan berkenalan kira – kira 2 tahun yang lalu, terima kasih untuk kepercayaannya. Tidak ada hadiah yang paling membahagiakan selain melihat sekolah ini berjalan di tanggal 17 Januari besok.
Di malam hari kira – kira jam 8 malam, Laurensia menelpon, “Yang kamu dimana” “masih di Telok Naga, ini masih nungguin bu Lisa sama Pak Ferry sapu bersih takut ada yang masih kelewat” jawab saya, Pada waktu itu saya dengan pak Djatmiko, pak Andung, baru menyisir jalan baru yang berlokasi 1 km dari proyek sedang dibangun dengan dan Laras menunggu di bedeng di depan proyek dan ali ada di lapangan.
Malam hari jam 8.15 malam
Malam hari jam 8.15 malam
selesai jam 6 pagi
penyusunan batu kali utnuk batas alan dengan lapangan rumput
Laurensia menelpon lagi “Anak – anak sudah nungguin ya di Pizza Hut, sekarang sudah jam 8 malam”
Diri ini pun baru teringat sudah cukup malam, dan dibutuhkan waktu 1 jam lebih untuk ke arah Puri Indah. Diri ini berpamitan dengan Bu Lisa dan Pak Ferry, langsung meluncur ke Puri Indah Mall dengan Ali, Raras. Pak Singgih memilih pulang, pak Djatmiko masih di lapangan, kita harus berbagi – bagi tugas dengan tanggung jawab masing – masing. Di arti alfa yang berarti awalan dan omega yang berarti akhiran. Disitulah ada jeda dan kita semua ada di antara awal dan akhir untuk kemudian siklus pertemuan dan perpisahan terjadi.
ini situasi setelah makan, Miracle sudah tidur
Miftah dan Asep bawa Ubi Cilembu, ide dari Jajo sama Nida ^^
Semoga umur 35, diri ini makin bisa bermanfaat untuk orang lain, terima kasih untuk semuanya Tuhan memberikan cinta dari seluruh orang yang ada di lingkaran terdekat, sehari – hari bertemu, dua hari, ataupun baru bertemu.
the two my most lovely angel, Laurensia and Miracle, Maaf ya papa sibuk terus, kita jalan – jalan ya akhir minggu ini.
[1] Dan terima kasih untuk seluruh anggota tim ditengah dukungan dari tim alfa omega. seluruh anggota yang besar jumlahnya, dan besar sekali dukungannya, tenaga yang dicurahkan dari bermacam – macam orang, bermacam – macam sifat, latar belakang. Love you all
Sometimes we face anxiety, unclear brief in the work flow of the studio while the iterations happen, there are two typical person who will response to this kinda situation. First, the typical person, who will let the coordination going on with no so much clear direction, working with assumption of what the other people think. Second, the typical person who tries to clarify whether the direction is correct, that person will spend much time on calibration, clarification before working, and do the job.
Olivia fox Cabane Illustrated this condition in her book, The charisma Myth, she wrote that For many of us, a state of doubt or uncertainty is an uncomfortable place to be. Robert Leahy, director of the American Institute for Cognitive Therapy, says his patients often report they would rather receive a negative diagnosis than be left in suspense, even tough the uncertainty would still allow hope of a positive outcome. [1]
Book By Olivia Fox Cabane, Titled The charisma Myth MAster the Art of Personal Magnetism
Imagine that you are dealing with difficult situation whose outcome is uncertain. You envision a variety ways it could play out and you strategise on how to best deal with each, you imagine several scenarios, rational , logical thing to do. Obviously this condition takes much of your time on uncertainty. Olivia then concluded that our natural discomfort with uncertainty is yet another legacy of our survival instincts. We tend to be more comfortable with what is familiar, which obviously hasn’t killed us yet, that with what is unknown or uncertain, which could turn out to be dangerous.
I think this is happens occasionally where-ever you work, when clients called you, and the intent is not so clear. sometimes it left you in the condition of uncertain, unclear, and waste much of your energy. Olivia wrote concise way of act on how to solve this problem into 3 steps of doing. Step one and two are so so, first is de-stigmatize discomfort, thinking that this condition is common, normal, sometimes happens. Second, is neutralise negativity, there must be fallacy in our thinking, thinking that this condition is like our brain, which has filters for relevant informations, and our mind will present us with a seriously distorted view of reality. This tendency is called negativity bias.
The step three, is the most important. It is called Rewrite Reality. It’s the moment, when the situation is not clear, and you are trying to push, to clarify the information as clear as possible. This technique is not easy, because in order to do this, you have to connect with direct communication by phone, talking directly and avoiding email, indirect communication. The information need to be very clear, and attitude of solving problem and willing to be helpful will be needed.
Suasana Internship di Studio
Olivia concluded after these three steps you have can now do phase “putting it together” , while you put all of the informations into several sequence in action. It includes the instructions you can use any time to de-stigmatize discomfort, neutralise negativity ,and rewrite reality. and finally, you are in the condition of comfortable in discomfort, to delve into the sensation of discomfort, which can help you to access your best performance during highly comfortable situations.
Suasana Diskusi di Studio RAW
Thank you Olivia for writing such beautiful book. It’s worth learning.
Located in Taman Meruya Ilir, West Jakarta region, Istakagrha meaning brick house,Situated in the increasingly crowded West Jakarta area, the 180 sqm house occupies a 150 sqm plot of land, 10m x 15m. Istakagrha is reflected by its name, brick House, it is a small and compact house with a orange painted color on the light weight brick, black colour , and rough concrete texture finishes.The expression creates humble and distinctive look
“We have a dream to have a house which like a villa in Bali. A house more than a functional but a place to live and grow with feel of nature, we really love staying in tranquil house” explains homeowner Mr. Ferdian Septiono and Ms. Joice Verawati Realrich Sjarief. The clients are graphic designer who are willing to have a compact sustainable house.
Save this picture!
Section
Save this picture!
Section
The architecture of istakagrha separated inside and outside with the landscape of a barrier wall made by light weight brick. The combination is stacked with pattern of solid void, which provide sense of privacy and security, meanwhile allowing sunlight and air circulation to flow inside the living room. The house faces east side allowing morning sunlight come to the space at 9 am. The stair is placed at the west side, the west side is walled with brick to provide thermal insulation. The air ventilator is placed at the west side of the house above the stair from ground to 1st floor providing fresh air circulation throught air stacking effect. The house has one open air receiving area as anteroom then no more separation wall between living, dining, and cooking which In the living room, the kitchen also takes some importance its final layout is the result of few adjustments based on the owner’s domestic habits. The only enclosed space in the ground floor is guest room, which doubles as a working space and guest bed room. A simple foyer and a light well integrated with stair, and art work is placed after the receiving area at the west side of the building. The first story houses private spaces. At the end of the corridor is 1 bedroom with shared bathroom and a walk-in closet. An simple and functional feel showering area is attached to the bathroom. The material used in this building is choosed based on the best craftmenship available in Jakarta, concrete structure is used because of the cost efficiency, engineered wood is used because of the look and lightness, metal frame for facade and sunshading are used because of durability.
3 types of brick was used based on each character. First, is light weight brick, 200 x 600 x 100 mm, for the facade. Light weight brick was chosed because of the lightness, precision and can be easily molded and constructed as facade/ Second, orange brick which is most common material used in Jakarta, The third one is the ceramic brick 50 mm x 150 mm x 10 mm which is used for covering the stair wall as insulation and interior surface. An additional bedroom, bathroom and a stair way to the attic on the 1st floor is linked by a corridor leading to an open space beside the void leading to the stairwell and stair case through compact space. Istakagrha showed an example of small house in Jakarta with small plot of land with sustainable design approach and keeping privacy from out side to inside through simple form which is stacking brick.
Location to be used only as a reference. It could indicate city/country but not exact address.
Architects : RAW Architecture
Location : Taman Meruya Ilir, Meruya Utara, Kembangan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11620, Indonesia
Client : Mr. Ferdi Septiono and Ms. Joice Verawati and Family
Principal : Realrich Sjarief
Project Team : Bambang Priyono, Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Rio Triwardhana, Anton Suryanto, Christiandy Pradangga, Maria Vania. Area180.0 sqm
Project Year2015
Photographs : Bambang Purwanto, Ifran Nurdin
Manufacturers : Alexindo, Philip, Schneider
Supervisors : Sudjatmiko, Singgih Suryanto
Construction Manager : Eddy Bachtiar, Jasno Afif Angga
Structure Engineer : John DjuhaediMaster Carpenter Syarifuddin pudin
Mechanical and Electrical Engineer : Bambang Priyono, Andi, Karim, Hamim
Landscape : Mr. Ferdi Septiono, Ms. Joice Verawati and Family
Plan and Illustrations : Miftahuddin Nurdayat, Tatyana Kusumo, Rimba Harendana
Sangat terbuka dan menyambut kami dengan hangat. Sangat inspiratif, mempunyai konsep rumah yang patut dicontoh, mulai dari filosofinya dan juga bentuk ruangnya. Terima kasih, merupakan pelajaran yang berharga bagi kami.
It’s an interesting and inspiring trip! I’m so glad that I could visit the guild R.A.W architect. It gives me new insights both in architecture+interior aspects. It reminds me that as designers, we dont need to be afraid to try and combine new things, even if they are not the usual stuff. It also reminds me to the materials. I especially like the drop ceilings :) show nature of the surroundings, the ambience, everything! Thumbs up! :)
The Guild looks synced in harmony. With the usage of similar material and form. The skylight provided so much lightning without baing artificial and the layout is open and functional.
There’s harmony in the building, dari pemakaian material. Form, function juga terpenuhi. I learn a lot, dari experience yang saya dapat dari seite visit ke bangunan the Guild ini.
Everything looks so structured, eye-pleasing, and I can learn a lot from this visit. The home, office, and library is indeed unique in terms of design and materials. A memorable experience.
Kantor + residen RAW/OMAH ini formnya unik. Sustainable design. saya sangat terkesan dengan pengolahan ceiling yang tidak monoton di tiap ruang/transisi ruang sehingga kita dibuat takjub setiap saat. Ceiling diolah secara detail+pengaplikasian material yang harmonis (unity). Selain itu, saya menyukai form yang circular, yang banyak diterapkan pada ceiling + daun pintu.
Rumahnya sangat menyenangkan untuk diobservasi dan dipelajari, sangat berani bermain bentuk dan material. Tapi mungkin yang saya kurang mengerti adalah transformasi bentuknya, dan kurang menyatu, unity antar modul. Namun, ketika dijelaskan konsepnya, saya jadi mengerti.
Tiap ruangan memberikan experience berbeda-beda. Formyang digunakan juga bervariasi. Arsitekturnya juga sangat mendetail, mulai dari adanya gap tiap perbedaan material dan adanya undakan tiap beda ruang. Material yang dipakai juga menonjolkan keunikan aslinya. Tapi penggabungan formnya kurang unity.
Rumah ini unik karena menggunakan banyak form, yaitu lingkaran dan persegi. Menggunakan design principle repetition, lalu tiap perbedaan terdapat gap. Rumah ini kurang memiliki unity dari form-nya. Penggunaan material perforated panel di ruang sauna kurang ergonomis pada siang hari.
Michael Braungart and William Mcdonough wrote in their book Cradle to Cradle Remaking the Way We Make Things. They wrote, imagine what you would come upon today at a typical landfill : old furniture , upholstery, carpets, televisions, and so on as well organic materials like diapers, paper , wood, and food wasters. Most of these products were made from valuable materials that required effort and expense to extract and make, billions of dollars’worth of material assets.
They continued their point that all of those things are heaped in a landfill, where their value is wasted. They are ultimate products of an industrial system that is designed on a linear, one-way cradle – to- the grave model which the resources are extracted, shaped into products, sold, and eventually disposed of in “grave”of some kind, usually a landfill or incinerator. This system in the book is discussed as a system that dominates modern manufacturing, They illustrated that 90 percent of materials extracted to make durable goods in the United States become waste almost immediately. It’s even cheaper to buy a new version than to repair the original item. I felt this as well when I tried to repair some of my computers and printers in the retail store,there is also the lack of skill person who can repair item.
Michael Braungart and William Mcdonough illustrated that the model that we faced is called one size fits all or I called it universal model, one example has been the push to achieve universal design solutions, which emerged as a leading design strategy in the last century. They continued that in the field of architecture, this strategy took the form of the International style movement, advanced during the early decades of the twentieth century by figures such as Ludwig Mies van der Rohe, Walter Gropius, and Le Corbusier, who were reacting against victorian – era styles. Their goal actually was social as well as aesthetic. They wanted to globally replace unsanitary and inequitable housing – fancy , ornate places for the rich : ugly, unhealth places for the poor – with clean minimalist, affordable building unencumbered by distinctions of wealth or class.
They concluded Today what we see is their sealed windows, constantly humming air conditioners, heating systems, lack of daylight and fresh air, and uniform fluorescent lighting. There is always breakdown when it comes to the public, some thinking can be absorbed into a beautiful thing, and some thinking is misleading to bad performance. Even though the originators of the International Style intended to bring hope, but who use the style today mislead the message.
Moreover, The performance sometimes seen is just a style, an appreciation of beauty rather than performance because simply the generalization, the effort of our originator turned to be no effort by its predecessor.
[1] Michael Braungart and William Mcdonough, Cradle to Cradle Remaking the Way We Make Things
Archiculture is where Architecture meets Popular culture
Paul Gustavson and Stewart Liff wrote about How to build a great team in their book, a team of leaders. The idea is about empowering every member to take ownership, demonstrate initiative, and deliver results. They started with a question, how do you create an environment that successfully addresses the many challenges that supervisors and employees deal with while producing outstanding performance ? The answer is simple: You have to create an environment where everyone is a leader. That is , an environment where everyone works together, takes the initiative,assumes ownership, is willing to deal with difficult issues and accepts accountability for the team’s result. It’s basically an environment that is in contrast with one in which the supervisor tries to get everyone to produce [1].
There are 5 stages, the stage one, the team leader interacts with each team member one on one, and the stage five is that the team essentially manages itself, everyone becomes a leader. in This scenario, many of leader will spend most of the time working on higher , cross – functional, and outside issues freeing yourself to work at a broader level. The relationship with the team will be really different. Instead of being a traditional supervisor who manages on a one on one basis, your would teach the team members how to handle these issues and be available to assist the team as needed.
They illustrated with a case study about the general electric plant in Durham, North Carolina. The plan has more than 300 employees, and only one boss the plant manager. All of these employees report to the boss, meaning that for all intents and purposes, they have no supervisor. The teams do not maintain a typical assembly line. Instead , they worked on an engine from start to finish. Moreover, everyone’s work varies on a daily basis, keeping the work interesting, and resulting in a high degree of variety. This work area has no time clock, so team members bring their personal business, meanwhile, the plan manager, the only supervisor in the entire plant sits in an open cubicle in the middle of the factory floor.
The most important are, not everyone can fit into this environment especially “people who expect to take orders.”That is because the plant was designed to be operated by teams of leaders. All of the team are bosses. The people in this workplace are clearly engaged, have high energy, possess multiple skills, and are very motivated. In Addition, they take tremendous pride in their team and the work they perform. The result is the performance of the environment excel and being a leader in the industry. They concluded that the information shared are very important. If it’s limited, the performance will be low, or errors. Meanwhile, the supervisor will have to frequently work to the point of exhaustion since he or she will be trying to control the work of a group of not committed employees, which results on mediocrity.
Then, the key to building leaders, you must determine the knowledge they people you supervise, decide, how to acquire it, then manage its distribution. This is why this book is so important, all of us want to be involved, challenged, and empowered. We want to be part of something that is bigger than us, and all of us want to make a difference. We want to continue to grow and develop. We don’t want to work for a boss who tells us to keep our mouths shut and do as we are told. We don’t want to do work that is boring and inconsequential. A team of leader will both produce the outstanding results and make the work experience much more exciting and enjoyable for everybody and let’s start it now.
[1] Paul Gustavson, and Stewart Liff, Team of Leaders.
Ps: this article is written for a weekly article at studio RAW Architecture – Realrich Architecture Workshop as the commitment from me for development my family in the studio.
Ambiance of optimism and a team of leaderes will both produce the outstanding results and make the work experience much more exciting and enjoyable for everybody like in Holiday.
Honestly I’m so excited that The Guild, is just published in Dezeen two weeks ago. why I’m so excited, first because If the work could be published there, it’s the first time, I’m curious about the article, which photos they want to use because it’s learning about the eye of design, which one interest them, which one doesn’t interest them.
I watched movie titled Genius which The story of follows the story of American Southern writer Thomas Wolfe and his connections with New Yorker Maxwell Perkins, the publisher. Perkins had already previously published works by the great American writers Ernest Hemingway and F. Scott Fitzgerald. [1] I love the character of Perkins in the movie, William Maxwell Evarts “Max” Perkins (20 September 1884 – 17 June 1947), was a book editor of the early 20th century. He is remembered as the editor who discovered and nurtured American authors Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald and Thomas Wolfe. He has been described as the most widely known literary editor of American literature [2]
Sometimes in our creativity process we dig in into ourselfisness, finding our own creativity and forgetting outside world in our mind. The editor with keep ourself grounded, connecting our work with public, so people can admire it with certain way of seeing. I think that is the most rewarding experience to submit some of the works to the publications, to get feedback and critics in front of public.
The writer asked me very simple question such as, Who else lives in the house with you ? Why did you want to have your home and studio in one building? What level of connection and separation did you want to achieve between these different programmes?Why did you choose to use circular and arch-shaped openings throughout the building? Why is there a dental clinic in the building ?
here is the article :
I love to have someone who can give me feed back, it’s like having pak Anas Hidayat, and David Hutama as sparring partner of thoughts. It’s very important to have someone to watch your back, kick your ass, and give you hot or cold water if your need it eventhough you feel you are okay.
In the birthday of my fellow designer Tolay – he is leaving the office for the greater good. have a blast future, Lay. We are still fighting as always ! :)
It’s Miracle’s home and my family home, the studio that we love, it’s still on going to change for the benefit for everybody.
Paul Goldberger discussed in his book “Why architecture matter” that “the new architecture “is often hard to accept. It’s only seldom seen as beautiful. It’s not easy to all of the great architects such as Frank Gehry, Frank Llyod Wright, Corbusier, or Mies Van De Rohe, or other great architects.
Falling Water – Frank Llyod Wright
This book “Why architecture matter” showed basically reasons of loving architecture, while there are distortions between architects and people it this case, users, or clients, or visitors, or people that just see it for outside. In this case, the distortions will be shared in this article while I put a reflection, simple one, to connect Bachelard’s Poetics of Space and my experience while designing simple circle window which might illustrate the richness of thoughts in making architecture.
In each case, he illustrated a condition that artist broke through convention and changed our notions of what a culture can produce until their breakthroughs which now pleases us that There were almost always initial unpopular and vastly misunderstood. It’s like imagining, Frank Llyod Wright’s house leak or that Le Corbusier’s weathered badly or that Frank Gehry’s are difficult to construct.
“in Poissy, a small commune outside of Paris, is one of the most significant contributions to modern architecture in the 20th century, Villa Savoye by Le Corbusier. Completed in 1929, Villa Savoye is a modern take on a French country house that celebrates and reacts to the new machine age. ” http://www.archdaily.com/84524/ad-classics-villa-savoye-le-corbusier
The lower level serves as the maintenance and service programs of the house. One of most interesting aspects of the house is the curved glass façade on the lower level that is formed to match the turning radius of automobiles of 1929 so that when the owner drives underneath the larger volume they can pull into the garage with the ease of a slight turn.
Both the lower level and the upper living quarters are based off an open plan idea that provokes the inhabitant to continuously meander between spaces. As an architectural tour de force, Le Corbusier incorporates a series of ramps moving from the lower level all the way to the rooftop garden, which requires the inhabitant to slow down and experience the movement between spaces. https://en.wikiarquitectura.com/index.php/File:Villa_Savoye_Plata.jpg
For example, the example in this book is Le Corbusier’s extraordinary Villa Savoya, completed in 1929 in Poissy, a suburb outside of Paris, was the subject of angry exchanges between the architect and Madame Savoya, who considered the house “uninhabitable.” she lived in it for more than a decade, her discomfort is understandable, It was also happened in Mies Van der Rohe’s case by Edith Farsworth, who like the savoyes commissioned on the greatest houses of the twentieth century and once living in it, found it woefully impractical. Goldberger illustrated that The Savoyes and Edith Farnsworth were unlucky because they had to live woth a work of art at every moment, a nearly impossible task, he stated.
The single-story house consists of eight I-shaped steel columns that support the roof and floor frameworks, and therefore are both structural and expressive. In between these columns are floor-to-ceiling windows around the entire house, opening up the rooms to the woods around it.The windows are what provide the beauty of Mies’ idea of tying the residence with its tranquil surroundings. His idea for shading and privacy was through the many trees that were located on the private site. Mies explained this concept in an interview about the glass pavilion stating, “Nature, too, shall live its own life. We must beware not to disrupt it with the color of our houses and interior fittings. Yet we should attempt to bring nature, houses, and human beings together into a higher unity.” Mies intended for the house to be as light as possible on the land, and so he raised the house 5 feet 3 inches off the ground, allowing only the steel columns to meet the ground and the landscape to extend past the residence. In order to accomplish this, the mullions of the windows also provide structural support for the floor slab. http://www.archdaily.com/59719/ad-classics-the-farnsworth-house-mies-van-der-rohe/5037ddac28ba0d599b000077-ad-classics-the-farnsworth-house-mies-van-der-rohe-image
Goldberger put a premise that the rest of us have the luxury of looking at these houses only when we want to. Some people, of course, are capable only by looking at houses in practical terms. He continued, when the glass house, designed and owned by Philip Johnson completed in 1949, there was a story when one woman visited this then shocking piece of modern architecture and said ” very nice, but I couldn’t live there.” and Philip answered ” I haven’t asked you to, Madam, It was Johnson’s reply.. and then he concluded that few great houses are uplifting works of art to the people who live in them which are often incompatible with the demands of daily life or ordinary people.
As what Gaston Bachelard believed in such poetic of space, the more intimate objects what could be imagined in deeper level, it’s sometimes missunderstood that this premise that private houses are designed for all people. these example illustrated by Goldberger, summed that the conditions were made by and for clients.
The need to include the function is a must. In my case it’s simply like when I decided to have circle window in my family room, the question is, can it be opened, how it will be opened and what are the construction difficulties. When I tried to neglect the functional in my mind and put more into clearer form, I will neglect the opening and choose to make it frameless window, and I believe it’s easier for me but downgrade the window’s performance. It’s simply about working more detail towards functions of how you use the space. The solution was to change the glass into polycarbonate sheet which made the construction finished in just less than a week because the hinge will be smaller, the window will be lighter when I open it, and it will be more practical for the steel welder to construct on site while minimize the building cost.
There are the layers of thoughts that could bridge practical uses and more avant garde ideas. Goldberger’s thought could enhance how the architect, will have the authority to be avant garde but anyway the bridge will make it easy, will position architect ant users in the same ground.
The Guild s Circle Window at my family room : At the heart of the house is a courtyard with a fish pond with a background of the 3.5 m radius circle window with 3.50 m looking through the family room.
Archdaily just published article about Sumarah 99%, The story is about explaining the concept of sumarah, spirit of surrender, I met with Laura Romano while me and my kids went to rumah Turi for visiting.
Here is some introduction that I wrote last time in the exhibition 99 % sumarah :
99% Sumarah adalah refleksi dari dua buah jalan dalam bepikir mengenai definisi sebuah kekuatan sebagai seorang manusia. Pemikiran pertama mendefiniskan kekuatan sebagai sebuah kesempatan untuk menang, bagaimana untuk mendapatkan kekuasaan, dan untuk menjaga kekuasaan. Instalasi ini bertujuan untuk memberikan pemikiran interpretasi, tanpa pernah memberitahukan secara ekplisit, pengunjung harus mengunakan ide ide mereka dan pengalamannya untuk mendefinisikan hal tersebut. Hal itu lah yang membuat pemikiran kedua, yaitu Sumarah menjadi nyata. Sumarah adalah pengajaran spiritual dari jawa. Sumarah adalah seni untuk berpasrah diri, dimana menyerahkan dirimu kepada semesta. Sumarah adalah penyerahan tanpa berharap apapun, dimana rasionalitas menjadi lebur dan tidak meminta apa – apa, menerima keadaan apa adanya. Inilah sebuah kondisi yang paling alamiah.
Sumarah adalah instalasi yang sederhana yang terdiri dari 300 buah kotak berukuran 300 x 300 x 600 mm yang ditumpuk – tumpuk menjadi ruang yang sederhana namun terlihat rumit. Proses pengerjaannya sederhana memakan waktu kurang dari satu hari. Struktur tumpuk adalah sebuah cara yang primitif untuk membuat ruangan, dengan menggabungkan kurva parabolic dan kurva catenary, bangunan ini bisa menahan bebannya sendiri dengan sambungan sesedikit mungkin tanpa pondasi. Sumarah terdiri dari dua buah pintu keluar masuk yang membentuk siluet kurva catenary dimana ketika pengunjung masuk, akan dipertontonkan kehidupan alam, ikan dan tanaman sebagai simbol kehidupan. Dari tampak luar, instalasi ini akan terlihat kompleks membentuk bentuk bukit yang ditumpuk dari material nano technology. Namun dari dalam, memberikan kompleksitas, kehidupan itu sendiri tidak ada yang pernah sama, mendekati kondisi alam yang kompleks dan subtil itulah konsep mendasar dari ruang yang terbentuk. Tanaman – tanaman akan ditanam di udara segar, dan ikan – ikan akan dilepaskan di perairan yang segar sebagai refleksi dari kehidupan yang begitu indah.
Kata 99% berarti adalah sebuah proses yang hampir selesai dimana semua karya akan mengalami hal serupa dimana 1% adalah hasil interpretasi dari pengunjung, pengguna, dan 99 % adalah hasil dari kerja keras seluruh pihak dalam proses pembuatan. 1% dibutuhkan untuk melengkapi 99% menyadi 100 % dimana kekuatan kritik, interpretasi, dan gelak tawa dilantunkan untuk menandai perasaan cinta ketika satu karya dinilai, dirubah, dan diredefinisi lagi untuk kebutuhan di masa depan. tanpa 1 %, 99 % tidak akan menjadi 100 % oleh karena itu, karya dari arsitek seharusnya terbuka dalam produk dan proses untuk semua orang untuk melengkapinya.
and, the last but not least, here is the article :
RAW Architecture’s Brava Casa is a Philosophy of Life and Form by Natalina Lopez
Few months ago, after I was invited by pak Cosmas Godjali for being one of the participants of designer’s booth, I was quite unsure, because of there is no support for making the pavilion, but along the way, pak Cosmas, Kluege, Danpalon, and Artmosphere, and Galaxindo supported to make this pavillion dream come true. here is all the credit for the people.
Sponsored & fabricated by Danpalon – Metsi Inka
Kluege as system integrator
Atmosphere as Lighting designer
Galaxindo as lighting specialista
Event by Casa Bravacasa 2016
I met this interesting guy, his name is Ariko Ahmad, he studied in London, and love to write. I met him for one interview for Prestige Magazine. his photographer, took a picture of me. I wasn’t ready and always not fond of photography session. Ariko was actualy cool guy when you talk to him, he has full of enthusiasm, and joy, craving for more information, and very warm. This article is one of the articles that I love, I was quite surprised of the writing, that actualy there were so much information coming from our discussion while we had lunch together, from working with Charles, National Gallery, and bit of profession, and glimpse of our hope for the future.
The title of the article is The Raw Reality, very interesting opening, please check it , hope you enjoy it as I remember the time was passed and always wish Ariko all the best.
please do not comment on my funny picture ha ha ha. I can’t stop laughing, Hey my shape is better than it was pictured now, no more fat belly.
Ps : I found out that he was not in the Prestige Magazine anymore, probably he sailed to another company, another family, another journey, well I wish all the best for Ariko and Prestige as well, and we will meet again in the future.
Tony Crabbe illustrated how to learn the lessons in one story in his book title busy. A dutch charity, International Child Support (ICS) wanted to fund a school assistance program in Kenya. Like any charity they had limited resources and wanted to make the maximum impact. They selected twenty five schools at random and supplied them with textbooks, and tested the impact, it made little difference. ICS then, ran second experiments, the gave them illustrated flip charts. the results were disappointing. then They gave the schoolchildren tablets to treat intestinal worms. Worm tablets turned out to be great success , booting height, reducing infection and cutting absenteeism.
This idea is similar when we are facing our own future, we don’t know what is the outcome, what we can do is just to try our best. Some people can say, we spend too much to do on ideas that aren’t working. But look at the evidence, success doesn’t result from making the right guesses in the first place. It comes from trying things and then, identifying what works and what doesn’t keep moving and try stuff out. The true and worth investment is the attitude for never give up and keep on trying.
The other story is from Mihaly Csikszentmihalyi, that he led a team to study ninety – one exceptional individuals, what he found was counter intuitive, that finding solution was easy; the hard part was finding the right question. Once the question had been discovered, ideas flowed freely. it’s similar with Thomas Alfa Edison, the lesson from Edison is that the way to innovate is not through genius and coming up with a single world changing idea, do different things, some stuff will work some stuff won’t. Select the stuff that works and discard the stuff that doesn’t then vary the things again.
Antoniades once pointed out how to be, or the prescriptive to be poetic with inclusivist approach in architecture design process, first to discuss with as many people as you can, second, to get as many view point as you can, and the most important the third, to try as many way of conceptions, options, trial an error.
So when we only have one idea, that means, you are not working hard enough. as Emile-Auguste Chartier Said.” Nothing is more dangerous than an idea when it is the only one you have.”
[1] Crabbe Tony, Busy.
[2] Antoniades, Poetic of Architecture.
Though the west wing is visible from the entrance road, it was heavily camouflaged by planting in order to minimize its visual impact on the arriving guest so it ultimately does not detract significantly from Bawa's designed approach.
“A building can only be understood by moving around and through it and by experiencing the modulation of the spaces one moves through from outside verandahs, the rooms, passages, courtyards the view from these spaces into othersm,… equally important, the play of light in both garden and innerroom – from shaded inner space to the celebration of light in a courtyard.” Geoffrey Bawa
Kandalama Hotel | Sectional elevation through the hotel showing the relationship of the building to the cliff | Archnet
Several Weeks later I saw one image, a hotel with full of greeneries looks like the building is attached to nature. The Name of the Hotel is Kandalama.
Though the west wing is visible from the entrance road, it was heavily camouflaged by planting in order to minimize its visual impact on the arriving guest so it ultimately does not detract significantly from Bawa’s designed approach.Being one of Bawa’s earlier moves toward minimalism in building detailing, the design of the Kandalama Hotel was shocking to admirers of the vernacular influence visible in his previous projects. However, the subtlety of the architecture itself effectively foregrounds the drama of the cliff-side topography and breathtaking views.The Kandalama Hotel is a nine-kilometer drive east of the small town of Dambulla. The main entrance lobby is located at the end of a ramped 2.7-kilometer-long private road that branches north from a secondary arterial leading back to the center of town. From the earliest development phase of the project, Bawa was interested in developing a spatial and visual sequence of entry that culminated in the revelation of the distant view of the monument of Sigiriya only after entry to the hotel lobby.Plan at Entry Level – Archnet
Robson stated If Norman Foster works with hundreds of architects in his firm, Foster and Partners. Geofrey Bawa should not be viewed as a lone genius but rather as someone who operated within a circle of sympathetic friends and collaborators and at the center an ever-changing group of talented associates and assistants. He also worked closely with a network of highly skilled builders and craftsmen which traditions and practices had been passed down through generations, often developing ideas directly with them on building site. [1]
I did research about Kandalama, found the building performance in archnet which is the world’s largest online databank of Islamic architecture. It was developed at the MIT School of Architecture and Planning in co-operation with the Aga Khan Trust for Culture. It provides users with resources on architecture [1], urban design and development in the Muslim world to all users .
Kandalama shows as example how Bawa’s later approach.Bawa’s earlier works are purely aesthetic and reflect the architect’s evolving personal design philosophy. The Kandalama Hotel follows the model of his later projects, in which the majority of the ornamentation comes from sculptures and artworks by other artists distributed around the building.The detailing of the architecture itself remains plainly yet harmoniously articulated in neutral tones and natural materials, including white concrete walls, black painted concrete columns, and wood or iron railings and millwork.
The Kandalama Hotel is located in the central dry zone of Sri Lanka, unlike many of Bawa’s other buildings on humid oceanfront sites, and thus its design must adapt to a different climate. While pitched roofs are a necessity in coastal areas that receive heavy rain, the flat roofs at Kandalama function well in a dry climate and are less material-intensive. [2]
This hotel reminds me about Norman Foster when he strived for improving the building performance more than architectural articulation. The Kandalama features innovative building technologies and systems designed to mitigate the environmental impact of the building’s operation on the catchment of the nearby lake. The Kandalama Hotel is an excellent example of how tourist facilities can be integrated into an undeveloped landscape successfully, fostering appreciation for the natural beauty of the setting while minimizing negative environmental consequences.
There were interesting stories and comparison the attitudes of influence and inspiration, among Mies, and Corbusier. Historian Reyner Banham would tell how he had interviewed Le Corbusier in Paris in the late 1950s. he was curious about the inspirations of Corbusier’s mind, Corbusier and Mies van der Roher both working for Peter Behrens in Berlin in 1911 and together they went to hear a lecture on Frank Llyod Wright by Dutch architect Berlage. When questioned by Banham, Corbusier insisted’ Frank Llyod Wright, “I don’t know that name. This was the same Corbusier who in 1912 design his parent house inspired by Frank lyyod Wright. Some architect found that they were orginal and that there genious, self trained, being avant garde and centre of attention.
Robson stated that Geoffrey Bawa did not aspire to be original or Avant – Garde, though many of his buildings were highly innovative. His architecture was not a means of personal expression: he enjoyed the process of causing buildings to be made. Good buildings gave him pleasure and he took pleasure from making buildings that gave others pleasure. He was concerned to make buildings that satisfied the aspirations of their users, which were appropriate to their setting and function [3]
Creating honest design, and performance based design is fundamental for design rather than attitude for being avant-garde, In the term of solving problem, we have to connect with the users, make them happy, nurture them, satisfy the land and the human. It will be good for students to understand and practice them. It’s like Gaston Bachelard’s Poetics of space, he believed in imagination, the best work is to left the imagination and some part of the chest is closed and left for interpretations for admirers. I remember my childhood, with my family, in our family, I was thought by my father and mother, to have perfection in work, nurture the family, while staying real, and honest with everybody. That is why they gave me name realrich. I just think that the word “family” is getting bigger.One of them is student, and another future architect, the other family is Laurensia and cute Miracle who gave me love every day.
Few days ago, I went to Belitung with people in studio for outing and relaxation trip. The trip was very relaxing, we had our camaraderie through playing, sharing, and learning new places. The studio has been working really hard for the progress of name RAW. It was fully trip that we gave for the effort given by associates, and designers. Originally when we went out for the trip, it will be a review for the office. We had a review for the 6 years of the office as well, but I won’t tell story in this post now. It will be later, this post is about the moment that truly touched my heart.
RAW Belitung’s trip pic by Rio Triwardhana
Football Time picture by Rio Triwardhana
Praying time picture by Rio Triwardhana
Belitung’s trip picture by Rio Triwardhana
traces picture by Rio Triwardhana
football picture by Rio Triwardhana
togetherness picture by Rio Triwardhana
relax with style picture by Rio Triwardhana
football time picture by Rio Triwardhana
in the school picture by Rio Triwardhana
in the school with tirta, gomez, damar picture by Rio Triwardhana
Our team : let’s get healthier picture by Rio Triwardhana
one of the momen that touched me when we went to school Muhammadiyah Gantong, there were few children entertaining people with laskar pelangi song, and suddenly we started to sing. After that I went to other classroom, looking and imagining how the learning process happened. The school structure was poorly built, while I could not found the traces of the learning process which is predicted because the location was genuinely made for movie set “Laskar Pelangi” a movie. An Indonesian film adapted from the popular same titled novel by Andrea Hirata.
After that, We went to Museum of Word, an initiative by Andrea Hirata located in Manggar, which quiet far from downtown Tanjung Pandan but the long road was so amazing and enjoyable.
In this house, are showed how Bangka Belitung’s children dreams. looks like, Andrea wants to make this museum as the first Letter Museum in Indonesia which come from the island, who has many population lack read. The museum has so many inspiring quotes form many remarkable people in the world, I just feel that Hirata believe in dream, a dream of better educated people through words.
RAW Studio People’s in front the museum
Windows of the world projects – Andrea Hirata
Museum of Word – Andrea Hirata
Museum of Word – Andrea Hirata
Word on the floor Museum of Word – Andrea Hirata
Quote on wall
Word by Hirata itself
Word by Hirata itself
The most inspiring part of this museum is at the back of the museum, there is small passage. The passage lead to the free school for belitung children. That is touched my heart. The fundamental of the knowledge is the education, while I feel inspired with the humbleness of the place, the simple seating, enough sunlight, simple structure with light construction made by wood and corrigated zinc.
Last time I was in the hard time how I could contribute to the society even more after establishing Omah Library. Now David is helping me to structure OMAH. Anis also has come back, and furthermore There are Greg, Rezki, Fandi, Ellena, and so many volunteers. We have a plan to establishing a course for omah as a way to get income and ease the load of money that was paid of omah’s operational
cost which vary around 10 million a month. But, this free school is going to be different, and I thought that it will be one the good initiative to connect architecture practice such as design principle, structure system, and mechanical needs with broader people through knowledge what what’s i believe in rooseno’s word, “knowledge is where west and east can meet” creating more beautiful set of world of brothers and sisters through architecture
“Robin Sharma shared about heart in being leader in his 2010’s publication, the title is about the leader with no title, I think this book is going to be worth to read by architects or all of the poeple to exercise leadeship by leading without title and for us who wanted healthier life.”
being healthier is difficult, it consists of knowing your food, doing your sports, and controling your body.
He believed that success is created through the performance of a few small daily disciplines that stack up over time to produce achievements far beyond anything you could have planned for. It’s well known for living legend Rudy Hartono to wake up early in the Morning to start training himself, so he become a champion in Badminton. “Antoni Salim, one of the prominent businessman also always jog every day at the early morning.” says my dad one time. when a year ago I tried to follow Pak Antoni jogging every morning, but it came last for only 1 month, my nike run apps was shut down, my shoes were hung at shelves. I was failed have healthy routines, there was lack of motivation to be healthy. Robin then wrote that Failure, on other hand is just as easy to slip into. Failure’s is nothing more than the inevitable outcome of a few small acts of daily neglect performed consistently over time so that they take you past the point of no return.
Cover book for Robin Sharma’s The leader who Had no Title
2 years ago, I still could wake up every morning at 5.00 am until the work took the metabolism of the body, the time of waking up starting to be later, 6.00 am, 7.00 am, until 8.00 am, 9.00 am because of heavy overtime for design submission. by the time, my weight was increased to 74 kg from 67.5 kg. I could not wear any slim fit trousers, and it’s difficult or heavy to move. I thought it was only my psychology.
Then I read one book titled, Originals written by Adam Grant. he wrote when you want to change something, building a condition, system that make you to change, change your behavior, you can’t do it yourself, you need other people. In my mind, I thought, “okay I need a trainer.” I asked Rezki and Greg, that I wanted to do Yoga, and they introduced me to Feliz. Then at bright morning, the yoga started.
Originals by Adam Grant
I was realized when I did yoga with Feliz as a way for having routine exercise. I believe that if the mind could program, at least the metabolism could be adjusted by the routines. It came up that the exercise was really painful from one session to another session until fourth session ,it was more painful. Then I realized, that probably the problem is the nutrition, the food that we eat, resemble the balance of our mind, and spiritual side. Just at Monday, I came up with weight loss program in the office, that every 1 kg loss or gain toward ideal weight, the office will pay 200 k for it. It was quite exciting to start and to walk the talk is more painful. I was in anger, and couldn’t control emotion, movement, losing energy, body start to tremble for 2 days. My body was suffering. We had a chat in the studio, and Miftah said “no pain no gain kak”
I think that is absolutely right. No pain no gain, even Feliz, our yoga teacher said, she experienced the same thing, started to eat in more healthy. She said even for her, starting yoga is painful even until now, so her body need stretching, the body will tell if we are ready for one pose to another pose.
Some of the people, like Ellena, Miftah lost 3 kilos and more until now, less than a month which is great for them and other people lost 2 kilos, 1 kilo, some of them couldn’t control their appetite and will have to prepare fine – 20 k for paying the excess per kilo.
Sharma wrote ‘Lucky breaks are nothing more than unexpected rewards for intelligent choices we’ve chosen to make. Success doesn’t just happen because someone’s stars line up. Success, both in business and personally is something that’s consciously created. It’s the guaranteed result of a deliberate series of acts that anyone can perform.” How can we not agree with !
And me, After 3 days having eat more healthy, my body was relaxed. in one week, I lost 2 kilos, and in 3 weeks I lost 3 kilos. My body is lighter, feels good, and the most important part, I can do my routine for waking up 5 a.m. in the morning to write this article and I have been doing yoga for almost 3 months, and feel healthier ever ! let’s encouraging each other to be healthier than before.
Note : for the dream team who are encouraging each other.
“you will never go wong in doing what is right,my young friend, never. if there is one thing I’ve learned about leadership siccess it’s that it lies at the intersection where excellence meets honor.” Robin Sharma
http://www.youtube.com/watch?v=LJ5aVIIf-9I There is one phrase, “juara” meaning champion, some of my fellow staff named it as “cuala”, one of the phrase that they often mentioned. I’m curious because It’s weird, it’s like jokes when people want to mock chinese language they use that alphabet C instead of J to express the accent by chinese people. I’m also curious where did they get that phrase. But anyway, this phenomena is interesting, because some of the people, tend to make it serious, as a way to get dominant, competitive, as a brotherhood, or as individual, allienate themselves, to show that being juara or cuala meaning that they are on top of others. Champion means a person who has defeated or surpassed all rivals in a competition, then what is rival, a person or thing competing with another for the same objective or for superiority in the same field of activity.
Norman Foster, a very talented and well organised architect was in the phase of phrasing cuala or being dominant as well. He did his first studio with team 4 together with Richard Rogers, Sue Rogers, and Wendy Foster. The kept arguing, in the discussion, the ideas could not be integrated, Rogers was keen to expression, the tectonics of building while Foster was more interested on building integration ,building performance, then they were separated in the early years of practice left both of them making their own architecture ideals. Foster went for foster associates, and Rogers for their own. They hired a flat in Hampstead, and the practiced in the other room, the office and living quarter was divided by wall partition. Foster almost went bankrupt while working for HSBC, he kept his office with small group of people in London. He sent Spencer, David, Moshan, Ken, and another people in total of 100 people to Hongkong, he thought that that was their best chance. [1]
“At the time we couldn’t understand why he (Norman) didn’t move to Hongkong with us, We had to keep briefing him on what had happened between visits, but in retrospect he was abolutely right. What Foster always had in mind was the long term future . When the bank was finished he did not want to find himself back where he had been before he won the hongkong competition. “ David Nelson
Then after the HSBC, he had to sacrifice people in his studio because he couldn’t afford them, one of the people even had to redraw some of the old projects, for publications that can attract more works. It was turbulent time for him. He focussed on the ide of the projects nailed the idea one by one, one of the important milestone is HSBC tower, the firm had not worked on high rise project before, the reputation went up, and some of the next commision gave opportunities for giving more innovation, more ideas, and then perfecting mastery in building performance and integration.
Norman Foster is probably can be justified as cuala or championed for building performance and integration. He found design principle to make the building run more efficient, building system more efficient, and look more sophisticated, and cost more efficient. His chemistry with other people has been remarkable, he has been well known of his persuasive, and effort for making his projects realized. In the book by Deyan Sujic, Sujic wrote that, “Out of every eight competitions he takes part in, only one leads to completed building. And even when it ocmes to the successful projects where the fees get paid, ony one produces abuilding. yet he must not only design it, but lobby for it, help raise money for it, and do his best to sell it as well. … ” and then he continued, the most important message.
He embraced the ideas, not on his position, label, status, wealth. Civilized meaning to think about your positioning by contributing increasing other’s value. he is such open and well connected to his collegeaue, client, and friends. the cuala or champion title, comes from cuala or champion habit, that is connecting with other people, giving your self out to the world, rather than being introvert and detached from other people. Sudjic then wrote as a very beautiful conclusion ‘the process demands the self knowledge needed to stop the architect from failing into the banal trap of the fountainhead complex, losing all touch with reality in a pursuit of a megalomaniac fantasy.” [1]
In presentation of Balai Purnomo Hadi University Indonesia. Yori Antar as juror, made a comment, “you said that the scheme was simple, but it is complicated, you said it’s complicated but it is simple”
That is threshold of allegory, al·le·go·ryˈaləˌɡôrē/
noun a story, poem, or picture that can be interpreted to reveal a hidden meaning, typically a moral or political one. I think he was right, the scheme was complicated, but it is simple for me. The triangle form which was repeated in circular parti which was engineered for rain water harvesting. The competition ended up us as being finalist in the round, sonny sutanto architect as winner, and pavilion 95 as another finalist, the other participants are Aboday, Atelier Two, Arkonin, Arkitekton Limatama, Duta Cermat Mandiri (Denton Crooker Marshall Indonesia)
As a shell, Indonesian culture of what we are in, from the primitive construction to the advanced material innovation. The term of complex bring combinations of maze, a rubic cube showing the path of the creativity in building craftmanship.
I thought that the avant garde which proposed by new generation of Indonesian architect is in big question in society, because of the simplification of its meaning, the generalisation of making architecture as a commodity. Meanwhile, the regionalism in the stream of design brought up. The question then, will be asked by public to the architect, what is the next generation of our era, the future Indonesian Architect.
The hyper complexity rejected singular solution for every aspect, this complexity believe that each of the moment, each of the party, each of the project is unique by its approach driven by the architect. The architect will be at the centre of the paradigms, covering the what should be done, what should not be done. In that sense, the authority of the architect and the authenticity by the architect shall be given by the public. And the appreciation will be even higher than before.
This concept underlines that the concept will focus on 2 layers of thinking :
First, is the internal side of the architect, the creativity side, that architect need to put his or her imagination alive. This process is about the cultivation of experience, the sadness, the happiness. It’s about the trust and belief of the architect and his or her background. The mastery is challenged
Second, is the external side of the architect. The domain of the architecture, which are the clients, the builders, the other specialities consultants, such as mechanical, electrical, structure, quantity surveyor, or even project management. The architect is the heart of the parties, that is why the rational, the mind, and even the spirituality must be connected, every parties need to realise that they are going to the same objective.
After the work is done, then, to show the complexity of the project, the complex, unsingular, clear informations are needed to show the project is not so simple, and well thought, and it’s worth it to show. It’s an act for self criticism for greater good. because appreciationis given not grabbed, appreciation comes from a focus on others. Then, appreciation will follow with reputations.
I remember last time my uncle passed away, few months ago. we visited him in hospital just a day before he passed away. The doctor asked for our opinion to put ventilator or just to leave him without breath support. It was uneasy experience, we got to choose. Putting ventilator is not easy, it’s painful for him, leaving him without breath support is also uneasy. He had been experiencing his life with cancer for the last 1 year. It had been painful for him.
During my stay at the hospital, I realised so many things, we got sick, and felt so sad because we couldn’t bear to see the losing, the sadness of our big family. I realised that this life need to be ended someday, there will be omega for all of us. I still have 2 beautiful father and mother from my side, and 2 beautiful father and mother from laurensia’s side.
Facing the death, our dignity, money, and love will not be last.
my aunt was faint several times, my cousin, who are younger few years than me, they are still studying in uni now are courageous to support their mother and father. Looking at their experience, seems that turbulence made them stronger.
I asked one of my students about the meaning of the death,his name is Robin, he had been working to design cemetry.
Is the death something really dark ?
or something really bright ?
is the death the end of journey ?
or is it beginning of the journey ?
to design something great,
we start with process of construction and desconstrution in our head, by reinterpreting our lifes as human being.
Philip Jonshon + Mark Wigley - Deconstructivist Architecture entrance
One of well known exhibition is curated by Bernard Rudofksy titled, architecture without architect with an agenda to explore a exemplars of indigenous architecture, He travelled to some of place, took photograph, and wrote paragraph about the story that was found by him during the trip. We need to put his exhibition context to the year 1960 when Jane Jacobs did critic for city in United States, attacked architect for the responsibility detaching architecture to people in process of making architecture. This exhibition had opportunity to show, architecture, which grew in the people and could change people and had close relationship to the city. The word to sum up the quality of the exhibition was ingenious. The exhibition followed with book titled architecture without architects.
Another example is Deconstructivist Architecture exhibition curated by Philip Johnson and Mark Wigley in New York. This exhibition featured works by Frank Gehry, Daniel Libeskind, Rem Koolhaas, Peter Eisenman, Zaha Hadid, Coop Himmelb(l)au, and Bernard Tschumi. They were new generations of architecture which breaking modern architecture by its product and process. Johnson and Wigley explained the manifesto in several points to conclude the architecture phenomena; they stated that the architects recognized the imperfectability of the modern world and seek to address, in Johnson’s words, the “pleasures of unease.” Obsessed with diagonals, arcs, and warped planes, they intentionally violate the cubes and right angles of modernism. Their projects continue the experimentation with structure initiated by the Russian Constructivists, but the goal of perfection of the 1920s is subverted. Disharmony, fracturing, and mystery displace the traditional virtues of harmony, unity, and clarity. The exhibition includes drawings, models, and site plans for recent projects by Coop Himmelblau, Peter Eisenman, Frank Gehry, Zaha M. Hadld, Rem Koolhaas, Daniel Libeskind, and Bernard Tschumi (11st of projects attached). Their works are preceded by an introductory section of Constructivist paintings and sculptures drawn from the Museum’s collection.
The two exhibitions: Architecture without Architects and Deconstructivist Architecture have strong agendas, informations, that could be beneficial to the public and changed the constellation of architecture in the world.
I think ARA’s Exhibition: Intimacy, in the appraisal of good exhibition’s framework has 4 agendas: first, intimacy tried to minimize the gab of architect and the public, showing with it’s title and the models which can be played by public and workshop by kids, second, it exhibited the layer of the architect’s studio showing by the relics, the things around designers such as, miniatures, or even guitar played by the staffs or else. Third, it tried to exhibit the layers of communications between stakeholders such as principals and other party by notes showing communications inside whataspp group printed and hung on the wall. Fourth, it shows an introduction for ARA’s work through models, text and some diagrams. These 4 layers are combined with an attitude to open their studio for public especially for architects, young designers, students for sharing ideas, discussions, or just for chatting.
The quality of the exhibition as starting is promising. It’s promising because some of the good exhibitions started with 2 main cores: agendas, and attitude, which shows that this exhibition has quality to be judged. For me this exhibition is not an ending, or omega, it is just an introduction or starter or alpha for the next sequel exhibitions which can be continued with more discussions, discourse, and sharing to architecture community in Indonesia and we can hope for architecture appreciation could be better from time to time in Indonesia.
UPH exhibition waktu adalah ruang http://i0.wp.com/www.arsitektur.asia/wp-content/uploads/2015/08/Zona-Tugas-Akhir.jpg
What is our current state of Indonesian architecture exhibition. Do we need architecture exhibition? What is the current state of architecture appreciation? In what sense architecture exhibition will provide value to culture, society, and further agenda? Do we have a good reflection of our current paradigm? Is there any good critic attitude?
To see the quality of the exhibition, first, it really depends on the agenda of the curator, what the meaning of the exhibition is, Why the exhibition, and How it is executed. Off course some of the curator might think that why do we need an agenda? Why don’t we just exhibit whatever we have, and let public decide? Inside the mastermind of the curator there are various agenda, I don’t believe in there is no agenda in the exhibition, there are only 2 agendas, private of social agenda and There are 2 streams of paradigm, the first one is agenda which is more introvert, to show a set of skill, mastery in architecture. The other is a more extrovert, more social; it’s about showing social agenda to the public. We can refer to David Hutama’s lecture in Omah Library, I summed that architect needs these 3 skills in architect profession: It could be skill as artisan, technician or even social businessperson. The two streams sometimes can be combined depends of the agendas, more introvert or more extrovert, mixed depends more to the curator who is the driver of the exhibition. The exhibition quality depends on the depth of the agenda, and communicating the idea to the public.
Universitas Pelita Harapan once has brought complete set of information of showing mastery and social agenda, in their academic agenda, by exhibition waktu adalah ruang curated by Fernissia Richtia, Robin Hartanto, and Andreas Annex. The exhibition shows a complex stage from basic stage to learn architecture, which was experienced by students by understanding the small: hinge and joint to the big or macro, which is the urban level. There are many details, big scale model, well written explanatory and finally there was book launching to sum up the whole information.
The models in Waktu adalah Ruang Exhibition exhibited with storyboard from intimate to more public project, showing the understanding from micro to macro.
“Segar” Adalah sebuah pameran arsitektur yang diselenggarakan untuk meramaikan pemilihan ketua umum Ikatan Arsitek. @adam Anaki Instagram Picture
Meanwhile the exhibition in like indobuildtech showing more commercial Agenda and Exhibition Segar showing more political agenda in relation to moment of Indonesian Institute of Architect. Reflecting in this selection process and the empathy to the public. I did critic for some of the exhibition titled Segar few months ago. The curator selected the participant. I was thinking if this exhibition was intended for celebrating the moment of selection of chief of Indonesian Institute of Architects. Deep in my mind I have so many questions, but fundamentally why should we, that we are in Jakarta, which already has reputations, 50 architects or more trying to show existence by having less agenda. It would be great if some of the architects, from outside java, unheard, but has ingenious work and several limitations of information, could be invited to collaborate in exhibition as a part of political agenda to unite architects in Indonesia. In the architecture, architects have their own label, and branding, off course it could be an attraction as the name is announced in the exhibition, but does the content is more important, because the architects who have great branding, started from zero by their amazing work, it’s not instant, it’s long journey, to start the career, some of the architects like Gehry, Mayne, the need 10 years to train and produce body of work.
Hyderabad, Sindh, southern Pakistan; not Hyderabad, Andhra Pradesh, south India. Images from Bernard Rudofsky, Architecture without Architects, New York, Museum of Modern Art, 1964: windscoops (called bad-gir by Rudofsky, müg by Wikipedia) on the roofs of buildings, which channel air into their interiors. “In multistoried houses they reach all the way down, doubling as intramural telephones. Although the origin of this contraption is unknown, it has been in use for at least five hundred years.”
Adalah bukan rahasia lagi bahwa seorang arsitek membutuhkan waktu lama untuk bisa tumbuh. Seorang Frank Gehry yang mendesain Guggenheim Museum di Bilbao, Spanyol, Thom Mayne yang mendesain Bangunan sekolah Copper Union di New York, ataupun Renzo Piano yang mendesain The Shard di London, Inggris, ataupun Norman Foster yang mendesain Reichstag di Jerman membutuhkan 20 – 30 tahun untuk bisa membuat publik memahami prinsip – prinsip desain yang ada kemudian menerimanya. Pencapaian ini bisa dihubungkan dengan penghargaan Pritzker Prize yang sudah diterima arsitek – arsitek tersebut. Pritzker prize adalah sebuah nobel arsitektur, penghargaan untuk arsitek yang menyumbangkan ide -idenya untuk masyarakat. Dari lamanya pembelajaran yang dibutuhkan arsitek, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berusaha untuk membuat tatanan pembelajaran arsitek dari 3 tahun untuk arsitek pratama, 5 tahun untuk arsitek madya, juga 10 tahun untuk arsitek utama. Ketiga tingkatan ini bergantung dari kompleksitas pekerjaan, tinggi bangunan, dan kerumitan sistem bangunan yang muncul untuk membuat bangunan ini berfungsi baik seperti integrasi struktur, mekanikal, elektrikal, pencahayaan, sistem transportasi, sistem kebakaran yang perlu untuk dituangkan kedalam gambar kerja yang terukur sebagai panduan kontraktor untuk bekerja.
Frank Gehry memulai belajar dengan kegagalan, kemudian ia bisa lulus dari jurusan arsitektur dan kemudian magang, ia kemudan mencoba bertahan hidup dengan membaut praktek sendiri dan mendesain bangunan – bangunan komersial. Sehingga pada akhirnya setelah saatnya tiba, ia memutuskan untuk memilih klien, dan mengerjakan pekerjaan yang baik untuk dirinya sendiri, pada akhirnya muncullah desain Guggenheim di BIlbao. Frank Gehry memutuskan untuk belajar menghadapi tantangan di masyarakat, membuktikan bahwa ia mau belajar untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat. Pak Achmad Noerzaman seorang direktur Arkonin juga membutuhkan waktu dalam perjalanannya menjadi seoarang presiden direktur di Arkonin, salah satu biro arsitek terbesar di Indonesia. Ia berangkat dari seseorang yang belajar dari senior – seniornya, melakukan sketsa – sketsa desain, dan membuktikan dari satu proyek ke proyek lainnya, terbangun dan tidak terbangun, konsep sampai gambar kerja sehingga karyanya mewarnai bilangan Jendral Sudirman, Bundaran HI, dan banyak lagi di kota – kota besar di seluruh Indonesia. Ada juga Tan Tjang Ay, yang mendesain bangunan – bangunan yang lebih sederhana, yang lebih menekankan pada sisi – sisi yang lebih detail, melayani klien – klien yang lebih personal dari jasa desain sampai bangunan – bangunan tersebut terbangun dengan inovasi – inovasi penggunaan material lokal dan pengolahan ruang yang efisien.Tidak jauh dari Indonesia, di Indonesia, seorang Laurie Baker, finalis peraih pritzker prize di tahun 2007, membuat desain – desain yang sederhana bersama costford sehingga terdesain rumah sebanyak 35.000 rumah di India. Desain – desain Laurie Baker memiliki sensitifitas terhadap kontur lahan, tipe pondasi, pemilihan jenis material, dan ekspresi yang jujur.
Howard Roark (Gary Cooper) discusses an ambitious building project with sullen publisher Gail Wynand
Dalam tabel standar biaya konsultan inkindo 2015 – Disdik DKI Jakarta, terdapat daftar untuk spesifikasi tenaga ahli dengan spesialisasi tertentu [1]. Spesialisasi tertentu ini mengacu ke perancangan gedung dengan kompleksitas tinggi seperti bangunan tinggi, pembangkit listrik, jembatan, dll. Uniknya dan anehnya, di dalam tabel ini tidak terdapat profesi arsitek, sedangkan disebutkan ahli mekanikal elektrikal, teknik lingkungan, teknik sipik, Geoteknik, Geologi. Memang di dalam lampiran tersebut terdapat kata – kata “dan lain – lain” namun disinilah tersirat bahwa, apakah profesi arsitek ini hadir dalam lingkungan jasa konsultan Indonesia. Jawabannya pasti iya, hadir, namun keberpihakan untuk arsitek patut untuk diperjuangkan karena tiga hal penting:
pertama arsitek berfungsi untuk melakukan efisiensi anggaran, dengan optimasi terhadap massa bangunan, luas bangunan, layout ruang, menentukan titik kolom struktur, menentukan jarak sisa untuk saluran mekanikal elektrikal dan pemipaan, dan optimasi penggunaan material. Kedua, arsitek berfungsi untuk mempercepat masa konstruksi bangunan dengan mempertimbangkan cara bangunan tersebut dikonstruksi, ketiga, arsitek bertanggung jawab terhadap tata ruang, dan perijinan bangunan tersebut untuk mendapatkan ijin mendirikan bangunan, yang bisa dipertanggung jawabkan keamanan, kenyamanan berdasarkan good practice, ataupun Standar Nasional Indonesia, ataupun timesaver, neufert data handbook, building metric handbook, ataupun standar – standar lain yang bisa diargumentasikan seperti standar pengamanan terhadap bocornya air, standar pengolahan minyak atau limbah, standar pengolahan air kotor, dan standar penyediaan air bersih dan sambungan antar detail yang mencegah angin, air, ataupun pandangan, terkait dengan privasi pengguna. Sedemikian mengerikannya apabila satu bangunan tidak didesain dengan benar, apalagi bangunan dengan kompleksitas tinggi yang akan digunakan oleh klien dan penggunanya. Kita patut bertanya – tanya, standar seperti apa yang digunakan. Apalagi ditambah apabila kita bertanya – tanya tentang penghargaan sebuah ide – ide dari satu bangunan. Mungkin keadaan ini masih jauh Panggang Dari Api atau kenyataan tidak sesuai harapan.
Professor Danisworo dalam kuliahnya di Omah library, menjelaskan bahwa standar fee untuk arsitek dari tahun ke tahun berkurang dari jaman ia merintis praktek Encona, dahulu pada waktu ia mengerjakan desain bandara udara Halim, uang imbalan balas jasa bersih yang didapat oleh kantor, bisa digunakan untuk membeli satu buah tanah berikut rumah yang besar, di daerah sumur bandung tempat kantor Encona beroperasi. Dari fee yang didapatkan sekarang dibandingkan biaya hidup yang ada, kompetisi yang ada, penghargaan yang ada harus membuat para arsitek menjadi perlu kreatif dalam mensiasati keadaan [2]. Keadaan yang dijelaskan professor Danisworo Hal ini berkebalikan dengan keadaan arsitek – arsitek luar yang masuk ke Indonesia dengan menerapkan fee 10 % – 20 % lebih tinggi dari fee arsitek di negara asalnya, memang disinilah peran marketting, pembentukan branding dan pada akhirnya kualitas menjadi penting. Bahwa adanya kualitas pranata yang mendukung, yang belum membuat profesi arsitek ini tumbuh subur, dan makin kuat. Arsitek Indonesia perlu berjuang dalam keterbatasan.
[1]http://www.simpel.lpse.kemenkeu.go.id/uploadFile/media/51_billing_rate_inkindo_2015%20(1).pdf
[2] professor Danisworo, dalam lecture di Omah Library
Apa konsekuensi dari pengesahan undang – undang arsitek ? ada 3 ketakutan publik yang terutama bahwa, pertama fee arsitek menjadi meningkat, kedua, paradigma,arsitek menjadi mahal, ketiga, arsitek menjadi tidak sosialis. Fee adalah kesepakatan atas kepercayaan orang yang menyewa arsitek tersebut, dan kemauan sang arsitek untuk berapa ia layak untuk dibayar. Yang dibicarakan ini adalah soal standarisasi yang tercipta apabila ada undang – undang arsitek. Standarisasi ini sifatnya hanya batas bawah, dimana ada alokasi yang layak untuk seorang arsitek bekerja demi keamanan, kenyamanan, keindahan bangunan yang didesain dan akan ada proyek – proyek sosial untuk orang yang membutuhkan dari arsitek. Sebagai ilustrasi di IAI menerapkan batas berdasarkan nilai bangunan, dari 6.5 % – 8 % untuk bangunan kecil di bawah 200 juta, dimana misal rumah dengan nilai bangunan 200 jt, seorang arsitek layak untuk diberikan biaya jasa antara 13.5 juta – 16 juta. Ini sudah termasuk biaya untuk ide – ide, transportasi, dan biaya operasional lainnya. Nilai ini mengecil sampai 1% – 1.5 % ketika proyeknya membesar dan dibeda – bedakan per kesulitan bangunan dari rumah tinggal, bangunan komersial, sekolah, sampai rumah sakit. Nilai ini tidaklah besar, atau kecil sekali dari standar yang ada di Inggris dan Amerika , dimana terdapat standar umum dari 5%, 8 % ,12 % sampai 15 % dari nilai bangunan. Disinilah kesepakatan ini muncul, dan nilai yang diminta oleh IAI kecil sekali dibandingkan dengan contoh yang ada. Mahal itu relatif, namun disinilah pembanding perlu diadakan apabila kita ingin menjadi negara maju, pemikiran logis perlu ada, setidaknya berpikir lebih kritis, seberapa ketertinggalan kita dengan negara lain.
Soal arsitek menjadi tidak sosialis, adalah sebuah kesalahpahaman, ada 3 hal yang mendasari profesionalitas dan tanggung jawab, adanya produk yang dihasilkan, rentang waktu pengerjaan, dan kompesansi biaya yang disepakati. Menjadi seorang arsitek yang sosialis sudah dicanangkan IAI dengan program untuk mendekatkan diri ke masyarakat, ataupun beberapa arsitek sudah mencoba menjadi sosialis dengan caranya sendiri – sendiri. Ada yang menjadi penggiat arsitektur komunitas, ada yang kemudian berkarya dalam pengabdian seperti Y.B. Mangunwijaya. Bahwa memikirkan untuk bangunan yang akan berfungsi dengan baik sudah sangat kompleks, dan untuk menjadi seseoarang yang sosialis adalah panggilan jiwa setiap orang dan merupakan keputusan tiap – tiap orang.
Kita melihat, mendengarkan, membaca paragraf – paragraf seperti “Arsitektur adalah sebuah gaya hidup,” “Arsitektur adalah sebuah ilmu yang tertinggi dalam kebudayaan dalam membentuk manusia,” “Kematian arsitektur Indonesia” “Kehilangan identitas dalam arsitektur Indonesia” “MEA akan tiba, jadi bersiap – siaplah arsitek Indonesia” “Kearifan lokal dalam arsitektur Indonesia, pentingnya lokalitas ?”
Paragraf – paragraf tersebut kita sering dengarkan di media – media TV, online, ataupun perbincangan sehari – hari di masyarakat, juga lebih – lebih lagi di kalangan para arsitek, para lulusan pendidikan arsitektur, para mahasiswa arsitektur, dan juga di kalangan para akademisi. Arsitek sebagai salah satu profesi diikat oleh adanya hubungan jasa, hubungan timbal balik, hubungan mutualisme dalam hidup bermasyarakat. Apresiasi terhadap para arsitek pun ada bermacam – macam, ada yang dihargai sebagai seorang juru gambar saja, seorang yang memiliki kemampuan untuk membuat cantik satu bangunan. Adajuga yang diapresiasi lebih oleh publik dimana terdapat pengakuan sebagai seorang yang mampu membawa perubahan dengan ketajaman pemikiran, kemampuan analitis. Hal ini terbukti dari banyaknya lulusan pendidikan arsitektur sebagai seorang walikota dengan contoh : Enrique Peñalosa Londoño, seorang walikota Bogota Columbia, Tri Rismaharini, Ridwan Kamil, seorang politisi, ataupun penggerak sosial, ataupun lebih – lebih lagi sebagai seorang guru kehidupan seperti Laurie Baker di India, ataupun Y.B. Mangunwijaya dalam karya – karyanya semasa ia hidup.
Petirahan Sendangsono designed by Y.B. Mangunwijaya
CDS – Karya Laurie Baker
Kesalahpahaman terhadap profesi arsitek di internal arsitek dan di masyarakat banyak sekali terjadi sebagai akibat dari tuntutan ekonomi. Tuntutan ini menghimpit lulusan calon – calon arsitek yang sedang magang untuk mendapatkan sertifikasi menjadi arsitek. Hal ini ditambah dengan tingginya kompetisi dalam mencari pekerjaan. Permasalahan ekonomi ini menjadi kompleks ditambah kesalahpahaman masyarakat juga terkadang internal arsitek sendiri bahwa asisten arsitek disamakan dengan arsitek, sebagai perbandingan, bahwa sesekali seorang lulus dari pendidikat arsitektur, ia tidaklah otomatis menjadi seorang arsitek, namun ia adalah sarjana arsitektur lulusan pendidikan arsitektur. ekstrimnya seperti perbandingan seorang sopir angkot dan pembalap. Bahwa untuk diperbolehkan menyetir keduanya wajib hukumnya memiliki Surat Ijin Mengemudi bukan memperbandingkan mengenai siapa yang lebih hebat menyetir. Kesalahpahaman ini muncul dimana – mana, di dalam keluarga, pertemanan sehari – hari, juga relasi antar klien arsitek.
Hal ini berkebalikan di negara – negara persemakmuran, Amerika, dan negara – negara lainnya bahwa tidak semua orang bisa memanggil dirinya arsitek. Di negara kuda besi, Inggris, untuk menjadi seorang arsitek dibutuhkan waktu 5 tahun untuk belajar dan 2 tahun pengalaman kerja dimana calon arsitek harus magang sebagai seorang asisten arsitek. asosiasi arsitek di inggris RIBA(Royal Institute of British Architect) sendiri memvalidasi, sekolah mana saja yang bisa melakukan pendidikan keprofesian [1]. Hal ini berlaku di negara – negara persemakmuran, termasuk mengatur seberapa jauh arsitek asing boleh berpraktek di negaranya, seperti mengatur saham yang dimiliki di dalam perusahaan tidak lebih dari satu pertiga dari keseluruhan saham yang ada, dan wajib untuk memiliki arsitek lokal yang memiliki ijin, sertifikasi sebagai seorang arsitek. [2] Hukum menjadi faktor yang bersifat logis meskipun tidak kualitatif dimana, carut – marut ini salah satunya adalah keterlambatan pengesahan undang – undang arsitek, Undang – undang arsitek wajib hukumnya bagi masyarakat modern yang memiliki kesepahaman dalam definisi arsitek, tata laku arsitek, bagaimana arsitek seharusnya bertanggung jawab terhadap puluhan, ratusan, bahkan ratusan ribu bangunan yang didesain yang memiliki akibat terhadap begitu banyak orang yang menghuninya, sehingga profesionalitas, dan tanggung jawab itu bisa terjadi secara hukum, hitam dan putih.
“We fell in love, despite our differences, and once we did, something rare and beautiful was created. For me, love like that has only happened once, and that’s why every minute we spent together has been seared in my memory. I’ll never forget a single moment of it.” ― Nicholas Sparks, The Notebook
Lady mantan sekertaris jendral IMA G berkata sambil setengah bercanda, “Rich mimpi lo sudah tercapai, mezanine Ruang Gunadharma, sudah selesai dibuat sama anak – anak. ” pada waktu itu adalah pelantikan anggota madya, kelulusan sebagai anggota IMA G di tahun 2005 kira – kira sebelas tahun yang lalu . Terus terang sudah beberapa tahun ini, diri ini sibuk di ibu kota Jakarta, dan jarang bersentuhan dengan dunia kemahasiswaan. Tuntutan hidup di Jakarta yang mengukung dari hari Senin dan Jumat, briefing demi briefing, coretan demi coretan mewarnai keseharian. Di hari sabtu dan minggu, omah library juga beraktifitas untuk membuat orang di dalamnya belajar dan belajar menjadi arsitek yang lebih baik lagi.
Suasana Internship di Studio
Suasana Diskusi di Studio RAW
Suasana Associate DOT di Studio
Kira – kira 15 tahun yang lalu, sekre himpunan terkenal jorok dan bau, sampah plastik, rokok, dan sepeda yang dititipkan tanpa ada yang mengatur. Ruang Himpunan lebih mirip gudang daripada tempat untuk beraktifitas, ruangan ini terletak di dekat pintu keluar, di depan pos satpam dengan tidak memiliki pandangan, cahaya masuk bisa melalui bouvenlie, jendela tinggi, memang beraktifitas di dalam ruang himpunan ini seperti beraktifitas di dalam gudang. Ditambah dengan kotornya ruangan, minimnya program, dan rendahnya kekerabatan, keadaan ini memicu sulitnya mencari orang untuk beraktifitas, dan menjadi individualistis.
Keadaan kemudian berubah begitu banyaknya orang – orang yang aktif, positif, dan diterima di dalam himpunan sehingga pola pikir dari senioritas yang kental berubah menjadi kekerabatan, kekeluargaan dimanayang perantau, memiliki tempat, keluarga baru untuk mendapatkan memori yang manis.
Diri ini ingat bagaimana, menyayangi sekali adik – adik yang baru saja kenal, didalam ikatan kemahasiswaan, di dalam satu janji yang dilontarkan oleh satu junior saya namanya Reza Prima. ia berkata “apabila hanya satu orang yang tinggal, maka hanya aku orangnya, …. karena perubahan akan terjadi apabila kata – kata menjadi nyata.“ Air mata kami semua deras mengucur melihat kesungguhan hatinya ditengah udara dingin yang menusuk dan fisik yang ambruk akibat sudah beberapa hari ini tidak memiliki istirahat yang cukup. Cinta untuk beraktivitas menjadi hal yang penting, tanpa adanya cinta, kehidupan kemahasiswaan menjadi hambar dan individualistis.
Baru saja sebulan yang lalu, diri ini pulang dari kampus Gajah. Terus terang, diri ini tidak merasakan kehangatan di suasana kampus. Kampus Gajah yang dulunya begitu hangat, kini nampak dingin, mungkin memorinya perlahan – lahan hilang, digantikan oleh memori – memori baru. Generasi sudah berubah.Hal ini dilihat dari banyaknya program – program jurusan yang ditampilkan group kemahasiswaan IMA G, dimana yang dibicarakan kebanyakan adalah soal administrasi perkuliahan, diri ini bertanya – tanya, apakah ini grup jurusan untuk menyebarkan informasi ataukah ini adalah grup kemahasiswaan tempat bersilahturahmi, bertukar gagasan, sharing dari adik – adik ke kakak – kakak dan sebaliknya, sebuah tempat untuk merayakan kegagalan, sebuah tempat untuk membuat memori baru, tanpa mengindahkan menjadi terkenal, menjadi sukses,yang dipikirkan hanyalah untuk kebersamaan. Setidaknya kemarin hanya dua tempat yang menawarkan kehangatan dan memori yang sama, kedai bang edi, dan perpustakaan ITB, tempat dimana terdapat bahan – bahan ilmu mengenai arsitektur tradisional, kuliah lapangan, dan buku – buku teori.
Diri ini teringat kira – kira 2 tahun yang lalu, kedatangan satu rombongan dari Bandung, dipimpin oleh satu orang wanita, sang ketua suku namanya Atika Almira. Ia seperti ibu bagi teman – temannya, mengayomi, duduk di tengah – tengah teman – temannya. Dari teman – temannya diri baru tahu ia adalah seorang ketua himpunan. baru saja di minggu lalu ia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan menunda kelulusannya. Atika menulis di dalam ceritanya :
Diri ini lega, dan bahagia, ternyata tali silahturahmi masih terjaga di kemahasiswaan arsitektur ITB.
Dear Atika, diri ini, merasakan kembali memori yang lama kembali muncul. Dari situlah adanya kehangatan di antara memori – memori itu meskipun kita tidak bertemu.
Kenaifan bahwa, kita semua bisa untuk berbuat lebih baik lagi untuk sesuatu yang tanpa pamrih,
kenaifan bahwa adanya perjuangan dimana sepertinya dunia memalingkan mukanya,
kenaifan bahwa memori akan kebersamaan itu sebegitu pentingnya untuk diingat dan dirayakan.
Dirimu sudah menjadi pelita Gunadharma bagi pelita – pelita lain yang sudah dan akan muncul !
vivat – vivat G IMA G tetap jaya.
Suasana Aula Barat desain dari Henri Maclaine Pont
Suasana Aula Barat desain dari Henri Maclaine Pont
161023 “Bagi seorang anak kecil, Ibu adalah cinta pertamanya, dan Ayah adalah pahlawannya.” Laurensia.
Pekerjaan Menggali tanah setinggi 5 m dibawah permukaan 0.00
“Yang, itu kata daddy basement bawah jangan dibuat, berbahaya nanti airnya bagaimana ?” pada waktu itu, Laurensia sedang bercerita ketika baru pulang dari rumah permata buana, kami biasa makan malam bersama setelah ia selesai praktek dan menjemput miracle di rumah opa, omanya. Diri ini menjawab “tenang saja, semua sudah direncanakan, soal air tinggal kita waterproofing dan pengecekan akan pengecoran.” Ayah saya sedang berusaha mengingatkan dengan caranya tersendiri, menyelidik dahulu, memberikan premise, tantangan, kemudian penyelesaian. Satu pagi ia bercerita mengenai gaya tekan air yang membuat beton kolam yang sedang dicornya di madura patah dan meledak, karena permukaan air yang dangkal. Singkatnya berat kolam renang lebih ringan daripada gaya tekan air, dirinya pun bertanya “apakah ini sudah diperhitungkan ?” Beberapa hari setelahnya, pada waktu kami berkunjung ke rumah permata, ia pun mengingatkan, “jangan lupa saluran listriknya outbow untuk di bawah tanah.”
Situasi seperti itu seringkali terjadi, dan hal – hal yang ditanyakan adalah hal yang mendasar, keamanan, kenyamanan tanpa perlu menjadi seorang avant garde. Avant-garde (pengucapan bahasa Perancis: [avɑ̃ɡaʁd]) berarti “advance guard” atau “vanguard”.[1] Bentuk kata sifat digunakan dalam bahasa Inggris untuk merujuk kepada orang atau karya yang eksperimental atau inovatif, , perlawanan terhadap batas – batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu kebudayaan. Bahasa Ayah saya ini adalah bahasa yang fundamental. Darinya saya belajar untuk menahan diri, memperkuat lagi pondasi, dasar pemahaman untuk menghindari akrobatik perubahan, yang hanya untuk menjadi sekedar berbeda.
Ia juga yang sedemikian khawatir ketika diri ini memutuskan untuk pulang ke Indonesia, dimana hal tersebut menjadi kebanggaannya, sedih, pada waktu prinsip kita menjadi tidak sama. Senyumnya kembali timbul ketika pengakuan muncul dari karya – karya yang mulai terbangun yang berarti menandakan diri ini bisa bertahan hidup di kota Jakarta, ia terus menanyakan mengenai keuangan, apakah cukup untuk membayar gaji, cukup untuk hidup, cukup untuk menabung. Ia juga yang memberikan semangat, ketika satu exhaust fan merk Miele penyok titik karena pekerjaan kontraktor kitchen set satu vendor ternama, yang sebegitu saja luput sekejap . Ayah juga yang memberikan semangat untuk terus bertanggung jawab, bahwa tidak ada artinya apabila kamu untung tapi nama baik hilang, tidak apa – apa, nanti akan ada gantinya yang lebih baik lagi. Dari situlah diri ini belajar untuk bisa menarik garis positif di tengah turbulensi.
Ia juga yang memberikan pemahaman bahwa beton memiliki kelemahan akan retakan, dan potensi terhadap retakan waterproofing, oleh karena itu lapisan batu sangat penting untuk menjaga retakan tidak terjadi. Sebelumnya diri ini melihat lapisan batu dari aspek estetis untuk menghaluskan, dari ayah saya ia memberikan sudut pandang baru dan beberapa vendor waterproofing kemudian memberikan saran – saran mereka hanya untuk melihat satu material, yaitu beton. Tidak terhitung banyaknya dari beberapa material beton, kayu, besi, alumunium, plastik, bambu yang sedang dielobarasi, kita diskusikan, kita tarik benang merahnya, untuk kemudian dibangun di tempat.
Sedemikiannya ia tersenyum ketika diri ini menceritakan atap yang dipelintir di satu project di Telok Naga, memberikan kesan dinamis, naik dan turun, dan menunjukkan foto – foto padanya. Ia pun diam, tidak berkomentar apa – apa. Beberapa hari setelahnya diri ini kembali ngobrol dan bercerita mengenai kesulitan dalam fabrikasi atap yang tidak memeiliki sudut yang sama tersebut, memutar, terpelintir sedikit – sedikit dalam segmen yang menghubungkan titik – titik pertemuan rangka. Ayah pun bercerita mengenai bagaimana Wiratman membuat konstruksi atap bangunan istiqlal, mesjid yang didesain oleh Frederich Silaban, Atap itu didesain dengan pendekatan empiris dimulai dengan membuat maket, dan melakukan ujicoba, pra kiraan tanpa perhitungan yang solid karena konstruksi yang memiliki bentang lebar dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Ia pun menyarankan, “coba kamu buat maketnya”.
atap sekolah alfa omega di Telok Naga, model pertama menggunakan struktur bambu. Model kedua menggunakan struktur besi. Kedua model tersebut menggunakan curva parabloid untuk konstruksi bubungan atap.
Prototype ke 2
Dari beberapa cerita demi cerita, dedemikiannya diri ini ingin membahagiakannya, membuatnya bangga, biasanya ia hanya diam. Dari Laurensialah diri ini bisa tau, mengenai komentarnya, ayah tidak pernah berbicara langsung, mungkin ia hanya ingin melihat kami anak – anak nya tidak sombong akan pencapaian dan terus berkarya. Dr. Aris satu dokter yang setiap minggunya datang ke rumah kami, dan rumah ayah saya untuk melakukan terapi ke keluarga kita, berbicara, “Ayah sering bertanya mengenai bagaimana Real kabarnya, apa masih sering terapi ? ” ia pun menjawab “ngga pernah, sibuk itu” kita yang membahasnya pun tertawa, dalam hati kecil saya, diri ini kembali diingatkan hal yang terpenting, kesehatan, waktu untuk beristirahat dimana kesibukan semakin padat dan Ayah sepertinya tidak pernah kehilangan itu. Sesambil berkerut Dr. Aris berujar setelah memeriksa diri ini “waduh gawat ini Real”. Dalam hati saya deg – deg an, sesambil iseng menimpali “kita perlu liburan dok.” kita kemudian tertawa.
atap sekolah alfa omega di Telok Naga, model pertama menggunakan struktur bambu. Model kedua menggunakan struktur besi. Kedua model tersebut menggunakan curva parabloid untuk konstruksi bubungan atap.
161016 Jakarta,”Totality of architectural design includes textures, the soft and hardness of the material, the smell of the material, and the acoustic effect of the material.” Kengo Kuma
Kengo Kuma di dermaga cultural village
Di satu pagi Albert salah satu klien yang sudah saya anggap seperti adik sendiri, mengingatkan, “ko jangan lupa untuk meeting tanggal 9 Oktober ya, Kengo Kuma akan datang ke Belitung, nanti kita diskusi. apa koko bisa ?” Kira – kira 4 bulan yang lalu, Albert memiliki ide untuk mengunjungi Kengo Kuma ke Jepang, Kengo Kuma pun tertarik dengan proyek yang sedang kita kerjakan. Dalam hati, diri ini bertanya – tanya, apakah ini mungkin, untuk bekerja bersama di proyek untuk daerah yang terpencil ? Saat itu beberapa kali diskusi di lakukan. Saya ingat ketika ada di Bandung, di satu pojok perpustakaan ITB, ketika sedang mencari buku mengenai christopher alexander, video conference dilakukan. Albert pada saat itu ada di Jepang. “Ko mau ko, Kengo Kumanya.” Dalam hati diri ini melonjak kegirangan, perbincangan dengan beberapa arsitek Jepang lain pun juga dilakukan untuk mencari – cari kemungkinan kolaborasi, meeting pagi – pagi dilakukan karena jadwal arsitek – arsitek ini yang padat. Hanya Kengo Kuma yang bertahan untuk mau terlibat di proyek ini.
Proyek di Belitung memiliki kenangan tersendiri, disinilah kami biasa meluangkan waktu bersama – sama, saya, Laurensia, beserta albert dan keluarganya, pak Agus dan tante Siannie sejak sekitar 5 tahun yang lalu, cerita dimana tidur tanpa penerangan, sepi, nyamuk, dan tanpa akses menjadi makanan sehari – hari. Cerita pun berlanjut, suka dan duka yang dialami mereka dalam menjalankan proyeknya pun sudah disaksikan sampai akhirnya area resort dibuka dan datanglah orang – orang yang mau menginap. Memang tidak mudah memulainya, menjadi yang pertama, sang pionir dimana yang lain seperti ragu – ragu dalam menembus belantara yang liar tanpa infrastruktur yang memadai.
Pagi – pagi di jam 4 pagi, telepon rumah berdering pak Misnu sudah membangunkan, mengingatkan bahwa satu jam lagi harus berangkat. Baru saja dua hari yang lalu, perjalanan dilakukan ke Bali, pulau dewata untuk memeriksa pekerjaan. Keadaan sekarang tidaklah sama dengan beberapa tahun yang lalu, sekarang sudah ada miracle, senyumnya,tawanya,kelucuannya ataupun tangisnya mewarnai kehidupan kami sehari – hari.
Jakarta di pagi hari, memberikan kehidupannya yang lain, kelembutan dibalik carut – marut pembangunan dan perencanaan infrastruktur kotanya, sebuah kota yang banal atau kasar atau tidak cantik, dipagi – pagi yang cerah, satu pegawai lontong sayur langsung menghampiri di lounge bandara, satu ya mas sama teh manis, sepertinya ia sudah hapal, kami setidaknya bertemu satu kali seminggu.
Kaki ini dilangkahkan di koridor pesawat, kebetulan tempat terdepan diperoleh, disitulah perjumpaan dengan Kengo Kuma. Ia sudah berumur 62 tahun, duduk di pesawat sendirian. “Anda sendirian Kuma san ?” “Staff saya sudah ada di Belitung” katanya singkat sambil ia tersenyum. Ia tertidur sepanjang perjalanan,kemudian ia bercerita ia baru saja pergi ke Ceko untuk membuka pameran Kengo Kuma: Woven di Jaroslav Fragner Gallery di Praha, lengkung matanya dalam, menunjukkan kurangnya ia tidur dan istirahat, nomaden. Ia kemudian menjelaskan orang Jepang banyak sekali belajar dari kebudayaan barat, ia terinspirasi dari karya Yoyogi Stadium, karya Kenzo Tange, dan sekarang banyak orang terinspirasi dengan arsitektur Jepang, semua saling mempengaruhi.
Memang struktur gedung stadium Yoyogi yang didesain Kenzo Tange begitu indah dengan kabel – kabel tarik dan lembaran metal yang diletakkan diatasnya menyerupai sirip – sirip ataupun daun, mengingatkan pada karya gereja pohsarang dengan struktur genteng yang ditumpukkan di reng batang tarik menyerupai struktur tenda, begitulah maclaine pont mendesain dengan keterbatasan material dan keterbatasan pengetahuan sumber daya manusia.
Jenis batuan granit berdasarkan kekerasannya.
“Kuma San, who is inspiring your work, your design approach.” Saya bertanya. ia melanjutkan “arsitek favorit saya adalah karya arsitek Antonin Raymond, arsitek dari Ceko, dahulu pernah magang ketika wright mendesain dan mesupervisi desain Meiji Mura dan School of Holy Spirit. Antonin memulai penggunaan beton cetak jauh sebelum arsitek jepang mengelaborasi struktur beton dalam karya – karyanya. Salah satu Muridnya adalah Kunio Maekawa yang merupakan guru dari Kenzo Tange.” Kengo Kuma memiliki satu garis yang berbeda dengan beberapa arsitek yang sedang diangkat di pameran moma, sebuah galeri kelas dunia dimana bangunannya didesain oleh Yoshio Taniguchi berjudul Japanese Constelattion yang dikuratori oleh Pedro Gadanho dan Phoebe Springstubb dimana mengangkat Toyo Ito, SANAA, dan generasi setelahnya yang memberikan pemahaman rasionalis yang kental, membuat sesuatu yang baru, arsitektur menjadi semakin abstrak, semakin ringan, semakin sederhana, semakin murni, semakin alami. Pikiran ini melayang satu saat di Meiji Mura, pada saat summer workshop di nagoya. Meiji Mura didesain dengan detail pola geometris dengan perulangan pola dalam pengolahan 5 jenis material yang berbeda, kombinasi tembaga, bata, beton, besi, dan kayu. Pendekatan romantis terlihat nyata dengan percampuran bata yang melakukan ciri khas Wright.
Siangnya kami berkunjung ke satu rumah di perkampungan tradisional membalong selatan, membahas mengenai organisasi layout, budaya orang tinggal di desa, juga material – material pembentuk arsitekturnya. Pertanyaan yang dilontarkan dalam diskusi oleh Kengo Kuma dan timnya adalah bagaimana satu bangunan ini ditinggali. Intinya adalah mengumpulkan artefak dalam proses perencanaan dan tenggelam didalamnya, ia percaya bahwa proses yang sudah terajut, yang baik perlu dipertahankan, sebuah pendekatan empiris dalam berkarya. Proses desain yang maju mundur, menimbang – nimbang apa yang baik dan tidak ini yang membedakan konstelasi empiris dengan arsitek rasionalis diatas. Ada setidaknya 10 buah spesimen kayu dengan beberapa karakter lokalnya yang kita diskusikan, beberapa teknik membuat urat kayu, dan berdiskusi tentang bata tumpuk, material pembentuknya dan bagaimana pengaruh air di kulit bangunan.
Proses ini tumpang tindih, saling bertumpuk, untuk dibuat sintesa desainnya, hal ini memiliki lapisan – lapisan yang tidak mudah untuk diurai, tentunya tidak semudah mengurai diagram Bjarke Ingels, ataupun diagram Junya Ishingami yang singular, homogen, total dalam mendesain. Sebagai seorang manusia, Kengo Kuma bernafas, mendengarkan, merasakan, setidaknya dengan cara itulah ia berkarya dimana baru hanya kulitnya pasti yang diri ini temui, dan saya yakin dalamnya akan lebih indah dari lubang – lubang kecilnya yang mulai dibuka.
“Ko, kita pasti bisa ko.” Albert berulang – ulang berkata, diri ini tersenyum, dan bersyukur, dengan begitu giatnya dia, semesta akan tersenyum, dan Kengo Kuma mungkin saja tersenyum akan kegigihannya, dan kita akan bertemu di ujung jalan yang penuh kenangan.
Saya sebut 99,9% The Guild karena karya arsitektur ini sudah [hampir] paripurna, sebuah penciptaan dalam proses panjang yang sudah diluncurkan dan ditafsirkan oleh publik, sejak 12 Juni 2016 lalu. Mengapa bukan 100%? karena karya ini masih membuka 0,1% untuk sebuah pembacaan kemungkinan (atau bahkan ketidakmungkinan), keterbatasan (atau bahkan ketidakterbatasan), perlawanan (atau bahkan ketakberdayaan), kesalahpahaman (atau bahkan kesalah-kaprahan), juga tabrakan (atau sekedar serempetan).
Dengan 0,1% ketidakselesaiannya itulah, karya ini bisa berdialog dengan siapa saja dan dengan apa saja yang ditemuinya, yang mungkin tak pernah dibayangkan oleh arsiteknya sendiri. Jika Tuhan melihat karya ini mungkin akan bersabda: Ini bukan sejenis Menara Babel, biarkan selesai! dan Realrich Sjarief akan bisa tidur nyenyak ditemani mainan-mainan detail dan material di sekelilingnya…(Congrats bung!).
Anti-Arsitek[tur]
Jika saya boleh menilai, 99,9% The Guild ini bukan karya seorang arsitek, tetapi karya seorang anti-arsitek dengan timnya yang juga anti-arsitek[tural], semacam pendurhaka yang [masih]beriman. Karena karyanya tidak didasarkan pada kondisi kestabilan dan kemapanan, tetapi lebih kepada pergerakan dan kegelisahan, yang kadang membuncah berlebihan. Meminjam istilah Realrich Sjarief sendiri: ini karya di tengah pusaran! Di pusaran yang berputar, menjadi arsitek sering memabukkan, bisa terpeleset ke posisi berlawanan (menjadi anti-arsitek, lalu kembali lagi, terus-menerus), mendoakan dan mengutuki dirinya sendiri…
Maka dari itulah, karya Realrich Sjarief ini menjadi sebuah “retakan” yang patut diapresiasi (mungkin pada saatnya nanti akan menjadi rekahan atau dobrakan). Meskipun ada yang bilang dia pengagum [Carlo] Scarpa, tetapi [paling tidak] dia mampu membuktikan bahwa dia bukanlah Scarpan yang membuta. Diubahnya infiniti possibili menjadi possibilik (kemungkinan bilik/ruangan), dari Scarpa menuju Sekarepmu! (Semaumu!). Puitis dan sekaligus sarkastis, misalnya: pintu didesain serupa busur begitu indahnya (perpaduan lurus dan lengkung), tetapi juga sering “menghantam” kepala si arsitek sendiri (sebuah hubungan pencipta dan karya yang aneh, namun sangat manusiawi, hehehe..)
Dalam hal ini, pendekatan energi, makna, simbol dan lain-lain terhadap karya ini sepertinya sudah ketinggalan mode. Ini bukan soal energi, makna atau detail, ini adalah soal attitude seorang arsitek, yang mendesain seperti bernapas saja sebagai bagian dari metabolisme kehidupannya sehari-hari, tanpa dipikirkan, tanpa dikonsep secara muluk-muluk, tanpa disadari, tahu-tahu bersin (hahaha…)
Jika boleh kita tilik peringatan dari Pujangga Jawa Ronggowarsito yang pernah bertembang Amenangi Jaman Edan (mengalami jaman edan/gila). Inilah arsitek yang edan, tetapi masih eling lan waspada (masih ingat dan waspada/sadar). Saya tidak tahu, mungkin kadarnya 0,1% memang edan dan 99,9% eling, atau malah sebaliknya…
Body without Organs
Body without organs dari Gilles Deleuze adalah sebuah kondisi seperti seekor domba yang hilang, yang terlepas dari kawanannya atau rombongannya. Di situ terjadi deteritorialisasi dan desosialisasi pada dirinya. Si domba yang kehilangan kebiasaan lama, kehilangan hubungan dengan masyarakat yang memposisikannya secara politik, ekonomi, budaya maupun profesi. Bahkan dia juga kehilangan identitas yang bisa jadi akan menjatuhkan mentalnya.
Tetapi, dalam kondisi tersebut akhirnya dia mampu menemukan dirinya sendiri secara lebih kreatif. Dia mampu menggerakkan desiring machine (mesin hasrat) untuk menemukan identitasnya yang baru. Menemukan cara baru untuk menemukan libido atau seksualitasnya (dalam konteks yang luas). Dalam konteks arsitektur, libido arsitek adalah menimang-nimang desain yang akan dibuatnya, sebagai bagian dari hasratnya. Di situ, dia bisa mengambil bentuk/rupa/wujud/material apa saja tanpa takut dikomentari baik atau buruk, salah atau benar, indah atau jelek. Itulah penyingkapan keberadaan yang “baru”.
99,9% The guild adalah desiring machine yang diproduksi oleh arsitek yang sedang hilang dari kawanan, yang sedang terdeteritorialisasi, sehingga tak tersubornasi oleh norma atau aturan, bisa mengeksplorasi arsitektur dengan lebih bebas. Dalam Body without Organs, prakonsepsi kadang-kadang dikesampingkan, lalu kembali ke keadaan sebelum desain menemukan bentuknya, ditarik ke titik nol (0%). Misalnya, ketika jendela yang lazimnya di dinding tak memperoleh tempat karena keterbatasan ruang urban yang mepet dengan batas luar, maka dilubangilah atap dan plafon, bahkan juga lantai dengan sesuka hati (benar-benar sontoloyo…)
Ruang Rhizomatik
Ruang-ruang yang terjadi di The Guild ini adalah ruang-ruang yang berlogika rhizomatik, bukan berlogika pohon. Pohon adalah konsep yang (terlanjur) ditanamkan dalam tubuh kita. Pada pohon ada akar yang menyangga batang, lalu ada cabang, ada ranting, ada daun, sangat hirarkis. Tubuh kita menjadi hirarkis juga (karena “dicangkok” dari pohon): ada otak yang mengatur semuanya, ada kepala dengan posisi tertinggi (dan terhormat), ada tubuh utama yang lebih penting dari yang lain, sampai jari manis yang hanya untuk melingkarkan cincin.
Sedangkan konsep rhizome ini berbeda, rhizome tidak memiliki hirarki, karena berupa organisme yang rumit serupa jalinan benang-benang halus yang terus tumbuh dan menyebar acak ke segala arah, semua menjadi akar, semua menjadi batang, cabang, ranting dan semua menjadi daun, tidak ada hirarki: tidak ada yang lebih penting antara yang satu dengan yang lain.
Di The Guild, terjadi ruang-ruang yang terus tumbuh, seperti menjalar ke mana-mana, tak ada yang lebih penting, banyak terdapat lorong-lorong, celah, lubang, bukaan dan pintu yang menggerakkan orang untuk terus berjalan. Tak ada yang menjadi batang atau cabang, bahkan ranting, semua adalah rhizome. Antara kantor RAW, Omah Library dan rumah tinggal tidak ada yang lebih penting, demikian juga dengan ruang-ruang di dalamnya. Ruang pembantu saja mendapat kemewahan dengan cerobong besar mengarah ke langit, mungkin ini kamar pembantu yang paling transenden yang pernah saya temui.
Sebagaimana diungkapkan oleh Deleuze (seperti dikutip oleh Andrew Ballantyne (2007) dalam buku Deleuze&Guattari for Architects):
Dionysius knows no other architecture than that of routes and trajectories…
He has no territory because he is everywhere on the earth.
Jadi, mungkin sebetulnya tak ada ruang-ruang di sini, yang ada hanya rute dan lintasan. Lintasan yang multi-konteks, antara di sini dan di sana, antara rumah dan kantor, antara The Gild dan kota, antara bumi dan langit, antara kehidupan dan kematian, antara pekerjaan dan kehidupan, antara menjadi manusia dan menjadi bagian alam, antara merem (tidur) dan melek (terjaga). Tak mempersoalkan tempat (place) lagi, berada di mana saja di atas bumi, seperti rhizome.
Tampilan yang letting be
Manusia dan alam saling memproduksi. Itulah sebabnya, Realrich Sjarief tak pernah melupakan alam dan semesta di sekelilingnya. Perlakuan manusia terhadap alam adalah perlakuan terhadap dirinya sendiri. Dalam membuat The Guild ini, rasanya bukan ego yang berbicara, bukan upaya mengekspresikan diri, tetapi upaya untuk memberi kepada semesta dan menerima dari semesta. Tak hendak menguasai sepenuhnya, masih ada 1% yang disisakannya.
Tampak luarnya yang berkesan “letting be” (terserah karya itu mau jadi apa), lebih menunjukkan sumarah-nya kepada semesta. Mungkin instalasi yang dia buat sebelumnya (yang bertajuk 99% Sumarah) menjadi kredo yang bersifat letting be ini. Ada semacam ilham yang tiba-tiba saja muncul, menyeruak tanpa tanda apa pun. Sebuah wajah memang selalu menyimpan rahasia, yang tak diketahui. Kata deleuze: all faces enveloped an unknown.
Inilah Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian…
Menurut saya, Realrich Sjarief mendesain dan berarsitektur bukan dengan otak dan hatinya (yang hirarkis), melainkan dengan hidungnya. Ya, benar, hidung yang untuk bernapas, untuk membau, dan juga untuk “mencium” (baik secara konotatif maupun denotatif). Dia bisa mencium jika ada hal yang kurang pas atau kurang tepat pada The Guild ini, dia juga bisa mencium mana penyelesaian detail yang bagus yang kurang bagus.
Kemampuan penciuman yang didapat dari dialog intens dengan semesta, yang makin lama makin peka, makin tajam. Ini jaman Edan, jaman Deleuzian, jaman Rhizome, hidung pun tak kalah penting dengan otak dan hati. Hmmm…walaupun di luar sana, otak dan hati masih dipuja-puja, menjadi berhala yang (kelihatannya) makin tumpul dan karatan, hanya alat legitimasi untuk mencipta dan menghakimi karya-karya yang kadang serampangan. Meski hidungnya kadang terserang flu atau pilek, sehingga ada beberapa spot yang agak mrucut (kaki saya sempat tersandung dan hampir jatuh di ruang Associate Teknis), tetapi (mungkin dengan bantuan beberapa butir Mixagrip), secara utuh karya ini patut dibanggakan, seperti tertulis di ruang tengah itu: Best Office in The World.
Selalu menjadi pengalaman yang baru dan meyenangkan untuk melihat langsung suatu hasil karya yang dibuat oleh arsitek-arsitek favorit saya. Selalu ada cerita yang menarik dibalik sebuah karya-karya tangan penyeni. Dan selalu ada ilmu baru yang tanpa sengaja saya dapatkan. Seluruh bagian ruangan tidak akan terlewatkan dari pandangan saya. Detail-detail arsitektural yang tidak lupa saya sentuh dan selalu memunculkan keinginan untuk bertanya.
Bagi saya, 99% The Guild merupakan sebuah karya dengan keegoisan dari penciptanya. filosofi yang sangat kuat dan padu, yang tidak terpikirkan oleh penikmat desain sebelumya. Sentuhan-sentuhan desainnya yang akan selalu menimbulkan persepsi berbeda bagi siapa saja yang melihatnya. Biarpun begitu, pro dan kontra yang timbul dapat dipertanggungjawabkan keegoisannya.
What if 1 percent would change the whole 99 percent?
Jawabannya sudah pasti tidak mungkin.
Bagi saya, 1% ini merupakan kesempatan untuk berkhayal dan mengibaratkan siapapun yang berkhayal adalah seorang penciptanya. 1% ini merupakan suatu pelengkap yang akan memberikan rasa keseluruh sudut-sudut bangunan The Guild ini sehingga mendekati kata sempurna. Saya mengibaratkan 1% ini adalah sebuah es batu pada segelas air dingin. Ada atau tidaknya es batu ini, air dingin di gelas tersebut tetaplah dingin. Bisa dibilang Bangunan 99% The Guild ini sudah selesai. Dan 1 persennya hanya sebagai penyempurna saja.
Cukup sulit bagi saya untuk memberanikan diri memberikan kritik melalui persepsi saya pribadi. Selalu terbenak bahwa saya bukanlah orang dengan pengetahuan yang teramat luas dan merasa orang yang paling tahu segalanya. Akan selalu ada kritikan di setiap karya yang sudah jadi. Akan selalu ada sesuatu hal yang dapat dikembangkan ketika karya sudah jadi. Dan akan ada pengetahuan yang baru setelah karya sudah jadi. Semua karya-karya yang sudah jadi dapat dijadikan sebuah input untuk karya-karya selanjutnya. Dengan demikian, Walaupun tetap ada kontra yang terlintas dikepala saya sebagai seorang mahasiswa arsitektur yang amatir, saya sangat appreciate dan tetap kagum dengan pencapaian Pak Realrich Sjarief.
Keegoisan Berkarya
Hal ini terlihat jelas dan terpampang nyata dengan sangat dominannya dinding dengan tekstur beton (concrete texture) yang sangat menguasai seluruh bangunan. Sebagian orang akan mengatakan dinding seperti itu akan membosankan, dan sebagian orang juga akan mengatakan dinding dengan tekstur seperti itu akan memberikan kesan alami yang maksimal. Mungkin memang, hal tersebut balik lagi kepada selera si penciptanya dan filosofinya. Tetapi bagaimana pun, akan selalu muncul persepsi yang berbeda, pro atapun kontra, suka ataupun tidak suka, antara orang awam dengan penciptanya. Menurut saya, pemberian dinding bercatkan putih di beberapa sisi bangunan (ruang) akan membuat keseimbangan, antara kesan alami yang maksimal, dan bangunan yang lebih rasional.
Unik dan Berani
Pintu, jendela, kaca mati, juga bukaan-bukaan lainnya menjadi keunikan tersendiri pada bangunan The Guild ini. Pasalnya bangunan-bangunan kontemporer yang pada umumnya tidak didominasi dengan lengkungan-lengkungan, kini malah didominasi komponen berlengkung yang cukup konsisten. Juga tertampak dari luar bangunan, The Guild ini memiliki bentuk Candi-candi diatasnya seperti kastil. Menurut saya pribadi, ini sangat unik, juga sangat berani untuk membuat suatu desain yang konsiten seperti ini.
Sekilas terlihat dari luar, gayanya yang sangat introvert sangat berbeda dengan desain didalamnya. Banyak bukaan-bukaan besar yang membuat suasana bangunan berlawanan dengan apa yang orang-orang lihat dari luar. Hal ini cukup unik karena akan menimbulkan persepsi yang berbeda antara diluar dan didalam.
Kesederhanaan yang tidak sederhana
Tidak seperti bangunan kontemporer pada umumnya, The Guild ini memiliki banyak detail, tetapi sekilas terlihat sederhana dan simpel. Dari mulai pintu, jendela, tangga, hingga warna lampu yang bisa membuat kesan hangat di malam hari. Menurut saya, The Guild ini sangat kaya akan detail-detail arsitekturalnya. Teknik-teknik pada setiap detailnya memberikan suatu pengetahuan yang baru. Kesederhanaannya juga bukan sekedar simplicity, tetapi juga memiliki makna dan filosofi tersendiri.
Jumat 24 Juni 2016
Dear Mas Anas Hidayat yang baik,
Ketika kita berjabat tangan, tentunya ada sebuah ikatan yang saling tarik-menarik. Mungkin makin lama makin banyak yang bisa maklum, pasrah, atau rela, bahwa kita membutuhkan paradoks dalam membuat satu argumentasi yang jujur. Tulisan mas Anas banyak memberikan keoptimisan tersendiri, bahwa kita arsitek perlu untuk selalu terus belajar, tanpa henti, semakin kita menginginkan sesuatu semakin banyak pulalah kita harus belajar, ambisi berbanding terbalik dengan lamanya pelajaran. Ketika keinginan itu dituturkan dan dilakukan dengan segitu dalamnya, sebegitu banyaknya juga yang harus dikerjakan. Mungkin tidak ada kata lain untuk arsitektur indonesia, selain kerja keras. Di balik seringnya kekecewaan saya terhadap pranata kita, yang ternyata ujung – ujungnya ke sikap dalam berprofesi, ketulusan hati dalam bekerja, mungkin kita perlu optimis dalam melihat masa depan, tidak dalam kacamata paradoks yang sudah biasa dikerjakan, bekerja melalui gambar, institusi, hukum, kontrak, ataupun hal – hal yang berbau – bau formal. Namun baiknya kita menelisik paradoks dari hal tersebut, tentunya dengan profesionalitas dan etika yang dijunjung tinggi yaitu, nilai kejujuran.
Pak Irianto Purnomo Hadi, sebuah figur yang banyak dihindari oleh beberapa orang – orang muda yang saya temui, ternyata berhati sangat lembut. Mungkin saja penghindaran itu terjadi karena beliau terlalu jujur, dan lugas dalam berkata – kata. Di balik orang – orang seperti ini, tanpa tedeng aling – aling, dengan sikap yang sudah siap akan kritik, tentunya akan pas saja, celakanya begitu kumpulan – kumpulan tidak siap, ya pasti menghindar, karena kurang kerja keras, kurang persiapan, kurang latihan, tapi pingin eksis.
Dari Pak Irianto, sesingkat bicara, ada dua hal yang penting, yang pertama adalah kekerabatan, brotherhood, sekali dua kali, beliau melontarkan cerita tentang pertemanannya dengan Yori Antar, Andra Matin, Sonny Sutanto, dan lain – lain, bahwa di antara mereka tidak ada puja puji berlebihan, dan memang sesuatu dilontarkan apa adanya. Ya memang kumpulannya sudah siap dan mereka sudah seakan – akan mengerti satu sama lain. Pada akhirnya diceritakan ada semangat penjelajahan, atau eksplorasi tanpa henti, hal itulah yang menjadi cikal bakal Arsitek Muda Indonesia. Dan atas nama AMI, label itu lalu terbentuk. Pertanyaannya setelah label itu terbentuk, kemudian apa yang menjadi semangat pertamanya apakah terus ada dan semakin meningkat ? ya mungkin saja ini titipan buat kita – kita ini mas Anas, supaya meneruskan semangat – semangat mereka. setidaknya saya berusaha mencari – cari kerabat yang bisa berjabat tangan, bukan saling mengentuti, saya menemukan nafas ini dalam diri Mas Anas. Dari kekerabatan ini kita berusaha saling meningkatkan diri, seperti kedua pendekar yang saling berlatih hanya sebagai sebuah pemberian untuk hidup yang ada ini, ini konteks mas Anas dengan ndaem,
Yang kedua adalah kedalaman (depth), beliau ucap kali berkata, bahwa menggapai sesuatu yang tidak lengkang jaman,membutuhkan waktu, dan proses latihan yang panjang. Di era sekarang yang semakin cepat, hal – hal ini semakin sulit ditemui, dimana kompetisi menjadi ketat, dan sisi egoisme dari arsitek menjadi kental dan tinggi. Disinilah diskusi berjalan menyenangkan membahas figur – figur arsitek seperti louis kahn, dan beliau juga bertanya, apakah saya suka dengan Scarpa, ya itu desainer yang luar biasa, meninggalkan torehan sejarah arsitektur yang dalam, seorang pendekar byzantine. Dari situ kita membahas mengenai castevechio, satu museum yang dulunya adalah barak, dengan intensi permainan detail, dan penataan ruang pameran, sampai ke bagaimana satu karya lukisan itu ditata dengan pendekatan visual, perspektif, perjalanan pengunjung menikmati satu – persatu karya dimulai dari pintu masuk. Dari kedua ini, saya coba beranikan diri untuk mengajak beliau turun gunung juga untuk berbagi keluh kesahnya ke anak – anak muda, jadi kelembutan dan ketegasannya, dua paradoks ini bisa terbaca dengan lebih baik. Ada dua hal, kekerabatan, dan kedalaman yang menjadi penting dalam pertemuan dengan pendekar gondrong namun lembut hati ini.
Buku Pak Yuswadi Saliya, akan meluncur hari ini ke Surabaya, nanti saya es em es untuk tau alamat njenengan. Coba nanti kasih tau pendapat njenengan apa tentang buku itu, dan kita bisa diskusi bersama, pinginnya, bab per bab, tulisan per tulisan, ha ha. tapi rangkuman aja mas, supaya kita endapkan dan seharusnya ada dialog dengan buku itu. Namun ngomong – ngomong soal pameran kita. tulisan mas sudah asik pol tenan, muantap. Dengan interpretasi dari swarang,
saya suka sekali dengan paragraph ini, kalau namanya suka ya susah ya, karena pakai hati, ngga pakai pikiran, atau malah pakai hidung kaya kata njenengan, ha ha.
“Dalam pandangan s[w]ar[w]ang atau swa-rwang (swa=mandiri, rwang=ruang/ruangan), sarang adalah ruang (buatan dan milik) sendiri, yang dibuat sendiri untuk kemudian ditempati sendiri. Jadi, swa-rwang bukan rwang/ruang untuk ditempati oleh orang lain, tetapi sebuah pergulatan yang bersifat individual, personal.
Ketika seekor burung membangun sarang, itu adalah urusan antara dirinya dengan semesta, sebagai sebuah “ritual” untuk “mengukur” dirinya, yang tak membedakan antara yang alami dan yang buatan, tak membedakan antara insting/naluri dan kesadaran, antara intelejensi dan emosi.
Sedikit cerita tentang burung-burung manyar (dari novel Burung-burung Manyar, karya Y.B. Mangunwijaya):
ketika masa berahi, burung-burung manyar jantan membangun sarang untuk menarik perhatian betina. mereka berlomba untuk membuat sarang yang sebagus mungkin. Hingga pada saatnya si betina memilih, dia akan memilih sarang yang terindah di antara sarang-sarang buatan para jantan itu, dan si pembangun sarang akan menjadi pasangannya. Lucunya, ketika tahu sarangnya tak terpilih, burung-burung manyar jantan lainnya akan merusak sarang buatannya sendiri hingga hancur-lebur, dipreteli dan dilolosi hingga tak berbentuk lagi, mungkin sebagai ekspresi kekecewaan.
Tetapi, burung-burung manyar jantan selalu optimis, dia akan membangun sarang baru lagi dari nol, dengan mengumpulkan bilah daun tebu dan rumput kering, dengan harapan ada burung betina yang memilihnya nanti.
Yang esensial di sini adalah refleksi, berkarya dengan bercermin pada dirinya sendiri, yang hasilnya adalah untuk dirinya sendiri (tetapi nantinya bukan hanya untuk dirinya sendiri), mulat sarira atau “mengukur diri”, yang dalam tahap berikutnya sebagai “persembahan” kepada dunia.
Swa-rwang adalah tempat untuk meraba diri, mempertanyakan entitas dirinya sebagai upaya menempatkan diri dalam konfigurasi agung semesta.”
sebuah pergulatan sendiri, sebagai ajang refleksi untuk persembahan pada semesta.
Nah Sarang lagi dibuat materinya ya mas Anas, Sepertinya kita perlu merangkul kutub yang berbeda jadi begini, saya ingat ada pameran ketukangan yang dipamerkan di Venice Bienalle, yang dikuratori oleh David Hutama, Avianti Armand, Setiadi Sopandi, Ahmad De ni tardiyana, dan Robin Hartanto. Mereka mengkategorikan perkembangan arsitektur melalui bahannya. Yang dalam pandangan saya bahwa karya ini bisa bersifat romantis, pada jiwanya, pada filosofinya, pada pengantarnya, namun untuk produk yang diberikannya, sarang perlu menegaskan bahwa ia berorientasi pada kerja keras, untuk memecahkan masalah. Nah kepikirannya, bahwa framework dari ketukangan itu kita bisa pakai, sekaligus sebagai usaha untuk meneruskan semangat pameran mereka, nah kita – kita yang meneruskan. Jadi yang terpikirkan ada pembahasan tentang kayu, batu, logam, bata, plastik, yang akan dipamerkan adalah gambar – gambar detail saja, sebagai satu sumbangan akan vocabulary untuk yang masih muda – muda, semoga bisa membantu untuk mengarungi profesi yang sedemikian kacau beliau. Jadi rumusnya akan dibagi, resepnya akan dibagi – bagi disini, seluruh perkembangan studio sampai saat ini melalui gambar, video, dan gambar kerja. Ini adalah sebuah tantangan untuk merefleksikan, atau mengkuratori diri kita sendiri yang berguna untuk perkembangan sarang itu sendiri. dengan detail effort yang tertinggi akan muncul karena disitulah dituntut ada konsistensi, dan permainan detail adalah bagaimana kita konsisten dalam bentuk dan intensi desain dari macro sampai titik terakhir begitu pekerjaan itu diselesaikan.
Yang menarik adalah di pengantar, ada beberapa fakta yang kita coba ulas, bahwa dalam pengerjaan 350 proyek yang ada sekarang, yang terbangun hanya sekitar 10 – 15 buah, selama 4 tahun. Jadi kita bisa cerita soal kompleksitas profesi yang memang membutuhkan kesabaran dalam berarsitektur. Kita bisa cerita juga tentang stastitika jumlah adik – adik yang datang dan pergi. di RAW , di DOT, atau di Omah library. sebagai satu jalan untuk melihat satu jalan yang penuh turun naik, tumpang tindih, manuver kiri dan kanan, dan melihat permasalahan yang tidak sederhana. Sarat dengan ledakan informasi, tanpa tedeng aling – aling, tanpa permisi, dan kemudian kita pergi dengan terbirit – birit ha ha ha, semoga tidak dikejar orang – orang. Arsitektur yang kita jalani sehari – hari saya setuju ini urusan profesi, menggapai kesempurnaan dan menghidupi banyak orang dengan inspirasi, dengan kenyamanan, juga dengan fulus yang diciptakannya.
Sumrabah ini menarik mas anas, bagaimana menyebar kemana – mana tanpa intensi khusus untuk itu, namun dengan keinginan untuk berbagi itu pun sudah sebuah intensi ya. Namun bagaimana yang dibagi itu, merasa dikentutin, atau dibelai, itu lain halnya, soal bertemu kekasih dan bertemu godot, yang tidak pernah ada. Saya coba cari referensi yang diberikan mas Anas, Finding Godot, apa ada referensi lain yang bisa dibagi, sayangnya dekonstrusi kimbell saya ngga dapat, sulit untuk dicari.. kembali ke sumrabah, kalau – kalau yang dibagi itu bisa menerima, dan suka, cinta dengan apa yang dibagi, atau sebenarnya mereka sedang menelisik adakah cinta disana, adakah sarang(dalam bahasa korea berarti cinta) itu ada disana, kalau ada , maka mereka (burung – burung manyar ) akan bersiap – siap memadu kasih.
Sedikit cerita lagi mengenai almarhum Heinz Frick, saya kebetulan berkesempatan ke rumahnya dan ke ruang tidur sekaligus ruang kerja dan perpustakaannya. Orangnya rapih sekali, ada map – map, manuscript, yang berisi kliping, dan data statistika dari buku – buku yang dikopi. Dari situlah saya melihat orang ini, adalah seorang akademisi yang bisa mampu memilah – milah informasi dan bekerja sama, dilihat dari banyaknya buku, kualitas buku, dan orang- orang yang diajak bekerja sama dalam pembuatan buku. Dan kemudian kemarin pada waktu saya ke cilacap, kebetulan saya take off dari bandara Halim Perdana Kusuma, disitu ada buku judulnya working clean karya dari Dan Charnas, ia mengetengahkan konsep mise en place, saya tuliskan prefacenya disini ya,
“everyday, ches across the globe churn out enormous amounts of high quality work with efficiency using a system called mise – en – place- a french culinary term that means “putting in place” and signifies an entire life style of readiness and engagement. …. Charnas speels out the 10 major principles of mise – en – place for chefs and non chefs alike : (1) planning is prime (2) arranging spaces and perfecting movements (3) cleaning as you go (4) making first moves) (5) finishing actions (6) slowing down to speed up (7) call and callback (8) open ears and eyes (9) inspect and correct (10) total utilitzation. ”
Ini ada paradigm ekstrim mengenai bagaimana chef bekerja, seperti ada ceritanya si Jimi Yui adalah seorang kitchen desainer terkenal, seperti paradigm biasa, bahwa dapur perlu besar dan lux, membuat setiap chef bergerak dengan mudah. Ini adalah logis, dan bisa dinalar bahwa ini satu kesepakatan yang bisa diterima bersama. Namun Jimi Yui mendesain kitchen untuk chef – chef terkenal di dunia seperti Mario Batali, MAsaharu Morimoto, dan Eric Rippert. Ia mendesain dapur yang sangat efisien, sekecil mungkin, bahkan chef tidak perlu untuk melangkah kemana – mana, ia cukup diam ditempat dan semuanya ada disekitarnya. Hal ini terbukti efisien, tidak membuang waktu, dan akhirnya chef tersebut bisa melakukan hal – hal yang lain, ia membuat stastitika bagaimana chef itu bergerak dan berapa waktu yang terbuang. Nah saya pikir, hal ini ada paradoks dengan apa yang terjadi disekitar kita, terkadang hal – hal yang menjadi kesepakatan bersama, membutuhkan dobrakan, sepertu bagaimana Jimi Yui bekerja. menurut mas Anas bagaimana, mungkin saja bentuk ekstrim studio bisa diredefinisi perlahan – lahan, tentunya dengan niat untuk meningkatkan kualitas.
Saya pikir Mas Anas pun demikian, tulisan – tulisannya mendobrak pemikiran saya, karena soal pikiran itu mudah, rasionalisasinya jelas dan bisa dipelajari namun siapa yang bisa menakar ledakan hati, siapa yang bisa membatasi, apalagi kalau aktornya hanya kita ha ha ha. (maaf mangap terlalu lebar) setelah sumarah, sumrabah, lalu sumringah. ha ha.
Hari ini, sudah akan ada progress untuk instalasi kita, saya akan kirimkan ya, semoga dua tarikan, paradoks, yang terjadi akan membuat kita semakin banyak belajar, dan berkembang, Mas Anas maaf kalau sedikit meledak – ledak, soalnya lama saya belum balas, jadi ide – ide ini menumpuk, baru sekarang disalurkan, Mas kalau sempat kita buat tulisan dialog ini semakin meledak – ledak, saya juga suka sikutan sikutan sampeyan. ha ha.
salam semesta,
Realrich
Rabu, 22 Juni 2016
Dear Mas Realrich Sjarief yang baik,
Selama sekitar tiga minggu setelah pertemuan kita, saya mengalami semacam terpaan gelombang-gelombang yang semakin cepat dalam pusaran. Saya seperti tidak percaya minggu lalu sudah datang ke Jakarta, seperti mimpi saja ketika memberikan lecture di open house-nya RAW/The Guild. Saya juga berpikir, setelah kita saling berkirim email, sampeyan yang arsitek saja masih bisa dan sempat-sempatnya menulis begitu panjang dan bernas. Sedangkan saya yang mengaku architext malah seringkali terlambat menulis, terlalu lama dipendam di kepala dan tak lekas dikeluarkan dalam tulisan (mungkin terlalu banyak pertimbangan, haha, atau kepala saya sudah terlalu kacau, hmmm..)
Saya rasa, tidak banyak arsitek yang bisa melakukan seperti yang sampeyan lakukan (mendesain, menulis, menyeni, dan entah apa lagi). Saya juga percaya, jika arsitek bisa mengungkapkan apa yang ada di kepalanya, maka apa yang dia kerjakan dengan tangannya akan lebih mudah dipahami dan diterima oleh orang lain. Sebuah kesatuan antara kepala, tangan, kaki, mulut, telinga, mata dan bahkan perut (saya masih yakin juga bahwa arsitektur selalu berurusan dengan perut – selain dengan hati dan otak, seperti sering diajarkan dalam metode perancangan).
Mas Realrich, saya sangat suka dengan cerita-cerita sampeyan tentang para arsitek. Misalnya tentang pak Irianto PH yang katanya mau datang ke kantor sampeyan. Menurut saya, dia tidak sedang melirik ke “sekuntum bunga yang mekar”, tetapi sedang menengok ke “sebuah sarang yang sedang bergejolak” (gejolak positif, bukan negatif), yang menyimpan gelegak pembaruan di arsitektur Indonesia yang sampai saat ini masih mengalami makropsia, kurangnya iklim dialog/diskursus yang bermutu, dll. Ini sarang yang para penghuninya siap nge-trance, dan saya akan terus menunggu ledakan-ledakannya.
Kalau tentang karya terbaik menurut teman sampeyan seperti yang mas Rich ceritakan, yang dipandang secara sempit dari “kacamata kuda”, hmmmm,, saya rasa begitulah cara banyak orang kita dalam melihat karya. Kalau dari pandangan hermeneutik, saya pikir itu sejenis penafsir yang kurang kreatif, yang level horisonnya masih “rendah”, yang ingin membongkar candi dengan kunci inggris, atau ingin menservis arloji memakai pedang samurai (malah terlalu sarkastis, hahaha). Hmmm, saya jadi ingat kata2: “dalam dunia kecap, tidak ada nomer dua (karena semua nomer satu), dalam dunia arsitek, tidak ada nomer satu (karena semua punya nilai/pandangan/karakter sendiri yang jelas tak bisa dibandingkan secara simple saja seperti membandingkan pisang goreng dan kue lemper).”
Senang diceritain buku The Power Paradox-nya Dacher Keltner. Tentang power, yang berseliweran membentuk tegangan-tegangan. Power-nya Machiavelli, Will-nya Nietzsche sampai Desire-nya Deleuze memang menarik untuk diikuti. Sampai-sampai sampeyan membikin antitesisnya: Sumarah (menyerahkan diri). Mungkin nanti akan ada sumeleh (meletakkan hati) atau sumrambah (menyebar ke mana-mana). Antitesis itu membuat tegangan-tegangan akan makin dinamis, membuat pusaran semakin mendebarkan…
O iya, saya belum pernah membaca bukunya pak Yuswadi Saliya yang berjudul “perjalanan malam hari” (sekaligus ngarep dikirimi dari Jakarta, hehehe). Ya memang dalam dunia praksis yang kadang-kadang begitu pragmatis (dan ekonomis), perlu seorang begawan yang selalu mengingatkan, atau membantu merenungkan tentang profesi arsitek. Bukan sebagai (sekedar) pekerjaan belaka, tetapi sebagai panggilan semesta. Kalau kita balik menjadi “perjalanan menuju pagi” bisa jadi lebih seru. Semacam perjalanan “habis gelap terbitlah terang”. Kita memang harus optimis bahwa pagi akan tiba, saatnya beraksi di bawah matahari kesadaran…
Saya kemarin sudah bikin sedikit tulisan tentang “sarang” untuk kolaborasi kita. Mungkin masih belum matang sih, akan saya coba untuk lebih menajamkannya lagi…
salam,
Anas
Kamis, 16 06 16
Dear Mas Anas Hidayat yang baik,
Ketika pusaran itu bergerak, dan mungkin saja kejujuran menjadi penting, karena semua hilang arah, karena arsitek kehilangan kuasanya karena percepatan pertumbuhan jaman, dengan gejala – gejala hati yang sombong, dengki dan penuh angkara murka tanpa adanya kuasa. Saya sangat tertarik dengan bahasa hermeneutik sampeyan, dengan tafsir – tafsir yang mendasar yang sebenarnya menyadarkan kita semua, bahwa kita perlu percaya kata hati kita, bahwa kita adalah singa yang ada di alam bebas, bukan singa yang ada di sangkar besi. Penyentuhan presentasi njenengan adalah penyentuhan hati, yang bisa menyentil orang yang pintar menjadi marah, dan tidak terima, dan ketika kita sadar, ternyata yang diarahkan adalah bukan hitung – hitungan belaka, namun ini adalah soal hati.
Soal peran arsitek menjadi 1 %, mungkin kita semua disadarkan untuk harus selalu dekat dengan tanah, karena memang kuasa kita adalah ketika kita masih mengerjakan project tersebut. Ketika karya tersebut selesai dan tuntas peran kita, maka peran arsitek menjadi 1 %, dan memang 1% oleh karena sekarang saya menjadi bisu, mas anas saya tantang untuk mengambil 99 % tersebut dan mengambil alilh peran arsitek, menjadi peran tafsir untuk kebaikan publik.
Mas Anas, baru saja satu adik yang saya kenal mengabarkan bahwa ada satu arsitek senior, yang terkenal emosional, blak – blakan, ganas, dan rupawan dan ganteng, ingin datang mendatangkan satu kantornya ke theguild untuk berkunjung, namanya pak Irianto Purnomo Hadi dari antara architect. Ndalem sangat penasaran kenapa beliau ingin datang, mungkin saja, ini dari tebak – tebak tanpa maksud apa – apa bapak itu penasaran mendengar dari anak kantornya ketika acara kemarin, semesta sedang bergerak, dan sebaiknya kita menyambungnya dengan gegap gempita, gelap atau terang, mungkin saja kita akan bertemu pendekar atau guru yang belum terlihat, tokoh – tokoh baru. Mungkin saja ada tokoh – tokoh yang lain muncul satu persatu, dan memang ini pusaran bergerak saling tarik menarik yang sudah dimulai, ditanggapi dan diteruskan dalam langkah – langkah selanjutnya, syukur – syukur kalau orang – orang itu bisa ikut nge trance dan joged bareng, dan kemudia kita bisa berdialog juga, bermimpi bersama.
Saya ada cerita bertemu teman baik saya di satu acara di pameran di casa kemarin, dan ia bercerita tentang bahasa batu bata yang baru ia lihat, katanya arsitektur itu adalah arsitektur terbaik jaman sekarang, karya itu adalah karya seorang arsitek senior. Saya melihat foto – fotonya, dan sempat takjub, memang itu adalah satu karya yang luar biasa. Luar biasa karena konsistensi permainan detail, pengolahan ruang dalam – luar, terkejut, tenang, dengan permainan – permainan cahaya. Namun, saya kemudian berpikir, apa itu terbaik, dan apa ada yang terbaik ? Apa perlu ada sesuatu yang terbaik ? Kita mendapatkan terbaik mungkin untuk mendapatkan satu contoh yang ekstrim dengan permasalahan yang dipecahkan secara spesifik, tentunya sudut pandang dalam melihat kualitas menjadi penting.
Saya pun iseng saja sebenarnya menimpali, bahwa ia perlu pergi ke India, untuk melihat satu master disana yang sudah membangun 35000 rumah dan memiliki arsitektur yang jujur untuk memecahkan masalah cuaca, konstruksi, pemilihan material, dan pengolahan bahasa arsitektur yang eksotis sarat akan alasan dan intuisi (Laurie Baker) , ataupun ia perlu ke Italia untuk melihat kekayaan detail yang didesain oleh Carlo Scarpa, atau malahan melihat Pohsarang Kediri dengan pembahasan ndoro klepon yang sampeyan tuturkan didalam buku Arsitektur Koprol mengenai lokalitas dan inovasi yang melewati keterbatasannya, atau lebih – lebih lagi arsitektur turen yang dibangun oleh santri – santrinya atas nama cinta. Bahwa ada arsitektur yang berupa – rupa dan unik – unik berbeda dengan arsitektur yang disampaikan tergantung sudut pandang yang ingin diciptakan. Arsitektur unik – unik ini memberikan warna – warna yang berbeda dalam kebudayaan dunia yang pluralistik, oleh karena itu, apakah pantas argumen terbaik itu muncul, mungkin saja, namun argumentasinya kalau hanya simplistis berupa kesan, gambar, tanpa memahami satu gambaran yang utuh adalah mungkin saja benar atau mungkin saja sedang tersesat. Saya melihat dibalik kedigjayaan yang ada, inovasi arsitektur dari gambar tersebut masih bergulat diantara wabi sabi, imperfect but perfect, seperti kevin Mark Low, atau Alvar Aalto, maka saya perlu kesana untuk mengalaminya secara langsung., Pada saat terakhir berdebat, ada satu kalimat yang membuat saya terhenyak bahwa setelah kita berdiskusi , katanya ia membatasi pembahasan karya yang kita perdebatkan yang hanya ada di Indonesia, dan tidak melihat negara lain, saya merasakan sedang dikentutin, dan itu bau kacang mente, ha ha, inilah sebabnya kalau menilai tanpa sudut pandang, pasti akhir – akhirnya bau kentut akan keluar.
Secara sikap, saya kemudian membayangkan seakan – akan kita ada di jaman 1800 dimana di Inggris taman – taman publik dibatasi oleh pagar – pagar besi dan hanya orang- orang ningrat yang boleh pergi ke taman. Pagar tersebut adalah representasi batasan terhadap informasi, seketika paradigma pembicaraan menjadi sempit sayangnya tanpa sudut pandang mengapa satu karya itu dianggap terbaik, bukan mau – maunya sendiri nilai sini nilai situ, lagian siapa lu siapa gue ? maaf kalau sedikit sarkasme atau sinis.
Terus terang saya sangat bahagia membaca tulisan njenengan yang berjudul The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian , yang memiliki penafsiran seperti itu, saya tidak akan berkomentar apa – apa, hanya bahagia dengan respons yang ada, berarti ada dialog yang semakin intens antara kita, saling babat, tendang. sikut, pukul ataupun belai membelai, dari benci menjadi cinta, dan sebaliknya, dua tegangan yang berbeda.
Mas anas, saya baru mendapatkan buku bagus, yang judulnya The Power Paradox tulisan dari Dacher Keltner, disini ia membahas mengenai, buku machiavelli, the prince mengenai bagaimana mendapatkan kekuatan dunia. Sumarah memberikan antitesi dari apa yang ditulis oleh machiavelli, namun buku yang ditulis oleh Keltner ini, memberikan sebuah perspektif mengenai kekuatan paradox, dari tegangan – tegangan pada kondisi ekstrimnya masing – masing yang ada disitulah muncul kekuatan apabila kita bisa mengambil paradoks yang terjadi. Di balik sebuah krisis ada sebuah peluang, pertanyaannya, dengan sebegitu problem profesi kita, mungkin saja kita belum mengambil manfaat darinya, dengan mempertimbangkan peluang – peluang yang ada.
Dari masalah disitulah adanya manfaat, mungkin saja kuncinya adalah bukan di arsitek tapi di ketukangannya, mungkin saja kuncinya malah di teknologi bangunan, bukan di programming, mungkin saja lebih – lebih lagi kuncinya adalah pola pikir (paradigm) bukan programming, seperti yang dibahas Collin Rowe, apakah kita mendesain programnya dulu, atau bangunannya. Kita semua di tangan manusia – manusia yang disebut arsitek ini, bandul keseimbangan di antara tegangan tersebut bisa dimainkan olehnya, bukan dipermainkan olehnya. Mungkin dari situ perlunya keahlian saja dalam aspek – aspek diluar arsitektur, terutama mengenai hati dalam bersikap, perlunya training yang matang, dan sikap dekat dengan bumi.
Mas Anas sudah pernah membaca buku perjalanan malam hari yang ditulis oleh pak Yuswadi Saliya ? Saya pikir setelah saya membaca buku itu, saya mungkin berkesimpulan, beliau kecewa dan apa iya lagi frustasi ya dengan iklim kita. Kebisaannya dalam tuturkata, melahirkan sebuah tulisan yang berisikan kompleksitas profesi kita yang carut marut yang disusun dengan runtun.Kalau tidak ada nanti bisa saya kirimkan satu dari Jakarta, sepertinya saya punya lebihan di perpustakaan. Sempet saya iseng saja berpikir gimana kalau judulnya kita balik, menjadi perjalanan menuju pagi, seakan – akan ada optimisme untuk arsitektur yang lebih baik lagi, dari situ ada kekreatifitasan untuk menjaga arsitektur kita lebih baik lagi, yang saya yakin dengan arsitektur yang baik, maka profesi akan lebih baik lagi, tentunya dengan landasan hukum, pranata, dsb dsb.
Kondisi kesehatan saya sedang turun, dari acara kemarin sampai ke pekerjaan – pekerjaan yang menuntut kita untuk berkomitmen. Maklum mungkin ini sedang mau lebaran, jadi semua senggol – senggolan, ingin berdialog, saya pikir ini wajar, hanya saja sekarang sedang musim penyakit flu jadi kena juga. Sedikit istirahat pasti bisa membuat segar kembali, apalagi setelah membaca, The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian, saya pun menjadi segar. Mas Anas untuk pameran IndonesiaLand kita nanti saya persiapkan dulu ya, bagaimana kita bisa saling membelah diri, namun rangkaian prosa- prosa ini bisa menjadi satu pelengkap untuk dialog yang manusiawi, karena kita kan manusia ya bukan alien ataupun monster jadi – jadian ha ha ha. Namun sudah jelas nanti kita berkolaborasi ya,
Salam,
Realrich
Dear Mas realrich Sjarief yang baik,
Terimakasih atas cerita-ceritanya yang menyegarkan, tentang Boss Utara dan tentang Andra Matin, juga tentang Pendidik Utara. Lakon-lakon penting yang malang-melintang dalam pusaran arsitektur kita. Saya suka sekali dengan metafor “pusaran” yang sampeyan sampaikan (sejak di Artotel minggu lalu), ada semacam kedinamisan, sekaligus juga permasalahan dan kompleksitas di sana. Hmmm… sampeyan masih sempat-sempatnya menulis panjang di sela-sela kesibukan senin ke senin, rabu ke rabu. Benar-benar Architrance… hehehe…
O iya, saya sangat tertarik untuk tawaran kolaborasinya, ayo kita mulai. Wastumiruda sebenarnya sudah lama ingin turun gunung, hanya menunggu waktu yang tepat saja. Dan rasanya, saat ini adalah waktu yang tepat, ketika saya bertemu dengan seorang Architrance dari Batavia Barat, yang kadar trance-nya sudah mulai menyeruak dalam pusaran.
Saya ingin membahas sedikit tentang celah, atau pintu kecil (ini terpikir dari jalan masuk 60 cm yang sampeyan paparkan). Di Serat Jatimurti (sebuah kitab lama Jawa yang membahas dimensi), ada bahasan tentang Alam Kajaten (Alam Kesejatian), yang menyebutkan bahwa alam kajaten itu merupakan alam yang bisa menampung yang tak terbatas, bahkan bisa menampung seluruh isi semesta.
Saya menafsirkan alam kajaten itu sebagai “pintu” (bisa berupa celah, lorong atau lubang). karena “kekosongan” pintu berbeda dengan “kekosongan” ruang (space). Jika ruang pada hakekatnya berupa volume yang bisa menampung sekian orang (dan bisa sesak, atau penuh), sedangkan pintu bisa dilewati ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan orang, mungkin sampai angka tak terbatas dan tak pernah penuh (karena pintu kodratnya untuk dilewati/dilalui, bukan didiami/diduduki/dikuasai).
Untuk acara hari Minggu, saya tidak ada usulan, saya sudah pas diletakkan di awal, sebagai sebuah pancingan agar penafsir-penafsir lebih bebas mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan. Kalau untuk profil saya, cukup ditulis: Architext saja. Atau kalau mau agak panjang: Architext lulusan S1 (Arsitektur) dan S2 (Perancangan dan Kritik Arsitektur) ITS Surabaya, yang sedang menulis beberapa buku (termasuk Buku 15 Cerita), Dosen (UKDC dan UPN Veteran Jatim Surabaya), dan Dalang Wayang Arek (meskipun jarang manggung, hehe)
Setelah membaca 99% The Guild, rasanya saya ingin cepat-cepat datang untuk melihatnya secara langsung sebagai experiencing. Dari deskripsi sampeyan, saya rasa ini studio yang hidup, yang lahir dan berproses dari pergulatan, dan layak untuk diapresiasi publik. Yang setelah minggu sore besok segera berubah menjadi 1% The Guild, karena arsiteknya Bunuh Diri (hahaha..), dan publik dengan leluasa akan menafsirnya. Ini saya singgung juga di paparan saya untuk acara minggu sore besok.
sampai ketemu di acara besok,
salam,
Anas Hidayat
Dear Mas Anas Hidayat yang baik,
Mohon maaf saya baru membalas surat ini. Hari senin dan hari selasa sampai rabu biasa menjadi hantaman terbesar dalam kondisi berpraktek, kita punya inisiasi energi selama hari – hari awal minggu supaya bisa beristirahat di akhir minggu. Sebenarnya dipikir – pikir hidup itu sederhana, dari senin sampai senin, selasa sampai selasa, rabu sampai rabu, dan seterusnya, usaha kita menjalani hidup – hidup ini ya usaha yang untuk bisa hidup saja.
Saya mengidentifikasi wastu miruda dengan njenengan karena memang itu pemikiran, yang saya berandai andai ada pemikiran, perbuatan, hati, setidaknya ini bisa menelisik siapa itu anas hidayat. Mungkin saya ini menurut archilexicon wastumiruda adalah architrance= arsitek kesurupan mas ha ha ha. Terus terang membaca wastumiruda, seperti kembali ke saat – saat subtil, mungkin karena memang ruang hampa itu diciptakan sebagai jeda dalam keseharian, disinilah saya berpikir komunikasi ini menjadi penting.
Minggu kemarin selepas dari Bandung dan Surabaya, saya berkesempatan berkunjung ke satu lakon yang cukup penting, ia bisa kita namakan boss utara selain pendidik utara si David Hutama. Nama si boss ini Sonny Sutanto, unik karena saya menemukan pendekatan yang biasa – biasa dan wajar dalam berproses, beliau memang arsitek yang menangani banyak kasus komersial, namun disitu saya merasakan ada struktur, ada kategori, ada satu pranata yang dibuat dengan baik. Setiap desainer dikotak – kotakan supaya bisa punya otoritas, dan drafter ditempatkan di satu tempat terpusat, si boss ada di tengah – tengah semua dengan akses langsung ke perpustakaan. Detail arsitekturnya diwarnai oleh dekoratif dan quote ada di letakkan di courtyard yang menyatukan fungsi – fungsi yang ada. Yang menarik adalah buku yang diedit oleh David Hutama. Karena buku ini menunjukkan kekompleksitasan profesi arsitek kita di dalam rentang waktu 20 tahun terakhir, sehingga informasinya bisa digunakan untuk kita – kita yang muda ini dalam menapaki profesi kita yang tidak teratur, dan lemah akan apresiasi dalam dan luar.
tampak depan kantor Sonny Sutanto Architect
area foyer sekaligus tangga dengan desain kulit terracotta
Proses Pembangunan yang ditampilkan
Ini kontras dengan buku yang baru dikeluarkan oleh Andra Matin, yang simplistis, minim akan informasi, hanya berubah interview satu arah dan minim akan penjelasan gambar dan tekstual. Saya kemudian bertanya – tanya, apakah ini karena cepat – cepat, atau memang saja karakter andra matin yang simplistis dan easy going ataupun yang hangat dan cepat dekat dengan siapapun. Mungkin inilah contoh adanya dua tegangan yang berbeda akan pola pikir yang berbeda juga, saya yakin proses pergumulan perumusan buku Sonny Sutanto sangat besar, dan membutuhkan waktu yang lama. Selepas dari berapapun biaya dijual bukunya, yang saya pikir itu lebih ke dalam hal – hal bisnis dan tidak esensial dalam membicarakan bagaimana satu karya itu dibedah. Saya harus memberikan apresiasi kepada mata air yang mulai muncul satu persatu dengan tegangan – tegangn berbeda . Sayangnya si pendidik utara ini sebentar lagi pergi ke negara kuda besi, saya harus kehilangan teman sepemikiran, oleh karena itu mas Anas jadi semacam, penyegar, semoga kita bisa mendapatkan penyeimbang dalam alfa yang muncul kembali untuk membentuk omega yang akan datang sebentar lagi.
Kembali ke obrolan surat- surat kemarin, kebetulan saya diundang bu Sarah ginting dan Chobib untuk berpameran di Indonesia Land, membuat instalasi lagi. Sebenernya saya capek berpameran ini, karena kondisi praktek yang sudah menyibukkan, namun berpikir juga bahwa ini adalah satu momentum untuk berbagi ke publik, disaat pameran ada kita bisa punya agenda untuk berbuat kebaikan.
Saya berpikir ya mas, kalau – kalau wastumiruda mau turun gunung, ayo kita pameran bersama. saya ajak mas anas hidayat kolaborasi, saya sudah bicarakan dengan Sarah dan Chobib, dan mereka manggut – manggut excited melihat architrance = arsitek kesurupandi depan mereka sepertinya ha ha ha. Kalau mau ya, nanti disiapkan ya text ataupun pemikiran, tentang wastumiruda, kebetulan kita punya banyak jejak – jejak kehidupan di studio saya, jadi mungkin setelah pavillion sumarah kemarin, mungkin bisa jadi kita bisa buat satu instalasi hyper small, hyper complex, maze, terbuat dari kotak – kotak rubik cube, dimana orang masuk diberikan jalan 60 cm, pas tidak lebih tidak kurang, mengikuti alur yang sebenarnya pengunjung tidak mengetahui apa akhirnya. Itulah cerminan budaya kita mungkin, komplekse, disorder order, paradoks. mungkin tekstual bisa mengiringi dan dalang pun bisa mulai berpantun, berdongeng untuk cerita – cerita di masa lalu masa kini dan masa depan.
O Iya hari ini akan diatur sama kantor saya ya untuk tiket surabaya jakarta, dan akomodasi selama disini satu hari, monggo mawon kalau ada usulan mengenai acara, saya buatkan publikasinya 1 2 hari kedepan soal mas anas ya, apa bisa dikirimkan profil njenengan, ya saya buatkan judul lecturenya 1 % yang dinanti, kalau mau diganti silahkan ya:
ada 2 hal yang mau saya share lagi, pertama tulisan soal 99% theguild, dan ada breakdown acara dari website, saya tuliskan satu – satu dibawah ya, yang ketiga ada di attachment itu brosur untuk acara kita di hari minggu
1. 99 % The Guild 99% The Guild adalah refleksi sebuah pemahaman terhadap kondisi dua jalan pemikiran proses desain yang paradoks. Pemahaman pertama diukur dari pergumulan manusia tentang mencipta ruang dari bentuk – bentuk yang sudah pernah diketahui dengan kombinasi bentuk baru yang kemudian dicari kembali kegunaannya dari pengalaman – pengalaman masa lalu. Ini adalah bentuk pelatihan tanpa henti sehingga terkulminasi di dalam momentum begitu desain itu diciptakan sesuai citranya dengan perjalanan panjang. Ini adalah soal definisi sekaligus fungsi supaya mempunyai nilai kejujuran dalam produk dan proses. Disinilah proses kreatifitas selalu berusaha menembus batas dari batasan yang mengelilinginya dari angan – angan dari arsitek menuju coretan garis, seluruh aktualisasi pengalaman dalam coretan – coretan garis pertama, kedua dan seterusnya.
Pemahaman yang kedua adalah ukuran hubungan manusia dari dalam ke luar. Ini adalah cerita bagaimana memanfaatkan segala keterbatasan lokasi, juga manusia – manusia pembuatnya, lokasi dan cuaca yang ada , dan manusia – manusia yang akan menggunakannya. Disinilah ada proses negosiasi dari keterbatasan sumber daya, waktu, dan lebih – lebih lagi keterbatasan pemikiran dengan orang – orang sekitar, disinilah adanya proses transfer ilmu pengetahuan, yang disengaja ataupun tidak disengaja dalam satu proses yang alamiah dalam proses mencipta arsitektur yang rasionalis juga impulsif, dan intuitif.
The Guild dimulai dari , sebuah studio di dalam garasi berukuran 3 m x 10 m yang memulai titik pertamanya, menorehkan garis, dari satu ruang yang bercat hitam minim akan cahaya, yang memiliki keterbatasan ruang ergonomi yang ekstrim di rumah orang tua saya, dimana batas nyata – nyata terlihat mewarnai derap langkah kawah candra dimuka tersebut . Garasi Itu adalah tempat dimana desain digodok, dari mentah menjadi matang menanti supaya daya energinya bisa diledakkan dalam kekuatan tangis dan tawa dalam kenangan yang sudah menghujam jantung pikiran dari senin menuju senin, dari subuh menuju subuh, dari senja menuju senja, dari hari raya ataupun hari – hari biasa. Kemudian pertanyaan muncul mengenai apalagi bentuknya setelah babak pertama selesai dan babak kedua siap dimainkan ketika memang waktunya sudah tiba untuk pindah ke tempat yang baru.
Proses desain The Guild dimulai dari sebuah kombinasi program rumah, kantor RAW , dan perpustakaan arsitektur omah library yang didesain berupa kotak berukuran 12 m x 12 m menggunakan grid 6 m dengan perhitungan untuk mengurangi sisa bahan konstruksi baja, dengan teritisan panjang, kantilever baja berekspresikan semen, kayu, baja, dan material yang transparan. Permainan terbuka – tertutup didasarkan atas pertimbangan skala ruang dan pertimbangan untuk untuk menangkal cahaya matahari di antara jam 9 pagi sampai jam 4 sore dengan perhitungan bahwa setiap material tersebut punya thermal konduktifitasnya sendiri – sendiri. Pertimbangan tersebut terkulminasi menjadi perhitungan bentuk dari ketinggian, besar dan kecil, penempatan dan sudut – sudutnya pada sisi atas bangunan, pada sisi kulit luar bangunan.
Omah library diletakkan di sisi terluar, perimeter dan setengah di bawah ketinggian 0.00 karena pertimbangan akses publik dan kebutuhannya yang membutuhkan kondisi untuk menjaga buku – buku dari terik matahari, dan temperatur yang konstan dengan sesedikit mungkin menggunakan penghawaan buatan dengan akses akhir adalah sebuah ruang penyatu dari ketiga fungsi yang ada.
Bangunan dibagi kedalam zona publik dan privat seiring dengan bertambahnya lantai, makin ke atas makin privat, dengan pertimbangan akan bangunan yang modular, sirkulasi yang memudahkan orang untuk menggunakannya sesuai dengan 3 program : perpustakaan, studio, dan kediaman. Studio RAW didesain dengan bentuk yang kotak total 3 lantai dengan floor to ceiling sebesar 2.1m dengan permainan solid void, lengkung dan bidang lurus untuk memecahkan floor to ceiling yang cukup pendek. Area desainer, associate, dan administrasi disatukan dengan satu buah ruang tengah berukuran 3 x 6 dengan mezzanine di tengah – tengahnya yang 3 fungsi ini adalah jantung dari kantor arsitek. Ruang prinsipal ada di daerah dekat dengan ruang keluarga, terpisah dari kantor dan disinilah tempat pertemuan kantor dengan pihak luar menghadap ke taman yang merupakan ruang penyatu dari OMAH ruang keluarga dan studio RAW
Akses langsung dari studio RAW dan ruang keluarga yang multifungsi dihubungkan dengan foyer 2 x 2 m dengan pintu masuk yang sama, menunjukkan bahwa orang – orang yang bekerja di dalamnya diterima sebagai satu keluarga besar. Hanya ada satu kamar tidur disini, yang memiliki ruang keluarga sendiri di lantai atas dari ruang keluarga berukuran 4 x 12 m.
Terkadang bisa terlihat ada kenakalan – kenakalan bentuk yang tidak terduga, sebagai interpretasi bahwa arsitektur juga tidak lepas dari mimpi, dan coretan – coretan garis lengkung dan tegas yang, bahwa aktualisasi adalah sebuah fungsi juga dengan takaran yang wajar. Pengolahan – pengolahan detail selanjutnya adalah bagaimana mengaktualisasikan ke dalam fungsi bagaimana struktur dari detail berdiri, bagaimana kemudahan proses perawatan, dan bagaimana menambah efisiensi seperti memperkecil beban dengan memilih material dan bentuk sambungan yang tepat untuk memperkecil biaya dan menambah kompleksitas bahasa detail dalam bentuk yang terpikirkan dan terkomunikasikan dengan tukang – tukang dari waktu ke waktu. Intensi dari detail yang didesain ada 3 , yaitu desain berusaha untuk memperkecil volume barang yang dipakai (efisiensi biaya) , memperbesar celah – celah kretifitas pekerjaan tangan (ketukangan) , memperingan berat dari volume yang didesain (kemudahan prefabrikasi).
Sistem pengairan berjalan secara otomatis, dengan menerapkan zero greywater run off, dan zero storm water run off yang berarti seluruh air ditampung ke dalam bak retensi dengan kapasitas 8 m3 dan bak resapan berukuran 2.75 x 3 m dengan kedalaman 1.5 m yang menyumbang resapan juga ke tetangga yang diletakkan di depan lokasi The guild karena permasalahan banjir yang dihadapi pada saat hujan tiba, menimbulkan genangan air sekitar 500 m2 dengan kedalaman 10 cm di jalan depan.
The Guild adalah sebuah permulaan dari sebuah kantor yang mungkin biasa – biasa saja, desain kantor ini juga tidak spesial, seiringnya waktu, proses, pengunjung, orang – orang pernah , sudah, dan akan datang, menggunakannya dalam porsinya masing – masing bebas untuk berintepretasi, berkhayal, ataupun sedih, dan juga tertawa dalam kesehariannya yang wajar. untuk memberikan pemikiran interpretasi yang tanpa dibuat – buat, dengan seminim mungkin gincu dalam canda tawa ataupun celotehan yang merupakan identitas dari tiap orang – orang yang unik – unik. Disini ’The Guild’ menekankan arsitektur adalah pengajaran semesta mengenai mendapatkan teman, mencipta ruang, dan melepaskan diri sendiri dalam satu proses yang penuh pembelajaran untuk mengenal batas, dan dunia luar tanpa perlu mengharapkan apapun, apalagi tepuk tangan yang megah.
Kita sendiri perlu berkaca cermin dan mata pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kesulitan, problema, dan nafsu yang membelenggunya dengan tertawa dengan mukanya sendiri.
Di dalam dua pusaran pemahaman yang paradoks : dari luar – menuju dalam, dari subtil menuju kontras, dari angan – angan menuju kenyataan, arsitektur the guild kemudian bisa terbentuk. Rahayu kemudian muncul, untuk menemukan keseimbangannya.
Kata 99% berarti adalah sebuah proses yang hampir selesai dimana semua karya akan mengalami hal serupa dimana 1% adalah hasil interpretasi dari pengunjung, pengguna, dan 99 % adalah hasil dari kerja keras seluruh pihak dalam proses pembuatan. 1% dibutuhkan untuk melengkapi 99% menyadi 100 % dimana kekuatan kritik, interpretasi, dan gelak tawa dilantunkan untuk menandai perasaan cinta ketika satu karya dinilai, dirubah, dan diredefinisi lagi untuk kebutuhan di masa depan. tanpa 1 %, 99 % tidak akan menjadi 100 % oleh karena itu, karya dari arsitek seharusnya terbuka dalam produk dan proses untuk semua orang untuk melengkapinya.
Realrich Sjarief
2. ini break down acara dari website ya : 99% The Guild : Open House
We Glady invited you to come to 99 PercentThe Guild : Open house, new home of RAW, Omah Library, and Residence of realrich and family . Please RSVP, to book your schedule, in
There will be a lecture by Anas Hidayat titled 1 percent yang dinanti, about the death of the architect after the work is born and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.
The term 99 % is a process of almost finished which every work is always faced where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.
invitation card will be given after RSVP because the space is limited. Thank you, see you allDear Mas Realrich Sjarief yang budiman,
Mohon maaf saya baru bisa membalas surat sampeyan hari ini, kemarin saya baru dari Purwokerto, Jawa Tengah naik KA bolak-balik, untuk mewawancarai salah satu arsitek yang masuk dalam Buku 15 Cerita.
Kembali ke pembicaraan awal kita. Sampeyan sudah membaca Wastumiruda ya, hehe. Dan sampeyan malah mengidentikkan saya dengan Wastumiruda, hmmm.. sebenarnya tidak terlalu identik sih, meski saya akui bahwa saya menggunakan Wastumiruda sebagai corong untuk mengungkapkan ide-ide dan pemikiran saya.
O iya, saya sebetulnya sudah lama mendengar nama sampeyan, tetapi hanya sekilas saja, seperti orang berkendara di jalan dan membaca iklan-iklan yang bertebaran, hanya mata yang membaca, tetapi tak membekas di hati. Baru setelah bertemu hari Kamis minggu lalu, saya baru tahu bahwa sampeyan bukan arsitek sembarangan. Apalagi ketika sampeyan menunjukkan website RAW yang berisi tentang karya-karya/konsep/pemikiran/ide-ide sampeyan. Saya semakin penasaran, saya buka lagi tentang karya sampeyan 99% Sumarah, yang terinspirasi dari candi-candi, tetapi menggunakan material kontemporer, dengan filosofi yang membikin saya berdecak kagum. Sebuah bibit hermenutik yang dahsyat, ketika arsitek menyerahkan karyanya sepenuhnya kepada publik untuk ditafsir, dibaca dan dinikmati, dan sumarah dalam menerima konsekuensinya. Mungkin ini sebuah bibit “bunuh diri” juga, wujud kerendah-hatian seorang arsitek.
Jika saya tinjau dari Archilexicon-nya Wastumiruda, sampeyan bukan hanya seorang arsitek, mungkin malah Architecxt, (dengan c dan x sekaligus), karena sampeyan dengan fasih bisa mengungkapkan ide-ide dan karya-karya sampeyan dalam tulisan, yang mungkin pada saatnya nanti menjadi teori-teori yang berguna bagi kemajuan arsitektur kita. Sampeyan juga seorang Bibliarchitect (arsitek yang bergelut dengan buku-buku) sekaligus Archiographer (yang pandai menjelaskan karya). Juga Architectonaut (penjelajah lintas-jagad arsitektur), karena sampeyan menyukai Yue Min Jun yang menertawakan diri sendiri dalam karyanya, yang juga tahu tentang Sudjojojo, Affandi atau Basuki Abdullah.
Ketika kita saling berbalas surat seperti ini, saya bisa berefleksi dan juga mengasah pemahaman saya. Semoga menjadi awal yang baik. Baru kali ini saya mendapat kawan arsitek yang bisa saling-berbalas dengan surat-surat panjang yang penuh makna dan perenungan.
salam hangat,
Anas
Dear Mas Anas Hidayat yang baik,
Saya seakan menemukan lakon baru dari lembaran – lembaran yang terbaca, cerita mu bukan cerita ngawur, cerita yang menunggu untuk memiliki sebuah keadaan sebagai landasan, seperti sebuah alegori dalam arsitektur yang belum siap untuk dinikmati, saya yakin 200 persen perlahan – lahan buahnya akan tumbuh, dan yang sampeyan tebar adalah benih – benih kebaikan dalam profesi arsitek yang serba individualistis, egois, dan mengecewakan sekarang ini, keadaan apresiasi homogen, dan rendah akal namun tinggi nafsu. Inilah cerminan budaya kita yang semu, kita perlu berkaca pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kebudayaan yang membelenggu kita dengan tertawa.
Apa ya, kejujuran menjadi satu yang dinanti – nanti, apalagi kritik terhadap diri sendiri. Akan ada saatnya, saya berharap, bahwa keseimbangan akan terjadi, dan kekecewaaan ini terobati. Setidaknya saya sudah menemukan salah satu teman seperjalanan, dengan mengucap syukur terhadap semesta yang sedang tersenyum untuk merasakan hangatnya bumi dan indahnya langit. Emosi dan impuls yang sedang tinggi – tingginya ini akan menemukan keseimbangannya kembali ketika kembali ke jalur praktik dan akademisi, berusaha untuk berbuat yang terbaik yang kita punya demi orang lain dalam keseharian kita yang kita cerminkan dalam laku, hati dan nalar,
Tokoh wastumiruda, yang saya baca bukan menghindar dari permasalahan, namun ia menghindar dari nafsu dunia, dan kemudian mencari jati diri ke universalan, yang penuh dengan paradoks, akan baik benar, salah benar, lalu, depan, karena semuanya itu benar yang membedakan adalah sikap kita menebarkan kebaikan yang hakiki. Kita dianugerahi ekpresi seperti affandi, daya karya seperti basuki abdullah, dan semoga hati seperti sudjojono, sebagai pramnya sastra, sama seperti yang mas perbincangkan. Kemarin saya perbincangkan pertemuan kita, kepada adik – adik saya di kantor, dan saya pikir, ini menarik, karena Wastumiruda akan datang ke Jakarta, untuk merayakan kematian kematian. Ada perasaan gegap gempita, karena ada perayaan, seperti ngaben di Bali, perayaan – perayaan ini adalah perayaan publik, komunitas, sebagai kesempatan untuk menebarkan nilai – nilai kebaikan.
Saya kemudian bertanya – tanya, apa yang akan terjadi dimasa depan, apa buah refleksi yang akan menghantam kekreatifitasan, nalar rasa dan logika. Apa ombak yang akan muncul, dan saya akan memberanikan diri untuk mengubur diri dan diam, dan menunggu. Satu lakon rasionalistis ada di tangan teman saya David Hutama, dan satu lakon empiris ada di tangan mas Anas, dua pusaran itu, semoga bisa membawa, hantaman terhebat dalam proses berarsitektur ndalem, dengan kesungguhan untuk bisa berbuat untuk orang lain. Ada saya ingat satu lakon, namanya pak Sunaryo mas Anas, saya ingat ini gara – gara mas juga, karena bertemu bu Sarah Ginting, dan Chobib Duta Hapsoro. Dia matahari dari Priangan selain mas wastumiruda ada juga David Hutama, pendidik dari utara, hanya karena dia tinggal di Jakarta Utara ha ha ha.
Sewaktu itu ia sedang membuat WOT Batu dan kebetualan ndalem diundang untuk menyaksikan 50 % dari karyanya pada saat itu, dan seperti pertemuan kita ini, semesta berbicara. nanti saya kirimkan, ndak untuk niat apa – apa, kalau sudah seneng ya begini tingkahnya ndalem mas,
Selamat pagi salam untuk keluarga njenengan,
Salam Hangat
Realrich
Mas Realrich Sjarief yang baik,
Saya sangat tersanjung membaca surat sampeyan. Saya pun sebenarnya ingin membuat sebuah tulisan tentang pertemuan kita kemarin, tetapi masih sebatas angan-angan, dan kemudian malah keduluan oleh surat sampeyan. Ah, sampeyan teryata lebih “Koprol” daripada saya, hehehe…
Selama sepuluh tahun lebih saya berdiskusi dan mengungkapkan pandangan saya dengan para arsitek, baru sampeyan yang secara lugas menyatakan: sangat menarik! dan itu membuat saya kaget setengah mati. Kalau dalam pola pikir Jawa saya, seperti ada Hawaning Bawana atau “Kekuatan Semesta” yang mempertemukan kita, yang semoga terus menggelinding melewati ranah-ranah baru yang lebih menantang…
Mungkin nanti akan saya tulis di blog saya dalam bentuk cerita dengan tokoh bernama Wastumiruda (wastu=arsitektur, miruda=minggat/menghindar). Meskipun blog saya ini kurang terawat, tetapi paling tidak mas Realrich bisa membaca cerita-cerita “ngawur” saya di: https://wastumiruda.wordpress.com/
salam hormat,
Anas Hidayat
REK! REpublik Kreatif
Surabaya
Kamis 02 Juni 2016
Dear Mas Anas Hidayat yang baik,
Saya habis membaca tulisan – tulisanmu di buku arsitektur Koprol di kereta perjalanan dari Bandung ke Jakarta , dan kebetulan ada 2 tulisan yang menyentuh hati saya. Untung saja kita bertemu di satu pagi di hotel Artotel milik keluarga Radjimin dan rekan – rekannya, kita duduk membicarakan hal yang lain, dan kemudian kita bergurau kemudian kita berdiskusi mengenai hermeneutika dalam arsitektur, saya bersyukur diperkenalkan oleh Andy Rahman dalam pertemuan di pameran studio ARA Intimacy kemarin di hari Rabu tanggal 1 juni 2016
Baiknya saya sudahi kronologis pertemuan kita dan, kembali ke tulisan tersebut, Tulisan yang pertama Hikayat Gereja Pohsarang, Kediri, dan dan yang kedua Pondok Pesantren Turen, Malang: Arsitektur sebagai laku. Ada beberapa hal yang menarik, pertama soal lokalitas, dari tulisan ini saya menemukan teman seperjalanan yang satu nafas, setidaknya dalam apresiasi dalam bentuk tulisan. Di tahun 1939 gereja Pohsarang selesai dibangun, dan itu adalah salah satu karya yang melewati jamannya, mencoba untuk menggali kreativitas terhadap budaya setempat, hasilnya adalah arsitektur yang tidak lekang jaman, mana saya tau bagaimana reng itu bisa digunakan sebagai batang tarik yang menumpu genteng. Bentuknya yang cantik, menandai hasil pergulatan Maclaine Pont terhadap keterbatasan. Disinilah usaha untuk menerobos batas itu terlihat dan ada warna yang serupa dengan stadion yang didesain Frei Otto di Munich dalam diskusi dengan Undi Gunawan satu sore di kampus UPH, disinilah saya percaya arsitektur tidak terbatas akan besar kecil. Ini hanya satu butir dalam banyak sekali butir konsep yang bisa ditelaah di Pohsarang dari macro menuju Micro yang masih tersisa, yang kemudian kita mencoba membayang – bayangkan di jaman itu seperti apa kesulitan dan bagaimana konteks bisa direkonstruk untuk mempelajari apabila kita menghadapi kesulitan di jaman sekarang.
Kemudian tulisan kedua, menjelaskan tentang satu pondok pesantren di Turen, Malang, menandakan bahwa ada juga arsitektur yang tanpa turunan, ada di tengah – tengah kita. Saya mencari – cari terus, dimana di bumi nusantara ini, ada arsitektur tanpa turunan, sebagai hasil dari manifestasi pekerjaan tangan yang tumbuh perlahan – lahan seiring manusianya tumbuh yang ternyata ada juga di Nusantara, di sebuah pesantren.
Untung saja saya membaca 2 tulisan ini sekarang, semesta sedang berbicara karena momentumnya tepat dimana kalau – kalau ada dua pusaran di dalam arsitektur Indonesia. Dimana saja kebudayaan akan paradoksial, dan baru saja pak Cosmas Gojali, dan bu Diana Nazir melontarkan temanya di bravacasa, Simplexity dan Complexity 2016. Arsitektur Jepang, India dan lain – lain mungkin bisa mewakili kesederhanaan (simplexity) dan kemauan untuk kembali ke alam, dan arsitektur barat, bisa mewakili kekayaan bahasa melalui kompleksitas industrialisasinya, dan kekayaan khasanahnya yang sudah turun menurun di sempurnakan menjadi demikian kompleks dan terintegrasi. Dua buah paradoks yang menggapai keseimbangan itu menghantam bumi nusantara kita. Kalau – kalau saya ibaratkan, Avianti Armand bisa saja reaktif, ataupun besikap fenomenologis dengan tulisan – tulisannya, ia akan berdiri di tengah pusaran itu, sedikit bergoyang untuk mencari keseimbangan, dan menyalurkannya sedapat yang ia bisa ke arah yang membutuhkan. Namun Mas Anas yang ada di tengah pusaran paradoks, tidak berdiri, namun sedang tidur terlentang, di tengah pusaran tidak bergoyang sama sekali, menunggu orang – orang mengangkatnya dengan tetap tidur terlentang kemudian dalam tulisannya mas Anas membuat saya menyadari bahwa arsitektur memiliki banyak sudut pandang, dan tidak simplistis. Disinilah arsitek mungkin akan mendapatkan kembali kejayaannya, untuk memiliki otoritas karena gayung itu diberikan sukarela karena publik menyadari bahwa ia memang layak dibuat.
Oleh karena itu, saya tunggu mas Anas di Jakarta untuk turun gunung, untuk merayakan kematian arsitek setelah karyanya selesai, seperti kematian seorang penulis ketika tulisannya sampai ke tangan pembacanya sebagai refleksi untuk membuat karya yang lebih baik lagi.
Situated in the increasingly crowded gated community at West Jakarta, Indonesia, the 110 sqm design architecture office “RAW architecture” occupies a 150 sqm in 375 sqm plot of land and built at the periphery and inside main house’s garage. Reflected by its name, RAW architecture office, the finishes is bare and using natural material. Size-wise it is extremely efficient, and relatively small, but its dotted exposed plywood facade combined with exposed concrete, black painted wall gives it a distinctive look yet privacy from outside the gated neighbourhood.
Plan scenario 1
Plan scenario 2
Mezzanine plan
The office is divided by 2 main structure located at the garden and the garage of the existing house. The first structure is meeting space which made by plywood structure located at outdoor The office has one meeting room dedicated for OMAH library, which is made by plywood which housed all of the architecture books, OMAH is community based library and sometimes is used for hosting architecture talks and discussion. OMAH is made by plywood forming an arch as its geometry, This 2.4 m x 8.0 m wide span arch pavillion is made entirely from prefabricated plywood. The office was built by local craftsmen. The design was prefabricated in the workshop by creating 120 (200 mm x 400 mm x 600 mm ) boxes, and 120 leaning 3 equal trapezoid boxes for arch modulethe detail is exercised on spot by the plywood by bolt ,ring, and hand in time of 1.5 week construction.
The fabricated system is designed to be built within 2 weeks accommodating efficiency, affordability, movability as temporary structure without using many people and can be built by hand with minimum tools. You can see omah’s program in here http://www.omahlibrary.com
Section
the second structure is working space located at the garage of the main existing house. The office space is designed based on efficiency to create intimate feeling for designers working on intense architecture projects. The working space has no receiving area, no permanent wall. A simple foyer and a big openingwith generous footwear storage- guests are to take off and store theirs there before entering-precede the lounging area. After the entrance, the separation between technical and designer also takes some importance its final layout is the result of few adjustments based on the designer and technical’s domestic habits. The only enclosed space in the first story is administration room study, which doubles as a office storage. The second story mezanine area is more private spaces to store vast material library, and some drinks for chill out time.
RAW has been arranging summer architecture fellowship program which invites 50 people per year in South East Asia to be trainee, learning skill of programming, designing space, and more is to understand the local craftsmanship available developed in the office. http://raw.co.id/summerarchitectureworkshop/
The office shows example of small home office in Jakarta tries to explore design in its space situated in very limited space in Jakarta.
RAW is like a roseto that believe on the workshop between the craftsmen and designer for having the best solution in the design, I want to create roseto that is intimate, fun and breaking the boundary to create innovation as much as we can.”
Realrich Sjarief.
Architects : RAW architecture
Location : Jakarta, Special Capital Region of Jakarta, Indonesia
Architect in Charge : Realrich Sjarief
Area : 150.0 sqm
Project Year : 2015
Photographs : Mario Wibowo , Courtesy of RAW architecture
Manufacturers : Asahi, Bloom, Borobudur, Dekson, Dulux, Jayaboard, Mortar Utama, Toto
From the outside, the design exercised introvert expression, blocked by layers of solid wall, humble with existing with tropical canopy as expression. The curve, circular expression is blocked by the wall and strange library as periphery.The transparency and more complex form emerge when we enter the building passing the public through more private space.
The building consists of planned intimate floor to ceiling, and high ceiling when its necessary for possible arrangement of the space to be public space which happens in principal and living room. The sequence and view broken down by intimate vista, curve, and solid void interplay framing the skylight.
The Ground floor is the arrival when the residence and studio people coming in one entrance. Meanwhile public who want to come to strange library is separated at the periphery of the cluster and ended in the landscape amphitheater, the heart of the complex. The sequence is interplay with axial vista, private – public, and functionality of the space.
99% Sumarah adalah refleksi dari dua buah jalan dalam bepikir mengenai definisi sebuah kekuatan sebagai seorang manusia. Pemikiran pertama mendefiniskan kekuatan sebagai sebuah kesempatan untuk menang, bagaimana untuk mendapatkan kekuasaan, dan untuk menjaga kekuasaan. Instalasi ini bertujuan untuk memberikan pemikiran interpretasi, tanpa pernah memberitahukan secara ekplisit, pengunjung harus mengunakan ide ide mereka dan pengalamannya untuk mendefinisikan hal tersebut. Hal itu lah yang membuat pemikiran kedua, yaitu Sumarah menjadi nyata. Sumarah adalah pengajaran spiritual dari jawa. Sumarah adalah seni untuk berpasrah diri, dimana menyerahkan dirimu kepada semesta. Sumarah adalah penyerahan tanpa berharap apapun, dimana rasionalitas menjadi lebur dan tidak meminta apa – apa, menerima keadaan apa adanya. Inilah sebuah kondisi yang paling alamiah.
Sumarah adalah instalasi yang sederhana yang terdiri dari 300 buah kotak berukuran 300 x 300 x 600 mm yang ditumpuk – tumpuk menjadi ruang yang sederhana namun terlihat rumit. Proses pengerjaannya sederhana memakan waktu kurang dari satu hari. Struktur tumpuk adalah sebuah cara yang primitif untuk membuat ruangan, dengan menggabungkan kurva parabolic dan kurva catenary, bangunan ini bisa menahan bebannya sendiri dengan sambungan sesedikit mungkin tanpa pondasi. Sumarah terdiri dari dua buah pintu keluar masuk yang membentuk siluet kurva catenary dimana ketika pengunjung masuk, akan dipertontonkan kehidupan alam, ikan dan tanaman sebagai simbol kehidupan. Dari tampak luar, instalasi ini akan terlihat kompleks membentuk bentuk bukit yang ditumpuk dari material nano technology. Namun dari dalam, memberikan kompleksitas, kehidupan itu sendiri tidak ada yang pernah sama, mendekati kondisi alam yang kompleks dan subtil itulah konsep mendasar dari ruang yang terbentuk. Tanaman – tanaman akan ditanam di udara segar, dan ikan – ikan akan dilepaskan di perairan yang segar sebagai refleksi dari kehidupan yang begitu indah.
Last few days, I came to ARA exhibition intimacy. A strange feeling, that I got when I entered their new office which was at that time became the gallery space. Erel, Goya, Iwan asked me to come and share about architectural pedagogy in ARA’s Intimacy exhibition. The question raised in my mind , do we need pedagogy, yes off course we need it, but how to create the good practice to transfer the knowledge between the people to the other people, old to young, practician to academic, academic to practician.
Then, this story began,..
Defry Ardianta as moderator of the discussion
The story started from the breed of two type of pedagogy, one is empiricist, about learning what is already there, the joint,detail, the approach which was proven and second is rationalist view, creating something new which the solution is fresh, and new. I thought probably we are all finding a roots for being romantic, empiricist while trying creating ratio for our contemporary practice as in our world, both of the them are paradox when it came to reality. It is normal to be equilibrium, paradox is in the need, knowing true and false is needed to get self criticism, without self criticism there is no heart of pedagogy. This is the first point. To be able to get self critics, we need to be open ,and honest. ARA wanted to be honest by opening their studio, sharing their story, and this intimacy, which means getting close to, is one of their agenda, getting close to creating honest story, honest relationship, honest space of culture sharing and learning. Even there are some notebook consists of communication between principals, contractor to see, to show a high grade of transparency even though the message is not clearly noted, why do we need to see the notebook, is there any something important behind it, what the message is can not easily understood by visitors.
I walked to the entrance,and seeing the note by Ayos Purwoadji, seeing the agenda, setting the frame to be judged. The exhibition started by a series of projects which was broken, dismantled into several smaller block, people can play the massing to create new composition, then they had research about some of the circulations of the building which is abstract. There was initiative to gather elementary kids to play with their massing to show that architecture is fun. The approach of the exhibition is quite unique, there are interaction between the object becoming the act of playing in the very creative side of the design iteration.
When we started to mold our ground creating the similar understanding, about problem, then discussion happens. The collaborative design, was essentially designed for working in more complex project, the more we have to open to other party, the more we have to collaborate especially to structure, mechanical, quantity surveyor, project management, builders, and at the end the collaborate with peers, assistant as a part of body of the firm. The collaboration is the take and give relationship, the act of speaking and the act of listening. There is paradox to create equilibrium, this exhibition is about creating equilibrium of getting close to by creating the same domain to discuss architecture.
As a part of the graduation, transfer knowledge, there will be camariderie among the collegues, which are normal. leaving good memories of practicing architecture. In the ARA Intimacy Exhibtiion at the end of the room, there are relics, property, things that is colouring designer desk, life, creating memory while they worked in the studio. My question expanded about how is the life of their past staffs, designers, what is the relationship between the principals and each of the staff who has resigned. What is their view about architectural pedagogy.
Then, the question then raised that is it an important exhibition ? then, what it the quality of this exhibition. No doubt, that this exhibition is a milestone in Surabaya for creating good community initiatives which is needed for appreciating architecture, but as a content, it is only touching the surfaces of studio culture, which is like appreciating beauty by enjoyment of creativity, that we, architect still have our own space, the house of the architect, home of creativity, there are no product of architecture showed in the exhibition, there are no plan, no elevation, no section, no information except concept models and relics.
There were more stark, banal problem or I can say basic problem of our profession which is uncovered such as knowledge development the transfer of knowledge between principals and the designers, the standard of the working drawing, the logic and fallacy of the ARA’s design approach or even some data, statistic about type of contract, way of legal administration, number of working hours, how big the salary for junior architect and architect or even the quantity of project which was not built compared to the project which was built.
Probably it’s a too much request for this exhibition and expectation for ARA and i’m so sorry because i’m getting excited for the fruition of this exhibition, nevertheless It’s was a great starting point, hopefully there will be sequel starting with transparency to uncovered at least basic problem. There are always the alpha or beginning of each process, and this is a brilliant start or I can assume promising start of the good pedagogy starting at the heart of pedagogy, an attitude to be honest with intimacy. Reflecting on ARA’s intimate exhibition, we can be optimistic that in few years, hopefully there will be hearted community and the appreciation to architecture is a way more higher than before.
Mondrich, my little brother is getting married with Jessica, I hope the best for them.
I heard this song written by Putut Pudyantoro in their wedding titled Kasih (love) the song is beautiful and as a reflection that our life is filled with love.
“Andaikan aku fasih berbicara,
Namun tak punya cinta kasih,
Ku bagai gong yang bergaung.
Andai imanku mampu pindahkan gunung,
Namun tak punya cinta kasih,
Ku tiada berguna.
Kasih itu sabar, murah hati,
Percaya, tak angkuh dan tak dengki.
Kasih itu tak memegahkan diri,
Kasih itu kekal serta abadi.
Andaikan aku mendermakan hartaku,
Namun tak punya cinta kasih,
Tiada berartilah aku.
Kasih itu sabar, murah hati,
Percaya, tak angkuh dan tak dengki.
Kasih itu tak memegahkan diri,
Kasih itu kekal serta abadi.”
Rio has married with Mega now, I do hope the best for them as well. :)
I walked quietly in the courtyard of the guild. It was a rainy day, my mind was thinking hard, deciding things was not easy. My body was uncompromised with my thinking at that time because I was really tired, confused, and not thinking clear the situation around me made this mind wondering about what do I want for people, what is the priority about work, life and love. This situation is happening in one project in one sports complex in Jakarta. There are 5 conditions happening that made me leave the project after we finished the design.
So there was a story when I was in the meeting with several architects and operator of the complex, which means discussing the project with deep thoughts and transparency because it is a public project. I asked the professionalism of being an architect to the parties because the first, of course that we need brief, and we need the standard operation of procedure of the sports complex. There is not any of that kind of thing, the brief was poorly prepared by verbal and the design was in the need to finish in several days, it’s like doing sprint, and I was ready with my team to answer the brief. I thought that it was normal for doing something like there is no schedule and there is no initial budget in a public project, the project was started in the beginning of March as far I can recall my memory. Each week became very disorganised, there was no proper brief, the discussion about the budget was not with chemistry. The intent of the project was very heroic in a way that there is no initial budget, and there is no schedule, that is the first and that is the second, and I still think, it is okay, I did it because of the dedication for this architect profession. That is the first and the second.
I was thinking and asking about the responsibility becoming the architect, that in the public project, the selection need to be fair, and judged by the jury, or at least I hope being selected meaning by capability not by because I know some people in the league. I hope that there was a letter, or public announcement, because by having that, people can start an open judgement, I still think it is okay, I did it because the dedication for this profession. That is the third. Then, The project was exercised in two and half months already and using our resources, I was exhausted and my team was exhausted, we didn’t have the resource anymore to work on that project which has cost us 100 million in pay bill and thousands of working time in the team. The three conditions still happened, no budget, no fixed schedule, no public announcement. I was thinking how can I pay the bill, so I need to find projects, calling for friends who can give us work. They were glad to support us, and we can run our projects.
Then, I was called in one afternoon that tomorrow we have to attend a meeting, and there is only very short day to review the documents, the budget prepared by others. The drawing needs to be prepared consists of structure, mechanical, and architecture in the level of working drawing with no budget, and we need to review and prepare. At the end, I as the architect need to sign to that documents. There is small response among the team member of architects, it’s been said that we don’t complain, we just do the work, and everything needs to be done. I was thinking if we were given only 1 – 2 days to review the document, and the situation always happening like this, is it the right way to do the job ? Can I be responsible for this document ? Have we completely checked it ? or Am I in the middle of the politic’s ripple ?
I remember one discussion with David, he said “You need to drop that project Realrich”, my friend, David talked to me in one evening in WhatsApp. “There is no need to sacrifice for you office and your family, this is not your battle, this is the battle of more senior architect who has established, but you are such elves kind like what Ary said” he mocked me. I also remember watching a video prepared by Anis in Omah in Glenn Murcutt’s interview at the end of the interview,
he said: “If you feel it’s not right, and don’t do it.” That is the fourth, there is a huge risk for sacrificing family and my dear firm looking at previous sports complex which came to hand of government corruption watch.
The fifth is about chemistry, there are well said words that we can be the success because of people around us. If there is no budget, no schedule, no honour, huge risk, and it still can be ok, if there is good chemistry, being backed up by good people, good clients, and full of positive energy, far from the blame game.
I discussed with the associates, and they told me that they weren’t happy we were experiencing this project, I tried to explain that It was my first time handling this kinda project, and I was so sorry for experiencing this, and trying to have a better condition in the office. I was so deeply sorry and was so sad because I didn’t like to disappoint them. I thought they need time, and I need time to recover. I talked to the designers, and seems they were okay with it, even though I knew that they were disappointed as well. It’s never been easy. After that, I told Septrio one of my left wing, my intention, he said something that made realise the priority. “Big brother, there are many people here to be taken care other than working on that project”
So finally my walk in the guild was over, In the name of my professionalism, I have done my best and finished the design, and I quit that project because the priority, Laurensia, Miracle, and my dear office, the advisors, the associates, designers, the supervisors, the builders, the librarians I love them, and I care about them. at that time it was 2 am in the middle of the night, Laurensia woke up, and I told her that I dropped the project, she said: “I am happy.” I felt blessed to be surrounded by them, As what the priority was experienced, the true value of professionalism experienced, what can I expect more ! I have learnt so much in this process. God Bless you all.
This is the song for boy and daugher who is innocent and creating lullaby of beautiful life.
There was a story …
Once upon a time a daughter complained to her father that her life was miserable and that she didn’t know how she was going to make it. She was tired of fighting and struggling all the time. It seemed just as one problem was solved, another one soon followed. Her father, a chef, took her to the kitchen. He filled three pots with water and placed each on a high fire.
Once the three pots began to boil, he placed potatoes in one pot, eggs in the second pot and ground coffee beans in the third pot. He then let them sit and boil, without saying a word to his daughter. The daughter, moaned and impatiently waited, wondering what he was doing. After twenty minutes he turned off the burners. He took the potatoes out of the pot and placed them in a bowl. He pulled the eggs out and placed them in a bowl. He then ladled the coffee out and placed it in a cup.
Turning to her, he asked. “Daughter, what do you see?” “Potatoes, eggs and coffee,” she hastily replied.
“Look closer”, he said, “and touch the potatoes.” She did and noted that they were soft.
He then asked her to take an egg and break it. After pulling off the shell, she observed the hard-boiled egg.
Finally, he asked her to sip the coffee. Its rich aroma brought a smile to her face.
“Father, what does this mean?” she asked.
He then explained that the potatoes, the eggs and coffee beans had each faced the same adversity-the boiling water.
However, each one reacted differently. The potato went in strong, hard and unrelenting, but in boiling water, it became soft and weak.
The egg was fragile, with the thin outer shell protecting its liquid interior until it was put in the boiling water. Then the inside of the egg became hard.
However, the ground coffee beans were unique. After they were exposed to the boiling water, they changed the water and created something new.
“Which one are you?” he asked his daughter. “When adversity knocks on your door, how do you respond? Are you a potato, an egg, or a coffee bean?”
In life, things happen around us, things happen to us, but the only thing that truly matters is how you choose to react to it and what you make out of it. Life is all about leaning, adopting and converting all the struggles that we experience into something positive.
160501 “After every storm the sun will smile; for every problem there is a solution, and the soul’s indefeasible duty is to be of good cheer. ” William R. Alger
Last few months, we worked on one prestigious project, that made me mulled. It’s a project which consists of several international consultants, builders, and owner. It has high standard of the way building operates. High standard means a condensed manual consists of hundreds pages for architect to read before working on this project and intense interaction among each parties. There is also high level of technical issues because of project’s nature.
The contractor has been asking clarifications until, for us, it’s not necessary to ask every little step to architect because every information is in the construction drawing. at that time I tried to delegate the job to my fellow staffs, partners because of the circumstances that i had to travel to outside Jakarta. The coordination among consultants, builders, and owner went so bad, so the project did not run very well, there were lacking of coordinations, the team had very low chemistry and it seems that project manager was confused about what’s going on. The blaming game began. I felt it’s unnecessary, and thought that we would drop this project to save our position while our position was still safe.
My mind was wondering about path of life, the raindrops, the fear of becoming someone to be blamed, and the risk of being the care taker. I had to slept in the morning and had difficulty to sleep for several days, Miracle cried in the night time, Laurensia said, “miracle can feel, that his father is in trouble, and has many problem in his mind.”. But, I tried to ask myself, for this project which keep bothered my mind, do I want to quit ? do we want to stop ? off course, there will be comfort zone, but come on, the problem just arise, and suddenly you want to stop. Things became very difficult, because of blaming game began, everybody has fear to action, to take lead, if you take the lead,if something goes wrong, you will be blamed. I was in the fear, I tried to ask my fellow friends, nobody there,
then,
I always remember what Laurensia said to me, when i was down, “Honey, if you want to get stronger, you have to face it, I know you can do it. ” ” I know it is very difficult to face it, meaning that you have to take a risk, but isn’t it same that the time that you came to Indonesia , back from London, or Sydney , or the moment you lost your firm, you finally re run it again. ” We have faced this kinda thing.
Then, after that , I decided, and woke up in the morning, 3 am, read the manual, and reviewing the documents, and start calling clients, consultants, and start to clarify the miscommunication and helping other people in the big team which consists of like 7 parties. Several days were spent in the coordination and clarifications, it surprisingly followed with such a welcoming response from consultants, owners, operators, and the tension was dropped, we started to solve problem and acting like dream team. What I learnt from this process, is simple act, helping others while taking risk to be blamed is giving us, at least for me, happiness, and I feel so grateful because of taking this project, and having this great challenge.
The second story, I had to move to our new home. Our house, named The guild. The guild was still on construction, and we had to move before the house is ready, the boxes were everywhere in the house. Laurensia was stressed in several days, and for our miracle, the dust was much everywhere in the guild , and the bedroom was quite dirty. If Laurensia, Miracle, and me need to move, the office which is located in the garage will also need to be moved, because my work nature which is always overtime in the daily week. We had spent several days for packing and moving our stuffs and whole office, the designers, technicals, admin, whole office family helped much in moving all of the thing and made the guild ready as much as they can.
The garage office interior was moved,
The office family is helping the moving
We finally moved at one bright Sunday evening, in an unready condition, imperfect, or ongoing in construction. We felt blessed, suddenly the situation changed, suddenly we were so happy. We just realised that we were in our new home,
how we should grateful for all of the process.
… I love you Laurensia and Miracle, thank you for all of the office family who helped the moving process, welcome to our home, have a great day for all of you, bless you all. :) look at them they are so happy, and miracle so cute, hopefully he can walk in next few months, so he can explore, new world, new imagination in his life.
20160306 at Home Sweet Home “Gratitude can transform common days into thanksgivings, turn routine jobs into joy, and change ordinary opportunities into blessings. “William Arthur Ward
design has been changing from time to time in every week, there has been iterations.
I am really thankful for all of the situation which is happening around me and family, and beautiful people that I met every day.
In these few months, the economy is quite challenging. I am focussing in small bits design part, and keeping myself busy with upcoming design commission, and ongoing construction. I really want to go to travel to somewhere beautiful, but Miracle is still 4 months old. If we take the trip, he can’t go with us, doctor recommended that his age needs to be 6 months to be safe on the plane. Anyway, what’s happening in these months? Saturday and Sunday are days for Miracle and Laurensia, while sometimes the time is for studio and omah . In these 4 months, Ordinary things happening every day, I love ordinary, three things which are : first old friend, second about Future life, and the third Ordinary design check up.
First, Old friend, first client, Charles asked me to do renovation for bare minimalist few months ago, it’s about the renovation, refining the crown for ME and redoing bare concrete finishes. We did some renovation for his project, I did small bit design for him, landscape, steel perforated plate detail to allow air coming to the ME space. Meanwhile, Song Chin, the editor from Malaysia asked bare minimalist to be published in his magazine, a couple of interviews, the magazine will be out next months, looking forward to reading it and get feedback from it.
here is new pictures of Bare Minimalist, owned by Charles Wiriawan. With new detail joint of polycarbonate using Aluminium to avoid dust and leaking, the rooftop of perforated plate detail.
new lighting spot installment to support activity.
House of Frans Wirawan, is going to be published soon in local publication endorsed by Karlina from Laras, she and may my client seems to be happy, I’m happy for him. A publication, for me, is just a moment for reflection in our work, the writer justified all of the facts, and created such a story in appreciating architecture. From that point, several perspective might happened, I hope for critics for my work, as what as discussion with fellow architect friends from time to time, that the evaluation attitude is needed to improve ourself to be better architect.
Second, Sometimes, some blessings happening in ordinary time because of many people helped us, supported us. We have to keep supporting people around us, such as Albert came to me about creating community village in Belitung, how he was so excited to build the village in Membalong area, South of Belitung. He and his dad Pak Agus, wanted to do good, of course, there will be a business premise, but the spirit is good. what we did in the program is to inject artist to the village, by creating, designing, and combining local and designer. hopefully, this will make the village come to live. We have done the project, nicely, Albert is going to Singapore to bring in their new concept in joint collaboration with IMABARI, hope his project will be built soon. I can understand some of the commercial projects need gimmick marketing, the challenge is always, make the realization. In order to realize the project, the challenge and pressure will be there, the reaction to it, and the positivism will be very important.
Third, Just 2 weeks ago, We were selected by Indonesian Institute of Architect (IAI) to do the design of Archery area, Football area, and Hockey area in Gelora Bung Karno. The dateline is strict and short. From what I see in the gap, that Architecture programming will be very important, it shows certain standard, budgeting, the flow of people,goods, executive, degree of privacy. At the end, it is about the responsible to be professional. From this point of view, we did a certain study for programming, before starting the design, and doing several scenario of circulation, mass, and activity. It’s like I am very critical about this in the design group with another architect, I did this in a purpose of being responsible for design decision which I think this will support the team with the correct ground, doing grounded design and functional design. It’s about the basic of the design, nothing more.
First Briefing 7.:30 at Gelora Bung Karno Administration Office
Second Meeting with Colleague
Meeting till 2.30 pm morning with Supie Yolodie, Adi Purnomo, Adjienegara, Boy Bhirawa, Maria Rosantina, Deddy Wahjudi, Nelly Daniel, Danang.
Things, the moment became the blessing in this challenging time. I am really thankful, and appreciate the kindness of all of the support of the family, wherever you are, please take care. We are moving to the guild soon.
Proses untuk bertemu adalah kehendak yang Kuasa. Setiap jalan yang kita jalani adalah kepemilikan semesta. Oleh karena itu saya akan membalas surat Agus dengan rahayu, melengkapi bukan meniadakan, dengan paradigma yang membangun, kita ada di satu meja yang sama tidak berseberangan, meski adakalanya meja yang berseberangan itu bisa terjadi, dan memang saling meniadakan itu perlu juga untuk meniadakan gangguan- gangguan sehingga kita bisa melihat esensi yang dibicarakan.
Dimanapun kita dengan segala sosok yang telah menjadi, di titik omega, titik akhir yang adalah titik sekarang, dan memperbandingkan dengan titik alpha, titik awal di jaman dahulu. Kita ada di titik yang sama, untuk membangun dunia yang lebih baik, kenangan – kenangan masa lalu masih lekat terasa, dan apa yang ada di saat ini adalah sebuah titik awal untuk kenangan di masa depan. Sebenarnya ini semua untuk melepas rasa kangen akan titik alpha, dengan adanya respek terhadap titik mula, sebenarnya kita melakukan kritik diri sendiri akan kesombongan kita di titik omega, karena apa jadinya titik akhir tanpa titik awalan. Apabila itu terjadi mungkin kita sedang lupa landasan, melayang terlalu tinggi yang sebenarnya kita ada di dalam dunia kita sendiri.
Oleh karena itu semoga diri ini bisa menjadi satu pribadi yang menghargai titik awal, tanpa pernah sombong dengan titik akhir. Karena tanpa titik awal apalah kita ini. Justru inilah yang terjadi dalam dunia arsitektur kita, dimana, jalinan titik awal dan titik akhir seringkali terputus, terputus oleh diskomunikasi, kesombongan, keengganan untuk berbicara dari hati ke hati yang sebenarnya urusannya cukup mudah dipetakan.Yuswadi Saliya sudah memang membahas mengenai trinitas dalam karya manusia di semesta, tangan, spiritual dan pikiran. Kerja tangan dari spiritual akan menghasilkan kecintaan dan kepakaran, segala sesuatu yang muncul dari cinta adalah perasaan kasih untuk bisa berbagi, membangun. Selain itu ada juga perasaan obsesi, nafsu yang kerap memunculkan pesan untuk berseberangan, tidak mau kalah. Rahayu mengajarkan keseimbangan, melengkapi untuk mencapai kesempurnaan.
Menilik Soejoedi, adalah soal rasionalitas keilmuan dan menilik Mangunwijaya adalah soal hati dalam menerapkan keilmuan dalam hidupnya menjadi manusia yang mengabdi semesta. Kerasionalitasan kita akan meletakkan lingkup batas kita pada keilmuan, itu adalah dasar tanpa perlu untuk dilebar – lebarkan. Tataran kelimuan memang membutuhkan batas untuk bisa diukur, dibedah, diiris – iris bagian yang enak dan bagian yang tidak enak, salah dan benarnya supaya bisa ditelan dan didudukkan pada tempatnya. Kerja kelimuan adalah kerja tangan dan pikiran. Kerja spiritualitas itu yang kemudian menjadikan Mangunwijaya menjadi manusia semesta, mendudukkan kita dalam kerja spiritual akan menjadikan kita memberikan kepakaran seutuhnya – seluruhnya, tidak setengah, seper empat sepertiga ataupun seper enam, jiwa kita pun akan masuk kedalam kerja kepakaran dalam rahayu, membangun. Mungkin ini kerangka spiritualitas yang muncul setelah alpha (titik awal) menuju omega (titik akhir).
Oleh karena itu agus, saya akan bertanya, kapan kita bertemu lagi ? untuk menggapai omega yang menjadi alpha kembali.
160306, 04.00 am, OMAH Library, Love and compassion are necessities, not luxuries. Without them humanity cannot survive. Dalai Lama
I did lecture a month ago with just a good will for young architect. I got so much thing, nurtured by clients, being happy with the process being architect. I do love architecture, there are much about 3 story in the process : forming expedients, practicing alchemy, and practicing experiments. that session was my first time, thinking about profession.
The story of survival, comes when the resource is not enough. Based on last discussion in the little prince, there is little desperation among the young architect, they are very optimistic. They talked about the respect to the master, that they are willing to learn so much thing for being architect not even from one person, but from many person. They won’t give up, but interestingly, there are various job that was discussed such as junior urban designer and as architectural assistant while their scope of work is different. Architect is a certified profession in Indonesia, it’s like doctor, lawyer, accountant while urban designer is new, the product is more into vision and guideline. Being architect need to be social and contemplative as well, it depends on the your own value as an architect.
As a person who will be young architect might wonder on how the process of selection of an architect, this will answer how to get client: [1]
NB A survey by the RIBA in 2014 (Ref RIBA Journal February 2014) revealed that the most common methods of appointing architects were :
Direct appointment 50%
Competitive fee bid or financial tender only 21%
Framework agreement with or without further competition for specific projects 10%
Invited competitive interview (no pre-qualification questionnaire PQQ) 4%
Expression of interest / PQQ only (no design work) 3%
Expression of interest / PQQ followed by competitive interview (no design work) 3%
Expression of interest / PQQ followed by design competition 2%
Invited design competition (no PQQ) 1%
Open design competition 1%
Other 4%
Smaller practices tended to be appointed mostly by direct appointment (61%), whereas this was less common for larger practices (25%). So it’s pretty clear that architect need to be social person. In order to be social there are various book that is best pick : Outliers written by Malcolm Gladwell, Good to Great written by Jim Collins
In forming how to get selected , architect need to show his design work by portfolio, and set of quotation or even if it is based on trust, the quotation could be adjusted but it really depends on chemistry between architect and owner.
Even, Traditionally there are 3 standard ways an architect may charge: [1] as I mean standard, that is to be noted, that some of the contract and circumstance can be varied and modified as nature of the project changes.
1. A percentage of the build cost. This requires that an approximate build cost can be estimated (so that an appropriate percentage can be calculated) and that the scope and nature of the services required from the architect are known.
2. Lump sum fee. This is popular for home owners and small clients as it gives certainty about the total cost at the outset. Lump sum fees are appropriate where the scope of work required is well known when the appointment is made. If the nature of the appointment or of the project varies beyond agreed limits, then the fee may need to be re-negotiated.
3. Hourly rate. This is generally reserved for work where it is difficult to define the scope of services required or the nature of the project when the appointment is made. It is important in this case that fees are capped to a maximum that can be charged without prior agreement and that detailed records of hours worked are kept.
A percentage of build cost is the reasonable and most fair option but it needs the collaboration with the construction industry in best team to put the building in more efficient way and more advanced integration building system. Lump sum fee is picked because of the nature of the project is still unknown, the capability of the consultant and the contractor is unknown. Hourly rate is picked because the trust is small or the work is small. That is why I love to work on site, build on site, work with builder directly forming a relationship, craftmanship, social connection, or economic problem.
Good practice of architect firm was discussed by Bob Miklos, “There is a prevailing understanding of what is appropriate on a percentage basis,” notes Bob Miklos, a partner in Boston’s Design LAB. “We use a percentage … to establish the fee that becomes a fixed fee, to see if we’re in the ballpark.” This can range from 9 to 10 percent for new construction and basic services and consulting to 10 to 12 percent for renovations “in a good year,” Miklos says, while commercial projects ratchet down to 5 to 7 percent. (Renovation projects get higher fees because architects must investigate and document existing conditions that will be preserved, worked around, modified, or added on to.) [2] The standard is much lower in Indonesia while the billing is based on month and non personal cost
There are 2 various type of client :
1. Sympathetic client : this is friend for life who appreciate architecture.
2. Distrustful client : this is the harder part when there is compromise, actually it’s about alchemy process between architect clients.
3. Swing client : architect need to explain, share informations needed about technical and more to the design, also the nature of the project for client’s need.
choosing architect is a very difficult job,because client and architect need to be collaborate, and the expectation is high from the both side to create a beautiful and meaningful project for clients and for life of an architect. It’s worth it.
Peter Wangkar is one of my sympathetic client, who appreciated our work of architecture. Here is the project in BSD, it is about a sanctuary of his life, he worked hard for his life, and he would like to have a functional house sited in the beautiful site, facing very nice view. The form is curve and used for framing view. Our studio is working hard for fruition of this house, by investing time to provide detail, and further study of elevation section and more to detail.
20 February 2016 The larger the island of knowledge, the longer the shoreline of wonder. – Ralph W. Sockman
I had a discussion with David about creating bridge between academic and practice. We have a wish to bridge the gab, by introducing course to the young architect. He came up with such interesting proposition, two streams, critic and design. David will guard the critic part and me the design part. The lecture is starting today. I found it interesting because, some of the problem, what we called it appreciation happened because the public is just lacked of information about our profession.
“The lowest form of popular culture – lack of information, misinformation, disinformation, and a contempt for the truth or the reality of most people’s lives – has overrun real journalism. ” Carl Bernstein
David wrote some part of the critic which will improve the understanding of issue, building thinking and critical framework on appreciating architecture.
” “Design is not the icing on the cake but what makes architecture out of buildings and the places we want to live and eat and shop rather than avoid. Instead of less talk, what need are more critics – citizen critics – equipped with the desire and the vocabulary to remake the city. “(Alexandra Lange)
The main objective of architecture is to accommodate activities of man through making a place of space. Therefore, we can know the quality of architecture by assessing on how it performs it to function. This might be a rudimentary or even old-fashioned – explanation on architecture yet it becomes more vital now. Nowadays as building technology and design technology have been developing so advance, we have more architectural discourses on its quality of space, details, and form making. Even though in essence architecture is still doing what it does yet it is getting more complex. In other words, architecture becomes more difficult to understand since now it is weaved with many layers.
In this manner, we need someone who can translate and digest the thick layers of architecture in order for people to understand and to make a judgment on architecture. This is significant of the role of the critic. A good criticism will connect people to architecture and in a way will put architecture back to its place as a spatial medium for a man to live their life.
This course is not aiming to train or to produce professional critic. The aims of this course are to encourage everyone to conduct a good and fair criticism. By the end of this course, we expect that each participant can write criticism in a proper framework, logic, and structure with fun. Fundamentally, the operation of criticism is an act to put something or many things into its/their proper places and order. Therefore in the era of overwhelming social media and information, we have to encourage more people to think critically, to be more patience and calm in judgment and hopefully they can share their critical thought to public through many expressions; writing, exhibitions, or publications.”
Then, I wrote some of other paragraph for the design stream, this course actually is not learning in a master class, it’s more about practicing design. It’s about all of the basic thing being an architect.
“While we are designing, we are remembering all of our aspect of our childhood, our training, and time of practicing. Being a fresh graduate, The expectation of being an architect increased, from time to time, yet the profession is getting critical than before. Building technology, material are invented in every second. The industry changing, economy changing, culture changing, the context is changed but the foundation is never changed. In order to be able to practice, you have to learn the foundation of skill as an architect. It’s about knowing what you know, then do it fluently, sometimes without you are noticing because it is in your spirit. The skill is flowing, because of the design foundation.
The design foundation consists of three components. First It’s about mastering skill as an architect or realizing your expedients. Expedients mean the resource that you have in your starting design processes iterations such as previous design experience, background or even the most important cash flow.Having expedients is the most and first critical point to be an architect.
Second the skill to maintain all of the relationships in between man to man or it is an alchemy, and the effort to designing the building, Alchemy means a seemingly magical process of transformation, creation, or combination of man to man, man to society.
Third is about experiments, it is an elaboration of the set of the deep layer of skill on practicing, to keep the intention, and perfecting the product, Experiments means a scientific procedure undertaken to make a discovery, test a hypothesis, or demonstrate a known fact. Then at the end, by going through these three cycle, architect forms a system for self-criticism to create another iteration in his or her life to be his or her own master. One master in architecture will believe that designing is sacred activity believing that doing architecture is more to nurturing our own spirit, it’s more to devotion.
This course aims for the participant to be able to practice being an architect or just increasing the appreciation of architect’s profession. This course won’t teach you being a star architect, or act like one. The aims of this course are to coach the good young architect generation. By the end of this course, we expect that each participant can have good architecture practice framework, know how to to analyze, to critic and to design, functional building by integrating MEP, Structure, and program, set a reasonable fee, contract, knowing your own limit and resources, and conduct a good practice for establishing career as an architect with optimism. Being architect is about to serve people with design capability and design responsibility.”\
I do hope what we are doing in this course will do good for young generation of architects as what we have been given so much thing in this profession. Greg, Fandi, and Rezki finally smiled, the class is already begun, and I am extremely happy, and look forward to see the alchemy started.
The Alchemist by Mattheus von Helmont (Antwerp 1623-After 1679, Brussels) Oil on Canvas. A bearded seated man facing three quarters left, with glasses and bright red shirt, bends over open book on desk stacked high with mess of books, papers, glassware. More of same at his feet plus broken and unbroken crockery, large copper pan, and strands of straw throughout. At left middle ground two men at table; behind them a man stands by a large furnace and pours from one vessel into another. To right in background through partition are three men around a free standing small furnace heating a pot. Van Helmont was a follower of Adrien Brouwer and David Teniers II. Popular subjects for these artists include peasant interiors, alchemists, doctors, and craftsmen at work.
160203 Jakarta at OMAH beta, ” You are everything that is, your thoughts, your life, your dreams come true. You are everything you choose to be. You are as unlimited as the endless universe, ” Shad Helmstetter.
Have you designed the building that dances ? this question echoed in my mind between the argument of concept and reality. Can we nail this concept. I was so afraid of walking on something unseen, we have not done this kind of approach before. Stephen J. Dubner argued if we loose ourself in the surrounding, be prepared with data, and amount of effort, whatever we do with such preparation, we will be ready.
The thought was coming that after seeing united dancer, a group led by bu Dhisti, merely thinking about inside out, form and idea, rational and emotion. We said to this couple, give us time to think about the concept of your house. Then, the proposal consists of 3 solutions, one was the plain box combined with strong axis, another one was combination of the playful boxes. We have tried these first 2 iterations in the previous project. But the third one, the curvy shapes option was the one that was unique, dare to be different, defy the stereotype, deconstruct our own thinking. The organisation of the design was broken in 3 parts, the entrance – services , living – foyer , and bed – pool. The curved wall divided each parts creating silhouette of form that dances. After several more iterations, the house starting to get its grid, and the form captured view by its blade. I was hoping that this house going to be great for them, for this couple.Anthony C. Antoniades discussed these impulsive, emotion, condition as inclusivity.
He stated that inclusivity can be treated through a number of approaches: [1]
1. through the inclusion of as many people as possible, to get scrutinise over and over.
2. through the inclusion of as many diverse point as possible with regard to what has been perceived and appreciated as good in architecture to achieve the optimum value. I think both of them are paradox, combining the thoughts to get the design right is massive work and critical thinking. The 5 point from Greene might be useful to break down this : innovation, mastery, authenticity, guts, and ethic.
3. through the inclusion as many ways of conception as possible, this is achieved by many design iterations, exercise, which is the most important part.
He looked at the many intangible and tangible channels one can harness in creating architectural design. By opening up architecture to the full range of creative influences, he tries to help readers produce designs that are richer on spatial, sensual, spiritual, and environmental levels. The book studied the topic of poetic of architecture in several section or sub object such as, intangible channels to architectural creativity divided by the process of creativity, metaphor, paradoxes, transformation, the obscure, poetry and literature, the exotic and multicultural. and more to tangible channels to architectural creativity such as : history, mimesis and literal interpretation, geometry, material, the role, association with other art, architectural biographies. he categorized 3 way of poetic: the traditional, the arbitrary, and the contemplative.
I hope that the Building that dances represent the third way, the contemplative. We have been spending many design iterations, to get the form right, the angle, the function, and efficiency on construction. The design got matured by exercise by thinking the bolt and the screw, it was called the stage of creative pregnancy by Socrates. Where all the seeds of success (or not) are planted. The question is do we have patience and perfection in the phase of construction just to keep design and perfecting into the inclusivist attitude.
the image of the house after several iteration, the curve is reorganised into axial planning view from the pool side The further iteration of playing with the form to break the scale. The further iteration of playing with the form to break the scale. First initial sketch of the house Basic principle of the zoningThe Dream Team is :
Size : 350 sqm area
Owner : Mirza and Adhisty
Collaborators : Miftahuddin Nurdayat, Tatyana Kusumo, Rio Triwardhana, Septrio, Rofianisa Nurdin, Hardiyanto Agung Nugroho.
Structure engineer: John Djuhedi
Supervisor : Sudjatmiko, Jasno Afif Angga, Yudi Atang
30 01 2016 East Java, “Watch and see the courses of stars as if you run with them, and continually dwell in mind upon the changes of the elements into one another, for these imaginations wash away the foulness of life on the ground.” Marcus Aurelius.
Rimba had birthday few days ago, we went to Puri Mall to celebrate his birthday. His fiance told me in some short chat that there was frustration in him, he was down sometimes, comparing himself with other. Sometimes he wanted to quit being an architect. I know for sure he will become good architect, he has capability to think in the deeper layer.
Nowadays when we are in the high speed of information era, there is problem in this society, this social media society, like what Zygmunt Bauman stated “Social media are a trap” He argued that social media is a trap, the difference between a community and a network is that you belong to a community, but a network belongs to you. You feel in control. You can add friends if you wish, you can delete them if you wish. You are in control of the important people to whom you relate. People feel a little better as a result, because loneliness, abandonment, is the great fear in our individualist age. But it’s so easy to add or remove friends on the internet that people fail to learn the real social skills, which you need when you go to the street, when you go to your workplace, where you find lots of people who you need to enter into sensible interaction with.
… Social media don’t teach us to dialogue because it is so easy to avoid controversy… But most people use social media not to unite, not to open their horizons wider, but on the contrary, to cut themselves a comfort zone where the only sounds they hear are the echoes of their own voice, where the only things they see are the reflections of their own face. Social media are very useful, they provide pleasure, but they are a trap. [1] I think this is about digesting the information in this high speed era, the network is strong but the relationship is not strong. by having stronger relationship, we can care between each other, support each other.
Last sunday Greg told me the same thing, he sometimes want to quit as an architect. I know for sure he will become good architect because he is thoughtful and curious about new ideas. I couldn’t answer him, I was in silent, asked him to be patience, asked for his understanding that learning architecture takes time. It is a marathon, not a sprint. Rezki also asked after that, about if he did interior work, does it affect his career as an architect, well , Carlo Scarpa started his career as exhibition and interior design, he was acknowledged as architect just before he died. He is one of the greatest architect ever.
Feeling wanna quit is normal. I feel it as well time to time. Last time we had a project that we had worked on for several years. we put really effort into it for almost 3 years, then one time, the owner selected another architect because he paired with another investor without letting me know. At that time I felt devastated, dissapointed, angry nervous as well, but I couldn’t angry to anyone, it’s not my temper. I wanted to quit. At that time, I couldn’t do anything,
But, just after that we got another project from another client which is so fabulous, and that client is one of the best client ever who trusted us, and we made one of the most beautiful work ever.
The process is about to do your best and let it go, it is the process that is most difficult, much thing about bitter story. I am still looking, trying to have a patience as architect. Sometimes it’s hard.
I found this antidote for finding our ownself. It is a book written by Antoine de Saint – Exupery, the title is the little prince. The cover reminded me about this condition, and Miracle. I fell in love with this book. It is beautiful book about philosophical story of love and friendship, a reflection on how to distinguish what matters and what does not. There are 6 stories of him visiting asteroids when the he meet numbers of different people.
each of which was inhabited by a foolish, narrow-minded adult,
“First is the king who shows adult like to command and order, everything needs to be in order, lil prince then comments “grown ups really are very strange.
second,he meet the man who like to be praised, he is show off,
third,he meet the drunk man who wants to forget his shame
Fourth,he meet the man who count stars which has no purpose other than to count the stars. The stars resemble the wealth. It shows grown ups are greed
Fifth, he meet the lamplighter, resemble the time to rest, it may not be important as the others, but it is the friendliest compare to the others.
Sixth, he meet with the geographer, who wrote down the permanent facts, but he is not an explorer, he need people to explore the world, and it is the most important part.
Seventh, he goes to earth, where all of the character are there.”
People, said the little prince they dive into express trains, but they don’t know what they are looking for, They get restless and go around in circles. The story about this little prince, reminded me about the most important part in our life, our closest one, our passion. what matter and what does not. We just need to find our own little prince, a person who never give us answer when we question him, and we will know the answer by ourself, time will tell.
Little Prince : “I am looking for friends. What does that mean — tame?”
“It is an act too often neglected,” said the fox. “It means to establish ties.”
“To establish ties?”
“Just that,” said the fox. “To me, you are still nothing more than a little boy who is just like a hundred thousand other little boys. And I have no need of you. And you, on your part, have no need of me. To you I am nothing more than a fox like a hundred thousand other foxes. But if you tame me, then we shall need each other. To me, you will be unique in all the world. To you, I shall be unique in all the world….”
― Antoine de Saint-Exupéry, The Little Prince
Time to go back to my home, I miss my Mircale and Laurensia so much. Laurensia sent this photo to me during trip :) Hallo :)
160116 ” The only way you can live your life to the fullest is by understanding that you do not have all the time in the world.”
What is the meaning of this 34th birthday ? Miracle was baptized last sunday. Watching him grow is one of the best birthday gift especially in 2016, he is 2 months old now. we look at him everyday, he has grown quite fast. I know that he will be good boy, blessed one. Also, Laurensia has taken care of our little family, she bought me long sleeve shirt that I like, new bag, and helped me to prepare food everyday. She is the most beautiful person in our family. She has strong heart, genuinely kind,
One time Javier friend from Shanghai said, about his mother who had helped him so much, he asked “mom how could I repay you ?” she said, if you want to repay me, just do the same thing to your child. Our parent never asked to be paid back as well, it’s like an unconditional love from parent to children.
In this moment, I feel blessed with studio that has pushed their effort for crafstmanship mastery , who has such fun and enjoyment, meeting friends to make architecture piece. and last, there are alway new people who we meet every day at OMAH.
all of those things, made my birthday as a meaningful time,
I would like to have a silent time, to rethink all of this.
silence, silence what are you seeking for, …
blue shadow,
is that you really want,
the sun is strong,
it’s yellow light,
I asked blue shadow and yellow light
I asked them,
for silence,
do you really wanted a silence ?
silence is painfull ?
nobody wanted to be alone ?
Is that why you made all of these ?
Suddenly the people in the studio made such a unique video for my birthday. we laughed over laud watching their creativity. In this birthday we are so grateful to hear all of the greetings from friends, family, and so many kind hearted people. I’m sure our family don’t need silence anymore. This video was like celebrating the old memory, last time they pushed hard for project in Lombok, and suddenly I walked at 11.45 pm, because I wanted to see Laurensia and Miracle. The studio then, sounded very loud, many people laughing, they were making this video which was very creative and honouring.
Oh God thank you for all of the wonderful bitter and sweet memory, we can smile now. I hope that we can be useful person in this short stay. I remember one quote from Yogi Raman, found by Robin Sharma, written in his book, Monk who sold his Ferrari,
“What makes greatness is beginning something that does not ends with you.”
There was a time when the friction happened in the builder workshop. There was Grandong, one painter who was not happy with job given by Jasno who is senior supervisor, plus Grandong was persuaded by another supervisor about the condition in another team. So Grandong envied the condition, which was actually same in the other team that was treated by different supervisor, different boss.Because of this friction They have not communicate for few weeks. One supervisor handled one team, another supervisor has another different team. That is the way I set up the builder system.
There had been small fight, and miss-communications between all of them. After I had a talk with all of them, the problem of this was actually, that Grandong wanted a better condition for himself and his family. Off course there will be a better condition for the supervisors, better paid, greater responsibility.
The situation solved by raising the wage all of the builders. It’s normal to have wage raised, the expense in city raised up in this year so why don’t we keep all of the good people by giving them decent salary. Every year the salary need to be raised.
Pic by rezki
After that the situation went normal, the bright point, I can have the iterations about discussing and executing again the new material that I wanted to try in the workshop. There were moments that I cherished as good process,
First this time, I tried to use brass as edge finish, using brass as finishes material is difficult because it’s uncommon, unusual, not many metal welder can deal with that. Brass is used because of its beautiful gold color, shinny, and bringing lightness when it is used comined with marble or concrete, it has lower melting point, so It can be easier to weld. The objective is to get shimmering gold color at the edge of the concrete.
Second, Another thing that was happened in the building workshop is the way of drywall constructed, by having 60 x 60 module, 12 mm plywood, in total height 3.00 m. The middle of the drywall could be filled with electric cable, switch, air conditioning unit pipe. Actually even we don’t need brick finish for internal wall. Nevertheless For the wall as periphery from interior to outside, as the idea is for thermal insulation, the brick is needed.
Third, There was process for stacking rooster, as the creative process happening, we tried to rotate the rooster 45 degree, and another 45 degree on top of each rooster, we did exercise in 3d modelling in computer. after we tried stacking it for a day in the site, we found out that the stacking rooster need bracing, so we need to redo it again, divided by 3 hollow 5×10 to divide the space, Sometimes the hand talked the construction, the iteration happened not only behind the desk of the studio.
The building workshop played important role on forming the way I think about architecture but in outside world, its function is under rated.I believe on the interactions between builders and architects with be fruitful to achieve master piece. It’s about quality not merely quantity.
here is the people that I love to work with, pak Singgih, pak Sudjatmiko, pak Misnu, pak Endang, pak Jasno, pak Eno, pak Eddy, pak Yudi, Tata, Pak Edy. They are the person who has been giving their huge effort on executing, and help me on executing design iterations of forming craftmanship on site.
Bandung – Paris van Java, 151217.” It belongs to the imperfection of everything human that man can only attain his desire by passing through its opposite.” Soren Kierkegaard
“I think you have to go to outside the country again to learn the opposite.”
Agus said it quietly when we had discussion during lunch at Bandung. At that time, RAW had project in Bandung that was about ground breaking, a small house for Rusda. I had few hours before going back to Jakarta, I went to Bandung with Pak Djatmiko and Pak Misnu.
Agus and me had lunch together at one cafe near ITB. Few years back in 2002, Agus was a librarian in Architecture Department Institute Technology of Bandung, and I was still a student at that time. We were introduced by Gunawan Tanuwidjaja. Agus was from Cibangkong, he said the area was well known as one of the densest neighbourhood in the world. Together with Gunawan, we made one small group who had a dream to provide digital library at that time, we were naive, tried to document some of the knowledge with limited resources, and using our spare time.
Agus tried to make a point when I listened to what he said. He was just someone who love architecture so much, believe on such ideal thing that humanity should colour architecture. He was just not as confident as before, sometimes he said that he is not an architect, he should not critize architecture. However, people critise because they have point to say, one view point, starting with an argument, going to another argument, label comes second.
Agus started his argument by describing the time I had worked in Foster and Partners, few years back, then worked on doing architecture at RAW. He concluded that experience resembled Soejoedi in one side. Soejoedi was one of the prominent architect few decades back in Indonesia, he mastered the modernist language, based on rationalist approach, ratio supremacy. then he continued,
“You are complete just if you try to understand the heart of the architect, not the ratio… You need to go learning again, someday,… to learn the opposite side, being complete like Mangunwijaya. “
then, Agus continued that the opposite side is resembled by Hasan Poerbo. A great father of public housing few decades back who had deep concern on technique to provide housing for people. He was the person who challenge the prototype of urban housing in Indonesia. Agus continued,
“forgive me but I am not an architect, I wanted to critize some of the prominent architects, look at the joint, look at the material met, It is not special, so why I bother to praise it.”
Agus was right, from my point of view, he was honest about how he feel about architecture that he had seen. Its his blink ability judged the quality of the process.
I remember one time we went to Sendang Sono, Wisma Kuwera, both of them was designed by Mangunwijaya, and church of Pohsarang that was designed by maclaine pont (together with family). I look at the joint, the construction was honest, humble, and creative to answer efficiency, function, less about the fashion. There will be function and there will be fashion, all of us are seeking for equilibrium.
After that we had discussion about rural studio, a studio that was found by Samuel Mockbee. I also remember about Studio Mumbai which consists on a group of Indian architects and craftsmen, all resident artisans of Studio Mumbai, headed by Bijoy Jain, one of India’s foremost architects. in my rational thought I thought that the approach of being architect will be same, whoever the client is, however the context will be different, the budget, the attitude, the material, the expectation would be different but the approach will be similar. In my heart thought, I think that the design process will be quite different, we need to approach the another side by much heart, to understand the deeper layer of who is in charge with the project. The craftsmen on field, the very specific expenditure which can drive specific experiments, deeper layer of innovations, the bolt and join, to answer Agus critics.
There were times that it looks like that there are opposite sides. one time, … I was in the train going to somewhere place. I started to look around, why there was nobody around. and asking why is nobody here ? I saw strangers in the strange train. I don’t know anybody here
Suddenly I woke up and many people were there,
Laurensia was there, Miracle was there, people in the studio were there, people in the workshop were there, people in the library were there, many close friends were there. many strangers were there
I saw Agus was there. he asked “Good morning, how are you ?.. “ destiny, coincidental, fate, perfection, every part has a partner, we are not alone
I just got a letter from Bu Nina Subiyanto and family. There were words, and cherry blossom framing white house at Washington DC. The picture is beautiful, the card was kept by Yudith, she was seemed to like it so much, I do so, because of the wish for miracle and our family.
“Buat Ril and Yudith
Selamat atas kelahiran putra tercinta…
semoga Ril dan Yudith dilimpahkan sehat dan bahagia untuk membesarkan”Miracle” sesuai namanya yang menjadi bukti dari kemurahan Allah kepada kita semua, semoga ananda Miracle menjadi anak yang membawa keberkahan terhadap sekelilingnya, menjadi manua humble dan berhati bersih seperti kedua orang tuanya dan juga menjadi manusia yang dekat dengan sang Pencipta,
my wish to you and your family…
With love and kisses
Nina Subiyanto dan Bayu juga Ajeng dan Ibu Atie”
I am touched by the letter and the wish for Miracle, … thank you bu Nina, max Bayu, Ajeng, Bu Atie, we are glad we met few years ago. God Bless you all.
2010, Japan “Beauty surrounds us, but usually we need to be walking in a garden to know it.” – Rumi
The writing for Baccarat Indonesia was just published, it was written when we had trip to Japan few years ago during summer studio, by Professor James Weirick. The trip was about travelling to 4 different cities (Kyoto, Nagoya, Tokyo, some remote area such as Shirakawa, Mt. Gifu, and new site of Imperial Hotel by Frank Lloyd Wright). The brief from Editorial team was about telling story about garden. So the story is about the zen garden, and story about beautiful garden of versailes, the idea was about explaining garden of the east and garden of the west. Those are two different standing point, one is more about the logic, power of man, another is about the spiritual being, reflection to blend with nature.
Tinggalkan pikiran – pikiran dunia, merunduklah. Dengarlah suara teko air teh yang mendidih, dengarlah suara alam, burung – burung yang berkicau, suara air yang menetes, suara kaki orang yang berjalan, alam sesungguhnya berbicara, rasakan kesempurnaan dalam ketidak sempurnaan, mata ini menatap ke arah huruf kaligrafi jepang yang ada di depanku, kemudian wanita di depan ku berkata, prinsip ini melandasi budaya Jepang pada upacara minum teh, yaitu Simple dan Rustic.
Tak heran semua yang ada di Jepang terlihat begitu sederhana dalam kesehariannya meskipun jejak – jejak modernisasinya juga terasa dimana – mana. Konstruksi Detail – detail kuil yang terbawa dari jaman dinasti Tang China, berubah menjadi sederhana dan tampil apa adanya.dengan warna – warna alam. Berbeda dengan China yang menggunakan warna – warna cerah untuk kuil – kuilnya. Di Kyoto, kuil2 dijaga kelestariannya, di jaga kesempurnaannya setiap 30 tahun, mereka tetap berbicara dengan alamnya dengan kondisi yang terbaik untuk anak cucu mereka untuk melestarikan budaya. Hal ini juga terasa dalam retakan – retakan budaya yang ada di Ubud, Bali yang menyisakan secercah kenangannya akan kualitas spiritual yang masih tersisa.
Musim gugur, di bulan november, saat yang sangat indah dimana pepohonan mulai menunjukkan warna-warninya. Gingko dengan warna kekuning-keemasannya, Mapple degan warna merah kekuningannya, maupun Sakura yang berwarna kecoklatan. Berjalan – jalan ke 4 kota yang berbeda, Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka. Tokyo, Nagoya, Osaka dengan densitas yang sangat tinggi. Karya maestro – maestro designer Jepang yang bertaburang antara kota2 ini menjadikan kota ini menarik sebagai objek arsitektural ataupun relasinya dengan tata ruang kota. Juga Kyoto, kota yang sangat indah dengan kuil2 shinto dan buddha, menunjukkan transisi dari artifisial ke alam.Dari Jepang aku belajar lebih mencintai budaya, alam dan kesungguhan untuk berkarya. Dari totalitas yang ada, belajar untuk mengembangkan rasio dan rasa, pikiran dan perbuatan untuk menghasilkan karya terbaik. Di balik rasio yang bisa didapatkan dari negeri barat, dari budaya timur kita mendapatkan pelajaran rasa dari Jepang, negara yang cantik, dan indah dalam keseharian.
Dari budaya barat dan timur, dari penataan istana Versailes dengan desain taman baroque yang simetris, dengan geometri yang teratur, sampai kepada taman Ryoanji di Kyoto, ataupun taman di desain tata lansekap Bali yang menghadirkan tanaman kamboja dengan berbagai jenisnya. Bahwa pada hakikatnya perencanaan ini untuk menyediakan bunga kamboja sehari – harinya yang dibutuhkan untuk berdoa den meminta rejeki ataupun untuk bersyukur akan rahmat yang diberikan. Bunga ini kemudian semerbak dengan wanginya yang harum. Dari sinilah kita mengetahui kegunaan kamboja di lain sifatnya yang mudah untuk dibiakan, dipotong pada pangkalnya ditanam di media tanah, ia pun akan hidup tanpa perlu air yang banyak.
Ataupun taman vertical pun muncul dalam lingkungan hidup kota yang padat, yang dipopulerkan oleh Peter Blanc, seorang desainer lansekap dari Perancis yang membuat eksplorasi yang sebenarnya sudah pernah ada sebelumnya, seperti yang ada di gua pindul, ataupun ada di lereng – lereng gunung, dengan memadukan tanaman tersebut di media yang vertikal, dimana hal tersebut dicoba untuk diterapkan dengan pengairan yang baik, dengan sistem yang bisa memadukan dengan keterbatasan tempat.
Taman, adalah sebuah anatomi yang penting dalam sebuah bangunan, layaknya sebuah badan manusia, taman adalah satu hal yang adalah tempat untuk mengembalikan 5 indra kita sebagai manusia, dengan mencium semerbak wangi bunga, atau wanginya daun pohon kayu putih yang bisa tumbuh di lahan yang tidak memiliki banyak air. Ataupun melihat hijaunya daun, merasakan hangatnya rerumputan di kaki kita, mendengar gemericik air dan suara burung – burung, ataupun mengecap manisnya buah – buah yang dihasilkan dari taman.
Di lain itu, taman tidak hanya memiliki parameter terhadap time and space, ataupun economy and ethic, untuk menunjukkan kemewahan, atau, sekedar tempat yang harus ada, atau function and aesthetic, tempat yang cantik – cantikan saja. Tamun taman bisa dikombinasikan sebagai tempat untuk pesta kebun, sebagai place and event, tempat yang merupakan kenangan bagi orang – orang yang datang.
Sederhananya di dalam sebuah rumah, dimana taman yang ini begitu indah adalah taman yang bisa membuat kita berkontemplasi secara puitis terhadap alam. Taman tidak hanya berfungsi sebagai estetika saja, atau sebagai resapan saja yang membuat bumi ini lebih hidup, namun taman ini bisa meninggalkan dan membawa sisi spiritualitas kita lebih tinggi, dengan daun – daun yang berjuta warnanya, dengan susunan batu yang ditata begitu cantiknya, dengan pemilihan tanaman yang diatur dengan kegunaan dan warna warninya. kenangan bagi keluarga mengingat hakikat kita sebagai manusia yang seutuhnya, melebur kepada alam untuk mengingat waktu kita semua yang sedang menghitung mundur, dan tidak perlu tergesa – gesa menikmati perjalanan ini.
“Jadilah pohon yang rindang”, kata om William Soeryadjaya, yang buahnya lezat bisa dinikmati siapapun. “untuk ke bintang, alami kerja keras yang luar biasa dan menjadi pohon yang memiliki tajuk yang lebar.”
This storywas inspired so much by om William, his humbleness towards life explained in his biography which make us admires him. I remember talking to Ditri, managerial editor of Baccarat, time flies, relationship happened, it madr use started to think, and wake up in this beautiful world, beautiful landscape, how grateful we should be in this world.
30 days of Miracle – the little prince. I remember verses by Shantideva in book titled Altruism written by Matthieu Ricard, I change I to Miracle, hoping my son could be a miracle to society.
Miracle is already one month old. I love my wife and him so much, being blessed by this wonderful son is fulfilling. Thank you God for this beautiful gift. He knew when his father and mother wanted to have dinner, he would keep silent, after we finished dinner, he would scream, and asking for milk. I laughed with Laurensia, while I was driving on the street that I used to go,
I remembered 6 years ago, I drove through this street, my memory flickered and Laurensia’s face came up, she was not still the same like before, more beautiful, holding baby Miracle, I was feeling so blessed. Miraclerich brought miracle to our family, blessing, happiness. All of the sweet memories, hopefully it will last.
I remember verses by Shantideva in book titled Altruism written by Matthieu Ricard, I change I to Miracle, hoping my son could be a miracle to society.
May miracle be a guard for those who have no protector A guide for those who journey on the road. For those who wish to go across the water, May he be a boat, a raft, a bridge May he be an island for those who yearn for landfall, And a lamp for those who long for light; For those who need a resting-place, a bed; For all who need a servant, may him be their help. May he be the wishing jewel, the vase of plenty a word of power and the supreme remedy, May he be the tree of miracles, And for every being the cow of abundance Like the earth and the pervading elements, Enduring as the sky itself endures, For boundless multitudes of living beings, May I be their ground and sustenance Thus for every thing that lives, As far as are limits of the sky, May he provide their livelihood and nourishment Util they pass beyond the bonds of suffering.
I think my hope for miracle, is also our hope for ourselves. to be useful to others.
I have much to say why my reputation should be rescued from the load of false accusation and calumny which has been heaped upon it. -Robert Emmet
Yesterday I was quite surprised seeing the post on Facebook about the work of my student, Evan Kriswandi, Gideon Sutanto, Reynold Adiputra, Michael Jo . They got 2nd prize for Sinar mas Competition. There was people questioned about the scheme that my students worked on, the scheme was questioned on its originality, presumably it was questioned as similar with the other people works who had won the second and first prize of other competition few years ago. This question was about ethic, not about the scheme, but to see the ethic, one can analyse the scheme and think about the brief of the competition, which was quite different and the result was different at all. By looking at the premise, the question failed, it became rhetoric, I would think that It’s accusition. It’s not fair for my students.
Few hours, after the discussion in his post. Avianti Armand wrote in her timeline, a note for herself which I think is valid for this context that the questions should be analysed with further data before we posted it to public, social media before we judged people. Because if those premise failed before we accused other, the writer will look stupid. She wrote it as a note for herself, but actually I feel so sad.
I feel sad for all of these unimportant debate, discussion or whatsoever.
I feel sad because of the effort of 2 months work made by the students, their good name was judged based on one false interpretation. I followed their effort each week, watching the scheme scrutinized over and over, deconstructed over and over, looking it over, and I looked at the process. What if I wasn’t there, I wasn’t there looking, was there any people to back them up ? what if this thing happen in other area ? Do we actually have that ethic to appreciate others ? do we have the intention to build good relationship on building good profession.
I feel sad because, is it really our level of understanding architecture deep enough to innovate ? I felt so dizzy, and quite angry of this debate and waited for objective discussion came in. and waiting for more positive people will join the debate. I feel sad because, the road of becoming architect for this young students, still long way, and they faced reality that judgement, accusation will color their path. It’s not only to my students, but for all of the young people.
But at the end, I am feeling happy that the have faced this situation in their young age, their first few days after graduation so they can wake up. I feel happy to support the young people like them, to grow because I have been helped by number of fantastic altruistic people, to help my practice grow. I have been helped by number of positive support by people surrounding me. So young people, keep on fighting, don’t be afraid to speak your words. be brave ! I am at your back, the objective is not to hate people personality, but to discourage judgement and to spread more love of architecture. after all architecture is not only profession, but it’s more than that.
Few days ago I was invited by Rofianisa Nurdin to talk about work in the her community, Creative Mornings Jakarta. It was quite difficult to find a content of what I would say in the sharing session. I had been thinking about the content for few days, asking people in the studio about what usually people wanna hear. And then, I realised, rofi’s last day was on friday as well, it was the day of the creative morning session. so I started the lecture, by being honest about my feeling, in this few years, reflecting the time passed in the studio, the lecture was made for her.
There are 4 phase in my interpretation of idealism in the architecture so far . These phases enrich the whole process of the architecture. It started 4 years ago when I was trying to enjoy the time in the studio, so I tried to make the situation as comfortable as I can with limitation of having small studio, starting a room 3 x 3 m then attacking the garage which is 3 x 10 m.
3 x 3 workaholic room
The first phase , I love to drink, chill out with people and I love books, reading them has been a culture, a sacred activity every day. So I will mix both of them, book represented work, all of the knowledge in the architecture practice, manual of design, book of standard, book of case study, and book of the masters. The drink represented, how I really respect, cheers the process , the laugh, the sad when we lose projects, and the happiness seeing one project get built, to another project which testing our passion. Ingeniousity in my world is about to respect knowledge : the intense talking about the project between the core member of the project, the process of sketches in mind and bringing it to table. one represents work, another represents aholic. both of them made workaholic.
Floating Table Tennis BoardThe second phase, I remember we have a table tennis table in the studio, one time I asked Ari, the all season guy and pak Pudin, the carpenter, hung the table by steel cable, and suddenly the table floated. When the table floated, it brought new way of playing, we could move the table, when we smashed the ball, we can also move the table. The playing part was bit funny. That was deconstruction of idea, and construction of new way of thinking architecture. In everytime I design, I tend to find, observe on ideas. It’s twisted, to find new idea.
Lovely people aroundThe third phase, It was a calling to nurture all of the designer that helped me in the design process. They have been pushing so hard. There had been a time that the people in the studio was in contract for one year, we’ve got 12 people in the studio so every month there would be one person leaving the office and one new person coming to the office. one time, I couldn’t take it anymore, and I didn’t celebrate the graduation of the designer in the studio. But after that I realised that It was normal for freshgraduates to do that. So this changed my way of thinking. I really start to think how to teach them in the 1 year time. Strangely after that, they wanted to stay bit longer, I was grateful because of that.
Lecture in OMAH LibraryThe fourth phase is about how to give to other. I saw architecture was far or exclusive from public in Indonesia. It was happened like that because the nature of architecture itself is based on commision and that is the nature of architecture. During the discussion with several people, So I was thinking to create one platform for young people to learn architecture, so OMAH was created after finished the construction of pak Misnu’s house named Murakabi which meant “usable house for all.
In walking through these 4 phases, there will be crossing of answering the question, what do you really want and what does the society want. The main process is finding sympathetic client and firing distrustful client. The sympathetic client is worth to be second, third, and being continuous client.
Having work in our studio, is like working in the good place that make you smile everyday. we are building memory with the people around us, the happiness and the sadness. I cried because of architecture was far from sacred in my world, term sacred, creates a moment that i have to treat architecture as a life, guard it with heart, do it wholeheartly.
I met Rofi few years ago when she filmed Bare Minimalist. I knew her from the writing that she did. She has such skill on forming framework through text, but still striving to do further iteration in design. She had been working so hard in the studio, contributing in making the framework for the design project. She put the huge effort, and huge happiness, and I would say warmth in the studio. She is happy as always, she trained herself very hard, sometimes not many people can see that, but I can see it clearly, that she became one best designer combined with strong framework, great attitude, and such interesting altruistic work with her creative morning. I was sad to release her, but I know that she has bigger thing to do rather than staying at the studio.
Rofi’s warmth and happiness had been coloring the studio with such amazing moments. Inspite her happiness, she had deep untoldable sadness as well. The more you happy actualy you have gone sad before. I was sad like ussual having one person go. But i will be happy to see her flying, support her. People come and go leaving memories, much of sweet memories, such little of bitter memories, as rofi’s leaving the office, she will come back. I hope for that, shaped by more critical environment, more challenging atmosphere, with so much love that this world can give.
Singapore, 031215. “Remember, teamwork begins by building trust. And the only way to do that is to overcome our need for invulnerability.” –Patrick Lencioni
I was curious about what is inside National Gallery of Singapore what makes it great, in term of process and product of its piece.
Yesterday, Scott, Miftah, and Tatyana had survey site to National Gallery of Singapore with me . It was the opening day for the National Gallery of Singapore. It is the fruition of 8 years hard-work. I’m sure they are excited with the meeting. It just turned out, that the meeting was fabulous, more than it was expected. We are meeting with probably one of the smartest team in gallery design in the world.
In meeting there were people who in charge with the building of National Gallery of Singapore, Director : Sushma Goh, advisor from Studio Milou who is Gallery expert : Guillaume Levy-Lambert, Senior Associate from Studio Milou : Wenmin Ho, the one from CPG (I will update his name after asking Scott), Curator : Lisa Horikawa, and few other people . We have our head of the gallery, pak Tubagus Andri, Arya Abieta, Bayu Genia, Afrina, and our currator Citra. The scheme of the National Gallery of Singapore is intimately exercised from the initial process of forming the brief with the function brief consultant in almost a year to just think about the brief. The competition shortlisted 5 more finalist, and selected 3 more detailed scheme to be exercised. Studio muele in joint collaboration with CPG won the design.
The design consists of 3 main design intentions. First, digging, excavating the land to open access to one to another building to extend the exhibition space at ground, 1st floor, 2nd floor. Second, creating open layout space at the roof top. Third, the create structure solution to strengthen roof, whole floors which needed to be taken all before rebuilding new floor plate. This whole process took out all of the floor plate except the city hall area, left the facade, and rebuilding it again. I was astonished by all of the effort, and the humongous data that the have gathered and exercised in this building. The process, I am sure the bitter part, need lot of effort and time, but the result is sweet, and that can be experienced by Singapore people. It’s pride of nation which can be leveraged to louvre and British Museum.
Now, looking on by what we have in National Gallery of Indonesia. We won the prize 2 years ago. We have so much things to do, to prepare which is convincing people, and having right attitude, and confidence in one of the most difficult part which we need extra effort to push, to check list, sometimes we do it in our free time, little expenditures. Comparing to 500 million of Singapore dollar that they spent on this museum project, our project is 1/10 of their budget, but I think even tough budget is important, It’s not everything. The data of the National Gallery of Singapore has collected is worth much to value of the bit.
It’s a critical process for evaluating the National Gallery of Singapore process, and looking for what we have, the expenditures, the environment, the process, the realisation, the technology might be different. The nature is different, that is why the design which need to solve this bit of process need to be very responsive in all of the stages. We really need to form a integrated team, to shape our own Indonesia’s national gallery. This humongous process of the iterations converges again in this trip.
What I love is the way that Sushma explained the brief, and the realisation of the project somehow recalled what I saw in Scarpa’s work. It’s intimately telling story about how things made, and the detail, the gab between joint, was exercised. The way that they protected, preserved the old artefacts, previous settings in city hall, the library, the wood finishes, the sloping of the ram, the detail, lamp fitting, the air conditioning ducting, the design of the grill, the skylight which open beautiful light to the sky was appreciated deeply by me.
After the meeting,
in the evening We chilled out at Marina Barrage after the meeting.
I looked at the sky,
and thinking all of the possibility,
The benchmark.
I thought that
the leverage is much higher now.
I miss my family again :)
today Rofi is having birthday, we are going to celebrate it in the studio.
credit to the National Gallery of Singapore picture to Tatyana Kusumo
It is my first time to take trip to Cilacap for seeing project with Rio after birth of Miracle. we will spend 2 days 1 night trip for 14 hours in train, I left miracle and Laurensia. I missed them, I am looking forward to see them again.
here is our strange library, OMAH. These are 4 kids standing from the crowd who helped me in OMAH. Honestly I’m just doing this for fun, and willing to help the young generations, and myself to understand architecture in deeper layer, the under layer within one architecture.
This library is strange library, but it’s not like a story of strange library in Haruki Murakami’s book which is The story of a lonely boy, a mysterious girl, and a tormented sheep man plotting their escape from a nightmarish library, OMAH is paradox from haruki’s story, it’s a hope for better architecture work in the future. GO restless spirit !!!
“Frank, why you design your house like this ?”
“because I like it”
“so you don’t like my project”
“I don’t like it”
“so why you worked on that project”
“because I did it for living”
“you shouldn’t do that then”
“yes, I won’t do that anymore”
that was a concise transcript from the interview of Frank Gehry, in a book by Barbara Isenberg. After that situation, the client left Gehry, and Gehry was terrified for his future, how he would pay his staff without his client. He had difficulty to explain his ideals to the clients, and the clients did not value his design approach. It turned out that Gehry was okay, and the client was okay. Gehry finaly built, Bilbao, and finaly he designed Louis Vuitton Foundation. The client was even more successful, it was happy ending story.
I have another story in just past month.
“The design of the building is below my criteria, this is not sustainable building.”
One time, one man who was the coordinator said it in my first meeting with him . At that time, I was wondering why did he said that, did he know the design intent from the beginning ? did he know the value that was extracted during meeting with clients ? I was angry and argued, that the building is sustainable, and we have got the design approach right from the beginning.
after our explanation, he just noticed that he didn’t get the latest drawing done by us, what he got is the latest drawing done by the previous consultant. I was angry and sounded quite hard, because of the judgement from him without further analysis. I think this is always happened, to get the judgement by its cover. This is problem when people has difficulty to know architect’s intent. I felt sorry because I kind of angry and the situation was not to comfortable for both of us.
Louis Kahn contemplated a romantic picture when he designed the Salk Insitute in California. Scientist would walk up and down between the laboratory building and the plazal the would engage in heated debates about the problems of the world; they would pause to “chalk an equation or draw a diagram” on the slabs of slate that Kahn had placed there for their convenienve. But as Arthur Danto has observed that no bodey was ever there nobode but architectural touris. Kahn was almost hopeless in his romanticicsm, hoped people would rist the the architecture but rarely did or do. [1]
Ironically in architecture without architects, Rudofsky discussed that architecture is not made or designed by individuals or groups intentionally to produce meaning. It happens in Parc de la villete in Paris that the meaning is understandable only if people, through text and narrative know how is understandable by public. This is our home work to explain our idea to the other people other than architect. After that the narrative will come alive as what it was designed. If we have enough experience, the allegory will be decreased if we are more sensitive,of maybe even increased if we lack of information, and disrespect to the other.
The last part is all about alchemy with other people, which proves that my experience with the project management is a process to face other, to explain the architecture, to be patience with the gab of knowledge, to be patience with the judgement, because sometimes it’s just happen in the wrong timing, and wrong place, made by future friends, a fragment of happy ending. I just remember piece by Jaya Suprana played by Priscilla Yosephanie. The title of the piece is Fragmen.
[1] Danto, Arthur. Philosophizing Art : Selected Essays, Berkeley : University of California Press.
[2] Rudofsky, Bernard, Architecture without architect.
He was born on thursday 5 th November 2015. His born is one miracle for our small little family and bigger family of Laurensia’s and Me. I was very happy for this, has been smiling in my action. I think something is different, it’s like having support and energy everyday. It kept us smiling and grateful of all of the blessings in life.
Richard Templar stated that In this life we seek for meaning of life. Observing life in general , people very broadly seem to fall into two main camps : those who seem to have mastered the knack of successful living and those who still find it all a bit of a struggle. He observed the secret of successful living, he said some things we do will make us unhappy and some things we choose to do will make us happier. He divided the rules of life into five areas – us, our partner, our family, our social circle (including work and friends ) and lastly the world. he wrote number of rules, there are 2 rules of 100 rules that made miraclerich is such a contentment for life, and stating our rule as parent to nurture him.
The first one is contentment is a high aim and the second one is the role as a parent.
The first rule showed that the happiness is such an illusory thing that spending too much time chasing it is not very worthwhile. Happiness is one end of a spectrum – misery being the other end. Templar then stated that there will be excitement of birth of a child, relief at a successful birth, but not sure about happiness after that. The most important thing is he said, “fireworks, butterflies, unbelievable feelings. It’s brilliant. It’s extreme. But that intensity can’t and won’t last. You have to go back to reality sometime…. Contentment is what you hope for after the elation has worn off and you settle back into a relaxed and happy simplicity. In fact, contentment is the worthier aim, because it lasts… if you find you are with somebody where there is no big firework display, palpitations and extreme of feelings but there is a baseline contentment and warmth and love – be happy with that.”
The second rule showed that what our duty as a parent. That we have to make sure they eat the best food, best education, developed their own best interest not the one we are keen on, set boundaries what the can and can’t do with acceptable level of discipline. We should provide safe haven, no matter how much trouble they’ve got themselves into in the big bad world outside. We should be firm ,loving, sharing, caring and responsible. We will stand up for them, protect them and keep them safe. We will stretch their imaginations, and feed them with stimuli, so they are excited about the world, finaly templar said,
“You will approve of them, boost their self – esteem, improve their confidence, … and when the time comes for them to leave the nest, you will help them pack and keep giving that support while they find their feet (or should that be wings ?).
not much then really.”
Miracle is easy to care by us, he is quiet even when he pee, poo. He cries only when he is hungry other than that he faced our face with his little eyes, and stayed silent, sometimes smiled. He reminded me of Laurensia, his calm, and perseverance attitude. Me and Laurensia said to him, “Son if you have problem, please let us know, we will help you, don’t stay silent.”
Look at the trees, evergreen, its branches stick to each other. If there is tree standing alone, its branch usually fall down easily during rain, snow, or hard season. We are not different than the trees, when bad thing comes sooner than we expected in this life. We need support from others to keep standing. There is one poet from anonymous. The title is Foot Steps,
Walk a Little Slower, Daddy, Mommy
“Walk a little slower Daddy, Mommy” said a child so small, “I’m following in your footsteps and I don’t want to fall.
Sometimes your steps are very fast, Sometimes they’re hard to see; So walk a little slower, Daddy, Mommy, For you are leading me.
Someday when I’m all grown up, You’re what I want to be; Then I will have a little child Who’ll want to follow me.
And I would want to lead just right, And know that I was true, So walk a little slower, Daddy, Mommy, For I must follow you.”
Miracle, Laurensia, and me will walk a little slower, but no need to follow us, world is waiting for you, we are still here :) My world is changing now, I do many smile all of the time, Laurensia keep smiling all of the time. It’s all because this miracle. Just like my friend, Kolael said “It is now new life for you. Wish it will be field with joy and happiness”
[1] Templar, Richard. The Rules of Life.
[2] Van Ekeren, Glenn. 12 little secret towards happy life
She was smiling, laughing. Tommorow is our big day. I knew she was scared of the cesarian, hoping everybody would be all right, thinking the bad thing, what might happen. She is sleeping right now, I feel more relaxed but I still could not sleep until now, 2.30 am.
Edhie said, “Tommorow you are going to be a father, do many smiles”. I smiled looking his text to me while we were discussing about his house, the skylight, how the skylight will lighten statue of Virgin Mary. I knew him since 3 years ago, suddenly we met in one time, talking and discussing about how warmth one house should be, he is like my family, full of warmth and compassion to the people around him, his aura is positive, hoping the great for future of his family, friends.
After Hearing him, I just noticed that I have been quite nervous, seldom smile, and bitter, to feel afraid of many things which is unsure. I tried to cover with smile which was covering sadness. I was dishonest about my self. I am looking for my light, in the abyss, dragging myself deep to nowhere, until just last night, Laurensia sent me the story about red the little reminded us about cherry. how she has been crying all of the time. Here is the story
I love you, Laurensia, Miracle, Cherry. Thank you Edhie, I will do many smiles. :) thank u for the pray.
“Far and away the best prize that life has to offer is the chance to work hard at work worth doing.” -Theodore Roosevelt
There was one competition of high rise building, we tried to push new ideas, spending time quite a bit to solve the planning. We proposed about having integrated atrium connecting office, meeting, and public space on one linear space connected by building facing north to south and respecting the scale and treatment of the heritage building adjacent. We did several workshop, testing bits pieces, in order to learn much from this project.
Personally I really don’t care about winning or losing this project, there were 3 things in my mind working on this competition : First, to test the strength of process and production of our current team right now, Is the chemistry and coordination strong enough ? . Second, is to have fulfilment session to address the people in the studio, trying to appreciate their time and idea. The third, is to commit myself that this is great learning curve, and obviously we do, I really do learn in this project, for the calculation of the energy in the building, the execution of ideas, and the most difficult part, how to make the design work in terms of operational. In this third idea, the learning curve is exercised, and we need to be confident that our process were great.
In many design exercises, people tend to ask for answers. I really believe dan there are hunger of explorations in the most creative people. This creative people, whom I called them restless spirits, tend to be more cooperative, less – self centred and more willing to help other people. I tried to help them grow, nurturing their ideas. Facing all of the people in the studio, looking at the effort, reminded me of Gretchen Rubin when she asked, what did I do in our spare time ? She found that her co clerks at the supreme court : they read law journals for fun, they talked about cases during their lunch hours, they felt energised by their efforts. They showed enthusiasm.
Enthusiasm is more important to mastery than innate ability, it turns out because the single most important element in developing an expertise is your willingness to practise, you’re better off pursuing a profession that comes easily and that you love because that’s where you will be more eager to practice and thereby ear a competitive advantage. I really enjoy the fun of failure. Let’s not afraid to fail.
Many people worked very hard, I looked at them on 5 a.m in the morning, everybody were very tired, and was sleeping. I felt a sleep quite bit of times at desk, sleeping- waking in the need to wake up and did the model for the development. In my mind, I remember few years back, when me and Iyok, were at the studio of DP Architect in Singapore, just both of us, turning off the lights of the studio.
Actually, I felt guilty to have people staying this late in the office. Suddenly the face of one of the Rimba popped up in my messenger, and telling about how grateful he was, and how much he learnt in this project, and willing to push more.
I have been so fortunate to be accompany with all of beautiful people in RAW studio, there are two things matter most, first who are willing to try premise by premise, testing it, sometimes right and sometimes wrong. let the process flow. I thanked all of these efforts. Second, I looked at the product, and felt very happy with the result, and will give my best thoughts, ideas, to give the best appreciations to their efforts in this moment, this time. It’s commitment to appreciate the process.
Yesterday was the last day for Jovita. I was thinking that RAW is like mutant school in X men, their character just unique by person. Having her graduation was like to let go the beast, one character in marvel full of blue Furs for the ordinary people out there. Some people said she is the phoenix that in fact that her face is rectangle, stiff, her heart shows warmth. All of the people around me, they are doing huge favour for me. I feel so blessed, and being thankful.
I started RAW practice, which I always think off like a mutant school or “Rumah Petak”, in such small room, 3 x 3 meter, it used to be guest bedroom, I spent times sleeping in that room with my grandmother when she need accompany. The room is nice, it faced north side, it was bright for the whole day. It’s located at my parent house. The 3 x 3 m then extended to the garage, space which is 3 x 10 m , a long narrow space, and then mezzanine located on top of it with further exercise of most efficient space, most appropriate lighting, and most reasonable material in this tiny space. The numbers got increased, many young people joined the studio. Today it consists of 20 people including myself. The place was scattered, disorder, full of paradox in its neat reasonable planning. It shows paradox, challenging its status quo time by time.
The table was flipped standing on top of ceiling, the quote of einstein was carved in the entrance saying “ if your ide is not absurd enough there is no hope for it.” Sometimes I try to challenge each project to its limit, by our hard work, deep observation, and numbers of experimentation. I always believe in fresh ideas, fresh meat from our mind.
Is the architecture has singularity effort ? I don’t believe idea that is architecture is a one person’s holistic work, but It could start with one ideas, and the idea got refined, as a part of creative pregnancy. There is no singularity in terms of creating product of architecture. I found out three way of thinking about architecture studio, first that studio should be a container of ideas, place where the experiment should be brought forward, the premise should be challenged. Second, that studio should be a school of design where young restless spirits learn their best, third, that the studio should be place where countless effort noted, re-exercised, praised with no fear. The third process is about the beginning, the transition, and the conclusion of the process re – search, the things that is un-solitary. The process consists of patron, fellow friends, fellow colleagues, assistants, technical , engineers, builders, and future people.
So Jovita, keep fighting. We are all fighting, keep connected. I am supporting you, spread your wings !
Today is friday night, I was thinking about the next lecture on omah series, in collaboration with UPH Architecture and Konteks. This is about the first phase of mastery by greene, it’s deep observation.
Le Corbusier wrote book titled Journey to the East as travel diary that the twenty-four-year-old Charles-Édouard Jeanneret (Le Corbusier) kept during his formative journey through Southern, Central, and Eastern Europe in 1911. It’s about his experience in contact with vernacular architecture, the mosque complexes, the Acropolis, and the Parthenon.
Le Corbusier’s story is very much a story of awakening and a voyage of discoveries, recording a seven-month journey that took him from Berlin through Vienna, Budapest, Bucharest, Istanbul, Athos, Athens, Naples, and Rome, among other places. Le Corbusier considered this journey the most significant of his life. Hearing the lecturer in this short course, is like having a pilgrimage trip from best teachers and professors in this course. I never been to Corbusier’s work, but reading this, I would love to observer some of his works.
This deep observation phase was well known phase for architects, like Antonie Predock, Frank Gehry, carlo scarpa, or even Tadao Ando. To be a master, period of deep observation is the critical point. As Bernard Schumi said in Virilio’s book Landscape as events, there will be person who will be need to share his understanding, wisdom, bringing map so every matters will be shiny in crystal clear for especially to understand the wisdom of the east, very heart of Indonesian specialities. This is the position of the lecturer who will present journey to the east short course.
The process of deep observation is divided to 5 topics , Education, Traditional – Contemporary Architecture, Sustainable design in tropical climate, and materiality in indonesian context – awakening the modern craftmanship. The course is set by 5 considerations on how we learn the forming of education of an architect, understanding our traditional wisdom, reflecting on our current contemporary issues, innovating through sustainable architecture, and the last mastering the architecture and the technology and science of material in form making.
There are 5 – friends, thinkers, and professors that will be the presenter, person who will deliver the thoughts about journey to the east. David Hutama, Setia Sopandi, Avianti Armand, Tiyok Prasetyoadi and Adi Purnomo. David is one of the best to explain the condition of education of architects in indonesia, he is the one who proposed Pak Cung, one architect, historian, lecturer, currator of several exhibition and Bu Vivi, writer, architect, lecturer. Pak Tiyok, co founder GBCI, architect, and community leader and Pak Mamo, writer, architect, and lecturer to join the board. They are very busy people, I am glad they will to help this short course for the restless spirit.
I remember quote from Erich Fromm which fills me full of curiosity in this deep observation phase
“Let your mind start a journey thru a strange new world. Leave all thoughts of the world you knew before. Let your soul take you where you long to be…Close your eyes let your spirit start to soar, and you’ll live as you’ve never lived before.”
There are two types of mindset, fixed mindset, and growth mindset. people with a fixed mindset believe that you are stuck with however much intelligence you’re born with. They would agree with this statement: “If you have to work hard, you don’t have ability. If you have ability, things come naturally to you.” When they fail, these kids feel trapped. They start thinking they must not be as talented or smart as everyone’s been telling them. They avoid challenges, fearful that they won’t look smart.
people with a growth mindset believe that intelligence can be cultivated: the more learning you do, the smarter you become. These kids understand that even geniuses must work hard. When they suffer a setback, they believe they can improve by putting in more time and effort. They value learning over looking smart. They persevere through difficult tasks.
I had talk with Rio, he wanted to open coffee store, he, his girlfriend, like coffee so much. I knew they had business before, Terminal Kopi, and they still have a dream to enjoy their passion in coffee making. Even he tried to explain to me how to make good coffee in several steps. how different little steps to stir coffee will make much difference on the taste, Hearing him, it’s like hearing somebody in joy, I just wonder how he wanted to grow bit by bit considering his young age. He had this growth mindset while some people are just afraid of challenges, fear of the future.
Growth is what the people with the second mindset, growth mindset believe in. It’s what we are in the architecture trying to learn by putting time and effort. Off course the ability will be challenged.
This mindset was well explained by Daniel H. Pink in his book Drive. He introduced three drives in human behaviour, first drive is, the basic drive to survive, to overcome, hunger, drank to quench their thirst. Second drive is, the punishment and reward drive, it’s basically drives from external environment for example like if you raise our pay we would work harder. The third drive, is the learning and explore drives. Human beings seek out novelty and challenges, to explore and to learn. The third drive was more fragile than the other two, it needed the right environment to survive.
Deci wrote in Pink’s book, when money is used as an external reward for some activity, the subjects lose intrinsic interest for the activity, rewards can deliver a short term boost, like caffeine, when the effect wears off, it can reduce a person’s longer term motivation to continue the project. Pink showed example of the closing of the paid Encarta encyclopedia by Microsoft and triumph of wikipedia, open source encyclopedia. The Third drive, is about to push ourself in learning and exploration state, awaking the our creative side.
I remember rio as my self in the beginning of something new, I remember about spirit of cooking by Jakusho Kwong. He stated,
“there is a spirit that we should not lose, an whether we’re just making things up as we go along or someone is right there showing us the way, that spirit holds something important for us in our everyday life.”
Wiwid’s father just passed away. I deeply sad for her loss. I called her, and heard her story, I know it’s not easy for her having loss in such period, a month, for losing his father. She even said that her father suddenly lost his memory. I hope she is going to be okay, our little Cherry is together in heaven with her father.
Emmy is going to have her marriage on 7th next month. She is going to have marriage with her boyfriend, Ganesha. Looking at their time, I have not known their relationship, but I’m happy again to reconnect with her, and getting know her update, what she is doing, and they are doing great !
Our baby will be delivered at the beginning of next month. We are so happy to wait for the little one. My group friends from uni had competitions for our baby name, some of the options were very nice, and very fun. There were normal names like Aldrich, Goodrich, Richie, Salimrich, Richheart biscuit name : rich cheese, even crazier No Rich no Party. How can I not smile to see all of the options.
This is alpha for us, there were omega for other people. there was omega for us and even there were alpha for others.
There is alpha, the beginning, and there will be omega, the ending. Laurensia asked today , what do you like, real flower of just fake flower who will last longer, always blooming ?
I like real flower, orchid. In this life, I don’t believe on eternal object. I believe on moment, the most beautiful part of orchid is when it’s blooming. Moment with whom we spent time together. I believe this life has a beginning and an end. I cherish all of the moment with sad and happiness, get close to each other. Everybody is fighting hard in this universe, everybody deserve to be happy. It’s just the way it is if my time is up, I hope I could share it much to the people.
These few days, I had been stayed late, slept for such little hours. I was determined to push the design to find its perfection, one to another projects. Big to small, those are still same. My eyes were hurt, I felt bitter, if there was mirror I would looked pale. I was very tired.
Instead of having an idea about writing the building, I remember one movie titled how much is your building weigh Mr. Foster. The movie is about showcase of norman foster’s building. I put this movie in appreciation, even though there was critics in New York Times from A. O. Scott about this movie that it should explained more analysis and argument, is more than a little disappointing. I just want to appreciate, efforts of Norman and his friends, creating such humble, amazing, honest pieces by pieces architecture, which demonstrate mastery in Architecture. The effort to create piece of architecture is huge, from the beginning, until completion. I want to appreciate his time.
The movie showed 3 ideas of how I really appreciate Norman Foster and His firm, first that his firm, started by dot, beginning of his smaller, more simple work and drove the opportunity of getting more complex projects which needed bigger team. Second, this movie is just to appreciate for Norman’s and Associate’s time, which considerably high, consuming their life. Third, we can see his time, dedicated to his family and respect his health, Norman, at that time he was 76 years old, participating in a cross-country race through some very beautiful snow and also spending time at home with his young son. Like me, like other architects, what we are willing to get is just appreciation for all of our time, beginning with dot, spending time with all of the team who will collaborate, and spending time with our family.
I can conclude all of this experience in also three points, Yesterday, I was at drop off in Sampoerna Strategic Square, I finished 2 presentations for RAW projects at east Indonesia, well it is still confidential, I will share it when the time is ready, including all of the people involve inside it, with one of long lasting relationship friend. All of these started by dot,relationship like the first point.
For the second point, It will be the Heart of the East with all of the team onboard. We really pushed the design into more than 110 slides, each slide shows deep thinking about the project, accentuation about its soul on 4 design exercises : form finding, detail design, value engineering, and appreciating, getting feedback from all of the owner side : Leader, shares, the team of clients. All of the people need to be appreciated. Me and the team have been spending 2 weeks working non stop on this projects, consuming in total (10 hours x 2 weeks x 5 days x 2 designers (200 hours) + 10 hours x 3 days x 2 associates (60 hours) + 10 hours x 3 days x 4 designers (120 hours)) * 20 percent of plus for other supports from projects which usually we spend more than this. That was 456 hours, I haven’t calculated my time in this project, so I think it will be like 40 hours, so lets sum it all from principal to designer level to 500 hours . We also need to sum up, the time that was consumed in formulating brief, consulting with clients, and the time was spend in client’s side, usually it will take 30 percent from the total project, but I will just leave it empty. If Gladwell stated, 10000 hours is one of the factor to be succeed. I could just smile in second to appreciate all of these process.
I just smile looking on our effort, I think that the movie title should sounded better, at least I would say, how much your time weigh Mr.Foster.
In architecture, for all of the learning, we have to dedicate our time to learn so much knowledge in all of the level consists of art, history, culture and science from theory, and the practical, about building mastery. I remember one poem gave by my friend, Liza Susanto, she came with her husband Adi Indra during opening at OMAH titled The Strange Library.
Strange Library
Knowledge, could it just be a spice to make our brains tastier?
We’re curious. We learn.
We become hungry for knowledge as if we’ve been starving for centuries.
Thus, we cram, we swallow and try to devour everything we could into our heads.
However, time chases us like a hunter after prey.
After all, knowledge doesn’t come to us effortlessly.
We risk the danger of being demolished with time and carefully learn all that there is to learn and remember.
At last, are we able to feast, risk it all and retreat without being fed on by time instead?
I added at the end,
Risk the weigh of time that is what we commonly do.
We risk the weigh of time for that appreciation
Risking the weigh of time for our passion.
Our passion, the weigh of time burning from our heart
Our love, the weigh of time serve people.
Soon I realise at the end, before, Pak Misnu, picking me at the drop off. I realise it’s about time to go back to my family, it’s the third point from what Foster did. I can smile now, and not feeling tired.
Have a great weekend guys. let’s run ! away ! :)
[1]http://www.nytimes.com/2012/01/25/movies/how-much-does-your-building-weigh-on-norman-foster.html?_r=0
[2]http://allpoetry.com/poem/11825194-The-Strange-Library-by-Ann-C.
[3]http://gladwell.com/outliers/ [look as his book, outliers]
What does partnership means ? From Merriam Webster dictionary stated that partnership is the state of being partners or a relationship between partners or a business that is owned by partners. Even further this definition is elaborated in IRS website. It stated the relationship existing between two or more persons who join to carry on a trade or business. Each person contributes money, property, labor or skill, and expects to share in the profits and losses of the business. [2] or from Wikipedia A partnership is an arrangement where parties, known as partners, agree to cooperate to advance their mutual interests. The partners in a partnership may be individuals, businesses, interest-based organizations, schools, governments or combinations organizations may partner together to increase the likelihood of each achieving their mission and to amplify their reach. [3]
What is business means ? from Merriam Webster, the definition is the activity of making, buying, or selling goods or providing services in exchange for money or work that is part of a job or the amount of activity that is done by a store, company, factory, etc.
During this end year crisis, what I say is, it’s not a crisis of money, but crisis of positive mentality. I think that right now, the regulation is getting more organised, There are certainty, orders. It’s one of the good factor in creating great nation. Many people complained about the crisis, Indonesia is such a depressing society. Glenn Hajadi, tutor friend from high street studio once said to me that the situation is now more challenging. 3 things is my mind, hearing him that we have to work harder than before, we have to be more critical with whatever resource that we have, and last one, we have to be free from fear. But other than that, life is just so beautiful to be experience, not by fear, but by joy.
Go travel, as far as you can, go thinking , and wander as unique as you can, experience your life by yourself, there unique path for you. I met Pak Bambang Purwanto, one fotographer, and collaborator in Home Diary Magazine. He told me story about his family and his son, and his experience in taking photographs, and suddenly I remember about Strange Details by Michael Caldwell and we discuss about the character of the architects whom he remembered during his photograph session. I was fortunate to hear his story and support about OMAH. It’s like hearing from patron or clients and colleagues who have been supporting what I have been doing. The feel is precious, because I feel being trusted. It’s everything, being like a family. It’s feel as great as having trust from the associates and the designers in the studio.
I have been friend with Scott, for few years, since I was in DP Architects, we were in the same page, of push pull bar. I feel that it was such in serendipity that he was in WATG (Wimberly Whisenand Allison Tong & Goo) for hospitality projects, and I found RAW few years back. I trusted him as the partner of RAW International since few months back because of 3 reasons. First, that my capacity on running project has limitation, so I have to be very honest about my time. Architecture is a long time process, and prove it is more challenging when we have to get the direction, budget, coordination, it’s all about team work. Second, Scott has strong capability on understanding about building, knowing how it will work in terms of integration between space, form, facade, structure, mechanical, electrical and plumbing. RAW international hopefully running well [finger crossed], with some of overseas projects, we are getting there, the project is being exercised over and over. Third, we have been friends for years, still keep in touch, the relationship is personal, I treated him as like my family, let’s growing bit by bit this time.
The partnership should amplify what I have been doing in the firm. I need time with my family as well. He said it to Yudith, he would like to help me so we can have more time with our family.How can I not agree with him. trust is partnership. Deep down, is the feel like you have family. So What do you think ?
I remember Denise Tjokrosaputro asked about originality in Indonesian Architecture, she shared her concern about copy and paste culture in our architecture, or what we can assume, lack of originality, her question drove further about the education of architecture, how we did teach the students to have their originality. It was fresh question about 2 things, the process of established architect practice and process of the becoming an architect.
In my subtle moment, when I rethinking all of the complexity in what is happening. I just believe the 2 things, first, it is the paradigm that we are having is the culture of fear. second, we need to honestly know about the development of mastering art of architecture.
I will try to describe the second one, because it’s easier. It’s straight forward, Greene agreed with me stated there are three stage to process mastery, first , deep observation – the passive mode, second the skills acquisition – the practice mode, third, the experimentation – the active mode. These three stages are full cycle of iteration for mastering architecture. The first and the second phase are a phase of wanderer, having apprenticeship, culminations of learning curve by previous mentors. and The third phase is the phase of actualisation. This is common when we can read in outliers that we have to acquire 10000 hours of practice, trial and error for mastering skills. Da Vinci once wrote, “one can have no smaller or greater mastery than mastery of oneself” , how can I not agree with him.
The first one, is not so easy to explained, explaining about paradigm is not easy because it consists of economy, politics, philosophy, culture. It combines the past, looking at the breakdown, and try to understand this complex situation. But in short way, Our situation could be described by tagore’s poem, it happens in India almost 100 years ago, the poem of Tagore titled where the mind is without fear. here it is:
“Where the mind is without fear
and the head is held high,
where knowledge is free.
Where the world has not been broken up into fragments by narrow domestic walls.
Where words come out from the depth of truth,
where tireless striving stretches its arms toward perfection.
Where the clear stream of reason has not lost it’s way
into the dreary desert sand of dead habit.
Where the mind is led forward by thee
into ever widening thought and action.
In to that heaven of freedom, my father,
Let my country awake.”
There were so many times, students were asking approvals of their design, they were asking for motivations, they were asking for respects, and later they could accept our guidance because they felt appreciated, nurtured, honoured. Students, they like young flowers, which is ready to bloom, which is beautiful, which show promising about the future. I always said to students that I teach for. They shouldn’t worry about mark, The should keep their inner voice high. Gandhi has proved it this poem could awake his disciples. But in here fundamentality i want to ask, are we in the culture of fear ? I would like to invert Tagore’s poem,
“Where the mind is with fear
are our mind is in fear ?
and the head is helf low ?
where knowledge is not free ?
where the world has been broken up into fragments by narrow domestic walls. ?
where words is not come out from the depth of truth, ?
where tireless striving stretches its arms toward neglection ?
where the clear stream of reason has lost it’s way ?
into the dreary desert sand of dead habit.
where the mind is not led forward by thee
into ever widening thought and action.
In to that hell of freedom, my father,
Let my country …. ?“
The question is in our mind, and the answer is in our mind. It will refresh the society, I will ask for just little imperfection, for just appreciating all of the young spirits, the perfection in imperfection. Are we in the culture of fear ? Am I in the culture of fear. I do hope the mind is without fear every day, every action, every words because I am one of the students as well.
Culture, which we have seen in our daily life sometimes is just taken with no granted. everybody should accept it, more people said that we have to remember our culture to avoid faceless community, one community without any culture. That is arguably true but sometimes we forget behind culture, there should be love that becomes signifier of what we’re doing. We’ve got so many problems in our life. Problems of relationship, your career, your dream.
I believe in one truth, which is …. give the unconditional love to everybody. The world is going to be more wonderful place and beautiful place for all of us.
these are really beautiful clips. See those and what do you think ?
Few relations coming and taught new ways of facing society. We are holding what trust between us in a matter of great work. Trust that we will do always the best work that we ever had, trust that we will respect everybody in the team, every effort. In the way of architecture firm grew even bigger there are 2 terms which are important, one is IDEAS, another is Trust. There are various way of looking through at how we as human develops trust.
First, in terms of generating in IDEAS in the architecture firm, not the personal myself, what my concern is the development of the restless spirit, my little brothers and sisters. Steve Jobs in the companies he ran, he ought to have the design its headquarters to promote interaction across of the company; the space is connected to the central atrium which also contained cafe and mailboxes. in IDEO for example the limit the role of the hierarchy in brainstorming session, in the brainstorming there are no titles, only ideas, It developed team’s ability to be collectively intelligent. Intelligent groups. It based on the diversity of opinions. When it comes to architecture, some of the general ideas could be executed quite easily which in the design development stage, the thought needs to be crystal clear into more thoughtful exercised in terms of build-ability. When it comes into build-ability, IDEO knows then to have more versus less hierarchy and as the result, it wins again and again and again. It’s about workshop between teams of designers, clients, to the inner side of ourself.
Second, Adam Galinsky and Maurice Schweitzer described that trust is essential for almost every social relationship : a happy marriage, a supportive friendship, and a successful organisation. If we cannot trust our spouses, our friends and our business partners, our relationships break down. in fact, almost every transaction we engage in requires some level of trust. When trust in high, these relationships are collaborative and frictionless. Trust , in so many ways , is a key social lubricant. When trust is low, on the other hand, there is friction in every interaction. we are consumed with minimising the risk of being exploited. And as a result, we become competitive, even combative. It’s tough to be a good friend or an effective foe when we’re constantly suspicious and fear exploitation.
This isn’t just true for individuals; countries and societies also cannot achieve the level of cooperation they need to success in the global economy without trust. Indeed economist have linked the economic prosperity of countries to the levels of trust within societies with high levels of trust, economies thrive. But where trust is low, growth is stunted.[1]
Conventional wisdom tells us two things about trust. First, that trust is slow to develop. Second, that once broken, trust, like a vase is almost impossible to repair. They had conclusion in a simple way to restore trust is about getting a way to say I’m sorry in a honest way.
That is the basic way to develop IDEAS and TRUST in institution of man. What do you think ?
[1] Galinsky. A, Schweitzer. M, Friend and Foe, Crown business : New York, 2015, pp139
“Walter Benjamin once wrote, “A Klee painting named ‘Angelus Novus’ shows an angel looking as though he is about to move away from something he is fixedly contemplating. His eyes are staring, his mouth is open, his wings are spread. This is how one pictures the angel of history. His face is turned towards the past. Where we perceive a chain of events, he sees a single catastrophe which keeps piling wreckage upon wreckage and hurls it at his feet.” [1]
Today this theological vision no longer belongs to the angel of history. It has become the vision of each and every one of us” Tschumi argued in his foreword of Paul Virilio’s book titled Landscape of Events. The idea of this book shows a chain of events which resembles our culture, the fear of the future has been outstripped by fear of the past. He even accentuated, the recession of the history entails the retreat of knowledge, the retirement of progress. everything vanishes, Ethical and political ideals, the durability of societies. The book consists of ideas which are accidents, sadness, harsh truth, showing facts that shape our history.
There is a way of survive from Bernard Tschumi’s clairvoyant of Virilio’s A Landscape of Events, by looking at our spiritual self, cultivating whats good in our body and mind mastery, to spread our skill of shaping greater built environment. I believe architecture is powerful enough to change the events to the future its natural state of humanity which every people deserve to living peacefully.
About the past
Talking further about Virilio’s Landscape of Events. Bernard Schumi argued that the time is running fast, and the culture which learn from failure, having the antidote. What happens now is when the breakdown is even faster than before, we don’t have time to learn from our failure, and the guardian of time, Angelus Novus, losing his position, as historian losing their position. In this time we just have to depend on ourself to critise every situation best on every moments, it’s about welcoming the era of moment of accidents. In one history what I can say about comes about one thoughts.
“apa gunanya sejarah
apabila …
kita tidak bisa memanfaatkannya, …
apabila …
tidak ada pelajaran yang bisa dipetik darinya, …
mungkin kita tidak ada
tetapi bisa dipakai
untuk generasi yang akan datang
yang lebih pintar
untuk bisa memanfaatkan
apa yang kita tidak bisa tangkap
dari sejarah itu sendiri …
dari prasasti itu sendiri …
dari …
tumpukan bata yang hidup …
dari daun yang lembut …
dan bata yang keras …
Bibliography
[1] Virilio, Paul, and Julie Rose. A Landscape Of Events. Cambridge, Mass.: MIT Press, 2000. Print.pp xii
“Dear Pak Rich , Kak Yudith, and All the Restless spirits of RAW and OMAH
Thank you for the support you all always give to me now that i’m here in London. The guy in this photo is singin Goo Goo Dolls’ Iris. Although the song was not exactly related to our never ending relationsup. It reminded me of you when the guy sand…, “ You’re the closes to heaven that I’ll ever be…” (yooo ! Gomballl … !! hahaha) But seriously, I deeply thank you all.
Bottom line : Pardon my handmade postcard. Please wish me luc for the 28th as the school starts. Hope you all are having fun as always ! the warmest regards,
Anis :) “
I am happy for her and waiting for her to come back to Indonesia.
Another restless spirit, Rizka Drastiani just also said good bye to us when she visited and attended lecture from David Hutama at Omah. She posted few pictures at her album. she also said that she wanted to improve the education knowledge in the university in Palembang.
As what we could draw from these moments, the term “commencement.” helps us understand that typically, when we hear the word commencement we think of an event that signifies and ending, like a graduation ceremony from high school or college. Bu really this term means to start, it’s about the new beginning. Guys, man and woman of the past, have a great journey to the future, see you, I’m going to miss you guys.
The series of landscape combining 3 wooden wrapped massing faces north to south in-sequence with micro landscape. #rawarchitecture ‘each nation, in short, has its own way of building, according to the materials afforded and the habits of the country.’ Marcus Vitruvius Pollio, Book II, Chapter 1,
Robert Holden and Jamie Liversedge discussed the importance of using local materials as a way to achieve sustainable design.
They discussed that each city traditionally tended to have its own set of paving materials. In London, granite setts and kerbs were the standard nineteenth- century street paving made by Yorkstone (a sand stone). Amsterdam is still a city of narrow brick paviors…. This bioclimatic house constituted parts of understanding the basic of architecture beginning with some issues to create piece of architecture in first part is as issue on fundamental, water management, reduce reuse and recycle. It’s all about Sustainability, and issues on attitude on materials. Second part is the general principle which highlights the properties of raw materials, and clearvuoyant structure and reasonable mechanics. Third part is building material which introduces the materials used in building, stone concrete , brick, metals, timber, glass, plastics and some non convention materials old and new.Fourth part is the elements looks at built element ranging from earth works and top soil, retaining structures, walls, paving and water bodies which covers 60 percent of the site. Fifth part is, assembly which decribes the assembly of built component : corridor , spacious living room, reasonable room size, service core, and view to the landscape.
Have you read this wonderful book ? It was written by Robin Sharma, It’s about journey of one man, Peter to conquer the world in his experience guided by Julian, a monk who sold his Ferrari.
It’s a book combined by what Machiavelli’s book titled The Prince which was given as birthday present from Yusni Aziz. Machiavelli wrote “It must be understood, then, that there are two ways of fighting: one with laws, the other with force; the first way befits mankind, the second befits beast; but since very often does not suffice, one needs to have recourse to the second. and so prince needs to know when to act as a beast and when a man…. it is necessary for a prince to make use of both natures: one without the other cannot survive.[machiavelli:51]
First, he filled his books with advice, idea which is practical on how to get power, retain power. That draws all of the readers, to think our one self interest that ignoring this book and its ideas won’t be beneficial. Next, he explained historical anecdotes, throughout his writing to explain his ideas. He used the characters in his story to spread his ideas. Finally Machiavelli’s used stark, banal language to give his style of writing. Instead of finding their minds slowing and stopping, the readers are enlightened to go beyond their thought and take actions. He left his writing open ended, never telling people exactly what to do in which they must use their own ideas and experiences with power to fill in his writing.
another book is by Laura Romanof which was bought from trip to Solo with RAW people, the book title is Sumarah spiritual wisdom from Java, it’s about art of surrender, losing your self to universe.
Laura mentioned ” The third stage (of spiritual practice) os that of sumarah, of unconditional surrender, of total abandon… here the actual act of faith disappears and is gradually substituted by its fruits : one abandons oneself to the process in complete and absolute acceptance of what is given, no longer asking for anything, no lone utilising the power of the will, no longer invoking faith. This is an absolutely neutral condition where there is no longer any need for effort.” [Romanof:34]
She also had concern that youth of Indonesia, and in particular Java are turning to modernity and feel little attraction to the old ways. She hoped together with Pak Ary and Pak Wondo to preserve the tradition to future generations. As what she believes is as same like what I believe, when the tide turns in Java, as it always eventually does, interest may be reawakened about the old ways. Eventually One friend Vani, one writer who works for Asri, wrote beautiful thoughts for the house that was designed few years ago, Rumah Jawa. She wrote and noted that the story of the house, which I belive that Rumah Jawa design process and its product is also a process of Sumarah to learn the way Subiyanto family relationship with others, a spiritual journey to know the family.
My last and biggest, insight builds on the previous. This year has been hard, as I have said, but I have experienced periods of sheer elation, times when I could hardly believe what I was doing and how much happiness it gave me. Our son will be born on mid of November. We are very excited to spend time with him, watch him grow. There was one moment when our future clients came to our office. He talked about new projects, and suddenly asked about our family, and he prayed for our family. I felt so blessed. Many people prayed for our son, that he will be someone who can bring joy, miracle to everybody near him. Hopefully the day will be as I remember as bright as the white shirt that was might be symbolized as hope from all of beloved team.
bibliography :
1. Machiavelli, Niccolò, and W. K Marriott. The Prince. [Waiheke Island]: Floating Press, 2008. Print. pp 51
2. Romanof, Laura, Alan H Feinstein, and Catherine Bearfield. Sumarah. Print.pp 34
Saturday, 08082015, ““A house can have integrity, just like a person,’ said Roark, ‘and just as seldom.”
― Ayn Rand, The Fountainhead
Architecture is just so magical, by playing simple form, the result could be unexpected, here we have experimentation with box, simple box, a module, which is played in the linear site facing Bandung.
The scheme consists of multiple small scattered boxes facing valley of Bandung, view of city light and view of surrounding pine trees. The modular boxes has several layer of stories such as construction and craftmanship issue which we try to limit the project to three to four meter module divided to 3 categories (main, transition, services) and several sub categories (living, bed, stairs) which the creates their own partiis. the second intention is to enhance such comfortable climate of Bandung , which has cool breeze, comfortable weather ranged from 20 – 22 degree to 27 degree – 28 degree celciuse which encouraged to open the openings, and skylight innovating with cross air circulation and airstacking effect. The third one is the act of considering limitation on expenditures such as the carbon foot print and thermal conductivity in the site which brings the use of selection of material which has the low thermal conductivity.
I met this one couple few weeks ago, they are young, full of promises. They have a dream to live in one beautiful house. I think they are mixture of wanderer , dreamer but has concern of realistic consideration. This journey of this beautiful, scattered natural boxes made by brick and liquid stones are just begun, hopefully it will be happy ending like what we dream for.
“we have spectacular view mas” Rusda said to me before. During our last site survey a month ago , “Look at the view, ” nurul said to me. They were right, the view was spectacular. It has two main points of view, to the valley and another will be to the hill when we can see pine trees. This time we will go for small little boxes which has spectacular view, ressesed, extruded dancing at the mountain with its soul.
Thank you for my dream team RAW for assisting in this project various people to test the premise over and over (Miftah, Tatyana, Rofi, Ali, Agung).
dokter : “Bu bu, tangannya mengepal bu, saya dipelototin, ini megnhadap ke saya ”
laurensia : “iya dok kayanya dia marah, laper dia dok, nunggunya lama dok”
dokter : “maaf ya de, nunggunya lama ya de”
dokter : “ini jarinya empat ya bu, ibu jarinya ngga kelihatan karena lagi mengepal, jarinya jangan nambah lagi ya bu”
love Laurensia and little rich
her smile her hug
her perseverance
her kindness color everyday of life
For the injections, fear of needles
For the hours meeting doctors
For the hours of tears
For the love to our baby and to me
Spread warmth to my heart.
Laurensia stay strong,
You made me just falling in love again in our fourth year marriage. :)
Today, I discussed with Greg about what to share to the restless spirit in OMAH. I was thinking Carlo Scarpa, one venetian master architect, Wright from Europe, and Laurie Baker who was known for his unique climatic and traditional approach of architecture in Kerala, India.
We will do both, analysis of Scarpa, and Baker for their alchemy, expenditures, and experiments.
Alchemy means a seemingly magical process of transformation, creation, or combination. Experiments means a scientific procedure undertaken to make a discovery, test a hypothesis, or demonstrate a known fact. Expedients means Advantage that you have in your design process.
Modern architectural culture has exalted and bewailed the lost organic unity of craftsmanship, finding this a justification of its own adherence to the stylistic codes of standardization. Against this Carlo Scarpa sets the volatility of his own culture and his sympathy with things; his designs seek to redeem his metier as a state of freedom from time, which might be regarded as primitive if this were sufficient to express its initiatory element.
In addition, Scarpa’s details are opposed to the banalization imposed on architectural inventiveness by -usability. The reduction of form to mere expression of function, to mere “washability”, as Ernst Bloch affirms, is rejected in Scarpa’s designs. Scarpa seems to understand that composition does not mean annulling this difference but displaying it. This is true of his use of both materials and technologies, but also of the forms of work that the design employs, stimulating and educating their inner procedures. His designs confronts this gap and emphasizes it. Between design and craft work or manual labour there is a substantive difference, which must not be ignored. (francesco dal co)
The inner procedures might called us to the process of thinking, record of craftmanship, the architect’s biography, which stated by Michael Caldwell in strange details, resulting as a masterpiece work.
maturation of the alchemy, the experiments, the expedients
https://instagram.com/p/5BcP2JArcL/?taken-by=rawarchitecture_best
Disini RAW pameran dengan 3 studio yang lain, ada Studio Dasar, Highstreet Studio, dan Tim tiga. Saya kemudian berpikir, apa arti berpameran. Pameran karya tepatnya bukan, pameran asal gagah – gagahan, atau asal keren, atau asal beken, atau asal terkenal. Oleh karena itu, foto ini diletakkan di pameran, untuk mengajak melihat hasil kerja, bukan hanya gagah – gagahan, satu tim menghadap ke karya untuk mengajak menyelami karya kita. https://instagram.com/p/46TUdogrW6/?taken-by=rawarchitecture_best
“I cannot believe that the purpose of life is to be “Happy.” I think the purpose of life us to be useful, to be responsible, to be compassionate. It is, above all, to matter : to count, to stand for something, to have made some difference that you have lived at all.” Leo C. Rosten
Oscar Niemeyer, Lucio Costa, seorang arsitek dan perencana kota mendesain kota Brasilia dan bangunan pemerintahan di pusat kota yang berbentuk lambang negara Brazil, dengan lambang burung Garuda,yang memiliki langgam yang modern dengan bentuk – bentuk geometris sebagai cara untuk meniciptakan citra kota brasilia yang maju. Brasilia sukses dalam menciptakan citra kota yang indah dengan coretan – coretan garis karya Oscar Niemeyer yang tegas dan monumental. Presiden Soekarno pernah melakukan hal yang serupa dimana ia yakin bahwa lingkungan tempat kita tinggal akan membentuk visi, sebuah konsepsi besar mengenai wajah kota dengan pengembangan – pengembangan mercusuar seperti hotel indonesia, senayan, gedung DPR-MPR yang didesain oleh Soejoedi. Disini terlihat bahwa membangun kota seringkali ditandai dengan merubah wajah kota dengan pembangunan arsitekturnya. Disini arsitektur kemudian menjadi satu cara untuk meningkatkan citra diri. Meskipun dibalik citra kota Brasilia yang indah, perencanaan jalan yang masih berorientasi pada mobil membuat kota tersebut tidak ramah terhadap pejalan kaki, sepi dari pejalan kaki, sehingga menyebabkan kualitas interaksi antar penduduk berlangsung introvert, berbeda dengan yang terjadi di San Paolo ataupun Rio Janeiro. Disinilah kita melihat apakah citra itu menjadi sedemikian penting ? semanis luarnya ? lalu apa itu kualitas yang elementer dan kualitas yang fundamental ?
3 tahun yang lalu kami mendesainkan Arum Dalu Resort untuk Pak Agus Supramono dan keluarganya. Resort berada di tengah hutan dengan jarak 2 jam di daerah membalong, selatan Belitung. Kesulitan yang tinggi mewarnai pengerjaan pembangunan seperti kesulitan akan kualitas tukang dan penyediaan tukang untuk membangun, juga kesulitan akan jenis bahan yang terbatas dalam pembangunan. Desain dimulai dari renovasi 10 buah resort yang sudah dibuat sebelumnya. Keadaan selanjutnya tidak mudah karena kondisi infrasturktur yang terbatas, dimana tidak ada listrik, tidak ada sinyal untuk bisa berkomunikasi, daerah yang masih hutan dengan jalan yang berupa tanah liat yang seringkali membuat kendaraan tergelincir dan perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Alhasil proyek diselesaikan dalam waktu 3 tahun dan sebagian besar waktu pembangunan dihabiskan tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Solusi terhadap krisis pada waktu pembangunan dipecahkan dengan sistem konstruksi prefabrikasi yang tinggi dengan cetakan material batuan sintetis yang dikhususkan dari batuan dan pasir setempat. Disini air ditampung untuk untuk digunakan kembali, dan efisiensi energi ditingkatkan dengan menggunakan energi dari penghawaan udara dan penggunaan energi matahari. Sistem konstruksi bangunan baru menggunakan bahan konstruksi alumunium yang ringan, yang dibungkus anyaman rotan sintetis yang ada di setiap cabana yang ada di 10 villa. Pekerja didatangkan untuk menganyam rotan di tempat, tidak cukup disitu, pengolahan – pengolahan sampah, pembibitan tanaman melalui proses hidroponik dan aeroponik, dipadukan dengan sistem integrasi arsitektur ke dalam bangunannya menjadi cerita villa dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang modern secara fundamental dalam menangani krisis. Arsitektur kemudian muncul dalam anyaman, dan detail – detail yang terselesaikan baik dalam citra bangunan yang dialasi dengan hal yang fundamental.
Kemudian saya teringat kira – kira setengah tahun yang lalu, kami dipanggil kembali untuk mendesain galeri nasional, satu proyek yang kami menangkan dari kompetisi nasional kira – kira 2 tahun yang lalu, alasannya adalah tampak galeri nasional untuk di bagian bangunan tinggi 10 lantai kini menjadi 16 lantai dengan kotak kaca dinilai tidak merepresentasikan galeri nasional, panitia dan tim DED sudah mencoba untuk membuat kulit bangunan, berupa wayang, batik,tanam – tanaman atau apapun itu yang berkaitan dengan kulit bangunan. Desain prinsip bangunan adalah kotak kaca yang dibungkus – bungkus dengan berbagai pendekatan.
Disinilah saya tersadar dalam pergumulan proses desain bahwa, Desain bisa didekati melalui dua buah kualitas, yang pertama desain yang bersifat gimmick atau elementer dan desain yang bersifat mendalam atau fundamental. Dimanakah paradigma desain kita sekarang ini ? apakah kita puas dengan bungkus – membungkus ? melihat satu bangunan dari kulitnya saja ?
Desain dari galeri nasional tentu saja akan merepresentasikan wajah bangsa Indonesia, sederhana namun indah, wajah yang tidak cukup puas untuk diam di kotak kaca, wajah yang tidak cukup puas untuk berhenti di satu titik, wajah desain yang penuh dengan lompatan. Oleh karena itu desain galeri nasional sebaiknya didekati dengan pendekatan yang fundamental terhadap karakter bangsa yang menghargai alam, keterbukaan, dan kesederhanaan melalui material dan sistem konstruksi yang penuh dengan lompatan untuk menyelesaikan masalah kebutuhan ruang dan tidak hanya merancang tampak seperti wayang, atau diberikan elemen batik atau apapun itu yang berkaitan hanya di kulit yang lepas dari stigma kebarat-baratan atau ketimur-timuran.
Desain yang fundamental akan menarik elemen alam dengan lekukannya yang dinamis, untuk kemudian melangkah ke dalam satu titik yang penuh kejutan dimana secara filosofis langit akan menjadi tanah, dan tanah akan menjadi langit. Disitulah mungkin saya mendapatkan pelajaran bahwa hal – hal arsitektural bisa digunakan untuk membangun bangsa, untuk menemukan citra diri yang terhakiki dalam representasi bangunannya di bumi Indonesia tanpa dikotomi barat – timur. Identitas bangsa itu akan muncul dengan sendirinya melalui desain yang fundamental.bahkan alam pun tidak tegak lurus dalam tarikan garis – garisnya. Desain yang semoga menjadi fundamental pun mulai dicoretkan.
lalu
Ketika merefleksikan judul diatas membangun negeri melalui arsitektur, ada banyak sekali parameter untuk bisa membangun negeri melalui arsitektur dan tentunya desain yang baik akan menyelesaikan permasalahan secara fundamental, bukan elementer saja. MIchael Caldwell berkata ada 3 hal yang bisa dirasakan dari karya seorang master arsitek secara fundamental, ia membedah karya master arsitek Carlo Scarpa, Mies Van De Rohe, Frank Llyod Wright, dan Louis Kahn dimana ia menyimpulkan hal yang mendetail yang membuat bangunan yang diciptakan arsitek – arsitek tersebut menjadi master piece. Pertama bahwa arsitekturnya memiliki kepekaan terhadap lokalitas, vernakular, memakai sumber daya yang ada di lokasi secara kreatif lekat dimana bangunan itu berada seperti juga bumi Indonesia dengan berbagai potensi material dan budaya ketukangannya. Yang kedua bahwa arsitekturnya memiliki solusi untuk memuliakan sekitarnya, di kota dan di desa untuk menghubungkan fungsi secara kreatif dari hubungan manusia dengan manusia dan merayakan keindahannya melalui ruang -ruang terbentuknya dan elemen – elemen arsitekturnya , yang ketiga yang terpenting, bahwa arsiteknya berusaha dengan segala sumber daya yang dimilikinya, mendorong dengan kerja keras yang luar biasa untuk hasil yang semaksimal mungkin demi tercapainya kualitas bangunan yang dipercayainya.
Sejauh mata memandang, telinga mendengar, dan hati ini merasakan, saya pun rindu untuk langkanya fundamental arsitektur, dan mulai untuk membangunnya setidaknya dari tulisan ini.
Features : 6 levels of integrated neo kolonial hotel and Health centre consists of 120 luxury rooms with double loaded corridor which offers architecturally balanced between old heritage feel and modernist feel of ambiance in Tanah Abang precinct. The layout formed by courtyard design for having f + B at the ground floor, combining inside outside, integration between the city and the f + B inside
Status : on development
Appointment: 2015
Construction Start: 2016
Completion: 2018
Area: 1000 m²
list of credentials : confidential
Many people have been working hard in the studio, this year we are going to rock the world. 4 Years ago, Roseto was introduced as one concept for creating this creative studio. Roseto is a place where it has own rules, detaching itself from the ourside world which is banal, wild, unpredicted. I’m gratefully happy, How can I not smile to the people who have been helping me in the studio, thank you all.I
The summer workshop 2015 is just now started. Hope all of students enjoy the program. here they are with another ordinary picture with colourful world, I just can’t stop smiling looking at their motivation letter, look at it here www.raw.co.id/summerarchitectureworkshop
Anis asked me, “Why do you want to always build something new, maybe people has started their own idea which is similar, and you could collaborate ?” maybe she was surprised when she heard again another of idea to brainstorm, again ? time to time ? , and I came up with such don’t know where, what , why the idea occurred just after I read two books, one is Pasang Surut Arsitektur Indonesia by Josef Prijotomo, and Perjalanan Malam Hari by Yuswadi Saliya. I concluded in those two book the two main points which are important, 1) architecture as profession has to strive as the construction system has been transforming rapidly, but the discourse of architecture as profession is still questionable, are we improving enough ? 2) We need to be careful to state Arsitektur Indonesia when we are designing, do we design based by strong roots or …. ? roots can be said as context, adaptation of building system, in terms of 4 levels of design quality, Function and art, economic and ethics, time and space, or even more, place and events. In fresh Saturday morning, The idea which was come up is about having a huge collection of material library for architect to find the best material, finishes that is suitable in the studio.In Foster and Partners London, when I worked before, the access to the material library is remarkable, we could find new advancement material such as new type of alumunium finishes, brick, plastic, categories which synthetic or original. It’s based on each durability, strength and ease of material. The question is, the access of the material library is limited to the people inside the studio, the question is, if we make is similar, how can we improve the knowledge by sharing it to the others. Why am I not collaborating with others ? I don’t know but, it’s interesting that the access in Jakarta is quite limited, and I have not yet found people that I can talk to other than Anis and people in the studio, I just haven’t found any friend to talk to, I about to take what was suggested by Anis to expand the idea to the others, and here we are. Thank you Anis, I got reminded again time to time. Remember Glenn Murcutt , there is no such something new in the architecture, the word “new” might be process of discovery the act of trying to do good for the others. “All life demands struggle. Those who have everything given to them become lazy, selfish, and insensitive to the real values of life. The very striving and hard work that we so constantly try to avoid is the major building block in the person we are today.” Pope Paul VI
Pembicaraan mengenai 1% ini lebih kepada persepsi saya ketika berkunjung di open house karya Realrich Sjarief yang dijuluki “The Guild”.
—
Tema yang dipakai pada acara tersebut adalah 99% dan 1%, berbicara mengenai pencapaian seorang arsitek terhadap karyanya.
Dalam konteks ini, The Guild diasumsikan merupakan hasil tempa para perancang dan pembangunnya, di bawah naungan visi sang arsiteknya yang “seakan” belum selesai, dianalogikan dengan angka 99% dan dengan serta merta menyerahkan nasib keberhasilannya kepada sesuatu yang tidak terukur, yakni perasaan si klien, penataran para pengunjung, dan juga kemungkinan untuk kembali dikembangkan; 1% yang tersisa merupakan toleransi atau juga bentuk keterbukaan terhadap pandangan persepsi orang yang luar maupun dalam.
1% merupakan kesempatan, begitu saya mendengar mengenai konsep tersebut, saya merasa 1% ini sebuah wadah yang terasa sangat luas untuk saya, sebagai orang di luar untuk dapat mengkritisi sekaligus bertanya secara bebas terhadap sang pembuatnya., yang pertama kali terngiang adalah bahwa saya tidak merasakan apapun mengenai value “1” tersebut. Namun, rasio yang terkesan dramatik tersebut sempat membuat saya bertanya-tanya; 1% yang melambangkan langkah akhir menuju nilai sempurna apakah yang sufficient.
Perihal mengenai rasio ini pun rasanya bersambung hingga puncak acara, banyak audiensi yang merasa perbandingan 99% dan 1% ini merupakan sebuah takaran yang tidak normal, sebuah analogi yang mungkin kurang cocok ketika profesi mereka (mayoritas arsitektur) hanya dituliskan atau diberi nilai sesuai value tersebut. Sebuah perdebatan terjadi, yang beradu hanyalah persepsi, digerakkan oleh perspektif masing-masing individual.
Pembicaraan lambat-laun berubah arah, dari value 1% seperti apa yang dinanti menjadi suatu hal yang sensitif mengenai profesi arsitek.
Friksi yang terjadi dimungkinkan ketika kesempatan 1% itu justru muncul sehingga memancing daya tarik bagi audiens untuk kemudian bertanya-tanya dan memperdebatkan apa sebetulnya yang dinanti, dan mungkin 5-10 tahun lagi kita akan mendengar perdebatan yang berbeda lagi, sebuah notion yang baru dari obyek yang sama.
—
Saya adalah seorang yang selalu merasa bersemangat ketika mengerjakan sesuatu, terutama pada fase-fase awal. Merencanakan, memimpikan dan mengkhayal tentang hal-hal indah ketika pekerjaan tersebut selesai dengan baik. Ironisnya, seringkali saya tidak berhasil mewujudkan hal-hal indah tersebut sesuai dengan apa yang saya harapkan, saya kadang lupa dengan hasil akhir yang dibayangkan di awal, terlalu seibuk mengulik hal-hal kecil yang mungkin tidak begitu berpengaruh pada gambaran besar
Sulit untuk beranjak fokus pada hal yang lebih penting karena takut “tidak sempurna”, paham yang rasanya semakin saya yakin bahwa itu tidak sepenuhnya benar.
Saya rasa 1% melambangkan sebuah value yang tadi terjadi ketika saya sedang bekerja menuju sebuah target, 1% adalah value yang harus saya berikan pada persepsi di luar “saya” sebagai inisiator. Sebuah kerelaan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu namun tetap percaya pada gambaran besar.
Analogi tersebut membuat saya merasa memiliki harapan. 1% bagi saya adalah harapan, realitas yang harus diberikan kepada orang lain, dalam hal ini bisa saja pengguna rumah,dll. Berapa pun angkanya sebetulnya tidak menjadi masalah, tapi notion yang terus berkembang datang dari perspektif yang berbeda-beda ini yang memang sufficient untuk saya, hal ini yang mungkin akan membuat sebuah mimpi tetap hidup.
Menapak, 1% membuat saya lebih bersemangat, membuat saya harus sadar saya harus keluar dari khayalan yang menyenangkan tersebut, bukan untuk membuangnya, melainkan kesadaran akan ada ranah publik yang akan masuk ke dalam mimpi tersebut, akan ada friksi yang akan membuat gambaran besar visi/ karya menjadi relevan, tidak subyektif.
Saya rasa ketika friksi yang dinanti itu terjadi, mimpi tersebut bisa menjadi sempurna layaknya angka 100%, khayalan yang menjadi realita.
—
Pak Anas Hidayat menganalogikan value 1% seperti ini, “Jika anda sudah menargetkan akan mencoba dicium oleh 100 wanita dan ketika sampai di titik dimana 99 wanita sudah menampar anda, anda belum gagal. Semua ditentukan dengan yang 1 wanita tersisa. Apabila anda berhasil dicium oleh 1 wanita dari 100, anda tetap berhasil”.
Seperti halnya semua orang termasuk Pak Anas Hidayat dan juga Pak Realrich Sjarief sang pembuat rumah tersebut. Jangan pernah menyerah dalam usaha mewujudkan mimpi walau hanya 1% tersisa, well, angka yang tetap terasa penuh harapan untuk saya, yang sedang menuju khayalan indah tersebut.
DINDING. Dinding tinggi, massif, tertutup pemisah yang kuat dan jelas. Seolah tak ingin bergaul dengan lingkungannya. Seolah terpisah dengan dunia di sekitarnya. Seperti berada di dimensi lain, dinding itu seolah menghalangi apapun yang hendak menginvasi, memberi rasa aman bagi apapun yang ada di dalamnya.
BATAS. Terbayang ruang ruang dengan hirarki yang kuat dan keras setelah melihat tegasnya batas antara wilayah desain dan lingkungannya, seperti kota kota benteng dimana yang empunya kekuasaan duduk di tempat paling tinggi memantau semua yang ada dalam teritorinya. Namun ruang tercipta justru sebaliknya, tidak ada titik henti ataupun ujung dalam hirarki. Seluruhnya membentuk lingkaran seolah menyiratkan sailing ketergantungannya yang ada di atas dan di bawah, yang terpelajar dan masi belajar, yang sudah bijaksana dan yang masih mencari tempatnya di dunia.
KUIL. Mungkin ruang benteng yang tercipta malah menciptakan nuansa kuil. Rasa aman dan nyaman membuat semua orang merasa tidak takut untuk berekspresi dan bertidak. Dibalik dinding itu, kita seperti berada di dalam perasingan, dimana kita dapat melupakan apa yang terjadi di luar dan focus dengan apa yang ingin kita gapai. Selayaknya biksu dalam masa semedinya, pergi ke kuil jauh di atas gunung, terisolasi dari dunia, mungkin seperti inilah hasil ruang benteng yang tercipta. Dan mungkin itu juga harapan yang ingin terjadi, manusia yang masuk “benteng” dapat melupakan sementara apa yang terjadi di luar, focus dengan pencariannya, namun seperti biksu biksu, mereka akan kembali ke masyarakat dan berbakti melayani masyarakat.
TERITORI. Ruang yang saling berbagi dan mau berinteraksi, namun hanya dalam lingkungan tertentu, seperti Gated Community, bersifat eksklusif terhadap yang lain namun sangat inklusif terhadap sesamanya. Penciptaan suasana Defensible Space yang sangat pun terjadi pada ruang yang teritorinya jelas. Menjadi hal yang menarik bagaimana penghunsi “benteng” nantinya akan berinteraksi dengan sesamanya, dengan lingkungannya, dan dengan penciptanya. Apakah akan bersifat tidak peduli dengan keindahan lingkungan sekitarnya, tidak terlihat juga dari dalam “benteng”? Apakah malah menjadi kuil yang dihormati oleh lingkungan sekitarnya ?
Features : The two volumes mixed program combined as tower and podium, in order to enable separate circulation and different function accommodating best practice for school and living activity. The interlocking volumes inside two mixed volumes creating void which taking advantage of the benefits of the cross air circulation.
Client: University of Pelita Harapan
Principal Architect : Realrich Sjarief
Project Team : Septrio Effendi, Miftahuddin Nurdayat, Rio Triwardhana, Bambang Priyono, Imam Setiawan, Rofianisa Nurdin
Collaborating Architect and Interior Designer: Leni Sindhu Associates
Management Construction : Optima
Structural Engineer: Sinergi
Quantity Surveyor: Owner
M+E Engineer: Owner
General Contractor : Pulau Intan
Aku tersenyum tiap kali mendengar bibi memanggil kak Rich (panggilan akrab untuk Realrich Sjarief) dengan teriakan setengah sungkan dari luar ruangannya yang luasnya kurang lebih 9 meter persegi di ujung depan garasi rumah orang tuanya, kantor lama RAW. Dengan tampak lusuh karena baru pulang meeting dengan klien, ia menjawab “iya sebentar”. Biasanya teriakan itu terdengar di sela-sela waktu kak Rich sedang berdiskusi dengan Miftah dan Tatyana (duo design associate di RAW), sedang asistensi dengan salah satu desainer, atau sedang membicarakan hal penting dengan kami semua. Tak jarang diskusi berlangsung hingga larut malam, ia pun baru beranjak makan setelah semua urusan selesai dibicarakan. Tanpa sadar satu dua jam telah berlalu sejak panggilan makan malam pertama dari si bibi.
“Ko disuruh makan dulu ko…” Lagi-lagi bibi memanggilnya. Wajah muram mulai tampak perlahan dari rautnya.
Sedari sulitnya memenuhi panggilan makan malam bersama keluarga saja bisa dibayangkan betapa padatnya aktivitas yang dilaluinya. Kesehariannya dihabiskan dengan berkutat pada waktu – tenggat proyek, tanda tangan kontrak, meeting, terbang dari satu kota ke kota lain, cek progress pekerjaan lapangan, dan terkadang harus memenuhi undangan kuliah di kampus-kampus. Pada hari Sabtu dan Minggu juga masih ada urusan lain yang harus diselesaikan, beragam agenda di perpustakaan OMAH Library mungkin baginya adalah relaksasi dari aktivitas proyek yang melelahkan. Lalu apakah itu berarti rumah baginya adalah sekedar ruang untuk transit? Menjadi tempatnya untuk pulang dan beristirahat setelah terpental-pental dari satu tempat ke tempat lainnya dengan cepat. Kemudian harus bangun lebih pagi untuk melakukan aktivitas serupa setiap harinya.
Mari melihat dari apa yang terjadi di dalam rancangan rumah barunya. Ketika pertama kali ditanya, kenapa rumah ini dinamakan “The Guild”? Sederhana saja jawabnya, itu hanya terinspirasi dari istilah yang ada di video game, sebutan yang digunakan untuk perkumpulan. Ia pun berangan-angan rumahnya adalah tempat yang terbuka untuk orang dapat berkumpul, baik untuk bekerja, berdiskusi, dan beragam kegiatan dengan niat baik lainnya. Ia mengimpikan sebuah bangunan yang compact untuk merangkum semua kegiatan yang diperlukannya. Maka tidak perlu heran, implikasinya adalah tanah yang seluas sekitar 650 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 420 meter persegi, dua per tiga dari bagian massa bangunannya didedikasikan untuk publik – kantor, workshop, omah, halaman luas untuk diskusi, dan klinik dokter gigi istrinya. Sementara untuk ruang hunian sendiri, hanya ada satu kamar tidur dan satu kamar mandi utama. Kamar tidur bibi (asisten rumah tangga) diletakan sejajar dengan kamar tidur utama, didesain memiliki skylight yang menjadikan kamar terkesan megah. “Bibi harus dapat tempat yang spesial”, katanya.
Banyak kejadian menarik, baik sebelum pindah atau selama aku menghuni di rumah ini. Pada saat masih dibangun misalnya, tentang proses membuat geometri aneh yang ada di studio, sempat terlintas pertanyaan dari kepalaku bagaimana bisa muncul bentuk lengkung dan lingkaran dan untuk apa itu dibuat? Semuanya terjadi dengan improvisasi dan eksekusi di lapangan, dengan gambar kerja seadanya. Ide-ide muncul karena keinginan untuk menantang para tukang yang sangat lihai. “Mereka semua itu orang pinter, kalau tidak dikasih pekerjaan yang rumit mereka akan bosan”, begitu kata kak Rich. Bentuk akhir bangunan ini terkesan campur aduk. Para tukang pun puas dengan apa yang dikerjakannya.
Setelah menghuni pun demikian. Tidak hanya bentuk yang membingungkan, begitu juga program ruangnya. Aku terheran-heran jika teringat tentang bibi pernah terkunci setelah selesai dari kamar mandi tengah malam. Kamar mandi ini letaknya jauh dari kamar bibi, ada di sisi terluar ruang kantor yang ada di lantai satu, sedangkan kamar bibi ada di lantai dua. Bibi malam itu menangis, sembari aku kebingungan dalam hati, apa pentingnya skylight yang megah kalau bibi lebih butuh kamar mandi gumamku. Bukan kali pertama aku mendengar keluhannya, aku pun sempat tertawa waktu bibi masak di dapur dan kebingungan harus meletakan masakan yang baru matang dimana. Maklum, dapurnya sangat kecil, kitchen setnya hanya cukup untuk satu kompor dan satu kitchen sink. Akhirnya, meja tambahan pun ditambahkan. Bibi pun memaafkan kami yang malahan mengunci ruangan kantor malam itu tanpa ingat dia ada di kamar mandi. Rumah itu memang tempat untuk berbagi cerita lucu bukan?
Aku, sebagai salah satu penghuni rumah yang lain ini sengaja menghindar dari rayuan bentuk kurvatur, lingkaran, kastil. kotak, coakan, dan berbagai geometri yang bercampur aduk di dalam rumahnya karena tidak cukup penting bagiku keberadaannya. Hal yang lebih menarik bagiku justru adalah pertanyaan, untuk apa itu dibuat semacam itu? Jawabannya tidak lebih dari pemaknaan-pemaknaan yang dikarangnya sendiri. Bentuk lingkaran baginya adalah kesempurnaan, kurvatur baginya adalah bukaan yang seperlunya, berundak baginya adalah tumpangsari, undakan di tiap pintu masuk baginya adalah berhati-hatilah ketika masuk ruangan, lantai dan dinding yang difinish acian baginya adalah pietra serena dan stucco lucido, susunan grc melayang pada dinding adalah representasi dari strange details dan yang menarik adalah saat ditanya apa maksud dari bentuk menyerupai kastil? Jawabannya adalah tanpa intensi apapun tiba-tiba menjadi seperti itu. Menariknya, segala ledakan geometri yang ada di dalam bangunan yang sudah sulit-sulit dibuat itu malahan berusaha ditutupi dari bagian luar agar tidak mencolok jika dilihat tetangga dengan menggunakan beberapa material tambahan. Maka bagi saya rumahnya adalah implikasi dari ambisi pribadi, angan-angan yang belum tercapai, dan juga harapan bersiratkan sejuta makna yang tentunya mengandung kebaikan yang diimpikannya.
Sebagai seorang arsitek muda yang kehidupannya berkutat dengan tekanan waktu (dan tentunya masih ada keinginan untuk terus berkembang), rumah ini adalah candu bagi dirinya. Semua hal yang telah dirancangnya memang sengaja untuk dilihat dari dalam, refleksi bagi dirinya melihat beragam eksperimentasi dalam karya yang dihuni sendiri. Ia berusaha untuk jujur tidak menutupi segala proses yang telah dilalui dalam membangun rumah ini, baik ketercapaian maupun kegagalan. Dialog dengan tukang pun masih berlanjut hingga hari ini. Rumah ini tidak akan pernah selesai, sampai tidak ada lagi masalah yang muncul. Ketika ia sudah menyadarinya, pastinya ia orang yang sudah banyak belajar dari kejujurannya. Ia menularkan kejujuran itu kepada kami, para penghuni rumah yang lain untuk terus belajar tanpa takut bereksperimentasi.
“Yaal, makan dulu yuk…” Bibi mulai kelelahan memanggilnya. Terpaksa Kak Yudith menggantikannya. Dengan panggilan suara lembut khas dirinya biasanya membuat Kak Rich takluk dan segera beranjak dari aktivitasnya.
“Iya-iya, sebentar ya…” Jawabnya. Akhirnya ia beranjak masuk untuk makan sambil berkata santun pada kami, “Saya makan dulu ya…”
Perlu diakui, terpaksa aku pun harus menyebut diriku “penghuni yang lain” rumah ini, lantaran waktu yang ku habiskan di the guild lebih banyak ketimbang di rumahku sendiri. Lebih dari dua belas jam ku habiskan di sini. Cukup njelimet memang membicarakan perihal rumah, apalagi tentang rumah arsitek. Tak terasa ini sudah pukul satu pagi. Seharian kuhabiskan waktuku di rumahnya sampai-sampai aku kesulitan mencari waktu untuk diriku sendiri, paling tidak membicarakan tentang rumahnya itu. Aku harus segera pulang ke rumahku dan harus segera menyelesaikan seluruh tulisanku. Aku ingin segera beranjak ke ranjang tidurku.
Waktu itu tidak terbayang akan jadi seperti apa, karena dari awal perencanaannya sangat sederhana dan fokus utama memang ke proyek kantor bukan ke proyek The Guild ini. Masih ingat waktu pertama kali bertanya kepada Realrich akan arti The Guild, usaha saya yang pertama adalah mencari arti katanya di website.
The Guild = Serikat pekerja
Hmm, memang sih kita adalah pekerja yang terkumpul dibawah naungan RAW, pekerja yang cukup abstrak dan dengan latar belakang yang cukup berbeda dengan tujuan yang sama. Dan bangunan ini memang menggambarkan The Guild itu sendiri. Sudah lihat denahnya Sudah lihat tempat tinggalnya dan kantornya Ya area privasinya cukup kecil dibandingkan dengan area kantor. Mungkin karena namanya The Guild atau mungkin fokus utamanya memang lebih ke ruang dan detail arsitekturnya. Toh banyak ruangan-ruangan di areal benteng yang nantinya bisa jadi apa saja. Lalu kalau dilihat dari perjalanan pembuatannya, terlalu banyak perubahan dari rencana awal baik secara desain maupun konstruksi, namun sepertinya proses pembuatan The Guild memang di nikmati oleh Realrich dan timnya. Kayaknya memang harusnya berproses arsitektur harusnya seperti ini deh
Lucunya anak-anak desainer yang terlibat di proyek ini ibarat teh, dicelup-celup, kalau sudah jadi tehnya tinggal diangkat,kalau mau bikin teh lagi, ya celup lagi yang baru ditambah bekas yang tadi kalau masih bagus. Karena pengetahuan saya dalam proyek ini juga masih tambal sulam, dan mungkin The Guild akan tercipta apabila pengetahuan seluruh team disini digabungkan.
Waktu pertama kali pindah, agak aneh juga ya karena terbiasa dengan kantor garasi kesayangan di pulau ayer 1 yang senggol dikit bacok. Sedangkan di The Guild sepertinya jauh lebih manusiawi untuk anak-anak RAW dan mungkin memang sudah waktunya untuk seperti ini . Apalagi berbagai macam detailnya dapat dipelajari langsung untuk desainer yang sangat jarang dapat kesempatan kelapangan.
Proses yang terjadi dalam bangunan ini bukan hanya proses pencarian dan pembelajaran, namun juga proses pengedukasian bagi mereka yang berpotensi di bidangnya untuk naik tingkat berikutnya dengan bahasa kerennya craftmanship baik bagi Realrich, team DOT Workshop, team RAW, team OMAH, dan juga untuk mereka yang datang kemari. Bahwa The Guild sebagai wadah untuk mengakomodasi mereka yang berpotensi dan bersemangat akan arsitektur. Selamat datang di The Guild, selamat belajar dan berbagi.
This house in Jakarta walled its west side with service and open air space while exposing south and north to landscape and transparent, covered by roof that function as garden and rainwater collection. The detail is crafted on site by local and basic material, brick, concrete, plate and hollow steel.
using foot plate foundation installed at a depth of 1.5 m which is used for 2 storey building. the foundations made continuous with the column with its base in the form of cast concrete with reinforcement plate. The process requiring extensive excavation, mold, and water mixture for casting concrete. The footplate foundations merge with continous footing. columns and beams use steel that are connected with stiffener. the distance between column and columns about 6-8m.
the floor plate is made from profiled steel decking and the cast by concrete aims to save on materials.
Rain water is captured from the roof catchments then flows to a shelter in the form of a fish pond, this rain water flowed through pipes located on the side of the building. the water collected will be pumped to garden watering set by timer everyday at 7am and 5 pm
Poetry essentially immeasurable because it is something that can be felt but intangible. When it is applied to architecture , then there is a poetic creation with one important criteria which is inclusivity attitude, there are 3 inclusive approach that is exercised in the guild which antoniades might agreed with this :
through the inclusion as many people as possible to create great thought about system
through the inclusion as many diverse points of view as possible with regard to what has been perceived and appreciated as good in architecture
through the inclusion as many ways of conception as possible, to create never itteration until the design get exercised and built.
A building is not like an article that is easy to read and has implied meaning, but more like poetry that requires a deep understanding beyond what appears on the surface. An architects has elements of space, form and scale that can be described as a poetic space through inclusivity attitude. A poetic space can be measuring the value of intimacy which determines what kind of relationship between space and human. the dimension of intimacy can be a space-forming element that ultimately determines the level of poetic a space. The dimension of intimacy which makes a space has a different identity from another space. A story is one of the ways to get the value of intimacy, and also has a role in describing the space created. these stories that will give meaning to the space. The intimacy that can be perceived by human to space to determine whether the space will be something meaningful or empty.
The guild is a house for living, working and sharing. The guild’s program combined RAW’s studio, OMAH library and residence. The Design in this house was exercised in program, construction making, and process of living in full iteration from concept to construction. The program is flexible and demanding, providing flexibility and limitations of activities. In this house, the living, working, and sharing is exercised in programming and the detail. The programming is to be flexible but provide limitations. The program has been changing from time to time, from 3 bedrooms to 1 bedroom, from simple shape to more complex geometry, from perfection to imperfection. The guild consists of 2 storey, 1 mezzanine, and 1 summer pavilion on its roof top sitting along with linear garden and one inner courtyard. The office consists of mezzanine and formed by catenary curved, parabolic curve and circle forming the door, the office plan, and window. The structure material used is steel, in a grid 2x 6 m stair as its vertical circulation. It is located at the centre with the main and biggest tappered void made by concrete with slight opening on the top.
This Passive cooling provides to balance the temperature and humidity through the flow of energy. It flows for radiation, conduction, or convection, without electrical tools. Passive Cooling in this building is located in Mezzanine Studio. Here’s some pictures of Passive Cooling we have designed:
opening near the entrance
This opening provides the air flow from air conditioner from the next floor mezzanine. This opening created with 4 cm steel framework module, coated by perforated steel and we use fisher finishing . Perforated steel has designed with holes, so the air can flow through the perforated.
Catenary Curve, between Studio and Associates Room
The Catenary Curve opening could flow the air from mezzanine to the area between associates room and mezzanine. It framed by 2mm thick steel.
Gap between polycarbonat and concrete
This gap located on the side building which separates studio and motorcycle parking. The function of this gap is similiar with those opening which had been explained above; to flow the cool air from the second floor of the mezzanine to the floor below it. This gap also has a function to conduct natural light from outside the building. This gap is coated by polycarbonate and perforated steel. Polycarbonate was placed there to reduce the warm.
In Mezanine, near the pool
Detail of little hole
Actually, this opening was closed by a 8mm solid glass, and the proper function of this opening is not the flow the air from above to below but to conduct the natural light, and to create the “unity” between the Ground Floor Mezzanine and the floor above it. Solid glass, give the transparent effect and also strong enough to And, there is a little hole to withstand human weight. But, this opening still capable to flow the cool air, cause there is a little hole on it, which allow cross air circulation.
The tappered skylight is elaborated in 4 different forms and details with steel as bracket of tempered glass with each uses from the simple into the more complex showing the relationship in working by architect, the design team and builders. The smallest skylight is placed at the 2nd living room, bedroom, and private bathroom. The other skylights is placed in the second bedroom and offices which is exercised of opening at top and opening at the side forming a stacking expression “tumpangsari”, stepped form like stairs, a philosophy in Javanese Culture that is usually found in roof wooden structure in traditional joglo house. It’s a belief that as human we are willing to be successful, going up the ladder of life, nevertheless in this house, this form is made by concrete. The house is open facing north south while the west side is walled with open air bathroom. The other double layered poly carbonate and perforated metal sheet screen provides lighting and more privacy to the office look as its location is in the residential area.
Siang itu saya menikmati waktu lenggang yang tidak seberapa di sebuah warung sebelah kantor, yang, dijuluki Si Benteng oleh para penghuni-nya. Saya anak baru, saya cuma magang disana, beruntungnya saya masuk awal bulan Mei saat si Benteng baru dilahirkan dan mulai dihuni sebagaimana fungsinya. Walaupun, belum sepenuhnya bisa merangkak bahkan berjalan. Kami penghuni-nya yang menuntun adek Benteng kemudian memberinya tirai pada bagian tubuhnya yang tersengat panas matahari, menghiasnya dengan pernak-pernik agar sang adik terlihat menarik untuk para tamu yang silih berganti berkunjung untuk menengoknya.Ya Seperti yang saya bilang, saya cuma anak baru. Baru kenal bapaknya, ndoro Sugih. Baru dapat kepercayaan dari beliau untuk turut menuntun anaknya yang baru lahir, mengisi ruang dalam rekam jejak hidupnya nanti. Itu kenapa saya lebih sering keluar dibanding penghuni si Benteng yang lain. Saya masih ingin kenal si Benteng lebih jauh, mulai dari mengamatinya dari warung sebelah, dari pos satpam perumahan, atau dari depan rumah tetangga yang berada di seberangnya. Warung sebelah, tempat yang paling sering saya kunjungi untuk menatap si Benteng. Kadang pagi sebelum mulai masuk kantor, kalau lagi datang pagi, saya mampir untuk seruput kopi panas sambil ngudud. Duduk diam, termenung di bale kayu depan warung yang tak beratap. Dari sini sesekali menyipitkan mata kalau menatap lurus pada pucuk-pucuk pelindung kepala si Benteng. Pucuk-pucuk penangkal petir yang gagah menusuk lagit seperti menantang dunia tempat ia dilahirkan.
Dari sini juga terlihat topi-topi cerobong udara/cahaya si Benteng yang begitu lugas berkata, kalau mereka berfungsi dengan baik memberi cukup penerangan alami untuk si Benteng. Memberi cukup ruang untuk melepas udara panas yang mengganggu si Benteng. Sementara dari warung ini juga, komentar para tetangga tentang si Benteng sering jadi perbincangan yang menarik. Pemilik warung, lebih banyak berkomentar tentang proses kelahiran si Benteng. Menurutnya prosesnya sangat panjang, kurang lebih menghabiskan waktu selama tiga tahun. Dia banyak bercerita tentang pengalamannya mengamati proses tersebut. Yang selalu jadi pertanyaan untuknya adalah, bagaimana nanti rupanya si Benteng ; kapan hari kelahirannya . Tapi yang paling penting, pertanyaannya sekarang saat si benteng sudah resmi terlahir di dunia dan mulai bisa berinteraksi. Si pemilik warung punya pertanyaan, si Benteng sudah lahir .Seorang ibu pemuilik kontrakan di sebelah warung pun sesekali menanyai saya tentang si Benteng. Mas, bapaknya si Benteng suka matematika ya Anaknya kok bisa berwujud seperti itu Kayak rumus matematika, ya Saya ngeliatnya kayak ada bentuk kerucut, tabung, dan bidang bidang masif yang tegas .
Sementara saya Cuma bisa tersenyum, mengiyakan komentar sang ibu pemilik kontrakan itu. Tak lama setelah meresponnya, bapak tua penjual cendol yang mengaku tiap kamis lewat di samping tempat si Benteng bersemayam menyambar komentarnya.Katanya, bapaknya seorang arsitek ya Si ndoro Sugih Tenanan itu, kan Kok anaknya seperti itu ya Buat saya gak menarik, Mas. Kita kan butuh warna untuk memanjakan mata.Kalau warnanya hijau, pasti saya suka , ujar bapak tua penjual cendol sambil meninggalkan gerobak pikul cendolnya, lalu duduk di sebelah saya
The process consists of several types of construction material to achieve efficiency, and durability by local craftsmanship. The first one is engineered wood construction using thinnest plywood in the area which is untouched by rain water which is engineered by 2 cm thickness plywood to easily bent in the curve and divided on module of 600 cm glass except the tempered glass which is used for full height glass from floor to ceiling. The other intention is to use recycle material such as iron wood and teakwood cut it into smaller pieces and treat it as floor finishes. All of the catenary door is an enginereed door which is exercised based on the efficiency of ergonomy, height of the people, ease to open the door, adjusted for the owner’s dimension, the minimum size of opening, the limitation of hinge and combination of steel.
The second process one is steel construction in creating rooftop stairs, office stairs, railing, window which use smallest size at it can to make it easy to build and construct with not more than 2 persons in one group using 40 x 40 mm steel in L shape and hollow shape joined with bolt to be able to dismantle and constructed in the construction process.
The third one is concrete construction which is art to casting the concrete which will open the skylight in top and the side part with tappered detail allowing natural light to the space inside.
I just bumped attitudes of achieving similarity lacking originality.
A simulacrum (plural: simulacra from Latin: simulacrum, which means “likeness, similarity”), is a representation or imitation of a person or thing.[1] The word was first recorded in the English language in the late 16th century, used to describe a representation, such as a statue or a painting, especially of a god. By the late 19th century, it had gathered a secondary association of inferiority: an image without the substance or qualities of the original.[2] Philosopher Fredric Jameson offers photorealism as an example of artistic simulacrum, where a painting is sometimes created by copying a photograph that is itself a copy of the real.[3] Other art forms that play with simulacra include trompe-l’œil,[4] pop art, Italian neorealism, and French New Wave.[3]
Laurensia had her 33rd birthday on 22nd May. I had everything special for her. Last friday we in the office had great dateline that pushed us quite hard. I was glad that we can pass the critical point. After the dateline finished, we had such nice dinner, finaly done. I think I have to prepare something, flower for this saturday, nice present, or I need to relieve quality time just for her.
One publication just contacted me for writing one article about building nation. I was thinking to come up with idea for proud to be indonesian, and the question is, how can we come up with the feel of proud… we are what we belong, if we have to do something with nation. I remember I met sylvania, friend from ITB architecture, I was thinking that someday we should prepare education of architecture for free for students, that was when story of omah happened. RAW has been doing great, but OMAH is one way to share for others for free. Is it possible to make architecture accesible for all ?
or maybe or must be,
I think too much, right now I just wanna enjoy quality time with Laurensia :) I just came back from multiple design workshops, and meetings today, felt tired, Good Day. Tommorow will be better than today.
tulisan ini dipersiapkan untuk majalah galeri, Universitas Diponegoro – # 1 Reborn Architecture. video mengenai brione cemetry yang didesain carlo scarpa ditampilkan, karena karya tersebut memiliki paradoks, mengenai depth soal kebangkitan, cinta, dan kematian, yang sesuai dengan artikel ini yang membahas mengenai kebangkitan kritik arsitektur
Fraser dan Hodgins berpendapat bahwa jurnalistik pada dasarnya adalah segala bentuk yang terkait dengan pembuatan berita dan ulasan mengenai berita yang disampaikan ke publik ataupun lebih – lebih lagi ada unsur gagasan untuk kepentingan publik, tanggung jawab yaitu dalam rangka membela kebenaran dan keadilan. Namun seberapa benar, dan seberapa adil terkait dengan informasi adalah satu dan dua hal yang kompleks untuk bisa dijelaskan dimana kebenaran disini terkait dengan transparasi dan hasil analisa yang kemudian bisa dipertanggung jawabkan kepada publik yang membaca. Untuk bisa melakukan pertanggungjawaban, seorang jurnalis memerlukan sebuah sikap dan kemampuan untuk memahami, menjelaskan, menganalisa dan mengevaluasi gagasan sehingga pada titik yang tertinggi disinilah pentingnya kritik dalam arsitektur sebagai bentuk jurnalisme yang memangku kepentingan publik.[1]
Dua hari ini saya membaca buku yang ditulis oleh Martin Pawley, judulnya The Strange Death of Architecture Criticism (kematian yang aneh dari kritik arsitektur), dengan pengantar ditulis oleh Norman Foster. Apakah ini pertanda dari kematian dalam cerita arsitektur ? Martin menjelaskan latar belakang penulisan artikel tersebut karena budaya publikasi yang kental dengan sikap berjualan seperti : menonjolkan gambaran – gambaran cantik saja, berita – berita baik saja. Di tulisan ini memberikan argumentasi bahwa lambat laun kritik arsitektur akan mati, hilang, karena sifat dasar arsitek yang menafikan elemen – elemen pembentuk satu proyek seperti : plagiarisme, kurangnya penghargaan terhadap kerja tim, elemen – elemen pembentuk seperti uang , waktu dan pada kontraktor, hubungan antar klien, meskipun saya sendiri tidak sepenuhnya setuju karena lapisan tanggung proyek yang kompleks, dan tingkat pemahaman publik yang tidak sama, namun katakanlah ini Martin sedang mengingatkan arsitek dan publik apa yang sedang terjadi, inilah jurnal arsitektur, perlunya memberikan reaksi terhadap apa yang menjadi kondisi awal. [2]
Jurnalisme dalam arsitektur perlu untuk menelisik lebih dalam dari sekedar klaim – klaim atau kulit atau permukaan, menyibak tirak yang tertutup untuk memberikan kesimpulan yang menunjukkan kredibilitas penulisnya. Dari kacamata jurnalisme, seorang arsitek jenius, atau seseorang biasa – biasa saja menjadi sama. Kondisi dunia yang tidak sama, sarat dengan kekuasaan ini dijelaskan dalam buku yang ditulis Machiavelli, berjudul the prince (sang pangeran), mengenai hubungan antar manusia, bagaimana proses manusia meraih kekuasaan, memperbesar kekuasaan dan kemudian mempertahankan kekuasaan, atau setidaknya itu pula yang diulas oleh robert greene dalam bukunya yang berjudul The 33 Strategies Of War (33 strategi berperang) , karena budaya menegasikan, menutupi, mematikan, menjadi insting dasar manusia untuk hidup. Disinilah fakta, cerita, ataupun deskripsi produk dan proses yang jujur yang dibahas oleh jurnalisme yang membentuk cerita yang utuh, bisa dipahami, diraih intisarinya untuk mendobrak kesombongan kekuasaan, dan kondisi stagnan menjadi penting. Cerita yang diharapkan adalah cerita kesedihan atau bisa juga kebahagiaan mengenai produk dan proses bangunan dengan segala inovasi dan penemuan – penemuan kreatif, untuk menjelaskan pertanyaan bahwa apakah arsitektur kita sekarang benar – benar menjawab permasalahan, dan memberikan gagasan – gagasan baru ? [3]
Jurnalisme arsitektur yang menjawab permasalahan untuk memperbaiki satu kondisi awal (domain), menjadi penting, [4] karena layaknya kehidupan, setiap sendi – sendi hasil dari kriya manusia dalam satu bangunan tercermin dalam cerita arsitektur yang dibuatnya dan perlunya evolusi sebagai dasar untuk memperbaiki kondisi awal. Dari situ lah esensi dasar jurnalisme ada, untuk membuat sebuah cerita yang bisa dibaca, dan menggugah fantasi kecil pembaca. Jurnalisme dalam Arsitektur itu pada dasarnya bisa didekati dengan dua hal yaitu produk, dan proses. Produk bisa diwakilkan dalam pendekatan penjelasan yang sinkronik , mengacu pada hasil, tanpa mempertimbangkan proses, membedah melalui sistem. Proses bisa diwakilkan dalam penjelasan yang diakronik, atau kronologis, mencoba untuk mengetahui lebih dalam dengan runtutan sejarah. Disinilah dua buah pendekatan linguistik dan semiotik yang dibahas oleh Ferdinand Saussure bisa digunakan, pendekatan diakronik dan sinkronik [5]
Para sejarahwan seperti P.Leslie Waterhouse dalam bukunya the story of architecture di tahun 1901, menceritakan sudut pandang arsitektur secara diakronik dari segi sejarah, dimana ia membagi sejarah ke dalam 9 titik sejarah berdasarkan ideologi, ornamen, perencanaan ruang, ataupun anteseden yang dianggap mewakili setiap fase sejarah, seperti : arsitektur mesir, arsitektur yunani, arsitektur roma dan etruscan, arsitektur nasrani, arsitektur muslim, arsitektur romanesque, arsitektur gothic, arsitektur renaissance dan terakhir arsitektur modern. [6] kemudian Setiadi Sopandi didalam bukunya pengantar sejarah arsitektur membuat telaah diakronik dari segi sistem bangunan dengan memberikan tema konstruksi bangunan berupa : gundukan dan tumpukan, tiang dan balok, busur dan kubah, geomoteri dan teori.[7] Saya menilai buku Setiadi Sopandi lekat dengan jembatan antara dunia praktis dan akademis dimana ia mencoba untuk mengolah informasi kedalam dimensi untuk mudah diaplikasikan dari sudut pandang sistem konstruksi. Disinilah adanya dialektika dalam penulisan sejarah arsitektur, proses jurnalistik bisa dimulai dari membuat referensi, mengumpulkan data secara diakronik atau membuat analisa secara sinkronik. Dua contoh pembahasan ide – ide dari pembahasan secara sinkronik bisa terlihat seperti yang dibuat heino engel dalam bukunya Tragsysteme (sistem struktur) yang menjelaskan 5 buah klasifikasi (form,vector, cross section, surface, dan height), yang sangat sederhana untuk membedah seluruh struktur yang ada di dunia konstruksi, dengan mengklasifikasikan bagaimana beban tekan dan tarik, momen dan perilaku material dalam membuat bentuk sebuah bangunan. [8] Contoh lainnya bisa dilihat dari buku architecture without architect (arsitektur tanpa arsitek) yang ditulis oleh Bernard Rudofsky, mengenai arsitektur yang orisinal, asli, penuh dengan inovasi, kreatif, yang sudah ada sejak jaman primitif. [9]
Tragsystem, illustrated by Heino EngelsHyderabad, Sindh, southern Pakistan; not Hyderabad, Andhra Pradesh, south India. Images from Bernard Rudofsky, Architecture without Architects, New York, Museum of Modern Art, 1964: windscoops (called bad-gir by Rudofsky, müg by Wikipedia) on the roofs of buildings, which channel air into their interiors. “In multistoried houses they reach all the way down, doubling as intramural telephones. Although the origin of this contraption is unknown, it has been in use for at least five hundred years.”
Dari kedua pendekatan ini ada sah – sah saja untuk dipilih atau digabungkan yang bisa digunakan untuk sudut pandang dalam memulai. Namun lebih jauh lagi Jurnalisme dalam arsitektur ini diharapkan memiliki kedalaman pemikiran yang diibaratkan membaca satu tulisan seperti mencicipi satu buah yang akan dimakan. Kita mengharapkan bisa mencicipi daging buah tersebut, menembus kulit untuk kemudian merasakan manis dan pahitnya. Proses merasakan ini bisa dirasakan melalui tingkat kedalaman informasi yang diberikan dan tingkat fantasi yang melibatkan atau memanjakan indera perasa pembaca . Sehingga ketika membaca sebuah jurnal dalam arsitektur, kita seperti mengalami satu perjalanan yang luar biasa indahnya, seperti saat kita mengalami ruang – ruang arsitektur yang begitu indahnya dalam produk dan proses. Ruang -ruang yang dibentuk oleh jurnalistik, akan membangkitkan kecintaan kita pada sastra, sehingga arsitektur yang didesain akan bisa bercerita dengan sendirinya melalui tulisan.
Apabila Martin Pawley memilih untuk menulis mengenai kematian kritik arsitektur, saya lebih berpikir optimis, bahwa inilah saat – saat kebangkitan jurnalistik dalam arsitektur dengan memahami, menjelaskan, menganalisa, dan mengkritik arsitektur Indonesia. Saya akan menunggu Martin Pawley dari kutub yang berseberangan.
[1]Komunikasipraktis.com,. ‘Pengertian Jurnalistik: Daftar Definisi Jurnalistik | Komunikasi Praktis’. N.p., 2015. Web. 2 May 2015. untuk memahami definisi dasar jurnalistik,pendapat dari fraser, menjelaskan struktur dasar jurnalistik dan pendapat dari hodgins menjelaskan pentingnya kebenaran dan keadilan dalam jurnalistik. [2] Pawley, Martin, and David Jenkins. The Strange Death Of Architectural Criticism. London: Black Dog Pub., 2007. pp 330,331 [3] Baca juga dua buah buku yang membahas mengenai bagaimana manusa mempengaruhi manusia lain dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan. Machiavelli, Niccolò, and W. K Marriott. The Prince. [Waiheke Island]: Floating Press, 2008. Print. dan Greene, Robert. The 33 Strategies Of War. New York: Viking, 2006. Print. [4] Lihat kuliah David Hutama di Halaman http://www.omah-library.com yang membahas tentang kreativitas dalam arsitektur. David menjelaskan orang – orang kreatif sebagai agen evolusi. Saya menilai dimensi kreativitas kedapan kepentingan publik dan pentingnya evolusi ke dalam jurnalisme dalam arsitektur. [5] baca juga latar belakang dari ahli linguistik, semiotik, Ferdinand De Saussure Egs.edu,. ‘Ferdinand De Saussure- Swiss Linguist And Philosopher – Biography’. N.p., 2015. Web. 2 May 2015. [6] Waterhouse, P. Leslie, and R. A Cordingley. The Story Of Architecture. London: Batsford, 1950. Print. [7]Sopandi, Setiadi.Sejarah Arsitektur Sebuah Pengantar. Jakarta: UPH Press, 2015. Print. [8]Engel, Heino. Tragsysteme. Ostfildern-Ruit: Gerd Hatje Publishers, 1997. Print. [9]Rudofsky, Bernard. Architecture Without Architects. New York: Museum of Modern Art; distributed by Doubleday, Garden City, N.Y, 1964. Print.
I was touched by brion tomb by carlo scarpa, the quoestion would be could we do even better than him in terms of effort,and beauty of craftmanship. by integrating what chales waldheim thought in his book, by integration of water sensitive urban design creating water sensitive architecture (Waldheim, Charles. The Landscape Urbanism Reader. New York: Princeton Architectural Press, 2006. Print.)
everytime you go to yogyakarta, stay here, she showed us one room with bathroom connected to her room. She said “I can use you to give me suggestion for my home and gallery everytime (boleh juga katanya) “( we laugh over loud) . And then few people came, she said to everybody, ” I have new son and daughter now, pointing at us whom I (kartika) met in serendipity in affandi’s gallery. ” I felt that It’s not that we are so special, but she treated everyone like her son or daughter, and we were so lucky to meet her. She is just so lovely. And she said “i have told you my story, and what’s yours ? “….Such admirable person! in such age and willing to ask , listen and teach unknown people in front of her.
while preparing lecture for student of Trisakti, in one venue title Metamorfosa 2015, I was thinking to share the thinking Jonathan Barnett about how to design a place in be predicting behaviour setting, or Le Corbusier about the importance of rationalism, influencing by paradigm, or even Jon Lang about compexity of public realm issues in urban design by three issues, procedures, products, and paradigms in urban design.
At the beginning of this month, I wrote one article for Baccarat Indonesia. The idea was to rethink the idea of smart home, is the home smarter than us the people living inside or the other way around. I remember one storey of Ben Copper in movie titled smart home. It was the story of the home who is become smarter than the owner. The owner, Ben Copper asked the house to take care of him, and the result is the house overprotected him.
“Di Tahun 1998, Ben Cooper yang saat itu berumur 13 tahun dan keluarganya mengalami kesulitan untuk mengatur hidup mereka, mengatur rumah, mengatur tugas– tugas sekolah dan mengatur pekerjaannya. Ben remaja tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri seperti anak lainnya, termasuk untuk bermain basket, satu olahraga yang disenanginya. Suatu ketika Ben dan keluarganya memenangkan sebuah rumah pintar yang dinamakan Pat, sekaligus diperkenalkan dengan penciptanya, Sara Barnes. Pat mampu menyelesaikan tugas– tugas yang dilakukan Ben untuk mengatur rumah. Tidak puas dengan program yang dimiliki Pat, Ben memprogram kembali rumah tersebut untuk “seolah-olah” menjadi seorang ibu bagi keluarganya, membuat Pat mengatur kehidupan mereka, termasuk mengatur jadwal dan membuat keputusan! Secara perlahan, Pat mengubah dirinya sendiri dan tidak mengijinkan keluarga tersebut keluar rumah. Di akhir cerita Ben berhasil meyakinkan Pat bahwa dia tidak nyata dan ia bukan manusia. Akhirnya mereka kembali terbebas, dan Pat diprogram ulang untuk kembali ke kondisi awal. Ini adalah satu cerita dari film “Smart Home” yang dirilis tahun 1999. Di era tersebut banyak film bertema kepintaran sebuah rumah, satu kecerdasan buatan, satu lingkungan yang memudahkan manusia yang kemudian manusia itu sendiri terbelenggu dalam teknologi yang diciptakannya. Saya kemudian bertanya–tanya apakah kegiatan memelihara rumah itu sedemikian sulitnya untuk bisa dilakukan sendiri dan dinikmati.”
Then I compared the story with story of Ferdi and Joice, both of them are my clients, creative people who works as graphic designer. I think they are smart people, and become smarter living in their home
“Teringat juga dalam satu saat, kira–kira dua tahun yang lalu, saya bertemu dengan Ferdi dan Joice, mereka meminta saya menjadi arsitek rumah impian mereka di atas lahan 150 meter persegi yang kemudian diberi nama Istakagrha. Pasangan ini kreatif dan keduanya berprofesi sebagai desainer grafis. Ferdi dan Joice menginginkan rumah yang natural, memandang ke alam dengan suasana vila di Bali, tempat mereka mungkin menghabiskan waktu terbaik bersama. Rumah ini memiliki ruang–ruang lapang yang berbeda dengan rumah yang ditempati sebelumnya yang terkesan sempit karena tersekat-sekat akibat pengaturan rumah yang tidak efisien.
Saya pun mendesain konsep teknologi sederhana Smart Home di mana rumah tersebut memiliki konsep teknologi penghawaan alami dengan sirkulasi udara silang dan air stacking effect yang menghadap ke arah Timur dan memberikan sisinya yang tertutup untuk menghadap ke arah Barat. Di sisi Timur terdapat taman sebesar satu pertiga tanah mereka yang seluas 50 meter persegi merangkap garasi luar. Di taman ini diberikan satu latar belakang dengan teknologi konstruksi tumpuk, bata ringan yang disusun dengan lubang sebesar 5 cm dan berselang–seling untuk menjaga privasi. Di taman ini dibingkailah sebuah ruang keluarga, tempat mereka menghabiskan waktu bersama. Di area ruang keluarga terdapat dapur bersih dengan desain yang fungsional, mudah dirawat, dan terlihat mewah namun sederhana untuk memasak dengan kompor gas karena mereka biasa menghabiskan waktu untuk masak sendiri dan makan bersama. Mereka kemudian bercerita bahwa sejak rumah ini selesai dibangun dan ditempati, mereka menghabiskan waktu lebih lama di rumah tersebut dibandingkan dengan berpergian ke mal. Mereka mulai mengundang teman–teman untuk menghabiskan waktu bersama, sehingga ada nilai kebersamaan yang dibangun. Mereka pun menjadi lebih peka bahwa sisi matahari yang menghadap Barat itu akan memberikan panas yang terik di jam 3 sore. Teknologi yang dipakai di sini adalah teknologi yang sederhana dengan penerapan fisika bangunan untuk mengembalikan hunian yang dekat ke alam dengan seminimal mungkin menggunakan mesin untuk mengatur kehidupan manusia. Ferdi dan Joice adalah pengatur kehidupan mereka di Istakagrha.”
Then the result was
“Saya kemudian bertanya–tanya mengenai apa itu Smart Home? Apa yang sebenarnya dibangun di dalamnya? Sebuah keluarga yang berproses untuk menguasai teknologi ataukah teknologi yang lebih pintar daripada manusia yang kemudian menguasai keluarga tersebut? Dari situlah mungkin kita mendapatkan cerita–cerita yang mendalam mengenai bagaimana kita tinggal dan hidup di rumah tersebut. Cerita yang unik ketika si penghuni dimudahkan dan belajar tanpa henti di dalam runtutan teknologi di dalam rumah yang indah.”
Then I was thinking, technology could be integrated with system, structure, to recall what we think science in architecture, I think the book by Heinrio Eingels, one of my favourite about building structure system, might be useful to determine how structure address the space in wide span, tall building, or functional model. I remember last time I had lectured in University of Petra about the importance of knowing this science of making form and space, science of architecture
1] the quoted section in the article was published in Baccarat Indonesia, this month edition.
There was promise that I made for our family just a month ago , a promise to spread our happiness for our family, which is our little secret. This story belong to my wife and my son or daughter who are still in womb, not yet born, still young 2 months old.
I can’t provide anything in this journey which our family has, which i think this journey is a wonderful journey. Sometime I have to say I put much of my time in architecture, how I can help people, nurturing staffs, creating ideas, it is simply doing stuffs that I love. To be honest, sometime I feel very guilty not to pay attention, giving time for all of you Son/Daughter, in which I have to say thank you for all of the generosity, all of the patience, that you have to me. Son/Daughter, I hope our journey in the day that you are born, will come true, as we, your mother, and me your father, really miss you so much, by happiness not by tears, by joy, not by sadness.
To release our past, it is not so easy, there is affiliation with past that we always remember, but Me, your father and Laurensia, your mother have been trying to accept our life, our human condition, that makes us just like who we are. In our heart, we only hope that your coming to our life will fill emptiness in our heart, to release our past.
In this such extraordinary time that I did in architecture, such tremendous hours in one day, I’m working hard, just like other father doing the best, to push their best, to show to you, your mom or even to egoistical myself that I can take care of our family. I really want to learn from you for doing another the very best mistakes that I have, and learning what the best from the best people that we will face in this live, together as family. I am just afraid that I always try to help others, but for the people that I care most, I forgot to pay attention to. Laurensia has fear of losing you son / daughter, I am in a huge fear of losing you. In our young age, i must say, we were taught to feel lost of family, lost of son of daughter and son several times. It brought scar in our heart. Some people said that in order to be strong you have to release pain, give medicine to your scar, you have to release your past.
I hope that this journey will be happy ending, at least for you, so you can meet your beautiful mother, Laurensia, who has always been missing you, who has been in tears for losing someone special. I really miss you, and hopefully God will answer your mom’s and father’s prayer that we can do this adventure together, we already have huge plan for you and your will be little sisters and your will be little brothers. That was the promise, and the promise is a way to keep our faith in life.
Istakagrha, work by RAW was published in Home Diary magazine. The article was written by Home Diary team and The beautiful pictures was taken by Bambang Purwanto.
from left to right (Andhang, Tatyana, Meirisa, me, Primaldy, Tony, Silvanus), pic taken by Silvanus
I’m proud of who, where they are, I’m so proud of the future that they face, I’m so much proud of the authenticity that they keep in their inner beauty. I remember few years back because we were discussing the old time, the current time, and the future that we have.
Kita perlu mempertanyakan apakah kotak itu harus selalu tegak lurus menghadap lot jalan yang biasa berbentuk tegak lurus, atau apakah ia bisa merepresentasikan keinginan untuk manusia untuk hidup, berkreasi, dan tinggal didalamnya. Ketika satu bentuk itu ada, ia ada berdasarkan coretan garis diantara dua kerangka, garis- garis penuh pertimbangan yang taktis, terukur juga garis – garis emosional, dimana ada ketakutan kekuatan di dalam diri. 2 garis itu bersatu dalam satu pertunjukkan yang hidup ketika manusia mulai mendesain, manusia mulai berpikir tentang nalar, dimana ada kebutuhan, ada pemahaman mengenai karakter, ada visi mengenai bagaimana bangunan itu akan dibangun, bagaimana kehidupan itu akan dibangun.
Saat yang lalu bertemu dengan beberapa klien, beberapa dari mereka adalah satu keluarga yang ingin hidup bersama tinggal di dalam satu rumah yang terpecah – pecah menjadi beberapa kelompok bangunan namun ingin tetap terhubung satu dengan yang lain. Ada satu prinsip keterdekatan dan keterjauhan, ingin ada jarak namun tetap dekat, terhubung, seperti hubungan manusia, paradoks yang dimainkan. Arsitektur pun seperti itu, satu buah ruang besar dengan ketinggian 2 lantai tanpa kolom, disinilah mereka bisa berkumpul, menonton TV, makan bersama, memasak bersama, bersosialisasi bersama. Ruang – ruang tidur di sebarkan di sekitar ruang keluarga dengan menghadap ke taman. Kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, apa bentuk dasar yang dipakai ? saya berpikir susunan beberapa kerangka yang memiliki keterdekatan dan keterjauhan yang dipisahkan oleh taman akan baik, tarian beberapa buah kotak.
Didalam satu kerangka yang ada, terdapat keterdekatan dan keterjauhan, terdapat ledakan kreatifitas tanpa batas, yang diselami lebih dalam dan lebih dalam lagi setiap harinya bangunan itu didesain menjadi lebih baik dan lebih baik lagi oleh manusia. Hal ini wajar terjadi dalam relasi manusia, begitupun juga relasi tarian yang ada dalam ledakan – ledakan di dalam bangunan. Apabila bangunan membentuk manusia didalamnya, begitupun arti satu bangunan dalam kehidupan manusia atau lebih dalam disinilah hidup seorang manusia baru saja dimulai untuk belajar hidup yang lebih baik. Apakah kita perlu terkungkung dalam satu garis yang tegas, dengan perencanaan yang axial. Karena kita hidup dalam sistem, dimana ada satu keteraturan yang mengatur dengan pola – pola yang tegas di dalam kerangka yang ada, setiap orang begitupun bangunan berhak untuk hidup dalam ledakan emosinya, ledakan kreatifitasannya. Begitulah hidup saya pikir, hidup dalam kerangka dan keinginan manusia adalah lepas dari kerangka itu. Sebuah keinginan yang terus berujung dari awal hidup sampai kematian, begitupun juga manusia, begitupun juga bangunan.
Nongkrong Bareng Arsitek mempersembahkan, NBA with Realrich Sjarief. Siapa itu Realrich Sjarief? kalau teman2 googling ada 3 link paling atas yang bakal keluar yaitu :
Tema kali ini adalah “menjadi mumpuni merajut kemampuan” adalah percobaan untuk membuka wawasan arsitek dan mahasiswa arsitektur, khususnya yang muda, fresh graduate. Jangan buru2 atau gegabah jika ingin menjadi arsitek. baru lulus langsung buka biro/studio..ada tahapan2 yang butuh anda lalui sebelum anda benar2 menjadi seorang arsitek. untuk menjadi mumpuni di kehidupan sehari hari, anda harus merajut kemampuan mulai dari sebelum anda kuliah di kampus arsitektur, pada saat kuliah dan setelah anda lulus, bahkan sampai anda tua nanti, anda akan tetap merajut kemampaun.
Arsitek Realrich Sjarief akan sharing, tentang pengalamannya dalam merajut kemampuannya mulai dari saat kuliah, lulus, kerja di indonesia dan di luar indonesia serta akhirnya beliau membuka studio sendiri.
Mas Rich akan menjadi presenter pada hari Jum’at 27 February 2015 di Toko Cheesecake, L’ Cheese Factory jalan durian 28 sukajadi Pekanbaru.
Acara akan dimulai jam 19.30 – 21.30 wib.
acara ini tetap akan selalu FREE alias Gratis tapi tempat duduk terbatas (kalau berdiri sih tempatnya banyak), jadi kami harapkan untuk reserve tempat terlebih dahulu dengan cara SMS/Whatsapp ke nomer 082392224699 dengan format (nama,email,jumlah seat)
Di tahun 1990 Pameran AMI [Arsitek Muda Indonesia] menandai satu titik kritis dimana desain yang rasionalis ataupun yang sering disebut – sebut sebagai gaya minimalis menjadi sejarah di dalam arsitektur Indonesia. Desain rasionalis ditandai dengan garis – garis yang geometris, penuh pertimbangan untuk menjawab kebutuhan fungsional dan estetika yang tinggi. Hal ini menandai pergeseran nilai – nilai tentang apa yang dianggap baik oleh Arsitek Muda Indonesia sebagai reaksi terhadap menjamurnya rumah bergaya mediterania, klasik, ataupun tradisional yang menjamur pada waktu itu. 14 tahun kemudian, setelah pameran AMI tersebut, rumah – rumah yang rasionalis ini menjamur dimana – mana, gaya rasionalis menjadi satu tren pasar yang sensual untuk disukai oleh masyarakat. Hal ini ditambah dengan perubahan gaya hidup orang – orang yang lebih individual juga terjadi hal ini ditandai dengan tendensi berkurangnya rumah nukleus, rumah yang terdiri dari beberapa generasi di dalamnya. Mungkin 20 tahun yang lalu kita masih biasa dengan tradisi bapak ibu, kakek nenek, cucu cucu tinggal di dalam satu rumah. Sebuah situasi dimana canda gurau, tegur sapa terjadi secara dekat di dalam satu rumah yang ditinggali bersama – sama. Untuk ini kita bisa catat adanya pergeseran gaya hidup, pergeseran budaya, pegeseran dari tradisional menjadi modern, pergeseran dari komunal menjadi individual. Tergerusnya rumah nukleus ini menjadi satu hal yang patut untuk dicatat dan tumbuhnya rumah – rumah berukuran lebih kecil menjadi pertanda akan satu perubahan yang nyata. Pertanyaannya kemudian untuk siapa ? dan untuk apa ? satu rumah itu ada.
Untuk siapa ?
Romantisme akan keluarga yang menyatukan hubungan menjadi satu dasar utama dalam membina kesuksesan. Orang yang tinggal bersama – sama, menurut penelitian di Amerika orang – orang mengalami interaksi manusia dengan manusia terbukti akan hidup lebih lama. Catatan ini ditujukan sebagai ada korelasi dari gaya hidup / budaya ke dalam satu parameter yang hakiki, seberapa lama kita hidup, ternyata semangat kebersamaan [spirit togetherness] yang menjadi satu ciri khas yang baik dalam masyarakat kita, ternyata memiliki harta yang terpenting dalam hidup setiap orang yakni, seberapa lama kita hidup atau seberapa banyak usia yang kita punya.
Tren meningkatnya nilai individualistis ini di kota – kota besar seperti Jakarta mungkin juga dipicu oleh kurangnya tempat untuk berekspresi dan berkumpul, sehingga ada dimensi seperti ini yang mempengaruhi kualitas manusia yang menghargai arsitektur yang menghargai kebersamaan. Di tengah – tengah mulai berbenahnya Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Bogor, dan kota – kota lain. Kita di hadapkan kepada pertanyaan mengenai rumah, satu kumpulan ruang tempat kita menghabiskan sebagian waktu di dalam hidup kita, nilai apakah yang akan kita pupuk didalam rumah tersebut. Tentu saja banyak rumah yang memiliki kualitas tinggi, kualitas tinggi itu menerobos kungkungan tradisional dan modern. Ia mampu tegak berdiri di tengah kungkungan permintaan jaman, sehingga lambat laun rumah tersebut dicintai oleh orang – orang yang menghuninya atau bahkan hanya sekadar mengunjunginya karena kualitas yang terdapat didalamnya.
Untuk apa ?
Buku yang ditulis oleh Bernard Rudofsky, Architecture Without Architects bisa menjadi satu rujukan dimana menjelaskan mengenai beberapa karya rumah tinggal di tungkwan Honan, Cina misal, adalah satu rumah di bawah tanah sebagai satu usaha untuk menghindari udara dingin dan terpaan badai taufan dimana temperatur bisa turun drastis, ataupun rumah – rumah petak di Hdyrabad Pakistan dengan fitur cerobong angin untuk mendinginkan udara pada ruang di dalam dimana udara panas mengalir ke atas karena kelembapan yang rendah. Terdapat satu garis yang menyatukan beberapa bangunan yang dibahas yaitu bangunan yang diciptakan adalah satu jawaban akan kebutuhan mendasar manusia. Hal ini juga terlihat dalam rumah – rumah adat di indonesia misal rumah Batak Karo, Toba dimana bangunan dibuat panggung untuk menghindari binatang buas dan menjaga kesehatan karena konstruksi yang tersedia adalah konstruksi kayu. Ataupun Keben yang ditujukan sebagai lumbung padi yang berupa rumah panggung sekaligus menunjukkan simbol kekayaan materi pemilik rumah tersebut.
Rumah – rumah tradisional Indonesia juga merupakan respon terhadap satu kebutuhan mendasar untuk hidup nyaman dengan keterbatasan material, teknik membangun yang ada pada jamannya. Di era modern ini dimana kebutuhan mendasar manusia sudah tercukupi kemudian apa lagi yang harus dijawab oleh arsitektur tropis Indonesia. Abraham Maslow dalam penjelasan mengenai teori bagaimana alam semesta mencukupi kebutuhan manusia, bahwa ternyata kebutuhan yang paling utama adalah kebutuhan untuk mengekspresikan diri. Di titik ini, esensi apa yang mau dijawab dalam desain menjadi tidak sederhana lagi, ia menjadi kompleks karena terkait dengan pemaknaan untuk apa kita hidup dimana hal ini berbeda dari satu orang dan orang yang lain. Keberagaman ini yang tercampur aduk dalam modernitas sekarang ini, dimana orang mempertanyakan batas seberapa tradisional dan seberapa modern satu desain, dua hal yang bertolak belakang. Ingin terlihat baru juga terlihat lama, ingin terlihat berat juga terlihat ringan, ingin melihat masa lalu juga melihat masa depan.
Lalu ?
Manusia memang seakan – akan bingung dengan apa yang diinginkan dengan segala keinginannya terus menerus berubah, tradisional menuju modern. Menurut saya semuanya ini dimulai dari satu usaha untuk membuat desain yang lebih baik daripada sebelumnya. Perlu kita lihat rumah Millard karya dari Frank Llyod Wright seluas 220 m2 untuk Alice Millard di tahun 1906, kira – kira hampir seratus tahun yang lalu. Rumah yang didesain untuk menonjolkan sisi ketukangan [craftmanship] dengan material beton yang dicetak menyerupai motif sehingga menjadi tema dalam perancangannya selain pengalaman ruang yang merespon sisi selatan yang terbuka terhadap matahari mengingat posisinya di daerah Amerika Utara yang ada di Lintang Utara sehingga matahari selalu datang dari arah selatan. Frank llyod Wright ingin membuktikan bahwa ia juga bisa berkreasi dengan material yang sederhana yaitu beton. Rumah ini menjadi satu penanda di Los Angeles dan menjadi satu karya yang menjadi contoh akan membuat satu hal yang belum ada di daerah tersebut sebelumnya yang memecahkan hal – hal mendasar seperti pentingnya sinar matahari, udara yang masuk di pori – pori motif beton yang ada sampai kepada hal – hal yang bersifat keindahan, dibanggakan oleh orang – orang lain, tidak hanya pemiliknya. Kalau misalnya desain Millard house sudah dibangun sejak tahun 1923, lalu kita di tahun 2014, ditanyakan dengan satu pertanyaan, bisakah kita membuat yang lebih baik lagi. Mengenai rumah tradisional di jaman modern ini, saya kemudian ingat satu kalimat dari Daniel Liebeskind, “To provide meaningful architecture is not to parody history but to articulate it.” Be Authentic, be honest with yourself dan ajakannya kemudian adalah membuat karya yang lebih baik dari masa lalu.
Diskusi di OMAH, mengenai Architecture Without Architect.
Tulisan ini ditampilkan di Baccarat edisi akhir tahun 2014
Features : Two curvy volumes act as anchor to activate the street, creating a well integrated convention centre, food and beverage centre, and meeting space. The form of the building was inspired by wooden log inside the site, while also inspires the program to create wood museum, extending the program to mix culture and commercial in one integrated development.
Client: Mitora Highland
Principal Architect : Realrich Sjarief
Conceptual Design Team : Randy Abimanyu, Apriani Sarashayu
RAW Architecture, Realrich is in IMAGE magazine 5th edition. Here is the publication from the two of the editor’s team, Afifah Husnul Amaliyah, Natalia Siringoringo
[MAJALAH IMAGE #5]
Ingin tahu apa itu MRA?
Bagaimana pendapat praktisi, akademisi, dan IAI mengenai MRA?
Lalu bagaimana sikap kita dalam menghadapi AEC?
Mau tahu juga tips-tips sayembara?
Penasaran dengan pengalaman kp di luar negri?
Ayo baca saja semua hanya di Majalah IMAGE #5
Klik link di bawah ini
Omah Library, one of RAW’s design was published in konteks.org for its spirit , please check the article here “Sekitar tiga tahun lalu saya berkunjung ke garasi sebuah rumah bernomor 1 di jalan Pulau Ayer II, Puri Indah, Jakarta Barat. Kurang lebih 20 orang meramaikan garasi tersebut dan kami menghabiskan lebih dari dua jam menonton dan berdiskusi tentang film “How Much Your Building Weigh Mr. Foster?”. Di tempat yang sama berkali-kali setelahnya diadakan pula acara arsitektural yang menyenangkan nan edukatif lainnya….”
Baku, Azarbaijan. City of Winds. “The wind represent the force of change, the matter of change is nothing compare to the matter of love”
Laurensia mengatakan bahwa kami sedang mendapatkan anugerah yang terindah dari Tuhan. Saya berpikir bagaimana bisa ia bisa sedemikian sabarnya menghadapi apa yang sudah terjadi. Laurensia, satu orang yang merupakan anugrah yang terbaik yang diri ini temui, dari titik pertemuan kembali dirinya sejak diri ini ada di London sampai sekarang ini.
Kami sudah beberapa kali mengalami kesedihan, janin tidak berkembang selama waktu yang singkat ataupun yang paling lama hamil selama 7 bulan di masa kehamilan pertama. Kehamilan kedua dan ketiga, juga tidak memiliki waktu yang lama, dimana kami harus menerima kenyataan, janin tidak berkembang. Kami bertanya – tanya dan ke beberapa dokter kandungan, dan beberapa dokter ahli penyakit dalam yang semuanya memiliki niat yang baik untuk membantu.
Ada yang mempermasalahkan toxoplasma yang masih positif IGMnya, meskipun sedikit. Sampai tes terhadap aviditas terhadap toxoplasma dilakukan, karena nilainya yang tinggi, diketahui bahwa infeksi ini sudah berjalan lama dan dokter tidak mempermasalahkan ini, dengan memberikan obat Pyrimethamine ataupun spiramycin sebelum kehamilan, ataupun dimasa kehamilan yang terus mengkonsumsi spiramycin selama beberapa saat untuk kemudian memiliki masa rehat tidak meminum obat untuk kemudian meneruskannya semasa kehamilan. Ataupun kami juga melakukan tes DNA yang dilakukan, berkali – kali tes darah untuk melihat apakah permasalahannya ada di toxo plasma, hanya untuk mengetahui dari ilmu pengetahuan, apa yang bisa dilakukan untuk menghindari kejadian yang berulang. Tepatnya sekitar setengah tahun yang lalu, Dokter Raditya menyarankan kami untuk ke dokter spesialis darah, Dr. Djumhana di rumah sakit Pelni.
Dokter melakukan serangkaian tes darah, ana profile, dan beberapa parameter yang cukup rumit yang sulit untuk dimengerti. Ternyata diketahui adanya auto imune, hal yang jarang sekali dimiliki oleh orang kebanyakan. kelainan itu adalah SLE [Systemic Lupus Erythematosus],dimana tubuh menganggap organ, sistem saraf sebagai ancaman sehinga menyebabkan peradangan. SLE tidak bisa diprediksi kapan akan menyerang tubuh dimana penderitanya adalah sebagian besar wanita berusia 15 sampai 35 tahun. Kami tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan cobaan seperti ini. Untungnya ia, sangat sabar dan bisa menerima keadaan ini. Kemudian, ia mencoba untuk mencoba pengobatan dari dokter seperti Lameson yang diminum 3 kali satu hari untuk menurunkan kekentalan darah. Didiagnosa bahwa kekentalan darah yang menyebabkan calon bayi kami tidak berkembang.
Dalam penantian hari – hari panjang, mengenai datangnya si kecil dan penantian kondisi kesehatan yang membaik, kebahagiaan itu muncul satu persatu, dari hal – hal yang sederhana. Sesampai buah pikiran kami bercita – cita ingin memiliki anak sebanyak – banyaknya, orang tua sebanyak – banyaknya pula dalam rentang hidup yang tidak lama. Sebuah dedikasi untuk orang lain. Dari situlah diri ini merasakan kekuatan yang tidak terlihat, sebuah perasaan kasih sayang, bahwa memang dedikasi yang ada di dalam kehidupan kami adalah untuk melayani orang lain, menyebarkan kasih sayang.
Dan dengan cerita ini, semoga SLE yang ada di pribadi setiap – setiap orang bisa cepat untuk disadari dan kemudian diberikan cara untuk menanggulanginya. Kondisi Laurensia sudah jauh membaik, dan indikasi kekentalan darah semakin stabil. Mungkin sudah saatnya kita berharap kembali mengenai kehadiran si kecil. Apapun yang terjadi, satu wanita, yang terbaik dan tetap terbaik.
Apabila Laurensia menganggap Lupus ini adalah anugerah yang terbaik yang didapat dalam hidup ini, maka saya sampai kapanpun, menganggap Laurensia adalah anugerah yang terbaik yang pernah didapat dalam hidup ini. Dalam perjalanan diri ini ke Baku Azarbaijan, diri ini baru mengetahui bahwa Laurensia tidak bisa tidur dengan tenang selama diri ini 5 hari di luar negeri. Dalam hati, diri ini merasa sedih karena berangkat meninggalkan dirinya, namun dalam hati pula, diri ini merasakan kebahagiaan untuk bisa dicintai dan mencintai sepenuh hati dalam saat pulang nanti. Bahwa tidak banyak lelaki bisa dirindukan seperti itu, dan bagaimana diri ini juga amat merindukannya.
Diri ini pun menarik nafas saat satu teman mengingatkan harus kembali melakukan pekerjaan di negeri angin ini, dan mungkin ini semua punya satu maksud yang masih saja belum bisa diri ini mengerti, apa ujungnya, apa tujuannya, dan mengapa ini semua bisa terjadi.
Puji Tuhan, terima kasih atas seluruh rahmatmu untuk wanita terbaikku, berilah ia kebahagiaan sesungguhnya, diri ini hanya bisa berharap.
Where did you throw away your dreams? When did you forget your love? No more tears will come from these eyes
I ‘ve heard this such a beautiful song and lyric titled Fujimoto’s Theme. The song was written in collaboration between veteran Ghibli composer Joe Hisaishi, with lyrics by the film’s supervisor Katsuya Kondō and director Hayao Miyazaki. My interpretation was the song is about the spiritual dreams, and full filing love in this life. It’s like looking at Bernini’s work, mondrian’s painting, or hearing earth by down to earth manner.
Fujimoto’s Theme
Where did you throw away your dreams?
When did you forget your love?
No more tears will come from these eyes
The people living in pain
Atop this exhausted planet
Have forgotten all about that thing called “hope”
The city overflows with Gods
Who will not guide you
Where can I return?
If I hurt someone
I don’t want to be seen by anybody
So I go far away, alone
The ocean changes that vastness
The sky becomes too heavy to bear
And everything, everything changes
Women are capricious
And men do nothing but hurt
Closing their hearts off every time they fall in love
The city overflows with Gods
Who will not guide you
Where can I return?
Unlike women, the coral
Is beautiful and yet so ephemeral
And that’s why I want to protect it so
The ocean that envelops everything
Is a mother who forgives all
And that’s why I return to it, alone
My friend, David Hutama will share his thought in understanding tools of design and production in architecture in OMAH, summer pavilion, here is the notes that I wrote for him for his lecture. I think that the knowledge of tools to design, and a way to understand production is essential for communicating the essence of the design. Without the knowledge of tools and production, architect can’t build his work, express his creativity, connect his world to the public
“A man who works with his hands is a laborer; a man who works with his hands and his brain is a craftsman; but a man who works with his hands and his brain and his heart is an artist.” ― Louis Nizer
There were times when architecture studio was so full of drafting tables to draw conceptual, schematic, or even working drawing by hand which took much time on its evolution to find what we called efficiency. Nowadays, the invention of CAD, Modelling software took over the line of production in Architecture firm. The changes was established by the need of time efficiency, costing efficiency, or even ease of transferring information between one person to another person or architect to builder or architect to other consultant which always involving techniques of creating architectural drawing or even nowadays architectural model [BIM]
An architectural drawing or architect’s drawing is a technical drawing of a building that falls within the definition of architecture. Architectural drawings are used by architects and others for a number of purposes: to develop a design idea to communicate ideas and concepts, to convince clients of the merits of a design, or even in the next stage to enable a building contractor to construct it, as a record of the completed work, and at the end to make a record of a building that already exists.
Architectural drawing become important because is consists of key information, such as the definition of space, all of the set of conventions, units of measurement and scales, annotation and cross referencing with material information or standard of construction. which described in floor plan, section, elevation. All of these information, now could be condensed in one architectural model [BIM = Building Information Model] which then creates minimum deviation in construction.
It’s all about sharing Tools of Design and Production in Architecture. which we should discuss the possible answer of :
1) What is and How history of Design and Production in Architecture evolve ?
2) What is needed for preparing a good architecture drawing or model information ?
3) How to establish bridge of information between architect – other consultant – builder ?
4) Why tools of design and production is important ? or what is the ethic to maintain good architecture drawing ?
my friend , David Hutama is chair department of UPH School of Design. After receiving his bachelor degree from Parahyangan University in the year 2000, he went to Toyohashi University of Technology, Japan, to pursue his master degree in History and Theory of Architecture. In 2005 he join Department of Architecture in Universitas Pelita Harapan. David was part of the steering committee team for Jakarta Architecture Biennale 2009 and Art Director for Rubber Wood Architecture Exhibition in 2010. In 2012 he worked as the curator of Place.Making Exhibition, an exhibition of Department of Architecture UPH at Dia.Lo.Gue Exhibition, Kemang. Together with Avianti Armand and Robin Hartanto co-edited ‘Home: a Studio Talk’, published by UPH Press. He was curator of Indonesia Pavilion in Venice Biennale 2014
“I like the thought that what we are to do on this earth is embellish it for its greater beauty, so that oncoming generations can look back to the shapes we leave here and get the same thrill that I get in looking back at theirs – at the Parthenon, at Chartres Cathedral.” – Philip Johnson
I recognised Phillipe Johnson,an architect, Scholar with big glasses who truly easy satisfied being small and enjoyed being at the centre of architecture history. He was under rated by some architect because he couldn’t draw. In his figure, we could see multiple layers which rippled modern architecture and call for discussion. He enjoyed on discussion with young architects like Frank Gehry and Peter Eisenman in his glass house he would encounter perspective which later he saw in another work, and he will encounter it again with another work making one proposition to another proposition. “Mind” was his playground, he often said architect (he is) is a “whore”, I might put “whore” in more positive way that every architect has an obligation to serve society, has also an obligation to form discourse of object in architecture history. I think Philip is like a father or centre or magnet of architecture modern history which he showed examples by encountering many modern works, and culminated it in his own way of thinking, if he thought that architect is a whore,then he was just so humble in knowing our problem as human, he was like elgar with soeil d amour, or sometimes who mimicking Mozart, Bach, Or Chopin when he played his own rhythm. That day was one morning while i was doing teleconference with people in studio ,reviewing studio’s work while we were in Paris at 4 a.m in the morning. While it was 10 a.m in Jakarta. I was so exhausted from our trip to Seville, Spain and we had not recovered yet. In just one serendipity we discussed about the story of Donna the calf which also was discussed on our trip in Bilbao. Donna is a calf who is in a cage in a farmer’s carriage going to a slaughterhouse.He was sad, in prison by his will to be freed. The farmer said ” why are you so sad ?” Donna said “i want to be free like swallow who fly above me, who has free will and laugh, but now i am in prison.” And the farmer continued to share his wisdom about his free will but the carriage is still going to slaugther house.
“Donna Donna”
On a wagon bound for marketthere’s a calf with a mournful eye.High above him there’s a swallow,winging swiftly through the sky.
How the winds are laughing, they laugh with all their might.Laugh and laugh the whole day through, and half the summer’s night.Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.”Stop complaining!” said the farmer,“Who told you a calf to be?Why don’t you have wings to fly with,like the swallow so proud and free?”
Calves are easily bound and slaughtered,never knowing the reason why.But whoever treasures freedom,like the swallow has learned to fly.
I remember My body my mind wondering in one conversation with my wife two days ago In one serendipity she gasped and told me “Love (my name), The calf might represent our body an animal who has desire, instinct to fly free like swallow but it is in prison in body in a way to slaughterhouse which slaughterhouse is a symbol of time, which all of us will face soon or later, the judgement day in this world. Meanwhile the swallow is a symbol of spiritual conscience or probably heaven or hope which we always dream of or wanted to be” And the next questions are, Who the farmer in the song is ?
Probably the farmer is evil inside our heart, or God or even Just someone important to us, who told us spirit of life… Who is swallow anyway, probably everyone with free will or heaven, or just dream or something which is our purpose…. Who is the calf anyway, probably like wise someone in weakness, in prison by his own will,desire to be freed in time to the slaugther house.. And spontanioulsly i asked the people in the studio in front of screen in teleconference, who is the cattle do you think in our studio ? They kept silence and guessing that some of them is the cattle, Suddenly in serendipity I typed in screen which came up with serendipity answer that i have not had in my mind before. It is just the way of Hermeneutics works. a calf is the one who dreams free, who wants heaven for everybody, everyone of us are still learning to be the calf, so do I. but that’s life. Philip was right.
so dream like child, no burden, free like swallow, it’s in our head, think that the heart has its own way to face world. Sunlight comes in, my eyes open. Welcome back dream, long time no see spirit. Thank you so much.
Vocal : Juliana Pramesti Kumalasari Guitar : Ariyo Widiatmoko Recorded at Bajink Studi Video Clip : Belle Nuit Studio ( Yudha and Kabul ) Lighting and dekoration : Ari and iok ( Titus Vianey ) Location : In the Garage at Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
140930 Barcelona “Learning from Gaudi is like praying to the Almighty who need devotion of our best energy knowing the most important of all.”
If Norman Foster is truly a master of fundamental then Gehry is truly a master of deconstructivist. If Scarpa is truly a master on making orchestra of human’s rigidity rational mind then Gaudi is a noble man who has genius of nature in his genius of free workmanship in unlimited geometry in mimicking nature. If you are the player of the mind then he is the body of desire then we are creating spirit to fly on, together forming special relationship between human to human or if you are gifted enough forming relation with nature or even if you are brave enough you will be linked with such spiritual force forming relation with God or someone you feel great of or whosoever who has size of heart like an elephant.
While sky is unlimited, we would be touched by Gaudi to stop talking bullshit by his study and devotion in architecture and life. We are lucky enough If Gehry does not point his hand to us, raising his middle finger when he said that 90 percent architecture work is piece of shit. Die graciously, live like a king with an act of noble man like Gaudi, who is a king on himself, an architect of blue eyes. He who did his work on temple of Sagrada Familia, La pedrera, Casa Baltio, or even his park and complex design park gueil, while in 1914, dropped all his other project except Sagrada Familia that he wanted to focus on. That was even made me curious about what he did. I read some if books about him by foundation, publishers, church, his family background, some brochure, even books contains drawing of his work to search for what force driving him were.
There were stories when Gaudi was in prison when he had fight with police when he was forbid when he went to enter the church to do his ritual, praying every morning.
Then he was in prison, he would be freed if he put 50 pence as bail out then he sent messager to bishop to bring 75. He gave 25 to the people who was a fruit seller who had trouble arguing with police. He had been there for several day accompanying him.
Then the fruit seller asked Gaudi about his address, he wanted to pay him back. Gaudi answered “I don’t ask payback when i give charity.” He inspired us with such determination of pure heart or at least he tried with his spirit inside his body, we are same man who has mind, body, and spirit. In his soul we have an example.
In another one story, finaly I have my answer of what I am looking for when Gaudi set the his attitude in such noble way when he was asked or pushed by numbers of people who wanted to continue the construction of Sagrada Familia.
“When will you finished the holy temple of Sagrada Familia?”
He answered “I have time, my Client is in no hurry.”
In my heart, I cried, then asked myself about the devotion in this life. I have learnt so much from Antonio Gaudi’s work, and even more by learning about his devotion in life which brings ever more question about our spiritual journey in this world
” …When the building is finished,…I worry that it is some kind of bizarre thing… I want to crawl under the blankets. When i saw Bilbao for the first time, I said,” oh my God, what have I done to these people?” I think that is a problem, but for better or worse, that is who I am.” – Frank Gehry
In one bright afternoon at the edge of nervion river. My mind is wondering, Norman Foster is truly master in neo Modernist approach, a god of life, an apollo, he has been my favorite architect who I was quite keen to learn from in his office. The label God of Life, Apollo was stated by Chris Abel. I was sure that Norman’s principle was truly a must do principle of doing architecture, Norman Foster is still one hero and master of fundamentals that i love most who like what Oscar Niemeyer said about him in his talk with Oscar Niemeyer.
Few days ago, in one rainy day i just arrived in Paris, commuting from Bastil to Rambuteau. I went to Gehry’s exhibition by serendipity in Pompidou Center Paris, a building which was designed by Renzo Piano and Richard Rogers. I saw models by gehry And partners stunned me. It was so beautiful. It was Like Van Gogh’s or Bernini’s or Affandi’s masterpiece. It opens into new possibilities, movement, New ideas, free form, unlimited line. It is almost perfect, And then i determined to see his work. A man who was stated by Chris Abel as Dionysus, god of pleasure.
in conclusion at that time I just love this man’s work, Frank Gehry, his building, persona and ideas in Louis Vuitton Foundation and Guggenheim Bilbao. I found that despite all of he pre assumption that (he was insensitive, he did not listen to his client, the building was not thinking about urban setting, he was driven by his ego trip) concluded by some of my peers, was wrong in his idea in these two magnificent work. After I finished read several of his books, publications, his catalogue, his interview with Barbara Isenberg or even his lecture’s video during our trip in this few days in Europe. I found that He is such humble, down to earth man who is very smart, very sensitive, and ideas driven which sometimes his was failed to catch by others.
“Frank : People think that somebody who does this kind of out-there work that they haven’t seen before must be irresponsible and must no be interested in budgets or time schedules or the client, or the community is going to be in. They characterize it as an ego trip by superstar architects. Now in some cases it may be true, but it’s not in mine. It’s no accident that Disney Hall works. Enerst Fleisch man could tell you what happened. did Ernest tell you how I listened to him?
Barbara : Yes he did tell me that. in fact, several people I’ve interviewed recently said that one of your best traits is that you listen. I was just reading remarks by Matthew Teitelbaum, director of the Art Gallery of Ontario, who said that from the very beginning you “insistenly asked” about the museum’s needs and programming.
Frank : So put that in big letters : Gehry is a listener. He is not on an ego trip.” [1]
I found that in Guggenheim, the design responded beautifully by the axial opening from city axis to river. The pond designed as extension of the river creating architecture manipulation so the shape looked as dancing on the water bringing reflection of the solid. The atrium acts as breathing space creating a void before entering multi solid gallery. The sun light coming pass flower or fish or whatever people name the skylight bringing warmth which lighten space. Sometimes it might remind us who are same human under the same sun who challenge our origin. The shape perhaps was comin by free flow creativity reminded about gaudi’s, altoo’s, corbusier’s curvy line (Ronchamp) He took it into another level by introducing thereshold of such total curvy lines in creating architecture. [2] He devised a totally new type of museum, aiming to give the visitor the choice to design his own itinerary to explore the museum, Gehry imagined an atrium that directyle connected with all exhibtion areas, in such a way that after contemplating the works in a determined wing, the visitor had to go back through the atrium to get to another area in the Museum. [3]
In Foundation of Louis Vuitton, Gehry made a clear approach for a phase of creative process in creating poetic of architecture called creative pregnancy phase stated by Antoniades in his book Poetics of Architecture. He was 84 years old when the building was opened and was praised by his patrons, collegue, and people who went for queing to enter his building. Christian Reyne, executive director, Fondation Louis Vuitton in chare of project management stated that the new approach in this project were new way of organizing the work called the “fundamentals phase.” This intermediary phase involved deciding on the main principle of the building’s conception notably the structural elements, the use of geothermal heating, and the distribution of fluids by means of radiant floors. It made it possible to fix certain parameters of construction in order to move the project forward without having to wait for the finalization of the studies. Reyner stated that the work was done in day to day basis with single 3d, and it has interactive period between architects , engineers, and general contractor which contributed to the factors in the project’s ultimate success. [4]
How can we measure this man ? When some design project he did it in effort to create inclusivist approach which dated back, some of the projects, he did it in minimum fee or even for free to enrich ‘take and give relationship between him and his patrons. Thats life when some of our life, we should dedicate it for others. I felt emphatic for this man of honour in architecture manipulation and the way of doing architecture as profession or as in his life especialy when it culminated in these two buildings that I had seen. That’s why we can call him master, or deconstructivist master or whoever you like smile emoticon who deconstructs profession, design as usual bringing future human creativity into such spiritual adventure eventhough he refused that label.
Before I could collect thoughts about what went right, I just burst into tears.
[1] Conversations with Frank Gehry, Barbara Isenberg, [2] Trip by Realrich to Guggenheim in 2014 [3] Museum guggenheim Bilbao, Architect Frank O. Gehry’s Most Original Work [Fondation Louis Vuitton, pp 122
“Negeri – negeri asia lainnya jauh lebih maju daripada Indonesia pada masa – masa sebelum perang dunia ke II. India telah dimahkotai hadiah nobel karena cerpen – cerpen Tagore. Singapure dan Malaya, serta Vietnam (ingat saja pada Perre Do – Din), tapi di masa sebelum perang dunia II itu, Indonesia baru menyumbangkan Hikayat Kancil, surat – surat Kartini, dan karya Multatuli yang notabene adalah pengarang Belanda.” [1]
Lalu bagaimana mengenai arsitektur Indonesia, apakah kita lebih maju ? Apakah kita kehilangan pondasi dalam berinovasi, sibuk melihat masa lalu, tanpa menatap masa depan. Lalu, pertanyaannya apakah kita sedang berarsitektur ke arah yang lebih baik ? lalu apakah nilai – nilai yang berpusat pada kebenaran itu semakin kuat mengakar dalam budaya berarsitektur kita, empati yang mendalam akan alam dan manusianya. Ataukah, kita terbutakan dalam keegoisan diri sendiri, dalam arsitektur itu tercerminkan jati diri satu karya, apakah ia pongah, apakah ia jujur, apakah ia sederhana, ataukah ia hanya bergelimang dalam kebombastisan materialistis. Arsitektur perlu untuk menjadi pencerahan, jawaban akan nilai – nilai kebaikan, kepuasan akan hidup yang lebih baik, mengajarkan menjadi manusia yang lebih baik, yang tadinya sombong menjadi lebih rendah hati, yang tadinya tidak menghargai alam, menjadi menghargai alam, itulah hakikat hidup kita yang sebentar ini, apalagi dengan profesi sebagai arsitek.
[1] Kutipan dari tulisan Pramodeya Ananta Toer dalam “Yang Harus Dibabat dan Harus Dibangun”, yang tulisannya ditampilkan dalam the wisdom of Pramodya Ananta Toer,disadur oleh Tofik Pram pp 45
I met Ferdi and Joice, our client a year ago. They were couple with full of optimism, having ideal that their house will be compact, small and comfortable for them, 3 bedrooms mixed with small office for their small graphic design home atelier in 150 square meter piece of land [10 x 15 m] . That moment was the process of long architectural sketches.
The design for the house consisted of several layer introducing series of weaving brick technique to provide sense of privacy in the facade which face east. I discovered that ready or customized roster would be solution for the wall. But the question was, could it be even more efficient, or could we make another solution, which was unique, which was also honest, showing masonry expression. The stacking or manipulation techniques or even I called it weaving technique was tricky because it did need to be efficient in material making and construction which means that the material need to be ready and that would not be special customized. I thought that the material would be light weight brick, the reason was simple, First, because the module was the biggest module 20 x 60 compared to red brick, and second, because it was easy to manipulate because the character was brittle. The brick was cut into 3 pieces, so we can have another module of 20 x 20, then by stacking the brick, leaving 5 cm gab we get sense of privacy leaving air circulation. The simple solution was better than using customized roster or even ready roster in term of efficiency.
Tropical house was defined by location of house which was in tropical monsoon climate. Tropical monsoon climate is a condition of area which has temperature 18 degree celcius in every month of the whole year [1]. In Indonesia, The tropical climate is classified in we tropical monsoon climate which means In some instances, up to (and sometimes in excess of) 1,000 mm of precipitation is observed per month for two or more consecutive months. By understanding the context of tropical monsoon climate, we could understand why and what good tropical house is needed, basically it’s for far more creating energy efficient, far more comfortable space for living, far more improving quality of architecture of house in tropical monsoon climate, far more improving understanding of people that by having good design, we are doing far more sustainable practice.
Then, The question is what is the intervention, or design technique which is needed for tropical house. The question brought forward the discussion of criteria, condition of what’s good and how to achieve those conditions.
[1] McKnight, Tom L; Hess, Darrel (2000). “Climate Zones and Types: The Köppen System”. Physical Geography: A Landscape Appreciation. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall. pg. 208.
My Friend, David Hutama shared his presentation about critics in architecture on 20th september in RAW studio. I’m very happy to have him to show the core of critics for evaluating architecture which will be a feedback process to create better solution, decision, especially for public building. The critics in architecture from his presentation divided by 4 general classification of way of criticizing by writing such as Critics by Historical approach, Formal approach, Ambiance[atmopherical] approach, Alignment[keberpihakan] approach [which he might not agree because in every approach there should be allignment which we should choose] the example : Jane Jacobs. here is the explanation which i wrote for his presentation in RAW summer pavilion : RAW collaborated with UPH School of Design to provide long life learning process between Architects, Lecturer, fresh graduates, or even people who has interest in Architecture by establishing lecture series. The first lecture is about Working Ideas by Critics in Architecture “He has a right to criticize, who has a heart to help.” ― Abraham Lincoln David Hutama will share lecture about working Ideas by critics in architecture. There were times when architecture changed because of paradigm breakdown just by nature of human, technology and civilisation. It established by success and failure. Critic which is a Greek derivation of the word κριτής (krités), meaning a person who offers reasoned judgment or analysis, value judgment, interpretation or observation. Critic has the position to move public opinion because of his or her credibility, reputation, depth of analysis. Critics become complex because there are various skill which is needed such as history, precedents, or understanding elements of architecture which then judge one work in process creating excellence in working architecture. We invited students and fresh graduates for our mini lecture series or brown bag. It’s all about sharing working ideas by critics in architecture. It’s all discussing the possible answer of : 1) What or How is the core of critics in architecture ? 2) What is needed for preparing good critics to evaluate architecture/ design performance ? 3) What or How is the to establish opinion in architecture given by the reality ? 4) Why the critic is important ? or what is the ethic to maintain critical opinion ? David Hutama is chair department of UPH School of Design. After receiving his bachelor degree from Parahyangan University in the year 2000, he went to Toyohashi University of Technology, Japan, to pursue his master degree in History and Theory of Architecture. In 2005 he join Department of Architecture in Universitas Pelita Harapan. David was part of the steering committee team for Jakarta Architecture Biennale 2009 and Art Director for Rubber Wood Architecture Exhibition in 2010. In 2012 he worked as the curator of Place.Making Exhibition, an exhibition of Department of Architecture UPH at Dia.Lo.Gue Exhibition, Kemang. Together with Avianti Armand and Robin Hartanto co-edited ‘Home: a Studio Talk’, published by UPH Press. He was curator of Indonesia Pavilion in Venice Biennale 2014 The discussion will be held at RAW Office at 9.30 am on 20th September 2014 . The introduction will be followed by open discussion among participants. Kindly make your reservation to tatyana@raw.co.id or ilham@raw.co.id as soon as possible (seats are limited for 30 people) Thanks and see you ! visit the link here
The latest finding of the design is the movable skylight at the roof top of strange library. The material used is light plastic which can be reopened and cleaned for ease maintenance.
“We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures we can have if only we seek them with our eyes open.” — Jawaharal Nehru
300814 Ubud. Terkait dengan perjalanan di pertengahan tahun 2014 ini terkait dengan beberapa hal yang tidak terduga, antara realitas dan ilusi, masa depan dan masa lalu, kesedihan dan kegembiraan, masalah dan solusi. Usaha ini terkait dalam perjalanan untuk menyibak jawaban akan pertanyaan – pertanyaan untuk hidup lebih baik terkait dengan beberapa catatan terkait dengan fenomena yang ditemui untuk menyibak tirai ilusi dan menemukan realitas.
Pathway to Village – Ubud
Pentingnya keilmuan – untuk apa ?
Di dalam buku mengenai Roosseno, Roosseno Jembatan dan Menjembatani, dibahas mengenai bagaimana dunia timur berlomba – lomba dengan dunia barat adalah meningkatkan keilmuan kita bahwa harapan Roosseno supaya dunia timur bisa bertemu dengan dunia barat dari segi keilmuan. Pak Budi, satu orang kontraktor, menjelaskan bagaimana struktur pra tekan dari Roosseno telah dipatenkan di Perancis dan dipakai dalam desain beberapa jembatan di daerah. Dari sini Ada Hasrat untuk memulai hal yang baru yang dimulai dari keheranan dan kecintaan akan profesi. Hal yang mungkin saja ada dewasa ini namun belum membudaya. Sebagai mana begitulah contohnya isu mengenai isu rumah murah dan bagaimana diskusi kita mengenai kritisi desain rumah – rumah murah, pertanyaan – pertanyaan mengenai sistem apa yang digunakan, biaya yang digunakan, material yang digunakan, sehingga hal – hal ini bisa memperkaya keilmuan. Mungkin kritisi ini bersifat falsifikasi, dimana berusaha untuk mencari tahu dimana salahnya, untuk kemudian bisa menaikan tingkatan bidang keilmuan yang lebih tinggi. Bukan berarti harus mencari tahu dimana salahnya, namun memang cara – cara ini bisa digunakan untuk selalu mendobrak batas yang ada daripada cara – cara membenarkan diri sendiri atau yang lazim disebut dengan verifikasi, cara memuji diri sendiri, membenarkan satu hipotesis dan menyibakkan tirai ilusi. Misal rumah murah yang didesain dengan material – material murah, mungkin diskusi soal sistem konstruksi yang mengefisienkan harga bangunan akan lebih memperkaya keilmuan teknologi bangunan daripada fenomena rumah yang menggunakan material murah, tidak sesuai standar keamanan dan kenyamanan. Kita kemudian belajar setiap material dengan harganya, mahal dan murah pun memiliki batas dan ketepatan guna untuk bisa dipergunakan dalam desain.
Berbicara mengenai sistem konstruksi kita berbicara mengenai model, prototipe yang mungkin secara ideal bisa dipahami bagaimana sejauh mana ini bisa tepat guna dengan kerugian dan keuntungannya. Teks book building construction illustrated yang ditulis oleh Francis D.K. Ching pun mungkin bisa diperkaya dengan khazanah realitas yang baru dimulai dari bagaimana tiap tiap elemen berkerja sesuai dengan realitas yang ada misal konstruksi kayu, besi, beton, kelebihan dan kekurangannya terkait keterbatasan bahan, jenis desain yang dimunculkan, ekspresi arsitektural yang didapat, ataupun terobosan desain yang ada, dengan beberapa penemuan misalkan sambungan konstruksi bambu yang digagas oleh Andry widyajatmiko dalam bukunya, ataupun karya sambungan yang diulas dalam setiap edisi dari buku Detail terbitan Birkhauser, ada bermacam – macam jenis sambungan dari plastik sampai kayu. Cara yang cukup mudah mungkin bisa terlihat dalam struktur pesawat terbang yang efisien, ringan, dengan luas penampang sekecil mungkin, usaha untuk meminimalkan ini pun wajib adanya dalam penerapan pengembangan prototipe ini untuk menentukan ambang batas kritis tentunya dengan perencanaan yang matang dan sistematis [sinkronik] bukan hanya pendekatan desain yang pragmatis.
Maraknya budaya berkumpul, meminta perhatian – untuk apa ?
Arsitek Muda Indonesia sudah memulai pada tahun 1990 untuk mencoba meredefinisikan kembali arsitektur yang lebih baik pada jamannya dengan pendekatan yang rasionalis. Jong Arsitek sebagai wadah arsitek muda mencoba menyambung eksistensialnya dengan media digital, mencoba mewadahi jembatan arsitek generasi selanjutnya dari AMI. Kemudian munculnya beberapa komunitas sebelum dan sesudahnya seperti belajar desain, biang desain, Indonesia Berkebun , dan sebagainya. Pertanyaan lebih dalam kemudian apa yang kita dapat dari budaya berkumpul, dan menamakan satu kumpulan dengan satu buah label. Mungkin kita bisa melihat bagaimana orang – orang yahudi maju dalam keilmuan karena kebiasaan untuk berkumpul dan belajar bersama. Belajar bersama ini menjadi penting karena disinilah menjadi ajang untuk bertukar pendapat, menyamakan visi untuk kemudian meredefinisikan visinya kembali. Memang ada saja godaan untuk membuat eksistensial tiap – tiap kelompok menjadi lebih tinggi namun budaya untuk belajar ini yang baik untuk dipertahankan. Yang patut untuk selalu menjadi perenungan adalah, apa sumbangannya terhadap bidang keilmuan yang ada. Seperti satu bangunan tingkat tinggi yang memiliki core bangunannya, semakin tinggi bangunan itu, core bangunan pun dituntut untuk bisa mewadahi jalur sirkulasi vertikal dengan segala pengetahuan didalamnya mengenai keamanan, kenyamanan dan juga keindahannya dalam segala manfaatnya. Pada akhirnya pertanyaan mengenai apa yang dihasilkan dari setiap budaya berkumpul ini yang ditunggu – tunggu sebagai tanggung jawab dari eksistensi yang lebih tinggi setiap saatnya.
Pengertian pentingnya pemahaman
Menjadi paham berarti bisa mengerti bagaimana pemecahan masalah itu dilakukan dengan cara yang diakronik ataupun sinkronik. Pemecahan masalah diakronik adalah pendekatan dengan mengerti sejarah, apa yang bisa dipelajari dari sejarah, apa yang sudah ada. Khasanah mengenai contoh – contoh yang sudah baik sehingga bisa dibakukan menjadi satu prototipe, model yang bisa dipelajari untuk diperbaiki menjadi lebih baik menjadi satu catatan yang bisa memperkaya kualitas desain arsitektur Indonesia. Oleh karena itu, budaya membaca dan menulis menjadi penting, begitupun budaya menulis dalam arsitektur untuk meningkatkan pemahaman teori dan praktik yang memperkaya keragaman dalam realitas yang ada. Pemahaman ini kemudian terekam dalam tulisan – tulisan yang lebih baik daripada masa lalu.
Bisa juga pemecahan masalah dilakukan dengan pendekatan sinkronik yaitu memecahkan masalah yang ada didepan mata dengan segala keahlian yang kita punyai secara langsung dan bersifat sistemik seperti mendesain satu buah mixed used dengan grid 8,4 m kali 8,4 m ataupun 10,5 m karena pertimbangan floor to floor yang tinggi, dengan ruang mekanikal elektrikal di bawah ceiling dan fungsi parkir mobil di daerah titik terbawah bangunan. Hal ini bisa dipelajari dengan menambah jam terbang, dan memikirkan pemecahan masalah melalui desain ruang – ruang yang ada, ataupun sebagai contoh mendesain ruang kelas dengan sistem struktur bay structure dengan titik – titik kolom sebagai pendukung strukturalnya, sebuah solusi yang efisien terkait dengan modul ruang 84 m2 yang menyusun batang tubuh bangunan dengan tipe koridor tunggal [single loaded corridor], ataupun tipe koridor ganda [double loaded corridor]. Hal – hal yang bersifat teknis ini adalah usaha untuk membuat bangunan berjalan dengan baik diselaraskan dengan pengetahuan disiplin ilmu yang lain, fisika bangunan, teknologi bangunan, pemahaman struktur. Pada akhirnya memang arsitek akan berkerjasama dengan orang – orang yang memiliki pemahaman lebih di bidangnya.
Munculnya kedewasaan
Pada akhirnya titik untuk menjadi paham adalah menjadi manusia yang dewasa, dimana manusia dituntut untuk menyebarkan kebaikan dalam etikanya. Terlebih lagi arsitek dengan segala potensinya sebagai pembawa kebaikan peradaban untuk selalu memikirkan pola hidup manusia yang tinggal di dalam bangunan yang dirancangnya. Dalam contoh kedewasaan ini terlihat jelas dalam desain tata lansekap Bali yang menghadirkan tanaman kamboja dengan berbagai jenisnya. Bahwa pada hakikatnya perencanaan ini untuk menyediakan bunga kamboja sehari – harinya yang dibutuhkan untuk berdoa den meminta rejeki ataupun untuk bersyukur akan rahmat yang diberikan. Bunga ini kemudian semerbak dengan wanginya yang harum. Dari sinilah kita mengetahui kegunaan kamboja di lain sifatnya yang mudah untuk dibiakan, dipotong pada pangkalnya ditanam di media tanah, ia pun akan hidup tanpa perlu air yang banyak.
Sistem ngaben yang ada di Bali dengan pembakaran mayat untuk ditebar ke laut menunjukkan gaya hidup yang berkelanjutan jauh sebelum brundtland commision menerapkan pentingnya isu ekologis dalam dunia di tahun 1987 ataupun buku Silent Spring yang ditulis Rachel Carson mengenai turunnya kualitas lingkungan. Di Bali orang – orang yang mampu secara finansial membiayai sendiri ngaben mereka, namun ada juga ngaben massal, bergotong royong membiayai ngaben mereka sendiri ataupun ketika biaya masih belum cukup mayat dikubur dahulu untuk kemudian ketika secara finansial cukup, peristiwa ngaben dilakukan. Hal ini didasarkan pada prinsip – prinsip untuk menghargai kehidupan, dari debu menjadi debu juga dan memberikan dirinya ke alam.
lukisan karya Antonio Blanco
Lukisan karya Mario Blanco, anak dari pelukis Antonio Blanco yang menyiratkan arti kehidupan dengan pralambang teko, kelapa, gamelan. Teko adalah pralambang kehidupan, dengan air sebagai pusat utamanya dimana masyarakat Bali tidak mengenal cangkir pada awalnya, mereka minum dari teko. Air penting di dalam tatanan kehidupan sehingga setiap daerahnya memiliki penjaga air untuk bisa didistribusikan merata, dan sumber mata air disucikan seperti Tirta Emphul, sebagai titipan yang maha kuasa. Kelapa melambangkan setiap bagiannya dari akar buah sampai daunnya yang bisa digunakan. Gamelan melambangkan bahwa untuk bisa bernyanyi, dan menghibur orang ia perlu bersusah – susah dipukul – pukul oleh orang yang memainkannya.
Melihat kota Jakarta dengan sungainya, penjagaan airnya, apalagi kegunaan manusianya, ataupun caranya bersenang – senang, mungkin ada baiknya kita melihat lagi kebijaksanaan leluhur kita, setidaknya dari pulau Bali, untuk melihat masa lalu saja kita masih enggan bagaimana membuat sesuatu yang lebih baik. Ketiga pralambang dari lukisan Mario Blanco itu melambangkan kehidupan,untuk menjaga arti kehidupan, guna kehidupan, dan tidak lupa untuk bersenang – senang dan menghibur orang lain. Dari hal yang sederhana kita bisa menggali kebaikan dalam manusia. Begitupun juga keilmuan yang ada dalam berarsitektur untuk membuat kehidupan manusia yang lebih baik dan menebarkan kebaikan.
Mungkin memang karena hal – hal yang baik itu Bali disebut pulau para dewa.
Catatan :
Dalam perjalanan ke Bali kali ini saya membawa dua buah buku, yang pertama buku mengenai Roosseno Jembatan, menjembatani, didalamnya terdapat pidato roosseno dalam pengukuhannya sebagai guru besar ITB, mengenai bagaimana kita harus bersikap dalam mengejar ketertinggalan kita dengan dasar yang sederhana. Yang kedua adalah buku wewancara dengan louis Kahn, conversation with students dimana didalamnya terdapat kuliah singkatnya Architecture White light black shadow.
Informasi mengenai tradisi Ngaben dan Perletakkan Kamboja saya dapatkan dari bincang – bincang dengan Pak Made, sahabat yang menemani dalam perjalanan ke Denpasar dan Ubud.
Antonio Blanco adalah pelukis ekspresionis yang menikah dengan Nyi Rondji, seorang penari Bali. Lukisan – lukisannya banyak yang memuja kehidupan, dan wanita sebagai pusat karyanya. Mario Blanco adalah anak dari Antonio, ia terkenal dengan lukisannya yang memiliki falsafah kehidupan, lukisan yang saya temui di bali adalah satu karyanya yang dipigurai berbentuk teko menjelaskan tentang arti kehidupan.
There were reasons to share Louis Kahn lecture for all of us. First, it showed the fundamental of the responsibility that architect should do, the ethic that we must always improve, and the passion for excellence which people should seize from the Architect. I discovered that the fundamentals taught Louis Kahn is the starter to be more beautiful than it was or at least that’s our duty to create the best institution of man we could offer.
White Light Black Shadow
…We were talking this afternoon
of the three aspects of teaching architecture.
Actually, I believe that I do not really teach architecture
but that i teach myself.
These, however, are the three aspects:
The first aspect is professional.
As a professional you have the obligation of
learning your conduct in all relationships…
in institutional relationships,
and in your relationship with men who
entrust you with work.
In this regard, you must know the distinction
between science and technology.
The rules of aesthetics also constitute professional knowledge.
As a professional, you are obliged to translate
the program of a client into that of the spaces of
the institution this building is to serve.
You might say it is a space order,
or a space-realm of this activity of man
which is your professional responsibility.
A man should not take the program
and simply give it to the client
as though he were filling a doctor prescription.
Another aspect is training a man to express himself.
This is his own prerogative.
He must be given the meaning of philosophy,
the meaning of belief, the meaning of faith.
He must know the other arts…
architect must learn that they have other rights…
their own rights.
To learn this, to understand this,
is giving the man the tools for making the incredible
that which nature cannot make.
The tools make a psychological validity,
not just a physical validity,
because man, unlike nature, has choice.
Louis I Kahn Conversations with Students, Architecture at Rice 26, Princeton Architectural Press. pp31-32
We have a venue – mini brown bag in office, please do come if you wanna come. It’s free :)
“Being good in business is the most fascinating kind of art. Making money is art and working is art and good business is the best art.”
Andy Warhol
4th Lecture : Working Ideas in Business. There were times when people started defining business by simply delivering goodproduct to the customer or client. It started by establishing one relationship to another relationship between architect and clients. In this lecture we will discuss about the experience bringing business into worth living relationship between clients, architects, and between people inside the firm. We invited students and fresh graduates for our mini brown bag. It’s about sharing entrepreneurship in architecture. It’s all discussing the answer of :
1) What or How is the core of relationship between clients and architect ?
2) What is needed for establishing architecture studio ?
3) What or How is the challenge given by the reality ?
4) Why the ethic is important ? or what is the ethic to maintain relationship ?
The discussion will be held at RAW Office at 6.30 pm [16.30] on 28th August 2014 . The material will be explained briefly by Realrich followed by open discussion among participants.
Kindly make your reservation to tatyana@raw.co.id or ilham@raw.co.id as soon as possible (seats are limited) Thanks and see you !
My friend Dani Hermawan will share his experience on digital computation in Architecture. It’s all about creating innovation in architecture. This is the 3rd lecture for Architecture Summer Workshop that we conduct in office.
Here is the publication :
Please Join Our Venue for This Friday 22nd August 2014 at 18.30 in Summer Pavilion. The third lecture for Architecture Summer Workshop.
Topic “Experimentation by Digital Computation and Analog Process in Architecture”
Dani Hermawan who is an architect and researcher based in Jakarta will introduce topic Experimentation in Architecture in the focus of Digital Computation in Innovation process in Architecture.
As a Co-Director of Formologix Lab, He interested and explores the collaborative potential of digital design and fabrication techniques related to architecture and product design -through various modes: parametric design, scripting, and fabrication.
Dani pursued his Master of Architecture in digital architecture from Dessau Institute of Architecture, Bauhaus-Dessau, Germany (2008) under supervision of Mathias Del Campo (SPAN/Austria) and Daniel Dendra (anotherArchitect-Berlin). For his Bachelor of Architecture, he was graduated from Parahyangan University, Indonesia (2004).
As practitioner, he credits his early architectural experience with the practices at Larascipta Architects, collaborative experience with Daniel Dendra at anotherArchitect, Berlin, and currently worked as a digital design, modeling and fabrication consultant for several architecture offices.
As academia, he taught design studios at Parahyangan Catholic University and currently, he actively teaches design studio, workshop and seminar at Pelita Harapan University.
The Analog process will be introduced briefly by Realrich Sjarief
Kindly make your reservation to tatyana@raw.co.id or ilham@raw.co.id as soon as possible (seats are limited)
“Learn from me, for as I teach, I learn from you as well! Always be accountable to yourself and take complete responsibility for your own life. No one can do as much for you, as you can do for yourself…” ― James A. Murphy
Beliau datang di sidang ke 3 di masa – masa tugas akhir hampir 10 tahun yang lalu , di pertengahan jalan proses di tugas akhir, di tengah perjalanannya untuk menempuh PHD di Australia, ia pulang. Kita sendiri ada ber 4 dengan teman – teman satu kelompok yang lain, ada Nisa, Gamma, dan Herman dengan Pembimbing pribadi diri ini adalah pak Baskoro Tedjo. Pada waktu itu hari – hari asistensi dengan beliau diisi dengan mencoba memecahkan kesulitan yang ada di bangunan lengkung yang bertabrakan dengan axis yang tegas. Kemudian beliau berkata, “saya tahu kamu pasti bisa, coba kamu lihat Christian De Pontzamparc.” Baru juga tahu ada arsitek yang bernama demikian, dan lebih merasa bersemangat karena beliau antusias dan yakin akan apa yang sedang dcari. Inilah satu titik awal, dimana kepercayaan diri itu mulai ada dalam perancangan tugas akhir.
Beliau pun ada ketika pada akhir sidang, semua sudah selesai, beliau menanyakan bagaimana perasaan setelah melewati sidang ini didepan penguji – penguji yang lain. Pada akhirnya beliau berdiri dan bertepuk tangan. Tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan momentum seperti itu. Beliau pun ada ketika hari demi hari berdiskusi sebagai tempat untuk pulang. Beliau ada disitu. Begitupun ketika berpapasan, bersalaman bercanda gurau menjadi satu kebiasaan, ia selalu berkata, “I know you will do the best.”
Beliau juga ada pada saat diri ini meneruskan S2 di Australia, pak Tata meneruskan S3 dan diri ini dengan S2. Ada juga saat – saat yang berkesan dimana kita diminta mbak Ade Tinamei untuk membuat video untuk ultah PSUD juga untuk pak Danisworo, berkeliling ke satu jurusan mencari Prof Jon Lang, Alex Tzanes, ataupun staff – staff yang lain untuk membuat jaringan baru.
Pada waktu itu, terkaget bukan kepalang diberi tahu satu adik di kantor bahwa, Pak Tata meninggal. Kesedihan pun datang. Beliau yang selalu ada untuk tempat pulang. Pak Tata sendiri ada pada waktu S2 di Sydney, sekitar seminggu satu kali biasa kami makan siang sambil ngobrol apapun, akademis ataupun pengalaman konyol sehari – hari. Dari situ beliau menempatkan dirinya sebagai satu pribadi yang penuh kehangatan. Pak Tata adalah satu pribadi yang suka untuk mendengarkan sekitarnya, sehingga terkadang- kadang ia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri.
Kali ini Diri ini kembali tidak bisa hadir pada acara Tribute to Ahmad Rida Soemardi pada saat Artepolis kemarin karena ada hal yang benar – benar mendesak di Jakarta. Kali lain pun tidak bisa menepati janji untuk bertemu dengan pak Tata dan berterima kasih untuk segala ilmu yang diberikannya, apalagi teladan sikap yang ditunjukkannya dengan tanpa kompromi. Tulisan ini dibuat untuk bisa berterima kasih terhadap pak Tata, ada usahanya dalam memberikan kebaikan terhadap orang lain, dan membuat terpacu untuk meneruskan yang baik yang sudah beliau rintis. Untuk meneruskan perjuangan pak Tata akan ketulusannya untuk mendidik dan berbuat tanpa pamrih. Pribadi ini adalah satu pribadi yang langka, seorang guru yang seutuhnya yang dicintai.
Tidak banyak orang yang bisa meledakkan semangat seseorang dalam berkarya, seperti seorang guru kepada muridnya, ia tidak berharap banyak, ia hanya berharap yang diajarkannya bisa diamalkan yang kalau – kalau memungkinkan untuk terbang tinggi dan beruntung bisa mendapatkan seorang guru seperti beliau. Terima kasih Pak Tata, tulisan ini hanya ingin membuat orang mengenal , dan meneruskan pengajaran Pak Tata, sama seperti apa yang akan coba teruskan apa yang sudah diajarkan.
There comes a point in your life when you realize who really matters, who never did, and who always will. – Unknown
terima kasih juga untuk panitia Artepolis yang sudah berkerja sangat keras untuk meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Pak Tata. Pak Aswin Indraprastha, Bu Indah Widiastuti, Indra, Reina, dkk [maaf tidak bisa menyebutkan satu persatu]
“To provide meaningful architecture is not to parody history but to articulate it.” – Daniel Libeskind
Lyons Inn, the AA’s first home, http://www.aaschool.ac.uk/AALIFE/LIBRARY/aahistory.phpSatu adik bertanya mengenai apa maksudnya untuk membuat Summer Architecture Workshop 20 orang untuk mahasiswa yang dimulai dari July dan Agustus. Pikiran ini masuk ke dalam satu rasionalitas ini mungkin satu usaha menjembatani dunia praktik ke dalam pendidikan arsitektur. Teringat 5 orang dari universitas Gunadarma yang beberapa bulan lalu datang, tergambar mengenai bagaimana tingginya kemauan mereka untuk berkembang dan belajar arsitektur. Kita ingat ke belakang, Architecture association, Berlage Insitute, ataupun Bartlett School of Architecture. Sejarah Architectural Association menjelaskan bahwa :
The Architectural Association School of Architecture in London, commonly referred to as the AA, is the oldest independent school of architecture in the UK and one of the most prestigious and competitive in the world. The Architectural Association was founded in London in 1847 by a group of young articled pupils as a reaction against the prevailing conditions under which architectural training could be obtained. Unlike continental models such as the French L’Ecole des Beaux Arts, which imparted a degree of state-direction and control on architectural education, Britain with its liberal democracy and traditional fear of powerful centralised government had adopted a system of articled pupilage, whereby large premiums were advanced to private architects in return for imparting an education and training. This practise was rife with vested interests and open to abuse, dishonesty and incompetence. Against this backdrop, correspondence from two articled pupils, Robert Kerr and Charles Gray (aged just 23 and 18, respectively) were published in the Builder of 1846 proposing that if the state could not interfere with the private interest of architects by providing a systematic course of training, then perhaps the students themselves could … An existing, small association of architectural draughtsmen was rapidly absorbed and the first formal meeting held under the name of the Architectural Association was subsequently held in May 1847 in the premises of one of the oldest of the Inns of Chancery, Lyons Inn. [1]
Ataupun Berlage Insitute
The Berlage Center for Advanced Studies in Architecture and Urban Design—or “The Berlage” for short builds upon the legacy of the Berlage Institute, a groundbreaking educational-cultural platform for study, encounter, and debate that operated from 1990 to 2012. From its beginning in Aldo van Eyck’s restored orphanage building in Amsterdam, then more recently at J. J.P. Oud’s former bank building in Rotterdam, and now at its present-day home at the Delft University of Technology’s Faculty of Architecture, the Berlage continues to meet the challenges of globally oriented practice by expanding the range of education architects and urban designers receive and by redefining the methods, instruments, and approaches of research and design practice.[2]
Ataupun Workshop yang dilakukan oleh Bartlet
This year the Bartlett School of Architecture hosted again Leopold Primary School, a local school from Harlesden, north-west London, for a one-day creative workshop. Starting with a visit to the 2014 Bartlett Summer Show, the group of 10 and 11 year-old pupils explored and challenged their understanding of architecture and the built environment though a collective drawing exercise. Starting with their own private space at their home, expressed through the medium of a plan and a section, the children demonstrated their spatial awareness and their ability to translate their knowledge into a drawn form. After this they were encouraged to combine their experiences and ideas in a collective drawing, expanding the individual horizon and challenging their perception of private and public spaces. The exercise aimed to promote their own creativity, their sensibility towards the environment and to unlock a very personal approach in expressing their ideas through drawing and sketching. [3]
Pemilihan ketiganya mungkin berdasar bahwa ketiga sekolah tersebut memiliki kegelisahannya masing – masing yang merupakan reaksi dari kebutuhan untuk melekatkan keahlian berarsitektur dalam tatanan yang lebih kritis dimana AA School, Berlage Insitute, dan Bartlett School of architecture adalah sebuah reaksi dari kegelisahan akan pendidikan arsitektur yang lebih baik, yang dekat dengan keprofesian, dimana ada sistem terbuka yang terpusat pada kebutuhanmahasiswa untuk pendidikan arsitektur yang lebih baik. Pertanyaannya kemudian proses berarsitektur seperti apa yang mungkin bisa dijembatani, mungkin yang pertama adalah proses untuk menjembatani keragaman berpraktek dalam dialog yang intensif dan kritis antara kemampuan motoris dan sensorik dalam diri peserta workshop. Peserta summer workshop ini secara kebetulan ada dari berbagai macam universitas, ada yang dari ITS, ITB, Unpar, Petra, UGM ataupun dari Malaysia yaitu Malaya University. Dari hal tersebut, ada 4 hal utama yang mungkin bisa dibagi lebih lanjut, yaitu yang pertama, mengenai kemampuan motorik, berpikir melalui kemampuan menggambar, yang kedua memperluas keragaman carapandang berarsitektur melalui pengetahun mengenai anteseden dan preseden yang terjadi dalam sejarah arsitektur ataupun dalam sesi diskusi antar peserta dan pembicara, Ivan dari NUS CSAC dan Rizki dari Office for Metropolitan Architecture Hongkong. Selanjutnya, bagaimana melakukan inovasi, terobosan dalam pergulatan perenungan desain pun bisa menjadi penting sebagai point ketiga. Yang terakhir yaitu bagaimana memahami dunia bisnis arsitektur, dan menariknya kepada pengertian bahwa arsitektur sebagai satu disiplinyang memiliki keterkaitan dengan pergerakan displin ilmu lainnya. Untuk itu di perlukan satu paviliun, karena keterbatasan tempat yang ada. Satu hal yang diuji coba yaitu bentuk lengkung yang sederhana.Diri ini melihat – lihat pavilion yang sudah dibuat oleh Architecture Association dan ETH dengan tinggi 2.5 m dan lebar 11 m.
Kemudian Metropole Parasol yang didesain oleh J. Mayer H. Architects pun bisa menjadi satu hal yang bisa dijadikan best practice untuk mendasari pergerakan para rasionalis berpikir dalam menghasilkan satu bentuk yang natural. Dengan konteks dalam melihat jumlah orang yang ada sekitar 12 – 30 orang dengan keterbatasan tempat yang ada sekitar lebar 2.5 m dan panjang 11 m memerlukan satu bentuk yang sederhana yang memecahkan masalah fungsional yang ada ditambah dengan keinginan bentuk yang dinamis. kriterianya bisa jadi modular, bisa dipindah – pindah, dan dikerjakan oleh tukang dalam waktu 2 minggu, tentunya dengan biaya yang seefisien mungkin. Oleh karena itu bentuk yang diambil adalah bentuk yang simpel, kurva catenary sederhana yang ditopang oleh berat materialnya sendiri yang dikonstruksi oleh tukang kayu dengan berat yang seringan mungkin. Satu bentuk lengkung dengan sambungan baut yang terdiri dari berpuluh – puluh kotak 2 tipe kotak yang modular. Lalu apa ? semoga bisa membawa kebaikan untuk mahasiswa yang mau belajar lebih baik lagi disini termasuk untuk diri ini sendiri.
“There are no rules of architecture for a castle in the clouds.” – Gilbert K. Chesterton
Persiapan Paviliun
prefab plywood
suasana pembukaan Summer Architecture Workshop
prefab plywoodCredit to my team who help to make this happen all, especially : Tatyana Kusumo, Apriady Satria Triwardhana, including the poster, thank you folks. Thank you for Ivan Nasution and Rizki Supratman for sharing material for the workshop
Features : 2 storey residence facing east integrated with wind tunnel at the west side. The expression of stacking brick made the building istakagraha, house made by brick
Client : Ferdian Septiono and Joice Verawati
Principal Architect : Realrich Sjarief
Project Team : Bambang Priyono, Tatyana Kusumo, Rio Triwardhana, Christiandy Pradangga, Maria Vania
General Contractor : Eddy Bahtiar, Jasno Afif Angga
Supervisor incharge : Sudjatmiko
Structural Engineer : John Djuhaedi
This house was conceived as a modern rationalist house with neo modernist influence. The house consists of clustering of 4 bedrooms arranged by wonderful scene, playing of solid void in the compact site. The overall composisiton ties these buildings together in a harmonious arrangement. The expression itself arranged by solid wooden box which shows lightness by touching the ground lightly. The circulation through the building is organised aroung a sequence of views that progressively move in hierarchy to more private area. The attention of to the play of lifht and shadow, created through a combination of materials and artificial and natural light is fundamendal to the design of the house and evokes the quietude of such a retreat house which stated by its gentle architecture.
Principal Architect : Realrich Sjarief
Client : undisclosed, based on client’s request
Project Team : Bambang Priyono, Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Rio Triwardhana, Suryanaga, Anton Suryanto, Andhang Trihamdhani, Emmy Ulfah, Randy Abimanyu
Status : on construction
General Contractor : > O + Workshop
Supervisor in charge : Sudjatmiko and Singgih Suryanto
Structure Engineer : John Djuhaedi
Teman terbaik membaca garis tangan, ia bergumam, “berat, perjalanan ke depan akanlah berat, suatu saat akan bisa mencapai mimpi tapi jalannya tidak akan mudah.” Satu saat itu adalah satu saat sore – sore di Bandung. “baiklah kalau begitu, mau bagaimana lagi.”
Berpetak – petak sawah terbentang begitu indahnya lengkap dengan arsitektur rumah – rumah yang terbuat dari bata. Sekelebat siluet semak semak itu berlalu dalam perjalanan ke Pekalongan sebegitu cepatnya, suara derap kereta terdengar jelas dengan pintu yang terbuka dan tertutup dengan hilir mudik orang yang lalu lalang dalam perjalanan kali ini. Badan ini terasa penat sekali, capai dengan perjalanan kemarin yang baru dilakukan ke daerah Bedugul, Bali. Ritual bangun pagi – pagi dan tidur malam – malam seakan – akan menjadi makanan sehari – hari setelah beberapa tahun berpraktek di ibukota ini. “Semua tindakan yang dilakukan dengan hati, pasti akan menghasilkan.” satu teman terbaikku mengingatkan lagi diri ini satu saat ketika rasa capek ini menerpa. Teringat beberapa saat yang lalu, satu persimpangan pernah ada dahulu per satu tahun pengalaman, per dua tahun pengalaman dan kini di tiga tahun pengalaman, dalam hampir satu dekade pengalaman persimpangan itu datang kembali.
Pertanyaannya selalu untuk apa ? untuk siapa ? berjuang, berkarir dalam hidup ini. Apakah untuk hidup yang lebih baik ? Apabila dikaitkan ke jawaban yang terjujur, tentu saja iya seperti itu yang terjadi.
Selama 2 tahun dari 25 september 2012, kami masih berdua, belum juga dikaruniai anak, meski istri sudah sempat mengandung beberapa kali, namun kesempatan untuk mendapatkan buah hati belum terbuka jalannya. Ada yang bilang, mungkin itu karena diri ini yang terlalu capai bekerja ataupun karena Toxoplasma yang titernya masih positif, ataupun kelainan darah yang ada ataupun mungkin saja memang belum jodohnya kami mendapatkan momongan.
Dalam setiap perjalanan hidup, diri ini berpikir bahwa setiap orang memiliki garis tangannya garis kegembiraan dan garis kesedihan. Di balik sepinya hari – hari tanpa kehadiran anak yang kami dambakan, masih saja ada keramaian yang ditimbulkan dari keluarga, adik – adik firma ataupun klinik yang dijalani setiap hari dengan pasien yang datang dan pergi. Lambat laun janji pun diucapkan bahwa akan punya banyak anak, banyak orang yang bisa diperhatikan, tua dan muda, dengan keunikannya masing – masing. Hidup yang sebentar ini di dunia terlalu sedikit untuk bisa disia – siakan. Uban ini mulai nampak, perut ini mulai membesar, dan lalupun Chairil Anwar kemudian menyahuti, ingin hidup seribu tahun lagi.
Pengabdian pada semesta, satu kalimat itu berarti menyingkirkan kemauan, nafsu, keinginan diri pribadi untuk kepentingan yang lebih luas. Memberikan hidup kepada semesta berarti bersiap untuk memberikan waktu terutama untuk orang lain. Asalkan masih bisa hidup kita sudah perlu bersyukur, mungkin itulah arti mengakar, memiliki tujuan dalam berbuat. Satu persimpangan ini, seakan – akan membuat satu batas yang jelas, antara diri dan orang lain. Dari sejuta inspirasi yang diberikan oleh Pak Tata Soemardi akan keinginannya untuk membagikan waktu terhadap anak – anak didiknya, saya mendapatkan contoh. Untuk itulah generasi selanjutnya harus bisa berbuat lebih baik lagi. Dari setiap kesempatan yang ada, pecahkan, dan raih kesempatan itu.
Langit ini pun membiru, menjanjikan satu impian, memperlihatkan satu batas yang sebenarnya tidak berbatas. Hanya persepsi manusia yang bisa menghentikan. Setelah mengabdi pada semesta, kemudian apa ? Semesta itu tidak berbatas, Tuhan pun tidak berbatas, ini adalah satu perjalanan penuh dosa untuk mencari Tuhan yang dimana dia, apakah ada di titik suka cita atau kah titik duka cita. Namun mungkin Tuhan sudah menyediakan jalan untuk kita jalani, dengan usaha kita masing – masing, garis tangan kita masing – masing. Kalaupun memang garis tangan itu sedemikian beratnya, saatnya kita jalani dengan puji syukur. Melihat dua puluh orang dari segala penjuru tanah air dan luar negeri untuk ikut belajar , merasakan keceriaan, kebahagiaan, merasakan kehidupan. Mungkin semesta akan menjawab dengan segala kemungkinan yang baru, sebuah pengabdian untuk yang muda.
Semoga hidup akan semakin baik untuk dijalani, mengabdi kepada semesta sehingga mungkin permintaan Laurensia bisa terjawab yang membuat diri ini menangis dalam ritual bangun pagi dan tidur malam. Laurensia berkata “Ya Tuhan, kalau boleh pinjamkan satu saja malaikat pembawa kebahagiaanmu, tidak banyak – banyak, untuk menemani hidup kami berdua.” Bibir pun tersenyum simpul, dan percaya bahwa suatu saat nanti akan tibadan kemudian bersyukur untuk bisa mendapatkan istri terbaik di dunia. Terima kasih Tuhan.
Designed for a prominent bussiness man family. This house was conceived as a modern rationalist house with neo modernist influence. Located in a quiet prestigious residential neighbourhood of Alam sutera, a satelitte city one hour west of Jakarta. The house consists of clustering of buildings arranged by wonderful vistas of the site to the lake. The overall composisiton ties these buildings together in a harmonious arrangement, informed by the chinese belief that nature is at its most beautiful when considered in relation to the man-made. The landscape itself arranged by several vistas and cluster of plantings reflecting the Indonesian tropical Landscape, the landscape of the tropical climate.
The circulation through the building is organised aroung a sequence of views that progressively move in hierarchy to more private area. The attention of to the play of lifht and shadow, created through a combination of materials and artificial and natural light is fundamendal to the design of the house and evokes the quietude of such a retreat house which stated by its gentle architecture.
Principal Architect : Realrich Sjarief
Client : Djonny Taslim and Family
Project Team : Apriani Kurnia Sarashayu, Andhang Trihamdhani, Anastasia Widyaningsih, David Sampurna
Status : on construction
General Contractor : Budi Rianto
Structure Engineer : Anwar Susanto + John Djuhaedi
Features : The interior architecture consists 26 trees accentuating form of catenary bringing atmosphere of wooden forest inside this well integrated creative office.
Appointment: 2015
Completion: 2015
Scope of Work : on construction
Area: 1000 m²
Principal Architect : Realrich Sjarief
Board of Design : Studio PIU of Mondrich Syarif and Karina Tjandra
Project Team [various from developing the sketch to model refinement] : Bambang Priyono, Miftahuddin Nurdayat, Tatyana Kusumo Rofianisa Nurdin, Rio Triwarhdana, Putut Trianggana, Hardiyanto Agung , Hardiyanto Agung Nugroho
Client: Puncak Keemasan Group
Director In Charge : Ferry Hendriksen
Features : 2 storey open air life stle centre combining art wall and layer of green landscape as space and wall.
Appointment: 2014
Completion: 2015
Scope of Work : design development
Area: 3000 m²
Credential : Confidential
Principal Architect : Realrich Sjarief
On Going Design Team : Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Ellena Monica
Features : Axial planning house with terracotta rooster, airstacking effect and view facing the breathtaking Landscape
The Rumah Jawa responds its context of the potential of the site by 3 main design intentions : the existing house which was at the west side of the area.
The intentions are: First, exposing the view to the west, the view is to the exisiting swimming pool and adjacent to the exisiting house, providing axis to the boundary of exisiting house and the swimming pool. second, by exposing building that avoid west side because of the heat of direct sunlight of tropical climate which can expose the temperature to 33 degree Celsius, third, by designing a building envelope that responds to sunlight angle during 11 am o clock until 3 pm o clock the whole year. The fourth is providing horisontal and vertical wind tunnel to allow fresh air to the building in 24 hours. The design of the building then conclude that the building need to face east at its widest sun exposure to facade, north, and south, but then, the cantilevered concrete prevents direct sunlight the whole year.
The void In the middle of the house functions as air chimney to respond air-stacking effect at its design core forming a stepping expression of tumpang sari, which is been client’s favorite. The design of the opening, rooster at main door wall allows cross air ventilation to happen in the building by having tiny gab on its pattern opening. The chimney allows hot air flows out through the gab. In the afternoon the layout design allows natural lighting coming in so the user doesn’t need to use artificial light.
The layout of Rumah Jawa Residence use attachment and detachment open plan concept, which allows living room, bedrrom and kitchen separated by 2 axis corridor. In the first floor, the space is designed for master bed room, living room, and kitchen, and 2 more bedrooms. The floor to ceiling is designed by having 3 m height to get more spacious space.
Luas Bangunan : 700 sqm
Mulai Konstruksi : 2011
Selesai : 2013
Pemilik : Atie Subiyanto
Arsitek: RAW Architecture (PT. Realrich Architecture Workshop)
Arsitek Utama : Realrich Sjarief IAI.
Tim desain : Bambang Priyono ,Randy Ramadhan Abimanyu ,Andhang Trihamdani, Emmy Ulfah, Roedyanto
Interior desainer : Nina Subiyanto
Insinyur sipil: Ir. Herwin Siregar
ME :PT. Bimal
Qs : PT. Bimal
Kontraktor : PT. Bimal
General manager PT. Bimal : Ir. Bambang P V Adi, IAI
Features : 5 levels of neo kolonial hotel consists of 84 luxury rooms with double loaded corridor which offers architecturally balanced between old heritage feel and modernist feel of ambiance
Status : on development
Appointment: 2014
Construction Start: 2016
Completion: 2018
Area: 800 m²
list of credentials : confidential
Features : The Building consists of module of landscape as architecture inspired from the local contour, hill, and landscape resembling the identity of Baku city. The catenary curved is opened by linear light well responding to air stacking effect allowing hot air circulates to the outside. The layout is opened as the functional principle developed from the intense discussion with Transport engineer, Government and the architect to gather solution responding genius loci of the city.
Appointment: 2014
Completion: 2015
Scope of Work : Conceptual Design Phase
Area: 1200 m²
Principal Architect : Realrich Sjarief
Project Team [various from developing the sketch to model refinement] : Bambang Priyono, Miftahuddin Nurdayat, Jovita Lisyani, Rofianisa Nurdin, Hardiyanto Agung Nugroho
Client: Institute of Transportation and Development Policy
Director In Charge : Yoga Adiwinarto
Vice Director: Faela Sufa
Client Team : Pricillia Fabiola, Udaya Lesmana
Citraland Bagja City is an eco-friendly satellite city for the city of Medan. Various building typology from mixed use, sport facilities, art center, medium to small scale houses are comprised within 200 ha land to support the future occupants. The site is located in front of University area, therefore the proposed programs are designated to absorb the existing and predicted future activities. A central park is proposed and surrounded by public and housing clusters as the new green heart of the city. Citraland Bagja City is a new hope for better living for the people of Medan.
Borneo Business Icon is a new center for Pontianak. This riverside business complex offers a prestigious, lively and eco-friendly development for the people. A place for work, live and play within a 58,7 hectare area.
Borneo Business Icon accommodates housing, hotel, water park, office SOHO, central market, clubhouse and marketing office. The complex will maximize the use of shared park system as the social space and the lung of the neighborhood. Borneo Business Icon will be the new Eco-City that gives a new fresh, comfortable and happy place for the people of Pontianak.
Citraland Celebes is a new housing cluster for the future inhabitants’ healthy lifestyle. An area of 7,8 hectare is being carefully designed for every users, from children, active group to elderly and disabled people. A shared park system that cuts through from north to south become the social space, water management feature and the sport area of the neighborhood. This is supported by a continuous jogging track, bicycle lane and pedestrian-friendly street design that promotes users to walk instead of using automobiles. The Citraland Celebes is our new refreshing, joyful and family-friendly zone in the city.
Eco Resort City offers a luxurious, calm and eco-friendly neighborhood by providing a massive amount of green space. The 25-hectare project is located around the southern fringe of Medan on Jl. Medan – Namorambe, Desa Kedai Durian. It covers residential complex with commercial area and public facilities to provide neighborhood’s social activity such as: office park, F&B and shopping walk, club house, and parks.
The development is designed with water-sensitive urban design approach and eco-friendly utility system, following our research on Landscape Urbanism. Connectivity inside the area is designed to prioritize safety and comfort for the neighborhood. Cluster’s ROW only 7 m wide to decrease vehicle speed. Bus and other public transportation can access the neighborhood. Eco Resort City will become a new fresh, comfortable and joyful sanctuary for the people of Medan. Its resort atmosphere will give the unforgettable experience to the people.
Construction Start: 2012
Completion:
first phase was completed in 2014
second phase is on construction
Area: 40 Ha
Features : The project is renovation project from existing unfinished building. The project was carefully Designed on existing structure, the ten 150 sqm villas is combined in modern and traditional ambiance with private pool and contemporary chic gazebo. The design propose to get the most efficient way of construction by using prefabricated concrete which has effect of natural lime stone. The development also include bridge to sahang, the cafe and resto, landscape features integrated with high technology Mechanical Electrical features and Water Sensitive Urban Design.
Deskripsi :
Arum Dalu adalah Resort yang dimiliki oleh Tjioe Agus Supramono, seorang pendiri pabrik karet ternama, bernama PT. Prammindo RUbber Industry yang memfokuskan diri di sektor mesin pabrik yang memberikan percontohan dalam teknologi bangunan untuk mengembangkan kawasan Arum dalu dengan inovasi terhadap prefabrikasi dan pengolahan energi dengan pendekatan ramah lingkunan. Desain Villa difokuskan dengan 10 buah villa dengan pendekatan ramah lingkungan dengan sistem teritisan di bangunan yang berukuran 6 x 12 m. Dipadukan dengan inovasi terhadap pengolahan air, bangunan yang tropis, dan efisiensi energi sehingga desain yang dihasilkna menjadi satu buah master piece di daerah belitung 50 km dari bandara Tanjung pandan. Bangunan didesain menggunakan lampu hemat energi dan material yang memiliki insulasi tinggi. Pengembangan Villa difokuskan dalam beberapa tahap besar perencanaan, desain untuk villa tropis, cafe sahang, dan pengembangan villa lainnya, dalam satu masterplan yang besar.
Resort berada di tengah hutan dengan jarak 2 jam di daerah membalong, selatan Belitung. Kesulitan yang tinggi mewarnai pengerjaan
pembangunan seperti kesulitan akan kualitas tukang dan penyediaan tukang untuk membangun, juga kesulitan akan jenis bahan yang terbatas dalam pembangunan. Desain dimulai dari renovasi 10 buah resort yang sudah dibuat sebelumnya. Keadaan selanjutnya tidak mudah karena kondisi infrasturktur yang terbatas, dimana tidak ada listrik, tidak ada sinyal untuk bisa berkomunikasi, daerah yang masih hutan dengan jalan yang berupa tanah liat yang seringkali membuat kendaraan tergelincir dan perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Alhasil proyek diselesaikan dalam waktu 3 tahun dan sebagian besar waktu pembangunan dihabiskan tanpa adanya dukungan infrasturktur, seperti air dan listrik dari pemerintah.
Batuan prefabrikasi yang dicetak sebesar 30 x 60 dan pasif desain yang digunakan yang sederhana namun memecahkan persoalan. konstruksi dengan tujuan untuk mencapai carbon footprint yang rendah. Solusi terhadap krisis pada waktu pembangunan dipecahkan dengan sistem konstruksi prefabrikasi yang tinggi dengan cetakan material batuan sintetis yang dikhususkan dari batuan dan pasir setempat. Disini air ditampung untuk untuk digunakan kembali, dan efisiensi energi ditingkatkan dengan menggunakan energi dari penghawaan udara dan penggunaan energi matahari. Sistem konstruksi cabana menggunakan bahan konstruksi alumunium yang ringan, yang dibungkus anyaman rotan sintetis yang ada di setiap cabana yang ada di 10 villa. Pekerja didatangkan dari Cirebon untuk menganyam rotan di tempat. Gazebo ini didesain dengan mempertimbangkan dengan sudut – sudut estetika yang menggunakan bentuk yang sederhana yaitu, segitiga.
tidak cukup disitu, pengolahan – pengolahan sampah, pembibitan tanaman melalui proses hidroponik dan aeroponik, dipadukan dengan sistem integrasi arsitektur ke dalam bangunannya menjadi cerita villa dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang modern secara fundamental dalam menangani krisis. Arsitektur kemudian muncul dalam anyaman, dan detail – detail yang terselesaikan baik dalam citra bangunan yang dialasi dengan hal yang fundamental. Bangunan Sahang, restaurant diletakkan menghadap ke bibir pantai menggunakan struktur kayu yang ditemukan dilokasi dengan konstruksi lokal menawarakan transparansi dan memberikan kenyamanan dari angin laut di malam hari. Beton precasting digunakan sebagai konstruksi menggunakan pasir setempat di lokasi
Client: Arum Dalu Resort, Agus Supramono, Siannie, Albert Aoron Pramono
Principal Architect| Architect : Realrich Sjarief
1st phase Conceptual Design Team : Maria Vania, Donald Aditya Epiphanius, Christiandy Pradangga
1st phase Design Built Team : Bambang Priyono [Head Technical], Anton Suryanto [Technical]
2nd phase Conceptual Design Team : Miftahuddin Nurdayat, Tatyana Kusumo, Hardiyanto Agung Nugroho, Rio Triwardhana, Jovita Lisyani.
Management Construction : Pramindo
Structural Engineer: Pramindo
Quantity Surveyor: Pramindo
M+E Engineer: Pramindo
General Contractor : Pramindo
Related Press Release or Updates
Global City is the place where mixed use development becomes the heart of establishment. The complex proposes a series of development, which resemble the beauty of global’s tropical nature and architectural monuments with thematic water, forest, river. As our way to celebrate people activities, landscape and its people.
The 40 hectare project is located in Lippo Karawaci, Tangerang. It consists of world-class hotel, office Park, retail, vertical neighbourhood and culinary park. This ecological friendly project will aim for carbon-zero development and maintaining the existing wet land area. It will also use an integrated transportation system such as public transportation, and electric vehicle. Global Village will become the new anchor for investment, and lively socio-cultural activities in Karawaci.
Completion: 2012
Scope of Work : Conceptual Design Phase
Area: 1200 m²
Features : Integrated open air steel structure BRT Station with passing lane to accommodate the limited lane which affect the waiting time for BRT’s passengers. This is the first design which accommodate the disable by adding lift and ramp from pedestrian, embracing the practice of good design for all in public facility.
Principal Architect : Realrich Sjarief in Collaboration with Derek Trussler
Design Development Drawing Team : Bambang Priyono [Head Technical], Herman[QS]
Client: Insititute of Transportation and Development Policy
Director In Charge : Yoga Adiwinarto
Team : Faela Sufa
Images by render touch
Completion: 2015
Scope of Work : Conceptual Design Phase
Area: 1200 m²
Features : The Building consists of module of arched roof and minaret as signage tower inspired from the local building resembling the identity of Karachi. The arched room is opened by linear light well responding to air stacking effect allowing hot air circulates to the outside. The layout is opened as the functional principle developed from the intense discussion with Transport engineer, Government and the architect to gather solution responding genius loci of the city.
Principal Architect : Realrich Sjarief
Project Team [various from developing the sketch to model refinement] : Bambang Priyono, Miftahuddin Nurdayat, Jovita Lisyani
Client: Institute of Transportation and Development Policy
Director In Charge : Yoga Adiwinarto
Vice Director: Faela Sufa
Client Team : Pricillia Fabiola
Crystal Village is a a compact mixed-use development for the city of Pontianak. The masterplan intends to create one main street that cuts through the whole area, from the entrance to the riverside. This straightforward circulation will create an easy accessibility for the future occupants. In the middle, Crystal Lake is proposed, which the design is inspired from the exotic talisman of Borneo. Various facilities from shopping walk, water boom, supermarket, offices to executive club house are combined with 4 housing typologies in a 29 ha of land. Crystal Village is the new fresh and joyful oasis for Pontianak.
“Life is a journey, not a destination …” (RW Emerson)
There are people among us that has the privilege to enjoy great things in their career life such as continuing education overseas, working in great international design studio/offices… living their dreams as one of the few that can shape and influence built environments, in inspiring ways, to be better ones for the greater good of many.
We want them to share their journey, their stories on how to get there and what we can learn from it. Behind every success there must be trial and tribulation, struggle and hardships. Behind every journey, there must be friends and companions, supports and promoters.
Let’s listen to one of the journey .. “Realrich Fool’s Progress”
This event is part of the effort of “Continuing the Legacy of ARS (Ahmad Rida Soemardi)”, our friend, our mentor, and our supporter, who relentlessly promoted young designers like Realrich and many others. We hope to continue this event series as a
platform for designers, architects, landscapers and planners with urban interest to interact, share and continue the legacy of Mas Tata. After our first session with Sibarani Sofian (AECOM), our second session will feature Realrich Sjarief (RAW), and we’ll continue to the next round with more interesting journeys.
Kindly make your reservation to Anastasia.Widyaningsih@aecom.com or Ade.Kurniadhi@aecom.com by June 19 (seats are limited)
“Life is a journey, not a destination …” (RW Emerson)
There are people among us that has the privilege to enjoy great things in their career life such as continuing education overseas, working in great international design studio/offices… living their dreams as one of the few that can shape and influence built environments, in inspiring ways, to be better ones for the greater good of many.
We want them to share their journey, their stories on how to get there and what we can learn from it. Behind every success there must be trial and tribulation, struggle and hardships. Behind every journey, there must be friends and companions, supports and promoters.
Let’s listen to one of the journey .. “Realrich Fool’s Progress”
This event is part of the effort of “Continuing the Legacy of ARS (Ahmad Rida Soemardi)”, our friend, our mentor, and our supporter, who relentlessly promoted young designers like Realrich and many others. We hope to continue this event series as a
platform for designers, architects, landscapers and planners with urban interest to interact, share and continue the legacy of Mas Tata. After our first session with Sibarani Sofian (AECOM), our second session will feature Realrich Sjarief (RAW), and we’ll continue to the next round with more interesting journeys.
Kindly make your reservation to Anastasia.Widyaningsih@aecom.com or Ade.Kurniadhi@aecom.com by June 19 (seats are limited)
The design get exercised to get those circle and catenary shape on drawing and on site , through several types of construction materials by local craftsmanship. the bricks arranged to follow the shape of circle or catenary assisted using a rope to define a mold then the bricks takced refined using cement to get the perfect shape with plastered.
this glass floor using hollow as a frame. the hollows joined by using welding method, and covered by 10mm tempered glass which is has good quality in terms of retaining heat and also strong enough to hold the load of humanweight.
The Guild has a library, called OMAH Library, which located near studio bathroom. The library’s wall was created by concrete, and finished by couting. The plafond used gypsum material with waffle pattern, and there is skylights on the ceilling. This skylight function is to give natural lighting inside this library.
Overall, this place was inspired by a poem which written by Ann C.
We’re curious. We learn.
We become hungry for knowledge as if we’ve been starving for centuries.
Thus, we cram, we swallow and try to devour everything we could into our heads.
However, time chases us like a hunter after prey.
After all, knowledge doesn’t come to us effortlessly.
We risk the danger of being demolished with time and carefully learn all that there is to learn and remember.
At last, are we able to feast, risk it all and retreat without being fed on by time instead?
this poem told us, we are hungry for knowledge, but there’s no knowledge will come easily or come by it self. To get knowledge, we need efforts and make time to read the books. That’s why, the poem told us Library was weird. We can stay in library, reading books and spending our time without realize time has passed
The wild plants adjacent the guild is cultivated in the glass box to push its limit to local climate. There are another typical productive plans used and plants in the konples
based on experiences and projects that have been done as well as the commitment to keep learning, growing, and creativity, RAW tried to apply details that is not generally in the Guild. the result is very satisfactory and expected to be a lesson to apply on another projects.
this concrete pool is designed to use overflow system. the water is filtered and redistributed to the pool through a mixture of different return inlets.
when the pool is already full, the incoming water automatically spills over and it will create overflow effect. besides creating a dramatic effect, that overflow pool tends to be much cleaner because the water perfectly recycled.
similarly with the pool. the fish pond use overflow system.
when the pond is already full, the incoming water automatically spills over and it will create overflow effect. this system makes the water in the pond perfectly recylced and clean.
The word catenary is derived from Latin word for ‘chain’. Nowadays, it is known as the shape of chain carrying nothing other by its weight suspended by its ends and acted on by gravity. The shape itself is easily encountered in the simplest forms of things of our surroundings such as spider’s web and suspended bridge. Commonly adapted to kiln, the catenary shape is adapted to doorway to achieve ideal shape for freestanding arch of abiding extent. All of the catenary door is an enginereed door which is exercised based on the efficiency of ergonomy, height of the people, ease to open the door, adjusted for the owner’s dimension, the minimum size of opening, the limitation of hinge and combination of steel.
Ya Tuhan. jangan berikan cobaan yang lebih berat dari apa yang bisa diterima untuk keluarga kecilku. Semoga semua apa yang kulakukan di dunia ini bisa memberikan kebahagiaan untuk orang – orang, terutama untuk orang yang disayangi.
This costumized railling is located at the stairs which funcionate to connect the Associates Room, Technical Room, and Administration Room. This railing has a tubular shape, it connects every stairs step that located in one coordinate.
Material use in this railing is a similliar with the perforated stair stepping, it’s metal 0,5 inch diameter. It’s joined by welding the end of pipe with the side of stepping stairs. This pipe is still soaring to the upside, till the administration room, connected to the perforate there, and joined by weld.
the guild tried to make something similar to pietra serena (a gray sandstone also known as Macigno stone) by using different material from GRC by applying techniques from Stucco Lucido. Stucco Lucido is formed from dissolved animal glue, boiled linseed, and dissolved Bologna’s plaster (calcium sulfate). Natural earth shades are added to the mixture until the desired color is reached. The mixture is sieved and left to cool. So the color stays consistent a single mixture for all surfaces treated is made. Coats are applied to the surface and sand of each layer before moving on to the next one. In order to achieve a glossy brushed stucco finish, the process is continued by applying cross-layered coats. The last coat is applied with an iron spatula that is at least 8 cm wide. The mixture being pressed until the desired gloss is achieved. This technique avoids using wax, the glossy effect is achieved with a long hand-processing of the mixture that is laid on the surface and is what creates a fluid and transparent coating.
The basic principle is waste from baths, showers, washing machines, dishwashers,sinks, etc will be separated into solid waste and liquid waste. then the liquid waste that we called waste water will pass through pipes that have been hollowed to trickle into the soil.
Zero Strom Run Off is a methods to recycle the rainwater. In this building, this system is located in a manhole under the concretes in front of the Principal Room. This concrete connects the Principal Room and Amphitheatre.
This manhole is water recycle shelter. There are fish, one of it is mujaer and catfish. These fish could eat the dirt, makes the rainwater more filtered. Then, this rainwater is pomped and could be used for watering the landscape.
This stair is located in the left side of Associates Room as a connector of Associates room – Technical Room – Administration Room. On the first four steps, the width of the steps was made parallel to the wall resulting in the edges which are joined to the wall to be rotated abiding wall position. All of this stairs material is steel, including the structures and finishing. It’s 3,5 – 4 centimeters steel framework structures. The stair steps use perforated steel, supported by the steel framework structures. Screws, is used to join the steel framework and perforated stepping. To stick the steel frame with the bare concrete wall, we also use screws and elbows.
The Associates Stairs usin g screws to join the steel framewoks and perforated stepping, and also weld to join each steel frame. To make the surface clear and smoother, the stairs painted with Duko then applied damping finishing.
Mezzanine Stair
This stair has a similiar stucture, construction, materials and finishing with the Associates Stair, located in RAW Studio Mezzanine, to connect Ground Mezzanine with the floor above it . This circular shaped stair was built inside a concrete circle which has 1,5 meters diameter width. Mezzanine stairs had 12 footsteps, which everysteps has 22,5 degree radius. The concrete thick is 15 centimeters.
Stair Behind The Living Room
This stair is a private access of the resident, to connect Living Room to the residents private area (including maid), and also an access to the Roof Top. Unsimiliar with another stairs, this stair was made by concrete, steel, and wood.
Bare concrete was made as a structure of this stair, and also a place for the wood stair steps. This concrete applied couting finishing.
Steel was applied for railing. It has a pipe shaped, with 0,5 inch diameter and it height is 1,1 meters. To join the pipe, we are using weld.
We use Ulin Wood with Ultran finishing for the stair steps. For lighting, we use LED lamp as indirect lighting and placed it under the wood finish, hidden from the eye.
Roof Top Stair
This stair is located in outdoor area in First Floor. Basically, the structure, material, and finishing of this stair is the same with Associates Stair and Mezzanine Stair. The difference is the railing shape, and the stair it self has L shaped.
It railing was created by steel frame, which is formed in rectangular shape. The height of railing is 1 meter. The join also using screw and weld. To make the surface clear and smoother, the stairs painted with Duko then applied damping finishing.
The Summer Pavillion is on progress, we have 1 month to finish it. Probably something interesting will come up from this summer pavilion, made from almost 80 stacking box, in module. Hopefully it will be finished on time, because I don’t have other working place for people who will join summer course on July.
Setiap orang dalam langkah hidupnya di dunia ini pasti membutuhkan rumah. Rumah adalah satu tempat dimana kita bisa pulang, mengekspresikan diri kita dalam sudut – sudut yang paling pribadi. Rumah adalah representasi dari orang yang tinggal didalamnya, terlihat dari wujud citra diri arsitektur yang ada di bangunan tersebut, apakah ia hidup sendiri, hidup dengan keluarga kecilnya, ataupun hidup dengan satu keluarga besarnya.
Citra diri ini terlihat dari hal yang yang besar sampai titik yang terkecil seperti Denah bangunan, sirkulasi antar ruang sampai elemen yang terkecil seperti di rumah ayah saya di Jakarta yang dibangun oleh dirinya sendiri. Gagang pintu yang membentuk kehidupan bagaimana pintu itu dibuka sehari – hari atapun bel rumah itu yang berbentuk unik dari material besi dengan gantungan bandul untuk membunyikannya yang bersuara seperti lonceng sapi. Suaranya lantang sampai jarak 5 rumah pun masih terdengar. Secara filosofis bel itu menjawab citra dirinya yang harus bersuara lantang memanggil penghuni untuk keluar dan menyapa orang lain yang datang untuk beramah tamah. Tampak rumah ayah saya bersifat fungsional dengan jendela kelipatan 60 cm dan bouvenlie setinggi 60 cm sebagai tempat keluar masuknya udara. Bentuk atap seperti Joglo menjanji satu kepraktisan turunnya air secara baik dengan kemiringan material genteng 30 dan 60 derajat dan sisi fungsional dimana di dalam atap joglo tersebut masih ada satu ruangan gudang. Rumah ini sejalan dengan pribadi ayah saya yang fungsional dan berhati – hati dalam menjalani hidup.
Hal tersebut adalah hasil dari Proses diskusi untuk membuat denah rumah, tampak rumah, sampai pemilihan gagang pintu, jenis pintu, pola dan jenis lantai, pola dan jenis plafond antar pemilik rumah dan arsiteknya menjadi satu proses yang membentuk citra diri arsitektur bangunan. Kalau – kalau pemilik rumah itu adalah arsitek bangunannya, terjadilah dialog itu didalam dirinya sendiri.
Romo Y.B. Mangunwijaya membahas ini dalam buku yang ditulisnya berjudul Wastu Citra berdasarkan ide bahwa setiap bangunan hendaknya memiliki citra khusus / image yang sesuai dengan identitas untuk apa bangunan itu dibangun sehingga bangunan menjadi memiliki citra diri. Buku ini menjadi landasan dalam berbuat, bahwa di dalam karya satu bangunan yang baik, cerminan citra ini menjadi satu hal yang jujur menjelaskan siapa yang menghuni, siapa arsiteknya yang mendesain, siapa yang membangun, dan bagaimana bangunan tersebut berdiri di atas alam dengan rentang waktunya tersendiri, yakni rentang waktu proses.
Rumah Glass House di conecticut milik arsitek Philip Johnson menunjukkan citra yang transparan, ringan dengan material baja, rumah ini memiliki konsep transparansi ke taman sebagai latar belakang rumah tersebut. Rumah ini l berukuran 9.8 x 17 m dengan keseluruhan dinding kaca dan ekspresi solid hanya ditunjukkan oleh ekspresi toilet di tengah – tengah bangunan. Philip Johnson hidup sendirian, tidak memiliki pelayan, sehari – hari ia ditemani oleh alam, lukisan dan buku – bukunya. Karya Philip Johnson ini , Glass House menjadi satu lambang modernisme yang menurut Nicolai Ouroussoff, seorang kritikus arsitektur menilai ini adalah satu rumah yang paling terkenal di Amerika, yang menjadi salah satu tonggak dalam sejarah arsitektur modern pada tahun 1949 di dalam jurnal architectural review.
Citra itu terbentuk atas satu proses yang panjang dimana satu bangunan setidaknya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dibangun dimana beton pun membutuhkan waktu untuk mengering setidaknya selama 21 hari, baja membutuhkan waktu untuk fabrikasi lebih lama dalam perencanaan yang kemudian bisa terakumulasi lebih cepat dalam proses perakitannya.
Proses pembentukan arsitektur adalah satu rajutan yang kompleks dengan segala elemen pembentuknya. Saya pikir ada dua elemen terutama dalam menentukan citra satu bangunan. Yang pertama, satu pemahaman yang utuh mengenai kualitas satu bangunan, satu citra diri arsitektur yang utuh adalah satu permulaan, dari jaman peradaban jaman ketika vitruvius menanamkan pentingnya estetika, utilitas, dan kekuatan struktur. Ataupun ketika jaman mulai berubah yang secara filsuf mulai terbentuk ideologi – ideologi yang membentuk bagaimana satu ruang itu dibentuk. Arsitektur mulai membawakan pesan dalam kekuatan desain bangunan yang dirancangnya.
Yang kedua adalah jati diri klien yang meminta arsitek tersebut untuk didesainkan rumahnya. Dibalik semua rajutan yang kompleks diatas. Setiap orang yang memiliki rumah memiliki satu impian untuk diwujudkan dari masa ia kecil sampai dewasa, sampai mampu untuk mengekspresikan dirinya di atas bangunan yang dihuninya. Seorang klien adalah satu figur yang sangat penting. Arsitek bisa sukses karena klien yang dilayaninya mampu bermimpi mengenai rumah yang disukainya. Setiap klien dalam berkerjasama dengan seorang arsitek perlu untuk menyampaikan kebutuhannya, preferensi pribadinya dalam membayangkan rumah pribadinya. Proses tarik menarik akan terwujudnya rumah idamannya ini membentuk satu interaksi yang saling memberi dan menerima. Satu desain rumah bisa jadi bersifat konservatif, mengikuti romantisme jaman seperti rumah neo kolonial dengan repetisi kolom – kolomnya yang tegas, ataupun rumah yang merepresentasikan kebutuhan pemiliknya yang dimulai dari perancangan yang membentuk ruang – ruang yang unik di dalamnya.
Oleh karena itu, kekuatan yang ada dibalik karya arsitektur adalah satu proses yang panjang dari membangun satu bangunan yang abadi atau tak lekang jaman dimana ketika kualitas proses tersebut sedemikian tingginya jadilah seseorang yang menghuni rumah tersebut akan mendapatkan perjalanan yang demikian indahnya dalam memahami dunia arsitektur. Dan kemudian arsitek pada akhirnya bisa berbangga hati bangunan yang didesainnya membawa kedamaian untuk penggunanya. Seperti kata John Ruskin, “When love and skill work together, expect a masterpiece.”
tulisan ini di publish di majalah baccarat edisi Mei – Juni 2014
We would like to invite students and junior/senior architects in Jakarta or apparently reside in Jakarta on Monday, April 14th, to join the presentation and discussion about experience from a graduate architecture major who has been involved in professional work and put his love and effort as a city planner.
The Inspiration from his final project is expected to create self-reflection for Indonesian architecture students, to create an understanding about the architectural process of one and another which is unique for each person, on their quest to find one for themselves in university. This event intends to be a memento for a senior’s sincerity on guiding his junior and teaching them the spirit of fraternal solidarity.
We are very fortunate to have the opportunity to present Mr. Sibarani Sofian (Regional director of AECOM Southeast Asia) as the speaker. He studied architecture in ITB in 1993, and after graduated he worked as an urban designer at RSP Architects and later at Skidmore Owings and Merrill, both in Singapore.
This event initially is dedicated to alm. Ahmad Rida Soemardi, for his passion and dedication to educate architecture students in Indonesia. Furthermore, it is aimed to give broader perspective on how to do architecture within widely-ranged public depends on the boundaries made from each discussion.
The discussion will be divided into two sessions:
First, The topic will be about Undergraduate Final Project, which essentially a final project is the end of one’s journey through his architecture education, whereas one need to prove his final outcome in front of the examiners. In the final project, a student pour his creativity with an assistance from the counselor who bear a responsibility to encourage, enlight, and guide him about the importance of learning through a lifetime in his final year. Eventually, the Final Project itself can be seen as an ultimate stepping stone in the beginning of an architecture graduate’s career, and furthermore, to determine his destiny.
Second, It is about the phase after one graduates from architecture school, on some parties’ effort to shape his vision to rediscover what he loves, what he desires, and what he wants to prove in his struggle to emphatize within the wider society. This time the discourse will dig deeper on the definition of urban design and urban designer, boundaries between the outcome of urban design and architecture, process that determines urban design and architecture, and their dynamics in the professional world and their distinction in Indonesia.
Moderator: Realrich Sjarief
Due to our space limitation, there will be only 35 seats available. Please RSVP to miftah@raw.co.id or rofianisa@raw.co.id to get seat confirmation.
>“Love only grows by sharing. You can only have more for yourself by giving it away to others.” ― Brian Tracy
Kami mengundang untuk para mahasiswa mengikuti summer course yang akan diadakan 2 bulan bulan July dan Agustus dengan tujuan untuk membagikan pengetahuan dalam praktek arsitektur pada keseharian biro arsitektur. Apabila berminat bisa mengirimkan cv dan portfolio kepada Mukhammad Ilham [ilham@raw.co.id] dan Tatyana Kusumo [tatyana@raw.co.id] terbuka untuk 1 kelas maksimum 20 orang. Terima kasih, perhatiannya ditunggu untuk partisipasinya. Congratulation for all of the Architecture workshop participants (July-August 2014) that will be start on Monday July 30th 2014.
We would like to invite students to join summer architecture course in on July to August 2014 which intended to share the knowledge behind architecture practice. Due to our space limitation, there will be only 20 seats available. Please RSVP to ilham@raw.co.id or tatynana @raw.co.id to get seat confirmation.
Satu adik saya memberikan gambar dan memberikan sebuah buku. Ia menggambar muka ini di atas kertas, saya tersenyum melihatnya, mirip gambarnya dengan alis yang tebal, rambut yang pendek, kacamata, hidung, mulut. Ia orang yang pendiam, jarang berbicara lantang. Namun ia selalu berusaha menemukan hal yang terbaik dalam setiap momentum hidupnya untuk menjadi orang yang lebih baik. Baru senin kemarin diri ini mengumumkan bahwa sudah tidak ada acara perpisahan lagi karena sejujurnya, diri ini sudah tidak sanggup untuk bersedih setiap ada yang keluar dari kantor untuk bersekolah ataupun melanjutkan petualangannya di dunia ini. Bagi saya, semua yang berkerja bersama adalah keluarga saya sendiri, siapapun dia, apapun latar belakangnya.
ia menulis pesan yang membuat diri ini larut dalam kesedihan, membuat diri ini menyadari kembali rantai waktu bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan.
Tetesan air mata mengalir, kesedihan datang tak disangka – sangka, Saya akan kehilangan, kehilangan pribadinya, kehilangan kehadirannya, kehilangan keceriaannya, namun saya yakin awan kebahagiaan akan muncul dimana masa depan yang cerah untuk adik saya ini akan selalu saya doakan, semua akan berjalan lebih baik. Setiap rentang waktu memiliki catatan perjalanannya sendiri. Orang pergi, dan kemudian orang datang, meninggalkan memorinya, catatannya, saat-saatnya sendiri. Tidak banyak orang yang bisa meninggalkan kenangan yang mendalam di perjalanannya namun Adik saya ini sungguh memberikan kenangan yang manis dalam perjalanannya, dan saya benar – benar bersyukur untuk itu, dan semoga kita bisa bertemu lagi, dalam rantai waktu ketika yang ada. Terima kasih Raras.
Apriani Kurnia Sarashayu : Tetesan air mata mengalir, kesedihan datang tak disangka – sangka, Saya akan kehilangan, kehilangan pribadinya, kehilangan kehadirannya, kehilangan keceriaannya, namun saya yakin awan kebahagiaan akan muncul dimana masa depan yang cerah untuk adik saya ini akan selalu saya doakan, semua akan berjalan lebih baik. Setiap rentang waktu memiliki catatan perjalanannya sendiri. Orang pergi, dan kemudian orang datang, meninggalkan memorinya, catatannya, saat-saatnya sendiri. Tidak banyak orang yang bisa meninggalkan kenangan yang mendalam di perjalanannya namun Adik saya ini sungguh memberikan kenangan yang manis dalam perjalanannya, dan saya benar – benar bersyukur untuk itu, dan semoga kita bisa bertemu lagi, dalam rantai waktu ketika yang ada. Terima kasih Raras.
“Someone secretly bury a berry in the side road and when a small sprout grows, the secret code is the passport, to the forest a wonderful journey will begin – Joe Hisaishi”
Di awal tahun 2014 di bumi pertiwi ini, mengenai arsitektur, dunia yang semakin hiruk pikuk, responsif, dinamis dengan informasi yang begitu banyaknya membuat diri ini berpikir apakah diskursus yang terjadi dalam hati yang pribadi, tempat perenungan untuk berbuat, mendesain masih terjadi dengan dalam atau sungguh – sungguh sekarang ini, di masa yang serba cepat ini ? Loncatan – loncatan inovasi arsitektur menjadi suatu gerakan politis dimana kedalamannya dipertanyakan sehingga kejujuran pun lebih lebih lagi dicari – cari begitu gencarnya dengan provokasi yang gencar di berbagai media informasi. Lucunya ada yang menjawabnya dengan pertanyaan retoris yang menimbulkan kesan sinis, kurang berempati dengan generalisasi berlebihan, juga penuh alasan sebab akibat. Saya pikir hal tersebut tidak akan menimbulkan empati yang mendalam dari manusia lain, namun ironilah yang muncul akibat salah membaca pesan ataupun menyesatkan logika. Saya pun ingin ikut menuangkan pendapat.
Kita sebagai arsitek perlu berbuat inovasi terhadap disiplinilmu kita yang terdiri dari berbagai macam olah ruang, olah rasa. Olah ruang ini tidaklah seseksi gerakan politis, atau ideologi berlebihan seperti yang dicari oleh orang – orang filsuf, namun akan memberikan kenyamanan pada pengguna, berfokuslah kepada klien anda, apa kebutuhannya, luangkan waktu untuk merenungkannya dan jawablah, renungkanlah lagi, dan jujurlah pada diri sendiri. Arsitek adalah profesi yang melayani dengan empati. Dari situlah ia akan dihargai dengan dasarnya yang kuat, fondasinya yang matang seperti bangunan yang kuat diterpa kemajuan jaman dengan kepiawaian yang teruji [sense of mastery].
Perumusan teori mengenai kebutuhan manusia ini sudah bertumpuk banyaknya, hanya saja solusi yang kreatif dari arsitek untuk memecahkan masalah kebutuhan ini yang ditunggu tunggu dengan berbagai kompleksitas bangunan yang dirancang dengan isu – isu pemakaian bangunan dengan performa yang sebaik – baiknya. Kultur budaya manusia ini akan berubah lebih baik ketika olah ruang memang memiliki maksud yang baik, memiliki nilai guna, memiliki inovasi yang mencerahkan dengan kebolehan desain yang lebih baik dari masa sebelumnya. Dan semoga saja bentuknya seksi dan mengundang decak kagum sesama kita, disinilah olah rasa itu mulai muncul, rasa yang disukai sesama, terkadang rasa itu bisa angkuh, sombong, ataupun rendah hati ataupun sederhana, itu adalah hasil proses panjang berpraktek, dan itu sah – sah saja ditengah anggapan miring orang lain yang terkadang merupakan gerakan politis yang berdasarkan emosi tanpa empati. Sehingga yang muncul adalah citarasa yang otentik [Authenticity] dari pribadiarsitek itu sendiri.
Ketika kepiawaian itu sudah teruji kemudian pembuktian empati ini pada dasarnya adalah pembuktian untuk membuka diri terhadap etika yang terdalam dari pribadi arsitek. Yang kalau – kalau pembacaan arsitek ini sudah sedemikian dalam, dicaplah ia sebagai sang radikal ataupun sang konservatif secara sendirinya, pembawa anginperubahan dan ketentramanarsitektur yang lebih baik.
Lalu lambat laun mungkin profesi arsitek akan semakin dihargai dengan sendirinya sebagai salah satu penentu peradaban jaman.
Keyakinan, empati yang lebih luas
Di tengah – tengah gerakan politis diatas. Saya mempertanyakan keyakinan yang semu ? Satu saat diri ini bertemu satu kawan lama, untuk mengingat masa – masa lalu, bahwa manusia itu berubah. Ada satu orang teman yang sudah berubah keyakinannya akan jaman yang sudah berubah, ada juga teman yang sudah semakin matang dengan kehidupannya dan keyakinan hidupnya. Mengenai keyakinan, diri ini sendiri masih mencari arti kehidupan yang hakiki tanpa menghakimi, yang terbaik yang bisa diberikan untuk sesama ini. Diri ini tidak pernah sekalipun berkata diri ini seorang katolik, ataupun katolik yang pernah membantu jemaat kristen untuk melakukan perjamuan, ataupun membantu panti asuhan muslim yang membutuhkan, ataupun membantu teman – teman Budha ataupun Hindu. Keyakinan itu ada untuk memperbaiki kehidupan manusia, namun relativitas yang ada inilah yang membuat pemahaman dan persepsi setiap orang tidak sama. Banyak juga pribadi – pribadi yang memanfaatkan agama demi dirinya sendiri.
Diri ini dibesarkan di universitas yang majemuk, plural, dengan romantisme kegiatan berhimpun yang heterogen dengan keyakinan, ideologi, pemikiran yang berbeda – beda. Namun saya ingat orang – orang yang didalamnya adalah para pemimpi yang ideal, mendambakan hidup bersama yang lebih baik. Dalam canda, senda gurau, justru saya menemukan cinta kasih, Tuhan itu di dalam diri teman – teman yang muslim, Adalah Adi namanya, Xenia namanya, ataupun Yulia namanya, ketiga orang berjilbab ditambah teman – teman lain yang musim yang teguh untuk melakukan sholat 5 waktu juga mengajarkan arti persaudaraan yang tulus dan begitu dalam membekas, dalam teman – teman kristen yang tulus melakukan perjamuan ketika jumlah mereka hanya kurang dari 7 orang saja mengajarkan semangat tulus memuji Tuhan, ataupun teman – teman Hindu yang teguh setiap pagi berangkat ke pura untuk berdoa dan mendoakan semesta yang lebih baik sebelum memulai pekerjaan mereka, ataupun cinta kasih tulus tanpa pamrih yang ditujukan oleh orang – orang budha dengan merawat viharanya dan menahan dirinya. Mereka mengajarkan perbuatan cinta kasih yang tulus untuk sesama.
Saya mendoakan selalu teman – teman masa lalu – masa depan, teman – teman terkasih untuk bisa teguh menyebarkan tindakan cinta kasih kepada sesama.
01 January 2014 “A new year is unfolding–like a blossom with petals curled tightly concealing the beauty within. – Unknown”
Roseto – Big Family
2014 sudah akan menampakkan wujudnya, 2013 sudah akan menjadi masa lalu. Lalu apa yang akan terjadi di rentang waktu yang ada dimana masa depan akan muncul tanpa diminta. Waktu memang menjadi satu hal yang paling berharga dimana orang – orang akan berjuang untuk mendapatkan waktunya sendiri, meminta waktu untuk dirinya, emosinya, harga dirinya yang menanti untuk dituangkan dalam catatan sehari – hari. Mengenai masa depan, kita tidak akan pernah tahu. Terkadang diri ini juga tidak pasti mengenai masa depan. Malam tahun baru ini dihabiskan untuk menikmati waktu bersama keluarga, kami tidak pergi kemana – mana, hanya di ibu kota Jakarta ini, Laurensia membantu sehari – harinya di liburan ini untuk menyelesaikan pekerjaan – pekerjaan administrasi yang belum selesai, sementara diri ini meluangkan waktu untuk menata, membereskan kantor, membereskan komputer – komputer kantor, server, ya singkatnya bersih – bersih. Pernah ada satu orang bertanya, “kenapa sih ngga pakai office boy, atau IT kantor ?” Diri ini juga berpikir mungkin ada baiknya ide tersebut, mungkin sebabnya karena belum ada orang saja yang melamar, atau diri ini berpikir kantor arsitek saya ini masih kecil, hanya berisi 15 orang saja dengan 7 orang anak – anak magang yang datang dan pergi. Beruntung kantor sekarang sudah memiliki sopir dan tenaga administrasi sekarang yang sudah sedemikian baiknya membantu urusan ini. Mungkin diri ini masih berpikir secara tradisional bahwa membersihkan meja kantor adalah tugas kita sendiri, juga meja – meja lain yang masih kotor cuma dibutuhkan 2 tangan, 2 kaki, 1 kepala untuk mengambil ember, lap dan kemudian bersih – bersih. Diri ini percaya semua hal – hal besar dimulai dari hal yang sederhana, 2 tangan , 2 kaki, dan 1 kepala. Kamipun masih bisa tertawa waktu ditanya “Kalian ngga kemana – mana liburan ?” ini saat – saat yang kritis, jawab kami. Dari Laurensia diri ini belajar untuk hidup sederhana, kami masih bukan apa – apa.
Di 2013 diri ini bersyukur untuk mendapatkan dukungan yang semakin dalam dari Laurensia, istri yang terbaik. Setiap langkah dan nafas menjadi ringan dengan naik dan turunnya hidup. Ia membantu diri ini untuk menjalankan kehidupan sehari – hari, menyiapkan makan pagi, makan siang bersama, dan kemudian makan malam. Ia juga mengingatkan saat – saat penting dimana harus beristirahat, berdoa, ataupun sampai hal – hal yang sederhana seperti jangan mandi terlalu malam. Sama seperti ketika diri ini terkapar tidak berdaya karena kecapaian bekerja di perpindahan tahun baru kemarin. Dunia luar terkadang penuh hingar bingar sehingga menyilaukan mata, dunia yang kita jalani sehari – hari ini yang membentuk cerita hidup ini seutuhnya, dunia yang penuh dukungan orang- orang yang tersayang.
Arsitektur dengan dimensinya yang terukur, memiliki rasa yang penting dalam pengalaman sekuensial yang dialami penggunanya. Pengalaman ini adalah satu usaha untuk menikmati ruang yang kompleks, indah dengan cahaya, suara alam, dan berguna sesuai hakikinya. Satu karya lansekap di kota Singa itu ada begitu indahnya, suatu nuansa lansekap dari berbagai belahan dunia, kumpulan koleksi yang ada untuk dinikmati di daerah tropis. Ini tidaklah mungkin tanpa solusi radiant cooling sebagai pendingin ruangan dimana jarak atap ke lantai yang begitu tinggi. Disini teknologi dan integrasi dengan disiplin lain menjadi satu kelebihan. Arsitektur itu muncul dari pertanyaan – pertanyaan mengenai bagaimana mencipta ruang yang lebih baik untuk penggunanya, dan lebih tinggi lagi lebih baik untuk alamnya. Mungkin semua dimulai dari pertanyaan apakah bisa lebih baik daripada masa kini.
Teman terbaikku pernah berpesan tidak perlu takut jangan pernah takut jatuh, orang yang takut jatuh adalah orang yang ada di atas. Orang yang ada dibawah adalah orang yang paling bahagia, ia selalu menatap ke atas. Diri ini merasakan hangatnya tanah kemudian menengok ke atas, langit itu begitu biru, 2014 sudah datang.
“Yang kamu sudah baikan hari ini ?” Laurensia bertanya, diri ini menjawab “sudah, terima kasih ya sayang, Happy New Year.”
Features : The two volumes mixed program combined as tower and podium, in order to enable separate circulation and different function accommodating best practice for school and living activity. The interlocking volumes inside two mixed volumes creating void which taking advantage of the benefits of the cross air circulation.
Client: University of Pelita Harapan
Principal Architect : Realrich Sjarief
Project Team : Septrio Effendi, Miftahuddin Nurdayat, Rio Triwardhana, Bambang Priyono, Imam Setiawan, Rofianisa Nurdin
Collaborating Architect and Interior Designer: Leni Sindhu Associates
Management Construction : Optima
Structural Engineer: Sinergi
Quantity Surveyor: Owner
M+E Engineer: Owner
General Contractor : Pulau Intan
We won National Gallery of Indonesia.The design of the Galeri Nasional Indonesia ( Indonesian National Gallery ) complex is inspired by the beauty of the sky and the warmth of the earth with an intention similar to the heritage building of Galeri Nasional located right in the middle of the complex. The heritage building, built during the Dutch-Indies government era, will be framed with a gallery with an expression of greeneries representing the earth, and in the background will be the office or administrative building of the Galeri Nasional which represents the sky.
The lobby is located in the heritage building, making this building a hub for entrance and egress. A skybridge connects the heritage building with the gallery building that frames it. The reception plaza is located on the western side of the Galeri Nasional Indonesia, with a pedestrian path open to the banks of Ciliwung River. An art plaza concept will be built along the east-west axis, and art stores will be located on the north and south sides.
The design of the Galeri Nasional complex is based on the intention to maintain the image of the heritage building whose plot is only 70 meters wide; quite small when compared to the width of the heritage building itself, which is 22 meters. Therefore, the design intervention chosen for this site is landscape as the side architecture of the museum, flanking the heritage building. Connectivity is maintained through a public access from the Monumen Nasional (Monas) to the art shop in the central space of the gallery through underground tunnel. In the master plan, this connectivity issue is continued to the Ciliwung River, allowing art activities on its banks.
The master plan development is divided into two stages. The first stage is focused on the main area, the Galeri Nasional area. On this first stage, it is assumed that the land around the Galeri Nasional is in the acquisition process, thus the development is focused on the Galeri Nasional itself. The first stage, as the main function of the national gallery, can be run independently. The second stage will be conducted in the subsequent development, when the land is acquired. In the second stage, the supporting facilities of this gallery complex-convention center, auditorium, and a hotel located on the north side of the complex, facing the Monas and Gambir train station-will be built.
In general, the building masses of the Galeri Nasional Indonesia complex respond to two main axes. The Monas axis and the Galeri Nasional heritage building which was connected to the Gambir train station. The Monas axis is realized through the construction of an underground tunnel.The front and rear side of the Galeri Nasional complex hold interconnected open plazas as a response to the Monas area (at the front) and the Ciliwung River (at the rear).
The Galeri Nasional Indonesia depicts the simplicity of Indonesian architecture in harmony with nature where earth and sky merge.
Principal Architect : Realrich Sjarief
Team : Happy Marfianta, Apriani Sarashayu, Septrio Effendi, Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Maria Vania, Muhammad Iqbal Zuchri, Christiandy Pradangga, Donald Aditya, dan Mukhamad Ilham.
SAYEMBARA PROYEK DESAIN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN BANGUNAN GALERI NASIONAL INDONESIA Galeri Nasional Indonesia (GNI) merupakan salah satu lembaga kebudayaan berupa museum khusus dan pusat kegiatan seni rupa, sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertugas melaksanakan pengkajian, pengumpulan, registrasi, perawatan, pengamanan, penyajian dan pameran karya seni rupa. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Galeri Nasional Indonesia menyelenggarakan fungsi pelaksanaan pengkajian, pengumpulan dan registrasi, perawatan dan pengamanan, penyajian dan pameran, kemitraan, layanan edukasi, pendokumentasian, publikasi, dan pelaksanaan urusan ketatausahaan Galeri Nasional Indonesia. Sejalan dengan perkembangan zaman, berdasarkan latar belakang perjalanan tersebut diatas dan mengantisipasi kondisi terkini guna menyelaraskan pencapaian visi tersebut, Galeri Nasional Indonesia membutuhkan masukan dari para stakeholder mengenai rencana pengembangan bangunan yang saat ini kebutuhannya dirasa mendesak seiring berkembangnya fungsi dan aktivitasnya sesuai visi dan misi Galeri Nasional Indonesia. Untuk itu diharapkan melalui kegiatan Sayembara Proyek Desain Arsitektur Pengembangan Bangunan Galeri Nasional Indonesia pada Kawasan Pengembangan Kebudayaan Nasional ini dapat membuka ruang partisipasi publik secara lebih luas dalam merencanakan konsep pengembangan Galeri Nasional Indonesia melalui gagasan dan karya arsitektural yang terbaik.
JUMLAH HADIAH : 465 JUTA RUPIAH JADWAL SAYEMBARA
17 Juli 2013 Pengumuman 17 Juli — 28 Ags 2013 Pendaftaran dan Pengunduhan Dokumen Sayembara 25 Juli 2013 Pemberian Penjelasan (aanwijzing) 28 Ags 2013 Batas pemasukan karya 31 Ags 2013 Penjurian 02 Sept 2013 Pengumuman Pemenang 17 Sept 2013 Penyerahan Hadiah Pemenang
Dewan Juri: DR.Ir. Ady R. Thahir,MA Pakar Sustainable Development Ir. Arya Abieta Pakar Konservasi
Ir. Baskoro Tedjo Arsitek Praktisi
Ir. Isandra Matin Wakil Galeri Nasional Indonesia
Sunaryo Budayawan
Hasil: Tiga (3) Pemenang Satu (1) Penerima Penghargaan Khusus Informasi lebih lanjut: http://www.sayembara-iai.org
“Believe in this world – that there is meaning behind everything.” Vivekananda
Malam ini sunyi senyap, hari ini pun hari biasa, dengan kicauan suara burung – burung yang ada di taman sebelah rumah. yang berbeda adalah diri ini bangun lebih pagi dari biasanya, sekarang jam 3 pagi. Diri ini pun merenung terdiam mengenai apa saja yang sudah terjadi dalam hidup sampai hari ini. Sejenak diri ini bersyukur, bahwa sudah dikaruniai nafas kegagalan, nafas keberhasilan, dan nafas yang diberikan untuk bisa merenungi inti dari kehidupan ini. Untuk apa kita ada disini.
Melalui kerja nyata romo mangunwijaya membantu masyarakat, ada satu renungan tulisan dr Mohammad Sobary, “… Beliau menemukan suatu renungan mengenai memuja kebesaran Tuhan bukan di altar melainkan di pasar… melalui tradisi”topo ngrame”. Memuja Tuhan bukan di ruang terbatas,… tetapi sebaliknya,pemujaan itu tampil dalam kerja, dalam kesibukan mewujudkan proyek – proyek kemanusiaan, di tengah masyarakat. Kalau perlu, dan itu selalu perlu, di tengah masyarakat kaum miskin yang memerlukan bantuan.”Sobary(2014:xix) dalam buku kata – kata terakhir Romo Mangun, sebuah perjumpaan hangat di ujung perjalanan.
Roseto – 2014
Preparation in the workshop – 2012 – temporary structure
“Pak bagaimana kehidupan di kampung bapak, apa bapak punya keluarga, istri, anak – anak ?” Tanya diri ini ke satu tukang kayu yang merantau setiap minggunya pulang pergi ke daerah Sukabumi, Jawa Barat. Untuk hidup di masa depan, diri ini percaya bahwa masa lalu adalah masa lalu, usaha untuk menjalani masa depan adalah usaha untuk melihat masa depan, oleh karena itu kita selalu hidup dalam rantai ketika. Ketika kita berbicara dengan sekitar, dengan hidup, dari situlah kita bisa memahami indahnya rajutan kehidupan.
Saya dulu punya istri pak, tapi istri saya meninggal, karena kanker payudara, dulu saya bawa dia ke rumah sakit hasan Sadikin Bandung, namun saya ngga punya uang pak, jadi istri saya tidak bisa berobat. Dalam hati ini , tidak bisa membayangkan ada di posisi dia. Dengan segala keterbatasannya, ia bergulat dengan craftmanship yang dimilikinya. Saya pikir ini realitas yang ada, kehidupan yang diwarnai himpitan ekonomi.Kalau ada kesempatan, ingin sekali meningkatkan penghidupan mereka, para tukang – tukang terbaik, untuk mendapatkan penghargaan setinggi – tingginya. Dalam kapasitas diri ini yang akan meningkat, tanggung jawab akan orang – orang di sekitar ini pun meningkat, bahwa mereka harus mendapatkan penghidupan yang layak. Bisa menabung, untuk hari tuanya, sekaligus bisa mengekspresikan dirinya melalui karya.
Susunan kombinasi triplek rangka
Arsitek dalam praktik sehari – hari pada hakikatnya adalah satu pribadi yang mengetahui seni membangun dan teknik membangun, sehakikatnya membuka diri untuk berdialog dengan orang – orang untuk mempelajari teknik membangun yang lebih baik, mungkin juga dengan para tukang ini, para pemilik rumah, pada alam, pada tanah, dan mungkin lagi pada langit. Mungkin saja dari situ ia bisa mendapatkan pasir putih, butiran – butiran yang tersisa sebagai inspirasi dalam desain arsitektur yang dicoretkannya. Bahwa memang itu lah hakikatnya, mendesain bangunan yang lebih baik.
Oleh karena itu, kali itu diri ini membuat satu desain untuk sopir pribadi yang sudah seperti keluarga saya sendiri, ia menemani diri ini sehari – hari, orang yang tahu nafas kegagalan, dan nafas keberhasilan sehari – hari saya. Namanya Pak Misnu, istrinya bernama Sri, ia memiliki 3 anak, yang pertama namanya nurul, yang kedua aisyah, yang ketiga Tria.
Rumah Pak Misnu sebelum dibangun
Cetakan mini pile dari pelat besi bekas
Persiapan pemasangan cetakan pondasi mini pile
Umpak Kayu yang dicor ke beton
Susunan kombinasi triplek rangka
pola keramik di kamar mandi
Rumah ini didesain dari material yang sederhana, dari triplek 9mm, 12mm, 15 mm, 18 mm, dengan menggunakan pondasi umpak dengan kayu papan bengkirai 30 mm x 145 mm dengan ketinggian 50 cm yang dicor ke umpak beton. Desain dimulai dari melihat keseharian, banyaknya potongan triplek – triplek di workshop dengan menguji, apa yang bisa muncul dari satu keterbatasan bahan, kayu triplek, dengan keterbatasan kekuatan yang dipunyainya, dengan 2 orang tukang kayu yang ada, dengan dimensi yang terbatas. Oleh karena itu susunan ketebalan dimensi yang merupakan inti kekuatan triplek menjadi penting dimana triplek ditumpuk sehingga menyerupai kaso supaya kekuatannya bisa ditambah. Rumah ini menggunakan modul 1.2 x 2.4 m setiap kolomnya dengan jarak umpak per 2.4 m. Keluarga Pak Misnu juga membutuhkan satu warung di depan, oleh karena itu kemudian bagaimana pagar yang juga berfungsi sebagai warung ini bisa dibuka dengan dinding. modul GRC putih 150 mm x 600 mm disusun horisontal. Sebagian atap yang digunakan adalah atap alumunium foil yang didapatkan dari daur ulang dari kardus susu ultra. Dari ongkos membangun rumah ini bisa mencapai ongkos 1 juta per m2. rumah ini pun masih berevolusi, karena proses tinggal ada sepanjang karya itu bisa memberikan hal positif terhadap penghuni dan diskursus arsitektur akan dimulai lagi dengan evaluasi satu desain terhadap karyanya, berputar dalam iterasi untuk membuat desain yang lebih baik.
Persiapan pemasangan cetakan pondasi mini pile
Cetakan mini pile dari pelat besi bekas
Umpak Kayu yang dicor ke beton
Saya punya janji ke diri ini sendiri, kalau sudah ada sedikit kemampuan nanti, orang – orang yang menikmatinya yang pertama harus orang yang terdekat yaitu keluarga, kemudian orang – orang yang berkerja untuk kita, barulah orang lain sekitar kita. Rumah ini untuk supir pribadi saya, pak Misnu dan keluarganya yang sudah seperti keluarga sendiri, ia sudah berkerja sejak saya masih kecil.
pintu masuk ke workshop tukang di belakang
Di belakang rumah pak misnu diletakkan satu workshop untuk bereksprimen mengenai detail arsitektur, detail sambungan kayu, uji coba mock up, ataupun melayani relasi – relasi dan mungkin juga orang – orang yang baru dikenal dimana workshop ini akan tumbuh dan berkembang bersama rumah pak Misnu. Workshop yang baru ini didesain dengan modul 3 m menggunakan kayu jambi dengan sistem umpak beton, disini sistem pertukangan yang ada di dasarkan pada budaya saling mengajarkan, dengan pembagian yang merata, bonus – bonus per proyek . Diri ini mencoba menjawab masalah – masalah hidup yang tidak layak dari diskursus yang dilakukan Adi Purnomo dalam acara diskusi Venice Bienale beberapa saat yang lalu, dimana beliau menampilkan standar kualitas hidup yang rendah dan pentingnya menghargai para pembangun kita . Diri ini berpikir semoga disini tukang dibayar lebih, namun berkerja lebih baik, bisa membuat lebih rapih, dan menjaga craftmanship lebih baik, dari situ kita bisa dihargai lebih. semua berpulang dari satu keinginan untuk hidup yang lebih baik, untuk semua orang. Kita sudah punya satu project manager, sudah ada 4 tukang tetap yang terus menerus berproduksi , workshop ini sudah membuahkan 2 beasiswa untuk keluarga tukangnya sebesar 24 juta rupiah, bonus – bonus per-bulannya, tunjangan – tunjangan dan akan terus berbuat menyebarkan kebaikan kepada sesama.
pesanan sudah mulai datang dari orang – orang yang bersimpati untuk membantu. Saya bilang ke tukang – tukang, saya pesan, kita buat produk yang murah dan bagus, orang – orang pasti akan mau memesan. Curahkan seluruh tenaga kita untuk membuat produk yang bagus.Garis tangan yang di buat, ada untuk dinikmati bersama. berpikir punya banyak klien yang minta didesainkan rumah, ini juga menjadi satu titik perenungan, untuk apa kita ada. ini adalah satu buah karya untuk meneruskan pesan almarhum Robi Sularto. Architecture as Dharma not merely as a profession.Ijinkan saya perkenalkan nama rumah ini Murakabi, dari bahasa sansekerta artinya bermanfaat untuk semua.
Sketsa Denah Rumah Pak Misnu dengan jarak antar kolom per 2.4 m
House at Cendana is on construction. The house featured linear continuous skylight above shining the wall space in narrow 8 m x 50 m lot size. The design intent is to break the depth of the deep lot size into one integrated tropical design and creating efficient planning design.
Akanaka is in Griya Asri Vol. 14 No. 07 July 2013. Here is the note of Griya Asri :
Majalah Arsitektur, Interior, Taman dan Lingkungan Khusus diterbitkan sebagai media efektif dan strategis yang memuat aneka ragam informasi dan promosi produk yang berkaitan dengan produk dan jasa sebagai berikut :
Pengenalan Produk Interior, Arsitektur dan Taman
Menampilkan karya-karya arsitektur desainer interior, landscaper dan developer yang menarik sebagai informasi dan inspirasi kepada masyarakat. Artikel yang tampil dapat menjadi promosi yang efektif dari program pemasaran produk yang berhubungan dengan aspek interior, arsitektur dan taman. Lingkup pembahasan utama adalah rumah tinggal, apartemen dan fasilitas umum seperti ruang pamer, kantor, restoran, hotel, fasilitas pariwisata, kawasan olah raga dan
kawasan rekreasi.
Industri Properti
Menyampaikan informasi yang lebih terinci dan jelas tentang produk-produk properti seperti real estat, kawasan baru, apartemen, kondominium, ruko, pertokoan, perkantoran, hotel, resor dan lain-lain. Ditampilkan dalam bentuk artikel dan foto berwarna dengan pembahasan secara ilmiah populer, sehingga konsumen dapat memperoleh informasi yang pasti dan akurat sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat.
Produk Pendukung dan Seni
Berbagai produk pendukung yang dibutuhkan untuk melengkapi fungsi ruang, bangunan, eksterior maupun interior, baik yang bersifat fungsional seperti furnitur, peralatan kerja, peralatan penerangan, pengkondisian udara, sanitasi, perlengkapan dapur, kamar mandi sampai ke ruang kerja kantor, maupun benda-benda seni berupa lukisan atau penunjang interior lainnya.
Jasa Pelayanan
Jasa yang dilakukan untuk masyarakat dibidang layanan desain rancang bangun, interior, taman, wisata dan rekreasi. Juga memberikan informasi jasa perbankan khususnya yang berkaitan dengan pembangunan perumahan, industri dan lain-lain.
Data Majalah Griya Asri
Surat Izin :
Terbit pertama Januari 2000
Mulai 1 Januari 2000, Surat Izin Penerbitan Pers (SIUPP)
No. 1706/SK/MENPEN/SIUPP/1999
Periode Terbit : Bulanan (tiap awal bulan)
Penerbit : PT. GRIYA ASRI PRIMA
Alamat:
Operasional Office
Jl. Gudang Peluru Barat IV No. 8 (Jl. M)
Tebet, Jakarta 12830
Telepon : 021 – 8297366, 8316272, 8318460
Faksimili : 021 – 83706709
PO BOX : 41014 JKTM 12700
E-mail : info@griya-asri.com
Website : http://www.griya-asri.com
Marketing Office
Jl. Asem Baris Raya No. 142
Kebon Baru, Jakarta 12830
Promosi
Telepon : 021 – 83780403
Email : promosi@griya-sari.com
The concept of the house focuses on the creating an ecological design of house which is one small design 200 sqm house. The design allow natural fresh air by the design of the green slot which also allow natural indirect lighting coming to the space. The shape itself combine the 2 intentions, first intention is well refined detail using geometric clear partii and second is maximise space through space utilisation.
Principal Architect : Realrich Sjarief
Client : Tania Chandra Lukito and Family
Project Team : Lia Kurniadewi, Mukhammad Ilham
Status : on construction
General Contractor : DOT Workshop
Advisor in charge : Singgih Suryanto
Structure Engineer : Anwar Susanto + John Djuhaedi
Bank Indonesia Headquarter at Mataram is one prestigious project which selected from winning limited competition,the design proposed a mixture between past and future. The past is a building consist of existing office. The extension in the need of extending the activity due to the maximum capacity of the building. The future project touched the other 2 storey building, and transformed it into a glass box building with repetition of new column structure.
Principal Architect : Realrich Sjarief
Team : Bambang Priyono, Apriani Kurnia Sarashayu, Andhang Trihamdhani, Randy Abimanyu, Indra Dwinugraha, David Sampurna
Status : Built
Co Architect, Structure Engineer, Mechanical Engineer : PT. Agra Tata
Agra’s team : M. Harris Yusuf, Happy Marfianta
Client : Bank Indonesia
Client’s Team : Harris Supri, M. Rizal Kurniawan, Winda
Features : Modernist scheme by touching art deco lightly
Appointment: 2014
Construction Start: 2015
Completion: 2016
Area: 2500 m²
Project data : Confidential
Features : Exposed existing green wall with Tunas Muda art + gallery
Appointment: 2015
Construction Start: 2015
Completion: 2016
Area: 800 m²
Client: Tunas Muda School (Head : Jaka+ Ratna Tjahkrana]
Principal Architect : Realrich Sjarief
Project team : Bambang Priyono, Miftahuddin Nurdayat, Tatyana Kusumo, Hendrick Tanuwidjaja, Putut Trianggana, Alfian Kharisma Es
Management Construction : Fendy
Structural Engineer: Cipta Sukses
General Contractor : Budianto Azis
Advisor in charge. : Fendy Lie
Konsep desain kompleks vokasi UI ini didasarkan pertimbangan atas 3 aspek, pertama, desain bangunan yang sesuai dengan iklim tropis. Kedua, desain bangunan yang kontekstual dengan pencitraan ui, dan ketiga, desain bangunan yang mampu memanfaatkan potensi lahan semaksimal mungkin. Penataan masterplan didasarkan dari penempatan ‘learning promenade’ di axis utama lahan yang menghubungkan node potensial transit oriented development dari Universitas Indonesia di titik selatan dengan node potensial titik wisata air amphi teater yang ada di sisi utara. Di sepanjang learning promenade ini diletakkan fungsi – fungsi untuk mengaktifasi kehidupan kampus vokasi. Di sini ada mahasiswa yang membaca buku di perpustakaan linear sepanjang learning promenade, disini ada juga café untuk para mahasiswa dan dosen berinteraksi, potensi landsekap yang mengikuti kontur juga bisa di optimalkan.Daerah kompleks vokasi ini juga akan rimbun akan pepohonan diantara massa yang menghadap utara dan selatan sehingga bayangan yang ada akan mereduksi panas dari sinar matahari di lantai dasar. Vista yang terbentuk ketika memasuki kompleks vokasi dari arah selatan terbentuk dari 3 elemen yaitu : vista menuju amphiteater air, vista transparansi massa gedung perpustakaan di sisi barat juga vista café menuju sungai dengan wisata air, dan vista di sebelah barat berupa alokasi lahan untuk taman obat untuk program kedokteran.
Ide perancangan dari kompleks Vokasi UI merupakan rangkaian dari 3 noda utama yaitu, – Kondisi eksisting yang berbatasan dengan sungai yang membelah dari utara ke selatan yang menjadi bagian interaksi dengan air, – Jalan disisi selatan yang merupakan titik pusat perhentian bus kampus dan – Jalan di sisi barat yang merupakan area servis GKU dan parkir belakang. Pembagian ini didasarkan dari pembagian fungsi-fungsi terbesar dengan anggota terbesar, seperti kedokteran dengan p’rodi baru, hokum, dan vokasi campuran. Hirarki ini juga didasarkan dari pengelompokkan dari ilmu manusia [kedokteran], ilmu etika [hukum], dan ilmu – ilmu umum dengan menghubungkan keseluruhan fungsi dengan gedung kuliah umum. Susunan pengelompokkan diatur berdasarkan besaran ruang yang diestimasikan dengan jumlah mahasiswa di tahun 2013 sejumlah 11700 orang.
Bangunan – bangunan penunjang seperti massa lobby utama diletakkan sepanjang boulevard yang diperuntukkan untuk galeri utama. Massa – massa dihubungkan dengan selasar yang dilengkapi dengan kanopi sedangkan di sisi selatan, diletakkan akomodasi hunian mahasiswa berlantai tingkat rendah dengan aksesibilitas menuju ke kampus vokasi UI. Daerah landsekap didesain sesuai eksisting dari kampus UI dengan orientasi aktifitas terhadap sungai dengan menghubungkan sisi timur sungai dengan lahan melalui rangkaian jembatan untuk akses pejalan kaki. Lahan parkir diletakkan di sisi barat kompleks Vokasi UI.
‘Bangunan – bangunan di kompleks Vokasi UI juga didesain dengan menggunakan arah orientasi bangunan Utara – Selatan yang sesuai dengan iklim tropis. Keadaan ini meminimalisasi cahaya matahari langsung yang masuk ke bangunan. Bangunan ini menggunakan konstruksi baja, penggunaan solar panel pada sisi atas bangunan, dan wind turbine di sisi dalam bangunan. Penggunaan batu bata juga mendinginkan suhu bangunan disamping meminimalisasi carbon foot print dengan penggunaan bahan yang re-usable.
600 x 600 skylight in the bedroom with the height of 3 m height of skylight to avoid direct sunlight to come to the bedroom more than 20 minutes a day.
Geometry interplayed by simple form, #rawarchitecture #raw it is a way to look to a framing sculpture or living events through its sights (an aperture or circles).
Progress steel frame window with hole formed by cutting o shape, try to exercise the theme strange detail : consistent from big circle to small circle, add up to strange details
The house is not finished at all in the process of living, but the process will be opened and shared, and ready for critics just for evaluating the process so next time, hopefully in the life of architect, next work should be better than before. The term 99 % is a process of almost finished which every work is always faced where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients is about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process.
130512 Jakarta, “Satu – satunya sumber energi yang tak terbatas adalah kasih”
…
Ada cerita mengenai orang – orang di surga dan di neraka. Orang – orang tersebut hanya bisa makan melalui sendok sepanjang 1 meter kurang lebih, orang- orang di surga nampak bahagia, fisiknya segar bugar, lain halnya dengan orang – orang di neraka, kurus, kering kerontang. Ternyata, orang – orang di surga makan dengan saling menyuapi orang lain, namun orang – orang yang di neraka, makan untuk dirinya sendiri, ia tidak pernah puas, ia tidak bisa makan, karena sendok tersebut terlalu panjang. Romo berkata, kita bisa melihat orang dari pribadi – pribadinya. fisiknya, apakah ia menjadi terang bagi orang lain atau sebaliknya, membawa kegelapan tanpa batas, kehampaan.
Menyuapi orang lain adalah sebuah sikap, dan cara pandang dalam hidup. Hal ini akan membantu kita dalam menapaki cita dan cinta. Diri ini ingat suatu waktu berpacaran pertama kali dengan istri tercinta, Laurensia. Keinginan pertama adalah, mendengarkan, mengerti pribadinya, kemudian memberikan pengalaman yang terbaik, diri ini menjemput malam hari, diri ini ingat saya hanya punya waktu 2 minggu, sebelum bertolak kembali ke Inggris pada waktu itu. Diri ini putuskan, biarlah ini jadi minggu terbaik yang diri ini berikan untuk Laurensia. Dalam rentang sesaat,di tengah – tengah minggu diri ini beranjak ke Singapore , untuk sekedar berkunjung ke teman – teman karena janji lama untuk bertegur sapa dengan mereka, dan kemudian diri ini merasakan rasa kangen yang luar biasa dengan wanita terbaikku, dan rasa sayang itu mulai ada. Setiap tarikan garis memiliki titik pertamanya, sebuah titik, sama seperti cinta, ia juga dimulai dari titik, titik yang dimulai dari sendok sepanjang 1 meter. Kemudian disinilah saya dengan wanita yang kucintai, Laurensia.
Teknik dalam mengolah ruang bisa dipelajari melalui belajar dan belajar untuk menempa diri, mengasah sensitifitas, seperti sendok sepanjang 1 meter yang kita berikan kepada orang lain, bagaimana kebolehan kita dipergunakan untuk membantu sesama. Puluhan ribu jam, dengan jam – jam yang panjang yang sudah dijalani sampai umur 31 ini. Laurensia sendiri akan berulang tahun di bulan ini. Kami berdua, tidak punya keinginan macam – macam, hanya ingin hidup yang sederhana dan cukup. Sendok sepanjang 1 meter, adalah satu sudut pandang untuk melihat dari sisi orang lain.
Bian Poen menulis, ” dalam waktu singkat… kita…dapat merubah nilai – nilai… dimana kekuasaan diubah menjadi keadilan, kejayaan diubah menjadi kedamaian, kebanggaan diubah menjadi kerendahan hati.
Maukah kita melakukan hal itu, jika ya, maka arsitektur dapat menjadi rahmat.(Bian Poen). Dalam satu sudut pandang, mendengarkan orang lain bukan memperjuangkan ego kita, mendengarkan kata hati bukan emosi hati, mendengarkan alam dengan segala keindahannya adalah satu rahmat yang luar biasa, kemudian kebahagiaan itu datang begitu saja. Inilah arsitektur yang lain, arsitektur kehidupan. Diri ini belajar untuk menjadi manusia dengan segala potensinya dan lebih – lebih keterbatasannya.
Diri ini merasa bahwa dalam hidup kita yang singkat ini, diri ini tidak pernah berpikir macam – macam, hanya menggunakan apa yang terbaik yang diri ini bisa, segala talenta, segala kekayaan, segala hubungan baik untuk menyebarkan kasih. Dan diri ini punya mimpi untuk itu.
Mulai dari hari ini mulailah dengan mengucapkan kata – kata aku cinta padamu, apabila di dalam hati tidak ada kasih, maka tidaklah mungkin ia akan berbuat baik dan menyebarkan kasih apapun sukunya, apapun bangsanya, tidak peduli ia sobat atau saudaramu. semua orang sama.
130301 Jakarta “How well you live comes down to how much you love. The heart is wiser than the head. Trust it. Follow it
Satu teman berkata,”In order to succeed you have to kill your father.”
Kemudian sambungnya lagi “termasuk juga hal itu terjadi anak saya, ia selalu membantah saya, kita tidak cocok, selalu tidak sejalan dengan saya, anak saya adalah seorang pengacara”, ia sampai berkata, “ayo tanya apa yang saya tidak tahu.” anak itu kasar dan kami selalu berargumentasi untuk saling mengalahkan, untuk menentukan siapa yang benar – siapa yang nomor satu. Ini masalah antar ayah-anak.
Betapa kompetitifnya hidup orang ini ? Kompetisi memang mewarnai hidup kita, namun apakah harus sekeras itu ? atau apakah itu jalan yang terbaik menjalaninya ? Mungkin bagaimana generativitas atau cara pandang yang positif perlu direnungi, Post dan Neimark menulis “Beri ia ikan dan ia akan makan hari ini; ajari orang itu menangkap ikan dan dia akan makan seumur hidup.” Saat kita merawat orang lain agar hidup mereka berkembang dalam berbagai cara yang misterius dan tidak terduga, kita menyampaikan cinta kasih. Cinta kasih mungkin salah satu hal yang dilupakan di atas, seharusnya pandangan – pandangan di atas tersebut tidak perlu terjadi.
Hari itu sore – sore, satu teman menelpon menelepon, “Pak, kok project kita sudah ada di internet ya, berbeda dengan yang kita obrolkan, padahal kita belum publish project ini, mohon ini dilihat ya.” kemudian Diri ini mengkontak beberapa orang yang merupakan alumni dan relasi – relasi kantor untuk melihat hal ini, dan meminta mereka untuk membantu menyelesaikan hal ini. Ternyata Ada satu orang menyebarkan informasi tersebut dalam website pribadinya, tanpa ijin. Diri ini terus terang terhenyak dengan hal ini dan tersadar bahwa internet adalah sebuah medan informasi yang tanpa batas, dimana juga terdapat nilai – nilai apa yang bisa dilakukan apa yang tidak bisa dilakukan.
Saya berpikir dengan seluruh kecepatan informasi yang ada, kita perlu berhati – hati dalam menghargai sesama, etika perlu dibangun di masa yang serba cepat ini. Social media, Facebook, Twitter, WordPress, dsb. Dengan segala kecepatan informasi yang ditawarkan sebenarnya merupakan satu ruang bersama, sebuah rumah – rumah yang adakalanya ia diijinkan untuk masuk dan adakalanya juga ia tidak diijinkan untuk masuk. Disini ruang publik diibaratkan seperti sebuah persimpangan jalan yang dilalui orang – orang dengan billboard besar di samping – sampingnya. Informasi yang ditawarkan tentu banyak orang yang membaca di bill board tersebut. Masalahnya adalah sering orang tidak menyadari ini. Bahwa social media adalah ruang publik yang juga memiliki etika penyampaian informasi. Dalam ruang publik ini pun kita memiliki tanggung jawab.
“Facebook’s News Feed an Epic Fail ? Former employee Katherine Losse : The day we launched News Feed felt, without exaggeration, like a minor Vietnam… Email after email of the thousands we received that day told graphically of the betrayal and evisceration the users felt…Technology is the perfect alibi. Facebook doesn’t hurt people : people hurt people . This is true. But as Facebook makes it possible to do things faster, more efficiently, more cheaply, it makes it possible to hurt people faster, more efficiently, with less cost to themselves. It removes any sense of direct responsibility for our behavior, for how what we do makes others feel. With Facebook, you can act and be seen acting without ever having to look anyone who is watching you in the eye, or look at them at all. The boys Kings, 2012 [taken from Billionaire Boy, Mark Zuckerberg in his own words, ‘Hacker. Dropout. CEO’]
Melihat satu kejadian ini kebelakang, berpikir mengenai hubungan antar-manusia bahwa seseorang yang berkerja secara penuh waktu di dalam satu ikatan kerja, adalah pribadi yang belajar dan berkerja dengan permintaan, ia berkerja dalam satu tim besar dan kecil yang terikat dengan norma – norma yang terdapat didalamnya. Ia juga terikat dengan nilai untuk menjaga nama baik, kelanggengan hubungan dengan etika terbaik untuk membina hubungan yang selama – lamanya. Adapun terkait dengan hal – hal norma – norma, perlu meminta ijin untuk menampilkan dalam ruang publik. Diri ini pun bersikap demikin dengan seluruh orang tempat diri ini mengikat hubungan perkerjaan dengan atasan juga dengan bawahan, orang – orang yang memberikan kepercayaan dan dengan rekan sejawat.
“Etika adalah seni memperhatikan hak – hak dan perasaan orang lain,… pengorbanan yang kita lakukan demi hidup bersama, demi perjalanan kita bersama orang lain, dan dari cinta dan respek akan konsep bahwa memang ada orang lain. “Stephen Post, dan Jill Neimark.
Pikiran ini melayang mengenai hubungan manusia dengan manusia, Dulu harus mempersiapkan presentasi untuk acara lomba desain sekitar 9 tahun yang lalu, sesaat sebelum wisuda. Ingat bagaimana belajar memakai dasi, memakai lengan panjang, meminjam sabuk kepunyaan bapak. Ingat bagaimana juri berkata, “Melihat penampilan kamu, saya jadi pingin muntah, seperti professor, .” Generalisasi pun terjadi, Diri ini hanya terdiam, tersenyum, dan kemudian mencoba mempresentasikan karya sebaik mungkin. Diri ini ingat bagaimana bertemu kembali dengan juri tersebut, kemudian berbincang – bincang, setelah kita mengenal lebih dalam, rasa suka bertambah, dan rasa tidak suka pun berkurang. Diri ini pun merasa dekat dengan juri tersebut. Tidak ada ketidakcocokan apabila kita bisa berkomunikasi dengan baik. Merasa dekat, berbicara dengan tulus, dan berkomunikasi selayaknya keluarga.
Diri ini juga teringat akan satu film yang disukai, “Forest Gump”. Forest Gump adalah seorang pekerja keras namun memiliki etika yang tinggi dalam kehidupannya, sikapnya terhadap keluarga dan teman – teman yang dicintainya. Ia berkerja keras untuk itu dan akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan, cinta, keyakinan, kemudian menjaganya sepenuh hati. Diri ini pun merenungi arti dalam menjalani hidup ini.
satu teman terbaik bercerita mengenai keadaan di kantornya, salah satu kantor terbaik. Bagaimana wakilnya di kantor cabang mengerjakan pekerjaan – pekerjaan pribadi mereka menggunakan fasilitas kantor tanpa sepengetahuannya, kemudian memiliki proyek bayangan, proyek ilegal, kemudian terciptalah sistem kantor di dalam kantor tanpa sepengetahuan dengan staff – staff kantor berkerja untuk wakil kantor tersebut. Diri ini berpikir bagaimana itu bisa terjadi ? Kabar ini tercium ke relasi – relasi terdekatnya, teman – teman seprofesi, dan sahabat yang terkadang merangkap sebagai klien, sementara kita membantu mengingatkan sahabatku supaya hal – hal baik yang terjadi dalam ketidakpedulian pihak – pihak lain pada etika. Hal ini dinamakan Moonlighting, hal yang sudah biasa dilakukan oleh beberapa arsitek untuk menyambung hidup mereka. Sebenarnya asalkan perjanjiannya jelas, tidak ada masalah.
Di satu saat satu teman terbaik berkata bahwa dalam hidup ini untuk kaya ada 3 hal. Menjadi Kaya, kaya yang pertama, adalah kaya akan relasi,tidak boleh sombong. kaya yang kedua adalah kaya akan ilmupengetahuan, tidak boleh berhenti belajar, yang ketiga kaya akan iman, terus berdoa dan bersyukur akan nikmat karunia yang diberikan. Intensi dari membangun etika adalah membangun ketiga kekayaan ini. Kaya relasi, kaya pengetahuan, dan kaya akan niat baik. Seketika diri ini ingat,
Pelajaran mengenai etika tidak disangka – sangka muncul ketika berkunjung ke Shirakawa Go, satu perkampungan tradisional Jepang untuk menginap disana untuk satu malam. Diri ini ingat waktu itu salju turun, dan koper ini pun sudah tidak bisa ditarik lagi, rodanya membeku. Kita berjalan setengah kilometer untuk ke Ryokan, satu penginapan tradisional. Saat itu suhu udara sudah minus dibawah o derajat celcius. Diri ini ingat bagaimana kekhawatiran akan istri, kondisinya yang sedang mengandung. Satu hal yang membuat diri ini merasa bersalah membuatnya berjalan capai.
Kami sudah ditunggu pemilik rumah, dipersilahkan masuk, diberikan handuk, kemudian dipertunjukkan letak kamar tidur kami. Rumah itu berisi tiga kamar tidur, kebetulan 2 kamar tidur lainnya diisi oleh 2 keluarga Jepang. Diri ini ingat gendang di perut sudah mulai ditabuh, sembari kami menghangatkan badan, kami menunggu makan malam. Saat – saat yang ditunggu – tunggu adalah makan malam, perut kami yang sudah lapar. Kami disuguhi hidangan Kaiseki, hidangan satu set menu khas Jepang. Ada satu orang di keluarga Jepang di sebelah meja kami membantu kami, karena kami tidak mengerti bagaimana cara makan hidangan ini, sang anak membantu menghidangkan teh kepada Laurensia, dan diri ini, Kemudian sang anak menghidangkan teh tersebut ke ayahnya sendiri, dan ia meletakkan poci tersebut. Kemudian Giliran ayahnya, menuangkan teh untuk anaknya. Kejadian itu berlangsung berulang – ulang pada keluarga yang lain, mereka saling menuangkan teh untuk yang lain begitu gelasnya kosong, namun tidak untuk mereka sendiri.
Diri ini bertanya – tanya kenapa sang anak tidak mengambil untuk dirinya sendiri ? … begitu diajarkan mengenai tata cara makan malam, dalam budaya Jepang. Ternyata cara kita makan, menghindari untuk mengambil minuman kita sendiri adalah filosofi bagaimana kita bisa mementingkan kepentingan orang lain, selain diri kita sendiri, hidangkan untuk orang lain lalu letakkan, biarkan orang lain yang menghidangkan untuk kita. Cara makan ini mengajarkan kita mengenai filosofi “respecting others” menghargai orang lain.
“The Japanese consider it an important part of hospitality to keep their guest’ glasses full, bu it is thought to be impolite to fill your own. Instead, you must wait for others to notice that your glass is empty so they can fill it for you.” Ayame
Diri ini juga berpikir mengenai tradisi timur, tradisi orang Indonesia, Jawa, yang memulai kebiasaan dengan memanggil nama “ayah makan, ibu makan, kakak makan.” bahwa mungkin etika adalah satu aspek yang sangat penting dalam kita bersikap, mewarnai hidup kita dengan sesama.
Satu kalimat dari Julian dalam suratnya kepada Jonathan dalam buku yang ditulis Robin sharma, The monk who sold his ferrari, dalam satu perenungan panjang dalam perhentian 3 bulan ini untuk mengajarkan diri ini untuk lebih bertanggung jawab, lebih beretika,
Live with kindness… how we treat someone defines how we treat everyone, including ourselves. If we disrespect another , we disrespect ourselves. If we are mistrusful of others, we are distrustful of ourselves… with every person we engage in everything we do, we must be kinder than expected, more generous than anticipated, more positive than we thought possible. Every moment in front of another human being is an opportunity to express our highest values and to influence some one with our humanity. We can make the world better, one person at a time. :)
Puji Tuhan semoga kita semua mendapatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi. Terima kasih Tuhan :) Semoga hidup akan semakin baik untuk kita jalani.
130312 , “Go as far as you can see. When you get there you’ll be able to see farther.”- Thomas Carlyle
Bali, Kerobokan. Hari ini terik, Mataku perih, sudah beberapa hari ini, diri ini tidur larut malam. Setiap minggu juga diri ini berpergian untuk melihat pekerjaan yang ada di Jakarta ataupun di Luar pulau Jawa. Diri ini baru saja pulang dari Bali untuk mengecek satu pekerjaan di daerah Bali utara, di daerah Kerobokan bersama Edhie. Laurensia ikut menemani dalam perjalanan yang cukup panjang 3 jam dari kota Denpasar.
Hari ini hari sabtu. diri ini Mataku ingin terpejam, untuk beristirahat lebih lama, diri ini ingat ada pekerjaan yang harus dikirim hari ini diriku bergumam dalam hati, setelah itu aku bisa tidur dengan nyenyak. Seluruh kerja keras di minggu – minggu kemarin dipusatkan pada minggu ini. Aku kemudian berpikir, ya mungkin kerja keras ini bisa berbuah dengan baik. Diri ini terbayang pantai yang indah di belakang halaman kami, dan apabila beruntung kami bisa ke daerah Ubud dengan jajaran galeri – galeri seninya yang menanti untuk dijelajahi.
“…Bali is one of the few cultures with origins in one of the great ancient cultures which is still alive.” Arthur Erickson
Diri ini ingat Bali dengan segala kepercayaan yang dianutnya, filosofi hidupnya, dan simbolisme yang ditunjukan dalam keseharian orang – orang di dalamnya. Setiap pagi orang Bali yang beragama Hindu, memulai harinya dengan berdoa, meletakkan persembahan kepada semesta, untuk menghargai alam semesta ini, sewaktu siang berdoa kembali, dan menutup hari juga dengan berdoa. Diri ini berpikir diri ini belajar banyak sekali dari tradisi ini setiap harinya. Sama seperti simbol patung kura – kura yang diri ini bawa dari Bali yang berarti menghargai orang yang lebih tua sebagai filosofi dari menjalani hidup ini sepenuhnya.
Diri ini berpikir mengenai apa saja yang sudah terjadi belakangan ini, banyak tawaran muncul untuk mengembangkan diri sebaik – baiknya, sebesar – besarnya. Namun diri ini merenung dan berkaca, sebesar apa sebaiknya kita tumbuh. Dan seberapa cepat kita tumbuh. Diri ini pikir ini membutuhkan proses, tidak instan, namun orang tidak pernah tahu seberapa cepatnya kita perlu tumbuh, pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana ?
“Jadilah pohon yang rindang”, kata om William, yang buahnya lezat bisa dinikmati siapapun. “untuk ke bintang kamu harus mengalami kerja keras yang luar biasa dan juga menjadi pohon yang memiliki tajuk yang lebar.”
Diri ini kemudian merenungi bahwa perbuatan kita sehari – hari adalah memberikan buah untuk orang lain. Buah untuk istri, untuk keluarga, buah untuk teman – teman terbaik yang sudah atau belum kita kenal sekalipun. Diri ini ingat bahkan di usianya yang sudah senja. 90 tahun, Tante Lily, istri almarhum om William masih menyempatkan diri untuk datang di pernikahan kami, katanya opa Laurensia adalah teman sepermainan beliau. Diri ini belajar dari cara beliau menghargai sesama, baginya hubungan itu penting sekali, hubungan yang tulus, dengan niat yang tulus. Bukan hubungan atas dasar untung rugi belaka. Diri ini mendapatkan satu mentor terbaik untuk menjalani hidup. Bagaimana menjalani hidup yang tumbuh perlahan – lahan.
“Only one who devotes himself to a cause with his whole strength and soul can be a true master. For this reason mastery demands all of a person.” Albert Einstein
Diri ini berkata pada satu teman terbaikku, Pak seorang arsitek akan mumpuni di umur 50 tahun mungkin, dengan segala pengetahuan yang dia miliki. “Apa artinya waktu, ingat Rich, selalu berikan yang terbaik.” Diri ini kemudian teringat pada ikat kepala yang diri ini selalu terikat di tas yang biasa kubawa – bawa setiap hari, dulu diri ini memanggul pagoda pertanda musim panen bersama teman – teman di Jepang, ikat kepala itu sebagai penanda semangat yang tiada pernah padam. Kami memanggul pagoda itu bersama – sama, ada 20 orang sampai 30 orang. Diri ini tertawa mengingat peristiwa itu. Mungkin Tuhan punya rencananya sendiri untuk kita semua.
Pelajaran terbaik pun datang tidak disangka – sangka justru dari teman terbaikku, Edhie. Saya punya hadiah untuk kamu, ia berujar, ia mengeluarkan satu buah batu, dengan cat warna – warni, batu itu memiliki mata, hidung, mulut, dan baju.
Ini hasil dari lukisan anak – anak cacat, ayah dari Danny yang memiliki yayasan anak – anak ini. Ibaratnya apabila dibiarkan batu itu seperti semula, ia tidak berarti. Apabila ia di cat, dihias, memiliki makna ia akan berarti, sama seperti batu ini. Diri ini berpikir kita dalam hidup ini, menjalani, hidup yang terbaik, berikan yang terbaik, pada akhirnya semua yang kita lakukan ini bukanlah untuk diri kita, namun untuk sesama. Hal ini akan menjadi mulia, apa adanya. Batu ini diri ini namakan Bernie, penanda bagaimana kita bisa berbagi kepada sesama dengan sebaik – baiknya.
Lucunya hari demi hari, diri ini selalu membawa batu ini kemana – mana, seperti kemarin diri ini dihentikan di airport, karena membawa sebuah batu, “Pak disini dilarang membawa batu.” Diri ini pun tersenyum, ia pun keheranan melihat Bernie, Kemudian setelah dijelaskan apa arti batu ini kemudian petugas bandara pun mengerti. “lain kali batunya dimasukkan koper ya pak.” petugas itu pun tersenyum. Memang kasih yang tulus, membuat dunia ini jauh lebih berarti, melalui hal yang sangat sederhana.
Diri ini pun menutup tulisan ini dengan puji syukur akan pelajaran yang terbaik di perempatan tahun 2013 ini. Semoga banyak hal semakin baik terjadi, yang terjadi, terjadilah.
“Love is the essence of life; love touches all of our relationship even with stranger. Love never leaves us. It clings to people who believe, and to those who don’t”
130120 “Trust in dreams, for in them is hidden the gate to eternity, Khalil Gibran ”
Bandung, Diri ini merenung sejenak. Tahun ini, tahun yang penuh kebahagiaan, sekaligus menyimpan cerita kesedihannya. Malam itu serasa sendu,sunyi, sepi. Wanita terbaikku sudah tidur di sampingku, dan pikiran ini terbang melayang untuk memaknai apa yang sudah ada sekarang di tahun 2012 ini …
Ada rasa ketidakpastian dalam karir selama 1 tahun terakhir ini, ketidak pastian dalam masa depan, dengan sejuta alasannya. Masih belia, masih muda, ketidak pastian antar-rentang usia. Rantai ketika sedang berputar dalam ketidakpastiannya. Hal – hal yang penuh ketidakpastian terus terjadi, bagaimana sulitnya mengatur kantor yang terkadang masih balita perlu perhatian untuk mencapai kualitas terbaik, bagaimana belajar untuk menerima hasil kerja keras yang sudah dilakukan, hilang begitu saja, dan juga bagaimana meniti, membuat mimpi kita menjadi kenyataan, tidak semudah yang dikira. Diri ini berpikir inilah harga yang harus dibayar untuk sebuah proses menjadi. Untuk menjadi yang terbaik, kita hanya perlu melakukan yang lebih baik, satu persatu. Kata teman terbaikku, semua kerja keras dimulai dari titik, ia ada untuk menjadi garis, sehingga mimpi itu bisa menjadi nyata.
Kesedihan yang amat dalam terjadi ketika kami kehilangan Cherry dalam kehidupan kami, dalam usianya yang masih muda 7 bulan. Laurensia dan diri ini kehilangan Cherry tanpa sebab yang pasti, derai tangis pun terjadi, linangan air mata, rasa sayang yang sudah ada. Semua yang indah dalam hidup bisa hilang dengan begitu saja, kehilangan memang satu proses yang tidak menyenangkan. Diri ini lihat bahwa semua ini memang sudah pada jalan yang terbaik, pelajaran untuk menghargai nafas yang diberikan, dan pelajaran mengenai kehidupan yang luar biasa indahnya dalam kebahagiaan dan kesedihan yang ada. Mungkin ini memang pelajaran yang harus dijalani ole kami berdua.Mengenai hidup bersama, diri ini sudah menikah dengan Laurensia selama 1 tahun, sejak September yang lalu. Dan kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama dengan makan malam sederhana. Kami sendiri bisa makan segala sesuatunya, tidak rewel, dan kehidupan rumah tangga dilakukan dengan biasa – biasa saja. Kesibukkan Laurensia masih sama, masih berpraktek dari sore sampai jam 21.00 , baru pulang jam 21.30, baru kami makan malam. Terkadang ia pergi pagi apabila ada pasien di klinik di dekat rumah kami. Kebersamaan kami didapatkan pada saat – saat malam hari, saat – saat yang teduh. Pada hari sabtu dan minggu terkadang ia menemani ke proyek, apabila pekerjaan meminta waktu kami. Ia pun tidak pernah berkeluh resah, hanya meminta waktu yang lebih, waktu untuk kami bersama, saat – saat terindah dalam hidup. Ucapannya yang selalu mengingatkan ketika sudah saatnya beristirahat, ajakannya untuk makan bersama di saat – saat diri ini lupa waktu dengan segala kesibukan yang ada, adalah penyejuk dalam satu tahun terakhir ini. Terkadang ia bertanya mengenai konstruksi pondasi dangkal ataupun dalam, atau kekakuan balok kantilever sebagai pelindung dari matahari ataupun penahan fungsi balkon diatasnya. Mungkin ada yang sama dengan teori dokter gigi yang dipelajarinya. Terkadang diri ini tersenyum melihat sifat ingin tahunya, juga keingintahuan dirinya terhadap rumah impian kami berdua, kemauannya untuk mengecat pink kamarnya, Wanita ini istri terbaik didunia dan saya pria beruntung bisa bersamanya. Ada berita gembira, ada kado natal terbaik di tahun ini, setelah kehilangan anak kami, Laurensia hamil lagi, saat ini usia bayi kami baru 1 bulan. Saya menjanjikan waktu yang terbaik untuk keluarga kami mulai saat – saat ini. Dalam 1 minggu terakhir ini, diri ini bangun lebih pagi dari biasanya, jam 5 pagi, terkadang diri ini bangun jam 4 pagi, untuk meluangkan waktu untuk berdoa, menulis, dan menyelesaikan pekerjaan yang baiknya diselesaikan. Jam 7.30 pagi, Laurensia sudah mengetuk pintu untuk kita menghabiskan waktu bersama, mengingatkan untuk makan, bersantai, ataukah sekedar jalan – jalan keliling daerah sekitar. Kami menemukan bubur kesukaan kami di pinggir jalan di satu trotoar. Dari saat – saat ini mata seakan – akan dibukakan, udara segar yang kita hirup, matahari pagi yang kita rasakan, badan yang kita punyai, momen – momen yang berharga dengan orang – orang yang kita sayangi. Kita belajar untuk menghargai dan mencintai hidup sebaik – baiknya.
Diri ini ingat jari jemari ini memainkan piano yang dimiliki satu teman rumahku di Elia Mews, daerah Angel di London. Pada waktu itu sore – sore, udara sejuk, tenang, diri ini duduk, dan di sebelahku Laurensia, menyanyikan satu bait lagu :
Disetiap langkahku
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu …
Kau adalah darahku Kau adalah jantungku Kau adalah hidupku Lengkapi diriku
…
Dedaunan mulai rontok satu demi satu menyisakan dahan yang memang begitu saja ia tegak berdiri, angin dingin menerpa. Setiap musimnya daerah – daerah di kota ini ada begitu cantiknya, setiap musim berganti, berganti pula tekstur kehidupannya. Tangan ini memang tidaklah pernah sempurna memainkan lagu ini, saya pun tertawa dalam kesunyian yang ada, diri ini seperti menemukan satu pasangan sehati sejiwa dalam mengarungi lagu ini. Dan 4 tahun kemudian disinilah aku. Diriku sungguh bersyukur di tahun 2012 ini dengan kebahagiaan dan kesedihannya. Semoga dirimu juga bisa merasakan yang sama, sama seperti diriku yang mulai merasakan cinta yang sesungguhnya.
“One day with life and heart is more than time enough to find a world.” James Lowell
121114 Belitung “If you can look into the seeds of time, and say which grain will grow and which will not, speak then unto me.” William Shakespeare
Belitung, Diri ini melihat hamparan pasir putih yang menghampar indah sekali, dengan batu – batu alam yang menjulang dengan ketinggian luar biasa , sekitar 12meter, memang Belitung terkenal sebagai pantai dengan air yang jernih, dasar air yang begitu jernih bisa terlihat jelas, dan landsekap yang begitu indah dengan bebatuan granit yang tersebar di pantai – pantainya. Diri ini kemudian melihat hutan yang ada, sungai yang berkelok – kelok kecil membelah hutan yang kemudian berakhir di muara kecil. Bebatuan yang ditengah hutan pun memiliki karakternya yang sedikit hitam, dengan teksturnya yang dingin lembab karena rimbunnya pepohonan.diri ini kemudian melangkahkan kaki di titik puncak bebatuan, mencoba mengukur, 11 meter kali 30 meter, cukup lebar, untuk lokasi terbaik adanya tempat menjalin cinta, sebuah kapel untuk menikah. Melihat kebawah, diri ini bisa menikmati karunia Tuhan yang sangat indah, sebuah jalinan yang sangat indah. segala bentuk yang diciptakan alam itu indah rupanya, dari jalinan batu alam, bentuknya yang wajar dan tidak dibuat – buat, bintang laut, rumput laut, pasir yang putih, dan tumpukan kayu yang hadir begitu saja. Suasana ini begitu sunyi. Diri ini seakan terbius dalam alam yang mengajak berjabat tangan begitu eratnya.
Belitung, Diri ini melihat hamparan pasir putih yang menghampar indah sekali, dengan batu – batu alam yang menjulang dengan ketinggian luar biasa , sekitar 12meter, memang Belitung terkenal sebagai pantai dengan air yang jernih, dasar air yang begitu jernih bisa terlihat jelas, dan landsekap yang begitu indah dengan bebatuan granit yang tersebar di pantai – pantainya. Diri ini kemudian melihat hutan yang ada, sungai yang berkelok – kelok kecil membelah hutan yang kemudian berakhir di muara kecil. Bebatuan yang ditengah hutan pun memiliki karakternya yang sedikit hitam, dengan teksturnya yang dingin lembab karena rimbunnya pepohonan.diri ini kemudian melangkahkan kaki di titik puncak bebatuan, mencoba mengukur, 11 meter kali 30 meter, cukup lebar, untuk lokasi terbaik adanya tempat menjalin cinta, sebuah kapel untuk menikah. Melihat kebawah, diri ini bisa menikmati karunia Tuhan yang sangat indah, sebuah jalinan yang sangat indah. segala bentuk yang diciptakan alam itu indah rupanya, dari jalinan batu alam, bentuknya yang wajar dan tidak dibuat – buat, bintang laut, rumput laut, pasir yang putih, dan tumpukan kayu yang hadir begitu saja. Suasana ini begitu sunyi. Diri ini seakan terbius dalam alam yang mengajak berjabat tangan begitu eratnya.
Diri ini teringat pada waktu itu, diri ini diajak untuk ke satu daerah di pulau Bali, daerah yang sunyi senyap. Saya ingat kita berlima pergi ke daerah yang terpencil di Ubud, satu daerah yang memiliki satu bukit, lembah, dengan air terjun, juga mata air yang menjadi pusat kegiatan agama sekitarnya. Diri ini ingat suasana teduh, pepagian dengan suasana orang berdoa, kehidupan di Bali memang menyejukkan dengan auranya yang berbeda. Saya ingat dulu kita ber 5, saya sendiri adalah arsitek yang menemani paman – paman saya, untuk melihat – lihat sekitar, memberikan pandangan. Mereka pria dengan umur 60 – 70 an tahun. Mereka menyebut kelompok mereka satu konsorsium. Berteman bersama, berbisnis bersama, tertawa bersama. Pikiran ini melayang ke satu saat dahulu sewaktu masih kuliah di Sydney. Pada waktu itu diri ini ingat seringnya pergi untuk ke satu teman terbaikku. Diri ini ingat bahwa diri ini punya sepeda, satu sepeda yang sederhana buatan china yang kubeli di toko sepeda di pojokkan perempatan. Untungnya saat itu sedang sale, jadi sepeda itu bisa dibeli cukup murah hanya 75 dollar. Ongkos naik bis satu kali jalan adalah 2 dollar, dengan waktu menunggu yang cukup lama.
Pikiran ini melayang ke satu saat dahulu sewaktu masih kuliah di Sydney. Pada waktu itu diri ini ingat seringnya pergi untuk ke satu teman terbaikku. Diri ini ingat bahwa diri ini punya sepeda, satu sepeda yang sederhana buatan china yang kubeli di toko sepeda di pojokkan perempatan. Untungnya saat itu sedang sale, jadi sepeda itu bisa dibeli cukup murah hanya 75 dollar. Ongkos naik bis satu kali jalan adalah 2 dollar, dengan waktu menunggu yang cukup lama.
Karena sepeda itu, diri ini bisa berkunjung terkadang 3 hari sekali ke tempat teman terbaikku untuk sekedar mengobrol, atau bermain Wii, untuk mengunjunginya, diri ini mengayuh sepeda terkadang melewati perumahan yang senyap di daerah kensington, melewati gereja gothic. Kita mengobrol sesaat terkadang, pada saat itu kita tidak mempunyai pekerjaan yang baik, temanku ini adalah adalah seorang tukang pos, sedangkan diri ini juga sama, tidak mempunyai pekerjaan yang layak, asisten dosen dengan bayaran kecil, atau asisten arsitek dengan pekerjaan jarak jauh, antar negara, dengan jam kerja yang panjang. Kami berdua memimpikan pekerjaan yang baik bagi hidup kami. Seperti biasa diri ini bercerita mengenai mimpi – mimpi yang sungguh tidak terbayangkan, dan dia memberikan masukan – masukkan mengenai bagaimana menata mimpi itu dan bersikap dalam perusahaan.
Terkadang diri ini bercerita mengenai kesibukkan di kuliah dan kita akhirnya akan tertawa – tawa sambil makan malam, ia yang memasak, teman terbaikku ini pintarnya luar biasa dalam memasak. Saya rasa kita juga sedang membentuk kelompok kecil juga. Ada juga teman dari Bangladesh, seseoran yang menemani bermimpi, ia dengan mimpinya di Dhaka dan diri ini dengan mimpinya di Indonesia, dengan tempat kami biasa minum kopi di satu pojok kafe kecil di satu hook di Kensington. Ada lagi teman – teman dari China, teman untuk mengerjakan tugas bersama – sama. Terkadang diri ini juga ikut berbahasa China, yang asal saja keluar dari mulut, apapun itu, yang penting nyambung, dalam benakku. Atau pertemanan yang terjadi begitu saja dengan professor terbaik disini, mengajarkan, membuka cakrawala berpikir. Sydney dengan segala keunikannya, begitu banyaknya orang yang baru disana dengan segala pengharapannya untuk hidup lebih baik.
Diri ini terhenyak, di saat itu, di satu rapat, setelah presentasi satu pembesar dari Jepang berkata, “selamat bergabung di konsorsium kami, ” setelah itu kami pun pergi makan bersama, tertawa bersama, bermimpi bersama, bersama – sama untuk berharap penghidupan yang lebih baik.
Diri ini belajar dari Alan M Weber, bahwa ada 4 hal yang diperlukan untuk menjalani karir yang baik, 4 C : change, connection, conversation and ccommunity. semua pengalaman ini untuk membentuk satu dukungan, jalinan pertemanan. “Manusia itu makhluk ciptaan Tuhan yang hampir sempurna, ia tidak terbatas.” Satu teman terbaikku bergumam, “yang sempurna adalah Tuhan itu sendiri.” oleh karena itu pembatas kita hanyalah rasa takut kita. Diri ini berpikir itu benar apa adanya. Ketakutan – ketakutan selalu menghantui kita setiap saat, ketakutan akan kehilangan kasih sayang, kehilangan kepercayaan, kehilangan identitas. Diri ini berpikir mengenai kala – kala sulit, dimana darimana harus dicari biaya untuk menghidupi kantor desain yang baru berdiri. Setiap bulan, setiap minggu, menghitung, apakah masih bisa, keragu – raguan menerpa dimana kepercayaan pun harus terus menerus dibuktikan. Keragu- raguan itu memang selalu muncul mewarnai hidup kita.
Dimanakah ujungnya ?
Kesunyian ini terpecah pada satu saat, “Saya dulu jualan bubur di Monas.” celoteh satu orang ydi depanku . “saya juga pernah jualan durian di depan RCTI, saya ke Lampung waktu itu bawa mobil pick up, kemudian pulangnya saya angkut durian untuk dijual, perjalanan hidup saya panjang, namun saya tidak pernah takut, Tuhan menciptakan kita hampir sempurna, menurut citranya. Dan dulu juga pernah jualan kayu industri, tapi yang lucu jualan bubur di monas, paling gampang, tinggal nasi dikasih air, sama beli ayam dan bumbu – bumbunya, untung dulu belum punya istri ” Ia pun tertawa lepas, saya pun ikut tertawa, dari kerutan wajahnya, diri ini tahu bahwa pengalamannya banyak makan asam garam kehidupan. Sekarang ia adalah satu orang yang ternama menjadi CEO untuk berbagai jenis industri plastik, karet, perkebunan, industri alumunium. Dan ia tangkas untuk membuat mesin sendiri, dengan sistem yang dirancangnya belajar dari negara Jerman dengan industrinya. Asam Garam yang didapatkan, kami pun tertawa lepas keringat yang dikurasnya, dan resiko – resiko yang dilakukannya membuatnya seperti sekarang ini. Menurut saya, benar adanya, semua orang berusaha dengan keringatnya sendiri, dalam keragu-raguannya sendiri, dalam keterbatasannya ia mencoba untuk hampir sempurna dalam usaha – usahanya. “Saya punya mimpi Pak Realrich, tolong dibantu wujudkan ya” ia pun menyambung. diri ini pun tersenyum, Diri ini bertanggung jawab untuk tidak mengecawakannya. Diri ini berpikir pada satu waktu, adik terbaikku, mengeluh dengan kontribusinya yang tidak banyak, belum maksimal ia berkata. Diri ini tersenyum mengingat ini, bahwa sesungguhnya bukan seberapa besar dirimu mencetak skor untuk tim atau untuk dirimu sendiri,namun bagaimana seluruh waktu, obrolan singkat, perhatian, curahan hati akan berarti begitu besar, seperti dukungannya ke kinerja tim.
“your contribution would be measured not in how many points you scored but in all the ways you contributed to the team winning. ”
Aku belajar untuk ada untuk sesama, dari orang – orang sekitar kita, kita mendapatkan satu kekuatan yang tidak terlihat. Ini magis, aura, keyakinan, kekuatan yang mewarnai kehidupan kita sehari – hari, yang saling menjaga kita dalam jalinan yang luar biasa indahnya. Ini yang saya pikir adanya satu inersia, satu orang bertemu orang lain, bertemu orang lain lagi, dan bertemu orang lain lagi. Tumbuh bersama – sama. Dalam berkerja pun demikian, diri ini juga punya mimpi, orang lain juga punya mimpi, kita mencari orang – orang yang tumbuh bersama – sama, tidak instan. Dalam berteman pun seperti itu, kita mencari orang – orang yang juga tumbuh bersama – sama, memaklumi kesalahan, tertawa dalam ketidak sempurnaan, dan saling bertumbuh dalam dukungan. Begitu pun berkeluarga, kita mencari orang yang tumbuh bersama – sama. seperti Laurensia, Diri ini yang menantikan buah hati kami untuk tumbuh bersama – sama kami.
Semoga cepat diberi, didoakan ya :-)
Aku belajar untuk ada untuk sesama, dari orang – orang sekitar kita, kita mendapatkan satu kekuatan yang tidak terlihat. Ini magis, aura, keyakinan, kekuatan yang mewarnai kehidupan kita sehari – hari, yang saling menjaga kita dalam jalinan yang luar biasa indahnya. Ini yang saya pikir adanya satu inersia, satu orang bertemu orang lain, bertemu orang lain lagi, dan bertemu orang lain lagi. Tumbuh bersama – sama. Dalam berkerja pun demikian, diri ini juga punya mimpi, orang lain juga punya mimpi, kita mencari orang – orang yang tumbuh bersama – sama, tidak instan. Dalam berteman pun seperti itu, kita mencari orang – orang yang juga tumbuh bersama – sama, memaklumi kesalahan, tertawa dalam ketidak sempurnaan, dan saling bertumbuh dalam dukungan. Begitu pun berkeluarga, kita mencari orang yang tumbuh bersama – sama. seperti Laurensia, Diri ini yang menantikan buah hati kami untuk tumbuh bersama – sama kami. Semoga cepat diberi, didoakan ya :-)
Bangkok 11 November 2012, “It matters not what someone is born, but what they grow to be.” J.K. Rowling
Bangkok, Turbulensi tengah menerpa pesawat ini. Pilot baru saja selesai berbicara. Kulihat kumpulan awan tebal di kiri kanan, sesembari sinar matahari masuk diantara sela – sela awan tersebut. ” Saudara-saudaraku, tantangan hidup ini kita hadapi bagaikan seekor rajawali, ia menghadapi tantangan hidup, tembuslah awan itu. ” Satu orang teman terbaikku bercerita dalam khotbahnya suatu saat di pagi yang sendu di goldiers green. Dari minggu ke minggu ada saja yang baru dalam khotbahnya, yang mengisi saat – saat teduh, menciptakan jeda dalam kungkungan waktu sepanjang minggu di sela – sela orang yang datang dan pergi. Saya ingat jumlah kami kira -kira 10 sampai 15 orang. Saya sendiri adalah seorang katolik, ikut membantu teman-teman terbaik dalam kebaktian agama protestan. Bagi saya, agama adalah urusan kita dengan yang kita yakini, Dia yang kita yakini. Tidak ada yang lebih baik, setiap orang punya keyakinannya tersendiri.
Oleh karena itu, tidak apa2 diri ini ikut membantu dalam acara kebaktian, dengan lagu2 yang kita siapkan, menyanyi, bermain gitar, bermain piano, semua dilakukan. Memang lagu – lagu itu begitu indahnya, kadang – kadang saking semangatnya orang2 bisa berlompatan menghayati kebaktian itu. Sama seperti kegiatan buka puasa yang diri ini juga jalani dengan rekan – rekan muslim, semua sama, untuk mengerti orang lain. Yang diri ini ingat makanan yang begitu enaknya sudah menanti di akhir kebaktian, ada soto ayam. Diri ini begitu menikmati jalinan pertemanan yang terjadi di saat itu, “saya mendapatkan komunitas saya.
Yang diri ini tidak mengerti adalah begitu mudahnya sekarang ini kerap terjadi, kerusuhan, kejahatan, dimana begitu mudahnya sakit menyakiti itu terjadi. Mungkin memang sifat manusia yang begitu negatifnya mudah menyakiti orang lain termasuk orang – orang terdekat kita. Dalam sinusoidal hidup, ada kalanya kita di atas ada kalanya kita di bawah, sama seperti saat – saat diri ini pulang dari Australia, untuk mencari pekerjaan, semua ingin maju ke arah yang lebih baik. Begitu pun dengan orang – orang yang ada di sekitar kita. Atau saat – saat diri ini yang sedang ada di Bangkok hanya untuk meluangkan waktu untuk berkerja lebih baik.
Adik terbaikku pernah bertanya,” kak arsitek itu lahir atau dibentuk ? “. Diri ini berpikir Ada orang yang sudah sedemikian lancarnya dilahirkan menjadi seseorang yang diberi talenta rasa, dan rasa seni yang tinggi. Bersyukurlah apabila sudah mendapatkan talenta itu. Namun ada juga yang tidak beruntung, yang perlu kita lakukan adalah belajar bagaimana caranya membentuk diri. Diri ini percaya bahwa setiap orang membentuk dirinya sendiri, sewajar – wajarnya.
Pertanyaannya apakah bakat itu penting ? Apakah kemampuan itu penting ? Ya kita melatih diri kita untuk menjadi mampu di profesi kita masing – masing, dengan berkerja keras. Warren buffet berkata ” ada 3 hal yang terpenting yang tidak diajarkan di Harvard bussiness school, yaitu, menulis, berbicara dan berkomunikasi.” Ada yang berpikir bahwa “saya akan memperkerjakan orang – orang terbaik dari orang – orang terbaik.” Hal tersebut sama berlakunya di perusahaan – perusahaan ternama di dunia. Bagaimana kita menghitung kapabilitas kita dibanding orang lain. 3 hal yang dikatakan Warren Buffett tersebut adalah hal yang berkaitan dengan kapabilitas. Kita seringkali tidak bisa memilih, kita itu dipilih, kita hanya bisa berusaha namun bukanlah kita yang menentukan untuk memulai proses pembentukan kita.
” bayangkan apabila anda semua adalah saham yang akan dibeli oleh orang lain , dari 10 orang dengan kualitas sama, 10 lulusan dengan kualitas sama,bagaimana anda bisa memastikan untuk bisa dipilih ?” Buffet melanjutkan.
Diri ini mendapatkan jawaban justru dari teman – teman terbaikku, kita tidak akan memilih orang yang terpintar, karena kepintarannya sudah cukup, bisa dicari orang yang lebih pintar, dan banyak orang lebih pintar lagi. Ada beberapa hal yang pada akhirnya Kita akan memilih orang – orang dengan karakter yang kita sukai, seseorang yang murah hati, jujur, yang bisa berkerja sama dengan orang lain. Kita akan menghindari orang – orang dengan ego yang berlebih, seenaknya, tidak jujur, tidak memiliki etika, dan ketidakmauan untuk berkerja menjadi satu tim. Semua sebenarnya kita mencari seseorang yang bisa tumbuh bersama.
Diri ini teringat, bagaimana diri ini ditertawakan dengan pekerjaan membuat maket di kantor di Inggris, ditertawakan karena begitu mudahnya mengambil pekerjaan yang bukan tanggung jawab, ditertawakan karena lembur tidak tidur semalam suntuk untuk melakukan tanggung jawab bersama, dimana yang lain sudah beristirahat menghindari tanggung jawab tim. Seolah – olah itu menjadi makanan sehari – hari. Pernah suatu saat diri ini marah sekali, keluar begitu saja ke satu pojok taman untuk melampiaskan kekesalan yang ada. Saya bukan bahan tertawaan. Sambil diri menghentakkan kaki dengan keras.
Pada puncaknya, diri ini kembali juga ditertawakan karena saya berasal dari satu universitas yang tidak dikenal di negara yang sedang berkembang dengan gelar bachelor, S 1 dimana yang lainnya adalah sarjana s2 dari universitas terkenal di seluruh dunia, harvard, princeton, AA, berkeley. Itu terjadi pada saat pemilihan orang yang akan menjadi wakil grup desain di Inggris.
Diri ini punya beberapa teman terbaik, teman berkerja bersama – sama. Mereka juga teman yang bersama2 ditertawakan, membuat maket, ataupun kerja sampai subuh sudah menjadi makanan sehari – hari.
Saya teringat kami satu kelompok begitu mencintai pekerjaan kami, juga dengan wanita terbaik kami masing – masing. kami biasa berjalan bersama, sampai pada akhirnya persahabatan seumur hidup. Saya rasa ini yang terjadi. Diri ini teringat girang luar biasa karena terpilih menjadi wakil grup desain hanya untuk berbicara sejenak dengan Norman Foster, sepertinya waktu memberikan ujiannya dan kemudian memberikan kesempatannya. Diri ini juga ingat pada akhirnya diri ini berkerja, dipindahkan ke salahsatu tim terbaik, dengan prinsipal terbaik, pada akhirnya hal – hal tersebut yang menjadi cerita terbaik dalam fase hidup yang membekas di kantor di sebelah sungai Thames.
Teman – teman terbaikku sekarang sudah menjadi pimpinan biro di tempat mereka berada sekarang, di negaranya masing – masing, ada yang di Spanyol, Hongkong, Korea, Australia, Malaysia, London, Jepang, China, ada yang menjadi dosen juga, ada yang menetap di Inggris menjadi pimpinan grup desain. Namun apabila kita bertemu, kita akan pergi ke satu tempat di daerah leicester square, meminum kopi atau memesan dim sum dan kita akan tergelak – gelak mengingat peristiwa – peristiwa pada waktu itu, membuat maket bersama – sama, lembur suntuk bersama – sama. Kita semua beranjak dengan romansa waktu yang baru, dimensi yang baru, dengan memori yang lama.
Diri ini belajar bahwa Karakter dalam kata lain adalah hal yang terpenting, bukan siapa anda, gelar anda, atau baiknya cv ataupun resume anda. Dan kemudian pembentukan diri itu kemudian dimulai begitu saja. Bukan siapa anda, namun apa yang kita lakukan akan membentuk kita, dari situ kita akan dibentuk sewajar – wajarnya.
Pada akhirnya kita memiliki orang-orang baik yang menjaga kita setiap saat. .Diri ini masih tetap membuat maket dengan anak-anak kantor, berkerja sampai subuh terkadang dengan anak-anak kantor. Semua masih sama. Hanya saja, kenangan – kenangan ini membekas dan semakin dalam teringat.
Baru saja diri ini berkenalan dengan satu professor dari Bangladesh, ia datang dari negaranya untuk ikut seminar di Bangkok, kami bertukar cerita, sehingga ada saja chemistry di antara kami. Ia adalah seorang insinyur teknik sipil, baru saja kita berbincang – bincang mengenai perjalanan ke Dhaka, ibukota Bangladesh, diri ini pernah berjanji kepada satu teman terbaik di Bangladesh untuk berkunjung ke negaranya ke Dhaka. Ya mungkin ini jalinan pertemanan yang baru, mungkin saja ada peristiwa – peristiwa yang menanti, kejutan – kejutannya seperti Tuhan sudah mempersiapkan semua sebegitu indahnya. Dan, diri ini kemudian teringat bahwa harus ke airport, kembali ke Jakarta, sayonara Bangkok. :)
“The only way to be happy is to love. Unless you love, your life will flash by.” Mrs. O’Brien
Pagi ini diriku ada dalam satu perjalanan ke Bandung, kota yang memiliki aura menyejukkan, sabtu ini diri ini bisa rileks sejenak dari kesibukan yang menerpa 5 hari kemarin. Hari ini udara sedikit berkabut dan sejuk, matahari seakan – akan menyembunyikan dirinya dibalik gugusan awan tebal yang menyelimuti perjalanan kami.’ Sambil diri ini tertawa membayangkan saat saat kecil kami.
Diri ini berpikir, sebenarnya ada satu sisi dalam diri yang menyukai hal yang sama berulang – ulang, ingin itu – itu saja, baju itu – itu saja, melakukan yang itu – itu saja. Aku dilahirkan di Surabaya, dengan 4 orang bersaudara, kami lelaki semua. Saya pikir saya yang paling jelek diantara saudara – saudara kami.
Ayah adalah seorang kontraktor bangunan, ia insinyur sipil, dan ibu sendiri adalah seorang ibu rumah tangga. Aku ingat dulu diri ini tinggal di daerah Dukuh Kupang, daerah perumahan yang sepi di gang 13, kami punya pohon mangga yang sering kuambil mangga mudanya untuk sekedar dimakan dengan kecap manis di genteng rumah keluarga kami. Merasakan panasnya talang seng ketika diinjak di terik matahari, ataupun menggergaji triplek menjadi pedang kayu menjadi satu perkenalan dengan arsitektur. Di gang ini aku belajar berbicara , menyapa, bergaul anak – anak yang lain, dengan tetangga, tegur sapa dengan tetangga sering dilakukan, pada waktu itu diri ini ingat, permainan yang populer adalah bermain sepatu roda.
Pada waktu itu akumasih berusia 9 tahun, saat itu adalah saat dimana diri ini ada di satu lingkungan yang baru, Jakarta, bertemu dengan teman -teman yang baru. Diri ini ingat, dengan logat bahasa masih khas suroboyo, medok, sama sekali tidak tahu dengan budaya kota yang berbeda, budaya pergaulan yang berbeda. Saya heran kenapa kalau guru bertanya, kenapa saya yang selalu tunjuk tangan, padahal di Surabaya dulu, kami berlomba – lomba untuk tunjuk tangan, sampai pak Martin satu guru IPA kami bosen melihat diri ini tunjuk tangan. Aku juga ingat ada beberapa orang yagn mengusili terus menerus sampai membuat tidak tahan. Mungkin mereka tertawa juga melihat satu makhluk aneh yang baru, aku waktu itu kelas 4.
[laurensia adalah orang yang mengusiliku ketika aku ada di kelas 4 SD, Tuhan memang punya kejutannya yang tidak pernah diduga]
Atau saat – saat dimana diri ini, sedang senang – senangnya berolahraga tennis meja, dan hampir sebagian besar waktu dihabiskan untuk berlatih sehingga nilai – nilai pelajaran menjadi turun. Ada satu kesenangan yang baru. Atau saat – saat penuh tanda tanya mengapa diri ini selalu jalan – jalan ke satu gedung untuk memotretnya terus menerus setiap pulang berkerja di hari jumat sewaktu ada di Singapore dan London dengan orang – orang yang berbeda – beda, atau saat – saat bermain bulu tangkis dengan teman satu SMA yang dilakukan terus menerus.
Semudah ke satu tempat yang sama terus menerus, melakukan hal yang sama terus menerus, seperti tukang kayu yang belajar menggergaji, tukang batu yang belajar untuk memplester satu permukaan, atau seorang pandai besi yang belajar untuk menempa satu karya. Mereka melakukannya terus menerus, tanpa henti, sampai kamu menjadi tinta, kamu menjadi kertas, semua menyatu dalam nafas, dalam jiwa. Diri ini ingat kehati – hatian wanita terbaikku ketika berkerja, satu bersatu gigi itu dibersihkannya, diobatinya, ada teori – teori yang dijalaninya, seminar – seminar yang diikutinya. Semua pelajaran , latihan itu memerlukan waktu hanya untuk menjadi lebih mampu.
Memang pengalaman – pengalaman di tempat yang baru akan selalu menjanjikan pengalaman yang tak ternilai, berhadapan dengan orang – orang baru, wajah – wajah baru, budaya – budaya baru.
Kayu kelapa terbaik ada di daerah Menado, Sulawesi, karena ia tumbuh secara perlahan – lahan, bukan hibrida, bukan dikatalisasi. Seperti juga kayu bengkirai yang habitatnya ada di Kalimantai atau sama dengan damar laut yang berasal dari Sumatra. atau kayu jati Belanda yang memang tumbuh perlahan – lahan. Seratnya keras, matang, tua, karena teksturnya yang padat, rayap pun enggan menghampiri. Memang di jaman yang kompetisinya sedemikian tingginya menuntut kita selalu untuk berpikir lebih kritis, lebih cepat, lebih dan selalu lebih baik.
Kemudian diri ini teringat pesan dari pak Tisna Sanjaya, untuk tumbuh perlahan – lahan, seperti pohon, berakar kuat, bertajuk rindang, menjanjikan kehidupan untuk makhluk yang diteduhinya melalui alam yang memberikan air, sinar matahari, dan mineral yang didapatnya. Mungkin dalam kehidupan ini kita semampu kita perlu untuk meneduhi seteduh – teduhnya dengan perbuatan, perkataan, dan pikiran kita.
Hari ini diri ini tenggelam dalam romantisme kegiatan berulang – ulang yang itu – itu saja, dan memang inilah yang kunikmati, beserta Laurensia, Keluarga, dan teman – teman terbaikku yang ditemui sepanjang hari..
“Help each other. Love everyone. Every leaf. Every ray of light..”
The woods are lovely, bright and shallow. But I have beautiful promises to keep, and miles to go before I sleep and I don’t want to sleep until I die. Realrich [taken from frost’s poem]
Hongkong, Mengenai Cinta… Dalam perjalanan satu tahun ini, tidak disangka sudah satu tahun diri ini hidup berdua dengan wanita terbaikku, ya usia pernikahan kami sudah 1 tahun umurnya. Kami menikah tanggal 25 September 2011. Di kala – kala kesibukkan yang semakin menerpa, waktu yang semakin menuntut, kami belajar untuk menyelipkan waktu2 untuk terus menghargai kebersamaan kami.
Pada waktu itu Diri ini sedang terjebak macet, terik matahari menerpa di balik siluet jembantan2 beton yang meneduhi, kira2 suhu terik 33 derajat celcius, kota Jakarta memang sedang menunjukkan wajahnya yang problematik dengan transportasi kota yang tidak terencana. Baru saja kemarin sampai pagi di kantor membereskan beberapa dokumen arsitektur yang harus diperiksa satu persatu. Untunglah hari ini diri ini bisa rileks memejamkan mata sejenak dimobil, puji Tuhan ada pak misnu, seorang sopir yang memang sudah seperti keluarga sendiri. Diri ini menghitung sudah 3 jam terjebak kemacetan ini, . Rutinitas yang ada baru – baru ini sungguh cukup menguras tenaga. Ya hidup seperti biasa, diri ini bergumam dalam hati. Seperti biasa diri ini membuat daftar pekerjaan yang harus dikerjakan oleh staff kantor, bedanya anak – anak kantor berkembang lebih banyak dari satu tahun yang lalu sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk berdiskusi satu persatu. Lebih siang terkadang rapat – rapat pembahasan pekerjaan pun menunggu, pembahasan rapat tersebut bisa berlangsung sampai larut malam guna memutuskan keputusan – keputusan desain pada saat itu juga. Mata ini perih ingin menutup pada saat itu, aku lupa pada waktu itu aku belum makan.
Kemudian secara rutin pada hari sabtu diri ini berkeliling untuk melihat proyek – proyek yang sedang dibangun, mengawasi satu persatu detail pekerjaan yang ada. Teringat satu perkataan teman terbaikku.
“Dalam membuat sesuatu harus berhati – hati, apalagi sekarang kamu ada di satu industri. Jagalah nama dan prestasi. “
ya oleh karena itulah, standar kualitas memang harus dijaga untuk konsultan desain yang belum berusia 2 tahun ini. Diri ini berpikir memang masa – masa sekarang adalah masa pembuktian. Sederhananya memang proses seperti ini perlu untuk menjadi dan membentuk kapasitas, sewajar – wajarnya. Diri ini bersyukur diingatkan oleh orang – orang terbaik untuk terus menjaga kepercayaan yang diberikan dalam hal – hal kecil maupun besar.
Siang itu satu waktu telpon berbunyi salah satu teman terbaikku memanggil untuk datang ke kantornya untuk dikenalkan pada saudaranya, perbincangan kami mengalir begitu saja, mungkin ada chemistry yang baik, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata2, yaitu rasa. Maklum sudah 2 tahun ini kita tidak bertemu, waktu – waktu kita memang semakin padat, ia sebagai seorang developer terkenal dan diri ini sendiri yang sibuk dengan pekerjaan –pekerjaan di kantor. Di sela – sela waktu yang semakin mengukung. Diri ini merasa bahwa memang benar jika akhirnya banyak orang berkata, semakin kita dewasa lingkaran pertemanan kita akan semakin berkurang.
Kira – kira beberapa jam kita berbicara sampai lupa waktu, sampai beberapa gelas minuman sudah habis. Seusai ngobrol teman terbaikku ini pun menanyakan di drop off bilangan Jendral Sudirman. Realrich kamu naik apa, saya bilang naik taxi, karena memang pada waktu itu. Wanita terbaikku membutuhkan kendaraan untuk pergi ke klinik, maka diri ini memutuskan naik taxi saja. “O mau ikut saya ? “dia menawarkan, “kemana ya pak, ” dia pun menyebutkan jalur kendaraan yang tidak satu arah dengan diri ini.Diri ini melihat jam yang sudah mulai larut, namun saya sangat senang sekali ngobrol dengan satu bapak ini, diri ini mengiyakan, oke deh satu jalur, saya bilang. Dalam hati diri ini berkata, “Oke kita pun bisa mengobrol 1 jam lagi di perjalanan.”
“Pak Rich, saya punya project. “demikian dia menyambung akhir pembicaraan kami seketika akan menurunkan saya di trotoar di persimpangan Harmoni, kamu akan saya ajak ya hari rabu depan ke tempat project ini. Sepertinya ini cocok dengan kamu.” diri ini pun terkejut tanpa disangka, project tersebut adalah project yang luar biasa menariknya, memang peristiwa ini mengajarkan arti untuk berbagi dengan orang lain hanya dengan membagi waktu, dan kemudian ia akan membagikan kesempatan – kesempatannya, tanpa disangka – sangka.
Diri ini merenungi waktu dan kesempatan muncul dalam waktunya tersendiri , semua ini seperti terjadi begitu saja.
Diri ini berpikir, kita ini hidup sesuai kebutuhan kita, ada orang yang membutuhkan kasih sayang, ia akan mencari kasih sayang tersebut, ada orang yang membutuhkan materi, ia akan mulai berkerja dan mulai mendapatkan materi. Orang mendapatkan kepuasan karena kebutuhannya terpenuhi…. Waktuku, waktu kita, waktu bersama.
Kehidupan Kampus
2 bulan yang lalu di malam yang dingin di Kiara payung di satu bukit dimana bintang2 terlihat membentang di langit, ada bintang biduk, pengarah jalan para nelayan.Saya ingat dimana pelantikan anggota baru Gunadharma kemarin, dimana semua berlomba – lomba untuk datang ke acara pelantikan ini, ada satu orang yang sudah lulus 10 tahun yang lalu. Ada beberapa yang sudah lulus 5 tahun yang lalu. Untuk apa mereka datang ?
“Hentakkan kakimu sekuat tenaga, begitu engkau melangkah engkau akan dilihat dari bagaimana engkau bertindak terhadap orang sekitarmu diri ini mengingat, totalitas .Engkau, apa hanya engkau ?” teriakku lantang
Diri ini bertanya kepada dua orang peserta di depanku. Mereka bilang demi sebuah kebersamaan. Memang demi sebuah kebersamaan, kita ditempa untuk menghargai kebersamaan, himpunan itu apa ? Sebuah kebersamaan, dimana2 kita selalu bersama – sama dengan orang lain, belajar berhimpun itu pada hakikatnya adalah belajar bersama – sama. Diriku berpikir mengenai misteri mengenai hubungan manusia antar manusia, sebuah nilai yang tak terukur antara rasional manusia yang memiliki nilai individualis tinggi. Ada yang menghitungnya dengan nominal uang yang tinggi, ada juga yang menghitungnya dengan sejumlah tempat yang ia datangi, ada yang menghitungnya dengan prestasi dan pekerjaan yang ia banggakan. Apa yang membuat dirimu bahagia ? Datang ke pelantikan anggota baru Gunadharma seakan – akan mengingat lagi saat – saat yang lampau, berulang kembali, saat – saat yang enerjik, dan tawa yang membahana bersama – sama teman – teman satu angkatan, satu himpunan. Waktu Menjanjikan betapa berbahagianya bisa menikmati saat – saat di Gunadharma.
Best Office in the World
Kantor di dunia mulai menunjukkan kehidupannya, siklus yang silih berganti cukup cepat. Orang – orang datang dan pergi, proyek proyek datang dan pergi. Banyak orang yang belajar, datang dan pergi, mulai ada adik2 yang tinggal lebih lama, datang dan pergi itu pilihan hidup, yang terpenting bekerja untuk belajar, mengekspresikan diri dan menabung.
Diri ini sering terlibat dalam perbincangan dengan beberapa orang mengenai arsitektur, archi tecton ( seni membangun). Ada satu fenomena yang mengherankan, banyak orang bertanya – tanya mengenai jati diri “arsitektur Indonesia”. Mungkin beberapa kali dalam berdiskusi hal ini selalu ada. Pertanyaan seperti ini jarang diri ini temui sepanjang perjalanan karir di beberapa tempat terbaik,
Apa sih jati diri arsitektur morroco, jepang, australia, inggris, bandung,jakarta,Indonesia? Pertanyaan yang sulit. Perlu digali lagi kenapa ini dipertanyakan. Perlu pembahasan dr sudut pandang tertentu, ada satu benang merah dari negara2 ini yang akhirnya mensintesiskan apa yang sudah ada sekarang. Lalu apa ? Untuk apa kita bertanya ?
Mungkin kita ada dalam satu budaya yang hilang, terus menerus bertanya, tanpa tahu jawabannya, terus menerus memprovokasi, dan bingung dibuat oleh pertanyaannya. Oleh karena itu kita mempertanyakannya, Pertanyaannya adalah melalui apa kita mencari ? satu hal yang pasti, bahwa setiap jaman memiliki tandanya tersendiri melalui inovasi teknologi, sistem bangunan, ketersediaan material, dan segala proses sosial, budaya, politis, ekonomi yang melatar belakangi satu karya. Yang diri ini tahu pasti, karya arsitektur indonesia adalah karya terbangun yang ada di Indonesia, oleh karena itu Arsitekturnya arsitektur Indonesia.Mungkin kita sudah kesulitan untuk memilah apa yang perlu dilestarikan, apa yang tidak, keahlian konstruksi mana yang perlu dilestarikan mana yang tidak. Gabungan 2 pendekatan empiris dan rational perlu dilakukan. Menurut saya perlu adanya pendokumentasian hal2 yang menjadi unggulan. Point saya ada di sejarah, dan inovasi di konstruksi, sistem, pendekatan desain supaya menjadi nilai guna, toh arsitektur perlu dikembalikan ke definisinya, seni membangun, membangun yang lebih baik.
Frederich Silaban sependapat dengan saya menurutnya ” tidaklah perlu dicari-cari arsitektur indonesia yang identik dengan bentuk – bentuk tertentu, yang perlu ditransfer adalah nafasnya jiwanya”.
Arsitektur Indonesia itu ada di dalam nafas desain kita, taksu kalau professor yuswadi bilang, ada di tradisi berbuat kita, tunjukkan melalui desain anda, kebolehan anda, inovasi anda, efisiensi anda, estetika anda, sewajar – wajarnya. Dengan melalui desain terbaik di bumi Indonesia, karya terbaik arsitektur Indonesia akan muncul. Diri ini pun masih belajar untuk ini, dalam hati diri ini berdoa supaya bisa berkesempatan untuk belajar.
Pelajaran terbaik,… kejujuran,cinta, integritas
Pada waktu itu siang – siang di hari sabtu, diri ini baru saja pulang dari workshop kantor di daerah Meruya untuk mengawasi tukang – tukang yang berkerja memperbaiki rumah pak Misnu, diri ini menggerakkan tukang2 untuk memperbaiki tempat tinggalnya .
“Kak saya ingin bicara”. Adik di depanku ini adalah orang yang biasanya mengurusi menemani dalam pekerjaan sehari2, iabercerita tentang sistem yang tidak berjalan, dan ada orang – orang yang sulit diajak kerja sama.
“Pak saya ingin bicara.” Paman di depanku ini adalah orang yang biasanya mengkordinasi workshop, pribadi yang menganggukkan kepala ketika diri ini mendorong satu keinginan untuk mencoba sesuatu yang tidak biasa” dalam ketertegunannya, ia bercerita mengenai masalah rumahnya, rumahnya yang digadaikan, dan pinjaman2nya ke tetangganya.
“Kak saya ingin bicara.” Ada juga orang yang baru saja menyapa di lembar facebook, berkenalan lalu becerita ia sedang dalam masalah dengan dosen2nya, penulisan thesisnya, ataupun meminta referensi – refensi yang diri ini juga tidak mengetahui dari mana harus mencari.”
“Pak saya ingin bicara.” Entah kenapa mahasiswa ini punya banyak kendala berhadapan dengan tugas2nya yang tidak terselesaikan dengan baik.
Kemudian diri ini menerawang ke satu peristiwa saat berbicara dengan salah satu orang yang menjadi klien di kantor, “Rich, dalam kepercayaan terhadap kami kepadamu, sebenarnya ini merupakan satu cerminan dari kebutuhan dan kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ibaratnya kami perlu jasa kamu dan kami meletakkan kepercayaan kami.” diri ini kemudian berpikir bahwa pada hakikatnya ini tidak hanya mengenai hak dan kewajiban, bahwa dimanapun kita berada, hak kita minta dan kewajiban kita lakukan. Kemudian ternyata ini tidak semudah yang dikira, sistem yang dijalankan terkadang tidak berjalan secara ideal. semua pihak hanya perlu menjalankan hak dan kewajibannya, terkadang hak tidak diberikan dan kewajiban terlalu besar, ada juga hak yang sudah diberikan dan kewajiban tidak ditunaikan, selalu saja ada ketidak sempurnaan dibalik keinginan kita yang selalu mengejar kesempurnaan.
Dimana diri ini berpikir inilah hubungan manusia antarmanusia yang tidak pernah sempurna. lalu beralihkan pandangan ke satu orang adik didepanku, dimana ia bercerita mengenai keadaan yang ada. Dalam hati diri ini bersyukur sekali dikaruniai, diberikan orang – orang yang selalu mengingatkan, Laurensia, Keluarga, orang2 di depanku, ataupun pribadi sehari2 yang diri ini jumpai ini merupakan pemberian titipan Tuhan akan pengingat yang selalu mengingatkan akan langkah – langkah dalam kehidupan ini untuk membagi kebaikan dengan sesama.
termasuk adanya Laurensia, Keluarga, Adik – adik, mahasiswa, dan orang – orang yang diri ini selalu temui sepanjang hari sepanjang waktu. Berkat tidak ternilai ini hadir secara tidak terduga, satu persatu.hidup di dunia ini untuk berbagi, seperti kata guru terbaikku, mas emil diri ini memanggilnya bahwa hidup ini untuk berbagi, diri ini belajar banyak sekali dari beliau, melalui sikap hidupnya.
Laurensia + Cherry
Laurensia sudah pulih dari operasi terakhirnya, diri ini merasa senang sekali, ia sudah mulai pulih seperti sediakala, rutinitas praktik dokterpun sudah dijalaninya dengan teratur. Memang kenangan akan kehilangan Cherry masih terkenang begitu saja, sulit untuk bisa dilupakan. Kita mengingat setelah bulan agustus, bulan september mulai menunjukkan wajahnya, daun – daun kembali menghijau di pekarangan rumah kami di Bandung setelah musim panas yang terik. Bandung memang menyejukkan, .
Ya Laurensia dan diri ini akhirnya punya satu rumah di Bandung, dititik terindah yang kita berdua bisa sediakan untuk Cherry. Laurensia dan diri ini sangat menantikan kehadiran cherry kembali. Di bukit ini, cherry bs berlari – lari untuk menikmati alam bersama – adik2 dengan kantor terbaik didunia, dan desa terbaik didunia. Diri ini dilanda satu mimpi yang indah, mimpi dimana anak – anak bisa tertawa, mimpi dimana studio terbaik di dunia, tempat terbaik di dunia akan muncul. Laurensia mungkin akan membuka tempat praktiknya untuk warga – warga sekitar, diri ini akan berbagi mata air akan ada bagi masyarakat sekitar. Sebuah roseto, a place where the outside rule does not apply, where happiness, perfection in imperfection might happen, the best design might happen, the best place of people within. Mengingat apa yang sudah terjadi satu tahun ini, ada kebahagiaan dan ada juga kesedihan,Semoga hidup ke depan akan semakin baik, teduh, dan indah untuk dijalani.
Mungkin 3 bulan kedepan akan ada lagi kejutan2 terbaik, seperti Laurensia berkata.
“Life is like a piano, the white keys represent happiness and the black show sadness. But as you go through life’s journey, remember that the black keys also create music.”
“Yang tehnya sudah siap, ayo diminum supaya tidak dingin.” selalu Laurensia memanggil mengingatkan. Puji Tuhan. Diri ini pun jatuh cinta lagi di tahun kedua pernikahan kami.
If there’s two mass, which created a gap, it will make the wind converge together and blows tightly, tighter than without any little gap. The basic principle is the wind will blows tight through a little hole or gap. That’s the purpose of Wind Tunnel System; make the wind blows without using Air Conditioner. There are two holes of Wind Tunnel System, it’s vertical and horizontal. The wind will enter this horizontal hole tightly, trapped inside this room, and to keep this room on it’s comfort temperature, the warm air will be transfered to the outside through the holes where located above the stairs (axis vertical), it’s more like stacking effects.
this is travel log, time with laurensia, showing our trip to England. I was thinking 3 years ago we visited some of the places like cambridge, St. Ives, Penrith, Bath. It was very memorable for us. The ordinary stuffs like meeting new people, visitting new places indeed was such a beautiful journey for us.We met our best friends, Jefferson Barnes, Kuncara and fam, Alvin and fam, Melur,lot of new friends !
We love travelling because not only gives us time for being together but also it’s the moment for looking lot of good people, beautiful places, and another camariderie. like what Nikki Giovanni said that “We love because it’s the only true adventure.”
adventure … I think that we are still making our adventure, till the very end time.
So still that I think , collect your images, you stories, your own butterfly collections…
Hope is the thing with feathers that perches in the soul and sings the tune without the words and never stops at all…
Hari itu hari Jumat malam jam 23.30. setelah diri ini berdoa untuk bayi kami, aku pun tersenyum, karena ia begitu cantik, ingin kubawa bayi ini ke Laurensia. Namun petugas sudah akan membawanya pergi untuk memandikannya. Rambutnya ikal, hidungnya mancung, perawakannya mungil,jemarinya lentik dan kulitnya putih bersih. Kukecup keningnya, dan setelah itu diriku pun bergegas untuk menunggu di depan ruang operasi, pintu kamar operasi pun belum terbuka. Diri ini sudah menunggu 1 jam namun operasi belum juga selesai.
Hari itu hari Jumat malam jam 23.30. setelah diri ini berdoa untuk bayi kami, aku pun tersenyum, karena ia begitu cantik, ingin kubawa bayi ini ke Laurensia. Namun petugas sudah akan membawanya pergi untuk memandikannya. Rambutnya ikal, hidungnya mancung, perawakannya mungil,jemarinya lentik dan kulitnya putih bersih. Kukecup keningnya, dan setelah itu diriku pun bergegas untuk menunggu di depan ruang operasi, pintu kamar operasi pun belum terbuka. Diri ini sudah menunggu 1 jam namun operasi belum juga selesai.
Diri ini akui bahwa momen – momen menunggu saat ini tidaklah menyenangkan, aku yang selalu berpikir mengenai bagaimana dokter melakukan operasi terhadap Laurensia, bagaimana ia dibius sampai tidak sadar. Dan bayangan – bayangan yang terbersit mengenai apa saja yang dilakukan dokter di dalam ruang operasi. Ya Tuhan semoga ia baik – baik saja. Untungnya dokter yang menangani Laurensia adalah dokter terbaik di kalangannya, dokter yang cekatan, muda dan masih keluarga dekat, jadi diri ini menyerahkan sepenuhnya kepada tangan terampil dokter yang menanganinya. Dokter Cindy namanya, di rumah sakit Pluit.
Akhirnya satu perawat keluar “Ibu sedang dijahit pak, sudah selesai operasinya, sekarang dokter sedang menunggu kondisi ibu stabil” Satu perawat pun keluar untuk menenangkan. Setelah itu Laurensia pun didorong di atas tempat tidurnya keluar dari kamar operasi, hati ini pun gembira luar biasa. Doa ini terkabul, ia baik – baik saja. Syukurlah. Diri ini berterima kasih luar biasa terhadap dokter yang membantu proses operasi Laurensia termasuk suster dan asisten yang menanganinya.
Satu malam itu aku bisa menghargai kebersamaan kami yang luar biasa di kamar rawat inap rumah sakit. Laurensia pun sudah mulai sadar sepenuhnya dan diri ini pun sangat bersyukur.
3 hari yang lalu, …
Pagi itu hari rabu. Diri ini ingat, masa kehamilan Laurensia sudah 7 bulan, dalam hati yang terdalam, rasa takut selalu ada. Kehamilan adalah proses yang indah dan juga beresiko bagi ibu dan anaknya kata dokter. Dan dalam hati ku selalu berdoa Semoga kehamilan Laurensia baik – baik saja dan tidak ada masalah. Maklum kami belum pernah mengalami ini. Satu pengalaman pertama dalam seumur hidup kami. Ini kehamilan pertama. Pada kehamilan 3 bulan pertama dokter mendiagnosa bayi kami perempuan. Setiap saat aku mendoakan supaya bayi ini bisa menjadi berkat untuk sesama, seperti kebahagiaan yang dibawakannya ke keluarga kami dalam kehamilan Laurensia.
Seperti satu hari biasa, hari itu adalah hari rabu dan diri ini harus berangkat untuk mengajar , rutinitas pun dijalani dengan kesibukan kami berdua yang padat. Diri ini sendiri baru pulang mengajar di Karawaci, baru saja mengobrol bersama rekan – rekan dosen disitu dan juga mahasiswa yang ada di studio arsitektur. Kemudian Diri ini mampir sebentar ke kantor memberikan beberapa masukan terhadap desain yang sedang dikerjakan. Laurensia pun akhirnya masuk ke kantor untuk mengingatkan karena hari sudah malam dan kami punya janji untuk bertemu dengan dokter, untuk cek kehamilan 7 bulan. Kami pun bergegas ke satu rumah sakit di bilangan Jakarta Pusat. Pak Misnu, sopir keluarga pun sudah menunggu.
3 hari yang lalu Wanita terbaikku menanyakan kepada diriku mengapa bayi kami di dalam kandungan tidak seaktif biasanya. Aku menjawab untuk menenangkan istri, tidak apa – apa mungkin ini wajar, kita kan akan ketemu dokter sebentar lagi. Pada waktu itu sekitar jam 9.45 malam dan kami baru masuk ke ruang tunggu setelah lama menunggu, urutan terakhir setelah 1 setengah jam lebih menunggu. Pada waktu itu kami bisa melihat detak jantung bayi kami berdua, ada yang berkedip – kedip di layar USG, rasa khawatir pun menjadi pupus. Ini anaknya baik – baik saja, kata dokter mengiyakan, ketika Laurensia bertanya.
3 hari kemudian
Nama Anak kami adalah Cherry, bagi kami dia adalah satu malaikat yang akan mewarnai orang – orang sekitarnya dengan kasih sayang. Memberikan kebahagiaan setiap saat pada saat ia ada sama seperti ia memberikan kebahagiaan dalam waktunya yang sebentar di dunia ini.
Tidak ada yang bisa membayangkan ketika 3 hari kemudian, pada hari jumat pagi. Cherry meninggal. Ia didiagnosa kehabisan air ketuban, dan Cherry terlambat dikeluarkan oleh karena itu ia meninggal. Tidak ada yang percaya bagaimana ini terjadi dan mengapa ini bisa terjadi pada keluarga kami meski ada beberapa puluh argumentasi dan hipotesa mengapa ia tidak ada, tidak ada gunanya mempersalahkan siapa – siapa. Memang sudah jalannya seperti ini.
Pikiran ini pun kembali ke hari jumat malam pukul 23.30. ketika diri ini sedang menunggu operasi Laurensia untuk mengeluarkan Cherry dari kandungan. Operasi Caesar yang dipimpin dokter Cindy.
Satu berkat ini datang 7 bulan yang lalu, dan kemudian begitu mudahnya ia pergi, satu kebahagiaan ini pergi begitu saja di hari ini. Di bulan ke 7 kehamilan Laurensia. Kami diajar mengenai arti kehilangan dalam kehidupan.
Aku berdoa sepenuh hati, kupeluk Cherry dengan derai tangisan, kesedihan yang tidak tertahankan. Anakku begitu cepat engkau pergi, papa dan mama sudah punya begitu banyak mimpi yang indah bersamamu, sayang sekali Tuhan punya rencana lain terhadapmu nak.
Hanya kurang dari 1 hari,diri ini bisa menyentuh memeluk Cherry untuk pertama kali dan terakhir kalinya namun kini ia pergi. Aku pun merasakannya ketika abu itu ditebarkan di laut, Ia melindungi perbuatan, pikiran, dan perkataan kami berdua dalam cinta kasih terhadap sesama. Hari Jumat pada saat itu adalah hari yang penuh dengan kesedihan, kehilangan dimana kami kehilangan Cherry. Diri ini tidak bisa membohongi siapapun untuk mencoba tegar dan belajar dari kehilangan ini. Namun aku percaya, ia ada di sekitar Laurensia dan diri ini untuk menjaga derap langkah kami.
Diri ini pun tersenyum ketika dalam satu hari setelah operasi, Laurensia sudah pulih kembali , ia sudah mulai bisa berjalan seperti biasa, kemauannya kuat untuk bangkit. Aku berbisik dalam hati. Cherry terima kasih sudah jaga mama. Satu minggu setelahnya, satu teman dari orang tua kami, berbisik. Pada waktu itu, pagi – pagi setelah dimandikan, Cherry ada di rumah duka. Ia melihat Cherry ada di samping kami. Teman dari orang tua kami itu berbisik, ia sudah menjadi malaikat pelindung keluarga.
I hope you do well. I was thinking to write a note, a simple one, to conclude what we have worked on in the class. I was thinking that the effort of practicing architecture needs many hours, much time. I believe there are arguably nobody knows on how much the time that is needed to practice design. I think that is one question we might need to ask our self as designer. How much is needed?
Grumpy architect will say I work too much in architecture, its unfriendly profession, waste too much time. Positive architect will say I still have many things to learn. I wish that we have more than 24 hours in a day, I wish more, hunger for more learning, more thinking, more for thoughtful action.
So I never say that this class as working drawing class only. I would say its thinking drawing – working drawing class. The reason is simple because it involves the understanding of knowledge to build architecture, Knowledge of creating space. I think that we can’t draw one working drawing if we don’t know how to draw, part of it about knowing what you want to draw. It’s about knowledge of understanding the earth, the universe, the universal law to the most detail part of the constructions. The word thinking taught us about our body of knowledge, the knowledge to make a good space. So far we have gone to several built design which was designed by architects, built by builder. We have learnt how to draw one design which was pushed harder not only pragmatic intention but a design that is responding to express the beauty of constructions, the beauty of the material, the beauty of the honesty of covering the structure, the property of the material .To invent the art of building, you need to master the knowledge, the knowledge of the materials, the beauty of it, even higher knowledge that is the beauty of the space which is limitless for architect.
Another part is about exercising your hand to be skillful, on top of the invention of the CAD to answer the market needs in the name of efficiency. I do believe that the center of the practice is the human touch, your hand. I favor one quote from one of my favorite architect he stated
“Works of Architecture are discovered, not designed. The creative process is a path of discovery. The hand makes drawings and arrives at solutions before the mind has even comprehended them. It is very important to me to make buildings that work like instruments. They respond to light, to the movements of the air, to prospect, to the needs of comfort. Like musical instrument, they produce the sounds and the tones of the composer. But I’m not the composer. Nature is the composer. The light and sounds of the land are already there. I just make instruments that allow people to perceive this natural qualities.1
he is Glenn Murcutt, I think it is indeed true in the experience of practicing architecture. The architect’s hand need to be trained from the very beginning. That’s why some of the task given every week during the class drove your hand drawing skill.
I hope what you all learn hopefully can help the understanding the thinking behind the drawing, one tool that is a bridge between our design thinking to the builders. I think it’s not easy in one stage to understand the fingerprints of finishing materials, about the tectonics the construction of the materials, about the economic logic behind using the material, about defining how to use materials gently. It’s one fulfilling experience for architects.
Learning from the past and creating the future are both knowledge we have to master. The process itself is not easy but training your hand, your knowledge and your mind has been always my concern.
I must say congratulations for staying in the class to the willingness to open your architect’s eyes. The eyes of the willingness for opening new idea, like what Bjarke Ingels wrote “YES is more”. I do believe there is one culture above all of the design culture, the culture of creating passion inside us as an architect. You need to train this as it will show in your character, later on it will help shaping your chemistry with your client and your peers.
To the people in the class, thank you for the exploration that you showed, I do hope that you had such great learning curve, like what I had in class with you.
Designed for a prominent bussiness man family, this house was conceived as a modern rationalist house with neo modernist influence. Located in a quiet prestigious residential neighbourhood of Alam sutera, a satelitte city one hour west of Jakarta. The house consists of clustering of buildings arranged by wonderful vistas of the site to the lake. The overall composisiton ties these buildings together in a harmonious arrangement, informed by the chinese belief that nature is at its most beautiful when considered in relation to the man-made. The landscape itself arranged by several vistas and cluster of plantings reflecting the Indonesian tropical Landscape, the landscape of the tropical climate.
The circulation through the building is organised aroung a sequence of views that progressively move in hierarchy to more private area. The attention of to the play of lifht and shadow, created through a combination of materials and artificial and natural light is fundamendal to the design of the house and evokes the quietude of such a retreat house which stated by its gentle architecture.
I just designed one house called cinematic landscape house, what is cinematic ? It’s based on the sequenctial view approach in designing the space. Each corridor has each view to capture. The corridor and the opening relates itself to the openspace which is connect the house to the outside.
The concept of the house focuses on the creating an ecological design of house which is one small design 200 sqm house. The design allow natural fresh air by the design of the green slot which also allow natural indirect lighting coming to the space. The shape itself combine the 2 intentions, first intention is well refined detail using geometric clear partii and second is maximise space through space utilisation. The house is still in 90% nearly finished. Will update soon with many pictures.
For last year’s words belong to last year’s language andnd next year’s words await another voice…And to make an end is to make a beginning. TS Eliot
Diri ini akan membagi – bagi cerita ini menjadi beberapa cerita kecil, sebagai refleksi kehidupan yang begitu indah untuk dijalani, dan menyimpan banyak hal untuk dipelajari.
Malam ini …
Malam ini sunyi sepi, waktu tertera pukul 10. 30 malam, baru saat ini aku bisa menarik nafas untuk melegakan diri dari segala macam aktifitas yang ada di kota Jakarta ini, hari ini hari terakhir tanggal 31, bulan Desember, tahun 2011.
kira – kira sudah 3 bulan berlalu sejak diri ini hidup berdua dengan wanitaku. Diri ini tidak sendiri lagi, kami sudah bersama, dari masa penantian yang terasa sungguh lama, beberapa tahun hubungan jarak jauh yang terasa tak menentu dari perjalanan diri kami berdua antara London, Sydney, Seoul, dan Jepang. Di saat itu waktu – waktu seakan – akan bermain dengan ritmenya sendiri, ia berkata ada perjumpaan ada juga perpisahan, penuh dengan masa penantian antara 2 musim dan 4 musim Negara yang berbeda.
Lalu aku teringat beberapa bulan yang lalu mungkin 2 bulan yang lalu, diri kembali ke London hingga perjalanan ke bagian utara scotlandia. Angin yang meniup perlahan – lahan dengan temperatur yang mulai memasuki musim gugur dimana daun – daun sudah berubah menjadi kuning kemerahan. Oleh karena itu mungkin jalanan di kota Durham menjadi begitu Indah dalam horizon kota medieval yang lengkap oleh menara gereja yang juga merupakan salah satu gereja terbesar di Inggris. Diri ini berdua – dua juga berjalan – jalan ke kota York yang sangat memukau dengan peninggalan – peninggalan bersejarahnya, ilmu pengetahuan yang ada di setiap pojok – pojok kota meninggalkan torehannya dengan buku – buku yang menurut penduduk setempat buku biasa. Namun, itu buku – buku langka.
Masa lalu …
Ada kalanya pikiran ini teringat ketika saat kedua bertemu dengan wanita terbaikku, Laurensia, saat itu kita sedang duduk berdua di tepi pantai St. Ives, salah satu pantai terindah di Inggris bagian selatan. Inggris saat itu sedang dalam cuaca terbaiknya, musim panas dimana suhu 20 derajat ada pada rentang waktu 2 bulan dalam satu tahun. Diri ini duduk di atas bebatuan karang bersama wanita terbaikku. Kami bercerita keseharian kami masing – masing, cerita mengenai jaman sekolah dahulu. Jaman SD SMP SMA Ataupun bagaimana hidupnya sehari – hari di klinik. Aku ingin sekali lebih mengenalnya. Kami tertawa dalam canda dan obrolan, aku menengok keatas ada burung – burung pantai mengelilingi kami. Laurensia dan diri ini kemudian mendaki puncak yang tingginya 50 meter, St. Ives memang indah, ia memliki pantai, namun juga bukit yang sangat indah. Di puncak bukit itu ada mercusuar dimana kita bisa melihat ujung terakhir sisi selatan dari pulau Inggris. Namun Waktu berkata lain, ada perjumpaan ada juga perpisahan. Tawa itu disambut oleh airmata tidak lama pada saat perpisahan itu kembali tiba.
Ada kalanya diri ini teringat untuk pertama kalinya menangis untuk sebuah perpisahan. Hati ini menangis ketika ia pergi.
Aku masih ingat perbedaan waktu kami adalah 8 jam, GMT +8 dengan GMT 00. Wanitaku terbangun jam 4 pagi untuk kita bertemu. Jam 4 pagi berarti di London adalah jam 10 malam, berarti kami punya waktu 2 jam sebab wanitaku akan bersiap – siap untuk pergi ke daerah pinggir Bogor karena ia harus menunaikan masa baktinya ke Negara sebagai bagian dari tugas.
Di Inggris, tergantung tempat kerja, rata – rata orang akan menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat kerja selama 45 menit untuk berdesak – desakan di kereta daerah central London ataupun memilih bus dengan jarak yang lebih jauh. Begitupun diri ini, aku biasa bangun pukul 7, untuk kemudian selama 1 jam pergi ke kantor, 1 jam kubutuhkan untuk perjalanan karena jarak kantor dan rumah yang cukup jauh.
Rutinitas itu ada ketika pada saat diri ini berangkat kerja ia akan pulang kerja, pada saat aku mulai berkerja, itulah saat ia tidur. Pada saat diri ini makan siang, itulah saat ia bangun kembali,
Ada kalanya aku akan memanggil dengan telefon selularku di saat – saat makan siang, memanggil dengan telepon skype, telepon yang dibeli di daerah regent street karena paket nya yang murah, layanan itulah yang paling ekonomis, biaya untuk menelpon ke Jakarta luar biasa mahalnya, dan juga kebalikannya. 10 pound untuk satu kali panggilan selama 30 menit. 10 pound identik dengan 2 kali makan siang pada waktu itu.
Hampir setiap siang diri ini akan tertidur di taman Battersea di terik matahari yang merupakan cuaca yang terbaik di bulan July saat itu dengan mengobrol selama 30 menit setiap harinya di musim panas sesambil menikmati makan siang. Diri ini sangat merindukan suara wanita terbaikku,
“yang kamu sudah makan ?, makan apa ?”
kami akan membicarakan kembali soal keseharian, rutinitas yang menyenangkan sehari – harinya.
Ada kalanya waktu aku pulang ke kantor itulah saatnya wanitaku tidur. aku akan pergi makan malam, atau sekedar memasak untuk teman terbaikku di apartment, Jefferson namanya, masakan kesukaannya adalah sambal goreng hati dengan nasi biryani, selain sayuran dengan cah saus tiram tentunya. Pada waktu Jam 12 malam waktu London, aku menghabiskan beberapa saat untuk berkerja sesaat selama beberapa jam lagi, aku akan tidur jam 3 – 4 pagi seperti biasa. Diri ini biasa tidur cukup malam hanya karena itulah, wanita terbaikku sudah bangun dari tidurnya.
Aku teringat sering kali diri ini berangkat ke kantor dalam kondisi kurang tidur, dan berpacu dengan dateline yang keras. Seringkali juga perbedaan waktu menyebabkan, terbalik – baliknya waktu tidur hanya untuk bertemu sesaat. Hal ini berlanjut terus selama beberapa tahun kita bersama, aku hanya bisa menahan diri untuk tidak bersedih dalam penantian dalam perjumpaan, ketika kita terpisah. Senyum pun ada ketika kita berbicara sehari – hari dalam jarak yang mengukung..
Diri ini mengerti hal ini tidak mudah bagi kami berdua, namun kenangan – demi kenangan itupun terasa begitu indah. Diri ini merasa Satu tahap demi satu tahap sudah berlalu, seperti langkah dalam hidup ini, masa lalu meninggalkan kenangan yang manis dengan suka dan dukanya.
Ketika cincin itu saling dipasangkan dan janji pernikahan selesai diucapkan. Aku melihat wanita yang disampingku, dan aku tersenyum, dan bersyukur untuk kesabaran satu orang Laurensia yang terbaik di dunia, dengan kenangan yang terindah yang pernah diri ini dapatkan.
Kehamilan pertama …
Saat – saat yang terbahagia tentunya ketika mengetahui bahwa Laurensia hamil. Puji Tuhan, diri ini melompat kegirangan, diri ini akan menjadi ayah. Waktu seakan – akan terhenti dalam keheningan dan kesukacitaan. Aku sungguh mengucap syukur atas berkat yang diberikan.
Dari dokter, kita mengetahui bahwa usia kandungan laurensia sudah 1 bulan, kemudian 2 bulan, kemudian 3 bulan. Janin tersebut sudah memiliki jantung, tangan, kaki, luar biasa. Aku setiap hari berdoa supaya anak ini akan menjadi anak luar biasa dengan sifat baiknya untuk sesama. Laurensia berkata “yang aku senang seakan – akan ada yang hidup di badanku, meskipun aku pusing dan mual sehari – harinya, namun aku tidak sabar untuk melihat si baby setiap bulannya.” Pada saat itu aku teringat Laurensia muntah hampir setiap harinya, berat badannya pun turun. Wanita yang selalu bersyukur inilah yang aku yakin akan menjadi ibu terbaik bagi bayi ini. Tidak banyak orang seberuntung diri ini untuk memilikinya.
Diri ini berpikir Ayah dengan segala usahanya menempa dirinya sebagai tulang punggung keluarga, namun lebih luar biasa para Ibu dengan segala suka dan dukanya menempa dirinya dengan kasih yang luar biasa melalui proses kehamilan dan kelahiran.
Rutinitas
Ada kalanya aku bangun jam 6 – 7 pagi setiap harinya, untuk makan pagi bersama, mulai berkerja untuk mempersiapkan pekerjaan bagi staff kantor yang datang biasa sedikit siang. Kami akan makan siang setiap harinya, untuk kemudian terkadang aku menghabiskan waktu satu hari di kampus untuk sekedar bertemu dengan mahasiswa, untuk tutor singkat ataupun untuk memberikan kuliah, atau asistensi di studio arsitektur. Malam – malam kira – kira pukul 7 aku akan selesai dengan rutinitas pekerjaan ataupun rutinitas mengajar, dimana terkadang diri ini harus berkerja ekstra sampai tengah malam. Terkadang seperti saat – saat dahulu diri ini harus menahan kantuk untuk berkerja sampai jam 3 – 4 pagi atau tidak tidur sama sekali.
Secara rutin aku akan makan malam bersama setelah laurensia pulang dari klinik. Terkadang aku hanya tinggal di rumah bersama laurensia di hari sabtu dan minggu untuk menikmati kebersamaan di sekitar rumah.
Atau terkadang waktu yang tidak banyak dan kita juga pergi ke tempat yang itu – itu lagi, kegiatan yang sama lagi. Namun semua rutinitas yang terjadi begitu indah, sekali dijalani, ingin diulangi, terus menerus. Hidup ini terasa sangat menyenangkan.
Kantor terbaik di dunia …
Kira – kira setahun yang lalu di bulan November, firma DOT Workshop dibentuk. Suatu waktu diri ini ingat dalam perjalanan pulang dari Foster and Partners, bersama teman terbaikku, Albert namanya, kita bersenda gurau mengenai nama satu studio arsitek, studio arsitek yang baru, nama DOT Workshop pun muncul. Diri ini sendiri juga seringkali tidak menyangka firma arsitek ini bisa bertahan dan sedikit menorehkan prestasi sampai sekarang.
Seperti biasa kantor adalah satu tempat untuk berkerja, adakalanya ia dipisahkan dari kehidupan pribadi orang – perorangannya. Ada kalanya juga ia menjadi ajang pertarungan, kompetisi, pertaruhan karir, tempat eksistensi diri. Diri ini selalu merasakan dimana lingkungan kerja seperti ini, sejauh diri ini melangkah dalam perjalanan dari Singapore, London, Sydney, Jepang, Korea, ataupun di tanah air. Rata – rata diri ini berkerja 12 jam di kantor, ataupun kadang- kadang 16 jam di masa – masa dahulu. Dari kondisi yang ada, mimpi pun mulai ada untuk membuat kantor terbaik di dunia.
Apalah artinya sebuah nama, DOT hanya sebuah titik. Ada kalanya diri ini berkaca kebelakang. Bagaimana kita merintis firma ini dengan orang – orang terbaik. Mulai dari hanya 2 orang, kemudian berkembang menjadi 3 orang, kemudian tengah tahun kita sudah memiliki 6 orang, dan sekarang ada 12 orang di Firma DOT Workshop, seluruhnya orang – orang terbaik dan paling kreatif dengan passion yang sangat luar biasa. Tidak banyak firma yang memiliki keberuntungan dengan adanya orang – orang ini di dalamnya, yang saya tahu Foster and Partners salah satunya, oleh karena itu ia bisa berkembang menjadi 1500 orang dengan tidak mengorbankan ide – ide yang brilian.
Adakalanya diri ini tertawa – tawa dengan segala ide – ide yang kreatif di DOT, saat – saat di kantor menjadi salah satu saat yang terbaik dalam rutinitas yang ada. Di dalam satu tahun terakhir ini, DOT sudah mengerjakan hampir 80 pekerjaan, memenangkan 6 penghargaan desain, berkerja sama dengan developer – developer di Indonesia, mengerjakan beberapa project di Mexico. Kantor berkembang pesat dari 2 menjadi 12 orang. Kantor yang tadinya hanya berupa tempat kosong, menjadi tempat yang diri ini sendiri cintai dengan passion yang ada di dalamnya.
Melihat kebelakang diri ini serasa –tidak percaya dengan segala yang ada, Diri ini hanya bisa mengucap syukur atas segala yang ada, dengan penuh kerendahan hati diri ini mengucapkan terima kasih atas segala perjuangan DOT atas kecintaannya akan profesi yang diri ini juga cintai.
Resolusi Tahun Baru … hidup ini hidup biasa
Untuk menutup cerita di tahun kelima, diri ini akan membagi pengalaman yang tidak terduga, dengan pelajaran terbaik yang justru datang dari seorang supir taxi.
Supir taxi ini mengantarkan Laurensia dan diri ini dengan biaya hanya 50 pound dari kota London ke Stansted yang berjarak 1.5 jam – 2 jam perjalanan. Biasanya, taxi akan mencharge 80 pound. Namun hari itu terasa berbeda. Kami berbicara mengobrol panjang lebar, ia bercerita dirinya yang asal Saudi Arabia, ia adalah seorang muslim. Ia berkata,
Realrich, sekarang banyak orang membunuh orang lain mengatas namakan agama, namun mereka hanya lapar, Agama pun menjadi pelarian. Oleh karena itu setiap kali kami bisa makan sesuatu, kami akan berkata alhamdulilah, mengucap syukur, bersyukurlah karena pada hari ini kamu masih bisa makan.
Dan jangan lupa, berikan sedikit hakmu untuk orang miskin, bagi kamu mungkin itu tidak berarti namun bagi mereka itu akan sangat berarti. Ada dalam perjalanan hidupmu dimana semua menjadi sangat tidak pasti dan timbul keragu – raguan seperti yang dialami oleh banyak orang. Pada saat itu tiba, berderma lah, dan berdoalah, maka jalan akan ditunjukkan kepadamu. Dan itu akan membuka matamu, dan engkau akan menjadi cahaya bagi orang lain.
Dan untuk kekasihmu, jagalah ia, di masa – masa pertama, kalian akan saling menyesuaikan diri, yang terpenting adalah istrimu, [pada saat itu Laurensia tertidur disampingku], apapun yang diperbuat orang lain, apapun keragu – raguan yang muncul dalam hidup, jagalah istrimu, karena hidupmu akan terberkati dan hadiah yang terindah dari Tuhan yakni anak – anak akan tiba pada saatnya dimana kebahagiaan tidak bisa terukur dari uang semata.
Aku seakan – akan bermain – main dengan resiko dalam pikiran dan perbuatan, karir dan pekerjaan, masa lalu – masa depan, puisi masa lalu, dan tantangan masa depan. Pelajaran terbaik seakan – akan muncul begitu saja, tanpa terduga. Ku yakin Tuhan mengirimkan orang – orang terbaiknya untuk saling bertemu.
Diri ini seakan – akan bernostalgia dengan romansa, romansa yang menggebu – gebu di dalam hatiku, romansa dalam keseharian, romansa dalam tutur kata, sikap, dan perbuatan. Aku belajar untuk mencintai seumur hidupku, demi Laurensia. Wanita terbaikku. Aku belajar menghargai waktu, belajar menghargai kebersamaan.
Puji Syukur kuhaturkan akan tahun yang luar biasa dengan berkat yang berlimpah, hadiah natal yang sangat indah, kebersamaan dengan laurensia dan calon bayi merupakan berkat yang tidak ternilai,
Di akhir perbincangan kami, dia pun berkata,
“hey Realrich, do you know that good people meet good people, so don’t worry about life. Just do your best.”
pada waktu itu Aku pun tersenyum, dan bersyukur, saat itu Laurensia pun bangun, dan
aku menatapnya dan jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya.
The studio was joint workshop studio with the team of National University of Singapore led by Wong Chong Thai and team of University of Pelita Harapan consists of Tatyana Kusumo, Kartika Sari, Adi, Maria Vanessa, Raymond, and Jovita led by Realrich Sjarief. There were two reviews arranged in the studio which the first review was hosted by NUS in Singapore by Wong Chong Thai and the second review was hosted in UPH by having David Hutama and Ivan Kurniawan Nasution as guest reviewer.
The research project focused on student’s attention on understanding cities, as they are, the predictability of formal and unpredictability of the informal. The team chose Kampung Luar Batang:a precinct that supports old city centre of Jakarta and Alam Sutera precinct that is new upcoming development as the pilot project of joint collaboration studio. The studio consisted of main key actors of the urban design precincts between government, developer and student as urban designer and architect. In many ways, those locations resemble the location outcomes of business as usual paradigm, which resulted on core precincts, and supporting precincts, which are the area of marginalised worker. It consist mutualism relationship between each other include the marginalised workers require space to live, work and play. In a sense it needs one way to answer how far the equilibrium could be offered by one design scheme to bridge formal – informal, peri – urban, rural – city, desa – kota. The process in the studio was to find the answer of this question.
The first session of the studio was to generate urban design scheme and the second stage was to bring the urban design scheme to architecture proposal which in overall consists generating vision, and implementing the vision into several stages depends on the affordance of the situation addressed. Urban design projects vary in size from new town to more frequently, neighbourhood precincts and blocks of cities. Before the studios turned our minds to how a one scheme could be, sustaining our attention through all hours of the night, th
e act of drawing the diagrams, the grid, the buildings, trees, median strips and pockets of grass invited by the context is well written by the need of the people. The team studied by research the need of the people by interviewing, imagining, and doing research on architect’s paradigm. I believe that the strong argument is based on evidence. So the part of the studio was under standing paradigms that shape the city. In the studio 20 case studies and literatures were discussed to form the thinking of the students. It helps to gain understanding the architect’s paradigm that shape our city which focus on paradigm such as: empiricist, rationalist, neo-traditional, new urbanism, deconstructive city. The studio studies the paradigm that shapes our city from literature study, on site study.
The process of finding the answer is always interesting to see. The more interesting thing happened when the team tried to understand how the people try to adopt change and growth, maintains their sense of community. Finally the successful scheme answered that studio inquiry that there are many chances to blend the informal and formal, the poor and the rich, to collaborate with developer, government; architect should respond to investigate all of the opportunities. Which then I believe by doing so architecture will respond to the beauty of stitching the opposites.
Design Review session at NUS Singapore [Wong Cong Thai’s Team and Realrich Sjarief’s Team]
Team : Kartikasari, Tatyana Kusumo, Jovita Listyani, Maria Vanessa Yulianti, Adi Nugraha, Raymond Aditya
Presenting Kampong City’s scheme for ITDP Seminar
Presentation by Kartika At Jakarta Architecture Triennale 2012
Exhibition at Place Making Exhibition @ Dialogue Art Gallery
Pictures by Raymond Aditya, Ike Puspa, Realrich Sjarief
Features : 300 sqm floor plate integrated house on Ddouble Decker building system, Landscape with communal garden and swimming pool
Appointment: 2013
Construction Start: 2013
Completion: 2014
Area: 1500 m²
Client: Navies Naif
Principal Architect : Realrich Sjarief
Project team : Bambang Priyono, Anton Suryanto, Mahadiyanto Yayan, Donald Aditya, Randy Abimanyu, Andika, Giovanni Libels,
Management Construction : Djoko
Structural Engineer: Edwin Surya Agestha
Tulisan ini dipublikasikan untuk Majalah Ruang edisi ke 4
Saya tiba di NewYork dengan kapal laut sebagai seorang remaja, imigran dan seperti orang orang yang lain, saya terkesan dengan patung liberti dan horizon gedung gedung kota manhattan. Saya tidak pernah melupakan kesan tersebut. Dan proyek ini adalah mengenai kesan saya yang tidak pernah saya lupakan.
Itulah paragraph yang dibuat Daniel Liebeskind dalam narasi pembuka skema Word Trade Center yang dia menangkan dalam kompetisi Internasional yang diikuti oleh 5200 orang.
Dalam perjalanan hidupnya, seorang arsitek belajar untuk merasakan, mengatur, ataupun mencipta ruang dimana kemampuan tersebut seiring berjalannya waktu akan semakin terasah. Diskusi akan menjadi dalam apabila kita membahas latar belakang arsitek per-arsitek atau desainer per desainer. Desainer arsitektur atau architectural designer, ini padanan istilah apabila seseorang tidak mempunyai sertifikat sebagai seorang arsitek. Kita tidak akan membahas mengenai legal seorang arsitek namun latar belakang factual. Kita berhipotesa bahwa ada satu benang merah yang dialami oleh para arsitek tersebut. Benang merah yang bisa membuat kita belajar, tulisan ini pun adalah menjadi dasar untuk thesis selanjutnya, batu pondasi kalau ia bisa dianalogikan dalam satu bangunan.
Model lain yang cukup dikenal diambil dari 7 arsitek yang mempelopori deconstructivist architecture, dimulai dari sebuah pameran di museum of modern art yang dikuratori oleh Philip Johnson. Frank O Gehry peraih pritzker prize di tahun 1989. lahir di Kanada kemudian berangkat untuk bersekolah di University of Southern California school of architecture dan meneruskan di Harvard Graduate school of design. Lain dengan frank o gehry, Zaha Hadid lahir di Badhdad, belajar di bawah bimbingan Rem Koolhass di Architectural Association (AA) di London, berkerja di OMA kantor Rem Koolhas selama beberapa tahun sebelum ia menjadi partner dan membuka kantor sendiri. Salah satu figur lainnya dari 7 arsitek tersebut, Rem Koolhas lahir di Roterdam di tahun 1944, belajar di Architectural Association London sebelum mendirikan OMA bersama Elia, Zoe Zenghelis dan Madelon Vriersendrop. Kemudian arsitek lainnya Bernard Tschumi lahir di Lausanne, Switzerland, belajar di paris dan ETH Zurich dimana ia memenangkan kompetisi parc de la villete di tahun 1982. Arsitek – arsitek tersebut memiliki satu pola yang sama. pola hidup nomaden, berpindah – pindah untuk belajar kemudian terkulminasi dalam satu titik di hidupnya. Mereka lahir di suatu tempat untuk kemudian belajar atau berkerja di tempat yang memiliki budaya yang berbeda termasuk 2 arsitek lainnya Wolfgang Prix yang mendirikan coop himmeblau bersama Helmut Swiczinsky and Michael Holzer dan juga Peter Eisenman sebagai salah satu dari 7 arsitek tersebut. Meskipun ada arsitek – arsitek jenius yang memang bisa menetap di satu tempat dan kemudian benar – benar mendalami budaya, material lokal, dan pengetahuan membangun yang kemudian disintesiskan menjadi karya terbangun yang orisinal namun dari pengamatan singkat, perjalanan nomaden tersebut memberikan satu dampak signifikan dari perkembangan karir tiap – tiap arsitek. Pengembangan karir tersebut bisa dilakukan dengan berjalan – jalan, bersekolah, ataupun berkerja pada biro luar negeri, sebuah perjalanan nomaden untuk membuka mata.
Patut dicatat bahwa krisis ekonomi ada pada tahun 1987 dan 1988 yang kemudian berulang setiap 10 tahun dalam siklus krisis ekonomi. Krisis di tahun 1987 ini berkaitan dengan gerakan Dekonstruksi yang digaungkan pada akhir tahun 1980. Ada sebuah celah kesempatan setelah krisis moneter. Ketika ekonomi sudah mulai pulih, kesempatan – kesempatan bisnis datang dan peluang untuk arsitek untuk berkarya menjadi besar. Hal ini juga berlaku setelah krisis 1997 – 1998 dimana setelah perekonomian pulih, banyak biro – biro baru yang kemudian memiliki portfolio yang unik dan baru pada jamannya dilengkapi dengan brand marketing yang mampu diserap pasar, seperti kemunculan BIG, Lava, REX. Juga di Indonesia terdapat satu biro seperti Urbane Indonesia yang karyanya progresif dalam waktu kurang dari lima tahun menyabet peringkat 10 besar BCI Asia dan memenangkan beberapa kompetisi nasional. Uniknya orang – orang di belakang BIG, Lava, REX, atau Urbane Indonesia mengalami sebuah perjalanan dalam hidupnya yang kurang lebih sama dengan 7 arsitek desconstructivist. Yakni kesempatan untuk belajar , bekerja, dan berjalan – jalan di sebuah tempat yang berbeda budayanya dengan tempat kelahirannya dan mengalami hidup nomaden.
Satu Arsitek yang patut dicatat karena tidak memiliki latar belakang formal pendidikan arsitektur adalah Tadao Ando, peraih pritzker prize tahun 1995. Jauh sebelum menjadi arsitek ia adalah petinju, ia menghabiskan waktu – waktunya untuk mempelajari arsitektur barat dengan berjalan – jalan berkeliling dunia, menjadi nomaden dalam rentang umurnya 24 sampai dengan 28 tahun. Dalam kemiskinan ia bepergian ke moskow, finlandia, spaniel, italia, Marseilles, Madagascar, India, paris, vienna dimana ia melihat karya alvar alto dan michaelangelo sebagai sumber inspirasi. Ia kemudian ia memberanikan dirinya membuka prakteknya yang berkonsentrasi dalam perancangan rumah kecil dan sederhana. Di usia 35 Tadao ando kemudian mendapatkan penghargaan tahunan dari institute arsitek di jepang, sebuah penghargaan yang diberikan pertama kalinya untuk proyek rumah berskala kecil sebesar 65 m persegi. Pengalaman belajar menikmati arsitektur dari tempat – tempat di luar jepang dalam rentang waktu 4 tahun memberikan pengaruh yang besar dalam kesuksesannya tadao ando. Proyek nya berkembang dari rumah kecil menuju bangunan publik seperti museum ataupun baungan komersial tidak hanya di Jepang namun tersebar di Texas sampai Perancis dan Abu Dhabi.
Satu Arsitek yang patut dicatat karena tidak memiliki latar belakang formal pendidikan arsitektur adalah Tadao Ando, peraih pritzker prize tahun 1995. Jauh sebelum menjadi arsitek ia adalah petinju, ia menghabiskan waktu – waktunya untuk mempelajari arsitektur barat dengan berjalan – jalan berkeliling dunia, menjadi nomaden dalam rentang umurnya 24 sampai dengan 28 tahun. Dalam kemiskinan ia bepergian ke moskow, finlandia, spaniel, italia, Marseilles, Madagascar, India, paris, vienna dimana ia melihat karya alvar alto dan michaelangelo sebagai sumber inspirasi. Ia kemudian ia memberanikan dirinya membuka prakteknya yang berkonsentrasi dalam perancangan rumah kecil dan sederhana. Di usia 35 Tadao ando kemudian mendapatkan penghargaan tahunan dari institute arsitek di jepang, sebuah penghargaan yang diberikan pertama kalinya untuk proyek rumah berskala kecil sebesar 65 m persegi. Pengalaman belajar menikmati arsitektur dari tempat – tempat di luar jepang dalam rentang waktu 4 tahun memberikan pengaruh yang besar dalam kesuksesannya tadao ando. Proyek nya berkembang dari rumah kecil menuju bangunan publik seperti museum ataupun baungan komersial tidak hanya di Jepang namun tersebar di Texas sampai Perancis dan Abu Dhabi.
Salah satu karya tadao Ando, Church of light
Kalau kita lihat dari lokasinya bahwa Indonesia adalah Negara khatulistiwa dengan 2 musim yang suhu udaranya konstan sepanjang tahun. Sebuah Negara yang sangat beruntung dengan posisinya di equator dan memiliki tanah yang subur dengan kekayaan hutan tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Siapapun akan mengetahui Hal Ini sungguh berbeda dengan kota, letak architectural association, sebuah sekolah avant – garde penghasil arsitek kelas dunia yang ada di London, Inggris dimana cuaca yang ada tidak bersahabat dengan terpaan angin kencang sehingga musim dingin kita selalu merasakan wind chilled effect, dan sinar matahari hanya datang untuk menerpa suhu diatas 20 derajat hanya tidak lebih dari 4 bulan dalam satu tahun. Ada satu benang merah dari bagaimana letak geografis dan kondisi iklim satu Negara bisa memberikan sebuah masa adaptasi yang luar biasa, sense of survival saya rasa. Hidup di luar negeri menjanjikan pola hidup yang baru, lepas dari kultur bangsa kita sebagai bangsa Indonesia. Pola Hidup tersebut mengasah pola berpikir untuk bisa beradaptasi yang kemudian memberikan satu titik positif luar biasa dalam pengembangan diri pribadi. Selain itu Dalam percampuran budaya di tempat yang baru , para arsitek juga mendapatkan jaringan pertemanan yang luar biasa yang kadang kala akan saling terhubung dalam jaringan bisnis . Bjarke angels pernah berkerja di MVRDV, Zaha Hadid yang pernah berkerja di OMA, Prince Joshua Ramus yang pernah berkerja di OMA, Ole Schrehen yang juga pernah berkerja di OMA sebelum mereka membuat biro sendiri. Dalam Ikatan Arsitektur Indonesia prose’s untuk mendapatkan sertifikasi arsitek dibedakan menjadi 3 tahap, pratama dengan 3 tahun pengalaman, madya dengan lima tahun pengalaman, dan utama dengan 12 tahun pengalaman . Pengalaman tersebut menunjukkan kematangan arsitek. Seorang arsitek mengalami program sarjana, bachelor arsitektur di Indonesia 4 tahun ataupun di luar negeri selama 3 tahun, dimana rata – rata akan lulus di usia 23 sampai 25 tahun. Setelah seorang arsitek itu lulus ia membuka mata dan memulai perjalanannya.
Baik atau buruk hidup di luar negeri, menjanjikan satu fase dalam hidup yang signifikan dalam perkembangan karir seorang arsitek. Belajar untuk memulai perjalanan membuka mata.
Here it is, the publication of one of our work titled Tropical open house by the process.
The house is nearly finished. It has such a paradigm of rational way of thinking. One might say, it’s well thought by analyzing the lot of the land, the orientation of the sun and the issues of concern in daily life such as privacy, safety and the most important part, beauty. It’s a hard work of Singgih Suryanto as the leader of the builder, humbleness and kindness of Charles Wiriawan as the owner, and the total builders’ crew as main part of the collaborator. We feel fortunate to be architect of this project. Thank you for all the the best quality of the process.
We planned the trip to several cities in the United Kingdom. We traveled to Malaysia first before arrived at Stansted Airport. This airport is one of the magnificent works by Norman Foster that showed integrative architecture innovation. Foster and Partners-designed MEP structure was placed below the ground floor, so the idea opened the roof to be light and exposed. It was constructed as a modular umbrella.
This tree-like module is well integrated with the MEP system from water plumbing, HVAC, and electric piping. I saw the structure reminded me this approach of architecture over and over needs well-integrated engineering. In Indonesia, we don’t have this engineering ecosystem. Is it possible to exercise the lower technology using an empirical approach? This approach is a way to form new design thinking.
We arrived there at the nighttime, around 07.00 pm. I checked the public transport that there was no bus to the nearby hotel that We booked so we went there by black cab. We arrived at the hotel; the hotel is unique with its gable roof and modular structure. The bathroom was small but functional. We loved the linen because it’s hand-stitched. It looks like the owner put her heart into operating and designing this hotel. We were tired and slept that night. It was a good start, nice hotel, innovative airport, slept with crafty linen.
In the morning, we strolled to nearby lawns and areas and thinking of coming back for our last day in the United Kingdom. After that, we met the owner, she drove us to the nearby rail station. We commuted to London. I had booked several musical shows for Laurensia, such as Lion King, Billy Elliot, and Wicked the extraordinary green witch (the show that we always love).
We spent our day eating good food and meeting old friends. In the evening, finally I had a chance to meet with Jefferson and introduced Laurensia to him. He was my housemate in Stockwell. We were in the same group, same graduation show, same prayer group, and same house. We shared many good memories; he likes to cycle from office to studio, which I prefer walking. Sometimes he walks with me. We often had lunch together, English breakfast, chicken Tikka Masala, salad, Chinese food, junk food, or Indonesian food that I cooked for him.
Finally, he met Laurensia, and we talked about his experience in Foster and Partners. I shared some experiences in the garage studio. He was a great and passionate man in architecture. He dreamed about going back to the United States and shared his brother, who became coastal patrol. After two years, I Had not met him; he was still the same, like old Jefferson. I wish that I could visit him in his hometown, Connecticut.
Meeting Jefferson
We spent our day eating good food and meeting old friends. In the evening, finally I had a chance to meet with Jefferson and introduced Laurensia to him. He was my housemate in Stockwell. We were in the same group, same graduation show, same prayer group, and same house. We shared many good memories; he likes to cycle from office to studio, which I prefer walking. Sometimes he walks with me. We often had lunch together, English breakfast, chicken Tikka Masala, salad, Chinese food, junk food, or Indonesian food that I cooked for him.
Finally, he met Laurensia, and we talked about his experience in Foster and Partners. I shared some experiences in the garage studio. He was a great and passionate man in architecture. He dreamed about going back to the United States and shared his brother, who became coastal patrol. After two years, I Had not met him; he was still the same, like old Jefferson. I wish that I could visit him in his hometown, Connecticut.
Vol.3
Friendships
In London, I met many Indonesian Architect friends working for outstanding architects bureaus such as Design International, Zaha Hadid Architect. They are Kuncara Wicaksana and Alvin Triestanto, their couple also coming, Sally and Evelyn. A few years back, I remember I stayed at Elia Mews at Angel, near the small river with a beautiful modern apartment. I used to come there to sketch and enjoy the chill time. We are four people who stayed at Elia Mews. Andrew Tirta, who worked for Mark Barksfield, designed London Eye; Kuncara, Charlie, who worked for Accenture; Wisnu, and Melur, who studied economics and PR. I seldom meet them because of the challenging times with Foster and Partners. I spent much of my time at the workplace, showering at the office, working till late, and organizing work. They are good now and pursuing their dream. Interestingly I met Ronald, who was our junior high school friend. I hope we can meet again sometime in the future
Before this trip, Shyuan Kuee, my fellow friend at Foster and Partners came to our wedding with her husband. She was talented architect who found her firm kuee architects in Ipoh. I also hope the best for her. We are three with William who started our work in london and meet in the first time.
We traveled to York, Durham, and Edinburgh. In York and Durham, there are many ruins, castles. I got a book by Lewis Mumford there. There are many exciting books in some old shophouses about the city and its theory and case studies. I found out that the trip was relieving and relaxing. Then we went to Edinburgh, it’s a beautiful city on hills and connected by Nelson monuments and castles on top of its hills.
There is Scottish Parliament below the hill at the corner designed by Enric Miralles. This design is entirely arbitrary; it consists of small parti like leaves flowing around the hall. It’s like forming a plan of a traditional British city. It Reminded me of vernacular shophouses in Cambridge or bath.
The massing has skylights like leaves. The space inside is bright; the design can be predicted by looking and entrances that the door connects the flow with feels like a jungle. The sequence ended in the parliament seatings. The parliament was damn beautiful with its industrial joineries; it has the craft of glue-laminated timber forming flying buttresses. The detail repeated the leaf forms. The seatings were designed with timber as based, and it’s integrated with its centrifugal setting.
There is Scottish Parliament below the hill at the corner designed by Enric Miralles. This design is entirely arbitrary; it consists of small parti like leaves flowing around the hall. It’s like forming a plan of a traditional British city. It Reminded me of vernacular shophouses in Cambridge or bath.
I can feel the rebellion of forms in justifying flying canopy, a combination of dry and wet technique, and pattern facades like collisions of patterns. It’s interesting that somehow the pattern was disconnected, not in a predictable order. It’s actually the ability to combine stereotomic and tectonic. The tectonic is driven by multiple attempts of experimentation. And the stereotomic is about making a composition of natural form superimposed by axial lines that make specific shapes.
I can feel the rebellion of forms in justifying flying canopy, a combination of dry and wet technique, and pattern facades like collisions of patterns. It’s interesting that somehow the pattern was disconnected, not in a predictable order. It’s actually the ability to combine stereotomic and tectonic. The tectonic is driven by multiple attempts of experimentation. Meanwhile, the stereotomic is about making a form composition inspired by a natural shape. In the design, both two ways are superimposed by axial lines that make specific shapes.
I can interpret architecture from a regional point of view. It’s a combination of tangible and intangible aspects. Composition of plan that for the master plan is intangible. It’s like a work of art. But when you see the tectonic detail, how Miralles put the effort to crack down the form, space, and tectonic. It showed that this project is tangible.
I came out from this building wondering how regional, cultural, vernacular can be an inspiration for producing such avant-garde work that can symbolize Scottish.
Too bad I could not take many pictures, but here is the article was written by David Langdon. here
Then, we came back to London. Every moment that income To London, I always checked in to British Museum. It’s a courtyard with the library at the center, covered by modular triangulate biophilic form. The unique thing is how the form flows to the channel. The water and it’s still In the module. To execute this kind of project, Foster needed to calculate the construction, details, integration to other engineers.
Transit in Malaysia
We booked the not-so-expensive tickets, and we stayed in Kuala Lumpur for a day. We strolled at Petronas and ate many desserts. We love to eat small portions of food and tried many exciting foods.
Just Arrived at Stansted- be ready for the trip
This is when we arrived at the hotel in Stansted and had breakfast before enjoying the lawn. The hostel is at the center of the lawn, farm, river. It’s in the suburb. After that we went to London, luckily we met the hotel owner, and she drove us to the station which was quite far. The trip was about to start. Let’s go.
Flower to my Laurensia
London + Durham + York – with Laurensia
We spent few days in London before heading to York and went to Durham. We went to see the park, monuments, ate good food and enjoyed the Musicals.
Then we went to Edinburgh
Edinburgh – with Laurensia
Edinburg is interesting because it is adjacent to the sea and has a hill on the other side. It has a beautiful castle and plentiful parks. The climate is cold, and the scenery, city view was absolutely gorgeous.
Visiting Miralles’s work
Stansted – with Laurensia
We came back to Stansted and stayed in the same small—hotel as on day one. We felt hungry and tried to find food, and we walked for several kilometers on foot just to explore. Finally, we found this fine dining far restaurant.
Jewel at Stansted
We came back to Stansted and stayed in the same small—hotel as on day one. We felt hungry and tried to find food, and we walked for several kilometers on foot just to explore. Finally, we found this fine dining far restaurant.
The food was excellent, the best food ever that I had tried in the United Kingdom. It reminds me of my mom’s cook in English way of cooking.
This trip really made me love Laurensia, the little details that she had. She took care of me and enjoyed the travel. We bought a scarf for our parents, some souvenirs. I bought her a flower just to show my respect and give love to her for her care. She prepared many souvenirs to give to our relatives. She would put a note and did checklists for that. She kept asking me, “What are other architecture that you want to see ?” She knew that I couldn’t bear to not explore architecture in this new place. Even though I had been to London and several cities that we went to. It’s still new, and there are many things to learn.
This trip opened up my eye that there was something that drove Miralles. I believe that the design approach from his transformational. Architect Must deal with the city, he was born, which is Barcelona, so. Next time the next journey will be about retracing the Biophilic experience in Barcelona.
"Batik is a the process of writing a picture or decoration on any media by using the wax as a medium to coloring" (International Batik Convention in Yogyakarta,1997).
Therefore, in designing the “kampung batik”, the design focus on the process, stitching layer upon layer, combining the past and the future, making a harmonious design within cultures, people and the environment meet.
This competition was held by the local government of Semarang to proposed a new design and idea of the “Kampung Batik”. Kampung Batik is located at North Semarang city near the Old Colonial city of Semarang. It expected to become the center of batik , as well as a new tourist destination in Semarang city.
There are several issues during designing this Kampung Batik, they are the complexticity of the residential, lack of open space, and ownership of the building there. The realization of the design is expected to be inexpensive and can benefit all parties.
The design is divided into two phases, where at the first phase, the design propose minimal intervention to a few buildings and the neighborhoods, while continuing to raise funds. The second phase, the proposal offers new identity with the replacement of some buildings, building facades and the addition of a large canopy that stands out for the village. We also made some events proposal to maintain the continuity of the Kampung Batik.
Team Leader : Realrich Sjarief
Team: Randy abimanyu, David Sampurna, Morian Suspriatnadi, Andhang Trihamdani, Suryanaga, Maria Pardede, Indra DN, Mukhammad Ilham
Our marriage is the marriage between families, so we leave the preparation to our parents. They like to be responsible for the trial, such as food tasting, choosing the place for receptions what Laurensia and I focused on things that were close to us. Laurensia searched the bridal house that she liked, and she chose the one which is a simple and professional designer. It does not need to be a famous bridal house.
She picked her gown and asked me about her opinion. She liked the simple one, and it was a perfect fit for her. I spent days accompanying her to see her wearing the wedding gown. She settled the dress, booked the receptions, and set the holy matrimony with priests. Now, we need to take the pre-wedding days to document memories.
We took a picture on our pre-wedding day in place of our daily activities, her dental clinic, the garage office, and the street, including empty land near my parent’s house. Our preparation was straightforward and modest. I love the moment that captured our life because it shows the real us in daily routines.
Architect in Dentist Clinic 01
Dental Clinic
In her parent’s house, there is a small clinic. The common practice in Indonesia is the clinic is inside the dentist’s house. It’s private practice. Laurensia inherited her skills from her parents. Her father and mother are a dentist. They worked for the government until they were retired. Before I went back to London, she would check my teeth and prepared a medicine for anticipating when something went wrong in my health. She cared about the people around her, and she put extra miles into expecting things that could go wrong.
Architect in Dentist Clinic 02
Leave it to her
After I went back to Jakarta, I visited and drove her home after she closed her clinic. We would have a simple dinner, discussing works, friends, and new people we encountered that day. Each of the days brings details that we try to respond to with positivity.
Architect in Dentist Clinic 03
My lovely dentist
This is the picture that I like most taken by Javier and Kian. I dream about my everyday life, daily routines with my dentist. As long as my dentist is happy, I am so glad. We cherished this moment. She did make-up in this shoot, wore a dentist’s uniform, and a simple dress. I wore the yellow sweater that I used to wear in London. It’s our everyday life. When the dentist is happy, then I am glad.
In front of White House.
Usual day at our parent house
After that, we took the picture at my parent’s house. My parent’s house was unique because it has a combination of a traditional and contemporary home. The roof is a combination of the Joglo roof and gable roof.
The gate was white and had a particular entry on one side. Its architecture is open, warm, and ordinary, which makes Us like to picture ourselves here. Laurensia is going to move into my parent’s house because of the culture of the family. She is a dentist, will be a housewife, care for her family, and be the best mother in the world. Heaven is on every mother’s feet, so my mother will teach Laurensia how to help manage the family and our life.
In the middle of us, there is a dog named Maru or Happy. Laurensia’s dog accompanies her all of the time, greeting her in the morning, befriend her sleeping or eating. When there is Laurensia, there is Maru in her house. Maru is a toy puddle. In total, there are 4 puddles inside Laurensia’s home. In my home, there was a golden retriever. I had a Pomeranian dog before. From Maru, we can learn how to give genuine love without expecting anything in return.
In front of her, there is The hedgehog in picture, Syahrini lived in my architect studio. The cage was put at the corner, I would open the door, and the hedgehog will crawl out the cell at the knight time. It is a nocturnal animal. In the morning time, it would climb the cage and enter it from the top. We breed the hedgehog with a white one. And a few months later, Syahrini was pregnant and delivered an albino hedgehog baby named snowy.
We live by animals around us, from the fishes, dogs, rabbits, hedgehogs, turtles, tortoises, chickens. The animals become our daily friends and become sweet memories.
SummerEveryday 2011
Relaxing
2011
Mrs. and Mr. Smile 2011
LaughingHammock 2011
Enjoying Time 2011
Architecture World
The Garage Office
The architect’s studio is inside my parent’s garage. It has a unique door. This door consists of traditional Chinese shophouse joineries. I used inspiration from my grandfather’s shophouse in Lampung, Teluk Betung. We can open it, panel by panel. I peek from inside, and it has symbolical, triangle, circle, and combinations of rectangles forming T. The handle is white, and its symbol is created letter D O T. Every line starts from the dot and ends by the dot. It has the black circle from using traditional hinges like in the vernacular house. Its hinge used to be in a primitive cage which is functional and straightforward joineries. The garage is small, only 3 m x 10 m. It has black tiles, a gypsum ceiling, white-washed walls.
I repositioned the layout, doing experimentation, adding new kinds of stuff every week. In this small space, there are limitations. We changed The floor material from simple black 300 x 300 tiles, lighter paint on the ceramic, carpet, and later wood. I changed it layer by layer in consideration if we moved out, the condition could be back to normal. At this moment, I feel that limitation without losing ground. I love that, and we cherish that condition. Laurensia waited for me outside in this picture. When you open the door, it still resembles the circle. The circle means a family.
Outside the office, there was a red table tennis table. The line was white. I drew the outline of the cities in the acrylic panel as a net. In the background, there are sketches, panels, pinup board, materials. I realized it is the culture of the architect’s studio. We put Syahrini The Hedgehog cage at the corner of the studio.
Laurensia and Me | Time at the Studio
Time at the Studio
I spent much time in the studio. The studio’s background was showing the activity. The studio space can be my desk, meeting room, presentation room, exhibition room, library, or even room for chill out. It has profound memories. I would spend more than 12 hours here. Sometimes Laurensia just came to bring food, and we talked in the studio. She was around me, I felt happy.
WHAT’S YOUR FAVOURITE INSPIRATIONS ?
Architecture Life
MUCH TIME IN STUDIO
I spent much time in the studio. The studio’s background was showing the activity. The studio space can be my desk, meeting room, presentation room, exhibition room, library, or even room for chill out. It has profound memories. I would spend more than 12 hours here. Sometimes Laurensia just came to bring food, and we talked in the studio. She was around me, I felt happy. We took the pictures in our architecture studio, showing time-lapse that doing architecture is a marathon, and she is waiting for all of the time with patience and love.
I love to read and write. Under the book, you can see many small pictures of my assistants in the studio. I framed them and put them inside the studio. I love them and would like to see them growing. On the left, you can visit our fishes, Ariel and Luna. The room has a unique window seat, I put carpet so people can sleep, step on it, and it evolved to be a small working space with corridors behind. The room is small but lovely. I love the intimate corners. I collected architecture books because I believe much wisdom that I can get from distance learning. We would relax in the studio, chatting, discussing, and talk about our activity. She reminded me every day, made me remember that I have to go out and see another thing other than in-studio that architecture is so beautiful outside. Many inspirations are waiting to be seen.
We changed clothes into formal ones and took a picture. This moment of making me grounded is what made us laughed that time is limited. We wore white, and Laurensia’s dress was beautiful. It’s simple, neat, elegant, and casual. She has a beautiful tiara.
She has prepared a balloon from the local seller in front of our high school. Javier and Kian said, “let’s go out!”
Time is limited. She is the one that made me down to earth…
Outside Dentist and Architect’s Studio
Outside World with Colourful Balloon
After that, we spent the evening playing with balloons and folded bicycle from my mother. Javier and Kian, the photographer, took pictures of us. We picked the corner that is quite far and tranquil, so the neighbors looked at us and stared at us wh we weird looking. “This couple taking pre weed on the street.” It’s uncommon, and that’s what I like about it. My mother is the leader of the district. She is swamped helping people daily. She had a meeting with another leader to discuss flood, landscape, neighborhood farm, maintaining security. She has an inclusive attitude with other people, and you can see the street is clean and well organized because she kept it as her own garden. It’s the background of our pictures.
The setting was beside a small river in our neighborhood. The picture idea was about us catching dreams and giving harmony. In this picture, Laurensia pulled me to the ground, and We drove the bike together, only both of us. We learn cycling by learning to do it repeatedly, then we can do it and never forget it. It’s quite the same in doing relationships. We keep improving, to be better couple day by day.
Now it’s our world. We took several pictures, Javier and Kian did some Magic, capturing expression, and the result was priceless. I remember when I did sky diving in London. I need to prove that I am able to walk outside my comfort zone, but at this time, I do it together with Laurensia.
Now it’s our world. I remember when I went sky diving in London. We took several pictures, Javier and Kian did some Magic, capturing expression, and the result was priceless. I need to prove that I can walk outside my comfort zone, but at this time, I do it together with Laurensia.
At the end of our work time, we talked at the dining table, discussing several matters such as friends, works, and things that we like to explore and travel. We had the idea to set the picnic at the treetop in front of the studio. It was a lovely and timeless moment. We have beautiful pictures; what made it enjoyable was the moment captured in our parents, including her very close dog. One is a heartwarming experience. We want to experience it repeatedly, and it feels like I know her from the past life. I love her.
This week, I have been really busy day by day for sorting what needs to be done for our marriage. today I’m so grateful because I’ve just finished designing website for laurensia. Visit the link www. real-laurensia.com if you have time to see it. I’ve been learning how to make this last week. even though not perfect enough, have a look and give us comment, we will be very happy. Other part is, I’m really busy sorting the invitation for our marriage and putting together pictures for our ceremony, writing the label by label inviting friends, family who are like brothers and sisters to me.
just really tired, probably it’s time to go to bed, tomorrow morning at 6.00 am have to accompany laurensia to doctor for check up.
Culture, which we have seen in our daily life sometimes is just taken with no granted. everybody should accept it, more people said that we have to remember our culture to avoid faceless community, one community without any culture. That is arguably true but sometimes we forget behind culture, there should be love that becomes signifier of what we’re doing. We’ve got so many problems in our life. Problems of relationship, your career, your dream.
I believe in one truth, which is …. give the unconditional love to everybody. The world is going to be more wonderful place and beautiful place for all of us.
this is a really beautiful clips. See it and what do you think ?
Jim Collins wrote wonderful text, hopefully this will colour your vacation happy holiday …
“Apakah anda termasuk landak atau rubah ?
dalam karangannya yang terkenal”The Hedgehog and the Fox”, Isaiah Berlin membagi dunia menjadi landak dan rubah, berdasarkan pada dongeng yunani kuno, “Rubah mengetahui banyak hal, tetapi landak mengetahui satu hal yang besar.” Rubah adalah makhluk yang cerdik dan licik, mampu menyusun banyak sekali strategi yang kompleks untuk menyelinap dan menyerang landak. Selama berhari – hari rubah mengelilingi sarang landak, menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Cepat, rapi, cantik, kakinya cekatan, dan ahli rubah tampak sepertinya pasti menang. Landak, sebaliknya, adalah makhluk yang lebih tidak rapi, tampak seperti perpaduan genetis antara porcupine (semacam landak) dan armadillo kecil.
Landak berjalan dengan badan bergoyang – goyang, melewatkan hari – harinya yang sederhana, mencari makan siang dan memelihara rumahnya.
Rubah dengan cerdik menunggu dalam keheningan pada waktunya di jalan setapak. Landak memikirkan urusannya sendiri, mengeluyur langsung ke jalur rubah. “Aha, aku mendapatkanmu sekarang!” pikir rubah. Dia melompat keluar, berlari, secepat kilat. Landak kecil mencium bahaya, mengangkat kepala dan berpikir, “mulai lagi, apakah ia pernah belajar?” menggulungkan diri dengan sempurna menjadi seperti bola kecil, landak menjadi seperti bola dengan duri tajam , ke semua arah. Sang rubah, sedang melompat ke arah mangsanya, melihat pertahanan landak dan mengentikan serangan. Mundur kembali ke dalam hutan, rubah mulai memikirkan serangan baru. Setiap hari, beberapa versi dari pertempuran antara landak dan rubah ini terjadi, dan walaupun rubah menjadi semakin cerdik, landak selalu menang.
Michael kamu, anak muda jaman sekarang, berbisnis, tanpa etika, tanpa nilai …
Kalimat ini terlontar dari nada bicara diri ini yang meninggi di suatu malam jam 11 di minggu pertama di bulan agustus tahun ini. Klinik gigi laurensia sedang ada masalah.
Ibaratnya…
ada seorang tukang mie, ia merintis dari awal, di daerah yang kosong tanpa ada tukang mie sedikitpun. Ia mengurus ijin dengan preman setempat kemudian meracik mie khas buatannya sendiri. Resep diolahnya dari pengalaman bertahun – tahun dengan keringat dan resiko. Setelah beberapa tahun, lapak mie itu menuntut untuk diperbesar ia pun menambah orang dan menambah stok bahan dasar mienya tanpa mengurangi kualitasnya. Namanya pun mulai tersebar kemana – mana dan klinik itu pun semakin ramai. Ia pun bersyukur, sama seperti tukang mie tersebut laurensia pun bersyukur.
Lapak mie semakin besar, permintaan pun bertambah, kemudian tukang mie tersebut memutuskan untuk mendidik satu anak muda. Ia tertarik mendidiknya karena kejujuran anak muda ini. Setidaknya tukang mie tersebut mendapatkan impresi tersebut dari anak muda ini. Beberapa bulan berlangsung seperti biasa, anak muda ini semakin ahli dan tukang mie tersebut bangga dengan anak muda ini. Ia pun dididik bagaimana berhubungan dengan preman – preman setempat. Namun suatu waktu tukang mie tersebut memutuskan untuk membuka cabang baru, anak muda ini menolak untuk ditempatkan di cabang yang baru. Tanpa disangka – sangka anak muda ini mendapatkan investor kemudian mencoba menggusur tukang mie tersebut dengan melobi preman lapangan parkir tempat tukang mie tersebut berada. Ada satu pertanyaan
“kenapa harus menggusur tukang mie tersebut ? bukan di tempat lain.“ ada 1000 tempat baru di seluruh kota ini… kenapa harus di lapak ini.
Ahh ini saya berpikir, mungkin karena peluh keringat yang dihindarinya, resiko yang diminimalkannya, uang yang jadi prioritasnya dan hubungannya dengan tukang mie tersebut yang tidak lagi dianggap penting. Saya kita anak muda tersebut hilang arah.
Saya rasa ini sama seperti diri ini membuka biro konsultan arsitek pertama kali. Dulu diri ini pernah berkerja di Urbane selama satu tahun kemudian selama hanya 3 bulan menjadi kembali untuk membantu disana. Diri ini juga pernah berkerja di DP Architects Singapore, tempat satu perusahaan tersebut banyak mendesain mall – mallnya di Indonesia. Diri ini juga pernah berkerja untuk Norman Foster di inggris.
Saya sendiri pernah merasakan pedihnya mencari – cari pekerjaan semasa pulang dari luar negeri, ataupun masa2 selepas keluar dari Urbane beberapa bulan kemarin. Laurensia menemani untuk ke bogor pada suatu ketika, dimasa itu proyek yang ditangani di kantor hanya hitungan 1 sampai 3 jari dengan keuntungan yang sangat rendah, saya sendiri tidak digaji pada waktu itu malah berhutang kesana kemari. Dari bogor kita tidak mendapatkan apa – apa. Kita menghubungi relasi – relasi berpuluh – puluh kali dan kita juga tidak mendapatkan apa – apa. Dengan pengalaman berkerja dari Bandung, Jakarta, Singapore, Inggris, australia tidak pernah diajarkan bagaimana mulai membuka usaha. Dan semua berbuah nol.
Pencerahan datang justru dari teman – teman lama dan developer2 lama yang bertemu mendadak di jalan, tidak memiliki kepentingan apa – apa. Satu demi satu relasi bisnis terbentuk melalui good will dan good quality sampai dengan 100 lebih pekerjaan ditangani dari titik nol dalam jangka waktu kurang dari 10 bulan sejak awal terbentuk. Melihat perjalanan dari titik nol tidak pernah saya mendatangi klien – klien dari perusahaan tempat saya berkerja dahulu untuk menggusur pekerjaan urbane, dp architect ataupun foster and partners. Saya percaya setiap orang sudah ada rejekinya, sudah ada hubungannya tersendiri, dan memiliki caranya tersendiri. Wajib hukumnya ketika bertemu satu pekerjaan, kita bertanya, apakah sudah ada arsiteknya ? sama seperti dokter, yang memiliki kode etik, harus menghormati dan menghargai kolega kita sendiri berdasar satu kode etik yang sama. apabila sudah memiliki arsitek, selesaikan dulu perjanjian anda dengan arsitek sebelumnya, baru kita bicara kerja sama. Sebaiknya tidak pernah sedikitpun kita berbisnis tanpa etika. Hubungan dengan perusahan – perusahaan tempat kita bekerja dahulu pun berlangsung dengan baik.
Di masa sekarang ini dimana manusia sudah hilang nilai dan terbutakan oleh mata uang, kita kehilangan nilai – nilai moral yang menjunjung tinggi penghargaan atas sesama, mimpi untuk kebersamaan yang indah dengan sesama.
“Orang harus punya etika.” Dari situ ia bisa dipercaya ketulusannya, “orang harus punya integritas.” Dari situ ia bisa memiliki nilai diantara sesamanya. Saya rasa banyak hal seperti ini terjadi dimana – mana. Hanya saja kebetulan peristiwa ini yang terjadi pada laurensia, pada akhirnya aku pun tertunduk sedih melihat satu orang di hadapanku satu malam itu, michael, dokter gigi yang dihadapi laurensia.
Diri pun angkat berbicara, setelah beberapa saat diam. Aku berbicara kepada anak muda di hadapanku
“mungkin hubungan kita sedang ada dipersimpangan dimana memang saatnya kamu harus memilih, hubungan yang tulus, teman setulusnya atau hubungan yang didasarkan pada untung rugi. Dan pada akhirnya. Michael kamu anak muda, baru lulus, mau berbisnis, tanpa etika, tanpa nilai.. sampah.
Dua malam setelah itu, setelah tangisan demi tangisan, laurensia bilang ke diri ini, “sayang aku kasihan liat dia, apa ya isi pikirannya. Dia ngga punya ayah, mungkin dia butuh bimbingan.” Dalam hati aku menghela nafas, “benar juga” namun,.. aku bersyukur sekali punya malaikat kecil satu ini, laurensia.
Malaikat yang akan mewarnai hari – hari ke depan diri ini, sepenuhnya. Puji Tuhan. … terima kasih Tuhan…
ketika manusia menghargai keindahan, ketulusan dan kebaikan dengan penuh kesabaran dan usaha, kita semua percaya pasti akan ada jalannya..dengan doa dan penuh pengharapan…
the office is really busy at the moment, we’ve got numeruous commissions from several clients. They have been supporting the office so far. But in terms of architecture, I was thinking our design should be fresh. it refers to idea. yes, the idea should be fresh. what is fresh, fresh is innovations, dare to change, dare to lose, dare to invest. I was thinking about the the rational of Murcutt’s idea of responding the climate to architecture, one that shouldn’t be missed that is the inspiring space within. I think every people deserved for a great place to do anything in any circumstances. And I think it’s our obligation, to rethink, to inspire people not only by words but also fundamentally by real works.
we are working on two resort at Bali at the moment. If we look at Bali, the place has deep culture laid among the people. Even though we are now in the present colored by rationalism and modernism which has generic quality, and faceless culture, in Bali we feel the spirit of the place which make we love the place, and the culture preserved.
we just won 1st prize of limited competition office of Bank Indonesia at Mataram. Working with such creative people in the office creates the incredible happens.
Kami mencoba melihat realitas yang ada, pencarian sebuah kondisi dan pertanyaan, di manakah klien yang mau untuk dibuatkan rumah tanpa pintu, dan yang memang tidak mempunyai pintu di dalam rumahnya.
Melalui diskusi yang intensif dalam iterasi desain kami menduga bahwa pasti ada rumah yang secara harfiah tidak menggunakan dan mempunyai pintu. Bahwa kemungkinan rumah tanpa pintu tersebut ada di daerah informal karena mereka ada di daerah ruang publik, tanah yang tidak mereka punyai.
Kami melakukan penelusuran ke kawasan informal di daerah Jakarta. Penelusuran mencakup daerah jembatan, daerah pembuangan sampah, dan daerah pinggir rel kereta api. Setelah observasi yang dilakukan dan wewancara. Kami menarik kesimpulan bahwa memang sudah ada rumah tanpa pintu, yaitu rumah yang dekat dengan kemiskinan. Memang ia tidak memiliki pintu tapi ia juga memiliki salah satu syarat untuk tidak memiliki pintu yaitu memiliki aspek kemiskinan.
Menurut Oscar Lewis “Kemiskinan didefinisikan sebagai gaya hidup yang bersifat integral, di mana terjadi bentuk-bentuk tertentu dari penyesuaian dan partisipasi terhadap dunia yang ada di sekelilingnya.” (Oscar Lewis). Oleh karena itu kami meyakini bahwa masyarakat miskin adalah masyarakat yang kreatif, dalam keterbatasannya mereka tetap mampu menginterpretasikan lingkungannya. Mereka bisa tinggal di tempat-tempat yang tidak terpikirkan sebelumnya, atau di tempat-tempat berbahaya. Mereka memanfaatkan berbagai hal yang mudah mereka dapatkan untuk membantu kehidupannya. Pola ide bertahan hidup seperti inilah yang menjadikan kemiskinan adalah sebuah kebudayaan, yang banyak berkembang di perkotaan.
Kita ambil contoh kota Jakarta, kota yang menjadi tujuan banyak orang dari desa untuk mengadu nasib. Sebagian besar penyebab kemiskinan di Jakarta adalah urbanisasi. Karena keterbatasan modal dan mahalnya biaya hidup di ibukota, mereka akhirnya menempati rumah, jika-boleh-dikatakan-rumah, temporer di sudut-sudut kota. Tempat huni ini biasa berada dekat dengan air, dekat dengan sumber pencaharian, atau di ruang-ruang sisa.
Melalui berbagai observasi, kami menemukan rumah tanpa pintu. Rumah dimana mereka benar – benar tidak memiliki pintu. Mereka tidak memiliki kuasa untuk mempunyai pintu. Ruang itu terjadi begitu saja. Terbentuk dari barang yang ada. Sebagai potret realitas kota besar Jakarta.
Bahkan eksistensi mereka pun dipertanyakan, Inilah proyek yang akan kami buat, kami menemukan klien. Sebutlah nama mereka Pak Ari dan Bu Sri. Mereka punya dua orang anak, dengan penghasilan dibawah 50000 rupiah satu hari, mereka tidak mendapatkan tunjangan dari pemerintah, dan mereka mencoba bertahan hidup untuk bisa makan setiap hari.
Yang penting bagi mereka adalah rumahnya murah, mudah dibangun, dan hemat energi. Lahan mereka cukup besar karena merupakan lahan bersama dengan kerabat yang lain. Mereka ingin rumahnya dapat digunakan oleh kegiatan bermain anak-anak kerabat atau tetangganya. Untuk itu tanpa pintu menjadikannya mudah dimasuki dan memberi kesan “mempersilakan”. Bagi mereka, dunia publik dan privat hanya ada pada waktu buang air.
Proposal ini menciptakan kondisi dari beberapa opsi desain dan kondisi dimana ruang yang sangat efisien, dan hanya 1 tipe studio dengan 1 kamar tidur dengan beberapa akses. Penghuni rumah ini bertindak sebagai penjaga rumah dimana tidak ada ruang tamu. Hanya 1 buah kamar tidur. Tidak ada isu keamanan.
Proses pencarian ini membuat kami untuk melakukan refleksi mengenai kehidupan dan pesan moral terhadap proses hidup kita sebagai manusia.
We have several activities in the office and celebrate every moments whatever it is. That moments make our life valuable, that’s what we live for. what do you think
Valentine 2010 : Celebrate love
Love Everywhere, Everytime – Entertain people with music
You know me so well – music is for all people
Meeting with bahasa sunda
Pecha Kucha at Bandung Organised by Deddy Wahjudi and crews
This project is located in University of Indonesia area, Depok. The programming of the function keeps high constraint of the building’s density for 8 storey height. The problems then synthesized the solution to have a place to be social. DOT Workshop proposed the hexagon form which then responds to the activity of the people using the place, a function that is encouraging 2 ways of learning, for the students and for the lecturer. The hexagon proves to be aesthetically challenging, efficient in plan, and could be built module by module.
The design proposed a unique atrium proposing a concept of vertical neighborhood which encourages interaction between people, remembering this is an education facility, and this place should be a place for people learning from people, people sharing for people, and people keep relationship with people. The terracing balconies extruded from the façade creates self-shaded device which the combination creates roof garden that is the place for people for enjoying fresh air.
The concept of allowing the fresh air to circulate divided by 2 concepts, the first one is creating cross air circulation through the opening of the roof garden and the second, is allowing air stacking system by introducing chimney at the top floor.
The façade designed carefully by studying what does work for preventing direct sunlight. The solution is specifically located by open the wall to the certain size horizontally then the expression is purely functional and beautifully crafted by nature. Thank you for Andhang as a leader for team. It is such fantastic work.
Team Leader : Realrich Sjarief
Team : Andhang Trihamdhani, Indra DN, Bayu Prayudhi, Silvanus Prima, MorianSaspriatnadi, David Sampurna, Anastasia Widyaningsih.
I’m writing this as a compliment for all of the efforts given by all of the most talented assistants, internship, seniors at my office who assist me in past projects. They were the people at the design firm that leaving the firm which I named R A W [Real Architecture Workshop] Architecture.
“People come and go”. People learn and practice. People known and make camaraderie.
They will go to the new place, it’s a journey to the unknown. Not everybody does that, one people might stay and live with the office, enrich the office to bloom even bigger but some people would choose to go because their particular personal reason or their future career. Some people will work in Singapore, Thailand, Hongkong, Malaysia, or Indonesia, or even United States, United Kingdom, Europe, wherever we work, it’s one adventure, it’s priceless.
To be honest I couldn’t let everybody go, the memory of all of the people collaborate is always a treasure. I really hope that this office can grow bigger as the pure intention is to give the best place for live, work, and play for the staff inside whatever your background is.The intention is to get the best person collaborate here and they are the best. It’s a roseto.
That’s why some people said I always said not about one single person in one architect firm but the best asset of the firm is the people.
It makes me contemplate on what’s the meaning of the office then ? while it can’t provide the long lasting learning of the staffs here, people might go anyway ? or probably it’s a journey of every person in this universe might call. At the end my firm is just a place for learning. I hope it’s the best learning place in the world for you all where it stays humble, stay passionate like a fresh students, and stay connected like what the dots mean. An absurd place like what we believe in einstein’s quote.
Thank you for your best effort which is not only done for me but for yourself. Please stay connected, hope we can work together again. I’m sad but life must go on, go and break the leg :) Let me know if someday you need my help.
My Dream Team, spread your wings :
Meirisa Trinkawati, Elvira Sandjaya, Satria Putra, Dicke Nazzary Akbar Lubis, Tika Novis, Primaldy Perdana, Anastasia Widyaningsih, Silvanus Prima, Lia Kurniadewi, Morian Saspriatnadi, Indra Dwinugraha, David Wibowo, Suryanaga, Bayu Prayudhi, Tony Hartanto, Refano Citra, Bismo Prakoso, Andhang Trihamdhani, Rudiyanto, Soraya Khaerunisa, Emmy Ulfah, Randy Ramadhan, Maria Vania, Christiandy Pradangga, Donald Epiphanius, Apriani Kurnia Sarashayu.
Intern : Indria Nidya Fatmala Warganegara, Winda Herliana Januar, Iduy Abdullah, Vincent Edson, Endy, Liana Sastro, William Sutanto, Gery Dwi Samudra, Andhika Putra Perdana, Giovanni Libels, Hardianto Agung Nugroho, Amanda Gracia, Devina Cinthya Pratiwi, Galih Adityas, Okta Lieftiani, Cornellia Debrina, Haryo Ruriandi, Harry Kevin, Lioner Octo Gurusinga, Gavin Gunawan, Fransiska Yuanita.
Designing mixed use is not easy. It’s arguably one of the most difficult projects in architecture especially if it contains more than 2 components like retail or apartment or hotel or office stacked into vertical mixed use. In order to succeed we have to think for each function. We need to know each pattern for each function then trying to make those works by arranging into beautiful site plan. Beside aesthetic need there are also important components, one is circulation, another is open space and the third is function. By submitting the final work, and finish the real high quality works like I have seen, all of you already have passion in Design. The mark which was given to you represented hard works result and product works, be proud!
Train yourself, and be patience to be good architect, the good result might follow you, learning architecture needs time. It’s different that other discipline, it’s not purely rational like mathematic or physics, and it’s not purely emotional like art or making poet or drama class, it’s magical. You have to experience it! In this case some architects failed the brief because of the will to show a signature without solving the real problem. Remember beside the entire your own individual signature thingy, the objective rational has to come forward, the reason and the background of each design decision is the most important!
Some of you probably will work in prestigious architect firm in Indonesia or Asia or even world class architecture firm. Some of you have produced more than you can produce, maximize your limit, and aim to get highest result in your work in whatever cost with positive attitude. Those certain attitudes will carry you to be a really good architect and bright future. Those positive attitudes also will carry you forward with your work attitude with your senior, peers or even your own clients.
A Studio is like only simulation of real world which brought forward with the highest standard from real empiricist experience or sometimes an experimentation of ideas. To be experimental is good and to be thoughtful is a must! To be thoughtful architect is not easy, it consists of thousands times of trying what works and what does not work. Some architects decide to be empiricist or rationalist. It’s a decision made by yourself, whatever you decide, you work will affect people that use the space, everyday started from the project finished built so you have social obligation as well. Don’t forget it
Individual Comments
Mario, you have really strong technical skill which I consider you have one of the best technical skill among your peers. It will be great advantages for your future career. You have also unique way delivering your product which that make you really special student Your creativity has been seen during the design process in problem solving. Sometimes there were tendencies to show certain signature which arguably appropriate for design optimization. Do Learn, and be proud of what you have done.
Yuni, you have a real good passion in design. It showed from design studio process which I appreciate it really much. For architect, we need times of learning and thousand times of trying what works and what does not work.You have a excellent foundation of self long life learning. You have tried to study your building in terms of rational dan empiricist world. The must do is solving the real problem which we always innovate to bring in creativity to architecture.
Daniel, you have to compare your first model to your latest scheme. You have progressed so much. Be proud! You have a strong and unique skill of form making, some architect can call it sexy form, special signature, or else. Above all of that the invention of finding the rational behind the each design solution is the most important. By looking your latest design, you have understood the logic of how mixed use typology works.
Michele, you have a strong set of positive attitude and strong logic in your design. Good mixed use is a mixed that works in terms of retail planning and other functions. Rida sobana congratulate you for your scheme because your clear understanding about rational that forms your scheme. I congratulate you with big A mark for your final scheme and process. You have the most progressive process among your peers, that is the best. I hope you always do this in every design process you might have. Be proud Michele,
Yusuf, you have good rational in forming your scheme. You have tendency to neglecting design process at the beginning but at the end you perform really well. Be proud! You have solved the problem of the city by introducing bold idea in your open space, good. Even though there were critics that showing your design is too bold but in terms of rational paradigm, that is the right way to do. I believe you have learnt set of rational during the design studio, always improve that. And open yourself to your own long life self learning. Learning Architecture takes time.
Vincent, you gave a gesture of wildness or uncontrollable design decision during the first month of your design studio. We need a logic to form a design in mixed use planning because the complexity of the program. Look at the various mixed use precedents! Remember this. Nevertheless you have progress so much, you have found the rational in your latest design. Even though the retail planing is arguably works but it shows a progressive idea that could be a cutting edge mixed use. Remember all of your effort and progress, it’s huge progress and fruitful at the end.
Liana, you struggled from the beginning until the end of the process but at the end you prove that the design could works. It’s one of the most difficult approach among your peers, but you solved the design elegantly.remarkable. The hard works resulted. Even though You have weakness in your technical skill that you have to overcome , improve it your design will be more thoughtful. You have a good emotional and positive attitude on your design progress, believe me it will be your cutting edge skill to your competitiveness.
William, no doubt that you have a strong set of skill to be thoughtful architect. The design has been brought forward to the real high quality. It works in term of retail planning and good concept of overall scheme. From massing to detail. Rida sobana gave you a real good applause, be proud and enjoy your hard works. I gave u big A mark for you effort of process and product.Learning architecture takes time, no special skill to learn it, find a good place to learn, enjoy it like you love it. Hopefully you will become someone you are master of thought and keep your positivity.
Handoko, you are the one who gave the correct approach of mixed use at the beginning. Even though you have difficulty if technical skill but you have a good attitude to improve your skill. I am surprised of your progress, I believe this design studio will create a good understanding foundation for your skill. always remember about the precedents, how to take the best use of the precedents.
Diri ini teringat betapa sudah beberapa puluh anak – anak yang ada di studio, dari dahulu hingga sekarang menemani malam – malam pembuktian yang panjang dan jam – jam workshop yang melelahkan. Saya seringkali menanyakan apa saja yang akan membuat orang- orang terbaik untuk tinggal di studio. Professor Danisworo membisikkan suatu waktu di acara archiworx, “Realrich, arsitek itu dasarnya adalah makhluk yang independen. “Pada saat itu pak Danis bercerita mengenai pengalamannya pada waktu membentuk Encona dan PDW dan dikelilingi oleh orang –orang terbaiknya yang datang dan pergi.
Pada waktu itu diri ini diselimuti pertanyaan kira – kira apa yang membentuk biro arsitek ini seharusnya. Budaya apa ? berpikir melalui kepala ini tidak keluar juga ? merasakan dengan hati juga tidak ada hasilnya ? menurut saya cerita ini justru muncul dengan adanya satu pencarian, refleksi mengenai apa sih rahasianya. Apa sih rahasia yang terbaik untuk meracik satu studio desain, selain tentu saja pengetahuan membuat ruang penuh filosofi, dan functionally beautiful dengan dimensi akan aktivitas dan performance yang terbaik dari aktifitas tersebut. Salah satu kunci bertanyalah pada batu bata, sensitiflah pada material, begitu catatan Kahn dalam intonasinya secara filosofis.
Pada bulan ini Maret 2012, seluruh pegawai kantor berjumlah 18 orang. Tidak termasuk dengan tukang – tukang kayu ataupun tukang listrik, tukang batu yang digaji perharian. Sangat kontras dari dua tahun yang lalu yang kita baru berjumlah 2 orang. Pada saat ini baiknya kita merenungkan sejenak apa cerita dibalik layar dari studio kecil ini. Diri ini mencoba berhitung secara total kira – kiraada 180 pekerjaan dalam satu tahun setengah ini. Sebuah angka yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat membutuhkan beribu – ribu jam untuk bisa menyelesaikannya. Pekerjaan ada yang datang dan ada yang pergi, begitupun dengan tim yang selalu berubah. Dinamis lincah bergerak seperti awan membawa kesedihan dan kegembiraan di langit yang biru.
Aku teringat betapa diri ini harus berterima kasih sedalam – dalamnya kepada para designer yang ada di kantor ini. Dari kenakalan – kenakalan yang akhirnya membuahkan video klip singkat mengenai satu dan dua lagu yang sedang ngetrend pada saat itu, dengan orang- orang jenaka seperti wiwid, imal, Silvanus, Lia, Morian, dan Dicke dengan K – pop alirannya. Ataupun David dengan keisengannya yang fenomenal memasukkan tokoh doraemon kedalam salah satu desain bangunan yang sedang dikerjakannya ataupun masa ospek di kantor yang dijalaninya dengan hukuman membuka dan memimpin rapat dengan bahasa jawa timuran.
Herannya, Surya dan David yang asal Surabaya ini, seringkali datang pada waktu sabtu atau minggu, mungkin saja kantor sudah menjadi rumah kedua bagi mereka yang anak perantau, jauh – jauh datang dari kampung halaman hanya untuk membuka mata dengan suasana Jakarta yang membisingkan. Banyak dari anak – anak di kantor adalah perantauan yang hidup nomaden, berpindah – pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Di dalam hati diri ini tersenyum apabila tempat ini bisa menjadi rumah kedua mereka.
Yang memukau juga kesediaan anak – anak kantor untuk selalu membuka diri akan pertanyaan, apakah ada yang lebih baik ?, Hal seperti ini sangat sulit untuk dilakukan bagi seorang designer. Diskusi demi diskusi dilakukan dengan jenaka, lontaran – lontaran celetukan yang menghidupkan suasana studio seakan – akan membuat design progress dan design produk yang fresh from the oven. Dari sketsa ke workshop. Adalagi tim sayap kiri dengan Adit, Randy, Hamu yang siap mengacau suasana dengan berceloteh atau berkomentar tentang teman – temannya yang pada akhirnya akan membuat riuh rendah di kantor, yang terkadang suaranya sampai ke jalan raya depan kantor, untungnya ibu saya adalah ketua RT di neighbourhood, jadi keributan ini bisa dimaklumi oleh tetangga . Memang berguna hal – hal seperti ini. He he…
Tim sayap kiri ini salah satunya adalah tipe yang disukai wanita dengan pesonanya celetuk anak – anak yang lain, yang satu adalah pemancing suasana, dan yang satu adalah arsitek melankolis dengan kemampuan lapangan yang luar biasa tajamnya. Sayang sang Jendral Workshop, Indra namanya, sudah keluar kota, keluar kantor maksudnya, kalau tidak tim sayap kiri ini akan semakin piawai dalam membuat keributan terutama kalau si jenderal baru saja memakan kambing yang membuat dirinya high.
Kita juga memiliki beberapa tipe rapat yang spontan saja dilakukan, sejak jaman wiwid, Imal, Sil, Toni, Morian, Lia, Bayu, . Dari rapat di hari valentine, rapat dengan bahasa sunda, ataupun berguling – guling di pantai Anyer. Mereka semua orang – orang terbaik yang fenomenal yang sekarang sudah terbang keluar kantor, keluar pulau, keluar kota ataupun keluar negeri.
tim sayap kanan juga tidak ketinggalan dengan passionnya yang tekun menerus, satu persatu dengan hati – hati seluruh project dikerjakannya. Andhang, Raras, Emmy, Maria, meski dengan mata merah menahan kantuk seringkali, dan stress menarik garis yang tidak kunjung selesai untuk menuruti kemauan saya yang selalu meminta hal yang lebih baik dan lebih baik lagi, dateline yang menerpa setiap minggunya dengan masih sempat – sempatnya tertawa dalam penat yang diri ini tahu terkadang sulit mengusirnya.
Dan lagi terkadang Kita terkejut – kejut Andhang bisa muncul tidak terduga di hari – hari libur dan datang di hari kerja membawa foto – foto yang luarbiasa mengenai karya – karya kantor.
Ini semua Outstanding, tim terbaik di dunia sudah mulai menampakkan batang hidungnya, saya tidak pernah melihat tim selengkap ini.
Belum lagi mas bambang yang dikenal sebagai magical man dan Mas Rudi Yanto yang dipanggil mas padahal ialah yang termuda, mewarnai keteknikan tim studio yang terlalu fluid dan melayang diatas awan. Awan itu pada akhirnya harus turun dan membumi, dari merekalah sentuhan itu tajam. Ada lagi menurut saya yang harus disebut dengan kredit yang luar biasa, tim – tim awal studio seperti Meirisa, wiwid, Reinard, Refano, Sapta, Meilani, Bismo, Lia, Toni, dan anak – anak yang melakukan internship di Studio ini dalam gelak tawanya sendiri. Total kami sudah memenangkan dua digit kompetisi nasional sejak terbentuknya, dan dua digit project yang akan terbangun di tahun ini.
Setiap studio desain tentu saja memiliki kekuatan ide yang spesial di setiap langkah – langkahnya. Dengan pendekatan empiricism atau rationalismnya. Ide bisa dicari – cari dimana – mana, termasuk dengan menatap alam pun kita bisa mendapatkan ide yang tak terhingga banyaknya. Gabungan antara art dan teknik itulah yang membentuk arsitektur kata Ruskin. Herannya diri ini merasakan mengenai gairah dan kekuatan penghargaan di arsitektur. Saling menghargai di dalam tim studio adalah satu harta yang priceless.
Diri ini tidak tahu apa yang ada di dalam kantor ini, kesedihan ketika satu persatu anak kantor ini pergi juga kegembiraan begitu ada yang bergabung menjadi keluarga. Namun salah satu asset yang paling berharga dalam >O+ Workshop adalah pada saat kita tertawa bersama – sama karena satu hal yang biasa – biasa saja.
Ada juga satu anak, Lisa namanya, yang gemar untuk berceloteh untuk mengomentari teman – temannya,di siang bolong ataupun di saat – saat malam – malam lembur, ia membantu untuk menimbulkan celoteh yang lain, yang pada akhirnya ia menjadi pusat perhatian untuk dicelotehi. Sehingga ia mendapatkan title celoteh Lisa untuk sesi celotehnya untuk menjadi satu superstar di warga perkampungan >O+
Ada juga yang tidak mau memperkenalkan kekasih hatinya kepada anak – anak kantor dan diakhiri dengan anak tersebut dikejar – kejar sampai ia lari terbirit – birit begitu kekasihnya datang membawa helm dan meminta kekasihnya menunggu 200 meter jauhnya dari kantor di satu pos satpam. Ada – ada saja kelakuan anak – anak ini.
Dan saya pun baru menyadarinya ternyata selama ini harta studio yang paling berharga adalah kebahagiaan dalam tawa. Ketika kita tertawa,
The secret is the laughter… oleh karena itu mungkin besok kita akan canangkan bagaimana motto kanto Gaul Asik Cool Professional bisa lebih melekat tentunya untuk membentuk kantor arsitek terbaik di dunia dengan passion terbaik di dunia. Mulai Besok banyak – banya tertawalah dikantor, karena itulah rahasia utamanya …
[RS]
diri ini kemudian juga teringat akan bingkisan kalimat yang diberikan IP.
Pak Realrich Sjarief and family members
Simple dream, simple act, great impact
In here I learn
Work in family
Work with care
Work with fun
Work with laugh
Work in good mood
Work with love
It’s not office
It’s home
It’s not duty
It’s a pleasure
Then,
Attitude
Responsibility
Respect
Dicipline
Will be created by itself
It’s pleasure and honor to meet these amazing and creative family
I call this house Tropical white house, simply because of it’s color, white. The colour that has no intention, pure, simple, neutral. Sometimes judgement by color is really personal, but for white, it is absolute.
I remember one of the architect who likes white really much, American Architect, Richard Meier. He states that
” Where other colors have relative values dependent upon their context, white retains its absoluteness… white is alone, it is never just white… that is itself being transformed by light and by everything changing in the sky, the clouds , the sun , the moon. whiteness perhaps , is the memory and the anticipation of color”.
We always like white as a symbol of purity, reflection of expression. Fine to call it subjective judgment, we just love it.
This is the condition before
The client is a single family couple with 2 sons. They bought the old house 1,2 billion IDR (equal to 120000 USD, the construction cost 70000 USD including architectural finishes and interior finishes. While new house in the same area With the same gross floor area 275 Sqm cost 280000 USD which then makes this project, fantastic cost benefit to the client.
even though we are redesigned the whole plan, but the structure was carefully reexamined and preserved allowed the client to save 30 percent of the building cost construction.
One room was changed to the non permanent room, allowing change the function to become multiple,we call it play room, second living room or even study room, Then, this strategy allows fresh air to circulate and sun to light the interior space by dual aspect configuration with both opening to south and north side. After the opening, the room will be bright, and comfortable to live.
looking at the name, “tropical white house”. We aim this design to be A tropical house, is what where direct sunlight is minimized as minimum as possible to the inside space.
White house is as white as pure as nothing. It just a statement of nothing than the function i
tself. It’s response of the appropriatenessof design thinking which if we look to the process, it is unforgettable. We will release the other pictures soon. The interior designer is mondrich syarif
The real talented Photographer is Andhang Trihamdhani, one of our designer
Client : Winson Mangkujaya + Cecillia Law Mei Tjoe
“Yuk, hari ini kita ke shopping mall kata seorang ibu kepada anak perempuannya. Kemudian dia menjinjing tas hermes, tas dari gerai toko terkenal di dunia. Sang anak pun mengiyakan, sejenak kemudian, ibu tersebut menelpon suaminya, pa kita ketemu di mall ya, sambil makan siang, setelah itu ke kidzania, anak kita mau main di mall.”
Kehidupan berkota di jakarta mau tidak mau memang diwarnai dari kehidupan satu mall ke mall yang lain. Ruang terbuka hijau yang semakin kecil dengan target yang bisa dipenuhi oleh pemerintah daerah DKI Jakarta sebesar 9,7 persen dari 13 persen yang ditargetkan (Antara 2009). Kehidupan berkota yang introvert,mandiri, serasa tidak bergantung satu sama lain, egois. Dari segi arsitektur kota shopping mall adalah sebuah nodes. Hal yang digaris bawahi kevin lynch sebagai elemen pembentuk ruang kota. Kevin lynch “pola pola pembentuk ruang kota terdiri dari beberapa elemen pembentuk ruang kota seperti, paths, districts, nodes, edges, landmarks ” lynch. Shopping mall sendiri adalah sebuah nodes dalam elemen pembentuk ruang kota.
Menurut Yayat Supriatna, sekertaris jenderal ikatan ahli planer (IAP), Jakarta memiliki jumlah mall terbesar di dunia mencapai 130 mall, tetapi hanya mempunyai empat taman kota. Pertanyaan mengenai mengapa mall bisa sebegitu banyaknya dan himbauan para intelektual kepada pemerintah untuk bisa membatasi jumlah shopping mall juga terjadi. Di lain pihak para developer selalu jeli untuk mencium kesempatan dalam pertumbuhan properti yang tinggi di jakarta. Jakarta sedang ada dalam paradigma Bussiness as usual yang kuat.
Namun Bagaimanapun juga tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran shopping mall memberikan suntikan ekonomi yang positif terhadap perekonomian satu kota. Shopping mall menyediakan oase bagi penduduk jakarta ditengah makin tergerusnya ruang terbuka hijau. Posisinya sebagai nodes sama seperti konsep pasar tradisional yang selalu berdekatan dengan alun – alun kota, pusat peribadatan, pusat pemerintahan di kota – kota seperti Semarang, Bandung, Cilacap, dan kota – kota indonesia lainnya.
Kita kemudian teringat pada pasar tradisional yang pada hakikatnya merupakan tempat bertransaksi, menawar harga, berinteraksi, bersenggolan, bersentuhan, berpeluh keringat, mencium wewangian rempah. Tempat yang menurut Edward T Hall adalah tempat yang intim. Seperti ruang yang terdapat di Pasar Johar semarang dimana koridor hanya sebesar 1 meter dan bahkan ada yang lebih kecil dengan lebar pundak manusia sebesar 60 cm maka otomatis saat kita berpapasan dengan orang lain, kita akan bersenggolan dengan orang lain. Alih – alih tersenggol karena emosi, dari bersenggolan itu sepanjang kita merasakan kehangatan. Ada senyuman ibu ibu yang tersenggol Atau bapak yang cuek-cuek saja sambil meliukkan tubuhnya menghindari senggolan. Hal ini berbeda dengan shopping mall dengan korridor selebar minimum 3 meter yang memberikan jarak untuk kita tidak bersenggolan sebagai dampak untuk memenuhi kebutuhan privasi dan kenyamanan. Keragaman pola aktifitas “pattern language” yang ada ini tentunya yang menurut saya berharga.
Pola kehidupan dari jarak koridor 3 m mencerminkan gaya hidup yang cenderung individualistis. Hal ini tercermin dengan kiasan shopping mall yang identik dengan big box, kotak yang tertutup, dan dikondisikan dengan air conditioner. Shopping mall ini sering diasosiasikan dengan kehidupan kaum sub urban di America. Dimana tercipta kehidupan pergeseran kehidupan berkota dari jalan – jalan yang bersifat tradisional menjadi interaksi di dalam shopping mall yang diakibatkan oleh keamanan, kenyamanan, hiburan yang sudah tidak didapatkan lagi dari jalan – jalan kota.
Sama seperti yang terjadi di Amerika, hal ini terjadi di Jakarta, dari sepanjang jalan Harmoni sampai Kota tua memiliki kualitas pedestrian yang sangat buruk. Pedestrian yang sempit dengan permukaan yang sudah hancur juga minim peneduh untuk pengguna pedestrian.
Dalam perencanaan sebuah shopping mall, perhitungan efisiensi luasan kotor bangunan yang tinggi mensyaratkan desain untuk dapat memberikan luasan retail semaksimal mungkin untuk bisa dijual kepada gerai gerai toko eksklusif seperti hermes, louis vuitton, channel, gucci, prada, dsb. Hal ini menimbulkan kompleksitas desain yang tinggi dengan kecenderungan menggabungkan beberapa fungsi bangunan seperti kantor, hotel, convention centre, exhibition centre, cinema, shopping mall, dan apartment menjadi tipologi mixed use sebagai akibat dari harga nilai tanah yang tinggi.
Melihat densitas yang tinggi dalam mixed use, ada potensi untuk membuat pengembangan yang kompak, teintegrasi berorientasi ke arah vertikal, seperti senayan city, rasuna epicentrum, pacific place, ataupun st.moritz. Ada pula kesempatan untuk membuat pengembangan yang berbasis transit oriented development, pola pengembangan yang berbasis dari infrastruktur transportasi. Banyak sekali kelebihan potensi dari pengembangan yang berbasis mixed use ini. Singapore sebagai salah satu preseden yang sukses dalam menempatkan shopping mall yang terintegrasi dengan sarana transportasi. Lagi – lagi kordinasi antara pemerintah kota DKI dengan pihak developer yang memiliki shopping mall menjadi penting.
Kontrol terhadap pengembangan densitas disuatu wilayah harus diskenariokan dengan cermat. Karena posisi dan densitas tersebut akan mempengaruhi arus lalu lintas, pola peruntukan lahan, dan keberlangsungan ruang terbuka hijau. Sehingga paradigma business as usual bisa memiliki kontrol. Dan yang berhak mengontrol itu adalah pemerintah kota DKI sebagai kepanjangan tangan dari penduduknya.
Dari sudut pandang arsitektur, dalam perencanaan elemen pembentuk shopping mall terdiri dari 3 bagian terpenting yaitu koridor, atrium dan retail. Koridor dalam sebuah mall pun sebenarnya adalah edge dimana terdapat tempat duduk duduk saling berhadapan untuk orang bercengkrama. Ada baiknya apabila koridor ini tidak hanya berfungsi sebagai sirkulasi saja namun juga tempat berkumpul. Koridor ini sebaiknya juga tidak gelap, akan lebih baik kalau memiliki kaca yang transparan di sisi luar di ujung ujung koridor supaya cahaya luar bisa memasuki ruangan. Sisi yang menghadap toko”retail” seharusnya bisa dibuka selebar lebarnya untuk membantu penyewa toko mendapatkan keuntungan semaksimal mungkindari kegiatan menjual, memamerkan barang dagangannya. Sebaiknya juga perancangan koridor ini tidak kalah dengan perancangan museum museum terkenal seperti museum di dunia. Karena pada hakikatnya kegiatan yang ditampilkan kurang lebih sama yaitu ruang pamer.
Sedangkan Atrium adalah tempat orang berkumpul, tempat yang mengingatkan agora sebagai tempat berkumpul warga yunani di jaman dahulu, courtyard pada keraton jogja, rumah tradisionak jepang, rumah tradisional hanook. Terkadang ada fungsi tempat berkumpul, tempat untuk bercerita, tempat untuk menonton pertunjukkan seni, melalui media ataupun pertunjukkan langsung. saya teringat dengan aklung saung udjo. Bagaimana ia membagikan pengetahuan mengenai nilai – nilai tradisional mengenai angklung. Atrium hendaknya juga adaptif terhadap pergantian fungsi.
Retail hendaknya adaptif terhadap penyediaan fungsi gudang yang memakan ruang, ruang restaurant pun harus dirancang dengan mempertimbangkan fungsi koridor untuk servis. Ada baiknya jam tutup shopping mall diperpanjang, supaya orang – orang bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan berinteraksi dengan orang lain, meski melalui berbelanja. Ada juga penambahan fungsi tempat peribadatan di dalam shopping mall. Dimana saya kira ini hal yang baik untuk dilakukan di jakarta. Tempat anak – anak bersekolah pun bisa dilakukan di dalam shopping mall. Konsep ini sesuai dengan neighbourhood unit yang dicetuskan oleh clarence perry, dimana pada saat itu, pengembangan masih ke arah horisontal dan sekarang kita ada di era kepadatan yang tinggi dengan pengembangan ke arah vertikal.
Meskipun ekses negatif yang ditimbulkan oleh shopping mall. merupakan salah satu realitas kota Jakarta merupakan masa depan kota Jakarta. Banyak pekerjaan rumah yang dibebankan ke pemerintah kota DKI Jakarta dan banyak Pekerjaan moral dibebankan ke pihak swasta. Ada banyak jalan untuk menyatukan realitas kota menjadi sebuah potensi positif, dan shopping mall memiliki masa depan yang cerah untuk memperbaiki juga merusak kota Jakarta. Pemerintah, swasta, dan pengguna memiliki tanggung jawab moral untuk membuat Jakarta kota yang nyaman ditinggali penggunanya dengan realitas, positif dan negatif dari ada shopping mall. Sebagai kalimat penutup, saya akan mengutip kalimat dari Ir. Robi Sularto Sastrowardojo dalam essay yang dipresentasikan dalam pertemuan ikatan arsitek se dunia di tokyo tahun 1980.
“Most of the architectural works are a local mirror of one culture as it is today. Professionaly there is nothing might be nothing wrong with these works, possibly when excellence… Architecture it seems to me should be considered as a dharma, a social obligation, instead of a commision. When architecture is considered, as a dharma, then more architects will realise that architecture is born, not made.”
Inilah yang seharusnya kita menyadari. Bagaimana kita melihat realitas kota, dan berbuat yang terbaik dari apa yang bisa kita buat sebagai salah satu penghuninya.
Ini katalog dari buku – buku yang saya kumpulkan dan tujuannya, mungkin bisa membantu apabila teman – teman ada yang mencari buku – buku ini, bisa meminjamnya ataupun membacanya di kantor atau rumah saya. Buku – buku ini berkisar dari arsitektur, urban desain, sampai desain furniture, dan beberapa mengenai seni.
A.1.
Arsitek Luar Negri
A.1.1.
Norman Foster Work 1.
A.1.2.
Norman Foster Work 2
A.1.3.
Norman Foster Work 3.
A.1.4.
Norman Foster Work 4
A.1.5.
Catalogue Foster + Partners
A.1.6.
Foster 40 Projects and 40 themes
A.1.7.
Graduation Show Foster + Partners
A.1.8.
YTL Headquarter kuala lumpur, malaysia schematic design report sustainability and climate engineering
A.1.9.
Copy of books foster works
A.1.10.
Strategic Brief for YTL Corporation Berhad New Headquarters, Serviced Apartments and Mixed use Podium
A.1.11.
Alvar Aalto
A.1.12.
Many Masks : a Life of Frank Lloyd Wright
A.1.13.
Architectural Principles
A.1.14.
Castles : an Introduction to The Castles of England and Wales
A.1.15.
Frank Lloyd Wright Glass
A.1.16.
Beyond Bava : Modern Masterworks of Monsoon Asia
A.1.17.1
Kengo Kuma Complete Works – Kenneth Frampton
A.1.18.1
WOHA
A.1.18.2
Woha Selected Project Vol.1
A.2.1.
Marzorati Rochatti 2004 Patrizio Corno
A.3.1.
Louis I Kahn by Robert Mc Carter
A.3.2
Louis I Kahn Conversations with Students
A.4.1.
Elcroquis Foreign Office Architects 1996-2003
A.5.1.
Renzo Piano Building Workshop Complete work volume 1
A.5.2.
Renzo Piano Building Workshop Complete work volume 2
A.5.3.
Renzo Piano Building Workshop Complete work volume 4
A.5.4.
Renzo Piano Te Neues
A.6.1.
Kohn Pedersen Fox Architecture and Urbanisem 1997-2003
A.6.2.
Kohn Pedersen Fox the first 22 years
A.7.1.
Tadao Ando (1991-2001)
A.7.2.
Tadao Ando, Conversations with students
A.8.1.
Architecture and interiors design Studio GAIA
A.9.1.
Denton Crooker Mashall-Rule Playing and the ratbad element
A.10.1.
Santiago Calatrava
A.11.1.
Richard Meier Architect’s
A.12.1.
SLW Slamet Wirasonjaya Program studi arsitektur ITB
A.12.2.
Karya Arsitek Indonesia
A.12.3.
Work and projects of young indonesian architects (1997-2002)
A.12.4.
Raul Renanda 99 untuk arsitek
A.12.5.
Adi Purnomo: Relativitas
A.12.6.
Rumah Baja Terbang
A.12.7.
Arsitek Soejoedi: membuka selubung cakrawala
A.12.8.
Imelda Akmal : IAI Jakarta Awards 2
A.12.9.
Handinoto, Arsitektur dan kota-kota di jawa pada masa colonial
A.12.10.
Imelda akmal : Indonesian Architecture Now 2
A.12.11.
Rumah modern karya arsitek Indonesia
A.12.12.
Arsitektur 4D
A.12.13.
Baskoro Tedjo: Extending Sensibilities Through Design (Architectural Works 1997-2012)
A.12.14.
A.12.15.
Design fever URBANE
A.12.16.
Arsitektur yang membodohkan: Pursal
A.12.17.
Avianti Armand: Arsitektur yang lain
A.12.18.
New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes
A.13.1.
Paul Rudolph
A.14.1.
Elcroquis Herzog & De Meuron 1981-2000
A.15.1.
Retail DP Architect Pte Ltd
A.16.1.
informal cecil Balmond
A.17.1.
In progress Fumihiko Maki Overseas
A.17.2.
Fumihiko Maki
A.18.1.
Office Metropolitan of Architecture [Rem Koolhas] Elcroquis
A.19.1.
Glenn Murcut: Thinking Drawing/Working Drawing
A.19.2.
The Architecture of Glenn Murcutt
A.20.1.
BIG: Yes is More
A.21.1.
Carlo Scarpa
A.21.2.
Carlo Scarpa Taschen
A.22.1.
SCDA Architects
A.22.2.
DIA GETZ Architecture prize for emergence architecture in ASIA : SCDA
A.23.1.
Super Potato Design
A.23.2.
Jean Nouvel
A.24.1.
Profile
A.24.2.
Louis I Kahn, Architecture at Rice 26
A.25.1.
Bedmar and Shi in Five
A.26.1.
Peter Zumthor Thinking Architecture
A.26.2.
Peter Zumthor Atmospheres
A.27.1.
Richard Rogers
A.28.1.
Enric Miralles The Scottish Parliament Parlamaid na h-Alba
A.28.2.
Enric Miralles Creating a scottish parliament – alan balfour
A.29.1.
First impressions Frank Llyod Wright –Susan Goldman Rubin
A.30.1.
Small Projects Kevin Mark Low
A.31.1
Zaha Hadid: The Complete Buildings and Projects
A.32.1
Eduardo Souto De Moura: The 2011 Pritzker Architecture Prize
A.33.1
Andrew Bromberg of Aedas-Recent Works: Architecture & Sensuality
A.34.1
Bohlin Cywinski Jackson: Farrar
A.35.1
Ken Yeang: Eco Skyscrapers, Volume 2
A.36.1
Wang shu Building a different world in accordance with principles of nature
A.37.1.
Thomas Heatherwick Making
A.38.1.
Kerry Hill – Creating Modernism
B.1.
`
B.1.1.
Architects data
B.1.2.
Data arsitek
B.1.3.
Super bangunan alumunium distributor
B.1.4.
Basic Material, Hegger. /Drexler/Zummer
B.1.5.
Persyaratan Teknis aksesibilitas banungan umum dan lingkungan
B.1.6.
Teknik Pencahayaan dan tata letak lampu
B.1.7.
Perancangan tata ruang dalam
B.1.8.
Illustrasi desain interior
B.1.9.
Jurnal Harga satuan bahan bangunan konstruksi dan interior
B.1.10.
Dimensi estetika pada karya arsitektur dan desain
B.1.11.
Ilmu konstruksi bangunan kayu
B.1.12.
struktur statis tak tentu
B.1.13.
Struktur (schodek)
B.1.14.
Plan and section drawing (thomas C.wang)
B.1.15.
Akustik Lingkungan (lea preasetio, Leslie L. Doelle)
B.1.16.
Buku sumber konsep
B.1.17.
Ilmu Bangunan Gedung (x2)
B.1.18.
Handbook of sports and recreational Building Design
B.1.19.
Designing to sell
B.1.20.
Lecture notes utilitas bangunan (sugeng triyadi)
B.1.21.
Rancangan Tapak dan Pembuatan detail konstruksi (theodore D walker)
B.1.22.
Standard toilet umum indonesia
B.1.23.
Structure systems
B.1.24.
Arsitektur berkelanjutan tantangan abad XXI
B.1.25.
Tabel Profil Konstruksi Baja (Ir. Rudy Gunawan)
B.1.26.
Membangun Toilet Umum dengan Mudah
B.1.27.
Hospital Metric Handbook
B.1.28.
Struktur dan konstruksi bangunan tinggi jilid 14
B.1.29.
Struktur dan konstruksi bangunan tinggi jilid 2
B.1.30.
Pedoman Pembangunan Rumah Sakit
B.1.31.
Tradisionalitas dan modernitas tipologi Arsitektur Masjid
B.1.32.
Green Architecture
B.1.33.
Building Construction Illustrated
B.1.34.
Eco Resorts – Planning and Design for The Tropics
B.1.35.
Instrumen akreditasi sekolah menengah atas
B.1.36.
Perangkat akreditasi SMP/MTs
B.1.37.
Perangkat akreditasi SD/MI
B.1.38.
The Complete Hafele
B.1.39.
Interior Architect Architectural Detail Series : Single Family Houses Bathroom Volume eight n
B.1.40.
Keterampilan Kejuruan Konstruksi Kayu
B.1.41.
Structure systems Heino Engel
B.1.42.
Building Structure Illustrated (Patterns, System & Design)
B.1.43.
Detail Serie 1999,3
B.1.44.
Detail Serie 2006,10
B.1.45.
Detail Vol. 2008,1
B.1.46.
Detail Vol. 2008, 4
B.1.47.
Detail Vol. 2011,2
B.1.48
Dimensi Manusia & Ruang Interior
B.1.49.
Basic Design & Living
B.1.50.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
B.1.51.
Pokok-Pokok Teknologi Struktur untuk Konstruksi dan Arsitektur
B.1.52.
Ilustrasi Konstruksi Bangunan Edisi 3
B.1.53.
Seri Perencanaan Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C
B.1.54.
Akustika Bangunan
B.1.55.
Seni Konstruksi
B.1.56.
Morfologi Bangunan dalam Konteks Kebudayaan
B.1.57.
Metode Perancangan Arsitektur
B.1.58.
Pengantar Metodologi Penelitian Budaya Rupa
B.1.59.
Rumah Sakit 2009
B.1.60.
Kode Etik Arsitek dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek Ikatan Arsitek Indonesia
B.1.61.
International Conference
B.1.62.
Virginia McLeod: Encyclopedia of Detail in Contemporary Residential Architecture
B.1.63.
Plans of Architecture: Building Details
B.1.64.
Sistem bentuk struktur bangunan
B.1.65.
Ilmu konstruksi struktur bangunan
B.1.66.
Ilmu konstruksi bangunan bambu
B.1.67.
Ilmu fisika bangunan
B.1.68.
Dasar-dasar arsitektur ekologis
B.1.69.
Arsitektur ekologis
B.1.70.
Model baru perancangan kota yang kontekstual
B.1.71.
Life Between Walls: Kota Gede
B.1.72.
Soetomo Wongsotjitro: Ilmu Ukur Tanah
B.1.73.
Ir. Heinz Frick: Arsitektur dan Lingkungan
B.1.74.
Ir. Heinz Frick: Mekanika Teknik 2 Statika dan Kegunaannya
B.1.75.
Sakti A. Siregar: Instalasi Pengolahan Air Limbah
B.1.76.
Ngakan Ketut Acwin Dwijendra: Tokoh Arsitek Dunia dan Karyanya
B.1.77.
Ir. Rudy Gunawan: Pengantar Ilmu Bangunan
B.1.78.
Detail: Interior + Architecture 2
B.1.79.
Plans of Architecture: House Details
B.1.80.
Desain Pondasi Tahan Gempa
B.1.81.
Sisi Lain Arsitektur, Sipil, & Lingkungan: Iden Wildensyah
B.1.82.
Cara Tepat Menghitung Biaya Bangunan: Wulfram I. Ervianto
B.1.83.
Cara Cepat Menghitung Kebutuhan Material dan Pekerja Dalam Membangun Rumah: Gatut Susanta
Design dari Rumah Sakit Akademik UGM ini terinspirasi dari analogi peredaran darah dalam tubuh manusia, dimana pusat dari site diibaratkan sebagai jantung yang merupakan pusat kegiatan rumah sakit Universitas Gadjah Mada dan jalinan sirkulasi manusia sebagai struktur pembuluh darah utama yang membentuk sirkulasi di dalam massa bangunan. Kriteria rancangan yang ingin dicapai ada 3 , 1) Mengambil tema yang dekat dengan dunia kedokteran dan akademis menimbang fungsinya sebagai Teaching Hospital, 2) konfigurasi bangunan yang tropis, dan 3)mengakomodasi fungsi – fungsi sesuai dengan standar – standar yang berlaku.
Gagasan Rancangan Rumah Sakit Akademik (RS Akademik). Sebagai sebuah RS Akademik mengemban dua peran sekaligus yaitu memberikan pelayanan kesehatan umum (Standar Penyelenggaraan Rumah Sakit Kelas B yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina pelayanan Medik Direktorat Pelayanan Medik dan Gigi Spesialistik Tahun 2005) serta peran sebagai center for excellent dengan menggunakan forum program pendidikan dan penelitian. RS Akademik UGM akan dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis UGM. Melalui Unit Pelaksana tersebut, RS Akademik UGM siap dikelola dan berorientasi kepada tercapainya kinerja operasional dan finansial rumah sakit yang baik dengan tetap mengedepankan fungsi sosial sebuah rumah sakit.
Disamping RS Akademik UGM sebagai RS pelayanan kesehatan umum juga sebagai RS pelayanan spesialis (misal : Pelayanan Jantung dan Kardo Vaskuler Invasive, Pelayanan Ginjal, Pelayanan Bedah Jantung, Pelayanan Mata spesialistik).
Orientasi Bangunan didesain dengan menggunakan arah orientasi bangunan Utara – Selatan. Keadaan ini meminimalisasi cahaya matahari langsung dari arah barat masuk ke bangunan dalam konteks area yang ada di daerah tropis. Pemilihan bentuk atap massa bangunan hunian menggunakan atap joglo untuk menonjolkan budaya jawa dan konteksnya untuk memenuhi konstruksi yang efisien dan mengakomodasi iklim tropis. Mengingat besarnya KDB, mengakibatkan lahan yang bisa terbangun hanya maksimal 20%, sehingga massa bangunan dipecah-pecah menjadi massa kecil. Pemecahan massa bangunan ini juga dimaksudkan untuk memaksimalkan cahaya matahari yang masuk dan penghawaan alami. Dengan memecah massa bangunan menjadi kecil maka didapat pengaturan optimum single loaded corridor.
Secara Umum, daerah hunian yang berisi rawat inap dan asrama dipisahkan dengan fungsi publik didesain secara berdekatan namun dengan pemisahan vertikal yang jelas. Fasilitas rawat inap diletakkan di lantai 2 dan fungsi public diletakkan di lantai dasar dan lantai 1. Potensi site memiliki 2 akses masuk dari sisi barat dan timur. Strategi yang di pakai untuk akses sirkulasi pemisahan daerah public di sisi barat dan daerah yang privat di sisi timur dengan pertimbangan sisi barat yang memiliki densitas lebih tinggi untuk kendaraan bermotor, Jalan sebelah barat memiliki lebar lebih besar, 12 meter, sedangkan jalan sebelah timur, 9meter. Oleh karena itu, jalur masuk utama atau umum diletakkan disebelah timur sedangkan jalur privat dan emergency masuk dari sebelah timur. Fungsi Layanan konsultasi rawat jalan diletakkan di sisi barat bangunan. Di daerah sisi barat diletakkan fungsi pelayanan poliklinik umum, poliklinik gigi, pelayanan spesialis dan radiologi. Hal ini menyebabkan daerah public diletakkan di sisi barat. Fasilitas yang terdapat di sisi timur termasuk instalasi bedah, laboratorium dan beberapa fasilitas penunjang. Fasilitas penunjang yang terdapat di sisi barat termasuk auditorium, bangunan penerima dan fungsi pelayanan. Di dalam fasilitas pelayanan sendiri terdapat poliklinik umum, poliklinik gigi, pelayanan spesialis dan radiologi. Auditorium diletakkan di daerah sisi area karena akses publik yang langsung dan dimungkinkan untuk mengakomodasi fungsi – fungsi public yang membutuhkan akses lebih cepat dan lebih besar. Fungsi Layanan konsultasi rawat jalan diletakkan di sisi barat bangunan. Pemulasaran Jenazah diletakkan di sisi belakang site, beserta dengan sirkulasi privat menuju daerah belakang seperti asrama, perpustakaan. UGD di diletakkan dekat terhadap jalan masuk darurat untuk mempermudah akses langsung mobil ambulance ke instlasai gawat darurat.
Landsekap dan ruang public terbuka.
Ruang – ruang taman diletakkan di dalam podium sebagai pelataran dalam yang dirasakan oleh pengunjung begitu memasuki Rumah Sakit Akademik Universitas Gajah Mada. Ruang taman ini juga sebagai tempat untuk membudidayakan taman obat tropis Indonesia dan selain berfungsi untuk meneduhkan , taman ini juga berfungsi sebagai tempat penelitian herbal.
Ruang terbuka publik diletakkan di lantai 2 [atap podium] sehingga menciptakan ruangan relaksasi bagi pasien dan plaza terbuka di atas langit. Dengan cara ini rumah sakit menjadi rumah sehat yang mendorong orang untuk sehat dari kegiatan relaksasi yang didiukung oleh segi arsitektural.
Principal : Realrich Sjarief
Collaborator : Meirisa Trinkawati, Mondrich Sjarief
DOT is in Shortlisted nomination of National library competition. The scheme offers a respond to national monument to the heart of the building. The zoning is distributed vertically where one stop shopping is placed on the 3rd floor. The Bulkiness of the massing is solved by splitting it into two thin slabs where sunlight comes into the inner courtyard in between. The discussion table has each view to the national museum which creates splendid experience for the meeting room. These approach composed a breathing building, a library which offers unique, creative function inside and monumental icon which based on function and historical context. Congratulation to the other team, our collegues who has won this competitions.
Desain galeri nasional ini terinspirasi indahnya langit dan hangatnya bumi, dengan intensi senafas dengan bangunan pusaka yang ada di tengah kompleks area Galeri Nasional Indonesia. Bangunan pusaka ini dibingkai dengan galeri yang merupakan representasi dari bumi dengan ekspresi tanaman, dan dilatarbelakangi langit yang adalah gedung perkantoran / administrasi dari bangunan nasional. Lobby diletakkan di gedung pusaka dimana keluar masuk pengunjung harus melalui gedung ini dengan menempatkan jembatan [skybridge] yang menghubungkan gedung galeri dengan gedung pusaka. Plaza penerima ditempatkan di sisi barat Galeri Nasional Indonesia membuka pedestrian masuk ke sisi sungai ciliiwung, disini konsep art plaza ditempatkan sepanjang axis barat – timur yang dilengkapi dengan art store di sisi utara dan selatan.
Perancangan Galeri Nasional ini didasarkan pada intensi untuk menjaga citra dari bangunan heritage dimana lebar muka lahan yang kecil yakni sebesar 70 m dibandingkan dengan lebar bangunan pusaka yakni sebesar 22 m. Oleh karea itu intervensi desain yang dipilih yaitu landsekap sebagai arsitektur sisi museum yang mengapit bangunan heritage. Konektifitas dipertahankan dengan akses publik dari monas [jalur bawah tanah] ke art shop yang terdapat pada ruang tengah galeri. Di dalam masterplan, isu keterhubungan ini berlanjut ke sisi sungai ciliwung sehingga memungkinkan adanya aktifitas seni di samping sungai. Secara umum pembangunan masterplan terbagi 2 tahap, tahap pertama berfokus pada bagian utama yaitu area galeri nasional. Pada tahap pertama diasumsikan pembebasan lahan masih dalam proses, sehingga pembangunan difokuskan pada pengembangan galeri nasional saja. Tahap pertama dapat berjalan secara mandiri yaitu sebagai fungsi pokok dari galeri nasional . tahap kedua dilakukan pada engembangan berikutnya saat pembebasan lahan sudah terlaksana. Pada tahap kedua, pembangunan dilakukan sebagai pendukung fasilitas galeri. Gedung konvensi, auditorium, dan hotel diletakkan di sisi utara dengan eksposure ke arah monas dan stasiun gambir.Massa bangunan secara umum, merespon 2 aksis utama. Aksis monumen nasional dan bangunan eksisting galeri nasional yang terhubung dengan stasiun gambir. Axis terhadap monas direalisasikan dengan jalur bawah tanah. Bagian depan dan belakang galeri nasional merupakan plaza terbuka yang dibhubungkan sebagai respon terhadap kawasan monas [depan] dan sungai ciliwung[belakang].
Secara umum Galeri Nasional Indonesia ini menggambarkan kesederhanaan arsitektur Indonesia yang selaras dengan alam tempat bersatunya bumi dan langit.
Galeri Nasional Indonesia#6
Bumi bertemu Langit
Principal Architect: Realrich Sjarief
Team Member : Happy Marfianta, Apriani Sarashayu, Septrio Effendi, Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Maria Vania, Muhammad Iqbal Zuchri, Christiandy Pradangga, Donald Aditya, dan Mukhamad Ilham
Karya ini dipublikasikan pada bookgazine Archinesia volume 4. Cross-Border Architecture
Artikel dibawah ini sangat menarik, untuk oase di tengah – tengah kesibukan yang menghampiri. terkadang memang kita membutuhkan dorongan, terutama dari orang – orang terbaik di sekitar anda :)
Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol menampilkan banyak hal yang sangat menakjubkan bagi para pengamatnya. Tayangan ulang salah satu pertandingan atletik selalu hidup dalam kenangan saya. Atlet Derek Redmon dari inggris memiliki hasrat seumur hidup untuk memenangkan medali emas dalam lomba 400 meter. Peluangnya untuk meraih mimpi itu meningkat ketika letusan pistol menandai dimulainya babak semifinal di barcelona. Redmon berlari dengan baik sekali, dan garis finish sudah di depan mata ketika ia berbelok di ujung yang jauh dari penonton. Tiba – tiba musibah itu datang. Ia merasakan nyeri yang dahsyat sekali di bagian belakang kakinya. Ia tersungkur di lintasan, muka terlebih dahulu, dan mengalami cedera pada otot hamstring sebelah kanan.
” Tidak banyak yang lebih dahsyat di dunia ini selain dorongan yang positif. Sebuah senyum. Sepatah kata tentang optimisme dan pengharapan. Sebuah ungkapan “kamu bisa” ketika kesulitan sedang melanda. ” Richard M. Devos
Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol menampilkan banyak hal yang sangat menakjubkan bagi para pengamatnya. Tayangan ulang salah satu pertandingan atletik selalu hidup dalam kenangan saya. Atlet Derek Redmon dari inggris memiliki hasrat seumur hidup untuk memenangkan medali emas dalam lomba 400 meter. Peluangnya untuk meraih mimpi itu meningkat ketika letusan pistol menandai dimulainya babak semifinal di barcelona. Redmon berlari dengan baik sekali, dan garis finish sudah di depan mata ketika ia berbelok di ujung yang jauh dari penonton. Tiba – tiba musibah itu datang. Ia merasakan nyeri yang dahsyat sekali di bagian belakang kakinya. Ia tersungkur di lintasan, muka terlebih dahulu, dan mengalami cedera pada otot hamstring sebelah kanan.
Berikut ini laporan tentang kejadian itu yang ditulis oleh Sports illustrated:
Sewaktu para petugas medis menghampirinya, Redmond berjuang untuk berdiri sendiri. “itu naluri hewani,”
katanya belakangan. Ia melompat – lompat dengan sebelah kakinya dalam upaya mati – matian untuk menyelesaikan lomba. Ketika ia tiba di lintasan lurus menjelang finish, seorang lelaki tinggi besar mengenakan T – Shirt keluar dari barisan penonton, menyingkirkan seorang petugas keamanan yang mengahalangi, langsung berlari mendekati Redmond dan memeluknya. Orang itu Jim Redmond, ayah Derek. ” Kamu tidak harus melakukan ini,” katanya kepada putranya yang terisak. “Aku harus, ” sahut Derek. “Kalau begitu,” kata jim,” kita menuju ke finish bersama – sama.”
Mereka berlari bersama – sama. Kendari harus bersikeras dengan petugas keamanan, sambil kadang – kadang membiarkan kepala anaknya bersandar pada pundaknya, mereka tidak meninggalkan lintasan menuju ke garis finish. Para penonton ternganga, kemudian bangkit dan bersorak sorai dengan keharuan yang mendalam.
Sungguh pemandangan yang dramatis! Derek Redmond gagal mendapatkan medali emas, tetapi ia meninggalkan Barcelona dengan sebuah kenangan sangat indah tentang seorang ayah yang segera meninggalkan bangku penonton untuk ikut menanggung penderitaan yang dialami oleh sang putra. Bersama – sama mereka akhirnya sampai ke garis finish.
Tidak ada orang hidup yang belum pernah mengalami kekecewaan ketika harapannya tidak tercapai. Kenyataan tidak selalu terwujud seperti yang kita rencanakan dalam upaya meraih cita – cita kita. Hambatan – hambatan tidak diharapkan, kejadian – kejadian tidak terduga, atau situasi di luar kendali dapat membuyarkan semangat kita. Betapa cepat lunturnya pengharapan kita ketika tiba – tiba kita menemui kegagalan, rasa malu dan celaan.
Sebuah ungkapan yang membesarkan hari ketika kita sedang mengalami kegagalan lebih berharga daripada hujan pujian sehabis mengalami keberhasilan. Orison Swett Marder berkata, ” Tidak ada obat seperti harapan, tidak ada insentif begitu besar, tidak ada obat kuat seperkasa ungkapan harapan bahwa esok segalanya akan lebih baik.” Anda dapat menjadi pembagi harapan yang akan membebaskan seseorang dari beban masa sekarang dan mengantarnya ke kemungkinan – kemungkinan dimasa mendatang.
Memahami betapa cepat momentum yang dapat ditimbulkan oleh suatu musibah mendadak dapat meningkatkan kepekaan kita terhadap perasaan orang lain ketika kekecewaan merusak peraihan mimpi – mimpi mereka. Ada saat seperti itulah orang memerlukan seseorang yang peduli kepada mereka dan bersedia meluangkan waktu untuk menemani mereka. Tunjukkan kepada mereka bahwa anda menyertai dan menemani mereka. Tawarkan pundak anda untuk mereka sandari ketika mereka kelelahan atau menahan nyeri. Mereka mungkin tidak mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, tetapi mereka tidak pernah pernah melupakan orang yang mengangkat mereka ketika sedang jatuh. dan itu sangat layak untuk dilakukan
ya memang kita setiap orang memerlukan orang – orang terdekat kita untuk selalu mendukung segala jalan yang kita tempuh. Dan aku bersyukur dan beruntung bahwa aku memiliki orang – orang terdekat yang selalu mendukung segala langkah ini.
Sudah 43 tahun sejak Ian Mcharg mempublikasikan hasil risetnya design with nature pada tahun 1967 mengenai kerusakan lingkungan dan adanya degradasi lingkungan di dunia. Istilah – istilah seperti green, ecological design, sustainable design pun mulai muncul dan sebenarnya memiliki artian yang sama dan terkadang menyesatkan dengan banyaknya publikasi dan tulisan mengenai istilah – istilah tersebut.
Istilah sustainable sendiri mulai diperbincangkan sejak brundtland commision menuliskan definisi dari sustainable development di tahun 1980. Yang kemudian diikuti oleh kesepakatan bersama di rio summit di tahun 1992. Dimana sustainable didefinisikan sebagai “sebuah pengembangan untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. “ Steele (2005:6)
Definisi arsitektur pun berkembang dari definisi pertama yang ditengarai oleh John Ruskin dan William morris bahwa arsitektur adalah penggabungan antara Building dan Art. Di saat sekarang ini , Conway Roesnich(1994:8). Arsitektur sendiri tidak bisa lepas dari teknologi untuk memaksimalkan kinerja system bangunan khusnya pada bangunan bertingkat tinggi. Oleh karena itu definisi Arsitektur bisa saja berubah menjadi perpaduan antara building + art + teknologi. Debat dan argumentasi bagaimana kita mendesain untuk meminimalisasi dampak bangunan terhadap lingkungan terus bergulir dalam berbagai macam studi salah satu studi yang patut untuk diberi catatan yaitu studi yang dilakukan oleh Malcolm B. Wells di dalam thesisnya Gentle Architecture mengenai dampak suatu bangunan yang ada didalam satu lingkungan. Ia memperbandingkan antara performa bangunan kantor (suburban design lab) yang ada di dalam tanah / basement (lihat figur 2) dengan 3 tipe lahan yang lain yaitu : Hutan Belantara, lahan pertanian kosong, dan tengah kota manhattan, Wells(1971:92-97).
Suburban design Lab adalah sebuah bangunan dengan fungsi kantor yang diletakkan di dalam tanah / basement dengan bukaan void untuk memasukkan cahaya matahari di iklim sub tropis karena suhu udara yang didapatkan terbukti relatif konstan dan ideal, efek pemanasan yang terjadi relatif kecil di kala terik yang ekstrim, dan tidak dibutuhkan perawatan ruang luar dengan menjadi ruang atap dan ruang luar seperti di hutan belantara. Perlu dicatat bahwa suburban research lab berdiri di iklim subtropis dimana memiliki perbedaan suhu ekstrim. Salah satu kelemahan dari skema ini adalah biaya inisiasi yang mahal. Studi yang dihasilkan membuktikan bahwa meskipun suburban research lab didesain dengan memaksimalkan efisiensi energi. Meksipun efisiensi yang dihasilkan maksimal namun performa yang dihasilkan masih sangat jauh dibandingkan dengan performa hutan belantara. Studi ini dilakukan pada tahun 1969. Thesis ini membuktikan bahwa usaha terbaik untuk menjaga alam dengan tidak menyentuhnya sama sekali.
Namun harus diingat bahwa di tahun 1969 Suburban research lab tidak mampu mengolah air kotor menjadi air bersih, tidak mampu menyerap energi matahari, tidak mampu mendaur ulang sampahnya. Seperti kita lihat itu yang terjadi di tahun 1969 karena teknologi pada saat itu tidak mampu untuk melakukan hal tersebut
Pertanyaannya adalah apa yang bisa dilakukan di masa depan ?
Penggunaan teknologi, pendefinisian fungsi ruang komunal, dan inovasi strategi perencanaan akan memegang peranan penting di masa depan, terutama pada masyakarakat metropolitan. Di negara maju terjadinya perubahan pola kerja masyarakat modern karena dampak industrialisasi disebabkan pertumbuhan teknologi informasi yang terjadi sepanjang tahun 1960 – 1970 mengakibatkan kebutuhan untuk berkerja lebih lama di kantor. Sehingga pola ini menuntut sebuah kebutuhan untuk berinteraksi dan menggunakan ruang komunal di area . Kebutuhan akan ruang – ruang komunal inilah kemudian yang diakomodasikan ke dalam tower pencakar langit. Istilah yang disebut ken yeang, Bio climatic tower. Ide ini diwujudkan pada tahun 1992 menjadi dengan bangunan menara mesin niaga yang memiliki taman gantung diatas setinggi 3 lantai yang ditanamai oleh tanaman lebat. Foster and partners memiliki inovasi sebelum adanya istilah bioclimatic tower dari Ken Yeang melalui konsep taman gantung dalam desain Hongkong and Shanghai Bank Headquarters yang dibangun pada tahun 1979 – 1986. dimana bentuk massa dari HSBC tower masih berbentuk dual aspect slab (massa dua sisi terbuka). Yang merupakan turunan dari konsep Le Corbusier dalam Radiant city , City for tomorrow ataupun L unite d habitation dengan strategi untuk membuka kedua sisi bangunan dengan bukaan untuk membiarkan cahaya matahari dan udara segar dengan kedalaman sebesar kurang lebih 24 m.
konsep dual aspect slab ini disempurnakan oleh Commerzbank Headquarter di Berlin, dimana ini diklaim sebagai world’s first ecological tower yang dibuat pada tahun 1991 sampai dengan 1997 dimana setiap lantai kantor mendapatkan pencahayaan alami. Dengan jendela yang bisa dibuka membuat penggunanya mampu mengontrol iklim mikro. Dengan hal tersebut nyata – nyata mampu menurunkan konsumsi energi yang ekuivalen dengan setengah dari konsumsi energi desain kantor konvensional. Taman gantung di atas langit ini memainkan peranan untuk memasukkan cahaya matahari, udara segar, dan menyediakan tempat untuk relaksasi ketika jam istirahat.kantor . Di lantai dasar terdapat restaurant dan café yang memiliki relasi dengan ruang terbuka dengan meminjam konsep borrowed landscape dari konsep arsitektur jepang.
Usaha untuk meminimalkan dampak terhadap alam terutama untuk tipologi bangunan berskala kecil dan berlantai rendah terlihat dalam desain Glenn Murcutt dimana terdapat beberapa kecenderungan dari pengambilan keputusan desain seperti : 1. meminimalkan bidang yang bersentuhan dengan tanah dengan konsep pilotis. 2. Memaksimalkan view ke arah luar. 3. memanfaatkan sirkulasi udara didalam bangunan. 4. Penggunaan kulit bangunan 3 lapis yang bisa diatur posisinya oleh pengguna.
Sistem bangunan yang ada bersifat sangat sederhana dengan prinsip – prinsip yang rasional namun mampu menampilkan kualitas melalui penemuan – penemuan Glenn yang diakuinya ada di perjalanan desain bersama klien yakni pendekatan desain yang strategi perencanaan yang rasional, efisien dan responsif terhadap terhadap iklim, kondisi eksisting lahanseperti aliran air, kondisi matahari, geomorfologi lahan.
Ada satu Quote dari Glenn Murcutt dalam pameran hasil karya beliau di Museum of Sydney di bulan Desember 2009 yang menurut saya sangat menarik untuk dipikirkan,
“Works of Architecture are discovered, not designed. The creative process is a path of discovery. The hand makes drawings and arrives at solutions before the mind has even comprehended them. It is very important to me to make buildings that work like instruments. They respond to light, to the movements of the air, to prospect, to the needs of comfort. Like musical instrument, they produce the sounds and the tones of the composer. But I’m not the composer. Nature is the composer. The light and sounds of the land are already there. I just make instruments that allow people to perceive these natural qualities. ‘Glenn Murcutt.
Penutup
Seorang arsitek tidak bisa menyelesaikan permasalahan ekologi lingkungan keseluruhan, namun arsitek bisa mendesign bangunan yang memiliki efisiensi energi tinggi sehingga penggunaan energi dalam bangunan bisa ditekan serendah mungkin. Selain dari desain dan hal ini bisa diterapkan dari segi peraturan yang bersifat sertifikasi. Cara – cara ini sudah dicoba oleh beberapa lembaga seperti USGBC (united States Green Building Council) adalah dengan membuat peringkat penghargaan untuk bangunan – bangunan yang mampu melakukan efisiensi energi dengan predikat Platinum, Gold, Silver. Banyak Negara – Negara di dunia yang sudah memiliki peringkat penghargaan seperti ini (Green Rating) seperti Amerika dengan LEEDS, Inggris dengan BREAAM, Australia dengan Nathers, BASIX, Green Star. Dan GBCI dikabarkan sedang menyusun sebuah green code untuk Indonesia. Ada baiknya apabila sebuah sertifikat tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menilai namun juga sebagai alat untuk mendesain yang apabila diikuti maka akan mendapatkan sertifikasi penghargaan yang tentu saja menghasilkan bangunan yang memiliki respon sangat baik terhadap alam.
sebagai penutup Mcharg pernah menulis dalam Design with Nature, “I hope that in the 21st centure the largest accomplishment of art will be to restore the earth.” Mungkin saja harapan Mcharg akan menjadi kenyataan setidaknya di abad ini.
Referensi :
Conway, H. Roesnich, R. 1994, Understanding Architecture, Routlege, London, pp. 8
Murcutt, G. 2008, Thinking Drawing / Working Drawing, TOTO shuppan, Japan, pp. 91 – 92
Mcharg, I. 1992, Design With Nature, John Wiley & Sons, Inc, Canada, pp 180
Steele, J. 2005, Ecological Architecture: a critical history, Thames & Hudson, London, pp. 6
Wells, M.B.1971, ‘The absolutely constant, inconstestably stable architectural value scale,’ Progressive Architecture, vol.52 no 3, pp 93
Tidak Berbuat apapun bagi sesama berarti tidak berbuat apapun bagi diri sendiri. Kita harus dengan sengaja bersikap ramah dan murah hati kecuali bila kita ingin menyia – nyiakan bagian terbaik dari keberadaan kita. Hati yang direlakan berkarya akan mendapatkan kepenuhan dalam kebahagiaan. Inilah rahasia dari kehidupan di bawah permukaan Kita berbuat yang terbaik bagi diri sendiri dengan berbuat sesuatu bagi orang lain. Horace Mann
Pada suatu masa, Tanah persia pernah diperintah oleh seorang syeh bijaksana dan sangat dicintai rakyatnya. Syeh ini peduli sekali kepada rakyatnya dan keinginannya hanya berbuat yang terbaik bagi mereka. Rakyat Persia tahu bahwa syeh mereka mau menangani masalah – masalah mereka secara pribadi dan memahami pengaruh keputusan – keputusannya bagi hidup mereka. Secara berkala ia menyamar dan berkeliling ke jalan – jalan, mencoba menyaksikan hidup melalui cara pandang mereka.
Pada suatu hari ia menyamar sebagai seorang penduduk desa yang miskin lalu pergi ke tempat pemandian umum. Di sana banyak orang yang sedang menikmati saat – saat santai sambil bersosialisasi. Air di pemandian itu dihangatkan dengan api dari sebuah tungku di gudang bawah tanah, dan di situ ada seorang laki – laki yang bertanggung jawab mengusahakan agar tingkat kehangatan air di pemandian tetap nyaman. Syeh sengaja pergi ke ruang bawah tanah untuk menjenguk lelaki yang tanpa kenal lelah menunggui api.
Kedua orang itu makan bersama dan syeh berhasil menjalin persahabatan dengan lelaki yang kesepian itu. Hampir setiap hari sampai berminggu – minggu, penguasa negeri tersebut berkunjung ke tempat kerja sang penunggu api. Dalam waktu singkat orang asing itu menjadi terbiasa dengan sang tamu karena seringnya ia datang ke situ. Belum pernah ada orang lain yang menunjukkan perhatian atau kepedulian semacam itu kepadanya.
Pada suatu hari sang syeh menyingkapkan jati – dirinya yang sebenarnya . Ini sebuah langkah yang berisiko, sebab ia takut orang tadi akan meminta hadiah atau pemberian istimewa darinya. Namun diluar dugaan, teman baru sanga pemimpin itu hanya memandang ke dalam matanya sambil berkata, “Yang Mulia bersedia meninggalkan kenyamanan istana dan kemuliaan yang mulia untuk duduk menemani saya di ruangan gelap yang seperti penjara bawah tanah ini. Yang Mulia bersedia makan makanan saya yang tidak lezat dan dengan tulus menunjukkan kepedulian atas hidup yang saya jalani. Kepada orang lain Yang Mulia mungkin telah menganugerahkan uang atau barang berharga, tetapi kepada saya Yang Mulia telah memberikan yang terbaik, Yang Mulia telah memberikan diri Yang Mulia sendiri.
Selama ribuan tahun, orang telah mencoba menggali apa saja yang mendasari hubungan antar manusia. Dengan semua falsafah , teori, dan spekulasi itu, hanya satu prinsip yang tampaknya tampil paling menonjol. Prinsip itu bukan barang baru sama sekali. Sesungguhnyalah, prinsip itu hampir sama tuanya dengan sejarah sendiri. Prinsip itu telah diajarkan di Persia lebih dari tiga ribu tahun yang lalu oleh para pendeta Zoroaster kepada para pemuja api yang percaya kepada mereka. Konfusius menekankan prinsip ini di Cina dua puluh empat abad yang lampau. Di lembah Han hidup para pengikut Taoisme. Pemimpin mereka, Lao – Tzu mengajarkan prinsip yang sama dengan sungguh – sungguh. Lima ratus tahun sebelum Masehi, Buddha mengajarkannya kepada murid – muridnya di tepi sungai suci Gangga, Naskah – naskah Hinduisme mengangkat prinsip yang sama lebih dari seribu lima ratus tahun sebelum masehi. Sembilan belas abad yang alalu, Yesus mengajarkan prinsip yang juga sama kepada murid – murid dan pengikutnya. Ia meringkasnya dalam satu ungkapan:”Perbuatlah kepada orang lain apapun yang engkau ingin orang lain perbuat kepadamu.”
Sikap tidak mementingkan diri sendiri yang memungkinkan kita memberikan diri kepada orang lain barangkali tidak akan menjadi pelajaran yang diutamakan dalam pendidikan di sekolah – sekolah masa kini. Kendatipun kita hidup dari apa yang kita dapatkan, ganjaran yang sejati kita peroleh dari apa yang kita berikan. Anda tidak akan menikmati hari – hari yang memuaskan, bahkan meskipun Anda mungkin tergolong sukses menurut tolak ukur yang berlaku di masyarakaat, kecuali bila Anda telah berbuat sesuatu bagi seseorang yang tidak akan pernah mampu membalas perbuatan baik Anda.
Ditengah hiruk pikuk kegiatan dalam dunia yang sangat kompetitif ini, luangkan waktu dalam beberapa hari mendatang untu merenungkan pemikiran Harold Kushner : ” Tujuan hidup ini bukan untuk menang. Kita hidup agar berkembang dan saling berbagi. Anda akan mendapatkan kepuasan lebih banyak dari kebahagiaan yang Anda datangkan ke dalam hidup orang lain daripada yang akan Anda dapatkan ketika Anda mengungguli dan mengalahkan mereka.
Saya berpikir bahwa tulisan dari Glenn ini akan mewarnai kehidupan kita untuk saling berbagi dan menghargai sesama, sama seperti diri ini yang masih jauh dari sempurna untuk menjalai kehidupan yang menciptakan perubahan dalam hidup sesama.
“Jika Anda ingin orang lain menghormati Anda, Anda harus menunjukkan hormat Anda kepada mereka… Setiap orang ingin merasakan bahwa ia diperhitungkan, bahwa ia penting bagi orang lain. Pada umumnya, orang akan memberikan kasih sayang mereka, rasa hormat mereka dan perhatian mereka kepada orang yang memenuhi kebutuhan tersebut dalam dirinya.
Kepedulian kepada orang lain umumnya mencerminkan kepercayaan kepada diri sendiri dan kepercayaan kepada orang lain” Ari Kiev
Ketika menengok ke masa silam, Anda akan menemukan bahwa saat – saat ketika Anda merasakan hidup dalam kepenuhan adalah saat – saat ketika Anda telah berbuat sesuatu dalam semangat kasih. Henry Drummond.
Selamat menikmati hari Minggu terbaik dalam hidup anda, God Bless You All.
I met this man few months ago when I just started MUDD course in University of New South Wales Sydney. it was memorable moment. He gave us quiz and I couldn’t answer any of them. Then I laughed over loud to this old man. and he said, I don’t like people laughing at me and then he smile and said, “but I like people who try to answer the question.” Every time I laughed and this man got even angrier at me, but at the end he is always smiling.
what he taught is about how to create place for the people with his extensive knowledge of ways of thinking for not getting lost in your thinking. You have to know where your mind set is in extensive information about urban design theories, city growth, and issues of concern that is coloring everyday life.”You must know what you are doing” that’s what he said. Many student felt he is grumpy professor but everybody knows he is such a lovely man. He is still the admirable professor that every student will respect him.
In his world, there is no me, “never say I design. say the design proposed, because when we’re designing we are making proposal for people which based on several scenarios” he says. This view which I think is nonsense before joining MUDD because architecture plays with originality of idea which has genius loci on its context. But in several way empiricist thinking has a rational that is true to achieve certain quality of affordance.
He put the way to bring originality in rationalism and the way to look at the past in empiricism. And he is an empiricist which this world I haven’t experienced before. I learnt to deepen the strategy which is original and brings it into a way that people could understand. Like Mies van de Rohe says, “less is more”. make it simple and beautiful but like what Robert Venturi says, “less is bore”. Rational and empiricist are the two way of looking paradigm. which like we have to know which one good is and we ought to know which one the bad is. this two way is like a contradictions like how people seeing things. He taught us about the contents of lot of beautiful cities in the world aesthetically, which part of the world is failed and which one succeeded, what the good city is. he taught us a method on looking the way around us with theoretical framework.
In his view, he has pure objective on assessing works based on each criteria. He has deep knowledge about urban design in American experience and case studies around the world. his works includes :
Urban Design: A typology of Procedures and Products. Illustrated with over 50 Case Studies, Creating Architectural Theory: The Role of the Behavioural Sciences in Environmental Design, American Experience, Designing for Human Behaviour: Architecture and the Behavioural Science , A Concise History of Modern Architecture in India, Designing for Human Behaviour.
I think today, when he retired from MUDD. I put a tribute to him, a great scholar. It wasn’t a big loss for MUDD, but Jon’s thinking will make new blossoms for his legacy. I am honoured to be taught by this person, a truly dedicative person. Thank you Jon Lang, salute!
Di akhir tahun ini aku berpikir mengenai apa yang sudah terjadi di tahun 2009 dan apa yang ingin diraih di 2010. Ada orang – orang yang punya mimpi , cita – cita, dan resolusi tahun baru, ada juga yang menganggap ini hal yang biasa – biasa saja, dan berjuang sehari – harinya. Namun kita semua selalu mengharapkan hidup yang lebih baik di tahun yang baru ini, tahun 2010. Apa arti 2010 ini ? Apa mimpimu ?
Kehidupan
Pikiran ini melayang ke rencana di bulan Maret tahun depan, sekolahku akan berakhir, gelar akan diraih. Orang – orang banyak yang menanyakan di akhir tahun ini. Untuk kemana langkah ini akan dilangkahkan setelah selesai kuliah master ? Ingin bekerja dimana ? Menetap dimana ? Apa akan kembali berkerja di london lagi ? Atau ke Abu Dhabi ? Atau ke singapore ? Atau tetap di Sydney ? Atau pulang ke Indonesia ? Apa rencana jangka pendek ? Apa rencana jangka panjang ?
Pikiran ini melayang, kemana angin membawa, aku pergi, rasanya hidup ini memang tidak pernah pasti,
Terkadang Angin itu tidak diharapkan, membawa kesialan orang bilang, membawa bencana. Terkadang angin itu tenang, dan diharap2kan oleh semua orang. seperti kita mengharapkan sirkulasi udara silang dalam desain rumah tinggal maupun bioclimatic tower. Dimana udara bergerak dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah, dari temperatur yang dingin ke panas.
Aku berbincang – bincang terakhir dengan salah satu arsitek senior dengan 40 tahun pengalaman, ia berkata, “Rich, bagi saya apapun yang terjadi dalam hidup, saya tidak takut, karena itulah hidup, mencari jawaban dari masalah yang ada.” tambahkan dengan bersyukur dan berdoa.
Ada satu cerita dimana keponakanku akan menjalani operasi besar dan membutuhkan darah , saat itu aku baru saja pulang dari Sydney untuk keperluan perkerjaan dan Pengalaman pertama menjadi donor darah sungguh berkesan. Aku melihat – lihat sekitar di daerah PMI jl Keramat, banyak orang hilir mudik, orang tua yang berada di sampingku berkata, “ini bukan apa – apa kalau malam lebih ramai lagi”.
Mereka semua sibuk mencari darah untuk sanak keluarganya yang membutuhkan. Aku belajar bahwa darah maksimal yang bisa diambil dari tubuh manusia adalah 450 cc dan untuk 3 bulan baru bisa mendonor kembali. Aku juga baru tahu bahwa ada penghargaan pula untuk orang – orang yang sudah mendonorkan darahnya selama 100 kali untuk diberikan piagam penghargaan dan kesempatan bertemu presiden RI.
Sedemikian besarnya arti darah untuk orang lain. Senyum ini pun muncul melihat satu paragraf di kartu merah donor darah, “darah anda berarti bagi sesama.” berbagi kehidupan melalui darah. Tuhan, Semoga keponakan ku bisa kembali sehat seperti semula.
Bersyukur akan kehadiran orang tua
Dalam liburan natal dan Tahun baru ini, aku sempat untuk berbincang – bincang dengan ayahku. Aku mendapatkan banyak hal dari berdiskusi dengan beliau. Beliau adalah tempat aku bertanya, dalam hal – hal besar maupun hal – hal kecil di masa depan maupun pengalamannya di masa lalu. Terkadang nada bicara bisa meninggi namun terkadang biasa – biasa saja. Aku selalu berpendapat sebelumnya bahwa berjalan – jalan melihat sekitar akan menajamkan empati kita terhadap lingkungan dan orang lain. Namun ada sebuah cerita,
“Andrew was always kind and thoughtful to his grandparents. He talked to them. Asked them questions. Listened to their experiences. These were four elderly people from two sections, of Italy, born at the start of the twentieth century, when people traveled by hose and cart, with no electric light, no radio, when diseases that have long since been eradicated were killers and family members an neighbors never made it past the first few grades in school and news from outside the village reached them by word of mouth… Andrew grew up listening to the people around him and continues that practice to this day. There’s saying that you broaden your horizons through travel, but if you are curious enough to listen to other people , you can broaden your horizons without leaving your backyard.” – Larry king
Dari keseharian yang biasa – biasa saja, kita pun bisa mendapatkan hal yang sama. Orang tua itu sendiri adalah harta paling berharga dari keluarga. Di negara Jepang, Toyota bisa maju di industri otomotif karena menjaga orang – orang senior untuk saling berbagi terhadap anak – anak buah yang junior sampai usia 75 tahun. Jadi teknologi dan ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari bisa terus ditingkatkan sehingga era fabrikasi dan penggunaan robot bisa dilakukan secara kontinu. apakah kita bisa belajar dari toyota ?
Bersyukur untuk masalah
Di awal 2010 ini, aku percaya keoptimisan itu harus diciptakan, optimis akan menghasilkan sikap yang baik dan kesempatan… di tahun yang baru ini semoga kita semua bisa diberikan kesempatan untuk selalu berkarya.
Ketika aku melihat kebelakang kubersyukur
akan Tuhan yang memberikan seluruh hal yang sungguh indah untuk dijalani
akan nafas yang diberikan setiap waktu untuk membuat hidup itu ada,
akan air, akan alam dan peradaban arsitektur yang menarik untuk di amati
akan orang tua, keluarga, gadis yang kucintai dan teman – teman ada
akan kehidupan yang cukup, akan pekerjaan,akan ketidaknyamanan, akan resiko dalam hidup, dan akan masalah yang ada, karena itu semua yang membuat resolusi di tahun 2010 ini melihat diri untuk lebih bersyukur dengan apa yang sudah ada dan berusaha lagi dengan segala kesempatan yang ditemui.
Aku bersyukur dikaruniai orang – orang yang sungguh berbakat di sekitar seperti dua orang arsitek muda berbakat yang baru saja kutemui 2 bulan kemarin dan satu orang arsitek berbakat, ku berkerja bersama selama satu tahun belakangan ini, untuk bisa berdiskusi, berkarya, dan berbuat bersama untuk keseharian perkerjaan. Mungkin di bulan – bulan kedepan cerita yang lebih menarik akan muncul.
“Seberapa jauh perjalanan anda dalam hidup ini bergantung pada apakah anda bersikap lembut kepada yang lebih muda, bersikap kasih kepada yang lebih tua, bersimpati kepada yang harus berjuang lebih keras dan bertenggang rasa kepada yang lemah dan yang kuat, karena suatu hari dalam hidup ini, anda akan menjadi salah satu diantaranya “ George Washington Carver
Semoga beberapa bulan ke depan, hidup akan semakin baik dan semakin berwarna untuk dijalani
Kyoto, 091128 , Japan, a country with endless story about culture, history, and nature.
Tinggalkan pikiran – pikiran dunia, merunduklah. Dengarlah suara teko air teh yang mendidih, dengarlah suara alam, burung – burung yang berkicau, suara air yang menetes, suara kaki orang yang berjalan, alam sesungguhnya berbicara, rasakan kesempurnaan dalam ketidak sempurnaan, mata ini menatap ke arah huruf kaligrafi jepang yang ada di depanku, kemudian wanita di depan ku berkata, prinsip ini melandasi budaya Jepang pada upacara minum teh, yaitu Simple dan Rustic.
Tak heran semua yang ada di Jepang terlihat begitu sederhana dalam kesehariannya meskipun jejak – jejak modernisasinya juga terasa dimana – mana. Konstruksi Detail – detail kuil yang terbawa dari jaman dinasti Tang China, berubah menjadi sederhana dan tampil apa adanya.dengan warna – warna alam. Berbeda dengan China yang menggunakan warna – warna cerah untuk kuil – kuilnya. Di Kyoto, kuil2 dijaga kelestariannya, di jaga kesempurnaannya setiap 30 tahun, mereka tetap berbicara dengan alamnya dengan kondisi yang terbaik untuk anak cucu mereka untuk melestarikan budaya.
Musim gugur, di bulan november, saat yang sangat indah dimana pepohonan mulai menunjukkan warna-warninya. Gingko dengan warna kekuning-keemasannya, Mapple degan warna merah kekuningannya, maupun Sakura yang berwarna kecoklatan. Berjalan – jalan ke 4 kota yang berbeda, Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka. Tokyo, Nagoya, Osaka dengan densitas yang sangat tinggi. Karya maestro – maestro designer Jepang yang bertaburang antara kota2 ini menjadikan kota ini menarik sebagai objek arsitektural ataupun relasinya denga tata ruang kota. Juga Kyoto, kota yang sangat indah dengan kuil2 shinto dan buddha, menunjukkan transisi dari artifisial ke alam.
pikiran ini beralih ke satu saat di studio NIT [Nagoya institute of Technology] ‘Hey apa yang kalian berdua lakukan, tanyaku, kepada kedua orang teman jepang yang ada di tim desain, mereka terlibat dalam debat yang cukup lama, saat itu sudah jam 5 pagi di studio workshop, satu bernama yuki, satu lagi bernama Ban, mereka masih berdiskusi tentang desain di saat sepagi ini sedangkan besok adalah waktu untuk presentasi jam 1 siang.. Aku juga baru tahu ternyata mereka sudah beberapa hari ini tidur hanya 1 ataupun 2 jam di studio workshop. Saat itu Teman – teman dari Australia pun sudah pulang.Bagi mereka berkerja sepagi ini di luar persepsi, dua dunia yang sungguh berbeda. Satu mengejar kesempurnaan dan satu mengejar kenyamanan..
Setelah kita berdiskusi sampai jam 6 pagi, 3 jam setelah itu mereka menyelesaikan gambar dan siap untuk presentasi.
Frank llyod Wright mendapatkan inspirasinya bentuk arsitekturnya pun dari jepang, cara ia bermain dengan bidang – bidang horisontal, Pola atap, proporsi massa dengan mengambil prinsip planning beaux art Perancis. Jepang sendiri secara jelas memamerkan budayanya pada saat World Columbian Exposition 1893, semenjak itu arsitektur jepang mulai menginspirasi banyak arsitek amerika dan dunia pada waktu itu. Diri ini terinspirasi oleh karya wright di imperial hotel dan school of free spirit, dimana ia bermain dengan planning split level untuk menghasilkan ruang – ruang yang mengalir dengan permainan bukaan dari permainan yang terlihat sangat sederhana namun sangat cerdik. Pola – pola detail artikulatif yang terus berulang yang konsisten dari tampak besar ke tampak kecil selebar 1 – 3 cm yang saling berbicara satu sama lain. Gedung imperial hotel ini hanya lobby yang tersisa, kamar – kamar dan ruang makan sudah dihancurkan. Saat itu aku bertanya kepada kyoko, salah satu mahasiswa jepang, kenapa dihancurkan ? Satu sebabnya, adalah gempa yang menyebabkan bangunan ini rusak parah, pertanyaan kedua , kenapa tidak direstorasi ? Kyoko pun menjawab, terlalu mahal. Aku pun tersenyum, diri ini kembali teringat pada Jon Lang, satu kata yang harus kita ingat, affordance. Seberapa terjangkau satu karya bagi satu negara, satu kota, satu komunitas, satu keluarga, orang per orang.
Desain juga bersentuhan dengan affordance meskipun ia adalah karya sebuah maestro arsitek.
Dari Jepang aku belajar lebih mencintai budaya, alam dan kesungguhan untuk berkarya. Dari totalitas yang ada, belajar untuk mengembangkan rasio dan rasa, pikiran dan perbuatan untuk menghasilkan karya terbaik. Di balik rasio yang kudapat dari Australia, aku mendapatkan pelajaran rasa dari Jepang, negara yang cantik, dan indah dalam keseharian.
dan 3 bulan lagi aku akan menyelesaikan studi di Australia, pertanyaan menarik ketika aku bepikir kemana aku akan melangkah selanjutnya… aku percaya 3 bulan ini adalah bulan yang paling kutunggu – tunggu…
Dan Aku pun berkata kepada teman – teman di Jepang, 2 tahun lagi aku akan kembali ke Jepang, karena pelajaran ini masih belum selesai , dengan wanita terbaikku…
Dan Aku pun berkata kepada teman – teman di Jepang, 2 tahun lagi aku akan kembali ke Jepang, karena pelajaran ini masih belum selesai , dengan wanita terbaikku…
Just after the Olympics, Iron demand, steel output and oil imports all continued to increase at double digit annual rates. 1 million people are moving from the countryside to the cities each month, the oil prices which rose to almost 10 percent since 2008 which have led to shortages of fuel and electricity, and China stock markets have crashed over the past year. Shanghai stock exchange fell 53 percent at the end of 2008. Unsold automobile inventories rose 50 percent to a four year high in June 2008. Foster (2008:55).
1)introduction to Beijing
The writing begins with the introduction of the Beijing old city planning, development reality behind Olympic 2008, and situation after that. To describe Beijing in simple word is not easy. It has an amazing fabric, planning hierarchy principle based on class hierarchy principle. Rose also stated the city is practically a diagram of imperial china’s coherent and comprehensive idea statement… it is a succession of concentric quadrangles. Rose (2008:8). It’s a well integrated city with grid planning and courtyard housing which was built in 3 different dynasties. The mountain Area southwest of Beijing was the home of Peking man some 500,000 years ago. In the 11th century B.C. became Jicheng (the city of Ji). It was the capital of the state of Yan of the Warring States period (475-221 B.C.). The city grew and in the mid 12th century. The Jin Dynasty made it its capital calling it Zhong Du (central capital). A century later it was made the Yuan dynasty capital of Kublai Khan, who named it Dadu (Great Capital). In the early 15th century the Ming dynasty rebuilt the city and named it Beijing (northern capital). Yongqing (1980:4).
Wu in his book Rehabilitating the old city of Beijing explained that Beijing is different than most of its predecessors, which perished at the end of the dynasties in which they were created, Beijing evolved through the last three dynasties of the Yuan, Ming, and Qing. It has become the ultimate example of ancient Chinese city planning. Liangyong (1999:3). Paris as a comparison with Beijing in figure 1 on the page 2 can be seen as a small portion of Beijing. While from 800 until 1800 Beijing hasn’t grown so drastically. Wu stated that Beijing was the largest city in the world in the period between AD 1450 and 1899 in terms of population size (except during the period between AD1650 and 1700, when Constantinople overtook it by a small margin. Liangyong (1999:4) It shows that Beijing has a rich and complex urban growth that is been existed for 2000 years.
In 1978, London times correspondent David Bonavia pictured Beijing as a monotonous socialist city, lacking in vice and urban life. Twenty-six years later, Chinese blues singer and writer Liu Sola pints the chaotic landscape of an alienated megalopolis… in the swirl of global consumerism. Broudehoux (2008:1). In 2008 when the Olympic was happening in Beijing, it consist of not only a city staging but it was a country staging to the world to show the world that China showing it’s economic power through Olympic in Beijing. The city has been going into huge changes in the Mao era and its progression on 1990s and The Olympics undoubtedly was a catalyst of urban growth in Beijing.
The structure of the writing is:
1)Introduction
2)Urban landscape developed pursuing Olympic 2008
3)Urban landscape After Olympic 2008
4)Conclusion
In This essay, the scope and time line is limited to before and after 2008. Chapter 1 is the introduction about Beijing. Chapter two is the chapter of to seek an answer about the image construction in Beijing pursuing Olympic 2008, and how the government role and commercial role take in charge of inventing architecture as agent of change of reshaping new image of Beijing. Chapter 3 seeks for current condition to know about recent situation. It is the chapter to understand the current Beijing’s economic situation and what is happening on government’s strategy on reshaping urban landscape. Statistics and literature study will be chosen as methods for achieving data. These 2 chapters develop specific points which provide the foundations upon which the hypothesis conclude. Chapter 4 is the conclusion which demonstrates summaries of the essay and provides the answer of the hypothesis above.
2) Urban landscape developed pursuing Olympic 2008
Rose as stated in the book called Solutions for a modern City, Arup in Beijing that Beijing is’ the greatest single work of man on the face of the earth”. The city is practically a diagram of imperial china’s coherent and comprehensive idea statement… it is a succession of concentric quadrangles. The basic unit of Beijing was the siheyuan, a four sided single storey residence for an extended family with an open courtyard at its centre… were packed neatly in a grid of streets aligned to the points of the compass… Forbidden city follows the same rules as the domestic architecture: courtyards within courtyards…’ Rose. S. (2008:8). It also has the orientation from north to south from the Gate of Eternal stability to the south, passing Tiananmen Square through centre of the Forbidden City, and beyond it to ceremonial bell and drum towers, in the north of the city. See figure 2
Figure 2 Arup’s project in Beijing (2008:9)
In 2008, Arup as a international engineering firm has been closely involved in many of the iconic and monumental projects commissioned to support the Olympics, the project consists of The national Aquatics centre, ‘Birds nest’ The Beijing National Stadium, The fencing hall/ National convention center, Beijing Capital International Airport’s new terminal 3, the new headquarters of China Central Television (CCTV) which is a triumphal arch and 70 storey skyscraper… the client called for an iconic building and this one characteristically mixes its understated metaphors,…’ Jencks, C (2007:60), others are China World Trade Center Phase 3 (tallest building in Beijing), Beijing South rail station (starting point for high speed rail services to the regions of Tianjing and Shang Hai), Beijing Parkview Green (largest sustainable architecture projects), Nokia china’s new headquarters (also known as the Nokia green building).Arup (2008:62-63).
The number of the projects is more than 9 that consisting multi billion projects. The number depict a reality at time of pursuing 2008 that it deals with a buildings, a public realm, and undoubtedly money. The 9 projects that are mentioned above is just a small portion of what’s really happening in Beijing.
Olympic as a catalyst of city’s growth in Beijing is not a new story, It happened in several cities and countries such as ‘… Rome, host of the 1960 Olympiad, where highway, airport, and urban landscape improvements were implemented in advance of the event…1964 Summer Olympic Games, Tokyo built two new underground rail lines, expanded its metropolitan highway network,… public housing, sewer infrastructure, and harbor facilities. Munich’s Olympic Village was designed to be a community for moderate-and low income residents after the games, and hosting the ill fated 1962 Games was the impetus for restoring the historic city center… Campanella (2008:125)
Beijing has been in a phase to exploit its material fabric of the city through architecture and urbanism. One of the official concepts of the Beijing organizing committee of the Olympic Games underscores the concept of showing china’s economic advancement through a high tech Olympics showcase. BOCOG stated the mission of Beijing Olympics that : ‘The Beijing 2008 Olympic Games Sponsorship Program shall abide by the Olympic Charter and adhere to the Olympic Ideals and the three concepts of ‘Green Olympic Games, High-tech Olympic Games and People’s Olympic Games’; assist in the promotion of the Olympic Movement, the promotion of the Olympic image and brand awareness of the Beijing Games and COC in and outside China; ensure financial sufficiency and stability, and reliable technical and service support for the staging and operation of the Beijing 2008 Olympic Games; provide a unique Olympic marketing platform for both Chinese and foreign enterprises and encourage the broad participation of Chinese business entities to enhance their corporate image and brand awareness through their Olympic association, and provide quality services to sponsors and maximize the return on their investments while helping them forge long-term partnerships with the Olympic Movement in China.’ BOCOG (2009)
The government highlighted several keywords: green, high tech, and people. For a month in 2008 a city of 15 million permanent residents and 4 million from elsewhere in the country will receive more than 2.5 million visitors, including 17,600 athletes and officials and at least as many members of the press, Marving (2008:233). By 2008, there will be a total of 800 hotels with 1300000 rooms compared to 458 hotels with 84812 rooms in 2005 (Owen 2005, 13-14). 31 sport venues are mandated for Beijing and six more for the host cities of Qing Dao, Hong Kong, Tianjin, Shanghai, Shenyan, and Qinhuang Dao. 16 of this are completely new; all but three will be upgraded. Marving (2008:233).
The strategy of urbanism consist developing transportation, open space, and quality of the environment. The public transportation was improved, older buses and taxis have been replaced with new ones that run on compressed natural gas (CNG) or comply with the municipal vehicle emissions standards, enforced in the recent years by the city of Beijing. ‘Out of total operating fleet of 60,000 taxis and 19000 buses, more that 47,000 old taxis and 7,000 old diesel buses had been replaced or refitted by the end of 2006. New buses powered by compressed natural gas (CNG) were introduced to replace old buses: 2,795 CND buses are now running in Beijing.’UNEP (2007: 18). It also consist a transportation projects such as Tibet-Qinghay railway (The world’s highest) and the three gorges dam (the world’s largest). Marvin (2008:230).
Green space is also developed, ‘green coverage in Beijing, and has expanded to more that 50 percent of the city’s area. Beijing has created three different ecological zones in the mountain, plains and urban area to create a green shelter for the city. At the end of 2006, the three ecological zones were nearly completed, including a total of 20 natural reserves to protect forests, wild plants and animals, wetlands, and geological formations. ‘ UNEP (2007:20)
Beijing was doing well based on the assessment from UNEP Report in setting the environmental goals. During the candidature phase in 2000, Beijing set ambitious environmental goals to show the world its commitment to sustainable development. Beijing’s municipal Government and government of China outlined 20 key projects to improve Beijing’s environment, and an overall investment of US$ 6.6 million in 2003-2007 under the Beijing sustainable development plan. The project areas range from addressing air and water quality and waste management to including environmental considerations in new infrastructure development. According to official data, 4.13 million tons water were produced in 2006 in the eight central districts, while the overall processing capacity was close to 3.98 million tons water, giving a processing rate to 96.5 percent , UNEP(2007:14,20)
Nevertheless the extinction of China’s dolphin also known as Baiji which usually lives in Yang Tze River underlined that at some points this development has a significant effect to the environment. The dolphin’s population had plummeted from about 400 in the late 1980s to less than 100 in the mid-1990s.The last search for the animal, in 1997, yielded 13 sightings. But none has seen them since 2004, Lovgren (2009). This extinction of the Baiji resulted from heavy pollution that happened in the yang Tze River.
Additionally, there are thousands of major commercial and government projects in China. It has the same completion day which is August 2008. With so many big projects ending at that month it may cause a down turn to global economy as the demand of construction will suddenly falls.
3) Urban Landscape after Olympic 2008
Beijing has already achieved many of its bid commitments, for example on waste water treatment, water source protection and waster management, and appears to be well on the way of fulfilling all of them. In UNEP’s view, this is an achievement in itself, especially considering that the organizing committee of the previous Olympic summer games failed to follow up their environmental promises. UNEP (2007:20)
Beijing has used the Olympic Games for a catalyst of the economy growth to show the power of China. It does come to the nationalism to the heart of the people if we come back to the previous mission of Beijing Olympic Games that has 3 mission: green, high tech, and people. The number of the statistic is worrying. To talk about the people, Yuann and inch underlined that China exports just about anything and everything, from products to outsourced services, therefore it can be said to drive the economy forward. It also becomes basic of the fundamental of the economic driver. The fundamental are the three primary growth drivers – trade, investment, and consumption. Yuann and Inch (2008:69). The first that has to be concerned by the government is the exports. China is heavily depends on the West market, but since the economic crisis hit in the middle of 2009. The numbers of the trade, investment, and consumption started to decline. Demand from Western economies is the slow but steady appreciation of the Yuan and China’s own efforts to raise interest rates and stem shipments of resource-intensive products like aluminum and steel have hit exporters. Looking at the figure 3.
Figure 3 Trade plunge in China’s economy Source from Chinability 2003
The foreign trade continued to drop sharply with a slight decrease of trade surplus. The total value of imports and exports for the first half was US$ 946.1 billion, down by 23.5 percent year-on-year. The value of exports was US$ 521.5 billion, down by 21.8 percent, and the value of imports was US$ 424.6 billion, down 25.4 percent. The trade surplus was US$ 96.9 billion, a decrease of US$ 2.1 billion over the same period last year.
Figure 4 Price of Oil International Energy Agency (2009:42)
The second is energy prices. China’s oil imports as a proportion of its overall import bill rose to almost 12 percent in the spring from around 8 percent at the start of 2008. China’s predicament is made worse by an unholy mess of price caps and subsidies in its domestic energy markets, which have led to shortages of fuel and electricity. EIA (2009)
Just after the Olympics, Iron demand, steel output and oil imports all continued to increase at double digit annual rates. 1 million people are moving from the countryside to the cities each month, see figure 5. The oil prices which rose to almost 10 percent since 2008 which have led to shortages of fuel and electricity, and China stock markets have crashed over the past year. Shanghai stock exchange fell 53 percent at the end of 2008. Unsold automobile inventories rose 50 percent to a four year high in June 2008. Nevertheless China’s government are dealing a dilemma of focusing on fighting inflation which was running over 7 percent in June 2008 or they look forward to stimulate a slowing economy. Foster (2008:55).
The consistency of the government was trialed by the down turn in global financial crisis to maintain a good economic growth. The economic growth is what Chinese government offer to make euphoria of good life. Broudehoux stated that current approaches to city marketing and urban image construction in Beijing are highly unsustainable and may actually be counter productive, she then made a basic proposition that there are a clash between two visions of the city: the abstract space imagined by state and its planners, and the lived space experience on a daily basis by the masses. Broudehoux (2008: 244-245).
The number of vacant space started to soar, 500 million square feet of commercial real estate has been developed in Beijing since 2006, an amount larger than all of the office space in Manhattan. In 2009,100 million square feet of office space is vacant — a 14-year supply if it filled up at the same rate as in the best years, 2004 through 2006, when about 7 million square feet a year was leased in Beijing. Demick (2009) Government is also spending money to the maintenance of the parks, According to a latest survey by the Horizon Group, one of China’s leading strategic researches and consultancy, China has invested about 150 billion Yuan (US$ 22 billion) in 2,500 theme parks across the country. 70 percent of them are not doing well now, and only 10 percent have paid back their initial investments.China daily(September 2009).
Conclusion
In reality, it’s true that urban image construction was instrumental in fostering urban growth. The urban image construction also carries positive long term effects as a vehicle for important transformations in Chinese society. It could act as a catalyst in promoting potential social change by provoking the creation of an urban public sphere.
I started my hypothesis from asking a simple question. Does Beijing need to slow down ? To answer this question is complex. China depends heavily on its exports. let me illustrate with a simple example. The immigration is about 1 million per month. People also need housing and job. The global crisis happened and the demand of the exports declining and there has been a down turn to China economic growth. Can Beijing slow down if the dream of the people is coming to Beijing to have a better life? If Beijing slows down would it show to the people that Beijing is declining? The government just doesn’t’ have any choice to slow down. One of the ways is to reduce the dependence to the exports. Another way is to reduce the migration to Beijing to slow down the urban growth of Beijing. The development always has positive and negative impacts. Nevertheless as Olympic is a catalyst of the urban development, it will increase the speed, scale, spectacle, sprawl, segregation, and on a final, hopeful note – sustainability Campanella (2008:281). I will end this essay with a picture of an old man sitting under a pine tree drawn by Ma Yuan consist of symbol of longetivity. Olympic is one of the miles stone that in the part of symbol longetivity for Beijing.
Paper in University Of New South Wales 2009, by author
Bilblio graphy
image 1 source from g’heyde’s photostream
Arup, 2008, ‘Solutions for a modern city Arup in Beijing’, Black dog, Italy, pp 62,63
BOCOG.2007. Beijing 2008 Olympic Marketing Plan Overview. The official Web Site of Beijing Olympic Games – Beijing 2008, One World one Dream, Updated August 24,2008 . Available at http://en.beijing2008.cn/bocog/sponsors/n214077622.shtml (accessed September 25, 2009).
Broudehoux,A.M. 2004,’The making and Selling of Post-Mao Beijing’,Routledge, London,pp 1, pp 244-245
Campanella, T. J.2008,’The concrete dragon : China’s urban revolution and what it means for the world’, Princeton Architectural Press , New York, pp 125,pp281
Chinadaily, 70 percent of theme parks in the red ,last updated: 2009-08-10 16:32, Available at http://www.chinadaily.com.cn/china/2009-08/10/content_8550933.htm
(accessed September 25, 2009).
Demick, B. Beijing’s Olympic building boom becomes a bust Last updated February 22, 2009 available at http://articles.latimes.com/2009/feb/22/world/fg-beijing-bust22
(accessed September 25, 2009).
Foster, K. 2008,’ A shared dilemma for Beijing and beltway policy makers,’ American Metal Market, Vol 117 issue 9, pp.55
IEA(International Energy Agency) Key status 2009, page 42, Available at http://www.iea.org/textbase/nppdf/free/2009/key_stats_2009.pdf
(accessed September 25, 2009).
Jencks,C. 2007, ‘Critical Modernism’, Wiley-Academy, Great Britain, pp 60
Lovgren,S.’ China’s Rare River Dolphin Now Extinct’ for National Geographic News
Last updated December 14, 2006 available at http://news.nationalgeographic.com/news/2006/12/061214-dolphin-extinct.html
(accessed September 25, 2009).
Marving,C. 2008,’All Under Heaven Megaspace in Beijing’, in Price,M.E., Dayan,D.2008,”Owning the Olympics’,Michiga press, Michigan, pp 230, 233
Rose, S.’ Solutions for a modern city’ in Arup, 2008, Solutions for a modern city Arup in Beijing’, Black dog, Italy, pp 8, 9
Liangyong, W. 1999, ‘Rehabilitating the old city of Beijing: a project in the Ju’er Hutong neighbourhood’, UBC Press, Vancouver, pp3,4
UNEP (United Nations Programmes )environmental assessment report 2008, updated September 2008. pp 14, 20 Available at http://www.unep.org/Documents. Multilingual/Default.asp? DocumentID=519&ArticleID=5687&l=en (accessed September 20,2009)
Yuann, J.K., Inch,J., ‘Supertrends of Future China’, World Publishing, Singapore, pp 69
Yongqing, Z. 1980, ‘fifteen cities in China’, China reconstructs, Beijing, pp 4
170909, Sydney.. 4 am ” Far and away the best prize that life offers is the chance to work hard. Theodore Roosevelt (1858 – 1919)
Mata ini terasa sakit, ingin untuk menutup, lidah ini terasa kelu, mungkin aku hanya butuh memejamkan mata sejenak. Tanganku kembali menulis satu paragraf demi satu paragraf. Sekarang sudah jam 4 pagi, baru saja satu pekerjaan dari Indonesia selesai dikerjakan, di antara pekerjaan – pekerjaan yang masih menunggu dan artikel – artikel tugas kuliah yang tertumpuk di kasur. Aku bergumam, besok mungkin aku harus ke perpustakaan dan semua ini harus selesai. Aku tertunduk lesu, duduk di depan meja gambar, dan terdiam saja. Tenagaku benar – benar terkuras, lembar demi lembar sketsa bertebaran di lantai, kamar studio ini sudah seperti kapal pecah. Kalau diingat – ingat sudah beberapa minggu ini keadaan sudah seperti ini, selebih lagi beberapa hari terakhir ini dimana dateline berdatangan. Untungnya beberapa minggu terakhir ini sudah ada rantangan yang datang setiap harinya, membantu untuk hidup lebih teratur. Senyum ini mulai muncul.
Kerja keras …
Aku ingat sering teman terbaikku bertanya, untuk apa kamu bekerja sekeras ini, untuk uang dan kebanggaan ? Aku pun terdiam. Aku belajar dari tahun-tahunku bekerja dulu meskipun semua orang selalu berlomba – lomba naik promosi ke jabatan yang lebih tinggi, kita terkadang juga berlomba – lomba untuk menolak tanggung jawab lebih. Orang berlomba – lomba untuk tidak bekerja keras meskipun mereka juga ingin hidup sempurna..ada kalanya di masa kaderisasi di Bandung, ketika aku sudah menjadi alumni , aku hanya mengamati bagaimana tingkah laku para senior dan junior… aku selalu teringat kejadian yang selalu berulang selama 9 tahun terakhir, menyuruh – nyuruh, memaki – maki, mengumpat, mencaci maki ketidak sempurnaan orang lain. Dunia ini tidak sempurna diantara bayang – bayang manusia yang tidak sempurna yang mencaci ketidaksempurnaan … Aku ingat pada waktu aku bekerja dulu, biasanya hanya 10 % orang – orang yang tinggal di studio workshop, bekerja di akhir minggu untuk hanya sekedar menyempurnakan pekerjaan, menyelesaikan gambar atau berkorespondensi dengan klien melalui email… dari bekerja kita mendapat uang dan kebanggaan. Semua orang butuh uang dan kebanggaan, uang untuk makan, dan kebanggaan akan profesi yang dicintai. Namun itu bukan segalanya. kalau dunia sesempit itu, kita tidak butuh kerja keras. lalu untuk apa?
setiap minggu wanita terbaikku selalu berangkat ke kliniknya, termasuk hari sabtu pagi.
Dari hari senin sampai kamis ia harus ke puskesmas, dari pagi jam 6 pagi sampai jam 9 malam. juga hari jumat dan sabtu. Terkadang kemudian kita bercerita hal – hal yang biasa, namun selalu membuat hal – hal yang biasa menjadi luar biasa dengan tertawa. Ternyata kita masih bisa tersenyum dibalik kesibukan yang luar biasa.
Pikiran ini melayang ke liburan satu minggu kemarinyang baru terlewat, aku bangun lebih pagi dari biasa, dan tidur lebih malam dari biasa.
Ada kalanya bersama teman – teman kampus ku pergi ke pantai yang hanya 30 menit jauhnya dari daerah ku tinggal . Pantai dimana langit begitu biru dan aku bisa menatap horizon untuk sekedar duduk dan menikmati alam, atau bermain lempar frisbee tanpa aturan yang jelas. Setelah itu ada kalanya diri ini bersepeda untuk hanya ke perpustakaan atau toko buku bekas untuk mencari buku – buku murah, membaca, dari satu pojok ke pojok yang lain. ya buku,
Buku itu yang bisa membuat kita menjadi mengerti akan mimpi, pendapat, dan sejarah ilmu pengetahuan. Semoga masih banyak anak yang ingin menjadi astronot, ilmuwan, sastrawan, arkeolog demi ilmu pengetahuan, demi penemuan yang baru. Keseluruhan sistem kehidupan yang berbasiskan bisnis dan perputaran uang belaka, sungguh membuat miris kehidupan anak2. Semoga saja anak – anak tidak berhenti untuk bermimpi untuk ilmu pengetahuan. Semoga tidak lebih banyak anak – anak yang duduk di depan tv dan menonton sinetron yang hanya berisi karakter sampah, mimpi sampah dan euforia sampah tanpa ilmu pengetahuan.
3 tahun yang lalu Aku teringat akan perkataan teman terbaikku, sore – sore Bandung yang rintik2. Waktu itu hanya seminggu sebelum aku berangkat ke London. Rich, semoga suatu saat nanti, kamu bisa sekolah dan mengerti apa kamu dapat dari sekolah lagi.
Pada saat ini aku berpikir mengenai mimpi, kerja keras, dan proses untuk menjadi tahu.
Aku bersekolah demi menjadi tahu, dan aku bekerja untuk menjadi tahu,. Mencoba sempurna untuk tau apa itu ketidaksempurnaan. Dengan bekerja sekeras mungkin, berpikir sekeras mungkin mungkin pada akhirnya nanti, anak – anakku sendiri akan melihatku, seperti aku melihat ayahku bekerja keras bagaimana Aku sungguh bangga akan ayahku yang selalu berusaha dengan kerja keras. Ia selalu tersenyum, mengingatkan untuk terus berusaha meski keadaan tidak berpihak kepadanya di keadaan yang sulit. Aku sangat bersyukur aku bisa melewati minggu – minggu ini untuk selalu belajar menikmati hidup dengan kerja keras. aku pun tersenyum kembali dan saatnya aku bekerja lebih keras lagi.
akhir kata Selamat Lebaran saudara – saudara muslim, selamat idul fitri, semoga diberikan berkat berlimpah dan bisa berkumpul menikmati kebersamaan dengan keluarga. mari kita kerja lebih keras lagi untuk merubah hidup menjadi lebih baik. Rich
He Lives In You
Ingonyama nengw’ enamabala [Here is a lion and a tiger]
Night, And the spirit of life, Calling,..Mamela [Listen] And a voice,With the fear of a child, Answers..
Wait, There’s no mountain too great Hear the words and have faith He lives in you, He lives in me He watches over, Everything we see Into the water, Into the truth In your reflection He lives in you
Terima Kasih Tuhan, kau telah memberikan orang – orang yang luar biasa untuk mendampingi hidup ini :)
“Nothing is as simple as we hope it will be.” Jim Horning
Free your mind like butterfly flying
Jari ini menari – nari, seiring dengan pikiran ini yang tidak kunjung berhenti untuk berpikir. Tanpa disadari Tubuh ini terasa penat, total perjalanan ke Korea berlangsung selama 36 jam, berada di dalam pesawat dalam perjalanan Jakarta, Perth, Sydney, Singapore,Korea – Incheon. Perjalanan yang penat namun memberikan waktu untuk kembali berpikir.
Cuaca kali ini sedang kurang bersahabat, terlihat dari jendela pesawat. Kemudian aku teringat akan sebuah cerita pada saat masa kecil dulu. Waktu itu guru agama kami memberikan sebuah soal, ada 10 orang di dalam pesawat, pesawat sedang mengalami kerusakan dan hanya bisa menyelamatkan 5 orang, siapakah yang anda pilih ?
Di antara 10 orang tersebut ada yang berprofesi sebagai dokter yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa,ada pula politisi yang dalam misi perdamaian Negara – negara yang sedang berperang, ada lagi misionaris yang akan mencerahkan orang – orang untuk berbuat baik, selain beberapa orang luar biasa, ada juga orang yang biasa – biasa saja, ada ibu rumah tangga , ada anak kecil, ada juga bapak yang berprofesi sebagai arsitek, tukang kayu, ahli computer.
Aku hanya bisa menghela nafas, apabila Tuhan menginginkan 10 orang itu untuk selamat ia akan selamat, apabila 10 orang akan meninggal ia pun akan meninggal. Hanya terkadang kita dihadapkan pada pilihan sulit yang tidak hanya menentukan diri ini sendiri namun juga orang lain.
Semoga ketika nanti dihadapkan pada pilihan sulit, akan tahu kemanakah aku harus memilih. Ahh aku sadar, pikiran ini melantur saja,
Guncangan pesawat semakin keras, memang cuaca semakin tidak menentu, mungkin ini sisi negatif terbang di malam hari, kumpulan awan dari laut yang relatif dingin di malam hari mengakibatkan guncangan perbedaan tekanan dari pesawat. Aku duga sekarang sudah berada di pertengahan jalan dari pulau Jawa dan benua Australia.
Pengolahan parti dan porche adalah satu teori bentuk arsitektur yang terbaik yang didapat selama satu tahun terakhir ini. Sensitifitas itu ternyata tidak berasal dari hati, namun dari kayanya ilmu pengetahuan. Dari tidak tahu menjadi tahu. Ingat juga apa kata Jon Lang, “kalian harus tahu apa yang kalian bicarakan, terlalu banyak ide – ide generic akan kalian kenal, dan kembali pergunakan, ide itu bisa berasal dari orang lain ataupun ide yang sudah bersifat generic, namun ingat, ide itu harus punya konteks”. Konteks terhadap angin, matahari, kelembapan, suhu, kenyamanan manusia, dan konteks terhadap program.
Un Studio, the galleria, satu koridor setelah itu
Di Korea aku bertemu teman – teman lama juga teman – teman baru. Aku ingat malam itu kita duduk ber 4 untuk hanya sekedar minum kopi.., kita pun saling tertawa ketika membicarakan cinta, hidup, kejadian – kejadian lucu selama ini. Dan Arsitektur pun dibicarakan.. aku baru sadar kalau mereka adalah orang – orang yang pernah berkerja di OMA, BIG, Snohetta, dan Foster + Partners dari New York , Pennsylvania, London sampai Copenhagen. Kita kemudian Saling bercerita bagaimana kerasnya jam bekerja, mengalami banyak hal positif, belajar banyak hal dari tempat – tempat terbaik dan akhirnya ada kerinduan untuk pulang ke Seoul. Kita ber 4 pun terdiam, .. mereka bertiga sudah ada di korea, dan melihat bahwa mereka bersyukur sekali atas hidup mereka sekarang. Kemudian kita pun tertawa, menertawakan kenapa kita bisa bertemu disana,mereka sendiri pun sudah lama tidak bertemu satu sama lain.
setelah itu kita beranjak melihat studio mereka,
studio itu berukuran kecil hanya 2.5 meter kali 6 meter, didalamnya ada mesin pemotong maket, ada tempat tidur satu buah, ada shower box transparan, lantainya pun dari karpet dengan pemanas ruangan dibawahnya, sepanjang sisi 6 meter terdapat meja panjang dengan puluhan maket dan puluhan kertas sketsa, ada 2 laptop disitu. Dari Sketsa, maket yang bertumpukan satu sama lain ada, studio mereka, project2 mereka yang dimulai dari awal . Mereka tidak hanya tergantung dari nama besar portfolio mereka ketika pernah bekerja di biro – biro luar biasa. Mereka melangkah maju, dari bawah, tanpa henti, mereka terus berlari.
Aku menyadari aku bertemu orang – orang yang luar biasa, Dong wook, Katy, Jang hee, kutunggu beberapa tahun lagi kalian menjadi arsitek – arsitek muda terbaik korea. Kuyakin saatnya akan tiba.
Laurensia pegang yang kencang, saatnya kita berlari lebih cepat lagi, melihat teman2 di Korea..Apa yang menanti, usaha, doa, usaha, doa, berlari lagi Laurensia.. Tarik nafas lagi, satu semester ke depan mulai berjalan lagi.
Saat ini juga aku teringat akan keluargaku dan Laurensia yang ada di Jakarta, masa depan, apa yang ingin kulakukan untuk tahun – tahun mendatang, diri ini berpikir mengenai banyak rencana untuk hidup, karir, pencapaian, Laurensia, ia biasa membantu aku untuk berdiskusi, menenangkan untuk mengambil keputusan secara pasti. Di setiap Negara sekarang sedang menghadapi masa – masa yang sangat sulit, Indonesia, Australia, Singapore, United Kingdom, tempat – tempat terbaik. Masa depan masih belum jelas terlihat untuk kemana aku melangkah. Biasanya aku menggunakan 200 % dari tenaga ku, maka ini saatnya berlari lebih kencang lagi, lebih kencang, lebih kencang. Apabila waktu ini hanya 24 jam, aku percaya aku bisa dengan doa dan usaha,
tiba2 teringat quote dari salah satu teman terbaikku dulu, ia menuliskan kalimat ini
“look up, reach the sky coz eventhough you fall down you will still be between the stars .” berlariiiii, menengokkk ke atasssss
” We now accept the fact that learning is a lifelong process of keeping abreast of change. And the most pressing task is to teach people how to learn.” Peter Drucker (1909 – 2005)
Konsep desain kompleks vokasi UI ini didasarkan pertimbangan atas 3 aspek, pertama, desain bangunan yang sesuai dengan iklim tropis. Kedua, desain bangunan yang kontekstual dengan pencitraan ui, dan ketiga, desain bangunan yang mampu memanfaatkan potensi lahan semaksimal mungkin. Penataan masterplan didasarkan dari penempatan ‘learning promenade’ di axis utama lahan yang menghubungkan node potensial transit oriented development dari Universitas Indonesia di titik selatan dengan node potensial titik wisata air amphi teater yang ada di sisi utara. Di sepanjang learning promenade ini diletakkan fungsi – fungsi untuk mengaktifasi kehidupan kampus vokasi. Di sini ada mahasiswa yang membaca buku di perpustakaan linear sepanjang learning promenade, disini ada juga café untuk para mahasiswa dan dosen berinteraksi, potensi landsekap yang mengikuti kontur juga bisa di optimalkan.Daerah kompleks vokasi ini juga akan rimbun akan pepohonan diantara massa yang menghadap utara dan selatan sehingga bayangan yang ada akan mereduksi panas dari sinar matahari di lantai dasar. Vista yang terbentuk ketika memasuki kompleks vokasi dari arah selatan terbentuk dari 3 elemen yaitu : vista menuju amphiteater air, vista transparansi massa gedung perpustakaan di sisi barat juga vista café menuju sungai dengan wisata air, dan vista di sebelah barat berupa alokasi lahan untuk taman obat untuk program kedokteran.
Ide perancangan dari kompleks Vokasi UI merupakan rangkaian dari 3 noda utama yaitu, – Kondisi eksisting yang berbatasan dengan sungai yang membelah dari utara ke selatan yang menjadi bagian interaksi dengan air, – Jalan disisi selatan yang merupakan titik pusat perhentian bus kampus dan – Jalan di sisi barat yang merupakan area servis GKU dan parkir belakang. Pembagian ini didasarkan dari pembagian fungsi-fungsi terbesar dengan anggota terbesar, seperti kedokteran dengan p’rodi baru, hokum, dan vokasi campuran. Hirarki ini juga didasarkan dari pengelompokkan dari ilmu manusia [kedokteran], ilmu etika [hukum], dan ilmu – ilmu umum dengan menghubungkan keseluruhan fungsi dengan gedung kuliah umum. Susunan pengelompokkan diatur berdasarkan besaran ruang yang diestimasikan dengan jumlah mahasiswa di tahun 2013 sejumlah 11700 orang.
Bangunan – bangunan penunjang seperti massa lobby utama diletakkan sepanjang boulevard yang diperuntukkan untuk galeri utama. Massa – massa dihubungkan dengan selasar yang dilengkapi dengan kanopi sedangkan di sisi selatan, diletakkan akomodasi hunian mahasiswa berlantai tingkat rendah dengan aksesibilitas menuju ke kampus vokasi UI. Daerah landsekap didesain sesuai eksisting dari kampus UI dengan orientasi aktifitas terhadap sungai dengan menghubungkan sisi timur sungai dengan lahan melalui rangkaian jembatan untuk akses pejalan kaki. Lahan parkir diletakkan di sisi barat kompleks Vokasi UI.
‘Bangunan – bangunan di kompleks Vokasi UI juga didesain dengan menggunakan arah orientasi bangunan Utara – Selatan yang sesuai dengan iklim tropis. Keadaan ini meminimalisasi cahaya matahari langsung yang masuk ke bangunan. Bangunan ini menggunakan konstruksi baja, penggunaan solar panel pada sisi atas bangunan, dan wind turbine di sisi dalam bangunan. Penggunaan batu bata juga mendinginkan suhu bangunan disamping meminimalisasi carbon foot print dengan penggunaan bahan yang re-usable.
Glenn Murcutt “The light and sounds of land are already there I just make the instrument make the instruments that allow people to perceive these natural qualities.” Perencanaan vokasi ini yaitu berusaha menjawab sebaik mungkin apa yang dibutuhkan oleh program studi Vokasi UI dengan tepat melalui pengolahan potensi konteks lingkungan yang ada.
Team Leader : Realrich Sjarief
Team : Dicke Nazary Akbar Lubis
Juri : Prof. Gunawan T, Baskoro Tejo, A.Tardiyana, A.Hery Fuad dan Syahrir AR
International Urban Design Student Competition of Song do New City, Incheon, South Korea
This scheme for Sector 11 in Song do new city is an unprecedented hybrid neighborhood which combine ubiquitous core to afford ubiquitous life in Song do. It is built entirely on a section of previously reclaimed land on East Song do waterfront immediately at the corner of Song do development. Korea’s commercial and business-driven information technology legacy has generated a rich creative energy. Hybrid City defines Ubiquitous design as cores, linkages, and hybrid neighborhood. Ecology defines this project to be sustainable as its part to cycle of the bird migration. This project will consolidate Korea’s reputation as a cultural destination while providing an iconic architectural image for the city. Objectives for the project are understood in terms of accessibility (transportation system), configuration of land use and activity of the site which is in the water front. First, the design aims to enhance urban connections, reduce the traffic congestion and create a convenient transportation system with high accessibility. Secondly, the design aims to attract more foreigners to invest in Songdo by providing more world-class ubiquitous infrastructures such as schools and hospitals. Thirdly, the design aims to focus activities along the waterfront and utilize sustainable strategies to protect water quality. Finally, the three objectives should refer back to the sustainable design aims to provide wetland as the habitat for the shorebirds. The planting of the mangrove and ecology of shore birds that needs mature trees to create the impression of a natural environment lying at the seaside edge. A water amphitheatre forms the focus of the districts southern edge. At seventy-three stories, Bioclimatic Tower is the ecological office tower and the second tallest building in Songdo that communicates with Incheon tower to create beautiful skyline of Songdo. It explores the nature of the office environment, developing new ideas for its ecology and working patterns. Central to this concept is a reliance on natural systems of lighting and ventilation. These developments at first 30 levels provide research center as a core from existing Songdo Research Park . At the heart of the tower lays series of hanging garden rising up to the sky with restaurants, cafes and spaces for social and cultural events. It will be the beacon of the ecology rising up to the sky.
Here is the translation to korean, I got help from my very best friend, Yung A Kim that works for Foster and Partners. Thank you Yung.
하이브리드씨티 – 편재하는생태
송도 신도시 11섹터의 계획은 도처에 존재하는 송도의 라이프를 공급하기 위해 편재하는 코어를 결합시키는 전례없는 하이브리드 지역 형태이다. 대지는 온전히 송도개발의 코너에 위치한 매립지 구역인 송도 동쪽 워터프런트에 있다. 한국의 상업, 비지니스 중심의 정보, 과학 유산은 풍부한 창조 에너지를 일으키고 있다. 하이브리드 씨티는 어디에서나 볼 수 있는 응집, 연결, 합성의 지역형태로써의 디자인을 정의한다. 더하여 생태환경은 이 프로젝을 철새의 이동에 있어 한 싸이클의 부분을 이룸으로써 자연친화적인 개념을 명시한다.
이 프로젝의 목적은 크게 접근성 (교통 시스템), 워터프런트로써의 대지사용의 형태와 워터프런트에서 일어날 각종 활동에 대한 조항등으로 이해될 수 있다. 첫째, 교통의 밀집을 줄이고 편리한 대중 교통의 창조하여 도시의 연결을 원활하게 돕는다. 둘째, 학교와 병원등 국제적 수준의 인프라스트럭쳐를 제공함으로써 송도에 더 많은 외국 투자자본을 이끌어낸다. 셋재, 수자원을 보호할 수 있는 자연친화적인 전략을 적극 활용, 워터프런트에 일어날 활동들에 집중한다. 마지막으로, 앞서 말한 모든 디자인 컨셉은 이곳에 서식하는 새들에게 공존할 수 있는 환경을 제공하기 위한 노력에 관계해야 할 것이다. 즉, 맹그로브의 조성과 물가에 서식하는 새들의 생태는 해안가에 나무들로 가공하지 않은 자연환경의 인상을 창조함으로써 조성될 것이다.
칠십삼층의 바이오클라이믹 타워는 생태 오피스 타워로 송도의 두번째 높은 빌딩이 될 것이며 인천타워와 함께 송도의 아름다운 스카이라인을 만들 것이다. 이 타워는 사무환경의 본질과 작업환경의 패턴, 생태에 대한 새로운 아이디어 발전을 탐구한다. 이 컨셉의 중심에는 통풍과 빛의 사용에 있어 자연적 시스템에 의존함에 있다. 첫 30층은 기존의 송도 리써치파크에서부터 도출된 핵심으로써의 리서치센터를 제공한다. 타워의 심장부 역할로 위치한 일렬의 스카이 가든은 까페, 레스토랑 그리고 각종 사회, 문화적 이벤트들을 포용할 수 있는 공간을 조성함으로 생태환경을 하늘로 끌어올리는 등대가 될 것이다.
I‘m always amazed by Steve Jobs with his speech at stanford, please enjoy your reading.
I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That’s it. No big deal. Just three stories.
The first story is about connecting the dots.
I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?
It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: “We have an unexpected baby boy; do you want him?” They said: “Of course.” My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.
And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents’ savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn’t see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn’t interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.
It wasn’t all romantic. I didn’t have a dorm room, so I slept on the floor in friends’ rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:
Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn’t have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can’t capture, and I found it fascinating.
None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, its likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.
Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.
My second story is about love and loss.
I was lucky — I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation — the Macintosh — a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.
I really didn’t know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down – that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me — I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.
I didn’t see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.
During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I returned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple’s current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.
I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.
My third story is about death.
When I was 17, I read a quote that went something like: “If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.” It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?” And whenever the answer has been “No” for too many days in a row, I know I need to change something.
Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.
About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn’t even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor’s code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you’d have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.
I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I’m fine now.
This was the closest I’ve been to facing death, and I hope its the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:
No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.
Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.
When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960’s, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.
Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: “Stay Hungry. Stay Foolish.” It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you
“Life without love is like a tree without blossoms or fruit”- Khalil Gibran
Do you believe in faith ? Love? Good will? I don’t know if you do, but I really do.
Today is Thursday. The day almost ends today’s scenario. It’s winter time in the middle of the night. I was wondering about what love might be in people opinion,
how about you? Sometimes I have seen the sincerity between people eyes in between strangers and friends in relationship, how would you determine love?
I will tell story about my experience of love and sincerity. What makes me grateful today that everyday, I will be trying to live with sincerity and love. Let me be personal in this writing. Everyone has their own story and here is my story.
Her name is Laurensia, She has the same age of me. She went to the same elementary school with me, the same senior high school with me, but we went to different university. She went to university in Jakarta while I went for my bachelor degree in Bandung. Bandung and Jakarta is 2 different cities, has different life style, different climate, but same solstice as the location approximately in same latitude. I had not much time to know her, since that time. 8 years after that, she is a Dentist and I am an Architect.
My life was so fast at that time, “a lonely ranger”, I would say. After I graduated, I worked in Bandung, Singapore, London, while sometime fly to Banjarmasin to help my brother’s business. It had been a wicked time for work alcoholic time with almost 40 design competitions and design built works across south East Asia, Middle East and China. I spent a year in one place and another year in another place.
The one thing that I still remember I really like to have a cup of hot sweet tea and 2 half done eggs just to work until morning. There was no ending story for projects. After office hour, I would take another competition and another competition again because we lived in the same dream as an architect and Urban designer. Like what Jon Lang said “Urban Designer designs”. Time flied pass by, leaving good memories about one place to another place, I did take a picture, be a tourist in the beautiful cities in the world to capture movement, another life, another culture just to survey the world. Cities were so much different than my hometown. Every frame and second was really a good memory. Playing piano is a way respect tranquility of my time despite I didn’t have much time left for myself. Oh I got another thing that is music, a tone that always starts my day with smile in the noise of foot step in London Subway. So what else?
010108-New year’s eve’Waterloo Bridge, I remember time passed by really fast, 1 year was like only yesterday,
I am really grateful now. For myself, time is stopping when first time I met her few years ago, realized how fast life was and It should not be like those time. Time should be respected, Since that I started to remember every moment without matter. If you have so many memories about the past, which one you want to remember? Love is a clue for my life that I have to live life with love. Love can make everything that is wrong to be right and in opposite. If life is a decision so would you dare to take your chance for you love? if you are together with me, raise your hand and we can dance and sing together.
After I met her, Time is back with me, it is just so slow and a moment never be passed, She has an honesty of truth, respectful to people. She gave me confident of creating vision when she said “you can do that, just believe on yourself because I have prayed so”. My tears fall for her in happiness and sadness, my vision broaden, my believe strengthen,
Life just stays the same as before, even I had more projects that I had not expected before. I still had a cup of hot sweet tea and 2 half done eggs just to work until morning. But I worked with love, play with love, and sing with love. A “U”curve is always drawn on my face and, life has changed. If I can end the writing in conclusion, I believe that Love, is just one word, but it is about your life, I think every people need to have this word,
a word to make your time in this world to smile. Don’t lose it. I will not lose mine.
Finally, my waiting day is over. I can meet my lovely Laurensia. She was in tour to Europe and ended in London. She traveled to Netherland before, before joining the Europe tour. So the plan was, her coming to London and coming back to Netherlands to do her tour. I prepare flower for her, I bought the flower at the battersea road, where I usually eat vietnamese food there. The stall was very beautiful, and so is the flower. My co-workers surprised when I brought the flower to the office. I asked my senior for 1/2 day off, because I worked quite hard, and it’s been a week doing overtime. She approved it, and I smile, walked outside office. some of close friends, congratulates me that I will meet my girlfriend.
I was quite surprised, why they were quite strange to see person carrying flower. I thought It’s normal. I waited her for quite long at the airport. My heart beat went high, and finaly I met her, and I hug her closely. We finally fulfil our first objective. It’s only took like one day for her to stop at London, before joining her tour to Europe.
I remember, she tidied up my clothes, and rooms without asking. That day, I felt closer with her. It’s like meeting old one, feeling like knowing her for long time.
After her tour to Europe. I took her for trip to St. Ives, Penrith. It’s beautiful town. It has beach and hill with light house.
This is the picture where we stand at the hill of St. Ives
Here is at St. Ives beach Here is in the one of the house at St. Ives.
” If there is anything I would like to be remembered for it is that I helped people understand that leadership is helping other people grow and succeed. To repeat myself, leadership is not just about you. It’s about them.” – Jack Welch
New York Times bestselling author Mark Albion’s 3-minute animated movie Based on Mark’s book, More Than Money. “The Good Life”
Ready or not, some day it will all come to an end. There will be no more sunrises, no minutes, hours, or days. All the things you collected, whether treasured or forgotten, will pass to someone else.
Your wealth, fame and temporal power will shrivel to irrelevance. It will not matter what you owned or what you were owed. Your grudges, resentments, frustrations and jealousies will finally disappear.
So too, your hopes, ambitions, plans and to-do lists will expire.
The wins and losses that once seemed so important will fade away. It won’t matter where you came from or what side of the tracks you lived on at the end. It won’t matter whether you were beautiful or brilliant. Even your gender and skin color will be irrelevant.
So what will matter? How will the value of your days be measured?
What will matter is not what you bought, but what you built; not what you got, but what you gave. What will matter is not your success, but your significance. What will matter is about what you learned as well as what you taught.
What will matter is every act of integrity, compassion, courage or sacrifice that enriched, empowered or encouraged others to emulate your example.What will matter is not your competence, but your character.What will matter is not how many people you knew, but how many felt good when they were around you and how you served them.
What will matter is not your memories, but the memories that live in those who loved you.What will matter is how long you will be remembered, by whom and for what. Living a life that matters doesn’t happen by accident. It’s not a matter of circumstance but of choice.-coach bay
Choose to live a life that matters. – Michael Josephson
This was so old story to be told to. It show a principle how we deal with the most important thing in our life. Choose one that can make you satisfied, pick that, smile. It is in your heart, Rich.
“The greatest pleasure in life is doing what people say you cannot do.” Walter Bagehot (1826 – 1877)
Sudah kira – kira setengah tahun, diri ini urung untuk menulis, entah kenapa pikiran ini melayang terus tanpa bisa berhenti untuk kemudian bernafas.
Apa karena derap waktu Jakarta dan London yang berubah menjadi begitu cepat ? atau diri ini yang memang berasumsi kalau waktu ini tidak bisa dihentikan. Baru saat ini, badan ini duduk dan mulai menulis, satu kata demi satu kata mulai mengalir…
Apa yang bisa diuraikan di tulisan 6 bulan terakhir ini. kalau ada kata – kata yang terpenting, itu adalah obsesi, kebanggaan, dan harapan.
Aku masih ingat kira – kira 3 minggu yang lalu, dengan suara keras salah satu guru terbaikku berkata “You have to be proud of yourself”. Ini lah kalimat yang selalu terngiang – ngiang dalam kupingku setiap hari. Dalam kesendirian di negeri ini. Apa yang sebenarnya kucari disini. Apakah ini hanya obsesi untuk mencoba hal yang baru. Satu tahun di bandung, satu tahun di Singapore, hampir 2 tahun di London, dan sekarang di Sydney. Apa yang sebenarnya aku cari ? ini yang selalu jadi pertanyaan setiap orang ketika bertemu. Obsesi apa lagi ini. *….
Apa yang kamu cari ? Apa yang aku cari ? salah satu temanku kembali bertanya di satu pagi. Ada dua kata, Kesempatan dan persiapan.
Pikiran ini melayang pada saat itu , pagi – pagi di hotel Copthorne London. Jam 8 pagi, pada saat itu cuaca sedang dalam musim dingin. Kita bisa melihat orang kemana- mana menggunakan coat panjang, sayangnya salju jarang turun di London, sejauh ini hanya 3 sampai 7 hari dalam 1 tahun. Pagi – pagi itu aku termenung, dan terdiam, satu detik, satu menit, satu jam berlalu… kemudian aku berjalan kaki ke gereja di dekat Hotel Copthorne, hanya sekitar 1 blok , 200 meter jauhnya.Aku berdoa, dan kembali terdiam.
Kemudian aku tersadar. Ya apakah yang aku ambil. Diantara 2 jalan yang tersedia… bertanya, apa yang sebenarnya aku inginkan. Pertanyaan ini pun sudah pernah kulontarkan ke diriku sendiri. Pilihan pertama menawarkan kesempatan yang tiada duanya, segala kebanggaan, jabatan dan uang berlimpah, pilihan kedua adalah impianku dari dulu untuk kembali bersekolah.
“Kita melompat ke masa 2 tahun sebelumnya ketika aku baru saja pulang bekerja dari Singapore. Pada waktu itu surat resign sudah kukirimkan. Euphoria kebebasan dan masa – masa resign yang kembali teringat. Dimana diri ini kembali bebas untuk terbang. Masa – masa yang terbaik dalam hidupku.”
Pagi itu aku telah selesai berdoa, waktu itu, aku berkata pada diriku sendiri. Untuk kali ini, aku akan melakukan, apa yang ingin aku lakukan… aku masih muda, sekarang atau tidak sama sekali.
Chairil Anwar dahulu berpuisi, “Kalau sampai waktuku, Ku mau tak seorang kan merayu, Tidak juga kau, Tak perlu sedu sedan itu, Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang. Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli.
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Di sela – sela perhentian di Indonesia, pikiran ini selalu berkecamuk,. Kulihat dari berbagai peristiwa Begitu mudahnya orang menikam dan menerjang orang lain dengan tertawa. Ada kalanya orang berkata – kata berbusa – busa tanpa ada perbuatan. Ada kalanya politik negeri bingung itu begitu bingung Aku berkeyakinan Hidup itu berisi dari perbuatan dengan kata2 yang dipuisikan dari perbuatan – perbuatan Oleh perbuatan – perbuatan itulah hidup kita menjadi bermakna.
Pada waktu itu aku membuka arsip – arsip ku, kutemukan lukisan yue min jun. yang berjudul bayoneting.
Disini semua orang berwajah sama, menusuk orang di bawahnya dengan bayoneting yang tidak tampak, semua orang tertawa, semua orang berwajah sama, mereka tertawa, mereka berwajah sama.
Inilah realitas hidup, aku sadar. Tanganku ini memegang bayonet yang tidak terlihat. Mukaku ini selalu tersenyum dan berwajah sama. Setiap orang akan mempunyai muka yang sama. Inilah kutukan peradaban egois yang bermuka manis. Pada waktu itu aku tertegun, pikiran ini melayang,ini konyol.
Ada saatnya aku kembali ke bandung, dikala perhentian beberapa waktu yang lalu di Indonesia. Kota kecil Bandung menempati peringkat pertama dalam buruknya pelayanan publik, di Bandung semua orang sudah menyerah dengan tata kotanya yang amburadul namun, ia meninggalkan kenangan yang membekas, kemahasiwaan yang dinamis, cuaca yang menyenangkan, jajanan yang luar biasa enaknya, dan kenangan akan masa lalu di kota kembang ini . Kupandang Jejak jejak langkah ini, aku tersadar aku ada di titik nol kembali, melihat jajaran pepohonan dari kawasan atas Bandung. Tempat aku dulu menghabiskan waktu di hari sabtu atau minggu. Aku bersyukur karena aku bisa membuat pilihan, untuk kembali kesini. Tuhan apabila Kau berikan aku jalan, aku ingin selalu berharap untuk bisa selalu berkarya untuk orang – orang yang kucintai dan untuk itu kita butuh rencana. Pada akhirnya hidup itu pertemuan antara kesempatan dan persiapan. Aku kembali lagi berlari, untuk mengejar impian yang masih tak nampak.
Aku pun terbangun kembali di saat satu hari menjelang keberangkatan ke negeri yang baru. Harapan itu selalu ada, Terkadang waktu itu sedemikian sempit hanya menyisakan ruang sedikit ruang untuk bernafas.saat ini aku sangat bersyukur, di sela – sela kesibukan bersekolah. Pekerjaan terus berdatangan, hasil dari perlombaan – perlombaan yang cukup untuk menyambung hidup 3 bulan kemarin. Pekerjaan yang dilakukan dari jarak jauh, kebersamaan dengan wanitaku, menyambung kembali komunikasi melalui email. Sungguh memang semua sudah direncanakan dengan apik. Aku tidak pernah percaya akan kebetulan, yang kupercaya adalah kekuatan doa dan usaha.
Jari – jariku kuletakkan di tuts piano, denting – denting piano mulai terdengar memainkan lagu tembang alit yang memang bagiku sungguh sulit untuk bisa diselesaikan, partiturnya pun sudah kudapat kira – kira 2 tahun yang lalu namun itu belum juga selesai. Lagu ini mengalir, seperti hidup itu mengalir, setiap kali memainkan lagu ini, nafas kita berirama untuk senada. Inilah jalan yang kutempuh. Aku memasuki kembali aura pulau jawa dan Kalimantan yang menghipnotis, saat itu waktu terasa begitu lambat sehingga bulan februari pun kembali datang untuk kembali lagi mulai dari awal di kota yang baru.
Disela – sela aku mengetik ini, ketel uap sudah mulai berbunyi, pesan dari wanita terbaikku sudah mulai muncul, ketika itupun sup ayam sudah siap. Dan aku akan berkata. Inilah saat yang terbaik dalam hidupku. “Sayang tunggu sebentar ya aku masih ngetik.”
Yue Min Jun, sayangnya muka ini bukan muka tertawa yang sama. Mukaku ini milikku.
When I came back for a holiday to Jakarta, we had dinner several times, until a week before I went back to London. I felt that I wanted to spend time with her as a couple, not a friend anymore. Because my time is limited, only a week before going back to England.
I love her because I can see my life in the future with her. I love her because of how she appreciates her family, her friends, her staff, her colleagues. I love her because she has passion and care for her job and spending time with me, asking about my activity, asking about my work, my family. That care feeling made me love her naturally because she is a loving, adorable, soft, and loveable person.
I say to her, “I love you. Do you want to be my girlfriend ?” And that day made me believe I had my priority, and we were a couple. Then, We spent a week together before me going back to London, and doing long distance. The challenge was real, and my tears dropped when I left her in Jakarta. I had to go back to London. It was the first time to say I love you, being a couple for a week and living long-distance relations.
After I went back to London, I felt that I had to do something. If I missed her, she must have regarding the same. She can suppress her feeling. I talked to Albert, my roommate, and asked him to come with me to china town. I had prepared writing and asked Albert to take a picture of me. Then I texted her, come to London, and we can spend time together here. And we planned for it, and we have our first goal in our relations. First, to save money to have a vacation. Second, asking permission from her parents. Third, learning that our relationships need time to mature.
Here is the picture that we took during my short break.
Tepatnya seratus hari aku berkutat dengan buku – buku, seratus ribu menit dihabiskan dengan menatap kertas yang nampak tak terselesaikan. Teringat oleh kuliah gubahan bentuk yang pernah diadakan, pada pagi yang sendu, dan embun yang baru menetes. Waktu itu waktu menunjukkan pukul 07.00, seorang dosen berkata untuk selalu ingat kalimat ini,”selalu kalian harus ingat ini, semua mengenai arsitektur, di dalam setiap bentuk, … ada makna.” Itulah pak Riyadi, pengajar kebanggaanku.
This work was represented twice, first when It was for Final project studio in January 2005 and second when I presented this scheme to Lord Norman Foster in Foster and Partners Graduation show December 2007.
Tisna Sanjaya is a prominent Indonesian contemporary artist, who works primarily to portray the contemporary drama of Indonesia. Following the controversial destruction on 2005 of his master piece ‘Special Prayer for the Dead’ criticized and insulted government. Special Prayer for the Dead’ is a ship of composition of prayers that Tisna brings into being as tragedies took place in the world. The tragedy of Sarajevo, the September 11 tragedy, the war in Iraq, the bomb in Bali, the civil wars in Timor and Aceh.
Located at Cigondewah, Bandung, Indonesia, This Project is an art centre belongs to Tisna Sanjaya. The main issue is how to transform Tisna Sanjaya spirit to the space which is a building in reality. In order to solve this issue, Metaphor was used to channel ‘ Special Prayer for the Dead’ to Architecture. It is defined by a diagonal wall to establish the journey in the museum, the first corner shows nadir and the other corner shows zenith of the journey.
Short quote from original writings :
Konsep ruang dan bentuk bangunan Galeri Seni Tisna Sanjaya ini dirancang dengan pendekatan terhadap perjalanan seni Tisna Sanjaya dimulai dari awal perjalanan dari seniman grafis, etsa, dan pelukis hingga ia menemukan suatu titik yang klimaks yaitu seni instalasi, Special prayer for the death. Pada akhir prosesnya Ruang tersebut mengajak manusia untuk berkontemplasi, merenung untuk membuat suatu evaluasi terhadap dirinya. Pemikiran ini menghasilkan ruangan – ruangan mengalir yang memiliki tema – tema grafis, etsa, lukisan dan instalasi.
Every time I went home from Overseas, I always send a text to Laurensia, called her. I did that because I like to share things with her. She was an indifferent world to me, and I had been friends since I was ten years old. We were friends because I knew that she had a boyfriend. But in London, I was single, and I did not care about relations, one thing that I am sure that I am pretty lonely. One time I got the reply email from Laurensia that I sent years before.
We conversed by email, and I knew that she was single, she broke up with her boyfriend. We shared life around us, and I knew that she worked so hard. She went to the rural areas in the mountain to practice, serving the government every day. In Indonesia, to obtain a license, a young dentist needs to fulfil the service to the government. It took three years for her to do things like that. It took hours to travel, and the need to change transport several times, from cars, mini can, and motorcycles. Her life was tough, and she was consistent in fulfilling her service to the government.
We conversed by emails and texts several times, noting that when I went back to Jakarta, I wanted to ask her for dinner. I wanted to see her in person. My curiosity grew because She lived in two routines, in the morning, she did service to the government in the rural area, and in the evening, she worked in her dental clinic. She worked so hard, and I can see that I am in love with her hard work. I did my hard work as well as an architect, working overtime and living morning and evening work. I saw her hard work as reflection of my life, how we are different but her story fill my heart.
I often questioned myself, have I changed since school, university. I am now in my formative years. Am I still having my ground? Having her beside me actually answered that question. Talking to her it’s like talking to a long-lasting friend that in every moment we speak, it’s effortless. I would spend hours preparing emails for her, dream for my words, and waiting for a break in Foster and Partners for me to take days off to visit her in Jakarta. I feel that she is my missing piece, and always excited when I met her virtually.
This work is submitted during the exhibition of Indonesian architect in Helar Festival in Bandung Indonesia at 23rd until 31st August 2008. The project is named “Looking up, achieving dreams”. The idea is to give perspective from different view in city planning. By raising football court to the sky, this project gives challenge to make public space in the sky and be a landmark for generating city icon. The objective is to create most romantic city in Indonesia with love. At the end, “Looking up, achieving dreams “gets most favorite entry award in the exhibition.
Konsep menegakkan impian ini ada dalam rangka berpartisipasi dalam pameran Reinventing Bandung “intervensi arsitektur di ruang – ruang hilang Bandung” pada tanggal 23 – 31 agustus 2008. Konsep yang disajikan diharapkan memberikan nuansa yang berbeda dari sudut perencanaan kota Bandung dimana bisa menjadi contoh untuk pengembangan kota berskala sedang yang memiliki integrasi dengan isu ekonomi, ekologi dan sosial. Diharapkan dengan ini bisa mencerdaskan kehidupan masyarakatnya dimulai dari sebuah kegiatan yang sangat sederhana. Yakni kegiatan sehari - hari, dimulai dari bangun, beraktifitas, dan beristirahat. Keseluruhan konsep yang ditampilkan ini, akan membuat Bandung, menjadi kota dunia yang romantis dan tidak akan terlupakan sejak kaki ini melangkah di satu telapak pertama.
1. adanya Lapangan Sepakbola di langit dengan standar internasional diletakkan di angkasa sebagai ekspresi dari keterbatasan lahan yang ada di Bandung. Lapangan ini kan menjadi Landmark dari satu - satunya lapangan Sepakbola yang ada di langit di dunia. dari sini kita bisa melihat huruf Bandung di pegunungan parahyangan.
2. Galeri Seni Urang Internasional Bandung, menampilkan karya seni seniman Bandung. Tempat ini akan terbuka untuk publik dan mengasah sensitifitas masyarakat untuk apresiasi seni. Di Tempat ini akan diadakan pameran seni internasional setiap tahunnya dengan jadwal yang padat.
3. Pusat Daur Ulang Nasional, sebagai tempat penelitian sampah - sampah dan pusat daur ulang. Bangunan ini berkesan futuristik dan bersih sebagai ekspresi yang kontras dengan sampah dan menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah bagi dunia.
4. Taman Langit Ketujuh, taman publik dengan orang - orang yang melakukan petak umpet, petak patung, petang jongkok, Galasin, dll. Juga dengan kegiatan yang membuat jantung kita berdebar - debar seperti Bungee Jumping. Melompat dari angkasa dengan mata terbuka ditambah dengan atraksi Balon udara.
5. Pasar Seni Bandung Internasional, tempat yang menjual barang - barang kerajinan dan furniture dan merupakan pusat Pedagang Kaki Lima, disini juga terdapat pusat dari Organisasi Pedagang Kaki lima Indonesia dan menjadi salah satu wisata unggulan wisata internasional.
6. Stasiun Monorail Cikapundung, stasiun dengan gaya arsitektur parahyangan yang menghubungkan daerah Cikapundung dengan stasiun Dago, Soekarno Hatta, Setia Budi, Dll. Sehingga strategi transportasi kota bandung akan menjadikan angkutan publik yang sangat nyaman dan berkelas internasional sebagai potensi wisata.
7. Adu Kambing Tahunan Internasional, ajang internasional yang akan disejajarkan dengan pertunjukan matador di Spanyol menarik wisatawan dariseluruh dunia dimana di ajang ini kambing - kambing internasional akan didatangkan untuk berlaga dan memperebutkan trofi bergilir setiap tahunnya.
8. Pembangkit Listrik Tenaga Angin, pemenuhan tenaga listrik akan juga didukung oleh sistem kincir angin yang diletakkan di daerah pegunungan sekitar bandung. Cara ini dipakai menanggapi langkanya BBM di tahun - tahun mendatang dan membuat kota yang ramah lingkungan dimulai saat ini, berpikir lebih jauh untuk bumi kita.
9. Sungai Pembuktian Cinta, disini adalah tempat anak muda dan orang tua berkumpul dan bernostalgia mengenai masa dahulu. Suara Gemercik air yang membuat hari ini berdebar - debar dan tidak bisa meninggalkan romantisme ketika mereka mengatakan I love you pada saat pertama kali.
Credit to : Jefferson Barnes : is friend from United States, He graduated from RPI, I met him while I was working in Foster and Partners London, currently he is working for Masdar University, Abu Dhabi in Foster and Partners, Ribkazelia : is a graduate Art Management student of Northumbria Newcastle University, currently she is the representative of Indonesia in Children Creativity Exhibition in Finland.
01 June 2008 – London “di pagi yang sepi, ditemani secangkir teh manis hangat”
Aku akan mulai banyak menggunakan kata – kata aku, karena mungkin egoisitas diriku mulai timbul. Dimana keinginan untuk tidak menggunakan kata subjek pada tulisan – tulisan yang sebelumnya sama sekali tidak mempertanggungjawabkan apa yang kutulis. Itulah hal yang akan kusampaikan pada beberapa kalimat kedepan. Aku dan aku dan aku mulai menemukan diriku kembali setelah 3 tahun ini.. Penggunaan kata aku ini berasal dari keberanian untuk bisa mempertanggungjawabkan apa yang kita bicarakan maupun apa yang kita pikirkan dengan hati yang jujur. Baru kali ini, seakan – akan pikiran ini tidak pernah berhenti berputar. Mencari ide – ide baru. Aku serasa lepas dan bebas. Pada akhirnya aku akan belajar untuk menemukan jejak langkahku sendiri. Dimulai dari hari ini. satu orang akan berkata “kamu itu mirip dengan seseorang” namun aku juga tidak ambil peduli. Karena aku bukan orang lain, dan aku akan menggunakan aku untuk mendobrak batas – batas yang ada.
Satu tahun berada di Kota London ini. Seakan berlalu begitu saja, dengan sebegitu banyak pengalaman yang didapat. Waktu seakan – akan pergi hanya dengan satu jentikan jari. Yang tertinggal hanyalah beberapa bekas kenangan saja. Sudah saatnya aku berangkat mencari sesuatuyang baru lagi untuk dipelajari. Satu tahun di tahun 2005 di Bandung. Satu tahun di tahun 2006 di Singapore dan satu tahun di tahun 2007 di London. Satu tahun terakhir ini, Aku melihat banyak hal yang baru. Orang – orang dengan berbagai macam karakter. mataku seperti terbuka untuk melihat lebih dalam, mendengar lebih seksama, menebak melalui tingkah laku.. Ketika sebuah pelajaran itu juga berisi berbagai sifat dan perangai orang yang di dalamnya, Satu dan dua hal itu mengajarkan banyak hal untuk bisa mengerti sifat – sifat orang lain. Yang menarik dari pengalaman satu tahun ini, Begitu banyak harapan dan pemikiran yang disampaikan dari banyak orang.
Ada yang skeptis namun ada juga yang menyegarkan.
Ada juga yang memakai topeng dibalik topeng.
Memang dunia ini seperti sebuah panggung
dengan sebegitu banyaknya topeng.
Pada saat ini lah aku akan bercerita mengenai kehidupan sehari – hariku. Bukan sisi yang lain, namun hanya sisi yang biasa. Ada kalanya aku menghabiskan malam minggu hanya dengan dentingan piano dengan permainan yang biasa – biasa saja, dan nyanyian yang sungguh terdengar indah dari teman terbaikku ya dengan mereka aku biasa menghabiskan waktu hanya untuk melantur.
Ada kalanya kadang2 aku pergi ke taman –taman yang sungguh menarik disini, ada sungai, ada hamparan rumput yang begitu luas, ada gundukkan rumput yang memang sudah seperti itu adanya, ada pohon ratusan tahun umurnya, semua dibiarkan tumbuh dengan tertata.Ada juga kadang – kadang bagaimana kekonservatifan yang ditata seakan – akan berintegrasi dengan pepohonan dan taman – taman yang ada. Tidak ada filosofi yang jelas yang mendasarinya, hanya saja itu serasa tumbuh dengan semangat konservasi terhadap alam.. Sungguh berbeda dengan ironi babakan siliwangi di bandung, ya itu masih diperdebatkan memang… Hal ini membuat sedikit banyak sadar, bahwa negeriku sungguh tidak tertata. Setiap hari aku akan bangun tepat pada jam 7 pagi, pada saat jam 7 pagi, pada setiap hariku, ada panggilan dari Indonesia, aku tidak akan mengangkatnya karena itulah panggilan bangun pagiku.. ada juga terkadang perbincangan tengah malam Hari.Kadang kala aku tertidur di depan komputerku, hanya karena email yang kutulis setiap harinya….atau beberapa email yang hanya kubiarkan di inbox tidak terbalas karena waktu memang sungguh mengukung. Hari minggu kuhabiskan dengan bermain piano membantu untuk perayaan ibadah. Kehidupan yang sederhana. Namun apabila ada tiga aspek yang terpenting dalam arsitektur, ada jalan2, ada pemikiran dan ada karir / pekerjaan. Pemikiran ada di urutan teratas, kemudian jalan – jalan ada ditengah dan kemudian barulah karir / pekerjaan ada di bagian terakhir. Pengalaman itu ada bukan hanya dalam satu garis CAD drawing. Namun ada pada saat kamu berjalan – jalan. Ketika kamu berempati terhadap lingkungan sekitar. Membuka mata lebih jelas dan mendengar lebih seksama
Arsitektur dan karir. Karir itu ada di dalam hidup tapi Hidup itu tidak ada di dalam karir dalam artian langsung. Karir itu satu dari beberapa aspek dalam hidup. Karir itu penting karena itu berkaitan dengan bagaimana kita bertindak terhadap sekitar kita. Karir tidak akan memahat karakter kita begitu dalam. Karir itu hanya hitungan jam dan hasil. Seperti seorang arsitek yang bekerja dengan diagram dan bangunan. Apapun hasil nya, karir hanyalah seperti itu, ada dalam hitungan jam dan hasil. Perdebatan akan berlangsung sangat sengit apabila kita berbicara mengenai karir, karena sedikit banyak itu akan menyerempet aspek terpenting kita, yaitu harga diri. Ya itu bagaimana kita dilihat oleh orang lain. Bagaimana tingkatan kita dimata orang lain. Bahkan hati pun tidak akan berbicara kalau idealisme pemikiran kita tercoreng begitu saja. aku secara aku ngga pernah berharap untuk bisa ada di tempat ini, aku disini bukan karena aku. Tapi karena orang – orang yang ngedukung, kita ada di jalinan rantai yang saling dukung mendukung. Semua tergantung pikiranmu sendiri. Semua tergantung apa maumu. Apabila kamu menginginkan sesuatu, dapatkanlah, persiapkanlah.Segala yang kita dapat bukan hanya satu jentikkan jari.
Tapi kehilangan akan semua usaha kita bisa dalam satu jentikkan jari.. semua yang kita raih sekarang, bisa aja hilang. Kalo itu hilang. Aku ngga akan pernah ngerasa hilang…
Banyak arsitek yang terdikte oleh karir mereka. Mereka tenggelam dalam kesendiriannya dalam ide – ide yang akan merubah dunia. Semua itu butuh pengorbanan antara idealisme arsitek dan dorongan kapitalis. Sungguh miris, arsitek yang pendeta dalam perubahan perkotaan yang lebih baik, harus tunduk dalam kungkungan waktu dan idealisme yang akan merusak hidupnya. Kita ada di era yang semakin cepat dan teknologi yang semakin handal. Arsitektur itu pada akhirnya boleh saja dihayati seperti keyakinan yang teguh. Namun pada akhirnya, hidupmu bukan sebatas bentuk yang elegan dan gestalt bentuk. Yang aku rasain, disini hambatan begitu besar, mungkin ngga semudah yang dikira. Seringkali harus tunduk dalam stigma – stigma kebaratan dan rasialisme di kantor. Kata buktikan kembali muncul bahwa kita harus bisa. Banyak orang dan aku sendiri memang belum sampai ke tahap itu. Namun pada saat itu aku akan punya wanitaku untuk hanya ada. Arsitek itu seharusnya orang yang paling bahagia dalam hidupnya. Dia harus punya respek terhadap orang – orang sekitar. Dan orang yang akan berkompromi dengan sekitar. Karena dia akan merubah segala sesuatu yang ngga baik dalam tatanan perkotaan dan mempunyai visi untuk bisa mengubah tatanan. Arsitek seharusnya bukan orang autis. Ia harus sensitif terhadap orang lain. Itu dulu yang terutama. Bukan aku, tapi kita dalam hanya satu jentikkan jari. Hanya satu.
Meninggalkan Kota ini akan terasa berat, dimana semua seakan – akan sebegitu baiknya dan amannya. Kubisa mendapatkan apa yang ku mau disini. Kata “kebanggaan yang melekat” serasa seperti topeng yang menipu, seperti pisau yang memiliki dua sisi. Meninggalkan semuanya untuk mengambil keputusan yang tentu saja tidak biasa sungguh sulit. Ada kalanya kita seperti ada di satu pengadilan dalam masyarakat. Dimana kamu dinilai dari keputusan yang kamu ambil. Namun pada akhirnya aku kembali sadar, bahwa kita tidak hidup dari aku itu sendiri. Kamu hidup untuk orang – orang yang terpenting dalam hidupmu. Aku tidak pernah ambil peduli terhadap pandangan umum, jadilah terang asal itu wajar kemudian tertawakan dirimu dalam masa depan. Itu satu hal yang sungguh baik untuk dijalani.
Ada kalanya mendengar pemblokiran site oleh pemerintah karena satu buah video. Sebuah cara yang sangat tidakmasuk diakal. Terkadang kita berpikir kerdil. Membuat solusi yang konyol dengan isu yang lebih besar tidak terselesaikan. Informasi itu ada dimana –mana sementara ini, kita hanya bisa jujur menghadapi informasi… tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah pemblokiran informasi. Cepat atau lambat itu akan sia – sia . Semua ini membuatkita hanya bisa menghela nafas..Ada kalanya ku mendapat email mengenai peristiwa 23 mei yang sungguh mungkin untuk terulang. Sungguh pedih rasanya ketika mendengar kembali peristiwa itu. Ketika bencana – bencana kembali berulang dan mengakibatkan banyak korban jiwa.Ada saja orang – orang yang berbicara dan bertindak demi perutnya sendiri. Sungguh miris bagaimana seringkali kita dipermainkan oleh system yang kita buat sendiri. Manusia membuatnya dan manusia jugalah yang mempermainkannya. Mari kita tunggu akan jadi apa segala kondisi dalam tahun – tahun ke depan.
Aku berdoa semoga bulan – bulan ke depan akan semakin menarik dijalani dan dipahami.
Dan cerita kemarin sudah usai dan cerita esok akan kembali dimulai mengenai apa yang terjadi… nanti.
29 April 2008 “Di dalam satu cerita, satu paragraph, satu skenario. Semua menunjukkan satu keterkaitan dalam ritme yang berbeda “
Adakalanya terdapat beberapa kata dan ada kalanya juga terdapat beberapa titik, beberapa perhentian, beberapa jeda dan beberapa koma.. Semua terbagi menjadi 3 bagian. Saat kata itu ada, saat jeda itu ada dan saat titik itu ada. Saat titik itu ada menandakan kita akan berhenti untuk kemudian ada jeda dan memulai kembali dengan kata yang baru.
Saat – saat menemani Albert dan Mamanya yang berkunjung ke London. Adakalanya terdapat beberapa kata dan ada kalanya juga terdapat beberapa titik, beberapa perhentian, beberapa jeda dan beberapa koma.. Semua terbagi menjadi 3 bagian. Saat kata itu ada, saat jeda itu ada dan saat titik itu ada. Saat titik itu ada menandakan kita akan berhenti untuk kemudian ada jeda dan memulai kembali dengan kata yang baru.
Ada kalanya waktu mengajarkan kita kesabaran dan ketidakpastian. Seperti proses penulisan kata – kata yang terlihat sederhana dan dan diulang – ulang. Lihatlah Pandai besi yang menempa besi. Dari mata orang biasa, ia sedang mengulangi kegiatan yang sama. Palu menempa, tetapi orang yang mengerti tahu setiap pandai besi mengangkat palunya, dan menempa besi itu. Intensitas dari tempaaannya berbeda. Tangan mengulangi gerakan yang sama, ketika tangan itu menempa mendekati. Ia akan mengerti bahwa ia mengerti untuk menekan dengan kurang atau lebih tekanan. Itu sama dengan repetisi. Itu terlihat sama namun berbeda. Suatu ketika saat itu akan tiba ketika kamu tidak lagi berpikir tentang apa yang kamu lakukan. Kamu menjadi kertas, kamu menjadi tinta , kamu menjadi kata – kata. “. Setiap orang dari kita memiliki jalan yang berbeda – beda, pribadi kita dan keahlian kita masing – masing. Ya sebenarnya kita sedang menempa diri dengan lingkungan dan keadaan yang membatasi kita.. kita sedang belajar menjadi seorang pandai besi. Yang melakukan kegiatan repetisi dan terus menerus. Terlihat sama setiap hari, terkadan dari luar begitu membosankan, begitu tidak menarik, ..namun saat kita bisa menjadi kertas dan tinta itulah saat kita memiliki kebanggaan sepenuhnya..
Ada satu cerita tentang Seorang teman terbaik dari Negara Amerika. Ia bercerita dimana dia sekarang memiliki kondisi yang berbeda, ia seakan – akan tidak mempunyai apa – apa untuk diperjuangkan. Ia berkerja dalam satu tim yang merupakan project terbesar yang pernah ditangani di kantor. Ia terus menerus melakukan repetisi yang sama karena fase desain yang sudah relatif selesai dan ia hanya perlu menggambar dan memproduksi gambar. Karena itu ia ingin sekali bisa kembali mendesain konsep – konsep seperti sewaktu dahulu di kampus.. dan kembali menikmati masa – masa kuliah yang penuh dengan ide – ide. Kemudian kita pun bercerita mengenai bagaimana masa – masa kuliah dulu. Hal yang menarik terjadi ketika kita berbicara mengenai ambisi dan mimpi. Ambisi itu berbeda dengan mimpi. Ambisi adalah nafsu dan keinginan kita, ketika kita berbicara mengenai ambisi, mata kita akan liar, dan nafas kita akan tersengal – sengal… namun ketika kita bercerita mengenai mimpi, saat – saat itu akan teduh, dan cerita itu tidak akan ada habisnya..dua hal hampir sama namun jelas berbeda. Aku percaya bahwa kita harus mengejar dan mewujudkan mimpi kita. apapun yang sedang dan akan terjadi, itu berarti kuyakin selalu bahwa kita harus mencintai apa yang kita kerjakan dan perbuat.
Semua ini kembali berulang, ada kerinduan untuk kembali ke masa – masa penuh pencobaan, dimana semua masih terasa tidak pasti. Masa – masa 3 bulan pertama di tahun pertama, kedua dan ketiga. Ku tahu, sekali kumelepaskan semua yang ada disini, aku akan kembali lagi berada didalam suasana yang baru. Pertanyaaannya adalah apakah masa yang sekarang itu sudah cukup…. “waktu itu berbicara dalam berbagai macam dimensi, waktu berbicara dalam dimensi detik menit jam dan hari – hari yang akan atau telah lewat “ namun pengalaman untuk belajar itu akankembali dalam kemauan dirimu itu sendiri untuk belajar, bahkan jika perlu waktu itu akan tunduk kedalam kekuatan keinginan. Mungkin waktu 1 bulan, 3 bulan ,6 bulan 1 tahun akan tidak cukup, namun bisa juga itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada yang pernah mengerti akan kekuatan keinginan. Jangan pernah menghitung dan membatasi dirimu sendiri. Saat hati kita sudah bekerja, apa yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Saat ini kerinduan yang amat sangat untuk bisa kembali meneruskan studi di tempat – tempat terbaik sudah begitu terlihat…
kata kebanggaan mulai sirna dan kata ketiadaan akan mulai menghampiri… sekali jalan sudah terbuka, dan kaki mulai melangkah maka tidak ada kata kembali…
Mengenai Jejak – jejak langkah Kita selalu menemukan jejak – jejak langkah orang lain dalam hidup ini. Jejak langkah orang tua, kakak, orang – orang panutan. Jejak – jejak itulah yang akan membimbing kita, seperti menemukan beberapa panutan untuk membantu mengarahkan kita ke arah yang baik. Jejak langkah itu ada yang besar , ada yang terlihat jelas, ada juga yang terlihat samar – samar. Alih – alih dari jejak langkah yang sudah dijelaskan… Jari jemari ini mulai bergerak. Tidak tertahankan untuk menulis beberapa paragraph mengenai cinta. Cinta itu sebuah misteri. Misteri itu datang dari pribadi wanita. Wanita menjaga misteri dan membukanya dan mengajarkan mengenai arti bagaimana berbuat dalam hidup.. Satu dan lain hal kita merasa tak pernah sempurna tanpanya. aku belajar mengenai tulusnya menghargai, aku belajar mengenai tulusnya arti memaafkan. aku belajar mengenai arti ada dan tiada. juga aku belajar mengenai arti simpati mengenai orang lain. aku belajar mengenai tulusnya berbuat. Satu demi satu aku baru mulai mengerti, satu dan lain hal mengenai wanita. Di antara perbedaan 6 jam yang sungguh sulit untuk dijalani, aku percaya wanitalah yang akan memahat pribadi kita, watak untuk menjadi lebih baik.. Dimanapun diri ini melangkah kupercaya jejak langkahnya selalu ada dalam doa dan cita. Dan jawaban akan pertanyaan diatas adalah ….Seringkali diri ini bertanya sampai kapan kita harus mengikuti jejak langkah yang ada di dunia ini. Apakah ada saatnya kita membuat jejak langkah sendiri bagi orang lain ? Untuk menjadi diri sendiri ? Wanita terbaikku berbicara “kamu harus bisa menjadi diri sendiri, karena kamu adalah kamu dan bukan orang lain, kita hanya ada satu, hidup ini hanya satu kali. Jalanilah sepenuh hati.” Aku selalu bersyukur bisa mempunyai orang yang mendukung setiap langkah yang direncanakan dengan tulus.
Hidup memang tidak pernah tergesa – gesa, Namun sekarang saatnya aku ini berlari dengan kencang …
Hidup memang tidak pernah tergesa – gesa, Namun sekarang saatnya aku ini berlari dengan kencang …
This scheme used city beautiful model, axial avenue, and civic grandeur as principal. I was interested on pedestrian pocket and Howard Ebenezer’s garden city idea to generate new replicable model for Indonesia’s cities. I believe that new generic solution should be invented for Indonesia sub urban area. I named it Agriculture Neighborhood to respect the Agriculture as genuine heart of Indonesia.
Agriculture neighborhood is defined as original model, well developed, mixed use based on context, agriculture on its heart. It is within an area within a quarter mile and walkable distance. It consists of housing, offices, retail, school, library, daycare, recreation, parks with station in 5 minutes walking distance and accommodates the car as well as transit. Car parking can be used for all housing and other functions. The housing types are standard low rise 4 levels with higher density and 2 level of town houses. In here, local inhabitant will be able to cultivate land, using crops to sustain the area as a part of one big city [Tangerang].
All of the houses are in the walking distance as one neighbourhood without gated community and solving security problem by maintaining sense of belonging and creating defensible space in the area.
The importance of agriculture neighbourhood is that it provides balanced live, growth in jobs, housing, and creating opportunities for using train as public transportation. Surely it will produce better environment towards sustainable cities.
this view look at the opportunities that can be developed in peri-urban area and shows public transport as one important solution on solving commuting problem, agriculture as the heart of neighbourhood, pedestrian walk in 5 minutes walking distance.
I showed this scheme to my professor in New South Wales University, Jon Lang. this is his comment, “Agriculture is one of the interesting part of this scheme, it’s not so dramatic but it is powerful, it was great exercise of you. By more doing design you’ll get more experience and confident in Urban Design, Congratulation Rich.
Memang benar keadaan disini memang luar biasa menariknya, untuk dipelajari, dan dipahami..
Sudah 6 bulan di sini, di kota yang baru, dimana matahari terkadang ada disini hanya untuk mengedipkan mata dan kemudian bersembunyi kembali. ½ tahun disini , setiap hari waktu berpacu dengan rutinitas yang lama – lama terlihat semakin nampak. Semua terasa begitu lambat dalam kenangan namun terlalu cepat ketika ada dalam langkah – langkah. Dimensi yang berbeda di kota yang berbeda. Cerita berbeda di tempat yang baru. Dimulai dengan saat – saat pertama datang dan ketidak tahuan kemana langkah ini mengarah.
Sudah 6 bulan di sini, di kota yang baru, dimana matahari terkadang ada disini hanya untuk mengedipkan mata dan kemudian bersembunyi kembali. ½ tahun disini , setiap hari waktu berpacu dengan rutinitas yang lama – lama terlihat semakin nampak. Semua terasa begitu lambat dalam kenangan namun terlalu cepat ketika ada dalam langkah – langkah. Dimensi yang berbeda di kota yang berbeda. Cerita berbeda di tempat yang baru. Dimulai dengan saat – saat pertama datang dan ketidak tahuan kemana langkah ini mengarah.
Ini seperti masa2 sebelum setengah tahun pertama. Ada suatu cerita ketika 7 bulan setengah yang lalu, aku ditanyakan oleh salah satu teman terbaikku. “Apa mimpimu kedepan teman ? “… Ku terdiam mengenai apa jawaban yang mungkin bisa dilontarkan untuk menjawab. Saat itu ku hanya bisa menjawab, “ku butuh hidup baik dan sederhana … tidak kekurangan apa pun, dan biarkan segalanya mengalir dengan usaha yang terbaik ”. Kemudian ia menjelaskan mengenai jalan hidupnya, bagaimana menetapkan tujuan, dan hal- hal yang dia lakukan untuk mencapai mimpinya, hal – hal yang teknis dan mendasar yang dipersiapkan. Sesuatu yang dipikirkan dan tidak hanya seperti kemana air mengalir. Kita semua butuh sebuah pencapaian, bukankah semua sama, kita butuh sesuatu yang nyata, bukan hanya angan – angan.. semua itu bisa digenggam teman.
Ini seperti masa2 sebelum setengah tahun pertama. Ada suatu cerita ketika 7 bulan setengah yang lalu, aku ditanyakan oleh salah satu teman terbaikku. “Apa mimpimu kedepan teman ? “… Ku terdiam mengenai apa jawaban yang mungkin bisa dilontarkan untuk menjawab. Saat itu ku hanya bisa menjawab, “ku butuh hidup baik dan sederhana … tidak kekurangan apa pun, dan biarkan segalanya mengalir dengan usaha yang terbaik ”. Kemudian ia menjelaskan mengenai jalan hidupnya, bagaimana menetapkan tujuan, dan hal- hal yang dia lakukan untuk mencapai mimpinya, hal – hal yang teknis dan mendasar yang dipersiapkan. Sesuatu yang dipikirkan dan tidak hanya seperti kemana air mengalir. Kita semua butuh sebuah pencapaian, bukankah semua sama, kita butuh sesuatu yang nyata, bukan hanya angan – angan.. semua itu bisa digenggam teman.
Suatu waktu disini dimulai dari kebimbangan yang ada ketika tiada siapa – siapa untuk mencari tempat tinggal, dan jalan yang sangat baik pun dibukakan, , membantu untuk melewati saat – saat yang sulit disini, dimana jarak tempuh dari tempat kerja hampir 2 jam perjalanan, pola makan yang belom sesuai, kantong yang mulai menipis, jam kerja yang semakin lama semakin tidak menentu. Ada juga saat – saat dimana sampai tidak ada baju lagi untuk dipakai, karena jarangnya pulang kerumah dan tiadanya waktu untuk sekedar mencuci, karena kesibukan kerja yang memang tidak bisa ditunda, seketika terkadang saat pulang kerumah , canda tawa dari anak2, sungguh menghibur. Thanks ya Mas Ari Mbak Lia, for your hospitality.
Disini iterasi design yang pernah dialami kembali terjadi, bahkan inilah ujian terbaik yang pernah dijalani.. berminggu2 tanpa henti, … sesekali kita menghirup nafas, seketika itu tarikan itu kembali muncul untuk kembali ke tekanan yang semakin lama semakin meninggi seperti menarik lagi untuk tenggelam ke dasar,… ada pelajaran baru disini, pengolahan berbagai macam diagram. Beberapa isu yang penting seperti isu2 yang sedang trend di dunia ini, green design, efficiency, monumentality… pengolahan diagram2, terkadang kita berbicara mengenai sistem yang kita sendiri tidak tahu dimana kita berpijak, ada dimana kita ?
dulu, seringnya berkata – kata tanpa mensistematiskan apa yang mau dipikirkan, dan disampaikan. Seolah- olah kita terlihat dalam kemauan bereksistensi saja. Berdiskusi dengan lulusan – lulusan arsitek dari tempat – tempat terbaik, seolah – olah kembali menampar, apakah benar cara – cara untuk berdesain yang selama ini diyakini. Penekanan pada diagram dan kejelasan bentuk benar2 nyata terlihat, berdasarkan keobjektifitasan. Pentingnya bagan dan matrix – matrix yang tidak hanya sebagai alat kosmetik belaka, itulah jiwa yang akan mengarahkan proses desain kearah yang lebih melesat jauh. Ya lompatan – lompatan design iterasi itu akan kembali ke pentingnya strukturisasi diagram dimana lompatan design yang lebih tinggi dan terarah. Tidak hanya seperti itu, namun bisa lebih tajam lagi.Ketika panah sudah ditarik dan dibidikkan dengan sekuat tenaga maka panahnya akan melesat jauh untuk menghujam dengan tajam di sasaran yang dicapai.
Dahulu prinsip arsitektur ada di alam khayalan dan perasaan, disini arsitektur adalah design, bisnis, dan subjektifitas dalam objektifitas Tarik satu garis lengkung mengarah ke atas dalam wajah, dan coba tersenyum..
Ada cerita dimana saat – saat kehilangan dompet, ya semua kartu – kartu yang penting ada disitu. Saat itu kudalam keterburu2an dalam perjalanan ke kantor. Kuterburu – buru turun dari bus, dan kemudian sesaat kemudian tersadar namun sudah terlambat. Telpon berdering di keesokan harinya dan itu dari perusahaan bus, mereka menemukan dompet itu, tidak kurang suatu apapun. Ketika seorang pegawai bank mendengarkan cerita yang baru saja terjadi, ia seketika berkata, di kota ini, ternyata banyak orang yang baik, di London hal seperti ini tidak pernah terjadi…. Saat sudah larut malam kuputuskan untuk pulang, di bus station, ada seorang ibu – ibu, ia berasal dari Jamaika. Seketika kita tenggelam dalam perbincangan yang menarik mengenai kejadian – kejadian yang ada di hari ini, dan betapa kita harus berhati – hati di kota ini , di akhir perbicangan itu, ibu tersebut berkata, tidak ada yang kebetulan di setiap saat dalam hidupmu, kita bertemu disini tidak karena kebetulan namun karena jalan yang diatur bagimu, OlehNya… “Rich aku dan kamu ada disini untuk sebuah tujuan, aku akan menjagamu. Dan kemudian, kita kemudian tertawa tergelak – gelak, di akhir perbincangan, ternyata kita baru menyadari bahwa rumahnya hanya berbeda 1 blok dari ku, sementara bus station kantor tempat kita bermula itu sekitar 1 jam dari sini, seakan – akan mendapatkan satu lagi teman baru. ya ku percaya atau tidak bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini , semua ini hadir untuk suatu tujuan tertentu. Kejadian ini mengingatkan bahwa ku selalu dalam lindunganNya.
Seperti salah satu perkataan teman terbaikku, semua akan indah pada waktunya… Kubaru menyadari akan arti 1 hari ke depan., … hanya 1 hari ke depan di masa lalu, hanya 1 hari kedepan dalam satu tahun ke depan, …
Seperti salah satu perkataan teman terbaikku, semua akan indah pada waktunya… Kubaru menyadari akan arti 1 hari ke depan., … hanya 1 hari ke depan di masa lalu, hanya 1 hari kedepan dalam satu tahun ke depan, …
Pernah suatu ketika seorang teman, bertanya tentang kebimbangan dalam dirinya untuk jalan hidup yang ia tempuh.. kuyakin bahwa sampai nanti kebimbangan demi kebimbangan selalu datang.. semua hanya menyisakan cara kita bersikap terhadap keadaan ini. Kurasakan bahwa tempat kita berada sekarang adalah angan – angan dari 1 hari kedepan dahulu . Itulah buah dari tindakan – tindakan kecil yang dilakukan dimana 1 hari ke depan dimulai dari pola pikir yang sangat sederhana. Keinginan untuk maju akan membuahkan kemajuan.. Keoptimisan tinggi. Optimis dalam pikiran dan tindakan. Di sini, kebiasaan berbagi yang tetap dilakukan di tengah keegoisan yang ada seakan menjadi langka, , …
Ada satu cerita ketika kita duduk2 di kantor, satu orang berasal dari Malaysia, satu orang dari Hongkong, Satu orang dari Spanyol, dan kita saling bercerita satu sama lain mengenai kampung halaman, dan membuka situs google earth, satu persatu menceritakan Negara asal kita. Orang Spanyol menceritakan mengenai bagaimana hangatnya pribadi orang2 di Negara asalnya, orang hongkong dan Malaysia pun menyambut dengan serentak menceritakan bagaimana lingkungan rumah tinggal mereka dan kondisi keluarga mereka sehari – hari , pikiran ini kembali menerawang, apa yang kucari di tempat asalku. Keluarga, teman – teman, satu persatu detik . menit , jam tidak akan pernah kembali. Dimana kita ada sekarang kuyakin kita semua sedang mengejar tujuan kita masing – masing.
Kuteringat perkataan seorang kawan “ Ingat teman hidup itu harus seperti rajawali, mengepakkan sayap, jangan lah menjadi seekor anak ayam , rajawali akan senang untuk tantangan, dan akan menjalani tantangan itu sendiri tanpa dipaksa. Ia akan senang akan badai yang ada di depannya, mengitarinya dan kemudian menembus badai itu.” Satu persatu rintangan yang dilompati untuk melewati area ketidaknyamanan akan mendatangkan beribu rintangan yang lebih tinggi… Kehangatan yang selama ini hilang, perlahan – lahan mulai Nampak kembali…Detak jantung yang semakin teratur menyesuaikan pikiran dengan keadaan yang ada, …. detak itu semakin cepat terkadang, … nafas itu semakin pelan terkadang.
Ku belajar dari teman terbaikku, untuk mengatur nafas itu mengatur derap hidup kita. Satu Hari ke depan, … berbuat yang terbaik untuk hal – hal yang kecil dalam hidup kita. Satu hari ke depan untuk selalu berpikir positif. Dan satu hari ke depan untuk selalu merenungkan diri dalam doa. Satu saat ini menyebabkan diri ini kembali terdiam,… untuk berpikir kembali..
Baru saja 7 hari kemarin, kita masuk ke tahun yang baru 2008, terkadang di detik – detik itu, waktu terasa sangat cepat terkadang, sangat lambat terkadang,…, Semoga tahun 2008 ini, semua keadaan akan semakin baik untuk kita semua, dimanapun kita berada… Sesungguhnya masih tidak percaya untuk ada di tempat seperti ini, sesekali terpenjam ketika dalam suatu siang duduk bersama teman – teman kantor, bercerita mengenai kisah kisah dimasa dahulu di pinggir sungai. Ada juga suatu sore ketika sedang berjalan – jalan di koridor kantor yang sering Nampak di sebuah buku di pojok perpustakaan dulu. Memang benar keadaan disini memang luar biasa menariknya, untuk dipelajari, dan dipahami..;)
“Hiduplah seperti pohon, tumbuh perlahan – lahan dan tidak tergesa – gesa” Tisna Sanjaya
Di hari – hari terakhir di Singapore, akhirnya ada kesempatan juga untuk Melihat Hongkong, berkesempatan juga jalan2 ke kota ini , bersama Iyok, Koes . Melihat, menyentuh, merasakan karya2 terbaik yang ada di sini. Thanks Arie, Dowel, Anis for your hospitality.
“Diri yang pemimpi “ saat menuju 2 tahunan kemarin. Banyak pelajaran yang terjadi, mengenai karir, hidup, cinta dan harapan. tiap2 peristiwa mempunyai arti tersendiri. Kembali ke perkataan pak Tisna untuk tetap “ hidup tidak tergesa – gesa“. Keinginan ada karena diri sendiri, tidak untuk dipaksakan dengan tergesa – gesa. Mimpi untuk lepas dari kemapanan yang sudah ada, mimpi untuk melawan arus dan mimpi untuk menjadi diri sendiri. Teringat buku yang dulu dibaca mengenai bagaimana menjalani hidup ini sebaik – baiknya jadilah ikan salmon yang sehat yang selalu menjadi arus bagi dirinya, dan lincah dalam melawan ataupun mengikuti arus”. Perjuangan pengambilan dan menjalani keputusan itu pun sangat sulit sekaligus. Akhirnya proses Resign selesai, sayap kembali terkepak, untuk berlari dan terbang. Keputusan untuk melepaskan apa yang dicintai dan kembali ke mimpi yang ada. 1 tahun yang terbaik di DP architect , 1 tahun yang terbaik di Urbane Indonesia. 3 Bulan yang terbaik untuk berhenti sesaat
Perjalanan pun tiba di angka 15 hari setelah waktu resign.Hari – hari tanpa pekerjaan tetap. Suatu waktu ku bertemu dengan orang2, disitu disimpulkan bahwa kenapa melepaskan pekerjaan tanpa mengetahui apa yang ada di depan kita, itu memang benar.. untuk apa, perkataan itu dipikirkan selama beberapa lama. Apa yang dikerjakan pada saat – saat tanpa pekerjaan seperti ini? Perhitungan matematis seperti gaji yang nol, dan defisit tabungan yang terus menerus. Ada kalanya ingin kembali ke saat – saat terdahulu, dimana semua masih terpegang dan hidup itu terasa sangat pasti. Bekerja itu seperti peningkatan intelegensia, ketika kita meningkatkan intelegensia terlalu berlebih, sekarang saatnya bagamaina situasi yang kosong mengingatkan untuk selalu mawas diri.
Suatu ketika, tertegun, saat itu jam 7 pagi di kamar, Jakarta, merenungi diri ini. :) mau kemana diri ini. Flashback pikiran, tiba2 terlihat keluarga, kehidupan , teman, kampus lagi. Terlalu banyak keraguan yang ada, semua harus dilepaskan perlahan – lahan untuk bisa melecut maju. Ya kenangan demi kenangan itu selalu ada, sejak pertama kali 6 tahun yang lalu memasuki dunia arsitektur, sampai sekarang. Flashback itu terasa begitu cepat. Aku merasa ini titik yang terbawah dimana memang tidak punya apa2 untuk diperjuangkan. Tanpa disadari ternyata ku percaya dengan kekuatan keinginan dan doa, begitu kita hidup dengan penuh tujuan 200 dari 100 persen , jalan akan terbuka. Dengan kekuatan doa, jalan yang itu akan selalu dibukakan. Tiada logika memang.
Ada beberapa cerita berharga dari sepanjang perjalanan transisi yang menarik ini :)
Ada suatu cerita, pada saat projek desain toko di Banjarmasin. Ku bertemu dengan om tua yang akan mengurus neon sign bersama ayah juga, mereka, orang2 dengan 40 tahun pengalaman berdua bercerita dan bercerita. Mereka berkata bahwa kita harus mensyukuri apa yang kita dapat, hidup untuk selalu puas akan hasil yang sudah diberikan, melihat apa yang dipunyai. Yang sulit itu apabila kita mau untuk mensyukuri apa adanya. Apabila kita ingin selalu ke atas, kemanakah ujungnya ? Ingat bahwa Di atas langit masih ada langit ? ada waktu juga sekonyong2 oma yang baru saja datang dari kota samarinda, di hari yang lain, memberikan wejangan, kamu sekarang sudah maunya apa ?
Kemudian, Suatu waktu diajak juga ke tempat ajeb2 yang eksotis penuh dengan wewangian rokok, lampu warna – warni dan desain lekuk2 yang sensual. Suara2 itu sungguh menghipnotis, ada kalanya 10 menit kita terdiam hanya untuk mendengar suara ajeb2 yang sebenarnya berorder jelas penuh dengan ketukan yang berdebam. Sejauh melihat aktifitas yang ada disana, mereka semua tertawa penuh makna, minum bersama penuh makna, terkadang meliuk – liukkan tubuhnya seraya mengangkat tangannya lurus keatas. Satu hal yang pasti mata – mata mereka adalah mata kesepian.
Suatu sore di kantor IAI perbincangan pun dimulai dengan salah satu arsitek senior, angkatan 64, nama beliau sering didengungkan ketika ada penjurian sayembara arsitektur, beliau bercerita mengenai bagaimana dahulu beliau berkarya hingga sekarang. Ku bertanya pula, “pak worth it ngga sih jadi arsitek “ hehe , beliau pun menjawab sambil menatap dengan pasti” veeeeeryyy, ini sebuah berkah bagi saya “. Sambil tersenyum .Kita kemudian ngobrol2 gimana kehidupan arsitek yang selalu penuh lembur dan jam malam2 memang sulit namun ya itulah arsitek. Beliau berpesan “masyarakat kita biasa hidup tidak jujur, disini, semua seperti berpura – pura, kita tidak bisa bangkit kalau kita tetap tidak jujur.. untuk menjadi arsitek kamu harus punya nama, untuk bisa berbuat “ Ketika penutupan perbincangan, ku bertanya,”masih lembur ngga pak dikantor ?” beliau pun menjawab, saya sudah 14 hari ngga pulang nih, ya gimana ya arsitek ya seperti ini, [waw] ketika sampai ke lobby Jakarta Design Center, beliau pun menepuk pundakku dan dijemput oleh sopir nya naik mobil slk sport compressor, terlihat beliau sangat menikmati hidupnya… sampai ketemu lagi ya pak!
apa yang kita pikirkan apa yang kita inginkan itulah yang kita tuju, memulai perjalanan, Berbicara melalui hati dengan usaha dan doa.
Mengenai hidup dan pencarian tujuan dalam hidup.. harga yang dibayar untuk sebuah impian itu mahal. Kehilangan kemapanan, kehilangan teman terbaik, kehilangan komitmen. Kehilangan dan kehilangan. Tidak semudah yang terbayangkan. Seorang teman yang sangat baik, pernah berkata untuk segala kemapanan yang telah dia raih, di berkata “ dibalik semua prestasi yang saya capai, saya berjuang keras dan mengorbankan banyak hal untuk itu, dan saya berhak untuk itu rich, ada nada kekecewaan di raut mukanya, seakan2 dunia ini tidak berpihak kepadanya..” salah Seorang teman lain yang sangat baik pernah menulis “Rich, remember to protect your dream and don’t let anyone take it away from you , not even yourself !“, setelah mimpi itu kita jalani, apa yang ada di ujungnya ? …cabang jalan yang penuh gegap gempita?… ataukah cabang jalan berbatu2 yang bahkan ada durinya?…. Kenapa selalu ada cabang2 jalan yang harus kita tempuh?…. aku bertanya, Kubersyukur karena ku masih bisa memilih cabang mana yang akan kupilih. Tetap berbuat dan Tetap berkaca..Kubersyukur untuk sadar bahwa semua pekerjaan itu harus bisa disyukuri. Ngeluangin waktu buat keluarga, dan Tuhan, disaat2 di seperti ini, rasanya seperti mendapat berkah yang tiada ternilai. I pray for You… impian sejak lama di Foster and Partners. Kesempatan itu datang. Ada medan yang baru di depan, menunggu untuk dijajaki. :)
Pada akhirnya teringat kembali pada satu titik perhentian di Hongkong yang membuat diri tertegun sampai sekarang, banyaknya unjuk rasa, bentrok antar keyakinan, protes dari pengikut dari salah satu sekte disana, benar2 membuat miris, suatu waktu internet pun dibuka utnuk memuaskan rasa penasaran, browsing – demi browsing dilakukan, “Organ Harvesting Camp ?”. Dunia ini sudah terbalik memang, penderitaan benar2 merinding. Kuatnya suatu keyakinan dan pertentangan paham dalam pikiran memang benar2 mengerikan. Batas antar benar dan salah sudah kosong. benar menjadi salah yang salah menjadi benar. Prinsip – isme yang menistakan kasih benar2 membuat tertegun.Ada suatu cerita ketika berjalan2 ke Bali di sebuah gudang , ada orang yang bernama pak Made, beliau menceritakan, ia bertemu dengan anand khrisna yang berkata “ jika ada sebuah hal yang membenarkan membunuh dan menyakiti sesama akan menerima kebahagiaan sejati, itu omong kosong, saya akan terima dicari2 untuk dibunuh untuk melawan hal itu “ tertegun memang, sudah bukan saatnya kita hidup di dalam dunia yang egosentris dan mementingkan diri sendiri. Dunia ini semakin lama akan semakin gila dengan tekanan dan pemikirannya yang sekuler. Untuk keyakinanku, kakakku pernah mengingatkan tentang perkataan seorang romo, Vertical itu bagaimana kita dengan yang diatas, hubungan dengan Tuhan itu sendiri. Horizontal itu bagaimana kamu berbuat terhadap sesama, siapapun dia, apapun keyakinannya, apapun penyakitnya, apapun keadaannya, berbuatlah untuk sesama. Kita hidup di dunia yang hampa akan kasih. Kita hidup untuk menyebarkan kasih… :) selesailah petualangan 3 bulan transisi kemarin, sekarang jam kembali berputar cepat setelah dibekukan Aura pulau Jawa dan Kalimantan yang sungguh menghipnotis…
Suatu waktu ku dalam liburan ke Bali dan Banjarmasin, berkeliling dari tempat satu ke tempat yang lain. Duduk berdiri dan duduk kemudian diam Hembusan nafas dari alam itu begitu terasa. Kita bernafas, alam pun bernafas, menciptakan ritme – ritme kehidupan Fibonacci yang lain. Ritme – ritme itu membuat monumentalisme tersendiri. Benar kata teman terbaikku, untuk pertama kalinya kulihat langit Bali itu begitu biru
“di Backstage ada semangat untuk salah, ada juga semangat untuk belajar, apalagi semangat untuk mencoba benar ,…terkadang mungkin kita lupa dengan ini.”
Suatu waktu di tanggal 22 Desember, melintas di kawasan Little india, Bugis, dalam perjalanan ke tekka mall. Opera Cina
Tidak terasa 1 tahun 3/4 bulan selepas bebasnya diri dari kukungan akademik untuk kembali masuk ke tantangan yang lebih bergolak. Tepat di angka 3/4 zona aman sudah mulai merasuk di diri, menenangkan hati, kenyamanan, rasa aman yang membuat kita bisa mulai berbuat, zona sekitar mulai masuk ‘tuk mendukung segala jalan, angka 1/4 adalah saat dimana diri masih tersesat dalam suasana, angka 1/2 adalah saat diri bebas dari ketersesatan dan kebingungan, angka 3/4 adalah saat diri mulai menjadi petunjuk bagi sekitar kita, hal ini kembali berulang kembali dalam kukungan tahun kedua,zona aman dan zona keadaan adalah 2 hal yang dominan di dalam angka 3/4. sekali lagi 3/4 itu datang di tahun kedua, di awal tahun 2007 ini …
Keadaan ini seperti perspektif 1 titik hilang,Dari Jauh untuk kearah satu titik fokus, melaju terus,dari besar ke kecil, kita diajak untuk melangkah terus meski tiada keinginan untuk melangkah, keadaan perspektif yang kita alami, mengajak untuk demikian, … suatu waktu adakalanya, disaat dorongan garis2 pengarah perspektif itu begitu menekan, kita harus berhenti , disaat itu, perspektif 2 titik muncul, kita melihat kekiri dan ke kanan, melihat ujung2 pandangan yang berbeda, garis – garis yang perspektif 2 titik, dimana kita mulai merasa empati dari sekitar yang menyebabkan 2 titik itu ada, untuk menoleh ke kiri dan ke kanan, mulai ada pertimbangan untuk melangkah. kemudian kita bisa berjalan lagi, tentu saja di perspektif 1 titik lagi… suatu waktu ada kalanya kita behenti kembali, ingin merasakan perspektif yang lebih dalam lagi, saat itu ada keinginan untuk melihat keatas dan ke bawah, untuk mulai berintrospeksi diri, saatnya perspektif 3 titik muncul, mulai merasakan ketinggian, posisi diri dimana kita berada, distorsi2 yang ada,di saat kita mau untuk berhenti dan berfikir, …
Perspektif 4 titik akan muncul apabila kita mau mereview kebelakang untuk mengingat dan belajar dari masa lalu, kurasa 4 dimensi itu mulai ada dalam diri kita, dimana kita bukan lagi merasakan bentuk dari perspektif itu sendiri, namun arti makna sudah merasuk dalam jiwa-jiwa yang terus bergerak dalam hidup kita.
Ada sebuah cerita, suatu waktu, ketika menunggu antrian makanan, tiba2 tersentak juga, melihat ada seorang ibu yang mengambil gerakan untuk tidak mau menunggu, serobot kiri dan kanan, memaksa tuk menggeleng2kan kepala, suatu waktu juga ada kejadian menunggu barang yang diinginkan selama 3 bulan ini, sampe ke depan toko, ternyata barang itu habis, setelah itu, dengan kekecewaan mengambil taxi untuk menuju orchad, dikala itu, cuaca hujan deras, terpaksa ditemani seorang teman sangat baik Menunggu di depan sebuah toko, tidak disangka disana apa yang diinginkan bisa kecapai, barang itu ada, hidup ini penuh dengan misteri, mungkin benar kalo segalanya akan berbalik kembali ke kita. Menunggu dan menunggu terkadang ini adalah pekerjaan yang paling tidak diharapkan dan ditunggu adalah sesuatu yang dinantikan. Suatu waktu ada juga akhirnya sampai juga di satu persimpangan hidup, dimana proses menunggu dan ditunggu itu ada, menunggu mengharapkan perasaan sabar, dan ditunggu melibatkan ketidaksabaran, ini masih menjadi suatu misteri, menunggu dan ditunggu, kebiasaan kita seharusnya lengkap untuk menunggu. Kesabaran itulah yang harusnya membuahkan kebenaran yang sepastinya. mungkin kita biasa ditunggu, sama seperti semua orang yang pada ingin hidup seenaknya, seperti juga dalam sebuah cerita selalu ada kata selesai, memulai dan kemudian bersambung, di satu saat menguasai segalanya, kehilangan segalanya dan memulai kembali yang baru. mungkin juga apabila kita sudah kehilangan sesatu yang menunggu kita, barulah kita sadar arti kehilangan…
akhir – akhir ini Kata buktikan seolah – olah sudah menjadi makanan yang tidak berujung, entah kenapa, rasa kenikmatan untuk pembuktian itu terletak pada proses, benar – benar menyenangkan, buktikan !pembuktian terhadap diri sendiri, kita seolah – olah terkukung dengan batasan2 mind set kita sendiri, saat kita melompat lagi, ada mind set lagi, melompat lagi kita mendapatkan mindset baru, pembuktian itu ada ketika kita berhasil melompati batasan mindset diri, memang tidak akan pernah habis, semua tergantung pada anda sendiri, apakah diri kita seorang petarung atau pencari keamanan.. pada saat kita berkata, rintangan ada di diri, saatnya menarik nafas dan merasakan kita pasti bisa. sekitar 1 minggu sebelum tulisan ini ada, mindset masih berbeda,. ketika itu kerinduan untuk berekspressi demikian adanya, rindu akan impian yang tidak mungkin, ingin membuat segala kemungkinan dari ketidakmungkinan. perbandingan diri kita yang sekarang dengan masa lalu itulah mind set kita. terkadang ku merasakan, bahwa kubutuh 1 1/4 tahun lagi untuk melengkapi segalanya, Project – project yang bergelimang untuk dihadapi, teman – teman yang senafas, semua itu seakan menjadi obat tersendiri bagi kukungan pekerjaan dan deadline yang terusmenerus. Di kala ini ku sadar, it is not bout your job dude, it is bout your life, cara kita mengerjakan sesuatu, berpikir terhadap sesuatu itu lah yang menempa. justru sekarang berbeda, ketika mengolah apa yang ada dan berhenti bermimpi itu membuat segalanya menjadi luar biasa,… menjadi begitu Rich, kaya bgt!… *tergelak-gelak
Ada juga, Suatu waktu di tanggal 22 Desember, melintas di kawasan Little india, Bugis, dalam perjalanan ke tekka mall, dalam kesendirian malam, terlihat satu panggung, disitu ada warna merah, dihias dengan rumbai2 emas, dan hijau tosca, merahnya pun merah menyala bak layaknya kertas ang pau, kemudian terdengar suara gong dipukul terus menerus dengan ritme suara yang konstan, sesaat juga terkadang terdengar suara gemerincing, dan suara biola yang digesek, dari jauh hanya nampak kelebat merah kuning dengan gerakan tari, ternyata itu adalah panggung tari, panggung teater cina. pengunjungnya tidak terlalu ramai, hanya orang2 yang sudah tua, menyimak bahasadengan alunan musik nan tinggi dan terkadang cukup untuk menusuk tajam telinga. kuamati gerakan tariannya, mimik muka orang2 tua yang menonton, orang2 tua disitu begitu menikmatinya. entah apa ceritanya, apa bahasanya, bergumam sejenak kemudian bersuara melengking nan tinggi, semua hingar bingar dan mereka para tua – tua yang menonton sungguh menikmati tari dan teater yang ada. Yang paling menarik justru ditemukan bukan di depan panggungnya, tapi di daerah belakang. Daerah belakang ini sungguh berbeda, lebih redup, remang2, suasana pun tampil dengan tidak dibuat – buat. Inilah dapur panggung sesungguhnya. Disini terlihat semangat untuk tampil, apalagi kemauan untuk tampil, ada di satu pojok canda tawa penari2 yang berbisik2 dengan pupur putih dan gincu merah, bertopi barongsai emas, jikalau kita melihat dari arah bawah, pandangan akan terbingkai oleh 1 orang penggesek biola dan 1 orang peniup trompet, vista terbentuk dibentuk tepat di tengah mereka, benar – benar , disini sungguh berbeda dengan suasana panggung, muram dan kotor namun penuh dengan semangat yang berapi – api. ada kalanya kesalahan kecil diperbuat oleh salah satu penari, dan yang lain pun tertawa kecil dengan gerakan menutup mulut, tentu saja di back stage. sesuatu yang salah pun bisa menjadi bahan kelucuan disini, Alhasil disini kita bisa belajar mengenai semangat di dalam backstage ini, elemen yang terpenting namun sering dilupakan, panggung seringkali menyilaukan dengan hingar bingarnya, merah kuningnya, namun terkadang, semangat backstage ini sendiri adalah jiwa dari panggung tersebut, semua ini sama seperti dunia kerja, maupun apapun yang ada di hidup kita, back stage itu hati, jiwa dan proses, dapur dari pikiran kita …panggung itu hanya pemanis dan pupur kiasan, yang terkadang menipu. di Backstage ada semangat untuk salah, ada juga semangat untuk belajar, apalagi semangat untuk mencoba benar ,…terkadang mungkin kita lupa dengan ini.
Semangat backstage inilah yang akan menjadi bahan pemikiran untuk kompetisi design yang akan datang, semangat untuk tampil, dalam ekspresi, dalam kebingungan ini, semoga 3 bulan ke depan, hidup sudah mulai menunjukkan kemanaarah seharusnya kita melangkah ,…
“Ketika ”berbeda dengan dimensi sebelum dan sesudah, ia ada di antara awang – awang masa kini dan masa lalu, “ketika” berbicara mengenai saat sesudah aksi diberikan, ketika, seperti pada suatu ketika,
Louis kahn dan Peter Zumthor lah inspirasi bulan ini.Adalah benar apabila semuanya ada dalam keteraturan sendiri, seperti, temukanlah aturan alam semesta maka kamu akan mengerti segalanya, mengenai keindahan bentuk dan proporsi terbaik.
Sulit untuk menyelami dimensi keindahan yang ada, yang kutahu hanya ada sedikit orang dari banyak orang yang mampu bergulat dengannya dan belajar darinya, semua akan kebingungan ketika berbicara tentang ruang dan keindahan, adalah baik untuk mencoba selesaikan semuanya perlahan – lahan dan tidak tergesa – gesa. Tenggelamlah dalam iterasi desain, dan rasakan jiwanya. meskipun gestalt dari setiap proporsi itu lah yang akan menentukan dari keindahan itu, kita membutuhkan sesuatu yang lain, jiwa harus dikeluarkan, tirai harus di dibuka, lewati batasannya, kuyakin bahwa kerja keras itulah yang menyebabkan jiwa itu mulai nampak nyata. Seringsekali kutanyakan masa – masa lalu kepada jiwa2 yang masih polos, jiwa kalian dimana , apa kemauanmu, karena seringkali karya terbaik akan muncul dari sentuhan personal manusiannya. It is about your soul, bukan tentang perhitungan AB AB. Karena kita hidup bukan dari perhitungan.
Suatu waktu ketika ku dalam liburan ke Jakarta, Kusadar ketika pada satu saat kuberpapasan dengan seorang tua renta, yang kepalanya hanya bisa tertunduk lesu tidak bertenaga, terkulai lemas tidak berdaya, seperti penyakit yang akan pasti menerpa,hingga mata ini mulai terpejam, kutanyakan pada diriku, dan kutanya lagi mengapa rentang waktu itu tidak pernah bisa direnggangkan, memang pada saatnya kata ketika itu akan datang, masa itu akan tiba, dimana semuanya akan renta. Bergantung hanya pada dirinya sendiri. Waktu kembali dan kata ketika mulai muncul. Suatu waktu juga Kuterhenyak sekali ketika tangan itu mulai membaca garis – garis tanganku, ia berkata, hati – hati akan penyakitmu, seakan – akan ganjalan besar yang tidak pernah kutakutkan, aku selalu berpikiran bahwa hidup ini terlalu sayang untuk disia – siakan, berbagi, menikmati, berekspresi, ku tidak peduli kurenggangkan badan ini, kutarik sampai ke batas maksimal,
Kuterkaget – kaget, melihat wajah yang lain yang terkejut, dan berkata kapan istirahat itu pernah kau pikirkan, kau hebat sekali, dibalik pujian itu kuserasa ditampar, batas memang harus selalu direnggangkan. sekarang ku sadar bahwa, tubuh harus dihargai, mencoba bertatap diri, dan menghargai diri, mulai dari diri sendiri dulu, baru ke sesama. Yah mari kita mulai program 3 bulan kedepan, 65 kg J Mungkin kali ini kuterlalu berlebihan dalam merenggangkan batasan diri, 2 sayembara besar dan pekerjaan kantor yang semakin menantang, tubuh ini hanya 1, jika selama ini selalu kurenggangkan batasan itu, baru kali inilah sadar, bahwa kita memang punya batasan.
Seringkali kita tidak sadar akan arti ketika, ‘ketika’ itu ada di dalam dimensi waktu yang selalu mengukung langkah dan jejak tangan kita. ‘Ketika’ berbicara mengenai waktu, dimana segala sesuatu tidak akan pernah diperkirakan, detik dan menit tidak akan pernah cukup. seperti waktu jeda yang sebentar di antara kesibukan yang merintang.., waktu pun tidakkan pernah cukup. Pada akhirnya seperti kata si bayi kentang, pada waktu kita mendaki gunung, pertama kali kita akan merasakan keengganan dan keluhan dalam memulai, setelah semuanya selesai kenangan itu akan terasa begitu indah, mengerjakan sesuatu dan memikul tanggung jawab itu seperti membangun sebuah dam, setiap pekerjaan itu selesai dam akan bertambah besar, terkadang air dari beban tanggung jawab itu meluap keluar, seketika itulah terjadi letupan – letupan=p, apabila dam itu tidak mampu menampung air lagi, ia akan hancur, saat itulah kita masuk ke rumah sakit :))
kuingin memperbesar damku hingga ke batas horizon, sehingga mampu kunikmati setiap kenangan yang ada, nanti.
Louis I. Kahn Conversation with Students Princeton press publication
In the realm of the incredible stands the marvel of the emergence of the column Out the wall grew the column. The wall did well for man. In its thickness and its strength, it protected him against destruction. But soon, the will to look out made man make a hole in the wall and the wall was very pained and said what are you doing to me?
I protected you I made you fell secure- and now you put a hole through me!” and man said “but I will look out, I see wonderful things and I want to look out. ‘And the wall still felt very sad. Later man didn’t just hack a hole through the wall but made a discerning opening, one trimmed with fine stone and he put a lintel over the opening and soon the wall felt pretty well The order o making wall brought about an order wall making which included the opening, then came the column which was an automatic kind of order making that which was opening and that which was not opening. A rhythm of openings was then decided by the wall itself which was the no longer wall, but a series of columns and openings. Such realizations come out of nothing in nature. They come out of a mysterious kind of sense that man has to express those wonders of the soul which demand expression
The reason for living is to express To express hate To express love To express integrity and ability.. All intangible things The mind is the soul. And the brain is the instrument from which we derive our singularity and from which we gather attitude. A story of Gogol could be a story of the mountain. The child and the serpent it could be chosen this way, nature doesn’t choose, it simply unravels its laws and everything is designed by the circumstantial interplay where man chooses art involves choice, and everything that man does, he does in art. In everything that nature makes Nature records how it was made In the rock is a record of the rock In man is a record of how he was made When we are conscious of this we have a sense of the laws of the universe. Some can reconstruct the laws of the universe from just knowing a blade of grass. Others have to learn many, many things before they can sense what is necessary to discover that order which is the universe. The inspiration to learn comes from the way we live; Through our conscious being we sense the role of nature that made us. Our institutions of learning stem from the inspiration to learn, which a sense of how we were made is. But the institutions of learning primarily have to do with expressing. Even the inspiration to live serves to learn to express. The institution of religion stems from the inspiration to question, which arises from how we were made.
I know no greater service an architect can make as a professional man than to sense that every building must serve an institution of man Whether the institution of government, Of home, of learning, Or of health, Or recreation
Suatu kalimat ‘ Belajar dari kekalahan, ..sama seperti permainan akan hidup …
Credit to : Liza Susanto, Budhi Hermawan
Ada menang ada juga kalah, mungkin saat2 mengalami kegagalan itulah justru saat yang terbaik, saat dimana kita bisa mensyukuri segalanya. sadar akan kesalahan. sama ketika kuterlempar dalam sinusoidal terbawah di tahun 2002, terimbas oleh cepatnya waktu kerjaan – kerjaan dan kegilaan yang mengalir di tingkat 3, akhirnya dapet nilai E untuk studio perancangan, akhirnya dikeplak juga buat sadar, syukur ada saat2 itu , lagi, masa menjadi gila, belajar untuk menahan diri. Setiap kita ada di bawah itulah biasanya kita bisa mengingat node hidup kita… seperti kita mengingat bahwa setiap 20 m harus ada node, setiap 8 meter harus ada gab … 20 meter dan 8 meter itulah saat terbawah kita.
dibalik itu,
juga akhirnya kalah juga di negeri ini, raffles hospital, hp dan tempat tidur jadi temen akrab selama 2 hari ini, terkapar di atas dunlopillo, terkapar dan terlentang bebas. Seperti sebuah permainan. Terjerumus dalam sbuah pertandingan bergrafik sinusoidal. Secepat secepatnya kamu ke atas, kamu pasti akan kebawah juga.
Hanya bedanya saat ini ku sedang di titik atas, kutenggelam dalam euforia kegembiraan , Berpacu dalam ide – ide dan pembaharuan untuk lingkungan yang lebih baik. Dimulai dari sms mendadak, Dapet juga juara 2 dari sayembara lampu kota, cukupppppp buat menggemukkan diri =p. Berkat liza dan budhi, satu dengan sukarela mewujudkan desain dengan intuisinya dari model yang rough, dan satu lagi untuk mewujudkan desain dari mulai desain presentasi urusan kecil2 sampai ke tangan panitia dengan selamat.Terima kasih ya
Thinking of the games we played. Remembered the good old days. Thinking of how we all cheated That way, we never got defeated.
Marbles, cans, slippers, balls. These things, we used them all. Seldom watched TV, seldom sat down. We ran and jumped, without a frown.
Now, we are supposed to know better. In arrogance, we think we are greater. I am reminding you how we can be wrong. Because back then, we were always strong.
Now we are puny, dependent and weak. Watching ourselves turn into freaks. This is not a pretty sight to behold. You must listen, you need to be told.
Let us go back to the games we played. Let us recover from what has been frayed. It is not too late for us to be free. We will see the sun again, this I decree.
The World is moving so fast, here, beginning all the learning Process with quoting from a pen’s pall that always starts all of the paragraph by word ‘hmmpff..
The Process to find the objectivity is already beginning. The fingers that always dance just stop to mesmerize. Right now, is it right path? And how to the life our life? Do we just have to start from the beginning? Until Now, I enjoy live, and questioning the entire question, now I think is the time to answer.
From this place I learn the best essential study that I haven’t got before. Just keep in mind that everything happened in your life will be your best thing you ever had. Prepare your sketch book. Learn again from beginning, after the very high speed in the last year. Completing the puzzle before the proficiency deadline occurs. Here I learn to do, have an initiative, get through the best life. Just today, with happily of finding euphoria, I have just found a new teacher, a place to learn for one year. We don’t have to start from beginning; we just go through the way and find the answer. I finally found that it’s very difficult to prevent the word ‘I, using word ‘I for the others, then everyone will smile to you.
In the loneliness in this new city, I enjoy the architecture steps that lay here, the light, the shadow, the form and the untaught of the dream architecture. Live your life lively, enjoy the life .I have got the inspiration from a book titled ‘1000 places to visit before you die’, I realize that the time is not long enough, to enjoy and learn, so ….what to do next
For this speed and speedy time, vanished with the cheering on 4 am, when the dream was starting to make its own ending title. The sound was from a little girl that always waked me up for one full week on the last week. The Girl is my niece, very cute. When I remember those sounds, its make me smile and breathe again facing the reality. That was really helpful; make my mind rest up although often hearted so loud in my ear.
The original poem (for the hispanoparlantes): Lo Fatal
How fortunate the tree that is scarcely aware,…
and more so the hard stone because it no longer feels,…
since there is no greater pain than the pain of living,…
nor deeper sorrow than conscious life. …
Being, and knowing nothing, and being without a true course,
and the fear of having been, and a future terror…
And the certain dread of being dead tomorrow, …
and suffering because of life, and because of shadow, and because of
what we don’t know and scarcely suspect, …
and the flesh that tempts with its fresh-picked bunches, …
and the tomb that awaits with its funeral bouquets,…
and not knowing where we are going,..
nor from where we have come….!
From this place I learn the best essential study that I haven’t got before. Just keep in mind that everything happened in your life will be your best thing you ever had. Prepare your sketch book. Learn again from beginning, after the very high speed in the last year. Completing the puzzle before the proficiency deadline occurs. Here I learn to do, have an initiative, get through the best life. Just today, with happily of finding euphoria, I have just found a new teacher, a place to learn for one year. We don’t have to start from beginning; we just go through the way and find the answer. I finally found that it’s very difficult to prevent the word ‘I, using word ‘I for the others, then everyone will smile to you. In the loneliness in this new city, I enjoy the architecture steps that lay here, the light, the shadow, the form and the untaught of the dream architecture. Live your life lively, enjoy the life .I have got the inspiration from a book titled ‘1000 places to visit before you die’, I realize that the time is not long enough, to enjoy and learn, so ….what to do next For this speed and speedy time, vanished with the cheering on 4 am, when the dream was starting to make its own ending title. The sound was from a little girl that always waked me up for one full week on the last week. The Girl is my niece, very cute. When I remember those sounds, its make me smile and breathe again facing the reality. That was really helpful; make my mind rest up although often hearted so loud in my ear. How fortunate the tree that is scarcely aware,… and more so the hard stone because it no longer feels,… since there is no greater pain than the pain of living,… nor deeper sorrow than conscious life. … Being, and knowing nothing, and being without a true course, and the fear of having been, and a future terror… And the certain dread of being dead tomorrow, … and suffering because of life, and because of shadow, and because of what we don’t know and scarcely suspect, … and the flesh that tempts with its fresh-picked bunches, … and the tomb that awaits with its funeral bouquets,… and not knowing where we are going,.. nor from where we have come….!
Jumat 030306, 12 bulan – Genap, Bandung, Indonesia
Dari pengalaman lama, ada sesuatu yang baru untuk dipelajari. Menanti untuk dimulai, dari pengalaman itu sudah berbuah kembali, namun untuk dipetik, masih harus terus berpikir apakah itu sudah pantas diambil. Ataukah memang aku masih harus terus memulai. Ada orang yang bilang ” begitu kita juga jatuh cinta pada sesuatu, justru kitaharus melepaskannya, hanya dengan sikap seperti itu kita akan terus meningkatkan diri. Seperti pada waktu masa mahasiswa dimana kegilaan beraktivitas masih menerpa, pada akhirnya waktu harus berjalan menyadarkan, tongkat estafet itu harus diberikan pada generasi berikutnya. Alasannya ada sesuatu yang lebih menantang untuk di hadapi bukan hanya dengan alasan masa – masanya sudah selesai.
kubersyukur bahwa kesadaran itu datang tepat pada waktunya.Kutetapkan hati bahwa masih terlalu dini untuk menetapkan pilihan hidup. Jalan ini ada di persimpangan. Aku percaya bahwa Inovasi diri dimulai dari diri dan ketetapan pilihan. ada sesuatu yang lebih menantang untuk di hadapi. Satu konsekuensi nya ” seperti Kata pak Tisna Sanjaya, jadilah pohon, tumbuh tidak tergesa – gesa. Tetap tumbuh dengan satu catatan : tidak tergesa – gesa. Filosofi pohon ini menarik untuk diterapkan.
Catatan dari arsitektur, ketika suatu waktu dimensi cahaya ke dalam bentuk dimulai dirasa, sesuatu yang baru ketika cahaya mulai masuk ke dalam bentuk, bayangan mulai menampakkan diri. Mulai ada proporsi, mulai ada bentuk, mulai ada kedalaman. Bayang – bayang yang mulai tercipta dari tekstur frontal di depan kita, mulai di bawah kita, mulai di atas kita. Mulai saling menimpa, menjadikan suatu alasan dari bentuk itu supaya ada.Pada akhirnya kita sendiri yang mereka bentuk itu sendiri supaya bayangan itu ada.Satu lagi kesalahan yang tidak akan terulang. Kesalahan mencipta bayangan yang tidak disengaja.
Dalam hati ku terus berharap Semoga 3 Bulan ke depan, Hidup akan semakin menantang untuk dihadapi …
“Pak, si *** susah diatur, anaknya keras kepala, kordinasi pekerjaan tidak jalan ditangan dia, bapak tidak tau sih bagaimana kerja bersama dia.” Celoteh satu mahasiswa tempat diri ini mengajar kepada satu dosennya, teman sejawat saya. Diri ini tersenyum sesembari menimpali celotehan anak tersebut.
Seraya menarik nafas panjang, pikiran ini terbawa dan teringat celotehan yang sama mungkin 10 tahun yang lalu di saat saya masih menjadi mahasiswa, celotehan yang selalu sama, setiap tahun berulang selama 5 tahun diri ini ada di kampus gajah. Ya, pada waktu itu diri ini sangat menikmati berkerja bersama demi sebuah idealisme komunal yang kadang kala diri ini sulit mengerti apa ujungnya. Paragrafnya sama, cerita yang ditulis sama, hanya tempatnya berbeda, diri ini rasa ini kejadian berulang yang selalu terjadi di dunia kemahasiswaan. Pada waktu itu untuk menjadi anggota himpunan kita harus melewati orientasi mahasiwa yang lamanya kira – kira hampir satu tahun atau dua semester ajaran.
Saya kemudian teringat tepatnya di bulan Agustus, diri ini bertemu sekumpulan senior berjas biru, mengenakan emblem gajah duduk dengan tulisan Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma Institut Teknologi Bandung [IMAG ITB] . Hari itu siang terang, kita dikumpulkan berbaris sejumlah total delapan puluh empat orang satu angkatan. Saya kemudian berpikir ini awal yang manis di kampus Gajah di kota bandung yang relatif dingin untuk saya yang matanya sipit yang lahir di surabaya yang dikenal panas kotanya dan perangainya.
Setelah menjadi anggota himpunan, angkatan kami dicap angkatan gagal dengan adanya pro kontra dengan sistem kaderisasi kekerasan dan non kekerasan. Karena ini, satu persatu teman mahasiswa menghilang untuk sibuk di kegiatan akademis, kira – kira dalam kepanitiaan tinggal tersisa 10 orang, tidak lebih. Saya pribadi waktu itu selalu bertugas sebagai anggota tim logistik, job desknya adalah angkut – angkut. Seringkali setelah acara wisuda selesai, semua pulang, dan hanya tertinggal 3 orang untuk membereskan berpuluh – puluh kursi yang jumlahnya cukup banyak, panel – panel yang cukup berat mungkin sejumlah beberapa puluh papan triplek, dan dilanjutkan dengan membereskan ruang himpunan yang hancur lebur berantakan seusai acara.
Ada cerita lagi pada waktu itu selepas pelantikan anggota baru, membuat acara sosial. Acaranya waktu itu adalah mengajar panti asuhan bala keselamatan di jalan padjajaran, Salvation army. Ada kira – kira hampir 9 orang yang ikut serta meski pada akhirnya hanya tersisa 3 orang ditambah satu orang lagi dari jurusan lain. Ya diri ini menjadi sadar memang di saat – saat terakhir itulah memang orang akan semakin sedikit dan komitmen kita pun diuji. Namun ada hal baik yang didapat, pada waktu itu kegiatan kami menjadi cukup terkenal karena militansinya dan semangatnya, kita mengajar 2 kali satu minggu disela – sela liburan semester pendek.
Karena kami menjadi dikenal, kami pun mengenal senior – senior kami. Diri ini ingat berkenalan satu senior yang kemampuan teknis komputernya terbaik satu himpunan, setiap kali bertemu, kita bertukar senyum, lain kali ketemu diajarkan kemampuan teknis komputer secara langsung hanya karena dia tahu mengenai kegiatan bakti sosial tersebut. Kali lain bertemu senior yang lain yang mengajarkan manual rendering, dan kali lain bertemu senior –senior lain untuk mengajak bersosialisasi dengan band – band atau sekedar nongkrong main capsa, sampai diri ini ingat,… waktu itu kuliah nomor ke sekian, himpunanlah yang nomor satu. Kedekatan dengan senior, teman – teman seangkatan dan junior menjadi nomor satu. Proyek – proyek berdatangan kalau tidak salah puncak kegilaan ini membuat 7 proyek simultan bersamaan yang berjalan bersamaan dengan semester ganjil pada waktu itu. Ada proyek rendering, drafting, buat maket, magang di konsultan grafis, konsultan rendering, dan konsultan arsitek. Pada waktu itu saya sehari – hari bangun jam 7 pagi, kuliah sampai jam 12 siang , kerja di laboratorium sampai jam 6 malam kemudian, makan malam, kerja proyek dengan senior, dan jam satu pagi sudah ditunggu untuk mulai berkerja di konsultan rendering berkerja sampai jam 3 malam. Work aholic orang – orang menjuluk… Badan ini kurus sekali, diri ini ingat berat diri ini hanya 55 kilogram untuk tinggi badan 175 cm. Uang yang didapat lumayan bisa untuk dibagikan ke junior dan ada yang bisa dibelikan alat – alat gambar atau buku arsitektur . Buku yang dibelikan dari hasil magang dengan pak Baskoro Tedjo pun masih ada sampai sekarang.
Sebagai tim di saat – saat terakhir, “logistik” Di tahun kedua diri ini naik pangkat namun yang dilakukannya tetap sama. Di tahun ketiga diri ini naik pangkat lagi , namun pada akhirnya pekerjaan tetap sama. Menjadi anggota konseptor di awal kepanitiaan dan menjadi tim saat – saat terakhir di seluruh kepanitiaan, angkut – angkut, beres – beres, bersih – bersih. saya berpikir, ada apa dengan yang namanya ikatan, semua tempat menjanjikan kita bersama sebagai keluarga, saling bantu membantu, namun apa ini yang dinamakan ikatan. Selalu ada di saat – saat terakhir menjadi sebuah kebiasaan dalam kepanitiaan kemahasiswaan IMA G, hanya karena tidak ada orang yang mau. Kegiatan IMA Gunadharma pun sedang padat – padatnya, dan seperti biasa saat – saat terakhir orang pun hilang. Hilang di saat Ujian tengah semester, hilang di saat ujian akhir semester, hilang di saat pengumpulan tugas, proyeksi mimpi yang ditanamkan pengurus – pengurus pun hilang ditelan beban akademis, yang tersisa disaat – saat terakhir orang pun tidak terlalu banyak. Akumulasi dari itu saya mendapatkan nilai E untuk perancangan. Satu nilai yang terendah dalam satu angkatan.
Ada satu cerita bahwa diri ini punya obsesi untuk membuat merenovasi ruang himpunan dengan mengecatnya. Pada hari pertama hari kamis waktu itu orang yang terkumpul untuk mengerok cat ruang himpunan ada 30 orang, hari jumat terkumpul 10 orang, dan hari sabtu tidak ada orang. Diri ini menunggu jam 8 pagi, waktu yang menunjukkan bahwa seharusnya ada yang datang untuk membantu. Diri ini punya beberapa KP dilantai dan dua kaleng cat dari pak Suryamanto, dosen teknik bangunan arsitektur ITB. Diri ini menarik nafas untuk kemudian secara apatis, menjadi tim di saat – saat terakhir, mengecat ruang himpunan, dimulai dari mengeroknya, ada satu orang yang datang kemudian, namanya adi indra pada waktu itu, ia datang namun pergi, ia ingin mengumpulkan sampah satu itb untuk menjaga kebersihan kampus, pribadi yang menginspirasi.
Singkat kata diri ini mulai mengecat dengan roll satu persatu satu bidang, kemudian ada satu dosen, namanya pak eko purwono, dia pernah menjadi dosen pembimbing saya pada waktu tingkat dua.
“Rich, kamu ngapain ?”
“ngecat ruang himpunan pak”
“temen – temen kamu kemana ?”
diri ini diam.
“ngga worth it rich kamu ada di himpunan”’
beliau nadanya meninggi,
“iya pak”
saya pun melanjutkan kegiatan cat mengecat tanpa memikirkan perkataan beliau lebih lanjut. Hanya saja diri ini tersenyum setelah itu, saya kenal lebih dekat dengan beliau, dan beliau suatu saat menawarkan proyek. Dari situ satu dosen ke dosen yang lain menawarkan proyek, dan meminta jadi asisten mereka. saya bersyukur, satu titik peristiwa mengantarkan ke peristiwa lain. O iya kejadian ini terjadi setelah diri ini mendapatkan nilai E untuk studio perancangan. Dari situ diri ini belajar merancang dari orang – orang terbaik bukan dari dunia akademis saja, pak baskoro, pak hanson, pak eko purwono, pak agus, pak suryamanto, pak ridwan kamil, pak hidayat amir. Mereka mengajarkan semua ilmu mereka dengan hati. Dari situ tertanam pondasi yang sangat baik dalam memahami fungsi ruang, sekuensial, pemaknaan bentuk, dan metode pencarian bentuk. Saya mengerti bahwa merancang bisa dipelajari, dan itu bermulai dari masalah – masalah di himpunan. Kita tidak bisa mengatur apa intensi orang lain, tapi kita bisa berkaca pada diri sendiri.
Mengingat pengalaman di ruang himpunan yang kecil mungil itu dengan segala suka duka nya, menjanjikan pengalaman termanis bersama teman – teman, senior dan junior yang terbawa sampai sekarang. Segala pengalaman yang membuat kita bercucur air mata berubah menjadi jenaka, dan manis segala pengalaman manis teringat semakin manis.
Pengalaman berarsitektur, berinteraksi dengan manusia, pembentukan karakter yang membawa diri ini berarsitektur semuanya, dimanapun, kapanpun, mengajarkan hal yang sama sama. Pengalaman menjadi anggota tim panitia yang tinggal sampai saat – saat terakhir seperti di himpunan dan pada waktu kita berkerja itu sama, dari bekerja di Bandung sama, dari berkerja di Singapura sama keadaannya, dari berkerja di Inggris juga sama, dari Australia apalagi, dari Korea sama juga, dari Jepang sama juga, dan akhirnya berlabuh kembali di DOT Workshop selalu sama, memiliki bara api semangat sangat menyenangkan. teman – teman yang menginspirasi senior – senior diatas, junior – junior dibawah, ataupun teman – teman seangkatan yang menginspirasi.
Saya kembali teringat kira – kira di tingkat tiga hanya setelah mendapat nilai E, dan menegaskan komitmen ke himpunan dengan menuntaskan kepanitiaan kaderisasi, satu teman terbaik menuliskan di buku agenda, namanya xenia, wanita ini adalah ketua tim materi yang mengketuai tim materi untuk merumuskan kaderisasi 2002, dan saya masih mengingatnya sampai sekarang, ia menulis dengan huruf italic miring
“reach the sky, coz eve if you fall down you will be still among the stars.”
Saya tentunya berhutang banyak sekali pada IMA G dan kangen sekali untuk kembali hanya untuk merasakan aura kemahasiswaan yang ada didalamnya.., mengingat kan saya pribadi untuk selalu melakukan refleksi, perjalanan hidup… dan kembali berintrospeksi. sama seperti ajakan untuk menghadiri pelantikan kemarin membuat saya kembali teringat kenangan di kampus dulu.
“Batik is a the process of writing a picture or decoration on any media by using the wax as a medium to coloring” (International Batik Convention in Yogyakarta,1997).
RAW won 1st prize of Kampung Batik National Design Competition. This competition was held by the local government of Semarang to proposed a new design and idea of the “Kampung Batik”. Kampung Batik is located at North Semarang city near the Old Colonial city of Semarang. It expected to become the center of batik , as well as a new tourist destination in Semarang city.
Therefore, in designing the “kampung batik”, the design focus on the process, stitching layer upon layer, combining the past and the future, making a harmonious design within cultures, people and the environment meet.
There are several issues during designing this Kampung Batik, they are the complexticity of the residential, lack of open space, and ownership of the building there. The realization of the design is expected to be inexpensive and can benefit all parties.
The design is divided into two phases, where at the first phase, the design propose minimal intervention to a few buildings and the neighborhoods, while continuing to raise funds. The second phase, the proposal offers new identity with the replacement of some buildings, building facades and the addition of a large canopy that stands out for the village. We also made some events proposal to maintain the continuity of the Kampung Batik.
Principal : Realrich Sjarief
Collaborator : Randy abimanyu, David Sampurna, Morian Suspriatnadi, Andhang Trihamdani, Suryanaga, Maria Pardede, Indra DN, Mukhammad Ilham
Pada tahun 1932 Alvaar aalto membuat kursi Paimio yang terinspirasi dari bentuk alam yang organik. Pada waktu masa 1920 penggunaan material besi yang dilengkungkan pada desain furniture banyak dilakukan oleh desainer bauhaus [salah satunya marcel breuer]. Teknologi kayu dilengkungkan yang digabungkan dengan unsur fungsional. Usaha untuk menanggapi alam kemudian dipecahkan dalam permasalahan fungsional seperti kenyamanan dan estetika menjadi salah satu pemikiran dalam karya ini.
Desain kursi ini memiliki 2 nama Cendana atau Sliced wood [kayu yang terpotong] yang terinspirasi dari bentuk organik dan citra natural dari bebatuan [sesuatu yang kokoh, berdasar, dan dingin). Dimana kayu memiliki sifat yang hangat sehingga memberikan kenyamanan. Hal ini kemudian diterjemahkan ke dalam lapisan kayu yang disusun secara horisontal dengan celah 30 mm untuk memunculkan siluet yang organik dengan kemudahan sistem konstruksi kayu.Jarak – jarak antar kayu memungkinkan untuk membuat siluet berdasarkan posisi duduk dan kenyamanan, dalam hal ini yang dipakai parameter kursi adalah jenis bentuk sofa. Tiap – tiap lapisan terbuat dari lapisan triplek meranti dengan kulit jati 3 mm difinish bulat di tepian.
Sliced Wood #2
Sliced Wood #1
Sliced Wood #5
Designed by Realrich Sjarief for Biennale Desain dan Kriya 2013 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.